Kumpulan Cerita Silat

22/01/2008

Perguruan Sejati (20)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:30 pm

Perguruan Sejati (20)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Kurasakan agak mendingan dan ingin duduk,” kata Tiong Giok sambil tersenyum. “Mana ayahmu?”

“Ayahku menjaga dimulut gua ia kuatir ada orang jatuh kejurang.”

“Masakan ditempat begini bisa didatangi orang?”

“Sejak Siau cu jin jatuh kesini, setiap hari ada orang yang menyelidiki tempat ini. Ayahku kuatir diantara mereka ada yang jatuh, maka setiap hari bersiap sedia dimulut gua.”

“Apakah sewaktu kujatuh tak sadarkan diri selama tiga hari tiga malam itu banyak orang menyelidiki jurang ini?”

“Benar.”

“Apakah sekarang ada yang datang?”

“Sekarang sudah tidak ada lagi, mungkin mereka sudah pergi,” kata Thian Sek, “sungguhpun begitu ayahku masih kuatir dan tetap saja menjaga-jaga diluar.”

“Oh, kalau begitu mereka menganggap aku sudahmati dan berlalu…” Kata Tiong giok dengan perlahan.

“Apakah Siau cu jin tahu orang-orang itu siapa?”

In Tiong Giok hanya tersenyum meringis tanpa memberikan jawaban, ia jadi terpekur, ia memikirkan banyak soal, misalnya Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee setelah terlepas dari bahaya maut akan pergi kemana? Ciu Kong dan lain-lain akan berbuat apa setelah kehilanganku? Bagaimana ibunya dan Wan Jie yang masih didalam hotel? Betapa kaget dan kecewa mereka, tatkala mendengar berita, aku tergelincir kedalam jurang, semua kejadian yang rumit ini biar bagaimana dijelaskan Thian Sek sukar mengerfti, maka itu Tiong Giok diam terus walaupun ditanya lagi.

“Siau cu jin sebaiknya istirahat lagi, aku mau memanggil ayah pulang,” kata Thian Sek setelah melihat Tiong Giok terpekur terus,

“Aku tak merasa letih barang sedikitpun, sebaiknya marilah kita mengobrol,” ajak Tiong Giok.

Dari percakapan singkat Tiong Giok mengetahui sejak Thian Sek jatuh kedalam jurang mendapat pelajaran silat dari Bok Tiong, seingat ia mempunyai pelajaran dasar yang kuat selama sepuluh tahun.

“Engkau telah pandai bersilat, kenapa tak berusaha meninggalkan tempat ini?”

“Sebenarnya aku jatuh kesini sudah sepantasnya mati konyol, akan tetapi berkat pertolongan ayah angkatku, aku bisa hidup sampai sekarang. Maka itu aku sudah bertekad bilamana tidak bersama-sama ayah keluar dari jurang ini, lebih baik aku mati tua disini!”

“Itu adalah rasa baktimu kepada orang tua yang berlebih-lebihan, kenapa engkau tidak amenyelidiki keadaan disini dan berusaha mencari jalan keluar?”

“Jurang ini mulutnya kecil dasarnya luas sekelilingnya adalah tebing yang buntu. Hanya gua ini yang menembus kedalam perut gunung, disitu terdapat mata air yang jernih berupa kolam, dalamnya entah bebreapa meter belum pernah dijajaki, menurut ayah kolam itu adalah sungai didalam tanah yang berkemungkinan bisa menembus keluar. Ayah sudah pincang maka itu tak bisa menyelam, karena itu tak pernah mencobanya.”

“Dimana kolam itu?”

“Didalam gua ini, lebih kurang satu lie dari sini.”

“Coba ajak aku kesana!” kata Tiong Giok.

“Nanti saja setelah Siau cu jin baik betul baru kesana,” kata Thian Sek.

“Oh luka luar ini tidak berbahaya, juga sudah baikkan,” kata Tiong Giok memaksa. “Aku hanya ingin melihat kolam itu, siapa tahu ada kemungkinan jalan keluar dari lembah ini.”

Thian Sek tidak banyak bercerita lagi, diambilnya pelita dan dipayangnya Tiong Giok.

“Tak usah aku bisa berjalan sendiri,” kata Tiong Giok. Yang terus jalan perlahan-lahan sambil memegangi dinding gua.

Dibelakang gua, benar-benar terdapat sebuah terowongan yang luas, berliku-liku menembus lambung gunung. Diujung terowongan benar-benar terdapat sebuah kolam ukuran lima meter. Air kolam terlihat bergelora dan mengalir deras.

Dalam penyelidikan pertama, Tiong Giok merebahkan diri mendengari aliran air. “Tak salah ini adalah sungai dibawah tanah, satu-satunya jalan keluar dari lembah mati ini. Namun didalamnya entah berapa meter dan berapa panjang ditanah sukar diketahui.”

“Manurut perkiraan Siau cu jin, bisakah seorang melalui sungai ini pergi keluar?”

“Andaikata sungai ini hanya lima lie berada didalam tanah, bisa saja dilalui….tapi kalau lebih dari itu, aku tak bisa mengatakan bisa atau tidak, itu tergantung pada nasib. Nasib bagus ya bisa, nasib buruk ya mati.”

Waktu mereka bicara, tiba-tiba Bok Tiong datang tergesa-gesa, yang terus menegur anaknya. “Waduh, kenapa engkau bawa-bawa Siau cu jin kesini, jatuh belum sembuh betul, kalau terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab?”

“Bok Lo Cianpwee jangan gusar, aku yang mendesaknya mengantar kemari dan bukan dia.”

“Mungkin Siau cu jin pun tak bisa menduga sungai inilah satu-satunya jalan keluar dari lembah mati, tapi bahayanya sampai ditaraf apa belum bisa kuselidiki. Kupikir setelah Siau cu jin sembuh betul baru menyelidikinya…”

“Memang dalam hal ini kita harus sabar dan hati-hati, tergesa-gesa tidak ada gunanya,” kata Tiong Giok.

Sekembalinya kedepan gua, In Tiong Giok membaringkan diri sambil terpekur, sedangkan Bok Tiong sedang sibuk menyediakan makanan. Sungguhpun tidak ada ayam atau itik, Bok Tiong dengan pukatnya berhasil menangkap dua ekor elang, setelah diolah daging elang itu cukup lezat bagi mereka.

Sambil makan daging elang, Tiong Giok mengerutkan kening dan mengawasi pada Bok Tiong. “Lo Cianpwee mengikuti ayahku sudah lama, tentu mengetahui juga hubungannya dengan Tiat Pocu sangat intim sekali bukan? Akan tetapi dibalik itu ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu!”

“Silahkan Siau cu jin bertanya, apa yang kutahu akan kujelaskan,” jawab Bok Tiong.

Tiong Giok terpekur sejenak. “Menurut berita, sewaktu ayah mengunjungi Tiat Po kena disemprot dan dimaki habis-habisan oleh tuan rumah. Setelah itu Tiat Giok Lin membunuh diri dengan jarum beracun, apakah engkau tahu soal ini?”

“Dari siapa Siau cu jin mendengar berita ini?” tanya Bok Tiong sambil mengawasi dengan tajam.

“Siau siang Lie hiap sendiri yang mengatakannya kepadaku.”

“Menurut keyakinanku ayahmu adalah seorang berbudi luhur, bagaimanapun ia tak bisa menjual teman. Sebaliknya adalah orang-orang dari Tiat Po yang berlaku tidak bersahabat kepada ayahmu!”

“Apa alasanmu mengatakan begitu?”

“Sudah terang ada alasannya,” jawab Bok Tiong perlahan, “dengan mata kepala sendiri kusaksikan bahwa yang menghadang kami diperjalanan adalah orang-orang dari Tiat Po!”

“Benarkah begitu?”

“Ini bukan soal main-main, aku takberani membohong!” kata Bok Tiong dengan serius, ia tertegun sejenak sambil menelan ludah. Lalu melanjutkan ceritanya penuh emosi. “Orang yang menghadang kami satupun tidak ada yang kukenal, merekapun tidak mengenal aku maupun ibumu. Begitu menghadang mereka pura-pura menanyakan ibumu berada dikereta yang mana. Setelah ditunjukkan, tiba-tiba saja mereka melakukan serangan sambil memaki-maki. Bunuh keluarga bangsat she Ang ini, ia menjual teman sendiri demi keuntungan peribadinya, mari kita tuntut balas darinya.”

“Waktu mendengar ini, ibumu menjadi kaget dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke Tiat Po. Segala urusan yang bagaimana hebatpun dapat diselesaikan disana.”

“Penghadang-penghadang itu bukan saja tidak mendengar perkataan ini, merekapun segera turun tangan dengan bengis. Ibumu dan aku melakukan perlawanan mati-matian, karena tidak percaya bahwa orang Tiat Po bisa berlaku sekeji dan serendah itu, tak kira setelah kulolos dari bahaya. Kudengar bahwa Tiat Pocu telah meninggal dunia. Didunia Kang Ouw tersebar luas dari mulut ke mulut bahwa ayahmu karena ingin mengangkangi Keng thian cit su, sampai mencelakakan Tiat Giok Lin, dari sudut inilah aku berani mengatakan bahwa yang menghadang dijalan itu adalah orang-orangnya Tiat Pocu….”

“Tebakanmu itu meleset, soal yang menghadang kuyakin dari Tiat Po, sebaliknya kita dan Tiat Po lah yang kena diadu domba dan dicelakakan. Semua ini siasat dari Pok Thian Pang yang sekali panah dua burung.”

“Pok Thian Pang? Apa itu?” tanya Bok Tiong keheranan.

Tiong Giok tidak heran kalau orang tua itu tidak pernah tahu soal Pok Thian Pang, maka dengan tekun ia menjelaskan keadaan dunia persilatan selama dua puluh tahun belakangan ini dengan panjang lebar dan jelas.

Membuat Bok Tiong manggut-manggut mendengarkan verita itu, dan mengetahui kini, apa sebenarnya Pok Thian Pang itu, “Jika begitu biang berengsek didunia Kang Ouw adalah Pok Thian Pang?”

“Ya dapat dikatakan begitu!” kata Tiong Giok, “jika lolos dari sini, pasti perserikatan itu akan kugempur!”

“Sudah jangan berpikir terlalu jauh dulu, saat ini yang penting Siau cu jin harus banyak istirahat dulu untuk memulihkan kesehatan dulu. Nah istirahatlah baik-baik, aku akan mencari obat-obatan lagi untukmu!”

Keadaan Tiong Giok kiam hari kian baikan, untuk menghilangkan kesal ia mempelajari ilmu Liap hun hoat dari It Piau Taysu. Dikarenakan dasar ilmunya sudah baik, ia bisa mengikuti pelajaran itu dengan baik.

Waktu berlalu denganb cepat, dalam sekejap mata sepuluh hari telah dilalui Tiong Giok didalam gua. Berkat perawatan Bok Tiong dan Thian Sek luka yang dideritanya telah sembuh seperti sediakala. Kesehatanm tubuhnya ini mendatangkan harapan besar baginya untuk mencari jalan keluar dari gua itu, tak heran ia menyelidiki kesetiap pelosok lembah itu, kalau-kalau ada jalan keluar lain. Sementara jalan yang dicari belum didapat, kedua pedang pusaka yang jatuh bersama-sama Liok Jie Hui dapat diketemukan. Ingin ia menggunakan ketajaman pedang itu untuk menggali dinding tebing, terus naik keatas seperti tangga. Tapi ia menjadi kecewa, karena tebing itu tidak semuanya keras, ada bagian-bagian yang tidak padat, begitu digali tanahnya segera meluruk. Akhirnya ia thau jalan keluar bagaimanapun harus melalui kolam didalam gua itu. Ia pun tahu bilamana rencananya ini dibicarakan, Bok Tiong pasti akan mencegahnya. Jika tidak dibicarakan, ia membutuhkan pembantu, tanpa pembantu usahanya takkan berhasil. Setelah membulatkan tekad, dicarinya Bok Thian Sek, dan diajaknya ketempat sunyi diluar tahu Bok Tiong. Kandungan hatinya dibicarakan pada pemuda itu.

“Tempo hari, waktu kuantarkan Siau cu jin kekolam itu, ayah marah betul. Maka itu dlam hal ini aku harus memberi tahu dulu pada ayah…”

“Jika ayahmu sampai tahu, apa gunanya kubicarakan hal ini kepadamu?” kata Tiong Giok. “Pikirku mau mencoba keluar dari sini melalui kolam itu, sebab lain jalan tidak ada lagi. Lagi pula belum tentu berbahaya, tak perlu membuat orang tua itu cemas atau kuatir.”

“Siau cu jin tentu tahu tabiat ayahku,” kata Thian Sek. “Biar tidak berbahaya, asal dia tahu pasti tidak ada ampun bagi diriku!”

“Jangan kuatir aku bisa bertanggung jawab atas hal ini.”

“Ayahku tak bisa berbuat apa-apa pada Siau cu jin, tapi aku bagaimana? Kupikir biar bagaimana harus memberi tahu dulu padanya.”

Tiong Giok tahu dengan membujuk tidak ada gunanya, maka dengan wajah serius ia menggertak. “Hm, engkau sebagai murid dari Thian Liong Bun, sedangkan aku sebagai ketuanya apa yang dikatakan seorang ketua harus kau patuhi bilamana tidak hukumannya adalah penggal kepala.”

Bok Thian Sek menjadi melengak dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

“Sekarang kuperintahkan dirimu menyediakan rotan yang panjang, dan bawa ketepi kolam! Soal ini tidak boleh diketahui ayahmu!”

“Baik! Tapi kalau ayah tahu…”

“Jangan banyak bicara lagi, lekas pergi!”

Bok Thian Sek tidak berani berkata apa-apa lagi, cepat ia mencari rotan dan membawanya kedalam gua. Tiong Giok menantikan sejenak, ia celingukan keempat penjuru, setelah yakin Bok Tiong tidak ada disitu, cepat-cepat ia menyusul Thian Sek kedalam gua.

Sesampainya didalam gua, dengan cepat Tiong Giok mengikat dirinya dengan rotan, ujungnya diberikan pada Thian Sek. “Aku ingin mengetahui kolam ini berapa dalamnya…jika ada bahaya aku bisa menarik tiga kali, engkau harus cepat-cepat menarik diriku.”

Thian Sek menganggukkan kepala. “Siau cu jin sebagai Ciang bun jin dari Thian Liong Bun sebaiknya akulah yang turun kedalam kolam ini.”

“Kepandaianmu masih rendah, tak tahan lama didalam air, sedangkan aku sudah mempelajari ilmu dalam yang bisa menutup pernapasan agak lama, mengertikah?” kata Tiong Giok sambil menepuk-nepuk bahu pemuda itu. Diambilnya dua pedang pusaka, lalu terjun ketengah-tengah kolam.

Arus air sangat deras, sukar untuk seseorang selam kedalam. Tiong Giok menutup pernapasannya dan menjalankan ilmu Cian kin tui….tubuhnya mulai masuk kedalam air…sepuluh meter….dua puluh meter, akhirnya sampailah didasar kolam itu. Arus air semakin keras ia menempelkan dirinya didinding kolam sambil mengawasi situasi dan keadaan disitu. Kini ia mendapat tahu bahwa kolam itu merupakan huruf “X” terbalik. Dan ia pun bisa membedakan bahwa air masuk dari sebelah kanan dan keluar kearah kiri. Setelah itu kakinya menjejak dasar kolam merapung keatas.

Bok Thian Sek sedang terpekur ketengah-tengah kolam sambil memegangi ujung rotan, begitu melihat Tiong Giok timbul ia menjadi girang. “Bagaimana? Adakah jalan keluar?”

“Kuyakin ada! Sekarang ingin kucoba lagi, tapi tidak usah memakai rotan ini!”

“Mana boleh begitu, kalau ada bahaya bagaimana?”

“Jangan kuatir, aku berani berbuat begini karena ada sebabnya,” kata Tiong Giok. “Kesatu kolam melainkan sebagian permukaan air dari sebuah sungai yang melalui tanah. Kedua sungai ini tentu mempunyai bagian hulu atau hilir yang tidak melalui tanah. Ketiga sudah kuselidiki bagian kanan hulu bagian kiri adalah hilir. Artinya sungai ini mengalir dari bagian kanan ke bagian kiri.”

“Bilamana dugaan Siau cu jin benar, dapatkah kita ketahui berapa jauh sungai ini melalui tanah?”

“Mana bisa kutahu,” jawab Tiong Giok. “Inilah yang harus kucoba!”

“Andaikata bagian sungai yang ditanah ini sungai panjang, bagaimana? Bukankah berbahaya?”

“Itu terserah kepada takdir!” jawab Tiong Giok. “Mungkin bagian yang berada didalam tanah ini, satu lie panjangnya, mungkin seratus lie.pokoknya harus kucoba!”

“Bagaimanapun aku tak bisa mengijinkan Siau cu jin menempuh bahaya ini, sebelum memberitahu pada ayah…”

“Diam terus didalam gua ini akan mati juga, jika sampai mati karena tak berusaha aku merasa tak puas. Sebaliknya aku akan merasa puas bilamana mati karena berusaha mencari hidup!”

“Bagaimanapun Siau cu jin tak boleh pergi,” kata Thian Sek seraya membentangkan tangan mau merangkul Tiong Giok.

Dengan kecepatan kilat, Tiong Giok membalikkan tangan, membuat Thian Sek tertotok dan tak berdaya. “Terpaksa kutotok dirimu! Ingatlah jika aku tak kembali lagi, berarti mati terbenam didalam sungai ini. Kalian tak perlu mencoba lagi jalan ini. ” Sehabis berkata ia menyerahkan Thian Liong Giok Hu pada Thian Sek. “Jika aku tidak kembali lagi, engkaulah yang menjadi Ciang bun jin dari Thian Liong Bun. Ingatlah jika disuatu hari engkau bisa keluar dari lembah ini, datanglah ke Ciu cing san dan untuk menerima jabatan Ciang bun jin secara resmi.”

Thian Sek tidak dapat bergerak, tapi apa yang dibicarakan Tiong Giok terdengar jelas olehnya. Ia menjadi sedih, air matanya membasahi pipi.

“Tak usah bersedih hati! Kehidupan dasarnya adalah penderitaan. Lambat atau cepat aku akan mati dan berpisah dengan dunia fana ini! Bilamana belum takdirnya mati, bahaya yang bagaimanapun hebatnya bisa dilalui dengan selamat. Buktinya, aku terjatuh dari atas bukit itu dengan ayah angkatmu, maupun engkau sendiri, tapi sampai sekarang masih tetap hidup, karena belum takdirnya mati! Sekarang akan kuterjang bahaya ini bilamana belum takdirnya mati, tetap akan selamat. Totokan ini akan punah sendiri selang satu jam, ingatlah pesanku tadi!” kata Tiong Giok yang segera terjun kedalam air.

Arus air yang keras, tanpa mengeluarkan tenaga lagi, tubuhnya terhanyut cepat didalam terowongan sungai. Dengan memasang mata, ia melewati beberapa tikungan berbahaya. Kepandaiannya telah tinggi, ia bisa menggunakan ilmu dalam menyimpan pernapasan, sehingga bisa bertahan berjam-jam didalam air.

Arus air yang keras, dalam beberapa menit telah menghanyutkan dirinya beberapa ratus meter jauhnya dari gua tadi. Ia tetap menggunakan kekuatan air membiarkan dirinya hanyut. Tapi setelah beberapa menit lagi berlalu, arus air menjadi kendor. Terowongan tidak penuh berisi air seperti semula. Ia jadi girang, karena memudahkan baginya bernapas. Kini ia berenang dan berenang untuk keluar dari terowongan itu, hatinya menjadi girang, karena tak lama kemudian bisa melihat sinar terang masuk kedalam terowongan. Ia tahu jalan hidup sudah terbentang didepan mata. Dengan cepat ia menggerakkan kaki tangannya agar cepat-cepat sampai diluar, akan tetapi sebelum ia sampai diluar tampak berkelebatan sesosok bayangan masuk kedalam terowongan. Ia menjadi kaget, sebelum sempat berbuat apa-apa, tubuhnya telah tertangkap. Bayangan itu memiliki kepandaian luar biasa didalam air, tenaganya luar biasa. Tiong Giok dibuatnya tak berdaya, dan mandah saja dikempit dan dibawa keluar!

“Dapat! Dapat!” teriak yang mengempit Tiong Giok itu sekeluarnya dari dalam terowongan.

Tiong Giok menjadi girang, karena bisa melihat jelas, orang yang mengempit dirinya itu adalah Toa Gu sitolol itu. Dimulut terowongan tampak Yauw Kian Cee dan Ciu Kong. Begitu mereka melihat Tiong Giok, segera memberi hormat sambil memanggil “Siau cu jin” dengan suara parau. Sedangkan mata mereka tergenang air dan berkaca-kaca bahwa girangnya.

“Eh…katanya ingin betul bertemu dengan Siau cu jin, dan menyuruhku masuk kedalam gua air untuk mencarinya, kini sudah bertemu kenapa berlagak sedih?” kata Toa Gu.

Mendengar ini Tiong Giok tersenyum juga, cepat ia membalas hormat kedua orang tua itu sambil berkata. “Apa yang diucapkan Toa Gu adalah benar, pertemuan ini sangat menggirangkan bukan, untuk apa bersedih?”

“Waktu Siau cu jin jatuh kedalam jurang, kami tidak berdaya memberikan pertolongan. Untung Tuhan maha adil, melindungi Siau cu jin dari bahaya maut. Bilamana tidak, rasa sesal kami ini bisa terbawa mati!”

“Sudahlah,” kata Tiong Giok. “Eh.kalian kenapa bisa berada disini?”

“Biarpun Siau cu jin sudah jatuh, kami masih tetap bertekad untuk menemukan, maka itu dalam beberapa hari, kami menyelidiki keadaan disekitar ini, menjadi curiga, maka itu kusuruh Toa Gu menyelidikinya. Tak kira begitu dicoba, berhasil menemukan Siau cu jin!”

Tiong Giok menuturkan dengan ringkas keadaan dirinya sehabis jatuh dari atas bukit itu. Bagaimana keadaan Wan Jie dan ibuku?” tanya Tiong Giok.

“Tak perlu kuatir, mereka meneruskan perjalanan ke Kiu Yang Shia dibawah perlindungan Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee,” jawab Ciu Kong.

“Oh…Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee, mau mereka kesana?”

“Karena pertolongan dari Siau cu jin, Pek Kiam Hong memohon sendiri untuk mengantarkan ibumu kesana, kami tak bisa mencegah dan membiarkannya pergi. Sedangkan kami terus berada disekitar sini, untuk mencari jalan menemui Siau cu jin,” kata Yauw Kian Cee.

“Apakah Wan Jie dan Ceng Ceng turut juga kesana?”

“Ini…ya mereka turut juga kesana.” kata Ciu Kong agak gugup.

“Siau cu jin…” Kata Toa Gu yang terus membungkam lagi, karena dienterap Yauw Kian Cee. “Toa Gu, Siau cu jin tentu masih letih sekali lekaslah ambil arak dan makanan, bawa kesini.”

Toa Gu kepaksa tak bisa melanjutkan pertanyaan, cepat ia pergi menjalankan perintah Yauw Kian Cee.

Tiong Giok bukan manusia bodoh, ia kenal betul sifat polos dari Toa Gu, maka sambil tersenyum ia berkata: “Ada apa sih yang dirahasiakan kepadaku?”

“Siau cu jin jangan berkata begitu, sedikitpun tidak ada yang kamu rahasiakan,” kata Yauw Kian Cee.

“Memang kuharapkan demikian adanya, tapi kenapa Yauw Lo Cianpwee mencegah apa yang hendak diucapkan Toa Gu?”

Yauw Kian Cee dan Ciu Kong menundukkan kepala, yang aneh dari mata tunggalnya Ciu Kong meneteskan air mata.

“Apa yang sudah terjadi, jelaskanlah!” kata Tiong Giok ingin mengetahui penjelasan.

“Keadaan Siau cu jin baru lepas dari bahaya, maka segan untuk menuturkan secara jujur, nanti saja….” kata Yauw Kian Cee.

“Tidak!” kata Tiong Giok, “Kuminta penjelasannya sekarang juga!” katanya lagi.

Yauw Kian Cee dan Ciu Kong tetap membungkam. Saat ini Toa Gu sudah kembali dengan arak dan makanan. Begitu ia mengetahui kehendak Tiong Giok segera ia tertawa. “Aku tak bisa berdusta, sejak tadipun sudah ingin kukatakan.”

“Nah, katakanlah lekas!” seru Tiong Giok.

“Dua Lo Cianpwee ini membohongi Siau cu jin! Karena Wan Kounio dan Ceng Ceng tidak ikut ke Kiu Yang Shia, mereka….ng…ng…ng” Toa Gu dengan mendadakan menangis dan tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi.

“Katakan! Katakan! Apa yang terjadi pada mereka?” teriak In Tiong Giok.

“Wan Kounio ditangkap kaum Pok Thian Pang, Ceng Ceng melindungi, tapi tak berdaya, menderita luka parah…hampir.mati.ng…ng…”

Tiong Giok menarik napas, “Apakah betul?”

Yauw Kian Cee menganggukkan kepala.

“Kini Ceng jie berada dimana?”

“Disebuah gua yang tak seberapa jauh dari sini….” kata Ciu Kong.

“Antarkan aku menemuinya,” kata Tiong Giok. Segera ia berjalan, tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dengan tiba-tiba. “Toa Gu memiliki kepandaian di air yang luar biasa, kutugaskan untuk menolong Bok Tiong dan anaknya.” Diterangkannya dengan jelas keadaan terowongan air, dan letaknya kolam didalam gua dimana Bok Tiong berada. Disamping itu iapun menugaskan Yauw Kian Cee menjaga dimulut terowongan, sedangkan Ciu Kong diajaknya pergi untuk menemui Ceng Ceng.

“Hm, gara-garamu membuat Siau cu jin berduka,” kata Yauw Kian Cee setelah berada berduaan dengan Toa Gu.

“Apa yang kukatakan semuanya benar, apa salahnya?”

“Jangan ngomong saja, lekaslah masuk keair!”

Toa Gu segera terjun kedalam air untuk menjalankan tugasnya.

Sementara itu dengan cepat Ciu Kong telah mengajak Tiong Giok memasuki sebuah gua. Gua itu tidak lembab karena diserapi jerami-jerami kering, disitu terdapat persediaan makanan yang cukup. Agaknya mereka telah beberapa hari berdiam didalam gua itu.

Disalah satu sudut gua terdapat tumpukan jerami yang tebal, diatasnya tampak tergeletak tubuh Ceng ceng. Rambutnya riap-riapan wajahnya pucat sekali. Melihat sigadis yang biasa lincah dan bersemangat menjadi semacam ini, Tiong Giok menjadi pedih. Dan cepat dipegang pergelangan si gadis, setelah memeriksa hatinya menjadi legaan, karena sigadis belum mati. “Ceng Ceng! Ceng Ceng!” panggilnya dengan perlahan.

Ceng Ceng seperti mendengar perkataan itu, tampak ia memaksakan diri membuka matanya. Ia berhasil melihat, tetapi sepasang matanya yang tajam seperti rabun dan hilang kesegarannya, kuyu dan mati, sedikitpun tidak bersinar. Bibirnya seolah-olah ingin bergerak, tapi tak sepatah katapun yang keluar.

Tanpa terasa Tiong Giok mencucurkan air mata, dengan suara parau tersumbat isak tangisnya ia berkata: “Kenapa ia bisa menderita begini macam?”

“Waktu melindungi Wan Kounio kena dilukai seseorang yang berkepandaian tinggi, sehingga isi perutnya berubah hebat.disamping itu dalam beberapa hari kami sibuk mencari Siau cu jin, membuatnya kurang terawat benar,” kata Ciu Kong.

“Ceng Ceng memiliki kepandaian yang amat tinggi, jarang orang di Pok Thian Pang yang bisa menandingi kepandaiannya, aneh.siapa yang bisa melukainya begini macam?”

“Benar, orang biasa tak melukai Ceng Ceng tapi orang itu berkepandaiannya luar biasa sekali. Kekuatanku berdua Yauw Kian Cee baru bisa mengimbanginya, maka tak heran Ceng Ceng kena dilukai macam begini…”

“Ya, siapa orang itu?”

“Kami tidak mengenalnya,” kata Ciu Kong. “Tapi Wan Kounio memanggilnya Lo Cucong, mukanya tertutup kain cagas, sehingga tak terlihat wajah aslinya.”

“Oh…kiranya dia, tak sangka sampai iapun turun tangan sendiri,” kata In Tiong Giok dengan kaget.

“Apakah Siau cu jin kenal dengannya?”

In Tiong Giok menganggukkan kepala, tetapi dengan cepat menggelengkannya lagi. “Aku hanya mengetahui orang itu sebagai pemimpin tertinggi kaum Pok Thian Pang, biasa dipanggil Lo Cucong, seorang misterius yang berbahaya sekali, aku pernah melihat bayangannya sekali tapi belum pernah melihat parasnya.”

“Lo Cucong kepandaiannya tinggi sekali, dengan mudah ia menciduk Wan Kounio, Ceng Ceng segera memberi pertolongan, tapi hanya sekali kebut, budak ini menderita luka parah. Yauw Kian Cee bersamaku segera menyerang ia memberi tangkisan keras, kami dibikin mundur dua langkah.pada detik itulah Wan Kounio kena dibawa lari.”

“Bilamana hal ini terjadinya?”

“Yakni waktu Siau cu jin pergi mencari Liok Jie Hui, mereka datang menyerang. Untung kami keburu sampai dan berhasil menyelamatkan ibumu dan Tio Ma. Maka dikarenakan halangan itu, kedatangan itu, kedatangan agak terlambat dan tak berhasil menolong Siau cu jin…”

“Oh kalau begitu di siang hari bolong ia melakukan penangkapan itu?”

“Benar!” kata Ciu Kong. “Setelah mereka pergi, kami segera datang ketempat Siau cu jin bertemu dengan Liok Jie Hui, kami melihat Siau cu jin terjatuh kedalam jurang…kami menjadi cemas sekali! Untung Pek Kiam Hong dan Tiat Kounio menampilkan diri untuk mengajak ibumu ke Kiu Yang Shia sedangkan kami terus mencari Siau cu jin.”

“Dengan adanya Pek dan Tiat yang mengantar kedua orang tua itu, aku merasa lega, yang penting sekarang juga harus menolong Ceng Ceng. Sekarang juga aku akan mengobati Ceng Ceng dengan tenaga dalam, kuminta Ciu Lo Cianpwee menjaga diluar gua. Setelah Ceng Ceng sembuh, kita harus pergi kemarkas Pok Thian Pang untuk menolong Wan Jie.”

“Siau cu jin baru sembuh dari sakit, mana boleh sembarang menghamburkan tenaga sejati. Dalam hal ini biarlah aku dan Yauw Kian Cee yang mengerjakan.”

“Pokoknya kuminta Ciu Lo Cianpwee menurut apa yang kukatakan.”

“Janganlah untuk budak ini sampai merusak dirimu….”

“Jangan kuatir, paling lama dua hari dua malam, kujalankan pengobatan ini. Kuminta Ciu Lo Cianpwee menunggu didepan gua, bilamana Yauw Lo Cianpwee telah kembali, suruhlah mereka menantikan didepan. Lekaslah!”

Ciu Kong tidak bisa membangkang lagi, dengan seddih ia menuju keluar.

Dua puluh empat jam terhitung satu hari satu malam. Keadaan didalam maupun diluar gua begitu sunyi sekali. Seolah-olah tidak ada kehidupan di dalam kesunyian yang mencekam perasaan itu.

Sinar surya perlahan-lahan bergeser terus, begitu lama dan menyebalkan. Akhirnya sampailah disenja hari kedua. Tiong Giok belum pula selesaikan melakukan pengobatan. Sedangkan Yauw Kian Cee disaat inilah baru terlihat muncul bersama Toa Gu, Bok Tiong dan Bok Thian Sek. Ciu Kong segera menyambut kedatangan mereka dan menceritakan pula apa yang dikerjakan Tiong Giok.

“Siau cu jin baru sembuh dari lukanya, dan baru pula keluar dari tempat bahaya, kenapa Ciu heng tidak mencegahnya?” Yauw Kian Cee menyesali kawannya.

“Sudah kucegah, tapi tabiatnya yang kukuh membuatku tak berdaya!”

“Kejadian ini sebenarnya tidak patut Siau cu jin mengetahuinya, sekarang, tapi gara-gara Toa Gu yang tolol dan goblok ini membuat urusan berengsek! ‘ gerendeng Yauw Kian Cee.

Wajah Toa Gu menjadi merah matang, ia menundukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Kejadian ini sudah begini maunya, tak perlu saling menyesalkan, yang penting, kita harus menjaga keselamatan Siau cu jin,” kata Bok Tiong.

“Benar,” kata Ciu Kong. “Sewaktu menjalankan pengobatan dengan ilmu dalam Siau cu jin tidak boleh terganggu oleh apapun. Maka itu kita harus melakukan penjagaan yang ketat. Dua anak muda ini kita tempatkan diluar, sedangkan kita menjaga disini!”

“Dengar tidak?” tanya Yauw Kian Cee pada Toa Gu. “Berlakulah hati-hati, kalau ada bahaya lekas beri laporan.”

“Mengerti,” jawab Toa Gu singkat.

“Tapi jangan sembarangan membuka mulut sebab suaramu itu bisa membuat Siau cu jin celaka.”

Bok Tiong mengulapkan tangan kepada anaknya: “Ikutlah dengannya, dan berhati-hatilah!”

Thian Sek menganggukkan kepala, terus membuntuti Toa Gu dari belakang.

Dalam sekejap mereka telah sampai disuatu tempat yang tinggi, sejauh seratus meter dari gua. Toa Gu masih mendongkol, begitu melihat Thian Sek menghampiri dirinya segera menggebahnya: “Jangan dekatku, aku lagi sial! Nanti dirimu kebawa-bawa!”

“Tempat ini adalah yang paling cocok untuk berjaga, dari sini bisa melihat keadaan sekeliling bukan?” kata Thian Sek. “Lagi pula berjaga-jaga seorang diri sangat sepi, maka apa salahnya sebagai sute menemani orang suheng?”

“Ha? Aku Suheng? Tapi engkau tidak tahu, sejak aku masuk sebagai anggota Thian Liong Bun, diajari apa oleh Yauw Lo Ya itu?”

“Tentu ilmu yang tinggi-tinggi!”

“Hm, engkau salah! Ia hanya pandai memaki-makiku, goblok tolol…belajar cara begini biar seratus tahun tidak ada hasilnya…”

“Kenapa bisa begitu?”

“Sebab ia menganggapku goblok sekali dan memberikan pelajaran tidur!”

“Tidur?”

“Ya, tidur! Pikirlah apa gunanya belajar tidur?” kata Toa Gu dengan gemes. “Sekarang baru kutahu, ia kuatir terkalahkan olehku, baru berbuat begini macam, betul tidak?”

“Yang kutahu seorang guru mengharapkan muridnya pandai, maka dugaanmu itu salah besar!”

“Hm, rupanya engkau tak percaya!” kata Toa Gu. “Baiklah kujelaskan pelajaran tidur itu kepadamu Thian Sek, tiduran diatas sebuah batu lalu mengatakan cara-carfanya yang didapat dari Yauw Kian Cee pada Thian Sek.”

Thian Sek menurut saja apa yang diajari Toa Gu. Ia menjadi kaget, karena setelah menjalankan ilmu ajaran Toa Gu, peredaran darah maupun napas menjadi lambat dan kendur. Tak selang lama sekujur badannya menjadi lemas, rasa kantukpun menyerang dengan hebatnya. Sungguhpun begitu terasa pula bdan menjadi nyaman sekali.

“Bagaimana rasanya? Mengantuk dan ingin tidur bukan? Pikirlah ilmu macam ini apa gunanya?”

Keadaan Thian Sek sedang berada dialam tiada aku, apa yang diucapkan Toa Gu sedikitpun tidak terdengar. Membuat sitolol tersenyum-senyum, “Ha ha ha budak ini berbakat sekali, begitu diajari lantas pulas! Pelajaran macam ini cocok baginya, tapi tidak untukku!”

Pada saat inilah telinganya mendengar suara orang berkata, “Anak tolol apakah engkau tidak tahu inilah pelajaran Hoan poo poi kui cin untuk melatih ilmu dalam dari Thian Liong Bun yang terkenal lihay? Bukan ilmu tidur seperti yang kau katakan!”

Toa Gu segera berpaling. Dibawah sinar rembulan yang redup, ia melihat sesosok tubuh kurus. Dengan memberanikan diri ia menegur. “Engkau siapa?”

Si tubuh kurus itu menghampiri, lalu tersenyum kepadanya. “Manusia polos, kenalkah denganku?”

Toa Gu tanpa terasa membuka mata semakin lebar, sedang tubuh kurus yang dihadapi tetap kurus. Cuma ia bisa tahu orang kurus itu berkepala botak dan mengenakan baju kasa, ia seorang Hweesio. Ia seperti kenal tetapi tidak ingat dimana ia pernah bertemu. Hweesio itu tetap tersenyum menantikan jawaban.

“Aku kenal…tapi lupa lagi dimana pernah bertemu!”

“Ingat-ingatlah, siapa aku ini!”

“Engkau Hweesio!”

“Benar! Aku Hweesio! Namun dimana kita pernah bertemu? Mungkinkah engkau lupa sama sekali?” kata si Hweesio kurus itu.

Toa Gu mencoba mengingat-ingat, tapi tidak berhasil, ia membanting-banting kaki dengan gemes, atas daya ingatnya yang buruk itu.

“Orang polos….dasar polos…”

Perkataan polos ini mendatangkan ingatan padanya. “Aku ingat!” serunya dengan tiba-tiba. “Engkau Hweesio yang keluar dari gua di Hoay Giok san…kuingat engkau mengatakan aku orang polos dan bernafsu mengangkat diriku menjadi murid tapi aku tidak mau…betul tidak?”

“Bagus! Nyatanya kau masih ingat kepadaku, ya akulah It Piau!”

“Benar! Engkau It Piau!” kata Toa Gu. “Waktu itu seberlalunya engkau Siau cu jin mengatakan engkau adalah seorang aneh berkepandaian tinggi, aku dikatakan tolol tidak mau diangkat murid….ha ha ha, tak kira sekarang aku bertemu lagi denganmu.”

“Aku kebetulan sedang lewat disini,” kata It Piau, “aku mendengar suaramu dan melihat bagaimana caranya engkau memberikan pelajaran “tidur” kepada kawanmu. Ha ha ha engkau harus tahu ini pelajaran sejati dari Thian Liong Bun tahu? Mana Ciang Bun Jinmu?”

“Ada…ada….ada…”

“Baikkah?”

“Baik…baik…sangat baik…eh tidak, sedikitpuntidak baik! Kami sedang sial berulang-ulang mendapat kenaasan kini engkau datang, kuras tepat betul! Tentu engkau bisa membantu Siau cu jin kami, karena engkau lihay bukan?”

“Apa yang terjadi atas diri In Siau hiap?”

“Siau cu jin baik-baik, yang mendapat kecelakaan adalah Ceng Ceng. Sebenarnya Siau cu jinpun pernah celaka tapi sudah selamat.”

“Beritakanlah yang baik, aku bingung mendengar keteranganmu yang berbelit-belit macam itu.”

“Aku orang bodoh maka tak bisa bercerita dengan baik, beginilah: tunggu disini kupanggilkan Yauw dan Ciu Lo yacu, mereka pasti dapat menjelaskan dengan terang dan membuatmu puas.”

“Siapa itu Yauw dan Ciu Lo yacu?”

“Ha ha ha masakan engkau lupa? Mereka pernah engkau robohkan dengan ilmu gaibmu di Hoay Giok san.”

“Oh kiranya mereka, dimana sekarang mereka berada?”

“Tuh disana, tidak seberapa jauh!”

“Ajaklah aku kesana menemui mereka.”

“Tidak mau! Siau cu jin tidak bias menerima tamu, kedatanganmu kesini harus kuberi tahhu dulu pada mereka, kalau datang-datang bertemu dengan mereka, aku bisa dicaci maki!”

“Lekaslah beri tahu mereka, akan kutunggu disini!”

Toa Gu segera berlalu, tapi cepat-cepat balik lagi. “Ia adalah suteeku, jika ia bangun…” Katanya sambil menunjuk pada Thian Sek diatas batu.

“Jangan kuatir aku telah membantunya pulas benar-benar, dalam waktu sekejap ia tak mungkin bangun, pergilah lekas!”

“Kalau begitu gantikan aku jaga sebentar, jangan lupa bilamana ada orang yang mencurigakan jangan ribut-ribut, harus cepat-cepat memberi laporan kepadaku.”

“Ya aku mengerti, lekaslah, aku tak mempunyai banyak waktu nongkrong terus disini!”

Dengan cepat Toa Gu telah sampai didepan gua, ia melihat Yauw dan Ciu sedang bersila didepan gua sedangkan Bok Tiong yang berkepandaian agak rendah berada disebelah dalam gua. Begitu mereka melihat Toa Gu datang, menjadi kaget tak keruan, dan cepat-cepat bangun dari tempat silanya.

“Ada apa membuatmu tergesa-gesa?” tanya Yauw Kian Cee.

“Lo Yacu lekas kesini, ada orang…”

“Siapa yang datang? Ada berapa orang?”

“Hanya seorang Hweesio, ia bergelar It…Pi Hweesio…”

“It Pi Hweesio.apakah Yauw heng kenal dengannya?” tanya Ciu Kong.

“Tidak!” jawab Yauw Kian Cee.

“Sungguhpun Lo Yacu tidak kenal namanya tapi pernah bertemu dengannya, bahkan pernah pula dirugikan.”

“Siapa sebenarnya Hweesio itu?” Yauw Kian Cee menegasi dengan kaget.

“Hai….masakan daya ingat Lo Yacu lebih payah dariku.Hweesio yang di Hoay Giok San itu….yang membuat Lo Yacu tidur pulas.ingat tidak?”

“Aapakah yang kau maksud itu salah satu jago daari Kong bun sam kiat yang bernama It Piau Taysu?” tanya Yauw Kian Cee.

“Benar dia!”

“Kenapa kau katakan It Pi? Membingungkan orang saja!” kata Yauw Kian Cee.

“It Piau Taysu seorang manusia aneh yang memiliki kepandaian tinggi, bagaimanapun kita harus menyambutnya dengan baik. Tapi tugas kita menjaga Siau cu jin belum selesai, sebaiknya engkau saja Toa Gu yang mengundang dia kemari,” kata Ciu Kong.

“Sabar dulu!” seru Yauw Kian Cee.

“Apa lagi?” tanya Ciu Kong.

“Bagaimanapun kita tidak bisa meraba kandungan hati seseorang, sebaiknya kita tanyakan dulu apa maksudnya datang kemari,” kata Yauw Kian Cee.

“Kalau begitu jagalah baik disini, aku pergi menemuinya,” kata Ciu Kong.

“Bukan kata pikiranku sempit, tapi dalam keadaan begini mau tak mau harus bercuriga. Kuharap sebelum Ciu heng mengetahui maksud kedatangannya yang sebenarnya, berlaku hati-hatilah.”

“Aku mengerti,” kata Ciu Kong. Yang terus mengajak Toa Gu menemui It Piau Taysu. Sesampainya disana mereka melihat It Piau sedang bersila disamping Thian Sek yang masih tidur diatas batu.

Ciu Kong menghentikan kaki dalam jarak sepuluh meter dari tempat It Piau. “Yang rendah Ciu Kong memberi hormat kepada Taysu,” katanya sambil merangkapkan tangan memberi hormat.

Dengan tersenyum It Piau membuka mata lalu berkata: “Bagaimana keadaan Sicu, baik-baik sajakah?”

Begitu pandangan Ciu Kong beradu dengan sinar mata It Piau, ia menjadi kaget, cepat-cepat menundukkan kepala dan berkata: “Atas sikap kami yang ceroboh sewaktu di Hoay Giok San, harap Taysu maafkan…”

“Ha ha ha ha itu soal lama…lagi pula yang salah adalah Lona sendiri, Sicu tak perlu berkata begitu…kini Sicu berdiri begitu jauh dariku, apakah masih kuatir pada diriku? Apakah masih mengingat terus kejadian di Hoay Giok San?”

“Taysu jangan berkata begitu aku bukan manusia yang berpikiran cupet…”

“Oh kalau begitu baiklah, mari duduk dekatku…”

Ciu Kong segera menghampiri.

“Lona kebetulan lewat disini, bisa bertemu dengan teman-teman lama, merasa girang sekali…tapi kegirangan ini mendadak hilang…” “Pikirlah dari sini kedalam gua itu hanya seratus meter lebih, biar kepandaianku tak seberapa besar, jarak ini tidak berarti apa-apa bagi diriku…”

Ciu Kong mengerti bahwa Hweesio itu telah mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Yauw Kian Cee tadi. Ia menjadi jengah sendiri. “Taysu kalau sudah tahu apa yang kami bicarakan tadi adalah baik! Kenapa kami bisa berlaku curiga, semua ini demi keselamatan Siau cu jin kami. Atas ini kami mohon maaf kepadamu!”

It Piau tersenyum-senyum. “Kalian adalah orang-orang yang jujur dan setia, tapi kurang berpikir! Pikirlah, andai kata aku bermaksud kurang baik kepada Siau cu jin kalian, siang-siang sudah kulakukan di Hoay Giok San, kenapa harus menunggu sampai sekarang?”

“Sekali lagi kami minta maaf atas sikap kami yang terlalu curiga itu,” kata Ciu Kong. “Marilah kita kegua dan bicara disana.”

“Tak usah, yang perlu jelaskanlah kesulitan In Siau hiap dewasa ini kepadaku!”

“Soalnya anak angkatku menderita luka parah, sekarang sedang menerima pengobatan dari In Siau hiap, maka itu kami menjaganya siang dan malam agar usahanya itu tidak terganggu!”

“Apakah puterimu itu seorang gadis enam belas tahun? Yang senang mengenakan pakaian serba hitam dan pernah bertemu denganku sewaktu di Hoay Giok San?”

“Benar, dialah Ceng Ceng!”

“Dibagian mana ia menderita luka, dan siapa yang melukainya?”

“Ia menderita luka dibagian dadanya, yang melukainya adalah Lo Cucong!”

“Puterimu itu sudah berkepandaian tinggi, siapa itu Lo Cucong?”

“Maaf, kami hanya tahu namanya tidak tahu siapa orangnya.”

“Bolehkah aku memeriksa keadaan luka puterimu?”

“Ini….ini….”

“Hm, lukanya didada bukan? Itu tidak apa-apa! Lona seorang Hweesio yang sudah tua, mungkin masih….”

“Taysu jangan salah mengerti, soalnya bukan disitu! Soalnya saat ini Siau cu jin sedang menjalankan pengobatan kepada anakku itu, dan baru selesai besok sore!”

“Oh…kalau begitu baiklah kutunggu sampai besok sore!”

Ciu Kong tidak bicara lagi, lantas memberi hormat dan kembali lagi kegua.

It Piau Taysu melihat Toa Gu tidak turut kembali, maka dipanggilnya: “Hei orang polos, kemari kau! Mari kita ngobrol!”

Toa Gu menghampiri, wajahnya cemberut, “Ngobrol memang menyenangkan, tapi janganlah engkau memanggilku “polos”, aku tak senang dianggap sebagai manusia polos!”

“Kenapa tidak senang?”

“Pokoknya tidak senang saja!” jawab Toa Gu.

“Begitupun baiklah,” kata It Piau. “Ibarat sebuah batu kumala yang belum terasah, tidak memancarkan sinar indah, melainkan serupa dengan batu biasa. Toa Gu engkau tidak senang mempelajari ilmu dari Thian Liong Bun bukan? Maukah menjadi muridku dan mempelajari ilmuku?”

“Tidak mau!”

“Kenapa?”

“Aku sudah menjadi murid dari Thian Liong Bun, bagaimana bisa menjadi muridmu lagi?”

“Jika kuminta In Siau hiap menyerahkan dirimu, untuk kujadikan murid, bagaimana?”

“Hm, ini bukan soal dagang, pokoknya aku manusia dan bukan barang, biar Siau cu jinku meluluskan permohonanmu, kalau aku tak setuju, engkau bisa apa?”

“Sayang bakat yang baik ini tidak bisa kupupuk. Baiklah, dengan waktu yang singkat ini, kubantu dirimu!” Sehabis berkata, lengannya dengan kecepatan kilat menotok kedada Toa Gu. Membuat yang disebut belakangan tidak bisa berkutik lagi. “Ah.Hweesio apa yang hendak kau perbuat pada diriku?” tanya Toa Gu yang masih bisa bebas berkata-kata.

It Piau tidak menjawab, lengannya bergerak lagi, tubuh Toa Gu seperti kena magnit, menempel ditangannya, tak bisa berkutik barang sedikitpun, tubuh itu diletakkan diatas batu, lalu ditotok jalan darahnya. Setelah itu It Piau mengeluarkan sebuah kotak kumala, begitu tutup kotak dibuka, bertebaran hawa harum yang sejuk. Kotak itu berisi sebuah kolesom yang sudah tua sekali. Bentuknya seperti orang, biasa dianggap mustika dunia Kang Ouw. It Piau membuka mulut Toa Gu dan menjejalkan kolesom itu tak ubahnya seperti tepung halus. Begitu kena air ludah sitolol, terus masuk kedalam perut dengan mudahnya. Berbareng dengan ini It Piau menepak-nepak sekujur tubuh sitolol. Dalam sekejap tampak perubahan hebat pada Toa Gu, perutnya turun naik dengan cepat, dan keringatnya mengucur deras seperti air hujan. Sesudah hal itu berlangsung sejam lebih, Toa Gu menjadi pulas dengan tenangnya.

Bintang mulai menyepi, malampun menjadi hilang. Pagi telah datang, dengan seorang diri It Piau Taysu datang kegua. “Waktunya sudah sampai dapatkah Lona menemui In Siau hiap?”

Yauw Ciu dan Bok dengan serempak memberikan hormat pada Hweesio itu.

“Sungguhpun waktunya sudah sampai, tapi Siau cu jin kami belum selesai dengan pengobatannya harap Taysu bersabar sejenak.” It Piau Taysu mengangguk, sungguhpun begitu ia menghampiri mulut gua telinganya ditempelkan pada dinding gua. Sejenak wajah Hweesio itu berubah dengan mendadak: “Sam wie benar-benar lalai lekaslah berikan bantuan pada In Siau hiap, yang hampir kehabisan tenaga!”

Ciu Kong bertiga ragu-ragu atas keterangan Hweesio itu. Tapi dengan cepat mereka menjadi kaget, karena dari dalam gua terdengar suara bluk perlahan, seperti suara tubuh orang jatuh ketanah. Serentak pula wajah mereka berubah pucat setelah menyaksikan keadaan didalam.

Terlihat Ceng Ceng menggeletak, wajahnya yang pucat telah menjadi semu dadu, tetap belum sadarkan diri. Lengan kirinya Tiong Giok masih menempel diubun-ubun gadis itu. Sedangkan lengan kanannya, menempel kedinding gua, menunjang tubuhnya yang telah bermandi keringat. Agaknya ia telah jatuh sekali, karena kehabisan tenaga, kini terlihat lengannya itu bergetar keras…

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee dengan cepat mengeluarkan sebuah lengannya, menunjuang pinggang Tiong Giok sambil menyalurkan tenaga dalamnya.

Bok Tiong tak bisa berbuat apa-apa, dalam bingungnya ia mendengar It Piau berkata dengan perlahan: “Lekaslah ambil secawan air bening! Ia terlalu menforsir tenaganya sampai habis-habisan, takmudah tertolong dengan cara begini!”

Bok Tiong dengan cepat keluar dan kembali lagi dengan air bening.

It Piau Taysu mengeluarkan sebuah peles kecil dari lengan bajunya, lalu memasukkan kedalam cawan. Setelah obat itu diaduk rata dengan jarinya, diserahkan lagi pada Bok Tiong. “Siap sedialah dengan obat ini! Perhatikan baik-baik, begitu Lona menarik lengan kirinya In Siau hiap, sicu harus memberikan obat ini, waktunya harus tepat, tidak boleh kecepatan atau kebelakangan!”

“Ya, silahkan Taysu bekerja!”

It Piau Taysu dengan hati-hati, meletakkan lengan kirinya kekening Ceng Ceng, sedangkan lengan kanannya memegang lengan Tiong Giok. “Kasih obat!” katanya dengan perlahan, sambil menarik lengan kiri pemuda kita.

“Sing” terdengar suara halus seperti balon kemps, keluar dari lengan kiri Tiong Giok.Berbareng dengan itu tubuhnyapun jatuh kebelakang. Bok Tiong dengan tangkas membuka mulut si pemuda dan mencekoki obat dalam waktu yang bersamaan dengan perintah It Piau Taysu.

Sambil menarik napas panjang It Piau mengeluarkan lagi dua pil, satu dimasukkan kemulut Tiong Giok, sebutir lagi kemulut Ceng Ceng. “Untung aku kembali ke Tibet dan membawa obat-obatan ini, bilamana tidak entah bagaimana jadinya dengan In Siau hiap dan Ceng Ceng ini.”

“Atas pertolongan ini, aku sibudak tua mengucapkan banyak terima kasih kepada Taysu,” kata Bok Tiong.

“Budak? Apakah engkau pegawai dari keluarga In Siau hiap?”

“Ya, aku Bok Tiong pegawai dari keluarga In Siau hiap!”

“Itu pemuda she Bok yang berada diluar pernah apa dengan sicu?”

“Ia adalah anak angkatku,” berkata sampai disini, tiba-tiba Bok Tiong ingat bahwa anaknya itu dan Toa Gu bersama-sama Hweesio ini diluar gua, kenapa sampai saat ini tidak kelihatan mata kepalanya. Berpikir sampai disini cepat ia memberi hormat. “Silahkan Taysu istirahat sejenak, aku keluar!”

“Silahkan!” kata It Piau.

In Tiong Giok belum sadar, ia masih dibantu terus oleh Yauw Kian Cee dan Ciu Kong, sedangkan Ceng Ceng seperti tidur pulas. Perlahan-lahan It Piau mendekati lengannya terlihat menyingkap baju sigadis, sepasang buah dada yang begitu indah berada didepan matanya, ia memeriksa dengan seksama. Tampaklah sebuah telapak tangan yang berwarna merah tertanda yang berada dikulit si gadis itu. Melihat ini It Piau menjadi kaget sekali. “Hiat ciu ing” (telapak tangan darah)! Kiranya dia!” Suaranyapun bergetar penuh kecemasan. Dan cepat ia mengeluarkan jerijinya dan menggoreskan ke dinding gua, setelah itu iapun berlalu tanpa pamit lagi…waktu Bok Tiong kembali kedalam gua, bayangan It Piau sudah tiada lagi.

Pada saat inilah Ceng Ceng mendusin dari tidurnya, begitu ia melek dan melihat bajunya yang tersingsing dan lalu bangun merapikan pakaiannya.

“Nona apakah engkau melihat kemana perginya Hweesio itu?”

“Hm, aku tak perduli dengan Hweesio itu, tapi ingin kutanya, engkau manusia macam apa tua-tua tidak tahu diri?”

“Kenapa nona bertanya begitu, aku salah apa?”

“Hm, pura-pura gila, nih rasakan dulu hajaranku!” seru Ceng Ceng yang terus menggerakkan tangan. Serangannya begitu cepat sekali, sebelum Bok Tiong bisa berbuat apa-apa, lengannya telah dipelintir!”

“Nona apa-apa….aduuuuh…” teriak Bok Tiong.

“Hm, kuhabiskan kau tua bangka tidak tahu diri, yang berani mengganggu perempuan baik-baik!”

Bok Tiong tidak bisa berbuat apa-apa, nampaknya ia akan celaka ditangan Ceng Ceng yang sedang marah itu.

“Ceng Ceng jangan semberono, lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar suara halus memberikan pertolongan pada Bok Tiong. Tampak Yauw Kian Cee dengan mandi keringat telah bangun dan mencegah Ceng Ceng mencelakakan Bok Tiong. Menyusul terlihat In Tiong Giok dan Ciu Kong sudah bangun juga dengan mandi keringat pula seperti Yauw Kian Cee. Tampaknya mereka letih sekali dan lemas. Ceng Ceng melepaskan Bok Tiong dan menubruk kepada Tiong Giok. “Siau cu jin, tidakkah aku sedang bermimpi?”

Tiong Giok membiarkan dirinya dipeluk si gadis, karena ia bisa memaklumi kegirangan gadis itu. Dengan tersenyum diusap-usap rambut gadis itu. “Inilah kenyataan bukan impian!”

“Hei budak tolol, lekas haturkan terima kasih kepada Siau cu jin, ialah yang menolong jiwamu dari kematian!” bentak Ciu Kong.

Si gadis menekuk lutu, tapi cepat-cepat dibanguni Tiong Giok. Mereka ini saling tatap, penuh girang dan terharu. “Akulah yang harus berterima kasih kepadamu, untuk menolong Wan Jie engkau menderita begini macam.”

Ceng Ceng segera menjawab. “Siau cu jin jangan gusar, karena kepandaianku yang rendah ini, tak mampu melindungi Wan Kounio.”

“Engkau telah berusaha mati-matian, tapi mau dikata apa kalau takdir maunya begitu,” hibur Tiong Giok. Ia berpaling pada Bok Tiong yang masih kesakitan dan mengurut-urut lengannya, bekas dipelintir Ceng Ceng.

“Apa yang terjadi barusan? Kenapa engkau menyerang Bok Lo Cianpwee?”

Ceng Ceng menundukkan kepala dan menjawab dengan perlahan. “Aku tak kenal dengannya…tapi…ia berani membuka bajuku.”

Mendengar ini Yauw Ciu dan In Tiong Giok menjadi kaget, mereka dengan tajam memandang Bok Tiong seorang. Kasihan orang tua ini, ia menjadi bingung mendapat tuduhan semacam ini. Muka tuanya menjadi matang biru, lengannya segera digoyang-goyangkan. “Pikirlah aku sudah setua ini, mana bisa berlaku semacam ini…aku baru kembali dari luar dan datang mencari It Piau Taysu kemari, Hweesio tidak kutemui, sebaliknya mmebuat Ciu Kounio bangun.tahu-tahu aku diserangnya…”

“Ha ha ha,” Ciu Kong tertawa geli, karena ia ingat bahwa Hweesio itu pernah mengatakan mau melihat tempat luka Ceng Ceng. Dan tentu hal ini dilakukan, sedangkan Bok Tiong yang tidak tahu apa-apa ketiban sial membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Yang lain menjadi heran, dan terus memandang jago tua bermata satu itu dengan tanda tanya. “Apa yang ayah tertawakan?” tanya Ceng Ceng.

“Aku tertawakan kesialan dari Bok heng!” jawab Ciu Kong sambil menjelaskan kandungan hatinya.

“Kini kemana perginya Hweesio itu?” tanya Ceng Ceng.

“Entahlah!” kata Bok Tiong. “Bukan saja ia membuka bajumu, Toa Gu dan Thian Sek pun dibikin tidur, sehingga belum pernah mendusin sampai sekarang!”

“Kapan dia datang kemari?” tanya Tiong Giok.

Ciu Kong segera menuturkan kedatangan Hweesio itu dengan jelas.

“It Piau Taysu seorang bulim yang luar biasa, pasti tindak tanduknya takkan bisa merugikan Toa Gu maupun Thian Sek. Dan iapun segera pergi setelah memeriksa luka Ceng Ceng,” Tiong Giok berhenti bicara dan terus menunjuk kedinding gua. “Bukankah itu tulisannya?”

Dengan serentak sekalian yang berada disitu memandang kearah yang ditunjuk, benar saja didinding gua itu terlihat tulisan yang berbunyi: Suatu firasat buruk membuatku cemas dan pergi tanpa pamit pedang pusaka kupinjam untuk membasmi kejahatan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: