Kumpulan Cerita Silat

19/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:42 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 02: Bandit Penyulam
Bab 01: Sejumlah Perampokan
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Panas yang menyengat. Sinar matahari seperti pisau panas, menusuk tanpa belas kasihan pada jalanan yang kotor dan berdebu. Bahkan bekas luka di wajah Siang Ban-thian pun tampak terpanggang hingga memerah.

Tepatnya ada tiga bekas luka, bekas luka itu dan sekitar 7 atau 8 macam luka dalam telah memberikan dirinya kemasyuran dan posisi yang ia nikmati sekarang ini. Bila cuaca berubah menjadi lembab atau hujan, luka dalamnya akan mulai berdenyut-denyut lagi, menyebabkan ruas-ruas tulangnya terasa sakit, dan ia tentu akan teringat lagi pada pertarungan-pertarungan dahsyat di masa mudanya dan merasa sangat bersyukur.

Bisa bertahan hidup selama ini bukanlah hal yang mudah, bisa menjadi seorang Hu-congpiauthau sebuah piaukiok yang pendapatannya 500 tael perak sebulan malah lebih sulit lagi, karena posisi itu didapatkan dengan darah dan keringat. Akhir-akhir ini ia jarang mengawal sendiri barang-barang antaran piaukioknya. Congpiauthau Tin-wan-piaukiok adalah juga suhengnya (kakak seperguruan). Mereka berdua menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini dalam hidup yang tenteram dan damai, berlatih sedikit kungfu di pagi hari, minum arak di malam hari. Dengan melihat bendera Kim-jio-thi-kiam (Tombak Emas Pedang Besi) sudah cukup membuat orang-orang di wilayah tenggara menjauh dari barang-barang antaran Tin-wan-piaukiok.

Tetapi barang antaran kali ini terlalu penting, pemiliknya meminta kedua saudara seperguruan itu melakukan sendiri seluruh proses antaran. Tapi karena Congpiauthau sedang sakit, Siang Ban-thian terpaksa mengambil kembali sepasang pedang besinya yang masing-masing berbobot lebih dari 27 kati dan memimpin sendiri ekspedisi kali ini.

“Minggir…. Tin-wan… Tolong minggir….” Si tua Tio yang berada di depan berteriak-teriak untuk membuka jalan bagi rombongan piaukiok itu. Ia telah berkecimpung di dunia ekspedisi ini selama 20 tahun. Ia masih memiliki suara yang menggelegar, terutama setelah tadi ia meminum beberapa kendi arak Hwe-to (Golok Api) selama istirahat makan siang yang membuat tenaganya bangkit kembali lebih dari biasanya.

Siang Ban-thian mengeluarkan sehelai saputangan berwarna hijau dan menghapus keringat di keningnya. Waktu tiada memberi ampun, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia telah bertambah tua. Setelah misi kali ini selesai, mungkin sudah tiba waktunya untuk menggantung pedang dan berhenti dari pekerjaannya ini. Saat itu matahari benar-benar terik. Jika ada sebuah tempat untuk berteduh, mungkin tidak ada salahnya untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Siang Ban-thian menyentakkan tali kekang kudanya dan memacunya ke depan. Ia baru saja hendak memberikan instruksi pada si tua Tio ketika tiba-tiba ia melihat seseorang, yang sedang sibuk menjahit, duduk di tengah jalan. Seorang laki-laki bertubuh besar dan berjenggot.

Selama berkelana di dunia persilatan 30 tahun lebih, Siang Ban-thian belum pernah melihat seorang laki-laki menyulam, apalagi orang itu melakukannya di tengah terik matahari sambil duduk di tengah jalan raya.

“Mungkinkah dia sudah gila?” Orang itu benar-benar terlihat seperti orang gila, karena permukaan jalan itu sudah cukup panas untuk menggoreng sebutir telur, dan ia pun masih mengenakan sebuah mantel dari kain katun berwarna ungu kemerah-merahan.

Anehnya, sementara semua orang yang mengenakan selembar baju tipis saja telah dipenuhi oleh keringat, tidak terlihat setetes pun keringat di wajah laki-laki ini.

Siang Ban-thian mengerutkan keningnya, mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada rombongannya agar berhenti, dan melirik ke arah si tua Tio.

Tio tua adalah orang yang telah lama berkecimpung di dunia persilatan, ia telah menjadi anak buah Siang Ban-thian sejak Siang Ban-thian pertama kali melakukan tugas ekspedisi.

Tentu saja ia langsung faham tentang keinginan majikannya. Maka ia pun tertawa kecil untuk membersihkan tenggorokannya dan berjalan menghampiri orang itu.

Laki-laki brewok itu sedang berkonsetrasi menyulam sekuntum bunga, persis seperti seorang gadis yang baru jatuh cinta dan sedang duduk di kamarnya sambil menjahit gaun pengantinnya sendiri, dia seperti tidak sadar bahwa selusin lebih kereta kuda telah berhenti karena dirinya.

Bunga yang dia sulam di atas kain itu adalah bunga peoni, peoni hitam, sulamannya jauh lebih indah daripada yang bisa dibuat oleh gadis mana pun.

“Sobat, keahlian menyulammu itu benar-benar mengagumkan, tapi sayangnya ini bukanlah tempat untuk menjahit.” Si tua Tio tiba-tiba berkata dengan keras. Suaranya memang sudah menggelegar, dan sekarang ia sengaja menakut-nakuti laki-laki itu. Tapi tidak disangka, laki-laki itu bukan hanya tidak mengangkat kepalanya, ia bahkan tidak berkedip sedikit pun.

“Apakah dia bukan hanya gila tapi juga tuli?” Si tua Tio berjalan lebih dekat lagi dan menepuk pundak orang itu.

“Sobat, bisakah kau biarkan kami lewat? Kau lihat….” Tiba-tiba ia berhenti dan ekspresi wajahnya pun berubah. Ketika ia tadi mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak laki-laki itu, jarum di tangan laki-laki brewokan itu kebetulan terangkat sedikit dan menusuk punggung tangannya. Apalah artinya tusukan jarum sekecil itu bagi seorang laki-laki yang tidak bakal mundur oleh goresan golok?

Tio tua semula tidak perduli, tapi saat dia ingin menarik kembali tangannya, ternyata tidak bisa! Separuh tubuhnya telah kaku! Setan apa yang ada di ujung jarum itu?

Tio tua mundur tiga langkah ke belakang dan mengamati tangannya dengan teliti. Tidak ada bengkak sedikit pun, tapi tangan itu tidak mematuhi perintah otaknya lagi. Ia merasa terkejut dan juga marah.

Siang Ban-thian melayang turun dari kudanya dengan gerakan indah dan berjalan dengan cepat ke arah laki-laki brewokan itu.

“Indah sekali bunga peoni yang kau sulam itu, sobat.” Ia berkata, sambil merangkap tangannya. Laki-laki brewokan itu tidak mengangkat kepalanya, tapi tiba-tiba dia tertawa.

“Aku bisa menyulam yang lainnya juga.”

“Benarkah? Apa?”

“Orang buta.”

“Orang buta tidak mudah disulam.” Siang Ban-thian mendengus.

“Sebaliknya, orang buta malah yang paling mudah, dua kali tusuk dan kau dapat satu.”

“Oh, benarkah? Bagaimana caranya?”

“Seperti ini.” Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya dan menusuk ke wajah Tio tua sebanyak dua kali.

Si tua Tio mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati dan jatuh ke tanah. Sambil menutupi wajahnya dengan tangannya, ia meronta-ronta di atas tanah dengan kesakitan, sementara darah menyembur di antara jari-jarinya, darah yang berasal dari matanya! Wajah Siang Ban-thian pun berubah dan ia segera memegang pedangnya.

Tapi si brewok itu masih duduk di sana dengan santai, tampaknya ia hanya memikirkan urusannya sendiri saja.

“Lihat? Dua kali tusuk, satu orang buta.”

“Gerakan yang cepat, sobat.” Siang Ban-thian tertawa kecil dan berkata dengan dingin.

“Menyulam orang buta adalah keahlianku, 72 kali tusuk dan aku bisa memberimu 36 orang buta.” Si brewok menjawab seenaknya.

Untuk misinya kali ini, Siang Ban-thian telah membawa 35 orang anak buah. Bila termasuk dirinya, jumlah mereka adalah 36 orang. Orang-orang yang ia bawa adalah jago-jago kelas satu, mereka semua telah maju dan berada di sampingnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Mau membalas dendam atau merampok barang?” Walaupun ia terkejut, Siang Ban-thian masih berusaha untuk tetap tenang.

“Aku di sini untuk menjahit.”

“Apa yang akan kau jahit?”

“Pertama aku akan menjahit sendiri 36 orang buta, lalu aku akan menjahit kereta kuda senilai 800.000 tael untuk dibawa pulang bersamaku.”

Siang Ban-thian tertawa panjang.

“Lucu, pedangku ini juga bisa menjahit sesuatu.”

“Apa?”

“Orang mati!” Tawanya berhenti, pedangnya pun telah terhunus.

Ki-thi-kiam (pedang besi tua) ini mungkin bukan sebuah senjata yang sangat berat, tapi pedang itu tetaplah pedang yang telah digunakan oleh Thi-kiam-siansing di masa lalu.

Siang Ban-thian telah menyempurnakan pedang ini selama 40 tahun, kalau tidak bagaimana mungkin ia masih bisa hidup sampai sekarang?

Anak buahnya telah menghunus senjata mereka pula, seperti Golok Sayap Rajawali, Tombak Sang Bijaksana, dan Pedang Gerbang Neraka.

Bila bertempur dengan penjahat, orang-orang piaukiok tidak perlu mematuhi aturan-aturan dunia persilatan, dan tidak perlu harus bertarung satu lawan satu.

“Liang Cing-si, ayo! Tusuk matanya!” Siang Ban-thian berteriak.

Jika kau ingin membutakan orang lain, maka orang lain pun tentu ingin membutakanmu! Ini adalah hukum di dunia mereka. “Sebuah gigi untuk sebuah gigi, sebuah mata untuk sebuah mata!” Tapi si brewok tetap asyik menyulam ketika sebatang pedang seberat lebih dari 13 kg berdesing ke arahnya.

Tombak Sang Bijaksana melakukan gerakan Tok-liong-cui dan menyerang pinggang orang itu, semua pegawai Tin-wan-piaukiok telah diberikan latihan satu atau dua macam ilmu kungfu oleh kedua saudara seperguruan itu. Karena itu, bila bertarung, mereka bisa saling melengkapi satu sama lain dengan sempurna.

“Selesai!” Si brewok besar itu tiba-tiba tertawa.

Ia telah menyelesaikan sulaman bunga peoninya dan jarum itu pun tiba-tiba melesat dari arah samping. Dalam sebuah kilatan sinar dingin di sekelilingnya, Siang Ban-thian tiba-tiba menyadari bahwa sinar itu telah berada di depan matanya.

Tidak seorang pun bisa menguraikan kecepatan ini, dan hampir tidak ada orang yang mampu menghindarinya. Siang Ban-thian meraung, pedang tiba-tiba terbang dari tangannya, tapi tubuhnya telah roboh ke atas tanah.

“Buk!” Pedang besi itu menancap sedalam hampir setengah meter pada sebatang pohon di pinggir jalan. Saat itu si brewok besar telah selesai menyulam orang buta keempat.

Tujuh puluh dua kali tusuk, tiga puluh enam orang buta. Kecepatan yang mengerikan, kekejaman yang luar biasa! Sehelai kain jatuh ke atas wajah Siang Ban-thian. Di atasnya tersulam sekuntum bunga peoni merah yang besar.
______________________________

Bila Kang Tiong-wi berjalan, selalu terdengar suara gemerincing, seolah-olah ia adalah sebuah lonceng. Tentu saja ia bukan lonceng. Kang Tiong-wi adalah Congkoan (pengurus umum) Lam-ong-hu, orang yang sangat agung dan berkuasa.

Di dalam istana raja muda itu ada sejumlah tempat yang sangat rahasia. Dan di pintu-pintu yang menuju ke tempat-tempat tersebut selalu terpasang gembok. Dan semuanya ada di bawah pengawasannya. Siapa pun orang yang membawa 30 renteng kunci atau lebih tentu akan bergemerincing bila mereka berjalan.

Ia benar-benar orang yang dapat diandalkan. Ia bukan hanya tenang dan kalem, dan setia hingga ke tulang sumsumnya, ia juga telah melatih tubuhnya dalam “Ilmu Keji Tigabelas Pengawal”, maka biarpun ilmunya itu belum mencapai taraf tak bisa ditembus oleh golok atau tombak, tetap saja sangat sukar untuk melukainya. Tapi tidak sukar baginya untuk melukai orang lain.

Thi-soa-cio (Telapak Pasir Besi)-nya telah mencapai 9 bagian kesempurnaan dan mampu membelah balok kayu atau menghancurkan batu karang menjadi pasir. Bila Ongya (raja muda) mempercayakan sebuah kunci lagi padanya, tentu ada perasaan lega di dadanya, tahu bahwa kunci itu akan tersimpan aman. Saat ini ia hendak mengambil kembali sebuah biji mutiara dan beberapa potong batu kemala, yang biasanya digunakan pada upacara-upacara resmi di Cina, dari Ruang Harta Istana.

Hari ini adalah hari ulang tahun selir kesayangan Ongya dan Ongya telah menjanjikan perhiasan itu sebagai hadiah ulang tahunnya.

Seperti kebanyakan orang di dunia, Ongya selalu bermurah hati pada wanita yang dia cintai.

Lorong yang panjang itu menyembunyikan ketenangan yang mencekam, karena tempat itu sangat dekat dengan Ruang Harta Istana, siapa pun yang melewatinya akan mendapat hukuman mati!

Setelah memasuki daerah terlarang itu, setiap 7 atau 8 langkah tentu ada seorang pengawal yang dipilih sendiri oleh Kang Tiong-wi, berdiri dalam keadaan siaga seperti patung batu.

Orang-orang ini telah melalui prosedur latihan yang keras dan ketat, seekor lalat yang terbang dan mendarat di wajah mereka atau seseorang yang menginjak kaki mereka pun tak akan sanggup menggerakkan mereka sedikit pun. Kang Tiong-wi bukan hanya memiliki pengaruh yang sangat besar dan populer di antara mereka, perintah-perintah yang ia berikan juga jelas dan mutlak. Jika ada yang lalai dalam tugasnya dan membiarkan seekor anjing saja masuk ke daerah terlarang itu, maka hukuman mati akan menunggu mereka! Bahkan ia sendiri pun harus mengucapkan kata sandi untuk hari itu sebelum memasuki daerah tersebut.

Kata sandi untuk hari ini adalah: “Matahari dan Bulan bersinar terang”. Karena hari ini adalah hari yang sangat cerah menurut penanggalan.

Bahkan pada wajah Kang Tiong-wi yang kaku dan serius itu terlihat sedikit perasaan bahagia. Karena ia juga diundang ke pesta ulang tahun selir Ongya itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia akan segera berganti pakaian dan bergabung dalam pesta itu. Karena itu langkah kakinya pun sedikit lebih cepat daripada biasanya.

Delapan orang pengawal berpakaian sutera dan bersenjatakan golok berjalan mengikutinya. Pengawal-pengawal berpakaian sutera itu adalah orang-orang yang berasal dari satuan pengawal terbaik, apalagi delapan orang ini adalah orang-orang pilihan di antara 100 orang pengawal berpakaian sutera. Kang Tiong-wi adalah orang yang sangat berhati-hati.

Pintu-pintu besar yang menuju ke Ruang Harta Istana dipasangi gembok yang amat kuat. Ada 3 lapis pintu, masing-masing tebalnya lebih dari setengah meter, dan gembok di pintu-pintu itu semuanya dibuat oleh pandai besi terbaik.

Kang Tiong-wi akhirnya membuka pintu terakhir dan hembusan udara yang dingin dan lembab pun menerpa wajahnya.

Tempat ini seperti kebanyakan ruang harta di seluruh dunia, dingin, lembab, gelap dan suram. Persis seperti kuburan.

Satu-satunya perbedaan adalah kuburan menyimpan orang-orang mati, di tempat ini seekor semut mati pun tidak ada.

Setiap kali Kang Tiong-wi masuk ke sini, ia selalu mendapat sebuah fikiran yang aneh: jika seseorang berhasil memiliki seluruh harta yang ada di ruangan ini, tapi ia harus tinggal di dalamnya, apa enaknya hal itu? Bahkan jika kau memberikan seluruh harta di dunia ini padanya, ia tidak akan mau tinggal di tempat ini barang satu hari pun.

Fikiran itu pun kembali muncul di benaknya kali ini. Ketika ia mendorong pintu itu hingga terbuka dan berjalan masuk, satu-satunya keinginannya adalah keluar secepat mungkin. Ia tidak menyangka kalau sekali ini ia masuk maka ia tak akan pernah keluar lagi!

Tak dapat dipercaya, di dalam ruangan yang dingin, lembab dan suram itu ada seseorang. Orang hidup.

Wajah orang ini tertutup oleh brewoknya, ia mengenakan sehelai mantel katun berwarna ungu kemerah-merahan, dan anehnya, sedang duduk di atas sebuah peti harta sambil menjahit.

Kang Tiong-wi bahkan tidak bisa membayangkan sesuatu seperti ini di dalam mimpinya, ia hampir tidak mempercayai matanya sendiri.

Tapi di depannya memang ada seseorang, sedang duduk di sana sambil menjahit, seorang laki-laki hidup.

“Apakah dia hantu?” Selain hantu, siapa lagi yang bisa masuk ke sini?

Kang Tiong-wi tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri dan ia bergidik sendiri. Laki-laki brewok itu sedang berkonsentrasi menyulam, persis seperti sikap seorang gadis yang sedang duduk di kamarnya sambil melamun tentang kekasihnya. Ia sedang menyulam bunga peoni, peoni hitam di atas sehelai kain satin merah.

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Kang Tiong-wi memberanikan diri dan bertanya.

“Aku berjalan masuk ke sini.” Si brewok besar bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika ia menjawab dengan cara seenaknya.

“Kau tahu tempat apa ini?”

“Tempat untuk menjahit!”

“Jadi kau datang ke sini untuk menyulam?” Kang Tiong-wi tertawa dingin.

“Karena hanya di sini aku bisa menyulam apa yang ingin kusulam!” Si brewok besar mengangguk.

“Dan apakah itu?”

“Seorang Kang Tiong-wi yang buta!”

Kang Tiong-wi mundur ke belakang dan tertawa seperti orang gila. Hanya bila ia sedang marah dan bersiap untuk membunuh, maka ia tertawa gila seperti ini. Dengan suara tawa yang masih bergema, tubuhnya pun melesat maju. Telapak tangannya mengaung di udara seperti harimau ketika ia mengeluarkan ilmu Thi-soa-cio yang mampu menghancurkan balok kayu. Tiba-tiba ia merasa bagian tengah telapak tangannya kaku untuk sesaat, seolah-olah ia baru disengat oleh seekor lebah, tapi seluruh kekuatan di telapak-tangannya tiba-tiba dan secara misterius telah menghilang. Saat itulah sekilas sinar dingin tiba di depan matanya.

“Ilmu Keji Tigabelas Pengawal” mungkin merupakan ilmu terkuat di dunia dalam hal membuat kebal tubuh seseorang, tapi ilmu itu tetap tidak mampu melindungi mata pemiliknya.

Para pengawal yang berada di luar tiba-tiba mendengar suara jeritan yang menyayat hati dan berusaha menerobos masuk, tapi pintu besi itu telah ditutup dari dalam. Saat mereka akhirnya berhasil membuka paksa pintu itu, Kang Tiong-wi yang tak sadarkan diri terlihat tergeletak di lantai, sehelai kain satin berwarna merah darah tampak menutupi wajahnya. Di atas kain satin itu tersulam sekuntum peoni hitam!

______________________________

Dupa telah dinyalakan di ruang meditasi itu. Hoa Ban-lau telah selesai mandi dan duduk dalam diam di sana, menunggu.

Jika kau ingin merasakan masakan Koh-kua Taysu, kau bukan hanya harus membersihkan diri dulu, tapi kau juga harus sabar. Koh-kua Taysu bukanlah orang yang sering memasak, tamunya bukan hanya harus orang-orang tertentu, tapi suasana hatinya juga harus dalam keadaan baik. Tamu-tamu hari ini adalah orang-orang yang istimewa, selain dari Hoa Ban-lau, juga ada Ko-siong Kisu dari Wi-san dan orang yang mengaku sebagai jago catur nomor 1, jago puisi dan arak nomor 2, dan jagoan nomor 3 dalam hal ilmu pedang: Bok-tojin.

Jelas orang-orang ini bukanlah tamu-tamu biasa, karena itu Koh-kua Taysu merasa sangat gembira hari ini. Pada saat matahari terbenam, suara lonceng yang nyaring dan jernih pun terdengar, menandai datangnya malam. Saat itu Hoa Ban-lau berjalan keluar. Ko-siong Kisu dan Bok-tojin telah menunggunya di halaman. Angin malam bertiup di hutan bambu, hari yang panas menyengat telah berada di sisi lain matahari terbenam.

“Kedua tetua telah menungguku, aku tak tahu bagaimana caranya memaafkan diriku sendiri.” Hoa Ban-lau tersenyum dan menyapa mereka.

Bok-tojin tertawa. Tianglo Bu-tong-pai yang tidak pernah menurut dan selalu berbeda ini ternyata juga telah mengganti jubah tosu-nya yang ditambal lebih dari seribu kali itu dengan sehelai pakaian biru yang bersih dan berkilauan.

Karena ia tidak ingin terikat pada aturan-aturan dan harapan orang lain, ia bersedia melepaskan posisi Ciangbunjin Bu-tong-pai. Tapi agar dapat merasakan masakan Koh-kua Taysu, ia mau menderita sedikit.

Setiap orang tahu tentang sifat Koh-kua Taysu yang aneh.

“Tampaknya si tosu tua ini memang benar.” Ko-siong Kisu menarik nafas.

“Apa yang dikatakan bapak pendeta?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Aku mengatakan bahwa kau tentu tahu bahwa kita berada di sini. Bahkan jika kami berdiri tak bergerak, kau akan tetap tahu!” Bok-tojin tertawa.

“Tapi aku tak bisa membayangkan bagaimana kau tahu kalau kami ada di sini.” Ko-siong Kisu menarik nafas lagi.

“Aku juga tidak.” Bok-tojin membenarkan. “Tapi aku punya sesuatu yang tak bisa kau tandingi.”

“Dan apakah itu?”

“Bila aku menemui sesuatu yang tak bisa kubayangkan, aku akan berhenti memikirkannya!” Bok-tojin bergurau.

“Itulah sebabnya aku selalu berpendapat bahwa jika kau berhenti minum, kau tentu akan hidup sampai umur 300 tahun!” Ko-siong Kisu balas bercanda.

“Untuk apa aku hidup selama 300 tahun jika aku tak boleh minum?”

Tirai bambu di ruang meditasi itu telah diangkat. Tapi dari arah sana tercium aroma makanan yang sangat enak, cukup enak untuk menggiring siapa pun ke meja dan mengharapkan makanan itu.

“Masakan sayur Koh-kua Taysu benar-benar tak ada tandingannya di dunia ini.” Ko-siong Kisu menarik nafas.

“Ia selalu mengatakan bahwa masakannya bahkan cukup untuk menggoda sang Budha!” Bok-tojin berkata sambil tertawa.

“Makanan telah diletakkan di atas meja, apa lagi yang kita tunggu?” Ko-siong Kisu memberi komentar.

Sambil menyingkap tirai bambu itu, mereka berjalan masuk, dan semuanya terkejut. Makanan bukan hanya telah disiapkan di atas meja, di situ pun telah ada seseorang, yang sedang makan sepuas-puasnya.

Tamu tak diundang ini tidak menunggu mereka, ia pun tidak mandi. Kenyataannya, tubuhnya bukan hanya penuh dengan lumpur dan debu, bahkan menyiarkan bau keringat yang menyengat. Tapi Koh-kua Taysu bukan saja tidak mengusirnya pergi, dia malah duduk di sampingnya, terus-menerus memasukkan makanan ke dalam mangkuknya, seolah-olah dia khawatir kalau tamu ini tidak cukup makannya.

“Hwesio ini pilih kasih.” Bok-tojin menarik nafas.

“Kita adalah orang yang dia undang, tapi dia membiarkan orang lain makan lebih dulu.” Ko-siong Kisu setuju.

“Dan dia menyuruh kita mandi, tapi orang ini kelihatannya baru saja bergulingan di sebuah kubangan lumpur.” Bok-tojin meneruskan.

Koh-kua Taysu tertawa mendengar ucapan mereka. “Benar, hwesio ini memang pilih kasih, tapi hanya untuk satu orang ini, jadi kalian tidak usah marah.”

“Kenapa kau begitu memperhatikannya?” Bok-tojin bertanya.

“Karena aku tak tahu apa yang harus dilakukan bila aku bertemu dengannya.”

“Aku tidak menyalahkanmu,” Bok-tojin pun tertawa. “Terakhir kali kami bertemu, orang ini mencuri dua kendi arak Li-ji-hong yang telah kusimpan selama lebih dari 50 tahun. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya dengan marah!”

“Bahkan sang Budha pun kehabisan akal bila orang ini muncul.” Hoa Ban-lau tersenyum masam.

Siapa lagi orang ini kalau bukan Liok Siau-hong.

Sepiring daging babi dan sepiring tahu telah habis waktu Liok Siau-hong akhirnya berhenti dan melemparkan sebuah senyuman ke arah 3 orang tamu itu.

“Silakan caci maki diriku jika kalian mau, aku akan terus makan. Kalian suka mencaci-maki, aku kebetulan suka makan.”

“Orang lain mungkin akan terperdaya oleh tipuanmu, tapi aku tidak.” Bok-tojin tertawa terbahak-bahak dan segera duduk. Dalam sekejap tiga potong daging bebek juga menghilang ke dalam perutnya.

Hoa Ban-lau duduk di samping Liok Siau-hong, dan segera mengerutkan keningnya.

“Kau biasanya tidak bau sama sekali, kenapa hari ini baumu seperti seekor anjing yang baru merangkak keluar dari kubangan?”

“Karena aku belum mandi selama 10 hari.”

“Berapa hari?” Hoa Ban-lau terkejut mendengar jawaban itu.

“Sepuluh hari.”

“Kenapa kau tidak mandi selama 10 hari ini?” Hoa Ban-lau mengerutkan keningnya tanda tidak setuju.

“Aku sibuk.”

“Sibuk melakukan apa?”

“Sibuk melakukan sesuatu karena kalah taruhan.”

“Dengan siapa kau kalah bertaruh?”

“Selain Sukong Ti-sing, siapa lagi?” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Bagaimana kau kalah darinya?”

“Ingat saat aku mempermalukan dirinya waktu kami bertanding salto?” Liok Siau-hong tertawa. “Kali ini ia datang padaku dan ingin bertanding ulang. Bagaimana aku bisa menolak?”

“Tentu saja kau menerima!”

“Tapi ternyata bajingan kecil itu tidak berbuat apa-apa selain berlatih salto terus-menerus pada akhir-akhir ini. Dalam dua jam ia bisa bersalto 680 kali! Apa lagi yang bisa kulakukan setelah itu?”

“Jadi kau kalah darinya?”

“Kami sepakat bahwa jika aku menang, dia harus, mulai saat itu, berlutut dan memberi hormat padaku, dan berteriak sekuat-kuatnya: ‘Toasiok!’ jika ia melihatku lagi. Dan jika aku kalah, maka dalam 10 hari berikutnya aku akan menggali dan mencarikan seekor cacing untuk setiap salto yang dia lakukan.”

Hoa Ban-lau tertawa.

“Tak heran kau sendiri mirip seekor cacing sekarang.”

“Apakah kau benar-benar menggali dan mencarikan 680 ekor cacing untuknya?” Bok-tojin tidak bisa mengendalikan dirinya lagi dan bertanya di antara deraian tawanya.

“Beberapa hari pertama tidak seburuk itu, aku berhasil menemukan banyak cacing.” Liok Siau-hong menarik nafas dan memasang senyuman angkuh. “Tapi kemudian, mencari seekor cacing pun jadi lebih sukar daripada seorang pemalas yang mencari isterinya.”

“Untuk apa si Raja Maling membutuhkan semua cacing itu?” Ko-siong Kisu bertanya.

“Ia tidak butuh!” Liok Siau-hong menjawab dengan nada pahit. “Ia hanya ingin melihatku menggali cacing.”

“Siapa yang menyangka Liok Siau-hong akan mengalami nasib seperti hari ini!” Bok-tojin tertawa terbahak-bahak. “Membuatmu merasa senang sekali!”

“Kau juga ingin bertaruh denganku?” Liok Siau-hong mengusulkan, matanya sedikit berputar-putar di kelopak matanya.

“Taruhan apa?”

“Minum.”

“Aku tak akan terperdaya.” Bok-tojin berkata sambil tersenyum.

“Jadi kau mengakui kekalahanmu?” Liok Siau-hong meliriknya dari samping.

“Dari dulu aku telah mengakuinya. Dalam hal minum aku bukan tandinganmu, dalam hal ilmu pedang aku bukan tandingan Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng. Jika kau benar-benar ingin bertaruh denganku, mari kita bertanding catur!”

“Kau kira aku akan terperdaya?” Liok Siau-hong tertawa.

“Orang lain tahu bahwa aku adalah jago nomor 1 di dunia dalam hal catur, tapi mereka tidak tahu bahwa ada satu lagi kemampuanku yang tak bisa ditandingi orang lain!” Bok-tojin berkata dengan bangga.

“Apa itu?”

“Makan, kau mau bertanding makan denganku?”

“Aku ingin, tapi aku bukan gentong nasi!” Liok Siau-hong menarik nafas.

{Catatan: istilah “gentong nasi” adalah ejekan dalam bahasa Cina.}

“Siapa yang mengira kalau Liok Siau-hong yang terkenal di seluruh dunia mau mengaku kalah. Ini benar-benar peristiwa langka.” Bok-tojin pun menarik nafas.

“Kenyataannya, akhir-akhir ini dia bukan lagi orang yang paling terkenal di dunia persilatan!” Koh-kua Taysu tiba-tiba membuat pernyataan.

“Memangnya ada orang lain lagi?” Liok Siau-hong bertanya.

“Siapa menurutmu?”

“Sebun Jui-soat?”

“Kabar burung mengatakan bahwa ia sedang merawat Sun-siocia dari Go-bi-su-siu akhir-akhir ini dan tak pernah menunjukkan mukanya lagi di dunia persilatan sekarang!” Hoa Ban-lau menjawab untuk Koh-kua Taysu. Liok Siau-hong tersenyum mendengarnya.

“Siapa yang mengira ia akan mengalami hal seperti ini sekarang? Dulu kukira ia akhirnya akan menjadi seorang hwesio.”

“Kami tidak menginginkan hwesio seperti itu di kalangan Budha!” Koh-kua Taysu menjawab.

“Yah, kalau bukan Sebun Jui-soat, mungkinkah itu Yap Koh-seng?” Liok Siau-hong mengalihkan pembicaraan.

“Juga bukan dia!”

“Akhir-akhir ini Yap Koh-seng jatuh sakit!” Bok-tojin memberitahu.

“Ia bisa sakit juga?” Liok Siau-hong tercengang mendengar berita itu. “Sakit apa?”

“Penyakit yang sama denganku. Penyakit malas.” Bok-tojin tersenyum. “Bila kau terkena penyakit ini, tak perduli siapa pun dirimu, kau tak akan pernah melakukan hal yang menggemparkan lagi!”

“Mungkinkah itu Cu-lopan dan Lopannio?” Liok Siau-hong bertanya setelah berfikir sebentar.

“Cu-lopan malah lebih pemalas!” Hoa Ban-lau tertawa dan menghilangkan pilihan itu.

“Lau-sit Hwesio tidak mungkin melakukan hal yang menggemparkan, … tidak, tidak mungkin dia….” Liok Siau-hong berfikir keras.

“Mungkinkah itu harimau betina dari Ki-sia-san?” Ia bertanya, setelah berfikir dalam-dalam.

“Tidak, sama sekali tidak. Kau bukan saja tidak kenal orang ini, kujamin kau pun belum pernah mendengar tentang dirinya!” Koh-kua Taysu menjawab.

“Orang macam apakah dia?”

“Seorang laki-laki yang bisa menyulam!” Koh-kua Taysu menjawab.

Liok Siau-hong tercengang sebentar sebelum ia tertawa.

“Memang ada beberapa orang laki-laki yang bisa menyulam. Dari beberapa orang penjahit yang kukenal, beberapa dari mereka bisa menyulam!”

“Tapi ia bukan hanya bisa menyulam bunga, ia pun bisa menyulam orang buta!” Koh-kua Taysu menjawab. Liok Siau-hong kembali tercengang.

“Menyulam orang buta?”

“Tampaknya ia telah menyulam paling sedikit 70 atau 80 orang buta dalam beberapa hari terakhir ini!”

“Bagaimana caranya ia menyulam orang buta?”

“Dengan sebatang jarum jahit, dua kali tusuk dan kau dapatkan satu!”

Liok Siau-hong akhirnya memahami apa yang ia katakan.

“Orang-orang macam apakah orang buta yang ia sulam itu?”

“Paling sedikit ada 4 atau 5 orang yang kau kenal!”

“Siapa saja?”

“Siang Ban-thian, Hoa It-ban, Kang Tiong-wi….”

“Kang Tiong-wi dari Lam-ong-hu di selatan?” Ucapannya belum selesai ketika ekspresi wajah Liok Siau-hong berubah secara dramatis.

“Apakah ada Kang Tiong-wi yang lain?”

“Tapi sejak ia memasuki Lam-ong-hu, ia tidak ikut campur lagi dalam urusan dunia persilatan, kenapa ada orang yang memburunya?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Tidak ada yang memburunya, tapi seseorang memburu 18 butir mutiara di Lam-ong-hu !” Koh-kua Taysu menjawab.

“Orang ini bukan hanya membutakan Kang Tiong-wi, tapi juga kabur bersama 18 butir mutiara dari Lam-ong-hu?”

“Bukan hanya itu, dia juga mengambil 70 atau lebih karya seni dan kaligrafi yang tak ternilai harganya yang telah dikumpulkan oleh Hoa Giok-han, 800 ribu tael perak uang yang dipercayakan pada Tin-wan-piaukiok, dan kira-kira 90.000 tael daun emas dari kelompok Kim-soa-ho!” Koh-kua Taysu menghirup nafas dan meneruskan. “Dalam waktu sebulan, orang ini telah melakukan 60 kali perampokan yang sangat besar, dan semuanya dilakukan seorang diri. Benar-benar menggemparkan, bukan?”

“Kenapa aku tidak mendengar apa-apa sedikit pun?” Liok Siau-hong bertanya, masih agak terkejut mendengar berita itu.

“Akhir-akhir ini kau sibuk di wilayah Barat Laut, kejahatan-kejahatan ini terjadi di wilayah Tenggara. Beritanya pun baru tiba di sini beberapa hari terakhir ini, hanya saja kau sedang sibuk menggali cacing!” Koh-kua Taysu menjawab.

“Berita ini baru tiba di sini, dan kau telah tahu tentang semuanya!” Liok Siau-hong berkata.

“Mmm!”

“Sejak kapan kau jadi tertarik pada semua kejadian di dunia?” Liok Siau-hong ingin tahu.

“Jangan lupa, aku punya seorang sute yang terkenal.” Koh-kua Taysu menarik nafas.

“Kim Kiu-leng?”

“Untunglah aku hanya punya seorang sute seperti dia!” Koh-kua Taysu tersenyum jengkel.

“Sekarang aku faham.” Liok Siau-hong menarik nafas panjang.

“Apa yang kau fahami?”

“Kim Kiu-leng berteman baik dengan Kang Tiong-wi, dan ia dulunya merupakan Polisi Nomor Satu di dunia. Walaupun ia telah mencuci tangan dari pekerjaannya itu, tapi ia tentu akan ikut campur dalam masalah ini.”

Koh-kua Taysu setuju dengan ucapan Liok Siau-hong. Sekali seseorang telah bekerja satu hari saja untuk pemerintah, sukar baginya untuk melepaskan diri begitu saja.

“Hingga hari ini, aku masih tidak mengerti kenapa ia memutuskan untuk melakukan pekerjaan seperti itu!” Koh-kua Taysu menarik nafas.

“Apa? Kau malah menginginkan dia jadi hwesio?” Bok-tojin memotong.

“Seorang hwesio paling tidak tak akan memiliki banyak masalah dan tak perlu merasa cemas!” Koh-kua Taysu menjawab.

“Tapi hwesio juga tidak punya isteri!” Bok-tojin menusuk dengan cepat. Koh-kua Taysu tidak menjawab lagi. Setiap orang di dunia persilatan pun tahu bahwa kelemahan terbesar Kim Kiu-leng adalah ia menganggap dirinya sendiri lemah lembut dan memikat. Menurut kabar angin, ia dulu mau bekerja untuk pemerintah juga karena seorang wanita.

“Kim Kiu-leng diakui oleh masyarakat umum sebagai orang terbaik dalam 300 tahun sejarah Enam Pintu. Semua perkara, besar atau kecil, tentu akan terpecahkan bila ia turun tangan.” Liok Siau-hong berkata.

“Itulah sebabnya aku selalu berpendapat bahwa masalah terbesarnya adalah dia terlalu hebat, terlalu cerdas.” Koh-kua Taysu kembali menarik nafas.

“Tapi orang yang paling cerdas pun tentu akan menemui sesuatu yang tak mampu ia pecahkan.” Liok Siau-hong berkata, dan Koh-kua Taysu setuju.

“Mungkin kasus ini adalah kasus yang tak bisa ia pecahkan, maka ia pun menginginkan bantuan.” Koh-kua Taysu kembali menyetujui pendapat itu.

“Dan karena kau hanya punya seorang sute seperti dia, kau tentu mau menolongnya mencarikan bantuan!” Liok Siau-hong menarik nafas dan tertawa masam. “Sayangnya, kebetulan aku adalah seorang pembantu yang sempurna. Bila seseorang menemui sesuatu yang tak bisa mereka selesaikan, mereka selalu datang padaku, karena itu….”

“Karena itu….?” Koh-kua Taysu bertanya.

“Karena itu waktu kau tadi mengundangku ke sini untuk makan, kau mungkin tidak melakukannya dengan hati yang tulus.”

“Jangan lupa kalau kamu-lah yang masuk ke sini, aku tidak pernah mengundangmu.”

“Mungkin aku memang tidak beruntung.” Liok Siau-hong menertawakan nasibnya sendiri. “Kenapa aku masuk begitu saja ke sini?”

“Kelihatannya akhir-akhir ini kau memang kurang beruntung!” Bok-tojin tertawa.

“Tapi kali ini aku tak mau, aku tak perduli apakah ia menyulam bunga atau menambal celana, bukan urusanku. Aku tak perduli betapa besarnya peristiwa ini, aku tidak ingin ambil bagian!”

“Ia tidak ingin melibatkanmu kok, kenapa kau rewel?” Koh-kua Taysu berkata padanya.

“Tidak?” Liok Siau-hong terkejut.

“Memang tidak!” Seorang laki-laki menjawab, sambil tersenyum.

Tentu saja dia tak lain tak bukan adalah Kim Kiu-leng.

Seperti yang diketahui oleh orang-orang di dunia persilatan, ada dua hal pada diri Kim Kiu-leng yang sangat sedikit orang yang mampu menandinginya. Pakaiannya, dan matanya. Mata Kim Kiu-leng tidak terlalu besar, juga tidak terlalu bersinar-sinar, tapi asal ia memasang matanya pada sesuatu, maka ia tak akan pernah melupakannya.

Pakaian yang dikenakan oleh Kim Kiu-leng selalu terbuat dari bahan kain terbaik, dengan model terbaru, dan dibuat dengan sangat teliti. Bahkan kipas lipat yang digenggam di tangannya itu adalah benda yang tak ternilai harganya. Bila keadaan mendesak, kipas itu bahkan bisa digunakan sebagai senjata. Keahlian Kim Kiu-leng dalam hal membidik dan menotok urat syaraf termasuk jajaran kelas satu. Kenyataannya, segala hal pada dirinya adalah kelas satu.

Jika araknya bukan arak kelas satu, ia tak pernah mau meminumnya. Jika wanitanya bukan kelas satu, ia bahkan tak mau meliriknya. Jika kereta-kudanya bukan kelas satu, ia tak akan pernah mau menaikinya. Tapi ia bukanlah orang kaya kelas satu. Untunglah baginya, ia memiliki banyak kemampuan untuk mendapatkan uang. Ia adalah seorang ahli dalam menilai lukisan dan kaligrafi antik serta memiliki kemampuan yang ajaib dalam menilai keaslian sebuah benda. Dengan dua macam kemampuan itu saja telah cukup menjamin dirinya untuk menikmati kehidupan kelas satu selama sisa hidupnya.

Di samping itu, ia masih seorang laki-laki yang sangat tampan dan menarik, dan tidak terlihat begitu tua. Ini membuat dirinya bisa mengeluarkan uang yang sangat sedikit untuk sesuatu yang seharusnya bisa membuatnya bangkrut. Senyuman si cantik yang bagi orang lain mungkin harus menghabiskan seribu tael emas untuk mendapatkannya, biasanya bisa ia dapatkan hanya dengan uang sepeser saja.

Itulah sebabnya ia selalu hidup nyaman, dan juga sangat merawat dirinya sendiri, sedikit pun tidak kelihatan seperti jago kungfu yang namanya saja mampu membuat gemetar para penjahat, tapi malah lebih mirip seperti seorang petualang cinta yang suka menulis puisi dan naik kuda.

“Apakah kau mendapatkan sesuatu yang berharga?” Ko-siong Kisu segera bertanya ketika melihatnya masuk.

Hobi utama Ko-siong Kisu adalah mengumpulkan karya seni dan kaligrafi klasik. Koleksinya sedikit pun tidak lebih buruk daripada koleksi Hoa It-ban.

“Semua barang bagus telah dibawa ke Gunung Huang oleh pertapaku yang baik, apa lagi yang tersisa untuk kutemukan?” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Bahkan tidak satu lukisan pun?”

Kim Kiu-leng berhenti sebentar sebelum kembali tersenyum.

“Aku punya sekuntum bunga yang baru diciptakan!”

“Oh, ya? Ayo, perlihatkan pada kami!” Ko-siong Kisu meminta. Tapi Kim Kiu-leng memang sedang mengeluarkannya. Itu adalah sehelai kain satin berwarna merah darah, di atasnya tersulam sekuntum peoni hitam.

“Apa ini?” Ko-siong Kisu bertanya setelah tercengang sejenak saat melihatnya.

“Akhir-akhir ini memang banyak pesanan untuk sulaman.” Kim Kiu-leng tersenyum.

“Mungkinkah ini hasil karya Dewi Jarum, Sih-hujin?” Ko-siong Kisu bertanya.

“Tidak, seorang laki-laki yang menyulamnya.”

“Laki-laki penyulam yang satu itu?” Ekspresi Ko-siong Kisu berubah hebat saat mendengar ucapan tersebut.

Kim Kiu-leng mengangguk.

“Ini adalah sulaman yang dia buat di dalam Ruang Harta Istana.”

“Apakah dia benar-benar duduk di sana sambil menyulam?” Liok Siau-hong bertanya.

Kim Kiu-leng mengangguk lagi.

“Waktu Kang Tiong-wi membuka pintu, ia sedang duduk di sana sambil menyulam bunga ini!”

“Ruang Harta Istana tentu dijaga dari luar dan dalam oleh sepasukan pengawal, bagaimana dia bisa masuk?”

“Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa masuk, bahkan tak seorang pun tahu di mana mulainya.” Kim Kiu-leng tersenyum agak lelah.

“Dan dia tidak meninggalkan petunjuk apa-apa?”

“Tidak.”

“Orang macam apakah dia?”

“Ia adalah orang yang berjenggot besar dan mengenakan sebuah mantel katun yang sangat besar walaupun di siang hari yang terik.”

“Dan?”

“Dan ia adalah seorang laki-laki, dan ia tahu cara menyulam, dan ia sangat ahli dalam hal itu!”

“Itu saja yang kau tahu?”

“Itu saja yang aku tahu, dan itu juga yang diketahui semua orang, tidak ada orang yang tahu lebih banyak lagi daripada diriku.”

“Kungfu macam apa yang dia gunakan?”

“Tak tahu!”

“Bahkan Kang Tiong-wi pun tidak tahu?”

“Bahkan seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia persilatan seperti Siang Ban-thian pun tidak tahu, apalagi Kang Tiong-wi?” Kim Kiu-leng menarik nafas.

“Thi-soa-cio Kang Tiong-wi mungkin adalah yang terbaik di wilayah Tenggara.”

“Tapi dia tetap tidak punya satu kesempatan pun untuk melakukan sebuah gerakan!” Kim Kiu-leng kembali menarik nafas.

“Bagaimana mungkin seseorang yang begitu tangguh tiba-tiba muncul begitu saja….?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Kau tadi mengatakan bahwa kau tak akan ikut campur dalam urusan ini, kenapa kau mengajukan semua pertanyaan ini?” Koh-kua Taysu bertanya dengan dingin.

“Apa salahnya bertanya?”

“Tentu saja tidak ada salahnya.” Kim Kiu-leng kembali tersenyum letih. “Semua yang kuketahui, telah kau ketahui sekarang.”

Liok Siau-hong menatapnya beberapa saat.

“Mengapa kau memberitahu semuanya padaku?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Karena kau bertanya.”

“Tidak ada alasan lain?”

“Tidak.”

“Dan kau bukan sengaja menungguku di sini?”

“Bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan datang ke sini?” Kim Kiu-leng tak tahan untuk tidak tersenyum letih lagi.

“Dan kau tidak bermaksud mencariku?”

“Tidak.”

“Bagus, sekarang aku bisa bersantai dan minum arak.” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum. Walaupun mulutnya mengatakan “bagus”, senyumannya terlihat sangat canggung, amat tidak wajar, dan tampaknya dia tidak ingin minum arak lagi.

Tapi sekarang giliran Kim Kiu-leng yang tiba-tiba tersenyum.

“Tapi karena sekarang kau ada di sini, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu!” Ia berkata. Mata Liok Siau-hong segera bersinar-sinar.

“Aku tahu, aku tahu kau tentu akan menanyakan sesuatu padaku!” Ia tertawa dan berkata.

“Untuk memecahkan kasus ini dan menemukan Bandit Penyulam, mungkin hanya satu orang di seluruh dunia ini yang mampu untuk melakukannya.” Kim Kiu-leng berkata. Mata Liok Siau-hong bersinar semakin terang, siapa lagi selain dirinya yang bisa menyelesaikan misteri ini?

“Siapa orang yang kau bicarakan itu?” Tapi, walaupun demikian, ia sengaja bertanya, ingin mendengar Kim Kiu-leng mengatakannya sendiri.

“Sukong Ti-sing!”

“Siapa yang kau katakan?” Liok Siau-hong bertanya setelah dibuat tertegun sebentar.

“Sukong Ti-sing.” Kim Kiu-leng mengulangi. Liok Siau-hong pun memalingkan wajahnya, tidak memperdulikannya lagi.

Tapi Kim Kiu-leng seolah-olah tidak melihat dan meneruskan.

“Sukong Ti-sing dikenal sebagai Raja Pencuri, dan dia benar-benar seorang jenius yang hanya muncul sekali dalam seabad. Jika ada orang di dunia ini yang bisa menebak bagaimana caranya Bandit Penyulam masuk ke Ruang Harta Istana, maka orang itu tentulah Sukong Ti-sing.”

Liok Siau-hong sudah mulai minum, tampaknya ia juga tidak tertarik untuk mendengarkan lagi.

Tapi Kim Kiu-leng tetap meneruskan.

“Jika kita ingin memecahkan kasus ini, maka kita harus menemukan Sukong Ti-sing. Tapi sayangnya, ia adalah tipe orang yang keberadaan dan gerak-geriknya selalu merupakan misteri, jadi….”

“Jadi kau ingin bertanya padaku di mana kau bisa menemukannya?” Liok Siau-hong tak bisa menahan dirinya lagi.

“Benar.”

Liok Siau-hong tiba-tiba, dan dengan keras, meletakkan cawan yang berada di tangannya ke atas meja.

“Jadi dari tadi kau membuang-buang waktu dengan menceritakan semua sampah itu padaku, hanya bertujuan untuk mencari dia?”

“Siapa lagi yang bisa kumintai pertolongannya selain dia?” Kim Kiu-leng menarik nafas.

Liok Siau-hong tiba-tiba melompat bangkit dan menunjuk hidungnya sendiri.

“Aku!” Ia berteriak. “Kenapa kau tidak memintaku?”

Kim Kiu-leng tertawa, tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau tak akan mampu!”

“Apa maksudmu aku tak akan mampu?” Liok Siau-hong terlihat melompat lebih tinggi.

“Tak mungkin kau bisa melakukan ini.” Kim Kiu-leng masih menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa tidak bisa?”

“Karena kasus ini terlalu berbahaya,” Kim Kiu-leng menjawab seenaknya. “Di samping itu, kau tadi mengatakan bahwa kau tidak ingin ambil bagian dalam urusan ini.”

“Siapa bilang aku tidak ingin ambil bagian? Aku akan ikut campur dalam urusan ini untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu.” Sekarang Liok Siau-hong sampai menjerit.

“Aku masih ingin bertaruh bahwa kau tak akan mampu memecahkan kasus ini!”

“Baik!” Liok Siau-hong memukulkan tangannya ke atas meja. “Apa pun yang ingin kau pertaruhkan, aku setuju!”

Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat orang lain tertawa. Memang, semua orang sedang tertawa. Itulah jenis tawa yang kau dapatkan bila kau tiba-tiba melihat seseorang menginjak seonggok tahi anjing. Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa ia memang baru saja menginjak setumpuk tahi anjing, tumpukan yang sangat besar dan bau sehingga dia tak bisa lagi menarik kakinya walaupun dia ingin.

“Lebih baik memancingnya daripada mengundangnya, begitulah kata pepatah.” Bok-tojin menarik nafas setelah tertawa terbahak-bahak.

Makan malam telah selesai. Ko-siong Kisu adalah orang yang sangat merawat diri, ia bangun pagi dan tidur cepat. Bok-tojin punya sebuah penyakit: penyakit malas; dan Koh-kua Taysu harus mengikuti sebuah upacara malam. Maka hanya 3 orang yang tersisa di ruang tamu tersebut.

Liok Siau-hong menatap peoni hitam di atas kain satin merah itu.

“Kapan pertama kalinya orang ini muncul?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Lak-gwe-je-sah (tanggal 3 bulan enam), orang pertama yang bertemu dengannya adalah Siang Ban-thian.” Kim Kiu-leng menjawab.

“Dan terakhir kalinya?”

“Terakhir yang kuketahui adalah 13 hari yang lalu, apakah masih ada perampokan baru atau tidak dalam beberapa hari terakhir ini, aku tidak tahu!”

“Tigabelas hari yang lalu aku sedang sibuk bertanding salto dengan Sukong Ti-sing, jelas bukan dia pelakunya.”

“Aku memang tidak mencurigai dia!”

“Dan kau pun memang tidak ingin meminta bantuannya.” Liok Siau-hong mencela dengan dingin.

Kim Kiu-leng tertawa.

“Yang kutahu adalah bahwa kau baru saja menggali 680 ekor cacing untuknya, maka kau tentu sedang merasa tidak senang pada dirinya!”

“Jadi kau sengaja memancingku?”

“Bagaimana lagi aku bisa melibatkanmu dalam hal ini?” Kim Kiu-leng tertawa dan menjawab.

“Kelihatannya aku seharusnya tidak coba-coba berteman dengan orang-orang yang menekuni pekerjaan seperti kalian!” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tidak perduli apa, karena kita semua telah terseret dalam urusan ini, lebih baik kita cepat-cepat mencari cara untuk keluar darinya.”

“Pertama, kita harus menebak orang macam apakah dia.” Liok Siau-hong berkata setelah berfikir dalam-dalam.

“Setuju.”

“Dari yang kuketahui, orang ini bukan hanya melakukan pekerjaannya dengan cepat dan bersih, ilmu kungfunya juga termasuk kelas satu, tidak mungkin dia merupakan orang yang baru muncul di dunia persilatan.”

“Aku pun berfikiran demikian, dia tentu seorang sangat terkenal yang sedang menyamar. Tapi aku tak bisa menebak siapa dia.”

“Ia sengaja memakai jenggot besar dan mantel katun yang besar, dan duduk di tengah jalan sambil menyulam; semua itu untuk menarik perhatian orang-orang sehingga tak seorang pun memperhatikan hal-hal lain pada dirinya!”

“Tampaknya kau seharusnya juga menekuni pekerjaan sepertiku.” Kim Kiu-leng bergurau. “Bahkan seekor rubah tua sepertiku, yang telah menghabiskan waktu sepuluh tahun lebih di Enam Pintu pun tak bisa menganalisa keadaan ini dengan cara yang lebih baik darimu.”

Liok Siau-hong sengaja memasang muka kaku.

“Kau telah menyeretku dalam masalah ini, kau tak perlu menjilat-jilat pantatku lagi sekarang!”

“Satu jilatan, dua jilatan, tak ada yang bisa mengalahkan jilatan pantat! Tak ada salahnya menjilat pantat beberapa kali lebih banyak daripada yang diperlukan!” Kim Kiu-leng tertawa.

“Tak perduli betapa baik samarannya, selalu ada kelemahannya di suatu tempat,” Hoa Ban-lau tiba-tiba bicara. “Mungkin Siang Ban-thian dan yang lainnya tidak melihat; mungkin mereka melihat, tapi menganggap hal itu tidak penting.”

“Sangat masuk di akal!” Kim Kiu-leng setuju.

“Karena itu, jika kita menanyai mereka lagi secara mendetil; mungkin kita bisa menemukan beberapa petunjuk baru!” Hoa Ban-lau menarik kesimpulan.

“Kita?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Kita!”

“Apakah ‘kita’ termasuk kamu?” Liok Siau-hong bertanya.

“Jangan lupa, aku buta.” Hoa Ban-lau tersenyum. “Bagaimana mungkin aku tidak boleh terlibat dalam urusan orang buta lainnya?”

Liok Siau-hong dan Kim Kiu-leng saling berpandangan satu sama lain, mereka berdua merasa sedikit bersalah. Mereka telah bicara “buta-ini” dan “buta-itu” sejak tadi, sama sekali lupa bahwa ada seorang laki-laki buta yang sedang duduk tepat di samping mereka. Memang orang sering bersikap seolah-olah Hoa Ban-lau bukanlah orang yang buta.

Liok Siau-hong terbatuk ringan beberapa kali.

“Ok, mari kita berpencar agar tugas kita bisa dilakukan dengan lebih cepat. Kalian berdua pergi mencari Siang Ban-thian dan Kang Tiong-wi!”

“Dan kau?” Kim Kiu-leng bertanya.

“Aku akan mencari seseorang!” Liok Siau-hong memasukkan kain satin merah itu ke dalam bajunya.

“Siapa?”

“Seekor harimau betina!”

“Yang mana?”

“Yang paling cantik, tentunya.” Liok Siau-hong tersenyum. Kim Kiu-leng juga tersenyum.

“Jangan lupa, yang paling cantik adalah juga yang paling buas. Berhati-hatilah supaya tidak tergigit!”

“Oh, dia akan berhati-hati, kau bisa yakin akan hal itu!” Hoa Ban-lau meyakinkannya.

“Kenapa begitu?”

“Karena dia telah digigit beberapa kali!” Hoa Ban-lau tersenyum.

Ada empat harimau betina di dunia persilatan. Agaknya keempat-empatnya semuanya pernah menggigit Liok Siau-hong sebanyak satu atau dua kali.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: