Kumpulan Cerita Silat

23/01/2008

Duke of Mount Deer (20)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:59 am

Duke of Mount Deer (20)
Oleh Jin Yong

Gerakan Hong liok-ko itu sungguh hebat. Terdengar sorakan kawan-kawannya yang merasa kagum. Kedua orang itu dapat menirukan gerakan han Siong dan Han Hong dengan baik.

“Nah, Pek Jihiap. Begitu bukan jalannya pertempuran di Tian tan?” tanya Hian Ceng.

Wajah Pek Han-hong menjadi pucat pasi. Tojin itu sungguh-sungguh lihay. Gerakan keduanya memang tepat sekali sehingga dia terpaksa menganggukkan kepalanya.

Sementara itu, Siau Po dan rekan-rekannya juga memuji tiruan gerakan Hian Ceng dan Hong liok-ko.

Di dalam hati, Han Hong sendiri juga merasa kagum sekaligus heran. Laki-laki yang tampangnya biasa-biasa saja itu membuat pikirannya bingung. Bagaimana dia bisa mengerti ilmu yang dikuasai mereka dua bersaudara? Siapakah dia sebenarnya?

Hong Ci-tiong menoleh ke arah Hian Ceng sambil berkata,

“Totiang, harap totiang melepaskan jubah itu sebentar. Maaf!”

Hian Ceng tojin merasa heran dan terkejut. Dia tidak mengerti maksud kawannya itu. Tapi dia menurut juga. Segera dia melepaskan jubahnya itu. Justru ketika dia mengibaskan jubahnya itu, tampak dua helai koyakan ujung jubah tertiup angin dan melayang-layang di udara. Karena itu dia langsung merentangkan jubahnya tersebut sehingga dia dapat melihat ada dua bagian yang berlobang dengan bekas telapak tangan.

Meskipun tojin itu berwatak sabar dan tenang namun tak urung dia terkejut juga sehingga wajahnya menjadi merah. Biarpun mereka hanya bermain-main, namun hatinya merasa kagum juga. Bagaimana kalau tadi mereka bertempur dengan serius? Cepat-cepat dia meraba bagian dadanya dan hatinya pun menjadi lega ketika mengetahui dadanya tidak terasa sakit.

Ketika orang-orang masih terdiam saking kagumnya, terdengar Hong Ci tiong berkata kembali kepada tuan rumah.

“Pek jihiap, Pek tahyiap jauh lebih lihay dari aku yang rendah. Tentunya dapat dibayangkan luka yang diderita oleh Ci toako kami. Apalagi bagian punggungnya juga terhajar oleh jurus Kao-san Liusui yanghebat. Dengan demikian luka yang diderita Ci toako ada kemungkinan bisa merenggut selembar jiwanya.”

Siau Po termenung seorang diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Hay kongkong semasa hidupnya pernah menghajar aku. Tampaknya ia hanya mengusapkan tangannya di bagian dada bajuku. Rupanya tipu jurus ini yang digunakannya.

‘ Sou Kong memperhatikan Han Hong yang memang sedang menatap kepadanya. Keduanya tampak tidak bersemangat. Mereka sudah melihat dengan jelas kelihayan Hong Ci-tiong. Dan dari gerakan yang ditirunya tadi, dapat dibuktikan bahwa Ci –Tian Cong turun tangan karena terpaksa. Dengan demikian sulit bagi mereka untuk menuntut balas bagi kematian Pek tayhiap.

Akhirnya Sou Kong berdiri dan berkata.

“Tuan Hong, ilmu silatmu lihay sekali. Kau membuat aku yang rendah merasa kagum! Seandainya Pek Toake mempunyai ilmu silat yang sebanding denganmu saja. tentu dia tidak bisa dibinasakan oleh orang she Ci!”

Hoan Kong merangkapkan sepasang tangannya dan memberi hormat kepada Sou Kong. Dia mewakili Hong Liok-ko menjawab pujian tadi.

“Hari ini kami telah datang mengganggu kalian. Sekarang ijinkanlah kami memohon diri.”

“Tunggu sebentar!” kata Hian Ceng. Mari kita memberi hormat pada Pek tayhiapl Aku harap kejadian ini tidak sampai merenggangkan hubungan baik antara Bhok onghu dengah Tian-te hwe….”

Selesai berkata, dia segera mendahului yang lainnya melangkah ke dalam.

Pek Han Hong maju ke depan dan mengulurkan tangannya untuk mencegah. Terdengar dia tertawa dingin.

“Toako mati tidak meram. Sudahlah. Kalian tidak perlu berpura-pura!” teriaknya marah.

“Pek jihiap,” kata Hian Ceng yang terkenal lebih sabar. “Jangan katakan pertandingan yang telah berlangsung antara pihak kami dengan kalian dua bersaudara adalah atas sukarela, dan Ci toako memang telah kesalahan tangan. Seandainya Ci toako sengaja melakukannya sekalipun, kau tidak dapat menyalahkan dan membenci seluruh anggota Tian-te hwe. Kami ingin memberi hormat kepada jenazah Pek tayhiap untuk terakhir kalinya sebagaimana peraturan yang ada dalam dunia kangouw.”

Mendengar kata-kata itu, Sou Kong seger a ikut memberikan komentarnya.

“Jite, apa yang dikatakan totiang memang benar. Kita tidak boleh bersikap kurang sopan.”

Pek Han-hong tidak mencegah lagi. Seluruh rombongan itu langsung maju ke depan peti mati untuk sama-sama menganggukkan kepala sambil membungkuk dan memberi hormat. Siau Po sendiri menjatuhkan dirinya berlutut dan terlihat mulutnya berkomat-komit.

“Hai, apa yang kau katakan?” bentak Han Hong dengan wajah garang.

“Aku hanya bersembahyang kepada Pek tayhiap,’ sahut si bocah cilik itu. “Apa urusannya denganmu?”

“Suaramu tidak jelas, entah apa yang kau katakan!” kata Pek Han-hong.

“Kau mau tahu?” tanya Siau Po. “Aku bilang begini: Pek tayhiap, kau berangkatlah terlebih dahulu. Aku yang rendah Wi Siau-po telah dihajar oleh adikmu sehingga seluruh tubuhku babak belur, mungkin selembar jiwaku ini tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi. Beberapa hari lagi, kalau aku berpulang ke alam baka, tentu kita akan bersua di sana!”

“Kapan aku menghajarmu?” tanya Pek Han-kong mendongkol.

“Kau mau lihat buktinya?” tanya Siau Po kembali. Dia segera menarik lengan bajunya ke atas dan memperlihatkan tangannya yang bekas tercekal sehingga bertanda biru matang.
“Nah, apakah ini bukan bekas ajaranmu?”

Sou Kong menoleh kepada Pek Han-hong yang diam saja. Dia merasa kurang puas, karena itu dia berkata kepada Siau Po.

“Wi Hiocu urusan ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat, aku rasa sebaiknya lain kali saja kita bicarakan kembali.”

“Sebenarnya sih tidak apa-apa, cuma… aku khawatir luka yang kuderita ini terlalu parah sehingga tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Kapan waktu saja ada kemungkinan dijemput oleh Giam Lo-ong. Kalau ini sampai terjadi, berarti tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk membicarakan urusan ini.”

Pikiran Sou Kong bergerak dengan cepat. ‘Bocah ini dapat berbicara dengan lancar. Rona wajahnya juga memperlihatkan kesehatannya yang baik, mengapa dia bicara seperti itu? Apabila sese orang dalam keadaan terluka, apalagi parah, tentu keadaannya tidak demikian! Karena itu dia segera paham bahwa bocah itu memang sengaja mempermainkan mereka. Mengapa dalam perkumpulan Tian-te hwe yang tersohor bisa ada seorang hiocu yang sedemikian rupa?’

“Tak usah khawatir, Wi hiocu,” katanya kemudian. “Kau pasti berumur panjang sampai seratus tahun! Kalau kami semua sudah mati, kau masih bisa hidup beberapa puluh tahun lagi.”

“Tetapi sekarang aku merasa perutku sakit sekali,” sahut Siau Po. “Jangan-jangan ususku sudah berbelit-belit dan pencernaanku tidak dapat bekerja lagi, mungkin aku tidak bisa bertahan sampai besok…. Hong liok-ko, Hian Ceng totiang, kalau aku sampai mati, janganlah kalian mencari Pek jihiap untuk membalas dendam. Di dalam dunia kangouw, kita harus saling menghargai, karena itu jangan sekali-sekali menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan hubungan baik antara Tianhwe dengan pihak Bhok onghu….”

Rekan-rekannya hanya tersenyum mendengar kata-kata Siau Po. Sedangkan Sou Kong tidak menggubrisnya lagi. Hanya sepasang alisnya yang mengerut. Tanpa banyak bicara lagi, dia mengantar para tamunya keluar. Setelah itu, Hian Ceng to juga mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Ma Pok-jin, Yau Cun, Lui It-si dan Ong Bu-seng, akhirnya rombongan anggota Tian-te hwe serta Yau Cun, kembali ke rumah obat. Namun, sesampainya di tempat itu, mereka langsung terkejut setengah mati.

Tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa. Meja terbolak-balik. Laci-laci telah dikeluarkan dari tempatnya, hampir semuanya bergeletakan di atas lantai. Obat-obatan bertumpahan di mana-mana. Dan ketika mereka masuk ke dalam serta memanggil-manggil, tidak terdengar sahutan sama sekali. Mereka segera merasa curiga. Karena toko obat itu ada pegawainya yang mengawasi, tapi mengapa sekarang tidak ada seorangpun yang memberikan jawaban. Ketika mereka masuk ke halaman dalam, semuanya menjadi terperanjat. Disana terkulai tiga sosok mayat yang dikenali sebagai pemilik toko yang gemuk beserta dua orang pegawainya.

“Lekas tutup pintu!” teriak Hian Ceng tojin. Jangan orang luar masuk! Cepat lihat Ci Toako!” Dia segera mendahului yang lainnya lari ke ruang bawah tanah.

“Ci toako! Ci toako!” panggilnya panik. Yang lain pun segera mengikuti tindakannya.

Sesampainya di ruang bawah tanah itu, semuanya menjadi tertegun. Ci Tian-coan tidak ada lagi di balai-balai tempatnya berbaring.

“Neneknyal” teriak Hoan Kong yang marah sekali. “Mari kita kembali ke Bhok onghu untuk mengadu jiwa dengan mereka!” Dia langsung mencurigai bahwa semua ini merupakan hasil perbuatan orang-orang Bhok onghu.

“Lekas undang Ong cong piautau dan lain untuk menjadi saksi!” kata Hian Ceng tojin.

“Selagi kita membuang-buang waktu mengundang mereka, mungkin jiwa Ci toako sudah me yang!” kata Hoan Kong yang kebingungan.

“Kalau mereka memang berniat membunuh toako, tentu mereka sudah melakukannya. di sini tanpa bersusah payah membawanya pergi.” Han Ceng tojin mengemukakan pendapatnya.

“Kalau mereka membawanya, maka dapat dipastikan bahwa untuk sementara keadaan Ci toako tidak perlu dikhawatirkan.”

Hoan Kong tersadar. Mereka segera keluar .
nienitahkan beberapa rekannya untuk mengundang kembali Ong Bu-seng serta ketiga kawannya. Dalam sekejap saja mereka sudah datang. Ketika mengetahui duduknya persoalan, keempat orang itu juga ikut merasa marah sekali.

“Jangan menunda waktu lagi!” kata Ong piautau. “Sekarang juga kita kembali ke sana!” Bergegas mereka menuju rumah keluarga pPek Han-hong segera keluar ketika diberitahu kedatangan orang Tian-te hwe yang belum lagi pergi. Ketika muncul di muka pintu dan tertawa dingin .

“Ada keperluan apa tuan-tuan kembali lagi sini?”

“Pek jihiap!”kata Hoan Kong dengan nada ras. “Kau sudah tahu mengapa, buat apa kau menanyakan? Perbuatanmu kali ini benar-benar menjatuhkan pamor Bhok onghu dan juga wibawamu sendiri!”

Pek Han Hong menatapnya dengan tampang kebingungan.

“Mengapa harus kehilangan pamor? Perbuatan apa yang telah kulakukan?” tanyanya heran.

“Mana Ci toako kami?” tanya Hong Kong kembali. “Lekas serahkan! Kau menggunakan kesempatan ketika kami tidak ada di rumah untuk datang menyantroni tempat kami itu dan membinasakan tiga orang pegawai Hwe-cun tong serta menculik Ci-toako. Perbuatanmu itu sungguh rendah!”

Pek Han-hong semakin bingung.

“Kau hanya mengacau! Apa kalian sudah gila? Apa itu Hwe-cun tong? Apa yang kau maksudkan dengan tiga pegawai yang mati?”

Tepat pada saat itu, Sou Kong keluar dari dalam. Dia sempat mendengar pertengkaran itu.

“Ada keperluan apakah sehingga tuan-tuan datang kembali?” tanyanya sabar.

“Sou samhiap!” Lui It-siau ikut bicara. “Kali ini pihakmulah yang tidak benar. Manusia tidak boleh lupa dengan tata krama serta etiket. Andaikata kalian ingin membalas sakit hati, tapi caranya bukan sembarang membunuh orang yang tidak bersalah dan menculik orang yang sedang terluka. Betapa beraninya kalian melakukan hal ini di kotaraja!”

Sou Kong menoleh kepada Pek Han-hong.

Pek Han-hong menatapnya dengan tampang bingung.

“Apa sedang mereka bicarakan?” tanyanya bingung.

“Mana aku tahu?” sahut Pek Han-hong. “Aku sendiri tidak mengerti!”

Ong Bu-seng segera berkata, ” Sou samhiap, Pek jihiap! Di tempat tinggal anggota Tian-te hwe, kami menemukan tiga orang yang mati terbunuh. Sedangkan bayangan Ci suhu tidak kelihatan lagi. Hal ini berarti dia telah diculik. Karena itulah kami datang kemari. Siapa yang salah dan siapa yabenar akan kita pertimbangkan nanti! Sekaramarilah kita bicara baik-baik. Di samping itu, a mohon sudilah kiranya Sou samhiap dan Pek jihimemandang muka kami agar membebaskan Ci su dulu!” Sou Kong menjadi penasaran.

“Ci Tian-coan telah diculik?” tanyanya. “Sungguh aneh! Oh, rupanya tuan-tuan menyangka kamilah yang melakukannya? Tapi tuan-tuan sekarang lihat sendiri! Bukankah sejak tadi kami ada di sini bersama tuan-tuan sekalian? Kami toh tidak mungkin memisahkan diri untuk melakukan hal lainnya

“Sudah tentu bukan kalian sendiri yang melaksanakannya!” kata Hoan Kong. “Tapi kalian bisa menugaskan orang-orang kalian untuk turun tangan. Tentunya bukan hal yang sulit, bukan?”

“Kalau tuan-tuan tidak percaya kepada kami apa lagi yang bisa kami katakan?” kata Sou Kong. “Apa mungkin tuan-tuan ingin menggeledah agar lebih yakin? Silahkan masuk!”

Sebelum rombongan orang-orang Tian-te hwe sempat menjawab. Pek Han-hong sudah berkata:

“Kata-kata Sin Jiu kisu biasanya satu bilang satu, dua bilang dua. Dia tidak pernah berdusta. Biar aku katakan secara terus terang. Kalau orang she Ci sampai terjatuh ke tanganku, pasti aku akan langsung menghabisinya, siapa yang kebanyan waktu kenculiknya dan memberinya makan?”

Sou Kong masih bisa bersikap sabar.

“Di balik semua ini pasti ada sesuatu yang tersembunyi” katanya. “Maaf, tuan-tuan. Tapi, bolehkah kalian mengajak aku ke tempat kejadian untuk melihat-lihat?”

Hoan Kong dan yang lain-lainnya jadi sangsi. Tampaknya baik Sou Kong maupun Pek Han-hong benar-benar tidak mengetahui urusan itu.

“Sou samhiap,” kata Hoan Kong. “Kami semua ingin mendengar satu patah kata darimu saja. Sebenarnya Ci toako kami telah terjatuh ke tangan kalian atau tidak?”

Sou Kong menggelengkan kepalanya.

“Tidak!” Sahutnya tegas. “Dan aku berani menjamin bahwa Pek Jihiap juga tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini!”

Sou Kong sudah terkenal sebagai tokoh kangouw yang jujur. Hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakannya tidak mungkin dusta.

“kalau begitu, Sou samhiap,” kata Hian Ceng tojin kemudian. “Silahkan kalian datang ke tempat kami.

“Pek Han-hong dan Sou Kong menerima baik undangan itu. Mereka segera kembali ke Hwe-cun tong. Keduanya memeriksa dengan teliti mayat ketiga pegawai toko obat tersebut. Para mayat itu terhajar oleh tangan yang berat sehingga tulang bagian dada dan iga pada patah dan remuk. Namun pukulan itu biasa-biasa saja, jadi sulit menebak
ilmu apa yang digunakan atau berasal dari partai mana.

“Biar bagaimana kita harus bersama-sama nyelidiki ini sampai tuntas,” kata Sou Kong. Setelah itu, dia termenung sekian lama, kemudian baru berkata lagi. “Kalau tidak, kita akan menghadapi penasaran yang tidak dapat dijelaskan untuk lamanya!”

Dari toko obat itu, mereka menuju ruang rahasia. Pihak Tian-te hwe tidak keberatan orang luar mengetahui tempat rahasia mereka itu. Di sini Sou Kong dan Pek Han-hong juga tidak berhasil mendapat petunjuk apa-apa. Oleh karena itu akhirnya terjadi kesepakatan bahwa mereka akan menyelidiki urusan ini bersama-sama. Karena hari sudah sore, kedua belah pihak pun berpisah. Yau Cun beserta ketiga rekannya juga segera memohon diri. Sebelum berpisah, Hoan Kong sempat berkata “Sou samhiap, Pek jihiap, Harap kalian ketahui nanti malam kami akan membakar tempat ini untuk menghapus segala jejak.”

Sou Kong menganggukkan kepalanya.

“Kami sudah inemeriksanya dengan teliti,” sahutnya, “Memang ada baiknya tempat ini dibakar sampai habis. Di sekitar tidak ada rumah”penduduk. Dengan demikian tidak akan merugikan orang lain lagi pula pihak pembesar negeri juga tidak bisa mencurigainya.”

Siau Po senang sekali mendengar usul pemkaran rumah obat itu. Tentu dia setuju sekali.

“Wi Hiocu” kata Hian Ceng tojin kemudian. “hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kau segera kembali ke istana. Pembakaran rumah ini hanyalah sebuah urusan kecil, karena itu tidak perlu merepotkan Wi hiocu. Aku yakin tidak akan terjadi peristiwa apa-apa.”

Siau Po tertawa lebar.

“Totiang dan saudara-saudara sekalian, aku harap kalian tidak usah mengangkat-angkat aku demikian tinggi. Meskipun aku sudah menjadi hiocu, urusan apa pun aku masih kalah dengan kalian. Aku ingin berdiam di sini sekedar menyaksikan saja.”

Hiang Ceng tojin ikut tertawa.

“Bukan begitu, Wi hiocu,” katanya. “Ada baiknya hiocu ketahui bahwa pembakaran akan dilakukan mulai tengah malam. Kami juga akan berpencar untuk melakukan pengawasan agar penduduk di sekitar sini tidak menjadi terkejut atau ketakutan. Sedangkan bagi hiocu, satu malam tidak pulang ke istana tentu bisa menimbulkan pertanyaan.”

Siau Po menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan imam itu memang benar. Setelah maka malam, pintu istana akan dikunci dan dijaga ketat. Tidak ada orang yang bisa keluar masuk tanpa ijin tidak terkecuali Wi Siau-po. Tidak baik apabila dia sampai tidak pulang sepanjang malam.

“Sayang sekali,” katanya penuh penyesalan “Tentu menyenangkan kalau aku bisa menjadi orang pertama yang menyulut api!”

Mendengar ucapannya, Kho Gan-tiau segera menghampiri dan berbisik.

“Hiocu, kalau lain kali kita akan membakar rumah lagi, tentu kami akan mengundang Wi hiocu sebagai orang pertama yang menyulutnya!”

Siau Po gembira sekali sehingga dia menggenggam tangan Kho Gan-tiau erat-erat.

“Ingat janjimu, Kho toako!” katanya. “Jangakau melupakannya!”

“Perintah Hiocu tidak mungkin kami yang rendah berani melupakan!” sahut Kho Gan-tiau.

Siau Po tertawa gembira.

“Bagaimana kalau besok pagi ke lorong Yang ciu untuk membakar rumah keluarga Pek?” katanya mengusulkan.

Kho Gan-tiau terkejut setengah mati mendengar ucapan bocah itu.

“Ini…ini bukan urusan main-main. Kita harus mempertimbangkannya baik-baik, karena gawat kalau sampai Cong tocu mengetahuinya.”

Disebutnya nama ketua pusat itu, hilanglah kegembiraan Siau Po. Ia segera mengganti pakaiannya kembali dan dibungkusnya pakaiannya yang barus serta mewah itu. Sementara itu, Gan Tiau berjalan keluar dan memeriksa sekitar tempat itu dengan seksama. Setelah yakin tidak ada orang yang mencurigakan, ia masuk lagi ke dalam dan mengiringi Siau Po meninggalkan tempat itu dengan joli untuk kembali ke istana.

Di tengah jalan, ketika masih berada di dalam joli, seorang anggota Tian-te hwe yang ikut mengiringi berkata kepada Siau Po.

“Wi Hiocu, besok kalau hiocu ada waktu, datanglah ke dapur Siang-sian tong untuk meIihat-lihat!”

“Memangnya ada apa di sana?” tanya Siau Po bingung.

“Tidak ada apa-apa!” sahut orang itu sembari ngeloyor pergi.

Siau Po coba-coba mengingat-ingat, tapi dia lupa siapa nama orang itu. Tampangnya agak ketolol-tololan dengan kumis tipis dan janggut seperti kambing.Dia juga ikut ke rumah keluarga Pek. Namun tadinya Siau Po mengira bahwa dia salah satu pegawai toko obat Hwe-cun tong. Dia merasa heran mengapa orang itu berpesan demikian.

Mengingat Siang-sian tong adalah wilayah tugasnya Siau Po, maka besok paginya dia langsung ke dapur istana itu. Para bawahannya menjadi repot. Mereka menyambutnya dengan penuh hormat. Pertama-tama dia disuguhi teh hangat. Anehnya, dia tidak melihat sesuatu yang istimewa di tempat tersebut.

Ketika thaykam kesayangan Sri Baginda it hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba dia melihat datangnya seorang thaykam yang bertugas berbelanja di pasar. Di belakangnya mengikuti seseorang yang membawa sebuah timbangan besar. Sembari berjalan orang itu tertawa cekikikan.

“Benar, benar! Apa pun yang dikatakan kongkong, pasti tidak salah lagi!”

Siau Po merasa terperanjat juga heran. Sebab dia mengenali orang itu sebagai anggota Tian-te hwe yang menyarankan agar dia datang ke dapur Siang-sian tong kemarin.
Thaykam yang tugasnya berbelanja itu segera memberi hormat kepada atasannya. Siau Po menganggukkan kepalanya sambil menunjuk kepada kawannya yang membawa timbangan itu.

“Siapa dia?” Thaykam itu tertawa.

“Dia biasa dipanggil Cian laopan (tauke Cian) pemilik toko daging Cian Hin-liong di pintu kota utara. Kami baru saja berkenalan dan hari ini sengaja dia datang membawa sepuluh ekor daging Babi sebagai tanda persahabatan.”

Cian laopan segera bertekuk lutut memberi hormat kepada thaykam gadungan kita.

“kongkong ibarat ayah bunda yang membesarkan kami. Hari ini sungguh beruntung aku yang rendah dapat memberi hormat kepada kongkong. Rupanya ini berkat keluhuran budi nenek moyang kami di jaman dahulu!”

Siau Po tertawa.

“Sudahlah! Tidak usah banyak peradatan!” katanya. Sedangkan dalam hati dia berpikir. ‘Mau apa dia masuk ke dalam istana? Mengapa dia tidak mengatakan apa-apa langsung saja kemarin apabila ada keperluan apa-apa?’

Cian Laopan berdiri sambil tersenyum.

“Maksud kami mengirim daging ke istana agar toko kami menjadi laris. Memang kami sengaja menjualnya lebih murah dari toko daging lainnya. Kalau khalayak ramai mengetahui bahwa ibu suri, Sri Baginda serta para pangeran ataupun kongkong sekalian membeli daging dari toko kami, tentu kami merasa bergengsi dan bisa dianggap sebagai toko nomor satu di kota ini!”

Sekali lagi dia menjura. Kemudian dia mengeluarkan tiga lembar cek yang lalu diserahkannya kepada Siau Po.

’”Di sini ada sejumlah uang yang tidak ada nilainya, harap kongkong terima agar dapat dibagikan kepada para bawahan kongkong!”

Siau Po menyambut tiga lembar cek itu. Dia melihat masing-masing nilainya lima ratus tail.

‘Lho? lni kan jumlah uang yang kuberikan kepa Kho Gan-tiau kemarin?’ Untuk sesaat dia sampai tertegun saking herannya.

Cian Laopan menggerakkan bibirnya ke arah thaykam tukang belanja. Siau Po mengerti isyarat yang diberikannya. Dia segera tertawa dan berkata,

“Cian laopan benar-benar baik hati!” kemudian dia serahkan ketiga lembar cek itu kepada thaykam tukang belanja dan berkata. “Kau terimalah uang agar dapat dibagikan rata dengan kawan-kawan. Aku sendiri tidak memerlukannya.

“Bukan main girangnya thaykam itu. Juml seribu lima ratus tail tidak kecil sehingga dia mengucapkan terima kasih berkali-kali. Namun berpikir juga dalam hatinya. ‘Biar bagaimana, aku harus menyisihkan buat kongkong.’

Terdengar Cian laopan berkata kembali:

“Kongkong sangat menyayangi para bawahan. Bagus sekali. Hal ini membuktikan kebaikan hati kongkong. Tapi kongkong tidak menerima apa apa dariku. Hal ini membuat perasaanku jadi tidak enak. Sekarang begini saja. Aku mempunyai dua ekor babi Hok-Leng hoa-tiau’ yang besarnya luar biasa. Nanti aku akan menyembelih dua ekor. Satu untuk ibu suri dan seekor lagi untuk kongkong sendiri. Khusus untuk kongkong punya, aku akan antar ke kamar kongkong!”

“Apa artinya babi Hok-leng hoa-tiau?” tanya Siau Po. Namanya aneh sekali, aku belum pernah menedengarnya!”

“Itulah babi istimewa yang dipelihara menurut resep peninggalan leluhurku,” kata Cian laopan menjelaskan. “Pertama-tama harus dipilih babi dari turunan yang bagus. Kemudian cara pemeliharaannya sebagai berikut. Babi yang baru berhenti menyusu pada induknya harus diberi makan dengan campuran Hok leng, tong som dan beberapa macam obat-obatan lainnya ditambah sebutir telur serta seekor anak Hoa tiau yang telah lama direndam dalam arak…”

Belum habis ucapan Cian laopan, para thaykam sudah tertawa geli. Sebab pemeliharaan babi dengan cara demikian sungguh luar biasa. Jangan menemui, mendengar saja baru kali ini. Bahkan ada yang bertanya.

“Mengapa harus memelihara babi dengan cara sesusah itu? Biayanya saja sudah ratusan tail!”

“ongkosnya tidak menjadi persoalan,” sahut Cian Laopan. “Yang menjadi masalah justru diperlukan ketekunan khusus dan cara perawatan yang memakan waktu lama.

“Bagus!” seru Siau Po. “Biar bagaimanapun daging babi seperti itu harus kucicipi!”

“Baik kongkong,” sahut Cian laopan. “N ah, nanti siang kira-kira jam berapa aku boleh mengantar babi itu ke kamar kongkong?”

Siau Po berpikir sebentar.

“Antara jam Bi-siedan Sin-sie saja,” sahutnya kemudiano Maksudnya kurang lebih pukul tiga Siang.

“Baik, kongkong!” kata Cian laopan yang kembali memberi hormat lalu memohon diri.

“Kongkong,” kata thaykam tadi. “Kalau nanti kongkong bertemu dengan Sri Baginda, harap kongkong tidak mengungkit urusan ini….”

“Kenapa?” tanya Siau Po.

“Ada peraturan dalam istana yang melarang disuguhkannya barang-barang makanan yang langka terhadap keluarga raja. Sebab apabila ada yang sakit karena makanan itu, kitalah yang terancar bahaya, bisa-bisa batok kepala kita menggelinding dari tempatnya.”

Siau Po menganggukkan kepalanya. “Baik!”

“Lagipula,” lanjut thaykam tadi kembali. “Kalau seandainya Sri Baginda menjadi ketagihan, di mana lagi kita harus mencari babi yang dipelihara denga berbagai keistimewaan itu? Bukankah kita hanya mencari penyakit bagi diri kita sendiri?”

Siau Po tertawa. “Pikiranmu tepat sekali!”

“Sedangkan ada peraturan turun temuran bahwa sayur mayur maupun hidangan yang disajikan untuk ibu suri maupun Sri Baginda tidak boleh yang baru atau segar,” kata thaykam itu kembali.

Siau Po sampai tertegun mendengar keterangannya.

“kalau tidak boleh makan yang segar, apakah Sri Baginda dan Ibu suri harus menyantap hidangan yang sudah disimpan satu hari atau satu malam?” Sudah beberapa bulan dia menjadi kepala Siang-sian Tong, tapi baru hari dia mendengar ada peraturan seperti itu.

“Bukan begitu, kongkong,” kata thaykam tadi tertawa. “Yang kumaksudkan bukan demikian. Hanya beberapa macam makanan, umpamanya yang dalam satu tahun hanya bermusim satu atau dua kali, seperti rebung. Itu juga bisa terancam hukum gantung.”

“Tidak mungkin! Bukankah Sri Baginda dan ibu suri sangat bijaksana dan adil?” kata Siau Po.

“Tapi peraturan itu sudah ada sejak jaman dinasti Beng. Kami hanya bekerja menurut peraturan yang ada.”

Siau Po heran sekali. Namun dia tidak mengatakan apa-apa lagi, segera dia menuju kamar tulis untuk melayani Sri Baginda. Selesai bertugas, dia kembali ke dapur.

Tidak lama kemudian Cian laopan muncul bersama empat orang pegawainya yang menggotong dua ekor babi yang besarnya memang luar biasa. Mungkin berat masing-masing mencapai tiga kwintal.

Setelah memberi hormat kepada Siau Po, Cian laopan berkata.

“Kongkong, kalau setiap pagi kongkong makan daging babi Hok-Ieng hoa-tiau ini, pasti baik sekali untuk kesehatan, apalagi yang dipanggang! Yang seekor ini akan kuantar ke kamar kongkong sehingga besok pagi dapat dipotong-potong dan dimasak. Sisanya bisa diawetkan!”

Siau Po segera mempunyai dugaan. Dia menganggukkan kepalanya.

“Baik!” katanya. “Pikiranmu benar-benar sempuma. Sekarang kau ikut denganku!” Cian laopan mengangguk. Seekor babi ditinggalkan di dapur dan seekor lagi bersama tiga orang pegawainya digotong ke kamar Siau Po. Sesampainya di sana, ketiga pegawainya disuruh pergi kembali ke dapur untuk menunggu di sana. Dia sendiri langsung merapatkan pintu kamar thaykam gadungan itu.

“Wi hiocu,” katanya setelah mereka tinggal berdua. “Apakah di sini tidak ada orang lain lagi?”

Siau Po yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Cian laopan itu segera menggelengkan kepalanya.

Cian laopan langsung membalikkan tubuh babi yang besar itu. Temyata di bagian bawah perutnya terdapat jahitan yang ditempel lagi dengan selapis kulit babi lainnya.

‘Di dalam perut babi itu pasti tersimpan sesuatu yang aneh….’ pikir Siau Po dalam hati. Kemudian dia memperhatikan dengan seksama. Sekian lama dia berdiam diri. Dia menduga benda yang tersimpan dalam perut babi itu kemungkinan senjata-senjata tajam. ‘Mungkinkah orang-orang Tian-te Hwe berencana untuk menyerbu istana?’ Karena mempunyai pikiran seperti itu, jantungnya jadi berdebar-debar dengan kencang.

Cian laopan segera memutuskan benang jahitan pada perut babi itu. Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang besar sekali, kemudian diangkatnya dan kemudian di buka.

“Akh!” Mulut Siau Po sampai mengeluarkan jeritan tertahan, ketika matanya sudah melihat dengan tegas.

rupanya dalam bungkusan besar itu berisi tubuh seseorang. Tubuhnya kecil dan kurus, rambutnya panjang. Usianya sekitar dua atau tiga belas. Pakaiannya tipis sekali. Dia seorang bocah perempuan. Matanya terpejam dan tubuhnya tidak bergerak, tapi dadanya naik turun menandakan bahwa dia masih hidup.

“Siapa nona ini?” tanya Siau Po. Suaranya perlahan karena khawatir terdengar orang.
“Untuk apa kau membawanya kemari?”

“Dia kuncu dari Bhok onghu,” sahut Cian laopan dengan suara yang sama pelannya. Kuncu adalah puteri bangsawan.

Siau Po semakin heran. Matanya membelalak lebar-lebar.

“Kuncu dari Bhok onghu?” tanyanya menegaskan.

“Benar!” sahut Cian laopan. “Dialah adik kadung dari Siau ongya dari Bhok onghu! Mereka menculik Ci toako kita, maka kita pun menculik putri kecil ini sebagai sandera. Dengan demikian mereka tentu tidak berani mengganggu keselamatan jiwa Ci toako!”

Siau Po bingung sekaligus gembira. Memang hanya inilah satu-satunya jalan untuk menjamin keselamatan Ci Tian-coan.

“Bagus! Tapi, bagaimana kau bisa menculik kuncu ini?”

“Kemarin, ketika Wi hiocu dan yang lainnya menuju keluarga Pek, kami berdiam di rumah. Justru saat itulah kami mendengar kedatangan Go Eng-him di kotaraja. Dia adalah putra sulungnya Go Sam-kui si pengkhianat bangsa!”

‘Aneh!’ pikir Siau Po dalam hatinya. ‘Ada keperluan apa putra Go Sam-kui datang ke kotaraja.’

“Kemudian kami masih menerima berita lainnya.” Cian laopan melanjutkan keterangannya , “Yakni kabarnya putra Bhok ongnya, si pangeran muda yang datang dengan serombongan orang.

Siau Po menganggukkan kepalanya. “Tentunya mereka ingin membunuh putranya Go Sam-kui, bukan?”

“Benar!” sahut Cian laopan. “Tapi si pengkhianat cilik itu di jaga dengan ketat. Dia dilindungi beberapa pengawal yang kepandaiannya tinggi. Dengan demikian tidak mudah apabila ingin membunuhnya. Setelah mendapat kabar itu, kami segera mencari keterangan lebih jauh. Kami pergi ke tempat persinggahan keluarga Bhok ong-ya itu. Tempat itu kosong. Rupanya mereka-juga sedang menyelidiki Go Eng-him. Yang ada hanya si kuncu cilik beserta dua orang budak perempuan. Sungguh merupakan saat yang tepat untuk turun tangan….”

“Karena itu, kau langsung membekuknya, beguitu?”

Cian laopan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Betul!” sahutnya. “Nona ini masih kecil, tapi bagi Bhok onghu, dia bagaikan si burung Hong. Asal dia ada dalam genggaman kita, Ci toako pasti akan dilayani secara baik-baik!”

“Cian toako, jasamu ini besar sekali!” kata Siau Po memuji.

“Terima kasih atas penghargaan hiocu.”

“Sekarang kita sudah berhasil menawan si kuncu cilik, apa yang selanjutnya harus kita 1akukan?” Siau Po.

“Urusan ini kalau dibilang besar, sebetulnya tidak, tapi dibilang kecil tidak juga. Terserah hiocu saja bagaimana menanganinya!”

Siau Po merenung beberapa saat, tetapi dia tidak menemukan jalan keluarnya. Karena itu, dia bertanya kepada si Cian.

“Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?”

“Untuk sementara sebaiknya nona ini disembunyikan di tempat yang aman,” kata si Cian mengemukakan pendapatnya. “Tempat itu harus sedemikian rahasianya sehingga tidak dieurigai oleh piha. Bhok ong-ya. Juga harus dijaga baik-baik agar tidak ditemukan. Tidak sedikit jumlah orang Bhok ongh yang datang ke kota ini. Selain keempat orangnya diandalkan, yakni dari keluarga Lau, Pek, Pui dan Sou masih ada sejumlah orang lainnya. Lagipula mereka mengetahui persis setiap pangkalan kita dan pasti akan terus diawasi. Asal ada sedikit saja gerak gerik kita yang mencurigakan, mereka pasti akan mendatangi kita dan meminta pertanggung jawab kita.”

Siau Po tertawa. Si Cian ini jenaka juga dia cocok dengan wataknya sendiri. Karena itu, Siau Po langsung menyukainya.

“Cian toako, mari duduk,” katanya ramah. “Biarlah kita berbincang-bincang sejenak!”

“Baik, terima kasih!” sahut si Cian. Dia langsung duduk di atas sebuah kursi. Kemudian dia berkata kembali. “Aku sengaja membawa nona ini dalam perut babi agar dapat mengelabui para siwi serta menjaga dari mata-mata Bhok onghu. Ada beberapa orangnya yang lihay sekali sehingga kita harus berhati-hati. Apabila kuncu tidak disembunyikan dalam istana, mereka pasti akan berhasil menenemukannya!”

“Jadi kau ingin agar si kuncu cilik disembunyikan di sini?” tanya Siau Po.

“Tidak berani aku yang rendah mengatakan demikian,” sahut si Cian “Hal ini terserah hiocu sendiri. Aku yang rendah memang menganggap istana adalah tempat yang paling aman. Biarpun orang-orang Bhok ong-ya lihay sekali, mereka pasti tidak sanggup melawan para siwi istana. Kalau kuncu ini disembunyikan di sini, jangan kata mereka tidak akan menduganya, seandainya pun mereka bisa menerkanya, tidak mungkin mereka berani datang menyerbu kemari untuk menolongnya. Seandainya mereka berani, tentu Sri Baginda bangsa Tatcu sudah kena diculik oleh mereka. Hanya ada satu hal yang aku mohon hiocu dapat memaafkan, yakni aku telah membawa si kuncu cilik ini kemari sehingga hiocu akan menemui banyak kesulitan….”

Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.

’Sudah tahu akan menyulitkan aku, tapi kau masih melakukannya juga. Buat apa kau meminta maaf? Tapi, pikirannya memang bagus. Istana merupakan satu-satunya tempat yang paling aman. Tinggal kesulitannya saja… Eh, mungkinkah kau ingin menguji keberanianku? Kita lihat saja nanti!” Siau Po segera mengembangkan senyuman yang lebar dan berkata. “Pendapatmu bagus sekali! Baiklah, kau sembunyikan kuncu cilik ini di sini!”

“Bagus, hiocu! Asal hiocu sudah menyanggupi, tentu akan kuselesaikan urusan lainnya. Aku yakin pihak Bhok onghu juga tidak kecewa apabila putri kesayangan ini disembunyikan dalam istana, tentu lain halnya kalau disembunyikan dalam tempa pembantaian yang bau amis serta banyak darat terceceran! ”

Siau Po tertawa. “Betul! Lagipula setiap hari dia bisa diberi makan Hok-leng, tongsom dan Hoa-tiau seperti babi peliharaanmu!”

Si Cian tertawa geli walaupun wajahnya agak merah karena jengah. “Lagipula sebagai seorang putri bangsawan tentu namanya akan tercemar kalau setiap hari dia berkumpul dengan pria-pria tukang jagal babi. Sebaliknya di sini, dia akan aman bersama hiocu!”

“Kenapa begitu?” tanya Siau Po bingung.

“Bukankah hiocu masih muda sekali dan bekerja dalam istana pula?” sahut si Cian agak gugup. “Itulah sebabnya aku mengatakan aman….”

Bocah cilik itu memperhatikan lekat-lekat. Dia melihat si Cian agak risih, dia langsung dapat menerka apa alasannya berkata demikian. “Maksudmu, karena aku seorang thaykam, bukan? Dengan demikian nama baik kuncu ini tidak akan tercemar?”

Tentu saja Siau Po dapat menerka jalan pikirannya si Ciano Karena selain Kin-lam, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah. seorang thaykam gadungan. Bahkan saudara angkatnya sen diri, Mau Sip-pat mengira bahwa dia sudah dikebiri oleh Hay kongkong dalam keadaan.terpaksa.

“Katika aku membawa kuncu kemari,” kata si Cian mengalihkan bahan pembicaraan. “Aku sudah menotok jalan darah Sin-tong hiat dan Yang-tong hiat di punggungnya, juga jalan darah Tian-cu hiat di belakang tengkuknya. Karena itu dia tidak dapat bergerak serta tidak dapat berbicara. Jikalau hiocu akan memberinya makanan, jalan darahnya harus dibebaskan terlebih dahulu. Namun sebetumnya kau harus menotok dulu jalan darah Hoan-tiau hiat di pahanya agar dia tidak dapat melarikan diri. Orang-orang Bhok onghu lihay-lihay. Meskipun nona ini masih kecil dan lemah lembut, tapi sebaiknya kita berjaga-jaga. ”

Siau Po tidak paham jalan darah yang diuraikan si Cian. Tapi dia merasa gengsi untuk mengakuinya. Ia pikir, tentunya memalukan apabila dia mengakui bahwa sebagai seorang hiocu dia masih belum mengerti ilmu menotok jalan darah, bahkan membebaskan totokan pun belum bisa.

’Pasti dia akan memandang hina padaku?’ pikir selanjutnya. ‘Lagipula, apa susahnya mengurus seorang nona cilik?’ Karena itu dia langsung menganggukkan kepalanya dan berkata: “Baiklah, aku sudah tahu!”

“Hiocu, tolong pinjamkan sebatang golok!” kata si Cian.

’Untuk apa dia meminjam golok?’ tanyanya dalam hati. Namun ia mengeluarkan juga pisau belatinya dan menyodorkannya kepada si Cian. Si Cian menerima pisau itu kemudian menggunakannya untuk menggores daging babi. Dia langsung terkesima karena tanpa perlu mengerakan tenaga ia bisa memotong tubuh babi yang gemuk itu dengan mudah.

“Sungguh pisau yang luar biasa tajamnya!” pikir si Cian yang segera mengutungkan kedua kaki depan babi itu. “Hiocu, simpanlah kaki babi ini untuk dipanggang. Sisanya boleh kau serahkan kepada pada tukang masak. Sekarang aku ingin mohon diri. Lain hari, apabila ada berita dari perkumpulan kita, aku akan datang memberitahukannya kepada hiocu!”

“Baik!” kata Siau Po sambil menyimpan kembali pisau belatinya. Dia memperhatikan si kuncu cilik itu sekilas lalu bertanya: “Kapan kau akan datang lagi untuk menjemput nona ini?” Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa terlalu berbahaya apabila si nona ditinggalkan agak lama dalam istana. Tapi sebagai seorang hiocu dari Tian-te hwe, dia malu dikatakan penakut. Dia juga tidak ingin wibawanya jatuh di mata orang lain.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: