Kumpulan Cerita Silat

22/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (14)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:13 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 14. Golok Yang Mata Goloknya Tidak Pernah Terlihat
Oleh Gu Long

Ma Kong Qun perlahan-lahan menarik tempat duduknya. Meja panjang yang berada di depannya terlihat seperti permukaan jalan yang panjang. Dari gundukan lumpur dan kolam darah hingga seperti saat ini, dia telah melalui jalan yang panjang tersebut.

Namun akan menuju kemanakah dari sini?

Apakah akan kembali menuju ke gundukan lumpur dan kolam darah?

Ma Kong Qun perlahan-lahan meluruskan tangannya ke atas meja. Keriput diwajahnya terlihat semakin jelas di bawah cahaya matahari pagi. Tiap keriput diukir oleh darah dan air mata yang mengucur tak terhingga lamanya. Sebagian berasal dari dirinya, dan sebagian berasal dari darah dan air mata orang lain!

Hua Men Tian dan Yun Zai Tian telah tiba. Mereka telah duduk disana berdiam diri, namun kelihatannya banyak sekali yang ada dipikiran mereka.

Gong Sun Duan datang dengan tergopoh-gopoh, membawa aroma arak yang memualkan.

Ma Kong Qun tidak mengangkat kepalanya untuk melihatnya, juga tidak mengucapkan sepatah katapun.

Saat ini betul-betul bukan saat yang tepat untuk mabuk.

Dia betul-betul malu dan marah – marah terhadap dirinya sendiri. Dia merasa gatal untuk menarik goloknya dan menebaskannya kedadanya sendiri untuk mengeluarkan darah yang dipenuhi oleh arak.

Suasana di dalam ruangan utama sangat tegang dan penuh tekanan.

Makan pagi telah disiapkan, di atas meja telah tersedia sayuran segar dan daging anak sapi panggang.

Ma Kong Qun tiba-tiba memperlihatkan senyumnya dan berucap,” Makanan terlihat enak hari ini.”

Huan Men Tian menganggukan kepalanya, Yun Zai Tian juga menganggukkan kepalanya.

Sajian benar-benar sangat membangkitkan selera, namun siapa yang mempunyai napsu makan saat ini? Cuaca di luar juga terlihat indah, namun angin yang berhembus membawa aroma darah yang berbau amis.

Yun Zai Tian menurunkan kepalanya dan melaporkan,” Patroli pertama yang kita kirim semalam, mereka semua …”

Ma Kong Qun memotongnya dan berkata,” Simpan kata-kata itu setelah kita makan.”

“Baiklah.” Yun Zai Tian menjawab.

Saat itu, setiap orang menurunkan kepalanya ke bawah dan mengakhiri makan pagi mereka dengan sunyi. Meskipun rasa daging bakar lezat namun terasa pahit dan asam saat menyentuh mulut. Hanya Ma Kong Qun yang menikmati makanannya.

Mungkin yang sedang dia kunyah bukan makanannya, akan tetap yang ada dalam pikirannya.

Semuanya harus sudah mencapai titik penyelesaian. Beberapa hal tidak bisa begitu saja diputuskan, namun harus melalui pemikiran yang hati-hati. Namun, saat itu banyak sekali yang ada dalam pikirannya, oleh karena itu dia harus mengunyah dengan perlahan-lahan agar dia dapat mencernanya.

Tidak ada seorangpun yang berani meletakan sumpitnya sebelum Ma Kong Qun meletakan sumpitnya.

Jendela di ruangan tersebut sangat tinggi. Matahari yang menyorot ke bawah menyinari debu sehingga terlihat dengan jelas.

Dia menatap debu yang beterbangan di ruangan dan tiba-tiba berkata,” Bagaimana bisa debu-debu ini baru terlihat di bawah cahaya matari?”

Tidak ada seorangpun yang menjawab. Tidak ada seorangpun yang berani untuk menjawab. Perkataan tersebut mungkin bukan suatu pertanyaan. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang terlalu basa basi.

Mata Ma Kong Qun perlahan-lahan menyapu ke seluruh ruangan ke arah masing-masing wajah. Dia tiba-tiba tersenyum dan berkata,” Engkau hanya dapat melihat debu ini karena disinar cahaya matahari karena kalau tidak, engkau tidak pernah menyadari bahwa debu tersebut memang benar-benar ada disana dari dulu.”

Dia perlahan-lahan melanjutkan,” Sebenarnya tidak masalah apakah engkau dapat melihatnya atau tidak, debu tersebut tetap berada disana apapun yang terjadi.”

Betul-betul pertanyaan yang tolol, namun betul-betul jawaban yang sangat pintar.

Tidak ada seorangpun yang mengerti mengapa dia mengeluarkan perkatan tersebut. Jadi tidak ada seorangpun yang berani membuka mulut.

Ma Kong Qun menlanjutkan,” Banyak hal di dunia ini sebetulnya seperti itu. Banyak hal di dunia ini seperti halnya debu di udara. Mereka semua berada tepat di hadapanmu namun engkau tidak pernah menyadarinya. Oleh karena itu engkau selalu berasumsi mereka tidak pernah ada.”

Dia memandang ke arah Yun Zai Tian dan Hua Men Tian dan berkata,” Untungnya cahaya matahari selalu bersinar, dan cepat atau lambat semuanya pasti terungkap …”

Hua Men Tian mengangkat kepalanya dan menatap ke bawah ke arah sisa-sisa makan di atas piringnya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, juga tidak melihat reaksi apapun diwajahnya. Namun tidak memperlihatkan reaksi merupakan hal yang aneh bagi dirinya.

Dia tiba-tiba berdiri dan berseru,” Lebih dari setengah orang-orang yang kemaren berpatroli adalah bawahanku. Aku akan berangkat sekarang untuk memastikan mereka memperoleh penguburan yang layak.”

“Tunggu sebentar.” Ma Kong Qun berkata.

“Apakah Tuan Gedung memiliki perintah untuk ku?” Hua Men Tian bertanya.

“Tidak.”

“Lalu apa yang aku harus tunggu?”

“Untuk seseorang yang akan tiba.”

“Siapa?”

“Seseorang yang akan muncul cepat atau lambat.”

Hua Men Tian perlahan-lahan duduk kembali, seraya tidak tahan lagi untuk menjawab,”Dan bagaimana bila dia tidak muncul?”

Ekspresi wajah Ma Kong Qun merengut,” Jadi kita akan menunggu.”

Saat mereka melihat ekspresi wajahnya berubah, mereka menyadari bahwa suatu hal akan dilakukan sehubungan dengan pertanyaan yang diajukan. Karena tidak ada tempat untuk berdebat, maka semua orang hanya duduk dan menunggu. Siapakah yagn mereka tunggu?

Sesaat, mereka mendengar suara derap kaki kuda tiba dari luar. Seorang laki-laki berpakaian putih memasuki ruangan dengan terburu-buru dan melaporkan,” Seseorang diluar meminta untuk bertemu dengan anda.”

“Siapa?” Ma Kong Qun bertanya.

“Ye Kai.” Sipembawa pesan menjawab.

“Apakah dia sendiri?” Ma Kong Qun berkata.

“Dia sendirian.”

Senyum aneh muncul dari wajah Ma Kong Qun,” Jadi dia benar-benar telah datang, dan tiba dengan cepat.” Dia berdiri dan berjalan keluar.
“Tuan Gedung, apakah dia yang sedang anda tunggu?” Hua Men Tian berkata.

Ma Kong Qun tidak mengiyakan namun juga tidak menyangkal, dia hanya menjawab dengan kereng,” Sebaiknya kalian semua tetap disini dan menunggu aku kembali.”

Dia mendengus dan melanjutkan,” Namun kalian tidak akan menunggu terlalu lama karena aku akan kembali dengan cepat.”

Saat Ma Kong Qun berkata sebaiknya setiap orang untuk diam menunggu, maka artinya setiap orang tidak ada pilihan lain kecuali diam menunggu. Semuanya mengerti hal itu dengan sangat baik.

Yun Zai Tian menatap ke arah cahaya matahari yang bersinar dari jendela. Dia terlihat jatuh tenggelam dalam pikirannya sepertinya sedang merenungkan apa yang Ma Kong Qun katakan barusan.

Jari-jari Gong Sun Duan mengepal dengan kencang dan kedua matanya terlihat memerah darah. Ma Kong Qun sama sekali tidak memandangnya sekalipun, apa sebabnya?

Hua Men Tian masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa Ye Kai tiba-tiba muncul pagi ini dan bagaimana Ma Kong Qun tahu bahwa dia bakal muncul?

Setiap orang memiliki pertanyaan dalam pikirannya masing-masing, namun hanya satu orang yang dapat menjawab pertanyaan mereka. Orang tersebut yaitu diri mereka masing-masing.

Cahaya matahri bersinar di angkasa. Ye Kai berdiri di bawah sinar dari cahaya matahari pagi. Kelihatannya meskipun cahaya matahari telah surut, dia tetap terlihat dikelilingi cahaya. Dia tidak pernah berdiri dalam kegelapan.

Dia menatap ke atas ke arah bendera rakasasa yang berkibar tertiup angin, dia bahkan tidak menyadari bahwa Ma Kong Qun telah berjalan keluar. Ma Kong Qun berjalan ke samping dirinya dan menatap ke atas ke arah bendera tersebut juga.

Lima kata kebesaran yang tertulis pada bendera tersebut berwarna merah; ‘Gedung Sepuluh Ribu Kuda Guang Dong’.

Ye Kai menarik napas dan berucap,” Betapa bendera kebesaran yang megah, apakah harus dikerek ke atas setiap hari?”

“Ya.” Ma Kong Qun menjawab. Dia menatap Ye Kai sepanjang waktu, menngamati dan menganalisa ekspresi wajahnya.

Ye Kai akhirnya memandang balik kearahnya dan berkata,” Pasti sulit untuk mengangatk bendera besar dan berat seperti itu setiap hari.”

Ma Kong Qun terdiam beberapa saat, kemudian menarik napas dan berkata,” Betul-betul bukan hal yang mudah.”

“Apakah ada hal di dunia ini yang diperoleh dengan mudah?” Ye Kai berkata.

“Hanya satu.” Ma Kong Qun menjawab.

“Apakah itu?” Ye Kai bertanya.

“Menipu dirimu sendiri.” Ma Kong Qun menjawab.

Ye Kai tersenyum.

Ma Kong Qun tidak tersenyum seraya melanjutkan,” Agak sulit untuk menipu orang lain namun relatif jauh lebih mudah untuk menipu diri sendiri.”

“Namun bila seseorang betul-betul dapat menipu dirinya sendiri, maka hari-harinya pasti dapat dilewati dengan bahagia.” Ye Kai berkata,” Bagaimana denganmu? Apakah engkau dapat menipu dirimu sendiri?”

“Tidak.” Ma Kong Qun menjawab.

“Itulah sebabnya hari-harimu tidak dapat dilewati dengan bahagia.” Ye Kai berkata.

Ma Kong Qun tidak menjawab, dia memang tidak harus menjawab.

Sorot mata simpati keluar dari Ye Kai saat dia memandang keriput di wajah Ma Kong Qun. Setiap keriput tersebut tergores oleh lecutan cambuk, cambuk yang tersimpan dalam-dalam di hatinya.

Halaman yang dikelilingi oleh pagar tidak terlalu besar, namun padang rumput belantara diluar terlihat sangat luas dan tidak bertepi. Kenapa orang lebih memilih dirinya terkurung dalam pagar seperti ini?

Dengan tidak sadar, keduanya memutar tubuhnya bersamaan dan berjalan ke arah pintu pagar yang besar. Langit terlihat cerah, rerumputan di padang luar bergelombang tertiup angin seperti ombak dilautan. Selarik suasana mendung kelabu berlalu di udara.

Ma Kong Qun memandanginya dan menarik napas panjang,” Terlalu banyak orang yang sudah kehilangan nyawanya.”

“Mereka betul-betul tidak seharusnya mati.” Ye Kai menambahkan.

Ma Kong Qun tiba-tiba menolah dan menatapnya,” Lalu siapa yang pantas mati?”

“Beberapa orang berpikir akulah yang pantas mati, dan beberapa yang lainnya berpikir mungkin engkau yang pantas, itulah sebabnya mengapa ,,,”

“Mengapa apa?”

“Sebabnya mengapa seseorang menginginkan aku kembali kesini dan mengambil nyawamu!” Ye Kai menegaskan.

Langkah kaki Ma Kong Qun berhenti, Ye Kai menatap kepadanya namun tidak terlihatpun ekspresi terkejut diwajahnya. Kelihatannya dia sudah menduga-duga hal itu jauh sebelumnya.

Beberapa ekor kuda yang keluar dari kelompoknya tiba-tiba berlari kencang ke arah mereka. Ma Kong Qun melompat ke atas dan menungganginya salah satu dari mereka. Dia memberikan isyarakat ke Ye Kai kemudian mencongklang kudanya, seperti dia berharap Ye Kai mengikutinya.

Tentu saja, Ye Kai mengikutinya.

Bila area perbatasan merupakan batas akhir dari dunia, maka perbukitan kecil tersebut mungkin merupakah dunia yang lainnya.

Ye Kai pernah berada di sini sebelumnya.

Saat Ma Kong Qun ingin berbincang-bincang secara rahasia, dia selalu membawanya kesini. Sepertinya tempat ini merupakan satu-satunya tempat yang dapat menghilangkan pagar yang mengelilingi hatinya.

Retakan panjang pada sebongkah batu yang dibuat oleh pedang Gong Sun Duan masih berada disana. Ma Kong Qun dengan lembut mengusapkan tangannya disana, seperti mengusap luka yang berada ditubuhnya. Apakah karena batu nisan ini membawa kembali rasa sakitnya dimasa lalu?

Setelah beberapa saat, dia akhirnya membalikan badannya.

Angin terasa makin memberikan kesedihan dan kemuraman di bukit tersebut. Ubanya berkibaran tertiup angin tak beraturan sehingga membuat dia semakin terlihat lebih tua. Namun matanya masih tajam setajam sorot mata elang. Dia menatap Ye Kai dan bertanya,” Seseorang menginginkan engkau membunuhku?”

Ye Kai menganggukan kepalanya.

“Namun engkau tidak ingin membunuhku?” Ma Kong Qun berkata.

“Bagaimana engkau mengetahui hal itu.” Ye Kai menjawab.

“Karena, kalau engkau hendak membunuhku, maka engkau tidak akan datang untuk memberitahukannya.” Ma Kong Qun berkata.

Ye Kai menarik napas panjang, apakah dia mengiyakan? Atu dia membantahnya?

“Engkau mungkin sudah menduga untuk membunuhku pasti bukan tugas yang mudah.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa engkau belum menanyakan siapa yang menyuruhku membunuhmu?” Ye Kai berkata.

“Aku tidak perlu bertanya.”

“Kenapa begitu?”

“Karena, akupun bahkan tidak pernah berpikir orang-orang tersebut sebagai ancaman. ” Ekspresi wajah Ma Kong Qun menjadi tenggelam, kemudian melanjutkan,” Banyak orang yang menghendaki aku mati, namun hanya satu yang paling patut untuk dikhawatirkan.”

“Siapa?” Ye Kai berkata.

“Sebetulnya, aku pun tidak yakin apakah orang tersebut adalah engkau atau Fu Hong Xue.” Ma Kong Qun menjawab.

“Dan sekarang engkau sudah yakin siapakah orang tersebut?” Ye Kai berkata.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya, pupil matanya berkotraksi saat menjawab,” Aku sudah menduganya sejak lama.”

Mata Ye Kai bercahaya, ” Jadi engkau pikir Fu Hong Xue yang melakukan pembunuhan tersebut?”

“Bukan.”

“Bila bukan dia, lalu siapa?”

Kebencian terpancar dari mata Ma Kong Qun saat dia memalingkan wajahnya ke arah padang belantara dibelakang mereka. Dia tidak menjawab pertanyaan Ye Kai. Setelah beberapa saat, dia menegaskan dengan nada yang serius,” Aku pernah mengatakan sebelumnya, kerajaan ini dibangun oleh darah dan keringatku. Tidak seorangpun aku biarkan merebutnya dari tanganku.”

Tidak ada jawaban. Ye Kai melihat ada sesuatu yang aneh yang keluar dari perkataan tersebut, karena itu dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Langit biru, biru yang gelap. Dan di dalam langit yang biru tersebut terdapat abu-abu keperakan yang berputar, mirip sekali dengan lautan. Dari tempat mereka berdiri, bendera raksasa tadi terlihat kecil dan tidak berarti dan kata-kata yang tertulis di bendera tersebut tidak terbaca.

Banyak hal di dunia ini persis seperti ini. Engkau mungkin berpikir satu keadaan telah begitu suram dan kusutnya sehingga tidak dapat diperbaiki lagi, namun saat dilihat dari perspektif yang lain, engkau baru menyadari bahwa hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Setelah beberapa saat, Ma Kong Qun tiba-tiba bertanya,” Engkau tahu aku memiliki seorang anak perempuan.”

Ye Kai hampir tidak dapat menahan senyumnya. Tentu saja dia tahu bahwa Ma Kong Qun memiliki seorang anak perempuan.

“Engku telah mengenalnya?” Ma Kong Qun bertanya.

Ye Kai menganggukan kepalanya dan menjawab,” Ya!”

“Bagaimana dia menurutmu?” Ma Kong Qun bertanya.

“Dia hebat.” Ye Kai menjawab. Dia benar-benar berpikir gadis itu adalah gadis yang hebat. Dia memiliki sifat yang manja, namun dia benar-benar seorang yang baik dan penuh perhatian dihatinya.

Ma Kong Qun kembali jatuh diam beberapa saat. Tiba-tiba dia berpaling ke arahnya dan menatap Ye Kai dan bertanya,” Apakah engkau menyukainya?”

Ye Kai terkejut, dia tidak pernah membayangkan Ma Kong Qun akan menanyakan hal seperti itu.

“Engkau mungkin heran kenapa aku menanyakanmu hal ini.” Ma Kong Qun berkata.

“Iya, aku rasa juga merasa sedikit aneh.” Ye Kai menjawab.

“Aku menanyakan hal ini karena aku hanya berharap engkau dapat membawanya pergi bersamamu.” Ma Kong Qun berkata.

Ye Kai terlihat terkejut,” Membawanya pergi? Kemana?”

“Kemanapun engkau ingin pergi, selama engkau berkeinginan membawanya bersama mu, maka engkau dapat membawanya kemanapun.” Ma Kong Qun berkata.

“Mengapa engkau ingin aku membawanya pergi?” Ye Kai tidak tahan untuk bertanya.

“Karena … karena aku tahu dia betul-betul menyukaimu.” Ma Kong Qun berkata.

Mata Ye Kai bercahaya,” Bila dia menyukaiku, lalu kenapa kita tidak dapat bersama disini?”

Bayangan terlihat sekilas di wajah Ma Kong Qun, dia perlahan-lahan menjawab,” Banyak hal akan terjadi disini, aku tidak ingin dia terlibat hal ini, karena dia betul-betul tidak bersalah.”

Ye Kai menatapnya balik dan menarik napas panjang,” Engkau betul-betul seorang ayah yang baik.”

“Apakah engkau akan berjanji untukku?” Ma Kong bertanya.

Ekspresi wajah yang aneh muncul di wajah Ye Kai. Dia perlahan-lahan memalingkan wajahnya ke arah padang belantara.

Dia juga tidak menjawab pertanyaan Ma Kong Qun, setelah beberapa saat akhirnya dia menjawab,” Aku telah mengatakan hal ini sebelumnya, ini adalah rumahku. Dan karena aku telah kembali, aku tidak berencana untuk pergi.”

“Jadi engkau tidak mau berjanji untukku?” Ma Kong Qun berkata.

“Aku tidak dapat membawanya pergi. Namun aku dapat berjanji apapun yang akan terjadi disini, dia tidak akan terlibatkan.” Ye Kai berkata.

Sedikit cahaya muncul diwajahnya seraya melanjutkan,” Karena dia betul-betul tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan ini semua.”

Mata Ma Kong Qun pun mulai bercahaya juga, dia menepuk bahu Ye Kai dan berkata,” Mari pergi, aku ingin minum secangkir arak denganmu.”

________________________________________

Arak masih di atas meja.

Arak tidak dapat menghilangkan rasa sakit dan penderitaan di kehidupan kita, namun arak dapat membantu kita menipu diri kita sendiri.

Gong Sun Duan dengan erat menggenggam gelas emasnya. Dia tidak tahu kenapa dia harus minum saat ini, saat ini betul-betul bukan saat yang tepat untuk mabuk. Namun ini adalah gelas yang kelima di pagi ini.

Hua Men Tian dan Yun Zai Tian memandanginya mabuk. Namun mereka tidak menghalanginya, juga tidak memilih untuk mabuk bersamanya. Selalu ada jarak diantara mereka.

Dan sekarang jarak tersebut kelihatannya semakin lebar dan lebar.

Gong Sun Duan menatap arak digelasnya dan tiba-tiba dia merasakan kesenderian yang tidak dapat dijelaskan. Semua pertempuran yang dia alami, darah, keringat, berapa banyak yang dia keluarkan? Semua keuntungannya malah untuk orang lain.

Membohongi diri sendiri muncul dalam dua bentuk: kesombongan dan mengasihani diri.

Seorang anak kecil mengenakan pakaian berwarna merah dengan kuncir yang berwana hitam pekat memasuki ruangan utama.

Meskipun anak kecil itu bukan anaknya, Gong Sun Duan selalu menyukainya. Karena dia merasa anak kecil itu seperti dirinya juga – mungkin anak kecil ini merupakan satu-satunya orang yang sungguh-sungguh menyukainya.

Dia merengkuhnya dan menangkat anak kecil tersebut di bahunya dan berkata sambil tersenyum,” Setan kecil, apakah engkau kesini mau mencuri arakku?”

Anak kecil tersebut menggelengkan kepalanya, tiba-tiba bertanya perlahan,” Kenapa … kenapa engkau memukul Bibi Ketiga?”

“Siapa yang mengatakan hal itu padamu?” Gong Sun Duan berkata tegas.

“Bibi Ketiga mengatakan pada dirinya sendiri. Dan bahkan dia tidak mengatakannya kepada ayah tentang hal ini, engkau sebaiknya berhati-hati.” Anak kecil tersebut menjawab.

Ekspresi Gong Sun Duan memburuk, begitu pula suasana hatinya. Dia akhirnya mengerti kenapa Ma Kong Qun bersikap seperti itu pagi tadi. Mungkin hal itu bukan penyebabnya, namun kesimpulannya seperti itu. Paling tidak ini lebih baik daripada tidak mengerti sama sekali.

Dia melepasakan anak laki-laki itu dan bertanya,” Dimana Bibi Ketiga sekarang?”

“Dia sudah pergi.” Anak kecil itu menjawab.

Gong Sun Duan tidak mengucapkan perkataan lain, dia melompat dengan cepat-cepat ke luar pintu. Dia terlihat seperti binatang buas yang terluka.

Yun Zai Tian dan Hua Men Tian juga tidak berkata-kata, mereka masih menunggu disana dengan bisu. Karena Ma Kong Qun telah memerintahkan mereka untuk tetap tinggal.

________________________________________

Rumput dan semak-semak liar berdesir tertiup angin, bendera raksasa Gedung Sepuluh Ribu Kuda berkibar dengan megahnya.

Debu dan pasir di atas lantai masih terasa panas membakar, Fu Hong Xue membungkuk dan menangkup pasir setangan penuh. Salju pun pasti akan panas membara – salju yang terendam ke dalam darah yang panas. Dia meremas pasir tersebut dengan kerasnya hingga pasir tersebut masuk ke dalam kulitnya.

Saat itu kemudian terlihat Nyonya Ketiga Shen dan Cui Nong berlalu, namun baginya kedua orang itu hanya dua orang asing yang cantik. Mereka berada di atas kuda dan kelihatannya sedang terburu-buru.

Fu Hong Xue menundukkan kepalanya, dia memiliki kebiasaan untuk tidak pernah menatap wanita. Dia tidak pernah melihat wajah Nyonya Ketiga Shen sebelumnya. Kedua ekor kuda tersebut mendadak berhenti dihadapannya, namun dia tetap berjalan. Kaki kirinya melangkah ke depan, kemudian kaki kanannya diseret dibelakang.

Sinar matahari menerpa wajahnya, dia terlihat sepucat salju dari gunung dikejauhan. Salju yang sangat dingin, yang tidak akan pernah meleleh.

Kedua wanita tersebut turun dari kudanya dan menghalangi jalannya. Meskipun dia memilih untuk tidak melihatnya, namun dia tidak dapat mengabaikan suara mereka.

Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar ditelinganya,” Apakah engkau tidak ingin melihat seperti apakah rupaku?”

Seluruh tubuh Fu Hong Xue tiba-tiba membeku. Dia tidak pernah melihat wajah Nyonya Ketiga Shen, namun dia mengenali suaranya. Suaranya yang hangat dan lembut dihangatnya sinar matahari seperti halnya saat dikegelapan malam.

Tangannya yang lembut dan hangat, bibirnya yang lembut dan basah, gairahnya yang misterius dan tak tertahankan … semua hal itu sepertinya sejauh dan sedalam mimpi kosong. Dalam sekali ucapan, semua hal itu berubah menjadi kenyataan.

Fu Hong Xue mengepalkan kedua tangannya dengan eratnya, seluruh tubuhnya mulai bergoyang dan bergetar yang muncul karena kesenangan dan kegelisahan, dia masih belum berani mengangkat kepalanya. Namun dia sungguh-sungguh ingin melihat seperti apa rupanya, akhirnya dia melihat keatas. Dia melihat sepasang mata yang lembut dan hangat serta senyum yang sangat menyentuh.

Namun orang yang dia lihat adalah Cui Nong.

Dia tersenyum dan menatapnya balik merayu. Nyonya Ketiga Shen berdiri dengan bisu sepertinya dia hanya seorang asing.

“Sekarang akhirnya engkau melihat seperti apa rupaku.” Cui Nong berkata dengan memikat.

“Sekarang akhirnya aku dapat melihat seperti apa rupamu.” Fu Hong Xue menjawab.

Api yang membara terpancar dimatanya yang biasanya dingin dan sepi. Pada saat itu, dia memberikan seluruh perasaan dan emosinya kepada wanita yang berdiri dihadapannya, karena dia adalah wanita pertama yang dia miliki.

Nyonya Ketiga Shen berdiri disana memandang mereka dengan bisu tanpa setitikpun ekspresi diwajahnya. Dia hanya tidak merasakan perasaan yang sama dengan laki-laki itu. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Untuk balas dendam, dia bersedia untuk melakukan apapun.

Namun saat ini semuanya telah berubah, dia tidak lagi berkeinginan seperti itu. Dia tidak ingin siapapun mengetahuinya apa yang terjadi antara dia dan Fu Hong Xue. Yang lebih penting lagi, dia tidak akan membiarkan Fu Hong Xue mengetahuinya. Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba merasa dirinya sakit.

Fu Hong Xue masih menatap Cui Nong, menatap dengan segenap hatinya. Rona merah terlihat diwajahnya yang pucat.

“Baiklah, aku biarkan engkau memandangiku selama engkau inginkan.” Cui Nong tertawa genit. Wanita seperti dia selalu memikili kata-kata saat berbicara dengan seorang laki-laki. Salju yang membeku di gunung kejauhan nampaknya mulai terlihat meleleh.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba memotongya dan berkata,” Jangan lupa apa yang telah aku ucapkan padamu.”

Cui Nong menganggukan kepalanya, kemudian menarik napas dan berkata,” Aku membiarkan engkau melihatku sekarang karena situasi telah berubah.”

“Situasi telah berubah?” Fu Hong Xue bertanya.

“Ma Kong Qun telah … “Cui Nong berkata.

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda memotong perkataannya. Seekor kuda melesat cepat ke arah mereka, penunggangnya seorang yang kuat dan gagah seperti halnya puncak gunung, namun juga pandai dan cekatan seperti kelinci.

Kuda yang bagus tersebut meringkik, sipengendara telah melompat.

Ekspresi wajah Nyonya Ketiga Shen berubah, segera dia bergeser ke belakang Cui Nong.

Gong Sun Duan buru-buru melayangkan tangannya dan menampar wajah Cui Nong sambil membentak,”Pergi sana!”

Namun suaranya tiba-tiba berhenti. Tangannya pun tidak pernah mencapai wajah Cui Nong.

Sebuah golok tiba-tiba terhunus dan menghalangi layangan tangannya. Sarungnya berwarna hitam pekat, gagangnya pun berwarna hitam pekat. Namun tangan yang memegang golok sepucat salju.

Pembuluh darah mengembang di seluruh dahi Gong Sun Duan, kemudian dia menoleh dan menatap Fu Hong Xue.

“Engkau lagi.”

“Ini aku.”

“Aku tidak ingin membunuhmu hari ini.”

“Aku tidak ingin membunuhmu juga.”

“Maka sebaiknya hengkang sejauh mungkin dari sini.”

“Aku pikir aku akan tetap berdiri seperti ini.”

Gong Sun Duan memandangnya, kemudian menatap Cui Nong. Dengan pandangan seperti orang yang tidak percaya dia berkata,” Apakah dia wanita mu atau apa?”

“Ya.” Fu Hong Xue menjawab.

Gong Sun Duan tiba-tiba mulai tertawa,” Apakah engkau tidak tahu dia adalah pelacur?”

Seluruh tubuh Fu Hong Xue membeku. Dia mundur dua langkah dan menatap Gong Sun Duan. Wajahnya yang pucat terlihat hampir transparan.

Gong Sun Duan masih tertawa, sepertinya dia belum pernah melihat suatu hal yang lebih lucu lagi selama hidupnya.

Fu Hong Xue masih tetap diam berdiri. Tangan yang memegang goloknya terlihat sangat pucat yang juga terlihat hampir transparang juga. Setiap urat nadi dan pembuluh darahnya terlihat menggelembung.

Saat Gong Sun Duan menghentikan tawanya, Fu Hong Xue mengucapkan tiga buah kata.

“Cabut keluar pedangmu.”

Tiga buah kata yang sederhana, diucapkan dengan sangat perlahan, bahkan hampir seperti bisikan. Bisikan yang amat sangat menakutkan yang membuat semua bulu roma bergidik berdiri.

Dia berbicara dengan perlahan, demikian perlahannya hingga suaranya terdengar seperti suara aneh yang berasal dari alam lain, neraka.

Gong Sun Duan tetap membeku, semburan api mulai terlihat dimatanya. Dia memandangi Fu Hong Xue dan bertanya,” Apa yang engkau katakan?”

“Cabut keluar pedangmu.”

Sinar matahari yang membakar.

Pasir yang menguning beterbangan berputar-putar ke udara, padang rerumputan terlihat seperti hamparan emas.

Meskipun dataran tersebut disinari oleh hangatnya cahaya matahari yang bersinar dengan nyaman, namun suasana dan aura disekitar sana dipenuhi dengan hawa kematian. Hawa kematian yang mengelilingi mereka. Hawa yang menjepit dan menyesakan. Segalanya terlihat mengerikan yang sangat tidak wajar, bahkan sedikitpun tidak terlihat aura ketentraman.

Tangan Gong Sun Duan telah melingkari gagang pedang peraknya yang melengkung. Mata pedang perak yang sedingin es terlihat mulai memancarkan udara panas. Telapak tangannya berkeringat, dahinya telah berkeringat, seluruh tubuhnya serasa seprti dipanggang dibawah sinar matahari yang menyelimutinya.

“Cabut keluar pedangmu!”

Arak yang berada di dalam darahnya yang hangat mulai mendidih. Saat itu betul-betul sangat terik, terik hingga batas-batas daya tahan.

Fu Hong Xue berdiri tak bergerak dihadapannya, seperti seiris es yang tidak akan pernah meleleh. Seiris es yang transparan. Panas terik cahaya matahari yang tidak terperikan kelihatannya tidak mempengaruhinya. Dimanapun dia berdiri, sepertinya dia berdiri di atas salju yang memenuhi gunung dikejauhan.

Gong Sun Duan terlihat sesak dan berusaha bernapas terengah-engah, bahkan dia dapat mendengar napasnya yang sesak.

Seekor kadar merangkak keluar dari sarangnya dan perlahan-lahan menggerakan kakinya seperti kebosanan.

“Cabut keluar pedangmu!”

Bendera raksasa berkibar dengan megahnya dikejauhan. Suara ringkikan kuda terhembus tertiup angin.

“Cabut keluar pedangmu!”

Butiran keringat menetes dari dahinya mengalir melewati matanya turun ke janggutnya dan membasahi bajunya yang menempel ketat ditubuhnya.

Bagaimana mungkin Fu Hong Xue masih tidak berkeringat? Tangannya masih memegang gagang goloknya.

Gong Sun Duan tiba-tiba mengeluarkan teriakan yang keras dan menacabut pedangnya!

Pedangnya berkelebat seperti petir yang keperakan seperti lingkatan bunga api. Bunga api petir keperakan yang menebas leher Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue sedikitpun tidak melakukan gerakan menghindar. Malah dia melesat maju, sarung ditangan kirinya menangkis sabetan pedang Gong Sun Duan. Pada saat yang bersamaan, dia menarik goloknya.

PPPHHAAANNGGG, tidak ada seorangpun yang dapat menggambarkan suara seperti apakah itu.

Gong Sun Duan sedikitpun tidak merasakan rasa sakit apapun, dia hanya merasa perutnya tiba-tiba mengejang saat dia mulai terdorong. Kemudian, dia melihat kebawah dan melihat gagang golok Fu Hong Xue menonjol keluar dari perutnya.

Seluruh kekuatannya mendadak menghilang, seluruh tubuhnya mulai mati rasa, dia tidak tahan lagi untuk berdiri di atas kakinya.

Matanya menatap gagang golok saat perlahan-lahan dia mulai jatuh ke tanah.

Yang dia lihat cuma gagang golok. Dia belum sempat melihat mata golok Fu Hong Xue.

Pasir yang menguning, darah yang hangat.

Gong Sun Duan meringkuk di atas genangandarah.

Kehidupannya telah berakhir. Kemalangan dan penderitaannya telah berakhir.

Namun kesulitan orang lain baru saja dimulai.

________________________________________

Siang hari, terik panas,

Tidak peduli seberapa panasanya cuaca, darah selalu akan mengeras saat meninggalkan tubuh. Namun, keringat tidak akan pernah membeku.

Yun Zai Tian telah berkeringat dengan derasnya, dia mengusap keringatnya dengan satu tangan, dan meneguk minuman dengan tangan yang satunya lagi. Dia tidak terbiasa dengan penderitaan hidup yang keras. Hua Men Tian nampak jauh lebih saat itu.

Seekor kuda perlahan-lahan berjalan memasuki halaman. Seseorang melompat turun dari kuda.

Seekor kadal menjilati darahnya, namun darahnya telah membeku.

Sebuah pedang perak yang sangat bagus tergandung dipinggangnya. Panas terik sinar matahari menyinari rambutnya yang berantakan, namun dia sudah tidak bisa lagi berkeringat.

Tiba-tiba, suara geledek memekakan telinga dari atas langit. Hujan mulai turun kebawah sepertinya tidak memperlihatkan belas kasihannya. Gedung Sepuluh Ribu Kuda mulai gelap. Titik air hujan turun menghunjami bumi dengan butiran-butiran sebesar mutiara. Ekspresi wajah Hua Men Tian dan Yun Zai Tian nampak sesuram langit yang gelap.

Dua orang laki-laki dengan baju yang basah kuyup mengangkat tubuh Gong Sun Duan ke atas meja panjang dan kemudian dengan bisu mundur meninggalkan ruangan utama. Mereka ketakutan untuk melihat wajah Ma Kong Qun.

Dia berdiri membisu dibalik layar raksasa. Hanya pada saat petir menyambar saja wajahnya baru dapat dilihat. Namun tidak seorangpun yang berani melihatnya.

Tangan tersebut kasar, dingin dan kaku.

Dia tidak meneteskan air mata, namun ekspresi wajahnya bahkan terlihat sedih daripada keluarnya air mata.

Dia perlahan-lahan duduk dan memegang tangan Gong Sun Duan.

Kedua mata Gong Sun Duan masih melotot, keduanya masih memperlihatkan rasa sakit dan ketakutan yang dia rasakan sesaat sebelum napasnya berhenti. Dia terlihat seperti seseorang yang seumur hidupnya dipenuhi dengan rasa sakit dan ketakutan, itulah sebabnya dia selalu merasa susah. Sayangnya, semua yang dapat dilihat oleh orang-orang hanya kemarahannya.

Hujan mulai sedikit mereda namun langit terlihat semakin gelap.

“Dia adalah saudara laki-lakiku, hanya dia yang pantas menjadi saudara laki-lakiku.”Ma Kong Qun berkata. Tidak ada yang tahu entah dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri atau kepada Hua Men Tian dan Yun Zai Tian.

“Bila bukan karena kata-katanya, mungkin aku tidak akan selamat hingga hari ini.”

Yun Zai Tian tidak dapat menahan diri lagi lebih lama. Dia menarik napas panjang dan berkata,” Kita semua tahu bahwa dia adalah seorang yang baik.”

“Dia sungguh-sungguh seorang yang baik. Tidak ada seorangpun yang lebih setia darinya, tidak ada seorangpun yang lebih berani. Bahkan dirinya sendiripun tidak pernah menikmati kemewahan selama hidupnya.” Ma Kong Qun berkata.

Yun Zai tian hanya dapa mendengarkan, dia hanya bisa menarik napas.

“Dia tidak pantas mati, namun sekarang dia sudah mati.” Ma Kong Qun berkata.

“Itu pasti perbuatan Fu Hong Xue.” Yun Zai Tian berkata.

Ma Kong Qun menganggukan kepalanya dan berseru,” Aku salah menduga terhadapnya. Aku seharusnya memperhatian kata-katanya dan membunuh mereka semua.:

“Tapi sekarang …” Yun Zai Tian berkata.

“Tapi sekarang sudah terlalu telat, tapi sekarang sudah terlalu terlambat …” Ma Kong Qun berkata dengan serius.

Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata dengan tajam,”Tapi sebelum aku membalas dendam, ada satu hal yang ingin aku lakukan.”

Mata Yun Zai Tian bercahaya saat dia bertanya,” Apakah itu?”

“Kemarilah dan aku akan katakan kepadamu.” Ma Kong Qun menjawab.

Tentu saja Yun Zai Tian segera berjalan kearahnya.

“Aku ingin engkau melakukan suatu hal untukku.” Ma Kong Qun berkata.

“Berikan perintahmu, Tuan Gedung.” Yun Zai Tian menjawab.

“Aku menginginkan kau mati!”

Ma Kong Qun menggerakan tangannya dan menarik pedang melengkung Gong Sun Duan dari sarungnya. Mata pedang langsung menyabet Yun Zai Tian. Kecepatannya sangat mengagumkan, tidak ada seorangpun yang menyangka dia akan menyerang Yun Zai Tian.

Anehnya Yun Zai Tian justru sudah mengharapkan hal tersebut sepanjang waktu. Sesaat mata pedang berkelebat, Yun Zai Tian meloncat kebelakang dengan jurus Membuka Jendela untuk Melihat Bulan Menerjang Awan.

Semburan darah muncrat ke belakang juga. Meskipun dia bergerak cepat, namun dia tidak dapat menghindari kecepatan pedang Ma Kong Qun. Mata pedang merobek pinggang kanannya, tangan kananya telah putus jatuh ke atas lantai. Namun Yun Zai Tian belum juga roboh. Ahli silat yang telah selamat dari pertempuran yang tidak terhitung jumlahnya tidak akan mudah dijatuhkan.

Punggungnya terlempar ke dinding. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kedua matanya dipenuhi dengan ketakutan.

Ma Kong Qun tidak mengejarnya. Dia masih tetap berdiri ditempatnya saat itu, dia menatap tetesan darah yang jatuh dari ujung mata pedangnya.

Huan Men Tian masih berdiri tak bergerak, tidak ada sedikitkpun ekspresi diwajahnya. Selama mata pedang tidak mengarah kepadanya, dia tidak ada keinginan untuk bergerak.

Setelah beberapa saat, Yun Zai Tian akhirnya membuka mulutnya. Dia mengatupkan giginya dan berkata,” Aku tidak mengerti … aku benar-benar tidak mengerti.”

“Engkau seharunya mengerti.” Ma Kong Qun menjawab dengan dingin. Dia perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan menatap lukisan kuda yang sedang berlari di dinding.

“Kerajaan ini milikku! Siapapun yang berani mencoba merebutnya dari tanganku akan mati!”

Ekspresi wajah Yun Zai Tian menyuram, dia menaik napas dan berkata,” Jadi engkau telah mengetahui semuanya.”

“Aku telah mengetahuinya sejak lama.”

“Sepertinya aku telah memandang remeh kepadamu.” Yun Zai Tian mendengus.

“Seperti aku katakan sebelumnya, banyak hal di dunia ini seperti debu. Ada disekitarmu namun engkau masih belum dapat melihatnya – engkau telah berusaha mengelabui mataku sejak lama.”

Yun Zai Tian mulai mengeluarkan keringat dengan deras, dia menggigitkan giginya dan berkata sambil tersenyum,” Namun cahaya matahari selalu bersinar.”

Meskipun dia sedang tersenyum namun ekspresi wajahnya terlihat lebih menderita daripada tetesan air mata.

“Jadi sekarang engkau mengerti?”

“Sudah mengerti sekarang.”

Ma Kong Qun menarik napas panjang dan menegaskan,” Engkau seharusnya tidak menghianatiku,. Engkau seharusnya mengerti orang sepertiku.”

Senyum aneh tiba-tiba memancar di wajah Yun Zai Tian seraya menjawab,” Ya aku telah menghianatimu, namun …”

Sebelum dia selesai mengucapkan kata-katanya, matanya menatap Hua Men Tian. Namun sudah terlambat, pedang Hua Men Tian telah menyabet dadanya, menghempaskan tubuhnya ke dinding.

Dia tidak akan pernah menyelesaikan perkataannya.

Hua Men Tian perlahan-lahan menarik pedangnya. Tubuh Yun Zai Tian melorot ke atas lantai.

Setiap orang pasti jatuh cepat atau lambat. Tidak peduli betapa hebatnya seseorang, kita semua terlihat sama saat kita jatuh.

ooOOOoo

Tindakan apa lagi yang akan dilakukan oleh Ma Kong Qun? Apakah yang terjadi dengan Fu Hong Xue selanjutnya?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: