Kumpulan Cerita Silat

22/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:52 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 03: Kau Menipu Aku Berdusta
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Malam hari. Tapi malam belum begitu larut. Sukong Ti-sing tidak mabuk, dan telah pergi. Liok Siau-hong, tentu saja, tidak diracuni. Sukong Ti-sing bukan tipe orang yang suka memasukkan racun ke dalam arak. Di samping itu, jika ia menggunakan racun, Liok Siau-hong tidak akan meminumnya.

Tapi terlihat secercah senyuman di wajah Sih Peng.

“Ia tentu akan kalah kali ini!” Tiba-tiba ia menarik nafas.

“Ia tentu kalah?”

“Benda itu ada padamu, dan kau tahu kalau dia akan datang untuk mencurinya. Bagaimana mungkin dia bisa berhasil?”

“Dia adalah Raja Pencuri, dan seorang Raja Pencuri tentu memiliki segala macam cara yang aneh dan ganjil untuk mencuri suatu benda!”

“Kau benar-benar tidak yakin kalau kau dapat mengalahkannya?” Sih Peng bertanya.

Liok Siau-hong tertawa kecil dan menuangkan secawan arak untuk dirinya sendiri. Tapi dia tidak meminumnya, dia hanya menatapnya, seakan-akan terpesona olehnya.

“Apa yang sedang kau fikirkan? Orang yang menginginkan dia mencuri benda itu darimu?” Sih Peng bertanya.

Liok Siau-hong tidak membantahnya.

“Mungkinkah orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang menyulamnya?” Sih Peng bertanya.

“Sangat mungkin.”

“Jika aku adalah kamu, aku akan memutar otakku untuk mencari cara agar bisa memaksanya memberitahuku siapa orang itu.”

“Kau bukan aku!”

“Bagus juga kalau begitu,” Sih Peng tersenyum manis. “Jadi aku tidak menanggung semua kekhawatiran dan kesulitan yang kau miliki!”

“Dan itulah sebabnya kau amat bahagia!”

“Ya, amat bahagia!”

“Nah, karena kau sedang bahagia, kau akan memberitahu kan?” Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum.

“Memberitahu apa?” Sih Peng seolah sudah lupa lagi.

“Tentang sepatu merah, tentunya!”

Sih Peng mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, dan merasa bahwa dia tak bisa menyimpan rahasia ini lagi.

“Kau tahu Jing-ih-lau?” Tiba-tiba ia bertanya.

Liok Siau-hong mengangguk. Tentu saja ia tahu.

“Nah, Sepatu Merah itu seperti Jing-ih-lau, sebuah organisasi yang sangat rahasia. Satu-satunya perbedaan dengan Jing-ih-lau adalah tidak adanya laki-laki di dalam organisasi ini. Maka mereka lebih keji dan kuat daripada Jing-ih-lau!”

“Mengapa begitu?”

“Karena wanita memang lebih kuat daripada pria.” Sih Peng tertawa dan menjawab dengan cerdik.

“Dan?”

“Dan tidak ada lagi, itu saja.”

“Itu saja?” Liok Siau-hong hampir melompat keluar dari kulitnya. “Apa maksudmu dengan itu saja?”

“Itu saja, artinya itu saja yang aku tahu.” Sih Peng menjawab dengan santai. “Itu artinya, walaupun kau menodongkan sebilah pisau di leherku, aku tak bisa bercerita lebih banyak lagi.”

Liok Siau-hong terdiam dan hanya memandangi gadis itu dengan tatapan bodoh selama beberapa saat.

“Perempuan memang lebih kuat daripada laki-laki,” ia menarik nafas, “mereka tidak bermain secara jujur!”

“Sejak kapan aku tidak bermain dengan jujur?” Sih Peng menatapnya. “Apakah aku tidak memberitahumu siapa orang-orang yang memakai sepatu merah ini? Apakah aku juga tidak memberitahumu bahwa Sepatu Merah adalah sebuah organisasi yang sangat rahasia? Kau tidak puas juga?”

“Ternyata mereka bukan saja tidak bermain dengan jujur, mereka pun merasa lebih pintar sendiri.” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Kau tahu kalau si penyulam berjenggot besar itu adalah seorang wanita yang menyamar, kan?” Sih Peng tampaknya agak malu karena ucapan Liok Siau-hong itu dan mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. “Dan kau juga tahu kalau dia memakai sepatu merah. Kau tahu cukup banyak sebenarnya!”

“Dan itulah sebabnya aku merasa puas.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Sangat puas!”

“Nah, karena kau merasa puas, mengapa kau tidak menuangkan secawan arak untukku?” Sih Peng tersenyum.

“Wajahmu sudah lebih merah daripada sepatu-sepatu merah yang mereka pakai,” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin. “Dan kau masih ingin minum lagi?”

“Aku ingin mabuk malam ini,” Sih Peng menggigit bibirnya. “Di samping itu, di sini ada sebuah tempat tidur. Jika aku mabuk, aku akan berbaring di tempat tidur itu.”

“Jangan lupa kalau aku pun berada di kamar ini!”

“Jadi kenapa kalau kau berada di ruangan ini?” Sih Peng meliriknya dari sudut matanya. “Memangnya aku takut padamu?”

“Kau berusaha mabuk agar kau bisa mengumpulkan cukup keberanian untuk merayuku?” Liok Siau-hong pun meliriknya dari sudut matanya.

Wajah Sih Peng kembali memerah, tapi kali ini ia tidak menundukkan kepalanya, tapi malah menatap langsung ke mata Liok Siau-hong.

“Kau tidak ingin aku merayumu?”

“Sejak awal kau memang berencana untuk merayuku?”

“Memangnya siapa dirimu? Phoa An? Song Giok?”

{Catatan: Phoa An dan Song Giok adalah dua orang penakluk wanita dan playboy terkenal dalam dongeng.}

Liok Siau-hong tiba-tiba bangkit.

“Apa yang kau lakukan?” Sih Peng bertanya.

“Aku berdiri, maka tentu saja aku akan pergi!”

“Kau benar-benar ingin pergi?”

“Karena kau tidak akan merayuku, lalu untuk apa aku tinggal di sini?”

“Puh!” Sih Peng tertawa kecil. “Kau ini memang bodoh. Aku tidak merayumu, tapi tak bisakah kau yang merayuku?”

“Sayangnya aku tidak biasa merayu orang, selalu orang lain yang biasanya merayuku!”

“Tidak bisakah kau membuat sebuah pengecualian untukku?” Sekarang ucapan Sih Peng sudah hampir berupa bisikan. Wajahnya semakin memerah, lebih merah daripada bunga persik di musim semi, merah seperti persik madu. Liok Siau-hong tiba-tiba menarik nafas dan duduk kembali dengan lambat.

“Apa yang kau takutkan?” Sih Peng memandangnya dan menggoda. “Kau bahkan belum mulai merayuku, dan kau telah basah kuyup oleh keringat!”

“Karena aku merasa amat kepanasan!”

“Aku juga merasa kepanasan!”

“Tapi kau adalah salju dan es, bagaimana mungkin kau bisa merasa kepanasan?” Liok Siau-hong bergurau.

{Catatan: Di sini Liok Siau-hong membuat lelucon berdasarkan nama Sih Peng. Sih adalah homofon dari kata salju dan Peng berarti es.}

“Aku pun heran, mengapa aku merasa kepanasan?” Ia berkedip-kedip beberapa kali dan tiba-tiba bertepuk tangan tersadar. “Aku tahu!”

“Apa yang kau tahu?”

“Sukong Ti-sing mungkin tidak memasukkan racun ke dalam arak, tapi memasukkan semacam obat bius yang membuat kita merasa seolah-olah sedang terpanggang!”

“Dan jika kita merasa kepanasan, kita tentu akan melepaskan pakaian kita.”

“Benda itu ada padamu, dan jika kau melepaskan pakaianmu, hal itu akan memberinya kesempatan yang dia butuhkan!”

“Aku ingin tahu dari mana si Raja Maling mendapat ide yang begini bodoh!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Caranya ini mungkin bodoh, tapi sangat efektif!”

“Sayangnya benda itu sama sekali tidak ada padaku,” Liok Siau-hong tertawa dan berkata dengan terus terang. “Maka dia tetap tidak bisa mencurinya!”

“Kau telah menyembunyikan benda itu di tempat lain?” Sih Peng bertanya setelah dibuat tercengang oleh ucapannya itu.

“Menyembunyikannya di sebuah tempat yang tidak akan pernah terfikir olehnya walau dalam sejuta tahun.” Liok Siau-hong tertawa. “Bahkan jika dia memiliki 30 buah tangan, yang bisa dia curi dariku di sini hanyalah beberapa helai pakaianku yang usang.”

“Kau jahat sekali!” Sih Peng cekikikan.

“Memang selalu begitu.”

Saat itu ada seseorang yang sedang berada di atas atap bangunan seberang. Tentu saja, dia tak lain tak bukan adalah Sukong Ti-sing. Saat ini dia sedang mencaci-maki Liok Siau-hong di dalam hatinya.

“Si keparat kecil ini benar-benar telur busuk!” Ia lupa kalau ia sendiri adalah seorang telur busuk, seorang yang bukan telur busuk tak akan pernah bersembunyi di atas atap dan menguping percakapan orang lain.

“Di mana telur busuk kecil ini menyembunyikannya?” Sukong Ti-sing mulai mengingat-ingat ke mana saja Liok Siau-hong pergi seharian tadi. Tadi mereka minum-minum di luar, dan ketika waktunya telah tiba, mereka pindah ke dalam. Selain dari kedua tempat ini, Liok Siau-hong hanya pernah buang hajat sekali!

“Mungkinkah dia menyembunyikannya di kakus? Itu adalah kemungkinan yang sangat bagus, Liok Siau-hong si bangsat ini memang bisa melakukan apa saja.”

“Atau mungkinkah dia menyembunyikannya di dalam kendi arak, tempat yang dia kira tidak akan pernah aku fikirkan!”

Sekarang Liok Siau-hong telah melepaskan jubah luarnya dan meletakkannya di punggung kursi di dekat jendela. Jendela itu tidak ditutup. Benda itu jelas tidak berada di dalam jubah tersebut, kalau tidak dia tak akan bersikap begitu tidak memperdulikannya!

Liok Siau-hong bukanlah orang yang tidak teliti, dan menggali 680 ekor cacing pun tidaklah lucu. Sukong Ti-sing memutuskan untuk pergi. Ia baru saja hendak bangkit tapi tiba-tiba berhenti dan matanya bersinar-sinar. Jika Liok Siau-hong memang menyembunyikan benda itu di dalam jubah, bukankah itu adalah tempat yang tidak dia perkirakan sama sekali? Apakah dia sengaja mengucapkan kata-kata tadi agar didengar oleh Sukong Ti-sing?

“Telur busuk kecil ini benar-benar seekor rubah cilik!” Sukong Ti-sing tertawa pada dirinya sendiri. “Tapi sayangnya hari ini kau bertemu dengan seekor rubah tua!”

Senyumannya membuat tampangnya sedikit mirip dengan seekor rubah tua.

Jubah itu tergantung di atas punggung kursi sana, dia bisa melihatnya, tapi tidak bisa menyentuhnya. Maka apa yang harus ia lakukan? Tentu saja rubah tua ini punya cara. Raja Maling bukanlah gelar yang ia curi. Suara tawa terdengar dari dalam ruangan itu, apa yang membuat mereka begitu gembira?

Apakah mereka sedang menertawakan orang tolol yang berada di luar, yang sedang makan angin dan menonton mereka minum arak?

Sukong Ti-sing tiba-tiba melompat turun dari atap, mendorong pintu hingga terbuka, dan berjalan masuk. Mata Sih Peng hampir melompat keluar dari kelopaknya ketika dia menatap Sukong Ti-sing dengan perasaan terkejut, seakan-akan ia tidak pernah membayangkan bahwa orang ini akan muncul secara tiba-tiba. Liok Siau-hong juga demikian.

Tapi Sukong Ti-sing tidak memperdulikan mereka, dia duduk dan meminum secawan arak.

“Minum arak rasanya memang lebih enak daripada makan angin.” Ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Siapa yang menyuruhmu makan angin?” Sih Peng tersenyum.

“Aku sendiri!”

“Apakah kau juga seorang tolol besar seperti dia?” Sih Peng mengedip-ngedipkan matanya dan tertawa.

“Walaupun aku bukan orang tolol, paling tidak aku ini berkepala kosong.”

“Kau mengakui kalau kau berkepala kosong?” Sih Peng berusaha menahan tawanya.

“Jika aku tidak berkepala kosong, lalu mengapa aku mau bertaruh dengannya?” Sukong Ti-sing menarik nafas.

“Kau fikir itu tidak ada gunanya?”

Sukong Ti-sing mengangguk.

“Dan itulah sebabnya taruhan ini harus dibatalkan!”

“Taruhan ini dibatalkan?” Liok Siau-hong hampir menjerit. “Apa maksudmu taruhan ini dibatalkan?”

“Taruhan ini dibatalkan, artinya taruhan ini dibatalkan!”

“Tapi kita telah membuat perjanjian!”

“Banyak perjanjian yang kemudian dibatalkan. Dan banyak ucapan yang bisa dianggap sebagai kentut!”

“Aku tidak faham,” Liok Siau-hong tersenyum sabar setelah menatapnya sambil tercengang heran sebentar. “Mengapa kau tiba-tiba membatalkan taruhan ini?”

“Kau kira aku tidak tahu kotoran apa yang sedang kau keluarkan?” Sukong Ti-sing mendengus.

“Memangnya kotoran macam apa yang aku keluarkan?”

“Kau akan membiarkanku mencuri benda itu dan kemudian mengikutiku untuk melihat pada siapa aku memberikan benda itu.” Sukong Ti-sing mendengus. “Dengan cara itu, walaupun aku menang, aku juga yang rugi akhirnya.”

“Bagaimana kau bisa berfikir begitu?” Liok Siau-hong terlihat seperti seorang anak kecil yang polos. “Aku tidak faham.”

“Kau pasti faham, kau lebih faham daripada siapa pun!”

“Mengapa aku sengaja membiarkanmu menang?” Liok Siau-hong menarik nafas. “Kau benar-benar mengira kalau aku suka menggali cacing?”

“Karena kau benar-benar ingin tahu siapa orang yang menyuruhku mencuri benda itu. Dan untuk itu, hanya ini satu-satunya cara. Untuk mendapatkan apa yang engkau inginkan, kau bersedia melakukan apa saja!”

“Kau benar-benar menganggap aku orang seperti itu?” Liok Siau-hong tersenyum sabar.

“Aku tidak perduli kau orang macam apa, aku tidak mau meneruskan taruhan ini lagi. Karena aku telah memutuskan bahwa aku tidak boleh terperdaya olehmu!” Ia menuangkan secawan arak dan meminumnya dalam satu tegukan. Setelah itu ia mundur dan tertawa sebanyak 3 kali. “Arak yang bagus! Rasanya jauh lebih enak daripada angin!”

Kalimatnya itu belum selesai ketika dia sudah berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Liok Siau-hong mengawasi kepergiannya, dan duduk termangu sebentar sebelum sebuah senyuman tiba-tiba tersungging di bibirnya.

“Orang ini benar-benar seekor rubah tua!”

“Kau benar-benar bermaksud membiarkan dia menang?” Sih Peng bertanya.

“Rubah tua itu benar, memang hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tahu siapa yang memberikan tugas itu padanya!” Liok Siau-hong tertawa.

“Dan semua yang kau ucapkan tadi memang untuk memberitahu padanya di mana benda itu berada?”

“Tepat sekali!”

“Tapi aku masih tidak bisa membayangkan di mana tepatnya kau menyembunyikannya!” Sih Peng menarik nafas.

“Benda itu ada di dalam pakaianku!”

“Di dalam jubah yang ada di kursi itu?” Sih Peng tertegun.

“Dari tadi ada di situ!”

“Tapi barusan kau bilang…..”

“Aku mengatakan itu karena aku tahu bahwa cepat atau lambat dia akan tahu bahwa aku sedang berusaha untuk mengalihkan perhatiannya!”

“Aku masih belum faham.”

“Aku sengaja meletakkan jubahku di sana, tentu saja orang biasa tidak akan curiga kalau benda itu ada di dalamnya. Tapi dia bukan orang biasa, dia adalah si Raja Maling!”

“Maka kau telah menduga bahwa cepat atau lambat dia akan tahu kalau benda itu ada di dalamnya!”

“Aku memang meletakkannya di sana agar dia bisa mencurinya!”

“Jadi, ternyata kau memasang tipuan di dalam sebuah tipuan lain.” Sih Peng akhirnya mengerti. “Kau memang bermaksud membiarkan dia mencurinya!”

“Ya, aku ingin dia mencurinya, tapi aku tidak boleh membuat hal itu terlalu mudah karena aku tidak ingin dia curiga!”

“Tapi dia tetap saja curiga dan tidak mau terperdaya!”

“Itulah sebabnya aku mengatakan bahwa dia benar-benar seekor rubah tua,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Sayangnya, walaupun…..”

“Apanya yang sayang?”

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa kecil.

“Sayangnya dia tetap saja terperdaya akhirnya!”

Sih Peng tercengang sebentar sebelum akhirnya tersenyum lembut.

“Aku tidak faham lagi.”

“Dia tetap mencuri benda itu!”

“Kapan dia mencurinya?”

“Barusan!”

Sih Peng tak tahan untuk tidak mengambil jubah yang ada di kursi itu dan mengguncang-guncangnya sedikit. Sehelai kain satin merah pun terjatuh, di atasnya tersulam sekuntum peoni hitam.

“Bukankah barangnya masih ada di sini?”

“Tapi kain satin ini bukan yang asli lagi!”

“Kau bilang dia telah mengganti kain satin milikmu itu dengan kain ini?”

“Perhatikan dengan teliti, bukankah ada beberapa perbedaan di antara keduanya?”

Perbedaannya memang tidak jelas, tapi ada.

“Dia mungkin telah mengetahui dari Kim Kiu-leng seperti apa kain satin itu dan sulamannya, lalu dia mencari seseorang untuk membuat sulaman seperti itu untuk ditukarkan dengan kain milikku!”

“Dia begitu cepat, tak heran kalau dia dijuluki si Raja Maling!” Sih Peng menarik nafas. “Tadi aku mengamatinya sepanjang waktu dan tetap tidak melihat bagaimana dia melakukannya.”

“Dia mungkin mengira bahwa aku pun tidak melihatnya.” Liok Siau-hong tersenyum. “Ia mungkin mengira bahwa aku masih belum tahu!”

“Kau telah memeriksa kain satin ini berulang kali. Dan sekarang, karena benda itu tidak dicuri, kau tentu akan menyembunyikannya di suatu tempat. Bagaimana pun juga, kau tentu tidak akan mengeluarkannya dengan segera!”

“Itulah sebabnya dia mengira bahwa aku tidak akan menyadari dengan segera bahwa barang ini palsu!”

“Dan sekarang, karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia tentu akan berusaha memberikannya pada orang yang menyuruhnya!”

“Dia memang harus menyelesaikan tugasnya!”

“Lalu mengapa kau tidak pergi membuntutinya sekarang juga?”

“Karena aku tahu bahwa tidak mungkin dia akan berangkat sekarang juga!”

“Mengapa tidak?”

“Karena dia khawatir kalau aku jadi curiga!”

Sih Peng berfikir sebentar.

“Karena tampaknya kau tidak akan segera tahu tentang pertukaran kain itu, maka dia mungkin mengambil kesempatan ini dan bersantai sejenak!”

“Semakin dia bersikap santai, semakin tidak mungkin aku mencurigainya!”

“Dan saat kita berangkat besok pagi, ia bisa mengantarkan kepergian kita dan kemudian dengan hati-hati ia bisa kembali dan menyelesaikan tugasnya!”

“Tampaknya, jika kau terus ikut dengan kami, kau pun akhirnya akan menjadi seekor rubah kecil!” Liok Siau-hong menarik nafas.

Mata Sih Peng berputar-putar sedikit dan sebuah ekspresi yang mirip sebuah senyuman tapi bukan senyuman pun muncul di wajahnya.

“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” Ia bertanya dengan suara yang hampir seperti bisikan.

“Hmm, tentunya aku akan menemaninya!” Liok Siau-hong sengaja tak mengacuhkan ekspresi wajah gadis itu.

“Kau ingin meninggalkanku di sini untuk menemani dia!” Sih Peng seakan hendak melompat bangkit lagi.

“Dia tidak akan mencoba merayuku, aku pun tidak akan merayunya.” Liok Siau-hong menjawab seenaknya. “Aku jauh lebih aman bila berada bersamanya!”

Sih Peng menggigit bibirnya dan menatapnya dengan pahit. Tiba-tiba dia tersenyum menggoda.

“Akhirnya aku tahu siapa kau!”

“Oh? Siapakah aku ini?”

“Kau seekor anjing!”

“Kenapa aku ini seekor anjing?” Liok Siau-hong bertanya.

“Jika Sukong Ti-sing adalah seekor rubah tua, bukankah kau menjadi seekor anjing pemburu rubah?” Sih Peng menggoda.

______________________________

Sukong Ti-sing sedang berbaring di atas ranjang, menggunakan tangannya sebagai bantal. Ia sedang memusatkan perhatiannya pada cawan arak yang ada di atas dadanya. Liok Siau-hong sering minum arak seperti itu. Bukan hanya itu, bila Liok Siau-hong minum dengan cara seperti ini, dia tak pernah menumpahkan setetes arak pun. Jika Liok Siau-hong bisa melakukan sesuatu, maka Sukong Ti-sing harus mempelajarinya. Bukan hanya mempelajarinya, tapi juga harus mampu menguasainya lebih baik daripada Liok Siau-hong.

Tiba-tiba ia mendengar seseorang tertawa di luar kamarnya.

“Itu adalah tipuanku dan hanya milikku sendiri. Kau tak akan pernah bisa mempelajarinya!” Seorang laki-laki mendorong pintu hingga terbuka dan berjalan masuk. Liok Siau-hong, tentu saja.

Sukong Ti-sing tidak menoleh saat mendengar komentar itu, tapi ia malah tetap berkonsentrasi pada cawan arak yang ada di atas dadanya.

“Apa yang kau inginkan sekarang?” Ia bertanya dengan dingin.

“Yang kuinginkan? Tak ada, aku ke sini hanya untuk menemanimu!”

“Kau meninggalkan dia sendirian hanya untuk menemaniku?”

“Apakah taruhannya sekarang telah dibatalkan?” Bukannya menjawab pertanyaan itu, Liok Siau-hong malah tertawa dan mengajukan pertanyaannya sendiri.

“Uh huh!”

“Jadi kita masih bersahabat?”

“Uh huh!”

“Nah, karena kita masih bersahabat, lalu mengapa aku tidak boleh datang dan menemanimu?”

“Tentu saja boleh, tapi sekarang kufikir aku sebaiknya pergi dan menemani dia!” Sukong Ti-sing menghirup nafas dalam-dalam. Cawan arak di atas dadanya segera terbang ke bibirnya, dan arak di dalam cawan itu pun terbang ke dalam mulutnya juga. Sayangnya, tidak semua arak yang berhasil masuk ke dalam mulutnya, setengahnya lagi tertumpah ke sekujur tubuhnya.

“Sudah kubilang tadi,” Liok Siau-hong tertawa senang melihat nasibnya. “Kau tak akan menguasai gerakan itu walau kau mencoba seumur hidupmu!”

Sukong Ti-sing melirik dengan marah pada Liok Siau-hong sebelum dia mulai bangkit. Tiba-tiba raut wajahnya berubah secara dramatis, seluruh wajahnya menjadi kaku dan mulai berkernyit. Seluruh tubuhnya mengejang, seolah-olah sebilah pedang tipis baru saja ditusukkan ke dalam perutnya.

“Ada apa?” Bahkan Liok Siau-hong pun menjadi terkejut melihat perubahan itu. Sukong Ti-sing membuka mulutnya, mencoba bicara, tapi tak ada yang keluar. Liok Siau-hong segera berlari ke sisinya dan membantunya duduk. Tiba-tiba dia mencium bau yang aneh.

Ia memungut cawan arak itu dan mengendusnya. Ekspresi wajahnya berubah secara dramatis.

“Ada racun di dalam cawan ini!” Sekarang wajah Sukong Ti-sing telah pucat pasi dan butir-butir keringat yang besar berkumpul di keningnya.

“Dari mana asal arak ini? Apakah ada orang yang datang ke sini sebelumnya?” Liok Siau-hong bertanya.

Sukong Ti-sing berusaha menggelengkan kepalanya sedikit dan menatap kendi arak yang ada di atas meja. Masih ada sedikit arak di dalam kendi itu.

Liok Siau-hong mengambil kendi itu dan mengendusnya, arak di dalam kendi itu tidak beracun.

Racunnya ada di cawan! Cawan itu mungkin selalu ada di dalam kamar. Saat Sukong Ti-sing menguping di atas atap tadi, seseorang tentu telah datang ke sini dan meletakkan sesuatu pada cawan itu.

“Biasanya kau selalu berhati-hati!” Liok Siau-hong menghentakkan kakinya dengan frustrasi. “Mengapa kau begitu sembrono sekarang!”

Sukong Ti-sing mengkertakkan giginya dan akhirnya tiga patah kata keluar dari mulutnya.

“Ji-he-am!”

“Kau kenal seseorang di sana yang bisa menyembuhkanmu? Kau ingin aku membawamu ke sana?”

Cepat-cepat. Sukong Ti-sing berjuang untuk mengangguk sedikit.

“Baiklah, aku akan mencari Sih Peng, kami akan membawamu ke sana!” Liok Siau-hong memondong Sukong Ti-sing dan berlari keluar, mencari Sih Peng.

Tapi Sih Peng tak berhasil ditemukan. Cawan arak yang belum selesai ia minum masih ada di atas meja, tapi ia telah menghilang di udara. Di atas piring yang tadinya ada beberapa potong daging sapi, sekarang ada sepasang tangan, sepasang potongan tangan! Liok Siau-hong mengenalinya sebagai tangan Sun Tiong. Mungkinkah dia telah mengumpulkan beberapa orang dan datang kembali untuk membalas dendam dan membawa pergi Sih Peng? Tapi kenapa mereka yang tadi berada di ruangan sebelah tidak mendengar bunyi apa-apa?

Sih Peng bukan orang yang gampang ditundukkan, bagaimana ia bisa dibawa pergi dengan begitu mudah? Liok Siau-hong tidak punya waktu untuk memikirkan semua itu. Saat ini, segalanya harus dikesampingkan dulu, hal yang terpenting adalah menyelamatkan Sukong Ti-sing. Di samping itu, perubahan keadaan ini terlalu mengejutkan, terlalu luar biasa. Tak perduli betapa pun ia berusaha, ia tak berhasil menyimpulkan apa-apa. Untunglah kereta kuda yang mereka tumpangi tadi masih ada di sini.

Liok Siau-hong membangunkan kusirnya dan melompat ke atas kereta bersama Sukong Ti-sing yang sekarang tampaknya benar-benar tidak mampu bergerak lagi.

“Kau tidak boleh mati. Kau bukan orang baik-baik, bagaimana mungkin nyawamu begitu pendek?” Ia bergumam padanya, dan pada dirinya sendiri.

Ajaib, Sukong Ti-sing tidak mati dan tetap berada dalam keadaan sekarat di sepanjang perjalanan ke Ji-he-am.

Ji-he-am terletak di dalam sebuah hutan bambu hitam, sebuah hutan bambu hitam di lereng gunung. Pintu gerbang ke atas gunung tampak terbuka, tapi dunia manusia tertinggal di belakang untuk selamanya, di luar hutan bambu itu. Mustahil kereta kuda bisa naik ke lereng gunung, maka Liok Siau-hong pun memondong Sukong Ti-sing, berjalan menelusuri hutan bambu, melangkah dengan perlahan di atas daun-daun yang berguguran. Bersamaan dengan hembusan angin, terdengar dentangan lonceng yang menandakan datangnya malam. Tapi malam belum turun, warna matahari terbenam memenuhi seluruh angkasa, hari masih senja.

“Kau mampu! Hal ini memang sukar, tapi kau pasti mampu!” Liok Siau-hong bergumam ketika dia menunduk untuk melihat Sukong Ti-sing yang berada di dalam pondongannya, sambil berusaha menarik nafas. Tubuh Sukong Ti-sing menggigil sedikit dan dia mengerang dengan perlahan, seolah-olah dia mendengar kata-kata Liok Siau-hong.

“Bagaimana perasaanmu?” Liok Siau-hong segera bertanya.

“Aku lapar!” Sukong Ti-sing tiba-tiba membuka matanya.

“Kau lapar?” Liok Siau-hong terkejut.

“Yah, dua hari terakhir ini kau naik kereta dan makan-minum sepuas hatimu dan aku hanya bisa bersembunyi di dalam kereta sambil mengunyah roti kue yang dingin. Bagaimana mungkin aku tidak kelaparan?” Sukong Ti-sing mengedip-ngedipkan matanya pada Liok Siau-hong. Liok Siau-hong terdiam. Ia seperti baru menelan 600 ekor cacing hidup.

“Hati-hati membawaku, jangan jatuhkan aku ya?” Sukong Ti-sing memberi perintah.

“Oh, aku akan berhati-hati, tapi aku khawatir hal itu tak akan membunuhmu!” Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya. Tiba-tiba dia mengangkat tubuh Sukong Ti-sing di atas kepalanya dan membantingkannya ke atas tanah. Tapi sebelum Sukong Ti-sing menyentuh tanah, tiba-tiba dia bersalto di udara. Malah, dia bersalto sebanyak 7 atau 8 kali dan mendarat dengan perlahan di atas tanah. Ia melirik Liok Siau-hong dan mulai tertawa, tertawa begitu kerasnya hingga tubuhnya pun terbungkuk-bungkuk.

“Seharusnya kubiarkan kau mati di sana!” Liok Siau-hong berkata dengan nada pahit.

“Hanya orang baik yang mati muda, bagaimana mungkin orang sepertiku mati?” Sukong Ti-sing masih tertawa. Ia mengakui bahwa dirinya memang bukan orang baik-baik.

“Kau tidak diracuni orang, ya?”

“Tentu saja tidak, siapa yang bisa meracuni seekor rubah tua yang abadi seperti diriku?”

“Racun yang ada di cawan arak itu adalah sesuatu yang kau masukkan sendiri?”

“Itu bukan racun!” Sukong Ti-sing tertawa dengan nada penuh kemenangan. “Itu hanya ramuan jamu yang baunya seperti racun. Tapi tidak ada akibatnya sedikit pun walau kau memakannya sebanyak 1 kg.”

“Kau pura-pura keracunan untuk membuatku sibuk dan membawamu ke sini.”

“Jika aku tidak melakukan hal itu, lalu bagaimana lagi caranya agar aku bisa keluar dari tempat itu?”

“Bagaimana kau bisa melakukan semua itu? Di sepanjang jalan kau pura-pura sekarat dan tidak bergerak sedikit pun!”

“Aku punya cara sendiri. Jangan lupa, bukan saja aku ini si Raja Maling, aku juga seekor rubah tua yang cerdik!”

“Tapi jika bukan karena seekor rubah kecil, tipuanmu itu mungkin tidak akan berhasil semudah ini!” Liok Siau-hong tiba-tiba mendengus.

“Rubah kecil?” Sukong Ti-sing tampak terkejut mendengar pernyataan itu. “Selain dari dirimu, apakah ada seekor rubah kecil lagi?”

“Mungkin bukan seekor rubah kecil, tapi tentu saja seekor rubah betina!” Liok Siau-hong mendengus.

“Aku tahu kalau aku tidak bisa mengelabuimu terus-menerus!” Sukong Ti-sing tertawa terbahak-bahak. “Kau tidak sebodoh itu!”

“Kapan kau merencanakan tipuan ini dengan Sih Peng?”

“Waktu kau pergi untuk buang hajat!”

“Mengapa dia mau menuruti rencanamu?”

“Mungkin karena dia jatuh cinta padaku!” Sukong Ti-sing berkata dengan seenaknya.

“Dia bisa jatuh cinta pada seekor rubah tua sepertimu?”

“Aku rasa kau tidak faham, semua wanita mencintai rubah tua!” Sukong Ti-sing menertawakan dirinya sendiri.

“Tampaknya dia telah terhipnotis oleh salah satu tipuan jahatmu, sedemikian rupa sehingga dia mau melakukan sesuatu seperti ini!” Liok Siau-hong menarik nafas, tapi tiba-tiba dia mengajukan sebuah pertanyaan lagi. “Jika dia pergi untuk menyelesaikan tugasmu dan memberikan barang itu pada pemiliknya, lalu apa arti sepasang potongan tangan itu?”

“Potongan tangan?” Sukong Ti-sing tampak bingung. “Potongan tangan yang mana?”

“Potongan tangan Sun Tiong!”

“Di mana tangan itu?”

“Di atas piring tempat daging sapi itu!”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu!” Sukong Ti-sing mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Kapan aku berdusta padamu?” Sukong Ti-sing menarik nafas.

“Kau selalu berdusta padaku!” Liok Siau-hong menjawab dengan nada pahit.

“Seorang jenius sepertimu? Bagaimana mungkin aku mampu membuatmu percaya pada dusta-dustaku?” Sukong Ti-sing mengedip-ngedipkan matanya.

“Tentu saja kau tidak mampu,” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak menarik nafas lagi. Sambil tersenyum sabar, dia meneruskan. “Tapi sayangnya aku adalah orang yang terlalu baik.”

“Apakah orang baik di luar sana adalah Liok Siau-hong?” Seseorang tiba-tiba bertanya dari balik pintu gerbang.

Pintu gerbang itu setengah tertutup, di baliknya ada sebuah halaman kecil di mana seseorang duduk di sebuah kursi bambu di bawah pohon pek yang terdapat di halaman. Matahari senja menyinari pohon pek itu, dan juga menyinari wajahnya yang pucat. Hidungnya tegak dan keningnya menonjol keluar, siapa pun bisa melihat dalam sekilas pandangan bahwa dia tentu orang yang agung dan berpengaruh. Tapi di bagian wajahnya di mana seharusnya matanya yang jernih dan berkilauan berada, sekarang hanya ada dua buah lubang hitam.

“Kang Tiong-wi!” Liok Siau-hong berseru dengan heran ketika dia memasuki halaman itu. “Bagaimana kau bisa berada di sini?”

“Jika aku tidak di sini, lalu ke mana lagi aku pergi?” Kang Tiong-wi tersenyum. Senyumannya tampak sedih dan murung. “Aku bukan apa-apa selain seorang laki-laki buta sekarang, Lam-ong-hu tidak akan memakai seorang laki-laki buta sebagai Congkoan. Walaupun mereka tidak memaksaku pergi, aku pun tentu akan pergi sendiri!”

Ketika Liok Siau-hong mengamati wajahnya, hatinya pun dipenuhi oleh perasaan sedih. Kang Tiong-wi adalah orang yang sangat berbakat dengan masa depan yang gemilang di depannya. Tapi seorang laki-laki buta…..

Liok Siau-hong tiba-tiba menoleh ke arah Sukong Ti-sing.

“Kau mengenalnya?” Ia menatap Sukong Ti-sing. Sukong Ti-sing mengangguk.

“Kau tahu kenapa dia menjadi seperti ini?”

Sukong Ti-sing menarik nafas. Ia pun merasa tidak enak di dalam hatinya.

“Karena kau tahu, sekarang kau seharusnya memberitahu padaku siapa orang itu.”

“Siapa?”

“Orang yang menyulam kain itu, orang yang menyuruhmu mencurinya dariku!”

“Kau kira mereka adalah orang yang sama?”

“Benar!”

“Mungkin kain satin itu memang milik orang itu, tapi mengapa orang itu ingin aku mencurikannya?”

“Mungkin ada sebuah rahasia padanya dan orang itu takut kalau aku menemukannya.”

“Kau telah memeriksa kain itu berulang kali?”

“Tidak cukup sering!”

Sukong Ti-sing tidak menjawab. Ia tampak ragu-ragu untuk mengambil keputusan.

“Kau berhutang budi pada orang ini. Tapi jika orang ini melakukan semua perbuatan itu, jika kau masih memiliki secercah rasa kemanusiaan di hatimu, maka kau seharusnya tidak melindungi orang ini!”

“Kau memaksaku untuk mengatakannya?”

“Kau harus memberitahuku!”

“Baiklah, kuberitahu padamu.” Sukong Ti-sing tiba-tiba menarik nafas. “Orang itu adalah dia!”

Ia tiba-tiba menunjuk ke depannya. Liok Siau-hong secara naluriah menoleh ke arah yang ia tunjuk dan melihat seseorang berjalan keluar dengan lambat dari dalam biara, dengan kepala tertunduk. Dia adalah seorang tokouw (pendeta wanita Tao) yang berjubah ungu, berkaus kaki putih, dan sebuah jepit rambut ungu yang terbuat dari giok terpasang di rambutnya yang hitam legam. Wajahnya pun tampak pucat. Di matanya yang jernih seperti air terlihat perasaan sedih dan gelisah yang bahkan memberikan dirinya kecantikan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata, sederhana tapi seperti tidak berasal dari alam dunia, cantik seperti semburat sinar matahari ungu di ujung langit sana. Dengan kepala tertunduk, ia mendekat perlahan dengan sebuah mangkuk yang berisi obat panas yang beruap di tangannya.

Ketika Liok Siau-hong melihatnya, ia segera tahu kalau Sukong Ti-sing kembali berdusta. Orang yang ia cari tidak mungkin dia. Ia menoleh dengan maksud bertanya lebih jauh, tapi Sukong Ti-sing ternyata telah menghilang. Saat Liok Siau-hong menoleh ke arah tokouw berjubah ungu itu, rubah tua ini telah melesat keluar dari pintu seperti sebuah meteor. Untuk sesaat tadi Liok Siau-hong memang seperti agak terhipnotis. Kenyataannya, siapa pun akan seperti terhipnotis bila melihat kecantikan yang luar biasa ini.

Tapi jika dia berusaha memburunya sekarang, hal itu akan sia-sia. Sukong Ti-sing mungkin bukan orang tercepat di dunia, tapi kemampuannya tidak jauh dari itu. Liok Siau-hong menarik nafas dan bersumpah bahwa suatu hari nanti dia akan menangkap rubah tua ini dan memaksanya menelan 680 ekor cacing, cacing-cacing yang dia gali sendiri.

Sinar matahari terbenam mulai menghilang. Angin yang dingin membuat daun-daun pohon pek itu bergemerisik saat tertiup angin. Tokouw berjubah ungu itu mendekat dengan perlahan, masih tidak mengangkat kepalanya.

“Kin-he, kaukah itu?” Kang Tiong-wi tiba-tiba bertanya.

“Ini aku, sudah waktunya minum obat.” Suaranya lembut seperti angin malam.

“Liok Siau-hong, kau masih ada di sini?”

“Aku di sini.”

“Ini adalah adikku, Kin-he, ia adalah tuan rumah di sini. Sekarang kau tentu mengerti kenapa aku berada di sini!”

“Kim Kiu-leng dan Hoa Ban-lau sedang mencarimu!” Liok Siau-hong tiba-tiba memberitahunya.

“Aku tahu!”

“Mereka tahu kau berada di sini?”

“Mereka telah datang ke sini!”

“Apa yang dikatakan Hoa Ban-lau padamu?”

Sebuah ekspresi yang sangat aneh tiba-tiba muncul di wajah Kang Tiong-wi.

“Dia berkata padaku, jangan lupa kalau dia pun buta; dan lebih jauh lagi, jangan lupa juga kalau dia memiliki kehidupan yang luar biasa!” Ia berkata dengan perlahan-lahan.

“Tentu saja kau tidak lupa!”

“Dan itulah sebabnya aku masih hidup!” Seorang laki-laki seperti dia tiba-tiba menjadi buta, bukanlah hal yang mudah untuk memiliki keberanian agar tetap hidup.

“Dia benar-benar orang yang luar biasa!” Liok Siau-hong menarik nafas pertanda kagum.

“Dia tidak seperti orang lain,” Kang Tiong-wi pun mengangguk dan menarik nafas. “Dia unik. Dia selalu mencari cara agar orang lain tetap hidup!”

“Aku seharusnya sudah tahu bahwa alasan utamanya mencarimu adalah untuk mengatakan hal ini padamu!”

“Ia pun mengajukan beberapa pertanyaan padaku!”

“Pertanyaan macam apa?”

“Tentang apa yang terjadi pada hari itu di Ruang Harta Istana!”

“Aku juga ingin menanyakan hal itu padamu. Selain dari apa yang kau ceritakan pada Kim Kiu-leng, apakah kau melihat hal lain yang mencurigakan?”

“Tidak!” Wajah Kang Tiong-wi tampak berkernyit-kernyit lagi karena ketakutan.

“Bahkan jika pun ada, aku tak akan memberitahukannya padamu!” Ia berkata dengan perlahan.

“Mengapa tidak?”

“Karena aku tidak ingin kau menemukan orang ini!”

“Mengapa tidak?” Liok Siau-hong merasa bingung.

“Karena aku tidak pernah melihat orang yang memiliki kungfu demikian mengerikan. Bahkan jika kau menemukan orang ini, kau tak akan mampu menandinginya!”

Tubuhnya pun sekarang menggigil, seolah-olah dia sedang teringat pada orang yang mengerikan itu, dan pada jarumnya. Darah menetes-netes dari jarum; segar, merah, darah.

Liok Siau-hong ingin bertanya lagi, tapi Kang Kin-he tiba-tiba memotongnya dengan dingin.

“Kau sudah terlalu banyak bertanya, luka-lukanya masih belum sembuh. Aku tidak ingin dia teringat lagi pada kejadian hari itu.”

“Tak apa, aku akan sembuh dengan segera!” Kang Tiong-wi berusaha memaksakan sebuah tawa.

“Kau akan segera sembuh, aku yakin itu!” Liok Siau-hong pun tertawa dipaksa. “Aku tahu kau adalah orang yang tangguh!”

“Karena kau ada di sini, mengapa tidak tinggal selama beberapa hari?” Tawa Kang Tiong-wi sekarang lebih riang dan tidak dipaksakan lagi. “Mungkin aku bisa mengingat sesuatu nantinya untukmu!”

“Bagaimana mungkin dia tinggal di sini?” Kang Kin-he mengerutkan keningnya. “Tidak pernah ada laki-laki di sini!”

“Bukankah aku juga laki-laki?” Kang Tiong-wi tertawa.

“Tapi kau…..”

“Jika aku boleh tinggal di sini, maka dia pun boleh!” Ekspresi wajah Kang Tiong-wi menjadi gelap.

“Tapi aku……” Liok Siau-hong berusaha memotong.

“Tak perduli apa, kau harus tinggal di sini,” Kang Tiong-wi juga memotong ucapannya. “Hoa Ban-lau dan Kim Kiu-leng mungkin akan kembali dalam beberapa hari lagi, kau tak pernah tahu itu. Mereka pun sedang mencarimu!”

“Tapi kau harus segera tidur setelah memakan obatmu!” Kang Kin-he berkata.

“Aku akan pergi tidur. Mengapa kau tidak menjadi tuan rumah yang baik dan membawa dia ke belakang dan memberi dia sesuatu untuk dimakan? Kau tidak boleh membiarkan seorang tamu kelaparan!”

“Silakan Tuan yang dermawan mengikuti saya,” Tanpa ekspresi, Kang Kin-he menoleh dan mempersilakan Liok Siau-hong dengan dingin.

Dia bahkan tidak memandang mata Liok Siau-hong. Dia benar-benar seorang wanita yang dingin, bahkan lebih dingin daripada es.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: