Kumpulan Cerita Silat

19/01/2008

Perguruan Sejati (17)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:24 pm

Perguruan Sejati (17)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Sang Ibu dengan lengan tuanya mengusap-usap pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. “Anakku semua ini benar adanya! Selama belasan tahun engkau kami rawat, dengan rasa penuh kasih sayang. Disamping itu kami berdoa agar kelak engkau bisa menemukan orang tuamu yang sejati….engkau mungkin belum mengerti apa yang terjadi akan dirimu ini…baiklah kututurkan bagaimana aku menemuimu. Tujuh belas tahun yang lalu, diawal musim semi, air sungai yang beku mulai berair, sedangkan tanggul-tanggul sungai banyak yang rusak, akibatnya akan timbul bahaya banjir. Penduduk kampung bergotong royong dan bermusyawarah untuk mengatasi bencana yang tidak diinginkan itu, demikian pula dengan ayahmu sering pergi bermusyawarah ke kabupaten. Pada suatu hari, diperjalanan pulang. Ia melihat sebuah kas kayu yang terumbang ambing di atas sungai. Entah bagaimana perhatiannya sangat tertarik dengan kas itu, dan disuruhnya tukang perahu mengambilnya. Begitu dibuka kas itu, ia menjadi melongo, karena didalamnya terlihat anak kecil berusia setahun lebih, penuh dengan darah. Mula pertama orang-orang yang melihat kejadian ini, menganggap anak itu sudah mati. Tapi setelah dipeeriksa dengan cermat, nyatanya anak itu masih bernyawa. Ayahmu segera membawa pulang, dan memanggil tabib mengobati anak kecil yang malang itu. Sebulan kemudian anak itu sudah sehat walafiat. Ia sangat mungil dan manis, siapapun senang kepadanya. Lagi pula kami yang berusia hampir setengah baya belum dikaruniakan barang seorang anak, begitu mandapatkan anak ini, bukan buatan girangnya dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tiong Giok seperti mimpi mendengar perkataan ibunya itu, sedangkan air matanya mengalir terus tanpa dirasa.

“Kecuali keredong dan pakaian yang menempel ditubuhmu di dalam kas itu tidak terdapat benda lainnya lagi, sehingga kami hanya bisa menduga bahwa keluargamu ketemu perampok dan teraniaya….”

“Bilamana orang tuaku itu mati, siapa pula yang menaruhku kedalam kas itu?”

“Sukar diketahui!” jawab ibunya. “Untuk menyelidiki siapa sebenarnya engkau ini, ayahmu telah pergi menyusuri sungai ratusan lie jauhnya, menanyakan kepada penduduk disekitar situ, kalau-kalau mengetahui siapa yang menghanyutkan anak itu. Tapi tidak ada seorangpun yang tahu! Memang sangat aneh dan sukar dimengerti, bilamana ayahmu terbunuh kaum perampok, siapa yang menghanyutkan engkau kekali? Bilamana ayahmu tidak terampok, kenapa engkau kecil-kecil sudah luka parah? Dan yang mengherankan, disekitar situ tidak terdengar adanya perampokan maupun pembunuhan…”

“Ibu, atas pertolongan ayah dan rawatanmu aku menjadi dewasa, tapi aku tidak bisa membalas guna, meninggalkan rumah, membuat ayah dan ibu bersedih; bahkan mendatangkan bencana dari kaum Pok Thian Pang, semua adalah dosa! Oh….ibu ampunilah anakmu yang tidak berbakti ini!”

“Anak yang baik, janganlah berkata sedungu itu! Soal umur ada ditangan yang maha kuasa, ayahmu sudah tua, sudah seharusnya kembali kedunia baka. Tak perlu engkau sesalkan! Yang membuat kami sedih, selama ini belum bisa melihat engkau berkumpul dengan orang tua kandungmu!”

“Ibu kenapa mengatakan soal yang menyedihkan saja ,” Wan Jie turut bersuara. “Kini Tiong Giok sudah kembali soal orang tuanya itu mudah diketahui! Lagi pula bilamana ia kembali kepangkuan orang tuanya ibu tak perlu berkecil hati, masih ada aku yang bisa merawatmu.”

Orang tua itu tersenyum meringis. “Engkau salah mengartikan kata-kataku, aku bukannya sombong, pikiranku tidak sesempit itu. Bukan saja bersedih jika Tiong Giok kembali kepangkuan ibu kandungnya malahan girang!”

“Cuma saja kemana harus mencari orang tuanya itu?”

“Kupikir soalnya mudah sekali,” kata Wan Jie. “Soalnya ialah ditanda luka itu, kuyakin betul berhubungan dengan dendam Pek Suheng. Soal ini dapat kuketahui dari Suhuku atau Lo Cucong.”

“Andaikata benar begitu, mungkin kita menanyakan pada mereka?” kata Tiong Giok.

“Tak usah menanyakan pada mereka, kita bisa menanyakan pada orang lain!”

“Makdusmu menanyakan pada Pek Kiam Hong?”

“Bukan! Coba kau pikir, banyak jago-jago Bulim yang mengetahui rahasia Pek Suheng bukan? Coba-coba kau pikir…”

“Benar! Dari dirinya Pek Kiam Hong banyak soal aneh-aneh!” kata Tiong Giok. “Tong Cian Lie mengasingkan diri, orang-orang Tiat Po tak berani berbuat apa-apa pada Pok Thian Pang…semuanya ini menyangkut dengan Pek Kiam Hong.”

“Heran bukan? Sampai jago-jago itu rela tunduk pada Pok Thian Pang, karena soal Pek Suheng? Bukan itu saja merekapun tutup mulut tak berani mengatakan apa-apa kepada siapapun.”

“Jika kuminta Tong Cian Lie akan menuturkan soal ini.”

“Engkau yakin betul pada dirimu?”

“Aku bersahabat baik dengannya, dan ia telah memberikan buku Lui tiap padaku, kuyakin ia akan memberi tahu. Bagaimana kalau besok kita bawa ibu ke Kiu Yang Shia, selanjutnya tak kuatir orang-orang Pok Thian Pang mengganggunya lagi.”

“Cara ini memang baik, tapi perjalanan sangat jauh, sedangkan kedua mata ibumu sudah tak bisa melihat, banyak berabenya.”

“Hal ini tak perlu dikuatirkan…”

“Kalau begitu soal ibu ini kuserahkan padamu…”

“Apakah dengan penyerahan ini, engkau mau pulang ke Pok Thian Pang?”

“Aku hanya ingin menemukan guruku saja, dan tidak pergi ke markas pusat Pok Thian Pang!”

“Kuharapkan engkau bisa mengurungkan niatmu itu,” bujuk In Tiong Giok. “Sekali engkau berada ditangan mereka, pasti akan memaksamu kembali ke pusat.”

“Guruku sangat sayang padaku, kuyakin ia tak mau mendesakku kembali ke pusat.”

“Tapi engkau lupa, bahwa gurumu biarpun menjadi Pangcu, tidak berkuasa! Yang berkuasa adalah Lo Cucong.”

“Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan Pek Cin Nio, namanya guru dan murid, padahal hubungan kami tak ubahnya seperti anak dan ibu….Tambahan aku sudah menjanjikan mereka untuk ke Ngo Liu Cung. Dalam hal ini kuminta engkau mengerti kesulitanku.”

“biar bagaimanapun aku melarangmu kembali kemulut macan! Jika engkau mau pergi juga kesana, baiklah akupun turut serta!”

“Hm! Engkau rela meninggalkan ibumu?”

“Soal ibu dapat kuminta Ciu dan Yauw Lo Cianpwee yang mengurus sampai ke Kiu Yang Shia, kita menyusul belakangan!”

“Engkau tidak mengerti, Lie Cit Long sudah mengetahui diriku berada disini, sudah pasti tak gampang pergi begitu saja! Kuyakin sekitar ini sudah penuh dengan jago-jago Pok Thian Pang, bilamana aku berkeras tak pergi menemui guruku, bisa-bisa membuat kalian susah sendiri. Mengertikah maksudku?”

“Ha ha ha, engkau jangan menyamakan In Tiong Giok yang dulu dengan sekarang! Baru beberapa jago-jago begitu, sedikitpun tidak kupandang sebelah mata!”

“Mungkin selama berpisah ini, engkau memperoleh ilmu yang luar biasa?”

“Bukan sombong, selama satu tahun telah kupelajari Thian liong dengan baik, kukira ilmu itu cukup kuat untuk melindungi engkau dan ibuku!”

“Oh…benar! Kupercaya keteranganmu, karena waktu kuserang tadi, engkau bisa menangkis dan mematahkan pedangku!”

“Kepatahan pedangmu, bukan disebabkan kelihayan ilmuku.”

“Habis karena apa?”

“Karena pedang pusaka ini!” jawab Tiong Giok. “Wan Jie, sekarang engkau percaya akan ketangguhanku bukan?”

“Ya kupercaya sepenuhnya, karena bukan saja kepandaianmu sudah tinggi, juga memiliki pedang pusaka!”

“Kalau begitu niatmu ke Ngo Liu Cung menjadi batal bukan?”

“Aku bisa membatalkan niatku, tapi sebelum itu engkau harus meluluskan dua permintaanku.”

“Katakanlah apa permintaanmu itu!”

“Kesatu engkau harus memaklumi, bahwa diriku ini dibesarkan oleh orang-orang Pok Thian Pang, bagaimanapun aku tak bisa berkhianat pada mereka.”

“Engkau seorang yang mengenal budi, sudah tentu permintaanmu ini kululusi, dan yang satu lagi?”

“Yang kedua, kuharap engkau berlaku murah jika berkelahi dengan guruku!”

“Itu mudah! Nah bersiap-siaplah untuk berangkat!”

Dikamar itu memang tak ada perabotan yang bisa dibawa, Wan Jie hanya membundel pakaian sehari-hari. “Hayolah kita berangkat!”

“Ibu tak bisa berjalan sendiri, marilah kugendong!” kata Tiong Giok.

“Sebaiknya aku yang menggendong! Dengan begini kalau ketemu musuh engkau bisa melawannya!” Tanpa menunggu jawaban dari Tiong Giok, Wan Jie segera menggendong orang tua itu. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, tiga kali panjang sekali pendek, “Siapa yang mengebel?” tanya Wan Jie.

“Mungkin Ciu Lo Cianpwee, biar kubukakan pintu, dan kau tunggu dulu disini!” kata Tiong Giok yang terus berlari keluar. Begitu ia membuka pintu kuburan, tampak seseorang sedang langak longok di pintu kuburan, orang itu adalah Toa Gu adanya, tentu saja membuat Tiong Giok heran. “Toa Gu ada keperluan apa kau kemari?” Toa Gu menjadi kaget, tapi begitu mengenali yang menanya itu Tiong Giok adanya, ia tersenyum-senyum sambil menepak-nepak dada. “Aduh, membuatku kaget saja! Siau cu jin apa-apaan bersembunyi didalam kuburan?”

Tiong Giok tak menjelaskan atas keheranan sitolol, malahan lantas bertanya: “Siapa yang menyuruhmu kesini?”

“Ciu Lo Cianpwee yang menyuruh!” jawab Toa Gu. “Katanya disekitar rumah penuh dengan musuh-musuh, apakah perlu dihajar atay bagaimana itu terserah pada Siau cu jin!”

“Berapa banyak musuh-musuh itu?”

“Keadaan gelap tak bisa melihat tegas, pokoknya banyak!”

“Apakah mereka sudah masuk kerumah?”

“Buh…kalau sudah masuk kerumah sih sudah beres, dan tak perlu menanya Siau cu jin lagi!”

“Baiklah, beri tahu Ciu Lo Cianpwee jangan ladeni musuh-musuh itu. Dan minta semuanya datang kemari!”

Toa Gu segera berlalu.

Saat ini Wan Jie yang menggendong ibunya Tiong Giok telah sampai diluar kuburan. “Bagaimana ada apa?” tanyanya.

“Gurumu sudah mengepalai anak buahnya melakukan pengepungan pada rumahku, biar bagaimana perkelahian tak bisa dihindarkan lagi!”

“Ah, kenapa guruku berlaku begini?”

“Sedapat mungkin kita hindarkan eprkelahian, kalau terpaksa baru melawan!” jawab Tiong Giok.

“Sebaiknya sabarlah dan jangan membunuh orang,” kata ibunya Tiong Giok.

Tak selang lama Ciu Ceng Ceng tampak datang, ia menggendong Tio Ma, disusul oleh Ciu Kong yang membawa tubuh In Hok.

“Aku berusaha sedapat-dapatnya, tapi racun ini telah membuatnya mati….” kata Ciu Kong.

Tiong Giok mengulapkan tangan, jangan sampai Ciu Kong berkata terus dan didengar ibunya. Ia mengangkat tubuh In Hok dan membawanya kedalam kuburan. Dan diletakkan pada peti kosong, setelah itu ia bertekuk lutut sambil berdoa: “Semoga arwahmu diterima dialam baka dalam ketenangan, dan kuhaturkan hormatku yang terakhir sebagai tanda terima kasihku yang tak terhingga. Kini dalam keadaan bahaya aku tak bisa melakukan upacara penguburan sebagaimana layaknya, tapi setelah segala urusan beres, jenazahmu akan dikebumikan secara wajar.”

Ia bangun dan keluar darai kuburan, diliputi kesedihan yang tak alang kepalang.

“Keadaan sangat genting sekali, Siau cu jin menitahkan kami meninggalkan rumah, selanjutnya langkah apa yang harus kutempuh?” tanya Ciu Kong.

“Untuk meninggalkan tempat ini, kita harus menjadi dua rombongan yang berpisah. Satu mengambil jalan biasa untuk memancing musuh pergi, satu rombongan lagi mengambil jalan pegunungan yang bisa sampai diluar daerah Ek Ciu. Tujuh hari kemudian kita bisa berkumpul lagi dikota Lam Ciong dan terus ke Kiu Yang Shia.

“Nah sekarang saja Siau cu jin atur orang-orang kita ini!”

In Tiong Giok berpikir sejenak. “Wan Jie dan Ceng Ceng ikut denganku mengambil jalan gunung, sedangkan Lo Cianpwee dan Toa Gu mengambil jalan besar!”

Tiong Giok sengaja menempatkan kedua gadis itu turut dengannya, kesatu Wan Jie tidak bisa terang-terangan menghadapi kaum Pok Thian Pang, kedua gadis itu dibutuhkan menggendong Tio Ma dan ibunya sendiri. Ketiga Ciu Kong yang ditugaskan memancing musuh, tanpa dibebani kaum lemah, bisa bergerak bebas.

Sebaliknya Ciu Kong menguatirkan keselamatan Siau cu jin, maka itu mendengar keputusan ini, alisnya jadi berkerut: “Siau cu jin sebagai Ciang bun jin dari Thian liong pay, bilamana memisahkan diri dari kami, rasa kuatir itu tak bisa hilang, sebaiknya salah satu diantara aku atau Yauw heng, mengikuti Siau cu jin.”

“Tidak usah!” kata Tiong Giok. “Tujuanku mengambil jalan kecil ini, untuk menghindarkan mata-mata musuh, bilamana terlalu banyak orang mudah diketahui mereka. Dan andaikata masih juga dipergoki musuh, kepandaianku masih cukup menghadapi mereka!”

Ciu Kong tidak mengatakan apa-apa lagi, ia melirik pada anaknya sambil memesan dengan wanti-wanti: “Berlaku rangkas dan cermatlah di perjalanan, bila terjadi apa-apa pada diri Siau cu jin , jangan harap bertemu muka lagi.”

“Idih! Tia tia bisanya memarahi aku saja,” kata Ceng Ceng.

Tiong Giok tersenyum dan mengangkat tangan, menyetop pembicaraan antara Ceng Ceng dan ayahnya. “Sekarang sudah eaktunya kita berpisahan!”

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee masing-masing memegang sebelah tangan Toa Gu terus berlalu di dalam kegelapan malam.

Belum selang lama berangkat, dari balik gunung terlihat panah api menerangi jagat raya. Tiong Giok tahu itulah tanda rahasia orang-orang Pok Thian Pang. Dengan padamnya panah api itu terdengar pekikan di empat penjuru memburu kearah Ciu Kong dan kawan-kawannya melarikan diri.

Tiong Giok tersenyum melihat siasatnya memancing musuh berhasil dengan baik. Cepat-cepat diajaknya Wan Jie yang menggendong ibunya dan Ciu Ceng Ceng yang menggendong Tio Ma meninggalkan tempat itu. Kedua orang tua itu masing-masing tidur dengan nyenyaknya diatas gendongan. Karena sudah ditotok urat tidurnya. Mereka mengambil jalan gunung yang berliku-liku.

“Jalanan ini bisa menembus kedaerah Tong San tanpa melalui Ek Ciu atau Ngo Liu Cung, jika kita berhasil sampai disana, tidak kuatir lagi terkejar orang Pok Thian Pang!” kata Tiong Giok.

Setelah mereka melalui belasan lie jauhnya, jalanan gunung semakin menanjak, dan memasuki sebuah jalanan sempit yang dihimpit tebing kiri kanannya. “Jalanan ini hanya satu lie panjangnya, tapi merupakan tempat yang paling berbahaya, maka itu aku minta kalian mengaso sulu sebelum melalui kalan ini!” kata Tiong Giok.

“Aku tak merasa letih,” kata Ciu Ceng Ceng, “aku pikir sebaiknya kita lekas lalui jalan ini lebih baik bukan?”

“Wan Jie bagaimana denganmu, letihkah?” tanya Tiong Giok.

“Tidak!” jawab Wan Jie.

“Baiklah kalau begitu tidak usah kita beristirahat lagi!” kata Tiong Giok. Ia memberikan pedang Lie hwee kiam pada Ceng Ceng, “Engkau berjaga di paling belakang, Wan Jie ditengah, aku didepan!”

Padahal Wan Jie sudah letih sekali, tetapi ia tak mau kalah oleh Ceng Ceng. Biarpun di dalam hatinya mengetahui anak gadis yang sebaya dengannya itu memiliki kepandaian yang bila dibandingkan lebih tinggi darinya. Ia memaksakan diri mengikuti Tiong Giok masuk kejalan sempit yang berbahaya itu dengan termegap-megap. Disamping itu ia sangat memperhatikan bahwa Tiong Giok begitu telaten sekali pada Ceng Ceng, mau tak mau perasaan cemburu timbul didalam hatinya. Sehingga tanpa disadari lagi, mendatangkan duka pada dirinya.

Sedangkan Ceng Ceng yang sejak kecil dibesarkan oleh Ciu Kong sudah biasa berjalan dipegunungan, tambahan ilmunyapun cukup tinggi, perjalanan itu memang benar-benar tidak membuatnya letih barang sedikitpun. Wan Jie yang sejak kecil mempelajari silat dibawah asuhan Pek Cin Nio, biar terhitung seorang jago, tetap belum bisa menandingi Ceng Ceng.

Belum lama mereka berjalan, Wan Jie sudah kepayahan, Ceng Ceng yang berada dibelakangnya mengetahui kesemua ini. “Wan Kounio bagaimana? Sudah letihkah? Mari kubantu!”

Nyatanya Wan Jie sudah lemas sekali, sebelum mendapat bantuan dari Ceng Ceng, tubuhnya telah limbung dan jatuh duduk dengan mendadak.

“Wan Jie engkau kenapa?” tanya Tiong Giok.

“Wan Kounio kecapaian sehingga jatuh,” jawab Ceng Ceng dari belakang.

“Kalau begitu kita beristirahat dulu disini,” kata Tiong Giok.

Ciu Ceng Ceng yang tidak tahu apa-apa membuka mulut lagi. “Mana boleh kita beristirahat ditempat berbahaya ini, biar bagaimana kita harus keluar dulu dari sini baru istirahat.”

Tanpa memperdulikan orang, Wan Jie melepaskan ibu angkatnya dari punggungnya.

“Tiong Giok lekaslah engkau bawa ibu keluar dari jalan berbahaya ini. Dan biarkan aku disini…”

“Wan Jie memang kenapa? Bagaimanapun kita harus sama-sama senang dan sama-sama menderita!”

“Sebenarnya tak pantas aku turut denganmu karena merupakan beban saja…” kata Wan Jie sambil menangis.

“Aku tidak menyalahkan dirimu….”

“Aku menyesalkan diriku sendiri, aku menyesal! Aku lebih senang kembali lagi ke Pok Thian Pang dari pada turut denganmu!”

“Hei, kenapa jadi marah-marah? Aku salah apa?”

Wan Jie tidak menjawab, ia mengangis semakin keras.

“Sebaiknya jangan bicara disini, kalau orang-orang Pok Thian Pang kemari bisa celaka!”

Mendengar ini Wan Jie jadi gusar, ia berhenti menangis, dan cepat-cepat menyerahkan ibunya dan buntalan pada Tiong Giok. “Kuharapkan baik-baiklah menjaga diri….kuucapkan selamat berpisah…” Sambil menangis ia melompat melalui Ceng Ceng dan terus berlari ketempat tadi.

“Wan Jie! Wan Jie!” teriak In Tiong Giok.

Wan Jie tidak memperdulikan, ia berlari terus dengan terhuyung-huyung.

Tiong Giok menjadi bingung dan panik.

“Sedang enak-enaknya berjalan, kenapa kembali lagi?” kata Ceng Ceng.

“Jangan banyak bicara lagi, lekas buntuti!” bentak In Tiong Giok.

Waktu mereka berhasil mencandak Wan Jie tiba-tiba melihat sinar api menerangi tebing.

“Hi hi hi…nyatanya kalian tetap tak lepas dari tanganku!” terdengar suara dingin yang menyeramkan.

Tiong Giok memandang kearah suara tampak beberapa orang Pok Thian Pang dibawah pimpinan Soat Kouw menghadang perjalanan mereka.

Tiong Giok menjadi kaget, cepat-cepat menyuruh kedua gadis diam dibelakangnya. Ia sendiri dengan pedang ditangan maju menghadapi musuh dengan gagah. “Kutanya kalian mau apa?”

“Oh, kiranya pedang mustika inipun jatuh ditangan In Kongcu, tak kukira orang bertopeng yang berhasil mendapatkan pedang ini engkau adanya…saat itu benar-benar tidak kukenali…” Kata Soat Kouw, ia pun melirik kearah Wan Jie, “Hm, Wan Jie nyalimu sangat besar, sudah melihat Soat Kouw masih pura-pura bodoh!”

“Kou kou terima hormatku!” kata Wan Jie.

“Wan Jie sekarang tak ubahnya seperti harimau tumbuh sayap, aku tak berani menerima hormatmu!”

Wan Jie menundukkan kepala tanpa menjawab.

“Kemarilah!” Atau diseret dulu baru datang?”

Dengan perasaan sedih Wan Jie memandang In Tiong Giok, lalu menggerakkan kaki perlahan–lahan.

“Wan Jie, engkau gila!” bentak In Tiong Giok sambil menghalang-halangi.

“In Kongcu sebagai lelaki sejati, tak pantas berbuat begitu pada gadis baik-baik bukan?”

“Memang dia kuapakan!” bentak In Tiong Giok.

“Kuminta kemurahanmu, ijinkanlah aku kembali!” kata Wan Jie.

“Sampai matipun tidak kuijinkan!” kata In Tiong Giok.

Wan Jie menangis, air matanya turun seperti hujan, membuat Soat Kouw heran sendiri. “Wan Jie, jika engkau menyesal masih ada kesempatan untuk kembali, jangan sampai gurumu datang!”

Wan Jie dalam keadaan terdesak, mengeraskan hati dan berlari kearah Soat Kouw. Tiong Giok menggendong ibunya, sebelah tangan lagi mencekal pedang. Cepat ia meletakkan ibunya, dan menyuruh Ceng Ceng menjaga. Setelah itu baru memburu kearah Wan Jie, gerakannya sangat cepat sekali. Wan Jie kena dijambretnya dan dibawa kembali kedalam tebing. Beberapa anggota Pok Thian Pang mencoba merintangi, tapi dalam beberapa gebrakan saja telah dibikin terjungkel. Tiong Giok melewati Ceng Ceng kembali kedalam tebing. “Wan Jie! Wan Jie!” kata Tiong Giok sambil meletakkan kekasih itu. “Andaikata aku bersalah jelaskanlah baru kuijinkan engkau pergi, bilamana tidak matipun tidak kuijinkan!”

“Tiong Giok lupakanlah aku! Anggaplah antara kita belum pernah berkenalan satu sama lain…atau anggaplah aku sudah mati…sulit untuk kujelaskan kandungan hatiku, anggaplah aku sudah tiada.”

“Tapi kita sudah berkenalan,” jawab Tiong Giok. “Dan engkau masih hidup disunia ini…ini fakta…mana bisa kulupakan? Aku tak mengerti mengapa cintamu begitu kejam?”

“Aku tak tahu! Jangan desak diriku.”

“Kudengar dari mulutmu sendiri, akan turut denganku selama-lamanya…”

“Itu soal dulu…siapa tak tahu bisa menghadapi hari ini…”

“Dulu dan sekarang apa bedanya? Engkau telah berubah!”

“Tidak! Sedikitpun aku tidak berubah! Tapi waktu dan keadaan bisa membuat kehidupan orang menjadi berubah…”

“Perkataan dungu apa gunanya diucapkan,” selak Tiong Giok ddengan gemas. “Jika tidak berubah…kenapa mau meninggalkan aku? Kini kuminta kesediaanmu turut bersamaku untuk selama-lamanya!”

“Engkau mau kemana?”

“Kemana saja, keujung langit kek, engkau harus besertaku!”

“Tapi antara engkau dan aku tak bisa.”

“Kenapa tidak?”

Wan Jie menangis semakin sedih.

Mereka berkata dan berkata, sedangkan dimulut tebing, sangat rusuh sekali oleh orang-orang Pok Thian Pang. Tiong Giok segera mencelat, menghampiri Ceng Ceng. “Bagaimana keadaan sekarang?”

“Mereka semakin banyak!” jawab Ceng Ceng.

“Sebaiknya kita berusaha meninggalkan tempat ini sebelum terang tanah!”

“Hm jangan bermimpi!” tiba-tiba terdengar suara ejekan dari sebelah luar. “Engkau kira kami bodoh, ketahuilah jalan keluar disebelah sana sudah kami jaga, pokoknya tidak ada jalan lagi untuk kalian, kecuali bunuh diri!”

Suara ini membuat Wan Jie berkat seorang diri: “Ah…suhu sudah datang!”

“Hm sudah tahu aku datang, kenapa tidak lekas-lekas keluar?”

Wan Jie menghampiri Tiong Giok, “Bagaimana sekarang?”

“Jangan takut, ada aku!” jawab Tiong Giok. Sungguhpun begitu, dihatinya ia pun memikirkan keadaan yang sulit ini. Mereka hanya berlima sedangkan dua orang tua disamping tidak bisa membantu mereka, juga cukup merepotkan. Untuk mereka meloloskan diri dari jalan itu sulitnya bukan main. Tapi ia seorang anak muda yang tidak lekas putus asa.

Dihiburnya Wan Jie dengan lemah lembut: “Jangan kuatir, asalkan kita bisa berlaku tenang segala kesusahan ini bisa kita atasi.”

“Biarkan aku keluar menemui guruku, kuyakin dengan permohonanku yang sangat, beliau akan mengabulkan untuk membebaskan kalian pergi.”

“Saat ini belum waktunya minta belas kasihannya,” jawab Tiong Giok.

“Habis apa yang harus kuperbuat?”

“Kuinginkan kita bisa sehidup semati menghadapi bahaya yang bagaimana besarpun…”

Wan Jie membekap mulut Tiong Giok: “Aku tak berharga dibela mati-matian macam itu!”

“Jangan berkata begitu!” kata Tiong Giok. “Sejak kita bertemu entah berapa banyak kami menerima budi darimu, jika dikatakan dirimu tak berharga, itu salah yang tak berharga adalah aku.”

“Jangan mengungkit-ungkit masa lalu, yang lalu biarlah berlalu!” ratap Wan Jie. “Aku hanya menyesal, kenapa keduakaan selalu membayangi diriku terus? Kini hanya memohon belas kasihan dari guruku tak ada jalan lain lagi untuk hidup bukan?”

“Pokonya asal engkau bertekad tak kembali lagi ke Pok Thian Pang, aku masih berdaya untuk meloloskan diri dari bahaya ini!”

“Keyakinanmu berlebih-lebihan, lihatlah kenyataannya…”

“Keyakinanlah modal utama untuk menanggulangi segala kesulitan.”

“Baiklah kusanggupi kehendakmu, tapi luluskan juga sebuah permintaanku.”

“Katakanlah sayang,” kata Tiong Giok.

“Engkau tahu antara dendam dan budi terpisah satu sama lain, budi yang kuterima dari guruku, tujuh belas tahun dididik dan dibesarkan dengan kasih sayangnya, kini ia berada didepanku, sepatutnya aku menemuinya bukan? Andaikata ia mendesakku sampai matipun aku tak mau kembali ke Pok Thian Pang, tetapi yang kujalankan hanya kewajiban seorang murid pada gurunya…”

“Baiklah, mari kutemani menemuinya.”

“Baik! Untuk menjaga mukaku janganlah engkau turun tangan kepadanya.”

Tiong Giok menganggukkan kepala dan segera memerintahkan Ceng Ceng untuk menjaga kedua orang tua, lalu menemani Wan Jie keluar dari tebing itu.

Cahaya api terang benderang, Pek Cin Nio dan Soat Kouw berdampingan satu sama lain diluar tebing itu. Dikiri kanannya tampak Thian Lam Sam Kui, Lie Cit Liong, Siau Hong dan Siau Eng. Sedang pengawal yang berjumlah seratus lebih, berada disekelilingnya, siap dengan senjata terhunus.

Setibanya dimulut tebing, Wan Jie bertekuk lutut sambil berkata: “Suhu, terimalah hormat dariku.”

In Tiong Giok pun maju bersoja memberi hormat tanpa berkata.

Sepasang mata Pek Cin Nio, memandang dengan tajam menatap pemuda kita, kepalanya mengangguk perlahan membalas hormat itu, lalu melirik kearah muridnya dan berkata dengan dingin: “Budak, nyatanya engkau masih punya pikiran, mengakui aku sebagai guru!”

“Seumur hidupku tak pernah mengandung pikiran membalik membelakangi guru,” jawab Wan Jie, “dibalik ini banyak kesulitanku, harap suhu maklum adanya.”

“Apa kesulitanmu?” ejek Pek Cin Nio. “Engkau mencuri Leng pay untuk meninggalkan markas pusat. Hal ini masih dapat kumaklumi, tapi begitu lama bahkan sampai aku sendiri yang datang kemari engkau belum mau kembali? Inikah kesulitanmu? Bukankah ini terang-terangan membelakangi seorang guru?”

Wan Jie terisak-isak tanpa menjawab.

“Sejak dari gendongan kurawat engkau sampai dewasa, kuurus dan kudidik siang maupun malam. Waktu sakit, siang kudampingi malam kugadangi kucurahkan kasih sayang lebih dari seorang ibu. Setelah dewasa, kujodohkan dengan Kiam Hong, karena kuingat anakku itu dalam hal potongan, kepandaian dan lain-lain cukup sepadan denganmu, tapi kenapa engkau tak mau? Apa alasanmu? Dan kenapa engkau tidak mengatakan keberatanmu bilamana tidak setuju? Kau pikir beginikah caranya engkau membalas budi pada seorang guru? Pikirlah….” Pek Cin Nio semakin berkata suaranya itu semakin parau, dan begitu juga dia akhirnya tak bisa melanjutkan kata-katanya kareana terhalang isak tangis yang ditahan-tahan.

“Suhu….memang aku salah…tapi Pek Suheng pun menentang perjodohan ini…karena inilah kami kabur,” kata Wan Jie sambil menangis.

“Biarpun kalian tidak setuju satu sama lain, tak sepatutnya berlaku demikian,” kata Pek Cin Nio, “Satu adalah muridku, satu adalah anakku, begitu tak mengenal budi dan kasih sayang, pikirlah kalau begini semua, siapa yang mau menjadi orang tua dibumi ini?”

“Segala kasih sayang yang dicurahkan suhu tak bisa kulupakan seujung rambutpun, untuk ini aku bersedia mati menurut kehendak suhu. Tapi kalau dijodohkan dengan orang yang tak kusetujui, berarti menyiksa bahtin dan ragaku seumur hidup bukan? Apakah kasih sayang suhu dan membesarkan diriku untuk itu?”

“Kata-katamu ini berarti ingin mendurhakai seorang guru bukan?”

“Murid tidak berani…”

“Kalau begitu, serahkan dirimu untuk menunggu hukuman…” Kata Pek Cin Nio perlahan. “Lekas! Apakah menunggu aku turun tangan?”

“Suhu……!” Wan Jie melelehkan air mata sambil menangis.

Tiong Giok segera tampil kedepan, sebelum berkata ia memberi hormat lagi. “Pek Paangcu bolehkah aku mengemukakan beberapa kata?”

“In Kongcu engkau seorang terpelajar tinggi yang maha pintar, harus tahu urusanku dengannya adalah soal peribadi dan interen.”

“Karena soal interen inilah, membuatku mau berkata-kata.”

“Engkau mau mengurus soal orang lain?”

“Namanya interen yakni soal kekeluargaan.”

“Engkau sebagai apanya?”

“Sebagai kakaknya!”

“Apa….?” Pek Cin Nio jadi melengak dan memandang tajam kepada Tiong Giok penuh perhatian.

Tiong Giok menegaskannya serius: “Pangcu mungkin tidak tahu bahwa Wan Jie telah dijadikan anak angkat ibuku. Karena inilah aku berhak mengurus soal interen ini.”

“Oh….begitu!” kata Pek Cin Nio setelah melongo sesaat lamanya. “Maafkanlah aku yang kurang pendengaran dan pengetahuan. Sejak kapankah ia menjadi adik angkatmu?”

“Setahun lebih!” jawab Tiong Giok.

“Baik langkah apa yang hendak kau ambil sebagai seorang kakak?”

“Ingin kuberi tahu pada Pangcu, bahwasannya soal pernikahan itu adalah soal seumur hidup. Disamping saling mencintai satu sama lain, juga harus mendapat restu satu sama lain kan? Kini ingin kuketahui, pernikahan Wan Jie ini apa mendapat persetujuan dari orang tuanya?”

“Sejak kecil ia telah yatim piatu, dapat dikatakan aku sebagai ibunya…”

“Itu urusan lama,”potong Tiong Giok. “Pangcu jangan lupa sekarang ini ia mempunyai ibu dan kakak. Pangcu telah menikahkannya dengan anak sendiri, sama dengan menjadi orang tua dari dua rumah, dimana ada peraturan semacam ini?”

“Boleh engkau mengatakan aku tak berwenang mengurus soal pernikahannya, tapi ia sebagai murid yang murtad, tentu berhak untuk mengurusnya bukan?”

“Benar, tapi sampai detik ini Wan Jie tidak mendurhaka oada gurunya maupun berkhianat pada perserikatannya bukan?”

“Hmm, engkau pandai memutar lidah, apa alasannya?”

“Bilamana ia mendurhaka pada guru maupun perserikatannya, tentu telah melakukan perlawanan dengan senjata, dan tak mungkin mau bertekuk lutut semacam ini!”

“Apa yang dilakukannya ini karena sudah putus asa bukan?”

“Hmm, putus asa? Sejujurnya dengan ilmu kepandaian yang kumiliki ditambah dua pedang wasiatku, belum tentu pihakmu yang menang!”

“Ha ha ha, andaikata bnar, bahwa dirinya tidak mendurhakai guru dan perserikatan, kuminta sekarang juga kembali kemarkas pusat!”

“Wan Jie pasti akan pulang, tapi bukan sekarang!”

“Kapan ia mau pulang?”

“Dimana dunia Bulim telah menjadi aman, dan Pok Thian Pang telah menjadi perserikatan baik, Wan Jie pasti kembali kesana untuk berbakti pada gurunya.”

“Hmm, nyatanya engkau bukan saja pandai bahasa Sangsekerta, juga pandai berdebat.”

“Apa yang kukatakan semata-mata membela diri,” kata Tiong Giok, “tak bisa diartikan sebagai tukang debat bukan?”

“Apa urusan ini kau pikir bisa selesai dengan perkataanmu itu? Tidak! Sekali-kali tidak. Pokoknya biarpun ditubuhmu tumbuh sayap, jangan harap bisa meloloskan diri dari kepungan ini, sebaiknya berlaku tahu dirilah dan menyerahlah siang-siang!”

“Kalau kami tidak menyerah?”

“Mudah saja, asal engkau bisa meloloskan diri dari kepungan ini berarti selamat!”

“Kutahu betul Pangcu bukan seorang yang senang membunuh,” kata Tiong Giok, “tapi bila mana terjadi perkelahian pasti banyak yang luka-luka terbunuh, juga yang kalah tentu pihak kami.”

“Hmm, dalam perkelahian sifatnya bunuh membunuh, tapi engkau harus ingat juga dengan keselamatan ibumu!”

Tiong Giok tidak menjawab, ia menoleh pada Wan Jie. “Engkau sudah mendengar semua kecuali menyerah kita harus berkelahi bukan, mari kita kembali!”

“Suhu tidakkah engkau bisa membebaskan kami sekali ini saja?” mohon Wan Jie sambil menangis.

“Engkau seorang murid yang murtad, sejak hari ini hubungan antara guru dan murid sudah putus, siapapun berhak menciduk dirimu!”

Wan Jie tahu tidak ada pengampunan bagi dirinya, ia memberi hormat lagi, dan terus bangun mengikuti In Tiong Giok kembali kedalam tebing.

Dengan air mata berlinang-linang Pek Cin Nio memandang kepergian muridnya dengan hati hancur, ia memaksakan mengeluarkan perintah. “Serang!” Sedang tubuhnya melengos kearah lain, tidak mau menyaksikan anak buahnya yang berduyun-duyun mengerepuk muridnya sendiri.

In Tiong Giok dan Wan Jie baru saja masuk kedalam cela-cela tebing, orang-orang Pok Thian Pang telah sampai. Ciu Ceng Ceng yang menjaga dimulut tebing tidak tinggal diam, diserangnya musuh-musuh itu dengan pedang wasiat, sinar pedang berkeredepan dibawah sinar api, diiringi jeritan-jeritan yang mendirikan bulu roma. Jangan dianggap Ceng Ceng si gadis dusun tak berkepandaian, ilmu Thian liong kiamnya yang lihay ditambah dengan Hwee lie kiam ditangannya, cukup membuat orang-orang Pok Thian Pang kalang kabut, dalam sekejap sua puluh orang kena dilukai dan terbunuh.

Jalanan tebing itu bermulut kecil, membuat orang-orang Pok Thian Pang tak bisa mengurung dari empat penjuru, maka menguntungkan benar pihak Tiong Giok. Biarpun begitu, Ceng Ceng dibuat kewalahan juga, karena yang menyerang itu bergelombang adanya, satu mati datang dua, dua mati datang empat dan seterusnya.

“Ceng Ceng bagaimana?” tegur Tiong Giok.

“Saat ini belum apa-apa, tapi mereka banyak sekali dan tak habis-habisnya, lama-lama bisa mendatangkan kesulitan juga!”

“Kuharap engkau bertahan sekuat-kuatnya, aku mau melihat keadaan dibelakang, kalau-kalau ada musuh yang membokong!” kata Tiong Giok. Ia memesan pula pada Wan Jie. “Jangan kuatir aku pergi hanya sejenak dan jagalah keselamatan dua orang tua ini .”

Wan Jie menganggukkan kepala. “Tapi…lekas kembali…”

Tiong Giok berlari kearah belakang, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara aneh. Ia jadi heran dan maju terus, kini ia baru tahu bahwa jalan keluar dari tebing itu telah disumbat ranting kayu kering. Yang masih terus dilempari dari atas tebing kedalam jalan kecil itu. Jatuhnya kayu-kayu itu menerbitkan suara krak krek krok yang didengar Tiong Giok tadi.

Perbuatan orang-orang Pok Thian Pang benar-benar kejam sekali, pikirlah bilamana kayu-kayu itu dibakar orang yang berada dibawah celah-celah tebing itu bukankah bisa mati tertembus hidup-hidup.

Kayu-kayu masih dilempari terus ke dalam tebing itu, Tiong Giok tahu jalan maju dan mundur sudah dikuasai musuh, ia menjadi cemas sendiri. Tapi sudah menjadi kebiasaan, seseorang bisa menjadi pintar dan cerdas dalam keadaan terjepit. Demikian pula dengannya, tiba-tiba kayu-kayu itu menarik perhatiannya sekali. Alangkah baiknya kalau kayu-kayu itu kujadikan tangga sebelum dibakar. Dengan ini kami bisa meloloskan diri! Tapi kayu-kayu itu pendek, bisa dijadikan anak tangga, tapi tidak ada yang panjang untuk dijadikan ibunya. Tapi hanya sekejap kesulitan itu hilang…cepat-cepat diambilnya beberapa puluh batang kayu itu, ujungnya cepat-cepat diruncingi. Karena ia memakai pedang mustika, maka soal itu dapat dikerjakan cepat dan mudah. Setelah itu dengan kekuatan tenaganya kayu itu ditancapkan di tebing, sebatang menyusul yang kedua dan seterusnya…

Dengan pertolongan patok-patok yang berupa tangga ini, Tiong Giok bisa sampai diatas tebing itu. Disini ia melihat lima puluh orang-orang Pok Thian Pang dibawah pimpinan Kam Kong masih terus menjatuhkan kayu-kayu kedalam tebing. Ia tahu bila mana harus bertindak, mesti menggunakan gerak kilat yang luar biasa sekali, kalau tidak, cukup salah seorang diantara mereka melemparkan obornya kebawah, untuk menjadikan lautan api celah-celah tebing yang sempit itu. Dengan begitu Wan Jie berempat tak bisa meloloskan diri lagi.

Ia merayap mendekati musuh, sepasang matanya memandang tajam, siap-siap mencari kesempatan untuk turun tangan…

Nyatanya bukan In Tiong Giok saja yang sedang mengawasi Kam Hong, masih ada dua orang muda mudi yang mengawasi seperti dia. Dua anak muda ini mengenakan topeng hitam, bersembunyi di dalam pepohonan sudah sekian lamanya.

“Hei, sebenarnya apa yang sedang diperbuat mereka?” bisik yang perempuan pada kawannya.

“Oh, mereka sedang siap-siap menantikan isyarat untuk menyalakan api.”

“Kutahu mereka mau menyalakan api, tapi untuk apa?”

“Tentu membakar musuh mereka.”

“Siapa yang menjadi musuh mereka?”

“Mana kutahu.”

“Oh…yang bermusuhan dengan kaum Pok Thian Pang kebanyakan dari golongan benar!” Mari kita tolong mereka!”

“Engkau jangan sembarangan bergerak, Kam Hong bukan lawan empuk!”

“Kalau kita kalah, buka saja topengmu, pasti ia takut!”

“Ngomong memang enak, kalau mau membuka topeng ini, untuk apa sembunyi-sembunyi sekian lamanya?”

“Lambat laun kau toh harus membuka topeng itu bukan? Jangan kuatir biar dia lihay, akan kulawan terus!” kata sigadis dengan bernafsu dan segera keluar dari persembunyiannya.

Sipemuda berusaha mencegahnya, tapi tak keburu, bukan saja si gadis telah keluar, juga suara mereka telah didengar musuh.

“Hei, kalian siapa?” bentak Kam Kong. Sekalian anak buahnyapun menghunus senjata dengan berbareng, dan memandang sua muda mudi itu dengan bengis.

“Aku!” seru si gadis dengan lantang. Si pemuda dengan terpaksa mengikuti kawannya dari belakang.

Kam Kong merasa tak betah melihat orang bertopeng, dengan didahului tersenyum sinis ia berkata: “Hm, kalian bernyali besar beetul ya, berani datang kemari dengan bertopeng, lekas buka perlihatkan tampang kalian yang tulen!”

Gadis itu berani sekali, perkataan Kam Kong dianggap sepi. Ia bertolak pinggang seenaknya dengan lagak menantang. “Topeng ini mau dipakai atau tidak bergantung pada kami, emangnya kau jadi apa, main perintah saja!”

“Hei budak! Engkau siapa?”

“Aku pengembara yang kebetulan lewat disini,” jawab si gadis. “Kulihat kalian mengangkut kayu-kayu kering dan melemparkan kedalam tebing, apa maksud perbuatan demikian? Mau mencelakakan orang barangkali ya?”

“Ha ha ha, apa urusannya denganmu? Mau membakar gunung kek, orang kek, siapa yang berani larang?”

“Nih aku yang melarang!”

“Engkau bisa apa, berani melarang-larang aku?” kata Kam Kong dengan tergelak-gelak dengan jumawa. “Yang penting sebutkan dulu namamu, jangan sampai aku salah tangan!”

“Apa perlunya nanya-nanya namaku?”

“Ha ha ha, sudah kukatakan takut salah tangan, akibatnya mencelakakan orang sendiri. Nah katakanlah namamu dan nama orang tuamu sekalian…”

“Hm, orang tuaku pasti tak mempunyai hubungan dengan iblis semacam tampangmu!”

“Memang, akulah salah satu iblis yang bergelar Thian lam sam kui, rupanya kau kenal denganku?”

“Kenal tidak kenal memang kenapa?”

“Soalnya engkau telah melakukan suatu kesalahan besar!”

“Kesalahan apa?”

“Yakni datang kemari mencampuri urusan kami! Kalau kau kenal denganku masih bisa kumaafkan, kalau tidak…”

“Kalau tidak, memang kenapa?”

“Akan kubunuh!”

“Hi hi hi, engkau si Kam Kong yang bergelar Kui cie bu siang atau si iblis berjari sembilan, boleh menakut-nakuti orang lain, tapi jangan harap membuatku takut!”

“Engkau terlalu kurang ajar! Bagaimanapun harus diajar adat!”

“Boleh saja, silahkan….silahkan!”

“Tangkap budak ini!” perintah Kam Kong pada anak buahnya. Dua pengawalnya segera menyergap gadis itu dari kiri dan kanan.

“Hm, tak tahu diri!” bentak si gadis sambil menggerakkan pedangnya. Dua pengawal itu dalam waktu hampir bersamaan terjungkal dengan jiwa melayang. Gerakan si gadis begitu cepat dan luar biasa, membuat Kam Kong terkejut juga.

Sedangkan si pemuda hanya menarik napas saja, melihat perbuatan kawannya.

Pengawal-pengawal yang lain menjadi murka melihat kawannya terbunuh mati, mereka berteriak-teriak dan maju berduyun-duyun dengan berbareng.

“Mundur!” teriak Kam Kong, yang terus mendahului sekalian pengawalnya menghampiri si gadis seorang diri. “Ilmu pedang keng thian cit su yang kau lancarkan cukup baik sekali, kini sekali lagi kutanya, sebenarnya engkau siapa?”

“Rupanya engkau ingin tahu benar soal diriku, baiklah!” kata si gadis dengan tersenyum-senyum. “Tapi sebelum itu kau harus menerangkan sulu siapa yang hendak kalian celakakan itu!”

“Oh, kiranya kedatangan kalian kesini untuk orang-orang dibawah itu?”

“Mungkin benar, mungkin salah,” kata si gadis. “Terangkanlah siapa orang itu!”

“Jika ingin tahu juga baiklah, mereka berjumlah lima orang, antaranya terdapat seorang muda bernama In Tiong Giok dan seorang gadis bernama Wan Jie…”

“Benarkah?” potong si gadis.

“Seratus persen benar!”

Sigadis memandang kepada kawannya. “Tidakkah kau mendengar? Tunggu kapan lagi?” katanya sambil membalik tubuh dan menikam kepada Kam Kong secara mendadak.

Kam Kong cukup berpengalaman, ia sudah menduga si gadis bisa menyerang dengan mendadak, maka dengan tenang ia menyampok badan pedang dengan lengan kirinya, sedangkan lengan kanannya menyerang pergelangan tangan si gadis. Berbareng dengan ini iapun berseru keras: “Bocah, lepaskan pedangmu!”

Gerakan kedua belah pihak begitu cepat dan mendadak, sigadis sudah keterlanjuran menikamkan pedangnya dan tak bisa menarik pulang lagi. Dengan begini pergelangan tangannya terancam bahaya, ia menjadi nekad dan menikamkan terus pedangnya kedepan, dengan perhitungan luka bersama.

Kam Kong dibuatnya mendelik dan membentak keras: “Bocah, kau kira gila-gilaan begini bisa berhasil?” Berbareng dengan itu, tubuhnya mengengos kesamping, lengan kanannya menepuk badan pedang, lengan kirinya menyabet kearah kerongkongan, perubahan dari gerak silatnya cepat dan tangkas, dalam beberapa setik saja, jiwa sigadis terancam maut.

Untuk menolong kawannya, sipemuda tidak menghunus senjata, ia hanya berteriak keras: “Kam Futhoat tahan!”

Seruan si pemuda membuat Kam Kong kaget, serangannya ditarik dalam sedetik, tubuhnyapun mencelat kesamping, dalam sekejap ia telah keluar dari gelanggang: “Engkau…engkau….”

“Ya aku!” jawab sipemuda sambil mencopot topengnya, “aku Pek Kiam Hong.”

Kam Kong dan sekalian anak buahnya jadi melengak, cepat mereka memberi hormat: “Kiranya Siau Pangcu, maafkanlah perbuatan kami barusan!”

“Kam Futhoat tak usah melakukan banyak penghormatan,” kata Pek Kiam Hong. “Aku ingin tahu juga, betulkah diantara yang mau dibakar itu terdapat In Tiong Giok dan Wan Jie?”

“Benar!”

“Kenapa mereka? Dan atas perintah siapa, membakar mereka?”

“Pertanyaan Siau Pangcu, sukar kujawabnya!” kata Kam Kong.

“Jangan kuatir, katakanlah apa yang sudah terjadi secara blak-blakan.”

“Soal ini In Tiong Giok melarikan diri dari markas pusat, tentu Siau Pangcu sudah tahu bukan?” kata Kam Kong. “Demikian pula soal Wan Jie berkhianat pada guru dan perserikatan…eh…seharusnya Siau Pangcu mengetahui lebih jelas dariku bukan?”

Wajah Pek Kiam Hong menjadi merah. “Engkau sudah salah mengartikan perkataanku! Maksudku kenapa mereka dikurung didalam tebing ini?”

“Jelasnya akupun tidak tahu,” kata Kam Kong. “Aku hanya mendengar bahwa Lo Cucong mendapat info, bahwa In Tiong Giok pulang ke kampung halamannya. Dan segera memerintahkan kami dan lain-lain untuk menciduk pemuda itu. Sungguh diluar dugaan, kamipun menemukan Wan Jie berada dirumah pemuda itu…waktu ditangkap mereka melarikan diri dan terkurung di sini!”

“Sudah lamakah mereka terkepung di dalam tebing ini?”

“Lebih kurang setengah malam lebih!” jawab Kam Kong.

“Siapa saja dari anggota kita yang melakukan pengepungan atas mereka?”

“Pangcu sendiri, Hu Pangcu dan lain-lainnya.”

Pek Kiam Hong jadi tertegun mendengar ibunya sampai turun tangan sendiri. “Kam Futhoat tentu tahu bahwa Wan Jie meninggalkan rumah bersama-sama denganku, dan berani kujamin ia tidak punya pikiran berkhianat pada guru maupun perserikatan…bisakah Kam Futhoat mempercayai omonganku ini?”

“Kalau Siau Pangcu yang berkata, mau tak mau aku percaya juga!”

“Mengenai In Tiong Giok akupun berani menjamin bahwa ia tidak bermusuhan dengan pihak kita barang sedikitpun!” kata Pek Kiam Hong dengan tegas. “Soal ia meninggalkan markas pusat, bukan atas kehendak sendiri, tapi dilarikan Liok Jie Hui, maka tak boleh menyalahkannya bukan?”

“Apa maksud Siau Pangcu mengemukakan soal ini kepadaku?”

“Oh…” Pek Kiam Hong diam jadi tertegun. “Aku…aku hendak membersihkan nama mereka dari segala tuduhan itu dan memohon pada Kam Futhoat untuk membebaskan mereka dari kesulitan sekarang!”

“Sebelumnya kuminta maaf terlebih dahulu,” kata Kam Kong. “Dalam soal ini aku tak berwenang, tak berani ambil keputusan sendiri, harus kulapor dulu pada Pangcu!”

“Hm, biar bagaimana toh pangkatmu cukup besar dan harus bisa mengambil keputusan sendiri!” kata si gadis.

“Bocah nyalimu sangat besar, sebenarnya engkau siapa?”

“Kalau tidak diterangkan rupanya engkau masih penasaran dan bertanya terus! Baiklah, dengar, aku bernama Tiat Siau Bwee, tempat tinggalku di Tiat Po, jika dikemudian hari merasa tidak senang engkau boleh datang mencarai disana!”

Kam Kong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: “Oh, kukira siapa, tak tahunya ahli waris dari Sin kiam siang eng, pantas ilmu pedangmu begitu lihay!”

“Aku tak membutuhkan umpakan,” kata Siau Bwee ketus, “yang kuinginkan engkau bisa melihat selatan, meluluskan permintaanku agar orang-orang dibawah itu bisa dibebaskan dari bahaya mati! Kalau tidak jangan menyesal dikemudian hari!”

“Tapi…tapi aku tak bisa mengambil keputusan,” kata Kam Kong, “bilamana ibuku marah, engkau boleh melepaskan tanggung jawab dan tublekan semua kesalahan atas diriku!”

“Tapi sekarang ini Siau Pangcu sudah….”

“Maksudmu sudah dipecat? Ha ha ha, siapa yang bilang?” kata Pek Kiam Hong sambil mendelik dengan angker.

“Ini….ini…”Kam Kong tidak bisa menjawab.

“Hm! Pokoknya Kam Futhoat boleh melaporkan kejadian ini dengan sebenar-benarnya pada Pangcu, sedangkan tanggung jawab ada padaku!” Sehabis berkata ia mengeluarkan sebuah lencana emas dan menyerahkan pada Kam Kong. “Jika engkau masih ragu-ragu, bawalah lencana ini dan serahkan pada Pangcu, engkau pasti tidak dipersalahkan lagi!”

Kam Kong menerima lencana itu, sedangkan matanya sebentar-bentar memandang kebawah tebing, akhirnya ia menganggukkan kepala juga. “Baiklah kuterima permintaanmu dan ijinkanlah aku pergi! Ia merangkapkan tangan memberi hormat, lalu mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu.

Siau Bwee segera tergelak-gelak melihat kepergian musuh. “Tak sangka pangkatmu sebagai Siau Pangcu masih ada gunanya juga ya?”

“Ya untuk saat ini masih berguna,” kata Pek Kiam Hong, “tapi sekembalinya aku dirumah entah hukuman aoa yang harus kuterima.”

“Jangan pulang, mereka bisa apa? Tinggal bersama-samaku di Tiat Po tanggung aman!”

“Engkau sendiri berani pulang atau tidak?”

Siau Bwee jadi malu dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Sudahlah jangan ngomong melulu, marilah kita temui In toako.”

Kiam Hong tampaknya ragu-ragu, wajahnyapun begitu muram, “Siau Bwee, aku enggan menemuinya…”

“Bukankah jauh-jauh dari markas Pok Thian Pang datang kesini untuk mencarinya? Kenapa sudah dekat dengannya, pikiranmu berubah?”

“Benar, aku meninggalkan rumah dengan tekad menemuinya…tapi kukuatirkan pertemuan ini akan menghapus persahabatanku dengannya. Untuk inilah timbul keragu-raguan pada diriku.”

“Tadinya mau menemuinya, sekarang ragu-ragu, heran!”

“Soal ini sukar kujelaskan dengan sepatah dua patah, lambat laun engkau akan tahu sendiri. Pokoknya kamu saja yang menemuinya, dan tolong tanyakan….”

“Pokoknya mau menemuiny atau tidak?” gertak Siau Bwee sambil nyelonong kedepan. Ia menoleh lagi sesudah berjalan beberapa langkah, tampak Kiam Hong masih menjublek di tempatnya, sedikitpun tidak bergeser.

Kini ia percaya bahwa temannya itu benar-benar tidak mau menemui In Tiong Giok.

“Siau Bwee bilamana bertemu dengan In Toako, tanyakanlah padanya…”

“Tanya saja sendiri, kenapa harus menyuruhku?” potong Siau Bwee dengan gemas.

“Kalau kumau menemuinya tak perlu minta pertolonganmu….”

“Ya dah! Apa?”

“Tolong tanyakan apakah dibelakang punggungnya In Toako betul-betul terdapat sebuah tanda luka atau tidak?”

“Huh! Kukira nanyakan urusan apa, kiranya soal beginian…lainnya apa lagi?”

“Cukup sebegitu saja!” kata Pek Kiam Hong. “Pergilah kau temui In Toako, aku mau berlalu sekarang juga. Sepuluh hari kemudian aku bisa mencarimu lagi…” Sehabis berkata tubuhnya segera berlalu dan hilang dikegelapan malam.

Siau Bwee tidak mengejar, dia terpukau siam dengan keheranan, “Aneh segala urusan sekecil itu, membuatnya gugup sekali.” Katanya tanpa terasa.

“Urusan itu tidak kecil!” tiba-tiba terdengar suara jawaban dengan mendadak. “Itu urusan besar baginya!”

Siau Bwee memandang kearah suara, samar-samar tampak seorang muda menghampiri dirinya. Begitu dekat ia dapat melihat tegas, dialah In Tiong Giok adanya. “In tayhiap!” serunya sambil menyongsong kedepan.

“Jangan panggil In tayhiap, panggil saja In toako!”

“In Toako! Akhirnya dapat juga kutemuimu! Apakah pembicaraanku barusan sudah kau dengar semua?”

“Ya semuanya sudah kudengar dengan jelas, sayang ia berlalu begitu cepat sehingga tidak ada kesempatan menjelaskan salah paham antara dia denganku.” Kata Tiong Giok dengan kemak kemik, “Eh…hampir kulupa bagaimana engkau bisa meninggalkan Tiat Po dan berada bersama Pek Kiam Hong?”

“Oh itu…jangan tanya-tanya dah, soalnya panjang, nanti saja kututurkan kalau sudah sempat. Yang penting marilah kita bekerja secepatnya menolong orang-orang yang berada dibawah tebing.”

“Benar!” jawab Tiong Giok sambil menganggukkan kepala.

Dengan cepat mereka membuat sebuah tambang dari kulit kayu. Tiong Giok membawa turun kebawah, sedangkan ujungnya dipegangi oleh Siau Bwee. Ibunya dan Tio Ma bergantian dikerek naik, sedangkan Ceng Ceng dan Wan Jie bisa naik melalui patok-patok yang dibuat Tiong Giok tadi.

Setelah semuanya berhasil naik keatas dengan selamat, Siau Bwee segera membakar kayu-kayu kering yang ditimbun Kam Kong. Dengan cepat api menyala terang, menghalang-halangi orang-orang Pok Thian Pang yang mencoba mengejar mereka.

Lima hari telah berlalu sejak In Tiong Giok dan lain-lain berhasil menyelamatkan diri dari kepungan orang-orang Pok Thian Pang. Kini mereka telah tiba dikota Lam Ciong. Selama diperjalanan Tiong Giok dan Wan Jie telah baik kembali, rasa cemburu Wan Jie pada Ceng Ceng telah hilang juga. Sehingga ia agak malu sendiri kalau mengingat kejadian didalam tebing itu. Kini ia bisa mengatakan apa yang dirasakan itu adalah cemburu buta. Karena inilah didalam perjalanan ia jarang membuka mulut, demikian pula dengan Tiong Giok. Mereka berlaku alim-aliman, lain dengan Ceng Ceng dan Siau Bwee, kedua-duanya masih muda, sama-sama senang ngobrol dan bercanda tak heran dalam waktu singkat, hubungan mereka sudah seperti saudara kandung.

Diwaktu senja keadaan kota Lam Ciong masih tetap ramai, penduduknya padat, toko-toko dan perusahaan tumbuh dimana-mana. Waktu rombongan mereka masuk kekota, ribuan mata orang-orang yang berlalu lalang menatap kearah mereka. Lelaki muda maupun tua, yang mata keranjang atau yang tidak memandang dengan mendelong atas kecantikan Wan Jie, Siau Bwee dan Ceng Ceng.

Tiong Giok mengetahui bahwa rombongannya diperhatikan orang. Ia kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka cepat-cepat mengajak rombongannya masuk kesebuah penginapan yang bernama Hoo Peng.

Disewanya empat kamar besar yang terletak diruangan belakang.

Mereka mengatur kamar dan berberes, terus mandi dan makan.

Hari hampir malam, Tiong Giok memanggil ketiga gadis keruang tamu. “Kau jangan kemana-mana, aku mau pergi keluar mencari Yauw Lo Cianpwee dan lain-lain. Barangkali merekapun sudah tiba dikota ini.”

“Diam dihotel saja membosankan aku mau ikut jalan-jalan denganmu,” kata Tiat Siau Bwee.

“Akupun mau ikut,” Ceng Ceng menimbrung.

“Bukan kata aku tak mau mengajak kalian keluar,” kata In Tiong Giok. “Tapi pikirlah baik-baik, disinipun pasti banyak kaki tangan kaum Pok Thian Pang. Tenaga kalian kubutuhkan untuk melindungi dua orang tua itu, tahu?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: