Kumpulan Cerita Silat

21/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (13)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:48 am

Rahasia Peti Wasiat (13)
Oleh Gu Long

Liong It-hiong tidak segera menjawab, ia menoleh dan berkata kepada Long-giok, “Nona Giok, dengan setulus hati kuharap engkau benar-benar akan kembali ke jalan yang baik, bilamana kau rusak rencana kerjaku, andaikan Sun-tayhiap mau mengampunimu juga aku tidak dapat memberi ampun.”

“Hamba tidak pernah menyatakan hendak meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan yang baik, aku cuma ingin lekas meninggalkan tempat ini untuk seterusnya hidup bersama Sun-tayhiap,” jawab Long-giok.

“Walaupun tingkah Wi Ki-tiu berbeda dengan orang biasa, tapi kekayaannya jarang ada bandingannya, pula tidak jelek dia memperlakukan dirimu, mengapa kau ingin meninggalkan dia?” tanya It-hiong pula.

“Memangnya kau kira orang perempuan akan puas asalkan mendapatkan suami yang kaya?” kata Long-giok. “Biarlah kukatakan terus terang, Wi Ki-tiu sudah tua lagi buruk rupa, selamanya tidak pernah membuatku puas, masa kupikirkan harta kekayaannya saja?”

Ia berhenti sejenak sambil melirik Sun Thian-tik sekejap, lalu menyambung dengan tertawa, “Hamba cuma suka kepada orangnya. Sun-tayhiap menyenangkanku, makanya kurela ikut dia.”

Sun Thian-tik merasa berjaya, dengan tertawa ia berkata, “Terima kasih atas pujianmu, selama ini orang she Sun tidak pernah mendapatkan penghargaan orang perempuan, mereka sama menganggap aku miskin dan kotor, tidak ada yang mau menjadi istriku.”

“Engkau tidak miskin,” kata Long-giok. “Soal kotor, asalkan kuanggap hatimu tidak kotor kan cukup.”

“Baik,” sela It-hiong. “Sekarang Sun-tayhiap sudah mau padamu, maka seterusnya engkau tidak boleh berhati cabang, dengan sendirinya juga tidak boleh mengkhianati kami berdua, tahu?”

Long-giok mengiakan.

“Nah, sekarang akan kujelaskan rencanaku,” tutur It-hiong. “Esok pagi hendaknya Sun-tayhiap mohon diri kepada Wi Ki-tiu, pura-pura meninggalkan Tengciu agar Wi Ki-tiu berangkat ke Cong-beng-to tanpa khawatir ….”

*****

Begitulah esok paginya sewaktu Long-giok masih tidur nyenyak, Sun Thian-tik lantas bangun dan keluar, ia tanya kepada seorang centeng, “Apakah Cengcu kalian sudah bangun?”

“Belum,” jawab centeng itu dengan hormat. “Semalam Cengcu tidur sangat terlambat, mungkin sebentar lagi baru akan bangun.”

“Di manakah Lokoankeh?” tanya Thian-tik.

“Kalau Lokoankeh sudah bangun pagi-pagi,” tutur si centeng.

“Bolehkah tolong panggil dia ke sini, aku ada urusan,” kata Thian-tik.

Centeng itu mengiakan terus melangkah pergi.

Tidak lama kemudian Lokoankeh sudah muncul, dengan tertawa ia memberi hormat dan berkata kepada Sun Thian-tik, “Wah, pagi benar Sun-tayhiap bangun, apakah ada urusan penting?”

“Ya, ada sedikit urusan dan harus segera mohon diri,” jawab Thian-tik, “Konon Cengcu belum bangun, maka ….”

“Sun-tayhiap kan belum sarapan pagi, mana boleh berangkat begini saja, silakan makan dulu baru berangkat,” kata Lokoankeh.

“Tidak usah,” ujar Sun Thian-tik. “Aku tidak biasa sarapan pagi, pula aku memang ada urusan harus segera berangkat. Nanti kalau Cengcu bangun, tolong sampaikan tentang keberangkatanku ini, katakan aku tidak sempat mohon diri dan sampaikan terima kasihku atas segala pelayanan beliau yang baik ini.”

“Tidak, jangan,” kata Lokoankeh, “jika Sun-tayhiap terburu-buru hendak berangkat, biarlah hamba laporkan saja kepada Cengcu.”

Habis bicara segera ia masuk ke dalam untuk lapor.

Tidak lama kemudian Kui-sui-poa. Wi Ki-tiu tampak keluar dengan wajah kelihatan baru bangun tidur, begitu masuk ruang tamu segera ia menegur, “Ai, Sun-tayhiap, mengapa pagi-pagi begini engkau akan berangkat? Jangan-jangan karena ladenan Long-giok kurang memuaskanmu?”

“Ah, mana,” jawab Sun Thian-tik dengan tersenyum. “Dia telah memberi servis dengan sangat memuaskan, soalnya aku memang ada urusan dan harus cepat-cepat kuselesaikan, biarlah lain kali saja kudatang lagi,” jawab Sun Thian-tik.

“Sun-tayhiap hendak menyelesaikan urusan penting apa?” tanya Wi Ki-tiu.

“Aku telah berjanji untuk bertemu di suatu tempat dengan seorang sahabat,” tutur Thian-tik. “Jika tidak lekas kuberangkat mungkin akan terlambat.”

“Jika begitu, berangkatlah setelah sarapan pagi,” ujar Wi Ki-tiu.

“Jangan sungkan, Wi-cengcu,” kata Thian-tik. “Aku pun tidak biasa makan pagi …. Ah, ya, sebentar bila Hui Giok-koan bangun, harap Cengcu sampaikan padanya bahwa aku sudah berangkat lebih dulu.”

“Baiklah, akan kusampaikan padanya,” jawab Wi Ki-tiu. “Bila kiranya Sun-tayhiap akan pesiar lagi ke Tengciu sini?”

“Begitu ada waktu luang pasti kudatang lagi,” kata Thian-tik dengan tertawa. “Selain itu, bilamana Cengcu memerlukan tenagaku, silakan mengirim kabar saja, bahwasanya Cengcu telah memberi pelayanan sebaik ini kepadaku, adalah pantas bilamana kubalas.”

“Ah, kenapa Sun-tayhiap bicara seperti ini, serupa baru saja kenal,” ujar Wi Ki-tiu sambil tergelak. “Sungguh kunjungan Sun-tayhiap ini merupakan suatu kehormatan besar bagiku, selanjutnya, persahabatan kita sudah jelas tambah kekal, kenapa mesti sungkan dan rendah hati.”

Sun Thian-tik menengadah dan terbahak-bahak, lalu memberi hormat dan berkata, “Jika demikian, biarlah sekarang juga kumohon diri.”

Wi Ki-tiu terus mengantarnya hingga keluar kampung, lalu memberi pesan pula, “Selanjutnya bila Sun-tayhiap ada waktu luang hendaknya suka mampir kemari, mungkin tidak lengkap persediaan perkampungan kami ini, tapi kalau daging pesut pasti tidak pernah absen.”

“Oya, pasti datang, pasti datang!” seru Thian-tik dengan tertawa. “Di tempat Anda tidak cuma daging pesut saja sangat enak dimakan, juga di sini banyak nona cantik yang memikat.”

“Haha, asal tahu saja!” Wi Ki-tiu terbahak. “Maaf, tidak antar lebih jauh.”

“Sampai bertemu!” seru Thian-tik sambil memberi salam.

Wi Ki-tiu memandangi kepergian orang hingga jauh barulah masuk kembali ke kampung. Tertampil rasa senang pada wajahnya, ucapnya dengan bergumam, “Hm, semula kukira dia datang dengan tujuan tertentu, rupanya cuma ingin cari kesenangan saja ….”

“Dia sudah pergi, Cengcu?” tanya Lokoankeh sambil menyongsong sang Cengcu.

“Ehm, sudah pergi,” Wi Ki-tiu mengangguk.

“Sekarang Loya (tuan besar) tentu tidak perlu khawatir lagi,” ujar Lokoankeh dengan tertawa.

Wi Ki-tiu lantas menuju ke wisma tamu, sambil berjalan ia berkata, “Ya, sekarang boleh kau berbenah seperlunya bagiku, sehabis menyamar segera aku akan berangkat.”

Lokoankeh mengiakan dan balik ke rumah induk.

“Eh, nanti dulu,” seru Wi Ki-tiu mendadak.

“Loya ada pesan apa lagi?” tanya Lokoankeh.

“Pada waktu aku pergi nanti, hendaknya kau awasi dengan lebih hati-hati, pada waktu malam seluruh kampung tidak boleh memadamkan lampu, pos penjagaan juga tidak boleh dihapus, bila ketemu orang pejalan malam menyusup kemari, harus gunakan cara lama dengan membunyikan bende dan berteriak maling, dengan demikian musuh dapat digertak lari.”

Lokoankeh mengiakan.

“Ada lagi, sesudah kupergi, Cui-ci-kiong harus ditutup, siapa pun dilarang rasuk,” pesan Wi Ki-tiu pula.

“Bagaimana dengan Lik-cu dan lain-lain?” tanya Lokoankeh.

“Mereka menjaga Hui Giok-koan di dalam sana, di situ sudah tersedia perbekalan yang cukup, maka tidak perlu kau urus mereka,” kata Wi Ki-tiu.

“Baik, dan apakah Loya juga sudah pesan kepada mereka dilarang keluar Cui-ci-kiong?” tanya Lokoankeh.

“Setelah Cui-ci-kiong kututup, segenap jalan keluar sudah buntu, biarpun mereka ingin keluar juga tidak dapat lagi.”

“Betul, hamba jadi lupa kepada kehebatan pesawat rahasia yang terdapat di dalam istana kristal itu ….” Lokoankeh tertawa senang.

“Baiklah, sekarang boleh kau pergi,” kata Ki-tiu.

Sementara itu Wi Ki-tiu sudah sampai di depan wisma tamu, ia masuk ke situ, mendatangi kamar yang semalam dipakai oleh Sun Thian-tik, ia mendorong pintu dan melangkah ke dalam.

“Siapa itu?” terdengar suara Long-giok tanya dari balik kelambu dengan kemalas-malasan serupa orang yang terjaga dari tidurnya.

Wi Ki-tiu mendekati tempat tidur dan menyingkap kain kelambu, ucapnya dengan tertawa, “Long-giok, bangunlah!”

Melihat Wi Ki-tiu, cepat Long-giok bangun duduk dan berseru, “Oo, Loya ….”

“Semalam tentu sangat menyenangkan bukan?” tanya Wi Ki-tiu dengan tertawa.

Dengan malu-malu Long-giok menjawab, “Kalau Loya sudah tidak suka lagi padaku, maka diriku diberikan untuk permainan orang lain, apa yang dapat hamba katakan pula?”

“Bukan begitu maksudku,” kata Wi-Ki-tiu. “Engkau adalah orang yang paling kusayangi, akhir-akhir ini kulihat engkau suka murung, maka sengaja kuberi kesempatan untuk ganti cita rasa lain, supaya kau pun dapat bermain dengan senang.”

Long-giok menjawab dengan lagak sedih, “Hamba cuma suka kepada Loya seorang, tapi tanpa iri sedikit pun Loya memberikan hamba kepada orang lain, ini menandakan Loya sudah bosan padaku.”

Wi Ki-tiu duduk di tepi tempat tidur, katanya sambil tepuk-tepuk bahu si nona dan berkata dengan tertawa, “Salah, bukan begitu, justru aku sangat suka padamu, lantaran akhir-akhir ini kesehatanku kurang baik, kukhawatir kau kurang puas, maka kuberi kesempatan padamu, sudah tentu masih ada alasan lain, yaitu supaya engkau mengawasi Sun Thian-tik. Nah, semalam dia tidak pernah meninggalkan kamar, bukan?”

“Ya, tidak,” jawab Long-giok. “Dan sekarang ke mana perginya?”

“Sudah angkat kaki,” kata Wi Ki-tiu.

“Angkat kaki?” Long-giok melengak.

“Ya, dia sudah pergi. Ia bilang ada janji pertemuan dengan orang, harus segera pergi ke sana.”

“Hm, dia benar-benar menganggap diriku sebagai pelacur belaka, mau pergi saja tanpa pamit sama sekali,” jengek Long-giok dengan tidak senang.

“Mungkin dilihatnya kau masih tidur dan tidak mau membangunkanmu,” kata Wi Ki-tiu dengan tertawa. “Eh, apa saja yang dibicarakannya denganmu semalam?”

“Banyak yang dia bicarakan, cuma semuanya tidak ada yang penting, ia terus-menerus membual tentang kehebatan pribadinya. Hm, biasanya gentong kosong memang nyaring bunyinya, kukira paling-paling dia juga cuma begitu saja, masa Loya begitu jeri padanya?”

“Tidak, dia memang tokoh yang sukar direcoki,” ujar Wi Ki-tiu, “Kalau bicara tentang ilmu silat, tentu saja aku tidak gentar padanya. Tapi dia banyak tipu muslihatnya, segala permainan dapat dilakukannya, sebab itulah harus berjaga-jaga segala kemungkinan tingkah ulahnya.”

“Dan sekarang tentunya sudah terbukti kedatangannya bukan tertuju kepada Loya?”

“Ya,” jawab Ki-tiu.

“Dan bagaimana dengan Hui Giok-koan?” tanya Long-giok pula.

“Semalam Lik-cu telah menawannya ke dalam Cui-ci-kiong, dia sudah dikompes dan akhirnya mengaku tempat dia menyembunyikan kotak pusaka itu.”

“Disembunyikannya di mana?” tanya Long-giok dengan girang.

“Di Ngo-tay-san,” tutur Ki-tiu.

“Dan Loya sudah membunuhnya?” tanya Long-giok pula.

“Tidak,” Ki-tiu menggeleng. “Sebelum kotak pusaka itu kudapatkan tidak boleh kubunuh dia, akan kukurung dia di kamar rahasia nomor sembilan.”

“Sesungguhnya apa isi kotak pusaka itu?” tanya Long-giok.

“Biarlah kelak saja akan kuberi tahukan padamu,” ujar Wi Ki-tiu dengan tersenyum.

“Dan kapan Loya akan mengambil kotak pusaka itu?”

“Sebentar segera kuberangkat.”

“Apakah boleh hamba ikut pergi bersama Loya?” tanya Long-giok.

“Tidak, hendaknya kalian tinggal saja di Cui-ci-kiong untuk menjaga Hui Giok-koan,” jawab Wi Ki-tiu.

“Bilakah Loya akan pulang?”

“Paling cepat setengah bulan lagi.”

“Wah, apabila ada orang menyusup ke sini dan membawa lari Hui Giok-koan, lantas bagaimana?” tanya Long-giok.

“Tidak, tidak mungkin terjadi,” ujar Wi Ki-tiu, “Sudah kuputuskan akan memblokir Cui-ci-kiong dengan ketat, siapa pun jangan harap akan masuk ke sana.”

“Hah, memblokir Cui-ci-kiong, menutupnya dengan rapat?” Long-giok menegas dengan melengak.

“Betul,” jawab Ki-tiu.

“Wah, dengan demikian bukankah kami akan hidup di dalam Cui-ci-kiong selama setengah bulan takkan melihat sinar matahari?” kata Long-giok dengan mulut menjengkit.

“Betul, cuma kau pun jangan sedih, hanya setengah bulan saja, dalam sekejap pun akan lalu.”

“Tidak mau,” Long-giok berlagak manja, “hamba tidak mau. Berdiam selama setengah bulan di situ, bisa mati kesal.”

“Ai, sabarlah sedikit,” bujuk Ki-tiu. “Nanti setelah kupulang dengan membawa kotak pusaka itu, kau minta barang apa pun pasti akan kubelikan.”

“Tidak, hamba tidak menghendaki apa pun,” kata Long-giok. “Hamba cuma tidak ingin berdiam selama setengah bulan di Cui-ci-kiong …. Ai Loya, mohon engkau perbolehkan kutinggal di sini saja.”

Wi Ki-tiu berkerut kening, “Masa kau tidak ingin berkumpul dengan Lik-cu dan lain-lain?”

“Tidak, sudah lebih setahun hamba tinggal di Cui-ci-kiong, mendingan biasanya didampingi oleh Loya,” kata Long-giok. “Tapi sekarang, bila Loya pergi, sungguh hamba tidak tahan berdiam di sana, makanya kumohon tinggal di sini saja agar dapat menghirup udara segar.”

“Jika kau tidak turun ke sana, nanti kalau Cui-ci-kiong kututup, bila kau ingin turun ke sana harus menunggu lagi setengah bulan,” ujar Wi Ki-tiu.

“Baiklah, tidak menjadi soal,” kata Long-giok.

Wi Ki-tiu mengawasi si nona, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Apakah ada niatmu meninggalkanku pada waktu aku tidak di rumah.?”

“Ah, sama sekali hamba tidak punya niat begitu,” jawab Long-giok. “Jika Loya khawatir hamba berubah pikiran, bolehlah Loya mengurung hamba saja di sini.”

“Terkurung di sini, apakah akan lebih enak daripada tinggal di Cui-ci-kiong?”

“Begitulah menurut pikiran hamba, sesungguhnya hamba tidak ingin lagi hidup di tempat yang tidak pernah melihat sinar matahari itu, mohon Loya kasihan padaku.”

Wi Ki-tiu termenung sejenak, katanya kemudian, “Jika benar kau tidak suka lagi tinggal di Cui-ci-kiong, bolehlah kusuruh Lik-cu kemari untuk menemanimu ….”

“Jangan Lik-cu, panggil Le-hui saja, biasanya hamba lebih cocok berkumpul dengan dia,” pinta Long-giok.

“Boleh juga,” Ki-tiu manggut-manggut. “Akan kutanyai dia apakah dia mau naik ke sini untuk menemanimu.”

Bicara sampai di sini ia lantas berbangkit.

“Jika Le-hui mau, tolong Loya suruh dia membawa sekalian pakaian dan barang lain milik hamba ke sini,” pinta Long-giok.

Wi Ki-tiu mengangguk, lalu dia mendekati dinding di kanan tempat tidur dan mengetuk pintu rahasia, lalu masuk ke sana.

Long-giok menaksir orang sudah sampai di bawah Cui-ci-kiong barulah dia melongok kolong ranjang dan mendesis, “Liong-hiap, dia bilang akan memblokir Cui-ci-kiong, wah, sungguh kabar tidak enak.”

Kiranya Liong It-hiong masih sembunyi di kolong ranjang, dengan sendirinya ia dapat mengikuti seluruh percakapan antara Wi Ki-tiu dan Long-giok.

Setelah melangkah keluar kolong tempat tidur, It-hiong bertanya dengan perlahan, “Apa yang disebut memblokir Cui-ci-kiong, sesungguhnya bagaimana jadinya?”

“Kau tahu, berbagai jalan keluar-masuk Cui-ci-kiong dikendalikan oleh sebuah pesawat sentral, asalkan pesawat sentral itu ditutupnya, orang luar lantas tidak dapat masuk ke sana dan orang di dalam pun tidak mampu keluar.”

“Di mana letak pesawat sentral itu?” tanya It-hiong.

“Entah, aku pun tidak tahu. Kecuali dia sendiri, mungkin tidak diketahui oleh orang kedua.”

“Mengapa kau minta dia memperbolehkan kau tinggal di sini?”

“Sebab dia menyatakan hendak memblokir Cui-ci-kiong, terpaksa hamba mengajukan permintaan demikian, kalau tidak, jelas aku tidak mampu membantu kalian.”

“Apakah takkan menimbulkan curiganya atas permintaanmu itu?”

“Kuharap tidak,” kata Long-giok.

“Apakah engkau tidak punya akal untuk menyelidiki di mana letak pesawat sentral yang mengatur semua jalan keluar-masuk itu?”

“Tidak, tidak bisa,” jawab Long-giok. “Pada waktu dia memblokir Cui-ci-kiong pasti tidak mengizinkan orang lain mendampingi dia.”

“Tadi dia telah membohongimu, apakah kau tahu?” kata It-hiong.

“Membohongiku apa?” tanya Long-giok bingung.

“Waktu kau tanya dia di mana Hui Giok-koan menyembunyikan kotak pusaka, dia kan menjawab Ngo-tay-san, begitu bukan?”

“Ya, maksudmu sesungguhnya tidak disembunyikan di Ngo-tay-san?” Long-giok menegas.

“Ehmm,” It-hiong mengangguk.

Long-giok menghela napas perlahan, “Makanya, dari sini pun terbukti bahwa sama sekali dia tidak menganggap diriku sebagai orang kepercayaannya.”

“Dia pasti mempunyai beberapa orang kepercayaan, apakah kau tahu siapa-siapa mereka?” tanya It-hiong.

“Ada tujuh orang jago pengawalnya yang setia, seluruhnya adalah anak buahnya sejak dulu,” tutur Long-giok, “Cuma orang yang paling dipercayanya adalah Lokoankeh yang bernama Eng Tiong-jin itu. Setiap urusan penting selalu diserahkan kepada Eng Tiong-jin untuk menyelesaikannya.”

“Jika begitu, sangat mungkin Eng Tiong-jin tahu di mana letak pesawat sentral itu,” kata It-hiong.

“Ya, mungkin, tapi Eng Tiong-jin tidak pernah belajar ilmu silat,” kata Long-giok.

“Terkadang, memercayai seorang yang tidak paham ilmu silat akan jauh lebih dapat diandalkan daripada memercayai seorang yang mahir ilmu silat,” ujar It-hiong.

“Dia menyanggupi akan memanggil Le-hui ke sini untuk menemaniku,” kata Long-giok. “Nanti kalau dia sudah berangkat apakah boleh kuceritakan segalanya kepada Le-hui?”

“Wah, jangan,” kata It-hiong. “Mungkin dia rada curiga terhadap permintaanmu, dan karena itu bisa jadi dia memberi perintah kepada Le-hui untuk mengawasi gerak-gerikmu, maka jangan sekali-kali kau ceritakan sesuatu kepadanya.”

“Tapi kalau dia menemaniku di sini, cara bagaimana hamba dapat membantu kalian? Cara bagaimana pula untuk kabur dari Liong-coan-ceng sini?”

“Tunggu saja kalau malam nanti Sun-tayhiap datang, akan kami rundingkan suatu akal untuk menghadapi dia, untuk sementara ini hendaknya sabar dulu dan jangan memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan.”

“Baiklah,” bata Long-giok. “Engkau lapar tidak?”

“Lapar sedikit, tapi tidak menjadi soal, nanti kalau Wi Ki-tiu sudah pergi baru kau cari kesempatan untuk mengambilkan makanan bagiku.”

“Mungkin selekasnya dia akan naik ke sini lagi, lekas kau sembunyi.” kata si nona.

It-hiong mengangguk dan segera merangkak masuk lagi dan sembunyi di kolong ranjang.

Benar juga, tidak lama kemudian pintu rahasia tadi perlahan naik ke atas dan terbuka, Wi Ki-tiu muncul bersama Le-hui, salah seorang di antara ketujuh nona cantik.

Segera Long-giok turun dari tempat tidur dan menegur, “Le-hui, kau bawah sekalian pakaianku atau tidak?”

“Ini, di sini semua,” jawab Le-hui dengan tertawa sambil menyodorkan sebuah bungkusan.

“Terima kasih,” kata Long-giok.

“Ai, saudara sendiri, pakai terima kasih apa segala?” ucap Le-hui dengan tertawa.

“Nah, sekarang tentu kau senang, bukan?” tanya Wi Ki-tiu.

“Ya, terima kasih, Loya,” jawab Long-giok sambil memberi hormat.

“Sekarang kalian berdua boleh tinggal di wisma tamu ini, kalau tidak ada urusan boleh saja jalan-jalan di dalam kampung, tapi dilarang keluar kampung, tahu?” pesan Wi Ki-tiu.

“Tahu, Loya,” jawab Long-giok dengan lembut.

“Selama aku tidak di rumah, kalian menghendaki apa boleh minta saja kepada Lokoankeh, sebentar akan kuberi pesan kepadanya.”

“Baiklah, apakah sekarang juga Loya akan berangkat?” tanya Long-giok.

“Aku mau kembali ke kamar untuk menyamar, habis itu akan berangkat melalui belakang kampung, kalian tidak perlu lagi mengantar,” kata Ki-tiu.

Le-hui mendekat dan menciumnya sekali, ucapnya dengan tertawa, “Selamat jalan Loya, lekas pergi dan cepat pulang.”

Wi Ki-tiu terbahak-bahak, “Tentu, tentu, hahaha! Kutahu kawanan budak seperti kalian ini tidak tahan kesepian, mana kala aku tidak lekas pulang, wah, bisa jadi kalian akan menyeleweng.”

Long-giok juga memberi ciuman perpisahan sambil meraba pipi dan mengelus jenggot Wi Ki-tiu, ucapnya dengan tersenyum manis, “Loya jangan khawatir, dalam hati kami hanya ada engkau seorang!”

Wi Ki-tiu terbahak-bahak senang dan tinggal pergi.

*****

Segera Le-hui menutup pintu kamar, ia membalik dan memandang Long-giok sampai sekian lama, lalu bertanya, “Di sini semalam engkau melayani Sun Thian-tik?”

Muka Long-giok menjadi merah, jawabnya sambil mengangguk, “Ya.”

“Bagaimana rasanya?” tanya Le-hui pula.

“Cis,” semprot Long-giok dengan melotot. “Untuk apa kau tanya hal ini? Tidak malu!”

“Alaa, malu apa?” ujar Le-hui dengan tertawa. “Sekarang Loya sudah pergi, apa alangannya kau katakan padaku.”

“Tidak, takkan kukatakan,” jawab Long-giok.

“Tidak kau katakan takkan kutemanimu di sini,” Le-hui berlagak ngambek terus hendak tinggal pergi.

Cepat Long-giok menariknya, ucapnya dengan tertawa, “Baik, baik, akan kuceritakan.”

Lalu ia mendekap telinga Le-hui dan membisikinya, diuraikannya apa yang dialaminya semalam.

Sembari mendengarkan Le-hui tertawa terkikik-kikik, juga heran dan kagum sekali, akhirnya ia menegas, “Apa betul?”

Long-giok tertawa, “Hubungan kita berdua sangat karib, untuk apa kubohongimu?”

Tampaknya Le-hui sangat terpikat, ucapnya, “Sungguh nasibmu sangat baik.”

“Tidak baik,” kata Long-giok dengan tertawa sambil menggeleng.

“Tidak baik?” Le-hui melenggong.

“Ya,” jawab Long-giok. “Tanpa sayang sedikit pun dia menyerahkan diriku untuk dibuat mainan orang lain, ini menandakan dia tidak suka lagi padaku,” tutur Long-giok. “Selain itu, setelah pengalaman ini, bilamana aku bergaul lagi dengan dia tentu akan merasa cemplang.”

“Memang betul,” tukas Le-hui dengan tertawa. “Ibaratnya orang bila pernah minum arak, lalu minum air tawar, tentu akan dirasakan cemplang.”

“Makanya kubilang tidak baik,” kata Long-giok.

“Namun aku tetap kagum akan keberuntunganmu,” ujar Le-hui.

“Jika kau mau, kelak bila ada kesempatan tentu akan kuminta dia menugaskan dirimu,” kata Long-giok.

Le-hui tertawa, ia coba ganti pokok pembicaraan, “Kenapa kau minta dia mengizinkan kau tinggal di sini?”

“Bila turun ke Cui-ci-kiong, kukhawatir akan ditertawai oleh kalian,” jawab Long-giok.

“Ah, jangan kau dusta, bahwa engkau tidak mau masuk lagi ke Cui-ci-kiong tentu ada alasan lain,” kata Le-hui.

“Memang ada suatu alasan lagi,” tutur Long-giok, “yaitu, dia kan mau pergi selama setengah bulan, bahkan dia bilang hendak memblokir Cui-ci-kiong. Jika terjadi demikian, coba pikir, kita kan serupa orang mati saja dikubur hidup-hidup di bawah tanah. Bilamana terjadi sesuatu di luaran dan dia takkan pulang untuk selamanya, kita kan benar-benar akan terkubur di situ?”

Le-hui menampilkan rasa menyadari duduknya perkara, “Ah, kiranya begitu, aku tidak berpikir sampai ke situ. Memang betul, apabila dia mampus di luaran, kita pun jangan harap lagi akan keluar dari Cui-ci-kiong.”

“Semula dia bilang hendak menyuruh Lik-cu untuk menemaniku di sini,” tutur Long-giok pula. “Tapi aku menolak, kukatakan lebih cocok denganmu dan kuminta dia menyuruhmu ke atas untuk menemaniku.”

“Wah, sungguh aku sangat beruntung,” seru Le-hui dengan gembira. “Bilamana dia benar tidak pulang lagi, itu sama halnya engkau yang menyelamatkan jiwaku.”

“Ya, tatkala mana kau harus terima kasih padaku,” kata Long-giok dengan tertawa.

Le-hui coba mendekati jendela dan melongok ke luar, lalu berpaling dan mendesis, “Long-giok, ada satu gagasanku, entah boleh, kukatakan kepadamu atau tidak?”

“Urusan apa, katakan saja,” jawab Long-giok.

Le-hui menariknya untuk duduk di tepi ranjang, lalu berkata, “Kau tahu, terhadap kehidupan di Cui-ci-kiong itu aku sudah merasa bosan, selama ini kuharapkan akan tiba ketika baik untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Nanti kalau dia sudah pergi, bagaimana kalau kita mencari kesempatan untuk minggat saja?”

“Wah, jangan!” jawab Long-giok.

“Kenapa?” tanya Le-hui.

“Setiap manusia harus punya perasaan dan tahu budi kebaikan,” ujar Long-giok. “Meski dia sudah tua dan loyo, biasanya hanya nafsu besar dan tenaga kurang, tapi selama ini dia tidak jelek terhadap kita, mana boleh kita tinggalkan dia begini saja.”

“Akan tetapi, kita kan harus berpikir juga bagi diri kita sendiri,” kata Le-hui. “Kita masih muda, masih panjang hari depan kita, masa kita akan ikut dia selamanya?”

“Apa pun juga aku tidak setuju meninggalkan dia,” ucap Long-giok dengan tegas. “Jika mau pergi, biarlah kita tunggu sampai dia mati.”

“Wah, bisa jadi dia akan hidup lagi 20 tahun atau 30 tahun, waktu itu kita pun sudah keriput dan ubanan, siapa yang mau kepada kita?” kata Le-hui.

“Pendek kata, betapa pun aku tidak setuju meninggalkan dia,” ucap Long-giok sambil menggeleng kepala.

Melihat tekad kawannya begitu teguh, Le-hui merasa kurang senang, ucapnya, “Baik, tidak mau ya sudah, namun engkau jangan menyesal ….”

Ia terus berbangkit dan berkata pula, “Entah sekarang Cui-ci-kiong sudah ditutupnya atau belum?”

“Kan mudah saja untuk mengetahuinya, coba ketuk pintu rahasianya,” kata Long-giok.

Segera Le-hui mendekati kanan tempat tidur dan mengetuk tiga kali pada dindingnya, ternyata pintu rahasia itu tidak terpentang lagi seperti biasanya.

“Ya, benar, sudah tertutup,” katanya.

“Mungkin segera dia akan berangkat,” ucap Long-giok.

“Coba kupergi melihatnya,” kata Le-hui, lalu ia membuka pintu kamar dan keluar.

Long-giok ikut keluar, dilihatnya Le-hui sudah keluar wisma, cepat ia putar balik ke kamar dan berjongkok, katanya kepada Liong It-hiong yang mendekam di kolong ranjang, “He, lekas keluar, biar hamba membawamu sembunyi di kamar sebelah, tidak boleh di sini.”

It-hiong juga menyadari tidak mungkin bersembunyi terus di kolong ranjang, cepat ia merangkak keluar, katanya dengan tertawa, “Dia benar-benar sangat baik denganmu?”

“Hanya agak cocok saja di antara kami berdua,” jawab Long-giok.

“Engkau sangat pintar, tadi engkau tidak setuju untuk minggat bersama dia,” kata It-hiong, dengan tersenyum.

“Kutahu dia sengaja menjajaki jalan pikiranku atas suruhan Wi Ki-tiu,” ujar Long-giok, “Saat ini mungkin dia sedang memberi laporan kepadanya.”

“Ya, bila Wi Ki-tiu mendengar engkau tidak mau minggat, rasa curiganya padamu tentu akan lenyap.”

Long-giok mengangguk, katanya, “Ayo, lekas ikut padaku.”

Ia mendekati pintu kamar dan coba melongok keluar, setelah jelas wisma ini tidak ada orang lain, ia menggapai kepada Liong It-hiong terus melangkah cepat ke kamar sebelah.

Cepat It-hiong ikut keluar ke sana.

Setiba di kamar sebelah, Long-giok menolak pintu kamar sambil mendesis, “Lekas masuk, dengan sembunyi di kamar ini mungkin takkan ketahuan, dan bila ada kesempatan tentu akan kuantarkan makanan kepadamu.”

Liong It-hiong menyelinap ke dalam kamar, dilihatnya keadaan kamar ini lebih buruk daripada kamar tadi, ia tahu kamar ini jarang digunakan, tanpa pikir ia berjongkok terus menyusup ke kolong ranjang.

Long-giok menutup kembali pintu kamar dan kembali ke kamar tadi, ia mulai cuci muka dan berdandan, gerak-geriknya sangat tenang.

Tidak lama kemudian tampak Le-hui sudah kembali.

“Dia sudah pergi,” katanya dengan tertawa.

“Apakah dia jadi menyamar?” tanya Long-giok.

“Ya, dia menyamar sebagai saudagar,” tutur Le-hui.

“Kuharap kotak pusaka itu dapat ditemukannya dengan lancar,” ujar Long-giok.

“Apakah ia pernah memberitahukan padamu apa isi kotak itu?” tanya Le-hui.

“Tidak pernah,” jawab Long-giok. “Tapi dapat diduga isi kotak pasti benda mestika yang sukar dinilai harganya, kalau tidak masakah dia berani menyatakan akan menukarnya dengan Liong-coan-ceng ini.”

“Ai, orang she Hui itu sungguh harus dikasihani ….” kata Le-hui.

“Apakah dia dikurung di kamar rahasia nomor sembilan?”

“Ya, dia ditelanjangi sehingga tidak tertinggal sehelai benang pun, kaki dibelenggu lagi.”

“Mengapa tidak membiarkan dia mengenakan pakaian?”

“Dalam keadaan telanjang bulat, supaya dia tidak berani berusaha melarikan diri,” tutur Le-hui dengan tertawa.

“Wah, sungguh keterlaluan,” kata Long-giok.

“Memang, dalam keadaan telanjang bulat begitu, Lik-cu dan lain-lain mungkin akan terangsang, tapi mereka hanya dapat memandangnya dan tidak dapat memegangnya.”

Mendadak pintu diketuk orang.

“Siapa itu?” tanya Le-hui.

“Hamba,” terdengar suara Lokoankeh Eng Tiong-jin.

“Masuk saja,” seru Le-hui.

Segera Lokoankeh menolak pintu dan masuk dengan tertawa, ia tanya, “Kedua nona bermaksud dahar di mana?”

“Biarlah kami makan di sini saja,” jawab Le-hui sambil memandang Long-giok sekejap.

“Baiklah, segera hamba akan menyuruh orang mengantar ke sini,” kata Lokoankeh.

Habis berucap ia lantas mengundurkan diri.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari mulut kampung berkumandang suara ribut-ribut.

“He, ada apa?” seru Long-giok melengak.

“Mari kita coba melihatnya,” ajak Le-hui.

Kedua orang lantas keluar kamar, sampai di luar wisma, terlihat di depan kampung sana ada beberapa centeng mengerumuni satu orang dan sedang bertengkar.

Usia orang itu antara 57-58 tahun, muka bulat, kepala gundul, berbaju kulit macan tutul. Kiranya si kakek berbaju kulit macan alias Kim-ci-pa Song Goan-po yang semalam gagal menyelundup ke Liong-coan-ceng itu.

Rupanya dia telah ganti haluan, tidak mau masuk kampung secara gelap-gelapan melainkan dilakukannya secara terang-terangan dan menyatakan hendak bertemu dengan Wi Ki-tiu, akan tetapi kawanan centeng itu tidak mengizinkan dia masuk, maka terjadi keributan.

Tentu saja Song Goan-po sangat mendongkol, dengan bengis ia meraung, “Keparat, lekas laporkan kepada Cengcu kalian, katakan Kim-ci-pa Song Goan-po ingin bertemu, kalau rewel lagi segera akan kuterjang masuk saja!”

Salah seorang centeng menjawab dengan ketus, “Hari ini Cengcu kami tidak menerima tamu, hal ini sudah kukatakan sejak tadi, apakah kupingmu tuli?!”

Song Goan-po menjadi murka, bentaknya, “Dirodok, bicara secara halus kalian tidak mau terima, boleh kalian coba saja mau apa?”

Sembari bicara ia terus melangkah ke depan.

Beberapa centeng itu juga murka, serentak mereka mengadang di depan orang dan mendorong sambil membentak, “Enyah!”

Siapa tahu meski tangan mereka dapat menolak dada Song Goan-po, namun tidak dapat menahan langkah maju kakek gundul itu, sebaliknya mereka malah tergetar oleh Lwekang Song Goan-po yang lihai, semuanya terpental serupa layang-layang putus benang dan jatuh tersungkur dua-tiga tombak jauhnya.

Song Goan-po tertawa keras dan langsung menuju ke tengah kampung.

Segera dilihatnya lagi dua orang centeng dengan membawa toya memburu tiba, sambil mengacungkan toya masing-masing segera mereka membentak, “Enyah, pergi! Kalau berani sembarangan menerobos lagi, sekali kemplang bisa kami mampuskan kau tua bangka ini!”

Namun Song Goan-po anggap tidak mendengar dan melihat saja, ia masih terus melangkah ke depan.

Melihat sikap orang yang kepala batu itu, kedua centeng menjadi gusar, toya mereka serentak bekerja, yang seorang mengemplang batok kepala Song Goan-po, yang lain menyerampang kedua kakinya.

Dari gaya serangan mereka, jelas kedua centeng ini sudah pernah belajar Kungfu.

Akan tetapi Song Goan-po tetap anggap seperti tidak melihat dan mendengar, sebaliknya ia songsong serangan mereka.

Maka terdengarlah suara “brak-krek” dua kali, kedua toya tepat kena sasarannya, yang satu mengenai kepala dan yang lain mengenai kaki.

Namun kepala Song Goan-po yang gundul itu tetap halus kelimis, tidak merah, tanpa benjut, kedua kakinya juga tidak patah, yang patah sebaliknya kedua toya.

Sungguh luar biasa, serupa kepala tembaga dan tulang baja saja, sedikit pun tidak cedera.

Baru sekarang air muka kedua centeng itu berubah pucat, lekas mereka membuang sisa toya patah itu terus mengeluarkan belati, namun seketika mereka tidak berani menyerang lagi, mereka hanya bergaya siap tempur sambil menyurut mundur berulang-ulang.

“Berhenti, jangan maju lagi!” bentak mereka dengan lagak garang sambil menyeringai. “Jika maju selangkah lagi terpaksa kami tidak sungkan lagi padamu!”

Song Goan-po tertawa ejek, dengan bersitegang leher ia malah memapak ke depan.

Kedua centeng itu seperti binatang yang kepepet di jalan buntu, sembari menyurut mundur mereka berteriak-teriak, “Keparat, apa benar kau sudah bosan hidup?!”

“Kukira kalian inilah yang sudah bosan hidup,” ucap Song Goan-po.

Mendadak kedua tangan meraih ke depan, sekaligus ia cengkeram pergelangan tangan kedua centeng itu.

“Tahan!” tiba-tiba suara orang menghardik berkumandang dari halaman sana.

Mestinya Song Goan-po hendak memuntir patah pergelangan tangan kedua centeng, demi mendengar suara bentakan itu, ia urung bertindak dan coba berpaling, tertampaklah tujuh orang kakek berbaju ringkas muncul dari halaman sana. Ia tahu ketujuh orang ini tentu tokoh menonjol di Liong-coan-ceng ini, segera ia dorong dan lepaskan kedua centeng itu hingga mereka tersuruk jatuh.

“Hahaha, kukira Liong-coan-ceng tidak ada orang lain lagi, rupanya baru sekarang muncul seluruhnya,” seru Song Goan-po dengan tergelak.

Ketujuh kakek berdandan ringkas itu adalah ketujuh jago pengawal Wi Ki-tiu, masing-masing bernama Liap Siong-giam, Ciang Su-liong, Oh Jing-peng, Uh Lam-san, Song Kim-hu, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong, semuanya adalah bekas bandit yang terkenal masa lalu.

Dengan sendirinya mereka kenal siapa Song Goan-po alias si macan tutul. Sebagai kepala rombongan, setelah berhadapan segera Liap Siong-giam berkata sambil memberi hormat, “Aha, kukira siapa, kiranya Song-toatankeh adanya. Maaf jika kami terlambat menyambut kedatanganmu.”

Meski sungkan nada ucapannya, namun sikap mereka tidaklah ramah, seperti tidak gentar terhadap Song Goan-po.

Sejenak Song Goan-po menatap Liap Siong-giam, katanya kemudian dengan tergelak, “Aha, bilamana aku tidak salah ingat, Anda ini mungkin adalah Liap-cecu Liap Siong-giam?”

Liap Siong-giam tersenyum hambar, ucapnya, “Wah, sungguh beruntung sekali bahwa Song-toatangkeh ternyata masih ingat kepada diriku.”

Song Goan-po memandang lagi keenam orang lainnya, lalu menyambung lagi dengan tertawa, “Wah, yang enam ini orang she Song tidak kenal semuanya, apakah Liap-cecu sudi memperkenalkannya kepadaku?”

Segera Liap Siong-giam memperkenalkan kawannya satu per satu kepada Song Goan-po, kemudian ia memberi salam lagi dan berkata, “Maaf jika ingin kutanya, ada petunjuk apakah kiranya atas kunjungan Song-toatangkeh ke tempat kami ini?”

“Soalnya kudengar Wi-cengcu berulang tahun yang ke-60, maka sengaja kudatang kemari untuk mengucapkan selamat,” tutur Song Goan-po. “Tak tersangka kawanan centeng kalian serupa mata anjing yang suka menghina orang miskin, mereka tidak mau melaporkan atas kedatanganku, karena terpaksa, aku lantas masuk sendiri saja ke sini.”

Liap Siong-giam tersenyum, “Bila kedatangan Song-toatangkeh benar untuk mengucapkan selamat kepada Cengcu, tentu saja centeng di sini akan melapor dan memberi pelayanan sebaiknya. Kukhawatir bukan mustahil kedatangan Song-toatankeh ini mempunyai tujuan tertentu.”

“Selain mengucapkan selamat kepada Wi-cengcu, kedatanganku memang ada maksud lain lagi dan bukan hendak melancong, yaitu minta orang kepada Cengcu kalian,” jawab Song Goan-po.

“Dan sekarang pesta ulang tahun Cengcu sudah lewat,” kata Liap Siong-giam.

“Jika begitu, apakah aku tidak dapat bertemu lagi dengan Wi-cengcu?” tanya Song Goan-po alias si kakek berbaju kulit macan tutul.

“Soalnya sepanjang hari kemarin Cengcu terlalu sibuk melayani tamu sehingga terlampau lelah, terpaksa untuk beberapa hari beliau tidak mau terima tamu,” tutur Liap Siong-giam. “Bila Song-toatangkeh benar ada urusan, silakan bicara saja denganku, kukira sama saja.”

“Baik, kedatanganku adalah untuk minta dia menyerahkan satu orang kepadaku,” kata Song Goan-po.

“Seorang siapa?” tanya Liap Siong-giam.

“Saudara angkatku, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan.

“Hah, kukira Song-toatangkeh ada salah informasi,” ucap Liap Siong-giam dengan tertawa, “saudaramu Hui Giok-koan tidak pernah datang ke tempat kami ini, mengapa Song-toatangkeh mencarinya kemari dan minta orangnya kepada kami?”

“Hm, kemarin dia hadir di sini dan mengucapkan selamat kepada Wi-cengcu, sejak itu tidak pernah terlihat dia meninggalkan perkampungan ini, lantas ke mana perginya kalau tidak berada di sini?” jengek Song Goan-po.

Liap Siong-giam berlagak pilon, jawabnya, “Ah, masa saudaramu kemarin juga hadir dan mengucapkan selamat kepada Cengcu?”

“Sudahlah, tidak perlu berlagak bodoh,” jengek Song Goan-po dengan menarik muka.

“Kemarin tetamu yang berkunjung kemari berjumlah lima-enam ratus orang, kami benar-benar tidak ingat lagi apakah saudaramu pun hadir,” ujar Liap Siong-giam. “Cuma, bila betul kemarin saudaramu berkunjung kemari, tentunya juga siang kemarin dia sudah pergi.”

“Tidak, dia tidak meninggalkan perkampungan kalian ini, dia masih tinggal di sini,” ucap Song Goan-po tegas.

Liap Siong-giam terkekeh, “Wah, Song-toatangkeh kan tidak melihat sendiri, mengapa berani memastikan saudaramu masih berada di sini?”

“Aku justru melihatnya sendiri,” kata Song Goan-po.

“Apakah kemarin Song-toatangkeh juga berkunjung kemari?” tanya Liap Siong-giam.

“Betul, malahan kujual seekor pesut kepada kalian,” jawab Song Goan-po.

Berubah air muka Liap Siong-giam, dengan muka masam ia menjengek, “Hm, kiranya kakek yang menjual pesut kemarin itu ialah dirimu ….”

“Nah, apa abamu sekarang?” jengek Song Goan-po sambil menyeringai.

“Ada, ingin kutanya, untuk urusan apa sampai Song-toatangkeh perlu menyamar sebagai nelayan dan berlagak menjual pesut segala?” jawab Liap Siong-giam.

“Ingin kulihat apakah saudara angkatku itu berada di sini atau tidak?”

“O, bila waktu itu Song-toatangkeh sudah melihat saudara angkatmu, mengapa tidak kau bawa pergi dia, tapi perlu menunggu sampai sekarang, sesudah dia pergi baru kau datang kemari untuk minta orang kepada kami?” tanya Liap Siong-giam dengan ketus.

“Waktu itu dia sedang menyampaikan selamat kepada Cengcu kalian, demi sopan-santun kan tidak pantas kubikin ribut di sini dan membawanya pergi?”

“Dan sekarang dia tidak berada lagi di sini, sebaliknya Song-toatangkeh sengaja minta orangnya kepada kami, apakah ini bukan sengaja hendak mencari perkara?”

Song Goan-po tertawa keras, katanya, “Soalnya terletak bahwa dia belum lagi meninggalkan tempat kalian ini, yang benar, dia telah kejeblos dalam kurungan kalian.”

“Dan ini pun dilihat dengan mata kepala sendiri oleh Song-toatangkeh?” jengek Liap Siong-giam.

“Tidak,” jawab Song Goan-po perlahan. “Tapi kutahu jelas, tidak pernah dia meninggalkan tempat kalian ini, dan itu berarti dia pasti masih berada di sini.”

“Tidak ada,” kata Liap Siong-giam sambil menggeleng kepala.

Tertampil rasa gusar pada wajah Song Goan-po, katanya, “Liap Siong-giam, belum sesuai bagimu untuk bicara denganku. Hendaknya lekas panggil keluar Wi-cengcu kalian!”

“Maaf, Cengcu kami tidak menerima tamu,” sahut Liap Siong-giam tidak kurang ketusnya.

“Tidak menerima tamu?” Song Goan-po menegas dengan menyeringai. “Hm, kukira yang benar dia tidak berada di sini lagi. Dia sudah memaksa saudara angkatku itu mengaku di mana kotak pusaka itu disembunyikan dan sekarang dia telah berangkat pergi mengambil kotak pusaka itu, betul tidak?”

“Huh, omong kosong, tampaknya kau memang sengaja mencari perkara, memangnya Song-toatangkeh mengira Liong-coan-ceng kami ini boleh sembarangan diganggu?” jawab Liap Siong-giam dengan aseran.

“Bebaskan saudara angkatku itu dan segera kuangkat kaki dari sini, kalau tidak, terpaksa aku akan coba-coba belajar kenal dengan kalian,” kata Song Goan-po.

“Kalau Song-toatangkeh sedemikian meremehkan kami, terpaksa kami tunggu apa yang akan kau lakukan,” jawab Liap Siong-giam dengan ketus.

“Baik, lihat pukulan!” teriak Song Goan-po.

Dan begitu menyatakan pukul kontan ia pun menubruk maju terus menghantam.

Angin pukulannya menderu, gerakannya cepat, nyata cukup lihai.

Liap Siong-giam tahu ilmu pukulan orang tidak boleh diremehkan, sama sekali ia tidak berani gegabah, maka begitu melihat orang bergerak cepat ia mengegos ke samping, berbareng sebelah tangan juga terangkat terus menebas pundak lawan.

Kungfu andalan Liap Siong-giam adalah Hong-lui-kun atau ilmu pukulan angin dan petir, tebasan yang dilancarkan ini bernama “Jit-loh-hong-sing” atau matahari tenggelam angin bertiup, tenaga tebasannya cukup mengejutkan.

Namun Song Goan-po tidak gentar, sambil mengeluarkan suara bentakan yang menggelegar, cepat ia berputar, tangan kiri menangkis dan tangan kanan menghantam pula ke pinggang-orang dengan jurus “Tan-hong-tiau-yang” atau burung hong menyembah matahari.

“Bagus!” bentak Liap Siong-giam.

Dengan tangan kiri menahan ke bawah, ia balas menebas lengan kanan lawan, berbareng dua jari tangan kanan bermaksud mencolok kedua mata Song Goan-po.

“Bagus!” teriak Song Goan-po. Sambil mendoyong ke belakang, sebelah kaki terus menendang sehingga tebasan dan serangan jari Liap Siong-giam terpatahkan.

Agaknya Song Goan-po aslinya jebolan perguruan Siau-lim-si, sebab tendangannya tadi gaya Kungfu Siau-lim, malahan ia terus mendesak maju, sebentar menghantam dan lain saat menendang lagi.

Setelah menangkis beberapa kali, lambat laun Liap Siong-giam merasa kewalahan, tanpa terasa ia berteriak kepada kawan-kawannya, “Hebat juga musuh kita, ayolah maju semua!”

Mendengar seruan Liap Siong-giam yang minta dibantu itu, tiga di antara keenam kawannya yang menonton di samping itu serentak menubruk maju, seketika Song Goan-po terkepung di tengah dan dikerubut.

Namun Song Goan-po tidak gentar sedikit pun, ia malah terbahak-babak keras, serunya, “Haha, bagus sekali! Mengapa yang lain tidak maju saja sekalian? Biasanya aku memang suka bertarung secara serabutan, makin banyak yang maju makin baik.”

Ketiga orang lagi yang tidak ikut mengerubut adalah Song Kim-ho, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong, mereka hanya berjaga saja di samping, sebab mereka cukup paham, bilamana tujuh orang mengeroyok satu orang, akibatnya akan serupa satu porsi capcay di atas meja dikerubut sekawanan pelahap yang mengelilingi meja makan, bukannya teratur dan semua mendapat bagian, sebaliknya malah akan kacau-balau dan terjadi perebutan.

Tapi kalau empat orang mengeroyok satu orang, inilah posisi yang paling ideal.

Ketiga orang yang baru ikut mengerubut itu ialah Ciang Su-liong, Oh Jing-peng dan Uh Lam-san, ketiganya sama bersenjata. Yang digunakan Ciang Su-liong adalah tombak berkait, Oh Jing-peng memakai golok besar bergelang, sedangkan Uh Lam-san memakai pedang panjang.

Tiga macam senjata ditambah lagi kedua tangan kosong Liap Siong-giam, tentu saja daya tempur mereka menjadi lain, dengan cepat dapatlah mereka di atas angin dan Song Goan-po terkepung rapat di tengah.

Walaupun terdesak di bawah angin, namun Song Goan-po tetap bertempur dengan penuh semangat, kedua tangan dan kedua kaki bekerja silih berganti, makin lama makin perkasa.

Pada waktu itu di luar wisma tamu sana berdiri Long-giok dan Le-hui menonton dari jauh, melihat ketangkasan Song Goan-po, diam-diam-mereka terkejut dan heran.

Le-hui menghela napas, katanya, “Tua bangka gundul ini sungguh sangat lihai, sesungguhnya siapakah dia?”

“Bukankah tadi dia menyebut namanya sebagai Kim-ci-pa Song Goan-po?” kata Long-giok.

“Song-goan-po (mengantar emas), hihi, lucu juga namanya,” kata Le-hui dengan tertawa geli.

“Yang benar dia she Song, namanya Goan-po,” tutur Long-giok. “Song sama dengan dinasti Song dan bukan song antar.”

“Eh, bagaimana kalau kita menonton lebih dekat ke sana?” saja Le-hui.

“Baiklah,” jawab Long-giok.

Keduanya lantas melangkah maju ke tengah halaman dan berhenti dalam jarak beberapa tombak dari kalangan pertempuran.

Dalam pertarungan sengit, tiba-tiba Song Goan-po melihat munculnya dua gadis jelita, ia terkesiap dan heran. Dasar lelaki, meski sudah tua dan gundul kelimis, rupanya dia juga lelaki bangor, asal melihat perempuan cantik lantas tergelitik hatinya.

“Wah, cantik benar kedua nona ini!” demikian tanpa terasa ia bersorak memuji. “Mereka ini bini siapa ….”

Belum lanjut ucapannya, “blang”, tahu-tahu punggung kena digebuk sekali oleh Liap Siong-giam.

Tidak ringan pukulan ini, seketika ia sempoyongan dan menyuruk ke depan.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ciang Su-liong, tombaknya bekerja cepat dan kena menusuk di pantat Song Goan-po, kontan pantatnya berbunga.

Song Goan-po menjerit, ia masih hendak melawan, akan tetapi tidak kuat lagi dan segera roboh.

Pedang Uh Lam-san terangkat dan bermaksud membinasakan lawan itu. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara bentakan menggelegar berkumandang dari pintu gerbang perkampungan sana, “Tahan dulu!”

Terpaksa Uh Lam-san menahan pedangnya, sebab ia khawatir yang berteriak itu adalah kawan sendiri, bilamana Song Goan-po dibunuhnya tentu kurang enak terhadap maksud baik kawan.

Waktu mereka berpaling, tertampaklah seorang Hwesio dan seorang Tosu sedang berlari datang secepat terbang. Lantaran tidak kenal siapa kedua pendatang ini, air muka mereka sama berubah.

Kiranya Hwesio dan Tosu yang datang ini tak-lain-tak-bukan ialah Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin.

Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di tengah halaman dan berhenti di situ, Kim-kong Taysu mendahului memberi hormat dan bersuara, “Omitohud! Thian Maha Pengasih, hendaknya para Sicu janganlah main bunuh!”

Meski Liap Siong-giam dan kawan-kawannya tidak kenal siapa Koh-ting dan Kim-kong, tapi melihat kecepatan Ginkang mereka, tentu saja dapat diduga mereka pasti bukan tokoh sembarangan, maka dia tidak berani kurang adat, cepat ia balas menghormat dan menyapa, “Numpang tanya siapakah gelaran Taysu dan Totiang? Ada keperluan apa kiranya berkunjung ke tempat kami ini?”

Dengan tangan kiri memegang tongkat pertapa, tangan kanan Kim-kong Taysu terangkat di depan dada sebagai tanda hormat, lalu menjawab, “Pinceng bergelar Kim-kong.”

“Dan pinto bergelar Koh-ting.” sambung Koh-ting Tojin.

Manusia itu dihormati karena namanya, pohon besar dari bayangannya. Demi mendengar kedua pendatang ini adalah Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin yang namanya gilang-gemilang di dunia persilatan zaman ini, kembali air muka Liap Siong-giam dan lain-lain sama berubah, diam-diam mereka mulai merasakan gelagat tidak enak.

Sedapatnya Liap Siong-giam menenangkan diri, katanya dengan ramah, “Ah, kiranya kedua tokoh kosen dunia persilatan yang termasyhur. Maaf, kami tidak tahu akan kunjungan Taysu dan Totiang sehingga tidak ada penyambutan yang layak, sekali lagi mohon maaf.”

Koh-ting Tojin tertawa lantang, katanya, “Ah, jangan sungkan. Apakah kalian bertujuh ini ketujuh jago andalan Wi-cengcu?”

“Ah, Totiang terlampau memuji,” jawab Liap Siong-giam. “Numpang tanya, ada keperluan apakah Totiang dan Taysu berkunjung kemari?”

“Oo, kami mendengar Wi-cengcu berulang tahun, maka sengaja berkunjung kemari untuk mengucapkan selamat,” jawab Koh-ting Tojin. “Tak terduga terjadi sedikit urusan di tengah jalan sehingga tidak keburu tiba pada saat yang tepat, sungguh kami sangat menyesal.”

Perasaan Liap Siong-giam agak lega demi mendengar kedatangan kedua orang ini hanya ingin mengucapkan selamat kepada sang Cengcu, cepat ia menjawab dengan tertawa, “Ah, terima kasih atas maksud baik Totiang dan Taysu, silakan duduk di dalam saja!”

“Apakah Wi-cengcu berada di rumah?” tanya Kim-kong Taysu.

Liap Siong-giam ragu sejenak, akhirnya menjawab, “Wah, maaf, karena ada urusan, kebetulan Cengcu sedang keluar, mungkin perlu beberapa hari lagi baru dapat pulang.”

“Aha, bagus!” teriak Song Goan-po mendadak. “Ternyata tidak salah dugaanku, dia pasti sudah mendapatkan pengakuan saudara angkatku, maka … aduhh!”

Belum lanjut ucapannya mendadak ia menjerit kesakitan. Rupanya Ciang Su-liong tidak membiarkan dia meneruskan ucapannya dan mendadak menusuk pahanya dengan tombak, kontan dia menjerit sehingga perkataannya terputus.

Pandangan Kim-kong Taysu beralih ke wajah Song Goan-po, ia tersenyum dan berkata, “Sicu ini jangan-jangan ialah Kim-ci-pa Song Goan-po yang menjagoi dunia Lok-lim daerah selatan itu?”

“Betul,” jawab Song Goan-po.

Kim-kong Taysu berlagak tidak mengerti dan bertanya, “Baru saja-Sicu bilang apa? Kenapa dengan saudara angkatmu?”

“Saudara angkatku Hui Giok-koan kemarin juga hadir ke sini untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Wi Ki-tiu,” tutur Song Goan-po. “Siapa tahu Wi Ki-tiu telah timbul pikiran jahat, dia telah … aduhh!”

Kembali ucapannya terputus dan menjerit kesakitan, rupanya Ciang Su-liong telah menusuknya pula sekali.

Kening Kim-kong Taysu bekernyit, ia pandang Ciang Su-liong dan berkata, “Sicu ini, bagaimana kalau membiarkan dia selesaikan keterangannya?”

“Taysu jangan percaya kepada ocehannya,” kata Ciang Su-liong. “Tentang Hui-cecu, kemarin dia memang benar pernah datang untuk mengucapkan selamat kepada Cengcu, tapi kemudian dia pergi lagi seperti tetamu yang lain, tapi sekarang tua bangka ini berani menuduh kami menahan Hui-cecu di sini, sungguh terlalu, jelas dia sengaja hendak cari perkara saja.”

“Ai, sudahlah,” bujuk Kim-kong Taysu. “Kata pepatah, permusuhan sebaiknya dihapus daripada dipererat. Hendaknya kedua pihak kalian bicara dengan lebih jelas, biarlah kujadi juru damai bagi kalian. Nah, Song-sicu, silakan kau bicara lebih dulu.”

Dengan menahan rasa sakit pada pantat dan pahanya, Song Goan-po berdiri dan berkata, “Terus terang, saudara angkatku itu akhir-akhir ini mendapatkan sebuah kotak, dengan membawa kotak itu hendak menuju ke suatu tempat dan tempo hari sampai di Tengciu sini. Kebetulan didengarnya Wi Ki-tiu mengadakan pesta ulang tahun, lantaran dia juga kenal cukup baik dengan Wi Ki-tiu, maka sengaja menyiapkan kado berharga dan datang mengucapkan selamat kepada sahabat lama.

“Siapa tahu, entah dari mana Wi Ki-tiu mendapat berita bahwa saudara angkatku itu menemukan sebuah kotak pusaka, maka sehabis pesta ulang tahun usai, dengan pura-pura kangen dengan sahabat lama, saudara angkatku itu ditahan untuk tinggal beberapa hari lagi di sini.

“Kutunggu saudara angkatku itu di luar kampung selama sehari semalam dan tetap tidak melihat dia keluar, terpaksa pagi tadi kudatang kemari untuk minta keterangan, tapi mereka malah menjawab saudara angkatku itu sudah pergi. Namun kutahu jelas dia belum lagi meninggalkan kampung ini, bilamana dia tidak dibunuh oleh Wi Ki-tiu, tentu dia dikurung di sini untuk dipaksa menyerahkan kotak pusaka yang dimaksud itu.”

Kim-kong Taysu lantas tanya pula, “Dan apa isi kotak yang dimaksudkan itu?”

Dengan tergegap Song Goan-po menjawab, “Oo, isinya cuma sedikit … sedikit barang berharga.”

“Kau lihat dengan mata kepala sendiri saudara angkatmu itu ke sini untuk menyampaikan selamat kepada tuan rumah?” tanya Kim-kong Taysu pula.

“Betul,” jawab Song Goan-po tegas sambil mengangguk.

“Dan seusai pesta ulang tahun, kau yakin bahwa dia memang tidak pernah meninggalkan tempat ini?”

“Betul, sebab aku sengaja menyamar sebagai seorang nelayan dengan membawa pesut untuk dijual ke sini, kulihat sendiri dia berada bersama dengan Wi-Ki-tiu dan Sun Thian-tik.”

Mencorong sinar mata Kim-kong Taysu, ia menegas, “O, kau bilang Kiong-su-sing Sun Thian-tik juga berada di sini?”

“Betul, tidak keliru lagi,” jawab Song Goan-po. “Cuma dia sudah pergi sekarang.”

Kim-kong Taysu manggut-manggut, lalu berkata kepada Liap Siong-giam, “Bagaimana pembelaan Liap-sicu terhadap tuduhan Song-sicu tadi?”

“Hendaknya Taysu jangan percaya kepada ocehannya yang asal bunyi,” kata Liap Siong-giam. “Tentang kotak Hui-cecu itu, andaikan penuh berisi intan permata juga takkan terpandang oleh Cengcu kami, sama sekali tidak ada alasan bagi Cengcu kami untuk merampas kotaknya itu.”

“Habis, ke mana perginya Wi-cengcu sekarang?” tanya Kim-kong Taysu.

“Cengcu memang ada urusan dan sedang keluar, ke mana perginya, bawahan seperti kami ini tentu saja tidak tahu, sebab beliau tidak memberi pesan apa-apa.”

“Dia baru saja berulang tahun kemarin, dan hari ini juga dia lantas pergi keluar kampung, kalau tidak ada urusan penting masa dia perlu pergi dengan terburu-buru begitu?” ujar Kim-kong Taysu.

“Urusan penting apa pun kepergian Cengcu kami mutlak tidak ada sangkut-pautnya dengan Hui-cecu,” jawab Liap Siong-giam. “Sebab Cengcu kami kan sudah lama cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia persilatan.”

“Bilakah Wi-cengcu meninggalkan kampung?” tanya Kim-kong Taysu.

“Kira-kira setengah jam yang lalu,” jawab Liap Siong-giam.

“Apakah keluar melalui pintu gerbang depan?” tanya Kim-kong Taysu pula.

“Betul,” sahut Siong-giam.

Kim-kong Taysu tertawa mengakak, “Haha, keterangan Liap-sicu ini jelas tidak benar. Terus terang, kami berdua sudah ada satu jam tiba di luar kampung, selama itu kami tidak melihat Wi-cengcu keluar dari kampung.”

Muka Liap Siong-giam menjadi merah, ucapnya dengan terkekeh, “Hehe, jika Taysu berdua sudah tiba di sini sekian lama, mengapa tidak sejak tadi masuk kemari?”

“Soalnya waktu masih pagi, kami menaksir Wi-cengcu belum bangun tidur, maka tidak berani langsung masuk dan mengganggu,” jawab Kim-kong Taysu.

“Ah, Taysu terlampau sungkan tampaknya,” ujar Liap Siong-giam. “Padahal dengan kedudukan Taysu dan Totiang berdua, biarpun kalian datang di tengah malam juga akan disambut Cengcu dengan segala hormat. Sebabnya kalian tidak segera masuk ke sini kukira ada sebab lain bukan?”

Tiba-tiba Koh-ting Tojin menyambung, “Hendaknya Liap-sicu jangan dulu mengusut maksud kedatangan Kim-kong Taysu dan diriku. Sekarang fakta sudah nyata, jelas Wi-cengcu tidak pernah keluar, tapi Liap-sicu berkeras menyatakan Wi-cengcu keluar melalui pintu gerbang depan, sesungguhnya apa maksudmu?”

Liap Siong-giam tertawa, katanya, “Haha, padahal Cengcu kami suka keluar melalui pintu gerbang depan atau pintu belakang kan sama saja, sebab ini kan rumahnya, siapa pun tidak berhak mengurusnya.”

“Tentu saja,” ujar Koh-ting Tojin. “Tapi kalau bukan sengaja hendak menghindari mata-telinga orang, tentu tidak ada alasan untuk keluar melalui pintu belakang. Maka dari sini dapat diketahui tuduhan Song-sicu tadi memang bukan omong kosong belaka, terang Wi-cengcu memang telah menyandera Hui-cecu dan memaksanya menyerahkan kotak pusaka.”

“Hm, kedatangan Totiang kemari ini sesungguhnya ingin menyampaikan selamat kepada Cengcu kami atau ada maksud lain?” jengek Liap Siong-giam.

“Hahaha!” Koh-ting Tojin tergelak. “Soal apa maksud kedatanganku ini tidak penting, yang jelas manusia harus dapat membedakan antara yang benar dan salah, bilamana kupandang tidak benar, betapa pun aku ingin ikut campur.”

“Cengcu kami tidak di rumah, jika Totiang ingin ikut campur urusan tetek bengek, tunggu saja nanti kalau Cengcu kami sudah pulang boleh Totiang datang lagi.”

“Hehe, menurut perkiraanku, Wi-cengcu tentu masih berada di dalam kampung,” kata Koh-ting dengan tertawa. “Maka lebih baik silakan kalian mengundangnya keluar saja untuk menerima ucapan selamat kami.”

“Hm, kalau Totiang tidak percaya, boleh juga silakan masuk untuk mencarinya,” jengek Liap Siong-giam.

Koh-ting Tojin lantas berpaling dan berkata kepada Kim-kong Taysu dengan tertawa, “Toasuhu, dia menyuruh kita coba mencarinya ke dalam kampung, bagaimana kalau kita terima dan coba kita mencarinya?”

Mendadak Kim-kong Taysu menuding Long-giok dan Le-hui yang berdiri di dekat sana, tanyanya kepada Liap Siong-giam, “Siapakah kedua nona itu?”

“O, mereka itu nona yang tinggal di dalam kampung kami,” jawab Liap Siong-giam.

“Ada hubungan apa antara mereka dengan Wi-cengcu?” tanya Kim-kong pula.

“Ah, famili biasa,” tutur Siong-giam.

“Famili dekat atau jauh?”

“Famili ya famili, untuk apa Taysu bertanya sedemikian jelas?”

Kim-kong Taysu tertawa, katanya, “Soalnya kudengar kabar bahwa Wi-cengcu punya banyak simpanan, sangat mungkin mereka adalah perempuan Wi-cengcu.”

“Bukan,” jawab Liap Siong-giam. Lalu ia menoleh ke sana dan memberi tanda kepada Long-giok dan Le-hui, serunya, “Kedua nona silakan pulang ke kamar saja, tidak boleh kalian ….”

Kesempatan itu mendadak digunakan Kim-kong Taysu untuk menubruk maju, sekali tangan kanan meraih, langsung kuduk Liap Siong-giam dicengkeramnya.

Keruan Ciang Su-liong terkejut, teriaknya, “Awas, Liap-toako!”

Pada saat yang sama Liap Siong-giam juga mendengar angin dahsyat menyambar dari belakang, segera ia angkat sikut kiri untuk melindungi dada, sambil berputar berbareng telapak tangan kanan menolak ke depan.

Meski reaksinya tidak lambat, toh tetap agak kasip, baru saja tangan menolak ke depan, kuduk tahu-tahu sudah kena dicengkeram musuh.

Keruan Ciang Su-liong dan kelima kawannya terkejut, serentak mereka memburu maju hendak menolong, tapi Kim-kong Taysu lantas meraung, “Berhenti semua! Barang siapa berani melangkah maju segera kumampuskan dia!”

Sembari membentak terus saja Liap Siong-giam diangkatnya.

Padahal hanya bagian kuduk Liap Siong-giam saja yang dipegangnya, namun Kim-kong Taysu dapat mengangkatnya di atas kepala, serupa mengangkat sepotong barang yang enteng saja.

Kiranya pada saat kuduk Liap Siong-giam kena dicengkeramnya, secepat kilat ia tutuk sekalian Hiat-to kelumpuhan orang dengan tongkatnya, sebab itulah Liap Siong-giam sama sekali tak bisa berkutik.

Melihat kawannya sama sekali berada di bawah cengkeraman musuh, Ciang Su-liong berenam menjadi jeri dan tak berani sembarangan bertindak lagi, terpaksa mereka hanya mengelilingi Kim-kong Taysu dan siap tempur.

Kim-kong Taysu terbahak-bahak, sama sekali ia tidak menghiraukan keenam orang yang mengepungnya, ia malah berkata kepada Koh-ting Tojin, “Koh-ting Toheng, dengan caraku ini kan jauh lebih cepat hasilnya daripada menggeledah seluruh perkampungan ini, betul tidak?”

“Betul, betul!” jawab Koh-ting Tojin dengan tertawa.

Kim-kong Taysu lantas mendongak dan berkata kepada Liap Siong-giam yang terangkat tinggi itu, “Liap-sicu, paling baik katakan terus terang saja, sesungguhnya Wi-cengcu berada di rumah atau tidak?”

Sudah berpuluh tahun Liap Siong-giam berkecimpung di dunia Kangouw bersama Wi Ki-tiu dan belum pernah kecundang, apa lagi dibekuk dan dipermainkan orang seperti sekarang ini, keruan ia sangat kejut, gugup dan juga malu.

Namun dia pantang menyerah, kontan ia mencaci maki, “Bangsat tua gundul, jika gagah perkasa, boleh kau bunuh saja diriku. Jika kau pikir aku dapat dipaksa untuk bicara, huh, mimpi di siang bolong!”

“Apa betul?” jengek Kim-kong Taysu dengan terkekeh, berbareng ia tambahi tenaga pada cengkeramannya.

Seketika tulang leher Liap Siong-giam berbunyi keriang-keriut, rasanya seperti mau remuk, saking kesakitan kembali ia menjerit pula seperti babi hendak disembelih.

Kim-kong Taysu mengendurkan cengkeramannya, lalu bertanya lagi, “Nah, mengaku atau tidak?”

Liap Siong-giam sempat berganti napas, tapi ia tidak kapok, kembali ia meraung lagi, “Mengaku apa? Kau bangsat gundul, maknya dirodok … aduhhh!”

Ia menjerit lagi ketika cengkeraman Kim-kong Taysu diperkeras sehingga kelima jari hampir ambles ke lehernya.

“Benar-benar tidak mau mengaku?” ancam Kim-kong Taysu.

Namun Liap Siong-giam sudah tidak sanggup bersuara lagi.

Mendadak Kim-kong melemparkan Liap Siong-giam yang tak bisa berkutik itu kepada Koh-ting Tojin sambil berseru, “Koh-ting Toheng, boleh juga kau pun memberi sedikit tahu rasa kepadanya.”

Sekali raih, kedua kaki Liap Siong-giam kena ditangkap Koh-ting Tojin, katanya dengan terbahak-bahak, “Hahaha, baik sekali, boleh kau lihat caraku!

Sembari bicara ia pentang kedua kaki Liap Siong-giam dan ditarik.

Kontan, Liap Siong-giam merasa selangkangan seakan-akan robek, tanpa terasa ia menjerit dan melolong.

Tentu saja Ciang Su-liong berenam terperanjat sekali, sambil membentak serentak mereka menerjang maju.

Tapi Kim-kong Taysu lantas putar tongkatnya untuk mengalangi Ciang Su-liong, Oh Jing-peng dan Uh Lam-san bertiga, serunya dengan tertawa, “Eh, kalian ingin berkelahi? Boleh, biar kumain-main dengan kalian!”

Dalam keadaan begini, mau tak mau Ciang Su-liong bertiga terpaksa harus bergebrak dengan Hwesio tua itu. Maka terjadilah pertempuran sengit tiga lawan satu.

Song Kim-hu, Kim Soh-bun dan Thio Lok-tong bertiga juga sudah menerjang ke depan Koh-ting Tojin, tapi mereka tidak berani segera menyerang, sebab saat itu tubuh Liap Siong-giam lagi terangkat oleh Koh-ting dengan kedua kaki terpegang dan dipentang seakan-akan hendak dibeset.

Mereka menjadi khawatir jika menerjang maju begitu saja, bisa jadi Liap Siong-giam akan benar-benar terbeset menjadi dua. Karena itulah mereka lantas berhenti di tempat dan saling pandang dengan cemas.

Tiba-tiba Kim Soh-bun mendapat akal, cepat ia melompat ke depan Song Goan-po, sekali kaki menyapu, Song Goan-po yang sudah terluka itu diserampang hingga roboh terjungkal, lalu dengan pedang ia mengancam di leher orang sambil membentak bengis, “Ayo, lepaskan kawanku, kalau tidak, sekali tusuk kumampuskan orang she Song ini!”

Rupanya ia mengira Koh-ting dan Kim-kong berdua adalah sekomplotan dengan Song Goan-po, maka ia menirukan cara orang dengan main ancam, Song Goan-po hendak dibunuhnya sebagai syarat untuk memaksa Koh-ting Tojin membebaskan Liap Siong-giam.

Tak terduga Koh-ting Tojin sama sekali tidak menghiraukan mati-hidup Song Goan-po, melihat ujung pedang mengancam di leher orang, ia malah mengakak dan berkata, “Hah, bagus sekali! Ayo kita berlomba cepat, kita turun tangan berbareng, kau bunuh orang she Song itu dan kubinasakan orang she Liap ini!”

Seraya bicara, kedua tangan membentang lebih lebar lagi, kedua kaki dibesetnya terlebih keras sehingga tubuh Liap Siong-giam serasa mau robek.

Keruan Liap Siong-giam menjerit lagi kesakitan dan melolong seperti serigala lapar.

Seketika Kim Soh-bun merasa bingung malah dan tidak tahu apa yang harus diperbuat lagi.

Dalam pada itu Kim-kong Taysu yang dikerubut Ciang Su-liong bertiga sudah berada di atas angin, tongkatnya berputar cepat, menyerampang dan mengemplang dengan dahsyatnya sehingga Ciang Su-liong bertiga hanya mampu menangkis dan tidak sanggup balas menyerang.

Melihat keadaan demikian, Le-hui tahu ketujuh jago pengawal Liong-coan-ceng pasti bukan tandingan Koh-ting Tojin dan Kim-kong Taysu, ia menjadi khawatir, cepat katanya kepada Long-giok, “Wah, bagaimana baiknya? Bagaimana kalau kita ikut maju dan membantu mereka?”

Namun Long-giok justru berharap semoga ketujuh orang itu mati seluruhnya, hal ini akan kebetulan baginya, maka ia menggeleng kepala dan menjawab, “Jangan, kalau kita ikut maju, paling-paling juga cuma antar nyawa percuma ….”

“Akan tetapi, kita kan tidak boleh berpeluk tangan belaka?!” ucap Le-hui.

“Jangan gelisah.” ujar Long-giok. “Mereka orang beragama, kuyakin mereka takkan sembarangan membunuh orang.”

Namun Le-hui tidak sependapat, sebab dilihatnya serangan Kim-kong Taysu sedemikian lihai tanpa kenal ampun, katanya, “Tidak, coba kau lihat betapa buas Hwesio tua itu, kukira dia takkan memberi ampun kepada Ciong Su-liong bertiga, marilah lekas kita maju membantu mereka!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: