Kumpulan Cerita Silat

21/01/2008

Perguruan Sejati (19)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:28 pm

Perguruan Sejati (19)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Ciu Lo Cianpwee kapan tiba?” tanya Tiong Giok sambil memegang lengan orang tua itu.

“Kami baru saja sampai belum lama,” jawab Ciu Kong.

“Mana Yauw Lo Cianpwee dan Toa Gu?”

“Mereka sedang menantikanmu dipenginapan Hoo Peng!”

“Oh kebetulan sekali Lo Cianpwee menginap disana, tentu sudah bertemu dengan Wan Jie dan lain-lain bukan?”

“Ya,” jawab Ciu Kong. “Bahkan aku mencarimu setelah mendapat tahu dari Wan Jie.”

“Ada seorang gadis bernama Siau Bwee apakah sudah pulang ke hotel?”

“Entahlah, aku terburu-buru mencari Siau cu jin, tidak memperhatikan keadaan di hotel, rasa-rasanya sih belum pulang!”

Dengan cepat mereka kembali ke hotel, Tiong Giok melihat Yauw Kian Cee dan Toa Gu dan lain-lain hanya Siau Bwee yang tidak ada.

“Engkau pergi begitu lama, ketemukah dengan Siau Bwee?” tanya Wan Jie.

“Sudah kucari kesana kemari, tapi tidak kutemui.”

“Kalau begitu urusan yang tidak diinginkan benar-benar terjadi!” kata Wan Jie.

“Soal apa?” tanya In Tiong Giok dengan heran.

“Lihatlah ini,” kata Wan Jie sambil mengambil sehelai surat. “Begitu engkau pergi, ada seorang anak membawa surat ini. Bacalah engkau akan mengerti sendiri.”

Tiong Giok melihat surat itu berbunyi: “Kuminta kalian semuannya menggunakan kereta yang tertutup datang ke kota Hong Shia. Soal lainnya akan ditentukan dikemudian. Perintah ini harus dipatuhi bilamana jiwa Siau Bwee dan Pek Kiam Hong terancam kematian. Pikirlah masak-masak, jangan sampai menyesal belakangan.”

Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan maupun tulisan lainnya.

“Ini pasti surat Liok Jie Hui,” kata In Tiong Giok. “Dengan menjadikan Siau Bwee dan Kiam Hong sebagai sandera, ia hendak memaksaku menyerahkan pedang mustika!”

“Kenapa Pek Suheng bisa jatuh ditangan mereka?” tanya Wan Jie.

“Ia mempunyai janji dengan Siau Bwee,” kata Tiong Giok. “Rupanya waktu Siau Bwee keluar mencari bertemu dengan Kiam Hong sehingga lupa pulang. Sedangkan Liok Jie Hui yang mempunyai banyak kaki tangan didalam kota ini mengetahui mereka berdua saja, maka menangkapnya dengan mudah untuk dijadikan sandera seperti yang kukatakan tadi.”

“Jika ia menginnginkan hal itu, kenapa tidak melakukannya di Lam Ciong ini? Dan apapula maksudnya menyuruh kita naik kereta segala macam?” kata Yauw Jian Cee.

“Liok Jie Hui manusia licik yang aneh, ia sudah memperhitungkan, bahwa kota Lam Ciong berdekatan dengan pulau Hiu, kuatir Hek pek siang yauw mendapat kabar dan mencampuri urusan ini.”

“Soalnya sudah begini, langkah apa yang harus diambil?” tanya Ceng Ceng.

“Hm, apa yang engkau bisa?” bentak Ciu Kong.

“Soalnya ia menginginkan pedang mustika, sebelum benda itu diperolehnya ia tak mencelakakan Tiat Kounio maupun Pek Kiam Hong. Maka itu ada kesempatan bagi kita mengirim kabar ke Pok Thian Pang. Perserikatan ini pasti mencari Liok Jie Hui untuk membebaskan Siau Pangcu mereka bukan?”

“Pok Thian Pang menolong Pek Kiam Hong. Lalu siapa yang menolong Tiat Kounio?” tanya Ciu Kong.

“Tia tia tidak tahu, kalau Pek Kiam Hong bebas, Tiat Kounio pun pasti bebas!”

“Hmm, cara memancing si air keruh bukan kerjaan kita! Sebaiknya engkau jangan bicara dan pergi jauhan ke sana!”

“Tia tia bisanya memaki dan membentak aku saja,” kata Ceng Ceng.

“Namanya tukar pikiran, siapapun boleh mengeluarkan pendapatnya, andaikata saranku ini kurang baik, boleh ditolak jangan dimaki-maki.”

“Sudah, pergi jauhan kesana!” bentak Ciu Kong.

“Baik-baik,” kata Ceng Ceng sambil berlari kebelakang Wan Jie.

“Ia bisa berpikir begitu masih baik, dari pada diam-diam saja seperti si tolol!” kata Wan Jie yang terus merangkul Ceng Ceng.

“Hm, pantasan kian hari lagaknya kian menjadi-jadi, kiranya ada bekingnya!” kata Ciu Kong.

Wan Jie tidak menjawab, ia tersenyum pada Ceng Ceng. Dan mengusap-usap dengan sayangnya. Kalau ia ingat kejadian didalam tebing, dan marah-marah pada gadis ini dikarenakan cemburunya, ia menjadi malu sendiri.

“Sebaiknya kita turut saja kehendak musuh,” kata In Tiong Giok. “Ceng Ceng carilah dua kereta untuk masuk ke kota Hong Shia. Sekalian beritahu pemilik hotel agar menyediakan makanan untuk lima orang, setelah itu kita berangkat.”

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee saling menatap satu sama lain, mereka tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Siau cu jinnya. “Apakah Siau cu jin memastikan diri untuk berangkat dan menuruti kehendak musuh?” tanya Ciu Kong.

Tiong Giok mengangguk. “Lo Cianpwee bertiga kuminta berangkat belakangan, dengan begini siasat musuh dapat kita pecahkan.”

Waktu senja mendatang dari arah kota Lam Ciong tampak dua kereta beriring-iring menuju ke kota Hong Shia. Kereta yang didepan ditumpangi Wan Jie dan ibu angkatnya, yang dibelakangnya Ceng Ceng dan Tio Ma. Sedangkan Tiong Giok mengikuti kedua kereta perlahan-lahan, dengan alas an agar orang tua tidak terlalu bergoyang-goyang. Padahal ia memberi kesempatan pada rombongan Ciu Kong bisa menyusulnya.

Seperti kita ketahui Liok Jie Hui memerintahkan mereka ke kota Hong Shia untuk menerima petunjuk yang selanjutnya lagi. Tiong Giok ingin benar mengetahui dengan cara apa pihak musuh itu menyampaikan petunjuknya yang kedua itu.

Disamping itu iapun menduga musuh pasti mengawasi gerak gerik mereka, atau menyuruh lagi seseorang mengantarkan surat seperti cara pertama. Jika sampai terjadi lagi hal-hal ini Ciu Kong dan kawan-kawan pasti akan berhasil menjalankan tugasnya.

Akan tetapi sampai jauh malam tidak terjadi sesuatu yang penting ditengah perjalanan itu.

Jarak antara Lam Ciong dan Hong Shia hanya seratus lie, kalau kereta jalan cepat mereka seharusnya sudah tiba ditempat tujuan. Kini dikarenakan jalannya perlahan mereka baru tiba ditengah-tengah yakni sebuah kota kecil yang bernama Tong Shia.

Tiong Giok mampir disebuah penginapan reot, untuk mengajak rombongannya bermalam. Ia sendiri mengawasi kepada kusir-kudir kereta yang sedang mengombongi kuda-kuda mereka distal. Tiba-tiba saja ia melihat dipunggung salah seorang kusir itu, perlahan-lahan ia menghampiri dan mengambil kain itu tanpa diketahui sang kusir.

“Terima kasih atas kepatuhanmu atas peerintahku, soal Tiat dan Pek tak usah dikuatirkan, mereka dalam keadaan sehat-sehat. Lanjutkanlah perjalanan ke kota Hong Shia. Kami bisa memberi petunjuk yang ketiga.

Sehabis membaca surat itu Tiong Giok celingukan keempat penjuru, ia tidak mendapatkan seorang yang bisa dicurigakan. Membuatnya semakin heran saja. Ia merasa penasaran sekali, karena sepanjang jalan kereta-kereta itu tidak luput dari pengawasannya, kenapa tiba-tiba saja terjadi hal ini tanpa diketahuinya. Sungguhpun begitu ia tetap bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Tiong Giok membatalkan niatnya bermalam dikota Tong Shia dan bergegas untuk melanjutkan perjalanannya. Mendengar ini salah seorang kusir menunjukkan muka tak puas. “Kalau ingin cepat-cepat sampai kenapa menitahkan kami berjalan lambat-lambatan?”

“Untuk ini kami menambah uang sewa satu kali lipat dari harga semula, bagaimana? ” bujuk Tiong Giok.

“Kami bisa bertahan, tapi kasihan kuda-kuda itu, mereka kelewat letih dan bisa mati dijalanan!”

“Kalau kamu tidak bisa melanjutkan perjalanan, kepaksa kucari kereta lain, untuk ini pembayaran kuminta dikurangi!”

“Ya begitu lebih baik,” jawab kusir itu, “kami lebih senang pembayaran dikurangi dari pada melanjutkan perjalanan. Untuk ini Kongcu tak perlu memusingkan diri, kami bisa mencarikan kereta untuk melanjutkan perjalanan.”

In Tiong Giok membayar ongkos kereta.

Kusir yang satu lagi dari tadi diam saja, waktu Tiong Giok mengusungkan uang ia menolak dan menyatakan mau melanjutkan perjalanan asal tambahnya besar.

“Apakah engkau tidak takut kudamu mati dijalanan?”

“Kudaku cukup perawatan, pasti bisa melanjutkan perjalanan.”

“Kalau begitu baik, bisakah keretamu muat empat orang?” tanya Tiong Giok.

“Asal mau berdempetan bisa saja!”

“Baiklah, aku tak perlu repot-repot mencari kereta lain.”

Sewaktu mau berangkat dari arah luar datang tiga penunggang kuda, mereka bukan lain dari rombongan Ciu Kong adanya. In Tiong Giok pura-pura tidak kenal, tapi waktu berpapasan dengan cepat ia memberikan secarik kertas pada kawannya itu tanpa diketahui siapa-siapa.

Setelah kereta berangkat agak lama, Ciu Kong membuka kertas tadi, disitu tertulis sebagai berikut: “Perhatikan kusir kereta, kemungkinan besar anak buahnya Liok Jie Hui.”

Diperjalanan tidak ada yang perlu diceritakan sewaktu mereka tiba dikota Hong Shia sudah terang tanah. Jalanan disini sangat ramai biarpun masih pagi. Kereta berjalan semakin perlahan. Seorang muda berbaju hijau tampak mengejar-ngejar kereta. Tiong Giok jadi curiga dan memerintahkan kereta berhenti.

“Apakah kereta ini rombongan dari In Kongcu?” tanya pemuda itu.

“Benar! bagaimana kau tahu?” tanya Tiong Giok.

“Kalau begitu ikutlah denganku,” kata pemuda itu.

Pemuda itu mengajak mereka masuk kesebuah penginapan yang bermerek Empat Lautan. “In Kongcu sudah tiba! In Kongcu sudah tiba!” seru sipemuda yang terus masuk kedalam hotel.

Empat lima pelayan bergegas-gegas keluar menyambut kedatangan kereta dengan telaten sekali. Mereka membuka pintu kereta dan mempersilahkan penumpangnya masuk kedalam dengan ramah tamah.

Pelayan-pelayan itu mengajak para tamunya kesebuah meja yang penuh hidangan. Pemuda berbaju hijau mempersilahkan mereka duduk sambil melayani dengan tersenyum-senyum. “Yang rendah adalah pemilik hotel ini, bilamana ada pelayanan yang kurang memuaskan kuharap dimaafkan saja.”

“Ah, kau memperlakukan kami dengan baik sekali,” kata Tiong Giok.

“Persiapan ini tergesa-gesa, mungkin masih banyak kekurangannya,” kata pemilik hotel itu.

“Siapakah yang menyuruhmu melakukan persediaan ini?”

“Teman In Kongcu yang memesan, dan iapun meninggalkan sepucuk surat untukmu.” Kata pemilik hotel sambil menyerahkan surat itu.

Tiong Giok tahu surat itu pasti dari Liok Jie Hui dan cepat-cepat dibacanya. “Mengingat tempat ini sangat asing bagimu, maka segala keperluanmu dalam hal menginap dan makan sudah kuatur serapi mungkin. Kuyakin engkau menjalankan perintahku. Maka kuminta besok pagi engkau datang seorang diri ketepi sungai Hong kang sekalian bawa buku Keng thian cit su dan pedang pusaka. Bilamana lebih dari seorang yang datang aku tak berani menjamin keselamatan Pek dan Tiat.

“Ah, benar saja temanku itu baik sekali,” kata In Tiong Giok sambil memasukkan surat itu kedalam sakunya.

Sesudah bersantap Wan Jie dan Ceng Ceng mengajak kedua orang tua masuk kekamar, sedangkan In Tiong Giok membayar ongkos kereta. Anehnya tukang kereta itu setelah menerima uang, cepat pulang tanpa istirahat lagi.

Tiong Giok masuk kekamar, memperhatikan surat tadi kepada Wan Jie dan Ceng Ceng.

“Kuduga pemilik hotel inipun bukan komplotan Liok Jie Hui, tapi dihotel ini pasti ada kaki tangannya. Mulai detik ini kuminta kalian berlaku waspada dan giliran berjaga. Aku sendiri harus berpikir dan memusatkan perhatian untuk esok.”

“Apakah engkau benar-benar mau menemui Liok Jie Hui?” tanya Wan Jie.

“Benar!”

“Apakah permintaannya kau turuti juga?”

“Untuk keselamatan Siau Bwee dan Kiam Hong segala permintaannya akan kuturuti!”

“Tapi pikirlah masak-masak, kedua pedang pusaka itu kalau jatuh ketangan Liok Jie Hui akan merupakan bencana dikemudian hari.”

“Pokoknya asal kubisa menolong Pek dan Tiat berdua, kuyakin pedang ini akan kembali lagi ketanganku, kecuali nasibku kelewat buruk.”

“Semoga bisa begitu hendaknya,” Wan Jie berdoa.

“Keesokan harinya, dengan pakaian serba ringkas Tiong Giok membawa pedang pusaka dan Keng thian cit su menuju sungai Hong kang. Ia bisa sampai disungai itu setelah bertanya kesana kemari. Sesampainya disitu iapun menjadi bingung, sebab ia tidak tahu harus menunggu dimana, karena disurat itu tidak menyuruh ketempat yang tertentu. Ia mondar mandir ditepi sungai sambil melihat-lihat kalau-kalau ada yang dicurigakan. Entah sudah berapa lama ia berjalan, belum pula bertemu dengan Liok Jie Hui. Sedangkan mata hari terasa semakin panas, ia mampir disebuah warung kopi, untuk menghilangkan dahaga. Baru saja ia minum, ada seorang bocah menghampiri dan bertanya dengan perlahan.

“Apakah Kongcu she In?”

“Benar,” jawab Tiong Giok.

“Ada seorang menyewa perahu ayahku, dan menyuruh Kongcu menyebrang.”

“Dimana perahunya, hayo ajak aku kesana,” kata Tiong Giok seraya bangkit dari duduknya dan membayar minumannya.

Anak itu mengajak Tiong Giok kesebuah tempat yang sunyi disana benar saja telah siap sebuah perahu kecil.

“Siau Kongcu, apakah ini Kongcu?” tanya tukang perahu.

“Benar….” jawab si bocah yang ternyata bernama Siau Kongcu itu.

Tiong Giok melompat keprahu itu dan turun dengan ringan tak ubahnya seperti daun kering yang gugur kebumi. Tukang perahu maupun sibocah merasa kagum atas kepandaian pemuda kita tapi tak mengatakan apa-apa. Siau Kongcu melepaskan tambatan perahu dan bersama-sama ayahnya mengayuh ketengah sungai.

“Apakah yang menyuruhmu itu menentukan sesuatu tempat untuk mendarat?” tanya In Tiong Giok.

“Tidak,” jawab tukang perahu, “ia hanya menyuruhku membawa Kongcu menyebrang, sesampai disana ada orang lain yang bisa menjemput Kongcu dengan kuda.”

“Kuda? Apakah perjalanan masih jauh?”

“Ini… Aku tak tahu,” kata situkang perahu dengan perlahan.

“Kongcu lihat!” seru Siau Kongcu, “Disana ada yang menuntun kuda!”

Tiong Giok memandang kedepan, dan benar saja dibawah pohon liu yang rindang terlihat seorang berbaju hitam menuntun dua ekor kuda. Orang itu kepalanya botak mengkilap sekali lihatpun Tiong Giok mengenal, dialah tukang loak di gang yang pernah diketemukannya.

Tidak menantikan perahu merapat kepantai, Tiong Giok sudah mencelat pergi dengan satu lompatan.

“Ya Allah…inilah dewa yang pandai terbang,” puji Siau Kongcu tanpa terasa.

Sibotak jadi tertegun melihat kepandaian pemuda kita, tapi ia pura-pura tenang, dan menyambut sambil tersenyum. “In Kongcu tentu sudah tahu, ketuaku bermaksud mengadakan pertemuan ini tanpa diketahui orang lain bukan? Caramu memamerkan kepandaian ini membuatku jadi curiga….”

“Curiga tidak curiga terserah kepadamu,” jawab In Tiong Giok. “Dimana ketuamu?”

“Ia sedang menantikan kedatanganmu, ikutlah denganku,” kata si botak.

“Waktu di Lam Ciong engkau pernah menipuku dengan akal busukmu,” kata Tiong Giok. “Sampai sekarang masih kuingat terus, dapatkah kutahu namamu?”

“Daya ingat Kongcu kuat sekali,” kata sibotak. “Namaku Siu Lang.”

“Oh…Siu Lang (serigala botak), bukankah engkau salah satu dari It Lang Jie Po (satu serigala dan dua macan tutul) dari Heng San?”

“Benar, itu soal dulu, sekarang kami mengabdi pada Liok Lo Cianpwee.”

“Bukankah berdiri sendiri lebih baik dari pada mengabdi pada orang lain?”

“Itu urusan pribadi kami, Kongcu tak usah tahu,” jawab Siu Lang dengan ketus.

“Begitupun baik,” kata Tiong Giok tawar.

“Kembali soal perjanjian dimana aku harus menemui ketuamu itu? Masih jauhkah dari sini?”

“Disebut jauh tka jauh, disebut dekat tidak dekat, pokoknya marilah naik kuda dan ikut denganku.”

“Baiklah selanjutnya aku hanya mengikuti engkau,” kata Tiong Giok mendongkol.

Siau Lang tidak banyak cerita lagi, membedal tunggangannya kebarat daya. Tiong Giok mengikuti dari belakang, semakin jauh perjalanan semakin sepi. Selama itu mereka tak pernah berkata-kata. Biarpun begitu Tiong Giok memperhatikan jalanan yang ditempuh, ia menjadi heran, karena sibotak mengajak jalan berliku-liku, nanti kebarat, nanti keutara seenaknya saja. Mula pertama ia masih bisa berlaku sabar, tapi setelah beberapa jam berlalu, ia mendapatkan perjalanan dari utara balik lagi ke barat, dari barat langsung ke selatan kembali ketempat semula. Hatinya jadi panas dan membuatnya naik pitam. “Hm, dengan cara ini sampai kapan bisa tiba?”

“Hm, pokoknya tahu beres saja,” jawab Siu Lang.

“Ingat sembarang waktu jiwamu bisa kubunuh!”

“Kalau berani boleh coba.”

“Kau kira aku takut?”

“Jangan lupa kematianku bisa membuat Tiat dan Pek mati juga!”

“Engkaupun jangan lupa, kalau Tiat dan Pek mati, Liok Lo Koay (jejadian tua) pun akan mati pula.”

“Kuyakin Kongcu tak menghendaki hal itu sampai terjadi bukan?”

Tiong Giok tidak menjawab, karena membenarkan apa yang dikatakan sibotak didalam hati. “Baiklah kuikuti terus caramu ini sampai diakhirnya.”

Dari siang mereka berjalan sampai senja, akhirnya tiba ditempat mula pertama Tiong Giok mendarat tadi. Kini ia sadar Liok Lo Koay yang licik sudah memperhitungkan secara cermat sekali. Perbuatan Siau Lang yang mengajaknya berputar-putar, semata-mata hendak mengetahui apakah dibelakang Tiong Giok ada yang mengikuti atau tidak. Biarpun ia mangkel dipermainkan begitu macam, tetapi kagum atas kelihayan lawan.

Si botak turun dari tunggangannya, lalu mengambil tikar yang tergantung dipelana kudanya. Ia mencari tempat yang rata guna menggelar tikarnya. Diambilnya pula bungkusan lain yang berisi makanan kering dan minuman. “Kita sudah menempuh perjalanan jauh. Mari makan minum dulu.”

“Aku belum lapar!”

“Apakah Kongcu kuatir makanan dan minuman ini beracun?”

“Itu soal lain, yang terang aku belum lapar! Cepatlah makan nanti kita ubek-ubekan lagi seperti tadi.”

“Ha ha ha, Kongcu jangan salah paham,” jawab Siu Lang. “Biarpun perjalanan tadi kurang menyenangkan, tapi lebih sip dan banyak untungnya dari pada langsung ketempat tujuan. Pikirlah engkau membawa pedang mustika, tentu banyak orang-orang jahat yang ingin dan merampasnya bukan? Untuk menghindari merekalah, aku menerima perintah mengajakmu berputar-putar seperti tadi.”

“Apakah dunia ini masih ada orang jahat yang melebihi Liok Lo Koay?” selak Tiong Giok.

“Pendapat Kongcu berdasarkan sentimen.”

“Aku segan banyak bicara, jelaskan kapan Liok Lo Koay itu mau bertemu denganku?”

“Dalam hal ini, bukan saja Kongcu yang tidak tahu, akupun sami mawon!”

“Apa engkau tidak tahu?”

“Benar! Aku hanya menjalankan tugas seperti tadi, lalu diam disini menantikan perintah selanjutnya.”

“Hm, engkau berani mempermainkan aku,” kata Tiong Giok sambil melompat turun dan memberikan beberapa tamparan pada sibotak. Siu Lang begitu-begitu juga seorang Kang Ouw mencoba melawan. Tapi sia-sia saja, mukanya kena digampar tanpa berdaya.

“Aku benar-benar tidak tahu! Jangan kata digampar dibunuhpun aku tak bisa mengatakan soal yang tidak kutahu!”

“Kalau engkau tak tahu, siapa yang bisa tahu perintah selanjutnya itu?” tegur Tiong Giok sambil memberikan gaplokan nyaring dikepala botak Siu Lang.

“Aduh! Ngomong-ngomong jangan main tampar, main gatak….sakit,” kata Siu Lang sambil mengusap-usap kepalanya yang menjenut benjol. “Ketuaku mengatakan sesudah malam, bakal ada cahaya api yang memberikan petunjuk!”

“Baiklah kutunggu sampai malam, kalau tidak ada, kepala botakmu akan pecah!”

Siu Lang melanjutkan lagi makan minum dengan meringis.

Sementara itu perlahan-lahan haripun menjadi gelap.

“Mana sinar api itu?” tanya Tiong Giok tak sabaran.

“Sabar Kongcu, haripun baru saja gelap, masih jauh ke pagi!”

“Pletok,” terdengar getakan nyaring dari kepala botak Siu Lang. “Ngomong lagi masih jauh kepagi!” bentak Tiong Giok.

“Nah….lihat! Itu api!” seru Siu Lang sambil menunjuk keutara.

Tiong Giok mengawasi kearah yang ditunjuk, disitu terlihat sinar api bergerak-gerak tertiup angin.

“Bagaimana kau tahu api itu petunjuk bagi kita?”

“Soalnya sukar kujelaskan, mari kita kesana.”

“Hm, awas kepalamu, kalau bohong!” ancam Tiong Giok sambil mengikuti sibotak kearah api.

Setelah dekat Tiong Giok melihat tegas sebuah lentera tergantung disebuah pohon. Dibatang pohon terlihat sebuah goresan panah yang menunjuk kearah barat laut. Dengan mengikuti arah panah mereka melarikan tunggangan mereka ketempat yang ditunjuk. Lebih kurang berjalan sepuluh lie jauhnya, lagi-lagi terlihat sebuah lentera disebuah pohon, disini terdapat goresan yang menunjuk kebarat.

“Liok Lo Koay menganggap dirinya pintar,” ejek Tiong Giok. “Tapi dengan cara ini, kiranya tak ada yang bisa mengikuti jejekanya? Kuyakin dibelakang kita sudah ada yang mengikuti…”

“Kongcu jangan meremehkan kelihayan Liok Lo Cianpwee,” kata Siu Lang membela ketuanya. “Sebelum hal ini dijalankan, siang-siang ia telah memeriksa keadaan sejauh dua lie….Ia mendapatkan tiada orang lain lagi yang mencurigakan!”

“Hm,” dengus Tiong Giok sambil membathin. “Engkau tak tahu, dibelakangku ada Ciu Kong dan kawan-kawan, yang tidak kau ketahui.”

Sepanjang jalan selalu ada lentera yang menunjuk kearah mana mereka harus pergi. Makin lama perjalanan semakin menurun, berliku-liku menyusuri perjalanan gunung. Tiong Giok mulai merasakan perjalanan agak berat, dan tahu tempat tujuan sudah tak jauh lagi.

Lentera terakhir terdapat disebuah tebing gunung, disitu tidak ada panah penunjuk lagi seperti tadi.

Tiba-tiba dari atas tebing terdengar suara nyaring: “Apakah yang datang itu In Siau hiap adanya?”

“Benar, aku datang bersama Siu Lang!”

“Diminta dengan hormat Siau Hiap menghentikan langkah,” kata suara diatas. “Siu Lang dianggap sudah selesai menjalankan tugas, diminta mundur dan jangan maju!”

Mendengar perintah itu Siu Lang segera memutar kudanya.

“Jangan pergi dulu!” cegah Tiong Giok. “Terangkan dimana Liok Lo Koay bersembunyi?”

“Ia menunggu Siau Hiap diatas gunung itu.”

“Sebelum kutemui Liok Lo Koay tugasmu kuanggap belum selesai.”

“Apakah Siau Hiap tidak percaya bahwa Liok Lo Cianpwee sedang menantikan kamu?”

“Sebelum kutemui Liok Lo Koay kuharap engkau selalu bersamaku!”

“Ha ha ha tak sangka orang sesohor dan segagahmu, nyatanya bernyali tikus!” ejek Siu Lang.

“Bukan aku bernyali kecil,” jawab Tiong Giok. “Tapi berurusan dengan Liok Lo Koay bagaimanapun harus terlebih hati-hati!” Dengan gerakan kilat ia menangkap lengan Siu Lang dan memelintirnya. “Antarkan aku menemui bangsat she Liok itu!”

“Orang she In lepaskan saudaraku!” terdengar teriakan dari atas. Disusul dengan bunyi yang menggelegar keras, dari jatuhnya sebuah batu besar kehadapan mereka.

“Lauw Jie Houw, aku dalam keadaan tak berdaya, engkau jangan…” Belum pula Siu Lang selesai berkata, lagi-lagi terlihat dua batu besar turun kebawah.

Bukan saja suara menggelegar terdengar lagi, bahkan pecahan batu mencerat keempat penjuru. Tiong Giok sangat lihay, sebelum batu itu sampai, telah membarengi lompat dari kudanya sambil menenteng Siu Lang keatas tebing. Gerakannya tidak berhenti disitu, ia mencelat terus dengan gesitnya. Dalam sekejap telah berada diatas tebing. Disini ia melihat seorang sedang mendorong-dorong batu untuk diturunkan lagi kebawah, ia bukan lain dari pada Lauw Jie Houw. Sedikitpun ia tidak menduga bahwa Tiong Giok sudah berada dibelakangnya. Begitu ia tahu cepat-cepat ditinggalkan batu itu dan mencabut golok.

“Hm,” ejek Tiong Giok dengan gemas, karena ia mengenali Jie Houw adalah tukang kereta yang mengantarkannya sampai dikota Hong Shia. Sebelum golok musuh sampai ia membarengi dengan Hiat cie lengnya. “Siuuuuut,” terdengar desiran angin dari jarinya. Golok musuh dibikin terlepas dari tangan, dan terus ia membarengi memberikan totokan, sehingga musuh itu terjungkel tanpa berdaya.

“Ha ha ha……” tiba-tiba terdengar suara terbahak-bahak. “Anak-anak nyalakan api, dan sambutlah tamu ini.”

Berbareng dengan hilangnya suara itu, terlihat puluhan obor menyala dengan serentak, mengusir kegelapan malam. Dibawah sinar api yang terang benderang Tiong Giok melihat sebidang tanah datar berukuran lebih kurang sepuluh meter persegi, berhadap-hadapan dengan lereng bukit dimana ia berdiri. Antara lereng bukit dan tanah datar itu dipisah oleh sebuah jurang yang lebarnya dua puluh meter lebih. Disitu terlihat merentang seutas tambang besi yang berupa jembatan.

Obor-obor itu berada ditanah datar, disitu terlihat Liok Jie Hui sedang duduk dikursi beralaskan kulit macan, dibelakangnya terlihat empat pelayan wanita, dikiri kanannya berdiri dua muridnya. Ia sangat licik, maka memilih tempat ini untuk bertemu. Dengan begitu ia bisa melihat dan bicara dengan musuh tanpa kuatir mendapat serangan.

Jarak dua puluh meter lebih sebetulnya bukan rintangan besar bagi Tiong Giok. Tapi jelas baginya, kalau berani melintas tambang besi itu.

Ia mengernyitkan kening berpikir keras, akhirnya memutuskan tidak mau menyebrang. Sedangkan Siu Lang segera dibebaskannya. “Aku sudah bertemu dan melihat Liok Jie Hui, tiba waktunya membebaskan dirimu seperti yang pernah kukatakan.”

Kejadian ini benar-benar diluar dugaan Siu Lang, ia menarik napas lega dan menunjuk kepada kawannya. “Dia adalah salah satu dari Jie Pauw yang bernama Lauw Jie Houw. Dikarenakan saudara kandungnya yang bernama Lauw It Houw mati ditangan anak buahnya waktu di Lam Ciong, maka itu ia berlaku nekad untuk mencelakakanmu, atas tindakannya yang gegabah ini kuminta belas kasihanmu untuk mengampuninya.”

“Itu soal mudah, tapi bukan sekarang,” jawab Tiong Giok.

“Habis kapan?”

“Ia masih kuperlukan, sesudah itu baru kubebaskan,” kata Tiong Giok dengan tegas. “Sekarang pergilah, dan beritahu pada Liok Lo Koay kedatanganku kesini untuk menepati janji dengan penuh kesungguhan. Dan pedang mustika yang dikehendaki sudah kubawa, mengenai buku Keng thian cit su yang ada padanya sudah lengkap dan sempurna. Mengenai cara mempelajarinya bisa berdua, bisa seorang, itu tergantung kepada bakat dan kemauan yang belajar sekali-kali jangan menganggap aku membuat buku dengan curang dan menghilangkan bagian-bagian yang penting. Hal ini dapat dibuktikan buku yang kutilis untuknya dan yang dicetak dikota Kim Leng serupa adanya. Bilamana aku berlaku curang tentu kedua buku itu ada bedanya.”

“Soal Lauw Jie houw sementara kutahan dulu, sebelum urusanku dengan Liok Lo Koay selesai. Bilamana ketuamu mau menyimpang dari perjanjian yang dikehendaki itu, aku tak bisa berbuat apa-apa, itu terserah kepadanya.”

“Baiklah, kata-katamu akan kusampaikan kepadanya,” kata Siu Lang sambil membalik badan dan terus berlari dengan cepat melalui tambang besi yang merentang ditengah jurang.

Lauw Jie Houw tertotok urat nadinya, ia tergeletak diatas tanah. Sedangkan Tiong Giok dengan tenang duduk didekat tambang besi sambil mengawasi gerak gerik musuhnya.

Dua puluh meter bukan jarak yang jauh, masing-masing pihak bisa melihat dengan tegas satu sama lain. Sebenarnya Tiong Giok bisa mengutarakan isi hatinya secara langsung kepada yang berkepentingan, tapi sengaja menggunakan Siu Lang sebagai perantara untuk menyampaikan kata-katanya, dengan tujuan menghambat waktu dan memberi kesempatan Ciu Kong dan kawan-kawan datang.

Setelah Liok Jie Hui mendengar laporan dari Siu Lang ia terpekur sejenak, lalu berkata: “Soal penukaran orang dan pedang adalah kehendakku sendiri, sudah tentu hal ini harus kujalankan. Akan tetapi ia harus membebaskan Lauw Jie Houw dulu kepadaku, bilamana pedang itu benar-benar dan tulen baru kubebaskan Tiat dan Pek!”

Siu Lang cepat-cepat balik pada Tiong Giok guna menyampaikan apa yang dikehendaki ketuanya.

“Soal membebaskan Lauw Jie Houw bisa kululuskan, tapi aku keberatan kalau harus menyerahkan dulu pedang mestika ini.”

Siu Lang kembali lagi kesebrang menyampaikan apa yang diucapkan Tiong Giok, setelah itu balik lagi dengan cepat. “Ketuaku menghendaki agar engkau menyerahkan dulu sebilah pedang pada Lauw Jie Houw, dan ia akan membebaskan Pek Kiam Hong. Setelah itu aku akan membawa Tiat Siau Bwee ketengah-tengah “Jembatan” danmenukar dengan pedangmu yang satu lagi.”

“Cara ini terlalu berbelit-belit, kuminta sekaligus saja Tiat dan Pek dibawa ketengah jembatan dan dilakukan tukar menukar dengan pedang, kurasa cara ini lebih praktis.”

Setelah mendengar laporan dari Siu Lang, Liok Jie Hui merasa keberatan dan tak mau menerima saran musuhnya. Ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kelihayan pemuda kita waktu dipulau Hiu. Ia kuatir kehilangan sanderanya, bilamana musuh membalik muka.

Siu Lang bolak balik beberapa kali, masing-masing mempertahankan pendapatnya, keputusan belum didapat juga. Sedangkan waktu perlahan-lahan mendekat pagi.

“Pedang adalah benda mati, orang adalah benda hidup. Jika ia tidak memenuhi kehendakku, mari kita berangkat sambil membawa dua orang ini,” kata Liok Jie Hui dengan gusar.

In Tiong Giok tak dapat memperlambat waktu lagi, sedang Ciu Kong dan kawan-kawannya belum tiba juga, kepaksa ia mengalah. Tapi ia pun mengajukan permintaan lagi, yakni sebelum terjadi tukar menukar, minta melihat dulu keadaan Tiat Siau Bwee dan Pek Kiam Hong.

Siu Lang menyampaikan kehendak pemuda kita pada ketuanya.

“Ha ha ha, hm itu soal yang pantas, bawalah dua orang itu kemari. Besarkan nyala apinya agar ia melhat tegas keadaan kawan-kawannya yang tidak kurang suatu apapun.”

Tampak dua muridnya Liok Lo Koay menuju kebelakang kursi, mereka mendorong sebuah batu besar…. Kiranya batu itu menutupi sebuah liang gua yang hitam. Dikarenakan terhalang kursi yang diduduki Liok Jie Hui, Tiong Giok tidak bisa melihat mulut gua itu. Tak selang lama Kiam Hong dan Siau Bwee diseret keluar dari gua itu dan dibawa kedekat jurang.

Melihat in Tiong Giok hampir-hampir tak bisa menguasai dirinya dan ingin melintasi tambang besi untuk memberikan pertolongan kepada dua kawannya itu. Untung ia masih bisa mengekang emosinya dan tetap diam diujung jembatan sambil menatap keseberang tanpa berkedip-kedip.

Pek Kiam Hong dan Tiat Siau Bwee pakaiannya kotor-kotor, dekil dan mesum, agaknya mereka sudah lama disekap dalam gua itu. Kini anak buahnya Liok Jie Hui menyeret lagi mereka kedekat kursi ketuanya Tiong Giok tahu kedua kawannya tidak bisa bergerak karena tertotok.

“Apakah kau sudah melihat tegas? Nah giliranmu menyerahkan pedang,” kata Liok Jie Hui sambil menyeringai.

“Aku sebagai kesatria sejati, pasti aku akan menepati janji, tapi perlu kujelaskan beberapa patah. Bilamana kudapatkan kedua kawanku ini menderita luka atau sesuatu yang membahayakan jiwanya dikemudian hari, engkau harus bertanggung jawab.”

“Engkau jangan kuatir, masih banyak kesempatan untuk memeriksa mereka,” kata Liok Jie Hui dengan tergelak-gelak…

Tiong Giok segera membebaskan Lauw Jie Houw dari totokan dan menyerahkan sebilah pedangnya kepada tawanan itu. “Berikanlah kepada ketuamu yang licik itu.”

Dengan cepat Lauw Jie Houw pergi menyeberang melalui tambang besi. Liok Jie Hui berasa girang tidak alang kepalang, dengan berjingkrak-jingkrak ia meninggalkan kursinya menyongsong kedatangan anak buahnya, lengannya tampak gemetar waktu menerima pedang dari Lauw Jie Houw. Dengan bernafsu pedang itu dicabutnya. Pedang Hui lie kiam segera memancarkan sinar merah yang berkilauan.

“Ha ha ha benar-benar pedang wasiat! Tak kusangka akhirnya pedang yang kuidam-idamkan, akhirnya jatuh juga ditanganku!”

“Engkau jangan terlalu girang dan lupa daratan!” seru Tiong Giok. “Ini masih ada sebilah lagi!”

“Benar! Benar!” kata Liok Jie Hui. “Lepaskan bocah she Pek itu!”

Siu Lang segera saja membebaskan Kiam Hong dari totokan. “Siau pangcu silahkan menyeberang!”

Pek Kiam Hong tidak menjawab, ia masih tetap berdiam diri tanpa melangkah, Siu Lang menuntunnya kedekat jembatan.

“Saudara Pek apakah engkau menderita luka?”

Pek Kiam Hong menggelengkan kepala sambil melangkahkan kakinya keatas tambang besi. Namun bukan ia menyeberang, melainkan dengan kecepatan luar biasa ia menyerang pada si botak.

Siu Lang ridak menduga bakal diserang, ia tidak bersiaga, tak beguru berkelit lagi, tambahan ilmunya tak seberapa tinggi. Tubuhnya terpukul roboh dan tergelincir kedalam jurang detik itu juga. Pek Kiam Hong tidak berhenti sampai disitu saja. Tubuhnya seperti badai yang dashyat menyambar Siau Bwee dan dibawa lari.

Kejadian ini terlalu mendadak dan diluar dugaan. Biar Lauw Jie Houw maupun keempat pelayan wanita serta dua murid Liok Lo Koay disitu, mereka tak berbuat apa-apa seperti terkesima saja.

“Apa kalian bangkai semua? Kejar!” teriak Liok Jie Hui tak kurang kagetnya.

Suara bentakan Liok Jie Hui tak ubahnya seperti air dingin mengguyur anak buahnya yang sedang pulas. Mereka terkejut dan sadar, terus mengejar ketambang besi.

Tiong Giok yang menyaksikan perbuatan Pek Kiam Hong dari seberang, menyadari urusan jadi berabe. Maka itu waktu Kiam Hong memijak tambang besi ia sudah bersiap sedia. Tubuhnya mencelat tinggi melalui kepala kawannya dan menghadang musuh-musuh yang mengejar. Pedang wasiatnya berputar keras, dua murid Liok Jie Hui yang berada dipaling depan, dalam sekejap telah dibikin terguling kedalam jurang, setelah mereka Lauw Jie Houw menemui nasib yang sama. Keempat pelayan Liok Jie Hui karena berlaku lambat, belum memijakkan kaki di jembatan buru-buru mundur teratut.

Sedangkan Liok Jie Hui tidak mau berkelahi ia menyabetkan pedang pusaka keatas tambang besi.

Pek Kiam Hong yang membawa Siau Bwee masih berada diatas tambang, demikian pula dengan In Tiong Giok. Bilamana tambang ini putus sama dengan putus pula nyawa mereka. Dalam keadaan yang membahayakan ini dengan tiba-tiba In Tiong Giok mendapat akal, lengannya segera bergerak, tampaklah Hong hiat kiam yang bersinar putih terlepas dari tangannya dan terbang menyambar pada musuhnya, berbareng dengan tubuhnyapun terbang kedepan menyambar kedua ujung tambang yang baru putus dengan kedua tangannya.

Putusnya tambang besi, meluncurnya pedang terbangnya manusia, seolah-olah terjadi dalam satu detik yang bersamaan. Hanya sayang usaha Tiong Giok tidak membawa hasil yang memuaskan. Pedangnya itu hanya mengenai bahu kiri musuhnya. Sesungguhnya begitu Liok Jie Hui merasa kaget sekali dan menjerit kesakitan sambil melompat mundur lima enam langkah kebelakang dengan terhuyung-huyung.

“In Toako!” seru Kiam Hong.

“Lekas bawa Siau Bwee keseberang!” seru Tiong Giok.

Dengan menahan air mata Kiam Hong lekas-lekas menyeberang.

Liok Jie Hui dengan keempat pelayan sudah kembali dalam detik itu juga.

Ssambil menggertakkan gigi dan mata berdelik-delik Liok Jie Hui menyeringai kepada musuhnya. “Kini kudua pedang pusaka sudah kuperoleh, untuk ini aku memderita luka ringan. Sebaliknya jiwamu berada ditanganku, semua ini kehendak takdir.”

Diam-diam Tiong Giok merasa kaget, ia diam tidak menjawab, karena kedua tangannya tidak dilepaskan, berhubung Pek Kiam Hong belum sampai keseberang.

“Anak-anakku, berikanlah beberapa bacokan pada bocah ini, jangan sampai dia jatuh kesakitan didalam jurang!” peerintah Liok Jie Hui…

“Baik! sahut keempat pelayan wanita itu seraya menghunus senjatanya dan siap menabas kearah In Tiong Giok.

“Budak tak kenal mati, jangan coba-coba melukai Siau cu jin kami!” tiba-tiba terdengar suara bentakan menyusul terlihat berkelebatnya tiga bayangan datang ketanah datar itu. Mereka bukan lain dari Ciu Kong, Yauw Kian Cee dan Toa Gu.

Liok Jie Hui mundur dua langkah dengan wajah berubah, “Kalian…siapa?”

“Hm, ingatanmu buruk sekali, aku Ciu Kong masa sudah lupa?”

Liok Jie Hui menjadi kaget, ia menjaga diri dengan dua pedang pusaka, sedangkan mulutnya memerintahkan pelayan-pelayan turun tangan secepat-cepatnya. Pelayan-pelayan itu segera menabaskan pedang mereka dengan berbareng kepada Tiong Giok.

“Kurang ajar!” bentak Yauw Kian Cee seraya menggerakkan tangannya, sehingga keempat perempuan itu susul menyusul terjungkal kedalam kurang sebelum kesampaian maksudnya.

Liok Jie Hui semakin kaget dan gentar, ia tahu dirinya dalam keadaan bahaya, maka itu kedua pedang pusaka diputar memakai jurus-jurus dari Keng thian cit su menghantam kearah Ciu dan Yauw.

Keng thian cit su yang dimainkan Liok Jie Hui tidak selihay Tiong Giok, maka itu dengan kekuatan bergabung Ciu dan Yauw mengimbangi mereka.

Toa Gu menghampiri Tiong Giok untuk memberikan pertolongan. Hal ini diketahui Liok Jie Hui, maka si tolol ini diserangnya dari belakang.

Toa Gu sangat mengandalkan kekebalan dirinya, serangan musuh itu dianggap sepi dan dibiarkan. Karuan saja In Tiong Giok menjadi kaget sekali menyaksikan hal ini, dengan keras ia memperingati. “Toa Gu lekas menyingkir, itu pedang pusaka!”

Toa Gu masih tetap diam saja, sedangkan bahaya semakin dekat, Tiong Giok dengan terpaksa melepaskan kedua tangannya dari tambang besi dan melancarkan Hiat cie leng kearah musuh.

Liok Jie Hui tak menduga serangan mendadak, lengannya sudah terkena angin panas dan kesakitan, kedua pedang pusaka segera terlepas dari tangannya. Berbareng dengan itu angin pukulan Ciu dan Yauw datang dengan dashyat, situa licik ini segera terjungkal kedalam jurang.

Demikian pula dengan Tiong Giok sehabis melakukan serangan, segera jatuh kedalam jurang! Tinggal Toa Gu melongo dipinggir jurang sambil berteriak-teriaak: “Siau cu jin! Siau cu jin!”

Dalam keadaan tidak sadar, seolah-olah telah berlalu seratus tahun, seribu tahun….

Tatkala In Tiong Giok membuka mata kembali, melihat bulan sabit dan taburan bintang dicakrawala. Saat itu seolah-olah baru jam dua belas tengah malam. Ia mendapatkan dirinya berada disebuah lubang tanah yang dlamnya tiga empat meter. Lubang itu seperti baru saja digali, berukuran satu kali dua meter tidak terlalu lebar maupun panjang, pas muat untuk rebahan seorang.

Ia menjadi bingung dan heran, karena sewaktu jatuh kedalam jurang, telah membayangkan bagaimana tubuhnya akan hancur terkena batu-batu cadas yang tajam. Tapi sekarang ini kenapa dirinya berada dilubang tanah? Mimpikah ia?”

Sruk! Sruk! ada tanah meluruk ketubuhnya. Lamunannya jadi hiloang, ia mencoba mencelat bangun, tapi tak bisa, karena punggungnya terasa ia teraduh-aduh sendiri…

“Tia tia, kudengar orang dibawah ini merintih-rintih,” terdengar suara orang diatas lubang tanah itu.

“Ah ngaco saja. Kita sudah menunggu tig ahari tiga malam ia tetap tak bergerak-gerak, napasnya sudah tak ada. Mungkin itu hanya perasaanmu saja! Lekas kubur jangan berpikir yang bukan-bukan!”

“Ingin kuperiksa dulu, sebab kudengar ia merintih. Diatas lubang kuburan terlihat seorang anak berusia lima belas tahun, melongok-longok kedalam liang. “Tia tia coba lihat, matanyapun melek! Ia belum mati!”

“Heran! Coba kulihat!”

Kini Tiong Giok melihat seorang tua, mengawasi dirinya dengan wajah keheran-heranan. “Pan aku.aku…”

“Thian Sek lekas angkat dia nak!” seru orang tua itu.

Anak tanggung yang bernama Thian Sek itu, cepat-cepat melemparkan sekopnya dan turun kedalam lubang. Dibopongnya tubuh Tiong Giok dan dibawa lompat dari liang kuburan itu.

Tiong Giok memandang sekeliling, ia mendapatkan dirinya benar-benar berada didalam jurang maut yang menyeramkan itu. Disitu berdiri seorang tua yang berkaki satu, didekatnya berdiri sebuah kuburan baru yang bertulisan.

Disini tempat mengaso Liok Jie Hui untuk selama-lamanya.

Orang tua itu rambutnya riap-riapan, usianya sekitar tujuh puluhan. Lengannya mengempit tongkat untuk berdiri, sedngkan kedua matanya berkilat-kilat tajam. Menandakan bahwa orang tua ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Dengan cermat dan seksama orang tua itu memegang urat nadi Tiong Giok, wajahnya tiba-tiba menunjukkan keheranan, “Bawa pulang, ia belum mati!”

Anak tanggung itu berlari seperti terbang, dlam sekejap ia sudah sampai dibawah tebing curam, dari sini ia mencelat keatas setinggi belasan meter. Terus hinggap disebuah cegakan tebing, tubuhnya membungkuk masuk kedalam sebuah gua yang gelap gulita. Mulut gua agak kecil, semakin masuk semakin luas. Disitu terdapat perabotan kkasar yang berupa ranjang dan bangku, semuanya terbuat dari batu. Yang paling mengherankan disitupun terdapat pelita sebagai penerangan gua.

Anak tanggung itu merebahkan Tiong Giok diatas ranjang batu, seiring dengan itu, orang tua berkaki satupun telah berada didalam gua.

“Aku haus, tolonglah ambilkan air!” ratap In Tiong Giok.

Thian Sek cepar mengambil air, tapi dicegah siorang tua itu. “Lukanya sangat berat, jika ia minum mudah menimbulkan pendarahan sebaiknya kau petik dedaunan obat bawa kemari cepat!”

Thian Sek berlalu keluar gua. Sedang siorang tua menghampiri Tiong Giok, jerijinya segera menotok, mengunci jalan darah agar tak mengalir terus. “Aku ingin bertanya kepadamu,” kata orang itu.

“Sebetulnya tidak pantas aku bertanya disaat ini, tetapi karena soalnya teramat penting maka aku tanya juga. Kuharap engkau berlaku jujur.”

“Terima kasih atas pertolonganmu pak, tanyalah aku.”

“Tak usah menghaturkan terima kasih, kami tak menolongmu, semua ini dikarenakan Hokkiemu keelewat besar, boleh-boleh terjatuh kedalam pukat burungku, barusan kalau engkau tidak cepat siuman, mungkin sudah aku kubur hidup-hidup. Sekarang beritahu siapa namamu?”

“Namaku In Tiong Giok.”

“Apa hubunganmu dengan Thian Liong Bun?”

“Aku adalah Ciang bun jin dari Thian Liong Bun.”

Orang tua itu merasa kaget, sepasang matanya mengawasi kepada Tiong Giok sambil bertanya lagi: “Engkau yang semuda ini sebagai Ciang bun jin?”

“Ya, dikarenakan secara kebetulan…”

“Aku Bok Tiong mempunyai mata seperti buta,” kata siorang tua sambil memberi hormat.

“Apakah Bok Lo Cianpwee sebagai anggota Thian Liong Bun juga?”

“Biarpun bukan anggota Thian Liong Bun tetapi mempunyai hubungan yang erat sekali dengan perguruan itu, majikanku adalah murid Pek King Hong dari Thian Liong Bun.”

“Oh…bolehkah kutahu majikanmu itu?”

Diparas Bok Tiong tampak tanda-tanda duka, ia menarik napas sebelum berkata: “Majikanku adalah seorang pendekar yang sama-sama kesohornya dengan Tiat Giok Lin, ia bernama Ang Ek Fan mereka mempunyai julukan Sin kiam siang eng.”

“Oh…kiranya Lo Cianpwee ini mengabdi pada Ang Tayhiap.”

“Benar,” jawab Bok Tiong, ia merogo sakunya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan meletakkan disisi tubuh Tiong Giok.

“Karena Siau Hiap sebagai ketua dari Thian Liong Bun sama dengan majikanku juga. Aku harapkan maafmu atas kekurang ajaranku tadi. Sekarang silahkan Siau Hiap beristirahat.”

“Ini bungkusan apa?” tanya In Tiong Giok. Bok Tiong tersenyum. “Ini bungkusan dari benda yang kau bawa-bawa. Karena selama tiga hari tiga malam engkau tidak sadarkan diri aku anggap sudah meninggal dunia, maka itu kuambil barang-barang ini diantaranya ada Kumala ungu dan sepotong baju berdarah, soal ini membuat kami curiga dan menanyakan kepadamu, sekarang segala syakwasangka sudah hilang, maka kukembalikan lagi.”

Saat ini Thian Sek sudah kembali membawa dedaunan dan akar obat-obatan. Bok Tiong menerima ramuan obat itu, lalu mengunyahnya sampai lembut. Ia pun menyediakan air pula. “Disini sukar mencari obat-obat seperti dikota, akan tetapi ramuan ini manjur sekali untuk luka luar. Waktu dipakai bisa mendatangkan rasa nyeri yang sangat…”

“Biar nyeri akan kutahan asal bisa sembuh.”

Bok Tiong menyuruh Thian Sek membalikkan tubuh Tiong Giok, setelah tengkurap ia mencuci tempat luka dengan air, membersihkan darah-darah kotor… Tiba-tiba Bok Tiong jadi tertegun, karena disamping luka-luka yang baru dipunggung Tiong Giok didapati bekas tanda luka. “Apakah punggungmu ini menderita luka juga?”

“Benar, luka itu kudapati sejak kuingat menjadi manusia, menurut orang tuaku, luka itu berasal dari bacokan musuh sewaktu aku berusia setahun.”

“Benarkah begitu? Siapa musuh itu?”

“Kejadian yang sesungguhnyapun kurang jelas, sebab usiaku masih terlalu kecil. Tapi belakangan kudapat tahu, setelah terbacok ada seorang yang baik hati, menaruhkan disebuah kas kayu menghanyutkan kesungai, sehingga aku tertolong ayah angkatku dan bisa hidup sampai sekarang.”

“Apakah sepotong baju yangberdarah itu adalah baju yang kau pakai sewaktu dibacok orang?”

“Benar!”

“Jika begitu engkau bukan she In!”

“She In kudapat dari ayah angkatku, soal she yang sebenarnya sampai sekarang aku tak tahu,” jawab Tiong Giok, “Lo Cianpwee kenapa bisa tahu begitu banyak soal diriku ini?”

Bok Tiong tidak menjawab, kelopak matanya tergenang air yang tiba-tiba berderai turun. “Kalau begitu engkau adalah putra dari majikanku!”

“Apa?” Tiong Giok menegasi.

“Waktu kulihat baju berdarah itu aku sudah berpikir kearah itu tapi engkau mengaku she In, maka itu tak berani mengatakan hal itu. Sekarang baiklah kujelaskan…dua puluh tahun yang lalu sebagai pengawal ayahmu, pada suatu ketika aku mengantar ibumu pergi ke Tiat Po. Tak kira ditengah perjalanan dihadang orang-orang bertopeng. Disitu terjadi perkelahian hebat. Aku berjuang mati-matian melindungi ibumu dan dirimu sendiri. Penjahat itu mengejar-ngejar terus, sesampainya didekat hutan bamboo dekat sebuah sungai, ibumu sudah kepayahan sekali, ia menyerahkan dirimu kepadaku sambil memesan: “Aku sudah tak kuat lagi, lekaslah bawa anakku ini, jika selamat, nama keluarga Ang masih punya keturunan dibelakang hari.”

“Aku tak mau meninggalkan ibumu dalam keadaan setengah mati, sikap ini membuatnya marah-marah. Kepaksa kugendong dirimu yang masih kecil, lalu berpisah dengan ibumu itu. Sedangkan kawanan penjahat masih mengejar-ngejar terus. Aku berlari-lari terus. Sewaktu sampai disebuah bukit aku merasa aman dan mengaso. Tak kira disitupun ada lima penjahat bersembunyi. Aku dikurung dan dikerubuti, dengan mati-matian kuhadapi mereka.”

“Aku berhasil merobohkan tiga musuh, sebaliknya aku menderita empat bacokan dan jatuh dari bukit itu, menggelinding kesebuah sungai. Saat itu kulihat engkaupun terkena bacokan, napasmu sudah senen kemis, melihat ini aku sangat berduka cita sekali….tapi apa mau dikata lagi dalam keadaan luka parah itu, musuh masih membayangi diriku, aku tak berdaya untuk melindungimu lagi jiwamu itu. Dasar masih panjang umurmu, disungai itu kulihat kas kayu. Tak pikir panjang lagi, kuletakkan dirimu disitu kuhanyutkan…aku sendiri bersembunyi dipinggiran sungai, setelah musuh-musuh pergi baru berani keluar.”

“Saat itu pertama-tama yang hendak kulakukan memberi kabar kepada Ang Tayhiap, tak kira diperjalanan kudengar soal tragedy di Tiat Po, dimana Tiat Giok Lim meninggal dunia dengan mendadak, soal hidup matinya majikanku belum jelas. Tak selang lama kudengar pula Giok liong po yakni tempat tinggal kami sudah dibumi ratakan kawanan musuh. Kabar ini membuatku kaget dan sedih…tapi apa yang bisa kulakukan? Kepaksa aku berkelana didunia Kang Ouw dalam beberapa bulan itu. Pada suatu hari sampailah aku dikota Lam Ciong…dasar lagi sial kedatangan ini rupanya diketahui kawanan penjahat. Waktu aku tidur nyenyak ditengah malam buta mereka mengurungku. Mati-matian kuhadapi mereka dan memecahkan kepungan dan terus kulari dan lari, sedangkan mereka mengejar-ngejar terus. Satu hari satu malam aku dikejar-kejar, akhirnya sampailah ditempat ini. Aku sangat letih sekali sudah tak berdaya menghadapi mereka, kepaksa terjun kedalam jurang ini.”

Mungkin belum takdirnya harus mati, biarpun jatuh dari tempat tinggi itu, aku hanya patah kaki, dan bisa hidup sampai sekarang. Tempat ini terkurung tebing-tebing yang curam, terpisah dari dunia luar. Untuk hidup terus aku memukat burung, memakan dedaunan, dan tinggal didalam gua. Sepuluh tahun aku hidup seorang diri. Sedangkan Thian Sek adalah anak yang terjatuh sepuluh tahun yang lalu ke jurang ini, ia tak mati karena menyangkut dijala burungku. Tak kira tiga hari yang lalu Thian mempertemukan Siau cu jin denganku.”

Sambil berbicara Bok Tiong telah selesai mengobati Tiong Giok, penuturan yang dilakukan membuat yang diobati tidak merasa nyeri.

“Thian Sek lekaslah kau haturkan hormat kepada Siau cu jin,” kata Bok Tiong.

Thian Sek tanpa disuruh kedua kali telah memberi hormat.

“Tak usah terlalu memakai peradatan,” cegah Tiong Giok. “Kehidupan ini memang aneh, tidak disangka-sangka aku bisa bertemu kalian disini. Thian Sek atau Kurnia Allah , namamu bagus dan sesuai dengan apa yang dialaminya.”

“Tadinya bukan Thian Sek, tapi sejak tergelincir kejurang ini Gie hu memberi nama Thian Sek!”

“Waktu kau masuk kejurang ini masih kecil betul…ada lima tahun?”

“Menurut Gie hu waktu itu usiaku ya lebih kurang sebegitu!”

“Sepuluh tahun engkau menemani Bok Lo cianpwee disini, jasamu sangat besar sekali. Kalau kita bisa keluar dari sini, maukah engkau menjadi murid dari Thian Liong Bun?”

“Bocah tolol lekas engkau haturkan terima kasih atas kebaikan Siau cu jin, kau harus tahu ilmu silat dari Thian Liong Bun luar baisa sekali, bila mana engkau paham tiga empat jurus saja sudah cukup untuk malang meolintang didunia Kang Ouw.”

Thian Sek segera berlutut sebagai tanda bersedia menjadi murid, Tiong Giok membiarkan anak itu menjalankan peraturan dan menerimanya dengan tersenyum.

“Sekarang sebaiknya Siau cu jin beristirahat,” kata Bok Tiong.

Tiong Giok menganggukkan kepala.

Entah sudah beberapa lama berlalu, Tiong Giok tertidur dengan nyenyak sekali. Waktu ia bangun, cuma melihat pelita kecil, sedangkan Bok Tiong dan anaknya tidak terlihat. Ia tidak tahu waktu ini siang atau malam. Ia mencoba membalik badan, rasa sakit dipunggungnya seperti hilang, ia menjadi girang. Dengan bantuan kedua tangannya ia mencoba bangun, saat inilah Thian Sek masuk kedalam gua dan mencegahnya dengan segera: “Siau cu jin lukamu belum sembuh betul, lebih baik jangan banyak bergerak.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: