Kumpulan Cerita Silat

23/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:56 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 04: Sepasang Sepatu Merah
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Warna senja semakin gelap, lentera di ruang meditasi belum dinyalakan. Sinar terakhir dari matahari terbenam jatuh di lorong yang menuju ke kamar tamu di belakang ruang meditasi. Sinar itu menerpa tiang-tiang kayu yang tua dan mulai lapuk, membuatnya tampak mengkilap seperti dulu. Bersama hembusan halus angin malam di bulan tujuh, tercium aroma lembut dari gunung dan pepohonan di kejauhan sana, yang membuat hati manusia dipenuhi oleh perasaan riang dan gembira.

Kang Kin-he berjalan dengan sangat lamban, Liok Siau-hong juga berjalan dengan sangat lamban. Kang Kin-he tidak mengucapkan sepatah kata pun, Liok Siau-hong juga tidak membuka mulutnya. Tampaknya dia menyadari bahwa dirinya adalah tamu tak diundang. Tamu yang tak diundang setidaknya harus cukup bijaksana untuk tetap menutup mulutnya. Halaman di sisi mereka tampak sepi, tak seorang pun terlihat atau terdengar suaranya. Tempat ini memang tempat yang sepi, orang-orang kesepian biasanya pendiam.

“Tuan yang dermawan, silakan masuk!” Kang Kin-he mendorong sebuah pintu hingga terbuka dan menoleh pada Liok Siau-hong dengan wajah serius.

“Terima kasih banyak!” Liok Siau-hong menjawab dengan muka yang serius. Lampu di ruangan itu belum dinyalakan, bahkan sinar matahari terbenam pun tak mampu menembus dindingnya. Liok Siau-hong berjalan dengan perlahan memasuki ruangan itu, seolah-olah dia agak takut masuk ke sana. Mungkinkah dia takut kalau perempuan sedingin es itu akan mengurungnya di dalam ruangan sedingin es ini?

“Setan tidak ada di dalam ruangan ini, apa yang kau takutkan?” Kang Kin-he berkata dengan dingin.

“Setan memang tidak ada di dalam kamar ini,” Liok Siau-hong tersenyum sabar, “tapi dia ada di dalam fikiran!”

“Fikiran siapa?”

“Fikiranmu!”

“Kau sendiri setannya!” Kang Kin-he menggigit bibirnya. Tiba-tiba pendeta wanita sedingin es ini berubah, berubah seperti menjadi orang yang benar-benar berbeda. Dengan kuat ia mendorong Liok Siau-hong masuk, mendorongnya hingga terduduk di atas sebuah kursi, lalu menekan pundaknya dengan kedua tangannya agar ia tetap duduk, dan menggigit telinganya.

“Ini baru mirip seekor harimau betina,” Liok Siau-hong tertawa. “Tadi kau bertingkah seperti…..”

“Seperti apa?” Kang Kin-he menatapnya dengan marah.

“Seperti harimau mati!” Kang Kin-he bahkan tidak menunggu ucapan Liok Siau-hong selesai sebelum menggigit telinganya lagi.

Liok Siau-hong hampir menjerit karena kesakitan.

“Apakah kalian semua dilatih oleh pawang yang sama atau apa? Kenapa suka menggigit telinga orang?” Ia tersenyum dipaksa.

“Kalian semua? Siapa itu kalian semua?” Kang Kin-he kembali menatapnya dengan marah. Liok Siau-hong tidak menjawab, tiba-tiba dia sadar kalau dia telah membuat sebuah kesalahan lagi.

“Apakah telingamu sering digigit orang?” Kang Kin-he tidak mau mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang dikelilingi anjing atau apa ya, mengapa telingaku digigit?”

Tapi mata Kang Kin-he semakin membesar dan tatapannya semakin marah.

“Jadi kau menyebutku seekor anjing? Itu yang kau katakan?” Liok Siau-hong kembali tersudut dan tak tahu harus mengatakan apa.

“Katakan yang sebenarnya, berapa banyak orang yang telah menggigit telingamu?” Kang Kin-he bertanya dengan marah, dia masih menatap Liok Siau-hong dengan gusar.

“Cuma….. cuma kamu!”

“Benar?”

“Siapa lagi yang berani menggigitku?”

“Bagaimana dengan Sih Peng? Apakah dia berani?”

“Dia bahkan terlalu takut untuk menyentuhku, dia beruntung aku tidak menggigitnya.”

“Tentu kau sekarang bicara yang baik-baik, tapi bila kau sedang berhadapan dengannya, aku berani bertaruh kalau kau akan terlalu takut untuk mengatakan apa-apa!” Kang Kin-he mencibir.

“Mengapa aku harus takut?” Liok Siau-hong tertawa. “Kau kira aku takut padanya?”

Kang Kin-he pun tiba-tiba tertawa, tertawa seperti seekor rubah cilik yang licik.

“Baiklah, silakan! Aku di sini, ayo kita lihat kau bisa apa!” Saat itu seseorang berkata dengan dingin dari luar pintu.

Jantung Liok Siau-hong seperti tenggelam. Dia bahkan tak perlu berpaling untuk melihat bahwa orang itu adalah Sih Peng. Bertemu dengan satu harimau betina saja sebenarnya sudah cukup buruk.

Hal yang lebih buruk daripada bertemu dengan satu harimau betina adalah bertemu dengan dua harimau betina pada saat yang bersamaan. Kepala Liok Siau-hong tiba-tiba terasa tiga kali lebih besar. Kang Kin-he cekikikan sambil menyalakan lampu. Sinar lampu itu menyinari wajah Sih Peng. Wajahnya memerah lagi, merah seperti merica, tapi kali ini karena marah.

Lebih dulu mengambil inisiatif. Tentu saja Liok Siau-hong tahu persis mengapa hal ini penting.

“Aku memang sedang mencarimu! Tidak kusangka kau malah berani mencariku!” Tiba-tiba dia melompat bangkit dan berkata dengan dingin pada Sih Peng, memberikannya tatapan paling gusar yang bisa dia tampilkan.

“Mengapa… mengapa aku tidak berani datang mencarimu?” Melihat dirinya begitu marah, Sih Peng jadi melunak.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kami adalah sahabat lama,” Kang Kin-he memotong dan menjawab untuk Sih Peng. “Dan kami juga diajari oleh pawang yang sama, khusus dalam ilmu menggigit telinga, mengapa dia tidak boleh berada di sini?”

“Aku bertanya padamu, apa yang sedang kau lakukan di sini?” Liok Siau-hong tetap menatap Sih Peng dengan marah, tanpa menghiraukan Kang Kin-he.

“Kau tahu pasti bahwa aku berada di sini untuk menyampaikan sesuatu!” Anehnya, ia mengakui hal itu dengan santai, bahkan tidak ada tanda-tanda kebimbangan sedikit pun di wajahnya. “Tentu saja kain satin merah itu!”

“Kau tidak menyangkalnya?” Sekarang giliran Liok Siau-hong yang agak tercengang.

“Itu bukan sesuatu yang memalukan, mengapa aku harus menyangkalnya?”

“Kau membantu seseorang untuk menipuku!” Liok Siau-hong hampir berteriak. “Apakah itu sesuatu yang dapat dibanggakan?”

“Sukong Ti-sing bukan orang lain, dia sahabatmu, kau sendiri yang mengatakannya!” Bahkan Liok Siau-hong pun harus mengiyakan hal itu. Sih Peng tertawa kecil dan meneruskan dengan bangga. “Aku membantu sahabatmu, kau seharusnya berterimakasih!”

“Kau membantunya menjualku, dan aku seharusnya berterimakasih?” Liok Siau-hong kembali tercengang.

“Kain satin itu tidak berguna lagi untukmu tapi sangat berguna untuknya. Yang aku lakukan adalah membantunya membawanya ke sini, bagaimana aku bisa menjualmu?” Ia tampak lebih marah daripada Liok Siau-hong dan merasa sepuluh kali lebih benar daripada Liok Siau-hong. “Di samping itu, bukankah dia itu temanmu? Bukankah kau pun berdusta padanya? Dan sesudah itu kau merasa bangga dan puas pada dirimu sendiri. Jadi mengapa aku tidak boleh berdusta padamu?”

“Tapi kau…. kau….. kau seharusnya membantuku!”

“Memangnya salah siapa kau begitu puas pada dirimu sendiri? Seolah-olah tidak ada orang di dunia ini yang lebih baik darimu. Aku tidak tahan pada sikapmu itu!” Sih Peng menyeringai.

Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia tiba-tiba menyadari bahwa bila seorang laki-laki bertemu dengan seorang wanita, hal itu seperti seorang pelajar bertemu dengan segerombolan serdadu: berdebat hanyalah usaha yang sia-sia. Di dalam hati seorang wanita tampaknya tidak ada kata-kata benar dan salah. Semua yang dia lakukan hanya berdasarkan keinginannya dan jika kau beradu debat dengannya, dia selalu punya bahan debatan 10 kali lebih banyak daripada kamu.

“Aku bahkan belum mengusut ucapanmu di belakangku tadi dan kau malah berusaha menekanku?” Seringai itu menghilang dari wajah Sih Peng.

“Ini yang disebut lebih dulu mengambil inisiatif, semua laki-laki di dunia ini melakukannya!” Kang Kin-he mendengus.

“Dan apa yang hendak kau katakan untuk dirimu sendiri sekarang?” Sih Peng mengejek.

“Hanya satu hal yang ingin kukatakan!” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Katakanlah!” Sih Peng memberi perintah.

“Kepada siapa kau berikan kain satin itu?”

“Lu Tong Pin!”

“Siapa lagi Lu Tong Pin ini?” Liok Siau-hong tercengang sekali lagi.

“Kau bahkan tidak tahu siapa Lu Tong Pin? Bagaimana kau bisa hidup sampai usia 30 tahun?” Sih Peng terheran-heran.

“Lu Tong Pin adalah Sun-yang Cinjin, pendeta Tao yang bernyanyi dan terbang dalam perjalanannya ke Danau Tong Ting. Kau tidak tahu?” Kang Kin-he menerangkan.

{Catatan: Lu Tong Pin adalah salah seorang ahli filsafat Tao paling terkenal dalam cerita rakyat Cina. Kisah mengenai dirinya sangat banyak dan beragam. Ia bagi para penganut Tao sama seperti Budha bagi para pengikut Budha.}

“Kukira Lu Tong Pin suka peoni putih, sejak kapan dia ingin peoni hitam yang tersulam di atas kain satin merah?” Liok Siau-hong tersenyum lemah.

“Sukong Ti-sing tidak menyuruhku untuk memberikan kain satin itu pada seseorang,” Sih Peng akhirnya menerangkan. “Ia hanya ingin aku meletakkannya di depan altar Lu Tong Pin.”

“Dan di manakah altar itu?”

“Di dalam kuil kecil di belakang sana.”

“Sudah berapa lama kau berada di sini?”

“Belum terlalu lama, tapi cukup lama untuk mendengar ucapanmu yang memburuk-burukkan diriku!” Sih Peng menjawab dengan dingin.

______________________________

Di dalam hutan bambu di belakang biara ada sebuah kuil kecil. Bagian dalam kuil itu diterangi oleh sebuah lampu yang selalu menyala, yang cahayanya menerpa wajah Sun-yang Cinjin yang sedang tersenyum. Walaupun dia mungkin tak dapat menikmati daging dan kemenyan yang berada di atas altar di depan biara, tapi dia masih tetap sangat puas. Lu Tong Pin adalah dewa yang cerdas, dewa yang cerdas itu seperti orang-orang yang cerdas, mereka semua faham bagaimana caranya puas dan bahagia. Liok Siau-hong tidak menunggu ucapan Sih Peng selesai sebelum berlari ke sana dan menemukan bahwa sehelai kain satin merah bersulamkan peoni hitam berada di kaki altar. Saat ia memungut kain satin itu, Kang Kin-he dan Sih Peng pun tiba.

“Masih ada di sini!” Liok Siau-hong bergumam pada dirinya sendiri ketika dia membolak-balik kain itu di dalam genggamannya dan tenggelam dalam renungan.

“Sukong Ti-sing tentu tidak mengira kalau Sih Peng akan begitu cepat memberitahu hal yang sebenarnya padamu sehingga ia tidak buru-buru datang ke sini untuk mengambilnya.” Kang Kin-he menebak-nebak.

“Mungkin memang bukan dia yang akan mengambilnya!” Liok Siau-hong tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata, sambil menatap langsung ke mata tokouw itu.

“Lalu siapa kalau bukan dia?” Kang Kin-he bertanya.

“Kamu!”

“Apakah kau gila?” Kang Kin-he tertawa. “Untuk apa aku memerlukan kain satin ini?”

“Aku sendiri hendak menanyakan hal itu padamu!”

“Kau benar-benar mengira bahwa aku adalah orang yang menyuruhnya mencuri barang ini darimu?” Ekspresi wajah Kang Kin-he pun berubah.

Liok Siau-hong mengiyakan hal itu.

“Jika aku yang menyuruh dia mencurinya, lalu mengapa dia membawamu ke mari?”

“Mungkin ia harus menyelesaikan urusan ini sendiri tapi ia tak bisa melepaskan aku dari ekornya; atau mungkin tiba-tiba ia sadar dan merasa bahwa ia telah berbuat salah padaku; atau mungkin ia membawaku ke sini dengan tujuan agar aku tidak mencurigaimu!”

“Jadi menurut pendapatmu aku adalah si Bandit Penyulam?” Wajah Kang Kin-he menjadi merah karena marah.

Liok Siau-hong tidak menyangkalnya.

“Mungkin kau tidak sebodoh itu,” Kang Kin-he tiba-tiba tertawa lagi. “Tapi kau lupa satu hal!”

“Oh?”

“Kau lupa kalau Kang Tiong-wi adalah kakakku! Mengapa aku tega membutakan kakakku sendiri?” Segera setelah ucapannya selesai, ia pun membalikkan badan hendak pergi, seakan-akan ia telah bosan berdebat dengan orang tolol ini.

“Tunggu!” Tapi Liok Siau-hong menghalangi jalannya.

“Apa yang hendak kau katakan sekarang?” Kang Kin-he mendengus.

“Hanya satu hal!”

“Ok, aku akan mendengarkan perkataanmu tentang satu hal lagi!”

“Kang Tiong-wi tidak punya adik, dan kau tidak punya saudara laki-laki. Nama keluargamu yang asli pun bukan Kang!”

Seluruh warna di wajah Kang Kin-he pun menghilang dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

“Bagaimana…. bagaimana….. bagaimana kau tahu hal itu?”

“Aku pun tidak tahu.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tapi aku tak bisa mencegah jika nasib menginginkan aku menemukan hal-hal yang seharusnya tidak kuketahui!”

“Apa lagi yang kau ketahui?” Kang Kin-he menatap gusar dengan matanya yang setajam pisau.

“Kau benar-benar ingin aku mengatakannya?”

“Katakanlah!”

“Dulu kau adalah calon isteri Kang Tiong-wi, tapi karena sesuatu alasan kau malah menjadi seorang tokouw. Kau pura-pura tidak mengenalku di hadapannya karena kau tidak ingin mengusik perasaannya, tidak ingin dia tahu.”

“Diam!” Kang Kin-he tiba-tiba menjerit. Seluruh tubuhnya bergetar.

“Aku pun sebenarnya tidak ingin mengatakannya!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Itu benar, Kang Tiong-wi dan aku dijodohkan waktu kami masih kecil.” Tubuh Kang Kin-he masih gemetaran tak terkendali, tapi dia masih menjawab dengan gigi yang dikertakkan. “Tapi waktu kami dewasa dan bertemu, kami menyadari bahwa tidak mungkin kami bisa bersama-sama, maka…..”

“Maka kau pun menjadi seorang tokouw?” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya.

Kang Kin-he mengangguk.

“Selain menjadi seorang tokouw, apa lagi yang bisa kulakukan?” Air mata bercucuran dari matanya.

Seorang gadis seperti dia menjadi seorang tokouw di usia muda, tentu hal itu berkaitan dengan sebuah kisah yang tragis dan menyakitkan.

“Kau seharusnya tidak memaksanya mengatakan semua ini!” Sih Peng menggigit bibirnya dan menegur Liok Siau-hong dengan keras, matanya yang menatap Liok Siau-hong pun telah berurai dengan air mata.

“Tak apa-apa, aku memang ingin mengatakannya!” Kang Kin-he tiba-tiba berseru. Dengan perlahan dia menghapus air matanya dengan lengan bajunya dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. “Walaupun aku seorang tokouw, aku masih muda dan tak tahan terhadap kesunyian dan kesepian seperti ini. Maka aku pun pergi ke luar dan berpetualang sekali dua kali di dunia luar. Maka aku pun berkenalan dengan beberapa orang pria, dan berkenalan denganmu!”

Liok Siau-hong pun diam-diam menarik nafas. Walau seorang wanita telah menjadi seorang tokouw, bukan berarti ia mati, ia masih punya hak terhadap hidupnya sendiri dan berhak menikmati kehidupan yang ia rasa sesuai.

“Jika kau kira aku tidak ingin Kang Tiong-wi tahu, maka kau keliru. Dan jika kau mengira bahwa aku membutakannya karena aku tidak ingin menikah dengannya, maka kau lebih keliru lagi. Dia……”

Tiba-tiba ia berhenti dan ia menatap keluar jendela dengan terkejut.

Kang Tiong-wi telah berjalan masuk dari kegelapan di luar sana, berjalan masuk dengan tangan meraba-raba untuk mencari jalan. Wajahnya tampak pucat pasi.

“Kejadian itu bukan karena dia tidak ingin menikah denganku, tapi karena aku yang tak bisa mengambilnya sebagai isteriku!” Ia berkata dengan perlahan.

“Mengapa?” Sih Peng tak tahan untuk tidak bertanya.

“Karena aku…..”

“Kau tidak perlu memberitahu mereka,” Kang Kin-he berteriak sekali lagi dengan putus asa. “Kau tidak perlu memberitahu siapa-siapa!”

Kang Tiong-wi tersenyum, senyuman yang pedih dan sepi.

“Tidak apa-apa, aku memang ingin mengatakannya.” Wajahnya penuh dengan perasaan sakit. “Aku tak bisa mengambilnya sebagai isteriku, karena aku telah lama menjadi laki-laki yang cacat, aku tak bisa menjadi suami siapa-siapa, dan tidak bisa menjadi ayah siapa pun!”

Sih Peng akhirnya faham, tapi sekarang dia menyesal telah bertanya. Mengapa dia harus tahu? Bukankah penderitaan orang lain juga menyakitkan bagi diri kita sendiri?

“Semua hal yang dilakukan Kin-he, aku tahu semuanya.” Kang Tiong-wi meneruskan. “Tak perduli apa pun yang dia lakukan, aku tidak menyalahkan dia sedikit pun. Di samping itu, aku juga tahu bahwa, walaupun di luarnya tidak kelihatan, dia sama sekali bukan seorang wanita yang hina!”

Kepala Kang Kin-he tertunduk dan air mata mengalir menuruni pipinya. Bagi seorang wanita yang muda dan rapuh seperti dirinya, berjuang melawan perasaan dan emosi jiwa mudanya adalah hal yang hampir mustahil, tak perduli apa pun yang ia lakukan, semua itu bisa dimaafkan oleh orang lain. Tapi ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri sedikit pun.

“Tak perduli apa pun yang engkau katakan, aku bisa menjamin bahwa dia benar-benar bukan orang yang membutakanku!” Kang Tiong-wi mengambil kesimpulan.

“Kau yakin? Kau cukup lama memperhatikan orang itu untuk bisa memastikan bahwa orang itu bukan dia?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya. Hatinya pun penuh dengan perasaan simpati, tapi urusan ini terlalu penting, maka ia terpaksa menelan perasaannya dan berusaha memastikan.

“Tentu saja!” Kang Tiong-wi segera menjawab tanpa bimbang sedikit pun.

“Apa yang kau lihat sehingga kau begitu yakin kalau orang itu bukan dia?”

“Aku….. aku tahu begitu saja, jangan lupa bahwa waktu pertama kali kami bertemu, dia masih seorang bocah kecil!”

“Tapi kalian berdua telah bertahun-tahun tidak saling bertemu, kan?”

“Apa yang hendak kau katakan?” Wajah Kang Tiong-wi tertekuk dan dia bertanya dengan dingin. “Kau ingin menyindir bahwa aku sedang berdusta untuknya?”

Liok Siau-hong menarik nafas. Ia benar-benar kehabisan akal untuk menyelidiki lebih jauh.

“Asal kita tidak memiliki perasaan menyesal dan keraguan di hati kita, tak usah perdulikan apa yang ia fikirkan!” Kang Kin-he berkata dengan dingin.

Kang Tiong-wi mengangguk. Kang Kin-he telah berjalan ke sisinya dan meletakkan tangannya di pundaknya untuk membantunya berjalan.

“Mari kita pergi!” Ia berkata.

Liok Siau-hong hanya bisa menundukkan kepalanya dan membiarkan mereka lewat. Cahaya lampu tampak redup, lantai terbuat dari lempengan batu hijau. Kang Kin-he memakai sepasang sepatu berwarna hijau yang sama sekali tidak cocok dengan jubahnya yang berwarna ungu. Biasanya dia adalah seorang wanita yang amat teliti.

“Tunggu!” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata lagi.

“Kau belum selesai?” Kang Kin-he bermaksud mengacuhkannya, tapi tiba-tiba dia melihat bahwa Liok Siau-hong sedang menatap kakinya, maka dia pun mendengus.

“Aku menemukan sesuatu yang agak aneh!”

“Apanya yang begitu aneh?”

Tatapan mata Liok Siau-hong masih tidak lepas dari kakinya.

“Mengapa ada warna merah di dalam sepatumu yang berwarna hijau?” Ia bertanya lambat-lambat.

Ekspresi wajah Kang Kin-he tampak berubah lagi dan dia secara naluriah berusaha menyembunyikan kakinya di bawah jubahnya.

“Jubah Tao-mu tidak cukup panjang untuk menyembunyikan kakimu,” Liok Siau-hong berkata seadanya. “Di dalam sepatu hijau itu, kau seharusnya tidak memakai sepatu merah!”

Sepatu merah! Ekspresi wajah Kang Tiong-wi pun tampak berubah.

“Hebat sekali matamu!” Kang Kin-he tiba-tiba tertawa dengan dingin. Sebelum suara tawanya hilang, dia telah menyerang. Dia berusaha menggunakan dua buah jarinya yang indah dan seperti anggrek itu untuk mengorek mata Liok Siau-hong! Gerakannya cepat dan akurat!

“Kau seharusnya hanya mencoba menggigit telinga, kau seharusnya tidak mencoba mengorek biji mataku!” Liok Siau-hong menarik nafas. Saat dia mengucapkan 12 kata itu, Kang Kin-he telah menyerang sebanyak 11 kali. Gerakan yang demikian cepat! Serangan yang demikian cepat! Kang Kin-he adalah salah satu dari empat orang wanita yang paling ditakuti di dunia persilatan. Mereka semua cantik luar biasa, tapi mereka semua adalah harimau betina. Tak terhitung banyaknya laki-laki yang telah terluka di bawah cakar mereka.

Bila wanita menyerang, gerakan mereka akan lebih cepat dan lebih keji daripada serangan laki-laki. Karena mereka tahu bahwa kekuatan mereka tak bisa menandingi kekuatan pria, maka mereka tidak ingin terlibat dalam perkelahian yang berlangsung lama dengan laki-laki! Jadi gerakan mereka hanya ditujukan untuk mengambil nyawa! Tapi Liok Siau-hong tidak seperti laki-laki lain, dia bahkan lebih cepat daripada Kang Kin-he.

Bahkan, dengan mudah dia menghindari 11 buah serangan Kang Kin-he tanpa menangkisnya. Tampaknya dia tidak ingin balas menyerang, tapi jika dia balik menyerang, Kang Kin-he mungkin tak akan mampu menghindar.

“Awas senjata rahasia!” Kang Kin-he mengkertakkan giginya dan berteriak. Liok Siau-hong segera mundur sejauh 2 meter atau lebih, tapi Kang Kin-he tidak melepaskan senjata rahasia apa pun. Tubuhnya malah berjumpalitan di udara dan melesat ke arah pintu keluar. Saat itulah, Liok Siau-hong tiba-tiba mengulurkan tangannya dan, dengan kecepatan seperti kilat, merampas sepatunya. Dan hanya berhasil menyambar sepatunya, bukan orangnya. Di dalam sepatu kain berwarna hijau itu, benar-benar ada sepasang sepatu merah, sepatu sulam dari kain satin merah. Tapi orangnya telah diselubungi oleh kegelapan dan segera menghilang.

Liok Siau-hong tidak memburunya. Sih Peng juga tentu saja tidak, dia tampaknya masih terkejut.

Kang Tiong-wi berdiri di sana tanpa bergerak, raut mukanya tampak kelabu.

“Dia telah pergi?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Dia telah pergi!” Liok Siau-hong menjawab.

Tinju Kang Tiong-wi terkepal erat dan sudut matanya berkernyit tak terkendali, membuat rongga matanya yang gelap seperti gua tampak semakin mengerikan.

“Apakah si Bandit Penyulam itu juga memakai sepatu merah?” Liok Siau-hong bertanya.

Ekspresi wajah Kang Tiong-wi tampak semakin tersiksa. Akhirnya, dengan lambat ia mengangguk.

“Mengapa kau tidak mengatakan apa-apa tadi?”

“Aku benar-benar tidak ingat, setelah kau mengatakannya barulah aku teringat!” Tepat saat kilauan ujung jarum tiba di depan matanya, dia melihat sepasang sepatu merah itu. Merah seperti darah.

“Mata seperti apa yang kau miliki?” Sih Peng akhirnya menarik nafas. “Aku tak melihat sedikit pun warna merah di sepatunya.”

“Aku juga tidak!”

Sih Peng tercengang.

“Aku hanya berfikir bahwa warna sepatunya sama sekali tidak cocok dengan pakaiannya, dan tampaknya sepatu itu juga agak kebesaran, seperti sesuatu yang dipakai untuk sementara dan dengan tergesa-gesa!”

“Maka kau menguji dia?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Berada di sekitar orang sepertimu benar-benar berbahaya!” Sih Peng kembali menarik nafas.

“Sun Tiong mungkin tidak akan setuju,” Liok Siau-hong tersenyum. “Ia mungkin yakin bahwa kau lebih berbahaya daripada aku!”

“Seharusnya aku memotong kedua kakinya juga!” Sih Peng bergurau.

“Apakah dia datang dan mengganggumu lagi?” Liok Siau-hong bertanya.

“Dia tak akan berani!”

“Lalu bagaimana potongan tangannya bisa berada di atas piring di mejamu?”

“Tangan apa?” Sih Peng tampak bingung mendengar pertanyaan itu.

“Kau tidak melihat tangan itu?”

“Tidak!”

“Tak mungkin tangan itu bisa merangkak naik ke atas piring, kan?” Liok Siau-hong tersenyum sabar. Dia sama sekali tak bisa membayangkan kejadian yang sebenarnya.

“Ada satu hal lagi yang tak bisa kubayangkan,” Sih Peng berkata. “Sukong Ti-sing menginginkan aku membawa kain itu ke sini, lalu mengapa dia pun membawamu ke mari?”

“Tak seorang pun bisa membayangkan mengapa orang seperti dia berbuat seperti itu,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Maka lebih baik tidak memikirkannya.”

“Aku juga tidak faham, mengapa Kang Kin-he melakukan sesuatu seperti ini?” Kang Tiong-wi bertanya dengan muram.

“Kau juga bisa berhenti memikirkannya sekarang!” Liok Siau-hong menjawab.

“Mengapa?”

“Karena dia tidak melakukannya.” Liok Siau-hong kembali tersenyum.

“Dia tidak melakukannya?” Kang Tiong-wi terkejut mendengar pernyataan itu. “Dia bukan si Bandit Penyulam?”

“Mustahil. Kungfu-nya memang lumayan, tapi masih sangat jauh untuk berharap bisa membutakan jago-jago seperti Siang Ban-thian dan Hoa It-ban dalam satu gebrakan!”

“Kau yakin kalau dia tidak berpura-pura lemah?”

“Aku yakin!”

“Dan itulah sebabnya kau membiarkan dia pergi!” Kang Tiong-wi menarik nafas dalam-dalam.

Liok Siau-hong tidak menyangkalnya. Jika ia mampu merampas sepatu seseorang, maka ia pun tentu bisa menangkap kaki orang itu. Sekali kaki seseorang tertangkap, maka tak mungkin orang itu bisa meloloskan diri.

“Jika dia tidak bersalah, lalu mengapa dia lari?” Kang Tiong-wi mengerutkan keningnya sambil berfikir dalam-dalam.

“Karena dia memiliki sebuah rahasia lain yang dia tidak ingin orang lain mengetahuinya!” Liok Siau-hong mengambil kesimpulan.

“Rahasia apa?”

“Rahasia sepatu merah!”

“Si Bandit Penyulam juga memakai sepatu merah,” Kang Tiong-wi mengangguk. “Mungkinkah mereka berasal dari organisasi yang sama?”

“Mungkin ya, mungkin juga tidak.” Liok Siau-hong menjawab. Ia tahu benar bahwa apa yang barusan ia katakan adalah benar-benar tidak berguna, tapi ia tetap saja mengatakannya. “Bandit Penyulam itu amat tangguh dan kuat, berjenggot, tapi dia adalah seorang wanita yang mengenakan sepatu merah.”

Hanya itu saja yang mereka tahu, tapi mereka pun tidak yakin akan hal ini, dan masih belum berhasil membuktikannya.

“Dia dulu seorang gadis yang sederhana, polos dan baik,” Ekspresi wajah Kang Tiong-wi tampak sendu. “Dia bisa menjadi pasangan yang sempurna bagi seorang pria, mungkinkah dia benar-benar telah berubah?”

“Kapan terakhir kalinya kau bertemu dengannya?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Belum lama, dia tentu datang menemuiku pada setiap hari ulang-tahunku di setiap tahunnya!”

“Kapan hari ulang-tahunmu?”

“Tanggal 14 bulan lima!”

“Kapan perampokan itu terjadi?”

“Tanggal 11 bulan enam.”

Liok Siau-hong tidak berkata apa-apa lagi. Kang Tiong-wi tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi karena sesuatu hal ia membatalkannya dan hanya mengeluarkan desahan nafas yang panjang dan lelah. Dengan kepala tertunduk, ia pun berputar dan berjalan pergi dengan cara meraba-raba.

Melihat bayangannya yang kesepian menghilang dalam kegelapan, Sih Peng tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.

“Ia tentu merasa gundah dalam hatinya sekarang!”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Kang Kin-he mengunjunginya pada tanggal 14 bulan lima, dan tidak sampai sebulan kemudian, perampokan itu terjadi!”

“Itu hanya sebuah kebetulan saja!”

“Tapi tingkat keamanan Ruang Harta Istana begitu tinggi sehingga seekor lalat pun tidak bisa masuk, bagaimana mungkin si Bandit Penyulam berhasil masuk?”

“Ada gagasan?”

“Menurutku, mungkin seseorang telah masuk ke Lam-ong-hu dan memeriksa tata ruang tempat itu untuknya serta membuatkan cetakan kunci Ruang Harta dengan menggunakan lilin.” Mata Sih Peng tampak bersinar-sinar ketika dia menjelaskan dugaannya.

“Dan menurutmu orang itu tak lain tak bukan adalah Kang Kin-he!”

Sih Peng tidak membantah dan menarik nafas. “Hanya dia yang sangat dekat hubungannya dengan Kang Tiong-wi, dan hanya Kang Tiong-wi yang memiliki kunci Ruang Harta itu!”

“Menurutmu, dia diam-diam membuatkan cetakan kunci, membuat duplikatnya dari cetakan itu, dan memberikannya pada si Bandit Penyulam?”

“Benar!”

“Dan si Bandit Penyulam masuk ke Ruang Harta dengan menggunakan kunci itu untuk membuka pintu Ruang Harta.”

“Aku fikir, itulah yang seharusnya terjadi!”

“Dugaanmu cukup beralasan, tapi kau melupakan dua hal!”

“Apa?”

“Pintu Ruang Harta itu dijaga siang dan malam, bagaimana mungkin seseorang berjenggot besar bisa membuka pintu Ruang Harta dan berjalan masuk tanpa terlihat oleh penjaga? Dia tak terlihat oleh siapa pun.”

Sih Peng tidak punya penjelasan untuk hal ini.

“Bukan hanya itu, waktu Kang Tiong-wi masuk ke Ruang Harta pada hari itu, pintunya masih terkunci dari luar. Bagaimana mungkin si Bandit Penyulam bisa mengunci pintu dari luar setelah ia memasuki Ruang Harta itu?”

“Yah, kalau gagasanku keliru, lalu bagaimana menurutmu cara dia melakukannya?” Wajah Sih Peng kembali memerah.

“Dia tentu menggunakan sebuah cara yang unik, mungkin hal itu tak ada hubungannya dengan Kang Kin-he!”

“Sayangnya, kau pun tidak bisa membayangkan dengan tepat caranya yang unik itu.” Sih Peng menjawab dengan dingin.

“Itulah sebabnya aku harus melakukan sebuah percobaan!”

“Melakukan sebuah percobaan?”

“Untuk melihat apakah aku bisa menemukan sebuah cara untuk masuk!”

Mata Sih Peng terbelalak takjub dan dia memandang dengan heran.

“Kau mabuk lagi?”

“Aku belum minum setetes pun arak hari ini!”

“Jika kau tidak mabuk, maka kau pasti gila! Orang yang normal dan sehat tak akan pernah berfikir untuk melakukan hal seperti itu!”

“Oh?”

“Kau tahu ada berapa banyak pengawal di dalam Lam-ong-hu?”

“Lebih dari 800 orang!”

“Dan kau tahu bahwa setiap penjaga membawa sebuah Busur Cukat Liang yang sangat kuat? Sehingga bila ada orang yang tertangkap, mereka akan segera merubahnya jadi seekor landak?”

“Aku tahu!”

“Dan kau tahu ada berapa banyak jago kungfu di Lam-ong-hu di samping penjaga-penjaga itu?”

“Seperti jumlah bintang di langit!”

“Dan kau tahu bahwa ilmu pedang Siau-ongya (Pangeran Muda) diajarkan sendiri oleh Pek-in-seng-cu (Majikan Benteng Awan Putih)?”

“Menurut kabar burung, dia adalah petarung terbaik di Lam-ong-hu!”

“Dan kau tahu bahwa tempat-tempat terlarang di Lam-ong-hu semuanya membawa maut bagi siapa saja yang tertangkap di dalamnya, tanpa melalui sidang pengadilan lagi?”

“Aku tahu!”

“Tapi kau masih ingin mencoba masuk?”

“Ya!”

“Kau ingin mati?”

“Tidak!”

“Apa yang membuatmu berfikir bahwa kau bisa mencoba masuk dan keluar dalam keadaan hidup-hidup?”

“Tak ada!”

“Lalu mengapa kau ingin mengambil resiko?” Sih Peng menggigit bibirnya. “Hanya untuk membuktikan bahwa Kang Kin-he tidak bersalah?”

“Aku hanya ingin tahu apakah dia benar-benar ada hubungannya atau tidak dengan seluruh masalah ini.”

“Kau benar-benar demikian perduli padanya?”

“Karena aku menyukainya!”

Sih Peng tiba-tiba melompat bangkit dan menatapnya dengan gusar.

“Baiklah, pergilah dan mampuslah!” Ia berseru dengan keras.

***

Angin semakin lembut, halaman yang sunyi itu bahkan semakin sunyi. Liok Siau-hong berjalan keluar, dan Sih Peng mengikutinya.

“Apakah kita menuju ke Tenggara sekarang?”

“Kita? Lagi?” Liok Siau-hong seperti seseorang yang mulutnya penuh dengan jeruk limau yang masam.

“Tentu saja kita!” kata Sih Peng dengan wajah yang kaku. “Kau kira kau bisa meninggalkanku sendirian di sini?”

Liok Siau-hong memang ingin melakukan hal itu, tapi dia tahu bahwa sekali perempuan seperti ini memutuskan untuk mengikutimu, kau tak bisa menyingkirkannya, tak perduli apa pun yang coba kau lakukan.

“Untuk apa kau ikut denganku? Ingin menemaniku bila aku mati?”

“Tidak!” Sih Peng menggigit bibirnya lagi. “Aku hanya ingin melihat seperti apa dirimu setelah kau mati!”

______________________________

Jalan itu hampir seluruhnya tertutup oleh lempeng batu hijau, pohon-pohon kapas merah yang lebih merah daripada daun maple berbaris di sepanjang jalan, warna-warna dunia tampak cerah dan indah seperti saat fajar.

“Inikah kota Ong-peng-sia?”

“Mmhmm!”

“Kudengar makanan di sini adalah yang terbaik!”

“Kau pernah mencicipinya?”

“Tidak, tapi kudengar beberapa jenis masakan di sini adalah yang terbaik!”

“Coba beritahu aku.”

“Ang-sio-hi-sit (sirip ikan saus manis) dari Thay-sam-goan, Pek-hoa-keh (Ayam Seratus Variasi) dari Bun-wan, Pek-cing-in-bian (keong sawah goreng manis)…..”

Sih Peng baru bicara sampai di situ sebelum dia terpaksa berhenti, karena dia sadar bahwa air liurnya hampir menetes.

“Itu belum seberapa, makanan terbaik yang ada di sini mungkin belum pernah kau dengarkan sebelumnya!” Liok Siau-hong berkata dengan acuh tak acuh.

“Kau ingin mengajakku makan sekarang juga?” Mata Sih Peng bersinar-sinar.

“Asal kau bersikap sebagai seorang gadis yang baik, kujamin kau akan mendapatkan sesuatu yang enak untuk dimakan!”

Jelas dia pernah datang ke tempat ini karena dia memasang tampang seperti seekor kuda tua yang mengenali jalan pulangnya. Dengan Sih Peng mengikuti di belakangnya, dia berputar dan berbelok-belok menelusuri jalan dan tiba di sebuah jalan kecil yang sangat sempit. Jalan itu tidak begitu terang, dan di atas tanahnya masih tersisa lumpur bekas hujan beberapa hari yang lalu. Di kedua sisi jalan ada berbagai jenis warung pedagang kecil, tapi semua pintunya juga sangat sempit. Orang-orang yang keluar-masuk semua tampak lusuh.

“Ada makanan enak di tempat seperti ini?” Sih Peng bergumam pada dirinya sendiri. Tapi dia tidak berani untuk bertanya keras-keras. Tempat ini seperti sebuah negeri yang asing baginya, dia tak mengerti sepatah kata pun yang diucapkan oleh penduduk setempat. Dia benar-benar agak khawatir kalau-kalau Liok Siau-hong meninggalkannya di sini sendirian.

Saat itulah dia menyadari bahwa ada sebuah aroma yang lezatnya tak terkira terbang bersama angin. Ia belum pernah mencium aroma yang begitu harum. Tampaknya Liok Siau-hong sama sekali tidak berdusta padanya, benar-benar ada sesuatu yang enak untuk dimakan di tempat ini.

“Aroma apa ini?” Ia bertanya.

“Aroma makanan terenak di dunia, kau akan setuju setelah kau mencicipinya!” Liok Siau-hong berkata padanya.

Tepat di ujung jalan itu ada sebuah warung yang amat kecil, di pintu depannya ada sebuah tungku yang sangat besar. Di atas tungku ada sebuah panci besar berisi masakan, aroma tadi berasal dari panci ini. Tapi bagian dalam warung tampak sangat kotor. Dinding, kursi, meja, semuanya hitam berminyak karena asap, bahkan papan nama di atas pintu pun sudah begitu gelapnya sehingga kata-katanya tidak bisa dikenali. Tapi aroma ini benar-benar terlalu menggoda. Mereka baru saja duduk waktu seorang pelayan menghidangkan dua mangkuk besar daging giling untuk mereka.

Kelihatannya tempat ini tidak menyediakan makanan lain. Daging itu masih beruap, bukan hanya aromanya harum, sepertinya rasanya juga enak.

Liok Siau-hong segera mengambil sebuah sendok dan menyerahkannya pada Sih Peng.

“Makanlah selagi masih panas, rasanya kurang enak kalau sudah dingin!”

Sih Peng mencoba sesendok, lalu sesendok lagi. Rasanya luar biasa enak.

“Apa isinya?” Ia bertanya. “Selain daging, sepertinya ada yang lain juga.”

“Kau menyukainya?”

“Lezat sekali!”

“Jika rasanya lezat, maka makanlah lagi dan jangan bicara lagi!”

Liok Siau-hong menghabiskan satu mangkuk dan menambah satu mangkuk lagi. Tiba-tiba dia membuat sebuah isyarat aneh pada si pelayan. Pelayan itu tadinya bersikap seolah-olah dia tidak begitu memperdulikan tamu-tamu dari luar kota ini.

Tapi setelah ia melihat isyarat Liok Siau-hong itu, sikapnya segera berubah.

“Ada pa?” Ia datang berlarian sambil tersenyum lebar.

“Aku ksini tuk cari sseorang!” Liok Siau-hong menjawab.

“Sapa yang kau cari?”

“Coa-ong (Coa-ong).”

Ekspresi wajah si pelayan tampak sedikit berubah.

“Utuk pa kau mncarinya?”

“Margaku Liok, blang begitu padanya, ia kan tahu!”

Si pelayan bimbang sebentar sebelum akhirnya mengangguk sedikit.

“Tnggu di sini!”

Sih Peng terheran-heran selama itu. Akhirnya, setelah si pelayan keluar melalui sebuah pintu sempit di belakang, dia tak bisa menahan dirinya lagi dan bertanya.

“Apa yang barusan kalian bicarakan?”

“Aku meminta bantuannya untuk menemukan seseorang!”

“Seseorang di tempat seperti ini? Siapa?”

“Coa-ong!”

“Coa-ong? Dan siapakah Coa-ong ini?”

“Di sepanjang jalan menuju ke sini, apa yang kau lihat?” Liok Siau-hong tidak menjawab tapi malah bertanya padanya.

“Itu bukan jalan, hanya sebuah gang kecil dan kotor.”

“Ini adalah sebuah jalan, dan bisa dibilang merupakan jalan paling terkenal di kota ini!”

“Oh?”

“Kau tahu apa yang ada di jalan ini?”

“Beberapa pedagang yang lusuh dan tidak rapi, dan beberapa orang yang kumal!”

“Tahukah kamu apa yang dilakukan orang-orang itu?”

“Aku bahkan tidak memandang pada mereka, apalagi memikirkan tentang mereka!”

“Kau seharusnya melakukannya!”

“Mengapa?”

“Karena di antara mereka, paling tidak ada 10 orang buronan yang kepalanya berharga, paling sedikit ada 20 orang pencuri ulung, setidak-tidaknya ada 30 orang jagoan. Jika kau bermusuhan dengan mereka, hampir mustahil untuk bisa melakukan sesuatu di kota ini!”

“Aku faham sekarang, ini adalah jalan tempat berdiam para penjahat!”

“Coa-ong adalah raja di jalan ini, ia juga merupakan pemimpin dari mereka semua. Hanya satu kata darinya dan mereka semua tentu bersedia melakukan apa saja yang kau minta pada mereka!”

“Kau tidak bermaksud meminta orang-orang ini untuk bertarung bagimu, bukan?”

“Jika aku membutuhkan bantuan untuk berkelahi, aku sudah punya pembantu yang hebat seperti dirimu, mengapa aku membutuhkan orang lain?” Liok Siau-hong tertawa.

“Lalu untuk apa kau menanyakan Coa-ong?”

“Aku ingin memintanya membantuku.”

Dia belum selesai bicara waktu pelayan tadi datang kembali sambil berlarian. Sikapnya pada Liok Siau-hong berubah sekali lagi, sekarang lebih hangat dan lebih hormat.

“Jadi Tuan adlah tman lama. Seharsnya Tuan bilng tdi!”

“Dia mash ingat padku?” Liok Siau-hong tersenyum.

“Tent saja! Bos bilang Tuan adlah sahbat yang baik. Dia menyruh hamba membwa Tuan dengn segra!”

Di balik pintu sempit di belakang sana ada sebuah gang yang bahkan lebih sempit lagi. Dari dalam selokan yang gelap, tercium bau busuk yang sangat menyengat, lalat-lalat beterbangan di mana-mana. Di ujung gang, ada sebuah pintu kecil lagi.

Setelah mendorong pintu itu hingga terbuka, mereka tiba di sebuah halaman yang sangat luas. Kira-kira 10 orang atau lebih laki-laki bertubuh kuat dan tidak mengenakan pakaian tampak sibuk bermain dadu di halaman itu, begitu asyiknya mereka sehingga tubuh mereka pun bersimbah dengan keringat. Di sudut sana ada beberapa puluh kandang, di dalam beberapa kandang ada ular-ular berbisa, di dalam kandang-kandang yang lain ada kucing liar dan anjing liar. Seseorang sedang menarik seekor anjing kuning keluar dari sebuah kandang dan, dengan sebuah gerakan yang cepat, membenamkan anjing itu ke sebuah bak mandi besar sehingga hewan itu tenggelam di air dan mati lemas. Sih Peng hampir muntah melihatnya.

Tapi Liok Siau-hong tampaknya tidak tergoyahkan.

“Nah, ini baru benar-benar seorang ahli membunuh anjing,” Ia berkata dengan santai. “Dengan cara itu tidak setetes pun darah yang hilang. Daging anjing seperti itu pasti rasanya benar-benar enak!”

Sih Peng tidak menjawab, dia khawatir kalau dia bicara maka seluruh daging yang barusan dia makan pun akan tertumpah keluar.

Dua orang laki-laki bertubuh besar yang tadinya asyik mengamati teman-temannya bermain dadu tiba-tiba berjalan menghampiri.

“Klian ke sini utuk Coa-ong?” Mereka menatap Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong mengangguk. Kedua laki-laki itu saling melirik satu sama lain sebelum tiba-tiba menyerang, berusaha menyergap Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong tidak bergerak, kedua laki-laki itu baru saja menyentuhnya ketika mereka sendiri tiba-tiba terpental ke udara.

Si pelayan bersorak dengan gembira.

“Sdah kublang kungfnya hbat, klian tidk percya juga padku. Ada lgi yang mu cob-coba?”

Semua orang yang berada di halaman itu berpaling dan memandang Liok Siau-hong dengan segan, perlahan-lahan mereka mundur untuk memberi jalan baginya.

Si pelayan membawanya ke sebuah warung kecil lainnya dan menaiki sebuah tangga yang sangat sempit dan tiba di sebuah pintu yang amat sempit. Pintu itu tertutup oleh sebuah tirai yang terbuat dari manik-manik hitam.

“Coa-ong berada di dalam, silakan!”

Bagaimana mungkin pemimpin yang mampu mengendalikan para penjahat kota ini tinggal di sebuah tempat yang begini kumal? Sih Peng merasa amat aneh, sampai dia berjalan melewati pintu. Bagian dalam ternyata merupakan dunia yang benar-benar berbeda dengan bagian luar. Bahkan seorang gadis manja seperti Sih Peng yang dibesarkan dalam keluarga kaya-raya pun belum pernah melihat ruangan yang perabotannya begini mewah dan mahal. Setiap benda, setiap barang di ruangan ini adalah mahakarya yang tak ternilai harganya, mulai dari cangkir teh yang terbuat dari giok putih hingga mangkuk buah yang terbuat dari kristal Persia, begitu juga dengan lukisan-lukisan di dinding. Dua di antaranya adalah potret Bu Tao-si, satunya lagi adalah lukisan kuda yang dibuat oleh Han Gan dan satu lagi adalah hasil karya Kaisar sendiri.

Seseorang sedang duduk bersandar di sebuah kursi goyang yang dipasangi bantalan. Sambil tersenyum, ia mengulurkan tangannya ke arah Liok Siau-hong. Hampir tidak ada daging sama sekali di tangan itu. Seumur hidupnya Sih Peng tak pernah melihat orang yang begitu kurus. Bukan hanya tidak ada daging di tangannya, wajahnya yang pucat pun tampak tidak lebih dari sehelai kulit yang menggelantung di tulang.

Walaupun di luar cuaca sedang panas terik, kursi itu dilapisi oleh sehelai kulit harimau, dan orang itu mengenakan sebuah mantel yang amat besar. Sih Peng tak bisa membayangkan bahwa pemimpin semua penjahat di kota itu bertampang seperti ini. Liok Siau-hong sudah berjalan menghampiri dan menjabat tangannya erat-erat.

“Tidak kukira bahwa kau benar-benar ingat pada orang cacat sepertiku dan mau datang mengunjungiku!” Coa-ong tersenyum.

Sih Peng menarik nafas lega, akhirnya seseorang mengucapkan kata-kata yang bisa ia fahami.

“Sudah lama aku ingin mengunjungimu, tapi kali ini aku ke sini bukan hanya untuk menemuimu!” Liok Siau-hong menjawab.

“Tak apa-apa, kau sudah berada di sini, dan aku benar-benar senang karenanya!”

“Aku ingin meminta sesuatu darimu.”

“Kau datang ke sini, tentu saja untuk meminta sesuatu dariku, kenyataan bahwa kau berfikir untuk datang padaku adalah bukti bagiku bahwa kau masih menganggapku sebagai seorang sahabat, itu sudah lebih dari cukup!” Ia tertawa dengan tulus dan berpaling pada Sih Peng. “Di samping itu, kau membawa seorang wanita yang begini cantik, belum pernah aku melihat yang secantik ini!”

Wajah Sih Peng memerah.

“Margaku Sih, lengkapnya Sih Peng!” Ia menjawab dengan malu. Tiba-tiba dia menyadari bahwa walaupun fisik Coa-ong lemah, ia tetaplah seorang yang sangat berani dan terus terang, juga seorang sahabat yang sangat setia. Ia tiba-tiba menyadari bahwa kesannya terhadap orang ini adalah sangat baik.

“Sih Peng? Apakah kau Sih Peng dari keluarga Dewi Jarum Sih-hujin?”

Sih Peng mengangguk dengan wajah memerah.

“Siapa yang tahu kalau aku bisa melihat si cantik yang paling terkenal di dunia persilatan?” Coa-ong tertawa dan berkata dengan keras. Sambil menjabat tangan Liok Siau-hong dengan erat, dia berkata, “Kelihatannya bukan hanya seleramu sangat tinggi, nasibmu juga sangat mujur. Jika aku jadi kau, aku akan minum sekarang juga!”

Kali ini Liok Siau-hong tampaknya sangat patuh dan dia segera menuangkan minuman dan meminumnya. Di atas meja memang ada sebuah cawan emas berbentuk tanduk, dan araknya berwarna kuning gelap.

Arak itu hampir habis ketika Coa-ong akhirnya bicara lagi.

“Apa yang kau inginkan? Jika aku memilikinya, kau boleh mengambilnya. Jika aku tidak memilikinya, aku akan mencarikannya untukmu!”

“Aku ingin sebuah peta!”

“Peta apa?”

“Sebuah peta mengenai tata ruang Lam-ong-hu, berikut lokasi penjaga dan perangkap di sana serta jadwal pergantian para penjaga!”

Ini, tentu saja, bukan hal yang mudah untuk didapatkan. Tapi Coa-ong tampaknya tidak keberatan, dia juga tidak bertanya peta itu digunakan untuk apa.

Jawabannya sangat sederhana.

“Baik!”

Liok Siau-hong tidak mengucapkan terima kasih padanya, persahabatan mereka jauh melebihi kata itu.

Coa-ong memandang mata Liok Siau-hong dengan perasaan puas di matanya. Ia faham perasaan Liok Siau-hong. Ia hanya mengajukan satu pertanyaan.

“Di mana kau hendak menginap malam ini?”

“Ji-ih-khek-can (Penginapan Serba Puas)!”

“Sebelum matahari terbenam besok, aku akan mengirimkan seseorang bersama peta itu padamu.”

______________________________

Angin di tepi sungai selamanya dingin dan menyegarkan. Malam itu hawanya dingin seperti air. Di langit tampak bulan dan bintang, dan ada beratus-ratus bintang seperti api di atas perahu nelayan. Dengan hati senang, mereka berjalan-jalan dengan perlahan di tepi sungai. Kota ini benar-benar indah, mereka menyukainya, dan juga menyukai orang-orang di kota ini.

“Aku akhirnya memahami sesuatu!” Sih Peng tiba-tiba menarik nafas dengan lembut.

“Apa itu?” Liok Siau-hong bertanya.

“Kau benar-benar memiliki banyak sahabat yang hebat!”

“Terutama seorang sahabat seperti Coa-ong,” Liok Siau-hong setuju. “Siapa pun yang memiliki sahabat seperti dia pasti beruntung!”

Sih Peng berhenti dan mengamati lampu di perahu nelayan yang berkerlap-kerlip di sungai dan gelombang air sungai yang diterangi oleh sinar bulan. Hatinya penuh dengan perasaan riang dan gembira.

“Aku suka tempat ini, nanti aku mungkin akan bertempat-tinggal di sini!”

“Bukan hanya orang-orang di sini yang hebat, cuacanya juga bagus, dan banyak makanan enak di sini!”

“Terutama daging giling yang kita makan tadi,” Sih Peng berkata dengan malu. “Aku tak akan pernah melupakannya!”

“Jika kau tahu daging itu terbuat dari apa, maka kau benar-benar tidak akan pernah melupakannya!” Liok Siau-hong tertawa.

“Memangnya terbuat dari apa?”

“Daging ular dan kucing.”

______________________________

Sih Peng masih muntah-muntah. Dia telah muntah 5 kali. Waktu dia kembali ke penginapan, dia mencari sebuah baskom cucian dan bersembunyi di sudut kamar, muntah-muntah. Ia sedang memuntahkan sisa-sisa air di perutnya saat ini. Liok Siau-hong hanya tersenyum sambil menonton di pinggir.

Akhirnya Sih Peng berhenti muntah-muntah dan berpaling. Ia menatap Liok Siau-hong dengan gusar.

“Tentu ada sesuatu yang salah padamu, kau suka melihat orang lain menderita.” Ia menggerutu dengan nada yang pahit dan gigi dikertakkan.

“Aku tidak suka melihat orang lain menderita,” Liok Siau-hong masih tersenyum. “Aku hanya suka melihatmu menderita sedikit!”

“Apa salahku padamu?” Sih Peng melompat bangkit. “Mengapa kau menyiksaku seperti ini?”

“Bukankah orang seperti ini tidak punya hati?” Liok Siau-hong menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas. “Aku mengajaknya makan makanan yang begitu lezat, dan dia masih menuduhku menyiksanya!”

“Jadi, menurutmu, seharusnya aku berterima-kasih padamu?”

“Tepat!”

“Aku sangat berterima-kasih, begitu berterima-kasihnya sehingga aku ingin menggigitmu sampai mampus!”

Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan menarik Liok Siau-hong. Ia menggigit telinganya. Gigitan itu tidaklah keras.

______________________________

Angin begitu lembut, malam begitu sunyi. Dua orang muda-mudi yang berkasih-kasihan di sebuah kota yang aneh tetapi indah, jika kau seorang laki-laki, bukankah kau berharap menjadi Liok Siau-hong? Jika kau seorang wanita, bukankah kau berharap dirimu adalah Sih Peng?

______________________________

Senja, senja lagi. Sambil bergandengan tangan, mereka kembali dari kota. Ada sebuah amplop besar di atas meja.

Hanya ada 3 kata di atas amplop itu.

“Beruntung Tidak Mengecewakanmu!”

Di bawah sinar bintang, jalan yang terbuat dari lempengan batu hijau itu tampak berkilauan laksana cermin.

“Haruskah kau pergi?” Sih Peng memegang tangan Liok Siau-hong seerat-eratnya. Liok Siau-hong mengangguk.

“Dan kau tidak mengijinkan aku ikut denganmu?”

Liok Siau-hong mengangguk lagi.

Gadis itu berpaling, karena air mata telah menitik dari matanya, dia tidak ingin Liok Siau-hong melihatnya.

“Jika kita berdua pergi, maka kesempatan bagi kita untuk tetap hidup jadi tinggal setengahnya!” Ia menjelaskan.

“Tapi bagaimana mungkin aku menunggumu di luar sendirian?”

“Kau boleh pergi untuk mencari seseorang buat dijadikan teman berbincang-bincang atau minum-minum.”

“Siapa yang bisa kucari?”

“Siapa pun, asal mereka punya lidah yang bisa bicara dan mulut yang bisa minum!” Liok Siau-hong bergurau.

Sih Peng menegakkan kepalanya dan menatap Liok Siau-hong dengan gusar. Ia menendang tulang kering pemuda itu dengan agak keras.

“Ok, baik! Aku akan pergi dan mencari laki-laki lain, kau pergilah dan mampuslah!” Ia berkata dengan keras.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: