Kumpulan Cerita Silat

21/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (13)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:11 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 13. Rahasia Nyonya Ketiga Shen
Oleh Gu Long

Keadaan diruangan tersebut masih gelap.

Nyonya Ketiga Shen telah mengenakan baju mandi yang panjang, sepertinya dia baru saja mencuci mukanya. Wajahnya terlihat memucat dan menyiratkan kesakitan. Semburat darah menodai handuk yang sedang dipegangnya.

“Apakah … apakah engkau baik-baik saja?” Ma Fang Ling bertanya.

Nyonya Ketiga Shen tidak menjawabnya, malah dia bertanya kepadanya, “Apakah engkau sudah mengetahuinya bahwa aku baru saja pergi?”

Ma Fang Ling tersenyum dan mengerdipkan mata kepadanya,,” Jangan khawatir, aku juga perempuan. Aku dapat berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu apapun.”

Dia tersenyum bukan karena pertama kalinya dia merasa telah menjadi dewasa. Menyimpan rahasia merupakan suatu tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang benar-benar telah matang.

Nyonya Ketiga Shen tidak mengucapkan sepatahkatapun. Dia mencelupkan handuknya ke dalam air di dalam baskom dan mencucinya hingga noda darah tersebut hilang.

Rasa darah masih terasa segar dimulutnya. Dia menahan darah yang keluar dari mulutnya sepanjang perjalan kembali kekamarnya.

Pukulan Gong Sun Duan betul-betul tidak ringan.

Ma Fang Ling melompat ke atas tempat tidurnya dan mengangkat kedua kakinya. Dia biasanya bersikap hati-hati saat berada dikamar ini, namun saat ini dia bersikap lebih santai dan lepas.

“Apakah kau punya arak di sini? Aku rasanya ingin minum arak,” Ma Fang Ling tiba-tiba berkata.

Nyonya Ketiga Shen mengerutkan alisnya dan berkata,” Sejak kapan kau belajar minum arak?”

“Jangan katakan kepadaku bahwa engkau belum pernah mabuk saat seumurku?” Ma Fang Ling menjawab.

Nyonya Ketiga Shen menarik napas dan berkata,” Ada arak di laci paling bawah dilemari disana.”

“Aku tahu kalau engkau selalu menyembunyikan arak disini. Bila aku adalah engkau mungkin aku akan minum beberapa cangkir kalau tidak bisa tidur saat malam hari.” Ma Fang Ling berkata.

“Engkau kelihatannya betul-betul tumbuh dewasa dalam dua hari terakhir ini.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Ma Fang Ling mengambil botol arak tersebtu dan membuka tutupnya. Dia mendekatkan bibirnya ke mulut botol dan menghirup arak.

“Aku sudah dewasa sekarang. Engkau seharusnya mengatakan kepadaku siapa yang engkau kunjungi tadi.” Ma Fang Ling berkata.

“Jangan khawatir, dia bukan Ye Kai.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Mata Ma Fang Ling bercahaya,” Lalu siapa dong? Apakah Fu Hong Xue?”

Tangan Nyonya Ketiga Shen yang masih mencuci handuk tiba-tiba membeku kaku. Setelah beberapa saat, dia akhirnya memutar kepala kepalanya dan menatap Ma Fang Ling.

“Kenapa engkau memandangiku seperti itu? Apakah tebakanku benar?” Ma Fang Ling berkata.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba merebut botol arak dari tangan Ma Fang Ling dan membentak,”Engkau sudah mabuk, sebaiknya pergi balik ke kamarmu dan tidur. Datang lagi kesini besok saat kalau sudah bangun dan sudah segar,”

Ma Fang Ling membuat muka mengejek dan menjawab,” Aku hanya ingin tahu bagaimana engkau dapat merayu pria seperti dia. Sebaliknya, bagaimana ia jatuh dalam rayuan seorang wanita seumurmu?”

“Jangan katakan kepadaku dia yang kau sukai? Aku kira yang kau sukai Ye Kai?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Ma Fang Ling merasa seperti ditampar wajahnya oleh seseorang. Pipinya yang pucat mendadak berubah menjadi merah. Sepertinya dia baru saja ditampar oleh Nyonya Ketiga Shen, namun sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati kamar dari koridor.

Langkah kakinya perlahan dan berat, kemudian berhenti tepat di depan kamar dan diikuti suara,” Nyonya Ketiga, apakah engkau terjaga?”

Itu suara Ma Kong Qun.

Ma Fang Ling dan Nyonya Ketiga Shen, keduanya terperanjat. Nyonya Ketiga Shen membuat tanda untuk bersembunyi ke bawah ranjang. Ma Fan Ling mengatupkan kedua bibirnya dan lansung masuk ke bawah tempat tidur.

Dia juga merasa tidak nyaman seperti halnya Nyonya Ketiga Shen karea dia juga memiliki rahasi yang tidak bisa dibicarakan.

Untungnya Ma Kong Qun tidak memaksa masuk, dia hanya berdiri di depan pintu dan bertanya,” Apakah engkau sudah bangun?”

“Mmm.”

“Apakah engkau tidur nyenyak?”

“Tidak begitu.”

“Mari ke atas bersamaku?”

“Baiklah.”

Mereka telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya bersama-sama, kata-kata yang mereka ucapkan terasa intim.

Ma Fang Ling merasa sedikit bingung. Dia baru saja mendengar ayahnya membawa seorang wanita, lalu kenapa dia meminta Bibi Ketiga ke atas bersamanya?

Dan siapakah wanita itu?

Ma Kong Qun menempat tiga buah kamar di lantai atas. Yang pertama adalah ruangan belajarnya, ruangan kedua adalah kamar tidurnya, dan yang ketiga adalah tempat tinggal utamanya. Bahkan Nyonya Ketiga Shen pun belum pernah memasuki ruangan tersebut sebelumnya.

Sikap tubuhnya seratus persen tegak bahkan saat berjalan naik ke atas. Bila seseorang melihatnya dari belakang, pasti dia tidak dapat membayangkan bahwa dia adalah orang yang sudah tua.

Nyonya Ketiga Shen mengikutinya dari belakang tak bersuara, dia tidak pernah menolaknya sebelumnya. Wanita itu tidak pernah terlalu mesra terhadapnya, juga tidak pernah terlalu dingin. Saat dibutuhkan, dia pasti dapat memuaskan seluruh hasrat laki-laki itu. Dia betul-betul tipe wanita yang dibutuhkan oleh Ma Kong Qun. Laki-laki seumurnya tidak membutuhkan wanita yang terlalu bergairah.

Pintu ruangan pertama tertutup, Ma Kong Qun berhenti sebelum mencapai pintu tersebut. Tiba-tiba dia berbalik dan bertanya,” Tahukah kau kenapa aku memintamu menemaniku ke atas sini?”

Nyonya Ketiga Shen menundukan kepalanya dan menjawab dengan lembut,” Tidak perduli apapun yang engkau minta dariku.”

“Bagaimana bila aku ingin membunuhmu?” Ma Kong Qun berkata.

Nada suaranya sangat serius, tidak tersirat sedikitpun lelucon. Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba merasakan sensasi dingin bergerak dari kakinya, saat itu dia menyadari bahwa dirinya bertelanjang kaki.

Ma Kong Qun tiba-tiba tersenyum dan berkata,” Tentu saja aku tidak akan pernah ingin mencelakaimu. Ada seseorang di dalam ruangan yang ingin menemuimu.”

“Seseorang menunggu untuk bertemu denganku? Siapakah dia?” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

Senyum diwajah Ma Kong Qun mendadak menjadi ganjil,” Engkau tidak akan pernah dapat menebaknya!”

Dia berbalik dan mendorong untuk membuka pintu. Nyonya Ketiga Shen sesaat tidak memiliki keberanian untuk memasuki ruangan tersebut.

________________________________________

Matahari pagi akhirnya muncul.

Fu Hong Xue perlahan-lahan menghirup bubur panasnya.

Ye Kai mempunyai perasaan yang kuat bahwa Cui Nong tidak akan kembali. Dia mulai memakai sepatunya.

Suasana disekitar paviliun kecil tersebut masih sunyi dan tenang.

Gong Sun Duan baru saja memasukan kepalanya ke dalam tempat minum kuda dan membasahi kepalanya dengan air dingin layaknya seekor kuda. Namun seperti, bahkan semua air dari semua sungai di dunia ini tidak bisa menyadarkannya.

Aroma darah dan daging yang anyir masih tercium terhembus oleh angin pagi.

Hua Men Tian dan Yun Zai Tian berdua telah kembali kekamarnya masing-masing dan bersiap-siap untuk pergi ke ruangan utama untuk makan pagi. Keduanya selalu terlihat di ruang utama setiap pagi untuk sarapan, itu adalah salah satu kebiasaan di Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

________________________________________

Nyonya Ketiga Shen akhirnya berhasil mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk melangkah masuk melewati pintu tersebut.

Siapakah di dalam yang menunggunya?

Kedua tangan Cui Nong memeluk kedua lututnya saat dia duduk sambil menekukkan tubuhnya di salah satu kursi besar di ruangan tersebut. Dia terlihat lelah dan ketakutan.

Saat Nyonya Ketiga Shen bertemu pandang dengannya, keduanya nampak saling terkejut.

Ma Kong Qun perlahan-lahan memperhatikan dan mempelajari ekspresi wajah mereka berdua, dengan dingin seraya berkata,” Aku lihat kalian berdua telah saling mengenal.”

Nyonya Ketiga Shen menganggukan kepalanya.

“Aku membawanya kesini untuk tinggal bersama kita sehingga engkau tidak perlu lagi pergi tengah malam menemuinya.”

Reaksi Nyonya Ketiga Shen sangat ganjil. Dia terlihat terbenam dalam pikirannya dan kelihatannya tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ma Kong Qun.

Setelah beberapa saat, dia akhirnya menolehkan kepalanya ke Ma Kong Qun dan berkata,” Aku pergi dari rumah tadi malam.”

“Aku tahu.” Ma Kong Qun berkata.

“Orang yang aku temui bukanlah Cui Nong.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Aku tahu.” Ma Kong Qun berkata.

Laki-laki tersebut telah duduk saat, ekspresi wajahnya masih terlihat tenang. Tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan apa yang dia pikirikan.

Nyonya Ketiga Shen menatapnya dan perlahan-lahan berkata,” Orang yang aku temui adalah Fu Hong Xue!”

Ma Kong Qun mendengarnya dengan jelas, namun kelihatannya kedua matanya tidak memperlihatkan sedikitpun reaksi. Bukan hanya perasaan kaget dan marah yang tidak terlihat diwajahnya, dia malah terlihat simpati dan penuh pengertian.

Nyonya Ketiga Shen perlahan-lahan melanjutkan,” Aku pergi menemuinya karena aku memiliki perasaan dia adalah pembunuhnya!”

“Bukan dia.” Ma Kong Qun menjawab dengan santai.

“Aku juga sekarang tahu, namun saat itu aku harus mencari tahu sendiri, atau aku merasa ada yang kurang.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Aku mengerti.” Ma Kong Qun berkata.

“Aku dapat melihatnya dari kelakuannya. Wanita memiliki perasaan yang tajam, bila dia membencimu, maka kelakuannya terhadapku pasti akan berbeda.” Nyonya Ketiga Shen menjelaskan.

“Begitu.” Ma Kong Qun berkata.

“Namun saat aku bersamanya, sepanjang waktu dia bertindak sopan terhadapku. Meskipun dia sedikit terkejut saat aku menemuinya pertama kali, dia tidak berusaha untuk menahanku saat aku hendak pergi.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Dia benar-benar seorang yang jantan.” Ma Kong Qun menjawab.

“Sayangnya hal itu tidak berlaku pada salah satu temanmu.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Oh?” Ma Kong Qun berseru.

Nyonya Ketiga Shen menggertakan giginya, matanya memerah. Dia membuka kerah bajunya dan pakaiannya jatuh ke bawah. Meskipun usianya telah mencapai tiga puluh tahunan, namun bentuk tubuhnya benar-benar masih indah, layaknya gadis muda. Buah dadanya masih keras, perutnya masih rata dan langsung, dan kedua kakinya ramping dan panjang. Namun sayangnya kulitnya yang halus seputih salju dipenuhi memar.

Cui Nong bahkan tidak tahan untuk berteriak perlahan. Nyonya Ketiga Shen mulai meneteskan air matanya dan bertanya dengan lembut.” Apakah kau tahu siapa yang melakukan hal itu padaku?”

Ma Kong Qun menatap memar-memar ditubuhnya, perasaan marah terlihat dimatanya. Setelah beberapa saat dia menjawab,” Aku tidak tahu.”

Tentu saja Nyonya Ketiga Shen tahu maksudnya. Dia perlahan-lahan menarik bajunya ke atas dan mengenakannya kembali seraya berkata,” Baiklah bila engkau tidak ingin tahu, aku hanya ingin kau mengerti bahwa aku mau melakukan apapun untukmu.”

Sorot mata marah dan benci di mata Ma Kong Qun berubah menjadi rasa sakit. Setelah beberapa saat dia menarik napas dan berkata,” Sudah beberapa tahun, engkau melakukan banyak hal untukku. Engkau mengalami berbagai penderitaan untuk ku.”

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba jatuh ke lantai dan terisan dilututnya. Ma Kong Qun perlahan-lahan mengangkatnya dan mengeluskan tangannya ke rambutnya, sementara kedua matanya tetap melekat ke arah jendela.

Angin pagi yang sepoi-sepoi berhembus ke seluruh padang rumput.

“Tempat ini sebetulnya bukan apa-apa selain hutan belantara. Aku tidak pernah berpikir dapat membuat tempat ini menjadi besar dan indah seperti saat ini tanpa bantuanmu. Tidak ada seorangpun yang tahu betapa pentingnya engkau bagiku.” Ma Kong Qun berkata.

“Selama engkau memahamiku aku sudah puas.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Tentu saja aku memahami. Engkau membantuku membangun kerajaan ini karena engkau ingin aku lebih menderita lagi saat aku kehilangan semua ini.”Ma Kong Qun berkata.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berseru,” Apa … apa … yang engkau bicarakan?”

Ma Kong Qun tidak melihatnya lagi saat dia menjawab,” Aku membicarakan mengenai rahasia kecilmu.”

“Rahasia … rahasia apa?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Perasaan sakit di sorot mata Ma Kong Qun terlihat makin dalam seraya dia melanjutkan,” Aku telah mengetahui siapa engkau sebenarnya sejak pertama kali engkau tiba di sini!”

Tubuh Nyonya Ketiga Shen mulai bergetar, sepertinya seseorang sedang mencekik dirinya. Napasnya bahkan berhenti saat perlahan-lahan berdiri dan terhuyung ke belakang. Matanya dipenuhi dengan rasa takut.

“Nama margamu bukanlah Shen, melainkan Hua.” Ma Kong Qun berkata.

Kata-kata tersebut seperti palu yang memukul langsung kekepalanya. Dia terjatuh ke lantai.

“Kekasih gelap Bai Tian Yu, Hua Bai Feng, adalah kakak perempuanmu.” Ma Kong Qun berkata.

“Bagaimana … bagaimana kau mengetahui hal itu.” Dia berkata.

“Mungkin engkau tidak mempercayaikau, namun aku telah melihatmu sebelum kau datang kesini. Engkau bersama-sama dengan kakak perempuanmu dan Bai Tian Yu. Saat itu engkau masih kecil, dan kakak perempuanmu sedang mengandung anak Bai Tian Yu.” Ma Kong Qun berkata.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba berhenti bergetar dan terdiam kaku.

“Setelah kematian Bai Tian Yu, aku sebenarnya berusaha mencari kalian berdua. Kakak perempuanmu tidak dapat ditemukan. Namun siapa sangka engkau malah muncul di sini?” Ma Kong Qun berkata.

Nyonya Ketiga Shen terjatuh duduk ke kursi dibelakangya dan menatapnya. Paling tidak selama tujuh tahun terakhir dia telah tidur bersama laki-laki ini paling sedikit sepuluh kali sebulan, menahan rasa jijiknya, tangannya yang tidak berjari mengelus tubuhnya, menahan bau keringatnya yang menetes ke seluruh tubuhnya. Sering kali dia merasa dia tidur di samping seekor kuda, seekor kuda tua.

Dia menahan semua itu selama tujuh tahun terakhir karena satu tujuan yang dalam dihatinya bahwa dia percaya suatu hari laki-laki tersebut akhirnya akan membayarnya dengan harga yang sangat besar. Hanya saja, sekarang dia menyadari bahwa dia telah salah, sangat sangat salah. Tiba-tiba dia merasa seperti seekor cacing di dalam tangan seorang anak kecil, terus menerus dipermainkan.

“Aku telah mengetahuimu sejak lama, tapi aku tidak pernah mau mengatakannya. Tahukah kau kenapa?” Ma Kong Qun bertanya.

Nyonya Ketiga Shen menggelengkan kepalanya.

“Karena aku sangat menyukai dirimu, dan aku sungguh-sungguh membutuhkan wanita seperti dirimu.” Ma Kong Qun menjawab.

Nyonya Ketiga Shen tersenyum dengan sinis dan menambahkan,” Tidak hanya itu malah aku telah mengantarkan tubuhku ke depan pintu dan gratis.”

Dia betul-betul tengah tersenyum, namun senyum tersebut mungkin lebih menyakitkan daripada menangis saat ini. Tiba-tiba dia melompat berdiri.

“Aku juga telah mengetahui hubunganmu dengan Cui Nong sejak lama.” Ma Kong Qun berkata.

“Oh?” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Cui Nong menyebarkan seluruh informasi mengenai Gedung Sepuluh Ribu Kuda dariku, dan dia mengatakan segalanya kepadaku apa yang dia dengar dari luar.” Ma Kong Qun tertawa sambil melanjutkan,” Engkau cukup pandai menggunakan seseorang sepertinya membicarakan berbagai informasi.”

“Sayangnya engkau telah mengetahuinya sejak lama.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Aku tidak pernah ingin untuk menghentikan kalian berdua karena aku tidak pernah memperoleh informasi yang penting juga.” Ma Kong Qun berkata.

“Atau mungkin karena engkau masih ingin mengethaui semua informasi yang aku katakan kepadanya.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Ma Kong Qun menarik napas panjang dan berkata,” Sayangnya kakak perempuanmu jauh lebih pandai darimu. Hingga bertahun-tahun ini aku tidak pernah berhasil menemukan jejaknya sedikitpun.”

“Itulah sebabnya dia masih hidup.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Bagaimana dengan anak laki-lakinya?” Ma Kong Qun bertanya.

“Dia juga masih hidup.” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Apakah dia sudah kembali ke kota perbatasan?” Ma Kong Qun bertanya.

“Bagaimana menurutmu?” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Apakah dia Ye Kai? Atau Fu Hong Xue?” Ma Kong Qun berkata.

“Engkau tidak dapat menebaknya?” Nyonya Ketiga Shen membalas.
Ma Kong Qun tersenyum dan berkata,” Meskipun engkau tidak mengatakannya kepadaku, aku pasti punya cara untuk mengetahuinya.”

“Lalu kenapa musti repot-repot menanyaiku?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Ma Kong Qun menarik napas panjang, ” Tahukah kau, bahkan hingga hari ini, aku sebenarnya tidak ingin mengungkapkan rahasiamu ini. Karena aku betul-betul menikmati hubungan yang kita miliki.”

“Sayangnya engkau tidak memiliki pilihan lain sekarang.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Karena rahasia ini tidak bisa disembunyikan lagi lebih lama.” Ma Kong Qun berkata.

“Karena engkau pun sudah membiarkan berlarut-larut cukup lama, apa bedanya kalau engkau masih mau menundanya beberapa hari lagi?” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Aku memiliki seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan dan beratus-ratus pengikut. Aku tidak ingin lagi melihat mereka mati di depan mataku.”

“Berapa banyak lagi orang yang telah mati tadi malam?”

“Cukup banyak.” Dia menjawab dengan serius.

“Menurutmu siapakah pembunuhnya? Ye Kai? Fu Hong Xue?”

Kebencian mulai terpancar dari sorot mata Ma Kong Qun kemudian dia berkata dengan tegas,” Aku tidak peduli siapa pembunuhnya, tapi aku jamin, dia tidak akan pernah dapat melarikan diri!”

“Surga seperti jala yang besar, tidak ada apapun yang dapat lolos darinya. Pembunuh pasti akan dihukum … betulkan?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Tepat sekali.” Ma Kong Qun menjawab.

“Lalu bagaimana denganmu?”

Kemarahan di mata Ma Kong Qun berubah menjadi ketakutan, ketakutan yang sangat dalam hingga menyelusup ke dalam tulangnya. Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan ke arah jendela, sepertinya dia tidak ingin Nyonya Ketiga Shen melihat ekspresi wajahnya. Sesaat kemudian terdengar suara gong dipukul dari luar.

Ma Kong Qun menarik napas dan berkata,” Seperti hari-hari sebelumnya yang telah berlalu. Ini waktunya untuk sarapan pagi lagi.”

“Engkau masih punya napsu makan hari ini?” Nyonyta Ketiga Shen berkata.

“Ini adalah kebiasaan yang khas diriku, yang tidak akan dapat diubah!” Tanpa melihat sekejap pun ke wanita itu, dia berlalu menuju pintu.

“Tunggu sebentar.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

Ma Kong Qun berhenti.

“Engkau akan pergi begitu saja?” Wanita tersebut bertanya.

“Kenapa tidak?” Ma Kong Qun menjawab.

“Apa … apa yang hendak engkau lakukan terhadapku?”

“Tidak ada.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Tidak ada yang perlu harus dimengerti.”

“Engkau telah membeberkan rahasiaku, apakah engkau tidak ingin membunuhku?”

“Membeberkan rahasia adalah satu hal, membunuhmu adalah hal lain!”

“Tapi …”

“Aku tahu bahwa kau tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini.”

“Engkau membiarkan aku pergi?”

Ma Kong Qun tersenyum, senyumnya yang betul-betul pahit,” Kenapa aku tidak membiarkanmu pergi? Apakah engkau pikir aku tega untuk membunuhmu?”

Nyonya Ketiga Shen menatapnya dengan heran. Dia menyadari bahwa dia tidak pernah mengerti laki-laki ini. Mungkin dia tidak akan pernah mengerti sama sekali. Dia tidak tahan untuk bertanya,” Karena engkau membiarkanku pergi begitu saja, kenapa engkau membeberkan rahasiaku?”

Ma Kong Qun tersenyum dan berkata,” Karena aku tidak ingin engkau menganggap aku tolol.”

“Atau karena engkau tidak ingin lagi aku disini.” Nyonya Ketiga Shen menambahkan.

“Mungkin.”

Dia tidak berkata-kata lagi dan berjalan keluar. Suara langkahnya yang dalam dan berat bergema saat dia menuruni tangga ke bawah. Sepertinya perasaannya sedang kacau.

“Kenapa dia tidak membunuhnya? Apakah dia benar-benar sayang padanya?”

Nyonya Ketiga Shen mengepakan jari-jarinya dan untuk tidak berdiam diri lagi lebih lama. Berpikir mengenai hal itu hanya akan menambah rasa sakit saja. Laki-laki ini adalah orang yang telah membohonginya, yang telah mempermainkannya. Namun dia tidak punya pilihan lain untuk membunuhnya, sebaliknya dia malah membiarkannya pergi begitu saja.

Mungkin dia tidak pernah ingin membohonginya, namun karena dirinya sendiri yang ingin dibohongi.

Tidak peduli apapun yang laki-laki itu pernah lakukan pada dirinya, namun dia benar-benar tidak berhutang apapun pada dirinya.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba merasakan sesuatu yang tajam menusuk hatinya. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan, rasa sakit yang bahkan tidak pernah dia bayangkan akan dia rasakan.

Namun kita semua hanyalah manusia biasa. Emosi manusia selalu dipenuhi oleh kontradiksi dan rasa sakit.

Cui Nong bangkit berdiri, berjalan ke depan ke arahnya dan berkata dengan lembut,” Karena dia telah membiarkan kita pergi, kenapa kita tidak pergi saja ?”

Nyonya Ketiga Shen menarik napas panjang dan menjawab,” Tentu saja kita pergi, hanya saja … aku tidak pernah datang kesini lagi.”

ooOOOooo

Siapakah pelaku pembunuhan yang terjadi di Gedung Sepuluh Ribu Kuda? Bagaimana Ma Kong Qun dapat mengetahuinya?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: