Kumpulan Cerita Silat

23/01/2008

Perguruan Sejati (21)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:31 pm

Perguruan Sejati (21)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Benar saja salah satu pedang pusaka yang bernama Lie hwe kiam sudah hilang dari tempatnya. “Hweesio itu sangat aneh, ia pergi tanpa pamit dan membawa pedang untuk apa?” kata Yauw Kian Cee.

“Mungkin firasat buruknya itu dikarenakan ia melihat luka Ceng Ceng,” kata Ciu Kong.

“Tapi Toa Gu dan Thian Sek sampai sekarang belum bangun, hal ini mendatangkan firasat buruk bagiku!” kata Bok Tiong.

“Jika begitu sebaiknya Lo Cianpwee coba tengok mereka, jika belum bangun gotong saja kemari!” kata In Tiong Giok.

“Bolehkah aku menemani Lo yacu keluar?” tanya Ceng Ceng.

Tiong Giok tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ceng Ceng cepat-cepat mengikuti Bok Tiong keluar gua, dalam sejenak ia membuat kesan baik pada orang tua itu, sehingga salah paham tadi hilang dalam waktu sekejap.

Seberlalunya kedua orang itu, Tiong Giok berpaling pada Yauw Kian Cee dan berkata dengan serius: “Kuminta Yauw Lo Cianpwee memcapaikan diri pergi ke Siau sa san untuk menemui Hek pek siang yauw, dan mohon pada mereka sepuluh orang yang pandai berenang lengkap dengan alat-alat selamnya. Dan suruh mereka menantikan di Chin San sia dalam minggu ini juga.” Ia pun menyerahkan pedang Hong siat kiam pada Yauw Kian Cee. “Jika mereka tak yakin, perlihatkanlah pedang sebagai bukti…” Disamping itu ia pun menyerahkan Thian Lui tiap pada Ciu Kong.

“Kuminta Lo Cianpwee memcapaikan diri membawa buku ini sebagai benda kepercayaan untuk menyambangi Tong Cian Lie di Kiu Yang Shia. Katakan kepadanya aku menghaturkan terima kasih atas kesediaannya menerima ibuku disamping itu minta pula kepadanya untuk menahan Pek Kiam Hong dalam waktu setengah bulan, jangan sampai meninggalkan Kiu Yang Shia.”

Yauw Kian Cee dan Ciu Kong saling tatap, dengan wajah guram. Akhirnya Yauw Kian Cee bertanya dengan heran:”
Apakah Siau cu jin sudah bertekad untuk menolong Wan Kounio dari cengkeraman kaum Pok Thian Pang?”

“Benar! Tapi niatku pergi kesana semata-mata bukan karena urusan Wan Kounio saja, masih ada yang lebih penting lagi dari itu!”

“Bolehkah kutahu hal yang penting itu?” tanya Ciu Kong.

“Niatku pergi kemarkas kaum Pok Thian Pang disamping untuk menolong Wan Kounio, yang terpenting untuk menemui orang tua di dalam penjara tanah itu!”

“Apakah Siau cu jin tahu siapa orang itu?”

“Menurut dugaanku, orang tua itu bukan lain dari pada ayahku sendiri!”

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee menundukkan kepala tanpa berkata-kata lagi. Setelah itu dengan berbareng mereka merangkapkan tangan. “Kalau begitu sekarang juga kami pergi!”

“Baik, lebih cepat lebih baik!” kata Tiong Giok yang terus mengantar kedua orang tua itu keluar gua.

Baru Yauw dan Ciu berlalu, tampak Bok Tiong bersama-sama Ceng Ceng, Toa Gu dan Thian Sek kembali ke gua. Diantara mereka tampak Thian Sek paling gembira: “Siau cu jin mungkin engkau takkan percaya dalam waktu semalam aku dapat memahami ilmu Samadhi dari Thian Liong Bun!”

“Betulkah? Siapa yang mengajarimu?” tanya Tiong Giok.

Thian Sek menunjuk pada Toa Gu. “Oey Suheng yang mengajari!”

Keruan saja Tiong Giok dibikin melengak karena ia tahu sendiri Toa GU sendiri sangat goblok dan tak bisa memahami ilmu itu, apalagi mengajari orang lain. “Ha ha ha ha betul-betulkah dia yang mengajarimu?”

Toa Gu merasa jengah sendiri. “Aku tak mengajari apa-apa, hanya menyuruhnya tidur! Tapi ia mengatakan memperoleh hasil yang luar biasa sekali! Sebaliknya akupun tidur, dan benar-benar merasakan ada kemajuan! Tubuh rasanya melar mau meledak saja! Kalau dipikir lebih mendalam membuatku seram…jangan-jangan tempat ini angker dan kami kemasukan sesuatu jin atau iblis, bisa begitu tidak?”

Tiong Giok tertawa tergelak-gelak, disamping itu ia memperhatikan pada si tolol itu memang beda kelihatannya dari kemarin-kemarin. Sinar matanya begitu tajam, menandakan ilmu dalamnya sudah tinggi. “Ya mungkin kemasukan roh halus, sehingga membuatmu kuat dan gagah! Coba kau hajar dinding gua itu!”

“Aku tak berani!” kata Toa Gu.

“Takut sakit?” tanya Tiong Giok.

“Bukan! Kutakut dinding itu roboh!”

“Hi hi hi hi ngomong seenaknya! Apa kebiasaanmu bicara sesombong itu?” ejek Ceng Ceng.

“Lihatlah!” seru Toa Gu dengan sengit, karena dipandang enteng. “Hut” angin pukulan terlepas dari tangannya. Melihat ini Tiong giok menjadi kaget, cepat ia menarik Ceng Ceng dan Thian Sek keluar, sedang Bok Tiong pun mengikuti keluar. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi keras, dari ambruknya dinding gua, nyatanya pukulan Toa Gu membuat dinding itu roboh.

Ceng Ceng menjadi cemas dan menyesalkan dirinya sendiri. “Siau cu jin akulah yang mencelakakannya, ia mati teruruk dinding yang roboh itu.”

“Adikku yang baik tak perlu cemas, aku tak bisa mati!” tiba-tiba terdengar suara Toa Gu dari gua. Nyatanya dengan kekuatan tangannya ia membuat batu-batu yang menyumbat gua itu berterbangan keluar. Ia sangat kebal, batu-batu yang menimpa dirinya tidak membuat luka cuma bajunya pecah-pecah.

“Toa Gu engkau sangat lihay!” puji Tiong Giok waktu melihatnya keluar dari gua. “Sejak saat ini bukan saja tahan pukul, bahkan bisa memukul juga!” “Mari kita berangkat!”

“Beangkat kemana?” tanya Toa Gu.

“Memukul orang yang pantas dipukul!” kata Tiong Giok yang terus meninggalkan tempat itu, diikuti yang lain-lain dari belakang.

Ciu San shia letaknya dekat pegunungan, merupakan pedesaan yang tidak seberapa ramai. Sungguhpun begitu jalannya cukup besar dan sangat bersih, banyak kaum pelancong yang bertamasya kedaerah itu. Atau melewatkan waktu liburan dengan bermalam dipenginapan-penginapan yang terdapat disitu. Diantara penginapan-penginapan yang terkenal adalah penginapan Bwe Kie. Letaknya diarah selatan jalan raya. Gedungnya terdiri dari tiga wuwungan, halamannya luas dan indah.

Didepan gedung terdapat tempat menambat dan mengombongi kuda.

Tangga-tangga batu yang berundak-undak menghubungi jalan raya halaman gedung.

Sedangkan merek penginapan terpancang sanagt megahnya diatas pintu, dari jauh orang bisa melihatnya.

Pegawai-pegawai yang bekerja dipenginapan itu lebih kurang empat puluh orang lebih, kebanyakan mereka menganggur sekali. Sebab pada hari-hari biasa jarang ada tamu yang datang kesitu, kebanyakan menggunakan kelas dua yang murah harganya.

Biarpun begitu pegawai yang bekerja disitu tetap dipakai dan tidak pernah ada yang diberhentikan dengan dalih sepi ataupun alasan yang lain. Hal ini mengherankan dan membingungkan kaum pedagang, sebab terang-terang mereka melakukan usaha rugi!

Tapi untuk yang mengetahui rahasia penginapan itu sedikitpun tidak merasa heran. Karena penginapan itu milik kaum Pok Thian Pang! Dan dijadikan pos penghubung markas pusat mereka. Lama kelamaan orang pun tahu bahwa penginapan itu hanya pelabi saja dan tidak ada yang mau lagi bermalam atau mampir disitu. Tapi sungguh aneh dalam hari-hari belakangan ini penginapan ini banyak tamunya! Tamu-tamu itu bukan orang-orang biasa, mereka adalah jago-jago Kang Ouw yang berpakaian serba ringkas dan menyoren senjata. Keadaan penginapan menjadi ramai, tapi tiga hari kemudian tamu itu semuanya pergi, tinggallah seorang tua saja yang masih selalu menginap disitu. Orang tua itu tampaknya ia sangat gagah sekali, biarpun usianya diantara tujuh puluh tahun. Pipinya merah sehat, dan sering tersenyum-senyum dengan ramahnya bila bertemu seseorang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Ia menyewa kamar kesatu dibagian rumah yang berwuwungan paling belakang kerjanya kebanyakan mengunci pintu kamar, sampai makanan dan minuman setiap harinya dibawakan oleh pemilik penginapan itu yang lazim dipanggil Ciang kui…

Ciang kui itu seorang pertengahan umur yang kurus kecil, matanya sipit tapi tajam, tak ubahnya dengan mata tikus, demikian pula dengan kumisnya yang jarang menyerupai tikus juga. Anak buahnya biasa memanggilnya Sun Ciang kui.

Hari ini dijalan raya yang sepi dikota pedesaan Cin San shia terlihat seorang laki-laki mengendarai kudanya dengan kerasnya. Ia menuju kepenginapan Bwee Kie. Begitu ia melalui tangga batu, tubuhnya segera terjungkel dari tunggangannya. Ia mencoba bangun dengan terhuyung-huyung sambil menekan perutnya.

Dua pegawai penginapan cepat-cepat memberi pertolongan, laki-laki itu dipapahnya dari kiri dan kanan dan terus dibawa masuk kedalam penginapan.

Sun Ciang kui menghampiri tamu itu, ia menjadi kaget, karena diperutnya tampak sebuah luka besar yang mengalirkan darah dengan hebatnya.

Dengan napas tersengal-sengal laki-laki itu membuka mulut: “Da….dari….ca….bang…. Jiau ciu…”

“Mana tanda pengenalmu?”

Laki-laki itu menunjuk-nunjuk sakunya, setelah itu kepalanya segera terkulai napasnya terhenti. Ia mati.

Sun Ciang kui memeriksa sakunya laki-laki itu, ia mendapatkan sebuah kantong kulit yang berlepotan darah. Ia membuka kantong itu dan mengambil isinya, setelah itu melangkah masuk kedalam sambil memesan anak buahnya: “Kuburlah jenazah ini baik-baik!”

Wajah pucat Sun Ciang kui semakin pucat setelah membaca habis isi surat. Cepat-cepat ia berlari-lari kebelakang. Terus masuk kekamar siorang tua bermuka merah tanpa mengetuk pintu. Orang tua itu sedang semedi, gangguan ini membuatnya tak senang, dengan mendelik ia menegur: “Ada apa membuatmu kelabakan tak keruan?”

“Cabang di Jiauw cu habis disapu musuh, ketua cabang dan sekalian anak buahnya mati terbunuh!”

“Darimana kau dapat berita ini?”

“Seorang informan yang menyampaikan, tapi ia sendiri luka parah dan sudah mati!”

“Musuh itu dari golongan mana?”

“Silahkan To Futhoat baca surat ini!”

Orang tua itu segera menyambut surat dari Sun Ciang kui dan membacanya dengan cepat. “Heran kenapa Hek pek siang yauw bisa lakukan hal ini? Ia berani menentang Pok Thian Pang dengan cara yang berani, secara terang-terangan, sungguh luar biasa sekali!” Dikembalikannya surat itu pada Sun Ciang kui. “Segera laporkan dengan kilat ke markas pusat, biar Lo Cucong sendiri yang mengambil keputusan!”

Sun Ciang kui mengangguk dan membalik badan untuk berlalu, tapi menjadi urung karena orang tua itu menanyakan lagi. “Ada berita dari Kiu kiang atau tidak?”

“Belum,” jawab Sun Ciang kui. “Kuyakin bocah she In itu tidak mempunyai keberanian sebesar yang kita duga….”

Orang tua itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Engkau jangan memandang enteng kepadanya, kalau ia tahu Wan Jie kena tangkap, jangan kata ke markas Pok Thian Pang keujung langit pun pasti ia datang!”

“Apakah ia berani menempuh bahaya guna menolong Wan Jie?”

“Kalau ia takut namanya bukan In Tiong Giok, bocah itu tabiatnya keras, nyalinya besar, dibenaknya tak ada bahaya atau takut!”

“Aku menjadi anggota Pok Thian Pang belum berapa lama, sehingga kurang mengetahui riwayat bocah itu! Tapi untuk menghadapi bocah semacam itu, tak usah terlalu repot-repot! Andaikata ia datang, belum tentu ia bisa melewati cabang-cabang kita untuk apa repot-repot menyiapkan jago-jaggo kelas berat, menghadapi bocah saja?”

“Engkau belum menghadapi sendiri bocah itu, tak heran berani membuka mulut seenakmu, tapi kalau sudah bertemu….”

“Kalau sudah bertemu, hm…akan kubeset kulitnya!”

“Jangan-jangan mulutmu yang kena dibeset!” kata orang tua itu, “Sudahlah jangan banyak omong!”

Sun Ciang kui segera mengangguk dan terus keluar. Dipanggilnya anak buahnya yang cekatan dan disuruhnya mengantarkan surat dari Jiauw Ciu itu kemarkas pusat mereka.

Waktu sore, Sun Ciang kui seperti biasa membawakan makanan untuk orang tua yang tinggal dikamar belakang. Baru pula ia mau kesana, dari luar terdengar suara berisik beberapa orang, ia mengawasi sambil menunda niatnya kebelakang. Tampak empat laki-laki dan seorang gadis. Satupun tidak ada yang dikenalnya. Ia menjadi bingung demikian pula dengan anak buahnya, sehingga kedatangan tamu itu tidak ada yang menyambut.

“Ini penginapan bukan Lo heng?” tanya tamu itu kepada pelaytan sambil tersenyum.

“Benar! Benar!” sahut salah seorang pelayan yang lebih cerdik. “Saudara-saudara dapat bermalam dan sekalian makan dipenginapan ini.”

“Bila begitu kami tidak salah masuk!” kata tamu tadi sambil tersenyum-senyum, “kami mau bermalam…adakah kamar yang bersih?”

“Banyak! Banyak! Mari masuk!” kata Sun Ciang kui, sambil berkata ia mengerlingkan matanya pada anak buahnya, untuk mengajak para tamu masuk kedalam.

“Aku masih ingat betul pernah bermalam dipenginapan ini, dan mengambil tempat diruangan paling belakang…” kata salah seorang tamunya.

“Oh rupanya saudara tahu, bahwa ruangan paling belakang lebih jauh dari jalan besar dan lebih tenang keadaannya bukan?”

“Benar! Disamping itu, dapat bermalam lagi ditempat lama lebih enak dan membangkitkan kenangan manis!”

Pelayan itu agak bingung karena ia tahu diruangan belakang ada siorang tua berwajah merah, maka ia menjadi sangsi…. Saat inilah Sun Ciang kui datang dan terus membentak anak buahnya! “Sebagai pengusaha kita harus mengikuti kehendak para tamu! Engkau ini kenapa tidak kenal etika sekali? Kalau semua pegawai semacammu, bisa-bisa usaha ini gulung tikar!” kata Sun Ciang kui tandas sekali.

Sipelayan cepat-cepat mengundurkan diri tanpa mengatakan barang sepatah katapun. Sedang Sun Ciang kui dengan cepat tersenyum kepada para tamunya. Saudara-saudara mari ikut denganku!” dan terus diajaknya kebelakang.

“Bolehkah kutahu nama Lo heng?” tanya tamu itu.

“Oh.namaku biasa disebut Sun Ciang kui. Dan siapa nama saudara?”

“Namaku In Tiong Giok…”

“In Tiong Giok?”

“Benar! Memang kenapa?”

“Tidak! Tidak kenapa-napa! Hanya saja pernah kudengar di dunia Kang Ouw ada seorang jago muda yang telah menjadi ketua salah satu perguruan silat bernama persis seperti saudara…”

“Saudara Sun sebagai pengusaha rupanya memperhatikan juga keadaan dunia Kang Ouw bukan?”

“Oh.karena banyaknya tamu-tamu dipenginapan ini, sedikit banyak kudengar juga perihal kejadian didunia Kang Ouw.”

Sambil berkata tanpa terasa mereka telah berada didepan kamar si orang tua berwajah merah. In Tiong Giok tiba-tiba berhenti sebentar dan mengawasi kedalam kamar.

“Kamar ini sudah berisi.” kata Sun Ciang kui.

“Oh.” kata Tiong Giok yang melangkah lagi kekamar lain.

Akhirnya mereka berlima menyewa empat kamar, Bok Tiong dan Thian Sek memakai sekamar, Toa Gu dan Ceng Ceng masing-masing sekamar, demikian pula dengan Tiong Giok.

Sun Ciang kui secara ramah tamah dan telaten melayani para tamunya, setelah semuanya beres baru mengundurkan diri. Tapi dengan tiba-tiba Tiong Giok memanggilnya lagi. “Sun Ciang kui bolehkah kutahu siapa-siapa yang mendiami kamar tadai itu?”

“Kulupa, harus kulihat lagi daftar tamu.” jawab Sun Ciang kui.

“Tak usah memeriksa lagi,” cegah Tiong Giok. “Kumohon bantuanmu untuk menyampaikan terima kasihku kepadanya! Karena ia mengirim orang-orangnya emnyambut kami di Kiu Kiang! dalam hal ini kami tidak menyalahkan dirinya, hanya saja kuharapkan mulai hari ini tanpa seijinku, orang itu tidak boleh keluar dari kamarnya!”

“Baik! Baik!” jawab Sun Ciang kui sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dan terus berlari keluar memberi laporan kepada orang berwajah merah itu.

“Hei! Kenapa?” tanya si orang tua itu keheranan melihat paras gugup dari Sun Ciang kui.

“Celaka! Celaka!” kata Sun Ciang kui sambil menuturkan apa yang dikehendaki In Tiong Giok pada orang tua berwajah merah itu.

“Barusan kudengar langkah-langkah kaki diluar kamar, apakah mereka adanya?”

“Benar!” jawab Sun Ciang kui. “Nyatanya bocah itu sangaat lihay! Kita sudah mengirim beberapa penyelidik untuk mengetahui jejak mereka, tak tahunya mereka sudah datang kemari tanpa diketahui barang sedikitpun. Bahkan dengan berani mengadakan Show of dorce disini, tindakannya itu benar-benar keterlaluan sekali!”

“Ha ha ha, yang kukuatirkan tidak mendapat tahu jejak mereka, kini sebagai ikan mereka masuk kedalam bubu, tidak ada yang lebih baik dari jalan ini! Berapa jumlah mereka semua?”

“Seorang tua berkaki satu, dua pemuda kasar, seorang gadis berbaju hitam, bersama In Tiong Giok sendiri, berjumlah lima orang!”

“Siapa orang tua berkaki satu itu?”

“Entahlah sejak masuk kesini tidak berkata barang sepatahpun, agaknya kepandaiannya tinggi sekali, perlukah hal ini dilaporkan kemarkas?” tanya Sun Ciang kui pada kawannya.

“Kejadian terlalu cepat berubahnya, harus aku sendiri yang pulang melaporkan hal ini kepada Lo Cucong!”

“Tapi In Tiong Giok telah memesan, bilamana kamu hendak keluar dari kamar ini harus seijinnya dulu….”

“Ha ha ha, kau kira aku ini manusia macam apa yang bisa ditakut-takuti? Pokoknya asal kumau keluar dari kamar ini siapapun tidak bisa melarang!”

“Kamu bisa pergi, tapi bagaimana denganku sendiri?”

“Ha ha ha rupanya engkau ketakutan sekali bukan? Kau toh sebagai pengusaha penginapan ini bukan? Tak mungkin mereka membuatmu susah! Lagi pula kepulanganku paling lama dua hari, setelah itu orang-orang dipusat bisa membereskan hal disini!”

“Baiklah…”

“Sediakan makan malam secepatnya, setelah itu siapkan seekor kuda, malam ini juga aku mau berangkat!”

Tanpa berkata lagi Sun Ciang kui keluar dari kamar untuk menyediakan makanan orang tua itu. Begitu datang malam cepat ia memerintahkan anak buahnya menyediakan kuda, ia sendiri membawa makanan itu kekamar siorang tua. Tak kira ditengah jalan ia dirintangi laki-laki tegap yang bukan lain dari Toa Gu adanya. “Oh…saudara belum tidur?”

“Belum,” jawab Toa Gu tersenyum. “Entah apa yang kau bawa ini?”

“Makanan untuk dikamar itu!” jawab Sun Ciang kui sejujurnya.

“Ha ha ha kebenaran sekali perutku lagi lapar, bolehkah kumakan dulu bagiannya tamu itu?” kata si pemuda penghadang itu.

“Tidak bisa, ini pesanannya. Jika kau mau boleh kubikin lagi, tapi yang ini tidak boleh!”

Toa Gu jadi mendelik, dengan cepat makanan itu dirampasnya. “Aku sudah lapar, mana bisa menahan terlebih lama lagi, bisa-bisa cacing-cacing diperutku mengamuk semua!”

Sun Ciang kui tidak mau ribut, kepaksa ia mengalah dan terus berlalu sambil menggelengkan kepala.

Saat ini si orang tua berwajah merah sedang mondar mandir didalam kamarnya, sayup-sayup ia mendengar langkah yang semakin dekat kekamarnya. Begitu langkah itu berhenti didepan kamarnya segera ia menegur. “Siapa?”

“Aku mengantarkan makanan untukmu!” jawab dari luar. Berbareng dengan itu pintupun terbuka dan Toa Gu menyelonong kedalam.

“Oh! Kiranya engkau!” kata siorang tua.

“Eh Tok Kay Pong kukira siapa, kenapa engkau ngeram terus didalam kamar?” jawab Toa Gu.

Orang tua itu memang Tok Kay Pong adanya, ia kenal Toa Gu sewaktu terjadi perebutan pedang mustika di Hoay Giok San.

Toa Gu dengan tersenyum-senyum meletakkan makanan diatas meja. “Aku disuruh Siau cu jin datang kemari untuk menyampaikan pesannya, yakni tanpa seijin dia engkau tak boleh keluar dari kamar ini, mengerti? Jika engkau tahu diri dan dengar kata tidak diapa-apakan, sebaliknya kalau engkau membandel kami akan menindak tanpa kasihan, jelas tidak?” Selesai berkata Toa Gu nyelonong lagi keluar. Kelakuannya itu kasar sekali, seenaknya keluar masuk kekamar orang, tanpa ijin dan permisi. Keeruan saja membuat Tok Kay Pong menjadi gusar, sungguhpun begitu ia diam saja tidak mencegah apa yang dilakukan Toa Gu.

“Eh, selanjutnya jangan seperti gadis pingitan, diam saja didalam kamar….” kata Toa Gu dari luar.

“Eh, babi, kemari!” teriak Tok Kay Pong dengan sengitnya.

“Siapa yang memakiku babi?” teriak Toa Gu tidak kurang kalapnya.

“Aku! Kau babi tak tahu diri, mencari mati sendiri!” bentak Tok Kay Pong. Berbareng dengan itu ia mengcengkeram pada sitolol dengan lima jarinya.

“Orang tua tolol, nyatanya kau sendiri yang cari penyakit sendiri!” kata Toa Gu tanpa berkelit sedikitpun menghadapi serangan musuhnya.

Keruan saja cengkeraman Tok Kay Pong dengan empuk mengenai pundak Toa Gu, anehnya bagaimanapun ia mengeraskan cengkeraman itu, sedikitpun tidak membuat lawannya berasa. Jika diganti orang lain, cengkeramannya itu sedikitnya akan membuat korban pingsan.

“Bagaimana sudah kau pakai tenaga penuh apa belum?” tanya Toa Gu. “Nah, rasakan juga lenganku ini.” Benar-benar ia menebaskan tangannya kepinggang musuh.

Tok Kay Pong adalah jago tua yang cukup berpengalaman, begitu cengkeramannya tidak membuat musuh roboh, sadar menghadapi seorang yang memiliki ilmu kebal. Maka itu dengan cepat ia menghindarkan diri dari serangan lawannya, sambil melompat. Ruangan kamar tidak seberapa besar, begitu ia lompat serangan Toa Gu menghajar tembok. Segera terdengar bunyi keras, tembok itu gugur.

Serangan Toa Gu dilancarkan berulang-ulang, membuat kamar itu tergetar, dan ambruk! Sedangkan Tok Kay Pong siang-siang keluar dari dalam kamar. Sedikitpun ia tidak menduga seorang bocah tolol, memiliki kepandaian sebegitu hebat, tapi jago tua itu sedang bernasib buruk, begitu ia lompat dari kamar dan hinggap dibumi, kakinya terjirat tambang dan terus jatuh.

Kiranya Bok Thian Sek siang-siang sudah menantikannya diluar, begitu dilihatnya Tok Kay Pong keluar, ia menjiret dengan tambang dan terus melakukan totokan. Kasihan salah astu jago dari bulim Cap sah kie diciduk bocah-bocah ingusan secara mudah.

“Suheng! Kemari, babi ini sudah kubekuk!” teriak Bok Thian Sek.

“Hm, kukira ia lihay sekali, nyatanya kepandaiannya begini-begini saja, tahu begini seorang diripun aku sanggup menciduknya!” kata Toa Gu.

“Jangan pandang enteng kepadanya. Barusan jika tidak kugunakan cara menangkap kelinci barang kali ia sudah lolos!”

“Mari kita bawa kedalam!” kata Toa Gu.

Kasihan Tok Kay Pong sudah tak berdaya, masih diseret lagi.

Tok Kay Pong dibawa kesebuah kamar yang terang benderang, disitu ada In Tiong Giok dan Bok Tiong, rupanya ia sudah menantikan agak lama juga.

Toa Gu dan Bok Thian Sek dengan seenaknya menggabrukkan Tok Kay Pong yang sudah mati kutu.

“Jangan berlaku kurang ajar, bebaskan totokan Tok Lo Cianpwee dan sediakan kursi untuknya duduk!” kata In Tiong Giok.

Ciu Ceng Ceng segera menyediakan kursi, sedangkan Bok Thian Sek mendudukan Tok Kay Pong keatas sambil membebaskan dari totokan.

Begitu ia bebas Tok Kay Pong segera bangun dan berkata dengan gusar: “Hm, kau kira aku kena digertak dengan kekerasan? Bocah bukalah matamu aku ini siapa?”

“Tok Lo Cianpwee setelah kubebaskan dari ikatan dan totokan ini, tidak berarti bebas untuk pergi semaumu, mengerti?” kata In Tiong Giok.

“Aku tak percaya…” Baru pula ia berkata sampai disini, pandangan matanya bentrok dengan sinar mata In Tiong Giok. Ia merasakan sinar mata si pemuda itu tak ubahnya seperti seperti luasnya lautan, begitu indah dan hangat, menghilangkan segala rasa gusar, danberbalik tenang penuh kedamaian. Tok Kay Pong menjadi kaget, ia tidak bisa meneruskan kata-katanya karena otaknya seperti juga mabuk dan merasakan dirinya merapung-rapung disebuah dunia khayal.

“Tok Lo Cianpwee percayakah atas kata-kataku?” Tiong Giok menegasi.

Sungguh aneh dengan waktu sebentar, pendirian Tok Kay Pong jadi berubah, ia menganggukkan kepala sambil menjawab: “Ya aku percaya!”

“Kalau percaya ya baik!” kata In Tiong Giok. “Aku sebagai manusia yang mempunyai perasaan, aku tak bisa melupakan kebaikanmu sewaktu dimarkas pusat Pok Thian Pang, dan tidak pula menghilangkan kebaikan saudaramu Kam Kong ditebing Bukit, karena inilah aku tak mau menimbulkan suatu bencana pembunuhan pada sesama manusia.”

Tok Kay Pong hanya menganggukkan kepala berulang-ulang kali tanpa membantah atau mengeluarkan perkataan.

“Baiklah hal ini tidak dibicarakan sekarang. Pokoknya engkau harus mengerti bahwa pembalasan untuk kaum Pok Thian Pang sudah diambang pintu. Aku mengharapkan bantuanmu berikut kedua saudaramu itu! Lekaslah mengundurkan diri dari dunia kejahatan untuk kembali kedunia baik. Bilamana kalian bisa menjalankan permintaanku ini, segala permusuhan yang terjadi diantara kita berarti habis sampai disini. Bagaimana apakah permintaanku ini Cianpwee setujui?”

Saat ini keadaan Tok Kay Pong sudah terpengaruh ilmu Liap hun toa hoat dari Tiong Giok, tentu saja disamping mengiakan apa yang dikatakan si pemuda tidak ada jawaban lain darinya.

“Jika begitu, sebelumnya kuhaturkan banyak terima kasih,” kata Tiong Giok sambil tersenyum. “Disamping itu, penginapan ini yang jelas sebagai pos penghubung kaum Pok Thian Pang, maka akan kuambil alih. Agar hubungan pusat Pok Thian Pang dan cabang-cabangnya terputus, jika hal ini aku yang lakukan, mungkin akan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, maka itu kuminta bantuanmu untuk mengurusnya dalam beberapa hari!”

“Baik!” kata Tok Kay Pong dengan spontan.

“Jika begitu kuminta Lo Cianpwee menyerahkan tanda pengenal dari Pok Thian Pang,” kata In Tiong Giok.

Saat ini Tok Kay Pong menurut terus apa yang dikehendaki Tiong Giok. Ia merogoh saku mengeluarkan tanda pengenal untuk keluar masuk markas pusat Pok Thian Pang pada Tiong Giok.

Setelah menerima tanda pengenal itu, Tiong Giok menyuruh Thian Sek memanggil Sun Ciang kui, tak selang lama Sun Ciang kui masuk kedalam kamar. Begitu ia masuk menjadi melengak melihat keadaan didalam kamar itu. Karena ia melihat Tok Kay Pong diam saja, sedangkan Tiong Giok memainkan tanda pengenal dari Pok Thian Pang. “Tak usah kaget,” kata In Tiong Giok. “Aku sudah berunding dengan Tok Futhoat yakni mulai detik ini, penginapan ini kuambil alih!”

“Apa? Kongcu mau mengambil alih penginapan ini?” Sun Ciang kui semakin kaget.

“Benar! Tapi engkau tak perlu cemas, biarpun sudah kuambil alih, engkau sendiri tetap sebagai pengurus, pokoknya dalam segala hal berlakulah seperti biasa…kami hanya menggunakan tempat ini kurang lebih tujuh hari saja. Akan tetapi selama tujuh hari ini, siapapun tidak kuperkenankan mengadakan hubungan dengan Pok Thian Pang! Bilamana diwaktu itu orang-orang dari markas pusatmu itu datang kemari, harus diciduk dan ditahan. Barang siapa berani melanggar peraturan ini, kupaksa harus dibunuh! Kalian harus tahu bahwa Pok Thian Pang adalah perserikatan sesat yang jahat, maka itu sekarang datang kesempatan baik untuk kalian memperbaiki diri. Ini sudah kubicarakan dengan Tok Fut hoat dan telah mendapat restunya!”

Sun Ciang kui keheranan, ia memandang kepada Tok Kay Pong dengan tanda tanya. Melihat ini Tiong Giok menjadi tersenyum. “Tok Lo Cianpwee bukankah maksudmu seperti kukatakan tadi?”

“Benar!” jawab Tok Kay Pong sambil menganggukkan kepala.

“Nah, kalau begitu perintahkanlah pada Sun Ciang kui ini untuk menjalankan tugasnya!”

“Hei, jalankan perintah kongcu ini sebaik-baiknya!” seru Tok Kay Pong.

“Ya! Ya! Segera kujalankan!” jawab Sun Ciang kui sambil memutar diri keluar dari kamar.

“Sabar dulu,” tahan Tiong Giok.

“Apa lagi yang kongcu kehendaki?”

“Kulihat engkau sebagai orang cerdik yang memiliki ilmu tinggi, kenpa bisa bekerja untuk Pok Thian Pang?”

“Karena terpaksa!”

Tiong Giok menganggukkan kepala. “Mungkin kami masih perlu mendapat bantuanmu, sekarang maupun dikemudian hari!”

Sun Ciang kui menganggukkan kepala smbil memberi hormat dan ngeloyor pergi.

In Tiong Giok menghantar kepergian orang dengan pandangan matanya yang tajam setelah itu disuruhnya pula Ceng Ceng untuk membayangi Sun Ciang kui. “Perhatikan dia, berilmu tinggi!”

Ceng Ceng menganggukkan kepala dan terus berlalu menjalankan tugas.

Tok Kay Pong masih tetap duduk seperti arca. Tiong Giok menghampirinya dan menepuk pundak orang tua itu sambil berkata: “Sudah malam, tidurlah!”

“Ya sudah jauh malam, harus tidur,” jawab Tok Kay Pong yang terus saja celentang dan pulas dalam sekejap.

“Toa Gu letakkan tubuhnya diatas pembaringan,” kata Tiong Giok, “sudah itu kalianpun boleh mengaso!”

Toa Gu mengangkat tubuh Tok Kay Pong dan meletaakkan dipembaringan.

“Kalau dia bangun dan kabur bagaimana?” tanyanya perlahan.

“Jika tidak kubanguni, dalam waktu tujuh hari tujuh malam ia tak bisa bangun,” jawab Tiong Giok.

“Kalau begitu dia dengar kata betul ya?” tanya Toa Gu.

“Ya,” jawab Tiong Giok.

Pada saat inilah dengan tiba-tiba Ceng Ceng masuk kedalam.

“Bagaimana?” tanya Tiong Giok.

“Sun Ciang kui menjalankan perintah Siau cu jin dengan baik, setelah itu ia masuk kekamar dan tidur,” kata Ceng Ceng.

“Heran, biasanya penglihatanku tidak ngawur, aku yakin Sun Ciang kui itu bukan orang sembarangan…Apakah ia tahu kau buntuti?”

“Berani kupastikan ia tidak melihat!” jawab Ceng Ceng.

Tiong Giok terpaksa menganggukkan kepala. Tapi rasa curigaku dalam sekali pada Sun Ciang kui itu….beginilah: Kita harus mengawasi terus gerak geriknya selama tujuh hari ini.”

“Jika Siau cu jin merasa curiga, gunakan saja Liap hun toa hoat kepadanya…” Kata Bok Tiong.

“Oh tidak bisa, karfena ia diperlukan untuk menjaga penginapan ini, agar orang-orang Pok Thian Pang yang datang dari berbagai cabang maupun ranting tidak merasa curiga, bahwa penginapanj ini telah kita kuasai. Pokoknya awasilah dengan ketat, agar rencana kita tidak gagal!”

Waktu berjalan dengan cepat, beberapa hari telah berlalu, sedikitpun tidak ada kejadian apa-apa dipenginapan Bwee Kie. Sedangkan Sun Ciang kui menjalankan pekerjaan seperti biasa, bedanya sekarang ini ia dibantu oleh orang tua berkaki satu yakni Bok Tiong yang bertugas mengawasinya.

Tapi satu hal yang mengherankan, semua tamu yang masuk penginapan itu, setelah diterima oleh Sun Ciang kui dan dihadapkan pada Tiong Giok. Entah bagaimana jadi doyan tidur. Mereka baru bangun untuk makan jika Tiong Giok membanguni, setelah itu tidur lagi.

Hari seperti biasa, Sun Ciang kui dan Bok Tiong berada didepan, tak selang lama datang empat penunggang kuda. Begitu Bok Tiong melihat tamu-tamu ini, hatinya menjadi girang, cepat-cepat ia menyongsong keluar rumah. “Yauw heng, saat ini baru datang?”

Memang tamu yang baru datang itu adalah Yauw Kian Cee, sedangkan yang lain adalah Hek pek siang yauw dan Siau Lam Siong.

“Bagaimana dengan Siau cu jin?” tanya Yauw Kian Cee.

“Ada didalam!”

“Laporkan pada Siau cu jin bahwa Na Toako dan Toaso serta Siau heng sudah datang dari pulau hiu.”

Bok Tiong cepat mengajak para tamunya masuk kedalam, sekalian menyuruh salah seorang pelayan melaporkan pada In Tiong Giok.

Selang tidak lama Tiong Giok muncul dan segera memberi hormat: “Waduh, kami hanya minta bantuan orang-orang Lo Cianpwee, tak kira Lo Cianpwee sendiri yang datang, benar-benar merepotkan saja!”

“Sudah kukatakan asal In Siau hiap menghendaki bantuan kami, bair kelautan api akan kulayani. Lebih-lebih hal ini adalah untuk mendatangkan suatu keramaian, biar tidak diundang pun aku harus menghadiri juga,” kata Na Beng Sie sikecil mungil yang pandai bicara.

Sekali lagi Tiong Giok menghaturkan banyak terima kasih dan terus mengajak tamunya masuk keruang dalam. “Sebenarnya kami hanya memerlukan orang yang pandai berenang sudah cukup, kenapa Lo Cianpwee mencapaikan diri saja?”

“Omongan begini tak usah diucapkan lagi!” kata Lauw Siu Kim. “Yang penting tontonan ini harus kusaksikan!”

Tiong Giok tidak bisa mengatakan itu lagi, ia memperkenalkan kawan-kawannya pada tamunya itu. Dan diadakan penyambutan dengan makanan dan hidangan yang lezat. Mereka duduk mengelilingi meja. Setelah minum beberapa cawan, Na Beng Sie bertanya: “Aku dengar tempat Pok Thian Pang itu cukup berbahaya apakah In Siau hiap sudah membuat rencana guna menggempurnya?”

“Dalam beberapa hari ini, aku telah menyelidiki keadaan Pok Thian Pang. Soal bagaimana masuk kemarkas mereka tak usah dibicarfakan lagi. Yang penting bilamana kita sudah masuk dan menyerang mereka, jangan sampai aada seorang pun yang lolos!”

“Mungkinkah engkau telah mempunyai rencana yangbaik masuk kedalam markas Pok Thian Pang itu?” tanya Lauw Siu Kim.

“Biarpun belum direncanakan sebagai mana mustinya, tapi tidak sulit asal berani menempuh bahaya!”

“Dapatkah kutahu caranya?” tanya Siu Kim.

“Situasi dan keadaan markas Pok Thian Pang berada dilereng gunung, jika dilihat sepintas lalu hanya ada jalan dari depan saja melalui tangga baja yang bisa dikerek turun naik. Lain dari itu seperti tidak ada jalan lagi. Akan tetapi jika diperhatikan air terjun dari bukit yang terjun kedanau sepanjang tahun tak hentinya. Jika dikaji terlebih dalam air danau itu biasa bukan? Anehnya air itu belum pernah meluap membuat banjir untuk ketiga pulau yang berada ditengahnya. Karena itu aku menduga tentu ada mendapatkan jalan keluar dari air itu sama dengan jalan masuk kemarkas Pok Thian Pang tak jadi soal lagi!”

“Apa yang kau katakan memang betul, tapi jalan keluar dari air itu sukar untuk ditemukan bukan? Andaikata diketemukan sukar pula dilaluinya…apa hal ini sudah dipikirkan juga?” kata Na Beng Sie.

“Air tentu mengalir dari atas kebawah, bila mana dibagian bawah terdapat sungai yang dekat dengan pegunungan itu, sudah dapat dipastikan beasal dari danau yang diatas itu. Kita bisa mengikuti sungai itu untuk mencapai sumbernya! Soal kesulitan lainnya, bagaimanapun dapat saja kita atasi asal ada kemauan!”

“Oh…kiranya engkau membutuhkan sepuluh orang ahli diair ini untuk mencari sumber air itu?” kata Lauw Siu Kim.

“Benar!” jawab Tiong Giok. “Disamping itu masih ada juga jalan lain, yakni pintu depan!”

“Pintu depan?” tanya Na Beng Sie.

“Begini, pintu depan itu dijaga seorang Korea yang bertabiat kaku dan keras, namanya Kim Tak Can. Ia berilmu cukup tinggi, tapi sedikit bodoh. Asal kita gunakan akal bisa mengelabuinya! Dulu pernah ia dihajar sampai luka parah oloeh Cian bin sin kay, sehingga pintu itu dijaga oleh orang lain…”

“Kalau sudah dijaga oleh orang lain untuk apa menyebut-nyebut namanya lagi?” kata Lauw Siu Kim.

“Tapi belakangan ini katanya ia sudah sembuh dan bertugas menjaga lagi pintu itu,” kata Tiong Giok.

“Kalau begitu apa sudahnya lagi?” tanya Lauw Siu Kim.

“Ia manusia kasar yang kaku dan bodoh. Setiap yang mau masuk kedalam harus mempunyai tanda pengenal, ia tidak perduli siapa asal mempunyai tanda pengenal ini diijinkan masuk. Asal kita mendapatkan tanda-tanda pengenal itu dan menyamar sebagi orang-orang Pok Thian Pang bukankah bisa masuk melalui pintu ini?”

“Mungkin tanda pengenal bisa kita palsukan tapi bagaimana harus menyamar?” kata Lauw siu Kim. “Jika Cian bin sin kay ada disini soalnya gampang.”

Belum sempat Tiong Giok berkata lagi, tampak Bok Thian Sek masuk. “siau cu jin Sun Ciang kui mau bertemu denganmu!” katanya perlahan.

“Ada urusan apa?”

“Katanya ada orang dari markas pusat Pok Thian Pang…”

“Siapa dia?” tanyanya sedikit kaget.

“Katanya seorang Futhoat bernama Tay Cin Tojin,” jawabnya menjelaskan.

“Dia?” kata Tiong Giok sedikit heran. Sedangkan yang lainnya menjadi turut heran. Ia menganggukkan kepala. “Suruh Sun Ciang kui menantikan diruangan tengah, aku segera menemuinya,” setelah itu Tiong Giok meminta diri kepada tamunya dan terus keluar.

Yauw Kian Cee memberikan isyarat kepada Ceng Ceng. Sigadis berkata itu ini segera keluar membuntuti Siau cu jinnya. Toa Gu tanpa disuruhpun mengikuti keluar. Namun niatnya menjadi batal, karena si gadis mendelik kearahnya. Herannya Toa Gu yang tidak takut langit dan bumi begitu melihat delikan si gadis menjadi kuncup.

Dan tanpa pikir lagi untuk membantunya, Toa Gu diam dan kembali lagi kedalam.

Begitu Tiong Giok tiba diruangan tengah, Tay Cin Tojin sambil bergelak-gelak menyapanya secara berguyon. “Eh…manusia ini aneh dimanapun bisa bertemu, In Siau hiap selamat bertemu lagi!”

“Akan tetapi pertemuan ini beda dengan dulu!” jawab Tiong Giok. ” yang terus mengambil tempat duduk, sedangkan Ceng Ceng dengan siap berdiri disampingnya sebagai pengawal yang setia. Bok Tiong yang bertugas didepan kini sudah ada disitu juga dan ia mengambil tempat duduk disamping pintu.

“Tak usah berlaku begini,” kata Tiong Giok pada pengikutnya. “Kedatangan Lo Cianpwee ini adalah sebagai tamu, dan kita harus baik-baik memperlakukan seorang tamu.”

“Apa yang Siau hiap katakan memang benar, pertemuan unu lain dengan dulu. Dulu penginapan Bwee Kie ini dikuasai Pok Thian Pang sekarang dikuasai olehmu. Dulu dengan kedudukan sebagai Futhoat di Pok Thian Pang pelayan-pelayan akan meny7ambut dan memperhatikanku dengan telaten sekali. Sehingga rasa gagah dan bangga memenuhi rongga dadaku, tak kira kini dianggap sepi semacam ini dan terkurung tak keruan sekali, Siau hiap memberikan perintah tulang tuaku bisa dikeroyok hancur…didunia ini aneh, antara senang dan susah ini datang bergiliran diluar kehendak kita.”

“Memang benar, giliran susah atau duka itu akan tiba setelah kesenangan berlalu, semasa senang orrang lupa dengan kesusahan. Kuingat apa yang pernah kulihat, dimana Totiang dengan ditemanni dara-dara cantik, mabuk-mabukan dan rangkul-rangkulan dengan lupa diri.”

“Dulu sekarang, pikiran orang mudah berubah! Dulu Siau hiap mau menjadi penterjemah kaum Pok Thian Pang bukan, tapi sekarang kuyakin tidak!”

“Benar,” kata Tiong Giok. “Sekarang apa yang hendak Totiang maksud dengan pertemuan ini?”

“Aku sebagi Futhoat kaum Pok Thian Pang, datang dari markas pusat untuk menyelidiki kenapa dengan tiba-tiba hubungan antara penginapan Bwee Kie dan markas menjadi putus. Sesampainya disini kubaru tahu bahwa pengurus penginapan ini sudah berganti orang!”

“Totiang sangat lihay bisa mengetahui penginapan orang ini begitu cepat!”

“Soalnya mudah, karena Sun Ciang kui aku yang memasukkan menjadi pengurus penginapan ini. Hari ini tidak terlihat ia menyambutku seperti waktu-waktu yang lalu, dan segera kuduga bahwa penginapan ini telah berubah!”

“Jika Totiang sudah tahu penginapan ini berada dibawah kekuasaanku, kenapa tidak cepat-cepat kembali memberi laporan kemarkas pusat, dan apa-apaan ingin bertemuku, apakah Totiang sudah menganggap memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Tok Kay Pong?”

“Tok Kay Pong denganku lain, nasibnya berbeda juga, maka itu kuyakin Siau hiap tidak bisa memperlakukan diriku seperti dia!”

“Kenapa tidak bisa? Apakah mau bukti …?”

“Soalnya gurumu dengan diriku mempunyai hubungan yang erat sekali. Sedangkan In Siau hiap sangat menghormati kepada guru, maka kuyakin menghormat pula kepadaku!”

“Jangan membawa-bawa hubungan antara guruku dengan dirimu! Ingatlah apa yang terjadi di Istana Sorga, dimana engkau menyobek-nyobek surat dari guruku! Ddan sengaja mendemontrasikan perbuatan maksiat dihadapanku! Perlukah kiranya orang tua bertabiat begitu mendapat penghormattan dari yang muda? Kalau aku menjadi dirimu, malu mengeluarkan perkataan itu!”

“Bukankah sudah kukatakan lain dulu lain sekarang?”

“Soal hubungan guruku dengan dirimu tak usah dibicarakan lagi…”

“Baik!” jawab Tay Cin Tojin. “Mari kita bicarakan soal kepentingan bersama!”

“Aku tidak mempunyai kepentingan bersama dengan seorang tua yang tidak tahu malu!” kata Tiong Giok dengan sedikit kasar.

Tay Cin Tojin tidak marah, ia tersenyum-senyum. “Soal kepentingan bersama bukan urusanmu denganku berdua, tapi meliputi kesemua orang didunia ini. Engkau boleh memakiku tidak tahu malu atau apa saja yang lebih buruk dari itu, yang lebih kotor dari itu, tetapi apa yang kuperbuat itu tidak sekotor yang engkau pikirkan.”

Tiong Giok merasakan bahwa perkataannya tadi memang terlalu keras, maka dengan tenang ia berkata: “Lalu apa yang Totiang mau katakan?”

Tay Cin Tojin menghirup dulu araknya, dan berkata dengan perlahan. “Sebelum aku bicara, ingin kutahu dulu, apakah In Siau hiap sudah bertekad betul mau menggempur Pok Thian Pang?”

“Hal ini tak perlu ditanyakan lagi!”

“Apakah kenekatan Siau hiap ini guna menolong Pek Wan Jie?”

“Engkau boleh mengatakan begitu, tapi yang sebenarnya untuk menghilangkan satu momok dan bencana didunia Kang Ouw! Sebelum Pok Thian Pang musnah dunia Kang Ouw tidak bisa aman dan tenteram!”

“Oh.jadinya Siau hiap bersumpah tidak mau hidup bersama dengan kaum Pok Thian Pang?”

“Sudah terang antara kebenaran dan kelaknatan tak bisa hidup bersama dibumi ini, untuk apa ditanyakan lagi?”

“Tapi apa yang dikehendaki Siau hiap itu adalah perbuatan bodoh yang harus dikasihani!”

“Hm, apakah Totiang ingin mencegah apa yang hendak kulakukan?”

“Bukan! Tapi untuk mengutarakan sesuatu kenyataan yangterjadi didunia Kang Ouw ini! Lihatlah dalam waktu singkat Pok Thian Pang bisa berdiri dan bangkit menjadi sebuah perserikatan besar. Segala perguruan yang ada didunia Kang Ouw satu persatu menyembah pada mereka. Kini dengan kekuatan Siau hiap ingin menghadapi mereka?”

“Siapa tahu setelah aku bergerak banyak orang-orang Kang Ouw bergerak pula dan menumpas mereka?” kata Tiong Giok. “Andaikata tidak, tenaga yang berada ditanganku ini masih sanggup menghancur leburkan mereka!”

“Andaiakata gagal, bukankah orang-orang Pok Thian Pang itu semakin kuat dan bisa berlaku sewenang-wenang lebih dari sekarang?” kata Tay Cin Tojin. “Jika sampai terjadi begitu, yang mati itu bisakah ikhlas didunia baka?”

“Totiang mengucapkan kata-kata ini seperti lupa dengan Futhoatmu bukan?”

“Ingat, tapi yang dibicarakan adalah kepentingan bersama, bukan soal peribadi!”

“Tapi pembicaraan Totiang didasarkan kegagalan semua, dan bagaimana kalau usahaku ini berhasil?”

“Kalau berhasil kuucapkan syukur…”

“Hm, tak kira Totiang bisa berperan sebagai manusia bermuka dua,” ejek Tiong Giok.

Merah padam wajah Tay Cin Tojin, untunglah dalam suasana tak enak bagi dirinya ini, Sun Ciang kui tiba-tiba muncul. Tangannya memegang sehelai surat. “In Siau hiap ada yang memberikan surat untukmu!” begitu ia menyerahkan surat segera pergi lagi.

Tiong Giok membuka surat itu.

Engkau jangan terlalu mendesak pada Tay Cin Tojin, ia bukan manusia jahat itu seperti kau pikirkan. Apakah engkau lupa dengan suratku dulu yang pernah engkau terima melalui Toa Gu, sekian.

Tiong Giok menjadi melongo, karena surat itu datangnya dari Cian bin sin kay Cu Lit. Dan sudah tentu peringatan itu membuatnya ingat, bahwa Tay Cin Tojin itu adalah seorang yang kepaksa dan berpura-pura mengabdi pada Pok Thian Pang. Dan yakin kedatangannya ini untuk kebaikan dirinya.

Sungguhpun begitu dia tetap berpura-pura seperti tadi. Surat itu dimasukkan kedalam saku. “Maaf surat ini membuat pembicaraan kita terganggu. Balik lagi kesoal tadi aku sudah bertekad untuk menggempur Pok Thian Pang!”

“Engkau akan gagal! Sebab ilmu kepandaian Lo Cucong itu bukan main tingginya, dalam hal ini bukan kata aku merendahkan ilmumu, tapi dengan sebenarnya kepandaian dia itu sudah tinggi sekali.” Habis berkata Tay Cin Tojin segera bangkit dan permisi pergi.

Tiong Giok memandang kepergian tamunya sambil menggelengkan kepala. “Aneh didunia ini bisa ada orang semacam dia!”

Perlahan-lahan Tay Cin Tojin melintasi jalan raya, sesampainya diujung jalan ia menoleh kekiri dan kekanan, mendapatkan tidak ada yang mengikuti dirinya. Tiba-tiba saja langkahnya menjadi cepat dan terus berbelok masuk kesebuah gang kecil dan terus masuk kesebuah rumah bertingkat.

Penghuni rumah itu adalah seorang tua dengan seorang anak perempuannya. Saat ini orang tua itu sedang berada diluar pintu, duduk dikursi malas sedang asyik menghisap pipanya. Sedang anaknya berparas sangat buruk sedang menenun kain diruangan dalam.

Sebelum masuk kedalam rumah Tay Cin Tojin berdehem sekali, langkahnyapun diperlahankan. Orang tua yang berada didepan pintu memandang sejenak, lalu mengetuk pipanya empat kali ketanah, setelah itu menghisapnya lagi tanpa berkata-kata.

Tubuh Tay Cin Tojin berkelebat masuk kedalam ruangan.

“Diloteng!” kata si gadis tanpa menoleh bekerja terus.

Loteng itu lebarnya lima meter persegi, berjendela satu. Dari sini bisa melihat keadaan pwwnginapan Bwee Kie dengan tegas. Saat ini diloteng itu ada dua orang tua sedang memasang mata mengawasi kepenginapan Bwee Kie.

Begitu masuk, Tay Cin Tojin segera menghampiri kedua orang tua itu dan terus duduk. “Sudahlah tak perlu melihat lagi. Aku telah menyampaikan kata-kata kepadanya, dan kembali memberi laporan pada kalian.”

Kedua orang tua itu dengan tersenyum memandang si Tojin, yang disebelah kirinya adalah Tong Cian Lie, sedangkan yang disebelah kanan adalah gurunya In Tiong Giok…Han Bun Siang.

“Hidung kerbau, nasibmu sangat bagus, tidak diapa-apakan bocah itu!” kata Tong Cian Lie setengah bergurau.

“Sungguhpun begitu membuatku mendongkol setengah mati! Tahukah apa yang dikatakan bocah itu?”

“Apa yang dikatakannya?” tanya Han Bun Siang.

“Hm, semua ini terjadi karena engkau!” kata Tay Cin Tojin. “Bilamana tidak kuingat soal ini menyangkut mati hidupnya dunia Kang Ouw, siang-siang sudah kugaplok bocah itu!”

“Kenapa engkau menyalahkan diriku?” tanya Han Bun Siang.

“Sebab engkau adalah gurunya, itu hasil didikan darimu!”

“Eh, bolehnya renyem! Pikir dong.apa kerjamu waktu disitu…itu!” kata Han Bun Siang.

“Bagus, guru yang kencing berdiri selalu akan membela murid yang kencing berlari bukan? Engkau harus tahu suratmu yang merupakan gambar itu bilamana tidak segera kusobek suatu saat akan jatuh ditangan musuh! Kau kira mereka itu bodoh dan tidak mengerti makna dari gambar itu?”

“Sudahlah!” sela Tong Cian Lie. “Hitung-hitung engkau lagi sial saja, nanti akan kusuruh bocah itu menghaturkan maaf kepadamu, kini kita bicarakan soal yang sebenarnya, apa yang diutarakan bocah itu?”

“Bocah itu terlalu kepala batu, nomong apapun tidak ada yang masuk keotaknya, ia tetap bersikeras mau masuk kemarkas pusat Pok Thian Pang.”

“Sudah kupikir ia akan berbuat demikian,” kata Tong Cian Lie sambil memandang pada Han Bun Siang.

“Sifat keras dari anak ini mirip dengan ayahnya,” kata Han Bun Siang. “Jika ia mau berbuat begitu juga, tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali membantunya bukan?”

“Kalian boleh berdamai sepuas-puas kalian, terus terang aku sendiri tidak bisa membantu karena penjaga pintu pertama yang bernama Kim Tak Can itu orang yang keras kepala.”

“Pokoknya kalau kita memperoleh tanda pengenal kaum Pok Thian Pang bukan secara mudah kita melalui Kim Tak Can?” kata Tong Cian Lie.

“Pikiranmu tak ubahnya seperti bocah ingusan saja!” kata Tay Cin Tojin. “Engkau bisa mengelabui Kim Tak Can, tapi pengawal-pengawal disitu bukan patung mati, mereka pasti akan meneliti tanda pengenal setiap yang masuk dan tak gampang-gampang menurunkan tangga.”

“Gampang!” kata Tong Cian Lie. “Suruh si Cu Lit mengubah wajah kita menjadi orang-orang Pok Thian Pang.beres bukan?”

“Memang ngomong gampang, tapi bagaimana kalau ditanya mereka secara melit dan akhirnya ketahuan kedok kita, bukankah sama dengan cari penyakit sendiri? Kupikir caramu itu tidak kepakai sedikit juga!”

“Semakin diomongi rasanya makin susah saja,” kata Tong Cian Lie sambil terpekur. “Eh, kupikir bagaimana kalau engkau mencapaikan diri sekali lagi untuk menurunkan tangga besi itu?”

“Aku sih mau saja, tapi cara yang kurang baik ini kalau mengakibatkan kegagalan, siapa yang bertanggung jawab pada Ang Tayhiap dan Lim Siok Bwee?”

Perkataan Tay Cin Tojin ini membuat Tong Cian Lie bungkam.

“Cara bukan tidak ada. Ini bergantung dari peruntungan.” kata Tay Cin Tojin.

“Cara apa coba terangkan,” desak Tong Cian Lie tak sabaran.

“Keadaan di Pok Thian Pang sangat hebat, segala kebutuhan dari ransum diusahakan sendiri tidak tergantung dari luar. Hanya saja mereka membutuhkan….” perkataan Tay Cin Tojin terputus, karena ia melihat penunggang kuda mampir dipenginapan Bwe Kie. Mereka mengenakan pakaian warna hijau diantaranya berusia lima puluhan, wajah mereka, badannya gemuk. Yang satu lagi berusia tiga puluhan, badanya tegap, dipelana kudanya tergantung sebuah kantong besar yang kosong.

“Caranya masuk kemarkas Pok Thian Pang berada ditangan keddua orang itu.” kata Tay Cin Tojin.

“Siapa kedua orang itu?” tanya Han Bun Siang ingin tahu keterangan dua orang itu.

“yang tuaan bernama Liong Jan Sie, pangkatnya Cong Koan atau mandor dapur, yang mudaan bernama Ciu yauw hui, pangkatnya Cee cu atau kasir dapur,” kata Tay Cin Tojin.

“Segala koki begitu…” Kata Tong Cian Lie.

“Biarpun pangkatnya kecil,” potong Tay Cin Tojin, “jabatannya besar! Pikirlah tanpa makan manusia bisa hidup atau tidak?”

“Ya jelaskan dulu kegunaan mereka itu…” Kata Tong Cian Lie, kawannya itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: