Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:50 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 02: Mengunjungi Dewi Jarum Sih-hujin
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Lereng bukit. Di bawah sinar senja, lereng bukit yang hijau itu menampilkan warna ungu yang ganjil dan tak nyata. Sekarang hari telah senja, dan lereng gunung itu tertutup oleh beraneka jenis bunga mawar yang sedang berbunga. Dua orang gadis muda dengan rambut dikepang tampak sedang memetik bunga. Dari mulut mereka mengalun irama lagu pegunungan yang lembut dan manis.

Lagu mereka lebih lembut dan halus daripada angin musim panas yang hangat, mereka sendiri lebih cantik daripada bunga-bunga. Waktu Liok Siau-hong berjalan mendaki lereng bukit itu, lagu mereka tiba-tiba berhenti dan mereka berdua menatap Liok Siau-hong dengan mata mereka yang besar dan terang. Untunglah Liok Siau-hong telah biasa melihat wanita memandangnya, maka ia tidak menjadi malu tapi malah tersenyum.

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” Gadis muda ini bermata besar dan memiliki beberapa bintik kecil di hidungnya, semua itu malah membuatnya terlihat lebih manis dan menarik.

“Bunga-bunga di sini begitu indah, tidak bolehkah aku melihat bunga-bunga ini?” Liok Siau-hong menjawab, masih sambil tersenyum.

“Tidak!” Mata gadis berhidung bintik itu bertambah besar. “Tempat ini milik kami, kami tidak menerima laki-laki!”

“Gadis kecil seharusnya tidak cepat marah.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Gadis-gadis seperti itu mungkin tak akan menemukan seorang suami!”

“Itulah sebabnya aku tidak pernah bersikap ketus!” Gadis satunya lagi berwajah bulat dan bila dia tersenyum maka dua buah lesung pipi pun muncul, membuatnya tampak manis dan lembut, persis seperti yang ia katakan.

“Jika kau sangat menyukai bunga, bagaimana bila kuberikan 2 kuntum?” Ia terus tersenyum manis.

“Bagus!”

Gadis berlesung pipi itu berjalan menghampiri dan, sambil tersenyum manis, memasukkan tangannya ke dalam keranjang-bunganya. Yang ia keluarkan dari dalam keranjang itu bukanlah bunga, tapi gunting yang tiba-tiba ia tusukkan ke arah Liok Siau-hong. Gerakan gadis yang manis dan lembut ini ternyata luar biasa cepatnya, kejam, dan keji.

Bahkan Liok Siau-hong pun dibuat tercengang. Untunglah ini bukan pertama kalinya seorang wanita berusaha menusuknya dengan gunting dan dia pun tampaknya memang telah menduganya. Sambil memutar tubuhnya dengan cepat, dia mundur sejauh 5 m lebih ke belakang.

“Orang ini tampaknya hanya seorang sampah masyarakat, jangan biarkan dia kabur!” Gadis berhidung bintik berseru. Sebuah gunting juga muncul di tangannya dan ia pun terjun ke arena pertarungan. Gerakan-gerakannya juga tidak lebih lambat sedikit pun.

“Gunting digunakan untuk memotong bunga, sejak kapan digunakan untuk memotong orang?” Liok Siau-hong bergurau. Ia menghindari beberapa serangan pertama, tapi serangan kedua gadis itu makin lama semakin keji. Ia berusaha keras untuk merenggut gunting itu dari tangan mereka, memiliki sebuah lubang besar di tubuhmu tentunya bukan sebuah gagasan yang lucu.

Pada saat itulah seseorang tiba-tiba muncul di lereng bukit.

“Jika kalian ingin memotongnya, cukup potong saja 2 kumis kecilnya itu, tapi kalian jangan memotong orangnya sampai mati!” Sambil tersenyum, ia memberi perintah. Pakaiannya berwarna putih seperti salju, terbuat dari bahan yang ringan dan lembut. Ia berdiri dengan anggun dan ringan di atas puncak bukit, seolah-olah kapan saja ia bisa terbang terbawa angin. Ia sedang memandang Liok Siau-hong dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh kehangatan dan kelembutan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Kedua gadis itu tiba-tiba berhenti dan berjumpalitan ke belakang, dan mendarat di hadapannya.

“Siocia kenal orang ini?”

“Mmhmm!”

“Siapa orang ini?”

“Kalian tak melihat kalau dia punya 4 alis mata?”

“Liok Siau-hong? Orang ini adalah Liok Siau-hong?” Kedua gadis itu mulai cekikikan tak terkendali ketika mengetahui hal tersebut. “Tak heran tampangnya seperti seorang penjahat waktu dia tersenyum!”

“Nona adalah seorang harimau betina, tapi siapa yang mengira kalau pelayan-pelayannya juga begitu keji.” Liok Siau-hong menarik nafas dan tersenyum sabar. “Jika aku lebih lamban sedikit, mungkin sudah ada 17 atau 18 buah lubang di tubuhku.”

“Salah siapa kau lama sekali tidak datang ke sini untuk menemuiku?” Si nona menggigit bibirnya. “Aku pun sebenarnya tergoda untuk menusukkan 18 buah lubang ke tubuhmu. Tapi….”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi wajahnya sudah memerah, merah seperti matahari terbenam di pegunungan sana. Ternyata ia sangat pemalu.

Liok Siau-hong menatapnya, seperti terpesona.

Wajah si nona pun semakin memerah.

“Kenapa kau menatapku, tak mungkin sekuntum bunga tiba-tiba tumbuh di wajahku.” Ia berkata dengan ringan.

“Gadis kecil yang begini sopan dan pemalu, siapa yang menduga kalau dia adalah ‘Leng-lo-sat (Hantu Dingin)’, Sih Peng. Di dunia persilatan, siapa pun yang melihatnya tentu akan sakit kepalanya.” Liok Siau-hong kembali menarik nafas dan bergumam pada dirinya sendiri. “Dunia yang aneh, bukan?”

“Apakah kepalamu juga sakit bila melihatku?” Sih Peng bertanya.

“Tidak, kepalaku tidak.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tapi jantungku berdebar 3 kali lebih cepat daripada biasanya!”

“Orang ini mungkin memiliki sepasang mata bajingan, tapi mulutnya lebih manis daripada madu!” Gadis berlesung pipi tertawa dan berbisik.

“Jika mulutnya tidak manis, bagaimana dia bisa membuat Siocia memikirkannya setiap detik setiap harinya?” Gadis yang satunya lagi balas berbisik.

“Kalian tidak tahu kapan waktunya diam? Siapa bilang aku selalu memikirkan telur busuk tak berperasaan ini?” Sih Peng melirik dengan marah pada kedua gadis itu dan berkata, wajahnya pun memerah. Ia mencibirkan mulut tapi tersenyum, marah tetapi malu, tapi akibatnya matahari terbenam yang terang dan indah itu pun seperti kehilangan seluruh warnanya.

“Aku seharusnya datang dari dulu, kenapa aku menunggu sampai hari ini?” Liok Siau-hong kembali bergumam pada dirinya sendiri, dan menarik nafas.

“Aku tahu kenapa.” Sih Peng menjawab dengan anggun.

“Kau tahu?”

“Kau melihatku dan melupakan yang lain, tapi waktu kau melihat yang lain, kau pun lupa sama sekali padaku.” Sih Peng menggigit bibirnya lagi. “Kau adalah seorang laki-laki yang tidak memiliki perasaan sedikit pun.”

“Jika aku tahu aku akan mendapat caci-maki, mungkin seharusnya aku tidak datang!” Liok Siau-hong tersenyum dengan lembut dan sabar.

“Kau kira aku tidak bisa melihat jalan fikiranmu? Jika kau tidak memiliki keperluan yang mendesak, maukah kau datang?” Sih Peng berkata dengan dingin.

“Aku memang memiliki sebuah keperluan yang mendesak,” Liok Siau-hong mengakui. “Tapi bukan untukmu!”

“Katakanlah! Kau ke sini untuk bertemu siapa?” Sih Peng memasang muka serius.

“Untuk menemui Lothaythay!”

“Apa tujuanmu?” Sih Peng merasa aneh. “Mengapa kau ingin bertemu ibuku?”

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya!”

“Aku tak akan mengijinkanmu mengganggu ibuku. Jika kau punya pertanyaan, tanya saja padaku, itu sama saja.”

“Tapi tak mungkin kau bisa membantu dalam hal ini.”

“Apa itu?”

“Sulam-menyulam.”

“Sulam-menyulam? Kau ingin belajar menyulam? Sejak kapan kau menjadi penjahit?” Sih Peng semakin heran.

“Hanya penjahit yang boleh belajar menyulam?”

“Bahkan jika kau membunuhku, aku masih tidak percaya bahwa kau benar-benar ingin belajar menjahit!”

Sekali lagi Liok Siau-hong harus bersabar.

“Tapi benar-benar ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada ibumu, bisakah kau bawa aku menemuinya?”

“Aku masih keturunan ‘Dewi Jarum’ Sih-hujin, ingat? Mengapa kau tidak bertanya padaku?”

“Karena aku tahu kau tak pernah mau menyentuh jarum jahit sama sekali.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dulu kau pernah bercerita padaku, sekali saja kau memegang jarum jahit, kau tentu akan tertidur!”

“Kau masih ingat itu?”

“Aku mengingat setiap kata yang pernah katakan padaku. Maka lebih baik kau segera membawaku ke tempat ibumu!”

“Aku tidak mau. Kau mau apa?” Sih Peng tersenyum misterius.

***

Sih-lothaythay tahun ini telah berusia 77 tahun, tapi tak seorang pun bisa yakin kalau dia berumur 77 tahun. Dalam ruangan yang tidak begitu terang, banyak orang yang tentu akan mengira kalau usianya tidak lebih dari 38 tahun. Tingkah laku dan gayanya selalu patut dan sempurna, matanya masih berkilauan dan jernih. Bahkan, bila dia melihat seorang laki-laki muda yang dia sukai, maka tatapan polos seorang gadis remaja pun masih bisa terlihat di matanya.

Liok Siau-hong kebetulan adalah seorang pemuda yang dia sukai. Liok Siau-hong pun sangat menyukainya. Dia selalu berharap agar setiap wanita bisa secantik wanita ini saat seusianya – tentu dunia ini akan menjadi lebih indah daripada sebelumnya.

“Seharusnya kau lebih sering datang dan menemuiku, kau tahu.” Sih-lothaythay tersenyum. “Seorang wanita setua diriku bukan lagi merupakan bahaya bagi pemuda sepertimu. Paling tidak kau seharusnya tak takut kalau aku berusaha memaksamu menikahiku!”

“Aku ingin datang lebih sering, tapi Sih Peng tidak mengijinkan!” Liok Siau-hong sengaja menarik nafas secara berlebih-lebihan.

“Oh?”

“Tadi saja dia tidak mau membawaku ke sini untuk menemuimu!”

“Kenapa?”

“Aku pun tak tahu kenapa.” Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya seperti orang tak berdosa. “Aku rasa dia tentu cemburu.”

Sih-lothaythay kembali tertawa. Matanya mulai bersinar-sinar dan keriput di wajahnya pun menghilang.

“Bisakah kau lihat ini sebentar?” Liok Siau-hong mengambil kesempatan itu untuk menyerahkan kain satin berwarna merah itu padanya.

“Apa ini?” Sih-lothaythay hanya melirik kain satin itu sekilas sebelum perasaan tak suka muncul di wajahnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia kembali berkata. “Aku bisa menyulam lebih baik daripada ini sejak aku berusia 6 tahun!”

“Aku tidak memintamu memeriksa bunga ini,” Liok Siau-hong pun tersenyum. “Aku memintamu untuk melihat kain satin dan benangnya.”

“Aku telah melihat berjuta-juta benda seperti ini dalam hidupku, dan kau ingin aku melihatnya lagi?”

“Itulah sebabnya aku memintamu untuk melihatnya, karena kau telah begitu banyak melihat benda seperti ini. Bisakah kau menduga dari mana kain satin dan benang ini berasal, dan toko mana yang menjualnya?”

Sih-lothaythay memegang kain satin itu dan menyentuhnya sedikit dengan kuku jarinya.

“Kain satin ini berasal dari toko Hok-sui-siang di kotaraja, benangnya dibeli di toko Hok-ki. Kedua toko ini dimiliki oleh orang yang sama, letaknya pun bersebelahan.” Ia segera mengambil kesimpulan.

“Dan hanya di toko mereka di kotaraja sana kita bisa membeli barang-barang ini?”

“Kedua toko ini hanya ada di satu lokasi, tidak ada cabangnya!”

“Apakah mereka juga mengirimnya ke luar daerah atau menjualnya ke toko-toko lain?”

“Bahkan jika toko-toko lain memiliki barang-barang ini, mereka tentu mendapatkannya dengan datang langsung ke toko itu dan membelinya!” Sih-lothaythay menerangkan lebih jauh. “Kedua toko ini membuat barang-barang bermutu tinggi yang mereka jual sendiri. Mereka tidak membuat banyak, juga tidak mengiklankannya. Pemiliknya, Nyo A-hok, adalah orang yang prihatin, dia tidak berusaha menjadi kaya dalam bisnis ini!”

“Di mana letak tokonya di kotaraja?”

“Di sebuah gang kecil yang sangat terpencil di belakang Istana Musim Dingin, namanya gang Janda Ong. Selama bertahun-tahun dia tak pernah memasang iklan sedikit pun. Selain orang yang benar-benar ahli, sangat sedikit orang yang mengetahuinya!” Sih-lothaythay tiba-tiba tersenyum. “Sejujurnya, apakah kau jatuh cinta pada gadis ini tapi tak bisa menemukannya karena dia bersembunyi darimu? Karena itu kau berusaha mencarinya dengan menggunakan kain ini?”

{Catatan: Istana Musim Dingin adalah istana di mana isteri-isteri dan selir-selir Kaisar sebelumnya berdiam sampai saat kematian mereka.}

Liok Siau-hong terkejut, setelah beberapa lama baru ia tersadar.

“Wanita? Apakah seorang wanita yang menyulam ini?” Akhirnya ia berujar.

“Tentu saja seorang wanita yang menyulam ini.”

“Apakah… apakah kau yakin?”

“Apakah kau bisa keliru saat mengenali seorang wanita? Apakah kau bisa keliru mengenali seorang gadis muda dan menyangkanya seorang wanita tua?” Sih-lothaythay membuat kaku wajahnya, tampaknya dia agak jengkel mendengar pertanyaan itu.

“Tidak.”

“Aku paling tidak 10 kali lebih ahli dalam hal ini dibandingkan kau terhadap wanita. Jika aku keliru, maka aku merelakan anakku itu untukmu.”

“Bahkan jika kau benar-benar merelakan dia untukku, aku tak berani mengambil hadiahku.” Liok Siau-hong bergurau.

“Mengapa tidak? Menurutmu dia buruk rupa?” Mata Sih-lothaythay terbelalak marah.

“Oh tidak, sama sekali tidak buruk.” Liok Siau-hong tersenyum. “Hanya sedikit galak. Terakhir kali bertemu, ia hampir menggigit putus telingaku.”

Sih Peng sejak tadi berdiri dengan patuh di sana, tanpa membuat suara sedikit pun. Tapi sekarang wajahnya memerah dan kepalanya makin menunduk.

“Kau bilang dia galak, tapi bila aku memandangnya, dia bukan hanya tidak galak, tapi manis dan penurut seperti seorang malaikat!” Sih-lothaythay pun tersenyum. Ia menggenggam tangan Sih Peng. “Anakku, satu-satunya masalahmu adalah kau terlalu pemalu. Kenapa wajahmu gampang memerah? Wanita menggigit pria adalah sesuatu yang wajar dan biasa!”

Sekarang, bahkan bagian bawah telinga Sih Peng pun telah memerah karena malunya.

“Memangnya aku mau menggigit dia? Dia itu bau!” Ia menjawab.

“Jika kau tidak menggigitnya, lalu bagaimana kau tahu kalau dia bau?” Sih-lothaythay tertawa keras.

“Mmmm!” Sih Peng mencibirkan mulutnya sebelum berlari masuk ke dalam karena malu. Tapi walaupun demikian, ia tak lupa untuk melirik Liok Siau-hong dan berbisik. “Hati-hati!”

Liok Siau-hong mengawasi kepergiannya, dia seperti terpesona.

“Kau ingin mengejarnya, kan?” Sih-lothaythay tersenyum begitu lebarnya sehingga matanya nyaris hanya berupa sebuah garis tipis. “Silakan! Apa yang menghalangimu?”

Liok Siau-hong bimbang, matanya tidak lepas dari kain satin merah di tangan si nyonya tua.

“Apa yang kau pandangi? Kau kira aku menginginkannya?” Ia menertawakan Liok Siau-hong dan melemparkan kain itu kembali padanya. “Jika ada 2 helai, tentu aku bisa membuat sepasang sepatu untuk anak gadisku, tapi hanya ada satu….”

“Apa yang akan kau buat?” Liok Siau-hong memotongnya sebelum ucapannya selesai.

“Sepatu, memangnya apa lagi. Ini adalah kain permukaan sebuah sepatu.”

Liok Siau-hong kembali terkejut.

“Apakah itu sepasang sepatu merah?” Ia bergumam.

“Tentu saja sepatu merah.” Sih-lothaythay tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. “Bagaimana kau bisa membuat sepatu hitam dari kain merah? Tampaknya kau begitu cerdas, sejak kapan kau berubah jadi orang tolol?”

“Baru saja,” Liok Siau-hong menarik nafas, “karena ketakutan pada sesuatu.”

“Apa yang kau takuti?”

“Aku takut kalau dia menunggu di luar pintu untuk menggigitku!”

***

Ia benar-benar digigit ketika ia berjalan keluar dari ruangan itu. Sih Peng benar-benar menunggunya di luar, dan gigitan itu pun cukup menyakitkan.

“Aku benar-benar peramal yang hebat. Aku terlalu pintar meramalkan sesuatu.” Liok Siau-hong tertawa letih, menggosok-gosok telinganya dengan keras.

“Salahmu sendiri kenapa tadi mempermalukanku. Dan kenapa pula kau katakan bahwa aku tidak mau membawamu ke sini?”

Ia menatap Liok Siau-hong dengan marah dan mencela. “Jika bukan karena aku, bagaimana kau bisa berada di sini? Kau beruntung aku tidak menggigit kupingmu itu sampai buntung.”

Liok Siau-hong hanya bisa menutup mulutnya. Bila seorang gadis selalu mencari keributan denganmu, laki-laki yang cerdas tentu akan menutup mulutnya rapat-rapat.

Tiba-tiba, Sih Peng merenggut kain satin merah itu dari tangannya.

“Katakan padaku, siapa yang menyulamkan ini untukmu? Kenapa kau memperlakukannya seperti sebuah harta yang tak ternilai?”

“Karena kain itu memang sebuah harta yang tak ternilai.”

“Harta tak ternilai apanya,” Sih Peng mendengus. “Bagiku harganya bahkan tidak sampai setael.”

“Kali ini kau keliru. Kain ini paling tidak bernilai sama dengan 18 butir mutiara, ditambah dengan 800 ribu tael perak, dan 9000 potong daun emas!”

“Kau gila!” Sih Peng menatapnya dengan perasaan terkejut.

“Tidak.”

“Jika tidak, kenapa kau membuat dusta yang tidak masuk akal begitu?”

Liok Siau-hong menarik nafas. Ia tahu, walaupun ia tidak memberitahu gadis ini sekarang, cepat atau lambat dia tentu akan tahu sendiri. Maka ia memutuskan lebih baik memberitahunya sendiri sekarang.

Sih Peng mendengarkan ceritanya sambil membisu, matanya mulai bersinar-sinar.

“Selain dari benda kecil ini, tidak ada petunjuk lain?” Ia bertanya setelah Liok Siau-hong selesai bercerita.

“Tidak.”

“Dan itulah sebabnya kau bermaksud pergi ke kotaraja dan mengunjungi toko Hok-sui-siang untuk menyelidiki kapan mereka menjual kain ini dan pada siapa? Apakah aku benar?”

“Aku hanya berharap akhir-akhir ini tidak banyak kain satin merah yang terjual.”

“Toko dan pembuat bahan pakaian biasanya mempunyai catatan jual-beli paling tidak untuk masa setahun ke belakang.” Sih Peng mengedip-ngedipkan matanya dan berkata.

“Itulah sebabnya aku harus pergi sekarang juga.”

“Bagus, kita akan berangkat besok!”

“Kita?” Liok Siau-hong tampak terkejut.

“Kita.”

“Dan ‘kita’ ini termasuk kamu?”

“Tentu saja!”

“Jika ‘kita’ ini termasuk kamu, maka itu tidak termasuk aku!” Liok Siau-hong berkata apa adanya.

“Kau tidak ingin membawaku ke sana?” Sih Peng menatapnya dengan tajam.

“Tidak.”

Sih Peng menatapnya beberapa lama sebelum matanya tiba-tiba berputar-putar sedikit.

“Waktu ibuku tadi mengatakan sesuatu tentang sepatu merah, kau tampak terkejut.”

“Mm!”

“Apakah kau pernah melihat seseorang yang memakai sepatu merah?”

“Banyak orang yang memakai sepatu merah!”

“Tapi di antara mereka ada orang-orang yang istimewa. Seperti, contohnya, ada orang yang seharusnya tidak memakai sepatu merah, tapi masih juga memakai sepasang sepatu merah.” Ekspresi wajah Liok Siau-hong pun berubah. Ia masih tidak melupakan kalau Kaisar Rajawali Emas yang palsu itu, setelah mati pun, masih mencengkeram sebuah sepatu merah di tangannya.

“Apakah kau tahu mengapa orang-orang ini mengenakan sepatu merah?” Sih Peng bertanya dengan santai. Melihat ekspresi di wajah Liok Siau-hong, ia pun tahu kalau ucapannya telah mengena.

“Tidak.”

“Apakah kau tahu siapa orang-orang yang mengenakan sepatu merah ini? Kau tahu rahasia macam apa yang dimiliki sepatu merah ini?”

“Tidak.”

“Nah, aku tahu.”

Liok Siau-hong menarik nafas dalam-dalam, jantungnya mulai berpacu lagi. “Rahasia sepatu merah” ini benar-benar menggugah hatinya. Tapi ia tidak bertanya. Karena ia tahu walaupun ia bertanya sekarang, Sih Peng tak akan mau menjawabnya.

“Kau ingin tahu rahasia ini?” Sih Peng bertanya dengan santai, sambil meliriknya dari sudut matanya sekarang.

“Ya.”

“Kalau begitu, kau bersedia membawaku ke kotaraja?”

“Ya!” Liok Siau-hong tersenyum kesal. “Sangat bersedia!”

______________________________

Liok Siau-hong benar-benar tidak suka naik kereta kuda. Ia lebih suka naik kuda, atau bahkan berjalan kaki. Tapi saat ini ia sedang duduk di dalam sebuah kereta, karena Sih Peng menyukainya. Sih Peng merupakan seorang gadis yang bertingkah-laku sangat baik dan pemalu, dalam artian ia tidak pernah berjalan dengan langkah-langkah kaki yang besar, paling tidak ia suka berpura-pura seperti itu.

Untunglah kereta itu sangat stabil, karena jalan pun sangat mulus. Jalan raya menuju kotaraja memang sangat bagus. Duduk di dalam kereta, Liok Siau-hong mengurut-urut dagunya, karena dagunya terasa amat pegal. Tiba-tiba ia menyadari bahwa akhir-akhir ini ia tampaknya terlalu sering tersenyum sabar dan lelah, begitu seringnya sehingga dagunya pun menjadi pegal. Sih Peng duduk di seberangnya, menghadapnya, memandangnya; matanya kembali dipenuhi oleh kelembutan dan kegembiraan yang tak mampu diuraikan oleh orang lain.

“Bisakah kau beritahu rahasia itu sekarang padaku?” Liok Siau-hong tak bisa menahan dirinya lagi.

“Rahasia? Rahasia apa?” Sih Peng secara menakjubkan bersikap seolah-olah dia sama sekali telah lupa tentang persoalan itu!

“Rahasia sepatu merah itu tentu saja, memangnya apa lagi?”

“Oh, rahasia itu. Sekarang belum waktunya mengungkapkan rahasia itu!”

“Kapan waktunya tiba untuk mengungkapkannya?”

“Bila aku sedang bahagia, dan sekarang aku tidak begitu bahagia.”

“Mengapa kau tidak bahagia?”

“Tidak seorang pun yang akan merasa bahagia bila ada seorang tolol besar duduk di seberangnya.”

“Siapa orang tolol itu?”

“Kau.”

Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa dia sedang tertawa sabar lagi.

“Jadi siapakah aku ini? Seorang telur busuk tak berperasaan? Atau seorang tolol besar?”

“Keduanya.” Sih Peng tertawa kecil dengan santai. “Karena jika kau bukan seorang telur busuk tak berperasaan, maka tak mungkin kau akan memperlakukan aku dengan demikian buruk. Dan jika kau bukan seorang tolol besar, kau tak akan membuang-buang waktu dengan pergi ke kotaraja!”

“Kenapa aku menjadi tolol kalau pergi ke kotaraja?” Liok Siau-hong merasa bingung.

“Coba katakan, apa rencanamu setelah tiba di sana?”

“Kau tahu persis apa yang hendak kulakukan!”

“Menanyakan pada pedagang di toko Hok-sui-siang tentang siapa yang membeli kain satin ini, benar kan?”

“Benar!”

“Kau tahu berapa helai kain seperti ini yang mereka jual setiap harinya? Bahkan, seandainya mereka mengingat semua detil penjualannya, apakah kau bermaksud menyelidiki semua pembelinya?”

“Tapi tidak mungkin ada orang sebanyak itu yang hanya membeli kain satin merah dan benang hitam.”

“Dan di samping itu, orang ini melakukan semua perampokan seorang diri. Jadi mungkin dia sendiri juga yang membeli semua barang ini.” Sih Peng menambahkan.

“Ya, urusan ini memang sangat rahasia, maka sebaiknya tidak melibatkan orang kedua dalam hal ini!”

“Tapi mengapa menurutmu dia hanya membeli benang hitam dan kain satin merah?” Sih Peng tiba-tiba mendengus.

“Karena dia hanya menggunakan 2 macam barang itu.”

“Dan itulah sebabnya dia hanya membeli 2 macam barang itu dan barang lainnya tidak? Apakah ada aturan yang melarangnya membeli barang lain?”

“Tapi dia hanya menggunakan 2 macam barang itu!”

“Dan karena dia tidak menggunakannya, dia tidak mungkin membelinya? Apakah dia harus membeli benang hitam dan kain satin merah dalam jumlah yang amat besar untuk menarik perhatian orang lain dan membuat urusan jadi mudah bagimu?” Sih Peng mendengus dengan dingin. “Apakah kau benar-benar mengira dia seorang tolol besar sepertimu?”

Bahkan Liok Siau-hong pun tak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Karena urusan ini begitu rahasia dan beresiko, lalu mengapa ia harus meninggalkan petunjuk yang begitu besar dan mudah diikuti untukmu? Bahkan jika ia meninggalkan sedikit petunjuk di sana, saat kau tiba di toko Hok-sui-siang, mungkin kau akan menemukannya telah habis terbakar.”

Setelah terdiam beberapa lama, Liok Siau-hong akhirnya tersadar dan menarik nafas.

“Tampaknya aku benar-benar tolol.”

“Dan seorang telur busuk yang tak berperasaan!”

“Dan karena itu tak ada gunanya pergi ke kotaraja!”

“Hal itu hanya akan membuang-buang waktu saja.”

“Jika kita tidak akan pergi ke kotaraja, lalu mengapa kau tadi ingin mengambil jalan ini?”

“Karena aku tahu ada sebuah tempat yang menyediakan arak enak di depan sana. Dan aku tahu bahwa kau adalah orang yang sangat pemurah dan tentu mau mengundangku minum secawan atau dua cawan.” Sih Peng menjawab dengan manis.

“Ternyata aku bukan hanya orang yang tolol dan tidak berperasaan, aku pun masih punya sifat yang baik.” Liok Siau-hong tersenyum sabar. “Paling tidak aku bukan orang yang kikir.”

“Asal seorang laki-laki memiliki sifat itu, tentu selalu banyak gadis yang menyukainya.”

Menyingkap tirai ke samping, pinggiran sebuah sungai kecil bisa terlihat di kejauhan. Di hutan pohon liu itu, sehelai bendera hijau bertuliskan ARAK terlihat melambai-lambai.

“Inilah warung araknya.” Mata Sih Peng tampak bersinar-sinar.

“Tempat yang bersih dan indah!”

“Dan araknya juga benar-benar bagus; sangat enak!”

Melihat matanya yang bersinar-sinar, Liok Siau-hong pun tersenyum.

“Sejak kapan kau jadi suka alkohol?”

“Baru-baru ini saja.”

“Perasaanmu kurang enak akhir-akhir ini?”

“Akhir-akhir ini ibuku tidak mengijinkan aku minum. Semakin dia melarangku, semakin aku ingin, dan di samping itu….” Ia melirik pada Liok Siau-hong dan meneruskan dengan nada pahit. “Waktu kita berpisah terakhir kalinya, aku menyuruhmu datang dan berkunjung ke tempatku, tapi tidak pernah kau lakukan, jadi bagaimana mungkin aku bisa merasa enak?”

Liok Siau-hong tidak berani menjawab, karena dia tahu jika dia menjawab, telinganya mungkin akan digigit lagi.

Ia tidak ingin menjadi orang yang hanya memiliki satu telinga. Satu telinga benar-benar tidak cocok dengan empat alis.

***

Tempat itu ternyata benar-benar indah. Sungai kecil yang berkelok-kelok melatari pemandangan di tempat itu, pohon liu mengelilinginya dalam warna yang hijau. Terutama sekarang, saat senja datang, air sungai yang berwarna hijau memantulkan sinar matahari yang kemerah-merahan ke wajah orang, membuat wajah mereka tampak merah seperti bunga persik. Di luar hutan pohon liu ada beberapa rumah kecil. Meja-meja arak diletakkan di tepi sungai yang berpasir, dengan beberapa semak bunga melati tumbuh di dekatnya, yang dapat membantu menenangkan fikiran orang. Sih Peng tiba-tiba menyadari bahwa ini bukan pertama kalinya Liok Siau-hong datang ke sini, dia bahkan tahu ke mana harus pergi untuk buang air. Tapi beberapa saat yang lalu dia masih berpura-pura belum pernah mendengar tentang tempat ini.

“Telur busuk ini tampaknya benar-benar telah belajar untuk bersikap bodoh sekarang. Sekarang apa yang harus kulakukan? Ini bisa menjadi masalah.” Sih Peng menarik nafas. Ia merasa Liok Siau-hong persis seperti seekor ikan, hampir mustahil untuk ditangkap. Mungkin sebaiknya ia harus memikirkan ide-ide baru dan lebih baik untuk digunakan terhadapnya.

Pelayan datang menghampiri. Dia adalah orang desa biasa dengan alis mata yang tegak, mata yang lurus, dan tangan yang besar.

“Pertama, berikan kami 500 gram arak Tiok-yap-jing dengan 4 piring makanan dingin, 4 piring lagi makanan panas yang baru dimasak. Lalu pergi ke belakang dan sembelih seekor ayam betina yang tua untuk dijadikan sop.” Sebenarnya dia tidak makan sebanyak itu, tapi dia suka melihatnya, memang ada beberapa orang yang suka melihat makanan berada di hadapan mereka bila mereka sedang minum, Sih-siocia adalah salah satu dari mereka.

“Sebanyak itu hanya untuk dua orang? Kau ingin mengisi penuh perutmu hingga mati kekenyangan?” Si pelayan memandangnya dan berkata dengan dingin. Sih Peng terkejut, dia tentu saja belum pernah bertemu dengan pelayan seperti ini sebelumnya. Si pelayan mendengus dan meneruskan ucapannya. “Seorang wanita yang terlalu banyak makan tidak akan pernah menikah. Jika kau ingin menikahi si kumis kecil yang di sana itu, sebaiknya kau jangan makan banyak-banyak. Kalau tidak dia tak akan sanggup memberimu makan.”

“Siapa kau?” Sih Peng makin terkejut. “Kau mengenal si kumis kecil itu?”

Mata si pelayan berputar-putar sebentar sebelum dia tiba-tiba mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Mata Sih Peng makin lama semakin membesar ketika dia mendengarkan bisikannya, sampai akhirnya dia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan tertawa kecil. Sambil memegang tangan si pelayan, dia balas membisikkan sesuatu. Mereka berdua tampak akrab. Di tempat itu masih ada beberapa orang tamu lain, dan sekarang mereka semua sedang memandangnya sedemikian rupa sehingga mata mereka hampir melompat keluar dari tempatnya.

Seorang wanita yang pemalu, sopan, anggun, dan lemah lembut seperti dirinya mau bersikap begitu akrab dengan pelayan yang bertampang petani itu? Sih Peng tampaknya tidak memperdulikan betapa anehnya pandangan orang lain terhadapnya, si pelayan pun tampaknya tidak perduli. Akhirnya, setelah membuang hajat, Liok Siau-hong pun kembali, dia tampak sangat tidak senang.

“Kita akan minum, kenapa kau tidak senang?” Mata Sih Peng pun berkedip-kedip. Liok Siau-hong menjawab dengan sebuah dengusan dingin dan muka yang kaku.

“Kapan kau belajar bersikap begitu ramah pada laki-laki di depan umum?” Ia bertanya.

“Laki-laki?” Sih Peng mengedip-ngedipkan matanya. “Laki-laki mana?”

“Pelayan tadi itu laki-laki, bukan?” Liok Siau-hong tetap memasang muka kaku. Tidak ada laki-laki yang senang bila melihat gadis yang datang bersamanya bersikap akrab dengan laki-laki lain.

“Kau benar-benar tolol, ya?” Sih Peng tertawa dan berbisik padanya. “Tadi aku bersikap sedikit ramah padanya, dan bila nanti dia memberi kita tagihan, tentu tagihan itu akan sedikit lebih murah. Kau faham logika ini, bukan?”

Tapi Liok Siau-hong tidak faham, Sih Peng bukan tipe gadis seperti itu.

Sekarang pelayan itu datang kembali dengan membawa cawan dan sumpit.

“Buk!” Ia meletakkan cawan-cawan itu dengan kasar di atas meja dan melirik dengan kesal pada Liok Siau-hong.

“Bunga yang begini cantik, kenapa dibuang di atas tumpukan kotoran?” Ia bergumam pada dirinya sendiri. Kali ini Liok Siau-hong pun terdiam. Ada apa dengan pelayan ini? Sih Peng menutupi mulutnya sedemikian rupa agar tidak keluar suara tawanya yang keras.

Liok Siau-hong mengamati kepergian pelayan itu dan tiba-tiba dia pun tertawa. Ia hendak mengatakan sesuatu waktu tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki berjalan menghampiri dalam keadaan mabuk, tubuhnya sempoyongan hampir roboh. Ia memegang secawan arak di tangan yang satu dan menepuk bahu Liok Siau-hong dengan tangannya yang lain.

“Aku mengenalimu, kita pernah bertemu sebelumnya.” Ia berkata, dengan sebuah senyuman dungu di wajahnya.

Liok Siau-hong hanya bisa tersenyum. Ia memang pernah bertemu dengan orang ini, di jamuan pesta seseorang beberapa waktu yang lalu. Ia masih ingat bahwa namanya Sun Tiong, ia juga cukup terkenal di dunia persilatan. Waktu itu, seperti saat ini, dia dalam keadaan sangat mabuk sehingga lidahnya pun membengkak.

Liok Siau-hong memiliki dua buah prinsip. Ia tidak akan mengganggu orang-orang yang tidak mabuk di saat ia sendiri sedang mabuk, dan bila ia tidak mabuk maka ia pun tidak akan mengganggu orang yang sedang mabuk.

Tapi Sun Tiong ingin mengganggunya, sampai-sampai orang ini pun sekarang duduk di hadapannya.

“Aku masih ingat kumismu ini, tapi aku tidak ingat namamu.”

Mungkin memang sebaiknya dia tidak ingat. Tapi Liok Siau-hong tentu saja tidak berkata demikian padanya.

Sun Tiong tiba-tiba memalingkan kepalanya dan memandang Sih Peng.

“Gadis kecil yang bersamamu ini benar-benar cantik, persis seperti bunga narsiskus. Jika kau memerasnya, maka akan keluar airnya.” Ternyata ia datang untuk Sih Peng. Waktu ia melihat betapa akrabnya Sih Peng dengan pelayan tadi, ia pun merasa tergoda. Wajah Sih Peng memerah dan ia menundukkan kepalanya, bahkan seakan-akan terlalu malu untuk membuka kelopak matanya.

“Sobat, tampaknya kau sedang mabuk, mengapa tidak beristirahat?” Liok Siau-hong menarik nafas. Ia benar-benar tidak ingin ada masalah, bagi dirinya sendiri atau pun Sun Tiong. Tidak ada orang yang pernah mengganggu Leng-lo-sat (si Hantu Dingin) bisa tenang hidupnya. Tapi tampaknya Sun Tiong tidak mendengarkan dan terus menatap Sih Peng. Tiba-tiba ia kembali menepuk bahu Liok Siau-hong dengan keras.

“Laute, jika kau berikan gadis ini padaku untuk sehari ini saja, maka kau selalu bisa datang padaku jika kau mendapat masalah di dunia persilatan.”

Liok Siau-hong, anehnya, tetap mampu menjaga ketenangannya.

“Aku tidak ingin mendapat masalah,” Ia menjawab apa adanya. “Tapi tampaknya kau sendiri yang akan mendapatkannya, nasehatku padamu adalah ……”

“Aku sudah memberimu muka dengan mengajukan permintaan tadi!” Sun Tiong tidak membiarkan dirinya menyelesaikan ucapannya sebelum berteriak di mukanya. “Kau mau mengalah?”

“Mengapa kau tidak bertanya sendiri padanya?” Liok Siau-hong menyerah dan menarik nafas.

“Aku tidak perlu bertanya, aku tahu dia menyukaiku.” Sun Tiong tertawa dengan keras. “Memangnya apa yang kau miliki yang tidak aku punya?”

Wajah Sih Peng semakin memerah, wajahnya semakin menunduk, dia tampak semakin cantik dan polos.

“Nona kecil, bagaimana bila kau dan aku minum-minum di sana?” Sun Tiong menelan air liurnya. Dengan wajah memerah, Sih Peng hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Kau harus ikut, baik kau mau atau tidak!” Sun Tiong mengulurkan tangannya dan memegang tangan Sih Peng.

“Bisakah kau lepaskan tanganku?” Sih Peng semakin menundukkan kepalanya dan bertanya dengan perlahan.

“Tidak!” Sun Tiong tertawa dan menjawab.

“Kau benar-benar tidak mau?” Sih Peng bertanya, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

“Bahkan jika kau memotong tanganku, aku tak akan melepaskanmu!”

“Bagus!” Tiba-tiba gadis itu merenggut golok yang terpasang di pinggang Sun Tiong. Ketika dia melihat wajah gadis itu menjadi pucat, Liok Siau-hong tahu kalau ada sesuatu yang akan terjadi. Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu, tapi saat itu golok tersebut telah terhunus. Dengan sebatang golok terbang berkilauan di depan matanya, Sun Tiong tampaknya sedikit tersadar dan ia berusaha merampas kembali golok itu. Tapi, dalam sekejap tangannya telah terpotong dan jatuh ke atas tanah sambil memercikkan darah.

Bola matanya tiba-tiba terbeliak dan matanya melotot ketika dia menatap tangannya yang buntung dan kembali memandang pada Sih Peng, tampaknya ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dan pada saat ia akhirnya mulai mempercayainya, tubuhnya pun roboh ke tanah, diiringi oleh suara jeritan yang menyayat hati. Orang mabuk memang selalu bereaksi lebih lambat. Baru sekarang teman-temannya, yang tadinya menonton dari samping dengan gembira, maju dengan marah.

“Mengapa kau memotong tangannya?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya, sengaja tidak memperdulikan orang-orang yang menerjang mereka itu.

“Ia yang menyuruhku!” Sih Peng menjawab dengan muka yang marah.

“Tapi dia sedang mabuk!”

“Tapi dia tetap seorang manusia.”

Liok Siau-hong tiba-tiba merenggut golok itu dari tangan gadis tersebut dan, dengan perlahan menjepitnya di antara kedua jarinya, lalu menggerakkan tangannya dengan perlahan.

“Tak!” Golok baja itu patah menjadi dua bagian. Ia mengulangi perbuatannya itu lagi.

Dengan hanya menggunakan kedua jarinya dan beberapa kali jepitan, sebatang golok yang terbuat dari baja yang telah dilebur dan ditempa lebih dari 100 kali telah terpotong-potong menjadi 10 bagian kecil.

“Aneh, bagaimana mungkin sampah seperti ini bisa memotong tangan seseorang?” Ia mengerutkan keningnya. Orang-orang yang hendak menyerang itu pun berhenti secara serentak, terkejut tak terkira dan hampir tidak mempercayai pertunjukan yang baru mereka lihat itu.

“Sobat, siapa namamu?” Salah seorang dari mereka akhirnya bertanya.

“Margaku Liok!”

“Liok seperti pada kata ‘jalan’?”

“Liok seperti pada nama Liok Siau-hong!”

“Kau kau adalah Liok Siau-hong?” Wajah-wajah yang takjub tadi digantikan oleh wajah-wajah yang berubah warna menjadi hijau. Liok Siau-hong mengangguk.

Tidak seorang pun yang bicara lagi ketika mereka mengangkat teman mereka yang tergeletak di atas tanah itu, membalikkan tubuh, dan mulai berbaris keluar.

Tidak mengenali Liok Siau-hong, kedua tanganmu memang pantas dibuntungi!

“Tampaknya nama Liok Siau-hong pun sanggup membuat mundur orang-orang jahat, siapa yang mengira?” Sih Peng tertawa manis.

“Aku tahu kau memang suka membuat keributan,” Liok Siau-hong kesal dan menarik nafas. “Seharusnya aku tidak membawamu!”

“Apakah kejadian tadi itu kesalahannya atau kesalahanku?”

“Tapi kau seharusnya tidak memotong tangannya.”

“Dia yang menyuruhku!”

“Dia sedang mabuk!”

“Dan karena mabuk, dia berhak mengganggu orang lain?”

“Orang mabuk tetaplah manusia,” Pelayan tadi kebetulan datang lagi bersama makanan dan arak dan berkomentar. “Orang-orang seperti itu patut dipotong paling sedikit 180 kali.”

“Benar, ucapanmu cukup beralasan!” Sih Peng menjawab dengan manis.

“Hmph!” Pelayan itu, sekali lagi, meletakkan dengan kasar nampan berisi makanan dan arak itu di atas meja dan pergi, dia bahkan tidak melirik Liok Siau-hong sama sekali.

“Dan orang sepertimu patut dipotong paling sedikit 360 kali.” Liok Siau-hong berkata dengan dingin. Wajahnya berubah menjadi gelap dan tiba-tiba ia menyerang. Ia memungut sebuah potongan golok dengan kedua jarinya dan menyambitkannya dengan suara mendesing ke arah punggung si pelayan. Pelayan itu tidak berpaling, tapi tiba-tiba ia melesat ke depan, seolah-olah ia mendadak punya sepasang sayap. Bagaimana mungkin seorang pelayan warung arak memiliki kungfu yang demikian hebat?

“Aku tahu kau bukan orang baik-baik, ternyata kau seorang penjahat yang bisa terbang!” Liok Siau-hong mendengus. Ia mengibaskan tangannya dan sebilah potongan golok kembali melesat seperti kilat ke arah pinggang si pelayan. Pelayan itu sedang berada di udara tanpa ada sesuatu pun di sekitarnya yang bisa digunakan untuk menghindari atau membelokkan arah serangan itu. Serangan Liok Siau-hong benar-benar sangat cepat, tampaknya dia tidak mungkin bisa lolos lagi.

“Kau benar-benar akan membunuhnya?” Sih Peng bertanya.

“Jangan khawatir, dia tak akan mati.” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin. Sebelum ia menyelesaikan jawaban itu, si pelayan telah bersalto tiga kali di udara, menangkap potongan golok itu, dan mendarat dengan perlahan di atas tanah.

Sih Peng menatapnya, lalu menatap Liok Siau-hong, dan tersenyum cerah.

“Jadi kau telah tahu siapa dia!”

“Aku hanya tahu kalau ia adalah penjahat!” Liok Siau-hong memasang wajah serius.

“Jika aku penjahat, lalu kau apa?” Si pelayan tiba-tiba tertawa.

“Bapaknya penjahat!”

Pelayan itu tidak pergi dan mengambilkan makanan lagi, tapi malah duduk.

“Sayangnya kau tidak melakukan pelanggaran hukum, yang bisa kau lakukan hanyalah menggali beberapa ekor cacing tanah!”

“Menggali cacing?” Sih Peng mengedip-ngedipkan matanya.

“Oh, kau tidak tahu?” Si pelayan tertawa. “Ia tidak terlalu ahli dalam melakukan hal-hal lain, tapi sangat ahli dalam mencari cacing. Dalam 10 hari ia telah menggali 680 ekor cacing untukku!”

“Untuk apa kau membutuhkan semua cacing itu?” Sih Peng ingin tahu.

“Aku tidak butuh seekor pun, aku hanya suka menonton dia menggali cacing.”

Sih Peng tertawa.

“Pernahkah kau melihat dia menggali cacing?”

“Belum!”

“Oh, seandainya aku tahu sebelumnya, aku tentu akan mengundangmu nonton juga.” Si pelayan menarik nafas. “Waktu dia menggali cacing, lagak dan gayanya sangat sempurna. Anggun dan indah, kau tahu, bahkan penyanyi teater terbaik pun akan dibuat malu. Sayang sekali kau tidak melihatnya.”

“Tak apa-apa, masih ada waktu lain.” Setelah berhenti tertawa beberapa lama, barulah akhirnya Sih Peng bisa menjawab.

“Memangnya ada waktu lain?” Si pelayan ingin tahu.

“Tentu saja!” Sih Peng menjawab dengan muka kaku. “Mencari cacing tanah itu seperti minum arak: bisa kecanduan! Sekali seseorang menggali cacing, kau tak bisa mencegahnya menggali lagi bahkan jika kau ingin!”

“Bila lain kali aku menggali beberapa ekor cacing, aku tentu akan menyumpalkannya semua ke mulut kalian!” Liok Siau-hong memotong dengan dingin.

Pelayan yang aneh itu, tentu saja, tak lain tak bukan adalah Sukong Ti-sing.

Tamu-tamu lain telah lama pergi karena ketakutan. Maka mereka bertiga bisa berbincang-bincang dengan tenang di warung kecil itu. Satu-satunya yang menderita adalah pemilik warung arak yang kecil ini.

“Hidupmu sudah enak sebagai seorang pencuri, mengapa kau beralih ke bisnis jualan arak?” Sih Peng bertanya sambil menuangkan secawan arak untuk Sukong Ti-sing.

“Karena dia juga kecanduan!” Malah Liok Siau-hong yang menjawab. Ia masih tidak lupa kalau dulu Sukong Ti-sing pernah menyamar sebagai Tio si Muka Bopeng. Hal itu bukanlah sesuatu yang mudah dilupakan orang.

“Saat itu aku pun memperdayaimu, tapi rasanya tidak sebaik hari ini.” Sukong Ti-sing tertawa.

“Tampaknya kali ini kau tidak benar-benar berusaha memperdayaiku.” Liok Siau-hong menatap langsung ke mata Sukong Ti-sing. Tidak ada pelayan di dunia ini yang memiliki masalah tingkah laku yang demikian besar. Jika dia bukan berusaha menarik perhatian Liok Siau-hong dengan sengaja, lalu mengapa dia bertingkah seperti tadi?

“Waktu kau dulu menyerbu masuk ke dalam api yang menyala-nyala untuk menolong Tio si Muka Bopeng, aku tiba-tiba menyadari bahwa kau adalah seorang sahabat yang baik!” Sukong Ti-sing tiba-tiba menarik nafas.

“Tapi kau masih menyuruhku menggali cacing untukmu.”

“Kenapa kau? Khawatir kalau orang lain tidak tahu tentang hal itu?” Sukong Ti-sing tertawa lagi. “Ke mana pun kau pergi, pada setiap orang yang kau temui, kau tentu menyebut-nyebut hal itu!”

“Jadi kau telah bertemu Hoa Ban-lau dan Kim Kiu-leng?” Mata Liok Siau-hong bersinar-sinar.

“Mm!”

“Dan mereka memberitahumu bahwa aku akan mencari Sih Peng?”

Sukong Ti-sing mengangguk.

“Jadi kau menduga bahwa kami tentu akan melewati tempat ini dan berhenti di sini untuk minum?”

“Maka aku pun menunggu di sini!”

“Menunggu di sini hanya untuk ikut minum arak?”

“Kau tahu bukan demikian halnya, dan aku pun tidak ingin berdusta padamu!” Sukong Ti-sing tiba-tiba menarik nafas.

“Aku hanya tahu bahwa kita bersahabat.”

“Hal yang aneh adalah, kebetulan ada banyak orang yang menginginkan aku mencuri sesuatu darimu!” Sukong Ti-sing menarik nafas.

“Apa yang sekarang diincar?”

“Kau punya sehelai kain satin merah?”

“Kau tahu aku memilikinya, dan aku tidak ingin berdusta padamu.” Liok Siau-hong tersenyum.

Dan ada sekuntum peoni hitam yang tersulam di kain satin merah itu?”

“Apakah kain ini yang ingin kau curi?”

“Benar.”

“Kau sudah mengakui bahwa kita bersahabat, dan kau masih ingin merampokku?”

“Karena aku telah berjanji pada seseorang!”

“Mengapa kau membuat janji itu?”

“Aku terpaksa!”

“Mengapa?”

“Karena aku banyak berhutang budi pada orang ini!”

“Siapa orang itu?”

“Kau tahu kalau aku tidak akan memberitahukannya padamu, mengapa bertanya?” Sukong Ti-sing tersenyum letih.

“Rasanya kau pun berhutang budi padaku.” Liok Siau-hong tertawa. “Aku bukan saja pernah menyelamatkanmu, aku pun menggali 680 ekor cacing untukmu.”

“Itulah sebabnya aku bersikap jujur dan menceritakan hal ini padamu sekarang!”

“Tapi walaupun kau memberitahukan hal ini padaku, kau tetap akan mencuri dariku?”

“Sehelai kain satin merah seperti itu kan harganya tidak mahal.”

“Dan kau tidak pernah mencuri sesuatu yang tidak bernilai!”

“Karena kau telah melihat kain itu, tentu tidak banyak lagi gunanya untukmu, bukan?”

“Kau ingin aku menyerahkannya saja padamu?”

“Itulah yang ingin kukatakan dari tadi!”

Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.

“Mengapa kita tidak membuat sebuah perjanjian?”

“Perjanjian macam apa?” Sukong Ti-sing bertanya.

“Asal kau beritahukan padaku siapa yang memintamu untuk mencurinya dariku, aku akan membiarkanmu mencurinya!”

“Tak ada orang yang mau menyetujui perjanjian seperti itu!”

“Jika kita tidak bisa membuat sebuah perjanjian, maka kita hanya bisa bertaruh.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Bagaimana cara taruhannya?”

“Kau tahu berapa banyak kamar tamu yang ada di belakang?”

“Enam.”

“Aku akan menginap di sini malam ini dan menunggumu untuk datang dan mencurinya dariku!”

“Jika kau tahu aku akan datang untuk mencurinya, bagaimana mungkin aku bisa berhasil?” Sukong Ti-sing mengerutkan keningnya.

“Kau adalah Raja Pencuri, ingat?” Liok Siau-hong tertawa. “Tidak pernah gagal mencuri sesuatu, aku yakin kau akan menemukan caranya.”

“Dan bagaimana jika aku benar-benar punya rencana tentang cara mencurinya?” Mata Sukong Ti-sing tiba-tiba mulai bersinar-sinar.

“Benda itu sekarang ada padaku, jika kau berhasil mencurinya, maka aku bersedia menggali 680 ekor cacing lagi untukmu!”

“Aku bisa menggunakan cara apa pun yang aku mau?”

“Tentu saja. Apa pun yang kau mau!”

“Beberapa metode tidak akan kugunakan terhadap seorang sahabat!”

“Hanya untuk malam ini, kau boleh berhenti menganggapku sebagai sahabatmu!”

“Baik! Jadi!” Sukong Ti-sing tiba-tiba mengangkat sebuah cawan dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan. “Dan jika aku kalah, aku pun akan menggali cacing untukmu!”

“Aku tidak ingin kau menggali cacing!”

“Kau masih ingin aku berlutut di hadapanmu dan memanggilmu ‘Toasiok!’ setiap kali kita bertemu?”

“Kali ini sapaannya diubah menjadi ‘Bapak’!” Liok Siau-hong tertawa.

“Baik! Setuju!”

“Dan siapa pun yang mengingkarinya adalah anak kura-kura!”

“Tampaknya, tak perduli siapa pun yang menang, aku akan ditraktir nih!” Sih Peng tertawa dan berkata dengan senang.

“Tapi sekarang belum malam.” Sukong Ti-sing berkata.

“Jadi kita masih bersahabat!”

“Maka aku ingin mengundangmu minum!”

“Aku hanya berharap kau tidak memasukkan racun ke dalam minuman ini.” Liok Siau-hong tersenyum.

“Dan aku hanya berharap kau tidak membuatku mabuk!” Sukong Ti-sing balas tersenyum.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: