Kumpulan Cerita Silat

22/01/2008

Duke of Mount Deer (19)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:59 am

Duke of Mount Deer (19)
Oleh Jin Yong

kemudian terdengar suara ketukan pintu, lalu disusul teriakan seseorang.

“Pek jite (adik kedua) aku yang datang!” Seiring suaranya tampak seseorang meloncati tembok pekemudian menerjang ke dalam rumah.

Orang yang datang usianya kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya berwarna ungu, tampangnya gagah namun wajahnya pucat sekali.

“Oh…benar rupanya Pek Toate…. pek toate…,” serunya dengan suara bergetar.

Han Hong melempar golok di tangannya lalu menghambur ke depan.

“Oh,Sou siko, toako… dia… dia….” Tanpa dapat menahan kepedihan hatinya lagi, dia menangis meraung-raung.

Kho Gan-tiau langsung bisa menduga siapa orang itu.

’Kemungkinan besar dia inilah sin Jiu kisu Sou kong yang termasuk salah satu keciang keluarga Bhok …. ‘

Pada saat itu pintu telah dibuka dan muncullah belasan orang yang serombongan dengan orang she Sou itu. Di antara mereka terdapat beberapa perempuan. Mereka langsung mendekati peti mati Pek Han-Siong dan beberapa perempuan itupun menangis tersedu-sedu. Rupanya di antara mereka adalah istri-istrinya Pek Han-siong dan Pek Hanhong.

Menyaksikan situasi itu, Hoan Kong jadi tidak enak hati. Mereka menjadi malu sendiri. Lagipula. dalam keadaan seperti ini, tentu mereka tidak bisa bicara secara baik-baik. Karena itu, mereka saling lirik dengan yang lainnya, kemudian masing-masing melangkahkan kaki dengan maksud meninggalkan tempat itu.

“Eh, kalian mau kabur?” bentak Pek Han-hong yang melihat gerak-gerik para tamunya.

“Tidak bisa!” Dia langsung menerjang ke arah Hoan Kong yang membelakanginya.

“Siapa yang mau kabur?” bentak Hong Kon marah. Dia menoleh serta menangkis. Ketika melangkah, dia memang sudah meningkatkan kewas padaan. Karena itu, dia tahu dirinya diserang.

Yan Cun dan yang lainnya juga melihat keadaan itu, mereka terpaksa menghentikan langkah kakinya. Tampak orang she Sou itu maju ke depan.

“Siapakah tuan-tuan ini?” tanyanya. “Maaf, aku Belum mengenal mereka!”

“Merekalah anjing-anjing dari Tian-te hwe!” teriak Han Hong gusar. “Toako justru dibunuh oleh mereka.”

Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang sedang menangis dengan sedih segera mencelat ke depan dan menghunus senjata masing-masing. Mereka mengambil posisi mengurung. Semuanya memandang dengan pandangan bengis dan penuh kebencian.

Ong Bu-seng tertawa lebar.

Ma-twako, saudara Lui, Yau tayhu, kapan kita masuk menjadi anggota Tian-te hwe? Orang-orang semacam kita, meskipun kita memohon, rasanya belum tentu diterima!”

Orang she Sou itu menjura kepada empat orang itu.

“Oh, rupanya tuan-tuan ini bukan orang dari Tian-te hwe? Dan yang dipanggil Yau tayhu ini kalau tidak salah bernama Yau Cun, bukan? Aku yang rendah Sou Kong, kami baru mendapat kabar bahwa adik Pek yang besar sudah menutup mata. Itulah sebabnya kami segera datang dari Wanpeng . Saking berduka, kami jadi lupa berkenalan dengan tuan-tuan sekalian. Harap maafkan!” katanya sambil menjura sekali lagi.

Ong Bu-seng membalas hormat sambil tersenyum.

“Selamat berjumpa! Sungguh bukan nama kosong julukan Sin Jiu kisu. Pandanganmu jauh dan jiwamu gagah perkasa!”

Selesai berkata, piau tau ini segera memperkenalkan rekan-rekannya. Pertama-tama dia menunjuk kepada Wi Siau-po.

“Inilah Wi hiocu bagian Ceng-bok tong dari Tian-te hwe!”

Sou Kong tahu bahwa Tian-te hwe mempunya sepuluh bagian atau tong dan setiap tong dipimpin oleh seorang hiocu yang gagah. Karena itulah dia menatap Siau Po dengan heran, karena hiocu yang satu ini masih terlalu muda. Dia juga bingung melihat dandanan bocah itu yang demikian mentereng.

“Maaf! Sudah lama kami mendengar nama besarmu!” katanya sambil menjura.

Selesai Ong Bu-seng memperkenalkan diri, Sou Kong juga memperkenalkan rombongannya. Diantaranya terdapat dua orang adik seperguruannya Sedangkan mereka bertiga juga termasuk saudara seperguruan dengan kakak adik she Pek. Ada lagi muridnya Sou Kong serta nyonya Han Siong dan nyonya Han Hong.

“Pek jihiap!” kata Yau Cun dengan nada lembut. Sebenarnya persoalan apa yang membuat kalian berkelahi dengan anggota Tian-te hwe? Aku harap kau menjelaskan. Nama Bhok onghu dari sangat terkenal di dunia persilatan. Sedangkan peraturan Tian-te hwe juga keras sekali. Tidak ~;:va mereka bertindak kasar atau berlaku kurang sopan terhadap sesama pecinta negara. Menurut pendapatku yang rendah, urusan ini tidak boleh kita selesaikan dengan kekerasan. Kami berempat yakni Ma loyacu, Lui toako, Ong piautau dan aku sendiri, pada hakekatnya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Tian-te hwe. Dan kami juga tidak bersahabat akrab dengan pihak kalian. Tetapi justru kami bersedia menjadi orang tengah bagi kalian. Karena itu, sudi kiranya kalian memandang muka kami dengan memberi penjelasan selengkapnya. Kami benar-benar bermaksud baik. Bahkan kalau bisa kami ingin mendamaikan.”

Ong Bu-seng juga langsung memberikan pendapatnya sebelum pihak tuan rumah sempat mengatakan apa-apa.

“Bicara sejujurnya, Pek jihiap sekalian, sahabat-sahabatnya dari Tian-te hwe ini sesungguhnya tidak tahu bahwa Pek tayhiap telah tiada. Kalau tidak, mana mungkin mereka berani datang mengganggu kalian yang sedang tertimpa kemalangan …. ”

“Lalu apa sebenarnya maksud kedatangan Wi hiocu dan tuan-tuan semuanya ke tempat kami ini?” Sou Kong.

Ong Bu-seng tersenyum lagi.

“Kami tidak berani berdusta. Kedatangan kami ini disebabkan pihakTian-te hwe yang mengatakan bahwa saudara mereka yakni Ci tian-coan telah terluka parah di tangan kedua saudara Pek. Kami para orang tua ini diminta untuk mewakilkan mereka menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya …. ”

“Kalau begitu, kalian datang kemari untuk menegur dan menghukum kami semua?”

“Kami tidak berani.” sahut Ong Bu-seng cepat.

Kami adalah orang-orang kangouw yang hidup mengandalkan rasa persahabatan. Kami tidak berani sembarangan mengambil tindakan. Dalam urusan ini, siapa benar dan siapa salah, biarlah keadilan yang menentukan dan keadilan adalah suara terbanyak. Kita tidak berbicara tanpa mengandalkan hati nurani kita!”

Sou Kong menganggukkan kepalanya.

“Ong Cong piautau benar. Nah, silahkankalian duduk dulu!” katanya sambi! memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk menyimpan kembali senjata masing-masing. Kecuali Pek Han-hong, semuanya menuruti nasehat Sou Kong. Kemudian kedua belah pihak mengambil tempat duduk masing-masing. Sou Kong juga duduk, tetapi beberapa rekannya tidak, karena kekurangan kursi.

“Pek jite,” kata Sou Kong pada tuan rumah. “Coba kau jelaskan duduk persoalan yang sebenarnya agar orang-orang dalam ruangan ini dapat mengerti.”

Pek Han-hong menarik nafas panjang. “Kemarin dulu, kurang lebih menjelang siang hari …” Baru berkata sampai di sini, kemarahannya meluap lagi. Tarigannya bergerak, goloknya dilemparkan ke atas lantai sehingga ada dua potong ubin yang somplak. Setelah itu dia mengatur pernafasannya sebentar kemudian baru melanjutkan kembali

“Siang itu aku duduk bersama kakak di sebuah kedai arak dekat Thianko. Tiba-tiba datanglah seorang pembesar negeri bersama empat orang pengikutnya. Keempat pengikutnya itu sungguh tidak enak dilihat. Cara bicaranya kasar dan tidak bersopan-santun sedikitpun. Mereka memesan arak dan makanan dengan lagak seperti tuan besar. Mereka juga berbicara dengan aksen Inlam.”

“Oh, mereka berbicara dengan aksen Inlam?” tanya Sou-Kong.

“Iya.” sahut Han Hong. “Itulah sebabnya aku dan kakak segera memasang telinga.”

Hoan Kong tahu bahwa keluarga Bhok berasal dari Inlam. Kedua keluarga Sou dan Pek juga berasal dari Inlam. Tentu saja mereka menaruh perhatian pada orang-orang propinsi itu.

“Sembari minum arak, si pembesar berkali-kali mencela barang hidangan yang menurutnya tidak lezat. Dan keempat pengikutnya segera meniru. Toako merasa tertarik, otomatis dia ikut bicara. Mengetahui bahwa kita pun berasal dari Inlam, pembesar itu mengundang kami bersantap bersama-sama. Karena itu kami pindah duduk. Toako ingin mendengar segala sesuatu yang berkaitan dengan Inlam, karena kita sudah lama sekali pindah kemari. Kemudian diketahui bahwa pembesar itu bernama Yo It-hong dan atas keputusan Go Samkui, dia telah diangkat menjadi camat wilayah Kiokceng!”

“Tadi kau mengatakan bahwa mereka berbicara dengan aksen Inlam?” tanya Sou Kong.

“Iya, tapi dia berasal dari Tayli. Menurut peraturan, orang Inlam tidak boleh memangku jabatan di wilayahnya sendiri, namun Yo It-hong mengatakan bahwa dia tidak memperdulikan segala macam peraturan itu karena ia diangkat langsung oleh Peng See-ong!”

“Oh, nenek moyangnya!” seru Hoan Kong sengit. “Baru diangkat oleh si pengkhianat Go Samkui saja, sudah begitu sombong!”

Han Hong melirik ke arah tamunya itu dan mengangguk perlahan.

“Saudara… Hoan, kau benar,” katanya kemudian. “Ketika itu aku pun mempunyai pikiran yang sama denganmu. Namun Toako ingin mendengar kabar tentang Inlam, itulah sebabnya dia pura-pura senang menemani pembesar itu berbicara. Bahkan toako sengaja mengangkat-angkatnya. Pembesar itu senang sekali. Semakin kata-katanya mengenai Go Sam-kui. Sekarang ini, semua pembesar yang pangkatnya tinggi maupun rendah, adalah hasil pengangkatan Go Sam-kui. Bahkan banyak pembesar di ketiga propinsi sucoan, Kwisay dan Kuiciu Juga hasil pemilihan wilayah baratnya Go Sam-kui. Katanya, biasanya bila raja mengangkat seorang pembesar, Go Sam-kui langsung menempatkan orangnya terlebih dahulu, sehingga pembesar yang dipilih raja itu ketinggalan. Menurut Go Sam-kui, jasanya sangat besar. Karena dialah, bangsa Boan-ciu dapat merampas seluruh Tionggoan. Itulah sebabnya dia sangat dipercaya dan apapun usulnya tidak pernah ditolak oleh raja?”

“Apa yang dikatakan pembesar itu memang benasr,” Ong Bu-seng turut memberikan komentar. “Ketika aku pergi ke beberapa propinsi barat daya untuk mengantar barang, di Inlam dan Kuicu aku dengar sendiri, orang-orang di sana hanya tahu Go Sam-kui, mereka tidak pernah tahu titah dari raja!”

“Menurut pembesar itu,” kata Pek Han-hong melanjutkan kisahnya. “Menurut peraturan yang ada, siapa yang menjadi camat, dia harus pergi dulu ke kotaraja untuk menghadap raja dan nanti Sri bagindalah yang akan mengangkatnya secara sah. Tetapi kalau camat yang diangkat oleh Go Sam-kui, kedatangannya hanya untuk formalitas saja. Semakin banyak orang itu minum, ucapannya juga semakin jumawa. Toako sengaja mengatakan bahwa dengan pembesar Yo yang menjadi camat, berarti orang Inglam mengepalai orang Inlam sendiri. Tentu penduduk Inlam sangat berbahagia karenanya. Mendengar kata-kata toako, pembesar Yo itu tertawa terbahak-bahak. Dia berkata: ‘Hal itu sudah tentu!’ Justru tepat pada saat dia mengucapkan kata-kata itu, di meja lain ada seseorang yang berteriak.

‘Oh, bangsat tua. Dia benar-benar musuh kita semua!’ Terus orang itu melompat bangul Tampak wajahnya merah padam karena menahan kemarahan. ”

“Apakah kata-kata itu diucapkan oleh Pat Wan-kan Ci Tian-coan, setan tua itu?” tanya So Kong.

“Memang dia!” sahut Han Hong. “Bangsat tu itu duduk di dekat jendela sembari minum arak. Di terus menambahkan, katanya kalau orang setempat memangku jabatan di asalnya sendiri, rakyat semakin diperas habis-habisan. Sebetulnya, kita toh sedang berbicara, siapa suruh dia banyak mulut?”

Hian Ceng tertawa datar “Pek jihiap, kata-katanya Ci samko kami tidak salah, bukan?”

Han Hong terdiam sejenak, sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu. Sesaat kemudian dia ban berkata kembali.

“Kata-katanya memang tidak salah, aku juga tidak mengatakan dia salah… tapi, untuk apa dia ikut campur dalam pembicaraan orang lain? Coba kalau dia diam saja, tentu tidak akan timbul urusan sepelik ini di antara kita.”

Melihat hati Han Hong masih panas. Hian Ceng pun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Pek Han-hong melanjutkan keterangannya.

“Yo-It Hong marah sekali mendengar kata-kata orang itu. Dia menggebrak meja keras-keras dan menoleh ke arah orang yang berbicara. Dia melihat orang itu sudah tua dan punggungnya bungkuk, di sampingnya ada sebuah kotak obat yang sudah kumal dan kotor. Mengetahui bahwa orang itu adalah seorang penjual obat, pembesar itu langsung membentaknya dengan suara bengis:

‘Tua bangka tidak tahu mampus, apa yang kau katakan. Keempat pengikutnya pun menghampiri dan mendamprat, bahkan salah satunya langsung merenggut leher pakaian orang itu. Ketika itu mataku benar-benar lamur, aku tidak tahu orang itu mengerti ilmu silat. karenanya aku maju untuk memisahkan mereka.Maksudku hanya untuk meredakan suasana yang mulai panas.”

“Pek jihiap, tindakanmu benar sekali. Kau patut disebut pemuda yang gagah perkasa dan berhati mulia, kata Hian Ceng memuji. Dia memang sengaja berkata demikian, agar hatinya tuan rumah itu tidak panas terus. Dengan demikian mereka bisa mencari penyelesaiannya. Bukakah pihaknya yang meraih kemenangan? Pek Han-siong sudah mati, sedangkan Ci Samko hanya terluka parah. Sebaiknya mereka berdamai saja.

Tetapi ternyata Han Hong tidak kena diangkat-angkat, dia malah tambah marah. Matanya menatap ke arah Hian Ceng dengan mendelik.

“Orang gagah apanya? Aku justru menyesal mataku tidak mengenal orang. Aku tidak melihat. bahwa bangsat tua itu sangat licik malah aku menyangkanya manusia baik-baik. Ketika itu Yo It hong sudah berkaok-kaok bahwa orang itu berani memberontak serta mencaci-maki dengan kalang kabut. Dia mengatakan bahwa orang kota raja kebanyakan licik dan harus dihukum!”

“Pembesar anjing itu sungguh keterlaluan.” maki Hoan Kong yang mendongkol. “Sudah di Inlam berani memeras rakyat, di kota raja pun dia hendak mengunjuk kuasanya!”

“Buat menghina, pembesar itu tidak dapat berbuat sesukanya. Dia mengatakan bahwa dia ingin meringkus orang itu untuk diserahkan kepada pembesar setempat supaya dihukum rangket empat puluh rotan. Dia akan mengalungi leher orang itu kemudian digiring di jalan raya agar dapat disaksikan oleh orang banyak. Mendengar ucapan si mulut besar itu, si bangsat tua itu tertawa terbahak-bahak Dia malah berkata:

‘Tuan camat yang mulia, dari tadi mulutmu berkeok-keok terus, apakah kau tidak merasa letih? Biar aku yang hina memberimu selembar kayo agar mulutmu itu tertutup rapat!
Habis berkata dia membuka kotak obatnya dan mengeluarkan sehelai kayo yang langsung disobek lapisannya!”

Semua orang yang ada dalam ruangan itu jadi tertarik hatinya dan ikut mendengarkan dengan perhatian penuh.

“Mulanya aku heran melihat orang she Ci itu tidak takut terhadap pembesar negeri,” kata Pek Han-hong melanjutkan penuturannya. “Aku bersama toako hanya memperhatikan saja. Biasanya, kalau koyo akan ditempelkan, harus digarang di atas api dulu agar obatnya meleleh. Tetapi tidak demikian halnyta dengan bangsat tua itu. Dia menjepit koyo itu dengan kedua telapak tangannya danobat itu langsung lumer. Tenaga dalamnya hebat sekali. Sementara itu, Yo It-hong masih juga memerintahkan orangnya untuk meringkus si bangsat tua!”

Selama Pek Han-hong bercerita, Siau Po berpikir, ’bagus. tentu pertunjukannya bagus sekali. Aku akan mendengarkan dengan seksama!’

“Menduga bahwa bangsat tua itu pasti sangat lihai, aku membiarkan saja tindakan pembesar dan keempat pengikutnya itu. Salah seorang sok jago, dia mengatakan bahwa dia akan maju sendiri menghadapi lawan, dia benar-benar maju ke depan bangsat tua itu!”

” ’Kau mau beli obat?’ tanya bangsat tua itu. ’Nah, ini obatnya!’ Dia pun meletakkan obat itu di tangan si pengikut.”

“Pengikut itu menjadi gusar.”

“hai, anjing tua! Apa sebenarnya yang kau inginkan? bentaknya, sambil maju terus ke depan.”

“Orang tua itu mendorong perwira atau mungkin tukang pukul tersebut, tangannya yang satu tetap meluncur ke depan dan koyo yang masih panas itu langsung ditempelkan di mulut pembesar itu. Karena nyeri, pembesar itu sampai berkaokkaok, namun karena mulutnya tersumpal, tidak ada suara yang keluar dari kerongkongannya kecuali Akkk…. Uuukkkkk!”

Mendengar cerita yang seru itu, Siau Po sampai tidak dapat menahan rasa gelinya sehingga tertawa terpingkal-pingkal dan tepuk tangan keras-keras.

Pek Han-hong menolehkan kepalanya dan mendeIik kepada si bocah. Siau Po jadi ngeri melihat sinar matanya yang bengis sehingga tawanya tidak dapat dilanjutkan lagi.

“Bagaimana kelanjutannya?” tanya Sou Kong.

“Pembesar itu jadi kelabakan dan berusaha melepaskan koyo panas yang menyumpal bibirnya.

Si bangsat tua itu tidak berdiam diri. Tangannya bergerak dengan cepat menyambar ke empat pengikut itu satu per satu kemudian melempar mereka sambil berteriak :

‘Cepat kau bantu pembesarmu itu!’ Entah bagaimana cara bangsat tua itu melakukannya, tahu-tahu tangan ke empat pengikut itu meluncur ke depan dan menampar muka pembesar itu secara bergantian. Pembesar itu serna kin kesakitan, suaranya seperti ayam disembelih dan dalam sekejap mata kedua pipinya sudah bengap tidak karuan dan merah padam!”

Kembali Siau Po tertawa geli. Dia Iupa sikap garang Pek Han-hong dan matanya sengaja dialihkan ke tempat lain sehingga tidak perlu melihatnya.

Sou Kong menganggukkan kepalanya.

“Orang tua itu dijuluki Pat-pi Wan-hau, tidak heran kalau gerakan tangannya lihay sekali. Konon ilmu Kim na-tay hoat nya hebat sekali. Ternyata sekarang telah terbukti.”

Pek Han-hong melanjutkan ceritanya.

“Kakakku tertawa menyaksikan peristiwa itu. Pada saat itu penonton mulai ramai, sebab rumah makan itu memang cukup laris. Si bangsat tua terus bergaya. Dia sengaja berteriak-teriak seakan-akan membela pembesar itu. ‘Jangan! Jangan kalian pukul atasanmm itu!’ katanya. Tubuhnya mencelat ke sana kemari. Tampaknya dia sedang menghindarkan diri dari sasaran keempat pengikut tersebut, tetapi sebetulnya dia malah menambah tamparan pada Yo It-hong. Dia baru berhenti setelah pembesar itu roboh pingsan di atas tanah. Sibuklah keempat pengikut itu menolong junjungannya. Namun sebetulnya mereka masih bingung, apa yang telah terjadi. Malah mereka menduga sedang diganggu setan usil. Tanpa banyak bicara lagi, mereka menggotong si pembesar dan meningalkan rumah makan dengan terbirit-birit. Pemilik rumah makan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengelus dada. Tentu saja dia tidak berani meminta ganti rugi kepada pengikut pembesar itu!”

“Bagus! Bagus” seru Hong Kong tertawa terbahak-bahak. “Segala pembesar anjing memang ha rus diberi pelajaran. Terutama kaki tangannya Go Sam-kui. Perbuatan Ci samko sarna artinya dengan melampiaskan kejengkelan di hati rakyat. Eh, Pek jihiap…. Mengapa waktu itu kau tidak membantu Ci samko menghajar anjing pembesar itu dengan beberapa bogem mentahmu?”

Pek Han-hong semakin mendongkol mendengar pertanyaan yang bersifat sindiran itu.

“Bangsat tua itu kan hanya ingin memamerkan kepandaiannya, buat apa aku ikut campur? Lagipula dia yang sedang menghajar orang bukan dirinya yang sedang dihajar, untuk apa aku membantunya?” sahutnya kesal.

“Pek jihiap benar!” kata Hian Ceng ikut memberi komentar.

“Huh!” Pek Han-hong mendengus dingin. “Setelah rombongan pembesar itu berlalu, toako memanggil pemilik rumah makan dan mengatakan bahwa dia akan menggantikan semua kerugiannya.

Bangsat tua itu tertawa dan mengucapkan terima kasih atas ucapan toako itu. Kemudian toako mengundang bangsat tua itu untuk minum bersama. Tahu apa yang dikatakannya?

Dia berbicara dengan suara perlahan. ‘Terima kasih! Terima kasih! Memang sudah lama aku dengar nama besar kalian berdua. Sungguh beruntung hari ini kita dapat berjumpa!

Mendengar kata-katanya, toako terkejut. Rupanya dia sudah tahu dengan jelas siapa kami adanya. Sebaliknya kami justru tidak tahu siapa orang itu.

Lalu toako pun berkata: ‘Kami benar-benar merasa malu, boleh kami mengetabui siapa nama loyacu yang mulia?’. Bangsat tua itu tertawa dan menjawab, ’ Aku yang rendah bernama Ci Tian-coan. Harap kalian maafkan. Karena tidak dapat menahan emosi, aku telah menunjukkan lagak yang berlebihan di hadapan saudara berdua. Ilmu yang buruk dan hanya membuat bahan tertawaan saja.’

Saat itu kami masih belum tahu siapa adanya Ci –Tian Coan itu. Namun karena dia memberi pelajaran pada pembesar musuh, kami yakin bahwa kami merupakan orang-orang dari golongan yang sama. Mungkin kalau bangsat tua itu tidak turun tangan, lama-kelamaan kami akan menghajarnya juga. Setelah itu, kamu duduk bersama-sama dan berbincang-bincang sembari menikmati arak. Tampaknya ada kecocokan di antara kami. Karena merasa kurang leluasa berbicara di rumah makan itu, toako langsung mengundang orang she Ci itu ke rumah kami.”

“Ah!” Seru Hong Kong tertahan. “Jadi Ci samko telah datang ke tempat ini dan akhirnya berkelahi dengan kalian?”

“Siapa bilang kami berkelahi di sini?” kata Pek Han-Hong dengan mata mendelik. “Mana mungkin kami biarkan orang mengacau di rumah kami sendiri? Itu namanya penghinaan!”

Hian Ceng tojin menganggukkan kepalanya dan berkata:

“Pek-si Siang-eng adalah orang-orang gagah di dunia kangouw. Tidak mungkin mereka berkelahi dengan orang di rumahnya sendiri!”

Pek Han-hong tersenyum kecil mendengar pendeta itu memujinya. Dia sempat mengucapkan terima kasih. Kemudian dia melanjutkan ceritanya.

“Dengan segala kehormatan dan keramah tamahan kami mengundang bangsat tua itu singgah di rumah kami. Setelah itu kami menanyakan bagaimana dia bisa mengenali kami berdua. Bangsat tua itu tidak menutupi dirinya. Dia mengatakan dengan terus terang bahwa dia adalah anggota Tian-te hwe. Dan sejak kami datang ke kotaraja dia sudah tahu siapa adanya kami berdua. Menurutnya, dia memang bermaksud berkenalan dengan kami dan kalau bisa menjadi sahabat kami. Bangsat tua itu benar-benar pandai bieara sehingga kami percaya sepenuhnya. Dia juga mengatakan bahwa dia memang sengaja menghajar pembesar anjing itu agar perhatian kami tertarik dan dia menggunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengan kami. Kami hampir menganggapnya sebagai orang baik-baik.
Karena itu pula kami membicarakan usaha kita menentang pemerintah Boan. Kami juga merundingkan kemungkinan membangkitkan kembali kerajaan Beng. Kami bertiga. Bukan! Hanya berdua serta seekor anjing, semakin lama semakin nierasa cocok satu dengan lainnya!”

Siau Po mendongkol juga mendengar ucapan pek Han-hong. Terang-terangan dia sudah menga takan ’kami bertiga,’ eh… tiba-tiba malah mengganti ucapannya dengan ‘hanya dua orang dan seekor anjing!’ kata-katanya itu benar-benar merupakan penghinaan bagi Ci lautao. Bocah itu tidak dapat menahan dirinya lagi dan berkata.

“Dua orang manusia dan seekor anjing, mereka langsung merasa cocok satu dengan lainnya!”

Mendengar ucapannya si thaykam cilik, Hoan Kong tersenyum. Yang lainnya juga merasa geli sehingga rasanya ingin tertawa tapi akhirnya ditahan juga karena tidak enak dengan tuan rumah yang sedang berduka.

Pek Jihiap benar-benar marah mendengar kata-kata Siau Po. Matanya menyorotkan sinar kebencian.

“Setan cilik, kau sengaja mengoceh sembarangan?”

Mendengar teguran yang kasar itu, Hoan Kong merasa tidak puas. Biar bagaimana pun Siau Po adalah ketuanya.

“Pek jihiap, ini adalah hiocu kami. Biar usianya masih muda, ia tetap merupakan ketua dari Ceng-bok tong. Dan semua anggota perkumpulan kami,tanpa ada yang terkecuali, harus menghormatinya!”

“Kalau memang hiocu, kenapa?” tanya Pek Han-hong seakan menantang.

Sou Kong cepat-cepat menengahi.

“Saudaraku ini sedang berduka. Karena itu belum bisa mendalikan emosinya ketika berbicara. Harap Wi hiocu memakluminya.”

Orang she Sou ini sudah banyak pengalaman dan dia tahu sampai di mana tingginya kedudukan seorang hiocu dalam perkumpulan Tian-te hwe.

Pek Han-hong sendiri juga langsung tersadar. Dia sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain agar tidak perlu bertemu pandang dengan Siau Po. Terdengar dia melanjutkan kata-katanya kembali.

“Setelah itu, kami bertiga….”

“Bukan bertiga!” tukas Siau Po. “Hanya dua orang dan seekor anjing!” Han Hong benar-benar marah, meskipun katakata itu dia sendiri yang mengucapkannya. Wajahnya sampai marah padam dan telunjuknya menuding Siau Po.

“Kau! Kau!” Pek Han-hong tidak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba dia dapat menguasai dirinya kembali. Dia segera menarik nafas panjang-panjang kemudian baru melanjutkan ceritanya.

“Kita lantas membicarakan urusan menentang kerajaan Ceng dan mempangun kembali kerajaan Beng. Kita juga membayangkan setelah kerajaan Ceng dibasmi, kami akan mengangkat kembali keturunan Sri Baginda Hong Bu untuk menduduki tahta kerajaan. Kata toako, setelah Sri Baginda wafat, hanya ada satu turunannya yang cerdas dan pandai dan sekarang sedang menyembunyikan diri di daerah pegunungan. Bangsat tua itu malah menyahut bahwa raja yang sah ada diTaiwan dan dalam keadaan baik -baik saja.”

Ketika Pek Han-hong bercerita sampai di sini, baik Sou Kong, Yaou Cun, Ong Bu-seng dan yang lainnya baru mengerti apa yang menjadi pokok perselisihan antara kedua saudara Pek dan Ci Tian Coan. Rupanya kedua belah pihak sama-sama berkeras bahwa junjungannyalah raja yang sah.

Tatkala Kaisar Cong Ceng, raja terakhir dinasti Beng mati menggantung diri di bukit Bwesan, bangsa Boanciu merampas seluruh Tionggoan. Sisa keluarga kerajaan Beng, yakni pangeran Hok ong, pangeran Lou ong dan pangeran Tong ong mengangkat diri menjadi raja di tempat masing-masing.

Ketiga pangeran itu bukan bekerja sama atau mengalah untuk saudara yang lainnya, tetapi justru bersaing sehingga menjadi musuh. Walaupun ada pangeran yang telah wafat, namun para menterinya yang setia tetap menjunjung pangeran tersebut dan tetap berselisih paham dengan pihak pangeran lainnya.

PekHan-hong meneruskan penuturannya.

“Mendengar ucapan si bangsat tua itu, aku langsung bertanya: ‘Kapan raja kami pergi ke Taiwan?’ bangsat tua itu menyahut: “Yang kumaksudkan adalah putra muda Sri Baginda Liong bu, bukan anak cucunya Kui ong!’ Kemudian toako berkata, “Ci Loyacu, kau adalah seorang patriot yang gagah perkasa, kami dua bersaudara sangat mengagumimu. Tapi mengenai urusan negara yang besar, rupanya paham kita berbeda. Setelah Baginda Ceng ceng wafat, Hok ong bangkit mengangkat dirinya sendiri. Tapi kemudian Hok ong tertawan tentara Boan, itulah sebabnya Tong ong menggantikan kedudukannya. Sayangnya umur Tong ong juga tidak panjang, beliau juga berkorban demi negara. Setelah itu, muncullah Sri Baginda Eng Lok kami dan ketika baginda ini juga mengorbankan diri sudah sepantasnya kalau kedudukan beliau digantikan oleh anak cucunya sendiri!”

‘Liong bu’ adalah tahun kerajaan ketika Tong ong naik tahta, sedangkan ‘Eng Lok’ adalah tahun kerajaan ketika Kui ong naik tahta. Sampai sekarang para pengikutnya semua menyebut junjungannya dengan tahun pemerintahan masing-masing Bahkan lama kelamaan menjadi sebutan bagi umum juga.

Tiba-tiba terdengar Hong Kong menukas.

“Pek jihiap, harap kau tidak berkecil hati. Setelah wafatnya raja Liang bu, dia digantikan oleh saudaranya, raja Ciau bu yang berkuasa di Kui Ciu. Tidak disangka-sangka, Kui ong mengirim pasukannya untuk menyerang Ciau bu. Bukankah mereka semua masih keturunan kaisar Cong ceng? Mereka bukan menghajar bangsa Tatcu yang telah merampas seluruh Tionggoan, tetapi malah bergontokan antara saudara sendiri. Bukankah itu suatu kekeliruaan yang sangat?”

Han Hong tidak senang dengan pertanyaan itu. Karena itu dia menjawab dengan suara keras.

“nada bicaranya si bangsat tua itu tidak berbeda dengan cara kau bertanya sekarang. Bukankah kaisar Liong bu kami berniat baik? Dia mengutus mentrinya ke Kuiciu untuk meminta secara baik-baik agar Tong ong bersedia meletakkan tahta kerajaannya itu. Siapa nyana menteri itu malah dibunuh. Untuk membangun sebuah kerajaan yang kuat, terlebih dahulu harus ada kekompakan di pihak sendiri, bukan? Perbuatan Tong ong tidak dapat dibenarkan sama sekali. Itu namanya pemberontakan, menentang atasan dan dialah biang bencana!”

Hoan Kong tertawa dingin.

“Dalam peperangan di Samsui, aku yang rendah juga mengambil bagian. Ketika itu, pihak siapakah yang kalah?” tanyanya dengan bibir dicibirkan.

Pek Han-hong marah sekali sampai-sampai dia berjingkrakan.

“kau masih juga mengungkit kembali hutang lama itu?”

Siau po tidak memperdulikan kegusaran orang

“Hoan toako,” tanyanya pada Hong Kong. “Bagaimana sih jalannya peperangan di Samsui itu?”

Hoan Kong tertawa.

“Kui ong telah mendengar hasutan dari mentrinya yang berkhianat. Kui ong kemudian mengirimkan seorang panglimanya yang bernama Lim Kui-teng membawa pasukan perangnya menyerang Kuiciu….”

“Hoan toako,” tukas Sou Kong. “Keteranganmu itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Tong ong yang mula-mula mengirim pasukannya menyerang Tiaukeng, karena itu terpaksa Sri Baginda kami menyambut serangan itu!”

Perselisihan paham ini menghalangi kelanjutan cerita Pek Han-hong. Persoalan lama menimbulkan perasaan emosi di hati kedua belah pihak. Mereka sama-sama egois terhadap paham yang mereka pegang.

Yau Cun segera mengibaskan tangannya melihat suasana menjadi panas. Mungkin setiap saat golok dan senjata tajam pun bisa ikut mengambil bagian dalam perdebatan itu:

“Sudah! Sudah!” kata si tabib menengahi. “Apa gunanya menyebut-nyebut urusan yang telah lalu? Tidak perduli siapa yang menang dan siapa yang kalah, hal itu tidak membawa kegemilangan bagi kita, sebab pada akhirnya kedua pihak sama-sama dijatuhkan oleh bangsa Tatcu!”

Mendengar kata-kata itu, baik Pek Han-hong maupun Hoan Kong sama-sama bungkam. Mereka merasa malu pada diri sendiri.

“Pek jite, bagaimana kelanjutan ceritamu tadi?” kata Sou Kong.

“Ucapan bangsat tua itu persis seperti kata-kata tuan Hong barusan….” Pek Han-hong masih juga menyebut Ci laotoa sebagai bangsat tua. “Pembicaraan kita semakin lama semakin keras, siapa pun tidak ada yang sudi mengalah. Saking marahnya, toako menggebrak meja keras-keras sehingga meja itu menjadi hancur berantakan. Peristiwa itu tidak membuat bangsat tua itu jeri, dia malah tertawa dingin sembari berkata: ‘Setelah alasanmu kalah malah ingin menggunakan kekerasan?

Nama besarnya Pek-si Siang Eng dari Bhok onghu memang sangat terkenal, meskipun aku hanya seorang anggota tidak berarti dalam Tian-te hwe, tapi bukan berarti aku harus merasa takut terhadap kalian!”

Pek Han-hong menghentikan kata-katanya sejenak untuk mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya setelah itu baru dia melanjutkan kembali.

“Kata-katanya itu sungguh tidak enak didengar. Benar-benar merupakan penghinaan bagi keluarga Bhok. Tapi toako masih berusaha bersikap sabar. Dia hanya berkata: ‘Aku memecahkan meja yang memang milikku senpiri, apa urusannya dengan kau? Mengapa kau menghina Bhok onghu? Siapa yang kau andalkan sehingga kau begitu berani? Sampai di situ pertengkaran kami, lalu toako dan bangsat tua itu mengadakan perjanjian untuk menyelesaikan persoalan lewat pertempuran malam itu juga di Tian-tan.”

Mendengar hal itu, Sou Kong menarik nafas panjang sebagai tanda penyesalan dan kegundahan hatinya.

“Rupanya masalah ini timbul karena urusan yang sepele saja….”

“Tengah malam itu juga kita pergi ke Tian tan,” kata Han Hong. “Kalian tentu tahu tempat pemujaan yang ada di kota Peking itu. Sesampainya di sana, tanpa bicara sepatah katapun, kedua pihak langsung terlibat pertempuran….”

“Tentunya dua lawan satu!” tukas Siau Po “Eh entah Pek tayhiap yang maju terlebih dahulu atau Pek jihian?”

Wajah Pek Han-hong merah padam disindir sedemikian rupa. Saking marahnya dia langsung berteriak.

“Kami dua bersaudara memang selalu turun tangan bersama-sama. Berhadapan dengan satu musuh, kami berdua. Berhadapan dengan seratus musuh, sama juga!”

Siau Po menganggukkan kepalanya.

“Oh, rupanya begitu!” kata Siau Po yang mulutnya tajam. “Jadi, kalau berhadapan dengan aku seorang bocah cilik, kalian turun tangan berdua juga?”

Bukan main gusarnya Pek Han-hong yang ditanya sedemikian rupa. Ia merasa terhina, karenanya sebelah tangannya langsung melayang ke kepala Siau Po.

Sou Kong segera mencegah tindakan saudaranya itu.

“Jangan Pek jite!”

Han Hong memberontak.
“Bocah ini sudah menghina kami secara kelewatan!”

Siau Po diam saja. Meskipun hatinya masih ingin menggoda terus, namun dia dapat melihat orang she Pek itu benar-benar marah.

“Jite, lebih baik kita kesampingkan urusan yang tidak berarti. Ceritakan lebih lanjut bagaimana orang she Ci itu bisa mencelakai Pek toate!” kata Sou Kong mengingatkan.

Pek Han-hong mendelik terlebih dahulu kepada Siau Po sebelum meneruskan ceritanya.

“Pada suatu hari nanti aku akan membeset kulitmu dan mencabik-cabik daging di seluruh tubuhmu!” ancamnya.

Siau Po tidak menggubris orang yang sedang marah itu. Sementara itu, Hoan Kong tersenyum ketika mendengar ucapan Sou Kong.

“Sou samhiap, barusan kau mengatakan bahwa Pek tayhiap telah dicelakai oleh Ci samko kami. Kata mencelakai itu sungguh tidak tepat. Bukankah kau sudah mendengar sendiri bahwa mereka mengadakan pertemuan di Tian-tan untuk bertempur. Dan Ci toako seorang diri melawan kedua saudara Pek. Dia pun tidak menggunakan akal licik apa-apa. Dengan demikian pertempuran berlangsung dengan adil. Mana boleh kau mengatakan ’mencelakai’?” katanya.

“Kenyataannya toako kami memang mati dicelakai orang she Ci itu!” teriak Pek Han-hong yang emosinya terbangkit kembali. “Sebelum she Ci itu!” teriak Pek Han-hong yang emosinya terbang kembali. “Sebelum pergi ke Tiantan, kedua pihak sudah mengadakan perjanjian. Toako sempat berkata kepadaku, ‘Meskipun tua bangka itu sunggu menyebalkan, tetapi bagaimana pun dia berasal dari golongan yang sama dengan kita dan bertujuan merobohkan kerajaan Ceng. Memandang perkumpulan Tian-te hwe, pertempuran harus dibatasi dengan saling towel saja. Jangan sampai mencelakakan lawannya. ladi kita tidak boleh membunuhnya. Siapa tahu bangsat tua itu benar-benar kejam dan sadis. Dia justru menurunkan tangan jahat terhada toako sehingga selembar jiwanya melayang!”

“Bagaimana caranya bangsat tua itu mencelakan Pek toate?” tanya Sou Kong.

Tampaknya orang yang satu ini lebih dapat mengendalikan diri dan bijaksana. Dia ingin mendapatkan keterangan sejelasnya dari rekannya itu

“Kedua pihak langsung terlibat pertempuran. Sampai empat puluh jurus masih belum ada kepastian siapa yang menang dan siapa yang kalah. Setelah berkelahi lagi beberapa saat, tiba-tiba bangsat tua itu melompat mundur dari arena kemudin memberi hormat sambil berkata: ‘ Aku yang rendah merasa kagum.’ Hari ini tidak ada yang menang maupun kalah, rasanya tidak perlu pertempuran ini dilanjutkan! Ilmu silat Bhok onghu benar-benar hebat. Tidak heran namanya bisa terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia!”

“Kalau begitu, bukankah anjurannya baik sekali karena perdamaian bisa tercapai dengan dihentikannya pertempuran itu?” tanya Sou Kong.

“Tapi kakak Sou tidak melihat sikapnya ketika berbicara!” kata Han Hong dengan nada mendongkol. “Apa kakak mengira maksudnya baik? Dia tersenyum dingin. Hal itu membuktikan bahwa dia tidak memandang sebelah mata kepada kita. Pasti dia mengaggap Pek-si Suang Eng dari Bhok onghu tidak sanggup mengalahkan dia yang kedudukannya rendah dalam Tian-te hwe, meskipun kami menghadapinya dengan dua lawan satu! Itu juga berarti bahwa percuma nama kami terkenal kalau hanya kepulan asap belaka. ltulah sebabnya aku merasa tidak senang dan berkata kepadanya: ‘Kalau belum ada yang menang atau kalah, kita harus bertempur terus sampai ada penyelesaiannya!’

Bangsat tua itu menyambut tantangan. Kami pun terlibat pertempuran kembali. Kali ini aku menggunakan tipu jurus Liong-teng Hou-you (Naga melesat Harimau melompat). Setelah mencelat ke atas, dari ketinggian aku menyerang ke bawah. Bangsat tua itu kena ditipu. Dia menghindar ke samping padahal kami dua bersaudara sudah melatih ilmu itu sampai sempurna. Toako menggunakan jurus Heng Siau Ciang-kun (Menyapu seribu tentara dengan posisi melintang) kakikiri menendang ke kanan. Sedangkan tangan kanan menyerang ke kiri. Dengan demikian, bangsat tua itu tidak bisa menyingkir lagi…” kata Pek Han Hong mejelaskan jalannya pertempuran.

Hian Ceng menganggukkan kepalanya.

“Jurus itu memang membuat orang kelabakan karena baik menghindar ke kiri maupun ke kanan posisinya tetap serba salah. Lihay sekali!”

“Tapi si bangsat tua itu mengerutkan tubuhnya.” Terdengar Han Hong menjelaskan kembali. “Tiba-tiba dia menerjang dada toako. Toako segera melindungi bagian dada dengan kedua tangannya sembari tertawa dia berkata: ‘Nah! Kau kalah!’ tapi baru saja ucapan toako selesai, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara yang keras. Suara benturan! Rupanya hantaman si bangsat tua itu berhasi mengenai toako. Dua pukulan sekaligus, sasarannya perut dan dada. Sebenarnya toako mengingat hubungan sesama kaum persilatan sehingga tidak mau mencelakai lawannya. Kedua tangannya hanya
diusapkan ke arah lawan tanpa mengandung tenaga yang dahsyat. Siapa sangka hati bangsat tua itu benar-benar beracun! Dia justru menurunkan tangan jahat! Melihat keadaan itu, aku langsun menyerangnya dengan jurus Kao-san Liu-sui (Gunung tinggi-Air mengalir) Aku hajar punggung bangsat tua itu sehingga dia terhuyung mundur
beberapa tindak. Namun saat itu toako pun sudah jatuh terduduk. Mulutnya memuntahkan darah beberapa kali. Aku terkejut setengah mati, segera aku menghambur ke hadapan toako untuk mengangkatnya bangun. Ketika itu si bangsat tua tertawa dingin. Kemudian dia mengambil langkah seribu. Aku memondong toako untuk membawanya pulang. Tapi di di tengah jalan, kakak hanya sempat berkata: ’Balaskan sakit hatiku!’ kemudian menghembuskan nafas terakhir. Sou Samko, kalau sakit hati ini tidak bisa terbalas, percuma kita hidup sebagai manusia!”

Selesai berkata, tanpa dapat mempertahankan diri lagi, mata Han hong mengucur dengan deras.

Hian Ceng menoleh kepada temannya.

“Hong liok-ko, tadi Pek jihiap menyebutkan beberapa jurus yang telah mereka gunakan dalam pertempuran. Bagaimana kalau kita mencobanya?”

Orang dipanggil Hong liok-ko itu sebenarnyaa bernama Ci Tiong. Tampangnya biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaan apa pun, malah mirip orang tua yang tidak berdaya. Sejak hari sebelumnya ketika berkenalan di toko obat, orang ini tidak pernah membuka suara sedikit pun. Siau Po juga tidak begitu memperhatikannya. Mendengar kata-kata Hian Ceng tojin itu, dia hanya menganggukkan kepala terus bangun. Begitu berdiri, dia langsung menghantam ke arah Hian Ceng dengan sebelah telapak tangannya!

Hian Ceng menangkis serangan itu. Setelah itu dia membungkukkan tubuhnya sedikit dan kedua tangannya berbarengan menghantam ke depan Sampai di tengah jalan kelima jari tangannya ditekuk sehingga membentuk cakar dan gerakannya pun mirip kera. Dengan cara demikian dia meniru gerakan Ci Tian coan yang berjuluk kera bertangan delapan.

Hong Ci-tiong menghindar ke kiri kemudian ke kanan. Setelah itu kakinya menutul dan tubuhnnya mencelat ke udara, dari atas dia meluncur turu kembali dengan mengirimkan serangan.

“Bagus!” seru Yau Cun. “Itulah jurus Liong teng Hou-you!” Belum habis kumandang suara si tabib, Hian Ceng sudah menghindarkan diri. Tapi Hong Ci tiong tidak berhenti sampai di situ. Dia mengulang serangannya. Tangannya menghantam ke samping kiri.
Semua orang dapat melihat dengan tegas bahwa gerakan yang dilakukannya persis seperti apa yang dituturkan Pek Han-hong barusan, yakni jurus Heng Siau Ciang-kun.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: