Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (12)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:10 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 12. Seorang Yang Ahli Senjata Rahasia
Oleh Gu Long

Meskipun pekarangan kecil tersebut masih sepi dan sunyi, namun cahaya lampu masih berkelap-kelip di bangunan dibelakangnya.

Apakah Xiao Bie Li telah kembali kekamarnya? Apa sih yang sesungguhnya dia lakukan di atas sana? Apakah disanapun terdapat setumpuk kartu? Atau mungkin seorang wanita yang dirahasiakan?

Ye Kai merasa bahwa dia seseorang yang misterius dan membingungkan.

Kemudian, terlihat beberapa orang di jendela.

Tiga orang.

Mereka berdiri, sementara bayangannya terlihat di jendela. Namun sesaat kemudian, mereka semua telah menghilang.

Kenapa ketiga orang itu berada di atas sana? Siapa dua orang yang lainnya?

Mata Ye Kai mulai berputar-putar, dia benar-benar tidak dapat menahan keingintahuannya.

Pekarangan itu tidak terlalu jauh dari gedung kecil itu. Dia mengangkat pakaian bawahnya kemudian melesat ke udara.

Gedung itu dikelilingi oleh tangga pada keempat sisinya. Dibangun dengan gaya paviliun tradisional.

Kakinya kemudian mendarat pada bagian ujung tangga sambil bergantungan pada atap rumah tersebut. Dengan sedikit tarikan jendela atas sudah terbuka. Dari sana, dia dapat melihat meja bundar di tengah ruangan. Pada meja tersebut telah terhidang makanan dan minuman.

Ada dua orang sedang minum, salah satunya Xiao Bie Li yang sedang duduk sambil memandang ke arah pintu. Orang satunya lagi menggunakan pakaian yang sangatbagus, hampir dapat dikatakan pakaian yang mewah. Tangannya sedang memegang sepasang sumpit. Pada jarinya terdapat tiga buah cincin yang kelihatannya aneh. Ketiganya nampaknya berbentuk bintang. Orang itu betul-betul merupakan seorang bongkok.

Cahaya diruangan itu tidak terlalu terang, tapi makanan dan minumannya yang terhidang di ruangan itu betul-betul makanan yang mewah.

Orang bongkok dengan pakaian yang mewah mengambil segelas arak menggunakan tangannya yang mengenakan cincin tersebut. Gelas yang digunakan merupakan gelas yang transparan, seluruhnya terbuat dari kristal.

“Bagaimana araknya?” Xiao Bie Li berkata sambil tersenyum.

“Araknya biasa saja, tapi gelasnya bukan gelas yang jelek.” Sibongkok berkata.

Orang bongkok ini nampaknya betul-betul tahu menikmati hidup dengan benda-benda yang bernilai bahkan lebih tahu menikmati hidup daripada Xiao Bie Li sendiri.

Xiao Bie Li menghela napas dan berkata,” Aku tahu sulit untuk menyenangkan dirimu, jadi aku menyediakan arak Persia asli yang dibawa dari daerah selatan. Siapa yang sangka arak ini biasa saja bagimu.”

“Banyak jenis arak Persia, namun aku yakin yang ini adalah arak yang biasa-biasa saja.” Sibongkok berkata.

“Lalu kenapa engkau tidak membawa arak yang bagus saja sendiri?” Xiao Bie Li berkata.

Nampaknya, mereka telah merencanakan pertemuan ini jauh-jauh hari. Ye Kai menjadi semakin curiga, karena sibongkok bukan lain adalah Naga Punggung Emas Ding Qiu. Siapa yang mengira Naga Punggung Emas Ding Qiu bersembunyi disini? Tambahan lagi, jauh-jauh hari dia berencana untuk bertemu dengan Xiao Bie Li. Kenapa dia membawa semua peti mati itu bersamanya? Apakah dia dan Xiao Bie Li yang menjadi otak untuk menumbangkan Gedung Sepuluh Ribu Kuda?

Ye Kai berharap Xiao Bie Li akan menanyakan Ding Qiu mengenai keterlambatannya datang!

Namun Xiao Bie Li dengan tidak diharapkan mengubah subyek pembicaraan dan malah bertanya,” Apakah engkau bertemu dengan seorang wanita cantik selama perjalanan?”

“Tidak. Nampaknya wanita cantik semakin jarang saja setiap harinya.” Ding Qiu menjawab.

“Mungkin karena ketertarikanmu terhadap wanita cantik semakin berkurang tiap harinya.” Xiao Bie Li.

“Aku dengar gadis-gadis disini bukan gadis yang jelek.” Ding Qiu menyelidiki.

“Bukan saja tidak jelek, tapi dia adalah seorang yang mengagumkan.” Xio Bie Li berkata.

“Kenapa engkau tidak mengundangnya kesini menemani kita?” Ding Qiu berkata.

“Dia tidak bisa menemani kita selama dua hari ini.” Xiao Bie Li menjawab.

“Kenapa tidak bisa?” Ding Qiu bertanya.

“Selama dua hari ini hatinya menjadi milik orang lain.” Xiao Bie Li berkata.

“Siapa?” Ding Qiu berkata.

“Hanya sedikit orang yang dapat membuat wanita semacam dia jatuh kesengsem kepadanya.” Xiao Bie Li berkata.

Ding Qiu menganggukan kepalanya. Jarang sekali dia mengiakan yang orang lain katakan, namun saat ini dia tidak bisa untuk tidak setuju.

Xiao Bie Li tersenyum dan melanjutkan,”Namun kadang-kadang orang ini berlaku seperti orang tolol.”

“Orang tolol?” Ding Qiu berkata.

“Dia menyia-nyiakan tempat tidur yang nyaman dan hangat untuk berangin-angin diluar.” Xiao Bie Li berkata.

Sebenarnya, Ye Kai sudah cukup nyaman. Siapapun, yang mendengar seseorang membicarakan dan memuji dirinya mengenai kehebatannya menundukan seorang wanita pasti sangat merasa senang.

Xiao Bie Li menolehkan kepalanya ke arah jendela dan tersenyum

Tangannya yang mengenakan cincin menurunkan gelas araknya dan membuat gerakan isyarat yang aneh.

Ye Kai tertawa keras dan berkata,” Tuan rumah minum arak di dalam rumah sementara tamu berdiri diluar ditiup angin. Aku dapat mengatakan engkau betul-betul tuan rumah yang payah.”

Dia mendorong jendela dan meloncat masuk ke dalam.

Di sana hanya ada dua pasang sumpit di atas meja. Sebelumnya terlihat tiga orang dari jendela, namun dimanakah yang ketiga? Siapakah dia? Apakah dia Yun Zai Tian? Kenapa orang ini tiba-tiba menghilang?

Ruangan tersebut ditata dengan mewah. Setiap hal diruangan itu ditempatkan dengan sangat baik sehingga mudah untuk mencapainya. Xiao Bie Li menggapai lemari disebelahnya dan menarik cangkir batu giok bergaya Han. Dia tersenyum dan berkata,”Aku ini orang yang malas dan cacat. Jadi kalau aku benar-benar tidak ingin bergerak, maka aku tidak perlu bergerak.”

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Bila lebih banyak orang pemalas sepertimu di dunia ini, maka setiap orang mungkin akan merasa lebih nyaman.”

Dia bukan memujinya. Penemuan-penemuan besar seringkali membuat orang-orang hidup lebih malas dan lebih nyaman.

“Ucapanmu itu sungguh-sungguh harus dihargai dengan segelas arak Persia.” Xiao Bie Li berkata.

“Sayangnya arak ini arak yang biasa-biasa saja.” Ye Kai berkata.

Dia mengangkat cangkirnya ke arah Ding Qiu dan melanjutkan,” Terakhir kali aku berjumpa dengan Tuan Ding, aku tidak sempat untuk memberikan hormat. Maafkan aku, maafkan aku.”

“Engkau tidak perlu memberikan hormat, jadi tidak perlu minta maaf segala.” Ding Qiu menjawab.

“Aku hanya mau mengagumi laki-laki yang memiliki pengetahuan luas tentang wanita dan arak.” Ye Kai berkata.

Paras wajah Ding Qiu tiba-tiba berubah menjadi lebih riang sesaat dia berkata dengan senang,” Tuan Xiao salah mengenai satu hal.”

“Oh?” Ye Kai berkata.

“Tidak hanya engkau berbakat memikat wanita, tapi engkau juga tidak payah untuk mengambil hati laki.” Ding Qiu menjawab.

“Sebetulnya itu tergantung pada orang tersebut laki-laki sejati atau bukan. Laki-laki sejati sangat jarang sekarang ini.” Ye Kai berkata.

Ding Qiu tidak dapat menahan tawanya. Orang jelek selalu percaya bahwa dia lebih jantan dari pada seorang pemuda yang tampan. Sepeti halnya, wanita jelek biasanya berpikir bahwa dia lebih pintar daripada wanita yang cantik.

Ye Kai menenggak habis arak dicangkirnya. Suasana di ruangan itu mulai mencari, dia tahu bahwa dia telah cukup memberikan pujian. Apa lagi yang harus dikatakannya sekarang?

Ye Kai perlahan-lahan mengambil tempat duduk. Kelihatannya tempat duduk ini untuk orang ketiga di ruangan ini. Bagaimana caranya dia bisa mengetahui siapa dia? Bagaimana dia bisa mencari tahu rahasia mereka? Tidak hanya dia harus hati-hati mengucapkan kata-kata, diapun harus dapat menyembunyikan maksudnya. Ye Kai terdiam, diam sambil berpikir.

Tiba-tiba, Ding Qiu berkata,” Aku tahu engkau pasti memiliki banyak pertanyaan untuk ku.”

Masih terlihat senyum diwajahnya, namun senyum tersebut sudah berkurang di sinar matanya, seraya di melanjutkan,” Engkau pasti heran, untuk apa aku datang kesini, kenapa akur mengirimkan semua peti mati itu, dan bagaimana aku berjumpa dengan Xiao Bie Li? Dan apa sebenarnya yang sedang dibicarakan?”

Ye Kai tersenyum balik, namun sinar matanya terlihat serius. Dia menyadari Ding Qiu ternyata orang yang jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan.

Xiao Bie Li masih duduk sambil meminum araknya sedikit demi sedikit sambil tetap diam.

“Apakah engkau akan menjawabnya bila aku menanyakan semua itu?” Ye Kai bertanya.

“Tidak akan.” Ding Qiu menjawab.

“Itulah sebabnya aku tidak ingin menanyakannya.” Ye Kai berkata.

“Namun ada satu hal yang aku ingin tanyakan kepadamu.” Ding Qiu berkata.

“Oh?” Ye Kai berkata.

“Orang-orang bilang kalau ditiap bagian tubuhku terdapat berbagai senjata rahasia, apakah engkau pernah mendengar hal ini sebelumnya?” Ding Qiu bertanya.

“Aku pernah.” Ye Kai berkata.

“Desas-desus biasanya jarang sekali benar, namun perkataan ini merupakan pengecualian.” Ding Qiu menegaskan.

“Jadi betul-betul ada berbagai senjata rahasia di tiap bagian tubuhmu?” Ye Kai berkata.

“Tepat.” Ding Qiu menjawab.

“Ada berapa macam seluruhnya?” Ye Kai menjawab.

“Dua puluh tiga.” Ding Qiu berkata.

“Apakah setiap jenis dibubuhi racun?” Ye Kai berkata.

“Hanya tiga belas yang beracun. Kadang-kadang aku ingin meninggalkan lawanku hidup-hidup untuk aku tanyai.” Ding Qiu berkata.

“Aku juga pernah mendengar bahwa engkau dapat menimpukan tujuh hingga delapan senjata rahasia yang berbeda pada saat yang bersamaan.” Ye Kai berkata.

“Tepatnya tujuh.” Ding Qiu menjawab.

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Betul-betul sambitan yang sangat cepat.”

“Tapi ada beberapa orang yang mungkin lebih cepat dari aku.” Ding Qiu berkata.

“Siapa?” Ye Kai menjawab.

“Orang yang duduk tepat disebelahmu, Tuan Xiao.” Ding Qiu berkata.

Xiao Bie Li telah tersenyum sepanjang waktu. Dia menghela napas pendek dan menerangkan,” Bila aku tidak membuang waktu untuk mengasah kemampuanku menimpukan senjata rahasia, bagaimana orang malas dan cacat seperti diriku masih bisa bertahan hingga saat ini?”

“Masuk akal.” Ye Kai berkata.

“Dapatkah engkau katakan dimana senjata rahasianya disembunyikan?” Ding Qiu bertanya.

“Di dalam tongkat besinya?” Ye Kai menebak.

Ding Qiu memukulkan tangannya ke atas meja dan berseru,” Hebat! Dimana lagi?”

“Memangnya masih ada lagi senjata rahasia yang disembunyikan di tempat lainnya?” Ye Kai berkata.

“Paling tidak masih ada delapan lagi, dan dia dapat melemparkannya semua dalam satu gerakan.” Ding Qiu berkata.

“Aku takut sangat tidak banyak orang yang dapat menghindari serangan anda berdua di dunia persilatan.” Ye Kai berkata.

“Aku takut mungkin tidak ada seorangpun yang bisa.” Ding Qiu menegaskan.

“Aku betul-betul tidak percaya bahwa saat ini aku duduk berhadapan dengan dua orang ahli senjata paling hebat di dunia persilatan, aku sungguh-sungguh beruntung.” Ye Kai berkata.

“Engkau betul-betul orang yang bernyali, karena sedikit saja engaku bergerak, paling tidak enam belas jenis senjata rahasia akan meluncur ke arahmu dalam sekejap.” Ding Qiu berkata.

Ekspresi wajahnya semakin kereng,” aku dapat memastikan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat lolos dari serangan enam belas senjata rahasia sekaligus dengan jarak sedekat ini.”

“Aku percaya padamu.” Ye Kai berkata.

“Itu sebabnya apapun yang kami tanyakan, sebaiknya engkau segera menjawabnya.” Ding Qiu berkata.

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Untungnya aku seorang yang tidak memiliki rahasia apapun yang ingin diketahui oleh orang lain.”

“Sebaiknya seperti itu.” Ding Qiu berkata.

Dia tiba-tiba mengambil secarik kertas dari lengan bajunya, dan bertanya,” Nama margamu Ye, dan nama panggilanmu Kai?”

“Ya.”

“Engkau lahir pada tahun macan?”

“Ya.”

“Engkau lahir di dekat sini?”

“Ya.”

“Namun engkau ditinggalkan orang tuamu saat masih bayi?”

“Ya.”

“Hingga umur empat belas tahun, engkau tinggal di sebuah vihara Tao di gunung Huang?”

“Ya.”

“Engkau sebenarnya melatih Jurus Pedang Gunung Huang. Setelah itu, engkau berkelana di dunia persilatan, diam-diam melatih berbagai ilmu silat. Pada umur enam belas tahun, engkau menjadi biksu selama beberapa bulan untuk mempelajari Jurus Serangan Harimau dari Shaolin?’

“Ya.”

“Setelah itu engkau terlibat dalam organisasi pemerintah di Ibu Kota, namun melarikan sejumlah uang sehingga engkau harus melarikan diri.”

“Ya.”

“Di Jiangnan, engkau membunuh Tiga Jagoan dari Sekte Gai untuk seorang gadis bernama Xiao BeiJing, sehingga engkau kembali harus melarikan diri ke Daratan Tengah.”

“Ya.”

“Dalam beberapa tahun terakhir, engkau berkeliaran di sekitar Sungai Besar, membuat banyak masalah kemanapun engkau pergi, dan membuat namamu menjadi semakin terkenal.”

Ye Kai menghela napas dan berkata sambil tersenyum,” Engkau berdua nampaknya mengetahui diriku lebih baik dari pada diriku sendiri. Kenapa engkau harus repot-repot menanyakan hal itu pertama-tama.”

Ding Qiu menatapnya kembali dan bertanya,” Dari semua hal itu, yang paling aku ingin tahu adalah kenapa engkau kembali ke sini?”

“Bila aku harus menjawab bahwa daun selalu kembali ke akarnya, maka aku harus kembali ke sini karena di sini adalah kampung halamanku-apakah engkau percaya padaku?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Karena engkau adalah seorang pengelana sejati.”

“Bagaimana bila tidak ada lagi tempat yang dapat aku kunjungi? Apakah engkau dapat mempercayainya?”

“Itu kelihatannya lebih dapat dipercaya.” Ding Qiu menjawab. Dia meletakan kembali kertas tersebut dan melanjutkan,” Sejumlah uang yang terakhir kalinya engkau peroleh, adalah sekantorng kacang emas yang engkau menangkan dari berjudi pada sebuah rumah judi yang kecil, betul kan?”

“Betul.”

“Dan sekantong kacang emas itu tidak berada ditanganmu lagi saat kan?”

“Aku benci kacang. Apakah itu kacang polong, kacang merah atau kacang emas, aku sama bencinya.”

Ding Qiu mengangkat kepalanya dan bertanya,” Apakah seseorang mengundangmu kembali ke kota ini?”

“Tidak.”

“Engkau tahu disini tidak banyak kesempatan untuk mencari untung?”

“Bisa dikatan begitu?”

“Jadi bagaimana engkau mencari uang untuk hidup?”

Ye Kai tersenyum dan menjawab,” Sampai saat ini aku belum melihat seorangpun disini yang mati karena kelaparan.”

“Bila engkau tahu bahwa di daerah lain engkau bisa memperoleh sepuluh ribu tael perak, apakah engkau akan pergi?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Karena disini aku bisa dapat lebih.”

“Oh?”

“Aku yakin, kota ini mulai membutuhkan orang-orang seperti aku.”

“Orang seperti apakah engkau?”

“Seseorang dengan kemampuan silat yang baik dan dapat menutup mulut. Bila seseorang merekrut aku untuk bekerja padanya, maka dia pasti tidak akan kecewa.”

Ding Qiu terdiam bisa, bola matanya perlahan-lahan bergerak ke atas. Tiba-tiba dia bertanya,” Berapa biasanya engkau minta bayaran untuk membunuh seseorang?”

“Tergantung dari siapa targetnya.”

“Yang paling mahal?”

“Tigapuluh ribu.”

“Baiklah. Aku dapat membayar sepuluh ribu di muka. Saat pekerjaan selesai engkau akan mendapat sisa dua puluh ribunya.”

Mata Ye Kai mulai bercahaya juga, ” Siapakah yang kau inginkan mati? Fu Hong Xue?”

“Dia tidak bernilai tiga puluh ribu.” Ding Qiu menjawab dengan dingin.

“Lalu siapa?” Ye Kai bertanya.

“Ma Kong Qun!” Ding Qiu menjawab.

Xiao Bie Li masih duduk dengan diam, sepertinya dia mendengarkan dua orang yang sedang berbicara yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, bahkan sama sekali tidak ada gunanya buat dia.

Mata Ding Qiu membesar, menatap Ye Kai tanpa berkedip. Tangan yang mengenakan tiga buah cincin membuat suatu gerakan yang khas.

Ye Kai menghela napas panjang dan berkata sambil tersenyum,” Jadi engkau salah satu dari orang yang ingin membunuh Ma Kong Qun.”

“Engkau tidak mengira hingga saat ini?” Ding Qiu berkata.

“Perselisihan apa yang terjadi di antara kalian berdua? Kenapa engkau menginginkan dia mati?” Ye Kai bertanya.

“Engkau seharusnya mengerti bahwa yang saat ini bertanya adalah kami berdua, bukan engkau.” Ding Qiu berkata.

“Aku mengerti.” Ye Kai berkata.
“Apakah engkau hendak mengantungi tiga puluh tael perak?” Ding Qiu bertanya.

Ye Kai tidak menjawab, juga tidak harus menjawab. Dia mengeluarkan tangannya.

Dua puluh lembar uang kertas, tiap lembar senilai seribu tael.

“Ini dua puluh ribu?”

“Ya.”

“Paling tidak engkau orang yang murah hati.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Bukan murah hati, tapi hati-hati.” Ding Qiu menjawab.

“Hati-hati?”

“Engkau tidak dapat membunuh Ma Kong Qun seorang diri.”

“Oh?”

“Jadi engkau butuh bantuan orang lain.”

“Sepuluh ribu untuk ku dan sepuluh ribu untuk orang yang membantuku?”

“Tepat sekali.”

“Siapakah yang sesuai untuk pekerjaan itu disini?”

“Engkau seharusnya tahu.”

Mata Ye Kai bercahaya,” Engkau menginginkan aku mencari Fu Hong Xue?”

Ding Qiu menangguk namun tetap diam.

“Bagaimana engkau yakin aku dapat membujuk dia?” Ye Kai berkata.

“Bukankah engkau temannya?” Ding Qiu bertanya.

“Dia tidak memiliki teman seorangpun.” Ye Kai menjawab.

“Tiga puluh tael perak cukup untuk membuat teman.” Ding Qiu berkata.

“Dan bagaimana bila dia tidak menerima?” Ye Kai berkata.

“Paling tidak engkau sudah mencoba.” Ding Qiu menyarankan.

“Kenapa tidak engkau saja yang mendekati dia.” Ye Kai berkata.

Ding Qiu menyeringai dingin,” Bila engkau tidak menginginkan tiga puluh ribu ini, engkau dapat mengembalikannya sekarang.”

Ye Kai tersenyum, beranjak berdiri dan mulai melangkah pergi.

Xiao Bie Li tiba-tiba berkata,” Kenapa engkau tidak diam dulu beberapa saat untuk menikmati beberapa cangkir arak?”

Ye Kai melambaikan uang kertas ditangannya dan berkata,” Aku sedang terburu-buru untuk menghabiskan sepuluh ribuku ini.”

“Uang tersebut sudah ada ditanganmu, kenapa harus terburu-buru?” Xiao Bie Li memaksa.

“Sebab bila aku tidak menghabiskannya saat ini, mungkin aku tidak memiliki kesempatan lagi dilain hari.” Ye Kai menjawab.

Xiao Bie Li melihatnya sesaat Ye Kai telah melompat keluar jendela. Dia menghela perlahan dan berseru.” Betul-betul orang pintar.”

“Betul-betul orang yang pintar.” Ding Qiu berkata.

“Apakah engkau dapat mempercayainya?” Xiao Bie Li berkata.

“Sama sekali tidak.” Ding Qiu menjawab.

“Karena itukah engkau membuat kesepakatan dengan dirinya?” Xiao Bie Li menyipitkan kedua matanya.

“Kita telah membuat beberapa kesepakatan.” Ding Qiu berkata sambil tersenyum.

Saat seseorang dengan kantong kosong tiba-tiba menemukan dirinya menjadi sepuluh ribu tael lebih kaya, maka dia pasti merasa melayang kemanapun dia pergi. Namun untuk suatu sebab, langkah Ye Kai menjadi semakin berat. Mungkin karena dia hanya terlalu lelah.

Cui Nong dapat menghilangkan kelelahan seorang laki-laki dengan mudahnya. Cahaya di kamar tidurnya telah padam, mungkin dia sudah tidur terlelap. Agar dapat tidur dengan nyaman di samping hingga pagi hari, mencium aroma yang menyenangkan dari rambutnya, mengelus lembut punggungnya, itu adalah godaan yang tidak dapat ditolak oleh Ye Kai.

Dia menyelinap tanpa bersuara ke ruangannya dan mendorong pintunya – pintunya belum lagi tertutup. Dia pasti sedang menunggunya. Cahaya bintang bersinar memasuki ruangan melalui jendela. Dia tertidur dengan selimut menutupi kepalanya, betapa manisnya dia terlihat saat ini.

Ye Kai tersenyum dan dengan halus dia mengangkat ujung selimutnya.

Tiba-tiba, sekilas cahaya melesat. Sebuah pedang meluncur dari bawah selimut langsung menuju dadanya!

Dalam kondisi seperti ini, dengan jarak sedekat ini, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari dari serangan pedang tersebut. Namun Ye Kai seperti seekor rubah yang telah diburu sejak lama, selalu dalam keadaan waspada.

Pinggangnya seperti menjadi patah saat dia menekukan tubuhnya kebelakang. Ujung pedang tersebut melesat dengan cepatnya melewati dadanya. Dia berjungkir balik sambil menendangkan kakinya ke orang yang memegang pedang tersebut.

Pembunuh tersebut melompat dari tempat tidur namun tidak balik menyerang. Malah, dia memutar-mutarnya pedangnya dan menutupi mukanya sambil terburu-buru bergerak ke arah jendela.

Ye Kai tidak mengejar. Malah dia tersenyum dan berkata,” Yun Zai Tian, aku sudah mengenalimu. Percuma saja kau lari.”

Orang tersebut sudah membuka jendela saat tiba-tiba dia berhenti. Setelah berdiam beberapa saat, akhirnya dia memutar kepalanya.

Ternyata benar-benar Yun Zai Tian. Pembuluh darah telah menonjol keluar dari tangannya yang memegang pedang. Matanya memperlihatkan sorot mata pembunuhan.

“Jadi orang yang engkau cari bukan Fu Hong Xue, juga bukan Xiao Bie Li. Tetapi Cui Nong.” Ye Kai berkata.

“Apakah aku tidak diijinkan mencarinya?” Yun Zai Tian menjawab dengan dingin.

“Tentu saja.” Ye Kai berkata. Senyum terlihat diwajahnya sesaat dia melanjutkan,” Seorang laki-laki sepertimu mencari wanita secantik dia adalah hal yang normal. Aku tidak tahu kenapa engkau harus menyembunyikan hal itu dariku.”

Mata Yun Zai Tian bercahaya. Dia tiba-tiba tersenyum dan menjawab,” Aku hanya khawatir engkau jadi cemburu.”

“Engkau yang seharusnya cemburu, bukannya aku.” Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian jatuh terdiam, kemudian bertanya,” Dimanakah dia?”

“Aku juga mau menanyakan hal yang sama kepadamu.” Ye Kai berkata.

“Engkau belum melihatnya?” Yun Zai Tian bertanya.

“Apakah engkau melihatnya?” Ye Kai menjawab dengan pertanyaan.

Yun Zai Tian menggelengkan kepalanya dan berkata,” Dia tidak disini saat aku tiba.”

Ye Kai mengerutkan alisnya dan berkata,” Mungkin dia pergi untuk mencari laki-laki lain …”

Yun Zai Tian memotongnya,” Dia tidak pernah pergi keluar untuk mencari laki-laki, laki-laki yang datang kemari mencarinya sudah lebih dari cukup.”

Ye Kai tertawa lebar,” Itulah yang engkau tidak mengerti. Laki-laki yang datang mencarinya dan laki-laki yang dia datangi sangat berbeda.”

“Jadi, menurutmu dia pergi mencari siapa?” Yun Zai Tian berkata dengan pandangan yang serius.

“Berapa banyak orang yang cukup patut untuk dia cari disini?” Ye Kai berkata.

Ekspresi wajah Yun Zai Tian berubah. Tiba-tiba di berbalik dan keluar dengan tergesa-gesa.

Kali ini Ye Kai tidak menghalanginya, karena dia sudah cukup mengetahui beberapa hal yang dia ingin ketahui.

Dia menyadari bahwa Cui Nong adalah seorang wanita yang sangat misterius, dan oleh sebab itu dia juga memiliki banyak rahasia. Seorang wanita dengan profesi seperti dia pasti dapat hidup dimanapun dia berada, tidak ada alasan baginya untuk berdiam didaerah yang terpencil seperti ini. Dia pasti memiliki tujugan yang sangat penting sehingga harus menetap di kota ini.

Namun saat Yun Zai Tian datang menemuinya, sepertinya dia bukan mencari seperti halnya laki-laki lain. Pasti ada hubungan yang tersembunyi di antara mereka berdua juga.

Ye Kai tiba-tiba merasa semua orang di sini memiliki rahasia yang disembunyikan. Sudah barang tentu, dia juga memilikinya. Namun sepertinya pada saatnya nanti semua rahasia ini pasti akan terungkap perlahan-lahan.

Ye Kai menghela napas panjang. Pasti lebih banyak lagi yang harus dia kerjakan besok. Dia memutuskan untuk pergi tidur dan memikirkan hal itu besok. Dia melepaskan sepatunya dan meringkuk di bawah selimut.

Kemudian dia menemukan pakaian dalamnya di atas tempat tidur. Kenapa pakaian dalamnya ada di atas tempat tidur kalau dia tidak disini? Apakah dia pergi dengan sangat tergesa-gesanya sehingga melupakan pakaian dalamnya? Atau mungkin saja di telah diculik? Kenapa dia tidak berusahan untuk melawan atau berteriak?

Ye Kai memutuskan untuk menunggu disini, menunggu hingga dia kembali. Bagaimanapun juga, dia tidak akan kembali malam ini. Waktu tinggal dua jam lebih sedikit menuju pagi.

Fu Hong Xue juga telah tertidur.

Ma Fang Ling masih terjaga juga.

Xiao Bie Li dan Ding Qiu masih minum arak di paviliun tersebut.

Gong Sun Duan juga masih minum arak di bawah.

Kelihatan setiap orang sedang menunggu, menunggu suatu hal yang misterius yang akan muncul ke permukaan.

Dan bagaimana dengan Ma Kong Qun, Hua Men Tian, Luo Luo Shan, dan Nyonya Ketiga Shen? Dimana mereka? Apakah mereka sedang menunggu juga?

________________________________________

Malam itu betul-betul malam yang amat sangat panjang.

Saat malam, Gedung Sepuluh Ribu Kuda telah kehilangan delapan belas nyawa lagi!

Angin dan pasir menari-nari di angkasa. Selalu merupakan kegelapan yang unik, rasa dingin yang unik sesaat sebelum mentari pagi tiba.

Hembusan angin membawa suara derap kuda bersamanya. Tujuh atau delapan orang bergelayutan lemas di atas kuda mereka, kelihatannya dalam keadaan setengah sadar. Untungnya, kuda-kuda mereka tahu jalan pulang. Mereka semua adalah ahli penunggang kudanya yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di atas kuda. Hampir seluruh paha mereka berkerut dan kapalan. Kecuali mengunjungi kota pada saat malam untuk minum-minum, tidak ada hal lainnya yang mereka sukai.

“Aku kira besok tidak ada tugas, aku sangat ingin pergi untuk mencari seorang wanita untuk kepeluk semalaman.” Salah satu dari mereka menggumam.

“Sayangnya dompetmu mungkin tidak setuju denganmu.”

“Aku harus tetap ingat untuk menabung beberapa tael untuk dibelanjakan lain kali.”

“Aku rasa engkau harus mencari seekor sapi yang cantik ditengah padang untuk menemanimu tidur malam ini, aku meragukan ada wanita yang bersedia menemanimu.”

Semua orang di kelompok tersebut tertawa tergelak-gelak, suaranya mereka seperti suara orang yang sudah gila dan tidak sadar. Namun siapa yang menyadari bahwa tawa mereka dipenuhi pahitnya darah dan air mata? Mereka tidak memiliki uang, tidak memiliki wanita, dan tidak memiliki keluarga. Bila salah satu dari mereka tiba-tiba jauh mati di tengah kegelapan padang yang liar ini, tidak seorangpun yang akan mengucurkan air matanya bagi mereka.

Apakah yang sesungguhnya terjadi di dunia ini? Untuk apa orang-orang ini hidup?

Seorang mencongklang kudanya dengan perasaan marah, berteriak dengan kerasnya saat berlari melewati yang lainnya.

Yang lainnya tertawa-tawa saat dia melewati, berteriak,”Sepertinya Sihitam Kecil mulai gila.”

“Bila saja aku dapat menghabiskan semalam suntuk dengan wanita seperti Cui Nong, aku bersedia untuk menyerahkan nyawaku.”

“Kalau aku lebih memilih Nyonya Ketiga Shen. Seluruh tubuhnya terlihat begitu halus dan lembutnya, hingga kalau diremas mungkin akan keluar air.”

Tiba-tiba, terdengar jeritan kesakitan. Suara itu berasal dari Sihitam yang telah melesat di kegelapan.

Seseorang terlihat dari kegelapan, ditangannya tergenggam sebuah golok, Golong Pemotong Kuda.

Arak yang panas tiba-tiba berubah menjadi keringat dingin.

“Siapakah kau? Apakah kau hantu?”

Orang tersebut hanya tersenyum dan menjawab,” Kalian semua tidak dapat mengenali aku?”

Dua orang yang berdiri paling depan dari kejauhan akhirnya dapat melihat dengan jelas.” Oh, ternyata kau …”

Sesaat setelah mereka bicara, Golok Pemotong Kuda telah berkelebat. Darah segar muncrat ke atas tanah. Di kegelapan malam, darah menjadi terlihat hitam. Saat orang tersebut jatuh ke atas tanah, tatapan matanya masih tetap melekat pada orang misterius tersebut, ekspresinya dipenuhi oleh kekagetan dan ketidakpercayaan.

Dia tidak pernah mengira bahwa dirinya akan mati di bawah tangan orang ini!

Terdengar ringkikan kuda yang ketakutan, orang-orang disekitaranya menjerit-jerit menyeramkan.

Beberapa orang dari mereka berusaha melarikan dirinya dengan kudanya, namun orang tersebut mengejar mereka dari belakang dan semakin banyak tubuh yang bertumbangan dari atas kuda.

“Mengapa? Mengapa engkau melakukan semua ini?” salah satu dari mereka berteriak.

“Jangan salahkan aku untuk hal ini, tapi salahkan dirimu karena menjadi bagian dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

________________________________________

Api bergerak-gerak berdansa di tengah angin yang kuat. Dikejauhan, lentera raksasa yang tergantung di angkasa terebut mulai semakin berkedip-kedip.

Dua orang sedang bersama-sama di dekat api ungun, mata mereka melekat pada panci besi yang tergantung di ats api ungun tersebut. Air di dalam poci telah mendidih. Salah satunya mengambil sepotong daging kuda kering dan memasukannya ke dalam panci tersebut.

“Aku tumbuh dan besar di Jiangnan. Saat aku masih muda, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya daging kuda. Sekarang akhirnya aku berkesempatan untuk mencicipinya.” Dia merapatkan giginya dan melanjutkan,” Tapi sialnya, bila aku harus merasakan daging kuda lagi di kehidupan ku yang akan datang, aku lebih baik tinggal di neraka tingkat delapan.”

Orang yang lainnya nampaknya tidak mempedulikannya sementara tangannya mulai menjangkau ke arah celananya. Saat dia menarik keluar tangannya, jarinya telah dipenuhi oleh darah.

“Apa yang telah terjadi? Apakah pahamu terluka lagi? Siapa suruh engkau memiliki kulit sehalus itu? Meskipun engkau tidak tahan lagi, engkau tetap harus melakukannya lagi besok.”

Sesungguhnya, siapa yang tahan keadaan itu? Berkuda tiada henti selama duapuluh jam sehari? Pada satu jam pertama mungkin ok ok saja, tapi setelah sepuluh jam, mungkin engkau akan merasakan sadel kudamu seperti jarum.

Dia melihat kebawah ke darah ditangannya dan tidak tahan lagi untuk menyumpah-nyumpah, “Luo Luo Shan, anak pelacur, kemana engkau merangkak? Membuat kami susah saja mencarimu.”

“Aku dengar dia seorang pemabuk. Mungkin dia terjatuh dari kudanya dan patah lehernya.”

Suara dengkur terdengar dari tenda di sebelah mereka. Air di dalam panci tersebut mulai bergolak-golak. Apakah daging kuda didalammnya menjadi hancur? Yang lebih tua mengambil sebatang kayu dan mulai mengaduk panci.

Sesaat terdengar suara orang berkuda mendekat.

Keduanya segera melompat berdiri dan menggenggam pedang mereka pada saat yang bersamaan,” Siapa disana?”

“Ini aku.”

Suara tersebut sepertinya mereka mengenali suara tersebut. Yang lebih muda mengambil sebatang kayu yang terbakar dengan tangannya yang basah oleh darah.. Cahaya api tersebut menyinari wajah orang tersebut.

Keduanya tersenyum bersamaan dan bertanya,” Apa yang engkau lakukan malam-malam begini? Apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

“Ada suatu hal yang aku ingin diskusikan dengan kalian .”

“Apakah itu?”

Tidak ada jawaban. Golok pengendara tersebut tiba-tiba berkelebat. Sebuah kepala telah jatuh menggelinding ke atas tanah.

Mulut orang yang lebih muda terperangah lebar. Namun tidak tidak sempat lagi menangis maupun berteriak, karena sesuatu telah menembus tenggorokannya. Kenapa dia menyerang mereka? Dia tidak pernah mengira kehidupannya seperti ini.

Suara dengkur masih terdengar dari dalam tenda. Orang bekerja keras sepanjang hari biasanya cenderung untuk tidak dengan nyenyaknya. Seorang yang terjaga pertama kali terlihat sangat terkejut. Dia mendengar seperti suara kuda meloncat-loncat di atas lumpur, kemudian dia melihat tetesan darah menyembur ke seluruh tenda.

Dia ingin menjerit, namun golok tersebut telah membabat lehernya.

________________________________________

Saat itu kira-kira sejam lagi menjelang pagi.

Mata Ye Kai masih tertutup sementara dia masih terbaring di atas ranjang, dia telah jatuh tidur dengan nyenyaknya.

Fu Hong Xue sedang mengisi air ke dalam baskom di belakang dapur yang akan digunakan untuk mencuci mukanya.

Gong Sun Duan masih dalam keadaan mabuk berat. Dia berjalan terhuyung-huyung ke luar pintu, melompat ke atas kudanya dan pergi.

Cahaya di paviliun kecil sudah tidak menyala lagi.

Mata Ma Fang Ling masih terbuka lebar dan masih terbaring di atas tempat tidur.

Dan bagaimana dengan Ma Kong Qun, Yun Zai Tian, Hua Men Tian dan Nyonya Ketiga Shen?

Dimanakah mereka saat darah segar berhamburan di tengah-tengah padang yang tandus?

Dan dimanakah Cui Nong?

Ma Fang Ling memegang erat selimutnya, tubuhnya masih dipenuhi dengan keringat dingin. Dia baru saja mendengar tangisan orang yang sangat menderita yang bergema di tengah malam. Bahkan dia tidak ingin melihat apa yang terjadi meskipun apabila saat itu bukan tengah malam buta seperti itu.

Gedung tempat mereka tinggal sangat luas dan besar. Terkecuali dua orang pembantu, hanya dia, ayahnya, Gong Sun Duan dan Nyonya Ketiga Shen yang tinggal disana.

Mungkin hanya mereka yang dapat dipercaya di Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

Xiao Hu Zi juga masih tertidur dengan nyenyaknya. Pembantu yang menjaganya sudah setengah tuli dan setengah buta. Terlihat tidak ada bedanya saat dia tidur maupu terjaga.

Sekarang sepertinya hanya Ma Fang Ling yang masih tinggal di dalam rumah.

Kesepian adalah salah satu dari rasa takut. Tambahan lagi, saat itu hanya kegelapan, kegelapan yang sangat sunyi. Orang yang berasal dari kegelapan tersebut adalah seorang yang sedang mencari pembalasan.

Ma Fan Ling menggigit bibirnya dan duduk.

Angin berhembus melewati daun jendela kamarnya. Tiba-tiba, muncul bayangan orang di balik jendelanya. Bayang orang tersebut tinggi dan ramping. Dia tahu itu bukanlah bayangan Gong Sun Duan.

Ma Fang Ling merasakan isi perutnya mulai berkontraksi. Di dinding tergantung sebilah pedang. Bayangan hitam tersebut diam tidak bergerak, seperti sedang berusaha mendengarkan suara gerakan di dalam gedung. Ma Fang Ling menggigit bibirnya kemudian perlahan-lahan berjingkat-jingkat ke arah dinding dan menarik pedang tersebut.

Bayangan tersebut mulai bergerak, sepertinya dia mau membuka jendela. Keringat dingin di telapak tangannya telah membasahi kain ungu yang membungkus gagang pedang tersebut.

Ma Fang Ling mengumpulkan tenaga dan keberaniannya dan berusaha untuk tidak gemetaran. Ruangan tersebut sangat gelap, gelap gulita, dia telah mengambil posisi dan siap untuk melakukan serangan. Dia hanya berharap, orang diluar tersebut tidak melihatnya.

Namun belum lagi pedangnya digerakan, orang di luar jendela tersebut telah menghilang. Selanjutnya, dia mendengar suara derap kuda yang menghilang ditelan angin. Orang diluar tersebut nampaknya melihat seseorang dan kabur pergi.

“Paling tidak seseorang telah kembali.”

Ma Fang Ling jatuh berbaring di atas tempat tidurnya, dia merasa seluruh tubuhnya menjadi hancur berkeping-keping. Dia akhirnya mengetahui seperti apa rasa takut yang sesungguhnya.

Siapa yang berada di luar jendela?

Saat akhirnya dia telah cukup mengumpulkan segala keberaniannya untuk membuka jendela dan melihat keluar, suara derap kuda terdengar telah menjauh di luar. Dia mendengar suara ayahnya yang tegas,” Jangan katakan apapun, ikuti aku ke atas!”

Ma Kong Qunt tidak kembali seorang diri! Siapa yang bersamanya? Dia hanya mendengar satu suara kuda yang kembali, kenapa Ma Kong Qun bersedia membagi sadelnya dengan orang lain? Ma Fang Ling merasa sedikit bingung saat dia mendengar suara seorang wanita menggerutu perlahan, kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ke lantai atas. Kenapa Ma Kong Qun membawa seorang wanita bersamanya?

Dia tahu wanita tersebut bukanlah Nyonya Ketiga Shen karena dari suaranya dia masih muda dan menggoda. Dia terduduk, kemudian jatuh terbaring ke belakang. Dia tidak marah kepada ayahnya.

Semakin seorang laki-laki menjadi gelisah, semakin pula dia menginginkan seorang wanita. Semakin seorang laki-laki menjadi tua, semakin muda wanita yang dia inginkan. Bibi Ketiga mulai beranjak tua, Ma Fang Ling tiba-tiba merasa kasihan kepadanya. Seorang laki-laki dapat membawa seorang wanita kapan saja, namun wanita yang keluar rumah malam-malam adalah hal yang hampir tidak termaafkan.

Jendelanya perlahan-lahan dipenuhi oleh warna putih.

Dari manakah bayangan itu berasal?

“Orang tersebut nampaknya tidak benar-benar hilang dikegelapan malam, namun masih bersembunyi di sudut yang gelap di suatu tempat, menunggu kesempatan untuk menyerang korbannya. Dan korban tersebut pastila aku.”

Ma Fang Ling dipenuhi oleh rasa takut lagi, namun untungnya ayahnya telah kembali dan sebentar lagi cahaya pagi akan tiba. Dia sebal untuk melakukannya, namun akhirnya dia menggapai pedangnya dan berjalan ke luar – namun tidak ada seorangpun yang terlihat. Ruangan utama masih terlihat gelpa dan sunyi.

Dia berjalan sepanjang lantai yang dingin, sedingin es, berharap dapat melihat orang tersebut, sesungguhnya di dalam hatinya dia sangat ketakutan orang tersebut tiba-tiba muncul.

Kemudian, dia mendengar suara kecipak air. Suara tersebut keluar dari kamar Bibi Ketiga.

Apakah Bibi Ketiga telah kembali? Atau orang tersebut bersembunyi di kamar Bibi Ketiga?

Ma Fang Ling merasakan jantung berdetak semakin cepat sepertinya jantungnya mau meloncat ke luar dari dalam dadanya setiap saat. Dia menggertakan giginya dan perlahan-lahan menuju ke kamar tersebut. Tiba-tiba, terdengar bunyi keriat keriut di lantai.

Dia hampir saja melompat saking takutnya. Dia melihat pintu kamar Bibi Ketiga baru saja berderit terbuka. Sepasang mata yang terang keluar dari dalam kamar tersebut, mata Bibi Ketiga.

Ma Fang Ling menghela napas yang panjang dan berkata lega,” Syukur kepada dewa akhirnya engkau kembali.”

oooOOOooo

Peristiwa apa yang akan terjadi di Kota Perbatasan? Siapakah yang bersama Ma Kong Qun? Ikut kisah selanjutnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: