Kumpulan Cerita Silat

22/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (14)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:49 am

Rahasia Peti Wasiat (14)
Oleh Gu Long

“Sabar dulu, tunggu lagi sebentar,” ujar Long-giok.

“Hei, engkau ini bagaimana Long-giok?!” tanya Le-hui, tampaknya kurang senang.

“Aku kenapa?” ujar Long-giok.

“Engkau seperti … seperti sudah berubah,” kata Le-hui.

“Berubah bagaimana?” ucap Long-giok dengan tertawa. “Ah, sudahlah, jangan omong kosong, masa aku bisa berubah?”

“Tampaknya engkau sama sekali tidak lagi memerhatikan keamanan perkampungan kita ini, bukankah itu menandakan engkau sudah berubah?” ujar Le-hui.

Long-giok tersenyum hambar, “Kita tidak lebih cuma perempuan yang dibuat permainan Wi Ki-tiu saja, urusan keamanan Liong-coan-ceng bukanlah tugas kita, buat apa kita mesti ikut maju untuk mengantar nyawa belaka?”

“Sarang yang tumpah tidak ada telur yang selamat, bila ketujuh jago pengawal itu tamat riwayatnya, apakah kita dapat menyelamatkan diri?” ujar Le-hui.

“Dapat,” kata Long-giok. “Maksud tujuan Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin itu jelas cuma urusan kotak pusaka saja dan takkan sembarangan membunuh orang.”

Dalam pada itu Le-hui melihat Ciang Su-liong bertiga sudah mulai kelabakan tercecar oleh Kim-kong Taysu, ia tambah khawatir, katanya dengan mendongkol, “Sudahlah, jika engkau tidak mau maju, biarlah kubantu mereka.”

Sembari bicara ia terus hendak menerjang ke sana.

Tapi Long-giok keburu menariknya, katanya dengan tertawa, “Eh, sabar dulu, apa susahnya jika ingin menyelamatkan mereka ….”

“Apa katamu?” tanya Le-hui melengak.

“Begini, lihat saja caraku,” kata Long-giok dengan tertawa.

Lalu ia gandeng Le-hui dan melangkah ke sana dengan gaya berlenggang, serunya merdu, “Eh, harap Taysu ini suka berhenti dulu, dengarkan perkataanku!”

Benar juga, Kim-kong Taysu lantas berhenti menyerang, tanyanya dengan tertawa, “Ada petunjuk apa, Lisicu?”

Long-giok tertawa manis, katanya, “Perbolehkan kuperkenalkan diri dulu, namaku Long-giok, perempuannya Wi-cengcu.”

“Haha, Wi Ki-tiu memiliki perempuan secantik dirimu, sungguh beruntung sekali dia,” ujar Kim-kong Taysu dengan tertawa.

“Kedatangan Taysu berdua ingin bertemu dengan Wi-cengcu, bukan?” tanya Long-giok.

“Betul,” Kim-kong Taysu mengangguk.

“Tapi sayang, dia memang benar tidak berada di dalam kampung,” kata Long-giok.

“Apa betul?” Kim-kong Taysu menegas dengan tertawa, tampaknya kurang percaya.

“Kukira Taysu berdua perlu lebih mengenal pribadi Wi-cengcu,” ujar Long-giok. “Beliau sama sekali bukanlah tokoh yang suka sembunyi kepala kelihatan ekor, bilamana dia berada di rumah, mana mungkin dia mengizinkan kalian berbuat sesukamu, betul tidak?”

“Hahaha, betul juga ucapanmu,” seru Kim-kong dengan tergelak. “Jika dia berada di rumah, saat ini kukira dia sudah keluar.”

“Nah, makanya kubilang dia memang betul tidak di rumah, sejak pagi tadi dia keluar melalui pintu belakang,” kata Long-giok.

“Pergi sendirian?” Kim-kong Taysu menegas.

“Tidak, dia pergi dengan membawa Hiat-pit-siucay,” tutur Long-giok. “Semalam Hui Giok-koan sudah kena dikerjai, Wi-cengcu telah memaksa dia mengaku tempat penyimpanan kotak pusaka dan pagi tadi lantas membawanya berangkat untuk mengambil kotak.”

“Dirodok, betul kan dugaanku?!” teriak Song Goan-po. “Sudah jelas orang she Wi itu berniat jahat, tapi kalian kawanan budak piaraan biang anjing ini masih juga menyangkal!”

“Tutup mulutmu, Song Goan-po!” bentak Kim-kong Taysu. “Sekarang mereka sudah mengaku saudara angkat telah disandera, untuk apa gembar-gembor lagi?”

Tampaknya Song Goan-po sangat jeri terhadap Kim-kong Taysu, seketika ia tidak berani bersuara lagi.

Lalu Kim-kong Taysu berpaling dan tanya Long-giok, “Lantas, menurut pengakuan Hui Giok-koan, di mana dia menyembunyikan kotak itu?”

“Cong-beng-to,” tutur Long-giok.

“Apa betul?” Kim-kong Taysu menegas dengan tersenyum.

“Mungkin dusta,” kata Long-giok. “Sebab pada waktu Wi-cengcu mengompes Hui Giok-koan tidak disaksikan oleh orang ketiga. Waktu kutanya dia pagi tadi juga cuma keterangan demikian saja yang dikatakan padaku, sebab itulah aku pun tidak tahu keterangan ini benar atau dusta.”

“Kau anggap dia mendustaimu?” tanya Kim-kong Taysu.

“Mungkin saja, tapi bisa jadi juga benar keterangannya,” ujar Long-giok. “Jika kalian ingin menemui dia, boleh kalian mencarinya ke Cong-beng-to, kalau tidak bertemu di sana boleh putar balik lagi ke sini.”

Kim-kong Taysu memandangnya sejenak dengan tertawa, lalu bertanya lagi, “Mengapa tanpa ditanya kau beri keterangan sebanyak ini?”

Long-giok menuding Liap Siong-giam yang terangkat tinggi oleh Koh-ting Tojin, katanya, “Demi menolong dia.”

“Kau tidak takut akan dijatuhi hukuman oleh Wi Ki-tiu?” tanya Kim-kong.

“Demi menolong orang, tidak dapat kupikirkan lagi sejauh itu,” sahut Long-giok.

Kim-kong Taysu termenung sejenak, lalu berkata kepada Koh-ting, “Bagaimana menurut pendapat Toheng?”

“Selama hidupku paling tidak percaya kepada ucapan orang perempuan,” kata Koh-ting Tojin dengan tertawa. “Cuma sekarang terpaksa kupercaya satu kali.”

“Ya, ucapannya juga betul,” ujar Kim-kong Taysu. “Kita boleh menyusul ke Cong-beng-to, bila tidak menemukan dia segera kita putar balik ke sini, toh penghuninya dapat lari, rumahnya tetap sukar kabur.”

Koh-ting Tojin melemparkan Liap Siong-giam, katanya dengan tertawa, “Aha, betul, marilah kita berangkat!”

Sekali loncat, langsung ia melayang keluar.

Cepat Kim-kong Taysu ikut melayang lewat di atas kepala orang banyak dan menyusul kencang di belakang Koh-ting Tojin menuju ke luar pintu.

Keruan Song Goan-po kelabakan, cepat ia memburu ke sana sambil berteriak-teriak, “Tunggu, harap kalian tunggu padaku, aku pun ikut pergi!”

Pantatnya tadi kena diserang oleh Ciang Su-liong sehingga babak-belur, untuk berjalan saja sebenarnya sukar, tapi sekarang karena Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin pergi begitu saja, dengan sendirinya ia tidak berani tertinggal di situ, terpaksa ia mengejar ke sana dengan terincang-incut sambil menahan rasa sakit.

Pertarungan sengit tadi kini telah berakhir, Ciong Su-liong berenam berdiri melenggong sekian lamanya barulah berusaha membuka hiat-to Liap Siong-giam yang tertutuk.

Serupa seekor ayam aduan yang telah keok, dengan lemas lesu Liap Siong-giam berkata, “Bedebah, kita benar-benar terjungkal habis-habisan, bila Cengcu pulang, cara bagaimana kita akan memberi pertanggungjawaban?”

“Kedua tua bangka tadi adalah tokoh kelas wahid dunia persilatan zaman ini, biarpun Cengcu sendiri berada di rumah juga belum tentu mampu melawannya,” kata Ciong Su-liong. “Apalagi kita telah mengadakan perlawanan mati-matian dan tidak pernah menyerah, kuyakin Cengcu pasti takkan menyalahkan kita.”

Liap Siong-giam berpaling ke arah Long-giok, tanyanya, “Nona Long-giok, tadi kau bilang Cengcu pergi ke Cong-beng-to, apakah betul keteranganmu ini?”

“Dengan sendirinya tidak benar,” jawab Long-giok dengan tertawa. “Hamba sendiri tidak tahu Cengcu hendak pergi ke mana, hamba cuma memberi alasan sekenanya saja.”

Mendadak Le-hui menyambung dengan dingin, “Engkau tidak bicara sekenanya, Cengcu kita memang betul pergi ke Cong-beng-to.”

“Tidak, tidak betul,” bantah Long-giok. “Cengcu mengatakan padaku, tempat tujuannya adalah Ngo-tay-san.”

“Tapi Cengcu kita memang benar pergi ke Cong-beng-to,” jengek Le-hui, “sebab Hui Giok-koan mengaku kotak pusakanya disembunyikan di Cong-beng-to.”

“Oo, apa betul?” Long-giok berlagak kaget. “Semalam waktu Cengcu mengompes Hui Giok-koan memang aku tidak ikut menyaksikan, ketika kutanya Cengcu pagi tadi, beliau bilang padaku mau pergi ke Ngo-tay-san.”

“Hm, engkau diam-diam pernah menyusup ke Cui-ci-kiong dan mencuri dengar pengakuan Hui Giok-koan tersebut,” jengek Le-hui mendadak.

“Omong kosong,” jawab Long-giok dengan gusar. “Semalam hamba mendapat perintah menemani Sun-tayhiap, buat apa hamba menyusup ke Cui-ci-kiong? Pula umpama kutahu Cengcu hendak pergi ke Cong-beng-to juga tidak nanti kuberi tahukan terus terang kepada orang luar, memangnya kau kira aku bersekongkol dengan musuh?”

“Memang,” seru Le-hui, “kau memang bersekongkol dengan musuh luar. Pagi tadi sebelum Cengcu berangkat aku dipesan di luar tahu orang lain agar menaruh perhatian terhadap gerak-gerikmu, katanya pikiranmu telah bercabang, sekarang sengaja kau beri tahukan kepada musuh tentang jejak perjalanan Cengcu, ini membuktikan bahwa kau memang bersekongkol dengan musuh. Nah, Liap-wisu, hendaknya lekas kau tangkap dia!”

Liap Siong-giam tampak melenggong bingung dan tidak turun tangan.

“Ayo lekas,” teriak Le-hui, “itulah pesan Cengcu, kata beliau bila menemukan sesuatu tanda pengkhianatannya harus segera membekuknya dan akan diputus urusannya bila Cengcu pulang.”

“Hm, sungguh kebetulan sekali, Cengcu juga memberi pesan begitu kepadaku, katanya akhir-akhir ini gerak-gerikmu sangat mencurigakan, maka hamba disuruh mengawasi tindak tandukmu,” jengek Long-giok. “Sekarang terbukti kau sengaja mengadu domba, jelas kau memang berniat jahat. Nah, Liap-wisu, lekas kau bekuk dia!”

“Ngaco-belo!” teriak Le-hui dengan wajah pucat.

Long-giok mencibir dan berkata, “Hm, kau sendiri ngaco-belo! Tujuanku tadi justru ingin menyelamatkan jiwa Liap-wisu, maka sengaja sembarangan mengarang sebuah nama tempat untuk menipu Kim-kong dan Koh-ting agar lekas pergi dari sini, tapi hal ini berbalik kau tuduh sebagai bersekongkol dengan musuh luar, jelas maksudmu hendak mengadu domba dan mencari perkara. Hm, tampaknya dugaan Cengcu memang tidak keliru, kau memang sudah berubah sama sekali!”

Saking gemas Le-hui mengentak kaki dan berteriak, “Perempuan bejat yang tidak tahu malu, berani kau putar balik urusan, biar kucekik mampus dirimu!”

Sembari bicara terus saja ia menubruk maju dan mencakar.

Tentu saja Long-giok tidak mau mengalah, tangan kiri menangkis, kontan tangan kanan balas menghantam muka lawan.

Begitulah kedua betina itu lantas saling labrak dengan sengit.

Liap Siong-giam bertujuh tidak dapat membedakan sesungguhnya siapa di antara kedua nona itu yang bersekongkol dengan musuh, sebab itulah mereka serbasalah untuk membantu salah seorang, mereka sama gelisah dan bingung serta berteriak, “Berhenti, berhenti semua, bicaralah dengan baik!”

Namun Long-giok dan Le-hui anggap tidak mendengar, perkelahian mereka bertambah sengit, keduanya sama ingin membinasakan lawan dengan segera.

Dasar perempuan, lambat laun cara bertempur mereka tidak lagi menurut peraturan jago silat, tapi berubah menjadi perempuan kampungan, keduanya saling jambak rambut dan mencakar muka serta menarik baju ….

Tidak lama kemudian kedua orang sudah babak belur dengan baju robek dan rambut semrawut, dada terbuka dan paha kelihatan.

Ciong Su-liong jadi rikuh sendiri melihat keadaan kedua betina itu, ia melompat maju untuk memisah mereka sambil membentak, “Berhenti, jangan berkelahi lagi!”

Baju atas Le-hui terobek sehingga dadanya setengah tersingkap, keadaannya agak runyam, ia tuding Long-giok dan memaki dengan napas terengah, “Perempuan hina, lihat saja nanti, bila Cengcu pulang berarti pula tiba ajalmu!”

Habis itu ia mengentak kaki terus berlari ke wisma tamu sana.

Long-giok menutupi pahanya dengan gaunnya yang robek, lalu balas memaki, “Sundal busuk, kalau berani janganlah lari, ayolah kita tentukan siapa yang akan mampus!”

Pada saat itulah mendadak Lokoankeh muncul di situ, ucapnya dengan tertawa, “Sudahlah kalian sudah cukup berkelahi dan saling caci maki, sekarang bolehlah pulang ke kamar masing-masing untuk istirahat.”

Seketika Long-giok mewek-mewek, katanya, “Silakan Lokoankeh memberi keadilan, hamba hendak menolong Liap-wisu dan sengaja menyebut sesuatu nama tempat, tapi si perempuan hina Le-hui itu berani memfitnahku, katanya hamba bersekongkol dengan musuh, coba siapa yang terima dituduh demikian?”

“Ah, sudahlah, itu cuma salah paham saja, setelah jelas persoalannya anggaplah selesai dan jangan bicara lagi,” kata Lokoankeh dengan tertawa.

Namun Long-giok masih penasaran, katanya, “Hamba tidak mau tinggal bersama lagi dengan dia, harap Lokoankeh mengantarku kembali ke Cui-ci-kiong saja.”

“Wah, mana bisa,” jawab Lokoankeh sambil menggeleng. “Cui-ci-kiong sudah tertutup rapat, tidak dapat lagi masuk ke sana.”

“Masa engkau tak dapat membukanya?” tanya Long-giok.

“Tidak, tidak bisa,” kembali Lokoankeh menggeleng kepala.

“Sebab apa?” tanya Long-giok.

“Sebab aku pun tidak tahu di mana letak alat tutup-bukanya,” kata Lokoankeh.

“Wah, lantas siapa yang tahu?”

“Hanya Cengcu sendiri yang tahu.”

Long-giok berpaling dan tanya Liap Siong-giam, “Liap-wisu, apakah engkau tahu?”

Liap Siong-giam menggeleng sambil tersenyum getir, “Maaf, malahan bagaimana bentuk Cui-ci-kiong saja sampai saat ini aku tidak tahu.”

Long-giok berlagak gemas, ucapnya dengan manja, “Jika begitu, suruh dia pindah, aku tidak sudi tinggal sekamar dengan dia.”

“Untuk ini bisa kuatur,” kata Lokoankeh. “Kamar kosong di wisma tamu itu sangat banyak, biarlah kalian tinggal terpisah saja.”

Malam sudah tiba, cahaya lampu di Liong-coan-ceng terang benderang serupa siang, peronda mondar-mandir terus berkeliling menyusuri pagar tembok tanpa berhenti, tampaknya biarpun seekor tikus saja yang menyusup ke dalam perkampungan juga pasti akan kepergok.

Tapi belum lagi tengah malam Kiong-su-sing Sun Thian-tik sudah berada di wisma tamu Liong-coan-ceng.

Ia mengenakan baju centeng Liong-coan-ceng dan membawa bende, dengan lagak peronda ia masuk ke wisma itu. Setiba di luar kamar Long-giok, ia mengetuk pintu.

Saat itu Long-giok sedang bicara dengan Liong It-hiong dari balik dinding, ia terkejut demi mendengar suara ketukan pintu, cepat ia tanya, “Siapa?!”

“Aku!” jawab Thian-tik dengan suara tertahan.

Mengenali suara Sun Thian-tik itu, cepat Long-giok membukakan pintu, desisnya. “Cepat masuk!”

Dengan senyum dikulum Sun Thian-tik menyusup ke dalam kamar.

Setelah merapatkan pintu kamar, Long-giok melihat dandanan Sun Thian-tik itu, ucapnya dengan kejut dan girang, “Apakah kedatanganmu tidak kepergok orang?”

“Ada,” tutur Thian-tik. “Beberapa kali aku dipergoki orang, malahan dua kali di antaranya aku diajak bicara.”

“Dari mana timbul gagasanmu untuk menyamar sebagai peronda?” tanya Long-giok dengan tertawa geli.

Perlahan Thian-tik menaruh bende dan angkat pundak, jawabnya, “Kecuali cara ini tiada jalan lain lagi untuk menyusup ke dalam perkampungan ini.”

Segera ia menarik Long-giok dan dipeluknya, diciumnya mesra sekali pada pipinya, lalu bertanya, “Dan di mana Liong It-hiong?”

Long-giok menuding sebelah dinding, jawabnya lirih, “Di kamar sebelah, baru saja aku berunding dengan dia bagaimana tindakan selanjutnya, tak terduga engkau lantas muncul.”

Ia membawa Thian-tik ke samping kanan tempat tidur dan berjongkok, ia tuding sebuah liang kecil di pojok dinding, dari liang itulah dia mengadakan pembicaraan dengan Liong It-hiong.

“Liong-hiap, ini Sun-tayhiap sudah datang!” seru Long-giok.

“Ya, sudah kudengar,” jawab Liong It-hiong di kamar sebelah.

Sun Thian-tik tertawa, katanya, “Liong It-hiong, bikin susah padamu ya!”

“Ah, tidak apa-apa,” kata It-hiong.

“Pagi tadi aku bersembunyi di dalam hutan di belakang kampung,” tutur Sun Thian-tik, “kulihat Wi Ki-tiu menyamar sebagai saudagar dan diam-diam mengeloyor keluar kampung melalui pintu belakang, telah kukuntit dia sekian jauhnya, lalu kuputar balik ke sini, sekarang sangat mungkin dia sudah berada beberapa ratus li jauhnya, marilah kita boleh mulai beraksi.”

“Tapi Wi Ki-tiu telah menutup Cui-ci-kiong, konon selain dia tiada orang lain yang mampu membuka istana kristal di bawah tanah itu,” kata It-hiong.

“Kukira ada satu orang dapat membuka Cui-ci-kiong,” ujar Thian-tik.

“Siapa?” tanya It-hiong.

“Lokoankeh,” kata Thian-tik.

“Menurut Nona Long-giok, siang tadi dia sudah coba tanya kepadanya, Lokoankeh itu menyatakan tidak tahu cara buka-tutup Cui-ci-kiong itu.”

“Ya, tentu saja ia tidak mau bicara terus terang kepada sembarangan orang,” ujar Thian-tik dengan tertawa.

“Jika begitu, umpamakan dia paham cara buka-tutup Cui-ci-kiong, lalu cara bagaimana kita akan bertindak?” tanya It-hiong.

“Dapat kita menculik dia ke sini dan memaksa dia membukakan pintu Cui-ci-kiong.”

“Wah, cara ini kurang baik,” ujar It-hiong. “Tampaknya dia sangat setia terhadap Wi Ki-tiu, bilamana dia tidak mau mengaku biarpun dibunuh sekalipun, kan juga tidak ada untungnya bagi kita. Maka sebaiknya kita mencari akal untuk memancingnya agar secara sukarela dia mau membuka Cui-ci-kiong.”

“Jika ingin memancing dia membukakan Cui-ci-kiong tanpa dipaksa, kukira ada satu cara,” kata Thian-tik, “yaitu dibikin seakan-akan di dalam Cui-ci-kiong terjadi sesuatu, tentu dia akan membuka pintu istana itu untuk memeriksanya. Tapi dengan cara bagaimana supaya dia mengira telah terjadi sesuatu di dalam Cui-ci-kiong?”

“Aku ada akal,” kata It-hiong. “Cuma tidak tahu dapat dilaksanakan atau tidak.”

“Coba uraikan,” pinta Thian-tik.

“Di dalam wisma ini masih tinggal seorang nona bernama Le-hui,” tutur It-hiong. “Ia sengaja dikirim oleh Wi Ki-tiu untuk menemani Nona Long-giok, sekarang dia tinggal di kamar nomor tiga serambi barat ….”

Sun Thian-tik melengak, tukasnya, “Jika dia disuruh menemani Long-giok mengapa mereka tidak tinggal bersama?”

“Sebab siang tadi telah terjadi perkara, boleh kau minta Nona Long-giok menceritakan apa yang terjadi siang tadi,” kata It-hiong.

“Memangnya apa yang terjadi?” segera Thian-tik berpaling dan tanya Long-giok.

Maka berceritalah Long-giok tentang datangnya Song Goan-po, Koh-ting Tojin, dan Kim-kong Taysu serta dilabraknya ketujuh jago andalan Liong-coan-ceng itu.

“Oo, bisa terjadi demikian,” ucap Thian-tik dengan kening bekernyit. “Jika dia menuduh kau bersekongkol dengan musuh luar, maka mutlak kau tidak dapat tinggal lagi di sini.”

“Hamba memang tidak ingin tinggal lagi di sini, sekarang justru ingin kutahu apakah engkau sudi membawa pergi diriku atau tidak?” kata Long-giok.

Sun Thian-tik tertawa sambil menepuk bahu si nona, katanya, “Jangan khawatir, jika aku tidak mau membawa kabur dirimu, tentu malam ini aku tidak datang lagi ke sini.”

Lalu ia bicara terhadap Liong It-hiong di kamar sebelah, “Eh, tadi kau bilang ada akal, coba jelaskan akalmu itu?”

Liong It-hiong lantas menguraikan rencananya.

Thian-tik manggut-manggut, ucapnya dengan tertawa, “Ehm, tidak jelek akalmu ini, aku setuju.”

Segera ia berbangkit, diambil lagi bende tadi lalu membuka pintu kamar, ia melongok keluar, setelah yakin tidak ada orang di luar barulah ia menyelinap keluar dan menuju ke kamar di serambi barat.

Setelah membelok ke ujung serambi, sampailah dia di deretan kamar sebelah barat, dilihatnya ada cahaya lampu di kamar nomor tiga, ia tahu itulah kamar tempat tinggal Le-hui, segera ia mengetuk pintu.

Tapi ketika tangan hampir menyentuh pintu mendadak ia urungkan maksudnya.

Sebab pada saat itu juga didengarnya di dalam kamar Le-hui ada suara orang lelaki.

Meski suara sangat lirih, tapi dapat didengarnya dengan jelas, kalimat pertama yang didengarnya berbunyi demikian, “Coba katakan terus terang, bagaimana diriku dibandingkan Cengcu?”

Nadanya seperti dua orang yang sedang kelonan dan lagi begituan.

Lalu terdengar Le-hui mengomel, “Cis, tidak tahu malu.”

Terdengar si lelaki tertawa bangor dan berucap pula, “Jika tidak kau katakan, biarlah kupergi saja.”

“Pergi ya pergi, memangnya kutahan?!” demikian terdengar Le-hui mengomel pula.

“Baik, kupergi sekarang …. Eh, untuk apa mengganduli diriku?” lelaki itu bersuara dengan tertawa.

Agaknya Le-hui memukulnya satu kali sambil terkikik, “Sudahlah, macam-macam saja engkau ini memangnya kau minta kubilang apa?”

“Katakan, bagaimana aku dibandingkan Cengcu?” ujar si lelaki.

Kembali Le-hui seperti memukulnya sekali lagi sambil mengomel, “Cis, begituan saja masa disebut-sebut, sudah tentu engkau lebih perkasa!”

Agaknya lelaki itu sangat senang, terdengar tertawanya mengakak.

“Ssst, jangan keras-keras, bila didengar Long-giok kan bisa celaka,” cepat Le-hui mendesis.

“Jangan khawatir, siang tadi ia berkelahi denganmu, sekarang tidak nanti dia mencarimu.”

“Bukan mustahil dia mengintip gerak-gerikku,” kata Le-hui.

“Tidak, saat ini mungkin dia juga lagi sibuk seperti dirimu, sedang curi makan, mana ada waktu untuk mengintip dirimu segala?”

“Sungguh menggemaskan, dia memang benar bersekongkol dengan musuh luar, tapi kalian justru tidak percaya,” kata Le-hui.

“Tanpa sesuatu bukti, kan tidak enak menangkapnya begitu saja,” ujar si lelaki.

Le-hui berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Cuma, mungkin … ai, tidak perlu lagi kita membicarakan dia. Sekarang ingin kutanya padamu, apakah engkau benar-benar suka padaku?”

“Mengapa tidak? Masa perlu kukatakan lagi?” jawab si lelaki. “Lantaran rindu padamu, setiap hari aku tidak dapat tidur nyenyak, makan pun tidak nafsu, sungguh susah.”

“Jika begitu, ayolah kita minggat saja!”

“Hah, minggat?” lelaki itu seperti terperanjat. “Minggat ke mana?”

“Mana pun jadi,” ujar Le-hui. “Pendek kata, kita kawin dan minggat dari sini untuk hidup layak di tempat lain.”

Agaknya lelaki itu menjadi ragu, katanya dengan gelagapan, “Wah, ini … ini ….”

“Ini apa?” desak Le-hui. “Masa kau takut? Huh, pengecut! Memangnya kau dapat ikut Wi Ki-tiu selama hidup? Kebaikan apa yang diberikannya kepadamu?”

“Tapi bilamana Cengcu mengetahui kita minggat bersama, mana dia mau tinggal diam, ke ujung langit pun kita akan diuber.”

“Sungguh bodoh engkau ini,” ujar Le-hui. “Kita kan dapat kabur sejauh-jauhnya, ke mana dia akan mencari kita?”

Tampaknya lelaki itu masih ragu, “Tapi kukira … kukira … urusan ini harus kupikirkan dulu.”

“Tidak perlu banyak pikir, kalau mau, sekarang juga kita angkat kaki!” kata Le-hui.

“Wah, ini … ini ….”

“Kenapa? Kau tidak ingin meninggalkan Wi Ki-tiu? Atau memang tidak suka padaku?”

“O, ti … tidak ….” lelaki itu gelagapan.

“Kalau tidak, mengapa kau sangsi dan perlu pikir apa lagi?” ujar Le-hui. “Ingin kukatakan padamu, setelah engkau berhubungan denganku, bila diketahui Wi Ki-tiu, mungkin ….”

“Baik, baik, boleh kita angkat kaki,” cepat lelaki itu menukas. “Cuma, bagaimana kalau berangkat dua hari lagi.”

“Tidak bisa, bukan mustahil Wi Ki-tiu bisa putar balik mendadak, biarlah malam ini juga kita angkat kaki.”

“Ai, kenapa terburu-buru amat?” ujar lelaki itu.

“Betapa pun kuingin lekas meninggalkan tempat seperti neraka ini,” kata Le-hui.

“Jika begitu, biarlah kukembali ke kamar dan berbenah seperlunya, hendaknya kau pun bersiap-siap,” kata lelaki itu.

“Baik, kutunggu di sini,” ujar Le-hui.

Sampai di sini, Thian-tik tahu orang itu selekasnya akan keluar, cepat ia menyurut mundur dan sembunyi di suatu pojokan yang gelap.

Benarlah, selang sejenak, pintu kamar dibuka perlahan, seorang berbaju hijau menyelinap keluar dengan tingkah serupa maling khawatir kepergok.

Dia ternyata satu di antara ketujuh jago pengawal Liong-coan-ceng, yaitu Kim Soh-bun.

Setelah celingukan kian-kemari dan melihat sekelilingnya tidak ada orang, cepat orang itu berlari keluar wisma tamu.

Sun Thian-tik bersembunyi tanpa bergerak, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, “Sungguh sangat kebetulan, aku tidak perlu turun tangan lagi ….”

Sedang berpikir, dilihatnya Long-giok muncul dari pengkolan serambi sana, ia tahu si nona ingin melihatnya sudah berhasil atau tidak, segera ia menongol dan memberi tanda padanya sambil mendesis, “Ssst, di sini ….”

Long-giok merasa bingung melihat Thian-tik sembunyi di situ, cepat ia lari ke sini dan bertanya dengan suara tertahan, “Kenapa engkau tidak turun tangan?”

“Tidak perlu lagi, sebentar juga dia akan minggat bersama Kim Soh-bun,” tutur Thian-tik dengan suara lirih.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Long-giok dengan tidak mengerti.

“Begitu kusampai di luar kamarnya lantas kudengar suara seorang lelaki sedang bicara di dalam kamar ….” lalu Sun Thian-tik menceritakan apa yang didengar dan dilihatnya tadi.

“Hm, dasar perempuan bejat,” jengek Long-giok. “Tadinya kukira dia benar-benar setia kepada Wi Ki-tiu, tak tahunya dia juga seekor kucing rakus.”

“Dalam hal ini, kukira kau tidak dapat mengejek dia,” ujar Thian-tik dengan tertawa. “Sebab dia serupa denganmu, tidak suka kepada seorang kakek loyo yang tidak mampu apa-apa meski banyak duitnya.”

“Lantas, apakah Kim Soh-bun berjanji akan membawa minggat dia?” tanya Long-giok.

“Ya, makanya kita tidak perlu turun tangan lagi,” jawab Thian-tik. “Sebentar bila mereka sudah pergi barulah kita bertindak menurut rencana.”

“Jika begitu, biar kuberi tahukan kepada Liong-hiap,” kata Long-giok. “Dia merasa khawatir akan dirimu karena sekian lama engkau berangkat dan belum lagi kembali.”

Habis bicara ia terus berlari pergi.

Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa Liong It-hiong.

Baru saja mereka bertiga berjongkok di tempat gelap itu segera terlihat Kim Soh-bun masuk lagi ke halaman situ, pada bahunya menyandang sebuah ransel, melihat gelagatnya dia memang benar-benar hendak minggat bersama Le-hui.

Terlihat dia menuju ke kamar Le-hui, setiba di luar kamar, perlahan ia mengetuk tiga kali, segera pintu kamar dibuka dan Le-hui muncul dengan dandanan yang siap untuk berangkat.

“Apakah tidak dilihat orang?” terdengar Le-hui bertanya dengan suara tertahan.

“Tidak,” Kim Soh-bun menggeleng.

“Penjagaan kan sangat ketat?” tanya Le-hui pula.

“Tidak apa, yang dinas jaga malam ini adalah Oh Jing-peng, asal tidak dilihat dia, centeng yang lain pasti tidak berani menegur kita,” ujar Kim Soh-bun.

“Sekarang Oh Jing-peng berada di mana?” tanya Le-hui.

“Agaknya sedang mengontrol di sebelah kiri perkampungan sana, mari kita keluar melalui sebelah kanan, pasti aman,” ajak Kim Soh-bun.

Segera Le-hui mendahului melangkah, katanya, “Baik, mari berangkat!”

Kim Soh-bun memandang ransel yang dibawa Le-hui, tanyanya dengan tertawa, “Apa saja yang kau bawa?”

“Beberapa potong baju, ada lagi beberapa barang berharga pemberian Wi Ki-tiu,” tutur Le-hui.

“Jika demikian, jadi sesungguhnya sudah lama engkau siap-siap meninggalkan Cengcu?” kata Kim Soh-bun dengan tersenyum.

“Memang,” jawab Le-hui. “Pagi tadi waktu ia tanya padaku mau keluar untuk menemani Long-giok atau tidak, kupikir inilah kesempatan baik yang sukar dicari, maka diam-diam kubawa keluar sekalian barang simpananku ini.”

“Kira-kira berharga berapa?” tanya Kim Soh-bun pula.

“Jika diuangkan, sedikitnya bernilai satu laksa tahil perak, sedikitnya cukup untuk hidup nikmat selama beberapa tahun bagi kita.”

“Baiklah, ayo cepat,” ajak Kim Soh-bun, tampaknya dia sangat senang.

Begitulah kedua orang lantas mengeluyur keluar wisma tamu itu melalui pintu belakang dan menghindari pos pengawas rahasia, akhirnya dapatlah mereka kabur meninggalkan Liong-coan-ceng.

Sun Thian-tik, Long-giok, dan Liong It-hiong bersembunyi pula sekian lama di tempat gelap, ditaksir Le-hui berdua tentu sudah meninggalkan Liong-coan-ceng dengan selamat barulah mereka menyusup masuk ke kamar Le-hui.

“Tampaknya orang she Kim itu bukan manusia baik-baik,” ujar Long-giok, “kukira nasib Le-hui akhirnya pasti sengsara jika mengikuti kemauan orang she Kim itu.”

“Betul, keparat itu seperti sangat memerhatikan harta benda yang dibawa Le-hui,” kata Thian-tik. “Tampaknya dia memang tidak mengandung niat baik.”

“Bagi Le-hui boleh diibaratkan orang yang kelaparan terpaksa tidak dapat memilih makanan,” kata It-hiong dengan tertawa. “Sungguh aku ikut penasaran bagi Wi Ki-tiu. Percuma dia menguasai harta sebesar ini, kenyataannya tidak pernah mendapatkan kesetiaan perempuannya.”

Long-giok melototinya sekejap, omelnya, “Sengaja kau caci maki diriku ya?”

“O, tidak, bukan,” cepat It-hiong menyangkal. “Maksudku, bila seorang lelaki ingin disukai orang perempuan, maka selain kekayaan masih perlu tersedia barang lain.”

“Tapi sebabnya kuingin meninggalkan dia, dasar pertimbanganku adalah karena perbuatannya yang melampaui batas, sebab kami tidak dipandangnya sebagai manusia,” kata Long-giok.

“Sudahlah, bekerja lebih dulu,” kata Thian-tik. “Adakah alat tulis di sini?”

“Kukira ada, akan kucari,” ujar Long-giok.

Ia mencari sebentar, akhirnya dari sebuah laci dapat ditemukan alat tulis lengkap, segera ia menuang air pada tatakan tinta dan mulai menggosok tinta bak.

Melihat tinta sudah siap, Sun Thian-tik tanya Liong It-hiong, “Cara bagaimana menulisnya?”

“Apakah Le-hui pandai membaca?” tanya It-hiong.

“Tidak terlalu pandai,” tutur Long-giok.

“Jika begitu, tulis saja yang sederhana, jangan pakai bahasa tinggi, supaya mudah dipahami mereka,” ujar It-hiong.

“Coba kau katakan, akan kutuliskan,” sela Long-giok.

“Baik,” kata It-hiong. “Lebih dulu kau tulis saja tiga huruf: Wi Ki-tiu.”

Long-giok menurut, ia tulis ketiga huruf itu di atas sehelai kertas putih, lalu berucap, “Lalu ….”

“Tulis saja,” kata It-hiong. “Setelah kupertimbangkan, aku merasa tidak dapat menghabiskan masa mudaku di tanganmu, maka kuputuskan untuk minggat bersama Kim Soh-bun, berbareng itu kami membawa pergi juga Hui Giok-koan, sebab ia bilang bila kami mau menyelamatkan jiwanya, dia mau memberikan lima laksa tahil perak padaku. Menyesal sekali terpaksa harus mengkhianatimu, harap maaf.”

Long-giok menulis semuanya seperti apa yang disebut Liong It-hiong itu, akhirnya bertanya. “Lantas apa lagi?”

“Sudah cukup,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Beri saja nama Le-hui sebagai tanda tulisannya.”

Kembali Long-giok membubuhi nama Le-hui sebagai penulis surat itu, katanya dengan tertawa, “Wi Ki-tiu kenal tulisan Le-hui, jika surat ini dibacanya tentu dia tahu akulah yang menulis.”

“Tidak menjadi soal,” ujar It-hiong. “Surat ini sengaja supaya dibaca oleh Lokoankeh dan bukan ditujukan kepada Wi Ki-tiu.”

“Jika Lokoankeh tahu cara buka-tutup Cui-ci-kiong, setelah membaca surat ini tentu segera ia akan masuk ke Cui-ci-kiong untuk memeriksa keadaan di sana,” tutur Sun Thian-tik. “Bilamana dia tidak masuk ke Cui-ci-kiong akan terbukti bahwa dia memang benar tidak paham buka-tutup istana kristal itu.”

“Lalu bagaimana bila benar dia memang tidak tahu cara membuka Cui-ci-kiong?” tanya Long-giok.

“Jika betul begitu, biarlah kita mencari akal lain lagi,” kata It-hiong. “Sekarang boleh kau pergi melapor kepada Lokoankeh tentang minggatnya Le-hui.”

“Kalian akan sembunyi di mana?” tanya Long-giok.

“Biarlah kami sembunyi di tempat tadi saja,” kata It-hiong.

Long-giok mengangguk, ia taruh surat yang baru ditulisnya itu di atas meja, lalu keluar kamar menuju wisma tamu.

Langsung ia menuju ke halaman dalam sana, sampai di luar sebuah kamar segera ia mengetuk pintu sambil berteriak, “Lokoankeh, Lokoankeh!”

Terdengar bunyi keriang-keriut tempat tidur di dalam kamar, lalu suara Lokoankeh bertanya, “Siapa itu?”

“Aku, Long-giok, lekas buka pintu, Lokoankeh!”

Buru-buru Lokoankeh memakai baju dan turun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamar, tanyanya dengan heran, “Ada urusan apa?”

Long-giok berlagak gugup, serunya, “Wah, celaka! Lekas Lokoankeh memeriksa ke sana!”

Sembari bicara ia tarik tangan orang tua itu terus diajak lari ke wisma tamu.

Tentu saja Lokoankeh merasa bingung, tanyanya, “Sesungguhnya ada urusan apa?”

Sambil menyeretnya berlari Long-giok menjawab, “Le-hui minggat bersama orang!”

Lokoankeh terkejut, serunya, “Hah … dia minggat bersama orang? Minggat bersama siapa?”

“Kim Soh-bun!” jawab Long-giok.

“Hah, masa?” Lokoankeh melengak. “Tadi sebelum tidur masih sempat kulihat Kim Soh-bun di luar sana.”

“Tapi benar-benar dia telah minggat bersama Le-hui,” kata Long-giok. “Lantaran tidak dapat tidur, ingin kujenguk dia, siapa tahu begitu kumasuk ke kamarnya, keadaan kosong melompong, hanya di atas meja kulihat ada sehelai surat ….”

“Apa yang ditulisnya di situ?” tanya Lokoankeh cepat.

“Silakan Lokoankeh membacanya sendiri nanti,” ujar Long-giok.

Ia tarik orang tua itu masuk ke wisma dengan tergesa-gesa, sampai di kamar Le-hui, ia tunjuk surat di atas meja dan berkata, “Nah, lihat, itulah surat yang ditinggalkannya.”

Lokoankeh mengambil surat itu dan dibaca, seketika air mukanya berubah hebat, serunya sambil mengentak kaki, “Wah, celaka!”

“Lekas suruh para jago pengawal mengejar mereka, bisa jadi mereka belum terlalu jauh,” kata Long-giok.

Tangan Lokoankeh tampak gemetar, ucapnya dengan khawatir, “Wah, sungguh berani mereka, Hui Giok-koan juga dibawa lari mereka, urusan bisa runyam!”

“Makanya jangan tertunda-tunda lagi, lekas suruh Liap-wisu dan lain-lain mengejar mereka, juga perlu lekas periksa keadaan Cui-ci-kiong, mungkin Lik-cu berlima juga mengalami nasib malang dikerjai mereka,” seru Long-giok.

“Betul,” kata Lokoankeh. “Boleh kau tunggu di sini, segera kukembali kemari.”

Habis berkata ia terus berlari pergi.

Melihat orang tua itu sudah pergi, Long-giok tersenyum, ia duduk di dalam kamar dan menunggu dengan tenang.

Selang tak lama, terdengar suara orang lari di luar kamar, nyata Lokoankeh sudah kembali.

Cepat Long-giok berbangkit dan tanya, “Bagaimana?”

“Sudah kuminta Liap-wisu dan lain-lain mengejar mereka,” tutur Lokoankeh. “Semoga mereka dapat tersusul dan dibawa kembali ke sini.”

“Kan sekarang hendaknya kita coba periksa keadaan di Cui-ci-kiong,” usul Long-giok. “Sungguh sangat kukhawatirkan nasib Lik-cu berlima, bisa jadi mereka telah dibunuh perempuan bejat Le-hui dan gendaknya itu.”

Lokoankeh mengangguk, “Baiklah, alat tutup-bukanya terletak di kamar Cengcu, boleh kau ikut padaku.”

Long-giok lantas ikut orang tua itu keluar kamar dan buru-buru meninggalkan wisma tamu, sampai di luar kamar Wi Ki-tiu, Lokoankeh mengeluarkan kunci untuk membuka gembok, lalu membuka pintu.

Di dalam kamar tidak ada lampu, keadaan sangat gelap.

“Gelap amat, apakah tidak perlu memasang lampu?” tanya Long-giok.

Tidak perlu ….” kata Lokoankeh.

Ia mendekati sebuah lemari buku, entah di mana ia meraba, lalu terdengar serentetan suara krak-krek, lemari buku itu bergeser perlahan dan tertampaklah sebuah pintu rahasia.

Kiranya lemari buku itu sendiri merupakan daun pintu, cara merancangnya sungguh sangat bagus.

Lokoankeh masuk ke dalam, entah di mana ia meraba dan menekan lagi beberapa kali, lalu keluar dan berkata pula, “Sudah, cukup!”

“Kita masuk dari mana?” tanya Long-giok.

Lokoankeh menekan tombol sehingga lemari buku itu bergeser ke tempat semula, lalu menjawab, “Masuk dari sini juga bisa, tapi harus menembus beberapa tempat yang terpasang pesawat rahasia, maka kukira masuk melalui wisma tamu saja lebih leluasa.”

Habis berkata ia terus lari keluar diikuti Long-giok, mereka berlari kembali ke wisma tamu.

Setelah berada di kamar sendiri, Lokoankeh mendahului menuju ke sebelah kanan tempat tidur, ia mengetuk tiga kali di dinding kamar, kontan dinding itu bergerak membuka ke atas dengan perlahan.

Tanpa menunggu dinding itu terbuka seluruhnya, segera Lokoankeh menyusup ke sana.

Cepat Long-giok menyusul ke situ, serunya mendadak, “Lokoankeh!”

Orang tua itu melengak, jawabnya sambil berhenti dan menoleh, “Ada apa?”

Baru selesai kata “apa” terucap, tahu-tahu hiat-to bagian dadanya sudah tertutuk oleh Long-giok, kontan ia jatuh terjengkang dan tidak sadarkan diri.

Baru saja ia hendak keluar untuk memanggil Sun Thian-tik dan Liong It-hiong, ternyata kedua orang itu sudah mendahului masuk ke kamarnya, dengan tertawa Long-giok lantas berseru, “Lekas kemari, sudah berhasil kurobohkan dia!”

“Kau bunuh dia?” tanya Sun Thian-tik dengan tertawa.

“Tidak, hanya kututuk hiat-to pingsannya, hendaknya kau seret keluar,” kata Long-giok.

Segera Sun Thian-tik menyusup ke lorong rahasia dan menyeret keluar Lokoankeh serta didorong ke kolong ranjang, katanya, “Baiklah, sekarang lekas kita turun ke sana.”

Ketiga orang lantas menuruni tangga batu lorong rahasia itu, tetap Long-giok yang menjadi petunjuk jalan, sepanjang jalan ia membuka beberapa pintu rahasia dan akhirnya masuk ke dalam kamar yang biasa dipakai Long-giok.

Kamar ini sudah pernah dimasuki sekali oleh Sun Thian-tik dan Liong It-hiong, maka keindahan pepajangan di dalam kamar tidak lagi mengherankan mereka, dengan suara tertahan It-hiong lantas berkata, “Saat ini sudah menjelang tengah malam, mungkin mereka sudah sama tidur.”

“Tidak tentu,” kata Long-giok. “Kami bertujuh sudah lama berdiam di Cui-ci-kiong ini, sudah terbiasa hidup tanpa perbedaan siang atau malam, sering kami siang tidur dan malam bekerja.”

“Di antara kalian bertujuh, ilmu silat siapa yang paling tinggi?” tanya Sun Thian-tik.

“Lik-cu,” tutur Long-giok. “Aku dan Le-hui kira-kira sama kuat, selebihnya seperti Hiang-kun, Hi-moay, dan lain-lain tidak masuk hitungan, hanya bisa main beberapa jurus yang tidak ada artinya.”

“Jika begitu kita tidak perlu khawatir lagi,” ujar Thian-tik. “Ayolah kita masuk saja.”

Sembari bicara ia terus membuka pintu batu yang menembus ke Cui-ci-kiong itu.

Begitu pintu terbuka, di mana mata memandang tertampaklah pemandangan kolam renang berbentuk bundar istana kristal yang menakjubkan, kelihatan Lik-cu berlima sedang berendam di tengah kolam dengan telanjang bulat.

Dengan tenang mereka berendam di dalam air kolam yang jernih sehingga tubuh mereka yang putih bersih laksana salju terlihat jelas, tapi ketika mereka mengetahui kemunculan Sun Thian-tik bertiga secara mendadak, seketika mereka gugup dan ribut, semuanya menjerit kaget dengan kelabakan.

Sun Thian-tik berkeplok tertawa, katanya, “Jangan takut, para Nona, kami tidak bermaksud jahat kepada kalian.”

Lik-cu menghambur-hamburkan air kepadanya sambil berteriak, “Keluar! Keluar semua!”

Thian-tik menyurut mundur dua langkah sambil tertawa, “Hahaha! Ada apa? Memangnya kalian malu segala?! Sudahlah, kan semalam kau pun bertelanjang bulat ketika menghajar Hui Giok-koan dengan cambuk?”

“Cengcu, lekas kemari!” teriak Lik-cu. “Long-giok makan dalam bela luar, dia membawa musuh ke sini!”

“Jangan berteriak lagi, tidak ada gunanya,” ucap Thian-tik dengan tertawa. “Saat ini sedikitnya Wi Ki-tiu sudah berada beberapa ratus li jauhnya, mana mungkin suaramu didengar olehnya.”

Air muka Lik-cu berubah menjadi pucat sekali, ia berpaling dan membentak Long-giok, “Sungguh terlalu engkau ini, Long-giok. Betapa sayang Cengcu kepadamu, tapi kau malah membawa musuh masuk ke Cui-ci-kiong ini, apakah kau ….”

Dengan tenang Long-giok menjawab dengan tertawa, “Enci Lik-cu, soalnya aku sudah terlalu bosan dengan kehidupan gelap di Cui-ci-kiong ini, sebab itulah sudah kuputuskan untuk meninggalkan Wi Ki-tiu, hal ini kan tidak membikin susah dan merugikanmu, buat apa kau marah-marah padaku?”

“Jika kau mau pergi boleh lekas pergi, mengapa kau bawa orang luar masuk ke sini?” teriak Lik-cu dengan gusar.

“Sun-tayhiap dan Liong-hiap ingin membawa serta Hui Giok-koan, sedangkan aku sudah rela ikut Sun-tayhiap, maka ….”

“Apa katamu? Kalian hendak membawa lari Hui Giok-koan?!” teriak Lik-cu.

“Betul,” jawab Long-giok dengan tersenyum.

Mata Lik-cu mendelik, teriaknya dengan bengis, “Barangkali kau sudah bosan hidup, maka ….”

“Tidak, justru aku ingin hidup lebih lama dengan bahagia,” potong Long-giok. “Masa kau sudah lupa betapa luas dan indahnya dunia di luar? Kalau ingin hidup bahagia harus meninggalkan neraka seperti ini. Sedangkan membawa pergi Hui Giok-koan akan dapat mendatangkan kekayaan bagiku ….”

“Hm, jangan mimpi,” jengek Lik-cu. “Bila Cengcu pulang, mustahil kulitmu takkan dibesetnya?!”

Long-giok terkikik sambil sebelah tangan merangkul bahu Sun Thian-tik, ucapnya, “Jangan kau gertak aku dengan nama Wi Ki-tiu, tiada setitik pun dia mampu menandingi Sun-tayhiap ini, apa yang ingin dia lakukan terhadapku masih harus permisi dulu kepada Sun-tayhiap ini. Betul tidak, Kakakku sayang?!”

“Betul,” jawab Sun Thian-tik dengan mengangguk dan tertawa. “Orang lain tidak berani kukatakan, kalau cuma Wi Ki-tiu saja, hah, tidak nanti aku takut.”

“Jika betul engkau tidak takut, mengapa kalian baru masuk ke sini untuk mengganggu kami pada waktu Cengcu pergi?” kata Lik-cu.

“Bilakah kami mengganggu kalian?” jawab Thian-tik. “Kalian boleh terus mandi sepuasmu, tidak nanti kami mengganggu seujung bulu roma kalian.”

Sampai di sini ia berpaling dan tanya Long-giok, “Hui Giok-koan terkurung di kamar mana?”

Long-giok menuding ke depan dan menjawab, “Di kamar rahasia sana, akan kubawamu ke sana.”

Sun Thian-tik lantas berkata kepada Liong It-hiong, “Liong-laute, hendaknya engkau tinggal di sini dan mengawasi mereka, akan kutolong keluar orang she Hui itu.”

It-hiong mengangguk, jawabnya dengan tertawa, “Baik, silakan pergi.”

Thian-tik dan Long-giok lantas mengitar kolam mandi itu menuju ke sebuah pintu kamar yang terletak di seberang sana. Sekejap kemudian mereka sudah menghilang di balik pintu itu.

Lik-cu dan keempat kawannya hanya menyaksikan mereka masuk ke sana untuk menolong Hui Giok-koan tanpa bisa bertindak apa-apa, maklum, mereka telanjang bulat, mereka tidak berani keluar dari kolam mandi.

Meski watak Liong It-hiong bengal dan sudah biasa main perempuan, tapi menghadapi lima gadis cantik telanjang bulat demikian, tidak urung merasa kikuk juga, maka ia berlagak mendongak dan tidak berani banyak memandang mereka.

“Hei, bolehkah kami naik ke situ dan memakai baju?” tanya Lik-cu tiba-tiba.

“Tidak, tidak boleh!” jawab It-hiong sambil tetap menengadah.

“Hm, cara kalian ini sungguh terlalu kotor,” omel Lik-cu.

“Masa kotor? Kan kami tidak pernah memaksa kalian membuka baju dan tindakan lain?” jawab It-hiong dengan tertawa.

“Hm, memangnya kau kira tanpa baju kami tidak berani naik ke atas?” jengek Lik-cu.

“Jika kalian tidak takut malu, dengan sendirinya boleh kalian naik ke sini,” ujar It-hiong. “Cuma ingin kuperingatkan kalian, aku Liong It-hiong bukanlah lelaki yang mudah kasihan kepada orang perempuan.”

“Maksudmu, bila kami naik atas lantas akan kau bunuh?” tanya Lik-cu.

“Ya, sangat mungkin,” jawab It-hiong.

“Aku justru tidak percaya,” ucap Lik-cu. “Ayo para kawan, mari kita naik ke sana dan coba menempurnya.”

Habis bicara serentak ia mendahului berdiri.

Tentu saja Liong It-hiong terkejut, cepat ia melolos pedang pandak Siau-hi-jong, bentaknya, “Berhenti! Barang siapa berani naik ke sini, segera kuberi sekali tusukan.”

Melihat sikapnya yang bengis, Lik-cu terkikik-kikik, serunya, “Coba lihat, para kawan, dia ketakutan!”

Sembari bicara, dengan tubuh telanjang ia terus melangkah maju dan menuju ke tepi kolam.

Serentak Hiang-kun dan Hui-hong berempat juga berdiri dan mendekati tepi kolam dengan langkah berlenggok.

Melihat beberapa sosok tubuh yang mulus menggiurkan itu, mata Liong It-hiong serasa berkunang-kunang, napas pun terengah, sekuatnya ia ayun pedang pandak dan berteriak, “Bagus, boleh kalian coba naik kemari! Jangan kalian kira orang she Liong ini lelaki sopan, bicara terus terang, sejak kecil aku sudah biasa menghadapi orang perempuan dari berbagai kalangan!”

Lik-cu mulai melangkah ke atas kolam mandi dan tetap maju ke depan sembari mengeluarkan suara tertawa nyaring, “Hihi, bagus sekali jika begitu, aku menjadi ingin belajar kenal denganmu!”

Sementara itu keempat kawannya juga sudah melangkah keluar kolam dan berdiri menjadi satu baris sehingga mirip pintu angin daging hidup, serentak mereka mendesak maju ke arah Liong It-hiong.

Sesungguhnya Liong It-hiong tidak sampai hati mencederai mereka, tanpa terasa ia menyurut mundur sembari berkaok-kaok, “Berhenti, jangan coba-coba maju lagi! Awas, pedangku ini tidak kenal ampun kepada siapa pun!”

Namun Lik-cu seakan-akan sudah nekat, dengan tersenyum ia malah mendesak maju, ucapnya dengan tertawa, “Silakan turun tangan saja, hamba memang tidak ingin hidup lagi.”

It-hiong menyurut mundur lagi dua tindak, punggungnya sudah mepet dinding, sudah menghadapi jalan buntu, keruan ia menjadi gugup, “Berhenti, coba dengarkan dulu!”

Lik-cu lantas berhenti, katanya dengan tersenyum, “Apa yang hendak kau katakan?”

Padahal tidak ada sesuatu yang hendak dibicarakan Liong It-hiong, tujuannya cuma untuk mengulur waktu saja, melihat orang berhenti melangkah, segera ia simpan kembali pedangnya dan berkata, “Selamanya kita tidak punya permusuhan apa pun, tidak boleh kubunuh kalian, cuma kalian sungguh terlalu tidak tahu diri, biarlah kuberi tahu rasa kepada kalian ‘cakar naga’ ini!”

Baru lenyap suaranya, serentak kesepuluh jarinya terpentang terus mencakar ke depan.

Melihat orang menyimpan kembali pedangnya, Lik-cu mengira anak muda itu tidak jadi pakai kekerasan lagi, sebab itulah cakaran Liong It-hiong itu sangat di luar dugaannya. Dalam keadaan gugup tak terpikir olehnya cara bagaimana harus mengelak atau menangkis, terpaksa ia sambut sebisanya dengan kedua tangan.

Namun gerak tangan Liong It-hiong sungguh secepat kilat, sekali cengkeram seketika kedua gumpal daging kenyal alias buah dada Lik-cu terpegang, menyusul sebelah kakinya menjegal, kontan Lik-cu disengkelit jatuh terguling, kedua jari Liong It-hiong lantas menutuk pula hiat-to kelumpuhan Lik-cu tertutuk dan tidak bisa berkutik lagi.

“Hehe, bagaimana sekarang?” ejek It-hiong dengan terkekeh. “Kan sudah kukatakan aku sudah terbiasa menghadapi perempuan dari berbagai kalangan, tapi kau tetap tidak mau percaya.”

Lalu ia berpaling dan menatap keempat nona lain dengan sikap garang, bentaknya, “Nah, siapa lagi yang ingin coba-coba maju pula?”

Kepandaian Hiang-kun berempat memang lebih rendah, mereka hanya mengikuti setiap tindakan Lik-cu saja, sekarang Lik-cu kena dirobohkan orang dan tidak bisa berkutik, seketika mereka merasa jeri dan sama menyurut mundur dengan ketakutan.

“Ayo, semuanya masuk kembali ke dalam kolam,” bentak It-hiong mendadak.

Sambil menjerit kaget keempat nona itu sama melompat ke dalam kolam dan meringkuk menjadi satu, tidak ada lagi yang berani berceloteh.

Lalu It-hiong menjengek terhadap Lik-cu yang menggeletak di lantai, “Hm, di antara kalian bertujuh, kau ini terhitung paling nakal, kukira perlu kuhajar adat sedikit padamu.”

Muka Lik-cu tampak merah padam dan tidak berani bersuara.

It-hiong lantas melolos pedang pandak pula, katanya, “Biarlah kupotong saja rambutmu dulu ….”

“Wah, jangan!” teriak Lik-cu gugup dan memohon. “Harap ampun, jangan memotong rambutku.”

“Jika begitu kupotong hidungmu saja,” kata It-hiong.

“Oo, jangan, juga jangan potong hidungku!” ratap Lik-cu.

“Hm, lantas, kau minta bagian mana yang kupotong?” jengek It-hiong.

“Jangan … jangan potong mana pun,” pinta Lik-cu dengan suara gemetar.

“Hm, masa begitu enak?!” jengek It-hiong pula.

“Kutanggung takkan memusuhi kalian lagi,” kata Lik-cu.

“Dan mau menurut masuk lagi ke kolam mandi?” It-hiong menegas.

Lik-cu mengiakan.

Selagi It-hiong hendak membuka hiat-to orang, tiba-tiba terlihat Long-giok keluar sendiri dari kamar sana, segera ia tanya padanya, “Bagaimana?”

“Kedua kaki orang she Hui itu terbelenggu, tanpa kunci sukar untuk dibuka,” tutur Long-giok. “Maka Sun-tayhiap menyuruhku tanya Lik-cu di mana kunci belenggu itu disimpan.”

“Kuncinya dibawa Cengcu sendiri,” kata Lik-cu.

Mendadak It-hiong meraih rambut Lik-cu dan berlagak hendak memotongnya, tanyanya, “Coba katakan sekali lagi, kunci disimpan di mana?”

Lik-cu tampak gugup, jawabnya, “Betul, hamba tidak dusta. Kunci memang benar selalu dibawa sendiri oleh Wi Ki-tiu, ia khawatir terjadi sesuatu, tidak pernah ia serahkan kunci kepada orang lain.”

Melihat sikapnya yang ketakutan itu, It-hiong percaya orang tidak berani dusta, segera ia memberikan pedang pandak Siau-hi-jong kepada Long-giok, katanya, “Pedang ini dapat memotong besi serupa memotong sayur, coba kau bawa kepada Sun-tayhiap.”

Long-giok menerima pedang kecil itu dan putar balik ke kamar rahasia sana.

It-hiong lantas berjongkok di samping Lik-cu, ucapnya dengan tertawa, “Usiamu masih muda, wajahmu cantik, mengapa kau tidak mencari seorang suami baik-baik, tapi selalu ikut Wi Ki-tiu di sini?”

Mulut Lik-cu menjengkit dan menjawab, “Habis tidak ada lelaki yang menghendaki diriku.”

“Ah, masa?” kata It-hiong dengan tertawa. “Nona secantik bidadari seperti dirimu ini jika tidak ada yang mau, maka lelaki di seluruh dunia ini jangan harap lagi akan menemukan perempuan yang cocok.”

Mendadak Lik-cu memberikan lirikan yang bisa bikin semaput setiap lelaki, katanya, “Jika engkau sudi padaku, kurela ikut pergi bersamamu.”

“Wah, tidak bisa, sebab aku sendiri sudah punya pacar,” sahut It-hiong dengan tergelak.

“Dia tentu lebih cantik daripadaku, bukan?” tanya Lik-cu dengan kecewa.

“Selisih tidak banyak, antara kalian boleh dikatakan setali tiga uang alias sama kuat, sukar dibedakan mana yang lebih cantik,” kata It-hiong.

“Siapa namanya?” tanya Lik-cu pula.

“Wah, maaf, tidak dapat kukatakan padamu.”

“Jika engkau sudi menerimaku, biarpun menjadi budakmu juga aku rela, mau?”

“Sayang, aku tidak punya rezeki sebesar itu untuk menerima budak semacam dirimu,” jawab It-hiong sambil menggeleng.

“Ya sudahlah kalau tidak sudi,” ucap Lik-cu sedih. “Dan sekarang bolehkah kau buka hiat-to hamba?”

It-hiong mengangguk, ditepuknya perlahan hiat-to kelumpuhan si nona, lalu berdiri dan menyurut mundur dua tindak, katanya sambil memberi tanda, “Nah, lekas masuk lagi ke dalam kolam.”

Lik-cu tidak berani membangkang, segera ia merangkak masuk lagi ke dalam kolam mandi.

Pada saat itulah terlihat Sun Thian-tik dan Long-giok telah keluar dari kamar rahasia tadi dengan membawa Hui Giok-koan.

Kini Hui Giok-koan sudah berpakaian, cuma keadaannya agak loyo, serupa orang yang habis sakit keras, untuk berjalan saja kelihatan susah.

Begitu melihat Lik-cu yang berendam di kolam, seketika mata Hui Giok-koan menjadi merah serupa melihat musuh bebuyutan saja, langsung ia hendak terjun ke dalam kolam untuk menghajar nona itu.

Namun Sun Thian-tik keburu menariknya sambil berkata, “Hei, kau mau apa?”

Hui Giok-koan mendeliki Lik-cu, ucapnya dengan penuh rasa dendam, “Perempuan hina ini kemarin telah menghajarku hingga setengah mati, sekarang harus kubikin perhitungan dengan dia.”

“Ah, dia kan cuma melaksanakan tugas atas perintah saja,” kata Thian-tik dengan tertawa. “Jika kau ingin membalas dendam, seharusnya kau cari Wi Ki-tiu.”

“Hm, tentu saja akan kucari Wi Ki-tiu untuk menuntut balas,” jengek Hui Giok-koan. “Tapi perempuan hina yang berhati berbisa itu tidak dapat kuampuni.”

Sun Thian-tik memeganginya erat-erat, ucapnya dengan tertawa, “Sudahlah, seorang lelaki gagah tidak nanti berkelahi dengan orang perempuan. Lebih baik kau temui dulu sahabat lama.”

Sembari bicara ia seret Hui Giok-koan mendekati Liong It-hiong.

“Selamat berjumpa pula, Hui-cecu,” sapa It-hiong dengan tertawa.

Hui Giok-koan kelihatan kikuk, katanya sambil menyengir, “Konon engkau pun ikut berusaha menyelamatkan jiwaku.”

“Ah, hanya menyumbang tenaga sekadarnya,” jawab It-hiong.

“Tidak perlu dijelaskan lagi, tujuanmu pasti terletak pada kotak pusaka itu?”

“Memang betul,” kata It-hiong.

“Jika begitu lekas kau pergi ke Cong-beng-to, kalau tidak tentu akan kedahuluan Wi Ki-tiu,” kata Giok-koan.

“Haha, janganlah bercanda lagi,” ucap It-hiong dengan tertawa. “Kutahu tidak nanti kau sembunyikan kotak itu di Cong-beng-to, lantaran itulah kami menyelamatkanmu dari tempat Wi Ki-tiu ini ….”

“Tapi benar-benar kusembunyikan kotak itu di Cong-beng-to,” kata Giok-koan.

It-hiong tertawa dan tidak berbantah lagi dengan dia, ia berpaling dan berkata terhadap Thian-tik, “Sun-tayhiap, marilah kita berangkat.”

Sun Thian-tik mengembalikan pedang pandak tadi, katanya, “Baik, lebih dulu kita tinggalkan Liong-coan-ceng, kalau ada persoalan boleh diurus belakang.”

Mereka tidak peduli lagi kepada kelima nona yang masih berendam di kolam renang itu, Hui Giok-koan digusur keluar dari istana kristal itu dan kembali ke ruangan depan wisma tamu itu melalui lorong rahasia.

Lebih dulu Long-giok memeriksa keluar, lalu masuk lagi dan berkata, “Di luar sangat tenang, mungkin ketujuh jago pengawal itu belum pulang.”

Mendadak Sun Thian-tik menutuk hiat-to kelumpuhan Hui Giok-koan, lalu orang dipanggulnya, katanya, “Ayo berangkat!”

Mereka bertiga terus keluar dari wisma itu, mereka tidak lagi main sembunyi melainkan berlari dan melompat secara terang-terangan menuju ke luar kampung.

Seketika terdengarlah suara bende ditabuh dan teriakan orang di sana-sini, “Tangkap maling! Itu dia! Jangan sampai lolos!”

Meski riuh ramai suara teriakan dan bunyi bende di sana sini, namun semua itu rupanya cuma untuk menakut-nakuti saja, sampai sekian lama tetap tidak kelihatan bayangan seorang pun yang muncul.

Melihat gelagatnya, karena ketujuh jago andalan Wi Ki-tiu itu belum pulang, di dalam kampung sekarang tiada seorang pun yang sanggup merintangi penyatron, sebab itulah tiada seorang pun berani menampakkan diri.

Begitulah Thian-tik bertiga dapat kabur dari Liong-coan-ceng tanpa rintangan apa pun, langsung mereka kembali ke kota.

It-hiong sudah membuka kamar di sebuah hotel, kudanya juga dititipkan di sana, maka dengan persetujuan Sun Thian-tik mereka memutuskan istirahat dulu ke kamar hotel, habis itu baru akan bertindak lebih lanjut.

Sementara sudah lewat tengah malam, suasana kota sudah sunyi senyap, ketika sampai di luar hotel, tertampak seorang pelayan sedang mengantuk bersandar meja kasir. It-hiong memberi isyarat kepada Thian-tik, dengan langkah berjinjit-jinjit ia mendahului masuk ke dalam.

Lalu Sun Thian-tik dan Long-giok ikut masuk dengan perlahan, pelayan itu masih tidur dan terlena.

Mereka terus masuk ke belakang dan masuk ke kamar It-hiong, Thian-tik menaruh Hui Giok-koan di atas ranjang, katanya dengan tertawa, “Nah, sekarang boleh membangunkan pelayan tadi.”

It-hiong mengangguk, ia keluar lagi ke depan dan mendorong si pelayan sambil memanggil perlahan, “Siaujiko (kakak pelayan), bangun, lekas bangun!”

Pelayan melonjak bangun dengan kaget, serunya, “Hahh, kiranya Kongcu sudah pulang? Mengapa pergi sekian lamanya?”

“Kupergi mencari kawan,” jawab It-hiong, “dan baru saja pulang bersama ketiga sahabatku. Apakah kau dapat menyiapkan sedikit makanan bagi kami? Sudah seharian kami tidak makan apa-apa.”

“Bagaimana kalau bakmi kuah saja, sederhana dan cepat,” tanya pelayan.

“Baiklah,” It-hiong setuju. “Boleh segera diantar ke kamarku.”

“Ya, ya, akan kuantar secepatnya,” jawab si pelayan.

Lalu It-hiong kembali ke kamarnya, setelah pintu kamar dirapatkan, dengan tertawa ia berkata, “Sudah kuminta pelayan membuatkan bakmi, sehabis makan bolehlah kita berangkat.”

“Ke mana?” tanya Thian-tik dengan tersenyum.

“Ke mana lagi, tentu saja pergi mengambil kotak itu!”

“Kau tahu tempat sembunyi kotak pusaka itu?” tanya Thian-tik.

It-hiong menuding Hui Giok-koan yang menggeletak di tempat tidur, katanya, “Kan dapat tanya dia?!”

“Sudah kau tetapkan akan membagi rezeki kotak itu bersamaku?” tanya Thian-tik pula.

It-hiong menggeleng kepala, jawabnya, “Tidak, setelah menemukan kotak itu, boleh kita mencari suatu cara untuk menentukan kalah-menang lagi untuk memastikan kotak itu milik siapa.”

“Boleh juga,” kata Thian-tik.

“Tidak, kurang baik,” tukas Long-giok mendadak.

“Kenapa kurang baik?” Thian-tik melengak.

“Hamba mempunyai suatu cara yang terlebih baik,” kata Long-giok.

“Coba jelaskan,” kata Thian-tik.

“Begini menurut pendapatku,” tutur Long-giok. “Jangan lagi kau pikirkan kotak pusaka apa segala, hendaknya segera kau bawa pergi diriku, marilah kita membangun sebuah rumah tangga dan hidup aman tenteram tanpa pusing terhadap urusan apa pun.”

“Wah, mana boleh jadi?” Thian-tik melenggong. “Aku sudah bersusah payah, sekarang kotak pusaka itu sudah di depan mata, mana boleh kutinggalkan begitu saja.”

“Kotak itu adalah barang sial,” kata Long-giok, “barang siapa mendapatkannya segera akan tertimpa malang, maka jangan kau taksir barang itu lagi.”

Agaknya Sun Thian-tik tidak menduga Long-giok dapat bicara seperti ini, mau tak mau timbul penilaian lain terhadap si nona, jawabnya dengan tertawa, “Kau pikir aku harus melepaskan kotak itu?”

“Ya, harta benda kan tidak lebih berharga daripada nyawa,” Long-giok mengangguk. “Hamba tidak peduli apakah engkau kaya atau miskin, yang penting bila engkau benar-benar hidup bersamaku dengan setulus hati, maka kita jangan lagi memikirkan kotak itu dan lekas pergi dari tempat banyak perkara ini.”

“Eh, apakah engkau tidak bercanda?” tanya Thian-tik, mau tak mau hati tergelitik juga.

“Tidak,” jawab Long-giok serius.

Thian-tik garuk-garuk kepala, katanya, “Biasanya kita tahu orang perempuan paling kemaruk harta, tak tersangka engkau justru cuma suka pada orangnya tanpa pikirkan harta benda, sungguh aneh bin ajaib.”

“Sama sekali tidak aneh,” kata Long-giok. “Harta benda sudah banyak kulihat, aku sudah bosan, sedikit pun tidak mengherankanku.”

“Tapi … tapi demi untuk mendapatkan kotak pusaka itu, selama hampir setengah tahun ini aku berusaha dengan susah payah, sekarang kau minta kulepas tangan begitu saja, kan terlampau penasaran.”

“Tidak, sedikit pun tidak perlu penasaran,” ucap Long-giok.

“Oo?!” Thian-tik merasa bingung.

“Umpamanya, jika engkau memang menyukaiku, maka bolehlah kukatakan, meski engkau kehilangan kotak pusaka, tapi kan mendapatkan diriku.”

“Hehe, maksudmu hilang ini dapat itu?” Thian-tik tertawa.

“Memangnya bukan begitu?” jawab Long-giok dengan tertawa manis.

Sun Thian-tik lantas berpaling dan tanya Liong It-hiong, “Liong-laute, bagaimana menurut pendapatmu?”

“Aku tidak tahu, itu kan urusan pribadimu dan harus ditentukan olehmu sendiri,” jawab It-hiong tertawa.

Sun Thian-tik berpikir sejenak, akhirnya ia mengentak kaki dan berseru, “Ya, sudahlah, dasar aku yang sebal, ketanggor seorang perempuan yang tidak kemaruk duit …. Ayo berangkat!”

Cepat It-hiong berseru, “Nanti dulu, Sun-tayhiap, makan bakmi dulu!”

“Kotak pusaka saja aku tak mau, untuk apa makan bakmi segala,” kata Thian-tik dengan tertawa. “Ayo, berangkat!”

Segera ia tarik Long-giok dan diajak melangkah pergi.

“Tunggu sebentar,” teriak It-hiong. “Sun-tayhiap melupakan sesuatu.”

Sun Thian-tik sudah menyeret Long-giok sampai di luar kamar, mendengar ucapan itu, ia merandek, tanyanya sambil menoleh, “Melupakan apa?”

Liong It-hiong melolos pedang pandak Siau-hi-jong dan disodorkan kepada Sun Thian-tik, katanya, “Ini milikmu, ambil kembali saja!”

Thian-tik melenggong, katanya kemudian, “Eh, apa maksudmu?”

It-hiong serahkan pedang itu pada tangan Sun Thian-tik, katanya, “Barang ini asalnya memang kepunyaanmu, bukan?”

“Namun ….” Sun Thian-tik tampak sangsi.

“Tidak perlu ragu lagi,” kata It-hiong. “Bukan barangmu memang tidak perlu kau ambil, tapi pedang ini milikmu, boleh kau bawa pergi saja.”

Akhirnya Sun Thian-tik tertawa, katanya, “Baik, kau ini memang anak muda yang baik, kalau ada jodoh kelak kita pasti bertemu lagi.”

Habis berucap segera ia melangkah pergi dengan menarik Long-giok.

Tidak lama sesudah mereka berangkat, pelayan datang dengan membawa satu panci bakmi kuah, ia taruh panci di atas meja, lalu tanya It-hiong, “Suami-istri yang baru saja berangkat itukah sahabat Kongcu?”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Mengapa terburu-buru, bakmi belum dimakan sudah lantas berangkat?”

“Mereka bilang tidak lapar,” ujar It-hiong dengan tersenyum.

Pelayan memandang Hui Giok-koan yang meringkuk di tempat tidur, tanyanya dengan terperanjat, “Hei, kenapa sahabat Kongcu ini?”

“O, dia tidak enak badan, masuk angin,” jawab It-hiong.

Pelayan tidak berani banyak bertanya lagi, ia menyiapkan sumpit dan mangkuk dan alat makan seperlunya, lalu mengundurkan diri.

It-hiong menutup pintu kamar, lalu mendekati tempat tidur, ia tepuk hiat-to Hui Giok-koan dan berkata, “Mari makan bakmi.”

Perlahan Hui Giok-koan bangun duduk, katanya dengan tersenyum licik, “Engkau tidak khawatir aku akan kabur?”

“Kau tidak perlu kabur,” jawab It-hiong dengan tertawa. “Bila kau tidak rela mengaku kalah, habis makan bakmi boleh kita berkelahi lagi, jika aku kalah, aku berjanji selamanya takkan minta kotak pusaka padamu.”

“Hm, jangan engkau terlampau percaya kepada kemampuanmu sendiri,” jengek Hui Giok-koan.

“Aku memang sangat percaya atas kemampuanku sendiri,” jawab It-hiong. “Kalau tidak percaya boleh kita coba-coba.”

Hui Giok-koan tidak bicara pula, ia turun dari tempat tidur dan duduk di depan meja, ia ambil mangkuk untuk mengisi bakmi dan dimakan dengan lahap.

Liong It-hiong juga duduk dan makan, keduanya tidak bicara lagi.

Sembari makan, otak Hui Giok-koan terus bekerja, setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Baiklah, sekarang akan kukatakan di mana kusembunyikan kotak itu, yaitu di ….”

Mendadak It-hiong menggoyang tangan dan memotong ucapannya, “Jangan, tidak perlu kau katakan.”

Hui Giok-koan melengak, “Masa engkau tidak inginkan kotak itu lagi?”

“Bukan begitu,” kata It-hiong.

“Habis …..”

“Soalnya aku tidak ingin menjadi Wi Ki-tiu kedua,” sela It-hiong dengan tersenyum, “sebab kalau kau mau menyerahkan kotak itu dengan setulus hati, tentu akan kau bawaku ke sana. Maka sekarang tidak perlu kau sebutkan tempat sembunyi kotak itu.”

Air muka Hui Giok-koan agak berubah, ucapnya sambil menyengir, “Buset, pintar juga kau ini!”

“Terima kasih atas pujianmu,” sahut It-hiong tertawa.

Kembali Hui Giok-koan menghela napas, katanya, “Ai, sungguh aku tidak mengerti, mengapa engkau berkeras ingin mendapatkan kotak pusaka itu?”

“Sama sekali tidak ada maksudku hendak mengangkangi kotak itu sebagai milikku,” jawab It-hiong. “Soalnya harus kulaksanakan pesan Si Hin yang minta kubawa kotak itu ke Cap-pek-pan-nia.”

“Ai, engkau terlalu bodoh.” ujar Giok-koan.

It-hiong mengangkat pundak, jawabnya, “Aku memang suka berbuat hal-hal yang bodoh, banyak urusan di dunia ini kalau tidak dikerjakan oleh orang bodoh akan terasa kurang sempurna.”

“Bahwa engkau melaksanakan tugas sesuai pesan orang, hal ini memang pantas dipuji,” kata Giok-koan. “Tapi perlu kau ketahui kotak pusaka itu bukanlah barang milik gembong dari Cap-pek-pan-nia itu, sebab Si Hin juga merampasnya dari orang lain dan hendak membawanya pulang untuk dipersembahkan kepada gembong itu.”

“Lantas milik siapakah kotak itu?” tanya It-hiong.

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: