Kumpulan Cerita Silat

21/01/2008

Duke of Mount Deer (18)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:58 am

Duke of Mount Deer (18)
Oleh Jin Yong

Siau Po sedang mendengarkan dengan asyik, ketika ada seseorang yang berdiri di sisinya sambi! berkata:

“Numpang duduk!”

Siau Po menolehkan kepalanya dan dia melihat seseorang sudah duduk di sebelahnya. Bocah itu jadi kurang senang, sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Orang itu tidak menghiraukan sikap kurang senang yang diperlihatkan Siau Po. Dia malah berkata dengan suara perlahan:

“Aku yang rendah mempunyai koyo yang mujarab dan ingin kujual kepada kongkong. Coba kongkong lihat dulu!”

Siau Po memperhatikan. Dia melihat orang itu meletakkan koyo di atas meja. Yang aneh, koyo itu warnanya separuh merah dan separuhnya lagi hijau. Siau Po langsung bertanya:

“Obat apakah itu?”

“Ini obat untuk menghilangkan racun dan menyembuhkan mata yang buta sehingga melek kembali!” sahut orang itu. Dengan suara yang lirih dia menambahkan. “Ada namanya, Ki-ceng Hok-beng!”

‘Ki-ceng hok-beng’, adalah kata-kata sandi perkumpulan Tian-te hwe. Arti sebenarnya memang memusnahkan racun dan membuat mata buta melek kembali. Tetapi bagi perkumpulan Tian-te hwe sendiri artinya lain lagi, yaitu mengusir Ceng dan membangun kembali Beng.

Siau Po memperhatikan orang itu lekat-lekat.

Usianya sekitar tiga puluh tahun, tampangnya gagah. Dengan demikian orang itu berbeda dengan apa yang pernah dilukiskan oleh gurunya. Menurut gurunya Ci lotau orangnya sudah tua. Tapi dia bertanya juga.

“Berapa harga obatmu ini?”

“Tiga tail uang perak dan tiga tail uang emas.”

“Apakah kau mau menjualnya dengan harga lima tail uang perak dan lima tail uang emas?”

“Apakah tawaran itu tidak terlalu tinggi?”

“Tidak tinggi, tidak tinggi! Asal obatnya benar-benar manjur, dapat menghilangkan segala macam racun dan dapat pula membuat mata yang buta melek kembali. Bahkan’ jika benar-benar demikian manjur, aku bersedia menjadi kerbau atau kudamu! Sama sekali tidak mahal!” sahut Siau Po.

Orang itu mendorong obatnya ke hadapan Siau Po sambil berkata lagi dengan suara lirih:

“Kongkong … aku ingin bicara denganmu.” Tanpa menunggu sahutan dari Siau Po, dia langsung ngeloyor pergi.

Siau Po segera meletakkan uang dua ratus bun di atas meja. Setelah itu dia bangun dan berjalan pergi. Orang itu berdiri di depan kedai. Melihat Siau Po melangkah keluar, dia segera menuju ke arah timur. Kemudian dia menikung ke sebuah gang keci!. Di tengah jalan dia menghentikan langkah kakinya.

“Bumi bergetar, tanjakan tinggi, parit di pegunungan indah,” katanya.

Mendengar ucapannya, Siau Po langsung menyahut:

“Pintu menghadap laut besar. Tiga sungai mengalir menjadi satu laksaan tahun lamanya.” Tanpa menanti jawaban orang itu, dia bertanya, “Tuan, ini paseban merah, tuan dari ruang yang mana?”

“Aku dari Ruang Bunga Merah.”

“Berapa hio yang disulut dalam ruangan itu?” tanya Siau Po kembali.

“Tiga batang!” sahut orang itu.

Siau Po menganggukkan kepalanya. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
Kedudukanmu lebih rendah dua tingkat dari aku.’

Terdengar orang itu bertanya lagi:

“Kakak, apakah kakak ini Wi hiocu yang menyulut lima batang hio dari Ruang Kayu Hijau?”

“Benar!” sahut Siau Po. Diam-diam dia berpikir kembali. ‘Usiamu lebih jauh tua, tapi kau memanggilku kakak. Enak sekali didengarnya! Mengapa tidak sekalian saja memanggil kakek atau paman!’

Aku yang rendah she Kho bernama Gan-tiau dari Hong-hua tong. Sudah lama aku mendengar nama besar Wi hiocu, namun sampai sekarang baru sempat bertemu muka. Ini benar-benar keberuntungan bagiku!” kata orang itu.

Tentu saja Siau Po senang sekali, tapi dia memang pandai menutupinya. Kakak Kho hanya memuji saja! Kita tah orang-orang sendiri. J angan kau sungkan!”

“Wi hiocu, di dalam tong kakak ada seorang saudara Ci yang biasa menjual koyo di Thianko. Hari ini dia telah diserang oleh seseorang sehingga terluka parah. Karena itulah aku sengaja datang untuk melaporkan kepada kakak!” kata orang she Kho itu.

Siau Po terkejut setengah mati.

“Aku tahu saudara Ci itu,” katanya. “Selama ini aku selalu sibuk sehingga belum sempat aku menemuinya. Bagaimana lukanya dan siapa yang menyerangnya?”

“Kita tidak bisa berbicara di sini.” kata orang she Kho itu. “Silahkan hiocu ikut denganku!”

Siau Po menganggukkan kepalanya. Dia langsung mengikuti di belakang orang itu. Setelah melewati tujuh delapan gang, Gan Tiau sampai di sebuah lorong kecil. Mereka masuk ke dalam sebuah toko obat yang atasnya terdapat tiga huruf besar namun tidak dimengerti oleh Siau Po.

Di dalam Kho Gan-tiau berbisik kepada seseorang yang tubuhnya gemuk. Terdengar orang itu menyahut: ‘Ya, ya!’ beberapa kali. Setelah itu dia mengangguk kepada para tamunya dan berkata:

“Tuan sekalian ingin membeli obat pilihan, silahkan masuk ke dalam!” Dia pun mengantarkan tamu-tamunya ke dalam setelah merapatkan pintu.

Di dalam ruangan, orang itu membukapapan lantai yang kemudian terlihatlah sebuah celah gelap. Setelah itu dia turun ke bawah lewat undakan batu yang terdapat di dalamnya.
Ruangan bawah tanah itu demikian gelap sehingga Siau Po merasa curiga. Diam-diam dia berkata dalam hatinya.

‘Benarkah mereka ini orang-orang Tian-te Hwe? Celaka kalau tempat ini rumah jagal….’ Meskipun demikian, dia tetap mengikuti di belakang Kho Gan-tiau.

Untunglah setelah berjalan sepuluh langkah, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu. Si pengantar membuka pintu tersebut kemudian mengajak mereka masuk ke dalamnya. Ruangan itu mempunyai penerangan sehingga semuanya dapat terlihat jelas. Ukurannya kecil, jumlah orang di dalamnya ada lima. Sedangkan orang keenam sedang terbaring di atas sebuah-balai-balai yang rendah. Dengan bertambahnya tiga orang, ruangan itu menjadi sesak.

“Saudara-saudara, inilah Wi hiocu dari Cengtong!” kata Kho Gan-tiau memperkenalkan.
Kelima orang itu segera bangkit dan memberi hormat serta menyambut kedatangan Siau Po dengan gembira. Siau Po merangkapkan sepasang tangannya dan membalas dengan menjura.

Gan Tiau menunjuk kepada orang yang terbag di atas balai-balai.

“Itu kakak Ci, karena sedang terluka dia tidak dapat memberi hormat kepada hiocu!”

“Tidak apa, tidak apa,” sahut Siau Po yang segera menghampiri orang itu.

Wajah si Ci pucat sekali. Seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat. Nafasnya perlahan sekali. Ada noda darah di permukaan kumisnya yang sudah memutih.

“Siapakah yang melukai kakak Ci ini?” tanya Siau Po. “Apakah begundal Tatcu?”

“Bukan,” sahut Gan Tiau sambil menggelengkan kepalanya. “Yang melukainya adalah orangnya Bhok ong-ya dari Inlam.”

Hati Siau Po benar-benar tercekat mendengarnya. Dia benar-benar tidak habis mengerti dibuatnya.

“Orangnya Bhok ong-ya dari Inlam? Bukankah keluarga itu juga para pecinta negara seperti halnya kita?” tanyanya kemudian.

Gan Tiau menggelengkan kepalanya.

“Menurut kakak Ci, ketika dengan susah payah dia berhasil kembali ke rumah obat Hwe-cun tong ini, dengan terputus-putus dia sempat mengatakan bahwa orang yang melukainya adalah dua anak muda she Pek dari Bhok ong-ya.”

“She Pek?” tanya Siau Po menegaskan. “Bukankah mereka adalah putra-putra salah satu dari keempat Keciang keluarga Bhok?”

“Bisa jadi.” sahut Gan Tiau. “Menurut kakak Ci, pertikaian mula-mula terjadi karena kedua pihak berdebat soal Tong dan Kui. Saking sengitnya, mereka bercekcok, akhirnya mereka jadi menggunakan kekerasan. Otomatis dengan seorang diri, kakak Ci tidak sanggup melawan dua pengeroyoknya itu.”

Dua orang mengeroyok seorang lawan bukanlah perbuatan yang gagah!” kata Siau Po.
“Tapi, apakah Tong dan Kui itu?

Kho Gan-tiau segera menjelaskan:

“Bhok ong-ya termasuk keluarga yang mendukung Kui ong. Sedangkan kami dari pihak Tian-te Hwe dahulunya merupakan bawahan Tong ong. Kakak Ci bertempur justru karena ingin membela pangeran junjungannya.”

Siau Po masih belum mengerti juga.

“Apa yang dimaksud dengan orang-orangnya Kui ong dan Tong ong?”

Kho Gan Tiau menjelaskan lebih lanjut.

“Kui ong bukanlah raja yang sah. Tong ong kami barulah raja yang sesungguhnya!”

Di antara kelima orang yang sejak semula sudah ada di dalam ruangan itu, terdapat seorang tojin berusia kurang lebih lima puluh tahun. Dia merasa keterangan yang diberikan Kho Gan-tiau kurang jelas, karena itu dia segera menukas:

Wi hiocu, ketika dulu Lie Cong menyerbu ke kota aja Peking dan memaksakan kematian kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, Go Sam-kui juga memimpin angkatan perang kerajaan Ceng menyerbu ke Tionggoan. Dalam hal ini dia berhasil, sehingga seluruh Tionggoan kena dirampas lalu diduduki tentara musuh. Pada saat itulah, para menteri yang setia dan para orang-orang gagah mendukung anak cucunya Sri Baginda Beng thaycou menjadi raja.

Pertama-tama Hok ong dari Lamkhia yang menjadi raja. Ketika Hok ong berhasil dibunuh Oleh bangsa Tatcu, di propinsi Hokkian, orang-orang mendukung Tong ong. Tong ong didukung oleh keluarga Kok-sing ya, dengan demikian dialah raja yang resmi. Sementara itu, di dua propinsi Kwisay dan Inlam, ada kelompok lainnya yang mendukung Kui ong serta ada lagi kelompok ketiga di Ciatkang yang mendukung Lau ong. Merekalah raja-raja yang palsu!”

Mendengar keterangan itu Siau Po langsung memberikan komentar.

“Langit tidak mungkin dihuni dua matahari dan rakyat pun tidak bisa di bawah pimpinan dua orang raja. Kalau sudah ada Tong ong, maka Kui ong dan Lau ong tidak boleh dipilih lagi.”

“Memang!” kata Gan Tiau. “Apa yang dikatakan hiocu tepat sekali!”

“Tapi pihak Kwisay dan Ciatkang mempunyai pikiran yang berbeda. Mereka tamak akan kedudukan tinggi, mereka berkeras bahwa pangeran-pangeran yang didukung oleh pihak masing-masinglah raja yang sah!” Tojin itu menghentikan kata-katanya sejenak, setelah mengatur pernafasan, baru melanjutkan kembali:

“Apa yang terjadi kemudian? Baik Tong ong, Kui ng maupun Lau ong mengalami kegagalan. Tapi sampai sekarang semua orang masih tidak mau berhenti berusaha. Mereka sibuk mencari turunan dari ketiga raja tersebut untuk dipilih kembali. Bangsa Han tetap ingin membangun kerajaan Beng, itu tentu saja kerajaan Ceng harus diusir dulu. Ketiga Plhak tetap mendukung junjungan masing-masing. Pihak yang pro kepada Kui ong dan Lau Ong mengatakan Tian te hwe sebagai pendukung Tong ong. Hal ini memang tidak salah, karena kitalah sah. Pihak yang mendukung Kui ong dan Lau ong hanya ingin merebut kedudukan saja!”

“Oh! Sekarang aku mengerti…,” kata Siau Po menganggukkan kepalanya. “Jadi pihak Bhok onghu merupakan kelompok yang mendukung Kui ong, bukan?”

“Benar!” sahut tojin itu. “Selama belasan tahun, tiga kelompok ini terus berebutan satu dengan lainnya.

Siau Po teringat ketika mengadakan perjalanan dengan Mau Sip-pat, di sebelah utara Kangoau mereka bertemu dengan kedua kakak beradik she Pek. Disebabkan sedikit ucapannya, Siau Po sampai kena dicambuki Mau Sip-pat habis-habisan. Sejak itu kesannya kepada kedua saudara Pek surang baik.

“Kalau Tong ong adalah raja yang sah. Kedua kelompok lainnya tidak patut memperebutkannya lagi. Bukankah menurut kata orang Bhok ong-ya itu berhati mulia? Aku khawatir, kalau suatu hari beliau menutup mata, mungkin orang-orangnya akan main gila….”

“Apa yang dikatakan Wi hiocu memang benar.” kata Gan Tiau dan yang lainnya serentak.

“Sebenarnya para orang-orang gagah dalam dunia kangouw selalu menghormati Bhok ong-ya.” kata tojin itu melanjutkan keterangannya. “Buktinya kalau ada yang melihat bendera putih dengan sulaman biru, orang selalu mengalah. Mungkin hal itulah yang membuat orang-orang Bhok ong-ya menjadi besar kepala, sehingga sikap mereka menjadi garang. Itulah sebabnya kesabaran kakak Ci jadi habis. Sejak dulu sampai sekarang, kakak Ci memang sangat menghormati Tong ong, tentu dia tidak senang pangeran pujaannya dicela orang lain.

Perasaan kakak Ci sangat halus. Mendengar orang menyebut nama almarhum Sri Baginda saja, air matanya langsung menetes.”

“Tadi kakak Ci sempat tersadar sebentar dan mengharap kita semua akan membalaskan sakit hatinya.” tukas Kho Gan-tiau.

“Sekarang, orang yang berwenang di wilayah ini hanya Wi hiocu seorang. Karena itu pula, menurut peraturan, kami harus melaporkan hal ini kepadamu. Yang menjadi masalah, justru yang kita hadapi adalah pihak Bhok onghu yang merupakan pecinta negara seperti halnya kita. Coba kalau orang lain yang menjadi lawan rusannya tentu tidak sepelik ini. Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam

Kata kakak Ci, sebetulnya sudah sejak bebeberapa bulan yang lalu dia mengharapkan kedatangan Hiocu. Dia melihat hiocu berbelanja atau mendengarkan cerita di kedai teh….”

Oh rupanya dia telah melihat aku….”

a,” kata Gan Tiau. “Menurut kakak Ci, apabila hiocu mempunyai keperluan, tentu akan menemuinya sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Cong tocu. Itulah sebabnya, meskipun dia melihat Wi hiocu, tidak berani sembarangan menyapa.

Siau PO menganggukkan kepalanya. Dia memperhatikan si Ci lekat-lekat, kemudian dia berpikir dalam hati. ’Kiranya si rase tua ini sudah mengenaliku dan telah menguntitku kemana-mana sehingga dia tahu apa saja yang kulakukan. Bagaimana kalau dia bertemu dengan suhu lalu mengoceh yang bukan-nukan ? Ah, lebih baik dia tidak dapat disembuhkan dan langsung mati. Dengan demikian bereslah semuanya!’

“Setelah kami berunding, akhirnya kami bersepakat untuk mengundang Wi hiocu kemari.” kata Gan Tiau kembali. “Kami berharap Wi hiocu dapat menyelesaikan urusan ini.”

Mendengar kata-kata tojin itu, kembali Siau Po berpikir:

‘Aku toh masih bocah cilik, memangnya apa yang bisa kulakukan?’ Biarpun begitu, Siau Po merasa bangga karena orang-orang menghormatinya.

Kemudian terdengar salah satu dari kelima orang yang mula-mula ada dalam ruangan berkata:

“Pihak kami sering mengalah, karena kami ‘menghormati Bhok ong-ya. Tapi kalau bitara tentang membela negara, Kok-sing ya kami telah membangun jasa yang banyak sekali.”

“Kalau kita mengalah lima bagian, mereka harus membalasnya sepuluh bagian,” kata seorang lainnya sengit.

“Tapi justru karena kita mengalah, mereka jadi besar kepala. Apakah kita harus berlaku sungkan terus menerus? Kalau urusan ini tidak dapat diselesaikan, apa yang akan terjadi kelak? Pasti kita akan digilas habis-habisan dan diinjak-injak sampai kita tidak sanggup mengangkat wajah lagi di kalangan masyarakat. Lalu, pada saat itu, bagaimana kita harus melewati hari-hari? Dengan mengurung diri?”

Ketiga orang lainnya juga ikut menyatakan perasaan kurang puasnya.

“Karena itu, apa yang harus kita lakukan, terserah hiocu saja!” kata tojin tadi kembali.

Pandangan mata orang-orang dalam ruangan tcrpusat pada diri hiocu yang masih muda itu.

Siau Po sendiri kebingungan. Kalau urusan lain, mungkin tidak sulit baginya untuk mengambil keputusannya. Tetapi urusan ini menyangkut perkumpulan Hian-te hwe, masalah besar, Siau Po sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apalagi dia tidak punyai pengalaman sama sekali. Dia berbalik mengawasi orang-orang itu dengan tajam.

Tiba-tiba orang yang barusan berbicara dengan lantang mengembangkan senyuman. Siau Po berpikir ’Tadi dia sengit sekali, kenapa sekarang dia tersenyum. Apa yang sedang tersirat dalam benaknya? Dia juga melihat sinar mata orang itu yang menyorotkan kelicikan.’

Siau Po bukanlah Siau Po kalau dia tidak bisa menebak apa yang sedang terpikir oleh orang itu.

’Ah! Rupanya mereka bermaksud menyeret aku ke dalam lumpur supaya kelak apabila ada apa-apa, aku yang bertanggung jawab. Seandainya ada teguran dari Cong tocu, mereka tentu akan lepas tangan. Mereka toh sudah melaporkan hal ini kepadaku dan meminta saran dariku? Tidak! Aku tidak akan membiarkan diriku terjerumus dalam siasat mereka!’ katanya dalam hati.

Bocah yang cerdik ini pura-pura menundukkan kepalanya untuk berpikir. Sesaat kemudian dia baru angkat wajahnya dan berkata:

“Saudara sekalian, walaupun aku menjadi hiocu, tapi jabatan itu kudapatkan secara kebetulan karena aku berhasil membunuh Go Pay. Sesungguhnya aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa dan tidak sanggup mengajukan pemikiran apapun. Lebih baik totiang saja yang mencari akal. Totiang sekalian pasti jauh lebih pintar dari aku.

” Tojin itu bernama Bian Ceng. Bibirnya tersenyum kemudian menoleh kepada seorang laki-laki berusia setengah baya yang kumisnya sudah beruban.

“Hoan samko, kau lebih cerdas daripadaku. Coba kau bilang, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

Orang yang dipanggil Hoan samko itu bernama Hoan Kong. Orangnya jujur lagi polos.

“Menurut pendapatku, tidak ada jalan lain kecuali langsung menemui orang she Pek itu. Dia harus minta maaf pada kakak Ci, barulah urusan ini bisa diselesaikan. Kalau tidak, tidak mempan menggunakan tata krama, kit a terpaksa menggunakan kekerasan!”

Beberapa orang yang lain juga sudah mempunyai pikiran yang sarna sejak tadi, tetapi mereka tidak berani mengutarakannya. Sekarang mendengar Hoan Kong mengatakannya, mereka segera menyatakan setuju.

“Hoan ko benar. Paling baik kalau tidak perlu menggunakan kekerasan. Tapi kalau tidak bisa dikompromikan baik-baik, kita harus menunjukkan bahwa pihak Tian-te hwe bukan orang-orang yang mudah dipermainkan. Kakak Ci sudah dihina seperti ini, kita tidak boleh berdiam diri!” kata mereka serentak.

Siau Po menoleh kepada Gan Tiau dan Hi Ceng.

“Nah, bagaimana pendapat kalian berdua?”

“Apalagi yang dapat kita lakukan?” sahut Gan Tiau.

Hian Ceng hanya tersenyum. Dia tidak memberikan komentar apa-apa.

Siau Po memperhatikan tojin itu lekat-lekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
‘Dia tidak mengatakan apa-apa, kelak apabila terjadi sesuatu, tentu mudah baginya untuk menyangkal. Baik! Aku justru akan mendesaknya terus!’

“Toatiang, apakah kau menganggap pendapat kakak Hoan masih kurang sempurna?” Sengaja dia mengajukan pertanyaan itu.

“Bukannya kurang sempurna. Tapi biar bagaimana kita harus berhati-hati. Untuk menempur pihak Bhok onghu, pertama kita tidak boleh kalah.
Kedua, kita tidak boleh membunuh orang. Kalau pihak sana sampai ada yang jatuh korban, urusannya bisa gawat!” sahut Hian Ceng.

“Lalu, bagaimana kalau kakak Ci tidak isa ‘sembuh lagi?” Hian Ceng menganggukkan kepalanya.

“Itulah yang aku khawatirkan!”

“Kalau begitu, pikirkanlah cara yang lebih bermanfaat. Kalian toh lebih berpengalaman dari aku.”

“Sebenarnya hiocu hebat sekali!” kat a Hian Ceng.

“Totianglah yang terlalu merendahkan diri sendiri!” Sahut Siau Po tidak mau kalah.

Keduanya pun tertawa lebar. Akhirnya mereka berunding. Kebanyakan menyetujui usul Hoan Kong tadi. Kemudian Siau Po diminta untuk memimpin mereka menuju Bhok onghu. Mereka ingin menegur serta meminta keadilan dari pihak pangeran itu. Mereka menyembunyikan senjata masing-masing. Siau Po memesan kepada mereka agar bersabar. Seandainya harus terjadi bentrokan, biarkan pihak sana yang memulainya terlebih dahulu.

“Namun kita membutuhkan beberapa orang lagi yang kepandaiannya tinggi.” kata Hian Ceng. Dia mengusulkan beberapa busu sebagai saksi agar jangan sampai dituduh Tian-te hwe yang sengaja memulai keributan.

“Kita juga harus berjaga-jaga agar kelak tidak disalahkan oleh Cong tocu!”

“Lebih baik mengundang orang-orang yang kepandaiannya benar-benar tinggi.” kata Siau Po yang terpaksa menurut pada suara orang banyak. Dia yakin orangg-orang Bhok onghu pasti lihay sekali. Buktinya Mau Sip-pat pun segan kepada mereka.

Hian Ceng tersenyum.

“Kita mengundang orang yang mempunyai nama dan sudah lanjut usia saja. Yang penting mereka menjadi saksi, bukan membantu kita berkelahi.”

“Yang sudah tua dan mempunyai nama, otomatis kepandaiannya tinggi juga. Jadi kita mendapatkan semuanya!” kata Gan Tiau.

“Lalu, siapa yang akan kita undang?” tanya Hoan Kong.

Mereka berunding kembali. Saksi itu harus mempunyai nama besar, tidak bersahabat dengan pembesar negeri dan harus mempunyai kesan yang baik terhadap Tian-te hwe.

“ja.. ngan un… dang.. o… rang… lu… ar,” tiba-tiba Ci lautau yang batu tersadar berkata dengan suara dipaksakan.

Apakah saudara Ci tidak setuju kalau kita mengundang orang luar?” tanya Hoan Kong.

“Ya… Wi hiocu… bekerja di istana… tidak boleh ada yang mengetahui… bahwa dia… kenal dengan kita. Bi… sa membahaya…kannya. Urusan…nya juga…ga..wat ….”

Baru sekarang mereka ingat bahwa Siau Po adalah mata-mata perkumpulan Tian-te hwe yang disengajakan berdiam di istana untuk mengintai gerak-gerik musuh. Rahasia ini sekali-sekali tidak boleh bocor. Cong tocu juga menugaskannya untuk urusan besar, bukan urusan remeh seperti ini.

Kalau begitu, sebaiknya hiocu tidak ikut dengan kami. Biar kami saja yang berbicara dengan orang she Pek itu, bagaimana hasilnya akan kita laporkan kepada hiocu kemudian.”

Justru sekarang Siau Po berkeras untuk ikut.

“Aku harus ikut. Untuk mencegah agar rahasia ini jangan bocor, kita tidak usah mengundang saksi….”

Siau Po memang agak jeri terhadap orangorang Bhok onghu, tapi dia penasaran ingin menyaksikan jalannya peristiwa itu.

“Kalau begitu, sebaiknya kita atur begini saja. Hiocu adalah atasan kami, hiocu mau ikut, kita tidak boleh melarang atau mencegahnya. Kami yang bawahan harus turut apa yang dikatakan sang ketua. Sekarang sebaiknya hiocu merubah dandanannya sedikit agar tidak ada orang yang mengenali…,” kata Tian Ceng.

Siau Po setuju dengan pikirannya.

“Bagus-bagus sekali!”

Ci lautau juga setuju, bahkan dia berkata:

“Kalau diatur dengan cara demikian, kita boleh mengundang saksi, cuma kalian harus waspada. Nah, hiocu hendak menyamar sebagai apa?” Pandangan setiap orang tertuju pada Siau Po.

Bocah itu pun berpikir: ‘Lebih baik menyamar sebagai pengemis atau anak hartawan?’ Dia memang kagum sekali melihat dandanan anak-anak orang kaya di Yangciu dan ingin sekali menirunya. Apalagi sekarang dia mempunyai banyak uang. Dengan cepat dia mengambil keputusan. Siau Po langsung mengeluarkan uang sejumlah seribu lima ratus tail, masing-masing terdiri dari uang kertas senilai lima ratusan. Kemudian dia menyodorkan uang itu sambil berkata:

“Siapa saudara yang bersedia menolong membelikanku seperangkat pakaian yang indah?”

Semua orang merasa heran karena jumlah uang itu terlalu banyak.

“Jangan khawatir soal uang. Aku punya banyak.” Kata Siau Po. “Yang penting pakaiannya, makin bagus makin baik. Beli juga beberapa perhiasan agar tidak ada orang yang menyangka aku ini thaykam.”

“hiocu benar!” kata Hian Ceng. “Saudara Kho, tolong kau pergi membelikan keperluan Wi hiocu!”

Gan Tiau menerima baik tugas ini.

Siau Po sendiri menambahkan lagi sepuluh tail.

“Tidak apa-apa kita merigeluarkan uang sekali-sekali!” Katanya. Tindakannya itu membuat orang di dalam ruangan itu jadi heran. Siau Po mengelurkan uang lagi sebanyak tiga ribu lima ratus tail kemudian disodorkan kepada Hian Ceng.

“Kita baru berkenalan, belum sempat aku membelikan tanda mata apa-apa. Harap totiang sudi menerima sedikit uang ini. Uang ini aku dapat dari bangsa Tatcu, boleh dibilang perak haram!”

Bocah ini ingin mengatakan ‘uang yang tidak halal’ tapi dia jaga ucapan itu. Karenanya dia mengatakan ‘perak haram.’ Thian-te Hwe melarang anggotanya menerima uang tidak halal, itulah sebabnya Gan Tiau dan yang lainnya termasuk orang miskin. Melihat jumlah uang yang begitu banyak, mereka sampai terkesima.

Memang Siau Po bermaksud mengatakan uang yang tidak halal, tapi kata-kata yang tercetus dari mulutnya justru perak haram. Dengan demikian berarti haram bagi bangsa Tatcu namun halal bagi mereka. Karena itu dengan senang hati mereka menerimanya.

“Kita harus berpencar untuk mengundang beberapa orang saksi,” kata Hian Ceng.

“Karena itu, hari ini tidak sempat lagi kita pergi ke tempat Bhok ong-ya. Besok saja kita tunggu kedatangan Wi hiocu. Jam berapa kira-kira hiocu bisa datang kemari?”

“Pagi aku banyak pekerjaan. Selewatnya tengah hari baru sempat.” sahut Siau Po.

Dengan demikian mereka pun bubar.

*

* *

Malam itu, Siau Po senang sekali sehingga dia lupa berlatih. Besok paginya dia menuju ke kamar
tulis raja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Siang harinya dia membawa uang cukup banyak, lalu
pergike toko emas dan membeli sebuah cincin bermata hijau dan sebuah kopiah yang dihiasi
sebutir batu kumala putih yang besar dengan dikelilingi empat tiara. Siau Po menghabiskan delapan ribu untuk semua itu. Dari toko mas tersebut, dia langsung menuju toko obat di mana Gan Tiau dan lainnnya sedang menunggu.

Di sana dia diberitahukan bahwa mereka telah mengundang empat orang saksi yang terdiri dari busu guru silat ternama. Seorangnya dihadiahkan seratus tail. Siau Po merasa jumlah itu terlalu kecil. Lima ratus tail perorangnya baru selesai.

Setelah itu giliran Gan Tiau menunjukkan belanjaanya. Dia membeli seperangkat pakaian yang lengkap dengan kaos kaki bahkan sepatunya. Juga baju luar yang panjang serta rompi dari kulit rusa. Bagian lehernya dihiasi bulu yang indah. Menurut Gan Tiau baju itu merupakan pesanan khusus yang dikerjakan sampai larut rnalam. Ongkosnya saja hampir lima tail perak.

“Tidaak mahal, tidak mahal!” kata Siau Po yang mendapatkan pakaian yang indah itu. Malah uangnya masih lebih banyak.

Setelah itu cepat-cepat dia berdandan. Kemudian mereka berangkat. Siau Po naik joli. Hal ini memang disengaja agar dalam perjalanan dia tidak oleh siapa pun.

Pertama-tama mereka menuju sebelah timur kota dimana terdapat sebuah ekspedisi bernama Buseng piaukiok untuk menjemput keempat orang saksi yang telah diundang. Mereka terdiri dari Ma Pok-jin guru silat Tan Twi, Yau Cun Tay-i, tabib yang mengobati Ci lautau, Lui It-siau ahli ilmu kebal dari Tiatpou san, dan Ong Bu-seng, kepala Piau su (piautau) dari Bu-seng piaukiok.

Empat ahli silat itu sudah mendengar bahwa hiocu dari Tian-te hwe itu seorang yang usianya masih muda sekali. Namun mereka tidak menyangka begitu mudanya sehingga masih seorang bocah eilik. Mana tampangnya juga mirip seorang anak hartawan atau putera orang berpangkat. Mereka semua mengagumi nama Tan kin-lam dan mereka percaya muridnya pasti bukan orang sembarangan.

Karena itu tidak berani mereka memandang sebelah mata.

Hanya sejenak mereka duduk untuk saling berkenalan. Kemudian mereka langsung berangkat menuju tempat orang she Pek di Yangciu. Selain Siau Po yang naik joli, Ma Pok-jin, Yau Cun juga demikian. Sedangkan Lui It-siau dan Ong Bu-seng menunggang kuda. Sisanya berjalan kaki.

Setibanya di depan rumah orang she Pek yang dindingnya berwarna merah, Kho Gan-tiau bermaksud mengetuk pintu. Namun saat itu juga dari dalam rumah berkumandang suara tangisan. Semua menjadi heran. Sekarang mereka baru melihat di kanan kiri pintu tergantung lampion pintu dari kain putih, tanda berkabung. Melihat hal itu, Kho Gan-tiau tidak berani mengetuk pintu tersebut keras-keras.

Beberapa saat kemudian, pintu gerbang gedung itu baru dibuka oleh seorang koanke (pen gurus rumah tangga yang sudah berusia lanjut. Kho Gan- Tiau segera menyodorkan lima lembar kartu nama sembari berkata:

“Beberapa tuan serta saudara dari Bu-seng piaukiok, Tan-twi bun dan Tian-te hwe datang mengunjungi Pek thayhiap dan Pek jihiap!”

Mendengar disebutnya nama Tian-te hwe, sepasang alis orang tua itu langsung menjungkit ke atas. Matanya mendelik lebar-lebar kepada para tamunya. Setelah itu dia berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ma Pok-jin sudah tua, namun sikapnya berangasan.

“Budak tidak tahu diri!” katanya sengit.
.
“Ma loya benarl” sahut Siau Po.

Tidak lama kemudian muncullah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan mengenakan pakaian berkabung. Matanya masih merah dan membengkak, bekas air mata masih terlihat jelas. Dia merangkapkan kedua tangannya untuk menjura.

Wi Hiocu, Ma loyacu, Ong Cong piau tau serta tuan-tuan semua, terimalah hormatku! Aku Pek Han-hong menyatakan maaf karena tidak dapat menyambut dari jauh!”

Ma Pok-jin yang tidak sabaran langsung bertanya:

“Pek Jihiap sedang berkabung. Bolehkah kami tahu siapa dalam keluarga jihiap yang mengalami kemalangan?”

“Itulah kakakku Pek Han-siong!” sahut Pek Han-hong.

“Aih, sayang sekali! Pek tayhiap adalah panglima yang sangat diandalkan oleh Bhok onghu.

Namanya dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali. Namun beliau toh masih muda dan perkasa, penyakit apakah yang dideritanya sehingga tidak tertolong lagi?” tanya Ma Pok-jin kembali.

Mendengar pertanyaan itu, tidak terduga-duga Pek Han-hong menatap lawannya dengan sorot mata gusar.

“Ma loya, aku menghargai kau sebagai seorang tokoh tua dalam dunia persilatan. Aku juga menyambut kedatanganmu dengan hormat. Tapi sekarang_kau sengaja menghina kami. Padahal kau sudah tahu, tapi kau masih pura-pura menanyakannya?” teriaknya sinis.

Siau Po bingung mengapa orang itu tiba-tiba menjadi marah. Saking terkejutnya dia sampai menyurut mundur satu langkah.

Ma Pok-jin mengusap-usap janggutnya.

“Heran! Benar-benar heran!” katanya setelah -tertegun. “Justru karena lohu tidak tahu, maka lohu bertanya. Kenapa lohu malah dikatakan sudah tahu masih pura-pura bertanya? Apa maksudmu? Walaupun jihiap sedang berduka karena kehilangan saudara, tidak sepatutnya menimpakan kesedihan dengan marah kepada orang lain!”

“Ma loyacu dan tuan-tuan yang lainnya, silahkan duduk dulu!” kata Pek Han-hong berusaha meredam emosinya.

“Duduk ya duduk!” kata Ma Pok-jin yang masih mendongkol. “Mamangnya kami takut?” Dia menoleh ada Siau Po dan berkata, “Wi hiocu, silahkan duduk di atas!”

“Tidak!” sahut Siau Po. “Silahkan Ma loyacu saja.”

Pek Han-hong sudah melihat kartu nama yang diserahkan oleh pengurus rumah tangganya. Memang ada sehelai diantaranya yang bertuliskan nama Wi hiocu dengan nama lengkapnya Siau Po. Tapi dia tidak menyangka orangnya masih seorang bocah cilik yang kekanak-kanakan. Tiba-tiba dia menyambar tangan Siau Po dan membentak dengan garang.

“Kaukah Wi hiocu dari Tian-te hwe?”

Siau Po terkejut setengah mati. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan. Dia tidak menyangka akan diserang secara mendadak sehingga dia tidak sempat menghindarkan diri. Tangannya langsung terasa nyeri dan panas karena cekalan Pek Han-hong yang keras. Bahkan dia hampir jatuh semaput. Dan air matanya langsung mengucur keluar.

“Kami semua merupakan tamu-tamu Anda, Pek jihiap. Harap jangan terlalu menghina!” bentak Hian Ceng tojin sambil meluncurkan sebuah serangan ke iga lawannya.

Pek Han-hong heran mendapat kenyataan bahwa seorang hiocu dari Ceng-bok tong ternyata demikian lemah. Cepat-cepat dia melepaskan cekalan tangannya dan menyurut mundur sehingga terhindar dari serangan Hian Ceng tojin.

“Maaf!” katanya.

Siau Po berdiri terpaku. Sebagian tubuhnya terasa kelu. Alisnya mengerut dan wajahnya menyeringai menahan sakit. Diam-diam dia menyusut air matanya.

Bukan hanya Pek Han-hong saja yang terkejut melihat Siau Po demikian tidak berdaya, bahkan Ma Pok-jin, Ong Bu-seng dan lainnya juga merasa heran. Bukankah bocah ini muridnya ketua Tian-te hwe, Tan Kin-lam? Mengapa ia tidak sanggup menghindarkan diri dari serangan Pek Han-hong malah menjerit kesakitan dan meneteskan air mata!

Wajah Hian Ceng dan anggota Tian-te hwe lainnya tadi jengah serta merah padam saking malunya.

“Maaf!” kat a Pek Han-hong kembali. “Sungguh malang nasib kakakku yang mati di tangan anggota Tian-te hwe. Itulah sebabnya aku tidak bisa mengendalikan diri sehingga….”

“Apa?” tanya Ma Pok-jin dan yang lainnya setelah mendengar kata-kata itu.

“Apa? Pek tayhiap mati di tangan anggota Tiante hwe? Tidak mungkin!” teriak yang lainnya.

Pek Han-hong kesal sekali sampai membanting-banting kakinya di atas tanah.

“Kalian bilang tidak mungkin?” tanyanya gusar. “Lalu kalian kira kakakku hanya pura-pura mati? Silahkan kalian lihat sendiri. Mari!” Kemudian dia pun mengulurkan tangannya kembali untuk mencengkal Siau Po.

Kali ini Hian Ceng dan Hoan Kong sudah berjaga-jaga. Begitu si tuan rumah menggerakkan tangannya, merekapun mengirimkan serangan ke arah dada dan punggung Pek Han Hong.

Pek Han Hong melihat datangnya serangan, batal dia mencekal tangan Wi Siau-po. Justru dia segera menangkis untuk melindungi diri. Hian Ceng menarik kembali tangan kirinya lalu menyerang dengan tangan kanannya. Sementara itu, tangan Hoan Koan beradu dengan tangan Pek Han-hong. Laki-laki she Pek ini menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri dari serangan Hian Ceng. Tanpa menunda waktu lagi dia mengirimkan sebuah serangan ke arah kerongkongan Hoan Kong.

Hian Ceng menghindarkan diri, sedangkan Hoan Kong juga menyurut mundur tiga tindak sehingga punggungnya membentur dinding. Sungguh hebat kepandaian Pek Han-hong, dalam waktu yang bersamaan dia sanggup mendesak Hoan Kong mengundurkan diri sekaligus membuat Hian Ceng kerepotan melindungi diri.

“Apakah kau benar-benar ingin berkelahi?” bentak Hoan Kong yang gusar karena tangannya masih terasa nyeri akibat beradu dengan tangan lawan. Dia maju lagi dengan niat melakukan penyerangan.

“Kakakku sudah mati. Aku pun enggan hidup lebih lama lagi!” teriak Pek Han-hong tak kalah kalapnya. “Kawanan anjing Tian-te hwe, majulah kalian semuanya!”

“Tahan!” seru Yau Cun si tabib yang mempunyai kesabaran luar biasa. “Mungkin dibalik semua ini telah terjadi kesalahpahaman. Bukankah Pek jihiap menuduh bahwa kakaknya telah dibunuh oleh anggot a Tian-te hwe? Bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya? Dapatkah Pekjihiap menjelaskan lebih lanjut?” tanyanya.

“Mari kalian ikut denganku!” ajak Pek Hanhong sambil mendahului yang lainnya masuk ke ruangan dalam dengan langkah lebar.

Yau Cun beserta yang lainnya segera mengikuti. Mereka tidak merasa takut meskipun sadar telah masuk ke dalam sarang harimau. Sesampainya di dalam ruangan, mereka menghentikan langkah kakinya karena melihat sebuah peti mati di kamar belakang di mana di dalamnya terlihat sesosok tubuh yang membujur dan bagian kepala serta kakinya tampak jelas.

Pek Han-hong menyingkap tirai kemudian berteriak dengan keras:

“Toako, kau mati penasaran. Sekarang aku hendak membunuh beberapa ekor anjing Tian-te hwe untuk membalaskan sakit hatimu!” Meskipun suaranya keras namun agak serak karena sudah terlalu banyak menangis.

Yau Cun beserta Ma Pok-jin, Lui It-siau dan Ong Bu-seng maju menghampiri peti mati itu. Mereka dapat melihat dengan tegas bahwa mayat yang di dalamnya memang Pek Han-sing. Yau Cun mendekati mayat itu dan memegang lengannya.

Han Hong tertawa dingin.

“Kalau kau sanggup menghidupkan kakakku kembali, aku akan menyembah sebanyak selaksa kali di hadapanmu!”

Yau Cun menarik nafas panjang.

“Pek Jihiap,” katanya sabar. “Seseorang yang sudah meninggal, tidak mungkin bisa dihidupkan kembali. Aku harap kau bisa mengendalikan kesedihanmu…. Sekarang ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Benarkah orang Tian-te hwe yang membunuh kakakmu? Apakah dugaanmu itu tidak keliru ?”

“Aku… keliru?” Pek Han-hong mengulangi pertanyaan itu dengan mat a mendelik.

Yau Cun merasa terharu. Dia tahu Pek Han-Hong benar-benar sedih atas kematian kakaknya. Bahkan Hoan Kong pun menahan emosinya, sehingga dia dapat berpikir dengan kepala dingin:

’Dia baru saja kehilangan kakaknya, tidak heran dia sampai tidak dapat mempertahankan kemarahan hatinya. Pek Han-hong berdiri tegak di depan peti mati kakaknya sambil bertolak pinggang. Dia berteriak dengan suara lantang:

“Orang yang membunuh kakakku adalah Ci lautao si penjual koyo dari Tian-te hwe. Aku pernah dengar bahwa nama asli orang itu ialah Ci Tiancoan. Julukannya Pat-pek Wan-kau (Si kera bertangan delapan) dan merupakan, anggota Cam-tay tong di Tian te hwe. Benar bukan? Apakah kalian masih ingin menyangkal?”

Hoan Kong dan yang lainnya saling menatap dengan perasaan bingung. Kedatangan mereka justru untuk mencad keadilan bagi Ci tian-coan, rekan mereka sendiri. Siapa nyana, justru mereka mendengar kabar kematian Han Siong yang menurut adiknya binasa di tangan Ci itu.

Saking gundahnya, Hoan Kong menarik nafas panjang dan berkata:

“Pek loji, Ci Tian-coan yang kau sebutkan itu memang benar orang Tian-te hwe, tapi dia… dia….”

“Ada apa dengan dia?” tanya Han Hong.

“Dia telah terluka parah oleh toakomu,” sahut Hoan Kong yang masih merasa sedih.

“Keadaannya sangat mengenaskan, bahkan nafasnya tinggal satu-satu. Bahkan sekarang kami sendiri tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati. Justru kedatangan kami ingin menanyakan mengapa kau sampai menyerang kakak kami sedemikian rupa, Siapa angka… aih!”

Tapi Pek Han-hong sedang dilanda kesedihan yang tidak terkatakan, mana mungkin dia bisa mengendalikan kemarahannya?

“Jangan kata kakak kalian itu belum mati, biar sudah mampus sekalipun, selembar jiwa anjingnya tidak cukup untuk mengganti jiwa toako kami!”

Hoan Kong menjadi gusar sekali melihat orang tidak dapat diajak berkompromi secara baik-baik.

“Bicaramu sungguh kotor!” tegurnya keras.”Apakah kau pantas disebut sebagai orang rimba persilatan? Sekarang katakan, apa sebenarnya yang inginkan?”

“Aku… tak tahu…,” teriak Pek Han-hong. “Aku hendak membasmi kamu orang-orang Tian-te hwe yang mirip anjing pun tidak! Aku ingin membunuh kalian semua, semua!”

Selesai berkata, tuan rumah itu langsung menyambar sebatang golok yang menggeletak di sisi mayat kakaknya.

Seiring dengan berkelebatan sinar golok, tubuh Pek Han-hong pun menerjang ke arah para tamunya. Hoan Kong dan lainnya yang menyaksikan keadaan itu, segera menghunus senjata masing-masing untuk berjaga-jaga.

“Jangan bergerak!” Tiba-tiba terdengar teriakan yang memekakkan telinga.

Lui It-siau segera mencelat maju ke depan peti mati. Sepasang kapaknya diangkat tinggi-tinggi.

“Pek Jihiap, bila kau berniat membinasakan orang, bunuhlah aku terlebih dahulu!” katanya lantang.

Sesuai dengan namanya, yakni Lui yang berarti guntur dan Siau yang berarti siulan, suaranya memang seperti geledek yang mengejutkan.

Pek Han-hong demikian kalapnya sehingga lupa diri, teriakan itu menyadarkannya kembali.

“Untuk apa aku membunuhmu? Kau toh bukan pembunuh kakakku!” “Begitu pula dengana sahabat-sahabat dari Tiante hwe ini. Mereka juga bukan orang yang membunuh kakakmu. Lagipula anggota Tian-te hwe paling tidak berjumlah lima puluh laksa jiwa, apakah kau sanggup membunuh semuanya?” sahut Lui It-siau.

“Aku tidak perduli!” teriak Han Hong. “Ketemu satu akan kubunuh satu, ketemu dua aku bunuh dual” Tepat pada saat itu, di luar rumah terdengar suara derap kaki kuda yang sedang mendatangi.

Sesaat kemudian suaranya berhenti di depan rumah tersebut.

“Mungkin tentara kerajaanl” kata Yau Cun.

“Simpan senjata kalian!” Hoan Kong semua menurut. Mereka mendekati Lui It-siau. Han Hong pun terpaksa menyimpan kembali senjatanya, namun dia masih berkata dengan garang.

“Sekalipun yang datang raja langit, aku tidak takut!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: