Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (10)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:45 am

Rahasia Peti Wasiat (10)
Oleh Gu Long

Jik-hoat-kui menggeleng kepala dan menghela napas, katanya, “Sungguh tidak nyana begitu Oh-bengcu mati, beberapa saudara angkatnya lantas saling berebut kekuasaan sehingga tercerai-berai begini, sungguh menyedihkan ….”

“Apakah Pit-cecu tahu Oh Kiam-lam mati di tangan siapa?” tanya Bun-hiong.

“Tidak tahu,” jawab Jik-hoat-kui. “Pernah juga kupikir mungkin perbuatan Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh, tapi setelah kurenungkan lagi rasanya tidak mungkin, sebab mereka bertujuh selama ini cuma akur di luar dan retak di dalam, tidak nanti mereka bergabung untuk membereskan Oh Kiam-lam. Pula tidak mungkin dilakukan oleh satu-dua orang di antara mereka, sebab Kungfu Oh Kiam-lam mahatinggi, kalau cuma satu-dua orang saja tidak mungkin dapat membunuhnya.”

“Mungkinkah perbuatan tokoh misterius dari Cap-pek-pan-nia itu?” tanya Bun-hiong.

Jik-hoat-kui mengangguk, “Mungkin saja, cuma jika dia sudah membunuh Oh Kiam-lam, kenapa dia tidak menggantikan kedudukannya, tapi justru lari ke daerah utara untuk mencari pengaruh di sana?”

“Ya, ini memang janggal,” kata Bun-hiong. Ia angkat cawan bersama mereka bertiga, habis minum ia menyambung pula, “Apakah Pit-cecu tahu Oh Kiam-lam mempunyai seorang adik perempuan, namanya Oh Beng-ay?”

“Tahu,” jawab Jik-hoat-kui. “Beberapa tahun yang lalu ketika kuantar upeti ke Kiu-liong-san pernah melihatnya sekali, waktu itu dia masih anak dara kecil, entah bagaimana keadaannya sekarang!”

“Pernahkah dia belajar ilmu silat!” tanya Bun-hiong.

“Wah, hal ini aku kurang jelas.” jawab Jik-hoat-kui.

Bun-hiong menghela napas, “Dia sangat kasihan, konon setelah kakaknya mati, Ban Sam-hian dan lain-lain tidak mau menerimanya dan mengusirnya pergi, karena hidupnya sengsara, terpaksa ia terjerumus ke dunia pelacuran.”

“Masa begitu?” ucap Jik-hoat-kui dengan heran. “Wah, Ban Sam-hias dan lain-lain juga keterlaluan, apa sulitnya memberi makan kepada seorang nona, masa tega mengusirnya segala?”

“Memang begitulah kejadiannya, dari sini pun terbukti bahwa Ban Sam-hian dan sekomplotannya itu adalah makhluk berdarah dingin.”

“Sekarang nona Oh itu menjadi pelacur di mana?” tanya Jik-hoat-kui.

“Semula tinggal di Lau-jun-ih kota Kim-tan, kemudian pindah ke Boan-wan-jun di Kim-leng, cuma beberapa-hari yang lalu dia telah diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui.”

“Hah, apa katamu?” seru Jik-hoat-kui kaget. “Kau bilang dia diculik Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?”

“Ya, kejadian itu kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, hari itu kebetulan kupesiar juga ke Boan-wan-jun ….”

Begitulah ia lantas menguraikan cerita yang sengaja dikarangnya itu.

Jik-hoat-kui menghela napas gegetun, ucapnya, “Ai, jelas nona Oh itu pasti akan celaka. Sayang, nona secantik itu harus jatuh ke dalam cengkeraman iblis cabul itu, sungguh tragis.”

“Konon antara Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui dan Oh Kiam-lam ada permusuhan yang sangat mendalam, apa betul?” tanya Bun-hiong.

“Betul,” jawab Jik-hoat-kui. “Belasan tahun yang lalu Kongsun Siau-hui sebenarnya gembong dunia penjahat di daerah selatan, kemudian Oh Kiam-lam semakin menonjol dan keduanya bersaing, mereka telah bertarung sengit selama tiga hari tiga malam, akhirnya Oh Kiam-lam dapat mengalahkannya dan permusuhan mereka dengan sendirinya tambah dalam.”

Baru sekarang Bun-hiong tahu seluk-beluk permusuhan Oh Kiam-lam dengan Kongsun Siau-hui, katanya, “Jika begitu, Kongsun Siau-hui juga salah, kalau dia mau menuntut balas seharusnya sasarannya ialah Oh Kiam-lam, mana boleh melampiaskan dendamnya terhadap adik perempuan musuh yang sudah mati itu.”

“Memang betul juga,” tukas Jik-hoat-kui. “Tindakan ini jelas kurang kesatria.”

“Sayang aku bukan tandingan Kongsun Siau-hui, kalau tidak pasti akan kutolong nona Oh dari cengkeraman iblis itu,” ujar Bun-hiong.

“Apakah Pang-siauhiap tahu tempat kediaman Kiu-bwe-hou?” tanya Jik-hoat-kui.

“Tahu,” tutur Bun-hiong, “pada waktu nona Oh diculik, diam-diam pernah kubuntuti dia.”

“Oo, di mana tempat tinggalnya?” tanya Jik-hoat-kui pula.

“Wah, maaf, untuk ini tidak dapat kuberi tahukan,” jawab Bun-hiong dengan menyesal.

“Memangnya kenapa? Jik-hoat-kui menegas dengan melengak.

“Sebab aku tidak ingin merecoki dia,” kata Bun-hiong.

“Hanya menyebut tempat tinggalnya kan tidak berarti merecoki dia?” ujar Jik-hoat-kui.

“Tidak, tidak berani kukatakan,” kata Bun-hiong pula. “Sebab setelah kuberi tahukan kepada Pit-cecu, bukan mustahil engkau akan menyiarkan juga berita ini, tatkala mana tentu ada orang yang akan coba-coba menyelidiki sarang Kiu-bwe-hou, dan bilamana diusutnya lebih lanjut, akhirnya tentu akan ketahuan akulah yang menyiarkan tempat kediamannya itu. Maka lebih selamat tidak kukatakan saja.”

Tiba-tiba Oh-bi-kui alias si mawar hitam tertawa mengikik, “Hihi, mengapa Pang-siauhiap menjadi begini takut kepada Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?”

“Semua orang tahu dia memang tokoh yang disegani, dan Cayhe sendiri tahu bukan tandingannya, dengan sendirinya kujeri padanya,” Bun-hiong dengan menyengir.

“Padahal menurut pendapatku, seharusnya Pang-siauhiap harus membela keadilan dari berani menyelamatkan nona Oh dari cengkeraman si rase ekor sembilan itu,” ujar si mawar hitam dengan tertawa.

Bun-hiong menggeleng, jawabnya, “Tidak, tidak mau, dia bukan pacarku, juga bukan sanak kadangku, buat apa aku mencari penyakit sendiri?”

Mendadak Tok-pi-kau Kiong Tay-goan, si kera berlengan satu berseru, “Kuharap Pang-siauhiap suka memberitahukan tempat tinggal Kiu-bwe-hou, kami berjanji takkan menyiarkan bahwa berita ini berasal dari Pang-siauhiap.”

Tapi Bun-hiong sengaja menggeleng-geleng kepala lagi, katanya, “Tidak, sukar untuk menerima jaminan demikian.”

“Haha, jadi Pang-siauhiap tidak percaya kepada kami bertiga?” tanya Tok-pi-kau Kiong Tay-goan dengan tertawa.

Tiba-tiba Bun-hiong balas tanya, “Apakah Kiong-jicecu sendiri bermaksud menolong nona Oh?”

Si kera berlengan satu Kiong Tay-goan mengangguk, katanya, “Betul, sebab Oh Kiam-lam pernah menyelamatkan jiwaku, maka ingin kupergi menolong adik perempuannya untuk membalas budi yang kuutang padanya.”

“Tidak, tidak bisa,” jawab Bun-hiong. “Aku tidak boleh membikin susah Kiong-jicecu meski engkau ingin mengantar nyawa.”

“Betul juga,” sambung Jik-hoat-kui mendadak. “Saudaraku yang baik, kukira urusan menolong nona Oh mutlak tidak dapat dilaksanakan hanya dengan kemampuanmu. Pula nona Oh sudah sekian lama diculik oleh Kiu-bwe-hou, sangat mungkin dia sudah dibunuh oleh rase ekor sembilan yang kejam itu.”

“Untuk ini kukira belum tentu,” tukas Bun-hiong. “Kiu-bwe-hou adalah iblis penggemar perempuan yang terkenal, kuyakin dia takkan begitu saja membunuh nona Oh. Cuma ucapan Pit-cecu juga betul, urusan ini mutlak tidak dapat dilaksanakan oleh Kiong-jicecu seorang, maka lebih baik engkau jangan ikut campur urusan ini.”

Mendadak Tok-pi-kau Kiong Tay-goan berteriak, “Mendingan aku tidak tahu urusan ini, sekali sudah tahu, betapa pun hatiku takkan tenteram jika tidak kuselamatkan nona Oh ….”

“Apakah Kiong-jicecu tahu nona Oh itu mempunyai sanak famili?” tanya Bun-hiong.

“Mungkin saja dia mempunyai sanak famili, cuma aku sendiri tidak tahu jelas,” jawab Kiong Tay-goan.

“Bila betul tentang diculiknya nona Oh oleh Kiu-bwe-hou, menurut pendapat Kiong-jicecu, siapakah kiranya orang pertama yang akan pergi menolongnya?” tanya Bun-hiong.

Kiong Tay-goan berpikir sejenak, katanya kemudian, “Setahuku, yang berhubungan paling erat dengan nona Oh adalah Cay-keh-hujin (si nyonya kawin lagi) Lau Sam-koh, kalau dia mendengar berita diculiknya nona Oh, sangat mungkin dia orang pertama yang ingin menolong nona Oh.”

“Ada hubungan apakah antara Cay-keh-hujin Lau Sam-koh dengan nona Oh?” tanya Bun-hiong pula.

Si kera lengan satu menjawab. “Si nyonya yang suka kawin-cerai itu adalah Suci (kakak perempuan seperguruan) Oh Kiam-lam, konon ada hubungan erat antara sesama saudara seperguruan mereka.”

Bun-hiong manggut-manggut, pikirnya, “Orang yang ingin ditangkap Tui-beng-poan-koan apakah mungkin ialah Cay-keh-hujin Lau Sam-koh ini?”

Setelah dipikir lagi, ia merasa hal ini memang mungkin, segera ia tanya lagi, “Apa Kiong-jicecu tahu di mana tempat tinggal Cay-keh-hujin Lau Sam-koh?”

“Entah, aku tidak tahu,” jawab si kera lengan satu sambil menggeleng. “Dia sering berganti suami sehingga sukar diketahui sekarang dia tinggal di mana.”

“Eh, kalau Pang-siauhiap ingin bertemu dengan Cay-keh-hujin Lau Sam-koh, rasanya dapat kuberi petunjuk suatu tempat,” sela si mawar hitam Hoa Sam-nio tiba-tiba.

“Aha, bagus,” seru Bun-hiong girang. “Dia tinggal di mana sekarang?”

Dengan tertawa si mawar hitam bertutur, “Dia berjuluk si nyonya suka kawin, jadi entah sudah berapa kali dia telah kawin-cerai. Setahuku, selama tiga tahun terakhir ini dia sudah berganti suami tiga kali. Tahun yang lalu suaminya adalah seorang tukang nujum bernama Thi-kau-siang-su Ih Cek-tong, paling akhir kabarnya dia akan cerai dan menikah lagi dengan Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, si kakek tukang mancing di danau Hoan-yang-oh. Maka kuyakin bila engkau pergi ke danau tersebut pasti dapat menemukan dia.”

Pang Bun-hiong sendiri sudah sering juga mendengar cerita tentang si kakek tukang kail dari Hoan-yang-oh itu, diketahuinya sebagai seorang tokoh kelas tinggi dunia persilatan yang alim, maka cerita si mawar hitam bahwa kakek alim itu mungkin akan mengawini Lau Sam-koh, tentu saja ia heran dan ragu, tanyanya, “Apakah benar Siau It-ho akan mengambil perempuan semacam Lau Sam-koh sebagai istri?”

Oh-bi-kui Hoa Sam-nio menjawab, “Jika dinilai dari pribadi Siau It-ho dan cara hidupnya sehari-hari, dia memang tidak mungkin menikahi Lau Sam-koh, namun manusia pada umumnya tambah tua tambah linglung, bisa jadi kakek tukang mancing itu, juga sedang keblinger dan bukan mustahil dia benar-benar akan mengawini perempuan yang suka kawin-cerai itu.”

“Baik,” kata Bun-hiong, “dari sini ke Hoan-yang-oh jaraknya tidak terlalu jauh, biarlah segera kupergi ke sana untuk mencarinya.”

Mereka terus makan-minum dan mengobrol lagi ke timur dan ke barat.

Mendadak Jik-hoat-kui berkata dengan tertawa. “Pang-siauhiap, sudah lama kudengar Kungfumu lain daripada yang lain, apakah sudi memperlihatkan sejurus-dua agar menambah pengalaman kami?”

Bun-hiong tahu apa yang diminta tuan rumah itu adalah “peraturan” bagi seorang yang berani bertamu ke atas gunung, jika dirinya tidak memperlihatkan satu-dua jurus dan menaklukkan mereka dengan Kungfu sejati, akibatnya tentu akan sulit baginya untuk meninggalkan gunung dengan begitu saja.

Segera ia mengangguk, katanya dengan tertawa, “Baik, aku menurut saja. Cuma apa yang kupahami hanya sedikit kepandaian tak berarti dan mungkin tidak berharga untuk dipertontonkan di depan orang banyak, untuk itu kuharap Pit-cecu suka memberi petunjuk.”

“Ah jangan rendah hati,” kata Jik-hoat-kui dengan tertawa.

“Sekarang hendak kuperlihatkan sedikit kepandaian tak berarti, habis itu akan kumainkan semacam Ginkang untuk minta petunjuk kepada kalian,” ucap Bun-hiong. Lalu ia berpaling dan berkata kepada seorang pelayan gadis cilik di belakangnya, “Nona ini, silakan ke belakang dan bubutkan sebatang rumput bagi permainanku nanti.”

Pelayan itu mengiakan terus melangkah pergi.

Tidak lama kemudian ia datang kembali dengan membawa sebatang rumput yang panjangnya antara tujuh dim. Bun-hiong menerimanya dengan ucapan terima kasih, lalu ia ambil sebuah mangkuk kosong yang tersedia di meja, ia berdiri, katanya dengan tertawa, “Nah, harap kalian melihat dengan jelas, sekarang juga kupertunjukkan permainan jelek ini.”

Habis berkata, ia mengerahkan tenaga pada tangan kanan, rumput yang lemas itu dibuat tegak lurus menghadap ke udara.

Dengan tenaga dalam membuat rumput yang lemas itu menjadi tegak lurus ke atas, hal ini dapat dilakukan oleh siapa pun yang mempunyai sedikit dasar Lwekang, maka Jik-hoat-kui bertiga tidak merasa heran.

Menyusul Bun-hiong lantas melemparkan mangkuk kosong ke atas dan dengan gesit ia gunakan ujung rumput yang menegak itu untuk menahan pantat mangkuk, kemudian digoyangkan beberapa kali dengan perlahan, maka berputarlah mangkuk kosong itu dengan menggunakan batang rumput itu sebagai sumbu penahan.

Kepandaian ini agak istimewa, tapi juga bukan Kungfu kelas wahid, maka Jik-hoat-kui bertiga tetap tidak memperlihatkan rasa kejut dan kagum.

Bun-hiong lantas berjalan mondar-mandir di ruangan sambil membawa mangkuk kosong berputar yang disangga batang rumput itu, setelah berputar lagi sekian lama mangkuk itu, mendadak ia memasang kuda-kuda dengan kuat lalu membentak, “Pecah!”

“Prak”, tahu-tahu mangkuk kosong itu hancur berantakan serupa meledak di udara. Kejadian ini baru membuat air muka Jik-hoat-kui bertiga sama berubah.

Memang tidak sulit kepandaian menyangga sebuah mangkuk kosong dengan sebatang rumput, tapi untuk menyalurkan tenaga dalam melalui batang rumput dan menghancurkan mangkuk itu, hal ini diperlukan Lwekang mendalam. Untuk ini Jik-hoat-kui bertiga merasa belum mencapai setaraf itu, sebab itulah mereka merasa kagum dan takluk kepada Pang Bun-hiong.

Begitulah tanpa terasa ketiga orang lantas berkeplok dan bersorak memuji.

“Ah, permainan jelek, terima kasih atas pujian kalian,” seru Bun-hiong dengan tertawa. “Sekarang silakan kalian ke luar sana, biar kumainkan lagi sejurus Ginkang untuk menambah kegembiraan kalian.”

Habis bicara ia lantas mendahului melangkah keluar.

Jik-hoat-kui bertiga menduga Ginkang yang akan dipertunjukkan anak muda itu pasti terlebih hebat dan lain daripada yang lain, maka beramai-ramai mereka lantas ikut ke luar.

Bun-hiong langsung menuju ke tengah lapangan, katanya, “Nah, bolehlah di sini saja.”

Segera ia meraba pinggangnya, “sret”, pedang dilolosnya.

Tercengang juga Jik-hoat-kui melihat anak muda itu menghunus pedang, tanyanya, “Pang-siauhiap, engkau bilang hendak mempertunjukkan Ginkang kenapa pakai pedang?”

Ia merasa bukan tandingan Pang Bun-hiong bilamana harus bertanding dengan dia, maka berdebar juga hatinya ketika melihat orang melolos senjata.

Dengan tertawa Bun-hiong menjawab, “Betul, memang hendak kupertunjukkan Ginkang, Ginkang yang akan kumainkan ini bernama ‘Tah-kiam-heng’ (meluncur dengan menginjak pedang).”

Baru habis ucapannya mendadak ia putar pedangnya terus dilemparkan sekuatnya.

Seketika pedang itu berubah selarik cahaya perak dan terbang meluncur cepat ke depan. Menyusul Bun-hiong lantas bersuit panjang, secepat terbang tubuhnya mengapung ke atas dan memburu ke arah meluncurnya pedang, kedua kaki tepat menginjak pada batang pedang dan membiarkan dirinya dibawa terbang ke depan oleh pedang meluncur itu.

Seketika Jik-hoat-kui bertiga melongo dan terbelalak serupa melihat dewa pedang turun dari langit, semuanya terkesima.

Dengan menumpang pedang meluncur itu hingga mencapai enam-tujuh tombak jauhnya barulah daya luncur pedang itu menurun dan tepat sampai di depan gerbang sana.

Kuda Bun-hiong kebetulan tertambat di situ, segera ia tangkap kembali pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarung pedang, lalu melepas tambatan kuda terus mencemplak ke atas kudanya sambil berseru dengan tertawa, “Pit-cecu, terima kasih banyak atas pelayananmu, kumohon diri sekarang!”

Sekali kuda berjingkrak, serentak membedal ke depan secepat terbang ….

Petang esok harinya dia sudah berada di tepi danau Hoan-yang-oh.

Danau Hoan yang terhitung juga danau raksasa, luasnya cuma di bawah Thay-oh, wilayahnya meliputi belasan kabupaten, di tengah danau terdapat beberapa pulau kecil, pemandangan indah permai, danau ini pun banyak menghasilkan ikan hingga banyak kaum nelayan mengandalkan ikan danau sebagai mata pencarian.

Tempat yang dituju Bun-hiong di tepi danau itu bernama Loh-sing-oh, ia tidak tahu di mana tempat tinggal si kakek tukang kail Siau It-ho, ketika dilihatnya di tepi danau berlabuh sebuah perahu nelayan dan di atas perahu ada seorang kakek sedang menjala ikan, segera ia mendekatinya dan menyapa.

Kakek itu berpaling dan bertanya, “Saudara ini ada urusan apa?”

“Cayhe ingin mencari Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, Siau-locianpwe, apakah Lotiang (bapak tua) mengetahui di mana tempat tinggalnya?” kata Bun-hiong.

“Oo,” kakek itu bersuara sambil menuding ke arah utara, “Itu, dia sedang mancing tidak jauh di tepi danau sana, yaitu kakek yang memakai sebuah caping lebar, sekali pandang saja lantas tahu.”

“Terima kasih,” kata Bun-hiong sambil memberi hormat, lalu ia menyusur tepi danau dengan menuntun kudanya.

Tidak jauh ia berjalan, benar juga dilihatnya di tepi danau, di atas sepotong papan apung berjongkok seorang kakek yang memakai sebuah caping lebar dan sedang mancing, tapi di sampingnya ada pula duduk seorang kakek lain yang asyik mengobrol dengan dia.

Kakek kedua itu memegang sebuah buli-buli arak dan sedang membujuk si kakek tukang mancing agar mau minum, katanya, “Ayolah, minum sedikit, takut apa?”

“Tidak, tidak boleh,” si kakek tukang mancing menggeleng kepala. “Bisa celaka kalau sampai bau arak tercium olehnya.”

“Haha, ini kan gampang, asalkan kau pulang agak lambat, tentu akan hilang baunya dan takkan diketahuinya,” ujar si kakek kedua dengan tertawa.

“Hm, mana kau tahu? Hidungnya tajam serupa hidung anjing, segala macam bau dapat diendusnya dengan tepat,” kata si tukang mancing.

“Ai, sungguh aku ikut penasaran bagimu,” ujar si kakek dengan menyesal, “agaknya pada penjelmaan yang lalu engkau telah utang padanya, maka ….”

“Ah, semuanya gara-garaku sendiri, akulah yang linglung dan salah sasaran, ini namanya cari penyakit sendiri, tak dapat menyalahkan orang lain,” ujar si kakek tukang mancing.

“Kenapa tidak kau ceraikan dia saja?” tanya si kakek.

“Wah, tidak, tidak bisa lagi, sekarang aku sudah kecantol dia, serupa lalat melengket pada air gula, biarpun digebah juga tak mau pergi,” ucap si kakek tukang mancing dengan menggeleng kepala.

Si kakek kedua minum lagi seceguk araknya dan berkata pula, “Dia tidak mau pergi, boleh engkau sendiri yang angkat kaki.”

“Memangnya aku bisa pergi ke mana?” ujar si tukang mancing dengan tersenyum getir.

“Ke mana pun jadi, nanti kalau dia sudah pergi juga barulah engkau pulang.”

“Tidak, tidak bisa jadi,” kembali si tukang mancing menggeleng. “Ke mana pun kupergi pasti akan ditemukan olehnya. Bilamana ingin berpisah dengan dia hanya ada suatu cara ….”

“Cara apa?” tanya kawannya.

“Bu … bunuh dia,” ujar Si tukang mancing.

“Kau berani?” tanya si kakek kawannya dengan tertawa.

“Justru aku tidak berani,” kata si tukang mancing dengan menghela napas. “Dirodok, selama hidupku gagah perkasa, siapa tahu sesudah tua justru kebentur pada setan iblis ini, sungguh aku tersiksa sehingga ingin mati tidak bisa, minta hidup juga sukar.”

Mendadak ia seperti teringat sesuatu yang menggembirakan, seketika terkilas secercah cahaya terang pada wajahnya, dengan girang ia berkata, “Hei, kawan, apakah engkau pernah mimpi?”

“Mimpi?” kawannya menegas dengan melenggong. “Tentu saja pernah, beberapa hari yang lalu aku pun bermimpi, mimpi yang menyenangkan, mimpi menemukan sepotong emas murni, tentu saja aku sangat gembira, segera kulari pulang, siapa tahu karena terburu nafsu, kakiku kesandung dan jatuh tersungkur, seketika lantakan emas itu lenyap, karena cemasku segera kusadar dan barulah tahu sedang bermimpi.”

“Haha, aku pun mendapat mimpi, tapi mimpiku jauh lebih baik daripada mimpimu,” tutur si kakek tukang mancing.

“Oo, mimpi bagus apa? Mimpi telah kau bunuh si dia?” tanya kawannya dengan tertawa.

“Bukan, kumimpi bertemu dengan seorang nona secantik bidadari, diri membujukku kabur meninggalkan dia ….”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dari balik sepotong batu karang sana bergema suara orang meraung murka, “Ah, bagus, tua bangka yang tidak mau mampus, berani kau mimpi segala di luar tahu nyonya besar!”

Di tengah suara teriakan murka yang menggelegar itu segera melompat keluar seorang nenek.

Usia nenek ini kurang lebih 60-an, tubuh gemuk besar, mukanya bulat, biarpun sudah tua, tapi kedua pipi berpupur tebal, bahkan alisnya dilukis hingga panjang lentik, baju yang dipakainya juga sangat bagus, cuma lantaran tidak seimbang dengan usianya sehingga tampaknya menjadi serbakonyol malah.

Ia melompat keluar sambil berjingkrak dan meraung murka serupa malaikat maut yang hendak mencaplok mangsanya, bagi orang penakut memang bisa ciut nyalinya.

Si kakek yang asyik minum arak itu ketakutan, sekali lompat ia terjun ke dalam danau dan kabur dengan menyelam ke dalam air.

Sedangkan si kakek tukang mancing hanya duduk diam saja namun tangan yang memegang alat pancing tampak bergemetar.

Dengan marah-marah si nenek mendekati kakek tukang mancing, sebelah kakinya terus menginjak di punggung si kakek sambil membentak, “Ayo, bicara, tua bangka! Lekas bicara tua bangka yang tidak tahu malu, kenapa berani mimpi di luar tahuku dan ingin minggat dengan perempuan lain?!”

Si kakek kelihatan gugup, jawabnya, “Ai, sabar, istriku, jangan marah dulu, lain kali … lain kali aku takkan mimpi lagi.”

Dengan bertolak pinggang si nenek menjengek, “Hm, lekas kau bicara terus terang, bilakah engkau mimpi bergendak dengan perempuan lain?”

“O, aku ti … tidak,” jawab si kakek dengan gelagapan, “aku hanya … bercanda saja dengan si setan air Nyo tua, kami cuma omong iseng belaka.”

“Keparat! Bedebah!” damprat si nenek dengan alis menegak. “Masih berani bohong? Ayo, lekas mengaku terus terang!”

Si kakek melihat Pang Bun-hiong berdiri tidak jauh di sebelah sana, ia menjadi kikuk, lekas ia memohon dengan suara lirih, “Ah, istriku, jangan … jangan marah dulu, bicaralah perlahan sedikit, kan malu didengar orang!”

“Hm, masa kau tahu malu segala?” teriak si nenek. “Aku tidak urus malu atau tidak, pendek kata, kalau tidak bicara terus terang sekali hantam akan kumampuskan kau.”

Si kakek kelihatan serbasusah, cepat ia menjawab, “Baik, baik, akan kukatakan terus terang …. Hal itu terjadi … terjadi pada kemarin dulu ketika aku tidur … tidur siang ….”

“Kurang ajar! Dasar tua bangka,” damprat pula si nenek, “pada waktu siang bolong selagi nyonya besar sadar dengan baik toh kau berani bermimpi main gila dengan perempuan lain, apalagi kalau waktu malam hari ketika nyonya besar sedang tidur, wah, kan tambah berani kau?”

“Aduuh, itu kan cuma mimpi saja,” ujar si kakek. “Mimpi kan khayal belaka dan tidak terjadi sungguhan, buat apa istriku mesti marah-marah begini?”

Kontan si nenek mencak-mencak lagi, dampratnya, “Keparat! Khayalan apa katamu? Bilamana siang kau berani bermimpi begitu, jelas hal itu akibat pikiranmu memang menyeleweng. Ya, kutahu, hatimu sudah berubah, nyonya besar tidak kau pikir lagi, begitu bukan?”

“O, tidak, jangan marah dulu, dengarkan ceritaku,” kata si kakek. “Meski kumimpi seorang perempuan, tapi aku tidak terpikat olehnya. Dia memang membujukku agar minggat bersama dia, tapi aku menolaknya, bahkan kudamprat dia habis-habisan.”

“Apa betul?” si nenek menegas.

“Betul, aku tidak bohong.” jawab si kakek. “Kumaki dia perempuan tidak tahu malu, kubilang engkau ini siluman dari mana, berani berusaha memikat diriku? Hendaknya maklum, aku dan Lau Sam-koh adalah suami-istri saling mencintai sejak dari tiga kali penjelmaan dulu, berdasarkan apa kau berani memecah belah cinta kasih kami suami-istri? Dirodok, lekas enyah dari sini, kalau tidak, sekali hantam kumampuskanmu! Dia menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit.”

“Oo, apa betul?” tanya si nenek, tampaknya dari marah dia menjadi senang.

“Betul, pasti betul,” kata si kakek.

“Baik, jika begitu, biar nyonya besar mengampunimu sekali ini,” ujar si nenek dengan tertawa. “Tapi lain kali bila kau berani sembarang mimpi lagi di luar tahuku, awas, bisa kubinasakanmu.”

“Tidak, pasti tidak lagi,” ucap si kakek berulang-ulang.

Tiba-tiba si nenek mengangkat keranjang ikan si kakek dan diperiksa, katanya, “Sudah berhasil mengail berapa ekor?”

“Wah, hari ini kurang mujur, ikan sama tidak mau terpancing, hanya dapat tiga ekor saja,” tutur si kakek dengan menyesal.

Kembali si nenek merasa kurang senang, teriaknya, “Dasar tua bangka! Kan sudah sering kukatakan padamu, menangkap ikan harus pakai jala. Orang lain sekali jaring lantas dapat beberapa puluh, bahkan ratusan ekor, tapi engkau hanya sekali pancing satu ekor, itu pun menunggu sampai setengah harian. Huh, macam apa kerja cara begini? Kubilang, mulai besok harus kau ganti cara menangkap ikan dengan jala.”

“Wah, tidak bisa,” jawab si kakek sambil menggoyang kepala. “Urusan lain dapat kusanggupi, hanya urusan ini saja, biarpun kau bunuh diriku juga tak bisa kuterima. Adalah hobiku memancing ikan, aku tidak suka menjala ikan.”

“Sialan, memangnya kau kira apa kerjamu?” damprat si nenek dengan gusar. “Kau kira hanya untuk iseng sebagai hobi saja? Keparat, masa kau lupa kau perlu membiayai rumah tangga?”

“Biaya rumah tangga kan juga sudah cukup, asalkan setiap hari berhasil kupancing dua-tiga ekor ikan kan sudah cukup kita makan?” kata si kakek.

“Apa katamu? Cukup kita makan?” teriak si nenek melengking. “Memangnya kebutuhan orang hidup hanya makan saja? Nyonya besar kan perlu uang untuk beli pupur, jika kuminta kau bilang tidak punya uang. Kalau kuminta uang untuk beli baju, kau jawab tidak punya duit. Padahal, coba lihat orang lain, mau apa pun pasti ada, sebaliknya engkau tidak punya apa-apa.”

Sampai di sini mendadak ia menangis, sambil membuang ingus ia berseru pula, “O, dasar nasibku memang sengsara. Padahal lelaki di dunia ini sekian banyak kenapa aku justru kawin dengan tua bangka yang pemalas dan tidak bisa cari duit ….”

Mendadak tercetus dari mulut si kakek, “Bilamana kau anggap aku miskin, boleh saja kau kawin lagi dengan orang lain.”

“Apa katamu? Coba katakan sekali lagi!” teriak si nenek dengan murka. “Jahanam yang tidak punya Liangsim (perasaan bajik), sungguh sialan kawin denganmu, belum ada setengah tahun menikah aku sudah akan kau campakkan, begitu bukan? Hm, hm, tidak bisa, urusan tidak segampang itu. Mau kupergi juga boleh asalkan memenuhi syarat.”

“Apa syaratmu?” tanya si kakek, tampaknya menjadi nekat juga.

“Duit!” ucap si nenek sambil tiga jarinya bergerak tanda fulus.

“Berapa kau minta?” tanya pula si kakek.

“Selaksa tahil,” kata si nenek. “Asal kau bayar satu laksa tahil perak dan segera aku angkat kaki.”

“Buset!” seru si kakek, habis ini ia terus jatuh telentang di atas papan apung serupa orang mati.

Si nenek mengentak kaki, teriaknya, “Ayo bangun, tidak perlu berlagak mati!”

Kakek tukang mancing itu menghela napas, katanya, “Boleh kau pulang dulu, aku masih ingin mengail ikan, bisa jadi Tuhan Maha Pengasih kasihan padaku dan memberkahiku dapat mengail selaksa tahil perak.”

“Tidak perlu lagi, ayolah ikut pulang saja, nanti kita bikin perhitungan di rumah,” teriak si nenek.

Agaknya si kakek tidak berani pulang, ia masih terus rebah saja tak mau bangun.

“Hm, memangnya apa maksudmu ini?” bentak si nenek dengan mendelik. “Ingin mati saja di sini?”

Menyaksikan semua itu, Bun-hiong merasakan bukan lagi lelucon, ia lantas mendekati mereka dan menyapa dengan hormat, “Salam, Toanio ini.”

Si nenek hanya meliriknya sekejap, jawabnya dingin, “Kau mau apa?”

Bun-hiong mengeluarkan sepotong uang perak yang berbobot lebih sepuluh tahil, katanya, “Baru saja kutemukan uang perak ini di sekitar sini, mungkin uang perak Toanio yang hilang?”

Dasar mata duitan, melihat uang perak itu, seketika wajah si nenek berseri, tanpa permisi uang perak itu terus disambarnya sambal berseru, “Aha, betul, betul! Memang uangku yang baru saja hilang, aku lagi kelabakan mencarinya, ternyata ditemukan oleh Engkoh cilik ini. Ai, sungguh anak yang jujur, terima kasih ya!”

“O, jangan sungkan,” jawab Bun-hiong dengan tertawa.

Serentak si kakek merangkak bangun dan berkata, “Eh, nanti dulu! Kataku istriku yang baik, bilakah engkau kehilangan uang perak sejumlah itu ….”

Si nenek mengentak kaki dengan keras, bentaknya dengan gusar, “Keparat, lebih baik kau tutup mulut. Uang perak ini memang milikku yang hilang.”

Kakek itu menghela napas, katanya sambil memandang Bun-hiong, “Adik cilik, untuk urusan apa kau datang ke sini?”

“Cayhe Pang Bun-hiong,” tutur Bun-hiong sambil memberi hormat. “Konon di tepi danau Hoan-yang ini berdiam seorang Bu-lim-cianpwe (angkatan tua dunia persilatan) yang bernama Hoan-yang-tio-ong Siau It-ho, maka sengaja kudatang berkunjung padanya.”

Habis bicara ia menjura lagi dengan sangat hormat.

“Aku sendiri Siau It-ho adanya,” jawab si kakek dengan muka merah. “Ada urusan apa adik cilik mencariku?”

Bun-hiong berlagak kegirangan, katanya, “Aha, kiranya engkau inilah Siau-locianpwe, sungguh sangat beruntung dapat bertemu di sini.”

Habis berkata kembali ia memberi hormat.

Siau It-ho alias si kakek tukang mancing dari danau Hoan-yang itu menghela napas, katanya, “Aku ini bukan Bu-lim-cianpwe apa segala, justru orang tua yang paling tidak berguna di dunia ini ialah diriku. Bilamana adik cilik ini tidak ada urusan, silakan pulang saja.”

Bun-hiong anggap tidak mendengar, ia berpaling kepada si nenek dan berkata, “Jika demikian, Toanio ini tentulah Lau Sam-koh Lau-toanio yang termasyhur itu?”

Cay-keh-hujin Lau Sam-koh alias si nyonya suka kawin itu tertawa, jawabnya, “Betul, aku inilah Lau Sam-koh.”

“Bagus sekali,” Bun-hiong tertawa. “Ada sesuatu berita ingin kusampaikan kepada Lau-toanio, yaitu … eh, kabarnya Lau-toanio adalah Suci si raja cakar elang Oh Kiam-lam, betul?”

“Ya, memang begitulah,” sahut Lau Sam-koh.

“Tentang terbunuhnya Eng-jiau-ong, apakah Toanio sudah tahu?” tanya Bun-hiong.

“Tahu, dia sudah mati empat-lima tahun yang lalu,” ujar Sam-koh dengan mengangguk. “Mestinya aku ingin berziarah ke makamnya, tapi bilamana ingat waktu hidupnya dia terlampau kikir terhadapku, sungguh aku sangat menyesal dan urung mengunjunginya.”

“Oo, apakah waktu hidupnya Eng-jiau-ong memperlakukan Toanio kurang baik?” tanya Bun-hiong.

“Masa tidak,” jawab Sam-koh. “Dia menjadi pimpinan kalangan Lok-lim ketujuh provinsi daerah selatan, harta bendanya bertumpuk setinggi gunung, tapi pelitnya bukan main. Pernah satu kali keuanganku agak seret, kudatang padanya untuk pinjam sedikit, siapa tahu dia sama sekali tidak mau memberi pinjaman, apalagi kasih percuma. Coba, apa tidak bikin mendongkol orang?”

“Wah, jika demikian, memang betul Eng-jiau-ong agak keterlaluan, masa sama sekali tidak ingat hubungan baik antara sesama saudara seperguruan?” kata Bun-hiong.

Tiba-tiba si kakek tukang mancing menimbrung, “Eh, adik cilik, jangan percaya pada keterangan sepihak saja. Manusia yang tamak tentu saja dibenci oleh siapa pun, setahuku ….”

“Memangnya kenapa?!” bentak Lau Sam-koh mendadak dengan mendelik.

Seketika Siau It-ho mengkeret, ia angkat pundak dan tidak berani bersuara lagi.

Bun-hiong berdehem perlahan, katanya dengan tertawa, “Meskipun Eng-jiau-ong kurang baik, tapi adik perempuannya si Oh Beng-ay kan tidak berdosa, betul tidak?”

“Ah, dia juga bukan nona yang baik,” ucap Lau Sam-koh. “Setiap kali kudatang mencari Oh Kiam-lam, selalu dia acuh tak acuh terhadapku, jelas dia memandang rendah padaku.”

Sampai di sini Bun-hiong mulai merasakan dugaan sendiri jelas meleset, nyata orang yang diincar dan hendak ditangkap Tui-beng-poan-koan bukanlah Cay-keh-hujin Lau Sam-koh ini. Sebab Lau Sam-koh ternyata tidak mempunyai hubungan baik dengan Oh Kiam-lam dan adik perempuannya, tidak mungkin Tui-beng-poan-koan menggunakan Oh Beng-ay sebagai umpan untuk memancingnya.

Tapi mengingat jauh-jauh ia sudah datang kemari, kan juga tambah baik bilamana desas-desus disebarkan sekalian kepadanya.

Maka ia lantas berkata, “Keadaan nona Oh itu sekarang sangat harus dikasihani, apakah Toanio tidak ingin menolongnya?”

Menjengkit mulut Lau Sam-koh, ucapnya, “Huh, mana dia palu dikasihani? Dia menjual badan di Liu-jun-ih di Kim-tan, setiap bulan beribu tahil perak pendapatannya, hidupnya jauh lebih senang daripadaku.”

“Tapi sekarang dia mengalami apes dan diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui, jiwanya terancam bahaya,” tutur Bun-hiong.

“Oo, masa dia diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?” melengak juga Lau Sam-koh.

“Ya, memang betul,” kata Bun-hiong.

“Bagus, itu namanya kualat kontan,” seru Sam-koh. “Nyata Tuhan memang adil dan selalu memberi ganjaran setimpal terhadap orang yang tak berbudi.”

Mendengar ucapan ini Bun-hiong tambah yakin dugaannya telah salah sasaran, tapi ia coba tanya lagi, “Jadi Toanio sama sekali tidak mau menolongnya?”

“Hm, aku justru berharap dia lekas mampus, untuk apa kutolong dia?” kata Sam-koh.

“Apakah Toanio tahu dia masih mempunyai sanak keluarga lain?” tanya Bun-hiong.

“Tidak ada lagi, mereka kakak beradik sama sekali tidak mempunyai sanak famili, seorang saja tidak ada.”

“Wah, sungguh malang ….” Bun-hiong menghela napas perlahan.

“Pendek kata, jika kedatanganmu hanya ingin minta kutolong dia, maka jangan kau harap lagi,” kata Sam-koh.

Tiba-tiba teringat oleh Bun-hiong bahwa maksud dan tujuan Tui-beng-poan-koan menyuruhnya menyebarkan berita bohong tentang Oh Beng-ay diculik oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui, jika tujuannya untuk menjebak seseorang, maka orang ini sangat mungkin ialah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui sendiri.

Maka ia coba ganti pokok persoalan dan bertanya, “Ingin kunumpang tanya lagi satu hal, apakah Toanio tahu di mana tempat tinggal Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?”

“Tidak tahu,” jawab Sam-koh.

Bun-hiong lantas tanya Siau It-ho, “Apakah Siau-locianpwe tahu?”

“Aku pun tidak tahu,” jawab si kakek tukang mancing. “Sudah lama sekali Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui menghilang dari dunia persilatan, sangat sedikit orang yang tahu tempat sembunyinya.”

Bun-hiong merasa tidak ada gunanya tinggal lebih lama di sini, segera ia memberi salam kepada mereka dan berkata, “Jika demikian, biarlah Cayhe mohon diri saja.”

Ia lantas mencemplak ke atas kudanya dan meneruskan perjalanan lagi yang tidak jelas tempat tujuannya ….

Selanjutnya setiap kali bertemu dengan orang persilatan selalu dia menyiarkan berita tentang diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui. Tapi bisa jadi nama Kiu-bwe-hou terlampau disegani, meski ada orang menaruh simpati terhadap nasib jelek Oh Beng-ay, tapi tidak ada orang yang berani menyatakan hendak menolongnya. Dengan sendirinya terlebih tidak ada orang yang berani mendesak Bun-hiong agar memberitahukan di mana tempat tinggal Kiu-bwe-hou.

Ia terus melanjutkan perjalanan hingga pegunungan Cui-wi-hong di selatan Ohlam, di sini urusannya baru ada perkembangan.

Cui-wi-hong adalah salah satu tempat tamasya yang cukup terkenal di daerah ini, waktu Bun-hiong melarikan kudanya lewat kaki gunung, tiba-tiba dilihatnya seorang setengah umur berdandan sebagai kaum budak muncul dari dalam hutan di kaki gunung.

Orang ini seperti sengaja menanti kedatangan Pang Bun-hiong, ia mengadang di tengah jalan dan memberi hormat sambil menegur, “Apakah pendatang ini Hou-hiap Pang Bun-hiong adanya?”

Bun-hiong menahan lari kudanya, ditatapnya orang itu sejenak, lalu balas tanya, “Siapakah saudara?”

“O, hamba she Siang bernama Po-hok,” jawab orang setengah baya itu. “Atas perintah majikan, hamba disuruh mengundang Pang-siauhiap agar sudi mampir sebentar ke perkampungan kami.”

“Siapakah majikanmu?” tanya Bun-hiong.

“Setelah bertemu tentu Pang-siauhiap akan tahu sendiri.”

“Masa tidak dapat kau jelaskan sekarang?” kata Bun-hiong dengan tertawa.

“Biarpun kujelaskan sekarang juga Pang-siauhiap takkan paham urusannya,” ujar orang itu.

Bun-hiong coba tanya lagi, “Di mana letak perkampungan kalian?”

“Di lereng gunung ini,” tutur orang itu.

“Baiklah, coba tunjukkan jalannya,” jawab Bun-hiong tanpa sangsi.

Orang itu lantas membalik dan mendahului menuju ke lereng bukit sana. Dengan tetap naik kuda Bun-hiong mengikuti jejak orang.

Sejak meninggalkan Bok-kan-san tempo hari belum pernah ditemuinya suatu urusan yang sekiranya menarik, maka sudah sekian lama ia merasa kecewa dan kesal, maka urusan yang ditemuinya sekarang cukup menarik baginya, tanpa pikir ia lantas ikut orang untuk menemui majikannya. Meski ia pun menyadari kepergiannya ini ada kemungkinan akan menghadapi bahaya, tapi Bun-hiong memang seorang petualang yang suka menyerempet bahaya, semakin aneh dan berbahaya sesuatu urusan, semakin menarik untuk dikerjakannya.

Orang itu membawanya melintasi lereng bukit, sepanjang jalan tidak buka mulut lagi.

Setelah menyusuri hutan yang lebat dan melintasi tanjakan yang terjal, akhirnya mereka sampai di suatu lereng bukit yang sunyi dan indah. Di atas lereng bukit tampak ada bangunan yang berderet-deret luas.

Perumahan itu dilingkari pepohonan yang rindang, anehnya di depan perumahan itu ada sebuah kolam yang indah dengan airnya yang tenang dan jernih serupa cermin.

Orang setengah baya ini membawa Bun-hiong masuk ke kompleks perumahan, tertampak bangunan sangat megah, serupa rumah kaum hartawan atau bangsawan.

Cuma di dalam perumahan yang megah dan luas ini suasana sunyi senyap, tidak terlihat bayangan orang kedua.

Diam-diam Bun-hiong menarik napas, pikirnya, “Sungguh megah perumahan di sini, melihat gelagatnya pemilik perumahan ini pasti seorang tokoh luar biasa, tapi mengapa tidak kelihatan bayangan seorang pun?”

Secara naluri ia mulai waspada.

Setelah berada di tengah perumahan, tampak terlebih jelas setiap bangunan megah itu juga dipajang dengan sangat mewah, bahkan setiap perabotnya seperti sengaja dirancang secara serasi, semuanya serbabagus.

Orang itu membawa kuda Bun-hiong dan ditambat di samping sana, lalu membawanya lagi masuk ke suatu halaman dan akhirnya tiba di depan sebuah gedung berloteng yang megah.

Ruangan gedung itu terlebih mentereng, setiap alat perabotannya tergosok dengan mengilat, semuanya serbaantik dan bernilai tinggi, dapat dibayangkan tuan rumah pasti orang kaya raya yang sukar dilukiskan.

Orang tadi berhenti di ruang tamu, katanya sambil menghormat, “Silakan Pang-siauhiap duduk dulu, hamba akan masuk melaporkan kedatanganmu.”

Bun-hiong mengangguk dan duduk, ia pandang segala sesuatu yang luar biasa di dalam ruangan, dengan heran ia membatin, “Biasanya kusangka ayahku sudah cukup kaya raya, tapi kalau dibandingkan Cengcu di sini jelas seperti si kerdil dibanding raksasa.”

Dalam pada itu orang tadi telah masuk ke ruang dalam dengan menyingkap tirai. Terdengar suaranya lagi berkata di dalam, “Lapor Hujin (nyonya), Hou-hiap Pang Bun-hiong sudah hamba undang kemari.”

“Silakan dia masuk,” sahut seorang. Suaranya nyaring merdu.

Seketika Bun-hiong melengak, pikirnya, “Buset, sang cengcu ternyata seorang perempuan?!”

Tentu saja ia tambah bingung.

Dilihatnya orang setengah baya tadi muncul kembali dan berkata kepadanya dengan tertawa, “Majikan perempuan kami berada di ruang dalam, silakan Pang-siauhiap masuk saja.”

“Dan di mana majikan lelaki kalian?” tanya Bun-hiong sambil berdiri.

“Di sini tidak ada majikan lelaki,” jawab orang tadi.

“Hah, tidak ada majikan lelaki?” Bun-hiong menegas dengan melenggong.

“Betul,” orang itu tersenyum. “Silakan masuk saja, majikan perempuan kami takkan membikin susah padamu.”

Habis bicara ia memberi hormat pula, lalu tinggal pergi.

Keruan Bun-hiong kebingungan, sampai sekian lama ia berdiri di situ dengan sangsi. Akhirnya ia mendekati pintu yang bertirai itu dan melangkah ke dalam.

Ternyata di balik pintu bertirai ini adalah sebuah kamar anak gadis yang indah, semua peralatannya terlebih mewah dan bagus, ada sebuah meja berukir bercat merah yang masih baru, kelambu warna tipis dan tergantung di kedua sisi dengan cantolan perunggu putih. Tepian kelambu atas adalah kain bersulam bunga merah, selain itu ada lagi hiasan dua buah mainan berbentuk keranjang bunga yang tergantung di samping kelambu.

Kecuali itu, seluruh barang yang terlihat, baik meja kursi, lemari dan sebagainya, semuanya benda berukir antik yang sukar dinilai. Di dinding bergantung lukisan kuno dan seni tulis yang bagus. Tampaknya majikan perempuan di sini bukan saja pandai menikmati kehidupan ini, bahkan juga seorang terpelajar.

Akan tetapi nyonya rumah itu ternyata tidak terlihat di dalam kamar. Kamar ini kosong melompong.

Bun-hiong jadi melenggong pula, ia coba tanya, “Hei, Cayhe Pang Bun-hiong berada di sini, di manakah tuan rumahnya?”

“Aku berada di sini,” terdengar suara orang menjawab.

Suaranya merdu sedap didengar, dan berkumandang dari balik daun pintu sebelah lain.

Kembali Bun-hiong tercengang, katanya, “Hujin ingin bertemu denganku, kenapa tidak keluar kemari saja?”

Nyonya rumah itu berteriak dari dalam, “Silakan masuk saja ke sini, pintu tidak terkunci.”

Bun-hiong merasakan sangat mungkin terdapat perangkap di sini, tapi dia memang seorang petualang yang suka menyerempet bahaya, terutama bahayanya orang perempuan, segera ia mendekat ke sana, ia coba mendorong daun pintu itu.

Dengan enteng daun pintu lantas terpentang, sekali pandang, tanpa terasa ia terperanjat.

Nyonya rumah ini ternyata sangat cantik!

Usianya baru 25-26 tahunan, rambutnya tersanggul tinggi, mukanya bulat telur dengan pipi kemerahan, alis panjang lentik, mata besar jernih, sungguh sukar dilukiskan cantiknya, siapa pun pasti akan kesengsem melihat kecantikannya.

Akan tetapi yang membuat Bun-hiong terperanjat bukan kecantikannya melainkan setengah badannya bagian atas yang telanjang itulah, setengah badannya bagian bawah terendam di dalam sebuah bak besar berwarna emas. Rupanya nyonya rumah ini sedang mandi.

Setengah badan bagian atas tampak putih bersih serupa salju, dadanya yang bernas kelihatan samar-samar tergenang air, sungguh cantik dan memikat dan membuat orang lupa daratan.

Pang Bun-hiong sampai melongo menyaksikan adegan mendebarkan ini.

Sudah banyak perempuan yang dikenalnya, namun belum pernah melihat perempuan cantik dan sexy serupa ini. Sungguh ia ingin menubruk ke sana tanpa peduli risiko apa pun, meski semua ini suatu perangkap juga tak diragukannya, cukup sekali saja mendapatkan si dia, mati pun dia rela.

Akan tetapi dia hanya berdiri diam saja, hanya memandangnya dengan kesima tanpa bergerak.

Perempuan itu ternyata tidak canggung-canggung, perlahan ia main air mandi di dalam bak, mulutnya yang mungil dan bibir kemerahan mengeluarkan suara mengikik nyaring, sapanya, “Pang Bun-hiong, selamat datang!”

“Ya, selamat nona!” jawab Bun-hiong dengan tersenyum, tanpa terasa mukanya menjadi merah sendiri.

“Setiap hari pada waktu begini aku mesti mandi dan berdandan sehingga tak dapat meladenimu dengan baik,” ujar perempuan itu dengan lagak menggiurkan.

“Ah, tidak apa-apa, jangan sungkan,” kata Bun-hiong tertawa. “Silakan selesaikan mandimu.”

Mata si cantik yang jeli itu memantulkan cahaya terang yang memikat, katanya dengan tertawa, “Sungguh aku merasa senang dan bahagia dapat mengundangmu ke sini.”

“Ah, dapat bertemu dengan nona, sungguh bahagia dan suatu kehormatan bagiku,” seru Bun-hiong.

“Sudah lama kudengar nama kebesaran Hou-hiap,” ucap perempuan itu. “Setelah bertemu hari ini, nyata memang tidak bernama kosong.”

Bun-hiong tertawa dan menegas, “Maksud nona mengenai urusan apa?”

“Gagah, cakap, romantis,” kata si perempuan.

“Haha, terima kasih atas pujian nona,” seru Bun-hiong tertawa. “Tapi kalau dibandingkan nona, aku ini tidak lebih cuma seorang lelaki kasar belaka.”

“Tidak, engkau memang berbeda daripada kebanyakan lelaki umumnya.”

“Ah, masa?”

“Betul,” kata perempuan itu. “Lelaki lain bilamana melihatku dalam keadaan begini, tentu akan berlagak gugup dan kelabakan, tapi engkau ternyata tidak.”

“Hal ini memang betul,” jawab Bun-hiong. “Soalnya aku memang suka memandang orang perempuan, terlebih perempuan mahacantik dan sukar dicari. Setiap kesempatan yang terbuka bagiku biasanya tidak kusia-siakan.”

Perempuan itu tertawa cekikikan, katanya, “Ranjang orang perempuan juga kuburan bagi kaum pahlawan, apakah engkau tidak takut?”

“Begitulah kata orang, tapi sejak dulu kala hingga kini, berapa banyak pahlawan yang tahan pikatan?” ujar Bun-hiong dengan tersenyum.

“Hah, pikiranmu ternyata cukup terbuka,” ucap perempuan itu. “Eh, di tempat tidurku ada sepotong bajuku, tolong ambilkan untukku.”

“Baik,” jawab Bun-hiong.

Ia putar balik ke depan tempat tidur dan mengambil baju yang dimaksud, padahal itu bukan baju melainkan sepotong daster terbuat dari sutra tipis warna jambon. Ia masuk lagi ke kamar mandi, tanyanya, “Taruh di mana?”

“Bawa sini,” kata perempuan itu sambil menjulurkan tangannya yang putih halus.

Bun-hiong mendekati bak emas itu dan menyodorkan baju tipis itu.

Sesudah baju diterima si dia, Bun-hiong coba menyelentik perlahan bak warna emas itu, seketika ia berseru kaget, “Hah, ternyata emas tulen.”

“Memangnya kau sangka tembaga?” tukas perempuan itu dengan tertawa.

“Wah, biarpun permaisuri raja juga akan iri padamu,” ujar Bun-hiong.

“Huh, aku justru tidak kepingin menjadi permaisuri segala,” mata si perempuan. “Orang yang mau menjadi permaisuri atau selir raja sungguh harus dikasihani, dia tidak tahu di dunia ini masih banyak lelaki yang jauh lebih menyenangkan daripada raja.”

“Bilamana ucapanmu ini didengar oleh raja, tentu dia akan melongo,” kata Bun-hiong dengan bergelak.

“Baiklah, sekarang silakan kau putar ke sana,” pinta perempuan itu.

Bun-hiong menatap bagian dada orang sambil menjilat bibir, “Apakah tidak perlu kubantumu?”

“Tidak perlu, aku dapat bangun sendiri, bahwa orang perlu dipegang segala, itu cuma pura-pura saja.”

Tanpa bicara lagi Bun-hiong lantas membalik tubuh.

Perempuan itu berdiri dari bak mandi, diambilnya sepotong handuk di tepi bak untuk mengusap tubuhnya yang basah, lalu daster tipis itu dikenakannya, katanya kemudian, “Baiklah, sekarang boleh menghadap ke sini.”

Waktu Bun-hiong membalik tubuh lagi, tertampak tubuh si dia yang samar-samar tertutup daster tipis itu padat dan putih mulus, garis tubuhnya yang menggiurkan serta bagian tertentu yang serupa … sungguh membuat jantungnya berdebar keras.

Perempuan itu tertawa, katanya, “Marilah kita duduk di kamar.”

Segera ia mendahului melangkah ke kamar tidurnya dengan berlenggak-lenggok.

Bun-hiong ikut ke situ, tentu saja ia terangsang, katanya, “Sedemikian luas perumahan nona ini, tapi tidak tampak penghuni yang lain, apakah semuanya bersembunyi?”

“Tidak, jangan khawatir,” kata si dia. “Di perumahan ini seluruhnya cuma ada tiga orang. Yang pertama ialah diriku, orang kedua adalah Siang Po-hok, budak yang membawamu kemari tadi, orang ketiga adalah si pelayan cilik, Jiu-goat.”

Sambil bicara perempuan itu duduk di tepi pembaringan.

“Masa di sini tidak ada tuan rumah?” tanya Bun-hiong.

“Ada, tapi sudah mati.”

“Oo, dia itu apamu?”

Perempuan itu berdiri dan menuju ke depan meja rias dan mulai menyisir rambut sambil menjawab, “Suamiku.”

“Wah, punya istri secantik ini, tapi tidak dapat menikmati hidup bahagia, sungguh kasihan,” kata Bun-hiong.

“Dia juga sudah cukup hidup nikmat,” ujar si perempuan dengan tertawa.

“Siapa namanya?” tanya Bun-hiong.

“Ah, sudahlah, sekarang jangan kita bicara tentang dia,” ujar si dia.

“Kalau begitu, marilah kita bicara dirimu saja,” kata Bun-hiong dengan tertawa. “Apakah boleh kutahu she dan namamu yang harum?”

“Kau ingin tahu?” perempuan itu menegas. “Diriku ini memang secantik bidadari, tapi hatiku berbisa melebihi ular dan kalajengking, maka bolehlah kau sebut diriku sebagai Coa-kat-bijin (si bidadari ular dan kalajengking) saja.”

Bun-hiong merasa tertarik oleh keterangan orang, katanya dengan tertawa, “Aku tidak takut pada Coa-kat-bijin, aku justru takut pada Siang Po-hok dan si pelayan Jiu-goat yang belum kulihat.”

Perempuan itu alias Coa-kat-bijin tertawa, “Jangan takut, tanpa panggilanku, tidak nanti Jiu-goat berani masuk ke sini, apalagi Siang Po-hok, dia seorang kasim (kebiri), terhadap orang perempuan dia cuma nafsu besar tenaga kurang.”

“Dan ada keperluan apa engkau mengundangku ke sini?” tanya Bun-hiong.

Coa-kat-bijin diam saja, entah tidak dengar atau sengaja tidak menjawab.

Maka Bun-hiong tanya pula, “Dari mana kau tahu aku akan lalu di sini?”

“Kudengar dari orang,” kata Coa-kat-bijin.

“Siapa yang bilang padamu?” desak Bun-hiong.

Coa-kat-bijin menaruh sisirnya, lalu berpaling dan tertawa mengikik, katanya, “Hihi, sekarang jangan tanya hal-hal demikian, mau?”

Bun-hiong menuju ke sana dan menutup pintu, lalu mendekati si dia, desisnya dengan tertawa, “Aku tidak ingin menjadi kekasihmu selamanya, tapi kalau cuma tinggal semalam saja di sini tentu saja boleh.”

Habis berkata si dia lantas dipondongnya dan dibawa ke tempat tidur ….

*****

Tidak terjadi sesuatu yang menakutkan atau menyusahkan Pang Bun-hiong.

Apa yang terjadi ini sungguh suatu kejutan menyenangkan baginya.

Tapi Bun-hiong tahu, kecuali untuk menghilangkan “dahaga”, pasti si dia masih mempunyai maksud tujuan tertentu.

Begitulah dengan santai ia duduk bersandar di tepi ranjang sambil minum sup sarang burung yang diantarkan Jiu-goat, ia tanya dengan tersenyum, “Apakah engkau sering berbuat begini?”

Coa-kat-bijin menggelendot di sampingnya, jawabnya dengan mata terpejam, “Tidak, tidak sering ….”

“Masa!” kata Bun-hiong.

“Betul,” desis si cantik. “Soalnya lelaki yang muda dan gagah cakap kan tidak banyak.”

“Masa tidak punya kenalan lama?”

“Tidak, aku tidak suka main pacar-pacaran, terlalu cemplang rasanya.”

“Orang yang pernah berkenalan denganmu tidak lagi datang mencarimu?”

“Tidak, cukup sekali saja dan tidak pernah datang lagi,” tutur Coa-kat-bijin. “Sebab sudah kuperingatkan mereka dilarang datang, bila datang lagi pasti kubunuh mereka, maka tidak ada yang berani kemari lagi.”

“Mana tidak pernah terjadi ada yang datang pula?” tanya Bun-hiong dengan tertawa geli.

“Ada juga.”

“Oo, lantas benar kau bunuh dia?”

Si cantik meraba dada sendiri yang montok dan memikat itu, ucapnya perlahan, “Ya, berturut-turut kubunuh tujuh orang sampai sekarang.”

Diam-diam Bun-hiong merasa ngeri, tanyanya pula, “Sebenarnya sebab apa engkau membunuh mereka?”

“Hanya ada satu sebab,” tutur Coa-kat-bijin alias si cantik berbisa. “Yaitu, aku cuma suka kepada orang lelaki, tapi tidak kenal cinta.”

“Wah, jika begitu, bila kudatang lagi kelak, lantas bagaimana?” tanya Bun-hiong.

“Sama juga,” ucap si cantik sambil menggigit perlahan ujung telinga anak muda itu dengan napasnya yang khas. “Kau pun akan kubunuh terkecuali kedatanganmu nanti atas persetujuanku.”

“Tapi aku takkan datang lagi,” ucap Bun-hiong dengan tak acuh.

“Kutahu, sudah banyak perempuan yang pernah kau kenal, bukan?”

“Ya, memang.”

“Bagaimana menurut pendapatmu diriku dibandingkan perempuan lain?”

“Jauh lebih merangsang.”

Si cantik tersenyum, “Jika begitu, jadi engkau memang suka kepada perempuan yang genit dan sexy?”

“Dulu tidak suka, tapi sekarang aku mulai suka,” jawab Bun-hiong. “Apakah kau tahu seorang yang bernama Liong-hiap Liong It-hiong?”

“Ya, tahu, cuma sayang belum pernah bertemu dengan dia,” jawab Coa-kat-bijin.

“Dia sahabatku, dia yang memberitahukan padaku bahwa makin genit seorang perempuan makin menyenangkan, sekarang aku percaya.”

“Wah, menurut ceritamu ini, dia pasti seorang lelaki yang sangat menarik.”

“Betul, dia memang sangat menarik.”

“Maukah kau ajak dia ke sini dan perkenalkan padaku?”

“Baik, bila ada kesempatan pasti akan kubawa dia ke sini.”

“Bilamana dia dapat memuaskanku, sesuai kebiasaanku, akan kubayar dia. Tapi jika cuma potongannya saja sedap dipandang tapi tidak enak dimakan, sesuai peraturan pula akan kubunuh dia.”

Bun-hiong berjingkat kaget, serunya, “Hah, terhadap lelaki yang tidak dapat memuaskan seleramu tentu akan kau bunuh?”

“Betul,” jawab Coa-kat-bijin tertawa. “Nah, kau takut tidak?”

Bergidik juga Bun-hiong, katanya, “Wah, untung aku tidak membuatmu kecewa, apakah tadi aku dapat menunaikan tugas dan memenuhi kehendakmu?”

Coa-kat-bijin mengecup pipinya sekali, katanya, “Engkau sangat tangkas, aku puas dan berterima kasih.”

Bun-hiong menaruh mangkuk sarang burung, lalu merangkul pinggang si dia yang telanjang itu, digelitiknya perlahan dan bertanya dengan tertawa, “Kapan akan kau enyahkan diriku?”

Si cantik ternyata takut geli, dipegangnya tangan Bun-hiong yang nakal itu, jawabnya dengan mengikik tawa, “Pergilah besok.”

“Jika begitu, jadi betul aku boleh tinggal satu malam di sini!”

Si cantik mengangguk, “Ya, makanya perlu kau sayangi waktu semalam ini, sedetik berharga seribu tahil emas, betul tidak?”

“Bicara tentang nilai emas aku jadi ingin tanya padamu,” ucap Bun-hiong dengan tertawa. “Mengapa suamimu sedemikian kaya raya!”

“Sebab dia seorang kepala bandit,” jawab Coa-kat-bijin. “Harta warisan yang ditinggalkannya kepadaku biarpun kugunakan untuk foya-foya juga takkan habis tujuh turunan.”

Tergerak hati Bun-hiong, cepat ia tanya, “Sesungguhnya siapa suamimu!”

“Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam,” jawab Coa-kat-bijin.

Mata Bun-hiong terbelalak, “Aha, kiranya engkau istri Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam?!”

“Aku bukan istrinya yang sah,” tutur Coa-kat-bijin. “Sesungguhnya aku cuma salah seorang perempuan simpanannya saja.”

Seketika terkilas semacam pikiran Bun-hiong, ia menduga sangat mungkin orang yang diincar Tui-beng-poan-koan ialah perempuan cantik berbisa ini, segera ia tanya, “Kudengar Oh Kiam-lam sudah dibunuh orang, sesungguhnya siapakah pembunuhnya?”

“Entah, aku pun tidak tahu,” perlahan Coa-kat-bijin menggeleng.

“Konon dia terbunuh sehabis merampok uang pemerintah sejumlah sejuta tahil perak, kau tahu hal ini?” tanya Bun-hiong pula.

“Tahu,” jawab si cantik hambar.

“Dan satu juta tahil perak itu diberikan seluruhnya kepadamu?”

Si cantik menggeleng, “Tidak, cuma uang yang ditinggalkannya untukku memang sangat banyak. Kau tahu dia memang seorang kaya, kutaksir kekayaannya tidak kurang dari tiga juta tahil perak.”

“Dan setelah dia mati, jatuh kepada siapa kekayaannya itu?” tanya Bun-hiong.

“Entah, tidak diketahui ke mana perginya harta warisannya.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya Bun-hiong tercengang.

“Memang begitulah keadaan yang sebenarnya, tidak ada seorang pun tahu di mana beradanya harta bendanya sebanyak itu, termasuk ketujuh saudara angkatnya,” tutur Coa-kat-bijin tegas.

“Sungguh aneh, masa dia sengaja menyembunyikan harta kekayaannya itu?” ujar Bun-hiong.

“Juga mungkin dirampas oleh orang yang membunuhnya itu,” tukas Coa-kat-bijin.

“Apakah Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh tidak mencurigaimu?”

Si cantik tertawa, “Jika mereka mengetahui Oh Kiam-lam mempunyai simpanan serupa diriku tentu saja mereka akan mencurigaiku dan yakin harta kekayaan Oh Kiam-lam telah diserahkan padaku.”

“Sama sekali mereka tidak tahu akan dirimu?” heran juga Bun-hiong.

“Ya, tidak tahu,” jawab Coa-kat-bijin. “Setiap setengah tahun baru Oh Kiam-lam datang kemari satu kali untuk tetirah.”

“Engkau memberi keterangan ini kepadaku, tidak khawatir akan kusampaikan kepada Ang-liu-soh Ban Sam-hian bertujuh?”

“Tidak, sebab kuyakin engkau takkan berbuat demikian,” jawab si cantik dengan tertawa.

“Betul, tak mungkin kulakukan hal ini, cuma, mengapa kau ceritakan hal-hal ini kepadaku?” tanya Bun-hiong pula dengan tertawa.

“Sebab ingin kubalas budi kebaikan Oh Kiam-lam terhadapku,” jawab Coa-kat-bijin. “Maka ada niatku hendak menolong Oh Beng-ay.”

“O, berita mengenai diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui juga sudah kau dengar?” tanya Bun-hiong.

Coa-kat-bijin mengangguk, “Ya, kudengar engkau pernah membuntuti Kiu-bwe-hou dan mengetahui tempat tinggalnya.”

“Betul, kutahu sarang rase ekor sembilan itu, tapi tidak dapat kuberi tahukan padamu,” jawab Bun-hiong.

“O, apakah kau khawatir jiwaku akan melayang di tangan Kiu-bwe-hou?”

“Betul, bisa jadi engkau berkepandaian tinggi, tapi Kongsun Siau-hui adalah iblis tua yang sudah termasyhur sejak puluhan tahun lalu, engkau mutlak bukan tandingannya.”

“Aku tidak perlu langsung bergebrak dengan dia, aku mempunyai cara sendiri untuk menyelamatkan nona Oh.”

“Maksudmu, dengan mengorbankan kecantikanmu?” tanya Bun-hiong.

“Betul,” si cantik tertawa. “Kudengar Kiu-bwe-hou adalah iblis penggemar orang perempuan, maka aku ingin belajar kenal dengan dia.”

“Wah, tidak boleh jadi,” Bun-hiong menggeleng kepala. “Jika engkau berhubungan baik dengan dia, itu sama dengan setangkai bunga segar ditancapkan di atas seonggok tahi kerbau.”

“Hihihi,” si cantik terkikik. “Aku ini bukan bunga segar, paling-paling aku cuma setangkai bunga mawar yang berduri. Nah, mau beri tahukan padaku sarang Kiu-bwe-hou?”

“Tidak, tidak boleh,” berulang Bun-hiong menggeleng kepala.

Mendadak dari bawah selimut Coa-kat-bijin melolos keluar sebilah belati mengilat dan mengancam di tenggorokan Bun-hiong, tanyanya dengan tertawa, “Benar tidak?”

Suara tertawanya merdu menyenangkan, tapi membuat orang mengirik juga.

Sama sekali Bun-hiong tidak menduga si cantik menyembunyikan senjata tajam di tempat tidur, seketika ia tidak sempat mengelak, keruan ia tidak bisa berkutik, dengan melotot ia menjawab, “Wah, nanti dulu, sabar! Kasih sayang semalam sebagai suami-istri tak terlupakan selama seratus hari. Masa engkau sampai hati memperlakukan diriku cara begini?”

“Di dunia ini banyak sekali orang lelaki, berkurang dengan dirimu seorang rasanya tidak membawa kerugian apa pun bagiku,” sembari bicara si cantik terus mendorong sedikit belatinya, ancamnya dengan tertawa, “Nah, mau bicara tidak?”

“Baik, baik, akan kukatakan,” cepat Bun-hiong menjawab, tapi mendadak sebelah tangannya meraih ke atas dan tepat mencengkeram pergelangan tangan si cantik yang memegang belati itu, ketika ia remas sekuatnya, kontan Coa-kat-bijin menjerit, belati pun jatuh ke lantai.

Menyusul tangan Bun-hiong yang lain juga mencengkeram tangan lain si cantik, bahkan tubuhnya terus ditindihkan di atas badan orang, katanya dengan tergelak, “Haha, biar kukatakan padamu, selamanya aku tidak suka diancam orang ….”

Mereka masih dalam keadaan telanjang bulat, keruan posisi mereka sekarang menjadi serupa siluman yang sedang bergumul.

Karena urat nadi tangan tergenggam, sukar pagi Coa-kat-bijin untuk mengeluarkan tenaga, di samping gugup ia pun cemas, kontan ia mencaci maki, “Keparat! Jahanam!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: