Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (12)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:47 am

Rahasia Peti Wasiat (12)
Oleh Gu Long

Diam-diam Liong It-hiong menghela napas lega, pikirnya, “Untung sudah pergi, kalau tidak malam ini aku tentu tidak dapat bergerak.”

Ia menaksir Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin sudah pergi jauh, maka perlahan ia berdiri dan merunduk ke kaki pagar tembok.

Ia coba pasang telinga mendengarkan dengan cermat, tak terdengar sesuatu suara di balik pagar tembok, segera ia menggunakan lagi ilmu cecak merayap untuk merambat ke atas tembok, lalu melongok ke dalam.

Ternyata seluruh perkampungan itu sudah sunyi senyap.

Sejauh mata memandang tidak terlihat sesosok bayangan pun, serupa segenap penghuni perkampungan sudah tenggelam dalam impian masing-masing.

Tapi sekali pandang saja It-hiong lantas tahu di balik kesunyian itu penjagaan di dalam perkampungan pasti sangat ketat, di mana-mana terdapat pos pengawasan yang tersembunyi. Namun dia tetap bertekad akan menyelidiki perkampungan itu, sebab ucapan Kim-kong Taysu tadi telah menimbulkan kepercayaan atas diri sendiri.

Tadi Kim-kong Taysu berkata, “Penghuni Liong-coan-ceng itu kecuali Wi Ki-tiu dan beberapa orang kepercayaannya, yang lain tidak ada yang mengerti ilmu silat.”

Ia yakin keterangan ini tidak perlu diragukan lagi, kalau tidak, tentu Wi Ki-tiu tidak perlu menggunakan suara bende untuk menakut-nakuti musuh yang datang menyatroninya. Sebab itulah ia memutuskan akan masuk ke perkampungan ini untuk menyelidiki, umpama kepergok juga dapat melarikan diri dengan mudah.

Begitulah ia lantas mengamat-amati keadaan perkampungan itu, ia merasa menyusup masuk melalui belakang perkampungan akan lebih aman. Maka ia mundur kembali ke dalam hutan, dikumpulkannya seonggok rumput kering dan diusung ke kaki pagar tembok sana, lalu mengeluarkan alat ketikan api, dibakarnya onggokan rumput kering itu.

Begitu api menyala, cepat ia lari ke belakang kampung mengitari pagar tembok. Baru saja berpuluh langkah ia lari, segera terdengar suara bende berbunyi dengan ramai.

“Api, api! Kebakaran! Tolong, kebakaran!” demikian seorang lantas berteriak.

Dalam sekejap lantas riuh gemuruh suara orang ribut di dalam kampung.

Dengan beberapa kali lompatan Liong It-hiong melejit ke kaki tembok di belakang kampung, dari situ ia terus melompat ke atas pagar tembok, dilihatnya di kejauhan banyak centeng yang berlari ke tempat “kebakaran”.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Liong It-hiong, cepat ia melayang ke dalam kampung, lalu melompat lagi ke atas sederetan rumah dan mendekam di emper rumah.

Setelah mendekam sebentar dan tidak terdengar suara orang berteriak tangkap maling, ia tahu akalnya “bikin ribut di timur dan serang di barat” telah berhasil dengan baik.

Waktu ia menengadah dan memandang ke sana, dilihatnya di sebelah kiri ruangan depan sana ada sebuah gedung berloteng, dari pengalaman dapat diduganya gedung itu pasti wisma tamu.

Ia pikir Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan malam ini pasti menginap di situ. Dengan hati-hati ia lantas memberosot turun dari rumah itu, di bawah bayang-bayang deretan rumah itu ia merunduk ke wisma tamu itu.

Mendadak terdengar suara bende dibunyikan lagi dengan keras dan ramai, lalu ada orang berteriak, “Wah, celaka! Kita tertipu! Itu bukan kebakaran sungguhan! Lekas geledah seluruh kampung, tentu ada maling menyusup kemari!”

“Tangkap maling, tangkap maling!”

Begitulah ramai orang sahut-menyahut di sana-sini, semuanya cuma untuk menggertak belaka, padahal tidak terlihat bayangan “maling” segala.

Sementara itu Liong It-hiong sudah melayang ke atas wisma tamu tadi, dengan kedua kaki ia menggantol di emper rumah, lalu tubuh bagian atas menggelantung ke bawah, ia mengintip ke dalam wisma melalui jendela.

Sekali pandang seketika jantungnya berdebar.

Kiranya terlihat Wi Ki-tiu, Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan bertiga asyik mengobrol di dalam sambil minum teh.

Terlihat Wi Ki-tiu lagi berkata dengan tersenyum simpul, “Mungkin dahulu aku pernah berbuat salah terhadap sementara orang, maka pada hari ulang tahunku ini mereka sengaja bikin ribut ke sini ….”

“Bisa jadi musuh sudah menyusup ke dalam kampung, apakah perlu kubantu Wi-cengcu mencarinya?” kata Hui Giok-koan.

Wi Ki-tiu menggeleng kepala, “Tidak perlu, paling-paling hanya sebangsa maling pencuri ayam, biarkan saja.”

Sun Thian-tik menghirup teh, lalu berkata, “Kampung Wi-cengcu kemasukan maling, tapi Cengcu sendiri sedemikian tenangnya, sungguh aku sangat kagum.”

“Hahaha,” Wi Ki-tiu terbahak. “Selama hidupku ini tidak jarang menghadapi gelombang badai, kalau cuma satu-dua maling ayam saja tidak dapat mengertak diriku.”

“Dari mana Wi-cengcu tahu pendatang ini cuma maling ayam saja? Bisa jadi tokoh kelas tinggi,” kata Sun Thian-tik dengan tertawa.

“Itu pun tidak menjadi soal,” ujar Wi Ki-tiu dengan tertawa. “Jika yang dituju adalah diriku, cepat atau lambat dia pasti akan memperlihatkan tampangnya.”

“Kukira lebih baik Wi-cengcu pergi memeriksanya dan tidak perlu lagi menemani kami di sini,” kata Hui Giok-koan.

“Baiklah,” Wi Ki-tiu berdiri. “Akan kupergi melihat apa yang terjadi, silakan kalian mengaso saja bila perlu.”

Habis berkata ia memberi salam, lalu tinggal pergi.

Sun Thian-tik dan Hui Giok-koan berdiri mengantar kepergian tuan rumah, setelah Wi Ki-tiu keluar barulah mereka duduk kembali.

Sembari menghirup lagi seceguk air teh, Sun Thian-tik memandang Hui Giok-koan, katanya dengan tersenyum, “Saudara Giok-koan, menurut perkiraanmu, siapakah penyatron ini?”

“Dari mana kutahu?” jawab Hui Giok-koan dengan hambar.

“Sudah berpuluh tahun Kui-sui-poa Wi Ki-tiu merajai Lok-lim (dunia bandit), meski sekarang dia menyatakan sudah mengundurkan diri, namun Kungfunya tidak pernah ditelantarkannya. Kupikir orang yang berani menyatroni Liong-coan-ceng ini pasti bukan tokoh sembarangan.”

“Oo ….” Hui Giok-koan hanya mengangguk-angguk saja.

“Tapi mungkin juga … sasaran yang dituju oleh penyatron itu bukanlah dia melainkan aku atau engkau.”

Hui Giok-koan tertawa, jawabnya, “Kuyakin pasti bukan diriku, sebab aku merasa tidak punya musuh.”

“Aku juga tidak punya musuh,” tukas Sun Thian-tik cepat.

“Jika begitu, jelas yang dicari pendatang itu bukan kita berdua,” kata Giok-koan.

“Seorang mencari seseorang terkadang juga bukan untuk menuntut balas melainkan bisa jadi mengincar barangnya ….” kata Sun Thian-tik. “Apakah mungkin Hui-heng membawa sesuatu benda berharga?”

Cepat Hui Giok-koan menggeleng kepala, “Tidak, tidak ada, barangkali Sun-heng sendiri membawa barang berharga?”

“Tidak, aku sendiri terkenal rudin, mana ada barang berharga yang kubawa?” ujar Sun Thian-tik. “Walaupun dulu terkadang juga kudapatkan barang berharga, tapi semuanya kutaruh di suatu tempat.”

“Tempat mana?” tanya Hui Giok-koan.

“Pegadaian,” jawab Sun Thian-tik.

“Haha, Sun-heng sungguh suka bergurau,” seru Giok-koan dengan tergelak.

“Aku bicara dengan betul,” sambung Sun Thian-tik. “Setiap saat bila kupunya sesuatu benda berharga langsung saja kuantar ke pegadaian. Ai, rasanya selama hidupku sudah menjadi langganan tetap pegadaian.”

“Itu menandakan keluhuran budi Sun-heng yang tidak suka memegang apa pun, hal itu sukar dilakukan oleh kebanyakan orang,” ujar Giok-koan.

“Ah, masa begitu, justru aku ingin mempunyai apa pun, soalnya sukar kuperoleh,” kata Thian-tik.

“Ah, sudah tidak sedikit arak yang kutenggak, sudah merasa ngantuk, marilah kita pergi tidur saja,” ujar Giok-koan.

“Eh, nanti dulu,” cegah Sun Thian-tik. “Jika sebentar ternyata Wi-cengcu berhasil membekuk musuh yang menyatroni dia, kita kan perlu melihatnya juga siapa dia.”

“O, tidak, aku tidak ingin ikut campur urusan orang lain, lebih baik kupergi tidur saja,” kata Hui Giok-koan.

“Bagaimana kalau kita tidur sekamar?” tanya Thian-tik sambil berdiri.

“Wah, maaf, aku tidak biasa tidur bersama orang lain, lebih baik kita tidur di kamar masing-masing saja,” ucap Hui Giok-koan.

“Bilamana yang hendak tidur bersamamu adalah orang perempuan?”

“Itu tentu tidak sama persoalannya,” ujar Hui Giok-koan dengan tertawa.

“Jika begitu, kenapa tidak menunggu lagi sebentar,” kata Thian-tik.

Hui Giok-koan melenggong, “Memangnya kau maksudkan di sini tersedia orang perempuan?”

“Betul,” jawab Thian-tik dengan tersenyum misterius.

“Oya, di mana?” tanya Hui Giok-koan, seketika sinar matanya berjelalatan.

“Tadi waktu makan-minum kan Wi Ki-tiu memberi isyarat bahwa dia dapat menyediakan beberapa orang perempuan untuk kita, kuyakin dia takkan melupakan ucapannya itu,” kata Thian-tik.

“Bisa jadi ia cuma omong iseng saja, masa kau anggap sungguhan?”

“Tidak, aku justru percaya dia bicara dengan serius,” ujar Thian-tik. “Waktu perjamuan selesai kulihat dia berbisik memberi pesan kepada seorang anak buahnya, lalu centeng itu berlari pergi, sangat mungkin pergi memanggil cewek.”

Hui Giok-koan hanya tertawa saja seperti tidak percaya, lalu ia menuju ke sebuah kamar di wisma tamu itu.

Sun Thian-tik menggaruk-garuk kepala sambil bergumam sendiri, “Masa bocah ini benar-benar mau tidur?”

Sembari mengomel ia sendiri juga menuju kamarnya.

Pada saat itulah tiba-tiba datang dua tandu, yang mengantar kedua tandu itu adalah centeng yang disuruh pergi tadi, ketika dilihatnya Sun Thian-tik hendak masuk ke dalam, cepat ia berseru, “Sun-tayhiap, tunggu dulu!”

Sun Thian-tik berhenti dan berpaling, tanyanya, “Ada apa?”

Centeng itu mendekatinya, lalu berucap dengan suara tertahan, “Cengcu menyuruh hamba memanggilkan dua nona cantik, silakan Sun-tayhiap memeriksanya sendiri.”

“Aha, bagus sekali!” seru Thian-tik kegirangan, segera ia ikut centeng itu mendekati tandu yang telah diturunkan di depan undak-undakan sana.

Centeng itu menyuruh penggotong tandu membuka pintu tandu, lalu berkata dengan tersenyum, “Kedua nona silakan keluar!”

Segera dua nona jelita yang malu-malu kucing dengan lengan baju mengalingi mukanya melangkah keluar dari tandu.

Tertampak yang seorang berpinggang ramping dan berwajah cantik molek. Seorang lagi beralis lentik dan beraut wajah bulat telur, tubuh bernas dan sexy, keduanya sama cewek pilihan.

Dengan bersemangat Sun Thian-tik menyapa, “Eh, siapakah nama manis kedua nona cantik ini?”

Centeng itu menunjuk yang ramping dan berkata, “Yang ini bernama Long-giok.”

Lalu ia tuding satunya lagi dan menyambung, “Yang itu bernama Lik-cu. Nah, lekas kalian memberi hormat kepada Sun-tayhiap.”

Dengan gemulai Long-giok dan Lik-cu lantas memberi hormat sambil bersuara, “Selamat bertemu, Sun-tayhiap.”

Sun Thian-tik tertawa lebar, “Jangan sungkan, jangan sungkan!”

“Dan di manakah Hui-tayhiap?” tanya si centeng dengan tertawa.

“O, dia sudah berada di kamarnya,” tutur Sun Thian-tik.

“Baiklah, silakan Sun-tayhiap pilih mana suka, yang lain akan kubawa untuk Hui-tayhiap,” kata si centeng.

Pandangan Sun Thian-tik tertuju si molek yang bernama Long-giok, katanya dengan tertawa, “Kusuka nona yang ramping, boleh kau bawa nona Lik-cu kepada Hui-heng.”

Si centeng lantas memberi tanda kepada Lik-cu dan berkata, “Mari, silakan nona ikut padaku.”

Dengan kepala menunduk si sexy yang bernama Lik-cu ikut melangkah ke sana.

Tampaknya Sun Thian-tik tidak sabaran lagi, ia terus menarik tangan Long-giok, katanya dengan tertawa, “Mari, kamarku di sebelah sana, ayo kita bicara di dalam kamar.”

Langsung ia mengajak Long-giok ke kamarnya.

Kamar pada wisma tamu itu terpajang sangat mewah, dari sini dapat terlihat betapa kaya raya Wi Ki-tiu.

Thian-tik menarik Long-giok duduk di tepi ranjang, dirangkulnya pinggangnya yang ramping serta diciumnya pipi orang yang harum, ucapnya, “Ehm, engkau sangat cantik.”

Setiap anak perempuan suka dipuji, rayuan Sun Thian-tik pun kena sasarannya, dengan malu-malu Long-giok menjawab, “Terima kasih atas pujian Toaya.”

Mendapat hati segera Sun Thian-tik merogoh rempela, Long-giok terus dipeluknya, tanyanya pula, “Berapa umurmu?”

Long-giok ternyata sangat menurut dan pasrah, sambil meringkuk dalam pelukan orang ia menjawab, “Tahun ini 20.”

Tangan Sun Thian-tik lantas beraksi, kembali ia tanya dengan tertawa, “Kau tinggal di kota Liong-coan-tin ini?”

“Ehm,” Long-giok mengangguk.

“Di rumah hiburan mana?”

“Thian-hiang-ih.”

“Wah, tentu engkau ratunya rumah hiburan tersebut.”

“Ah, mana. Terima kasih.”

“Dan bagaimana dengan nona Lik-cu itu?” tanya Thian-tik.

“Dia juga penghuni di sana,” tutur Long-giok.

Thian-tik mencopot sepatu dan menurunkan kelambu, lalu si nona diangkatnya ke tempat tidur.

“Ai, Sun-toaya, kenapa engkau terburu nafsu begini,” terdengar Long-giok berucap dengan tertawa cekikak dan cekikik.

Sun Thian-tik juga tertawa, jawabnya, “Tentu saja aku terburu nafsu, habis kalau terlambat kan bisa runyam.”

“Apa maksud ucapan Sun-toaya ini?” tanya Long-giok.

Sun Thian-tik tidak menjawab, agaknya sibuk beraksi ….

*****

Pada saat yang sama Hui Giok-koan juga sedang menghadapi Lik-cu yang sexy itu.

Caranya main perempuan juga mempunyai gayanya sendiri. Setelah si nona berdiri di depannya, sama sekali tidak disentuhnya melainkan cuma dipandangnya serupa seorang juri pemilihan kecantikan yang sedang menilai calon ratu, diamatinya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, dari tangan hingga ke dada dan bagian tertentu yang menggiurkan, sampai lama sekali ia mengamat-amatinya tanpa menyentuhnya.

Dengan sendirinya Lik-cu merasa agak risi, ucapnya dengan suara lirih, “Hui-toaya, engkau ….”

“Ah, tidak ada apa-apa,” sela Hui Giok-koan dengan tertawa. “Silakan duduk saja.”

Tapi Lik-cu tetap berdiri tanpa bergerak, katanya dengan malu-malu, “Apabila Hui-toaya tidak penujui hamba, bolehlah hamba pulang saja.”

“O, tidak, engkau keliru,” seru Hui Giok-koan dengan terbahak. “Aku justru sangat suka terhadapmu ….”

Lik-cu meliriknya sekejap, katanya, “Jika demikian, mengapa ….”

“Rupanya kau salah paham,” kata Giok-koan. “Aku sedang merenungkan suatu soal ….”

“Merenungkan soal apa?” tanya si nona.

“Kupikir sebab apakah Wi-cengcu melayaniku sedemikian hangat,” kata Giok-koan.

“Bukankah kalian sahabat karib?”

Giok-koan mengangguk, “Betul, kami boleh dikatakan bersahabat baik, cuma sebelum ini dia tidak pernah berlaku sebaik kepadaku.”

Lik-cu tertawa, “Wi-cengcu berlaku baik padamu masa malah membuatmu tidak enak hati?”

“Betul, bagiku timbul semacam perasaan kikuk malah,” kata Giok-koan.

“Sudah biasa Wi-cengcu melayani tetamunya cara demikian, setiap kali ada sahabat berkunjung padanya dan tinggal di Liong-coan-ceng sini, selalu beliau menyuruh hamba melayani tamunya, apakah cara demikian tidak biasa bagi Hui-toaya?”

“Oo, tidak,” Giok-koan menggeleng dengan tertawa.

Lik-cu lantas duduk di samping Hui Giok-koan dan memperlihatkan senyum memikat, katanya, “Sebenarnya pelayanan Wi-cengcu terhadapmu tidak terlalu spesial, kenapa Hui-toaya mesti kikuk malah?”

Hui Giok-koan mencium semacam bau harum yang merangsang, seketika perasaannya terguncang dan bagian tertentu pun timbul reaksi, dirangkulnya pinggang si cantik, katanya dengan tertawa, “Engkau tidak dusta padaku?”

“Dusta apa?” Lik-cu melengak.

Giok-koan berbisik di tepi telinganya, “Masa Wi-cengcu tidak memberikan sesuatu tugas rahasia padamu?”

“Ah, mana ada?” jawab Lik-cu dengan tercengang.

“Ssst, perlahan sedikit, tidak enak kalau didengar orang,” desis Giok-koan.

Dengan mata terbelalak lebar Lik-cu berkata pula, “Masa Hui-toaya menyangka hamba melayanimu karena mengemban sesuatu tugas tertentu atas perintah Wi-cengcu?”

“O, tidak, jangan salah mengerti,” kata Giok-koan. “Ah, indah benar rambutmu, apa kau sisir sendiri?”

Lalu Giok-koan membelai rambut si nona dengan perlahan.

Lik-cu mengangguk dan tersenyum manis jawabnya, “Ya, hamba selalu menyisir rambut sendiri, tidak puas rasanya kalau tidak menyisir sendiri.”

Tangan Giok-koan terus memberosot ke bawah dan meremas-remas perlahan leher si nona, ucapnya dengan tertawa, “Ehm, kulitmu sangat putih dan halus, serupa kemala.”

“Ah, mana, Hui-toaya terlampau memuji,” sahut Lik-cu dengan menunduk malu.

“Betul, belum pernah kulihat nona secantik dirimu,” kata Giok-koan. “Meski Nyo-kuihui (selir kaisar Tong-beng-cong pada dinasti Tong) juga akan merasa silau karena tak dapat menandingimu.”

Raba punya raba akhirnya tangan Hui Giok-koan mencapai bagian dada.

Lik-cu menggeliat risi, ucapnya, “Ah, Hui-toaya jadi begini, aku tak mau ….”

Hui Giok-koan tambah terangsang, segera ia menariknya lebih merapat dan menatapnya dengan sinar mata mencorong serupa serigala kelaparan, ucapnya, “Jangan mengelak, ai, engkau jadi mengobarkan api berahiku!”

Sembari bicara tangannya mulai menggerayang lagi dan melepas baju si nona.

Dengan lagak pura-pura tidak mau, tapi belum diminta sudah setuju, Lik-cu membiarkan bajunya dilucuti satu per satu sehingga akhirnya cuma tertinggal kutang dan celana dalam saja, tertampaklah kulit badannya yang putih mulus.

Napa Hui Giok-koan terdengar mulai ngos-ngosan, jelas nafsu berahinya berkobar-kobar dan tidak tahan lagi.

Mendadak Lik-cu meronta dan melepaskan tangan orang, lalu menyingkir dari tempat tidur, ucapnya dengan tertawa, “Ayolah, sekarang giliran Hui-toaya.”

“Giliranku apa?” Giok-koan melenggong.

“Giliranmu membuka pakaian,” kata Lik-cu.

Baru sekarang Giok-koan tahu apa artinya, terus saja ia melepaskan pakaian sendiri, dengan cepat sekali dia sudah telanjang bulat. Lalu dengan gerakan “harimau lapar menerkam domba”, segera ia tubruk si nona.

Tentu saja sekali tubruk si dia lantas dirangkulnya, tapi mendadak dirasakannya yang terpeluk olehnya serupa seekor landak, kontan ia menjerit aduh dan jatuh terkulai di lantai.

Lik-cu tertawa, perlahan ia menggeser kedua kakinya yang indah, dengan langkah gemulai ia mendekati tempat tidur, perlahan ia mengambil pakaian, sepotong demi sepotong dikenakannya kembali, lalu menggeser ke dekat dinding sana dan mengetuk perlahan tiga kali.

Perlahan dinding bergerak naik ke atas sehingga berwujud sebuah jalan masuk.

Lalu ia putar balik ke samping Hui Giok-koan, tanpa permisi ia jambak rambut Hui Giok-koan dan diseret ke dalam terowongan itu.

*****

Pada saat yang sama Sun Thian-tik masih berada di tempat tidur di kamarnya, cuma sekarang dia sudah selesai berpakaian, saat itu dia memegang sebilah belati dan lagi digosok-gosokkan kian kemari di atas tubuh Long-giok sambil mengancam, “Nah, kau mau bicara atau tidak?”

Wajah Long-giok kelihatan pucat lesu karena takut.

Seluruh tubuhnya telanjang bulat, namun dia telentang lurus tanpa bergerak, agaknya selain dia telah dilalap oleh Sun Thian-tik, juga Hiat-to kelumpuhannya telah ditutuknya.

Jelas nona jelita itu sama sekali tidak mampu melawan dan juga sangat takut kalau belati Sun Thian-tik benar-benar ditubleskan padanya, dengan suara gemetar ia menjawab, “Apa … apa, yang harus kukatakan?”

Muka Sun Thian-tik tampak bengis, ujung belati diarahkan ke dada Long-giok, jengeknya, “Hm, kukira tidak perlu kubinasakanmu, tapi bila belatiku ini bekerja, kuyakin akan membuatmu tidak mendapatkan kasih sayang Wi Ki-tiu lagi. Nah, boleh coba kau renungkan dulu.”

Dengan muka pucat Long-giok berucap, “Baik … baiklah, akan kukatakan. Kami berdua memang betul perempuan piaraan Cengcu, dia menyuruh kami menyamar sebagai gadis panggilan untuk memikat kalian. Cuma sasarannya ialah Hui Giok-koan dan bukan Sun-toaya.”

“Cara bagaimana dia suruh kau kerjai diriku?” tanya Thian-tik.

“Dia menaruh curiga padamu karena Sun-toaya tidak pergi melainkan masih tinggal di sini, aku disuruh mengawasi gerak-gerikmu,” tutur Long-giok.

“Selain itu?” desak Sun Thian-tik.

“Tidak ada lagi,” jawab si nona.

“Dan cara bagaimana Lik-cu akan memperlakukan Hui Giok-koan?”

“Lik-cu diperintahkan menutuk Hiat-to Hui Giok-koan di luar dugaannya, lalu menawannya ke dalam Cui-ci-kiong (istana kristal air),” tutur Long-giok.

“Di mana letak Cui-ci-kiong itu?” tanya Thian-tik pula.

“Di bawah tanah.”

“Mengapa disebut Cui-ci-kiong?”

“Tempat itu merupakan sebuah ruang di bawah tanah yang sangat luas,” tutur Long-giok. “Di tengahnya dibangun sebuah kolam mandi dengan air hangat, di dalam ruangan itu terpajang sangat mewah dan megah, sebab itulah disebut istana kristal air.”

“Biasanya kalian sama tinggal di Cui-ci-kiong itu?”

Long-giok mengiakan.

“Selain kau dan Lik-cu, terdapat siapa lagi?” tanya Thian-tik.

“Ada lagi Hiang-kun, Hi-moay, Hui-hong dan Ing-ing berlima, semuanya anak perempuan jelita.”

“Cara bagaimana menuju ke istana kristal air itu?”

“Wah, tidak dapat kukatakan padamu, untuk itu Wi Ki-tiu bisa membunuhku.”

“Dia akan membunuhmu atau tidak belum lagi diketahui dengan pasti, yang jelas sekarang engkau akan segera mati jika tidak kau katakan padaku.”

Long-giok ragu sejenak, ucapnya kemudian sambil menghela napas, “Ai, apa boleh buat. Setelah kuberi tahukan padamu, maukah engkau membawaku meninggalkan tempat ini?”

“Kau ingin meninggalkan kungkungan Wi Ki-tiu?” tanya Thian-tik.

“Ya,” jawab Long-giok. “Dia mempunyai hobi yang sangat berbeda dengan orang umumnya, pada hakikatnya kami tidak dipandangnya sebagai manusia, sungguh aku sudah cukup tersiksa di sini.”

Sun Thian-tik termenung sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Baik, aku berjanji akan membawamu meninggalkan tempat ini. Cuma kedatanganku ini adalah karena ingin merampas sebuah kotak yang diperoleh Hui Giok-koan, sekarang aku ingin coba melihat ke dalam Cui-ci-kiong, hendaknya kau bawaku ke bawah sana.”

“Baiklah, harap bebaskan dulu Hiat-toku agar kudapat memakai baju,” ujar si nona.

“Biar kupakaikan bajumu,” ujar Thian-tik dengan tertawa.

Benar juga, segera ia mengambil baju si nona dan mulai membantunya memakai baju. Bagi seorang lelaki, mendandani seorang perempuan dalam keadaan telanjang sesungguhnya semacam kenikmatan.

Tapi tujuan Sun Thian-tik bukan untuk kenikmatan melainkan karena khawatir bilamana Hiat-to orang dibuka dan mendadak akan balas menyerang padanya.

Selesai memberi berbaju, lalu Thian-tik menariknya bangun duduk, katanya, “Kukira kamar ini pasti ada jalan tembus rahasia menuju ke Cui-ci-kiong. Di mana tempatnya?”

“Mohon bukanlah Hiat-to kelumpuhanku, biar hamba membawamu ke bawah,” pinta Long-giok.

“Tidak, cukup kau beri petunjuk, aku yang akan membawamu ke bawah,” ujar Thian-tik.

“Masa Sun-toaya belum lagi percaya kepadaku?” tanya Long-giok.

“Nanti setelah meninggalkan Liong-coan-ceng kan belum terlambat untuk mendapatkan kepercayaanku padamu?” ujar Thian-tik dengan tertawa.

Terpaksa Long-giok berkata, “Dinding sebelah kanan itulah jalan tembus rahasia menuju ke Cui-ci-kiong. Boleh kau ketuk tiga kali pada dinding itu dan segera jalan rahasianya akan muncul.”

Thian-tik memakai sepatunya, lalu melangkah ke dinding yang dimaksud.

“Blang-blang-blang!” selagi ia hendak mengetuk dinding, mendadak pintu kamar digedor orang dari luar.

Keruan Thian-tik terkejut, tanpa berpikir ia bertanya, “Siapa itu?”

“Aku!” jawab orang di luar.

Thian-tik tidak dapat mengenali siapa orang itu, ia coba tanya lagi, “Engkau siapa?”

“Hamba centeng perkampungan ini, atas perintah Cengcu akan menyampaikan pesan kepada Sun-tayhiap, harap buka pintu!” seru orang di luar. Suaranya sangat lirih, seperti khawatir didengar orang lain.

Setelah berpikir sejenak, lalu Sun Thian-tik menjawab, “Baik, tunggu sebentar, segera kubuka pintu.”

Ia terus melompat kembali ke depan tempat tidur, dengan sikap mengancam ia mengisiki Long-giok, “Awas, setelah kubuka pintu, jika kau berani berteriak, seketika kucabut nyawamu.”

Dengan suara lirih Long-giok menjawab, “Tidak, hamba pasti takkan berbuat demikian, jangan khawatir.”

Habis ini barulah Sun Thian-tik menuju lagi ke depan pintu, ditariknya palang pintu, daun pintu ditarik sedikit, melalui celah pintu ia tanya, “Ada apa? …. Hei, kau?!”

Yang berdiri di luar ternyata Liong It-hiong adanya.

Segera It-hiong mendorong pintu dan menyelinap ke dalam, ucapnya dengan tertawa tertahan, “Di luar dugaanmu, bukan?”

Thian-tik menyurut mundur dan memandang It-hiong dengan melenggong, tanyanya dengan tidak mengerti, “Cara … cara bagaimana kau masuk kemari?”

It-hiong membalik tubuh dan merapatkan daun pintu, lalu menjawab dengan tersenyum, “Untuk masuk ke Liong-coan-ceng ini tidaklah sulit, untuk memasuki Cui-ci-kiong itulah yang tidak gampang.”

“Tadi yang berteriak tangkap maling di luar sana adalah engkau?” tanya Thian-tik.

It-hiong menggeleng, “Bukan, yang berteriak itu orang lain lagi. Dia sangat bodoh, begitu masuk kampung lantas kepergok.”

“Siapakah dia?” tanya Thian-tik.

“Tidak kukenal, dia seorang kakek botak, memakai baju kulit macan tutul,” tutur It-hiong.

“O, dia Kim-ci-pa (si macan tutul) Song Goan-po,” kata Sun Thian-tik.

“Ahh, kiranya dia,” tergetar juga hati It-hiong. “Mengapa tidak terpikir olehku akan dia?!”

“Jadi dia juga masuk ke perkampungan ini?” tanya Thian-tik.

“Tidak,” jawab It-hiong. “Dia serupa Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin, begitu masuk lantas kabur lagi karena suara bende.”

Kening Sun Thian-tik bekernyit, “Hm, tajam juga berita mereka, ternyata semuanya sudah tahu …. Eh, waktu kau masuk kemari, apakah tidak dilihat orang?”

“Tidak,” jawab It-hiong.

“Untuk apa kau datang kemari?”

It-hiong tersenyum, “Sudah tahu kenapa Sun-tayhiap sengaja bertanya pula?”

“Jika begitu, untuk urusan apa kau cari diriku?” desak Thian-tik.

“Kuharap akan dapat bekerja sama denganmu,” jawab It-hiong. “Kita dapat masuk ke Cui-ci-kiong bersama dan menaklukkan Wi Ki-tiu, lalu memaksa Hui Giok-koan mengaku di mana di menyimpan kotak pusaka hitam itu.”

“Dan bagaimana setelah berhasil mendapatkan kotak pusaka itu?” tanya Thian-tik.

“Boleh kita main catur lagi untuk menentukan siapa yang berhak memiliki kotak hitam itu,” jawab It-hiong.

“Hm, jangan mimpi,” jengek Thian-tik sambil menggeleng. “Betapa pun tidak nanti kumain catur lagi denganmu.”

It-hiong tersenyum, “Jika begitu, boleh juga kita menentukan kalah-menang dengan cara lain. Pendek kata, menurut pendapatku, jika ingin merampas kembali kotak pusaka itu, tiada jalan lain kecuali untuk sementara ini harus bekerja sama denganmu.”

Thian-tik berpikir sebentar, akhirnya mengangguk setuju, “Boleh juga, biarlah kita bergabung dulu untuk menghadapi Wi Ki-tiu ….”

Ia menuding Long-giok, lalu menyambung dengan tertawa, “Dia termasuk satu di antara ketujuh jelita simpanan Wi Ki-tiu, namanya Long-giok.”

“Ya, kutahu,” ujar It-hiong.

“Oo, kau tahu? Sudah sejak tadi engkau mengintip kami?” tanya Thian-tik.

“Betul,” It-hiong mengaku. “Mestinya aku ingin mengintip keadaan Hui Giok-koan bersama Lik-cu, cuma kamar mereka terletak di tengah kamar wisma tamu ini dan sukar untuk diintip, terpaksa aku mengintip kalian di sini.”

Lalu ia menyambung lagi dengan tersenyum, “Rezekimu sungguh tidak jelek mendapatkan cewek semolek ini.”

“Sontoloyo! Matamu bisa lamur kalau suka intip sana-sini,” omel Thian-tik dengan kikuk.

It-hiong tergelak tertahan, katanya, “Sudahlah, jangan omong iseng lagi. Mungkin Hui Giok-koan sudah tertawan ke dalam Cui-ci-kiong, mari kita lekas ke bawah sana.”

Sun Thian-tik lantas membalik ke sana untuk mengangkat Long-giok, lalu mendekati dinding sebelah kanan, tanyanya, “Ketuk bagian mana?”

“Tepat di depanmu ini,” kata Long-giok.

Segera Thian-tik mengetuk tiga kali pada tempat yang dimaksud, benar juga, perlahan dining lantas bergeser ke atas dan muncul sebuah lubang masuk, ia coba melongok ke dalam, terlihat sebuah lorong dengan undak-undakan batu yang menjurus ke bawah.

“Masa tidak ada alat perangkap di bawah?” tanya Thian-tik pula.

“Tidak ada,” jawab Long-giok.

Sun Thian-tik lantas berpaling dan berkata kepada It-hiong, “Gerak-gerikku tidak bebas karena membawa dia, bagaimana jika engkau yang menjadi pembuka jalan di depan?”

“Boleh,” jawab It-hiong tanpa pikir. Segera ia mendahului melangkah ke bawah sana.

Jalan rahasia itu sangat sempit, hanya cukup untuk dilalui dua orang yang bersimpangan, namun penerangan cukup, setiap beberapa langkah tentu ada sebuah lampu gelas sehingga keadaan tertampak dengan jelas.

Liong It-hiong mendahului menuruni undak-undakan batu itu, dilihatnya di depan melintang sebuah lorong yang berliku-liku, sedangkan dinding lorong itu semuanya dipahat dari batu, sejauh mata memandang ke sana tertampak halus licin dan menyilaukan mata.

Ia berhenti di undakan dan melihat ke kanan-kiri lorong yang melintang itu, tidak sesosok bayangan pun terlihat, ia coba menoleh dari tanya Long-giok dengan suara tertahan, “Menuju ke jurusan yang mana?”

“Lurus ke depan,” jawab Long-giok.

“Lurus ke depan?” It-hiong menegas dengan melenggong. “Kan menumbuk dinding?”

“Cui-ci-kiong justru terletak di balik dinding besar itu,” kata Long-giok.

“Tapi di mana letak pintunya?” tanya It-hiong pula.

“Tepat di depan situ, pencet saja tombolnya dan segera pintu akan terbuka,” tutur Long-giok.

Segera It-hiong melangkah ke sana, hanya lima-enam langkah saja sudah sampai di depan dinding batu besar itu.

“Sun-tayhiap!” tiba-tiba Long-giok berkata.

“Ehm, ada apa?” tanya Sun Thian-tik.

“Maukah engkau bersumpah?” kata Long-giok pula.

Keruan Sun Thian-tik melengak, “Sumpah apa maksudmu?”

“Bersumpah bahwa engkau berjanji akan membawaku kabur meninggalkan Liong-coan-ceng ini, bahkan akan menerimaku untuk tinggal bersamamu,” ucap Long-giok.

Sejenak Sun Thian-tik tertegun, katanya kemudian, “Boleh saja membawamu meninggalkan tempat ini, tapi mengapa harus kuterima dirimu untuk tinggal bersamaku?”

“Sebab engkau sudah ada pergaulan tubuh denganku, bila … bila engkau tidak menolak, biarlah kuikut padamu selama hidup,” kata si nona.

Thian-tik merasa ragu, ucapnya, “Apakah maksudmu minta kukawini dirimu?”

“Jika engkau keberatan juga tidak menjadi soal, cukup asalkan aku diperbolehkan ikut padamu,” ujar Long-giok.

“Wah, jika begitu, apa bedanya dengan mengawinimu?” kata Thian-tik.

“Kan banyak orang lelaki tidak suka kawin secara resmi, tapi ingin mempunyai seorang pacar tetap, maka biarlah kujadi pacarmu yang tetap dan tidak perlu menjadi istrimu. Dengan demikian engkau takkan punya beban pikiran.”

Sun Thian-tik merasa tertarik oleh tawaran si nona, katanya dengan tertawa, “Ehm, cara demikian terasa bagus. Aku memang tidak suka beristri, hanya suka mempunyai seorang pacar tetap.”

“Jadi kau mau?” tanya Long-giok.

“Baiklah,” jawab Thian-tik.

“Jika begitu, ayolah bersumpah.”

“Kenapa perlu bersumpah segala?”

“Setelah bersumpah barulah kuberi tahukan apa sebabnya.”

Kembali Thian-tik tertawa, katanya, “Baik. Aku Sun Thian-tik bilamana ucapan tidak sesuai dengan tindakan, tidak membawamu kabur meninggalkan tempat ini dan tidak menerimamu untuk tinggal bersamaku, biarlah malaikat dewata menghukumku mati tanpa terkubur.”

“Bagus sekali!” sorak Long-giok dengan gembira.

“Nah, sekarang coba beri tahukan sebab apa kau minta aku bersumpah?”

“Masa engkau belum lagi paham?” tukas Liong It-hiong dengan tertawa.

“Ya, aku belum paham,” jawab Thian-tik.

“Dia minta engkau menyatakan perasaanmu dengan setulusnya, habis itu baru mau membawamu ke dalam Cui-ci-kiong,” kata It-hiong.

Thian-tik tertawa, “Ai, dasar perempuan, suka curiga.”

Long-giok tersenyum, “Habis, aku khawatir dibohongi.”

“Baiklah, sekarang lekas katakan cara bagaimana untuk bisa masuk ke Cui-ci-kiong,” kata Sun Thian-tik.

“Di sini ada dua pintu tembus,” tutur Long-giok. “Yang satu dapat mengejutkan Wi Ki-tiu, pintu yang lain tidak. Nah, coba katakan, kalian suka melalui pintu yang mana?”

“Dengan sendirinya melalui pintu yang takkan mengejutkan Wi Ki-tiu,” ujar Sun Thian-tik cepat.

“Jika begitu, di kaki dinding sana ada dua buah tombol, pencet saja tombol sebelah, dengan demikian dapatlah masuk ke Cui-ci-kiong tanpa di ketahui setan sekalipun.”

Segera It-hiong berjongkok untuk mencari tombol yang dimaksud, benar juga dilihatnya di kaki dinding ada dua alat sebesar kacang menempel di situ berjajar, segera ia gunakan jari untuk memencet tombol yang sebelah kiri.

Maka terdengarlah suara “krek” perlahan, sepotong batu sepanjang enam kaki dan selebar empat kaki lantas berputar dan akhirnya terbentang sebuah pintu rahasia.

Di balik pintu rahasia ini ternyata adalah sebuah kamar tidur yang sangat indah dengan berbagai macam perabot yang mewah.

“Ayolah masuk saja!” kata Long-giok.

“Ssst, di dalam kamar tidak ada orang?” desis It-hiong.

“Ya, tidak ada,” tutur Long-giok. “Inilah kamarku sendiri, kecuali diriku tidak ada orang lain.”

It-hiong coba melongok dulu ke dalam, setelah jelas tidak ada orang di dalam kamar barulah ia melangkah ke situ.

Sambil memondong Long-giok cepat Thian-tik ikut masuk, melihat keindahan kamar tidur ini, ia tertawa, katanya, “Ingat, selanjutnya jika engkau ikut diriku, tidak mungkin lagi akan mendiami kamar sebagus ini.”

“Asalkan ada orang benar-benar suka padaku, biarpun tinggal di rumah gubuk atau di bawah jembatan juga kurela,” jawab Long-giok.

Lalu ia berkata juga kepada Liong It-hiong, “Di sebelah kiri ada sebuah tombol lagi, jika kau tekan tombol tersebut segera pintu akan menutup sendiri.”

It-hiong melakukannya sesuai keterangan si nona, benar juga perlahan pintu lantas merapat kembali seperti semula, hampir sukar dicari celah-celahnya.

Sekeliling kamar itu juga dinding batu besar, tapi tidak berarti tertutup rapat sama sekali tak tertembus angin, sebab di kanan-kiri dinding ada lubang angin yang dirancang secara bagus sehingga sedikit pun tidak terasa sumpek.

Sun Thian-tik menaruh Long-giok di tempat tidur yang terbuat dari gading, lalu bertanya, “Inikah yang dimaksud Cui-ci-kiong?”

“Ini hanya sebuah kamar di antara istana kristal dalam air yang dimaksud,” tutur Long-giok. “Selain ini masih ada lagi sembilan buah kamar besar seperti ini dan sebuah ruangan bulat yang sepuluh kali luasnya daripada kamar ini, ruangan bulat itulah yang disebut Cui-ci-kiong.”

“Keparat!” maki Sun Thian-tik. “Untuk membangun istana kristal air ini tentu tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh Wi Ki-tiu.”

“Menurut pengakuannya, biaya bangunan istana kristal ini menghabiskan dua puluh laksa tahil perak,” tutur Long-giok.

“Mengapa dia sengaja hidup nikmat dengan bersembunyi di ruang bawah tanah?” tanya Liong It-hiong.

“Sebab dia tidak ingin orang lain mengetahui cara hidupnya, ia cuma menghendaki orang kenal dia sebagai seorang bajik, seorang dermawan,” kata Long-giok.

“Cara bagaimana bisa masuk ke ruangan bulat itu?” tanya It-hiong pula.

“Pintunya terletak di depanmu situ, cuma engkau hanya dapat membukanya satu celah saja dengan perlahan, sebab saat ini Wi Ki-tiu lagi berada di ruangan itu,” tutur si nona.

Sun Thian-tik mendekati dinding yang dimaksud dan coba memeriksanya dengan teliti, benar juga, dilihatnya di kaki dinding ada celah-celah sebuah pintu, di sebelah kirinya ada sebuah pegangan pintu terbuat dari perunggu dan berbentuk melengkung, ia coba pegang dan ditarik perlahan. Namun tidak bergerak sedikit pun.

“Diputar ke kanan dulu, habis itu baru ditarik,” kata Long-giok.

Sun Thian-tik menurut petunjuk itu, diputarnya pegangan pintu itu, lalu ditarik, benar juga, pintu lantas bergerak, dengan perlahan ditariknya menjadi sebuah celah-celah, lalu mengintip ke sana, seketika tertampaklah segala apa yang dilukiskan Long-giok tadi.

Memang benar, di balik pintu adalah sebuah ruangan bulat yang sangat besar.

Luas ruangan ini sedikitnya adalah sepuluh tombak, tinggi tiga tombak, atapnya berbentuk kubah penuh dihiasi daun-daun warna emas sehingga mirip kulit kura-kura, pada ujung tengah bagian yang paling tinggi tergantung sebuah lampu kristal sebesar gantang dengan hiasan sembilan biji mutiara yang bercahaya menyilaukan mata dan menerangi seluruh ruangan sehingga serupa siang hari.

Sedangkan dinding batu sekeliling ruangan banyak bergantungan patung bersepuh emas, semuanya patung manusia telanjang, baik lelaki maupun perempuan dengan macam-macan gaya yang menarik, sekali orang memandangnya segera akan timbul pikiran yang bukan-bukan.

Persis di tengah-tengah ruangan benar juga terdapat sebuah kolam mandi berbentuk bulat juga, air kolam kelihatan menguap, jelas sumber air panas yang mengalir dari tempat lain.

Pada saat itu Wi Ki-tiu dan lima orang perempuan cantik tampak sedang mandi di dalam kolam.

Dia dan kelima gadis cantik itu sama telanjang bulat, telanjang bulat seorang lelaki tentu saja tidak menarik bagi Sun Thian-tik, berbeda dengan kelima gadis cantik itu, semuanya sangat menggiurkan, terlihat semuanya berdada padat dan berpinggang ramping, kulit putih bersih serupa salju, sungguh pemandangan yang menakjubkan dan sukar dicari.

Diam-diam Sun Thian-tik menarik napas, ia berpaling dan mendesis kepada Liong It-hiong, “Buset! Coba lihat sini, tua bangka ini sungguh pintar menikmati hidupnya.”

Liong It-hiong coba mendekat ke sana dan ikut mengintip, segera ia pun dapat melihat pemandangan yang memesona itu, tentu saja ia pun terangsang, desisnya, “Wah, memang luar biasa. Bilamana aku dapat ikut berendam bersama mereka di sana, sungguh mati pun aku tidak menyesal.”

Sun Thian-tik coba menarik sedikit lagi daun pintu itu, maka tertampaklah adegan pemandangan lain, ia memberi tanda kepada Liong It-hiong dan mendesis lagi, “Coba lihat, Hui Giok-koan sedang tersiksa di situ.”

Waktu It-hiong mengintip ke sana, betul juga, dilihatnya kedua tangan dan kedua kaki Hui Giok-koan sama terikat dan digantung terjungkir tepat di pojok atas kolam mandi itu.

Hui Giok-koan juga telanjang bulat dan tergantung terbalik oleh seutas tambang sehingga kelihatannya sangat lucu.

Malahan Lik-cu tepat berdiri di bawahnya dengan memegang cambuk, agaknya siap untuk menghajarnya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Wi Ki-tiu yang berendam di kolam mandi itu bersuara, “Nah, Hui Giok-koan, sudah kau pertimbangkan atau tidak?”

Kontan Hui Giok-koan mencaci maki, “Wi Ki-tiu, engkau keparat, jahanam, maknya dirodok, pada hakikatnya aku tidak tahu-menahu tentang kotak pusaka apa segala, apalagi memperolehnya. Harus cara bagaimana baru engkau mau percaya kepadaku?”

“Hahahaha!” Wi Ki-tiu terbahak-bahak, “Berita yang kuperoleh sangat dapat dipercaya, bila malam ini engkau tidak mengaku terus terang di mana kau sembunyikan kotak pusaka itu, maka terpaksa ku ….”

“Mau bunuh atau mau kau cencang boleh terserah padamu, tidak perlu banyak bacot!” teriak Hui Giok-koan dengan murka.

“Hehe, apa betul?” ejek Wi Ki-tiu dengan menyeringai.

Dengan mengertak gigi Hui Giok-koan berucap sekata demi sekata, “Apabila Hui-toaya sampai bekernyit kening sedikit saja, jangan kau panggil aku Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan!”

“Bagus!” seru Wi Ki-tiu sambil memberi tanda kepada Lik-cu agar mencambuk, “Justru ingin kulihat betapa daya tahanmu.”

Karena mendapat isyarat, serentak Lik-cu mundur setindak, cambuk yang dipegangnya terus berayun dan menyabet, “tarrr”, tubuh Hui Giok-koan lantas terbelit oleh cambuk.

Susul-menyusul cambuk Lik-cu bekerja pula, “tar, tar, tarrr!”

Namun Hui Giok-koan tidak bersuara sana sekali, apalagi merintih.

“Lik-cu, memangnya engkau lagi menggelitiknya?” ucap Wi Ki-tiu perlahan.

Cepat Lik-cu menyabet sekerasnya, sekaligus ia memecut belasan kali sehingga sekujur badan Hui Giok-koan babak belur, darah segar pun mengucur.

Siapa tahu Hui Giok-koan benar-benar kepala batu, ia tetap mengertak gigi dan bertahan sekuatnya, sedikit pun tidak mengeluh dan merintih, kening pun tidak bekernyit, apalagi menjerit.

“Hajar terus!” ucap Wi Ki-tiu dengan tak acuh.

Cambuk Lik-cu lantas bekerja berulang-ulang, terdengar suara “tar-tar” yang tiada hentinya serupa bunyi mitraliur.

Hanya sebentar saja tubuh Hui Giok-koan tiada satu bagian pun yang utuh. Darah segar bertetesan serupa air hujan.

Mendadak Lik-cu berhenti menghajar orang, katanya, “Loya, dia jatuh pingsan!”

“Ambil sebaskom air dingin dan siram dia,” perintah Wi Ki-tiu.

Mulutnya memberi perintah, tangannya juga tidak menganggur dan main gerayang sini dan remas sana di tubuh kelima gadis jelita. Rupanya cara gerayang dan remas Wi Ki-tiu itu memang sadis sehingga kelima gadis itu sama menjerit dan berteriak sembari berusaha mengelak kian kemari dengan belingsatan.

Dalam pada itu Lik-cu telah mendekati kolam dan menciduk sebaskom air, lalu dibawa kembali ke samping Hui Giok-koan, ia merandek sejenak, akhirnya air itu disiramkan ke muka Hui Giok-koan.

Perlahan Hui Giok-koan siuman dan membuka mata.

“Hui Giok-koan,” kata Wi Ki-tiu, “sungguh bodoh kau. Meski kotak itu sangat berharga, tapi jiwamu kan terlebih berharga. Jika jiwamu melayang, memangnya kotak itu akan kau bawa serta ke neraka?”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Nah, akan kukatakan sekali lagi. Asalkan kau katakan di mana kau sembunyikan kotak itu, sebagai imbalannya akan kuberikan Liong-coan-ceng ini kepadamu. Coba pikirkan, mau tidak?”

Dengan geregetan Hui Giok-koan menjawab, “Hm, jangan kau mimpi pada siang hari bolong, biarpun mati juga takkan kuserahkan kotak pusaka itu.”

“Hahahaha! Bagus!” seru Wi Ki-tiu dengan terbahak. “Akhirnya kau mengaku juga mempunyai sebuah kotak pusaka. Sekarang kuberi lagi kesempatan berpikir bagimu, hendaknya direnungkan dengan baik.”

Habis bicara kembali ia melancarkan “serangan” terhadap kelima gadis jelita tadi dan bergumul menjadi satu dengan mereka.

Mengintip sampai di sini, Liong It-hiong saling pandang sekejap dengan Sun Thian-tik, wajah mereka sama mengunjuk rasa kikuk.

“Neneknya,” desis Sun Thian-tik. “Bangsat tua Wi Ki-tiu ini sungguh berengsek.”

It-hiong juga berbisik dengan tertawa, “Orang she Hui itu pun kepala batu benar. Jika aku jadi dia, sejak tadi aku sudah menyerah dan minta ampun.”

“Dan cara bagaimana hendak kau turun tangan?” tanya Thian-tik.

“Tunggu lagi sebentar dan lihat dulu, mungkir Wi Ki-tiu akan menggunakan siksaan lain untuk memeras Hui Giok-koan, aku tidak percaya dia mampu bertahan lagi,” jawab It-hiong.

“Ya, begitu dia mengatakan tempat sembunyi kotak pusaka itu, diam-diam kita lantas kabur dulu keluar Liong-coan-ceng dan mengambil kotak itu.”

“Betul,” It-hiong mengangguk.

“Bagus, coba kita mengintip lagi,” ujar Sun Thian-tik. “Wah, coba lihat, apa yang sedang dilakukan Wi Ki-tiu? Neneknya, bangsat tua ini sungguh sadis, kotor dan rendah!”

Waktu It-hiong mengintip lagi, jantungnya berdetak keras juga, desisnya, “Pantas Long-giok ingin melepaskan diri dari cengkeramannya, kiranya tua bangka mempunyai hobi yang sama sekali berbeda dengan orang biasa.”

“Hm, barangkali dia sudah tidak mampu lagi atau nafsu besar tapi tenaga kurang, terpaksa mencari kepuasan dengan tangan ….”

It-hiong menoleh dan memandang sekejap Long-giok yang berbaring di tempat tidur, lalu menyenggol Thian-tik dengan tangan sambil bertanya dengan suara tertahan, “Apakah benar hendak kau bawa pergi dia?”

Sun Thian-tik seperti ragu, ia balas tanya, Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Entah, aku tidak tahu,” jawab It-hiong. “Hanya saja, jika dia memang mau mengikutmu dengan setulus hati, apa salahnya kau terima dia.”

“Namun dia adalah perempuan bebas Wi Ki-tiu, mana boleh kupakai sepatu bekas orang lain?” ujar Thian-tik.

“Bukan begitu soalnya,” kata It-hiong. “Seorang asalkan hatinya, jiwanya suci bersih, yang lain boleh tidak perlu dipikirkan. Seperti kata orang, lebih baik mengambil pelacur sebagai istri, tapi tangan sekali-kali mengambil istri untuk dijadikan pelacur.”

Hati Sun Thian-tik rada tergerak, katanya, “Menurut pandanganmu, apakah dia berhati tulus terhadapku?”

It-hiong mengangguk, “Kukira ada, kalau tidak, mengapa kesempatan baik sekarang tidak digunakannya untuk berteriak minta tolong?”

Thian-tik merasa ucapan It-hiong cukup masuk akal, katanya, “Baik, asalkan hatinya tulus, nanti akan kubawa pergi dia.”

Begitulah kedua orang berbicara dengan perlahan, sampai di sini, terdengar Wi Ki-tiu yang masih bercanda dengan kelima gadis itu tiba-tiba berkata pula, “Nah, bagaimana Hui Giok-koan?”

Yang ditanya hanya tutup mulut saja bersuara.

Muka Wi Ki-tiu tampak berubah bengis, jengeknya, “Hm, kesabaranku tentu juga ada batasnya, jika kau kira akan mampu bertahan, biarlah kuberikan lagi kesempatan padamu untuk mencicipi rasanya air asin.”

Selesai berucap, kembali ia memberi tanda kepada Lik-cu.

Lik-cu lantas membuang cambuknya dan mendekati kolam mandi, dituangnya isi ember tadi, lalu ditimbanya lagi seember penuh air hangat, kemudian mengeluarkan sebungkus garam dan dituang ke air hangat.

Sesudah mengaduk garam itu sehingga larut di dalam air hangat, lalu ia berseru kepada salah seorang gadis cantik di dalam kolam, “Hui-hong, coba naik kemari untuk membantuku.”

Gadis yang bernama Hui-hong mengiakan, dengan badan telanjang ia keluar dari kolam dan membantu Lik-cu menggotong ember air garam itu ke bawah Hui Giok-koan yang tergantung itu.

“Wah, sungguh luar biasa,” ucap Thian-tik dengan lirih.

“Ya, sungguh keji amat!” desis It-hiong.

“Tidak, yang kumaksudkan adalah gadis yang bernama Hui-hong itu,” kata Thian-tik. “Coba kau lihat, dia berjalan kian kemari di depan orang banyak dengan telanjang bulat, sedikit pun tidak merasa malu.”

“Mungkin dia sangat jarang mendapat kesempatan untuk berbaju, kalau sudah kulino kan menjadi biasa,” ujar It-hiong dengan tersenyum.

Sun Thian-tik menjilat-jilat bibir dan berkata, “Cuma, dia memang sangat molek, serupa bunga teratai yang basah.”

“Eh, lihat, mereka sedang melepaskan Hui Giok-koan,” kata It-hiong.

Terlihatlah Lik-cu sedang membuka tali yang menggantung Hui Giok-koan itu dan dikerek turun dengan perlahan, akhirnya sekujur badan Hui Giok-koan terbenam dalam air garam.

Karena sekujur badan babak belur, bahkan darah pun masih mengucur, sekarang direndam dengan air garam, keruan dapat dibayangkan betapa perihnya. Terdengarlah Hui Giok-koan menjerit ngeri, suaranya menyayat perasaan orang yang mendengarnya.

“Keluarkan, keluarkan aku! Akan … akan kukatakan!” seru Giok-koan dengan suara terputus-putus.

Segera Lik-cu menarik tali dan mengereknya lagi ke atas, ucapnya dengan tertawa, “Jika begitu, ayolah lekas mengaku!”

Seluruh tubuh Hui Giok-koan serasa disengat tawon, saking sakitnya sampai mengejang dan mengerang tiada hentinya, seketika sukar baginya untuk bicara.

“Lik-cu,” kata Wi Ki-tiu, “siram dia dengan air tawar!”

Lik-cu mengiakan, diciduknya lagi sebaskom air hangat di kolam, lalu disiramnya tubuh Hui Giok-koan, katanya dengan tertawa, “Nah, tentu agak enak sedikit!”

Karena air garam sudah terguyur, benar juga penderitaan Hui Giok-koan agak berkurang, ia menghela napas, katanya, “Orang she Wi, ingat saja utangmu ini!”

“Baik, akan selalu kuingat dengan baik dan setiap saat kutunggu kedatanganmu untuk menuntut balas,” ucap Wi Ki-tiu dengan tertawa. “Nah, sekarang lekas katakan, di mana kau simpan kotak pusaka itu.”

“Tidak dapat kukatakan, tapi dapat kubawamu ke sana,” ujar Giok-koan.

“Apa maksudmu?” tanya Wi Ki-tiu dengan melengak.

“Artinya aku belum lagi mau mati,” jawab Hui Giok-koan.

“Kujanji takkan membunuhmu, boleh kau katakan saja di sini,” ujar Wi Ki-tiu.

“Tidak!” jawab Giok-koan tegas.

“Hm, meski kau bawaku ke sana, apakah dengan demikian engkau tidak perlu mati?” jengek Wi Ki-tiu. “Jika hendak kubunuhmu, sesudah mendapatkan kotak pusaka itu tetap dapat kubunuhmu.”

“Untuk itu sedikitnya aku masih dapat hidup beberapa hari lagi,” kata Giok-koan. “Setiap orang bilamana menghadapi jalan buntu, kalau bisa hidup lebih lama beberapa hari kan juga baik.”

“Selamanya aku bicara satu tidak pernah berubah menjadi dua,” kata Wi Ki-tiu. “Jika sudah kukatakan takkan membunuhmu pasti takkan kubunuhmu. Engkau tidak perlu khawatir.”

“Tidak, tidak bisa,” kata Giok-koan. “Pendek kata, aku cuma dapat membawamu ke sana, tapi tidak dapat kukatakan.”

“Berapa jauhnya dari sini?” tanya Wi Ki-tiu dengan ragu.

“Jika menumpang kereta diperlukan tujuh-delapan hari,” tutur Giok-koan.

“Wah, kukira agak repot,” ujar Wi Ki-tiu. “Jangan-jangan di tengah perjalanan ada orang akan menolongmu, kan bisa runyam.”

“Tidak ada orang yang mau turun tangan menolongku,” kata Giok-koan.

“Ah, sukar diramalkan, saat ini tidak sedikit orang yang sedang mengincar kotak pusaka itu,” ujar Wi Ki-tiu.

“Boleh kau bawaku pergi secara diam-diam, kan tidak akan diketahui orang luar?” kata Giok-koan. “Andaikan diketahui satu-dua orang, dengan kehebatan Kungfumu masakah khawatir tidak dapat menghadapinya?”

“Tidak, aku tak mau mengambil risiko begitu,” ujar Wi Ki-tiu sambil menggeleng. “Lebih baik kau katakan saja tempatnya, biar kupergi mengambilnya sendiri.”

Hui Giok-koan tersenyum getir, “Jika engkau berkeras demikian, apa yang dapat kukatakan lagi?”

“Jadi tidak mau kau katakan?” Wi Ki-tiu menegas dengan sorot mata tajam.

“Apa boleh buat, bila perlu boleh kau bunuh aku saja,” jawab Hui Giok-koan tegas.

“Hm, tidak seenak itu,” jengek Wi Ki-tiu. “Apakah kau tahu apa tindakan keji selanjutnya yang akan kulaksanakan?”

“Terserah padamu,” jawab Giok-koan dengan nekat.

“Baik. Lik-cu, lepaskan dia keluar!” seru Wi Ki-tiu.

Lik-cu mengiakan dengan tertawa, lalu mendekati dinding sana serta menekan sekali pada dinding itu.

Seketika dinding itu berputar dan terbuka sebuah pintu rahasia, Lik-cu melangkah masuk ke sana, tidak lama kemudian ia putar balik lagi.

Tapi di belakangnya ternyata ikut merayap keluar seekor buaya raksasa yang kelihatan sangat menakutkan.

Liong It-hiong menarik napas dingin, pikirnya dengan kaget, “Buset! Ternyata dia memiara seekor buaya sebesar ini di Cui-ci-kiong ini!”

Setelah memandu keluar buaya besar itu, Lik-cu lantas memegang lagi cambuknya dan disabetkan ke udara, “tarrr”, cambuk berbunyi nyaring.

Agaknya buaya itu sudah terlatih baik, seketika ia berhenti di tempat tanpa bergerak lagi.

Dengan tertawa Wi Ki-tiu berkata, “Buaya piaraanku ini sudah beberapa hari tidak kuberi makan, tentu dia sedang kelaparan sekali,” kata Wi Ki-tiu dengan tertawa.

Muka Hui Giok-koan tampak pucat pasi, jelas sangat ketakutan.

Segera Wi Ki-tiu menyambung lagi, “Tapi buaya ini juga sudah lama terlatih dengan baik, jika kuperintahkan dia menggigit sekali, tidak nanti dia menggigit dua kali. Bila kusuruh dia menggigit pahamu, tidak mungkin dia menggigit tanganmu. Nah, Lik-cu, pertunjukkan kepadanya!”

Rupanya Lik-cu sudah biasa menjadi pawang buaya, segera ia angkat cambuknya dan berbunyi “tar-tar” dua kali.

Seketika buaya itu menggelinding satu kali di lantai.

“Tar-tarr”, cambuk berbunyi lagi dan kontan buaya berguling pula satu kali.

“Tar-tar-tarrr”, cambuk berbunyi tiga kali, mendadak buaya itu menengadah dan membuka mulutnya lebar-lebar dengan lagak buas hendak mencaplok mangsanya.

Keruan Hui Giok-koan ketakutan setengah hati, sukma pun seakan-akan terbang meninggalkan raganya, sekujur badan sama bergemetar hebat.

“Hahahaha!” Ki-tiu tertawa senang. “Nah, coba pikirkan lagi. Jika engkau tetap bandel dan tidak mau mengaku, segera akan kuberi perintah!”

Meski ketakutan dan keringat dingin memenuhi jidatnya, namun Hui Giok-koan tetap diam saja.

Wi Ki-tiu menarik muka, bentaknya mendadak, “Baik, suruh ganyang dulu anunya!”

“Tar-tar-tar-tarrr”, kontan Lik-cu membunyikan cambuknya empat kali.

Seketika kepala buaya terangkat lebih tinggi dan hampir mencapai selangkangan Hui Giok-koan, jika moncongnya terjulur lagi sedikit ke atas, alat vital Hui Giok-koan pasti akan diganyang mentah-mentah.

Saking ketakutan akhirnya Hui Giok-koan berteriak, “Ya, sudahlah! Akan kukatakan, lekas mengenyahkan dia!”

“Sekarang dia tidak akan menggigitmu sebelum kuberi perintah lebih lanjut,” ucap Wi Ki-tiu. “Nah, coba katakan lekas!”

“Setelah kukatakan harus segera kau bebaskan kupergi,” kata Hui Giok-koan.

“Hah, masih pakai tawar-menawar segala?!” jengek Wi Ki-tiu. “Tidak, tidak bisa. Jika sembarangan kau sebut suatu tempat dan aku tertipu kian kemari secara sia-sia, kan runyam. Maka harus menunggu setelah benar kudapatkan kotak hitam itu barulah akan kubebaskan dirimu.”

Dengan mendongkol Hui Giok-koan berkata, “Tempat simpanan kotak itu sangat jauh letaknya, pergi pulang dari sini diperlukan waktu setengah bulan, memangnya akan kau gantung diriku selama setengah bulan?”

“Tidak, takkan terjadi demikian, dapat kukurung dirimu di suatu kamar rahasia,” kata Wi Ki-tiu tertawa.

“Bilamana kotak itu sudah kau dapatkan dan nanti kau ingkar janji tidak mau membebaskan diriku, engkau ini adalah anak haram piaraan biang anjing, jadi?!” tanya Giok-koan.

“Boleh, jadi!” jawab Wi Ki-tiu sambil bergelak tertawa.

“Kotak pusaka itu kusembunyikan di bawah Jian-swe-siong (cemara seribu tahun) di Cong-beng-to, boleh kau ambil ke sana,” tutur Giok-koan akhirnya.

“Kutahu Cong-beng-to, tapi Jian-swe-siong itu barang macam apa?” tanya Wi Ki-tiu.

“Namanya Jian-swe-siong, dengan sendirinya menandakan pohon cemara yang teramat tua, setiap orang yang tinggal di pulau Cong-beng itu sama tahu di mana letak pohon raksasa itu,” jawab Giok-koan.

“Kotak itu kau tanam di bawah pohon?” Wi Ki-tiu menegas.

“Tidak, kusembunyikan di dalam lubang batang pohon,” tutur Giok-koan.

“Tidak sampai ditemukan orang lain?” tanya Wi Ki-tiu.

“Tidak mungkin,” kata Giok-koan. “Tempat itu dekat pantai, sekeliling pohon adalah batu karang belaka, suatu tempat yang jarang didatangi manusia.”

“Keteranganmu ini tidak dusta?” tanya pula Wi Ki-tiu.

“Jiwaku berada dalam cengkeramanmu, apa gunanya berdusta?”

“Baik, apabila kotak hitam itu tidak kutemukan, nanti akan kusuruh buaya ini makan dagingmu sehari sepotong,” jengek Wi Ki-tiu.

“Kapan engkau akan berangkat?” tanya Giok-koan tiba-tiba.

“Tunggu nanti setelah Sun Thian-tik pergi,” jawab Ki-tiu.

Mendengar sampai di sini, cepat Liong It-hiong memberi tanda agar Sun Thian-tik merapatkan pintu dan membisikinya, “Sun-tayhiap, lekas kau bawa Long-giok kembali ke kamarmu.”

Thian-tik melengak, tanyanya lirih, “Untuk apa lagi membawanya kembali ke kamar? Kan sekarang juga dapat kita angkat kaki dari sini?”

“Tidak, kita takkan pergi sekarang, harus tinggal sementara dulu di sini untuk menolong orang,” desis It-hiong.

Tentu saja Sun Thian-tik heran dan bingung, “Apa artinya ini?”

“Jangan tanya dulu, sebentar akan kujelaskan,” kata It-hiong. “Sekarang lekas kau bawa dia kembali ke kamar, sangat mungkin Wi Ki-tiu akan mendatangi kamarmu untuk memeriksa gerak-gerikmu.”

Meski penuh diliputi rasa sangsi, tahu juga Sun Thian-tik bahwa tujuan It-hiong tetap tinggal di situ untuk menolong Hui Giok-koan pasti mempunyai alasan yang kuat. Maka ia tidak berani ayal lagi, cepat ia memondong Long-giok dan membisikinya, “Jangan khawatir, jantung hati, biarlah kita kembali dulu ke kamarku di wisma tamu tadi.”

Dengan bingung Long-giok bertanya dengan lirih, “Sebab apa? Kan Hui Giok-koan sudah mengaku tempat sembunyi kotak pusaka itu, dapatlah kau bawaku pergi dari sini!”

Thian-tik membawa si nona menuju ke pintu rahasia tadi, sembari memencet tombol ia menjawab, “Dengan sendirinya akan kubawamu kabur, cuma tidak sekarang, apa alasannya biar sebentar lagi akan kukatakan padamu.”

Waktu pintu terbuka, cepat ia membawa Long-giok berlari melalui lorong di depan sana.

Segera It-hiong ikut keluar dan menutup kembali pintu rahasia itu serta ikut lari masuk ke lorong.

Hanya sebentar saja mereka bertiga sudah berada kembali di kamar wisma tamu.

It-hiong memeriksa keadaan dalam kamar, dilihatnya cuma di kolong ranjang saja dapat bersembunyi, ia lantas berkata kepada mereka berdua, “Lekas kalian naik ke tempat tidur dan pura-pura tidur, aku pun akan sembunyi di kolong ranjang. Sebentar kalau Wi Ki-tiu sudah memeriksa kemari barulah kita bicara lagi.”

Habis bicara ia terus menyusup ke kolong tempat tidur.

Sun Thian-tik dan Long-giok juga tahu Wi Ki-tiu pasti akan datang mengontrol mereka, cepat mereka membuka baju dan berlagak tidur habis “bekerja berat”.

Long-giok merasa tidak mengerti, dengan suara lirih ia coba tanya, “Mengapa kalian tidak sekarang juga membawa lari diriku?”

“Tidak,” bisik Sun Thian-tik, “Kawanku bilang harus tinggal dulu di sini untuk menolong Hui Giok-koan.”

“Untuk apa menolong dia?” tanya Long-giok tidak paham.

“Aku pun tidak tahu,” ujar Thian-tik. “Cuma dia pasti mempunyai alasan yang kuat, sebentar urusan pasti akan dibereskan olehnya.”

Perlahan ia menepuk bahu si nona dan berkata pula, “Jangan khawatir, pasti akan kubawamu meninggalkan tempat ini. Cuma sebentar kalau Wi Ki-tiu datang kemari hendaknya kau bantu main sandiwara dengan baik, jangan memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan, kalau tidak ….”

Long-giok tersenyum, “Kalau tidak aku akan kau bunuh, begitu bukan?”

Dengan serius Thian-tik menjawab, “Betul. Bila engkau berhati tulus padaku, pasti akan kubawamu melepaskan diri dari cengkeraman iblis tua itu. Tapi kalau engkau cuma pura-pura saja dan cinta palsu, tentu aku pun tidak segan bertindak keras padamu.”

“Engkau jangan khawatir, hamba benar-benar ingin melarikan diri dari sini dan ikut padamu selama hidup,” jawab Long-giok mantap.

“Tadi aku mengintip cara bagaimana Wi Ki-tiu memperlakukan kawan-kawanmu di kolam mandi, caranya itu memang kotor dan sadis, pantas kau ingin minggat dari sini.”

“Dahulu dia memang tangkas dan agresif, tapi akhir-akhir ini sudah keropos serupa kayu dimakan rayap, sebab itulah … ai, kalau kuceritakan sungguh sangat menggemaskan. Pendek kata dia bukan lagi manusia melainkan tiada ubahnya serupa hewan.”

Mendadak Sun Thian-tik mendesis, “Sst, jangan bicara lagi, mungkin dia datang!”

Baru selesai ucapannya, benar juga lantas terdengar suara pintu kamar diketuk orang dari luar.

Cepat Thian-tik menyingkap kelambu dan berseru, “Siapa itu?”

“Aku!” ternyata benar suara Wi Ki-tiu.

Segera Thian-tik melompat turun dan membukakan pintu, sapanya dengan hormat, “Ah, rupanya Wi-cengcu belum tidur?”

Wi Ki-tiu melongok ke dalam kamar, melihat kelambu setengah tersingkap, ia tertawa d berkata, “Ya, aku belum tidur. Habis pulang dan mengontrol keadaan seluruh kampung.”

“Apakah menemukan jejak musuh?” tanya Sun Thian-tik.

“Tidak ada,” jawab Wi Ki-tiu dengan menggeleng. “Kukira sudah lari ketakutan oleh suara bende tadi.”

Lalu ia menuding Long-giok yang tergolek tempat tidur, tanyanya dengan suara tertahan, “Bagaimana dia? Lumayan bukan?”

“Ya,” jawab Sun Thian-tik dengan cengar-cengir. “Tak kusangka di Liong-coan-ceng terdapat cewek secantik itu. Sungguh tidak percuma kunjunganku ini, banyak terima kasih atas pelayananmu.”

Wi Ki-tiu memperlihatkan senyum kikuk, katanya, “Jika Sun-tayhiap cocok dengan dia, apa salahnya tinggal lagi beberapa hari di sini.”

“Wah, tidak, jangan, aku masih banyak pekerjaan, besok juga ingin mohon diri,” cepat Thian-tik menjawab.

Wi Ki-tiu juga tidak menahannya, katanya dengan tertawa, “Jika begitu silakan tidur lagi, maaf jika kuganggu keasyikanmu. Sampai bertemu besok!”

“Sampai bertemu!” jawab Sun Thian-tik sambil memberi hormat.

Dengan tersenyum Wi Ki-tiu lantas tinggal pergi.

Setelah menutup pintu kembali, Thian-tik coba mendengarkan dengan cermat, demi mendengar tingkah tuan rumah sudah keluar wisma tamu barulah ia putar balik ke depan tempat tidur, ucapnya sambil melongok ke kolong ranjang, “Sudah aman, bolehlah kau keluar!”

It-hiong merangkak keluar dari tempat sembunyinya, ucapnya dengan tertawa, “Eh, bila engkau tidak keberatan, bagaimana kalau kita bertiga bicara saja di tempat tidur?”

Setelah menonton mandi telanjang kelima cewek ayu tadi, sebenarnya nafsu berahi Sun Thian-tik jadi terbakar sehingga sangat ingin bergumul lagi dengan Long-giok, maka ucapan Liong It-hiong itu membuatnya kurang senang, tanyanya, “Apakah kita akan bicara sampai pagi?”

“O, tidak, tentu saja tidak,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Begitu selesai kita berunding, segera kuangkat kaki.”

Karena janji ini barulah Sun Thian-tik mengangguk, katanya dengan tertawa, “Baiklah, cuma jangan bicara terlampau lama, sebab aku sudah mengantuk dari ingin istirahat.”

Begitulah mereka lantas naik ke tempat tidur dan duduk, kelambu diturunkan pula.

Long-giok sendiri tidak merasa kikuk, katanya, “Sub-toaya, sekarang engkau kan boleh membuka Hiat-toku?”

“Tidak, belum bisa,” jawab Sun Thian-tik. “Bukan karena aku tidak percaya kepadamu, soalnya kita masih berada di sarang naga dan gua harimau yang berbahaya ini, terpaksa kita harus bertindak lebih hati-hati.”

Lalu ia berpaling terhadap Liong It-hiong dan berkata pula, “Mengapa hendak kau selamatkan Hui Giok-koan?”

“Sebab dia dusta, kotak pusaka itu pasti tidak disembunyikannya di Cong-beng-to,” kata It-hiong.

Thian-tik melengak, “Dari mana kau tahu?”

“Hal ini kutaksir menurut waktu perjalanannya,” tutur It-hiong. “Tempo hari setelah dia berhasil merampas kotak pusaka itu, sampai sekarang baru sepuluh hari. Jika dia membawa kotak itu ke Cong-beng-to, sedikitnya dia perlu buang waktu tiga-empat hari lebih banyak baru bisa sampai di sini. Sebab itulah pengakuannya kotak pusaka disembunyikan di Cong-beng-to pasti tidak betul.”

Baru sekarang Sun Thian-tik paham maksud Liong It-hiong, katanya, “Hah, dia ternyata berani berdusta, apa dia tidak takut pada buaya tadi?”

“Ia sengaja menipu Wi Ki-tiu meninggalkan perkampungannya, habis itu baru berdaya melarikan diri, dengan waktu setengah bulan mungkin ia yakin pasti akan mampu meloloskan diri.”

“Wi Ki-tiu adalah manusia licik dan licin, masakah dia sama sekali tidak menaruh curiga akan muslihat Hui Giok-koan ini?” kata Thian-tik.

Ia sendiri yakin Hui Giok-koan takkan mampu kabur dari Liong-coan-ceng, dengan sendirinya dia tidak perlu sangsi.

“Dan sekarang cara bagaimana akan kau tolong dia?” tanya Sun Thian-tik.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: