Kumpulan Cerita Silat

19/01/2008

Duke of Mount Deer (16)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:57 am

Duke of Mount Deer (16)
Oleh Jin Yong

Siau Po tidak berani banyak bicara lagi. Dia segera menjalankan Taycu Taypi Cian-yap jiu yang diajarkan oleh Hay kongkong. Cong tocu memperhatikan dengan seksama sejak awal sehingga selesai. Kepa¬lanya manggut-manggut.

“Bagus! Rupanya kau juga pernah mempelajari Imu Taykim-na hoat dari Siaulim pai, benar kan?”

Siau Po menganggukkan kepalanya. Tadinya dia tidak berniat menunjukkan, tetapi ternyata Cong tocu ini dapat mengetahui segalanya dengan tepat. Dia pun tidak berani inenutupi lagi.

“Tujuan si kura-kura tua mengajarkan ilmu pa¬daku hanya untuk menguji ilmu kaisar,” katanya. Dia pun segera memainkan jurus-jurus ilmu Taykim-na hoat tersebut.

Cong tocu tertawa. “Bagus!”

“Sudah sejak semula aku tahu akan ditertawa¬kan!” sahut Siau Po setengah menggerutu.

“Aku tidak menertawakan, justru aku senang melihatnya,” kata Cong tocu sambil tersenyum. “Daya ingatmu baik sekali dan kecerdasan otakmu juga sukar dicari tandingannya. Kau seorang anak yang berbakat. Barusan kau memainkan jurus Pek be huan te (Kuda putih mengais tanah) sebetulnya Hay kongkong memang sengaja mengajarkanmu secara keliru, tapi ketika kau menjalankan sampai jurus Le-hi tok su (lkan lele melompat-Iompat) kau dapat mengikuti perubahannya. Bagus sekali!”

Mendengar kata-kata Cong tocu itu, Siau Po berpikir dalam hatinya.
‘Rupanya ilmu Cong tocu ini jauh lebih tinggi dari Hay kongkong. Kalau dia sudi mengajarkan ilmu silat kepadaku, tentu aku akan lihay sekali Tidak perlu lagi aku menjadi pahlawan gadungan Aku bisa menjadi seorang pendekar besar.’

Tanpa terasa dia melirik ke arah Cong tocu, tidak tahunya saat itu sang ketua perkumpulan Tian-te hwe itu juga sedang mengawasinya dengan tajam.

Biasanya Siau Po sangat berani. Meskipun ter¬hadap kaisar Kong Hi maupun Hong thayhou dia juga tidak merasa takut, namun menghadapi tokoh yang satu ini, entah mengapa dia tidak tahan me¬natap sinar matanya yang tajam dan mengandung wibawa itu.

“Tahukah kau apa tujuan utama Tian-te hwe?” tanya Cong tocu dengan nada sabar.

“Tian-te hwe ingin membantu bangsa Han mem¬basmi bangsa Tatcu. Bahkan kalau mungkin ingin membangkitkan kembali kerajaan Beng!” sahut Siau Po.

Cong tocu menganggukkan kepalanya berkali¬kali.

“Benar! Sekarang aku ingin bertanya, maukah kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe dan men¬jadi saudara kami semua?”

Siau Po senang sekali mendengar tawaran itu. “Bagus! Bagus sekali!” Selama di Yangciu, su¬dah sering Siau Po mendengar sepak terjang yang dilakukan perkumpulan itu. Dan sebenarnya per¬kumpulan itu bukan rahasia lagi bagi rakyat mau¬pun pihak kerajaan. Semua orang sudah mengeta¬huinya. Dan Siau Po sendiri sudah lama sekali mengaguminya. “Cuma, aku khawatir. .. aku tidak mempunyai peruntungan untuk masuk sebagai anggotanya. ”

“Kalau ada niatmu untuk masuk menjadi ang¬gota perkumpulan kami, sebetulnya tidak sulit. Hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, per¬kumpulan kami mempunyai peraturan yang keras. Siapa yang melanggarnya, baik sengaja atau tidak, akan mendapat hukuman berat. Karena itu kau harus mempertimbangkannya matang-matang!”

“Mengenai hal itu, aku sudah tahu. Karenanya aku tidak perlu pertimbangkan lagi,” sahut Siau Po. “Apa pun peraturan kalian, akan kutaati semuanya. Cong tocu, asal kau bersedia menerima aku menjadi anggota, sulit rasanya melukiskan kegembiraan hatiku ini.”

Senyum di wajah Cong tocu sirna seketika. “Urusan ini sangat penting. Menyangkut soal mati dan hidup, bukan sebuah permainan seperti yang kau bayangkan!” kata Cong tocu dengan tam¬pang serius.

“Aku mengerti, Cong tocu. Aku pun tidak berani menganggapnya sebagai permainan. Sudah lama aku mendengar tentang perkumpulan Tian-te hwe yang melakukan berbagai perbuatan mulia. Sepak terjangnya selalu menggetarkan langit dan bumi! Hal sepenting ini mana boleh dianggap per¬mainan anak kecil?”

“Bagus kalau kau memang mau tahu?” kata Cong tocu itu kembali. Bibirnya tersenyum.

“Untuk masuk menjadi anggota Tian-te hwe ada dua puluh enam sumpah yang harus kau ucapkan dan sepuluh larangan yang tidak boleh kau langgar, kalau tidak, kau bisa mendapat hukuman berat!”

Sewaktu mengucapkan kata-kata ini, suara Cong tocu itu serius dan berwibawa sekali. Terdengar dia menambahkan kembali: “Di antaranya ada bebe¬rapa aturan yang belum berlaku padamu, mengingat usiamu yang masih kecil. N amun ada satu peraturan yang harus kau ingat baik-baik, bunyinya begini:

Seorang anggota perkumpulan kami harus jujur dan lurus, tidak boleh berdusta atau berpura-pura! Nah, dapatkah kau mentaati peraturan yang satu ini?”

Siau Po tertegun. Dia menatap ketua pusat itu lekat-Iekat.

“Terhadap Cong tocu sendiri, sudah pasti aku tidak berani berdusta. Tetapi bagaimana dengan saudara-saudara yang lain? Toh, tidak mungkin aku bicara sejujurnya sampai ke hal-hal yang paling kecil?”

“Tentu saja urusan kecil tidak masuk hitungan.

Yang dimaksudkan di sini adalah urusan penting dan yang menyangkut orang banyak!” sa hut Cong tocu.

“Baik!” sahut SiauPo. “Ada lagi, bolehkah aku berjudi dengan saudara-saudara yang lain? Boleh¬kah aku menggunakan cara-cara tertentu untuk mengakali orang lain?”

Cong tocu memperhatikan Siau Po dengan tajam. Dia tidak menyangka bocah sekecil itu akan mengajukan pertanyaan demikian, namun dia tetap tersenyum.

“Berjudi itu tidak, meskipun perkumpulan kami tidak memiliki aturan khusus yang melarangnya. Demikian pula dengan mengakali orang, perkum¬pulan kami juga tidak memiliki larangan untuk hal yang satu ini. Tapi kau harus ingat, apabila ke¬bohongan atau kecuranganmu diketahui oleh sau¬dara yang lain, ada kemungkinan kau akan dihajar setengah mati. Apakah kau mau kepalamu dikemplangi orang banyak hanya karena hal yang tidak berarti?”

Siau Po tertawa lebar mendengar kata-kata Cong tocu itu. Hal ini membuktikan bahwa bagai¬manapuri Siau Po masih seorang bocah yang polos namun keberaniannya patut dipuji.

“Pasti mereka tidak tahu kalau telah diakali.

Lagipula, dalam berjudi, aku tidak perlu mengguna¬kan akal apa pun karena sembilan puluh persen uang mereka akan pindah ke kantongku!”

Cong tocu itu enggan membicarakan soal per¬judian. Hal itu memang tidak dilarang. Demikian juga minum arak. Kedua hal itu memang suka dilakukan orang-orang gagah meskipun dia sendiri kurang menyenanginya.

“Sekarang ada satu hal lagi yang ingin kutanya. kan kepadamu, maukah kau mengangkat aku sebagai guru?” tanya Cong tocu.

Siau Po tertegun, tapi hanya sebentar, hatinya senang tidak terkatakan.

“Oh!” Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Cong tocu kemudian menyembah berkali ¬kali dan memanggil: “Suhu!”

Kali ini Cong tocu membiarkan saja. Setelah Siau Po menyembah sampai belasan kali, baru dia menghentikannya.

“Sudah cukup!”

Siau Po pun berdiri. Wajahnya berseri-seri me¬nunjukkan hatinya yang gembira sekali.

“Sekarang kau dengar baik-baik,” kata Cong locu. “Aku she Tan bernama Kin-lam. Nama Tan Kin-lam ini hanya nama yang dipakai dalam per¬kumpulan kita. Kau telah menjadi muridku, ada haiknya kau tahu namaku yang asli, yaitu Tan Eng-hoa.”

Ketika menyebut nama aslinya, Tan Kin-lam scngaja merendahkan suaranya sehingga hanya Siau Po yang dapat mendengarnya.

“Baik, suhu!” sahut Siau Po penuh hormat.

“Tecu akan mengingatnya baik-baik dan tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun!”

Tan Kin-lam menatap muridnya lekat-lekat ke¬mudian berkata dengan nada sabar.

“Sekarang hubungan kita adalah guru dan mu¬rid!. Kita juga harus berhati tulus antara satu dengan yang lainnya. Terus terang saja aku katakan, otakmu itu terlalu cerdik, bahkan banyak bicara dan menjurus ke licik. Sifatmu itu tidak cocok dengan watakku sendiri. Tapi mengapa aku mengambilmu sebagai murid? Tentu saja ada alasannya, yakni demi kepentingan perkumpulan kita ini!”

“Suhu, tecu berjanji akan merubah sifat buruk ini agar kelak dapat menjadi orang baik-baik!” sahut Siau Po.

“Negara bisa diubah, mengubah watak sese¬orang justru lebih sulit dari menemukan jarum di tengah samudera. Kau sadar dan kau berjanji, tapi aku tahu kau tidak dapat berubah banyak. Tapi aku sudah mengeluarkan ucapanku. Baiklah … kau ma¬sih muda, perasaanmu mudah berubah atau terpe¬ngaruh. Lagipula kau belum pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela. Karena itu, kau harus mengingat kata-kataku baik-baik. Terhadap murid, aku mempunyai peraturan yang keras. Kalau kau sampai melanggar peraturan, terutama mengkhianati perkumpulan kita, aku tidak segan-segan meneabut nyawamu. Ingat, aku dapat melakukannya semudah membalikkan telapak tangan dan dalam hal ini aku juga tidak mengenal belas kasihanl” kata Tan Kin-lam serius.

Selesai berkata, Tan Kin-lam menggebrak mcja di hadapannya sehingga ujungnya menjadi gompal Kemudian dia meremas pecahan kayu itu sehinggn haneur seperti debu yang bertaburan.

Mata Siau Po membelalak lebar saking kagum nya. Tanpa dapat ditahan lagi dia menjulurkan

lidahnya. Sungguh hebat gurunya ini. Namun seje¬nak kemudian dia merasa gembira sekali atas per¬untungannya yang bagus.

“Suhu, aku berjanji tidak akan melakukan per¬buatan yang tercela. Seandainya satu kali saja aku melakukan perbuatan jahat, kau boleh pelintir ba¬tang leherku ini sampai putus. Tapi suhu, sebe¬lumnya aku ingin mengatakan terlebih dahulu. Ka¬lau leherku putus, tentu tidak bisa lagi menerima ajaran ilmu darimu!”

“Ya, kau ingat baik-baik!” kata Tan Kin-lam.

“Satu kali saja kau melakukan kejahatan, kita bukan lagi guru dan murid!”

“Bagaimana kalau dua kali?”

“Diam! Jangan memutar lidah! Kita membicara¬kan hal yang serius!” hardik Tan Kin-lam yang mulai kewalahan menghadapi muridnya yang satu ini.

“Baik, suhu,” sahut Siau Po. Namun dalam hatinya dia berkata. ‘Bagaimana kalau aku hanya berbuat setengah kesalahan?’

“Dengar!” kata Tan Kin-lam kembali. “Sekarang aku telah menerima kau sebagai murid, tapi aku tidak mempunyai banyak peluang untuk mengajar¬kan ilmu kepadamu. Karena itu …. ” Laki-laki se¬tcngah baya itu mengeluarkan sejilid kitab tipis dari t1alam saku bajunya. “Kitab ini berisi inti ilmu lenaga dalam. Kau bacalah dengan teliti, kemudian ikuti gambar-gambar petunjuk yang ada di dalam¬nya.”

Siau Po menganggukkan kepalanya.

Tan Kin-lam segera membalikkan halaman ki¬tab itu satu persatu dan menunjukkan cara berlatih menurut gambar yang ada. Dia menjelaskannya dengan terperinci sampai Siau Po mengerti.

Tetapi Siau Po masih kecil, lagipula dia belum begitu paham ilmu silat, jadi sulit baginya untuk memahaminya secara keseluruhan. Namun dia ber¬usaha memusatkan segenap perhatiannya.

Hampir satu jam lamanya Tan Kin-lam mem¬berikan penjelasan, kemudian ia berkata:

“Pelajaran ini mempunyai syarat yang terpen¬ting, yakni kesungguhan hati. Hal ini memang akan menimbulkan kesulitan untukmu karena dasar ilmu yang kau pelajari sudab berbeda dengan yang tertera dalam kitab ini. Tapi asal kau belajar dengan tekun, bersungguh-sungguh, tetap akan membawa faedah yang tidak kecil bagimu. Dan apabila sedang berlatih kau merasakan kepalamu pusing atau mata mu berkunang-kunang, kau harus segera menghentikannya. Sampai perasaanmu sudah membaik kembali, baru kau boleh melatihnya kembali. Apabila kau berkeras melanjutkan di saat kau merasa sakit kepala atau tidak enak badan, akibatnya bisa berbahaya sekali. Ingat baik-baik!”

“Baik, suhu,” sahut Siau Po sambil mengucapkan terima kasih dengan menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali. Setelah itu baru dia memasukkan kitab itu ke dalam saku bajunya.

“Kau terhitung muridku yang keempat,” kata Tan Kin-lam menjelaskan selanjutnya. Mungkin kau juga akan menjadi muridku yang terakhir dan termuda. Urusan Tian-te hwe yang harus ditang¬gulangi masih menumpuk, karena itu aku tidak bisa menerima murid terlalu banyak. Kau harus ingat, dalam dunia persilatan, derajatku tidak rendah, namaku juga tidak pernah cacat, karena itu sebagai muridku, jangan sekali-sekali kau melakukan per¬buatan yang dapat membuat aku kehilangan muka!”

“Baik, Suhu,” sahut Siau Po. “Tapi …. ” “Tapi apa?”

“Memang aku tidak akan mencemarkan nama baik suhu, tapi bagaimana kalau hal itu terjadi di luar kehendakku? Umpamanya aku dikalahkan orang dalam perkelahian, lalu aku kena ditawan dan diangkat kesana kemari seperti layaknya benda mati. Kalau hal itu sampai terjadi, aku mohon suhu dapat memaafkannya …. ”

Tan Kin-lam mengerutkan keningnya. Bocah ini memang luar biasa. Ada-ada saja pertanyaan yang terpikirkan olehnya. Untuk sesaat dia merasa lucu, sekaligus diam-diam mengeluh dalam hati. Akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Aku telah menerimamu sebagai murid. Mung¬kin ini merupakan suatu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup. Tapi, biar bagai¬mana aku tetap akan menjalaninya. Semua ini demi kepentingan perkumpulan kita. Siau Po, sebentar lagi kau harus berhadapan dengan berbagai urusan perkumpulan. Ingat baik-baik apa yang telah aku katakan kepadamu tadi. Asal kau pandai membawa diri, jangan banyak mulut atau bicara sembarangan, aku yakin tidak ada masalah bagimu!”

“Baik, suhu!” sahut Siau Po. Matanya menatap Tan Kin-lam lekat-lekat.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Tan Kin¬lam yang dapat menerka ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh muridnya itu.’

“Tecu ingin menjelaskan. Apabila tecu berbi¬cara, tecu akan berbicara hal-hal yang beralasan, tidak nanti Tecu berbicara sembarangan.”

“Bagus! Mulai sekarang kau harus kurangi bicaramu!” kata sang guru.

Diam-diam Tan Kin-lam berpikir dalam hati. ‘Entah berapa banyak orang-orang gagah yang bicara denganku. Biasanya mereka selalu berpikir dahulu matang-matang sebelum mengemukakan pi kirannya. Tidak seperti bocah ini yang ceplas-ceplos seenaknya. Dia sungguh berani dan juga bandel sekali.’ Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju pintu. Setelah itu dia menoleh dan berkata: “Ikutlah denganku!”

Siau Po segera menghambur ke depan dan membukakan pintu serta mempersilahkan gurunya keluar terlebih dahulu. Setelah itu baru dia mengikuti dari belakang terus menuju aula pertemuan.

Di. dalam aula sudah berkumpul dua puluh orang lebih. Ketika mereka melihat kehadiran Tan Kin-lam, semuanya langsung berdiri dengan sikap hormat.

Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya kemu¬dian duduk di atas kursi yang kedua. Siau Po merasa heran. Mengapa seorang ketua duduk di kursi yang kedua dan blikan yang pertama. Diam-diam dia berpikir dalam hati:

‘Mungkinkah suhu bukan tokoh yang keduduk¬annya paling tinggi dalam perkumpulan ini? Apa¬kah masih ada orang yang lebih tinggi lagi ke¬dudukannya daripada suhu?’

Semen tara itu, terdengar Tan Kin-lam berkata:

“Saudara-saudara! Hari ini aku telah menerima seorang murid yang paling kecil!” Tangannya me¬nunjuk kepada Siau Po. “Ini dia orangnya!”

Seluruh anggota perkumpulan itu langsung mengucapkan selamat dengan menjura.

“Selamat, Cong tocu!” Mereka juga memberi selamat kepada Siau Po.

“Sekarang giliranmu memberi hormat kepada para pekhu dan sidehu-mu!” kata Kin lam kepada Siau Po.

Siau Po menurut. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah serta memberi hormat kepada para pamannya sekalian dan mengucapkan terima kasih.

Setelah itu, Lie Lek-si mengenalkannya kepada sembilan hiocu dari perkumpulan itu. Hiocu adalah

ketua dari setiap seksi. Selain itu masih ada Hu hiocu, yakni wakil ketua setiap seksi. Siau Po jadi repot berlutut dan menyembah ke sana-sini. Un¬tung saja ketika memberi hormat kepada para Hu hiocu, belum sempat menyembah, mereka sudah mencegahnya.

“Jangan sungkan, saudara keeil. Silahkan ba¬ngun!” Mereka juga memberi hormat dengan ber¬lutut, Siau Po segera menghambur ke depan untuk mencegah mereka. Peraturan pada zaman itu me¬mang demikian.

Jumlah para paman tua muda itu semuanya ada dua puluh orang lebih. Siau Po tidak dapat meng¬ingat mereka satu per satu. Karena itu dia berkata kepada dirinya sendiri:

‘Mereka adalah orang-orang penting. Biar nanti perlahan-lahan aku akan mengingat nama mereka satu per satu.’

Setelah upacara perkenalan selesai, Tan Kin¬-lam baru berkata kembali.

“Saudara sekalian, aku telah menerima Siau Po sebagai murid, harap kalian pun dapat menerima¬nya sebagai saudara kita dalam perkumpulan Tian¬ te hwe!”

“Bagus!” Orang banyak menyatakan persetujuan¬nya.

Bahkan Coa tek-tiong, yakni hiocu dari Lian¬hoa tong yang rambut dan kumis serta janggutnya sudah memutih langsung berkata.

“Sejak jaman dulu kala, guru yang pandai selalu menghasilkan murid yang hebat. Murid Cong tocu ini akan menjadi seorang pendekar muda dan akan membuat jasa besar bagi perkumpulan kita, aku yakin sekali akan hal itu!”

Hiocu dari Ki-hou tong, yakni Ma Tiau-hin mempunyai wajah yang selalu berseri-seri, tubuh¬nya gemuk pendek, dan sekarang dia ikut memberi¬kan komentar.

“Hari ini kita berkenalan dengan saudara Wi, tapi kami tidak memberikan tanda mata apa pun. Karena itu, aku mengajukan diri sebagai pengantar bersama-sama Coan hiocu untuk menjadi perantara bagi saudara kecil yang mengajaknya masuk men¬jadi anggota Tian-te hwe. Entah bagaimana pen¬dapat Coa hiocu?”

Coa Tek Tiong langsung tertawa lebar.

“Bagus! Aku setuju sekali! Cara ini juga tidak perlu mengorek kantong mengeluarkan uang!” katanya.

Mendengar ucapan itu, orang banyak merasa Iucu dan tertawa.

“Siau Po, Cepat bilang terima kasih kepada kedua pamanmu!” kata Tan Kin-lam kepada murid¬nya. “Ini merupakan suatu keberuntungan bagimu!”

Siau Po menurut. Dia segera menjatuhkan diri berlutut kemudian menganggukkan kepalanya serta menyatakan rasa terima kasih kepada kedua hiocu tersebut.

“Saudara sekalian, peraturan kita sangat keras.

Sedangkan muridku ini masih terlalu muda dan kelewat cerdik. Aku khawatir dia akan ceroboh dalam mengambil tindakan atau melakukan suatu yang keliru. Oleh karena itu, saudara Ma dan saudara Coa, kalian adalah perantara, aku harap selanjutnya kalian bersedia mengawasi muridku ini dan memberikan petunjuk kepadanya agar jangan salah jalan. Kalau ada urusan apa-apa, jangan kalian sungkan-sungkan menegurnya!” kat a Tan Kin-lam kembali.

“Cong tocu terlalu merendah. Mana mungkin murid Cong tocu melakukan hal yang keliru?” sa hut Coa Tek-tiong.

“Aku tidak merendahkan diri. Justru apa yang kukatakan adalah hal yang sejujurnya. Terhadap muridku ini, perasaanku selalu khawatir saja. An¬daikata kalian beramai-ramai sudi mengawasi dan memberikan petunjuk kepadanya, berarti kalian juga membantu aku menenangkan perasaan ini sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Cong tocu.

Ma Tiau-hin tertawa lebar.

“Kalau mengawasi saudara Wi, kami tidak berani. Tetapi mengingat usianya yang memang masih muda, kalau ada urusan apa-apa, kami akan bicara terus-terang saja dan memberikan petunjuk dengan sejelas-jelasnya!”

Siau Po mendengarkan semua pembicaraan itu

Diam-diam dia mendumel dalam hati.

‘Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan?

Mengapa suhu terus khawatir aku akan melakukan hal yang keliru? Si kura-kura tua toh bukan guruku, itulah sebabnya aku membuat kedua matanya buta. Tetapi suhu justru guruku yang sejati, tidak mung¬kin aku mencelakakan dirinya. Kalau begini banyak orang yang mengawasiku, bagaimana aku bisa ber¬kutik lagi?’

Melihat muridnya diam saja dan hiocu lainnya juga tidak memberikan komentar lagi, Tan Kin-lam baru berkata lagi.

“Saudara Lie, aku minta sudi kiranya kau meng¬atur meja sembahyang. Hari ini juga kita akan melakukan upacara menerima Wi Siau-po sebagai anggota Tian-te hwe!”

“Baik, Cong tocu!” sahut Lie Lek-si.

“Menurut peraturan kita, seandainya ada se¬orang yang ingin masuk menjadi anggota, setelah ada orang yang menjadi perantaranya, kita masih harus menyelidiki asal-usulnya dan perbuatan apa saja yang pernah dilakukannya di mas a lalu. Paling tidak kita memerlukan waktu setengah sampai satu tahun untuk memperoleh kepastian apakah dia pantas masuk menjadi anggota perkumpulan kita. Dalam hal ini, Wi Siau Po rriendapat pengecualian. Kedudukannya dalam istana kerajaan Ceng dan rasa sayangnya kaisar terhadap anak ini, membuat dirinya patut mendapat keistimewaan. Sebelumnya aku ingin mengatakan, bahwa bukan aku memanja¬kannya, tapi karena aku yakin, hubungannya yang erat dengan kaisar kerajaan Ceng akan membawa manfaat bagi kita.”

“Kami mengerti,” sahut beberapa hiocu. Mere¬ka merasa Siau Po memang patut mendapat keisti¬mewaan. Apalagi dia telah membangun jasa besar meskipun dilakukannya tanpa sengaja untuk per¬kumpulan mereka.

Hiocu dari Hong Sun-tong yang tubuhnya tinggi besar dan janggutnya hitam pekat, Pui Tay-hong, ikut memberikan suara.

“Semua ini merupakan kemurahan hati Thian yang kuasa dengan memberikan kita seseorang saudara yang menjadi orang kepercayaan kaisar bangsa Tatcu. Mungkin memang sudah takdir bahwa kerajaan Ceng akan hancur dan kerajaan Beng kita akan bangkit kembali. lni yang dinamakan, ‘pahala diri sendiri, tahu diri lawan,’ dengan demikian Seratus kali berperang, seratus kali pula kita akan meraih kemenangan. Siapa di antara kita yang tidak mengerti isi hati Cong tocu?”

Siau Po sangat cerdik. Dari pembicaraan yang berlangsung dia maklum apa yang terkandung dalam benak Tan Kin-lam. Diam-diam dia berpikir:
‘Kalian . semua memperlakukan aku demikian baik, ternyata ada udang dibalik batu. Rupanya kalian ingin menjadikan aku mata-mata di kerajaan musuh. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menuruti keinginan mereka?’

Sementara itu, Coa Tek-Liong langsung me¬nuturkan sejarah berdirinya perkumpulan Tian-te hwe. Juga mengenai peraturan-peraturannya yang harus ditaati.

“Pendiri perkumpulan kami berjuluk Kok Sing¬ya. Nama aslinya The Seng-kong. Mula-mula Kok Sing-ya memimpin pasukan perangnya menyerbu wilayah Kanglau, namun ketika menderita kegagal¬an, beliau mengundurkan diri ke kepulauan Taiwan. Sebelum mengundurkan diri, Kok Sing-ya mene¬rima usul Cong tocu kita untuk membuat sebuah perkumpulan. Dengan demikian berdirilah Tian-te hwe. Sa at itu Cong tocu kita masih menjadi pena¬sehat perang Kok Sing-ya. Sedangkan aku bersama saudara Pui, saudara Ma, saudara Ouw, saudara Lie serta saudara In almarhum yang merupakan hiocu dari Ceng-bok tong masih menjadi perwira dalam pasukan Kok Sing- ya.”

Mengenai Kok Sing-ya, Siau Po memang per¬nah mendengarnya. Dia tahu Kok Sing-ya adalah The Seng-kong yang mendapat anugerah marga ‘Cu’ dari kaisar dinasti Beng. ‘Cu’ adalah marga dari pendiri kerajaan Beng. Itulah sebabnya dia men¬dapat julukan Kok Sing-ya (tuan agung yang meng¬gunakan marga negara) Nama Kok Sing-ya paling terkenal di propinsi Kangsou, Ciatkang, Hokkian dan Kwitang. Beliau menutup mata di permulaan dinasti Ceng, tidak lama setelah kaisar Kong Hi naik

tahta. Meskipun beliau telah tiada, tapi rakyat masih menghormatinya karena semangatnya yang menyala-nyala membela kepentingan negara.

“Tentara kita sendiri berpusat di Kanglam. Ka¬rena tidak mungkin semuanya mengundurkan diri ke Taiwan, maka sebagiannya ada yang mundur ke Emui. Atas titah Kok Sing-ya, Cong tocu tidak ikut mengundurkan diri. Sebab Tian-te hwe tidak boleh tanpa pemimpin. Cong tocu diperintahkan untuk menghuhungi semua bekas pengikut Kok Sing-ya. Mereka pun menjadi anggota Tian-te hwe. Mereka tidak perlu melalui tentara lagi, sebab asal-usul dan riwayat hidup mereka telah diketahui dengan jelas. Sedangkan penelitian terhadap orang luar hanya untuk berjaga-jaga agar jangan sampai ada mata- mata musuh yang menyusup ke dalam.”

Penuturan hiocu itu tidak ditukas oleh siapa pun. Siau Po juga mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika melanjutkan kembali ceritanya, wajahnya tampak penuh semangat.

“Ketika angkatan perang kita keluar dari Taiwan dulu, jumlah semuanya mencapai tujuh belas laksa jiwa, yang terbagi sebagai berikut: Lima laksa pasukan berkuda, lima laksa pasukan bahari, dan lima laksa pasukan jalan. Sedangkan dua pasukan lainnya terdiri dari selaksa pasukan gerilya. Selaksa lagi disebut pasukan orang besi. Hal ini karena mereka mengenakan baju besi dan menggunakan tombak panjang sebagai senjata. Tugas mereka
khususnya untuk mengait kaki lawan dan kaki kuda tunggangan musuh, sedangkan mereka tidak akan terluka oleh anak panah karena mengenakan baju besi. Itulah sebabnya ketika terjadi pertempuran di bukit Yanghong dan wilayahnya Tinkang, dengan dua ribu tentaranya, Cong tocu berhasil melabrak musuh yang jumlahnya delapan belas ribu jiwa. Saat itu aku sendiri menjadi temtara pasukan ke delapan. Sewaktu kami menyerang musuh, kami mendengar mereka berteriak, “Malu … malu, chihu … chihu …. ”
Siau Po menjadi tertarik, tapi dia mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata terakhir hiocu itu.

“Apa artinya ‘malu dan chihu?”

“Malu artinya mama, sedangkan chihu artinya kabur Jadi ten tara musuh berteriak, Mama … mama … kabur .. kabur!”

Orang-orang dalam ruangan itu ikut tertawa mendengar ceritanya yang lucu.

“Coa hiocu, ceritamu memang menyenangkan, apalagi mengenai pertempuran diTinkang itu. Tapi kalau kau cerita terus, mungkin tiga hari tiga malam juga tidak akan selesai. Bisa-bisa sampai kumis saudara Wi sudah tumbuh.”

Tiba-tiba Ma Tiau-hin menghentikan kata-katanya. Sebab dia teringat bahwa seorang thaykam tidak mungkin tumbuh kumis, diam-diam dia me¬lirik ke arah Siau Po. Untung saja bocah itu mem¬perlihatkan wajah kurang senang. Dia khawatir bocah itu akan tersinggung karenanya.

Tepat pada saat itu, Lie Lek-si muncul dan melaporkan bahwa meja sembahyang telah selesai diatur. Tan Kin-lam langsung mengajak semuanya menuju pendopo belakang.

Siau Po melihat di atas meja sembahyang ada dua buah Cengpai (tanda peringatan) yang masing-masing bertulisan. ‘Tanda peringatan arwah kaisar dinasti Beng dan tanda peringatan Jenderal besar Ciau Tou-tay ciangkun merangkap pangeran Yan Peng-kun dari dinasti Beng, The Seng-kong.’

Di atas meja juga teratur rapi berbagai macam persembahan, misalnya kepala babi, kambing, ayam dan ikan. Dalam tempat perabuan tertancap tujuh batang hio.

Semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat pada kedua lengpai, tersebut. Sementara itu, Coa Tek-tiong mengambil sehelai kertas dari atas meja sembahyang kemudian membacanya.

“Langit dan bumi saksinya, kami bersumpah, akan membangun kembali kerajaan Beng. Kami akan membasmi bangsa Tatcu. Kami bersedia hidup dan mati bersama, seperti tiga saudara dari zaman tiga Negara. Kami berjanji akan menjadi saudara antara yang satu dengan yang lainnya. Kami mengakui langit sebagai ayah dan bumi sebagai ibu. Matahari sebagai saudara laki-laki dan rembulan sebagai saudara perempuan. Kami juga menghormati Ngo-cou dan Si-cou Ban In-liong serta ke luarga Hong! Had lahir kami jatuh pada jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun Khe-in. Kami semua, baik dari dua kota raja maupun tiga belas propinsi, kami tetap satu hati satu tubuh. Bagi pemerintah sekarang, kami bukanlah apa-apa. Ka¬lau hati kami tergerak, semua hanya karena ingin membangun kembali kerajaan Beng yang maha besar. Kami berjanji akan melaksanakan apa pun perintah Tan Kin-lam, kami akan menjelajahi lima sungai dan mengatungi empat lautan, demi mene¬mukan rekan-rekan sejiwa dalam perjuangan. De¬ngan ini kami meneteskan darah kami sebagai penguat sumpah dan para malaikatlah yang menjadi saksinya!”

Selesai membacakan kertas ikrar itu, Coa Tek¬tiong berkata kepada Siau Po.

‘Saudara Wi, kita mencontoh apa yang dilaku¬kan tiga saudara angkat dari jaman Sam Kok (tiga negara) kau mengerti bukan?”

“Aku mengerti,” sahut Siau Po. Tiga saudara angkat dari jaman Sam Kok adalah Lau Pi, Kwan Kong dan Tio Hui. Mereka tidak terlahir dalam hari bulan dan tahun yang sama namun bersedia mati dalam hari bulan dan tahun yang sama!”

“Betul!” kata Coa Tek-tiong. “Sekarang kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe, dengan demikian kita rnenjadi saudara satu dengan yang lainnya. Karni juga rnenjadi saudara dari Cong tocu, dan karena kau sudah menjadi murid beliau, otomatis kami semua sekaligus tiga menjadi pekhu dan siok¬siokhu-mu. dulu kalau bertemu dengan kami, kau harus berlutut dan menyembah, nanti setelah masuk menjadi anggota yang berarti kita bersaudara; kau tidak perlu lagi melakukan peradatan seperti itu!” ,

“Baik!” sahut Siau Po. Dalam hatinya dia berkata sendiri. “Bagus sekali!’

Coa Tek-tjong berkata kembali:

“Kita orang-orang dari Tian-te hwe juga disebut kaum Hong Bun. Kata Hong diambil dari tahun kerajaan Sri Baginda Beng Thaycou, yakni Hong Bu. Pemimpin kita yang pertama, seperti yang ,sudah kau ketahui adalah Kok Sing-ya atau Ban In-liang. Kita tidak berani sembarang menyebut nama asli Kok Sing-ya karena hal itu berbahaya sekali. Bisa-bisa kita diringkus bangsa Tatcu! Itulah sebabnya kami menyebut Kok Sing-ya dengan panggilan Ban In-liong. Ban artinya laksa, di sini mempunyai makna sebagai rakyat negeri kita yang jumlahnya ratusan ribu laksa, jiwa. Sedangkan In-liong berarti mega mengiringi naga. Dengan demikian Ban In-liong bisa berarti rakyat seluruh negeri mengiringi pemimpin sesakti naga. Saudara Wi, ini adalah rahasia perkumpulan kita. Jangan sekall sekali kau menyampaikannya kepada siapa pun. termasuk Mau Sip-pat saudara angkatmu sendiri, Harap kau ingat baik-baik pesanku ini!”

Siau Po menganggukkan kepalanya:

“Aku mengerti!”

“Yang dimaksudkan dengan jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun Khe-in adalah waktu lahirnya perkumpulan kita ini. Ngo-cou adalah lima leluhur perkumpulan kita, mereka adalah lima tokoh gagah perkasa yang telah mengorbankan nyawanya demi kepentingan negara. Leluhur kami yang pertama adalah Kam Hui. Sewaktu pasukan perang kami menyerang Kangleng, aku memimpin sepasukan tentara Tinpeng. Atas titahnya Cong tocu, aku bersembunyi di luar pintu kota sebelah barat. Bangsa Tatcu …. ”

“Coa hiocu!” tukas Ma Tiau-hin tiba-tiba.

“Barusan pertempuran di kota Kangleng, kau bisa ceritakan perlahan-lahan kelak, tentu masih belum terlambat.”

Coa Tek-tiong tersenyum meskipun ceritanya diputus oleh Ma Tiau-hin. Perlahan-Iahan dia menepuk dahinya sendiri.

“Benar! Benar! Menceritakan pengalaman seru yang telah berlalu pasti tidak habis-habisnya. Baiknya sekarang aku jelaskan saja soal peraturan dan segala larangan yang ada dalam perkumpulan kita.” Coa Tek-tiong langsung menjelaskan hal-hal yang perlu kepada Siau Po. Siau Po pun mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Baiklah!” kata Siau Po. “Aku telah mengerti dan akan mentaati semuanya!”

Ma tiau-hin segera mengambil sebuah mangkok yang telah diisi dengan arak. Setiap orang yang ada dalam ruangan itu menusuk jari tengah tangan mereka dengan sebuah jarum, kemudian meneteskan darahnya ke dalam mangkok berisi arak itu. Perbuatan ini diikuti oleh Siau Po. Kemudian mereka meminum satu teguk arak yang telah bercamur dengan darah tersebut. Dengan demikian ber¬arti upacara telah selesai dan mereka pun sudah menjadi saudara antara satu dengan yang lainnya. Semuanya merangkul Siau Po dan memberi hormat sekali lagi kepadanya.

Setelah itu, terdengar Tan Kin-lam berkata Iagi:

“Partai kami terdiri dari sepuluh tong. Di depan ada lima pong dan lima tong dan demikian pula di belakang, Kelima tong depan adalah Kian Hongtong, Hong Sun-tong, Ki Hou-tong, Cam Tay-tong dan Hung Hua-tong. Kelima tong di belakang terdiri dari Ceng-bok tong, Cik Hwe-tong, Pek Kimtong, Han Sui-tong dan Oey Tou-tong. Sembilan hiocu dari sembilan tong telah berkumpul di sini, kecuali Ceng-bok tong yang tidak mempunyai hiocu karena In hiocu telah mati di tangan Go Pay. Sampai sekarang lowongan ini belum terisi. Setelah kematian In hiocu, para saudara dari Ceng-bok ton pernah mengangkat sumpah di depan abu penghor. matan saudara Ban In-Iiong, bahwa siapa pun yan dapat membinasakan Go Pay, berarti dia telah membalaskan sakit hati In hiocu dan orang itu akan diangkat menjadi hiocu Ceng-bok tong sebagai pengganti In hiocu. Nah, saudara sekalian, benar¬kah kalian pernah mengucapkan sumpah seperti
itu?”

Serentak semua anggota Ceng bok-tong mem¬benarkan kata-kata Cong hiocu mereka.

“Benar!”

Dengan sorot mata yang tajam, Tan Kin-lam mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kemudian dia berkata lagi dengan nada lembut:

“Bukankah pernah terjadi perselisihan antara para saudara dari Ceng-bok tong pemilihan seorang ketua sebagai pengganti In hiocu? Bukankah perselisihan itu jadi reda karena kalian semua mengingat kepentingan perkumpulan ini? Nah, sampai sekarang masalah itu masih terkatung-katung. Bagaimana hal ini dapat dibiarkan saja? Tentu tidak baik akibatnya nanti. Bukankah Ceng-bok tong merupakan bagian yang penting dalam perkupulan Tian-te hwe, sebab bagian inilah yang mengepalai seluruh saudara-saudara kita dari wilayah di sekitar Kanglam. Kekosongan ini akan merugikan kita dan menguntungkan pihak musuh!”

Semua anggota perkumpulan itu terdiam mendengar kata-kata ketua mereka, karena apa yang dikemukakannya memang beralasan.

“Sekarang aku ingin tanya, benarkah musuh besar kita Go Pay dibunuh oleh saudara Wi Siau Po? Apakah benar saudara sekalian telah mengetahui bahkan beberapa di antaranya menyaksikan dengan mata kepala sendiri?” tanya Tan Kin-lam kembali.

“Ya, benar,” sahut Lie Lek-si dan Kwan An-ki Lie-Lek-si malah menambahkan. “Kita semua sudah mengangkat sumpah, di depan abu penghormatan Ban In-liong, kita tidak boleh mengingkari apa yang pernah kita ucapkan. Kalau sumpah itu hanya angin busuk belaka, untuk apa lain kali kita mengangkat sumpah lagi? Saudara Wi Siau Po memang masih muda, tapi aku Lie Lek-si bersedia mengangkatnya sebagai hiocu kami, hiocu dari Ceng-bok tong!!’

Tentu saja Lie Lek-si paham apa arti ucapan Cong tocu tadi, karena itu dia langsung mendahului menyatakan pendapatnya.

Kwan An-ki juga ingin memberikan pendapatnya, tetapi sudah didahului oleh Lie Lek-si. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Bocah itu telah menjadi murid Cong tocu, dengan demikian dia bukan orang sembarangan. Lie Lek-si tidak berbeda dengan aku yang menginginkan kedudukan hiocu, namun sekarang ini kesempatan sudah tidak ada. Mendengar kata-kala Cong tocu barusan, Lie Lek-si menyadari maksud hati Cong tocu tersebut. Sungguh pandai dia mengikuti perkembangan sehingga langsung mengemukakan, pendapatnya. Semestinya aku tidak boleh kalah dengannya!’ ,

Itulah sebabnya Kwan An-ki segera berkata:

“Benar sekali apa yang dikatakan Lie toako.

Saudara Wi sangat cerdas. Di bawah bimbingan Cong tocu, kelak dia akan menjadi seorang pemuda yang bisa menggemparkan dunia kangouw. Ya! Kwan An-ki juga bersedia mengangkatnya sebagai ketua Ceng-bok tong!”

Mendengar kata-kata itu, Wi Siau Po langsung mencelat bangun, dia menggoyangkan tangannya berulang kali … “Tidak bisa! Tidak bisa! Apa itu hiocu, atau joucu? Aku tidak sudi!” katanya.

Sebetulnya hiocu berarti seorang ketua dari suatu seksi dalam sebuah perkumpulan. Namun dalam kata-kata sehari-harinya hiocu juga bisa berarti tuan yang harum. Itulah sebabnya Siau Po yang brnga1 mengatakan hiocu atau joucu ‘tuan yang bau.’
Sepasang mata Tan Kin-lam mendelik lebar-lebar dan mimik wajahnya’ menyiratkan kewibawaan.

“Apa yang kau ocehkan?” bentaknya.

Siau Po pun tidak berani mengatakan apa-apa lagi.

Tan Kin-lam melanjutkan kata-katanya kembali.

“Bocah ini telah membunuh Go Pay. Hal ini tidak pernah terlintas dalam bayangan kita, namun ternyata toh terjadi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menepati sumpah yang pernah kita ucapkan di hadapan abu penghormatan toako Ban In-liong! Bukankah kita telah bersumpah akan mengangkat orang yang berhasil membunuh Go Pay sebagai hiocu Ceng-bok tong? Justru karena ingin mengangkatnya sebagai hiocu, aku baru menerima¬nya sebagai murid. Jadi bukan sebaliknya. Anak ini mempunyai bakat besar, juga cerdik. Di kemudian hari entah berapa banyak kesulitan yang ‘harus kuhadapi karenanya!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: