Kumpulan Cerita Silat

20/01/2008

Duke of Mount Deer (17)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:58 am

Duke of Mount Deer (17)
Oleh Jin Yong

“Cong tocu, kami semua mengerti maksud hati tocu yang memikirkan kepentingan kita semua,” kata Pui Tay-cong ketua dari Hong Sun-tong. “Bukankah Cong tocu tadinya tidak mengenal saudara Wi, sebagaimana halnya saudara Wi juga tidak mengenal Cong tocu? Kedua pihak tidak ada hubungan apa-apa sampai bisa bertemu dihari ini. Memang sikap Cong tocu yang lain dari biasanya cukup mengejutkan, namun kami mengerti semua ini demi kepentingan kita bersama. Karena itu pula harap Cong tocu tidak perlu khawatir. Meskipun usia saudara Wi masih sangat muda, tapi kami.yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diharapkan! Apalagi dengan adanya Lie toako dan Kwan hucu yang membantu sekuat tenaga.”

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya.

“Kita memilih Wi Siau-po sebagai hiocu hanya untuk mewujudkan sumpah yang telah kita ikrarkan di hadapan arwah Ban In-Liong toako,” katanya kemudian. “Apakah saudara Wi bisa menjadi hiocu untuk selamanya atau hanya untuk satu kali saja, masalahnya lain lagi. Yang penting kita telah memenuhi sumpah yang telah kita ucapkan. Seandainya besok dia berani main gila atau menghalang-halangi pekerjaan kita yang ingin mengusir bangsa Boan, kita boleh segera memecatnya tanpa ragu-ragu! Lie toako, saudara Kwan, aku harap kalian bersedia membantunya. Andaikata anak ini melakukan sesuatu yang tidak benar, jangan segan-segan melaporkannya kepadaku. Jangan kalian menutupinya!”

Lie Lek-si dan Kwan An-ki menganggukkan kepalanya serentak.

“Baik, Cong tocu,” sahut mereka bersamaan.

Tan Kin-lam memutar tubuhnya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan meja abu. Dia mengambil tiga batang hio yang kemudian disulutnya lalu diangkatnya tinggi ke atas.

“Sebawahan Tan Kin-lam dengan ini bersumpah di hadapan toako Ban In-liang, apabila murid kami yang baru Wi Siau-po melanggar aturan serta kurang bijaksana dalam mengambil tindakan, kami akan segera memecatnya. Kami mengangkatnya sebagai hiocu karena ingin mewujudkan sumpah yang telah kami ucapkan. Apabila Tan Kin-lam tidak mentaati sumpah itu, biarlah arwah Ban toako menurunkan kutukannya kepadaku!”

Selesai berkata, Tan Kin-lam segera menyembah beberapa kali lalu menancapkan hio di tempat dupa sembahyang dan menganggukkan kepalanya lagi sebanyak belasan kali.

“Dengan berbuat demikian, Cong tocu telah menunjukkan kebijaksanaannya yang tidak mementingkan diri sendiri. Kami semua menjunjung tinggi Cong tocu!” terdengar suara banyak orang mengomentari.

Siau Po justru mempunyai pandangan yang berbeda. Diam-diam dia berpikir dalam hati:

‘Bagus! Aku kira kalian bermaksud baik mengangkat aku sebagai hiocu, tidak tahunya kalian hanya menjadikan aku jembatan penyeberangan. Apabila kalian sudah sampai di tujuan, jembatan pun akan dirobohkan kembali. Hari ini kalian mengangkat aku sebagai hiocu yang untuk mewujudkan sumpah yang telah kalian ucapkan, besok kalian bisa mencari seribu Satu alasan untuk memecatku. Yang penting kalian tidak mengingkari sumpah kalian sendiri. Dan pada waktu itu, mungkin Lie toako atau Kwan hucu yang akan menggantikan kedudukanku. Dengan demikian kalian tidak menyalahi aturan!’ 1
Berpikir sampai di sini, dia segera berkata dengan suara lantang.

“Suhu, aku tidak mau menjadi hiocu!” Suaranya memang lantang, namun menyiratkan ketenangan sehingga Tan Kin-lam menatap muridnya itu dengan heran. Bahkan orang yang ada di dalam ruangan itu ikut menjadi bingung.

“Apa katamu?” tanya Tan Kin-lam.

“Aku tidak bisa menjadi hiocu!” sahut Siau Po tegas. “Aku juga tidak menginginkan jabatan tersebut!” .

“Kalau merasa tidak sanggup, kau bisa belajar perlahan-lahan,” kata: Tan Kin-lam. “Aku dapat membantumu, demikian juga saudara Lie serta saudara Kwa’n. Mereka telah memberikan kesanggupannya untuk membantumu. Jabatan hiocu dari Tian-te hwe adalah sebuah kedudukan yang tinggi. Mengapa kau malah menolaknya?”

Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak suka kedudukan itu. Sebab hari ini aku diangkat menjadi hiocu, mungkin besok kau akan memecatku. Daripada mendapat malu, lebih baik aku tolak jabatan itu. Tanpa kedudukan, aku dapat melakukan apa pun yang aku inginkan. Begitu aku menjadi hiocu, aku seumpama telur yang didatangi setiap orang untuk dicari tulangnya! Dalam sekejap mata telur itu akan pecah dan habislah semuanya!”

“Telur ayam kan tidak ada tulangnya?” tanya Tan Kin-lam. “Biar pun orang mencarinya, tetap saja mereka tidak bisa menemukannya.”

“Tapi telur dapat menetes menjadi anak ayam,” sahut Siau Po. “Sedangkan anak ayam pasti ada tulangnya. Taruhlah tidak ada tulangnya, tapi asal orang mengambil telur itu lalu dipecahkan dan bagian merah serta putih telurnya diaduk menjadi satu, maka habislah sudah!”

Para hadirin menjadi tertawa mendengarkan kata-katanya yang lucu.

Tan Kin-lam tetap bersikap sabar:

“Kau kira usaha kami perkumpulan Tian-te hwe seperli permainan anak-anak? Asal kau tidak melakukan kesalahan, setiap orang akan menghormatimu sebagai seorang ketua yang bijaksana dari Ceng-bok tong. Siapa yang berani memperlakukan kau dengan kurang hormat? Taruh kata mereka tidak menghargai kau sebagai seorang ketua, mereka tetap akan menghormati kau sebagai muridku!”

Siau Po merenung sejenak.

“Baiklah!” kata bocah itu akhirnya. “Sebaiknya sekarang kita bicara dulu secara terus-terang. Kalau di kemudian hari kalian tidak menyukai aku menjadi ketua hiocu Ceng-bok tong, aku harap kalian bicara sejujurnya, aku akan mengundurkan diri secara sukarela. Aku tidak mau kalau kalian sampai sembarangan menuduh aku berbuat kesalahan. Atau menyeret aku tanpa alasan yang pasti lalu memenggal kepalaku!”

Tan Kin-lam mengernyitkan keningnya.

“Kau benar-benar suka saling tawar. Seperti apa yang telah kukatakan sebelumnya. Asal kau tidak berbuat kesalahan, siapa yang akan menuduhmu sembarangan atau memenggal kepalamu? Justru sebaliknya, apabila bangsa Tatcu menghajar atau membunuhmu, maka seluruh anggota perkumpulan Tian-te hwe akan membelamu dan membalaskan sakit hatimu! Siau Po, seorang laki-Iaki sejati, berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Demi keadilan, dia tidak akan mundur atau menyerah begitu saja. Sekali kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe, maka kau harus berani dan pantang mundur demi membela kepentingan negara. Siapa yang hanya mengutamakan dirinya pribadi, apakah pantas dia disebut orang gagah?”

Mendengar diungkitnya soal orang gagah, hati Siau Po jadi tertarik. Dia teringat tukang dongeng yang sering mengisahkan cerita-cerita ten tang orang-orang gagah di zaman dulu.

“Benar sekali, suhu! Paling-paling juga batok kepalaku ini dipenggal, toh delapan belas tahun kemudian aku akan menjelma lagi menjadi manusia.”

Kata-kata yang diucapkan Siau Po biasanya dicetuskan oleh orang yang sedang digiring algojo menuju tiang gantungan atau akan menjalani hukuman mati dengan kepalanya dipenggal. Orang-orang dalam ruangan itu langsung memberikan sambutan meriah atas ucapannya itu.

Tan Kin-lam juga ikut tertawa dan berkata:

“Menjadi hiocu adalah suatu hal yang menggembirakan. Mana dapat disamakan dengan orang yang akan menjalani hukuman mati? Lihatlah kesembilan hiocu yang lain, mereka menjalankan tugas dengan senang hati. Kau seharusnya mencontoh mereka!”

Kwan An-ki segera menghampiri Siau Po, lalu memberi hormat dengan membungkukkan’ tubuhnya rendah-rendah.

“Sebawahan Kwan An-ki menghadap hiocu!” katanya.

Mendapat penghormatan seperti itu, Siau Po, tidak menolak atau membalas. Dia langsung menoleh kepada Tan Kin-lam sambil bertanya:

“Suhu, apa yang harus tecu lakukan?”

“Kau harus membalas hormat!” sahut Tan Kin Lam.

“Kwan hucu, apa kabar?” kala si bocah sambil meragkapkan kedua tangannya menjura.,

Tan Kin-Lam tersenyum mendengar ucapan Siau Po.

“Sebutan Kwan hucu hanya panggilan umum karena itulah julukannya saudara Kwan. Tapi di saat melangsungkan upacara seperti ini, kau harus memanggilnya Kwan-jiko!” .
Siau Po menurut, sekali lagi dia menjura sambil berkata.

“Kwan jiko, apa kabar?”

Kwan An-ki hanya tersenyum. Sementara itu, Lie Lek-si menyesal karena telah didahului oleh Kwan An-ki. Bergegas dia juga maju ke depan dan memberi hormat kepada hiocu barunya itu. Setelahnya, sembilan hiocu yang lain pun melakukan hal yang sama.
Selesai upacara, mereka duduk berkumpul di aula pertemuan. Cong tocu dan sepuluh hiocu dari perkumpulan itu pun terlibat pembicaraan yang berkaitan dengan urusan partai.

Ceng-Bok tong adalah seksi pertama dari kelima hou-tong atau tong belakang. Dan terhitung bagian’ keenam dalam perkumpulan Tian-te hwe. Itulah sebabnya Siau Po duduk di kursi deretan pertama sebelah kanan. Dan rasanya lucu melihat di sebelahnya duduk orang yang sudah tua dan janggutnya sudah memutih semua .

Lie Lek-si, Kwan An ki dan yang lainnya segera mengundurkan diri. Di dalam ruangan itu hanya tinggal Tan Kin-lam dan sepuluh orang hiocu dari sepuluh bagian perkumpulan Tian-te hwe.

Di tengah ruangan ada sebuah kursi kosong Tan Kin-lam menunjuk ke arah kursi itu dan berkata kepada Siau Po.

“Kursi itu adalah kursi kedudukan Cu Sam thaycu!” Dia menunjuk lagi ke kursi kosong lainnya yang terletak di sebelah kursi pertama tadi. “Dan itulah kursi kedudukan yang disediakan untuk The Ongya dari Taiwan. Kalau kita sedang mengadakan rapat dan keduanya tidak dapat hadir, maka kedua kursi itu dibiarkan kosong …” Tan Kin-lam menghentikan kata-katanya sejenak kemudian baru melanjutkan kembali.

“Saudara-saudara sekalian, silahkan saudara sekalian melaporkan dahulu mengenai sesuatu yang menyangkut wilayah kalian masing-masing.”

Ada baiknya kita jelaskan terlebih dahulu mengenai perkumpulan Tian-te hwe. Kelima tong di depan yaitu Lian-hoa tong mempunyai kekuasaan di propinsi Hokkian. Tong kedua, yakni Hong-sun tong berkuasa di, propinsi Kwitang, Tong ketiga, Ki-hou tong menguasai propinsi Kwisai. Tong keempat, Cam-tay tong bermarkas di dua propinsi, yakni Ouwlam dan Ouwpak. Sedangkan tong kelima, Hong-hoa tong menguasai propinsi Ciatkang. Kemudian kelima houtong, yakni tong belakang, Ceng-bok tong berkuasa di Kangsou, Cik-hwe tong di Kwiciu. Si-kim tong di Sicuan, Hian-sui tong di Inlam dan Oey-tou tong di Tiong ciu, Hoalam.

Pertama-tama hiocu Coa tek-tiong yang melaporkan usaha mereka di Hokkian, kemudian menyusul hiocu Pui Tay-hong dari Kwitang.

Tidak tertarik hati Siau Po mendengarkan laporan itu, kesatu karena dia memang tidak mengerti, kedua dia juga tidak tertarik terhadap masalah itu. Dia lebih senang membicarakan soal perjudian. Sampai giliran hiocu keempat yakni Lim Eng-tiau dari Hian-sui tong, baru hatinya tergerak.

Lim Eng-tiau memberikan laporan dengan penuh nafsu sekali. Kadang-kadang dia malah menyelipkan umpatan serta cacian. ltulah sebabnya Siau Po tambah tertarik mendengarkan kata-katanya.

“Go Sam-kui, penjahat besar itu, dia sangat menentang kita bangsa Han. Dia memusuhi kita di mana saja. Semenjak tahun yang lalu sampai sekarang, belum ada sepuluh bulan namanya, sudah ada seratus tujuh puluh sembilan anggota perkumpulan kita yang mati di tangannya. Dia benar-benar telur busuk, induk kambing! Dialah musuh dari keturunanku! Tiga kali berusaha membunuhnya secara diam-diam, selalu aku menemui kegagalan. Dia mempunyai banyak pembantu yang lihay. Terakhir malah aku sendiri yang turun tangan, celakanya bukan hanya tidak berhasil! bahkan lengan kiriku jadi kutung! Manusia itu benar-benar raja kejahatan. Pada suatu hari nanti, pasti dia beserta seluruh keturunannya akan jatuh dalam genggaman kita. Pada waktu itu, aku ingin menghancur leburkan seluruh tubuhnya!”

Mendengar disebutnya nama Go Sam-kui, para hiocu yang lain juga ikut marah dan panas. Siau Po sendiri pernah mendengar nama Go Sam-kui ketika di Yangciu. Dialah pengkhianat bangsa Han yang telah memimpin pasukan Boanciu masuk ke Tionggoan untuk menyerang, kemudian merampas kerajaan.

Go Sam-kui juga si raja jahat yang menjadi biang keladi pembunuhan di Yangciu. Entah berapa banyak rakyat yang dikorbankannya di saat itu. Berkat jasanya ini pula, dia diangkat menjadi Peng seng ong, raja muda yang menguasai wilayah barat, tepatnya di propinsi Inlam. Setiap menyebut nama Go Sam-kui, rakyat bangsa Han pasti akan mengepalkan tinjunya dan mengkertakkan gigi erat-erat karena mereka membenci orang itu sampai ke tulang sumsum. Karena itu, Siau Po juga tidak heran mendengar hiocu Hian-sui tong memaki dengan demikian hebatnya.

Dipelopori oleh hiocu Lim Eng-tiau, kedelapan hiocu yang lainnya segera membuka suara ikut mencaci Go Sam-kui. Untung saja di sana terdapat Tan Kin-lam, kalau tidak, mungkin mereka sudah mengeluarkan segala macam cacian terkotor yang pernah ada.

Siau Po senang sekali mendengar caci maki mereka. Baginya semua kata-kata itu adalah makanan sehari-hari. Tanpa dapat mempertahankan did lagi, dia ikut memaki. Akhirnya gaduhlah ruangan itu karena caci maki yang keras dan saling sahut menyahut.

“Cukup! Cukup!” seru Tan Kin-lam sambil mengibaskan tangannya berkali-kali. “Di seluruh negara, bangsa Han setiap hari mencaci dan mengutuk Go Sam-kui, tapi sampai hari ini dia masih tetap sehat walafiat dan bahkan masih menjadi seorang raja muda. Sedangkan percobaan pembunuhan atas dirinya selalu gagal!”

Mendengar kata-kata sang ketua, Lie Si-kay dari Hong-hoa tong yang tubuhnya pendek kecil dan agak pendiam ikut memberikan pendapatnya:

“Menurut pandanganku yang rendah, seandainya kita menyerang ke Inlam dan menghabisi Go Sam-kui, tindakan itu masih belum berarti banyak bagi perkumpulan kita. Apalagi orang ini adalah pengkhianat besar bangsa, satu kali bacokan terlalu enak baginya. Dia pantas menjalani berbagai siksaan berat seperti yang dialami tawanan-tawanan yang pernah jatuh ke tangannya!”

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya. “Hiocu memang benar. Sekarang, dapatkah hiocu memberikan pendapatmu yang berharga?”

“Urusan ini besar sekali. Lebih baik kita rundingkan bersama-sama. Aku sendiri tidak mempunyai pandangan apa-apa. Cong tocu saja yang memberikan petunjuk!”

“Memang urusan ini bukan main besarnya, maka benarlah bahwa kita harus merundingkannya bersama … ” kata Tan Kin-lam. “Siapa juga tahu, pikiran satu orang pendek, pikiran dua orang panjang. Sedangkan jumlah, kita ada sepuluh, eh … bukan, sebelas! Tentu kita bisa memikirkan sebuah akal yang baik.”

Tan Kin-lam menghentikan kata-katanya sejenak. Pandangannya mengedarkan orang-orang yang berkumpul dalam ruangan itu, baru dia kemudian melanjutkan kembali. “Kita ingin membunuh Go Sam-kui, tujuannya bukan hanya untuk membalas sakit hati para saudara kita, tetapi untuk rakyat yang tercekam olehnya! Kedudukan Go Sam-kui di lnlam kuat sekali. Mungkin Tian-te hwe kita tidak sanggup membasminya …. ”

“Biar bagaimanapun kita toh harus berusaha menghancurkannya!” kata Lim Eng-tiau.

“Kita bisa mengadu jiwa dengannya!”

“Sampai sebegitu jauh, buktinya kau belum berhasil. Bahkan kau kehilangan sebelah lenganmu!” tukas Coa Tek-tiong.

“Apakah kau sengaja menghina aku atau ingin menertawakan kegagalanku?” tanya Lim Eng-tiau dengan wajah kurang senang.

“Aku hanya bercanda,” sahut Coa Tek-tiong yang sadar telah kelepasan bioara. Dia segera menoleh kepada Tan Kin-lam dengan bibir tersenyum. “tong tocu, harap maafkan sikapku barusan.”

Kinlam mengetahui bahwa hati Lim Eng-tiau masih panas mendengar ucapan Coa Tek-tiong. Dia tidak ingin urusan ini jadi berkepanjangan.

“Saudara Lim,” katanya dengan nada sabar.

“Membunuh Go Sam-kui adalah cita-cita setiap bangsa Han. Orang terus berharap bahkan sampai memimpikannya. Jadi bukan berarti hanya tugasmu seorang saja. Kalau bicara terus terang, kita semua juga belum tentu bisa berhasil membunuhnya, namun kita toh tidak boleh putus asa begitu saja!”

Kemarahan dalam hati Lim Eng-tiau sirap mendengar ucapan Cong tocunya.

“Apa yang Cong tocu katakan memang benar!” Terdengar Tan Kin-lam berkata kembali:

“Untuk membunuh Go Sam-kui rasanya kita harus bekerja sama dengan partai persilatan lainnya, dengan demikian baru kita bisa mempunyai kekuatan yang besar. Di Inlam, Go Sam-kui mempunyai pasukan perang yang jumlahnya laksaan jiwa, belum lagi pendamping-pendampingnya yang berilmu tinggi. Inilah yang membuat kita menghadapi kesulitan untuk membasminya …. ”

“Terutama Siaulim pai dan Butong pai, kita harus berupaya untuk mengajak mereka bekerja sama, karena selain murid-murid mereka banyak, kepandaian mereka juga, tinggi-tinggi!” tukas Coa Tek-tiong.

“Aku ragu kalau pihak Siaulim pai bersedia bekerja sama dengan kita. Menurut apa yang kuketahui, ketua Siaulim pai, yakni Beng Seng taisu, lebih mengutamakan soal agama daripada urusan politik …. ” kata Yau Pit-tat, hiocu dari Oey-tou tong. “Sejak beberapa tahun yang lalu, dia malah mengeluarkan peraturan baru. Para murid kuil itu, baik yang hwesio atau yang preman, tidak boleh sembarangan terjun ke dunia kangouw. Hal ini disebabkan kekhawatiran si taisu tua itu bahwa akan terbit keonaran yang tidak diinginkan. Karena itu, aku rasa tidak mudah bagi kita untuk mengharapkan dukungannya.”

“Pihak Butong juga bersikap hampir tidak berbeda dengan Siaulim pai,” kata Ouw Tek-ti, hiocu dari Cam-tay tong di wilayah Ouwkong. In Gan tojin, pengurus kuil Cin-bu-koan, sudah lama tidak akur dengan kakaknya, In Ho tojin. Di antara murid kedua belah pihak pun seperti ada ganjalan apaapa. Aku khawatir … ”

Hiocu itu tidak dapat tnelanjutkan kata-katanya, tapi semua orang sudah maklum memang sulit mengharapkan kerja sama dari pihak Siaulim pai maupun Butong pai.

“Kalau memang sulit mengharapkan kerja sama dari kedua partai itu, tidak ada salahnya kalau kita bergerak sendiri saja!” kata Lim Eng tiau.

“Biar bagaimana, kita tidak boleh terburu nafsu … ,” tukas Tan Kin-lam. “Kita toh tahu bahwa di dunia ini, partai persilatan tidak terdiri dari Siaulim pai dan Butong pai saja.”
Mendengar kata-kata ketua mereka, beberapa hiocu langsung mengajukan nama Gobi pai dan Kaypang. Terutama Kaypang yang terkenal setia kawan serta jujur.

“Pokoknya, kalau kita belum mendapat kepastian, sebaiknya kita jangan sembarangan membicarakan urusan. Hal tersebut merupakan rahasia yan harus kita jaga baik-baik!” kata Tan Kin-lam.

“Betul!” sahut Pui Tay-hong. “Jangan kita memaksakan kehendak dan jangan sampai kita kena batunya atau mendapat malu!”

“Yang ‘penting kita harus bisa menyimpan rahasia.” Sekali lagi Tan Kin-lam menegaskan. “Kalau rahasia kita bocor, Go Sam-kui pasti akan membuat penjagaan yang ketat .. ”

“Karena itu, mulai sekarang kita tidak boleh lancang. Untuk mendapatkan kerja sama dari pihak lain, kita tidak boleh gegabah. Harus ada persetujuan terlebih dahulu dari Cong tocu. Jangan sekali-sekali mengambil keputusan sendiri!” kata Lie Si kayo

“Itu benar!” seru beberapa orang lainnya, sepakat.

“Sekarang kita belum bisa mengambil keputusan, karena itu, tiga bulan kemudian kita berkumpul lagi di Tiangsi, Ouwlam. Dan kau, Siau Po, kau kembalilah ke istana. Urusan Ceng-Bok tong boleh diserahkan saja kepada Lie toako dan Kwan hueu. Dalam rapat di Tiangsi kau juga tidak usah .hadir,” kata Tan Kin-lam selanjutnya.

“Baik,” sahut sang murid.

Tan Kin-lam menarik tangan Siau Po kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamar tadi.

“Kau dengar kata-kataku ini,” katanya kepada Siau Po. “Di dalam kota Peking, ada seorang kakek penjual koyo (obat tempel) di sebuah tempat yang bernama Thiankio, orang itu she Ci. Kalau orang lain menjual kayo berwarna hitam, koyanya justru berwarna separuh hijau dan separuh lagi. merah. Seandainya hendak menghubungi aku, kau pergi saja ke Thiankio dan temui si Ci itu; Agar tidak terjadi kesalahan dan dapat saling percaya, ada pembicaraan yang telah diatur. Begini: Kau harus menanyakan kepada dia, apakah dia menjual koyo pembasmi racun dan obat yang dapat membuat mata buta menjadi melek kembali. Nanti dia akan menjawab, ‘obatnya ada, tapi harganya mahal sekali, YAKNI TIGA TAIL UANG EMAS DAN TIGA TAIL DANG PERAK!’ Kau tawar, apakah dia menjualnya dengan harga lima tail uang emas dan lima tail uang perak. Setelah itu dia pasti tahu siapa dirimu.”

Hati Siau Po jadi tertarik. Dia tertawa lebar. “Orang minta harga tiiga tail, kita malah menawar lima tail. Di dunia ini mana ada peraturan seperti itu?”

“ltu merupakan isyarat kita. Mendengar kau menawar lebih tinggi, dia tentu akan menanyakan apa alasannya. Kau harus mengatakan bahwa tawaran itu sama sekali tidak mahal. Malah kalau mata yang buta bisa melek kembali, kau bersedia menjadi kerbau atau kuda baginya. Nanti dia akan berkata, ‘Bumi bergetar, tanjakan tinggi dan parit di gunung indah.’ Dan kau harus menjawab: ‘Pintu menghadap laut besar, tiga sungai mengalir menjadi satu laksaan tahun lamanya.’ Dia akan bertanya lagi: ‘Di sisi paseban bunga merah, di ruangan yang mana?’ Kau harus menjawab, ‘Ruang kayu hijau, yakni Cengbok tong.’ Kemudian dia tentu bertanya lagi. ‘Berapa batang hio yang disulut dalam ruangan itu?’ Kau jawab: ‘Lima batang hio.’ Lima batang hio artinya kelima hiocu. Dalam perkumpulan, kedudukanmu jauh lebih tinggi daripadanya. Karena itu, bila ada urusan apa-apa, kau boleh perintahkan dia imtuk melaksanakannya.”

“Siau Po mengingat baik-baik semua tanya jawab yang aneh itu. Kinlam juga mengujinya beberapa kali sampai dia hapal betul.

“Meskipun orang tua she Ci itu kedudukannya rendah, tapi kepandaiannya justru baik sekali. Karena itu, jangan sekali-sekali kau bersikap kurang .. ajar kepadanya!”

“Baik, suhu!” sahut Siau Po.

Kin Lam menerangkan beberapa teori ilmu silat yang harus dilatih oleh Siau Po. Kemudian baru dia berkata kembali:

“Siau Po, kita mempunyai tugas masing-masing yang harus dilaksanakan. Karena itu, kita tidak dapat berkumpul lama-lama. Nanti sesampai di istana, kau boleh melaporkan bahwa kau telah diculik para penjahat, kemudian di malam hari kau berhasil meloloskan diri dengan membunuh penjagamu. Juga kau mengatakan boleh bahwa mereka datang ke temp at di mana kau ditahan, yakni tempat ini. Kepala Go Pay akan kupendam di kebun sayur belakang rumah ini. Kau boleh gali dan ambil kepala itu sebagai bukti. Dengan demikian kau tidak akan dicurigai.”

Siau Po menganggukkan kepalanya. “Bagaimana dengan suhu dan yang lainnya? Apakah suhu ingin menyingkir dari tempat ini?”

Tan Kin-lam mengangguk .

“Kalau kau sudah pergi, kami pun akan berlalu dari sini, kau tidak perlu khawatir!” Tan Kin-lam membelai kepala muridnya itu. “Siau Po, aku harap kau akan menjadi anak yang baik. Bila ada waktu luang, aku akan datang ke kota raja dan mengajarkan ilmu silat kepadamu.”

Siau Po mengangguk. “Ya, Suhu” katanya.

“Bagus, Nak: Pergilah. Kau harus berhati-hati.

Bangsa Tatcu sangat licik, meskipun otakmu cerdas sekali, tapi kau masih kurang pengalaman.”

“Suhu!” panggil Siau Po sambil menundukkan kepalanya. “Sebetulnya aku tidak kerasan lama-lama di istana. Kapan kiranya aku bisa ikut suhu mengembara?”

Tan Kin-lam memperhatikan muridnya lekat-lekat.

“Sabarlah kau untuk beberapa tahun. Berusahalah untuk membuat jasa bagi perkumpulan kita. Nanti setelah kau agak dewasa di mana suaramu sudah pecah dan kumismu mulai tumbuh, tentu kau tidak dapat menyamar sebagai thaykam lagi. Itulah saatnya kau meninggalkan istana!” –

Siau Po juga memperhatikan gurunya lekat-lekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Baiklah, aku akan berdiam di dalam istana saja. Di sana aku bebas melakukan apa pun yang aku suka, kalian toh tidak mungkin mengetahuinya. Dengan demikian, kalian juga tidak menemukan alasan untuk memecat aku sebagai hiocu. ‘Setelah lewat beberapa tahun, kepandaianku juga akan bertambah tinggi. Kalau aku sudah lihay, kalian belum tentu berani menentangku lagi!’

Oleh karena itu, pikirannya yang tadi gundah menjadi gembira. Sebelum berangkat, Siau Po menemui Mau Sip-pat untuk mengucapkan selamat berpisah.

Siau Po tidak menceritakan apa-apa, meskipun Mau Sip-pat banyak bertanya. Laki-laki itu tidak tahu kalau adik angkatnya sudah menjadi hiocu Ceng-bok tong, bahkan diterima sebagai murid oleh Tan Kin-lam. Hatinya prihatin sekali.

Di samping itu, Siau Po juga telah mendapatkan semua barangnya kembali. Juga pisau belatinya yang luar biasa tajamnya itu. Ketika ia akan berangkat, Siau Po diberikan seekor kuda dan diantarkan oleh Tan Kin-lam sampai di depan pintu. Sedangkan Kwan An-ki, Lie Lek-si serta yang lainnya mengantar sampai sejauh tiga Ii.

Siau Po menanyakan sampai jelas jalan menuju kota raja. Kemudian dia melarikan kudanya dengan cepat ke tempat tujuannya itu. Ketika dia sampai di kota raja, hari sudah menjelang malam. Tanpa menunda waktu lagi, dia menuju istana dan menghadap kaisar Kong Hi.

Kaisar Kong Hi telah menerima laporan dari anak buahnya bahwa Siau Po diculik oleh antek-antek Go Pay. Dia menduga bahwa thaykam kesayangannya itu telah dicelakai oleh mereka. Dia juga sudah menitahkan seorang jenderal, dengan membawa pasukan pergi mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Meskipun puluhan orang telah ditangkap dan diinterogasi, tetap saja tidak ada hasilnya.

Justru tepat di saat kaisar Kong Hi pusing memikirkan keselamatan thaykam gadungan itu, tiba-tiba dia mendapat laporan bahwa Siau Po sudah pulang. Bukan main gembiranya hati raja cilik itu.

“Lekas perintahkan dia menghadap secepatnya!”

Tidak lama kemudian, SiauPo pun menghadap dan memberi hormat kepada sang raja ..

“Eh! Siau Kui cu … , bagaimana kau bisa meloloskan diri dari tangan musuh?” tanyanya dengan nada terharu.

Siau Po telah diajari bagaimana harus berdusta. Dia juga sudah memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya sepanjang perjalanan. Karena itu dia tidak mendapat kesulitan sedikit pun dalam mengisahkannya. Dia menceritakan bagaimana dia ditawan oleh pihak musuh, bagaimana dia dibawa dengan dimasukkan ke dalam sebuah drum lalu dijejali buah tho. Dia juga menceritakan bahwa dia akan dibunuh untuk menjadi korban. Bahkan meja sembahyang sudah disediakan. Sampai akhirnya ada seorang dari rombongan penjahat itu yang mengusulkan agar hukumannya ditunda dulu. Dia lalu dikurung dalam sebuah kamar gelap. Dia kemudian berhasil meloloskan diri setelah membunuh beberapa orang penjaga. Siau Po mengatakan bahwa dia bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat sampai akhirnya dia berhasil mencuri seekor kuda dan kabur pulang ke istana dengan jalan memutar!

Cerita karangannya dikisahkan dengan bagus sehingga kaisar Kong Hi tidak curiga sedikit pun. bahkan kaisar Kong Hi merasa gembira sekali hingga dia menepuk bahu thaykam gadungan itu berkali-kali.

“Hebat kau, Siau Kui cu. Tentunya kau sudah kenyang mengalami penderitaan!” kataraja itu.

“Tidak apa, Sri Baginda,” sahut bocah yang cerdik itu. “Sri Baginda, antek-anteknya Go Pay banyak sekali. Mereka harus dicari dan ditumpas. hamba tahu di mana letaknya sarang persembunyian mereka. Bagaimana kalau sekarang juga kita membawa pasukan untuk menyerang dan sekaligus menumpas mereka?”

“Bagus!” seru kaisar Kong Hi. “Lekas kau ajak Su ngo-tu dan pimpin lima ribu tentara berkuda untuk menawan para pemberontak itu!”

Siau Po menerima baik perintah itu. Dia tidak beristirahat lagi. la segera menyuruh bawahannya menyampaikan perintah itu kepada So Ngo-tu. Setelah itu dia segera mengganti pakaiannya.

Sekejap kemudian dia sudah berjalan bersama So Ngo-tu untuk menjalankan tugas yang diberikan kaisar. Tentu saja dia bertindak sebagai penunjuk jalan.

Di tengah jalan pasukan tersebut disusul oleh orang suruhannya Kongcin ong, karena pangeran itu bermaksud menglrimkan kuda Giok-ho cong yang sudah dihadiahkan kepada Siau Po. Ketika sudah naik ke atas punggung kuda, penampilan Siau Po jadi berwibawa sekali.

Tatkala pasukan tentara itu tiba di tempat Siau Po tertawan, sarang itu sudah kosong melompong. Namun, atas anjuran si thaykam gadungan, So Ngotu memerintahkan orangnya untuk mengadakan pemeriksaan. Kepala Go Pay digali dari dalam tanah kebun belakang. Di sana terdapat sebuah lengpai yang bertuliskan: ‘Tempat bersemayamnya arwah Yang Mulia Go Pay berpangkat Siau Po dari kerajaan Ceng yang Maha Besar.’ Di sana juga terdapat beberapa batang kayu yang berukir katakata pujian untuk orang gagah nomor satu dari bangsa Boan. Dapat dipastikan bahwa Tan Kin-lam telah mengatur semuanya dengan seksama demi memperkuat ceritanya Siau Po.

Mereka pun kembali ke istana. Meski tidak ada seorang tawanan pun yang berhasil didapatkan, tapi So Ngo-tu dapat menghaturkan kepalanya Go Pay serta lengpai dan beberapa batang kayu berukir huruf-huruf itu. Kaisar Kong Hi merasa puas sekali dan menganggap panglimanya sudah berjasa besar kali ini.

“Selidikilah terus urusan ini!” katanya kepada So Ngo-tu.

Siau Po juga senang sekali. Apalagi membayangkan bahwa raja pun telah kena diperdaya olehnya. Begitu masuk ke dalam kamarnya sendiri, Siau Po langsung menghitung uang yang diberikan So Ngo-tu kepadanya. Jumlahnya mencapai empat puluh enam laksa enam ribu lima ratus tail perak. Semestinya dia menerima jumlah yang kurang satu laksa, tapi So Ngo-tu memang ingin menyenangkan hatinya dengan mengurangi bagiannya sendiri. Dan Siau Po memang senang sekali menerimanya!

Setelah menyimpan uangnya, Siau Po segera mengeluarkan kitab kecil pemberian Tan Kin-lam. Kitab itu berisi ilmu tenaga dalam. Dia langsung duduk bersila dengan sikap orang bersemedi. Tapi belum sampai setengah jam, dia sudah letih dan mengantuk. Karena itu dia pun tertidur pulas.

Keesokan paginya, setelah terjaga dari tidurnya dan membasuh muka serta mengganti pakaiannya kembali, Siau Po pun menghadap raja. Dia menyelesaikan tugas cepat-cepat. Siang hari dia kembali ke kamarnya sendiri untuk melatih diri. Tapi, seperti juga kemarin, belum lama berlatih, dia sudah merasa capek dan tertidur.

Rupanya kitab ilmu tenaga dalam yang diberikan Tan Kin-lam sangat sulit dipelajari. Untuk berhasil, orang yang mempelajarinya harus mempunyai minat, tekad serta ketekunan yang besar. Siau Po cukup cerdas, minat pun ada, sayangnya ketekunannya kurang.

Ketika Siau Po terjaga kembali, hari sudah larut malam. Diam-diam ia berpikir dalam hati.

‘Suhu menyuruh aku mempelajari kitab ini, tetapi isinya sama sekali tidak menarik.’

Siau Po segera membalikkan halaman kitab itu. Selain gambar orang masih terdapat banyak huruf-huruf di dalamnya. Sayangnya, Siau Po tidak bisa membaca. Seandainya bisa, kata-kata dalam kitab itu tentu akan memberikan bantuan kepadanya .

Akhirnya Siau Po menarik nafas panjang dan. menyimpan kembali kitab itu.
Ketika menerima Siau Po sebagai murid, Tan Kin-lam melakukan satu kesalahan. Dia tidak menanyakan apakah muridnya itu bisa membaca atau tidak. Mungkin bukan hanya Kin Lam yang tidak terpikir sejauh itu. Mengingat Siau Po sangat disayangi oleh Sri Baginda dan thayhou, orang lain pasti tidak mempunyai keraguan terhadapnya.

Sebenarnya semua penjelasan itu tidak sulit di mengerti, sayangnya Siau Po memang tidak bisa!

‘Bagaimana kalau aku bertemu lagi dengan suhu kelak?’ pikirnya sambil rebah di tempat tidur. Bagaimana kalau suhu ingin melihat sampai di mana kemajuanku? Tentu suhu akan kecewa ….

Kemudian dia bangkit kembali dan mengeluarkan kitab pemberian Tan Kin-lam kemudian dia duduk bersila lagi. Belum berapa lama rasa kantuknya sudah menyerang lagi. Siau Po berusaha mempertahankan diri sekuatnya biarpun matanya terasa berat dan sulit diajak berkompromi.

‘Aih!’ keluh Siau Po dalam hati. ‘Suhu orangnya baik dan kepandaiannya tinggi sekali, sayang sekali pelajarannya tidak menarik sebagaimana halnya pelajaran Hay kongkong!

Teringat akan pelajaran Hay kongkong, semangat Siau Po terbangkit kembali. Cepat dia mengambil kitab ilmu silat si thaykam tua teliti. Dia segera membukanya dan berlatih menurut gambar yang tertera dalam kitab itu.

Baru bersila tidak berapa lama, Siau Po sudah merasa ada hawa hangat yang mengalir dalam tubuhnya. Diam-diam dia berkata dalam hati.

‘Menurut keterangan suhu, habis berlatih hawa hangat memang akan keluar. Karena kalau aku mempelajari kitab yang diberikan suhu, hawa hangat itu tidak terasa? Mengapa justru terasa begitu cepat kalau aku mempelajari ilmu si kura-kura tua?’

Siau Po juga merasa tubuhnya nyaman sekali.

Mempelajari kedua kitab tersebut, ilmu kepandaian Siau Po maju pesat. Tanpa disadarinya, dia menggabungkan kedua macam ilmu tersebut. Kalau pelajaran yang satu mengalami kesulitan, dia akan beralih kepada pelajaran yang’lainnya. Derilikian pula sebaliknya.

Dalam waktu sembilan hari, Siau Po sudah selesai nempelajari gambar pertama dari kitab Hay kongkong. Sementara itu, dia juga tetap dibantu oleh kitab dari gurunya. Setiap kali berlatih, seluruh tubuh Siau Po pasti basah oleh keringat dan terasa nyaman sekali. Namun dia sendiri tidak menyadari kemajuan yang diperolehnya dari gabungan kedua pelajaran itu.

Semakin hari Siau Po semakin bersemangat. Asal dia sudah selesai melayani Sri Baginda, dia akan mengunci diri di kamar untuk berlatih. Setiap tanggal dua dan enam belas ada pula thaykam yang datang mengantarkan uang perak sebesar dua ribu tail untuknya.

So Ngo-tu mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan membagi-bagikannya kepada beberapa selir raja, thaykam dan siwi yang berpengaruh atas nama Siau Po. Hal ini membuat kedudukan thaykam gadungan itu semakin kuat. Dalam waktu beberapa bulan saja Siau Po sudah disukai oleh berbagai kalangan dalam istana. Di mana saja dia muncul, selalu disambut dengan ramah. Bahkan raja sendiri juga semakin menyayanginya.

Musim gugur telah berlalu. Datanglah musim dingin. Suatu hari, di saat Siau Po se1esai melayani raja, tiba-tiba dia teringat akan gurunya.

‘Suhu telah berpesan, apabila aku mempunyai urusan yang ingin dibicarakan dengan suhu, aku boleh mencari si Ci, penjual koyo di Thianko. Walaupun aku tidak mempunyai urusan apa-apa, tapi sekarang aku mempunyai waktu senggang, ada baiknya aku ke tempat itu. Siapa tahu suhu ada di sana! Aku harus bertemu secepatnya, agar kepandaianku mengalami kemajuan!’

Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po keluar dari istana. Setelah jalan berputaran beberapa kali, dia mampir di sebuah kedai teh. Di sana ada tukang dongeng yang sedang bercerita. Siau Po duduk menikmati secawan teh panas sambi! memasang telinga mendengarkan. Kisah yang dituturkan adalah ‘Eng Liat-toan.’ Sebetulnya Siau Po sudah sering mendengar cerita yang satu ini, tapi karena tukang dongengnya pintar mengisahkan cerita itu, perhatian Siau Po sampai terpusat penuh. Dia terus mendengarkan dan tidak disadari bahwa hari sudah menjelang malam. Dengan demikian hari itu dia tidak jadi menemui si Ci penjual koyo tersebut.

Di hari kedua kembali Siau Po keluar dari istana, tapi dia hanya berputar-putar saja, kemudian mendengarkan cerita lagi. Hari itu, pikirannya juga dilanda kebimbangan. Dia merasa rindu kepada gurunya, namun dia juga khawatir dirinya akan ditegur, karena pelajarannya yang tidak mengalami kemajuan. Bisa-bisa dia dipecat dari jabatannya sebagai hiocu dari Ceng-bok tong ….

‘Bukankah lebih enak jadi thaykam saja?’ Pernah tersirat pikiran itu dalam benaknya. Tapi dia merasa kehidupan seperti ini tiada artinya, meskipun dia bebas melakukan apa saja. Namun, dia juga tidak ingin menjabat sebagai seorang hiocu untuk selamanya. Dia memang ingin bertemu dengan gurunya, namun tidak ada kepentingan apa-apa yang harus dibicarakan. ‘Buat apa aku mencari si Ci penjual koyo itu? Kalau sampai mulutku kelepasan bicara atau membocorkan rahasia Tian-te hwe dan menimbulkan bencana bagi perkumpulan itu, celakalah aku!’ pikirnya kemudian.

Satu bulan lebih kembali berlalu. Dari tujuh puluh dua gambar yang tertera dalam kitab Hay kongkong, dia sudah menguasai dua puluh satu di antaranya. Dia merasa tubuhnya segar dan ringan, gerakan kakinya cepat dan ini membuat hati Siau Po’ menjadi gembira.

Pada suatu hari, Siau Po pergi lagi ke kedai teh. Dia ingin mendengar kisah yang dituturkan si tukang dongeng. Kisah yang dituturkannya masih ‘Eng Liat-toan.’ Pelayan kedai itu sudah menyediakan tempat duduk karena mereka semua tahu bahwa dia adalah thaykam kesayangan Sri Baginda. Siau Po selalu disajikan teh yang baik. Dia juga merasa senang karena orang-orang di sana sangat menghormatinya. Sedikit-sedikit dia dipanggil Kongkong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: