Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Perguruan Sejati (18)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:26 pm

Perguruan Sejati (18)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Sebagai seorang murid dari Thian liong bun, Ceng Ceng tak berani membantah pada Siau cu jinnya, lain dengan Tiat Siau Bwee, ia agak bandel. “Disini ada cici Wan Jie yang menjaga, apapun tak perlu dikuatitkan bukan? Apa salahnya mengajak kami berjalan-jalan, melihat keramaian kota Lam Ciong ini?”

“Aku bukan pergi jalan-jalan….”

“Tidak jalan-jalanpun biar, pokoknya soal ikut keluar, diam-diam saja dikamar sanagt membosankan,” bantah Siau Bwee.

“Sudahlah, Wan Jie turut bicara, “engkau sebagai Toako apa salahnya mengajak mereka berjalan-jalan, biar mereka tambah pengalaman. Soal disini biar aku saja yang menjaga, jangan lama-lama saja.”

Atas desakan Wan Jie ini Tiong Giok terpaksa menganggukkan kepala.

Ceng Ceng tidak membuang kesempatan baik, ia minta ketegasan dari Siau cu jinnya, “Bolehkah aku turut juga?” tanyanya perlahan.

“Baiklah, tapi kalian harus dengar kata dan jangan membuat onar diluaran!”

“Baik,” jawab Siau Bwee dan Ceng Ceng hampir berbareng. “Pokoknya asal kita tutup mulut dan diam-diam sudah cukup bukan?”

“Aku tidak melarang kamu membuka mulut, yang penting jangan usilan terhadap urusan diluar.”

Karena ingin diajak segala perkataan Tiong Giok di ya kan terus kedua gadis itu. Mereka segera meninggalkan hotel itu menuju keluar.

Setiap ketemu penginapan, mereka pasti masuk dan menyerap –nyerapi apakah rombongan Yauw Kian Cee sudah tiba apa belum. Entah berapa banyak penginapan yang didatangi, tapi yang dicari belum juga diketemukan. Sungguh begitu mereka tak bosan, mencari dan mencari terus.

Sewaktu mereka memasuki sebuah gang, Siau Bwee berkata dengan perlahan kepada Tiong Giok. “Toako ada yang menguntiti kita sedari tadi.”

“Mana?” tanya Tiong Giok.

“Engkau jangan menoleh dulu, ia berada dibelakang kita.”

Tiong Giok mengangguk dan terus berjalan lagi dengan dua kawannya pura-pura tidak mengetahui sedang diikuti orang. Setelah beberapa tindak, dengan tiba-tiba ia membungkukkan tubuh, pura-pura membetulkan sepatunya. Padahal melalui selangkangannya sendiri, ia melihat kebelakang. Tampak olehnya seorang laki-laki setengah tua, dengan pakaian serba hitam, dan jenggot yang panjang, bertopi tikar yang dibelesaki sampai kedekat mata, sedang memperlahan langkahnya, mengintil terus dibelakang.

“Ah, buaya tik tok semacam itu tak perlu diladeni!” kata Tiong Giok. Yang terus berjalan kemuka, mencari lagi penginapan-penginapan seperti tadi. Tapi yang dicari belum juga diketemukan, dan membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Yauw Kian Cee dan lain-lainnya belum tiba dikota itu. “Mari kita pulang,” kata Tiong Giok mengajak kawan-kawannya.

Sehabis berkata ia membalik badan, sehingga bersampokan mata dengan laki-laki penguntit itu. Tampak dengan tegas laki-laki itu menjadi gugup dan bingung, untuk menghilangkan kegugupannya ini, ia menbalik badan dan terus masuk kesebuah gang.

“Hm, kurcaci semacam itu jangan dikasih hati!” kata Siau Bwee.

“Sudah kukatakan manusia semacam itu tak perlu diladeni!”

“Tapi Toako harus ingat soal kecil bisa berakibat besar, janganlah tergelincir karena kerikil kecil!”

Tiong Giok berpikir, apa yang diucapkan si gadis memang benar, maka berkatalah ia: “Kalau begitu kalian tunggu disini, biar kuciduk buaya tik tok itu!” Ia berlari mengejar laki-laki tadi kedalam gang. Setelah berjalan beberapa puluh langkah, ia mendapatkan gang itu buntu. Ia jadi heran, kemana perginya laki-laki itu?

Timbul penasarannya, dicarinya orang itu dengan pandangan mata. Ia melihat gang itu cukup ramai, banyak pedagang yang menggelar dagangannya dibalai-balai, disamping itu terdapat warung kopi dan beberapa tukang loak. Tiba-tiba saja ia melihat baju hitam dan topi tikar yang dipakai laki-laki tadi sudah melumbuk dikeranjang tukang loak. Tukang loak itu berusia setengah tua, kepalanya botak dan licin, sedang asyik menghitung duit receh sambil menundukkan kepala.

Tiong Giok dengan cepat menghampiri tukang loak itu. Ia bertolak pinggang dan berdiri didepan tukang loak itu. Sibotak tetap menghitung uangnya, seperti tidak melihat kedatangan pemuda kita.

“Pak banyak untung, menghitung uang terus?” tegur Tiong Giok setengah berguyon.

Mendengar teguran ini sibotak mendongak, ia tersenyum-senyum: “Oh, Kongcu mau beli apa?”

Tiong Giok menegasi tukang loak itu, ia heran sendiri, karena sibotak itu bukan laki-laki yang sedang dicarinya. Ia pura-pura sebagai pembeli sambil memegang baju hitam itu. “Apakah baju ini dijual pak?”

“Benar….yang ada disini semuanya barang dagangan, tapi.tapi…untuk apa Kongcu membeli baju bekas?”

“Oh.tadi kulihat seorang sahabat memakai pakaian hitam dan topi tikar semacam ini begitu pantas dan keren, maka timbul niatku membelinya juga.”

“Ha ha ha, apakah sahabatmu itu seorang setengah baya yang berjanggut?” situkang loak menegasi.

“Benar! Apakah bapak melihatnya juga?”

“Bukan melihat lagi, lebih dari itu! Pakaian ini kubeli darinya…”

“Oh.begitu!”

“Untuk apa aku membohong, itu tidak baik. Pakaian hitam dan topi tikar ini kubeli darinya 50 cie, kalau Kongcu penuju bayari saja modalnya!”

“Apakah yang menjual baju ini sudah pergi jauh?”

“Ya barusan saja ia pergi.kalau Kongcu tidak percaya kubeli dengan harga 50 cie, tanyakanlah padanya ia baru keluar gang…”

“Aku bukan tidak percaya, tapi kebanyakan tukang dagang suka membohong, sekarang kucoba menanyakan dulu padanya.” Tiong Giok terus keluar gang meninggalkan tukang loak itu.

Sesampainya diluar menjadi heran, bukan saja laki-laki berjenggot itu tidak kelihatan, Siau Bwee dan Ceng Ceng yang disuruh menunggu diluar gang pun tidak kelihatan mata hidungnya. Biarpun begitu ia tidak merasa terlalu kuatir, karena ia yakin benar, bahwa kedua gadis itu pasti tidak kenapa-napa, karena memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Dan ia hanya menduga bahwa kedua gadis itu sudah pulang terlebih dahulu kehotel. Maka ia pun tidak mau lama-lama disitu atau mencari lagi laki-laki ebrjenggot tadi, tergesa-gesa pulang kehotel.

Begitu ia masuk, mendapatkan ibunya dan Tio Ma sudah tidur nyenyak. Sedangkan Wan Jie belum tidur, ia asyik terpekur seorang diri, entah apa yang sedang direnungkan.

“Mana yang lain?” tanya Wan Jie.

“Apakah mereka belum pulang?” Tiong Giok balik bertanya.

“Justru aku menanya padamu kemana yang lain?”

“Kalau begitu mereka belum pulang, aku harus mencarinya!”

“Kenapa bisa begitu?”

Tiong Giok menceritakan apa yang dialaminya barusan.

“Kalau begitu lekaslah cari mereka, tapi jangan lama-lama,” pesan Wan jie.

Dengan mengambil jalan tadi Tiong Giok keluar hotel mencari Ceng Ceng dan Siau Bwee. Keadaan dijalan sudah agak sepi, toko-toko sudah banyak yang tutup, jalan raya tampaknya menjadi legaan. Ia berjalan dengan langkah lebar. Entah berapa lama ia berjalan ubek-ubekan belum juga menemui kedua kawannya itu. Saking kesalnya, ia memutuskan tidak melanjutkan untuk mencari, dan cepat-cepat pulang kehotel.

Diperjalanan pulang, dirinya dibuat terkejut tak alang kepalang, sesosok tubuh yang bergerak cepat menyambar seorang laki-laki berbaju kelabu. Terus dibawa keatas genteng. Perbuatannya itu luar biasa berani. Dan memang benar gerak cepatnya membuat orang-orang itu melongo dibuatnya. Tiong Giok mengawasi terus keatas, lalu menyusul dari bawah, setelah berada di tempat sepi, iapun mencelat keatas genteng dan mengejar bayangan itu. Semakin lama ia berhasil mendekati orang itu, yang dikejarpun mengetahui dirinya dibayangi orang, maka berlari semakin cepat. Kepandaian meringankan tubuh orang itu membuat Tiong Giok kagum. Dalam waktu singkat ia tak berhasil mencandak.

“Hei kawan! Bisakah berhenti sejenak?” teriak Tiong Giok.

Seruan ini tidak digubris, karena bayangan itu berlari semakin cepat. “Jika engkau tak mau berhenti, jangan sesalkan tindakanku yang kurang sopan!” ancam Tiong Giok.

Bayangan itu tetap tidak memperdulikan peringatan Tiong Giok, bahkan ia berlari semakin kencang.

Tiong Giok menjadi mangkel, ia mempercepat larinya dan membuktikan ancamannya. “Nah sambutlah seranganku!”

Orang itu tidak berhenti, tapi membalik tubuh sambil berlari terus. Orang yang dikempitnya dilemparkan pada Tiong Giok dijadikan tameng. Dengan terpaksa Tiong Giok menghentikan serangannya, menaggapi orang itu.

“Siau cu jin jangan menyerang lagi aku Ceng Ceng!” seru bayangan itu.

“Hm apa yang sedang kau perbuat? Dan siapa orang ini?” bentak Tiong Giok dengan gusar sambil mendelik.

“Siau cu jin jangan gusar, dengarkanlah dulu ceritaku!” kata Ceng Ceng sambil menundukkan kepala. “Waktu kau masuk kedalam gang mengejar laki-laki berjenggot, kami menunggu didepan. Kami melihat orang itu telah mengganti baju hijau, untuk melaporkan kepadamu sangat makan waktu, maka kami bersepakat bersama Siau Bwee membuntuti orang itu. Usaha kami berhasil dan mengetahui dimana sarang mereka. Siau Bwee sedang menunggu disana, sedang aku disuruh pulang untuk melapor kepadamu. Ddan tak kira begitu sampai didepan hotel kulihat Siau cu jin berada diluar, sedang dibuntuti orang ini. Selanjutnya apa yang kuperbuat Siau cu jin tahu sendiri tak perlu kujelaskan lagi!”

“Untung kau berlaku waspada dan bisa membekuk bangsat ini,” kata Tiong Giok sambil menurunkan laki-laki itu dari tangannya. Ia menjadi kaget karena laki-laki itu sudah meninggal dunia. Ia menyesali Ceng Ceng berlaku kelewat kejam, tapi pendapatnya itu lekas berubah, karena melihat bibir laki-laki itu sangat biru, ditambah liang hidung dan kupingnya mengalirkan darah, menandakan ia terkena racun yang hebat sekali. “Orang ini pasti salah satu anggota perkumpulan yang mempunyai peraturan keras dan kejam. Lihatlah! Untuk menutup mulut ia berani membunuh diri!” Ia mmeriksa tubuh orang dengan teliti, sedikitpun tidak mendapat sesuatu benda yang dapat dipakai mengusut asal usul orang itu. Guna mencegah terjadinya heboh dikota itu, tubuh itu dikuburnya dengan rapi.

“Siau Bwee dimana, ajak aku kesana!”

Ceng Ceng menganggukkan kepala dan berjalan kearah timur dengan cepat, Tiong Giok mengikuti dari belakang dengan cepat juga.

“Siau Bwee berada disebuah kuil tua yang dijadikan sarang penjahat!” kata Ceng Ceng.

“Lekaslah kesana jangan ngomong saja,” kata Tiong Giok.

Kuil tua yang dituju mereka bernama Hoo Sin (malaikat sungai) dan letaknya ditepian sebuah sungai yang lebar. Dahulunya kuil itu dijadikan tempat sembahyang oleh penduduk Lam Ciong, lebih-lebih kalau terjadi banjir, yang dianggap oleh penduduk bahwa malaikat sungai mengamuk dan meminta sesajian. Maka berduyun-duyunlah penduduk itu datang bersembahyang, meminta berkah dan keselamatan. Akan tetapi pada tahun-tahun belakangan, setelah pemerintah mengadakan perbaikan irigasi bencana banjir tak pernah terulang lagi. Penduduk yang biasa datang bersembahyangpun turut berkurang. Kuil itu makin lama makin sepi, akhirnya tidak ada yang mengurus lagi.

Kerusakan demi kerusakan terjadi terus tanpa perbaikan, sehingga menjadi bobrok sekali. Pohon liu yang tumbuh disekitar kuil sudah tua dan rimbun menutupi jendela-jendela, membuat keadaan didalamnya gelap dan angker.

Tiong Giok dan Ceng Ceng tiba dikuil, mereka tidak langsung masuk. Mengamat-amati dulu keadaan kuil dari sebelah luar. Keadaan masih gelap benar, ditambah rimbunnya pohon liu itu, keadaan didalam kuil tampaknya semakin gelap gulita. Waktu mereka melompati tembok pekarangan dan masuk kepelataran kuil dari atas pohon liu melayang sesosok tubuh.

“In Toako kenapa telat betul?” seru bayangan itu yang bukan lain dari Tiat Siau Bwee adanya.

“Enak saja kau ngomong,” kata Ceng Ceng.

“Tidak dimaki-maki Siau cu jin ku sudah bagus, berani ngomel lagi.”

Siau Bwee melirik pada Tiong Giok sambil tersenyum: “Oh.kita wajib diomelin, karena pergi kesini tanpa seijinnya. Tapi dengan jasa yang kita perbuat ini, kesalahan itu bisa ditebus.”

Tiong Giok tak bisa berbuat apa-apa pada Siau Bwee yang nakal ini, ia pun turut tersenyum: “Jasa yang kau perbuat itu cukup atau tidak untuk menebus kesalahanmu itu, kalau tidak hm….”

“Hm.apaan? Jasa ini bukan saja cukup, bahkan berlebihan tahu!” kata Siau Bwee penuh keyakinan, “mari ikut denganku!” Ia mengajak kedua temannya menuju kearah samping kuil. Disini terlihat cahaya api keluar dari jendela. Mereka mendekati dengan berindap-indap, tanpa mengeluarkan suara barang sedikitpun. Didalam sangat terang benderang sedang diluar gelap sekali. Sehingga mereka bisa melihat keadaan didalam dengan enak sedangkan yang didalam tak bisa melihat mereka.

Dibawah cahaya lilin yang terang benderang Tiong Giok dan kawan-kawannya menyaksikan keadaan didalam kuil dengan kagum. Karena bukan saja rusak dan kotor seperti yang diruangan depan, disini terlihat begtu resik dan apik, keadaan dindingnya serba bersih dan terhias lukisan-likisan indah. Lantainya memakai permadani. Ditengah-tengah ruangan terdapat meja dan kursi yang serba lux. Disebuah kursi yang beralaskan kulit harimau dan terukir indah duduk seorang tua dengan pakaian mentereng. Dibelakangnya berdiri empat orang pelayan cantik, didepannya tampak seorang botak membungkukkan badan memberikan laporan. Didepan pintu terlihat empat pemuda menyoren pedang dengan gagahnya. Keadaan ini membuat Tiong Giok kaget sekali, karena ia mengenal orang tua itu adalah Liok Jie Hui, sedangkan sibotak bukan lain dari tukang loak yang pernah ditemukannya digang buntu.

Sambil mengusap-usap jenggotnya Liok Jie Hui tersenyum-senyum dan berkata dengan keras. “Bagus! Bagus! Engkau memang pandai dan cekatan, tak sia-sia jerih payahku mendidik kalian dalam beberapa bulan ini! Tapi kau harus tahu In Tiong Giok manusia cerdik, akalmu hanya berlaku satu kali saja, lain kali tidak bisa dipergunakan lagi padanya. Kecuali itu sejak hari ini kularang engkau berkeliaran lagi didalam kota, kalau diketemukannya bisa berabe untuk semua, mengerti?”

Sibotak mengangguk-anggukkan kepala: “Jangan kuatir, akupun berpikir begitu! Maka tugas mengawasi bocah itu sudah kuserahkan pada Lauw It Houw, ia pasti menjalankan tugasnya dengan baik.”

“Begitu baru baik!” kata Liok Jie Hui sambil tersenyum. “Jam berapa sekarang?” tanyanya pada pelayan-pelayan dibelakangnya.

“Lebih kurang jam satu pagi,” jawab seorang pelayan dengan cepatnya.

“Oh sudah pagi,” katanya seraya bangkit dari kursinya dan memanggil keempat pemuda yang sedang menjaga pintu. “Mari sini!”

Empat pemuda itu dengan penuh hormat maju kehadapan Liok Jie Hui dengan hormat sekali.

“Sungguhpun kalian baru beberapa bulan saja menjadi muridku, tapi ilmu pelajaran yang kuberikan kepadamu sudah cukup banyak. Sehingga kepandaian kalian sudah boleh dipakai untuk menundukkan orang-orang Kang Ouw yang biasa!”

“Inilah kehebatan dari ilmu pedang Keng thian cit su! Tapi sayang sekali ilmu ini baru bisa mendatangkan kehebatan kalau dimainkan berdua, sebaliknya tidak ada kemampuannya bilamana dimainkan seorang diri!”

“Bukankah suhu pernah mengatakan ilmu ini bisa dipelajari seorang diri, tanpa mengurangi kemampuannya?” tanya salah seorang pemuda itu.

“Menang benar! Tapi buku yang kudapati ini kurang lengkap, sehingga aku tak bisa memberikan pelajaran yang khusus untuk seorang-seorang! Inilah kekurangannya dari buku yang kumiliki ini!”

“Kenapa suhu tidak mencari buku yang lengkap?” tanya seorang pemuda lainnya.

“Kemana aku harus mencarinya?” tanya Liok Jie Hui sambil menarik napas.

“Bukankah beberapa tahun yang lalu buku itu tersebar luas dikota Kim leng?” tanya pemuda tadi.

“Benar!” jawab Liok Jie Hui.

“Semua dari buku itu sama seperti yang kumiliki, yakni tidak sempurna! Bagian-bagian yang penting dari pelajaran ilmu pedang ini sengaja dihilangkan, membuat seorang yang bagaimana berbakat dan rajinpun tak bisa mempelajarinya seorang diri! Hal ini membuatku sedih bercampur gusar pada penulis buku yang curang itu, tapi apa mau dikata, semuanya ini maunya takdir.”

“Kalau begitu jago-jago Kang Ouw yang memperoleh buku Keng thian cit su dikota Kim lengpun tak bisa memainkan seorang diri?”

“Benar! Semuanya tidak bisa, yang bisa hanya penulisnya itu seorang!”

“Siapakah penulis yang licik dan jahat itu suhu?”

“Ha ha ha penulisnya itu bukan lain dari pada In Tiong Giok, hal ini mungkin kamu sudah mendengar bukan? Tapi orangnya mungkin kalian belum kenal. Kini ia sudah berada dikota Lam Ciong, maka kita mendapatkan kesempatan untuk menciduknya dan memaksanya membuat buku yang lengkap.”

“Apakah In Tiong Giok adalah pemuda yang tadi senja masuk kekota ini?”

“Benar, dia In Tiong Giok adanya!”

“Bisakah suhu mengijinkan kami berangkat sekarang juga, guna membekuk bocah itu?”

“Sabar! In Tiong Giok biar masih muda kepandaiannya sudah tinggi, tenaga kalian berempat, belum bisa mengalahkannya, tahu!”

“Kalah menang tak kami pikirkan, pokoknya berilah kami kesempatan membekuknya dan menyerahkan pada suhu!”

“Aku sebagai guru bertanggung jawab kepada kalian bagaimana aku tak bisa membenarkan tindakan yang terlalu gegabah ini. Tenanglah dan gunakanlah kecerdikan mengatasi soal ini.”

“Caranya suhu?”

“Ha ha ha soalnya teramat mudah! Diantara mereka terdapat dua orang tua itu dapat kita jadikan sandaran, In Tiong Giok pasti mau menebusnya dengan Keng thian cit su yang sempurna itu!”

Keempat pemuda itu menjadi girang mendengar penjelasan itu. “Bolehkah kami turun tangan sekarang juga?”

“Jangan nafsu, tenanglah! Tunggu sampai Lauw It Houw kembali baru bergerak,” kata Liok Jie Hui. Sehabis berkata ia merapikan pakaiannya.

“Kini sudah pagi, kalian boleh istirahat, aku masih mempunyai sesuatu urusan yang perlu diselesaikan sekarang juga!”

Dengan berlenggang kangkung, Liok Jie Hui keluar dari dalam kuil. Sinar lampupun menjadi padam, Tiong Giok mengajak kedua temannya mengikuti orang tua itu dari kejauhan.

“Kuminta kalian kembali ke hotel!” kata Tiong Giok.

“Bukankah mereka menantikan Lauw It Houw dulu baru bergerak?” kata Siau Bwee.

“Kita harus sedia paying sebelum hujan.”

“Jika begitu kita beresi saja dulu murid-muridnya Liok Jie Hui sekarang juga, biar tak jadi penyakit dikemudian hari,” kata Siau Bwee.

“Yang perlu kita hadapi adalah Liok Jie Hui dan bukan murid-muridnya itu,” kata Tiong Giok. “Pokoknya sekarang juga kuminta kalian kembali ke hotel!”

“Waktu berpisah, Siau cu jin mendengar sendiri Tia tia ku memesan dengan sangat, untuk mendampingi terus dan menjaga keselamatan Siau cu jin bukan?”

“Hm, sayang perkataan ayahmu itu baru terpikir olehmu sekarang ini!” sindir Tiong Giok.

“Sedari tadipun sudah terpikir.”

“Berpikir sih bisa meninggalkan aku?”

“Itu…. Tiat Kounio….”

“Jangan berdebat lagi, sekarang juga kuminta kalian pulang!” Ceng Ceng diam saja, Siau Bwee pun merasa bersalah, mereka mengganggukkan kepala dan cepat-cepat kembali ke hotel.

Baiklah kita ikuti In Tiong Giok yang sedang menguntit Liok Jie Hui menyusuri gili-gili sungai. Ia membayangi musuh dengan jarak tertentu, sehingga tidak diketahui. Beberapa lie kemudian tibalah mereka disebuah perkampungan nelayan. Liok Jie Hui nampaknya sudah mengenal betul seluk beluk keadaan kampung itu. Ia masuk dengan leluasa, dan keluar lagi bersama seorang nelayan. Menuju kepinggir sungai , naik kesebuah perahu yang terus dikayuh kearah utara.

In Tiong Giok tidak mau ketinggalan, dicarinya sebuah sampan kecil yang tertambat disungai itu.

Dan mengayuhnya perlahan-lahan tanpa mengeluarkan suara.

Sungai yang mereka layari bermuara kesebuah danau besar. Ditengah-tengah danau terdapat sebuah pulau kecil. Liok Jie Hui menuju kearah pulau itu dengan mengambil jalan lurus. Karena letak pulau dan perkampungan nelayan tak seberapa jauh, dalam waktu yang tak seberapa lama mereka telah tiba dipulau itu.

Kedatangan mereka disambut beberapa penjaga pulau. Liok Jie Hui diam saja diperahu dengan tenang, sedangkan sinelayan berkata-kata dengan penjaga itu. Entah apa yang mereka katakana tidak dapat didengar Tiong Giok. Sipemuda sendiri tahu tidak bisa mendarat seperti Liok Jie Hui, maka itu dikayuhynya sampan ketempat sepi yang tidak ada penjaganya. Dengan begitu ia mendahului Liok Jie Hui naik kepulau, dan menyelinap mendekati pos penjagaan.

Liok Jie Hui belum mendarat. Sedangkan penjaga pantai masuk kedalam menuju sebuah benteng tembok melaporkan kedatangannya itu. Tak selang lama dari dalam benteng tampak keluar seorang setengah baya yang berpakaian sebagai pelajar bersama penjaga pos tadi.

Begitu orang setengah baya itu sampai dipantai dan melihat Liok Jie Hui, wajahnya berubah dengan mendadak. Sambil merangkapkan tangan ia memberi hormat dan berkata: “Ada kepentingan apa Liok Lo Cianpwee gelap-gelap datang kepulau ini?”

“Aku ingin bertemu dengan kedua Tay siangmu (ketua)!”

“Tidakkah Liok Lo Cianpwee tahu, kedua Tay siangku sedang bepergian?”

“Siau Siang seng tak perlu mencari alas an ini dan itu, aku sudah mengetahui dengan jelas kedua ketuamu ini tidak kemana-mana! Kabarkanlah kepada mereka bahwa kedatanganku ini membawa kabar penting sekali untuk mereka!”

“Maaf Liok Lo Cianpwee apa yang kukatakan adalah benar, bahwa kedua ketuaku tidak ada ditempat!”

“Aku cukup mengenal tabiat kedua ketuamu itu! Mereka memang tak senang menerima tamu, tapi terhadapku adalah pengecualian! Hal ini kuharapkan bantuanmu juga, guna melaporkan kepadanya kedatanganku sekarang juga!”

“Jika Liok Lo Cianpwee ingin bertemu juga ikutlah denganku!”

“Ha ha ha begini harusnya bersahabat!” kata Liok Jie Hui sambil mencelat kedarat dan terus mengikuti tuan rumah kebenteng tembok.

Belum pula mereka masuk kedalam benteng dari dalam terlihat seorang berbaju kuning menuju keluar. Orang itu begitu melihat Liok Jie Hui berusaha menghindari diri dan mau masuk lagi.

“Oey Siangkong sudah lama tidak bertemu, rupanya diam-diam sudah mempunyai kedudukan baik dipulau ini?” tegur Liok Jie Hui.

Laki-laki berbaju kuning terpaksa membalik badan lagi dan memberi hormat pada Liok Jie Hui sambil tersenyum. “Liok Lo Cianpwee bisa saja nih, sebenarnya sudah lama aku ingin berkenalan denganmu, tapi baru hari ini rupanya niat itu terkabul!”

“Lima hari yang lalu kulihat engkau berbelanja dengan sibuk dikota Lam Ciong, sebetulnya ingin kupanggil, tapi kau keburu pergi!”

“Aduh, kalau begitu aku kurang hormat dong, maaf deh! Liok Lo Cianpwee sudah lama menetap di Lam Ciong?”

“Baru saja sepuluh hari,” sahut Liok Jie Hui tersenyum. “Kedatanganku kesini belum melapor pada kedua Tay Siangmu, maka merasa kurang tenteram! Kumohon bantuanmu menyatakan rasa penyesalan ini, sebelum aku bertemu dengan kedua ketuamu itu!”

Laki-laki berbaju kuning itu mempersilahkan Liok Jie Hui masuk kedalam benteng dan terus menyuguhkan the, ia sendiri menyeret laki-laki setengah baya kebelakang benteng.

In Tiong Giok melihat tegas bahwa laki-laki berpakaian kuning itu bukan lain dari Oey Tin Hong si banci itu. Ia jadi geli sendiri, jikalau inagt pengalamannya dulu menghadapi banci itu, hampir ia tertawa sendiri.

Sedangkan Oey Tin Hong begitu sampai dibelakang benteng, dengan bersungut-sungut menyesalkan kawannya. “Engkau bagaimana sih? Kapan sudah tahu ketua kita tidak mau menemui tamu bukan?”

“Ia mendesak terus dan tak percaya apa yang kuucapkan terpaksa kuajak masuk….”

“Kau harus tahu, tua bangka itu sangat licik dan busuk, kedatangannya pasti untuk tujuan yang tidak baik!”

“Ah jangan bercuriga, pokoknya beritahulah soal kedatangannya pada ketua!”

In Tiong Giok berniat membuntuti Oey Tin Hong, tapi dengan cepat pikirannya berubah. Bagaimanapun dua ketuanya itu akan kesini, lebih baik aku mencaari tempat sembunyi. Dan diam-diam disitu menantikan segala perubahan dari pada menampakkan diri membuat mereka terkejut tak karuan.

Setelah mengambil keputusan ia ccelingukan mencari tempat yang baik, tampak oelhnya sebuah menara pengintai yang cukup tinggi didepan benteng. Disitu terlihat seoraang penjaga sedang bertugas. Cepat-cepat ia keluar dari persembunyiannya, berindap-indap mendekati menara itu dan terus mencelat keatas tanpa bersuara, sedangkan kepandaiannya yang dimiliki kini, dipakai menghadapi penjaga semacam itu mudahnya bukan main. Begitu tangannya bekerja, pengawal itu tertotok tanpa berkutik. Dari sini ia dapat melihat keadaan di dalam benteng dengan bebas sekali.

Lebih kurang sepemakan nasi lamanya ia melihat sinar obor datang dari jurusan dalam. Makin lama makin dekat hingga membuatnya melihat tegas. Delapan bocah-bocah kecil dengan bersenjata pedang, mengawal ddua bocah kecil lainnya. Tiong Giok mengenali dua bocah yang diiring itu adalah Hek pek siang yauw, Na Beng Sie dan Lauw Siu Kim.

Dengan gagah suami istri itu masuk kedalam benteng, barisan pengawal yang menjaga pantai berbaris dengan rapi dibawah komando laki-laki setengah baya tadi. “Yang rendah Siau Lam Siong memberi hormat pada Jie Wie Tay siang.” Belum lagi ia selesai bicara, Lauw Siu Kim yang berangasan sudah membentaknya: “Engkau bernyali besar, berani mengajak orang luar masuk kedalam benteng ini!”

“Ini…” Siau Lam Siong membela diri dengan wajah pucat. “Sebab….sebab….”

“Tutup mulut! Kesalahan ini tak dapat aku ampuni! Pengawal ringkus dia!” seru Lauw Siu Kim dengan bengis. Dua bocah bersenjatakan pedang maju kedepan menjalankan perintah. Pada saat inilah Liok Jie Hui menampakkan diri. Ia memberi hormat terlebih dahulu pada tuan rumah, lalu membuka mulut: “Toaso jangan marah, ini bukan kesalahannya aku…”

“Liok Toako ketahuilah! Engkau bicara dimana? Apakah kau ingin membuat kam malu didepan anak buah ini?” kata Lauw Siu Kim dengan ketus.

“Tidak, sekali-kali tidak! Aku hanya memohon sedikit muka darimu, agar orang ini diampuni…”

“Baiklah!” kata Lauw Siu Kim dengan nada dongkol. “Apa maksudnya datang kemari?”

“Ada sebuah kabar penting yang hendak kusampaikan kepada Toako dan Toaso,” kata Liok Jie Hui dengan tersenyum-senyum. Sedikitpun ia tak merasa tersinggung atas sikap tuan rumah yang berangasan itu.

“Kabar apa?” tanya Lauw Siu Kim dengan ketus.

“Yakni ekor peristiwa Hoay Giok San…”

“Hm! Soal di Hoay Giok San? Engkau masih ingat kejadian itu?”

“He he he rupanya Toaso masih dendam dan tak bisa memaafkan kesalahanku itu? Baiklah kuterangkan maksudku kesini yakni buat memberi kabar penting untuk menebus kesalahan itu…”

“Hm, jadi engkau berasa punya kesalahan kepada kami?” ejek Na Beng Sie yang sejak tadi diam-diam saja.

“Setiap orang tidak luput dari kesalahan, artinya maju bukan? Kuakui waktu di Hoay Giok san mempunyai niat untuk menyerahkan dua pedang mustika itu! Tapi kuyakin pula setiap yang datang kesana mempunyai niat yang sepertiku juga , betul tidak? Yang lucu kita yang berkelahi orang lain yang mendapat untung!”

“Untuk apa kau menyebut-nyebut soal yang sudah lampau?” tanya Na Beng Sie.

“Toako jangan mengira soal Hoay Giok san sudah beres.”

“He he he, masih ada ekornya!” kata Liok Jie Hui.

“Apa ekornya?” bentak Lauw Siu Kim.

“Aku bermaksud baik untuk menyampaikan kabar penting ini, tapi sikap Toako dan Toaso demikian macam, membuatku tak bisa mengatakan apa-apa lagi!” sehabis berkata Liok Jie Hui membalik tubuh, hendak berlalu.

“Stop!” seru Lauw Siu Kim.

“Apakah Toaso tak mengijinkan aku pulang?

“Biar tempatku semacam ini, tapi tak kuijinkan sembarang orang keluar masuk seenaknya mengerti? Sebelum engkau terangkan sejelas-jelasnya ekor peristiwa Hoay Giok san, jangan harap bisa berlalu seenak hati!”

“Habis sikapmu itu seperti menghadapi musuh saja, maka lebih baik kupulang saja!”

“Pokoknya kuminta engkau menjelaskan! Ingat ini tempatku!” ancam Lauw Siu Kim.

“Tapi sikap Toako dan Toaso begitu macam, seolah-olah tidak percaya saja, mana mau aku menjelaskan.”

“Liok Toako jangan gusar, sebagai sahabat lama tentu tahu tabiat istriku ini, kuharap engkau jangan marah!” kata Na Beng Sie.

“Mana berani aku marah-marah.”

“Nah bicaralah….” desak Na Beng Sie.

“Baiklah,” kata Liok Jie Hui, “aku mendengar kabar bahwa kedua pedang pusaka yang terdapat didaerah Hoay Giok san jatuh ke tangan seseorang…”

“Orang itu siapa?” tanya Na Beng Sie.

“Kalau kusebutkan, Toako dan Toaso bisa kaget sendiri, ia akan datang mengobrak-abrik pulau Hiu ini.” Liok Jie Hui sengaja tak meneruskan perkataannya, menunggu reaksi sipendengar.

Lauw Siu Kim jadi geregetan menghadapi tamunya yang licik ini, ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali bersabar, karena ingin mengetahui siap orang itu yang ingin mengobrak-abrik sarang mereka.

“Liok Toako perkenalan kita bukan sekarang-sekarang saja, engkau harus tahu sendiri tabiat istriku, tak perlu diambil dihati akan sikapnya tadi.” Na Beng Sie mulai melunak dan bersikap ramah. “Sejujurnya seumur hidup kami tidak ada yang kami takutkan, tapi mendengar perkataanmu barusan, membuat kami ingin tahu siapa manusia yang berani membuka mulut lebar itu!”

“Na Toako, kabar ini kuketahui secara kebetulan saja, bilamana tidak akupun tak bisa tahu…” Liok Jie Hui masih tetap belum mau menerangkan dengan jelas.

“Atas kebaikanmu ini kuhaturkan terima kasih,” kata Na Beng Sie.

“Atas ini tak perlu Toako menghaturkan terima kasih,” kata Liok Jie Hui. “Sudah sepantasnya aku mewartakan kabar ini pada Jie wie. “Ya kabar apa?” bentak Lauw Siu Kim dengan gusar.

“Soalnya begini,” Liok Jie Hui mulai mengarang cerita yang tidak-tidak. “Toako dan Toaso mungkin tidak tahu, pedang pusaka yang diperebutkan kita tempo hari jatuh ditangan In Tiong Giok.”

“Ha ha ha jadi bocah itu yang kau maksud mau mengobrak-abrik tempatku ini?” tanya Lauw Siu Kim.

“Toaso jangan pandang enteng kepadanya,” kata Liok Jie Hui, “dengarkanlah dulu ceritaku! In Tiong Giok sekarang bukan seperti In Tiong Giok yang dulu. Ia sudah lihay sekali, karena telah mempelajari Keng thian cit su secara sempurna. Bahkan telah menjadi ahli pedang kelas wahid. Soal ia lihay tidak kuhiraukan, yang membuatku sakit hati adalah perbuatan curangnya…”

“Kenapa curang?” tanya Na Beng Sie.

“Apakah Toaso tidak tahu, sejak Keng thian cit su meluas didunia Kang Ouw, berbagai cabang persilatan mempelajari ilmu itu dengan tekun. Sehingga dalam waktu singkat ini mereka telah mendapatkan suatu hasil yang boleh juga. Maka itu kalau kita jalan-jalan didunia Kang Ouw bisa melihat pasangan-pasangan muda berjalan bersama-sama kesana kemari. Tahukah, kenapa mereka berjalan berpasangan?”

“Karena mereka meyakinkan Keng thian cit su dengan brdua dengan begitu kedahsyatannya ilmu pedang itu baru bisa dikembangkan bukan?”

“Apakah Na Tgoako mempelajari ilmu pedang itu berdua juga?”

“Dalam buku itu sudah jelas diterangkan, ilmu pelajaran itu harus dipelajari berdua bukan?”

“Itu salah, yang benar semua kaum bulim kena ditipu In Tiong Giok!” kata Liok Jie Hui. “Ia menulis buku itu tidak lengkap, sedangkan untuknya sendiri adalah yang lengkap!”

Na Beng Sie dan Lauw Siu Kim setengah percaya setengah tidak keterangan tamunya yang licik itu. “Dari mana engkau bisa memastikannya berlaku curang?”

“Mula pertama akupun tidak menyangka buruk pada pemuda itu, dan mempelajari Keng thian cit su dengan tekun, tapi bagaimana kupelajari ada beberapa bagian yang tidak bisa merangkai satu sama lain. Mula pertama kuanggap pelajaran itu memang sukar dimengerti dan harus sabar menyelaminya. Tapi tak kira bocah itu dalam waktu singkat sudah begitu pandai dan lihay.semua ini karena ia memiliki buku yang lengkap dan sempurna!”

“kelihayannya itu dibesar-besarkan saja, padahal belum tentu begitu kenyataannya!” kata Na Beng Sie.

“Tadinya kuanggap memang begitu, tapi kudengar lagi berita selanjutnya dengan seorang diri In Tiong Giok membuat orang-orang Pok Thian Pang kocar kacir!”

“Mungkinkah terjadi hal itu?”

“Untuk membuktikan soal ini aku membuang waktu lama sekali, dan baru bisa bertemu dengannya dikota Lam Ciong. Apa yang dikatakan orang-orang Kang Ouw soal kelihayan pemuda itu sedikitpun tak salah, ia telah memiliki kepandaian yang benar-benar luar biasa…”

“Hmm, bocah itu, bocah itu berada dikota Lam Ciong?” tanya Lauw Siu Kim.

“Benar! Tujuannya yakni untuk menaklukkan kalian berdua!”

“Kalau dipikir panjang, bocah itu tidak punya permusuhan apa-apa dengan kami, kenapa mau mengobrak-abrik tempat ini?” kata Na Beng Sie.

“Karena waktu terjadi perebutan pedang pusaka Toako dan Toaso ikut serta bukan? Nah setiap yang ikut memperebutkan pedang itu satu persatu akan dihantamnya…”

“Panggil dia kemari, aku tidak takut!” teriakLauw Siu Kim.

“Toaso jangan gusar apa yang kukatakan ini adalah benar dan tak salahnya berlaku waspada, hitung-hiutng sebelum hujan sedia paying.”

“Hm, menghadapi bocah semacam itu tak perlu berjaga-jaga!”

“Toaso jangan memandang enteng, jaman ini hanya dia yang pandai Keng thian cit su secara sempurna.”

“Tak perlu menunggu ia datang, aku bisa mencarinya dikota Lam Ciong,” kata Lauw Siu Kim.

“Anak-anak siapkan perahu!” perintahnya saat itu juga.

“Buat apa begitu bernafsu, kalau ia mau datang kemari, tak perlu kita mencarinya,” cegah Na Beng Sie.

Lauw Siu Kim yang berangasan, mana mau mendengar nasehat suaminya lagi, ia mau berangkat saat itu juga.

“Toako tak usah tergesa-gesa, untuk menghadapinya aku mempunyai satu akal baik.”

“Akal apa?” tanya Na Beng Sie.

Liok Jie Hui segera membisiki Na Beng Sie dengan perlahan, setelah itu tuan rumah membisiki istrinya. Kemudian dipanggilnya Oey Tin Hong dan memesannya beberapa patah kata. “Lekas jalankan perintahku ini!”

Oey Tin Hong dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan itu, berlari keluar. Dan tak selang lama dari empat penjuru terdengar genta berbunyi, disusul dengan terlihatnya cahaya api yang terang benderang diempat penjuru, dalam waktu sekejap saja pulau kecil itu sudah menjadi ramai dan gaduh serta tegang.

Melihat kejadian ini, Tiong Giok tahu bahwa kehadiran dirinya siang-siang sudah diketahui Liok Jie Hui yang licik itu. Baru tubuhnya mau pindah ketempat lain….

Liok Jie Hui sudah bergelak-gelak dengan keras: “Na Toako bagaimana? Percaya tidak akan kata-kataku?”

Na Beng Sie dan Lauw Siu Kim bersama dengan delapan bocah-bocah kecil dengan cepat memburu kearah menara pengintai.

“Liok Jie Hui mulutmu beracun sekali,” kata In Tiong Giok. “Namun jangan harap kau berhasil meminjam golok membunuh orang!” kata In Tiong Giok seraya mencelat pergi, gerakan tubuhnya luar biasa sekali, membuat Hek pek siang yauw terheran-heran.

“Bocah, engkau jangan bermulut besar, biar bagaimana engkau tak bisa meninggalkan pulau dalam keadaan hidup,” jawab Liok Jie Hui.

“Kejar!” teriak Lauw Siu Kim.

In Tiong Giok todak mau ribut, ia berlari dengan cepat ketempat dimana perahu ditambat. Begitu ia sampai hatinya menjadi mencelos, karena perahunya sudah hilang. Sedang pengejar susul menyusul sudah tiba dibelakangnya.

“Bocah she In, perahu sudah kusimpan ketengah-tengah danau! Kecuali terbang jangan harap bisa meninggalkan pulau ini!” ejek Na Beng Sie.

In Tiong Giok sedikitpun tidak takut menghadapi Siang Yauw, tapi ia tahu bilamana terjadi perkelahian antara dia dengan Siang Yauw yang untung adalah Liok Jie Hui. Maka itu ia berlari lagi menghindari perkelahian. Karena ia sadar, Liok Jie Hui ingin memperalat Siang Yauw untuk kepentingan dirinya, disamping itu iapun ingin menggunakan tenaga Tiong Giok untuk menyingkirkan Siang Yauw. Dengan begini ia bisa bebas dan tidak kuatir pada siapa-siapa lagi, guna merampas pedang dari tangan Tiong Giok.

Siang Yauw mengejar terus, sedangkan Liok Jie Hui tidak henti-hentinya menghasut suami istri itu.

“In Tiong Giok untuk apa berlari-lari seperti maling kesiangan, kau kira bisa lolos dari tangan Hek pek siang yauw yang tersohor lihay?”

Na Beng Sie tidak termakan propokasi itu, tapi Lauw Siu Kim lain dengan suaminya, amarahnya menjadi-jadi, maka dikejarnya pemuda kita dengan sekuat tenaga.

“Toaso hati-hati, ilmu pedang bocah ini lihay sekali!” seru Liok Jie Hui.

Tiong Giok tidak kenal keadaan, tak selang lama dirinya kena dikejar nyonya rumah yang terus melakukan serangan dengan kedua bilah pedangnya secara bengis.

Tiong Giok mengandalkan telinganya yang lihay mengetahui bagian dadanya diserang musuh, maka dengan mendadak ia berhenti berlari, dan membungkukkan tubuh menghindarkan serangan. Lauw Siu Kim kelewat bernafsu kurang mengontrol dirinya, maka menyelonong terus kedepan dan jungkir balik terganjel tubuh lawannya. Saat itu kalau Tiong Giok mau berlaku kejam, orang she Lauw itu akan berhenti menjadi orang dibawah hiat cie lengnya yang ampuh.

Na Beng Sie yang menyaksikan kejadian ini hampir-hampir berteriak bahwa kagetnya. Tapi Tiong Giok tidak menurunkan tangan melakukan serangan, tubuhnya berbalik dan lari lagi.

Pengejar berkelebat-kelebat dari empat penjuru, dalam sekejap Tiong Giok telah terkepung.

“Kenapa Lo Cianpwee mendesak sekali?” tanya Tiong Giok memasang mata.

Siang Yauw belum menjawab, Liok Jie Hui telah mendahului. “Bocah apa tujuanmu datang kepulau ini tanpa diundang? Kini apa lagi yang hendak kau katakana? Sebaiknya lekaslah menyerah!”

Tiong Giok tersenyum meringis. “Aku ingat jasamu membebaskan aku dari Pok Thian Pang dan menghargai engkau sebagai Bulim Cap Sah Kie. Tapi tak kira sebagai orang tuaan bukan saja engkau tak bisa memberi contoh baik kepada yang mudaan, malahan berlaku sebagai dorna yang mengadu domba sesama orang Kang Ouw demi kepentingan sendiri.”

“Hm, sudah tahu dirimu keluar dari Pok Thian Pang karena jasaku, kenapa sikapmu memusuhi aku, ini boceng (tidak membalas guna) untuk ini engkau harus mampus,” kata Liok Jie Hui seenaknya dan terus membelah tongkatnya menjadi dua pedang. “Na Toako aku sebagi tamu, sebenarnya tak pantas menindak bocah ini, tapi perbuatannya kelewat kurang ajar, kumohon diberi ijin menghajarnya sekarang juga.”

Liok Jie hui sengaja mengatakan demikian dan bersikap mau menyerang padahal aksinya itu hanya gertakan saja. Akal liciknya ini benar-benar membawa hasil, Lauw Siu Kim yang berangasan merasa mangkel kena dijungkalkan ia mau membalas dendam. Dan tak mau didahului tamunya. “Sabar!” serunya. “Ini adalah tempatku, takperlu engkau turun tangan, kami masih sanggup membekuknya.” Digapainya empat bocah kecil yang berpedang. Dan disuruhnya mereka melawan Tiong Giok. Empat bocah itu manggut-manggut dan terus memecahkan diri, dua kekanan dua kekiri.

Dengan tak diduga-duga empat bocah ini melakukan serangan dengan berbareng, yang kiri melancarkan jurus Dua Pedang Melintas Di Utara, yang dikanan melancarkan jurus permukaan luar menyambung awan. Dua jurus ini adalah gerakan maut dari Keng thian cit su.

Menyaksikan kelihayan bocah-bocah kecil yang berbakat besar ini, timbul rasa sayang Tiong Giok pada mereka.

Dengan tersenyum ia menggerakkan sepasang lengannya, melancarkan jurus Tujuh keindahan yang bergabung, mematahkan serangan-serangan bocah kecil itu. Ia bergerak belakangan tapi serangannya lebih dulu sampai dari lawan-lawannya. Lagi pula ilmu kepandaiannya telah tinggi jauh dari bocah-bocah cilik itu.

Maka biar bertangan kosong ia tetap lebih unggul banyak, dan dalam waktu segebrakan saja, keempat bocah-bocah cilik itu susul menyusul dilucuti senjatanya tanpa berdaya.

Bocah-bocah itu yang tampaknya mungil-mungil, terpaku dengan keheran-heranan seperti terkesima.

“Kalian masih kecil sudah punya kepandaian Keng thian cit su dengan baik. Pedang kalian kena kulucuti, karena kalian melakukan kesalahan. Pertama empat orang maju berbareng dengan dua jurus, daya serangannya kurang kuat dan ampuh, seharusnya memakai empat jurus sekaligus.”

“Kedua jurus yang barusan seharusnya dipakai menyerang keatas dan kebawah, tak boleh rata seperti barusan, nah ingatlah baik-baik.”

Keempat bocah tampaknya masih ragu, tanpa bilang apa-apa lagi mereka memungut pedangnya masing-masing dan mundur teratur.

Menyaksikan kejadian ini Lauw Siu Kim naik pitam, dengan keras ia membentak: “Bocah keparat, coba pecahkan seranganku ini!” Tubuhnya dengan kecepatan kilat melompat keudara, dengan sedikit gerakan pinggangnya ia menukik turun membawa serangan dahsyat dengan jurus Dua Pedang melintang diudara.

Satu jurus yang serupa dengan Keng thian cit su, seperti yang digunakan bocah-bocah tadi. Tapi berubah begitu hebat dan luar biasa daya serangannya.

Tiong Giok menatap keatas dengan perasaan kagum, ia tak berani gegabah seperti menhadapi bocah-bocah tadi. Kaki kirinya dengan cepat bergerak kesamping, lengan kanannya serentak menghunus Hong siat kiam. Kemilauan sinar pedang pusaka membuat lIok Jie Hui dan Na Beng Sie terkesiap. Demikian pula dengan Lauw Siu Kim, ia tak bisa menarik lagi serangannya. Maka itu pedangnya sekali bentrok telah menjadi patah. Tubuhnyapun turun terus mendekat pedang pusaka yang luar biasa itu. Ia tak berani membuka mata lagi, pikirnya akan mati terbelah detik itu juga…

“Siu Kim.” teriak Na Beng Sie. Ia mencintai istrinya melebihi dirinya sendiri. Kini ia harus menyaksikan kematian istrinya tanpa berdaya, ia merasa sedih sekali dan putus asa. Ia memeramkan mata dengan berduka…

Tapi diluar dugaan Siang Yauw sekali lagi Tiong Giok berbuat baik, ia menarik pedangnya kesamping dan membiarkan bahu kirinya ketempat pedang buntung musuhnya, sehingga terluka dan berdarah.

Lauw Siu Kim sangat lihay, begitu pedangnya menyerempet musuh, segera bersalto dan turun dibumi dengan mata menuding seolah-olah ia tidak percaya musuh itu berlaku murah kepadanya.

Biarpun lukanya mengeluarkan darah, tak membahayakan jiwa, maka Tiong Giok tak menghiraukannya barang sedikitpun. Ia memasukkan pedangnya kedalam serangka. Lalu merangkapkan tangan memberi hormat kepada nyonya rumah: “Dengan sejujurnya jurus yang dilancarkan Lo Cianpwee sudah sempurna sekali dan tak bisa dipecahkan. Aku mengandalkan ketajaman pedang pusaka inilah baru berhasil menyelamatkan diri.”

Lauw Siu Kim masih menjublek seperti patung, seperti mendengar seperti tidak mendengar apa yang diucapkan lawannya.

Sedangkan Na Beng Sie sewaktu membuka mata kembali, melihat istrinya tidak kurang suatu apa, segera berjingkrakan dengan girangnya. Dipeluknya sang istri sambil menanya dengan telaten: “Siu Kim kau tidak kenapa-napa?”

Lauw Siu Kim menjadi sadar begitu saja terpeluk suaminya. “Hm, apakah engkau menyesal aku tak mampus siang-siang?”

“Siu Kim apa maksudmu berkata begitu? Lihatlah bocah ini akan kuhajar, biar hatimu menjadi puas!”

“Hm, barang siapa berani mengganggu barang seujung rambut dari In Siau hiap ini harus berhitungan denganku!” kata Lauw Siu Kim.

“Apa? Bagaimana?” tanya Na Beng Sie merasa serba salah menghadapi istrinya ini.

Lauw Siu Kim menoleh kearah Liok Jie Hui. “Orang she Liok, bagaimanapun engkau adalah tamuku, maka tak bisa aku berlaku kurang pantas padamu. Tapi kalau lain hari engkau berani memijakkan kaki kepulau ini, tiada ampun bagimu!”

Liok Jie Hui adalah orang cerdik, ia mengerti aya yang dialami nyonya rumah barusan.

“Toaso apa artinya budi sekecil itu, sampai harus mengusirku pergi?”

“Tutup mulutmu jangan sampai aku membalik muka sekarang juga, lenyaplah dari sini!”

“Baik.baik, aku segera pergi…”

“Ingat sejak hari ini aku tak mau kenal lagi dengan manusia licik sepertimu! Engkau tukang tipu yang pandai mengadu domba sesama orang Kang Ouw! Engkau mengatakan In Siau hiap datang untuk mengobrak-abrik tempat ini, nyatanya mana?”

“Ini…ini.sebab…”

“Jangan banyak mulut lagi, pergilah lekas! Kalau merasa kurang puas engkau boleh mengumpulkan kawan-kawanmu, aku menanti setiap saat!” kata Lauw Siu Kim dengan mendelik. “Siapkan perahu dan bawa dia pergi!”

Tang! Tang! Tang! terdengar bunyi genta tiga kali, ini adalah isyarat bahaya telah berlalu. Perahu-perahupun berkumpul lagi dipantai.

Dengan diiringi empat bocah kecil Liok Jie Hui diantar sampai keperahu. Ia tersenyum dingin atas perlakuan tuan rumah, tapi tak berani berkata apa-apa lagi.

Lauw Siu Kim memandang Tiong Giok sambil tersenyum. “In Siau hiap aku menghaturkan banyak terima kasih atas kemurahan hatimu! Bilamana tidak, mungkin aku sudah menjadi setan gentayangan.”

“Lo Cianpwee jangan berkata begitu, semua ini gara-gara Liok Jie Hui yang jahat itu,” kata Tiong Giok. Seraya menuturkan bagaimana ia menguntit sidorna itu dan sampai dipulau Hiu ini. “Atas kelancanganku ini aku minta dimaafkan.”

“Jangan berkata begitu, biarpun orang-orang Kang Ouw menganggap Hek pek siang yauw sebagai momok yang kejam. Tapi didalam hal membedakan antara budi dan dendam kami punya garis yang tegas. Maka kebaikanmu itu biar bagaimana tak bisa kulupakan. Andaikata dibelakang hari In Siau hiap membutuhkan bantuan kami, biarpun menerjang lautan api kami bersiap sedia. Kini berilah muka dan mampir ditempat tinggalku.”

Melihat kesungguhan dari tuan rumah, Tiong Giok tidak berani menolak, maka ia mengikuti masuk kedalam rumah. Dan dipersilahkan duduk disebuah aula yang luas dan terang benderang karena banyaknya lilin yang dipasang.

Beberapa pelayan datang membawa obat luka, Tiong Giok diobati secara telaten sekali, membuatnya merasa syukur dan terima kasih.

Oey Tin Hong menghampiri sambil memberi hormat, lagaknya tidak seperti dulu, mungkin dikarenakan tambah usia sifatnyapun jadi berubah.

Berikutnya Siau Lam Siong datang memberi hormat seperti yang dilakukan banci tadi. Setelah beres kenalan, hidangan dan minuman berturut-turut datang. Dan terjadilah pesta secara mendadakan dengan meriahnya.

Sambil makan dan minum Lauw Siu Kim maupun Na Beng Sie tak henti-hentinya bertanya ini itu pada tamunya. Tiong Giok tanpa ragu-ragu menceritakan segala pengalamannya dengan jujur, sehingga tuan dan nyonya rumah merasa puas.

“Jadi orang tuamu ada di Lam Ciong? Kupikir dari pada dibawa ke Kiu yang shia, lebih baik dibawa kemari!” kata Lauw Siu Kim.

“Soalnya bukan menolak nih,” kata Tiong Giok. “Aku sudah berjanji dengan Tong Cian Lie akan membawa ibuku kesana, atas kebaikan Jie wie Lo Cianpwee kuhaturkan banyak terima kasih.”

Setelah mendengar penjelasan dan alasan Tiong Giok, Siang Yauw tidak mendesak lagi.

Perjamuan atau pesta itu berlangsung sampai terang tanah, In Tiong Giok pun baru diperkenankan pulang oleh tuan rumah. Dengan rasa berat mereka melepaskan Tiong Giok pulang, tapi memesannya berulang-ulang agar pemuda itu sering-sering datang ketempatnya. Atas ini Tiong Giok menghaturkan terima kasih dan terus naik perahu meninggalkan pulau itu…

Sesampainya di hotel, merasa heran sekali, karena melihat banyak orang yang berkerumun, melongok-longok kebagian belakang dari hotel Huo Peng. Cepat-cepat ia melangkah kedalam. Pemilik hotel begitu melihat dirinya segera menyambut dengan tesenyum dan membungkuk-bungkuk. “Kongcu kasihanilah kami, hotel ini adalah sumber pencaharian kami yang sebenar-benarnya…maka tolonglah kami.”

“Memang kenapa?”

“Kumohon dengan sangat agar Kongcu mau pindah dari penginapanku ini,” ratap pemilik hotel. “Soal pembayaran jangan dipikirkan…tolonglah kami!”

“Sebenarnya apa yang terjadi dan membuatmu memaksa kami pindah dengan mendadak begini?”

“Soalnya…kawan-kawanmu membuat ribut dan berkelahi…aku takut…kerembet-rembet,” kata pemilik hotel dengan terbata-bata.

“Oh begitu,” kata Tiong Giok. Dan cepat-cepat membalik tubuh menuju kebelakang. Saat ini kebetulan sekali Ceng Ceng keluar. “Sebenarnya apa yang telah terjadi di hotel ini?”

“Oh….soal kecil yang tak berarti,” jawab Ceng Ceng. “Tapi pemilik hotel sengaja membesar-besarkan dan ketakutan tak keruan….”

“Bukannya kami mengusir, tapi minta tolong,” ratap pemilik hotel. “Ini terpaksa kulakukan karena….karena takut balasan mereka.”

“Tentunya orang-orang Liok Jie Hui….”

“Benar!” sahut Ceng Ceng. “Siau cu jin tak perlu kuatir, segala cecunguk-cecunguk semacam itu biar datang terlebih banyak lagi aku masih sanggup menyikatnya. Mari masuk, mereka menantikanmu dengan cemas!”

“Engkau tak usah kuatir, soalku pasti takkan merembet-rembet dirimu,” hibur Tiong Giok pada pemilik hotel. “Soal pindah harus kudamaikan dulu dengan kawan-kawanku…”

“Terima kasih.terima kasih,” pemilik hotel berulang-ulang memberi hormat dengan terbungkuk-bungkuk.

Didalam kamar tampak ibunya, Tio Ma dan Wan Jie sedang memperbincangkan soal dirinya yang tidak pulang semalam suntuk. Bagitu ia melangkah masuk, mereka menjadi girang, dan menanya ini itu secara melit. Dengan penuh kesabaran Tiong Giok menuturkan apa yang dialaminya secara ringkas tapi jelas.

“Kupikir engkau kemana pergi begitu lama, kiranya pergi ke pulau Hiu segala,” Wan Jie sedikit menggerendeng.

“Kalau kupikir kejadian semalam seperti mimpi saja, disana aku bertempur, tak tahunya disinipun kamu bertempur,” kata Tiong Giok.

“Ya waktu itu aku seorang diri menghadapi empat musuh, keadaan benar-benar gawat sekali. Untunglah Ceng Ceng dan Siau Bwee keburu datang. Sehingga dalam waktu sekejap kami berhasil membunuh dua musuh! Yang dua lagi segera lari! Waktu mau terang tanah tiba-tiba Liok Jie Hui sendiri yang datang, kupikir akan terjadi lagi perkelahian, tak kira orang tua licik itu tak mau berkelahi, ia hanya membawa mayat anak buahnya, pergi dan tak datang lagi.”

“Untung Siau cu jin berlaku cerdik,” kata Ceng Ceng. “Dan bisa menebak kehendak musuh, kalau mengikuti cara Tiat Kounio kita pasti terjebak siasat busuk Liok Jie Hui. Bangsat itu pasti sudah mengetahui bahwa jejaknya diikuti kita, sengaja ia meninggalkan kuil tua untuk memancing Siau cu jin pergi, diam-diam ia menyuruh anak buahnya datang kemari. Untung kami keburu pulang, kalau tidak entah apa yang bakal terjadi atas diri ibumu, Tio Ma dan Wan Kounio!”

“Oh…pantasan pemilik hotel ituketakutan sekali,” kata Tiong Giok. “Kiranya terjadi perkelahian yang memakan korban jiwa, kalau begini biar bagaimana kita harus pindah dari hotel ini.”

“Tampang bangkai pemilik hotel yang ketakutan itu menyebalkan sekali,” kata Ceng Ceng. “Pagi-pagi buta sudah menggebah kita pergi…biar saja kita disini, agar dia ketakutan setengah mati!”

“Tak bisa berlaku begitu, ia pedagang yang menyayangi sumber pencahariannya, kalau kita berkelahi terus disini, hotelnya ini bisa tak laku, sama dengan memecahkan mangkok nasinya bukan?”

“Sebaiknya peristiwa disini oasti sudah tersebar luas keseluruh kota Lam Ciong, mana ada penginapan yang mau menampung kita lagi?” kata Wan Jie.

“Oh….kuingat Siang Yauw menawarkan tempat, tidakkah lebih baik kita kesana?” kata Tiong Giok.

“Jangan kuatir manusia semacam Siang Yauw sembarang waktu bisa berbalik pikir dan merepotkan kita,” Wan Jie memprotes.

“Tapi sebagai orang kenamaan didunia Kang Ouw kuyakin Siang Yauw bisa dipercaya.”

Wan Jie menggelengkan kepala. “Kita harus menjaga sesuatu yang diluar dugaan dan bercuriga atas kebaikan orang!”

“Ada suatu tempat yang indah dan aman, letaknya tak seberapa jauh.”

“Dimana?” tanya Tiong Giok.

“Dikuil tua sarangnya Liok Lo Koay!”

“Benar!” kata Tiong Giok. “Liok Lo Koay yang pasti akan pindah dan takut kita satroni. Baiklah kita nantikan sampai malam baru kesana.”

“Ya kalau pergi sekarang mana bisa. Siau Bwee belum pulang, kita harus menunggunya,” kata Wan Jie.

“Memang dia pergi kemana?”

“Ia mencarimu,” kata Wan Jie. “Sebelum itu sudah berjanji berhasil tidaknya akan kembali disiang hari.”

Tiong Giok menggelengkan kepala. “Kenapa kau ijinkan ia pergi?”

“Mana bisa kularang?” sahut Wan Jie.

Sementara itu pemilik hotel sudah datang lagi dan memohon agar mereka lekas pindah tempat. Sikapnya tidak membuat Tiong Giok gusar, dengan sabar ia menjelaskan akan pindah setengah malam.

Pemilik hotel mau mengerti juga dan tidak berkata apa-apa lagi.

Sambil menunggu waktu, mereka telah berkemas-kemas dengan rapi. Haripun perlahan-lahan telah menjadi siang, tapi Siau Bwee belum kelihatan mata hidungnya. Tiong Giok kuatir terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan pada diri gadis itu.

Maka ia memesan pada Wan Jie dan Ceng Ceng untuk berlaku waspada, ia sendiri segera pergi keluar untuk mencari Siau Bwee.

Ia tidak berputar-putar kedalam kota mencari gadis itu, tapi langsung menuju kedekat kuil tua, dimana tadi mereka berpisah. Lalu kekampung nelayan yang dikunjungi tadi malam. Ditanyanya nelayan-nelayan disitu kalau-kalau melihat dirinya Siau Bwee, tapi semuanya menjawab tidak melihat gadis yang dimaksud.

Tiong Giok menjadi cemas, tambahan hari sudah hampir senja, maka ia tidak melanjutkan mencari sigadis, melainkan pergi kekuil tua untuk memeriksa keadaan. Ia mendapatkan kuil itu sepi dan kosong, nyatanya Liok Jie Hui telah pergi. Setelah memeriksa keadaan kuil dengan seksama ia pun pulang lagi. Waktu mau memasuki pintu kota, dirinya hampir bersampokan dengan seorang yang tergesa-gesa, Ia mengawasi orang itu, hatinya girang dengan mendadak, karena orang itu adalah Ciu Kong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: