Kumpulan Cerita Silat

19/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (11)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:09 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 11. Bisikan Di Tengah Malam
Oleh Gu Long

Pohon bambu tumbuh dengan rindangnya di sebuah halaman yang kecil. Seorang wanita dengan selendang tipis dan tanpa make up duduk di jendela, tangannya menopang dagunya, menatapnya dengan tatapan kasih sayang.

Boleh dikatakan wanita tersebut bukan wanita yang sangat sangat cantik, namun dia memiliki mata yang seperti berbicara saat memandang, dan mulut yang jenaka dan pandai ketika berbicara. Meskipun dia hanya duduk diam, namun kamu dapat merasakan aura yang memabukan mengelilinginya. Wanita tersebut sungguh-sungguh unik dibandingkan dengan kebanyakan wanita kamu pernah lihat.

Hanya dengan berbicara dengannya, maka sudah cukup memuaskan laki-laki manapun.

Dalam usahanya untuk merayunya, banyak sekali pria yang datang kepadanya tampil seperti bangsawan, terlihat kaya, lembut dan berpendidikan.

Namun saat Ye Kai berjalan melewati pintu, dia berjalan langsung ke arah tempat tidurnya dan berbaring. Dia bahkan tidak perduli dengan sepatunya. Kedua lubang raksasa yang terdapat pada telapak kakinya menghadap ke langit-langit.

Cui Nong bermain-main mengerut-ngerutkan alisnya dan berkata,” Tidak dapatkah engkau membeli sepatu yang baru?”

“Tidak.” Ye Kai menjawab.

“Kenapa tidak?” Cui Nong berkata.

“Karena sepasang sepatu ini melindungiku.” Ye Kai berkata.

“Mereka melindungimu?” Cui Nong berkata.

Ye Kai mengangkat kakinya dan menunjuk pada celahan disepatunya,” Apakah engkau melihat lubang-lubang ini? Mereka menggigit orang. Siapapun yang bermaksud buruk padaku akan digigitnya.”

Cui Nong tergelak-gelak tertawa. Dia berdiri dan berjalan ke arahnya,” Aku ingin lihat, apakah mereka menggigitku.”

Ye Kai meraihnya dan berkata,” Mereka takut menggigitmu, namun aku tidak takut.”

Cui Nong merengek lembut dan menjatuhkan dirinya didadanya.

Pintu belum tertutup. Namun, meski tertutup pun, mereka tidak dapat mencegah pembicaraan romantis mereka terdengar keluar kamar.

Gadis pelayan muda tersebut memerah. Dia melihat sekilas ke mereka dari jauh, dan diam-diam berusaha melihat dari dekat.

Burung penyanyi emas yang tidur di pinggir atap terjaga dan mulai berkicau dengan tak putus-putus.

Batu giok hijau yang tebal, di tengah musim semi yang indah.

________________________________________

Sebuah bayangan bergerak mengindap-indap di tengah malam yang gelap di atas atap, dari bawah sinar matahari terlihat tubuhnya yang ramping. Wajahnya ditutupi dengan kain yang tipis.

Wanita itu sedang mengejar seseorang disana dan melihat bayangan melesat di atas atap. Namun saat dia mencapai ke atas puncak atap, tidak terlihat seorangpun disana.

Dia tahu apa yang berada di bawahnya, namun dia tidak bisa turun – karena tempat tersebut bukan tempat untuk wanita.

“Siapakah dia? Kenapa seseorang berusaha mencuri dengan pembicaraan? Apakah yang sebenarnya dia dengar?” pikirannya terus menerus mempertanyakan hal ini. Bila seseorang melihat ekspresi wajahnya, mereka pasti melihat bahwa dia terkejut dan ketakutan.

Dia tidak dapat membiarkan rahasinya diketahui. Betul-betul tidak boleh diketahui siapapun.

Dia berpikir pada dirinya sementara waktu, kemudian akhirnya dia menggertakan giginya dan meloncat ke bawah. Dia memutuskan untuk mengambil resiko tersebut.

Dalam hidupnya, dia telah melihat tidak terhitung banyaknya ekspresi wajah yang aneh sebelumnya. Namun saat melihat seorang wanita berjalan memasuki rumah bordil, ekspresi wajah terkejut terlihat di wajah para laki-laki tersebut. Mata setiap orang melebar, sepertinya mereka baru saja melihat seekor domba memasuki sarang serigala. Bagi serigala, hal ini mungkin bukan suatu tantangan, namun lebih dirasakan sebagai gangguan.

Tidak ada seorangpun yang mengerti kenapa seorang wanita keluyuhan kemari. Juga tidak ada seorangpun yang menyangkal bahwa wanita tersebut sungguh-sungguh cantik.

Seorang laki-laki mabuk berusaha membuka matanya lebar-lebar. Dia adalah pendatang dari luar kota yang mau membeli ternak, jadi dia tidak mengetahi siapa wanita ini. Tubuhnya bergoyang-goyang maju mundur saat berdiri dan berusaha berjalan ke arah wanita tersebut. Namun seseorang yang duduk disebelahnya menahannya untuk kembali.

“Jangan pernah berpikir itu.”

“Kenapa tidak?”

“Dia telah memiliki seorang pria.”

“Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

Keempat kata-kata tersebut terlihat memiliki bobot yang tak terlihat, sesaat diucapkan, suasana di ruangan tersebut terasa seperti sebuah bola yang mengempis.

Bibi Ketiga mengangkat kepalanya dan berjalan dengan tersenyum, berpura-pura tidak mendengar gumaman-gumaman di ruangan tersebut, berpura-pura melihat ke arah yang berbeda. Namun kenyataannya, memang dipikirannya seperti itu. Saat beberapa pria menatapnya, dia merasakan seperti ditelanjangi.

Untungnya, Xiao Bie Li akhirnya memanggilnya, “Nyonya Ketiga Shen apa yang kamu lakukan disini? Sungguh-sungguh jarang hal ini terjadi.”

Wanita itu segera berjalan kearahnya dan menjawab, ” Tuan Xiao, apakah aku tidak diterima datang ke sini?”

Xiao Bie Li menghela napas dan berkata,” Hanya karena aku tidak dapat berdiri untuk memberikan penghormatan yang layak padamu.”

“Aku datang untuk mencari seseorang.” Dia berkata.

“Aku?” Xiao Bie Li menjawab sambil berkedip-kedip.

Nyonya Ketiga Shen tersenyum dan berkata,” Bila aku datang mencarimu, aku sudah datang saat tidak ada seorangpun di sini.”

“Jadi aku akan menunggu, karena aku tidak perlu lagi khawatir seseorang akan merebut kakiku lagi.”

Keduanya tersenyum. Mereka tahu bahwa mereka berdua adalah rubah tua yang licin dan licik.

“Apakah Cui Nong disini?” Nyonya Ketiga Shen bertanya.

“Ya, apakah engkau mencari dia?” Xiao Bie Li berkata.

“Mmm.” Dia menjawab.

Xiao Bie Li menghela napas dan berkata,” Kenapa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, selalu datang kemari untuk mencarinya?”

“Aku tidak dapat tidur jadi aku ingin ngobrol dengannya sebentar.” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Sayang sekali engkau terlambat kesini.” Xiao Bie Li berkata.

Nyonya Ketiga Shen mengerutkan keningnya dan berkata,” Jangan katakan bahwa tamunya bermalam dikamarnya?”

“Dia seorang tamu yang spesial.”

“Seberapa spesial?”

“Terutama dia miskin.”

Nyonya Ketiga Shen tertawa dan berkata,” Dia tidak akan membiarkan seorang tamu yang miskin menemaninya?”

“Aku ingin menghentikannya, namun aku sama sekali bukan tandingannya, dan aku tidak dapat berlari secepatnya juga.” Xiao Bie Li menjawab.

Mata Nyonya Ketiga Shen berputar-putar,” Engkau sedang tidak berbohong kepadaku?”

“Siapa di dunia ini yang dapat menipum?” Xiao Bie Li menjawab.

“Siapakah tamunya?” Nyonya Ketiga Shen bertanya.

“Ye Kai,” Xiao Bie Li berkata.

Mata Nyonya Ketiga Shen terbelalak,” Ye Kai.”

“Engkau mungkin tidak mengenalnya. Namun dia baru saja dua hari disini dan hanya sedikit saja orang yang tidak mengenal namanya.” Xiao Bie Li berkata.

Senyum muncul di wajah Nyonya Ketiga Shen, namun tatapan yang tajam tiba-tiba terlihat diwajahnya. Perlahan-lahan, pandangannya berubah menjadi tenang.

Tiba-tiba, BBRRAKKK, pintu terayun terbuka, dan seseorang dengan langkah yang lebar berjalan masuk. Orang yang besar! Tangan GongSun Duan mengenggam dengan eratnya pada goloknya.

Xiao Bie Li menghela napas dan berseu,” Semuanya yang tidak seharusnya datang, telah tiba. Semuanya yang seharusnya sudah datang, telah menunjukan diri.”

Dia mengambil salah satu kartunya dari atas meja, kemudian perlahan-lahan meletakannya kembali. Menggelengkan kepalanya, dia berkata,” Sepertinya akan timbul badar besok. Bila engkau tidak ada keperluan, sebaiknya tinggal di rumah saja.

“Kemari!” GongSun Duan berteriak dengan marah.

Nyonya Ketiga Shen mengiggit bibirnya dan menjawab,” … kepada siapa engkau berbicara?”

“Engkau!” GongSun Duan membentak.

Pedagang daging tersebut tiba-tiba melompat ke depan. Orang-orang yang berdiri disebelahnya terlambat untuk menghentikannya. Dia telah berada di depdan GongSun Duan. Dengan kedua jarinya dia menunjuk ke arah hidung GongSun Duan, dia menghardik,” Jangan berteriak seperti itu kepada seorang wanita! Apakah engkau tidak memiliki sopan santun? Hati-hati aku tidak …”

Sebelum dia menghentikan perkataannya, punggung tangan GongSun Duan telah menampar wajahnya. Tukang daging ini sebenarnya juga orang yang berbadan besar, namun orang yang memiliki berat beberapa ratus kilo tersebut telah terbang melayang ke udara dengan sekali pukulan dari GongSun Duan. Tukang daging itu hinggap ke atas dua meja dan membentur dinding. Saat dia berusaha berdiri, mulutnya telah dipenuhi oleh darah, dan kepalanya telah berlumuran darah – bahkan darahnya pun berbau arak.

GongSun Duan tidak melihatnya, matanya terfokus pada Nyonya Ketiga Shen dengan tegar dia memerintah,” Datang kesini.”

Kali ini, Nyonya Ketiga Shen tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia merendah kepalanya dan berlahan-lahan berjalan ke arahnya. GongSun Duan berjalan ke luar dan Nyonya Ketiga Shen mengikutinya dari belakang. Dia melangkah dengan lebar, Nyonya Ketiga Shen kelihatan berusahan keras untuk mengikutinya. Saat langkahnya belum lagi mencapai tiga puluh kaki, nampaknya dia baru saja melangkah sepanjang tiga kaki.

Saat itu malam telah larut.

Lumpur di jalan yang panjang tersebut masih lengket dan basah. Angin bertiup di atas padang rerunputan.

Angin yang dingin dan membuat beku.

GongSun Duan melangkah ke arah jalan, tanpa menoleh sekalipun. Tiba-tiba dia berkata,” Kenapa tiba-tiba engkau pergi?”

Paras wajah Nyonya Ketiga Shen memucat dan dia menjawab,” Aku bukan berada di penjara. Aku dapat pergi kemanapun aku mau.”

“Aku bertanya lagi, kenapa engkau pergi?” GongSun Duan perlahan-lahan mengulangi pertanyaannya. Meskipun dia berbicara perlahan, namun setiap kata yang diucapkan memberikan arti yang garang.

Nyonya Ketiga Shen menggigit bibirnya sejenak dan akhirnya menjawab,” Aku keluar untuk mencari seseorang.”

“Siapa?” GongSun Duan berkata.

“Apakah itu menjadi urusanmu?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Urusan Ma Kong Qun adalah urusanku. Tidak boleh ada seorangpun yang berbuat salah kepadanya.” GongSun Duan berkata.

“Kapan aku berbuat salah kepadanya?” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Baru saja!” GongSun Duan berteriak.

Nyonya Ketiga Shen menghela napas dan berkata,” Baru saja aku mencari temanku untuk ngobrol, apa yang salah mengenai hal itu? Jangan lupa, aku adalah seorang wanita. Dan wanita sangat menyukai ngobrol gosip dengan sesamanya.”

“Siapa yang engkau cari?” GongSun Duan bertanya.

“Nona Cui Nong.” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Dia bukan seorang wanita, dia seorang pelacur.” GongSun Duan tersenyum dingin.

“Pelacur? Kenapa engkau berkata seperti itu kepadanya? Bukankah dia pernah bertemu denganmu?” Nyonya Ketiga Shen menjawab dingin.

GongSun Duan mendadak berbalik dan meninju perutnya. Dia tidak berusaha menghindar maupun menangkis. Tubuh terjerembab ke belakang sejauh tujuh hingga delapan kaki. Wanita tersebut muntah-muntah mengeluarkan seluruh cairan lambungnya yang pahit dan asam saat terjatuh.

GonSun Duan melompat kearahnya, menjambak rambutnya, dan menariknya kekakinya. ” Aku tahu engkau juga pelacur, tapi engkau pelacur yang sudah tidak dapat menjual tubuhmu lagi.”

Nyonya Ketiga Shen menggertakan giginya, mencoba menahan rasa sakit. Namun dia tidak dapat menahan keluar air matanya yang mengalir kepipinya. “Apa … apa yang hendak engkau lakukan?” Suaranya bergetar.

“Aku mau menanyakan satu pertanyaan kepadamu, dan engkau harus menjawabnya, mengerti?” GongSun Duan berkata.

Nyonya Ketiga Shen menutup mulutnya dan tidak menjawab.

Lengan GongSun Duan yang besar kembali memukul pinggangnya. Seluruh tubuh wanita tersebut bergetar karena rasa sakit. Air matanya mengalir seperti sungai.

GongSun Duan menatapnya kembali dan berkata,” Engkau mengerti?”

Setelah air mata yang mengucur diwajahnya semakin deras, akhirnya Nyonya Ketiga Shen menganggukan kepalanya.

“Kapan engkau pergi keluar?” GongSun Duan berkata.

“Baru saja.” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Engkau datang kesini sesaat engkau pergi ?” GongSun Duan bertanya.

“Engkau dapat masuk ke dalam dan menanyakan ke orang-orang di dalam sendiri.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Dan engkau bertemu pelacur itu?” GongSun Duan berkata.

“Tidak.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Kenapa tidak?” GongSun Duan bertanya.

“Dia sedang ada tamu.” Nyonya Ketiga Shen menjawab.

“Engkau tidak bertemu dengan orang lainnya? Engkau tidak pergi ke tempat lain?” GongSun Duan bertanya kembali.

“Tidak.” Nyonya Ketiga Shen berkata.

“Tidak?” GongSun Duan bertanya.

Tiba-tiba dia mendorong dan membenturkan wanita tersebut dengan tangannya yang lain. Saat dia membenturkan wanita tersebut, terdengar suara aneh saat tubuh wanita tersebut membentur lantai. Sepertinya laki-laki itu menikmati suara yang timbul tersebut.

Nyonya Ketiga Shen tidak tahan lagi dan mulai menjerit,” Aku sungguh-sungguh tidak kemana-mana, sungguh-sungguh tidak …”

GongSun Duan menatapnya, matanya dipenuhi dengan hawa pembunuhan, jari-jarinya mengepal dengan kerasnya.

Nyonya Ketiga Shen tiba-tiba menerkamnya dan merangkulkan lengannya ke laki-laki tersebut dan menjerit,” Bila engkau menikmati memukuliku, pukul saja aku sampai mati … pukul saja sampai mati …”

Wanita tersebut mencekikan tangannya ke leher pria itu dan kakinya menjepit pinggangnya. Perasaan aneh tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuh GongSun Duan, dia tidak dapat menahannya.

Tiba-tiba wanita itu menurunkan tangannya kebahunya, dan meraung kesakitan,” Aku tahu engkau sangat menikmati memukuliku, pukul saja, pukul saja aku.”

Tubuh wanita dan kaki wanita tersebut melilit ditubuhnya dengan erat. Dia bernapas terengah-engah tepat di telinganya di atas lehernya.

Napasnya tiba-tiba semakin keras dan kasar.

“Tidak perlu risau bila engkau mau memukuliku sampai mati, aku tidak akan pernah memberitahukan siapapun.”Nyonya Ketiga Shen merintih.

GongSun Duan mulai gemetaran. Tidak ada seorangpun yang dapat menduga bahwa seseorang sepertinya juga bisa gemetaran. Tidak juga pernah ada yang mengira-ngira seperti apa bila orang sebesar dan segagah dia bila gemetaran. Bila kamu menyaksikannya, kamu pasti mengira seperti melihat suatu yang lucu. Namun, bila dilihat lebih lama maka menjadi mengerikan, betul-betul mengerikan.

Rasa sakit terlihat di seluruh wajahnya, karena dia tahu bahwa dia pun memiliki napsu yang bersembunyi di dalam dirinya. Tiba-tiba, dia memukulkan kepalan tangannya ke perut wanita itu. Tubuh wanita tersebut kembali bergetar dan mengejang. Pegangannya melemah saat dia mulai jatu ke atas jalan yang ditutupi oleh lumpur.

GongSun Duan mengepalkan jarinya, menatapnya, kemudian mengerenyitkan mukanya. Dia melangkah berjalan kudanya. Orang yang dia benci bukanlah wanita ini, tapi dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak dapat menahan dirinya terhadap godaan yang dia takuti.

Nyonya Ketiga Shen menyeka air matanya hingga kering. Tangan GongSun Duan seperti tanduk banteng, kemanapun dia memukul betul-betul terasa hingga ke tulang. Sebelum besok pagi, memar-memar di tubuhnya pasti akan berubah menjadi bengkak dan menghijau.

Namun, dia tidak merasa benci maupun khawatir, karena dia tahu bahwa GongSun Duan pasti tidak akan mengatakan kesiapapun apa yang telah terjadi. Dari semua itu, dia tidak ingin Ma Kong Qun tahu bahwa dia telah pergi keluar malam ini.

Sekarang, hanya ada seorang yang telah mengetahui rahasianya, orang tersebut mengintip dan mencuri dengar yang telah terjadi di bawah.

Apakah dia Ye Kai?

Dia hanya berharap orang tersebut Ye Kai. Karena biasanya orang-orang yang memiliki rahasia jarang sekali membuka rahasinya ke sesamanya.

Dia merasa yakin bahwa dia dapat melakukan perjanjian dengan Ye Kai.

________________________________________

“Engkau betul-betul Ye Kai?”

“Memangnya kenapa kalau aku bukan Ye Kai?”

“Orang seperti apa sih Ye Kai itu?”

“Dia seorang laki-laki, sangat miskin namun sangat pintar, dan dia memiliki caranya tersendiri saat membuat perjanjian dengan seorang wanita.

“Berapa banyak wanita yang engkau miliki sebelumnya?”

“Coba tebak!”

“Wanita seperti apakah mereka?”

“Tidak ada seorangpun yang baik, namun tidak ada soerangpun yang memperlakukan aku dengan buruk.”

“Dimanakah mereka semua sekarang?”

“Tentu saja mereka ada dimana-mana. Satu hal yang paling aku benci di dalam hidup adalah tidur sendiri. Hal itu seperti tidak ada rasanya, seperti bermain catur seorang diri.”

“Apakah tidak ada seorangpun yang dapat mengikatnya?”

“Aku tidak dapat mengikat diriku sendiri.”

“Apakah tidak ada orang lain di keluargamu?”

“Aku bahkan tidak memiliki keluarga.”

“Lalu, dari mana engkau berasal?”

“Aku berasal dari mana aku tiba.”

“Dan engkau pergi kemana saja engkau ingin pergi?”

“Tepat, benar perkataanmu sekali ini.”

“Engkau tidak pernah bercerita mengenai masa lalumu pada orang lain?”

“Tidak pernah.”

“Apakah engkau memiliki banyak rahasia yang tidak seorangpun boleh mengetahuinya?”

Ye Kai berdiri dan menatapnya. Dalam remang-remang cahaya lilin, wanita tersebut terlihat pucat dan lelah namun kedua matanya masih terbuka lebar.

“Aku hanya memiliki satu rahasia.” Tiba-tiba dia berkata,” Aku betul-betul setan rubah tua, sudah hidup selama sembilan ribu tujuh ratus reinkarnasi, akhirnya aku ber-reinkarnasi menjadi manusia.”

Dia melompat dari tempat tidur, mengambil sepatunya, mengenakan bajunya, dan berjalan keluar.

Cui Nong menggigit bibirnya dan melihat Ye Kai pergi. Tiba-tiba dia mengambil dan memeluk sebuah bantal dengan kerasnya, sepertinya bantal tersebut adalah Ye Kai.

oooOOOooo

Apa yang terjadi dengan Nyonya Ketiga Shen. Siapakh dia sesungguhnya?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: