Kumpulan Cerita Silat

24/01/2008

Duke of Mount Deer (21)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 2:00 am

Duke of Mount Deer (21)
Oleh Jin Yong

Si Cian tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

“Lihat saja perkembangannya nanti!” katanya kemudian sambil mengundurkan diri.

Siau Po segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dia juga memeriksa seluruh jendelanya dengan teliti. Setelah itu dia duduk di sisi tempat tidur untuk memperhatikan si kuncu cilik.

Sebenarnya si non a cilik itu juga sedang mengawasi Siau Po. Ketika mengetahui si bocah menoleh kepadanya, dia segera memejamkan matanya, namun pandangan mereka sudah sempat bentrok.

Siau Po tertawa.

“Kau tidak dapat bergerak maupun berbicara. Sebaiknya kau rebah saja dengan tenang. Ini merupakan jalan terbaik untukmu!”

Pakaian si nona tampak bersih. Rupanya si Cian memperhatikan pembungkusnya baik-baik dan babinya juga pasti sudah dicuci berkali-kali.

Siau Po menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis cilik itu. Kemudian dia memperhatikan lekat-lekat. Wajahnya pucat pasi. Sepasang alisnya justru lentik sekali, dan terus bergerak-gerak. Mungkin perasaannya yang takut atau cemas.

“jangan takut!” kata Siau Po. “Aku tidak akan membunuhmu. Lewat beberapa hari nanti, aku akan membebaskanmu!”

Nona itu membuka matanya sekejap lalu pejamkan kembali. Siau Po merasa puas. Diam- diam dia berpikir dalam hati. ‘Kau berasal dari keluarga Bhok yang menggetarkan seluruh dunia kangouw. Lihat saja ketika melakukan perjalanan di wilayah Kangouw, hanya karena ucapan sedikit saja, aku dianggap bersalah oleh seorang turunan Ke-ciang sehingga Mau Sip-pat, si setan bermuka kecil mencambuki aku setengah mampus! Dasar neneknya!’ . Siau Po memperhatikan tangannya yang merah karena cekalan Pek Han-hong yang keras. Ia lalu menggumam seorang diri.

“Han Hong, manusia celaka! Kakakmu yang mati, kau mengumbar kemarahannya malah padaku. Lihat! Sampai detik ini tanganku masih biru matang akibat perbuatanmu! Malah rasa n. rinya sampai berdenyut-denyut. Siapa nyana, putri kesayangan keluarga Bhok ini malah terjat ke tanganku. Sekarang apa pun yang kuinginkbaik mencaci maki atau merotaniriya, aku dap mela’kukannya sesuka,hatiku. Dia toh tidak sangg berkutik sedikit pun! Membawa pikiran demikidia tertawa sendiri.

Si nona cilik membuka matanya kembali ket mendengar suara tawa Siau Po. Dia memperhatikan orang di hadapannya. Sekali lagi Siau Po tertawa dan berkata.

“Betul, kau adalah seorang putri bangsawan lalu kau menganggap dirimu hebat, bukan? Tapi aku tidak takut padamu!” Tanpa berpikir panjang lagi, dia menampar pipi gadis cilik itu berkali-kali.

Wajah si kuncu itu jadi merah dan bengap. Air matanya juga langsung bercucuran. Rupanya dia sangat kesakitan.

“Jangan menangis!” bentak Siau Po. “Kau harus mendengar apa pun laranganku!”

Namun nona itu tidak dapat menahan rasa sakit di pipi dan juga rasa sedih di hatinya, air matanya_ justru mengucur semakin deras.

Siau Po menjadi marah.

“Nona bandel dan bau!” bentaknya sekali lagi. Kembali dia menampar pipinya. Kemudian dia menjambak rambut gadis itu lalu menariknya sehingga tubuh nona terangkat. “Ayo, kau masih berani menangis atau tidak?”

Air mata si nona masih terus mengalir.

“Buka matamu!” kata Siau Po ketus. “Lihat aku!”

Si nona malah memejamkan matanya erat-erat.

“Hai! kau kira ini istanamu! lni bukan Bhok onghu? Biarpun keempat pengawal keluargamu lihay-lihay, tapi suatu hari nanti mereka akan bertemu denganku. Saat itu aku akan membunuh serta mencincang tubuh mereka sehingga berkeping-keping. Ayo, buka matamu tidak?”

Siau Po seperti orang kalap. Tapi si nona tidak mau menggubrisnya. Matanya tetap terpejam.

“Baik!” kata si bocah cilik kemudian. Jambakannya dilepas. “Kau tetap tidak mau membuka matamu? Lalu buat apa kau memiliki mata yang jelek itu? Lebih baik dikorek keluar saja dan akan kujadikan santapan dengan arak!”

Dia langsung mengeluarkan pis au belatinya damenggerak-gerakkannya di depan wajah gadis keceil itu.

Tubuh si nona gemetar namun dia tidak membuka matanya. Siau Po kewalahan juga. Ternyata nona tidak mempan ancaman.

“Kau tetap tidak mau membuka matamu?” tanyanya dengan nada keras. “Aku justru ingin kau membukanya! Ayo kita mengadu kelihayan, lihat apakah kau putri bau yang menang dan aku, kongkong yang kalah? Sekarang aku tidak jadi mengorek biji matamu. Kaulah yang menang apabila aku melakukannya. Untuk selamanya kau tidak bisa melihat aku lagi. Sekarang aku ingin menggores wajahmu terlebih dahulu, seperti memotong telur rebus. Aku bisa membuat gambar bermacam-macam, umpamanya pipi kiri kuukirkan seekor kura-kura dan di pipi kanan akan kugambar setumpuk tahi kerbau! Nanti kalau lukanya sudah kering, bekas tidak dapat dihilangkan lagi. Kalau kau bejalan keluar rumah, kau akan menjadi tontonan ratusan bahkan ribuan orang. Saat itu pasti semua orang akan memuji kecantikanmu. Betapa manis dan mempesonanya putri cilik Bhok onghu. Nah, kau hendak membuka matamu atau tidak?”

Tubuh si nona .semakin gemetar, tetapi matanya masih dipejamkan juga.

Melihat keadaan itu, Siau Po langsung menggumam seorang diri perlahan-lahan.

“Oh, rupanya nona ini menganggap wajahnya kurang cantik dan ingin aku meriasnya agar mencapai kesempurnaan. Baiklah, aku akan melakukannya. Sekarang, pertama-tama aku akan melukis seekor kura-kura!”

Dia atas meja ada tersedia alat-alat tulis. Siau Po segera mempersiapkan bak tinta serta pitanya. Semua itu peninggalan Hay kongkong yang tidak pernah diutak-kutiknya. Seumur hidupnya baru kali ini Siau Po memegang sebatang pit. Karena itu, cara menggenggamnya seperti memegang sumpit makan.

Sesaat kemudian si nona cilik merasa ujung pit bergerak-gerak di pipinya. Siau Po sedang mencoba melukis seekor kura-kura. Air matanya mengalir semakin deras sehingga warna tinta hitam mencair dan wajahnya jadi kotor tidak karuan.

“Sekarang aku sedang melukis seekor kura-kura!” kata Siau Po kembali. Dia tidak menghiraukan perasaan takut si gadis cilik itu. “Nanti kalau aku sudah selesai melukis, aku akan mengukirnya dengan mengikuti garisnya. Pisauku sangat tajam, kau tidak perlu khawatir gambarku gagal. Nah, kalau sudah selesai dan kering, aku baru membawa mu berjalan-jalan di muka umum agar semua orang bisa memuji kecantikanmu. Di depan pintu kota Tiang-An aku akan berteriak-teriak sekeras-kerasnya: ‘Tuan-tuan sekalian, siapa yang ingin mempunyai lukisan kura-kura? Harganya murah sekali. Sehelai hanya tiga bun. Dengan demikian aku bisa menghasilkan uang. Melukisnya juga tidak susah. Mungkin satu hari aku sanggup melukis seratus helai gambar kura-kura. Mudah bukan mencari uang tiga ratus bun untuk berfoya-foya setiaphari.

Selesai berkata, Siau Po memperhatikan wajah si nona. Dia melihat alis orang itu bergerak-gerak dan matanya berkedip-kedip menandakan hatinya yang sedang ketakutan. Siau Po menjadi puas dan girang sekali. Mulutnya tertawa lebar.

“Nah, sekarang giliran pipi kanan!” katanya kemudian. “Tapi, kalau aku melukis setumpuk kotoran kerbau, siapa yang sudi membelinya? Ah! Sebaiknya aku melukis gambar seekor babi. Ya.. babi yang gemuk dan buntek. Pasti laris!”

Lalu ia mencoret-coret ujung pitnya di pipi si nona yang satunya lagi. Dia menggambar binatang berkaki empat, tapi tampangnya tidak mirip babi maupun anjing!

“Selesai!” katanya. Dia meletakkan pitnya di atas meja kemudian diambilnya sebuah gunti yang ujungnya runcing dan dingin di pipi nona itu dan tentu saja dia hanya menempelkannya saja.

“Ayo, kau buka matamu atau tidak?” bentaknya sekali lagi. “Kalau tidak, aku akan mulai mengukir!”

mata si nona masih mengalir, namun matanya tetap dipejamkan.

“Kau masih membandel juga?” kata Siau Po. Dia segera membalikkan guntingnya dengan bagian pegangannya di bawah dan diletakkannya ke pipi si gadis untuk menggertaknya. Kuncu cilik merasa pipinya dingin dan agak sakit. Saking takutnya, bukannya membuka mata, dia malah jatuh pingsan!

Siau Po terperanjat setengah mati. Dia khawatir gadis itu akan mati ketakutan. Cepat-cepat dia meletakkan ujung jarinya di bawah hidung si nona yang bangir dan dia merasa ada pernafasan yang lemah sekali. Hatinya lega sekali ketika mengetahui si nona masih hidup.

’Ah, ia hanya pura-pura mati,’ pikirnya dalam hari. Kemudian dia berkata keras-keras. “Sampai dia masih tidak mau membuka matanya jugam apakah aku Wi Siau-po harus mengalah? Tidak sudi aku kalah olehmu!”

Siau Po segera mengambil sehelai sapu tangan kemudian dibasahkan dengan air lalu digunakan untuk membasuh wajah si nona. Dalam sekejap mata wajah si nona jadi bersih kembali. Siau Po dapat melihat selembar wajah yang putih dan cantik. Bulu matanya lentik, alisnya panjang, hidungnya mancung dan bentuk bibirnya mungil.

Terdengar dia menggumam seorang diri.

“Kau seorang kuncu, sedangkan aku hanya rakyat jelata. Tapi, bukankah kita sama-sama manusia?” Rupanya karena terkena sentuhan air dingin, nona siuman dari pingsannya. Otomatis dia membuka matanya. Mungkin untuk sesaat dia lupa telah terjatuh ke tangan Siau Po. Ketika dia membuka matanya dan mendapatkan wajah thaykam cilik itu begitu dekat dengannya, dia terkejut setengah mati. Apalagi mata mereka sempat berpadu. Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali.

“Ha… ha… ha… ha… ha!” Siau Po tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya kau membuka matamu juga! Ya, kau sudah melihat aku! Dengan demikian akulah yang menang. Benar kan?” Puas rasanya hati Siau Po. Tapi hanya untuk sekejapan saja. Akhirnya dia kecewa juga. Karena nona itu tidak membuka matanya lagi. Dia berpikir untuk membebaskan totokan gadis cilik itu tetapi dia tidak mempunyai kesanggupan!

‘Aih, celaka!’ pikirnya dalam hati. Kemudian dia berkata kepada si gadis cilik.

“Nona, jalan darahmu telah ditotok oleh orang, tapi ia tidak membebaskanya ketika menyerahkan kau padaku. Bukankah kau jadi tidak bisa makan dan bakal mati kelaparan? Aku ingin menolongmu, tapi aku tidak bisa. Dulu aku pernah belajar ilmu totokan, tapi sekarang aku sudah lupa! Bagaimana dengan kau. Apakah kau mengerti ilmu silat? Kalau kau tidak bisa, terpaksa kau harus menerima nasib dengan jelas. Karena itu dia mengedipkan mata tiga kali.

“Bagus!” seru Siau Po senang. “Sekarang akan akan mulai mencari jalan darahmu yang tertotok.

Bocah ini bengal dan nakal. Kebiasaannya sudah sulit diubah. Begitu juga kali ini, meskip dia baru pertama kali bertemu dengan puteri bangsawan itu, tapi dia sudah mengganggunya sedemian rupa. Dia juga berani sekali sehingga perbuatannya mirip dengan anak yang genit!

Siau Po segera mengulurkan tanganya dan raba payudara sebelah kanan gadis cilik itu.

“Di sini bukan?” tanyanya.

Wajah si nona cilik jadi merah padam. Dia membelalakkan matanya lebar-lebar tanpa berberkedip sedikit pun.

Siau Po kembali menekan dada sebelah gadis cilik itu:

“Apakah di sini?” tanyanya lagi.

Wajah si nona semakin jengah. Tapi karena sudah cukup lama dia membelalakkan matanya, tidak dapat bertahan lagi, tanpa dikehendaki matanya berkedip satu kali.

“Oh, di sini rupanya!” kata Siau Po.

Tapi si nona segera membelalakkan matanya kembali. Dia merasa malu sekali. Tapi mulutnya tidak dapat berbicara untuk menjelaskan kepada Siau Po. Dia malah jadi kebingungan. Kedua anak itu masih di bawah umur. Tetapi biasanya memang anak perempuan lebih cepat matang daripada anak laki-laki. Sedangkan Siau Po dibesarkan dalam rumah pelacuran. Meskipun belumn mengerti, tetapi dia sering melihat perbuatan apa saja yang sering dilakukan para laki-laki hidung –belang bersama nona-nona yang disewanya.

Senang hati Siau Po melihat si nona merasa malu dan kebingungan. Tiba-tiba dia teringat kepahitan yang pernah dialaminya di Kangou juga cekalan tangan Pek Han-hong yang menjadi Keciang keluarga Bhok.

’Inilah waktu yang tepat untuk membalas dendam!’ pikirnya dalam hati.

Sebetulnya Siau Po tidak genit, tetapi dia sering dipengaruhi wataknya yang usil dan suka mengganggu. Karena itu dia sengaja meraba tubuh nona itu kesana kemari sehingga si kuncu cilik tidak berani mengedipkan matanya sekalipun. Bahkan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Tepat pada saat itu Siau Po menotok iga kiri, karena kegelian sekaligus senang, karena kali ini Siau Po menotok dengan tepat. Karena itu pula cepat-cepat dia mengedipkan matanya tiga kali lalu menarik nafas panjang pertanda kelegaan hatinya.

Siau Po tertawa lebar sembari berkata.

“Nah, benar di sini! Sebetulnya bukan aku tidak tahu jalan darah ini, tapi entah kenapa aku sampai melupakannya!”

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.

‘Sekarang jalan darahnya sudah bebas. Entah sampai di mana tingginya kepandaian nona cilik ini. Yang pasti ilmu silatku sendiri masih rendah sekali. Sebaiknya aku meningkatkan kewaspadaan seba ada kemungkinan dia akan menyerang aku secara mendadak!’

Siau Po bekerja dengan gesit. Dia segera mengambil dua buah ikat pinggang. Kemudian dia melipatkan sepasang kaki gadis cilik itu erat-erat dan kedua tangannya pun dilipatkan ke bagian belakang kursi.

Kuncu cilik itu tidak memberontak meskipun diperlakukan sedemikian rupa. Dia hanya merasa khawatir sebab tidak tahu hinaan apa lagi yang akan ditimpakan Siau Po pada dirinya. Karena itu dia memandangi Siau Po dengan sinar mata ketakutan.

Siau Po tertawa.

“Kau takut padaku, bukan?” tanyanya. “Karena kau takut, baiklah! Lohu akan membebaskan totokanmu!” Lalu dengan seenaknya dia meraba ketiak kiri non a itu kemudian ditekan-tekannya.

Si nona tercekat hatinya, apalagi dia memang mudah geli. Wajahnya menjadi merah padam karena menahan rasa ingin tertawa. Dalam keadaan demikian mana mungkin dia tersenyum? Hatinya merasa mendongkol, malu juga takut. Namun karena ia tidak dapat bergerak, terpaksa dia mendiamkan saja orang mempermainkannya.

Siau Po yang jahil berkata kembali.

“Sebetulnya aku seorang ahli dalam ilmu totokan maupun membebaskannya. Hanya saja akhir-akhir ini aku repot sekali sehingga aku sampai hampir lupa semuanya. Tapi ini kan urusan kecil, betul tidak? Nah, sekarang kau katakan, benarkah ini cara membebaskanmu dari totokan?” Dia meraba lagi dan sekaligus menggelitik.

Kuncu cilik itu merasa kehilangan namun dia bertahan sekuatnya. Dalam hati dia memaki. ‘Dasar kau yang tidak becus! Tapi kau masih mengoceh sembarangan. Mana ada orang yang membebaskan totokan dengan cara konyol seperti ini?’

Tentu saja Siau Po tidak tahu jalan pikiran si kuncu cilik itu. Dia berkata kembali:

“Memang ilmu totokanmu ini sangat istimewa dan hanya bisa memperlihatkan hasil apabila dilakukan pada diri orang dari kalangan atas. Kau hanya seorang budak kecil, bukan keturunan luhur atau kalangan atas. Jadi ilmuku ini tidak membawa faedah padamu. Baiklah, sekarang kita coba ilmu yang nomor dua!”

Kembali Siau Po meraba ketiak si nona dan menekan-nekannya. Nona cilik itu sungguh menderita. Di samping geli, dia juga merasa sakit. Air matanya sampai bercucuran. Rasa nyeri membuatnya sukar tertawa.

“Ah! Masih tidak jalan juga!” kata Siau Po.

“Ilmu yang nomor dua tidak membawa hasil juga. Benar-benar hebat! Mungkinkah kau hendak kelas tiga? Tidak ada jalan lain kecuali mencoba ilmu yang ketiga!” Ucapannya dibuktikan. Si nona kembali merasakan siksaan. Tangan si bocah kembali menggerayangi seluruh tubuhnya, tetapi hasilnya tetap tidak menggembirakan.

Ilmu totokan harus dipelajari dengan tekun dan memakan waktu. Demikian juga ilmu membebaskannya. Orang harus memahami seluruh jalan darah yang ada di dalam tubuh serta tidak boleh melakukan kesalahan. Mending kalau membebaskan, boleh sembarang memijit di sana-sini, tapi kalau menotok harus mengetahui jalan darah yang tepat. Sebab bisa salah melakukannya, bisa mengakibatkan kematian.

Siau Po mengalami kegagalan berkali-kali. Meskipun dia mengerti sedikit ilmu silat, tapi dia buta sama sekali dalam ilmu totokan. Dia hanya main terka saja.

“Kurang ajar!” katanya sengit. “Aku sudah mencoba sampai ilmuku yang kedelapan, namun masih tidak juga berhasil. Eh, mungkinkah kau ini budak kelas sembilan? Aku orang yang berderajat tinggi tidak bisa aku menggunakan ilmuku yang kesembilan sembarangan. Rupanya kalian orang-orang dari Bhok onghu hanya bangsa kutu busuk. Ya… apa boleh buat. Aku tidak bisa memperdulikan lagi harga diriku. Akan kucoba ilmuku yang ke Sembilan!”

Kali ini Siau Po tidak menekan-nekan lagi, dia menyentilkan jari tangannya kesana-sini sambil berkata:

“Ini yang disebut ilmu bunga kapas!” Dia mengulangi sampai belasan kali.

Mendadak si noria menjerit keras dan menangis sesunggukkan. Bukan main girangnya hati Siau Po sampa dia berjingkrakan.

“Nah, apa kataku?” serunya’ “Oh, anak manis. Kiranya anggota keluarga Bhok ongya hanya budak kelas sembilan. Pantas saja kau hanya bisa dibebaskan dengan ilmuku yang ke sembilan pula!”

“Kau … kaulah budak… dari kelas… sem…bilan!” Seru gadis cilik itu terbata-bata. Dia merasa mendongkol sekali tetapi dia berteriak sembari mengangis sehingga ucapannya tidak lancar.

“Kau…. kaulah…budak… ke…las sembilan!” ucap Siau Po meniru kata-kata gadis cilik itu, setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.

Selagi si nona masih terisak-isak, Siau Po berkata kembali.

“Aku sudah lapar. Tentunya kau ingin makan juga. Baiklah! Aku akan mencarikan makanan untukmu!”

Untuk mencari makanan, tidak ada kesulitan sama sekali bagi Siau Po. Dia adalah kepala bagian Siang-sian tong. Dia tinggal membuka mulut dan memintanya dari koki istana. Dia memang sering dimanjakan para koki dan sering dibawakan makanan yang lezat-lezat. Sebelumnya dia juga senang keluyuran sehingga tahu nama hidangan yang terkenal dan disukainya. Dia juga banyak tahu tentang kue dan roti. Dia tidak menemukan kesulitan karena uangnya banyak.
Itulah sebabnya tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi ke kamar dengan membawa beberapa macam kue.

“Nah, mari kita makan ini!” ajak Siau Po. “Ini kue kacang hijau dengan aroma bunga mawar. Rasanya lezat sekali. Cobalah!”

Si kuncu cilik menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana dengan yang ini?” Siau Po menunjuk kue lainnya. “Ini kue kacang kedelai, di tempatmu, Inlam, kue semacam ini pasti tidak ada. Cobalah!”

“Aku… aku tidak… ingin ma… kan apa-a sahut,” sahut si nona cilik yang akhirnya membuka suara juga. Namun setelah itu, kembali dia menangig terisak-isak.

Mendengar suara tangisan itu, kekesalan dalam hati Siau Po agak berkurang.

“Kalau kau tidak makan, tentunya kau akan kelaparan. Hal itu membahayakanl” kata Siau Po dengan nada sabar.

“A…ku tidak la…par,” sahut si nona.

“Nanti kau sakitl”

“Tidak, aku tidak sakit….”

“Ah… aku tidak percaya,” kata Siau Po yang suka melayani nona cilik itu berbicara sebab setiap ucapannya mendapat sambutan.

“Perduli apa aku sakit? Aku lebih suka mati!”

“Tidak! Kau tidak akan mati!”

Tepat pada sa at itu, di pintu terdengar suara ketukan. Suaranya perlahan sekali, tapi Siau Po mendengarnya dengan jelas. Dia tahu saatnya thaykam datang mengantarkan makanan. Dia khawatir kalau nona itu akan menjerit. Karena itu dia segera mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian digunakan untuk menyumpal mulut si nona cilik. Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.

“Hari ini aku ingin mencoba masakan Inlam. Beritahukan kepada koki istana, minta dia meyediakan!”

“baik!” sahut si thaykam kecil yang langsung mengundurkan diri.

Di dalam istana, terdapat banyak pelayan. Semuanya dilakukan serba cepat. Karena itu sebentar saja pesanan Siau Po sudah diantarkan.

Siau Po sendiri yang mengatur hidangan di atas meja yang ada di hadapan si nona. Dia sendiri langsung duduk di depannya. Terlebih dahulu dia melepaskan sapu tangan yang menyumpal mulut gadis cilik itu.

“Mari makan!” katanya. “Ini daging kambing, ikan dan daging babi! Nah, itu sup yang enak sekali…” Siau Po langsung menyendoknya untuk dicicipi. Mulutnya memperdengarkan suara seperti sedang menikmati dengan lahapnya.

Secara diam-diam Siau Po melirik ke arah gadis cilik itu. Si kuncu duduk berdiam diri. Malah air matanya masih menetes sekali-sekali. Tampaknya dia benar-benar belum lapar.

“Aih!” kata Siau Po yang mulai kehilangan kesabarannya. “Mungkinkah seorang budak kelas sembilan tidak bisa menikmati hidangan nomor wahid dan harus menyantap ikan busuk dan daging busuk saja. Lihat! Semua hidangan ini termasuk kelas satu. Tapi, tidak apa-apa. Sebentar aku akan menyuruh orang menyediakan daging basi dan ikan busuk saja. Mungkin kau mau memakannya!”

“Aku tidak makan hidangan busuk!” sahu nona yang akhirnya membuka mulut juga.

“Tentu kau suka ikan busuk dan daging basi.” kata Siau Po sengaja memanaskan hati orang.

“Jangan sembarangan bicara!” teriak nona “Aku tidak suka makanan bau!”

Siau Po mengambil sepotong kepiting kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Sedap!” katanya, tapi ketika si kuncu masih juga belum memperlihatkan reaksi apa-apa, dia meletakkan sumpitnya kembali lalu duduk termenung. Otaknya bekerja memikirkan akal apa harus digunakannya untuk menghadapi si nona bangsawan ini.

Tidak lama kemudian, thaykam kecil yang mengantarkan hidangan tadi datang kembali. Kali ini Dia membawa masakan khas Inlam sepoci teh keluaran wilayah .itu. Dia juga menyebutkan namanya satu per satu.

“Mari makan!” kata Siau Po setelah mengunci pintu rapat-rapat. Dia kembali mengatur hidangan yang baru dibawakan di atas meja. “Semua ini masakan ala Inlam. Silahkan kau mencobanya!”

Kuncu tertarik. Semua hidangan itu berasal dari kampung halamannya. Dia menyukainya. Tiba-tiba saja seleranya muncul. Tetapi, ketika dia ingat perbuatan bocah itu terhadapnya, hatinya menjadi sebal. “Tidak! Aku tidak mau makan! Biar dia membujukku dengan cara apa pun!’ janjinya diam-diam.

Siau Po menjemput sepotong ham dengan sumpitnya kemudian disodorkannya ke mulut si nona.

“Bukalah matamu!” katanya sembari tertawa.

Bukannya membuka mulut, si nona malah mengatupnya erat-erat. Si bocah memang jahil, dia sengaja nengoleskan ham yang berminyak itu ke bibir si nona kecil itu.

“Makanlah! Setelah makan, nanti aku akan akan membuka ikatanmu!” katanya membujuk.

Memang nona cilik itu baru bisa berbicara. Anggota tubuh lainnya belum bisa bergerak karena belum terbebas dari totokan. Nona itu tidak menagatakan apa-apa, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Siau Po menaruh potongan ham kembali ke piring, dia mengangkat mangkok sup yang isinya masih mengepul saking panasnya.

“Kau lihat sup ini masih panas sekali. Kalau kaumakan, aku menyuapimu sesendok demi sesendok tapi kalau kau tidak sudi, hm!” katanya kesal.

Tanpa menanti jawaban, dia memencet hidung si nona cilik kemudian menyendok kuah sup dan menyodorkannya ke mulut si nona. Dalam keadaan terpaksa, mau tidak mau si nona membuka mulutnya.

“Kau lihat, bagaimana panasnya sup ini. Perutmu bisa melepuh karenanya!” kata Siau Po sambil menyuapi sup ke mulut si nona. Kemudian melepaskan pencetannya di hidung agar nona dapat bernafas.

Setelah menarik nafas panjang beberapa kali nona itu menangis lagi.

“Kau… kau telah menggores wajahku!” kata jengkel. “Aku tidak mau hidup lagi! Wajahku jadi jelek…!”

’Oh, kiranya kau menyangka aku benar-benar mengukir wajahmu dengan pisau!’ pikir Siau Po. Kemudian dia tertawa lebar dan berkata; “Biarpun wajahmu telah diukir, tapi gambar kura-kura mungil dan indah sekali. Kalau kau berjala n di depan umum, aku yakin setiap orang akan menatapmu dengan terpesona dan tidak henti-hentinya memujimu!”

“Mereka menatapku seperti makhluk aneh dan bersorak karena wajahku yang jelek!” teriak si nona sembari menangis terus. “Aku lebih suka mati saja ….!”

“Ah! Rupanya kau tidak suka gambar kura-kura yang demikian mungil,” kata Siau Po menggoda. “Kalau begitu, buat apa tadinya aku mengasah otak capek-capek. Lebih baik aku mengukir sekuntum bunga saja.”

“Mengukir sekuntum bunga? Bunga apa? Aku toh bukannya kayu!” sahut si nona kesal.

“Bagaimana bukan kayu kalau margamu saja Bhok?” Sepertinya telah terangkan sebelumnya bahwa lafal huruf Bhok sama artinya dengan kayu.

“Memang benar aku she Bhok, tapi bukan ’Bhok’ kayu!” sahut si nona membantah. “Marga Bhok keluarga kami ada tiga titik air di sam pingnya.”

Siau Po buta huruf. Dia tidak tahu bagaimana betuk huruf Bhok, tapi mendengar marga nona itu ada tiga titik air di sampingnya, timbul lagi rasa isengnya.

“Kalau kayu direndam dalam air, lama-lama kan akan menjadi kayu busuk?”

Nona cilik itu menangis lagi. Dia benar-benar kewalahan adu mulut dengan si thaykam gadungan.

“Aih! Kenapa harus menangis? Lebih baik kau panggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kali. Nanti aku akan menghapus kura-kura di wajahmu hingga bersih kembali dan dijamin tidak ada bekasnya sedikit pun!”

Wajah si nona menjadi marah karena jengahnya.

“Mana mungkin bisa dihapus?” sahutnya lirih.

“Kalau kau menghapusnya lagi, bisa jadi apa wajahku ini?”

“Kau jangan khawatir….” kata Siau Po senang karena kata-katanya mulai termakan oleh gadis cilik itu. “Aku mempunyai obat penghapus yang mujarab. Kalau bagi seorang dari golongan tingkat atas, bekas luka kura-kura seperti wajahmu ini pasti sulit dihapuskan lagi, tapi bagi budak kelas sembilan seperti kau ini, tidak menjadi persoalan!”

“Aku tidak percaya kata-katamu. Kau memang manusia paling jahat!’ sahut si nona.

Siau Po tidak melayaninya.

“Ayo, kau mau panggil aku kakak yang baik atau tidak?”

Wajah si nona semakin merah, dia merasa malu, namun kepalanya menggeleng.

Siau Po melihat gadis cilik itu merasa jengah. Dia tertarik melihat tampang si gadis yang lugu. Semakin suka dia menggodanya.

“Kura-kura kecil itu baru diukir, masih mudah menghapusnya,” katanya kembali. “Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, pasti sudah meresap. Apalagi kalau ekornya sudah tumbuh. Wah! Kau pasti menyesal karena sudah terlambat!”

Para gadis umumnya menyukai kecantikan. Tidak terkecuali si nona bangsawan dari keluarga Bhok. Meskipun dia merasa bingung dan ragu-ragu, tapi ia memperhatikan Siau Po lekat-lekat. Agaknya dia mulai termakan kata-katanya thaykam gadungan itu. Dia juga merasa takut kalau kura-kura di wajahnya benar-benar tumbuh ekor.

“Apa… kau tidak berbohong?” tanyanya kemudian.

“Membohongimu?” kata Siau Po dengan tampang serius. “Untuk apa? Malah semakin cepat kau memanggilku kakak yang baik, aku akan segera menghapus kura-kura di wajahmu itu agar terlihat cantik kembali seperti sediakala. Nah, sebaiknya kau cepat-cepat memanggil aku kakak yang baik!”

“Tapi… kalau… kalau… kau menghapusnya kurang sempurna. Dengan apa kau akan mengganti kerugianku?” tanya si nona cilik sangsi.

“Jangan khawatir. Aku akan menggantimu dua kali lipat!” sahut si bocah nakal. “Betul! Aku akan memanggilmu adik yang baik sampai enam kali berturut-turut!”

Wajah si nona kembali merah padam. Dia merasa malu sekali.

“Ah … kau memang busuk! Aku tidak mau…!”

“Aih! Kau masih saja sangsi! Sayang sekali…!”

Nona itu memperhatikan si thaykam cilik lekat-lekat. Sedangkan Siau Po juga sedang menatapnya.

“Bagaimana kalau kita atur begini saja. Sekarang kau memanggil aku satu kali dulu kakak yang baik. Setelah selesai menghapus kura-kura wajahmu itu, kau memanggilku lagi satu kali. Berarti keseluruhannya sudah dua kali. Pada waktu itu aku akan mengambil cermin untuk kau lihat sendiri hasilnya. Kalau kau sudah merasa puas dengan hasil kerjaku, kau boleh memanggil aku kakak yang baik sekali lagi. Mungkin pada waktu itu, kau akan kegirangan setengah mati sehingga kau akan memanggil aku kakak yang baik sampai belasan kali!”

“Tidak! Tidak!” sahut si nona cilik. “Kau sudah bilang tiga kali, mana boleh ditambah lagi?”

Siau Po tertawa.

“Baiklah! Tiga kali, ya tiga kali!” katanya. “Nah! cepatlah kau memanggil aku sekarang!”

Si nona menatap Siau Po. Bibirnya bergerak-gerak namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar.

“Ayo!” desak si bocah nakal. “Panggillah aku kakak yang baik! Apa sih susahnya? Aku toh tidak menyuruh kau memanggil aku, paman yang baik atau paman yang tua. Cepat! Kalau kau masih berlama-lama, nanti harganya akan kunaikkan lagi!”

Nona itu kena digertaknya. Dia merasa takut “Baiklah! Sekarang aku akan memanggil satu kali terlebih dahulu,” katanya kemudian. “Setelah selesai kau memperbaiki wajahku, nanti akan memanggil dua kali lagi!”

Siau Po pura-pura menarik nafas panjang.

“Kau benar-benar pandai menawar!” katanya.

“Baiklah. Aku terima tawaranmu itu. Aku adalah seorang pedagang yang baik, bayar di muka atau belakangan sama saja!”

Nona cilik itu memejamkan matanya.

“Kakak…” terdengar suaranya yang merdu dan lirih, tapi dia tidak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya semakin merah saking jengahnya.

“Kenapa kau memanggilnya setengah jalan?” tanya Siau Po menggoda. “Mana sambungannya?”

Wajah si nona semakin merah.

“Aku pasti memanggilnya,” sahutnya. “Aku tidak akan membohongimu…”

Siau Po tertawa.

“Yang baik!” kata si nona melanjutkan panggilannya.

“Bagus!” seru Siau Po. “Kau tidak mengelabui aku. Sekarang juga aku akan memperbaiki wajahmu. Akan kulakukan dengan mengerahkan segenap kemampuanku agar kau tambah manis!”

“Sudahlah!” kata si nona. “Jangan mengoceh yang bukan-bukan lagi. Bukankah aku sudah memanggilmu kakak?”

Kembali Siau Po tertawa. Dia langsung membuka kotak obat peninggalan Hay kongkong. Di dalamnya terdapat banyak botol-botol kecil. Satu persatu botol-botol itu dikeluarkannya kemudian dituangkan isinya sedikit demi sedikit. Lagaknya seperti seorang tabib yang sedang meracik obat.

Si nona memperhatikan dengan diam-diam. Melihat begitu panyaknya jenis obat yang dicampurkan, timbullah keyakinannya.

Siau Po berhenti meracik obat. Dia mengambil beberapa potong kue yang terbuat dari bahan kacang hijau, kacang kedelai dan lain-lainnya. Setelah dicuci bersih sehingga tepung bagian luarnya tidak ada lagi, dia menumbuk kue-kue itu untuk dicampur dengan obat-obatan tadi. Dia juga menambah gula madu serta diludahinya racikan obat itu banyak dua kali tanpa sepengetahuan si nona.

“Nah, obatnya sudah selesai!” katanya kemudian. “Inilah obat yang mujarab sekali. Tapi, mukin kau belum mempercayainya sepenuhnya. Akan kubuktikan nanti. Bukankah kau ingin wajahmu pulih kembali seperti sediakala?”

Siau Po mengambil topinya yang dikelilingi empat butir mutiara. la melepaskan mutiara-mutiara itu kemudian diletakkan dalam telapak tangannya.

“Lihat ini!” katanya. “Apa pendapatmu tentang mutiara ini?”

“Bagus!” sahut si nona tanpa ragu sedikit “Ukurannya sama besar. Jarang ada mutiara yang ukurannya persis sama!”

Gembira sekali hati thaykam gadungan itu mendengar ucapan si nona. Itu merupakan pujian baginya.

“Mutiara ini kubeli kemarin dengan harga dua ribu sembilan ratus tail perak,” katanya kemudian. “Mahal, bukan?”

Sengaja Siau Po meninggikan harga mutiara itu sebanyak seribu tail. Padahal dia membelinya dengan seribu sembilan ratus tail. Dimasukkan keempat butir mutiara itu ke dalam lumpang dan ditumbuk sehingga hancur.

“Aih!” kata si nona menyesal. “Mengapa mutiara seindah itu kau tumbuk?”

Puas sekali Siau Po melihat si nona yang tercengang. Itu memang yang diharapkannya. Dia tidak menjawab tapi terus menumbuk keempat butir mutiara itu sampai halus sekali.

“Kalau aku hanya memulihkan wajahmu, tak akan terbukti bahwa aku Wi…” Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya karena mengingat sudah kelepasan bicara. Cepat-cepat dia mengalihkannya dengan berkata. “Takkan terbukti kelihayan si kongkong Siau Kui cu! Aku akan membuat kau sepuluh kali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Dan panggilanmu kakak yang baik sebanyak sepuluh kali akan membuat hatiku puas!”

“Eh, kenapa sepuluh kali?” tanya si nona. Tanpa disadari, dia ikut terhanyut kejenakaan si bocah dan suka melayaninya berbincang-bincang. “Tadi kau sudah mengatakan tiga kali!”

Siau Po tidak menjawab. Dia menyendoki mutiara yang sudah halus itu dengan racikan obatnya.

Si nona merasa heran. Dia memperhatikan dengan seseorang matanya yang indah dibelalakkan lebar-lebar. Biar bagaimana, dia menyayangkan keempat butir mutiara itu. Tapi, di samping itu, dia semakin yakin dengan khasiat obat buatan Siau po. “Meskipun keempat butir mutiara ini sang mahal, tapi nilainya tidak seimbang dengan kemajuran obatku ini. Wajahmu sebenarnya tidak cantik. Kau hanya tergolong kelas delapan atau mungkin malah sembilan. Tetapi setelah menggunakan Obatku ini, peringkatmu akan naik menjadi sedikitnya kelas dua. Malah ada kemungkinan kau akan menjadi nona tercantik seluruh antero dunia ini! Mempesona bagai bulan purnama!”

“Bagai bulan purnama?” tanya si nona.

“Iya! Kau akan menjadi luar biasa cantiknya.” Selesai berkata, Siau Po langsung mengambil obat racikannya kemudian diolesi ke seluruh wajah si nona berulang kali.

Nona bangsawan itu diam saja. Dia membiarkan Siau Po memoles wajahnya. Dalam sekejap mata wajahnya sudah tertutup oleh racikan obat istimewa Siau Po. Bahkan telinganya juga diolesi oleh Siau Po. Namun satu hal yang membuatnya gembira obat itu tidak bau, malah menyiarkan keharuman.

Siau Po tertawa melihat gadis cilik itu kena dikelabuinya. Diam-diam dia berkata dalam hati.

‘Masih untung obat ini tidak kucampurkan dengan air kencing. Soalnya aku merasa malu sendiri. Setidaknya aku masih menghargai leluhurmu Bhok Eng yang mulia. Dia adalah pembangun negara dan aku Siau Po sangat menghormatinya!’

Selesai memoles wajah nona itu. Siau Po mencuci tangannya sampai bersih.

“Tunggu sampai obat ini kering. Nanti aku akan pakaikan bedak yang istimewa! Kau harus memakai obat ini sebanyak tiga kali. Mencucinya harus tiga kali juga, setelah itu wajahmu akan menjadi cantik seperti bulan purnama!”

Si nona merasa heran juga.

“Mengapa obatnya harus dipakai sampai tiga kali?”

“Sebenarnya tiga kali masih terlalu sedikit. Untuk membuat kecap saja, kacang kedelainya harus dijemur sampai sembilan kali. Merebus daging anjing pun harus tiga kali sampai benar-benar empuk dan gurih!”

Advertisements

1 Comment »

  1. tamat gak ini nanti ? katanya gak mungkin tamat dari sononya?

    Comment by nisem — 17/12/2009 @ 2:53 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: