Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (16)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:49 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (16)
Oleh Gu Long

Teringat kepada peristiwa masa lampau, seketika Siaukongcu bergemetar.

Tanpa terasa Po-giok merangkulnya dan berkata, “Bicaralah perlahan, jangan takut. Aku kan berada di sampingmu, selanjutnya, menghadapi urusan apa pun pasti akan kutanggung bersamamu.”

Siaukongcu memandangnya sekejap, pandangan yang lembut dan penuh kasih mesra, pandangan yang cukup membetot sukma.

Tiba-tiba Po-giok melihat di tengah kecantikan si nona yang memang sudah ada itu bertambah lagi semacam gaya genit yang sukar dilukiskan, kegenitan ini meski rada dibuat-buat, tapi membuat kecantikannya terlebih merangsang, membuat setiap gerak-gerik dan setiap kata tawanya membuat perasaan orang terguncang.

Siaukongcu berkata perlahan, “Pengalaman selama sekian tahun sukar kujelaskan dalam waktu singkat. Pendek kata, selama ini sehari pun aku tidak pernah bebas, juga sehari pun tidak pernah gembira. Sampai akhirnya ketika kudengar kabar tentang dirimu, maka tanpa menghiraukan akibatnya aku mencari segala macam akal untuk keluar dan menemuimu, kemudian ….”

“Kemudian bagaimana?” tukas Po-giok.

Siaukongcu tersenyum pedih, “Ketika kawanan orang jahat itu mengetahui maksudku akan lari, tentu saja mereka takkan tinggal diam.”

“Dan mengapa kau mau pulang lagi ke sana?” tanya Po-giok.

“Jika aku tidak pulang, mereka terlebih takkan membiarkan diriku, mereka pasti akan mencari jalan untuk membikin susah padaku,” tutur Siaukongcu. “Aku tidak ingin bicara urusan ini sebab kukhawatir akan … akan merembet dirimu. Hari depanmu masih panjang, mana boleh … mana boleh kubikin celaka padamu ….”

Ia bicara dengan air mata berlinang, sedangkan darah panas bergolak dalam rongga dada Po-giok, ia pegang erat bahu si nona seakan-akan meremasnya.

“Hari depanku kan juga hari depanmu,” seru Po-giok parau. “Jika setiap hari kau menderita, biarpun aku menjadi raja juga tidak bahagia. Hanya kalau dapat kuselamatkan dirimu dari cengkeraman kawanan iblis itulah, biarpun mati juga kurela.”

Siaukongcu menjatuhkan diri dalam pelukan Po-giok, ucapnya, “Asal dapat kudengar ucapanmu ini, betapa deritaku juga tidak kupikirkan lagi …. Lekas rangkul diriku seeratnya, jangan … jangan sampai terlepas ….”

“Selamanya takkan kulepaskan kau pergi,” teriak Po-giok. “Aku ingin ….”

“Kau ingin apa?” mendadak suara dingin seram seorang memotong.

Waktu Po-giok dan Siaukongcu menengadah, tahu-tahu belasan orang berjubah putih dan berkerudung putih serupa hantu saja mengelilingi mereka dengan ketat.

Serentak Po-giok memisahkan diri dari Siaukongcu.

“Ini … inilah anak muridnya!” seru Siaukongcu dengan suara gemetar.

Padahal tanpa penjelasannya pun Po-giok dapat menerka kawanan berjubah putih ini pasti anak murid iblis Ngo-hing-kiong.

Segera Po-giok bersikap tenang kembali. Berbagai perasaan yang meliputi benaknya tadi lenyap seketika begitu berhadapan dengan musuh. Dengan gagah ia siap membela Siaukongcu, ia pandang sekeliling kawanan berjubah putih itu.

Belasan orang berjubah putih itu sama pula senjatanya, semuanya senjata aneh yang jarang terlihat di dunia Kangouw, antara lain seperti tombak berantai, ada yang bersenjata mirip sekop dengan kepala runcing seperti tombak dan bentuk lain lagi, ada yang bersenjata serupa potlot, akan tetapi kalau diperhatikan serupa bumbung pula …. Pendek kata semuanya senjata khas berbentuk aneh.

Sorot mata belasan orang itu pun berkelip-kelip aneh, jelas kejam dan juga rakus, malah serupa binatang buas.

Salah seorang berjubah putih yang berdiri sendirian di bawah pohon sana berkata, “Lepaskan dia, dan kau dapat diampuni!”

Sekilas pandang saja segera Po-giok tahu kawanan berjubah putih itu tiada seorang pun berpikiran normal, ia pun sungkan menjawab, ia tarik tangan Siaukongcu, katanya perlahan, “Ikut padaku, terjang keluar!”

“Tinggalkan aku saja dan lekas kau pergi!” jawab Siaukongcu dengan suara gemetar. “Kita takkan mampu menerjang keluar, jangan kau pikirkan diriku, anggap saja aku sudah … sudah mati!”

“Betul, lepaskan dia saja dan kau boleh pergi,” kata si baju putih tadi dengan tertawa seram. “Kau takkan mampu menerjang keluar.”

Belum lengkap suaranya mendadak Po-giok meloncat ke atas, Siaukongcu ditariknya terus menerjang ke sebelah kiri.

Akan tetapi di situ sudah menunggu tiga jenis senjata aneh, yang satu berbentuk kelopak bunga teratai, yang kedua serupa ranting kayu tanpa daun, satu lagi bercahaya gemerlapan dan tidak jelas bagaimana bentuknya.

Baru saja Po-giok bergerak, serentak ketiga macam senjata itu memapaknya dengan sinar gemerlap menyilaukan mata.

Selain aneh bentuknya, gerak serangan ketiga macam senjata itu juga sangat aneh dan sukar dimengerti, bahkan dapat bekerja sama dengan sangat rapat serupa dimainkan satu orang saja.

Ketika Po-giok terkesiap dan merandek sejenak, serentak ketiga macam senjata itu membura tiba dari atas. Sekonyong-konyong sebelah tangan Po-giok diangkat ke atas, langsung menerobos cahaya senjata musuh. Tampaknya tangan Po-giok pasti akan hancur lebur digilas oleh ketiga macam senjata aneh itu. Keruan Siaukongcu menjerit khawatir.

Siapa duga pada saat dia menjerit tahu-tahu tangan Po-giok berhasil mencengkeram bayangan hitam di tengah gemerlap menyilaukan itu, nyata secara menakjubkan dia mampu menerobos setitik peluang yang berada dalam serangan lawan yang ketat itu dan berhasil menangkap senjata lawan yang serupa ranting kering itu, dan senjata lawan yang lain ternyata tidak mampu melukainya sama sekali.

Si baju putih yang memegang ranting kering itu merasa suatu arus tenaga mahadahsyat mendadak tersalur ke telapak tangannya, meski halus tenaga itu, namun dahsyatnya sukar dilawan. Begitu tangan tergetar, segera jantung pun berdetak keras, darah dalam tubuh seakan bergolak, ia terhuyung mundur beberapa langkah dan ranting kayu sudah berpindah ke tangan Po-giok.

Begitu memegang senjata rampasan, langsung Po-giok mengangkatnya dan diputar perlahan, seketika timbul daya tolak yang kuat membuyarkan serangan kedua lawan yang lain.

Bagi pandangan orang lain, gerak tangan Po-giok itu dilakukan dengan sepele, namun ketiga lawan sekaligus dapat dipaksa mundur, tanpa terasa Siaukongcu berseru, “Bagus ….”

Tapi baru saja ia bersuara, serentak tiga macam senjata juga menyambar ke arahnya, senjata berbentuk serupa tombak, perisai dan ada seperti bola api.

Akan tetapi Po-giok hanya menggeser sedikit, segera tempat berpijaknya dengan Siaukongcu berganti tempat dan terlepas dari lingkup serangan senjata musuh. Hampir pada saat yang sama ranting kayu Po-giok lantas berputar juga sehingga ketiga macam senjata lawan terkurung oleh lingkaran yang diterbitkan ranting itu dan ketiga lawan pun sukar memainkan senjata masing-masing.

Waktu Po-giok putar lagi ranting kering, seketika ketiga lawan merasa seperti terbelenggu oleh suatu kekuatan tidak kelihatan. Dan ketika ranting kering Po-giok berputar ketiga kalinya, terdengarlah suara nyaring jatuhnya tiga macam senjata. Semua itu terjadi dalam sekejap saja.

Kecuali ketiga orang yang bersangkutan, kawanan berjubah putih yang lain sama sekali tidak tahu di mana kedahsyatan kekuatan tiga lingkaran ranting Po-giok itu.

Setelah merasakan kelihaian Po-giok, sorot mata kawanan jubah putih yang pongah tadi seketika berubah menjadi kejut dan jeri.

Sementara itu lowongan ketiga orang itu sudah diisi lagi oleh tiga orang lain sehingga Po-giok dan Siaukongcu tetap terkurung di tengah. Mendadak Po-giok putar lagi ranting kayu yang dipegangnya dan sekali sabet, tahu-tahu segumpal daun yang terlempar dari sana tersampuk berhamburan menghujani muka dan dada kawanan berjubah putih.

Meski cuma daun biasa, tapi tertolak oleh tenaga sampukan Po-giok berubah menjadi kuat dan serupa pisau tajamnya.

Orang yang paling depan tidak berani menghadapi sambaran daun tajam itu, cepat ia melompat ke samping sehingga terbuka sebuah jalan. Tentu saja Po-giok tidak buang waktu lagi untuk menerjang keluar.

Tapi baru saja ia bergerak, “blang”, mendadak menyambar tiba segumpal api hijau, daun yang terjilat api seketika terbakar menjadi abu dan lenyap.

“Celaka, api iblis!” seru Siaukongcu.

Sementara itu hawa panas api yang berkobar membuat mereka serupa terpanggang dan api hampir menjilat bajunya.

Tanpa pikir Siaukongcu menarik Po-giok dan melompat mundur, ternyata kawanan baju putih tidak ada yang mengejar lagi.

“Sayang, mestinya hendak kutawan salah seorang musuh untuk dimintai keterangan, sekarang mereka tidak ada yang mengejar, tentu sudah kabur semua,” ujar Po-giok.

“Jangan khawatir, biarpun tidak kau cari mereka, tentu mereka akan mencarimu lagi,” ujar Siaukongcu. Tiba-tiba air mukanya berubah sedih, ucapnya pula, “Dan selanjutnya hidupmu pasti takkan pernah tenteram lagi. Setiap saat dan di mana pun jiwamu tentu akan diintai maut, sampai tokoh semacam ayahku dan suhengku juga pusing kepala sekali mengikat permusuhan dengan Kim-ho-ong, sebab mereka tahu, bilamana orang Ngo-hing-kiong sudah bermusuhan denganmu, maka mereka akan serupa lintah yang hinggap pada tubuhmu, takkan lepas sebelum mati.”

Mendadak ia cengkeram lengan baju Po-giok dan berkata dengan parau, “Maka akan lebih baik biarkan kupergi saja. Jika aku tetap berada bersamamu, tentu banyak … banyak membikin susah padamu ….”

“Aku sudah siap mengorbankan segalanya,” sahut Po-giok tanpa pikir.

*****

Dalam pertarungan tadi, meski cuma terjadi beberapa gebrak saja, namun bahaya yang dialami dan tenaga yang terbuang tidaklah sedikit.

“Anak murid istana iblis itu ternyata tidak ada seorang pun yang lemah,” ujar Po-giok dengan gegetun. “Belasan orang tadi hampir semuanya tergolong jago kelas satu dan jarang ada tandingannya di dunia Kangouw, terutama senjata aneh mereka, tampaknya pasti ada cara penggunaan lain yang lebih hebat, cuma tadi dapat kuatasi mereka lebih dulu sehingga mereka sama sekali tidak sempat menyerang.”

Siaukongcu memandangnya dengan penuh rasa mesra, katanya lirih, “Siapa pun tak dapat dibandingkan engkau.”

Po-giok tersenyum, tiba-tiba ia berkata pula dengan kening bekernyit, “Kabarnya di antara orang Ngo-hing-kiong satu sana lain juga saling bertentangan, meski belum pernah terjadi pertengkaran secara terbuka, namun sudah sering bertarung secara diam. Belasan orang tadi jelas meliputi kelima unsur istana iblis itu, apakah mungkin antara mereka sekarang sudah ada kerja sama dengan baik?”

Mendadak Siaukongcu berteriak tertahan, “Hah, mereka datang lagi!”

Cepat ia tarik Po-giok dan diajak lari secepatnya.

Setelah beberapa puluh tombak jauhnya, ternyata tiada seorang pun yang mengejar mereka, perlahan ia berkata, “Kasihan, tampaknya kau sudah ketakutan oleh mereka, serupa burung yang sudah kapok terhadap anak nakal, begitu mendengar suara pelinteng lantas menyangka hendak dibidik.”

“Tapi … tapi aku memang takut,” ucap Siaukongcu sambil menggelendot di dada anak muda itu.

“Marilah kita pergi,” kata Po-giok.

“Pergi? …. Pergi ke mana?” tanya si nona.

“Ya, ke mana saja, yang jelas kita tidak dapat tinggal di sini, kita harus mencari para pamanku untuk berunding dengan mereka cara bagaimana menghadapi anak murid istana iblis. Dengan bantuan mereka tentu kita tidak perlu takut lagi.”

Mendadak Siaukongcu mendorongnya dan berkata, “Apakah engkau tidak sudi lagi berada sendirian denganku? Apakah engkau sengaja hendak membuat orang lain menyelinap di antara kita? Mereka tidak pernah kukenal, mengapa harus kuminta pertolongan mereka? Tadi baru saja kau katakan siap mengorbankan segalanya bagiku, rupanya itu cuma basa-basi belaka dan kau pun seorang penakut.”

Sambil berteriak ia terus berlari ke tepi jalan menuju ke suatu tanah pekuburan, di situ ada batu nisan dan tampaknya si nona hendaknya menumbukkan kepalanya pada batu nisan.

Keruan Po-giok berteriak khawatir. Syukurlah pada saat itulah dari balik kuburan muncul sesosok bayangan sehingga Siaukongcu menubruk ke tubuh orang ini.

Sementara itu jarak antara Po-giok dan Siaukongcu sedikitnya dua tombak jauhnya sehingga untuk mencegah tindakan si nona jelas tidak keburu lagi.

Terdengar Siaukongcu menjerit kaget dan orang itu pun membentak, “Berdiri!”

Po-giok merasa seperti dikemplang orang, ia berdiri terpaku dan tidak berani bergerak lagi, sebab saat itu Siaukongcu telah berada dalam cengkeraman orang.

Di bawah cuaca malam yang remang-remang masih dapat membedakan bayangan orang ini dari kepala sampai kaki terbungkus oleh warna kuning kelabu, dengan sendirinya karena dia berbaju yang sangat ketat dan pakai topeng sehingga tampaknya sekujur badan seperti dipoles dengan warna kuning kelabu. Dan Siaukongcu tergeletak di depannya, hanya sebelah tangannya dipegang olehnya. Nyata nona itu tertutuk hiat-to kelumpuhannya sehingga meronta pun tidak mampu.

“Kau siapa? Lepaskan dia!” bentak Po-giok.

“Hm, jika kau minta jiwanya diampuni, hendaknya mundur dulu agak jauh dan turut kepada perintahku,” kata si baju kuning dengan terkekeh.

Merah mata Po-giok seakan-akan hendak menyemburkan api, tapi apa daya, terpaksa ia menyurut mundur. Dan baru saja ia mundur beberapa langkah, kawanan orang berbaju putih tahu-tahu muncul kembali dari kegelapan malam. Keruan hal ini membuat Po-giok bertambah khawatir.

Ngeri juga Po-giok oleh kemunculan musuh yang gentayangan seperti badan halus itu. Kalau dia mau kabur sendiri jelas tidaklah sulit, tapi Siaukongcu … betapa pun dia tidak boleh meninggalkan nona itu. Tapi cara bagaimana pula ia harus menyelamatkan dia?

Mendadak bayangan kuning tadi melemparkan Siaukongcu ke balik makam, lalu mendekati Po-giok selangkah demi selangkah. Perawakan orang ini agak gendut, namun langkahnya enteng dan gesit, bahkan daun rontok yang memenuhi tanah pun tidak menerbitkan sesuatu suara ketika dilangkahi orang itu. Segera Po-giok menyadari sedang berhadapan dengan lawan tangguh yang jarang ditemuinya.

Mendadak si baju kuning meraung terus menubruk maju.

Semangat Po-giok terbangkit, sambil menggeser ke samping ia pikir inilah pertarungan yang menentukan, kalah-menang pertarungan ini tidak cuma menyangkut diri pribadinya, tapi juga menyangkut nasib Siaukongcu.

Begitulah segera terjadi pertarungan sengit. Lihai sekali jurus serangan si baju kuning, keji tanpa kenal ampun, seperti tidak puas bila kedua anak muda itu tidak dibinasakan olehnya.

Kawanan baju putih sama berdiri di sekeliling tanpa bergerak, agaknya mereka pun tahu sekali si baju kuning sudah turun tangan, maka orang lain tidak boleh ikut campur.

Di bawah remang malam terlihat gerak serangan si baju kuning serupa serigala dan harimau, selain gerak-geriknya menyerupai binatang buas, juga jurus serangannya menirukan gerak-gerik binatang. Rupanya ilmu pukulannya terkenal sebagai Jim-kim-ciang, ilmu pukulan tujuh jenis binatang, selain gerak-geriknya menirukan binatang, banyak lagi ditambah dengan gerak perubahan yang bersifat gerak-gerik manusia.

Mendadak menghadapi lawan aneh seperti ini, tentu saja Po-giok agak kebingungan dan tidak berani sembarangan turun tangan. Ia lihat gaya ilmu silat lawan serupa dengan Toh-liong-cu pembawaan bisu dan tuli, sedangkan orang berbaju kuning ini jelas tadi bersuara. Lantas siapakah orang ini?

Apakah mungkin di istana iblis itu masih banyak jago yang berwatak sama kejamnya seperti Toh-liong-cu itu? Dapatkah dirinya menghadapi lawan sebanyak itu dari Ngo-hing-mo-kiong yang lihai itu?

Selagi tertegun, serentak si baju kuning telah menubruk ke arahnya. Tubrukan ini pun sama dengan gerak-gerik binatang buas. Cepat Po-giok mengelak, akan tetapi sukar terhindar seluruhnya, kedua kakinya sempat dirangkul oleh si baju kuning.

Segera Po-giok bermaksud menghantam, tapi baru saja tangan terangkat, tahu-tahu si baju kuning yang serupa Toh-liong-cu itu telah menggigit kakinya, orang yang sudah gila serupa binatang itu tanpa peduli apa pun terus mengisap darah yang mengucur dari kaki Po-giok. Keruan Po-giok terkejut dan ketakutan, sedikit terpencar perhatiannya, segera ia jatuh terduduk.

Serentak kawanan baju putih sama terkekeh-kekeh, suara tertawa aneh itu berbaur dengan bau amis darah. Hampir sukar dibayangkan adegan yang gila dan menyeramkan ini.

Po-giok seperti sudah kehilangan daya perlawanan. Kecerdasan dan sifat kemanusiaan terkadang juga bisa ditaklukkan oleh sifat kebinatangan yang gila.

Si jubah putih tadi terkekeh dan berkata, “Nah, menyerah saja kawan, di dunia ini tiada seorang pun dapat menolongmu lagi. Tadi sudah kusuruh kau lepaskan dia dan kau tidak mau, sekarang jiwamu terpaksa harus ikut amblas.”

Po-giok merasakan kehampaan dan juga seperti kehilangan, pikirnya, “Adakah benar aku sudah tamat segalanya? Begitu juga dia? Jiwanya ternyata berbalik amblas karena tindakanku, jadi akulah yang membikin susah dia malah ….”

Hancur luluh perasaannya, ketika ia membuka mata, sekilas terlihat bayangan seekor burung terbang lewat di atas pohon. Bayangan burung yang terbang tenang bebas di tengah bayangan pepohonan yang bergerak-gerak, hal ini mendatangkan ilham yang sukar dilukiskan dalam benak Po-giok, mendadak semangat melepaskan diri dari cengkeraman binatang buas meledak, tanpa terasa sebelah tangannya menyampuk perlahan ke depan mengikuti garis terbang bayangan burung tadi.

Gerak pukulan ini tidak ada sasaran, juga tidak jelas arahnya, namun si baju kuning mendadak menjerit dan meloncat setingginya dengan berlumuran darah, ini bukan darah dari luka kaki Po-giok melainkan darah yang mengucur dari muka si baju kuning sendiri. Ternyata gerak tangan Po-giok yang perlahan itu telah tepat mengena bagian lemah pada batang hidungnya.

Suara tertawa kawanan baju putih seketika lenyap, mereka heran dan terkejut, belum lagi mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba si baju kuning sudah jatuh dan Po-giok melompat ke sana, menuju batu nisan. Tapi si jubah putih di bawah pohon tadi segera merintanginya.

Si jubah putih ini tadi sudah dikalahkan oleh Po-giok, biarpun dia dikerubut kawanan baju putih ini juga tidak gentar, langsung ia menerjang maju, dengan gerak cepat ia rampas semacam senjata lawan, sekali putar, belasan senjata lawan yang lain sama rontok tersampuk.

Ketika kawanan baju putih itu terperanjat, secepat terbang Po-giok sudah menerjang lewat ke sana, langsung menuju ke belakang batu nisan sambil berseru, “Inilah kudatang kemari!”

Akan tetapi apa yang terlihat membuat rasa girangnya seketika buyar, ternyata di situ tiada orang pun, mana ada bayangan Siaukongcu lagi?

Ke mana perginya nona itu? Jelas dia telah diculik pula oleh kawanan iblis dan Po-giok tetap tidak dapat menyelamatkannya. Ternyata sia-sia belaka perjuangan mati-matian yang telah dilakukannya tadi. Dengan lemas Po-giok duduk bersandar nisan.

Bilamana kawanan berbaju putih tadi menyusul tiba sekarang pasti Po-giok tidak bersemangat untuk bertempur lagi dan dia pasti akan dibinasakan oleh mereka. Akan tetapi di depan makam sana suasana sunyi senyap, belasan orang berbaju putih itu ternyata tiada seorang pun yang mengejar kemari, memangnya mereka telah lari ketakutan oleh kesaktian Po-giok tadi? Kalau tidak, sebab apa pula mereka tinggal pergi begitu saja?

Sekonyong-konyong dalam kegelapan berkumandang suara orang yang ketus dan dingin, “Dia berada di sini!”

Suara itu mengambang jauh, seperti ada serupa tidak ada, sukar bagi Po-giok untuk membedakan arah datangnya suara. Cepat ia melompat bangun dan lari ke depan makam, ia coba memandang sekelilingnya, tiada seorang pun terlihat, si baju kuning dan begundalnya yang misterius itu sudah lenyap pula secara aneh dan tanpa meninggalkan sesuatu bekas pertarungan sengit tadi.

Po-giok merasa seperti habis mimpi buruk saja dan Siaukongcu telah hilang dalam mimpi buruk ini.

“Di mana? Dia berada di mana?” teriak Po-giok sambil berpaling kian kemari.

“Di sini!” jawab suara yang mengambang hampa itu.

Sekali ini Po-giok dapat mendengar dengan jelas, suara itu ternyata tersiar dari atas makam. Po-giok menyurut mundur dua tindak dan coba mengamat-amatinya.

Kiranya di atas makam duduk bersila sesosok bayangan orang, juga berjubah putih dan berkerudung kepala putih sehingga tidak terlihat jelas wajahnya, hanya tangan kanan memegang setangkai bunga teratai berkelopak emas.

Pada lutut kirinya telentang seorang berbaju putih, jelas itulah Siaukongcu. Darah panas Po-giok bergolak, tanpa pikir ia terus menerjang ke sana.

Akan tetapi belum lagi ia mencapai makam, orang di atas makam lantas membentak, “Turun!”

Waktu ia ayun tangannya, serentak terjadi hujan emas, kiranya kelopak bunga teratai emas yang dipegangnya itu mempunyai daya guna khas, kelopak bunga ternyata dapat digunakan sebagai senjata.

Belasan daun kelopak bunga itu tipis dan tajam menyambar ke depan serupa pisau, dari berbagai arah menghambur ke tubuh Po-giok. Dalam keadaan demikian sungguh sulit bagi Po-giok untuk menghindar. Sedapatnya ia melompat mundur.

Terdengar suara “sret” sekali, sehelai daun emas itu menyerempet lewat dadanya dan hampir merobek kulit dadanya. Cahaya emas itu seperti benda hidup saja, setelah menyambar kian kemari akhirnya putar kembali lagi ke depan si baju putih yang duduk bersila itu dan ditangkapnya kembali.

“Hm, biar kukatakan padamu,” jengek si baju putih, “biarpun kepandaianmu sepuluh kali lipat sekarang juga jangan harap akan dapat menolongnya.”

“Berani kau ganggu seujung rambutnya, tentu kucabut nyawamu,” ucap Po-giok dengan suara gemetar.

“Hehe, jika kumau ganggu dia masakah perlu tunggu sampai sekarang?” jengek orang itu.

“Habis apa kehendakmu?” tanya Po-giok.

“Aku ….”

Belum lanjut ucapan orang, diam-diam Po-giok telah mengerahkan segenap tenaga untuk taruhan terakhir, secepat kilat ia menubruk lagi ke sana. Ia tidak menggunakan sesuatu senjata, namun gerak cepatnya melebihi senjata, belum tiba orangnya lebih dulu jarinya menutuk dan memancarkan angin tajam ke arah muka si baju putih.

Karena tidak menduga akan diterjang orang secara nekat, si baju putih agak kelabakan dan cepat menjatuhkan diri ke belakang. Tempat duduknya terletak di atas makam, maka tubuhnya lantas terguling ke bawah sehingga Siaukongcu tidak sempat dibawanya.

Tanpa hiraukan musuh lagi segera Po-giok menubruk maju dan merangkul erat tubuh Siaukongcu yang lemas itu. Akhirnya orang yang paling dikasihinya kembali lagi dalam pangkuannya, tanpa terasa ia mencucurkan air mata terharu.

Siapa duga si baju putih yang terguling ke bawah makam itu lantas terbahak-bahak dan berseru, “Hehe, jangan gembira dulu, boleh kau periksa apa yang terdapat dalam bajunya!”

Bersama dengan suara tertawanya, dalam sekejap saja orangnya sudah menghilang di kejauhan, suasana kembali sunyi diliputi kegelapan.

Kejut dan sangsi Po-giok, dengan agak gemetar ia coba memeriksa Siaukongcu yang dipeluknya itu, terlihat pada dada bajunya terselip sebuah sampul surat aneh berwarna-warni.

Dengan ragu ia coba periksa surat itu, ternyata isi surat berbunyi:

“Dia sudah minum air suci, air racun buatan khusus Istana Boh dan Toh, di dunia ini hanya obat penawar perguruan kita sendiri tidak dapat ditolong dengan obat lain. Jika ingin menyelamatkan jiwanya harus menuju ke Thian-hiang-teh-lim yang terletak ratusan li dari sini dan harus sampai di sana sebelum petang esok, dengan sampul pancawarna inilah untuk mohon bertemu dengan Tonghong-tiocu, kalau terlambat tentu tak tertolong lagi.”

Meski surat yang singkat, namun sehabis membaca surat ini tangan Po-giok pun berkeringat dingin dan membasahi kertas surat. Ia menengadah dan bergumam, “Apakah mereka sudah memperhitungkan aku pasti akan menolong dia, maka lebih dulu mereka mengatur rencana ini. Mereka seperti sudah dapat meramalkan segala apa yang bakal terjadi, kalau tidak, mengapa semua usahaku selalu gagal dan tetap masuk jebakan mereka?”

Perlahan Siaukongcu dapat membuka matanya, dilihatnya sinar mata Po-giok yang berkelip laksana bintang di langit.

Ia bersuara gembira dan pentang tangan merangkul Po-giok, katanya dengan suara gemetar, “Tak terduga aku dapat kembali di dampingmu … di mana mereka?”

“Sudah pergi semua,” ucap Po-giok.

Siaukongcu menghela napas perlahan sambil meraba muka Po-giok, ucapnya lirih, “Kau tahu, sejak kecil engkau sudah merupakan pahlawanku … dan engkau ternyata tidak … tidak mengecewakan harapanku ….”

“Tapi … tapi mungkin aku akan membuatmu kecewa,” kata Po-giok tiba-tiba sambil memandangnya lekat-lekat.

“Apa … apa katamu?” Siaukongcu tampak melengak.

Po-giok berpaling dan tidak ingin si nona melihat air matanya. Gumamnya sambil menengadah, “Sebentar lagi hari akan terang, esok sudah hampir tiba dan segera akan datang petangnya. Sebelum petang esok ….”

“Ada apa sebelum petang esok?” tanya Siaukongcu.

Dengan menahan perasaannya Po-giok berseru, “Sebelum petang besok harus kuantar dirimu kembali kepada mereka.”

Tergetar Siaukongcu, ia lepaskan rangkulannya pada Po-giok dengan air mata bercucuran, katanya dengan gemetar, “Jadi hendak kau antar aku pulang ke sana? Engkau tidak … tidak menghendaki diriku lagi?”

Po-giok berpaling dan diam saja.

Dengan gemas Siaukongcu menampar muka anak muda itu, dampratnya sambil menangis, “Dasar pengecut, bangsat yang tidak berguna, orang yang tidak punya perasaan, kiranya kau begini takut kepada mereka? Percuma kau mengaku sebagai pahlawan, ternyata melindungi seorang perempuan saja tidak mampu.”

Seraya mendamprat ia pun terus memukul.

Po-giok hanya menggigit bibir dengan erat dan menahan air matanya supaya tidak menetes, ia diam saja dan tidak bergerak.

“Baik, jika demikian, tidak perlu kau antar diriku, aku sendiri dapat pergi,” seru Siaukongcu parau. “Sungguh kubenci pada diriku sendiri, mengapa kutemui dirimu ….”

Ia meronta bangun dan berlari dengan sempoyongan.

Dengan tangan gemetar Po-giok bermaksud menariknya, tapi urung.

Akan tetapi mendadak Siaukongcu merandek dan membalik tubuh, dengan sorot matanya yang bening ia pandang Po-giok, katanya dengan suara gemetar, “Ya, kutahu sekarang, kutahu ….”

“Kau tahu apa?” tanya Po-giok dengan merunduk.

“Kutahu, tentu aku telah diracun mereka, maka jalan satu-satunya harus kau antarku pulang ke sana baru jiwaku dapat diselamatkan. Tapi … tapi agar tidak membuatku sedih, engkau rela menderita batin, rela kupukuli dan tetap tidak mau memberitahukan padaku duduk perkara yang sebenarnya ….”

Mendadak ia menubruk lagi ke dalam pangkuan Po-giok.

Po-giok sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sebab dalam keadaan demikian kata apa pun hanya berlebihan belaka, sebab keduanya telah tenggelam dalam buaian kasih mesra.

Bintang mulai jarang, langit mulai remang-remang, malam sudah digantikan fajar.

Akhirnya Po-giok berkata, “Marilah berangkat, kalau tertunda lagi mungkin akan terlambat.”

“Pergi? ….” Siaukongcu menegas. “Tidak, aku tidak mau pergi. Aku lebih suka mati di sampingmu daripada berpisah denganmu …. Rangkul diriku lebih erat, biarlah kumati saja dalam pelukanmu.”

“Engkau tidak boleh mati … betapa pun tidak boleh mati ….” kata Po-giok dengan menahan air mata, akan tetapi air mata tetap menitik dengan derasnya.

“Kau minta aku jangan mati, apakah kau kira aku tega meninggalkanmu?” seru Siaukongcu parau.

Po-giok menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Asalkan kau tidak mati, pada suatu hari akhirnya pasti dapat kuselamatkan dirimu. Tatkala itu kita akan selalu berada bersama dan tiada seorang lagi yang dapat merampasmu dariku. Aku berjanji!”

Meski perlahan suaranya, namun tegas, pasti, dan penuh kepercayaan akan diri sendiri.

Akhirnya Siaukongcu menunduk, ucapnya dengan suara seperti orang mengigau, “Ya, kupercaya padamu.”

*****

Thian-hiang-teh-lim, perkebunan teh harum langit. Sebuah perkebunan yang luas, pohon teh tumbuh memenuhi lereng bukit.

Dipandang dari kaki bukit, banyak terlihat anak gadis yang ramping dan penuh gairah dengan baju kembang dan memakai caping sibuk memetik daun teh di tengah pepohonan teh yang lebat itu.

Sementara itu sang surya sudah condong barat, cahaya senja menghias langit ufuk barat dan membuat pegunungan yang penuh pohon teh ini bertambah indah permai, kawanan gadis pemetik daun teh pun kelihatan cantik.

Pada saat itulah Po-giok telah membawa Siaukongcu sampai di kaki bukit perkebunan teh itu. Terlihat di antara dua pohon benar tergantung sebuah papan dengan empat huruf besar “Thian-hiang-teh-lim”, agaknya ini dianggap sebagai pintu gerbang perkebunan.

Akan tetapi di sekeliling tiada bayangan seorang pun. Po-giok agak ragu, akhirnya langsung ia terjang ke dalam perkebunan sambil berteriak, “Adakah orang di situ?”

Dari balik pepohonan teh sana mendadak muncul tiga gadis berbaju ungu, muka mereka tampak kemerah-merahan, tawa mereka tampak merah serupa bunga yang baru mekar.

Salah seorang gadis yang berdiri di tengah memandang Po-giok sekejap, tiba-tiba ia berdendang, “Wahai pemuda cakap, engkau datang dari mana? Berapa usiamu tahun ini? Apakah kau sudah beristri?!”

Ia menyanyi dengan lirik yang berpantun, suaranya merdu enak didengar.

Kedua gadis di kanan-kirinya ikut bertepuk tangan mengikuti irama lagu kawannya.

Po-giok melenggong, ia berdehem, lalu berkata, “Kami datang mencari Tonghong-tiocu, entah di mana ….”

Gadis tadi tertawa dan menyanyi lagi, “Kau datang ke perkebunan teh kami, untuk itu kau harus menyanyi. Kalau kau tidak dapat menyanyi, itu berarti kau si Dungu!”

“Ya, si Dungu … si Dungu ….” sambung kedua gadis lain mengikuti irama kawannya.

Muka Po-giok menjadi merah, sebaliknya Siaukongcu lantas mendengus perlahan, “Itu dia, orang telah penujuimu, seharusnya kau pun berpantun, kenapa diam saja?!”

Diam-diam Po-giok mengomel, dalam keadaan begini toh si nona masih juga cemburu. Ia tidak tahu bahwa bilamana kaum gadis sudah cemburu maka tidak ada soal kapan dan di mana pun.

Semula Po-giok mengira setiba di Thian-hiang-teh-lim ini tentu akan dihadapinya macam-macam rintangan dan jebakan, yang akan ditemui tentu juga kawanan orang jahat, untuk itu ia sudah siap menghadapinya dengan cara apa pun. Siapa tahu di tengah perkebunan teh ini justru penuh suasana riang gembira, yang ditemuinya juga tiga orang anak gadis yang lincah dan banyak tawa, tanpa menggunakan senjata, tapi menggodanya dengan nyanyi dan berpantun.

Dalam keadaan demikian, Po-giok berbalik melenggong dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Kembali Siaukongcu mendengus, katanya, “Coba, melihat anak perempuan, seketika kau terkesima. Pantasan orang menyebutmu si Dungu.”

Habis berkata, mendadak ia bertolak pinggang dan juga berdendang dengan lantang, “Wahai kawanan gadis kebun teh yang tidak tahu malu, bila bertemu lelaki lantas main pantun. Kedatangan kami adalah untuk memenuhi janji Tiocu (kepala kebun) kalian, harap lekas pulang memberi lapor kepada juragan kalian ….”

Kawanan gadis baju ungu itu saling pandang sekejap, lalu seorang menanggapi, “Wah, nona ini cantik lagi genit, mulut pun tajam sukar dilawan. Jika kalian datang atas undangan Tiocu, adakah kau bawa kartu undangan?”

Supaya uraian tidak bertele-tele, Po-giok lantas menyerahkan sampul pancawarna dan berseru, “Ini kartu undangannya.”

Melihat sampul berwarna-warni itu, kawanan gadis tadi tidak menyanyi lagi, serentak mereka menghilang lagi ke balik pepohonan.

“Huh, tidak tahu malu!” jengek Siaukongcu.

Po-giok menghela napas, katanya, “Tempat ini tampaknya aman, namun bahaya yang tersembunyi mungkin sukar dibayangkan. Bilamana kita tertipu oleh nyanyian kawanan gadis tadi sehingga kurang waspada, maka segalanya bisa runyam.”

“Asal kau tahu saja,” kata Siaukongcu.

Pada saat itulah tiba-tiba tujuh-delapan gadis berbaju ungu muncul lagi mengiringi seorang nyonya cantik setengah umur dengan dandanan perlente.

Belum mendekat bau harum mereka sudah menusuk hidung disusul suara tertawa merdu mereka.

Nyonya cantik itu melangkah dengan pinggul yang meliuk-liuk sehingga menimbulkan bunyi nyaring perhiasan yang dipakainya, katanya dengan tertawa, “Atas kunjungan Pui-siauhiap sungguh suatu kehormatan besar bagi perkebunan teh ini, bilamana tidak ada sambutan yang layak, harap Pui-siauhiap suka memaafkan.”

Po-giok tidak berani mengadu pandang dengan nyonya yang genit dan menggiurkan itu, katanya dengan menunduk, “Kumohon bertemu dengan Tonghong-tiocu ….”

“Aku Tonghong Giok-koan, akulah tiocu perkebunan teh yang kecil ini,” tukas si nyonya cantik dengan tertawa.

Po-giok melengak, sebelumnya ia membayangkan bilamana Tonghong-tiocu ini kalau bukan manusia berwajah bengis tentu juga orang yang penuh kelicikan. Siapa tahu “Tonghong-tiocu” ini justru sedemikian cantik, genit, seorang perempuan yang pasti akan menjadi sasaran perebutan kaum lelaki.

Akhirnya Po-giok dipersilakan masuk ke kompleks perumahan yang dibangun di lereng bukit dengan indahnya. Di situ sudah disiapkan perjamuan seperti sebelumnya memang sudah diperhitungkan akan kedatangan Po-giok pada waktu yang tepat.

Siaukongcu tampak mendongkol dan diam saja.

Po-giok berdehem, lalu berkata, “Kudatang sesuai kartu undangan, entah ….”

Tiba-tiba Tonghong Giok-koan memotong, “Pui-siauhiap muda dan cakap, entah mengapa kaum gadis mau membiarkanmu datang kemari begitu saja, apa barangkali anak gadis zaman ini telah berubah menjadi bodoh semua?”

Muka Po-giok berubah merah, katanya pula, “Tentang Ngo-hing-mo-kiong itu ….”

Dengan tertawa Tonghong Giok-koan memotong pula, “Pui-siauhiap sedemikian menarik, pantas kawanan gadis sama berebut sesuatu tanda mata darimu. Jika aku masih muda, pasti aku juga akan tergila-gila padamu.”

Sembari bicara ia pun menuangkan arak dan menyilakan Po-giok bersantap, nyata ia sama sekali tidak memberi kesempatan bicara kepada anak muda itu, terutama tentang Ngo-hing-mo-kiong segala.

Po-giok tidak tahan lagi, dengan suara lantang ia berteriak, “Dia keracunan dan cara bagaimana harus menyelamatkannya? Aku diharuskan datang ke sini, lantas apa kehendakmu?”

Tonghong Giok-koan tersenyum, jawabnya, “Dari mana kau tahu dia keracunan?”

“Aku … aku ….” Po-giok gelagapan.

“Seharusnya kau bawa dia ke tempat lain dulu, buktikan apakah dia benar keracunan tidak?” ujar Tonghong Giok-koan dengan kerlingan. “Bukan mustahil di tempat lain akan dapat ditemukan cara menolongnya, mana boleh langsung kau bawa dia ke sini?”

Butiran keringat menghias kening Po-giok, jawabnya, “Kukhawatir terlambat memberi pertolongan padanya dan akan menyesal selamanya, maka aku tidak … tidak berani bertindak lain.”

“Hihi, orang pintar seperti dirimu, mungkin karena kau terlampau memerhatikan dia, maka berubah menjadi linglung,” ujar Tonghong Giok-koan dengan tertawa.

Mendadak Po-giok berdiri dan berteriak, “Melihat caramu bicara, jangan-jangan dia tidak … tidak pernah keracunan, sampul surat itu hanya tipuan belaka untuk memancingku membawanya kemari? Bukankah ini sama dengan kumasukkan dia ke mulut harimau? Akulah yang membikin celaka dia ….”

Sampai akhirnya suaranya menjadi gemetar dan hampir sukar diucapkan.

Tonghong Giok-koan meliriknya tanpa menjawab melainkan tertawa terkial-kial bagai tangkai bunga tertiup angin.

Sebaliknya Po-giok mandi keringat dan berteriak parau, “Dia … dia sesungguhnya keracunan tidak?”

“Dia? …. Dia siapa?” tanya Tonghong Giok-koan mendadak dan berhenti tertawa.

“Dia adalah ….” serentak Po-giok putar tubuh dan menuding ke belakang, tapi suaranya lantas terputus dan darah serasa membeku, sebab di belakangnya ternyata kosong melompong, mana ada bayangan orang?

Ternyata Siaukongcu yang berada di belakangnya tadi kini telah lenyap secara misterius. Sungguh serupa mimpi buruk saja, mimpi buruk yang menakutkan.

“Ke mana perginya?” bentak Po-giok. “Kalian menculiknya ke mana lagi?”

Tonghong Giok-koan menjawab dengan bingung, “Siapa yang kau maksudkan? Di sini kecuali kau dan aku, mana ada orang ketiga?”

Po-giok memandang sekelilingnya, di dalam ruangan memang tidak ada orang lain, yang ada cuma asap dupa wangi yang masih mengepul dan menyebarkan bau harum yang aneh dan penuh misteri.

“Tapi … tapi baru saja ….” suara Po-giok gemetar.

“Jelas tadi kau datang sendirian,” ujar Tonghong Giok-koan. “Coba kau lihat, di atas meja hanya ada dua buah cangkir, apakah baru saja kau mimpi bertemu dengan siapa?”

Waktu Po-giok memeriksa ruang ini, di sini hanya ada sebuah pintu dan jelas tidak pernah ada orang keluar-masuk, sama sekali ia pun tidak mendengar sesuatu suara.

Seketika benaknya serasa kosong, “bluk”, ia menjatuhkan diri di atas kursi dan bergumam, “Jika ia pergi sendiri, mengapa aku tidak diberi tahu? Jika ia diculik orang, mengapa tidak terbit sesuatu suara? …. Mengapa dia ….”

Begitulah ia berpikir pergi-datang, makin dipikir makin kacau, sampai akhirnya dalam benak seperti ada sesuatu berputar dengan cepat dan akhirnya ia mendekap kepalanya di atas meja.

Tangan Tonghong Giok-koan yang halus perlahan memegang pundak anak muda itu dan dibelai dan dihibur dengan kata mesra merayu. Akan tetapi sorot matanya justru berubah dingin dan mengawasi ujung jari sendiri.

Apakah kiranya yang dipikirkan perempuan ini, apakah ia sedang berpikir asalkan ujung jari sendiri menusuk sedikit saja akan menamatkan nyawa Po-giok? Dan mengapa dia tidak segera turun tangan?

Ia tidak tahu bahwa anak muda yang tidak bergerak itu sebenarnya penuh diliputi kekuatan tak kelihatan yang tergembleng sehingga sedikit diserang dari luar segera akan memancarkan daya serang balasan yang dahsyat.

Cuma mungkin Tonghong Giok-koan memang tidak bermaksud membikin celaka Po-giok, dengan sendirinya tidak turun tangan.

Di tengah bau harum yang memenuhi seluruh ruangan itu mendadak Po-giok mendongak dan menampilkan senyuman hambar, katanya, “Ya, betul, memang kudatang sendirian.”

“Eh, rupanya baru sekarang kau ingat,” ujar Tonghong Giok-koan dengan tersenyum.

“Tapi aku tidak ingat urusan lain lagi, mengapa aku bisa datang kemari? Dalam hal ini tentu … tentu ada sebabnya kan?”

“Kulihat keadaanmu agak gawat, lelah lahir batin, tampaknya kau perlu istirahat dengan baik-baik supaya rasa tegangmu dapat dikendurkan dan segala urusan tentu akan kau ingat kembali.”

Ucapannya lembut, penuh perhatian dan menghibur serupa seorang kekasih yang halus budi dan seperti kasih sayang seorang ibu.

Po-giok mengolet kemalasan dan berkata, “Ya, memang aku perlu istirahat sekarang.”

Mendadak Tonghong Giok-koan menepuk tangan, segera serombongan pelayan cilik berlari masuk, semuanya nona manis, jumlah dua-tiga puluh orang. Mereka lantas menyanyi dan menari dengan berbagai gaya yang indah.

Dengan tertawa Tonghong Giok-koan berkata, “Semua ini gadis pemetik teh, mereka pandai memberi atraksi yang menarik, dengan begitu rasa tegangmu pun akan mengendur.”

Ternyata ia tidak melakukan sesuatu tindakan jahat terhadap Po-giok, sebaliknya malah memberi pelayan dan hiburan yang menarik. Memangnya apa sebabnya?

Akan tetapi Po-giok tidak sangsi sedikit pun, ia tertawa dan mengucapkan terima kasih.

Sementara itu kawanan gadis sudah mulai menari dan menyanyikan lagu yang merdu. Setiap gadis itu sama cantiknya. Po-giok tampak terhibur dan senang, sering ia bertepuk tangan mengikuti irama nyanyi kawanan gadis itu dan terkadang pun bersorak.

Entah sejak kapan baju kawanan gadis itu mulai ditanggalkan sepotong demi sepotong dan akhirnya telanjang bulat, semuanya bertubuh putih bersih, montok menggiurkan menyambarkan gerak-gerik yang memikat dan penuh daya tarik yang sukar dilawan.

Sampai puncaknya, satu per satu kawanan gadis cantik itu bergiliran menjatuhkan diri dalam pangkuan Po-giok, ada yang menyuguhkan arak, ada yang menyuapi makanan, ada yang menciumnya. Semua itu diterima Po-giok tanpa gugup.

Akan tetapi di tengah keasyikan nyanyi dan tari itu, diam-diam Tonghong Giok-koan mengeluyur keluar, seringan burung terbang ia melompat ke atas loteng kecil yang terletak di samping kebun teh sana.

Tiada orang di situ, perlahan ia meraba dinding, mendadak bagian tengah ruangan muncul sebuah lorong panjang dan gelap. Giok-koan berseru, “Ini Giok-koan sudah datang.”

Dari lorong berkumandang suara orang yang kaku dan dingin, “Bagaimana keadaannya?”

“Semuanya berjalan lancar,” tutur Tonghong Giok-koan. “Tapi kemudian Pui Po-giok itu seperti berlagak bodoh dan juga seperti benar-benar bingung.”

“Hm, apakah pernah kau katakan apa-apa padanya?” jengek suara itu.

Tonghong Giok-koan menunduk, jawabnya, “Pui Po-giok itu masih muda belia, akan tetapi ternyata sukar dihadapi. Dia bisa mendadak pintar dan tiba-tiba berlagak bodoh. Terpaksa Tecu pura-pura tidak tahu …. Dan yang paling sukar diraba adalah saat ini dia tidak bicara sesuatu apa pun, seperti benar-benar terjebak oleh Bi-hun-tin (barisan penyesat sukma) kita.”

Ia menghela napas perlahan, lalu menyambung, “Betapa tinggi ilmu silat Pui Po-giok belum jelas diketahui, hanya caranya sebentar bodoh sebentar pintar ini sudah terang jarang ditiru orang biasa.”

“Jika dia orang biasa, buat apa kita bersusah payah mencari akal untuk menghadapi dia?” jengek orang itu. “Sekarang lekas kau kembali ke sana untuk mengerjai dia.”

Tonghong Giok-koan mengiakan dengan hormat, segera ia melompat mundur. Dinding itu merapat dan lukisan pemandangan yang besar yang tergulung ke atas menurun lagi, hanya sekejap saja ruangan itu telah pulih kembali seperti semula tanpa menerbitkan suara, jelas ruang yang penuh pesawat rahasia ini dirancang oleh seorang ahli yang sukar dicari.

Sementara itu baju Po-giok hampir terbuka seluruhnya, rambut juga terlepas, wajah kawanan gadis sama merah dan tertawa cekikak-cekikik, di lantai penuh berserakan baju.

Tonghong Giok-koan menyelinap masuk di luar tahu orang, serunya, “Wah, anak-anak suka bikin kacau, hendaknya Pui-siauhiap jangan marah.”

“Marah?” Po-giok tertawa. “Berada di tengah gadis-gadis cantik begini, masakah aku sampai hati marah? Terus terang, aku justru merasa sangat senang dan bahagia.”

Tonghong Giok-koan mengerling genit, ucapnya dengan tertawa, “Tampaknya anak-anak ini sudah menyukai Pui-siauhiap, sekiranya Pui-siauhiap menghendaki dilayani siapa saja di antara mereka, cukup memberi pesan ….”

Po-giok menatap Tonghong Giok-koan dengan terkesima, katanya, “Kecantikan anak gadis ini mana dapat dibandingkan gaya Hujin (nyonya) yang masak, kukira hanya Hujin ….”

Ia tersenyum dan tidak melanjutkan, muka Tonghong Giok-koan menjadi merah, sedangkan kawanan gadis sambil tertawa, ada yang berkata, “Aha, kiranya Pui-siauhiap penujui Hujin sendiri.”

Mendadak dua gadis mendorong Tonghong Giok-koan ke arah Po-giok, dan anak muda itu terus saja merangkulnya dengan erat.

Entah malu atau memang hatinya juga tergelitik, mendadak wajah Tonghong Giok-koan merah jengah, ingin menolak, tapi urung ….

Sekonyong-konyong air mukanya berubah pucat, belum lagi sempat bersuara, tahu-tahu ia jatuh terkulai dan Po-giok pun lepaskan tangannya.

Keruan kawanan gadis sama kaget dan berteriak, “Hai, Hujin di … diapakan olehmu?”

“Tidak apa-apa, agaknya kalian juga perlu tidur saja,” ujar Po-giok dengan tersenyum sambil berdiri.

Baru selesai ucapannya, benar juga kawanan gadis itu satu per satu juga roboh terkapar, robohnya susul-menyusul dan hampir berbarengan.

Apakah mereka terbius? Memangnya orang macam apa Pui Po-giok, masa dia juga pakai obat bius segala? Tapi kalau bukan obat bius, apakah dia mahir ilmu sihir?

Pada detik terakhir ketika akan roboh, setiap gadis itu menampilkan rasa kejut dan bingung serta tidak percaya kepada apa yang terjadi, siapa pun tidak tahu mengapa mendadak bisa roboh.

Mereka tidak tahu bahwa tadi di luar tahu mereka diam-diam Po-giok telah meremas hiat-to tidur mereka. Kepandaian “meremas hiat-to” ini serupa dengan ilmu menutuk, mengebut hiat-to dan sebagainya. Bila kungfu meremas hiat-to sudah mencapai puncaknya, waktu robohnya sasaran dapat ditentukan menurut keras-perlahan remasannya. Dengan sendirinya untuk menguasai kungfu meremas hiat-to dengan baik diperlukan lwekang yang tinggi dan perhitungan yang tepat.

Dalam hal ini Po-giok memang sudah menguasai dengan baik, ia dapat mengerahkan tenaga menurut kehendaknya. Tadi ia telah meremas hiat-to setiap gadis itu dengan tenaga yang sedikit dengan perhitungan waktu roboh mereka yang hampir berbareng setelah lewat sekian lama.

Begitulah dalam ruangan indah ini sekarang menggeletak berpuluh sosok tubuh yang menggiurkan, kulit badan putih halus, bagian dada yang montok, siapa pasti akan tertarik. Akan tetapi Po-giok justru tidak memandang mereka lagi, cepat ia mendekati dinding.

Perlahan ia meraba dinding itu, dengan cermat ia menjajaki rahasia yang terdapat pada dinding itu.

Dengan mata telanjang sukar menemukan rahasia pada dinding itu, akan tetapi perasaan Po-giok ternyata dalam menyentuh kunci rahasia dinding. Di mana jarinya berhenti dan menekan perlahan, dinding yang semula halus licin itu mendadak merekah tanpa menerbitkan suara.

Namun Po-giok tidak heran oleh apa yang terjadi, sebab hal ini memang sudah berada dalam dugaannya. Tanpa gentar ia terus masuk ke balik dinding sana yang pasti penuh rahasia dan bahaya.

Ruangan ini ternyata jauh lebih indah dan mewah daripada ruang di depan, di mana-mana terdapat benda antik, seluruh ruangan hampir dihias dengan batu permata. Lantainya beralas permadani dari kulit binatang.

Silau juga pandangan Po-giok melihat kemewahan ruangan ini seakan-akan berada di surgaloka. Akan tetapi penghuni di sini pasti bukan malaikat dewata melainkan setan iblis.

Po-giok menarik napas panjang dan melangkah maju. Langkah yang mantap tanpa gentar. Ia maju terus menyusur lorong yang panjang itu. Pada ujung lorong itu ternyata tidak ada pintu.

Baru saja Po-giok hendak meraba lagi di mana letak pesawat rahasianya, tahu-tahu pintu sudah muncul sebelum tangannya bergerak.

Lalu berdering suara nyaring serupa bunyi kelening, dinding batu telah terbentang lagi dan terlihat tirai mutiara.

Pada saat itulah terdengar suara merdu menggetar sukma menyapanya, “Kau sudah datang? Silakan masuk!”

Po-giok terkejut dan heran, ia pikir apakah orang sudah tahu akan kedatangannya. Lalu apa yang akan diperbuat mereka terhadapku?

Tanpa pikir ia menyingkap tirai dan masuk ke sana. Ruangan di balik tirai tentu saja terlebih indah, namun tetap tidak terlihat bayangan orang.

Di dalam ruangan itu ada sebuah meja, di atas meja ada sebuah pot kemala dengan hiasan beberapa tangkai bunga. Begitu melihat bunga, pandangan Po-giok tidak berpindah lagi ke arah lain.

Meski bunga kamelia yang menghias pot itu cuma terdiri dari beberapa tangkai, namun sudah cukup membuat ruangan batu bertambah indah dan menarik. Tanpa terasa ia bergumam, “Di dunia ini, selain dia, siapa lagi yang sanggup merangkai bunga sebagus ini?”

Belum lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong lantai di mana ia berpijak terbuka, tanpa kuasa Po-giok terjeblos ke bawah.

Jika pada hari-hari biasa, asal terjadi sedikit kelainan pada lantai, seketika pasti akan diketahui oleh Po-giok dan segera akan dapat dihindari tempat bahaya itu.

Tapi sekarang Po-giok sedang memandang bunga dan lagi terkenang kepada si perangkai bunga, hatinya terguncang dan pikiran melayang sehingga sama sekali tidak dirasakan adanya kelainan lantai yang diinjaknya itu.

Mungkin kawanan iblis yang misterius ini memang sudah memperhitungkan kemungkinan Po-giok akan termenung bilamana melihat bunga kamelia itu, maka tipu muslihat ini sengaja diaturnya dengan baik.

Tapi apakah benar karangan bunga ini adalah buah tangan Siaukongcu? Jika benar, apakah dirangkai olehnya secara sukarela dan karena dipaksa?

Jika sukarela, pada waktu merangkai bunga ini apakah Siaukongcu tidak tahu tujuannya adalah untuk menjebak Po-giok? Bila dipaksa, tampaknya karangan bunga itu dirangkai oleh orang yang berpikiran tenang dan santai. Kalau tidak, mana mungkin menghasilkan karangan bunga yang memesona itu.

Dalam keadaan biasa, sebenarnya perangkap begitu juga belum pasti dapat mengurung Po-giok, mestinya dia mampu melejit dan melepaskan diri dari jebakan itu. Tapi sekarang lubang jebakan itu ternyata mengandung semacam daya isap yang amat kuat sehingga Po-giok tertarik ke bawah tanpa mampu melawan.

Pada saat itu juga didengarnya suara gemerciknya air, pada detik lain tubuhnya lantas tenggelam ke bawah dan daya isap yang aneh itu pun lantas lenyap. Lubang lantai di atas juga sudah merapat kembali sehingga keadaan gelap gulita dan sunyi senyap serupa kuburan. Genangan air di lubang ini ternyata hampir tiga kaki dalamnya.

Setengah badan Po-giok seluruhnya terendam air, ia coba menarik napas panjang, segera pula ia dapat menerka rahasia timbulnya daya isap yang kuat itu.

Rupanya air dalam sumur ini semula lebih banyak daripada sekarang ini, di dasar sumur tentu ada lubang buangan dan air genangan merembes keluar melalui lubang itu.

Pada waktu air mengucur keluar tentu akan menimbulkan semacam daya isap. Tapi ketika Po-giok jatuh ke dalam sumur ini, diam-diam lubang buangan air itu segera ditutup orang, kalau tidak Po-giok tentu akan hanyut terbawa arus.

Dari sini dapat diduga musuh yang tidak kelihatan itu tidak berniat menghabisi jiwa Po-giok. Ia biarkan anak muda itu tetap hidup, tentu karena dia masih mempunyai rencana yang lebih mendalam dan lebih keji. Tapi sesungguhnya apa tujuannya?

Kembali Po-giok menarik napas panjang-panjang, ia coba memeriksa dinding sekeliling, ternyata semuanya buatan baja dan tidak mungkin dapat dibobol dengan tenaga manusia, sedangkan bagian atas berjarak lebih 20 tombak tingginya dari permukaan air.

Tiba-tiba terdengar suara misterius berkumandang dari atas, “Pui Po-giok, kau memang manusia luar biasa, tapi akhirnya kau pun terjebak oleh perangkapku yang luar biasa ini.”

“Siapa itu? Sesungguhnya apa yang kau inginkan? Mengapa tidak langsung bicara terus terang saja padaku?” sahut Po-giok. “Apakah boleh per … perlihatkan wajahmu padaku?”

“Tidaklah sulit jika kau ingin bertemu dengan aku,” kata orang itu. “Cuma ….”

Ia sengaja berhenti bicara. Siapa tahu Po-giok berdiri dengan tenang dan menunggu dengan sabar tanpa menegas.

Terpaksa suara itu menyambung sendiri, “Cuma sekarang kau sudah merupakan tawananku, tentunya kau tidak bebas untuk menemuiku begitu saja terkecuali kau mampu meloloskan diri dari perangkap ini, kalau tidak, boleh kau tunggu dulu beberapa hari lagi.”

Ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata pula, “Biarpun kepandaianmu setinggi langit, namun kelaparan dan kehausan selama beberapa hari tentu akan membuatmu kehabisan tenaga, tatkala mana baru akan kukeluarkan dirimu dan akan kujelaskan duduknya perkara, dan apa yang kusuruh dikerjakan olehmu terpaksa harus kau turut.”

Habis berkata, ia tertawa senang, namun sama sekali tidak ada reaksi lagi dari dalam sumur perangkap itu.

“Apa yang kukatakan sudah kau dengar tidak?” tanya orang itu, “apakah kau ….”

Mendadak ia merasa ada bunyi air lagi di dalam sumur itu, menyusul ada cahaya yang amat kuat menyorot ke dalam sumur. Ternyata air dalam sumur lantas menyurut lagi dengan cepat dan Po-giok yang terendam dalam air sudah tak terlihat lagi bayangannya. Nyata anak muda itu telah berhasil membuka lubang buangan air di dasar sumur dan ia ikut terhanyut oleh arus yang kuat.

Meski ia tidak tahu dirinya akan terhanyut ke mana, tapi demi mendapatkan kebebasan, ia tidak sayang bertaruh dengan nyawa sendiri.

Menghadapi keadaan demikian, biarpun terkejut dan mendongkol, mau tak mau iblis di atas sumur itu harus kagum juga, gerutunya, “Kurang ajar! Hebat juga. Rasanya jauh lebih sulit daripada apa yang kita bayangkan bilamana kita hendak menundukkan orang seperti ini. Kukira lebih baik habisi dia saja.”

Segera suara seorang yang merdu menjawab, “Orang yang sukar dicari seperti dia mana boleh dibiarkan mati begitu saja. Jika menghendaki kematiannya tentu tidak perlu kutunggu sampai sekarang ….”

Ia tersenyum, lalu menyambung, “Biar, akan tetap kubiarkan dia hidup. Sekalipun tubuhnya terdiri dari besi juga akan kubikin dia lemas seperti kawat.”

*****

Po-giok melingkarkan tubuhnya dan membiarkan hanyut dibawa arus yang kuat, sungguh amat tersiksa tubuh yang diterjang arus dan terbentur kian kemari.

Biarpun badan menderita, namun batinnya seteguh baja, ia yakin arus yang dahsyat itu pasti takkan merenggut nyawanya.

Untung sungai buangan itu sudah licin karena setiap saat digerojok air yang keras, akhirnya semua siksa derita dapat dilalui Po-giok. Terdengar suara mendebur, arus yang kuat itu mendadak lenyap, tahu-tahu tubuhnya tercebur ke suatu kolam yang tenang. Waktu kepalanya menongol ke permukaan air, segera ia menarik napas panjang-panjang.

Ia coba memandang sekelilingnya, terlihat di sekitar situ banyak pagar bambu yang terawat dengan tetumbuhan yang permai menghiasi deretan gunung-gunungan palsu, beberapa bangunan tampak berdiri megah di sana. Jelas inilah sebuah perumahan yang indah.

Di dalam taman tidak ada orang, kolam ini terletak di tengah taman. Perlahan Po-giok berenang ke tepi kolam dan merambat ke tepian. Setelah mengaso sejenak, segera ia lompat ke atas gunung-gunungan. Dari sini ia mengintip ke sana.

Dilihatnya di sebelah barat sana ada beberapa paviliun indah, terdengar suara orang perempuan yang sedang bicara dan tertawa.

Dengan ringan Po-giok melayang ke depan rumah dan mendadak ia mendorong pintu terus menerobos ke dalam. Ia tahu jejak sendiri pasti akan ketahuan, lalu buat apa main sembunyi, kan lebih baik masuk saja terang-terangan.

Ruangan yang indah dengan meja hias itu dikerumuni beberapa gadis jelita, mereka asyik menyisir rambut dan bersolek. Mereka seperti kawanan gadis pemetik teh yang pernah dirobohkan Po-giok dengan meremas hiat-to mereka itu.

Ketika mendadak melihat Po-giok menerobos masuk dalam keadaan basah kuyup, mereka menjerit kaget dan berlari serabutan, hanya sekejap saja mereka sudah menghilang di balik tabir sana. Hanya tertinggal seorang gadis jelita berbaju putih yang masih duduk menghadapi sebuah cermin perunggu yang paling besar di sebelah kiri sana, seorang nyonya setengah baya dan berbaju mentereng sedang menyisir rambutnya. Perunggu yang mengilap itu memantulkan bayangan wajahnya yang cantik. Siapa lagi dia kalau bukan Siaukongcu.

Hanya setengah badan nyonya berbaju mentereng itu terbayang dalam cermin, wajahnya tidak kelihatan. Ketika diketahui ada lelaki timbul dalam bayangan cermin, mendadak sisir kayu yang dipegangnya terjatuh, cepat ia pun lari masuk ke balik tabir.

Dari perawakan dan sedikit raut wajah yang sekilas terbayang dalam cermin, Po-giok merasa seperti sudah mengenalnya. Memangnya siapa dia?

Po-giok berdiri termangu di dekat pintu tanpa bergerak. Perlahan Siaukongcu membalik tubuh dan memandangnya dengan tenang. Sejenak kemudian, air mukanya yang cantik dan tenang itu mendadak timbul semacam perasaan heran dan kejut, serunya, “Hah, Po-ji … kau Po-ji!”

“Betul, apakah tidak kau kenal diriku lagi?” ujar Po-giok.

“Sudah lebih enam tahun kita berpisah, engkau sudah … sudah bertambah besar, aku hampir tidak … tidak kenal lagi padamu.”

Suara Siaukongcu terasa gemetar, ia berdiri, tubuh juga tampak gemetar sehingga rambutnya yang panjang indah ikut bergetar.

“Kau bilang sudah lebih enam tahun tidak bertemu denganku?” Po-giok menegas.

“Ya, sudah lebih enam tahun,” jawab Siaukongcu.

“Semalam juga engkau tidak bertemu denganku?”

Siaukongcu menunduk, tiba-tiba ia tersenyum pedih dan menjawab lirih, “Ya, semalam memang kulihat dirimu … kulihat dalam mimpi. Hampir setiap malam aku mimpi bertemu denganmu.”

Mendadak ia berlari ke depan Po-giok dengan napas memburu, dada naik-turun, seperti menahan perasaannya yang terguncang, akhirnya ia merangkul anak muda itu dan menangis tersedu sedan.

Po-giok hanya berdiri diam saja seperti patung.

“Mengapa engkau bisa datang ke sini?” tanya Siaukongcu. “Ayolah katakan, mengapa diam saja?”

Tangan Po-giok tampak bergerak, seperti hendak membelai rambut si nona, tapi baru terangkat lantas diturunkan kembali, ucapnya perlahan, “Apa yang dapat kukatakan?”

“Ceritakan pengalamanmu selama ini?” ujar Siaukongcu. “Katakan … apakah pernah kau pikirkan diriku.”

“Aku baik-baik saja, selalu kupikirkan dirimu, semalam dalam mimpi juga kulihat dirimu, aku … aku ….”

Tiba-tiba di luar ada suara langkah orang.

“Celaka!” keluh Siaukongcu. “Ada orang datang, di sini bukan tempat yang aman ….”

Cepat ia tarik Po-giok dan berlari ke balik tabir sembari berkata dengan khawatir, “Lekas ikut kemari, jangan sampai mereka membikin susah padamu.”

Dengan kaku Po-giok ikut masuk ke sana, setelah menerobos dua ruangan barulah Siaukongcu berhenti, lalu membalik dan merapatkan pintu kamar.

Keindahan kamar ini jauh melebihi ruang yang lain, bau harum tersebar memenuhi ruangan. Kelambu warna jambon, begitu pula sarung bantalnya dan selimutnya, semuanya serbajambon.

Po-giok memandang sekeliling ruangan dengan melongo.

“Inilah kamarku,” bisik Siaukongcu dengan muka merah, ia menuangkan secangkir teh dan disodorkan kepada Po-giok.

Perlahan Po-giok menerima cangkir teh itu dan memandang Siaukongcu lekat-lekat sampai lama sekali, sorot matanya yang tajam seakan-akan ingin menembus hati si nona.

Siaukongcu juga memandangnya dengan tenang, kerlingan matanya yang hampa dan sesal seakan-akan hendak berkata, “Mengapa tidak kau minum teh yang kusuguh? Jika kubawa dirimu ke kamarku, masakah engkau tidak lagi paham perasaanku?”

Akhirnya Po-giok minum habis juga teh diberikan Siaukongcu itu. Si nona mendekapnya hingga lama, kemudian menyurut mundur perlahan namun pandangan Siaukongcu masih melekat pada wajah Po-giok, kerlingan yang penuh arti.

Po-giok juga menatapnya dengan termangu, sorot matanya serasa agak kabur, perlahan ia pun menyurut mundur, satu langkah, dua langkah, tiga langkah … dan akhirnya ia jatuh duduk di tempat tidur.

“Apakah engkau lelah? Ingin istirahat dulu?” kata Siaukongcu dengan berkedip.

Tersembul senyuman Po-giok, senyuman yang penuh pedih, duka, dan juga mengejek terhadap sikap manusia yang sukar diduga, katanya perlahan, “Ya, aku ingin istirahat, tapi … tapi bukan lantaran lelah melainkan karena … karena ….”

Ia tidak melanjutkan, pandangannya beralih kepada cangkir teh yang kosong itu.

“Apa maksudmu, sungguh aku tidak paham?” ujar Siaukongcu.

“Benar tidak paham? ….” Po-giok tertawa terlebih pedih, sikapnya juga tambah letih, tambah kabur sinar matanya, ia meronta dan membusungkan dada, sambungnya muram, “Di dalam teh ini ada obat tidur, memangnya kau kira aku tidak tahu?”

Siaukongcu seperti terperanjat dan juga mendongkol, teriaknya, “Ada obat tidur dalam teh? …. Jika kau tahu di dalam teh ada racun, mengapa tetap kau minum?”

“Biarpun jelas kutahu kau bicara bohong tetap akan kupercaya,” kata Po-giok. “Sekalipun kutahu kau dusta padaku juga aku tidak menyesal padamu. Karena kau minta kuminum, biarpun dalam teh ditaruh racun paling jahat pun tetap kuminum.”

“Ai, apa yang kau katakan, sama sekali aku tidak mengerti,” kata Siaukongcu.

“Tidak mengerti, katamu?” Po-giok menegas. “Siapa yang menyisir rambutmu tadi juga sudah kulihat.”

“Dia siapa? Coba katakan, siapa dia?”

“Dia kan Cu-ji, yaitu Auyang Cu yang telah membikin susah padaku itu.”

Siaukongcu membetulkan rambutnya dan tidak bersuara.

“Sebenarnya aku merasa heran, Cu-ji, paman Li dan lain-lain mana bisa menipuku? Siapa di dunia ini yang dapat menyuruh mereka menipuku? Baru sekarang kutahu, di dunia ini memang ada orang yang dapat memerintah mereka menipuku, apa pun yang dikatakan orang itu sukar dilawan oleh mereka. Dan orang itu tak-lain-tak-bukan ialah … ialah dirimu!”

Siaukongcu seperti mau bicara apa-apa, tapi urung.

Maka Po-giok menyambung, “Sebenarnya aku pun heran, mengapa ke mana pun kupergi selalu orang dari istana iblis itu selalu dapat menguntit jejakku? Mengapa setiap gerak-gerik kita seperti dapat diketahui lebih dulu oleh mereka …. Baru sekarang kutahu bahwa mereka memang sudah lebih dulu sembunyi di situ, aku sendirilah yang datang ke sana dan bukannya dikuntit mereka. Dan tempat-tempat itu justru kudatangi atas ajakanmu. Setiba di makam itu juga kau sendiri yang lari ke atas makam untuk ditawan orang itu. Kalau tidak, dengan kungfumu saat ini, siapa di dunia ini yang mampu mengatasimu?”

Makin bicara makin lemah, habis bicara, napas pun menggeh-menggeh serupa habis bertempur sengit.

Siaukongcu masih membetulkan rambutnya yang indah itu dengan tenang. Akhirnya ia bicara dengan lirih, “Apa yang kau katakan itu apakah benar timbul dari lubuk hatimu?”

“Ya, setiap kataku semuanya timbul dari lubuk hatiku sendiri.”

“Dan hatimu sendiri percaya kepada apa yang kau katakan?”

“Aku lebih suka tidak percaya, tapi juga tidak dapat tidak percaya.”

Mendadak Siaukongcu tertawa dingin, tertawa ejek, namun juga rada pedih. “Hm, alangkah pintarnya. Alangkah percaya pada diri sendiri. Tapi … tapi cara bagaimana kau berani memastikan apa yang kau pikir itu adalah kejadian yang sebenarnya?”

Po-giok menghela napas panjang, meski tidak bicara, namun sudah merupakan jawaban yang positif.

“Mengapa tidak kau pikirkan, apa yang terjadi itu apakah tidak ada kemungkinan lain?”

“Kemungkinan lain apa?” tanya Po-giok.

Sorot mata Siaukongcu berubah tajam, katanya, “Apakah tidak mungkin orang lain menyamar sebagai diriku? Bukankah orang lain pun dapat memalsukan diriku untuk melakukan sesuatu …. Kenapa hal-hal ini tidak kau pikirkan, tapi aku lantas kau salahkan ….”

“Aku tidak menyalahkanmu, kutahu sesuatu perbuatanmu pasti dilakukan karena terpaksa, aku bersimpati padamu dan tidak menyesalimu.”

“Bicara sekian lamanya, ternyata kau tetap tidak percaya padaku, sungguh aku … aku benci padamu ….” mendadak Siaukongcu melangkah maju dan menggampar muka Po-giok sekerasnya.

“Kau ….” Po-giok berdiri sambil memegang mukanya.

“Kubenci padamu,” teriak Siaukongcu sambil mengentak kaki. “Seterusnya tak mau lagi kulihat dirimu.”

Air matanya bercucuran dan segera ia mendekap mukanya terus berlari pergi.

Po-giok memandangi bayangan orang dengan termangu-mangu. Setiap gerak-gerik nona itu, tutur katanya, seperti sungguh seperti pura-pura, begitu pula cintanya kepada Po-giok juga sukar dibedakan serius atau palsu? Apakah benar semua ini bukan sengaja dilakukan oleh kehendak Siaukongcu sendiri?

Memangnya Siaukongcu yang membawa Po-giok ke makam kuno itu benar samaran orang lain?

“Ai, jika benar demikian, kan kusalah paham padanya?” gumam Po-giok. “Tapi kuyakin tidak salah lihat ….”

Begitulah makin dipikir makin bingung. Ia merasa kaki dan tangan tak bertenaga lagi, kepala pun pening. Akhirnya ia jatuh terduduk.

*****

Menghilangnya Pui Po-giok sudah berlangsung beberapa hari. Kejadian ini paling banyak menimbulkan pertengkaran di dunia Kangouw. Nama baik In-bong-tayhiap Ban Cu-liang, Kim Co-lim, dan ketujuh murid utama dari ketujuh aliran besar juga banyak terpengaruh.

Kawanan gadis yang dulu sama tergila-gila kepada Po-giok sekarang justru paling keras mencaci maki anak muda itu. Bilamana pemuda pujaan kaum gadis mendadak berubah menjadi orang yang rendah, rasa kecewa mereka dengan sendirinya sangat mudah berubah menjadi gusar dan benci.

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: