Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Perguruan Sejati (16)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:23 pm

Perguruan Sejati (16)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Pengemis itu entah bagaimana bisa datang menemuiku tiga hari yang lalu, sejak itu kutahu akan banyak kerepotan yang harus kuhadapi, nyatanya benar saja engkau telah datang atas petunjuknya. Pengemis itu benar-benar membuatku dongkol!”

“Kedatanganku kesini tidak berniat mengganggu Lo Cianpwee, bilamana Lo Cianpwee merasa terganggu, sekarang juga aku keluar!” kata In Tiong Giok.

“Hm, sekeluarnya engkau dari sini, tentu akan menceritakan kepada orang lain, mereka pasti datang dan membuatku pusing bukan?”

“Aku bersumpah tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun!”

“Aku sudah bosan mendengar sumpah-sumpah itu! Semuanya tidak ada yang manjur!”

“Habis dengan cara apa Lo Cianpwee baru percaya?”

“Hm, didunia ini penuh dengan manusia-manusia rendah yang berhati keji, pokoknya aku tak bisa mempercayai lagi apapun yang dinamai orang!”

“Aku sudah datang dan melihat Lo Cianpwee, habis harus bagaimana?” tanyanya.

“Hm kau kira dengan ilmu Hiat cie lengmu tadi itu, tak bisa aku membunuhmu?” kata si orang tua dengan mendelik. “Usiamu masih muda tapi begitu sombong bilamana tidak dihajar mungkin tidak tahu kalau diluar dunia masih ada dunia.” Sehabis berkata, lengannya menepak baju, tubuhnya segera merapung ke atas, tapi dengan cepat pula ia jatuh ke ranjangnya sambil merintih, wajahnya menjadi pucat keringatnya mengucur dengan deras tampaknya dia kesakitan sekali.

Tiong Giok segera mendekati, “Lo Cianpwee engkau kenapa?” tanyanya.

“Habis, Selama empat puluh tahun aku melatih diri, tapi tak membawa hasil barang sedikitpun! bangsat itu benar-benar jahat, aku dibuatnya tidak berdaya…aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi, bunuhlah aku!”

Sebelum Tiong Giok membuka mulut, dari luar kamar terdengar suara Ceng Ceng: “Siau cu jin, adakah engkau melihat makhluk gaib itu? Perlukah bantuanku?”

“Engkau membawa teman juga? Suruh mereka masuk! Aku lebih senang mati dari pada memberikan ilmu Liap hun sim hoat (ilmu hipnotis).

“Lo Cianpwee jangan salah mengerti, kedatanganku kesini sekali-kali tidak menginginkan apa yang kau sebut Liap hun sim hoat itu!”

“Jangan berdusta! Tiga hari yang lalu pengemis itu menggedeng terus padaku, dan kutolak mentah-mentah permintaannya, kini dengan cara halus engkau mau ngelecehin aku, jangan harap!”

“Lo Cianpwee jangan kuatir, aku tak berbiat membohongimu, kedatanganku kemari bukan menghendaki sesuatu darimu!” kata In Tiong Giok. “Sebenarnya sekarangpun aku bisa berlalu dari sini, tapi kulihat Lo Cianpwee sedang menderita sekali, selayaknya sesama manusia tolong menolong bukan? Jika Lo Cianpwee percaya, bolehkah kubebeaskan dirimu dari penderitaan ini?”

“Engkau siapa? Dan apa hubunganmu dengan pengemis itu?”

“Cu Lo Cianpwee itu adalah sahabat baikku,” kata In Tiong Giok seraya memperkenalkan diri dan menerangkan pula kedudukannya sebagai Ciang bun jin dari Thian liong bun.

“Muda-muda sudah jadi Ciang bun jin? Bagaimana dengan Pek King Hong?”

“Beliau telah meninggal dunia!”

“Ya lebih enak meninggal dunia tidak memusingkan lagi soal dunia yang kotor ini!”

“Ya memang demikian! Tapi alangkah baiknya dalam hidup ini kita bisa membereskan diri dari dunia yang kotor bukan? Dengan begitu kita mendapat kestabilan hidup yang abadi, dan lebih menang dari pada mati dengan begitu saja!”

“Engkau masih muda tapi berpandangan sangat dalam,” kata orang tua itu. “apa yang engkau katakana memang benar, tidak sepertiku ini biarpun menyendiri selama empat puluh tahun di dalam gua yang sunyi, tidak memeproleh kestabilan hidup itu, semua ini dikarenakan terkena tenaga jahat manusia iblis yang berhati binatang. Jalan darahku ini terkena totokan berat darinya, aku berusaha membebaskan diri dari siksaan ini selama empat puluh tahun, nyatanya sia-sia saja!”

“Siapakah yang mencelakakan Lo Cianpwee?”

“Soal yang telah lama tak usah kau tanyakan! Semua penderitaan yang kualami ini berdasarkan diri ketamakan diri, maka itu aku tak menyesal menderita seperti ini!”

“Dapatkah kutahu nama Lo Cianpwee?”

“Biar kusebutkan engkau tak bakal tahu soal diriku!”

“Sekedar ingin tahu toh boleh bukan?”

“Pernah engkau mendengar Tiga pendekar daari Perguruan Sejati atau Kong bun sam kiat?”

“Tidak!”

“Akupun menganggap engkau tak bakalan tahu,” kata orang tua itu, “sewaktu kami mengembara di dunia Kang Ouw mungkin engkau belum lahir di dunia! Kejadian ini sudah empat puluh tahun, Kong bun sam kiat sudah dilupakan orang….”

“Kalau begitu Lo Cianpwee pastilah salah seorang dari Kong bun sam kiat bukan?”

Orang tua itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum: “yang dinamai tiga pendekar dari perguruan sejati terdiri dari seorang Hwesio, seorang Nikouw dan seorang Tojin. Kesemuanya bukan dari Tionggoan, Hwesio itu adalah Kouwcu dari Tibet bergelar It Piau Taysu, Tojin itu bernama Fut In Ciu dari Lamhay, dan bergelar Lie hwee Cinjin, sedangkan Nikouw itu dari Thian san bergelar Houw gee Suthay. Ketiga dari mereka ini jarang berhubungan satu sama lain, karena tempat tinggal mereka sangat jauh-jauh.”

“Entah bagaimana pada suatu hari ketiga-tiganya bisa bertemu diperjalanan. Kesempatan berkumpul ini tidak dilewatkan begitu saja, dipergunakan berdiskusi soal ilmu silat, masing-masing mengagumi satu sama lain, dan saling hormat menghormati. Disamping itu kamipun bersama-sama mengunjungi berbagai tempat yang kenamaan di Tiong Goan. Sewaktu kami sampai di telaga See Ouw mendapat dengar dari orang-orang Kang Ouw juga ada dua bilah pedang mustika, satu bernama Hong hiat berkhasiat mencegah segala kejahatan, dan satu lagi bernama Lie hwee berkhasiat mencegah api. Menurut cerita pedang itu jelmaan dari binatang air dan api, bukan saja sangat tajam juga bisa mencegah banjir maupun kebakaran. Tak kira pedang yang maha hebat itu mendatangkan bencana bagi Kong bun sam kiat….” Orang tua itu diam saja tidak meneruskan lagi ceritanya.

“Kenapa bisa mendatangkan bencana?”

“Ah jangan ngomong saja, bisakah engkau mengambilkan aku sedikit makanan?”

“Oh bisa saja, nantikanlah sebentar, aku bisa menyuruh Ceng Ceng mengambil keluar…”

“Tak usah keluar!” kata orang tua itu, ambil saja salju dan tanah itu, aduk-aduk biar halus sudah cukup! Selama empat puluh tahun aku sudah biasa makan dengan begini. Engkau jangan menganggap kotor, itu adalah akar dari pohon-pohonan yang mengandung khasiat menguatkan tubuh, sekali kumakan cukup untuk sepuluh hari!”

Tiong Giok menurut permintaan orang tua itu. “Kenapa Lo Cianpwee tidak mau meninggalkan gua ini?”

“Aku menderita luka hebat, jika tidak tinggal diranjang es ini siang-siang jiwaku sudah melayang!”

Tiong Giok menganggukkan kepala. Lalu bertanya lagi: “Kong bun sam kiat adalah orang-orang yang menyucikan diri bukan, kenapa bisa menderita bencana pedang wasiat itu?”

“Walaupun mereka sebagai orang yang menempuh kehidupan sebagai orang suci, kalau pikirannya masih “tamak” tidak akan terluput dari penderitaan! Pikirlah pedang itu hanya dua, sedangkan mereka bertiga, bagaimana cara membaginya?”

“Oh kalau begitu mereka memperebutkan pedang itu?”

“Benar!” kata orang tua itu. “Mula pertama mereka bergirang hati, memperoleh pedang itu, belakangan menjadi pusing sendiri untuk membaginya! Karena itu masing-masing diam saja tidak memberi usul untuk membagi pedang itu, lama kelamaan Houw Gee Suthay jadi tak sabaran, ia mengajak It Piau Thaysu keatas gunung Hong hong san dan menegurnya: “Kita bertiga sedangkan pedang itu hanya dua, harus bagaimana membaginya dengan cara yang adil?”

It Piau Thaysu tidak bisa menjawab, iapun sedang pusing mencari daya untuk membagi pedang itu secara adil.

“Pikir Suthay bagaimana baiknya?” It Piau Thaysu berbalik bertanya.

“Tidak ada jalan lain untuk membaginya, kecuali salah satu dari kita ini ada yang mati,” kata Houw Gee Suthay.

“O Mie To Hud,” kata It Piau Thaysu, “sebagai orang suci mana boleh Suthay mengeluarkan perkataan itu?”

“Oh, kalau begitu Thaysu mau mengalah dan menyerahkan pedang itu pada kami?”

“Tidak…”

“Jika begitu kita harus bertanding untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan pedang itu bukan?”

“Jika begitu Suthay menginginkan terjadinya perkelahian bukan?”

“Ini bukan saranku, tapi kehendak dari Fut In Cu!”

“Kenapa ia menghendaki begitu, apa alasannya?”

“Ia mengatakan Lie Hwee Kiam cocok dengan gelarnya Lie hwee cinjin, maka pedang itu sudah harus jadi miliknya, sedangkan Hong hiat kiam harus dibagi antara Thaysu dan aku!”

Mendengar ini It Piau Thaysu menjadi guasr: “Pedang itu dapat bertiga seharusnya cara membaginya dirundingkan betiga juga, kenapa ia berani memutuskan seorang diri? Dan apa kebiasaannya sampai berani mengambil langkah ini? Pokoknya aku tak setuju!”

“Akupun tidak setuju sarannya itu, maka mengajak Thaysu kemari untuk berunding….”

“Tak ada perundingan lagi, mari kita temukan dia, dan tanyakan langsung apa maunya kalau kita tak setuju atas sarannya!”

“Kita sama-sama sebagai pemeluk agama Buddha, bilamana dilihatnya kita bekerja sama dianggapnya memusuhi dia yang berlainan agama bukan? Dia bisa mengatakan kita orang sentimen agama!”

“Semua ini karena kesalahan dia, tidak ada sangkut pautnya dengan agama!”

“Jika Thaysu menganggap dia salah, apakah salahnya kalau kita singkirkan? Agar tak ada bencana dihari kemudian?”

Mendengar ini It Piau Thaysu menggigil ketakutan. “O Mie To Hud!” serunya.

“Dalam keadaan terpaksa apa salahnya kita membunuh, jika tidak demikian kita akan dibunuhnya!”

It Piau Thaysu masih diam saja, sedangkan Houw Gee Suthay menghasut terus membuat It Piau Thaysu menurut juga perkataan Nikouw itu. Dengan cepat mereka kembali ketempat bermalam untuk menyingkirkan Fut In Cu. Tak kira yang disebut belakangan telah mendengari apa yang dikatakan mereka dengan jelas. Maka itu dengan tak pikir panjang lagi, sudah mendahului pulang dan membawa kabut kedua pedang pusaka. Hal ini membuat Houw Gee maupun It Piau menubruk angin, mereka semakin gusar bersama-sama melakukan pengejaran. Sesampainya di dekat gunung Hoay Giok San baru berhasil mencandaknya, saat itu terjadi perkelahian hebat….”

“Akhirnya bagaimana?” tanya Tiong Giok.

“Diantara tiga jago itu kepandaiannya berimbang, tapi dengan satu lawan dua sudah pasti yang satu tidak akan menang!” kata si orang tua, “tapi dengan mengandalkan kedua bilah pedang pusaka itu, It Piau dan Houw Gee kena dilukai juga dam membuat Fut In Cu berhasil keluar dari kepungan dan kabur! Mereka tak berhasil merampas pedang itu……” Setelah mereka mengaso terus berputar-putar disekitar pegunungan itu selama tiga hari tiga malam untuk mencari jejak dari Tojin itu, tapi selama itu juga usaha mereka tidak membawa hasil. Fut In Cu tidak diketemui.”

“Thaysu sebaiknya kita cari berpencar….”

“Dengan sendiri-sendiri jika bertemu mana bisa menundukkannya, buktinya dalam kepungan kita berdua bisa meloloskan diri,” kata It Piau mengingatkan kejadian baru lalu.

“Ia hanya mengandalkan pedang pusaka itu, andaikata mengandalkan kepandaiannya saja, satu lawan satu belum tentu ia bisa menang!”

“Benaar!” jawab It Piau Thaysu. “Tapi pedang itu masih berada ditangannya!”

“Untuk inilah kita harus menyatukan keduakepandaian kita untuk mengalahkannya.”

“Maksudmu bagaimana?”

“Kita saling tukar ilmu!”

It Piau tidak segera menjawab, ia termenung sejenak, akhirnya dengan berat ia menganggukkan kepala juga, “untuk menghilangkan bencana dikemudian hari aku bersedia saling menukar ilmu! Akan tetapi…”

“Dalam hal ini Thaysu tak perlu ragu-ragu, aku bersedia memberikan dahulu ilmu yang aku miliki…”

It Piau Thaysu menjadi malu hati sendirinya, “Tak usah begitu, aku sebagai laki-laki sepatutnya memberikan dulu kepadamu, menerima barulah belakangan.”

Houw Gee Suthay tak mau menerima tawaran itu, ia pura-pura adil dan jujur. “Aku tak mau menerima caramu itu, untuk keadilan, baiklah kita main tebak-tebakan, yang menang boleh menerima dulu pelajaran dan yang kalah itu harus belakangan.”

It Piau Thaysu menganggukkan kepala.

Houw Gee segera memungut batu dan mengepalnya, lalu meminta kawannya menebak batu yang digengam itu ganjil atau genap. Tanpa banyak pikir It Piau Taysu menebak ganjil tapi ternyata genap, satu nol keadaan buat Houw Gee.

Waktu giliran It Piau yang menggengam batu Houw Gee dapat menebak, kemenangan ada pada Houw Gee.

“It Piau tahu bahwa dirinya dicurangi, tapi ia tak perduli, dengan patuh ia memberikan pelajaran kepada kawannya itu sejujurnya…”

“Kenapa curang?” tanya In Tiong Giok.

“Ya, sebab waktu It Piau berhasil menerka batu yang digengam itu, Houw Gee menggunakan ilmu dalamnya memecahkan batu itu, sehingga jadi ganjil!”

“Mula pertama It Piau membiarkan atas kecurangannya, dengan jujur menurunkan ilmunya itu kepada kawan itu, dan sewaktu tiba giliran Houw Gee memberikan pelajaran, terbukalah kedok kejahatannya. Waktu itu It Piau disuruh bersemedi, ia menurut saja tanpa curiga, saat inilah dengan tiba-tiba Houw Gee menurunkan tangan jahat….”

“Ha, sekarang kutahu Lo Cianpweelah salah satu dari Kong bun sam kiat yang bernama It Piau Thaysu bukan?”

“Engkau benar!”

“Lalu kenapa Lo Cianpwee bisa berada didalam gua ini?”

“Waktu ia menotok diriku, aku menggunakan ilmu dalam, menghentikan aliran napas, tubuhku menjadi dingin, dan dikiranya sudah mati. Ditinggalkan olehnya begitu saja. Aku berusaha memulihkan lagi tenagaku, dan berhasil mendapatkan gua ini, aku diam disini sambil menyembuhkan luka yang diderita akibat totokan mautnya itu….Kecuali itu dengan cara yang kebetulan aku mendapat dua serangka pedang…nah ambillah, kusimpan dibawah balai-balai itu.”

Dengan cepat In Tiong Giok mendapatkan kedua benda itu.

“Coba masukkan pedangnya kedalam serangka ini, cocok atau tidak!”

“Bukan saja cocok, memang serangkanya kedua pedang ini,” kata In Tiong Giok.

“Ya mereka telah berpisah selama empat puluh tahun dan baru bertemu kembali,” kata It Piau Thaysu. “Bolehkah engkau menuturkannya, bagaimana pedang-pedang ini didapat?”

Dengan singkat In Tiong Giok menceritakan jalannya mendapatkan pedang-pedang itu. It Piau mengangguk-anggukkan kepala sambil mengeluh perlahan: “Seperti dugaanku semula, ia mati juga….”

“Siapa dia?”

“Fut In Cu,” kata It Piau Thaysu. “Karena luka-lukanya itulah ia menemui ajal! Tapi ia tidak segera mati, melainkan menyembunyikan diri dulu didalam gua ini, karena kedua serangka kudapat disini, setelah itu pasti ia tahu bahwa jiwa tidak akan tertolong lagi, lalu membunuh diri di dalam danau itu.”

“Karena pedang-pedang ini Fut In Cu meninggal dunia dan Thaysu sendiri menderita selama empat puluh tahun bukan? Kesemua ini adalah kerjaan Houw Gee yang dengki itu!”

“Pikirku semua itu karena nasib!” kata It Piau Thaysu, “kini aku bisa bertemu denganmu, karena nasib juga bukan? Kedua serangka pedang ini kuhadiahkan kepadamu. Aku mengharapkan dengan kedua pedang ini engkau bisa membasmi orang-orang jahat dan menegakkan keadilan demi kesejahteraan rakyat banyak.”

“Atas pemberian Lo Cianpwee ini kuhaturkan banyak-banyak terima kasih,” kata In Tiong Giok, “disamping itu dapatkah aku melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri?”

“Apa yang bisa kau lakukan pada diriku?”

“Mengobati luka Cianpwee!”

“Kurasa luka ini sangat parah sekali, sia-sia saja diapakan juga, buktinya selama empat puluh tahun ku obati, sedikitpun tak membawa hasil!”

“Segalanya tergantung nasib bukan? Apa salahnya kalau mencobanya?”

“Apa yang kau miliki, sampai berani berkat begitu?”

“Aku pernah mempelajari ilmu Hiat Cie leng dan lain-lainnya!”

“Apa?” tanya It Piau dengan kaget, “sudah taraf apa kepandaianmu itu?”

“Lebih kurang tujuh puluh persen!”

“Coba kau mundur beberapa langkah, dan gunakan ilmu itu pada balai-balai es ini.”

Tiong Giok mundur beberapa langkah, lalu mengangkat tangan melancarkan Hiat cie lengnya kearah balai-balai es. “Sreeet” terdengar bunyi keras memenuhi gua itu, balai-balai es itu menjadi hancur dibuatnya, “Kini kuminta Thaysu mengendurkan tulang-tulangmu, dan pencarkan hawa didarah, aku akan mulai dengan pengobatan.”

Orang tua itu baru mau menurut setelah menyaksikan kehebatan pemuda kita, Tiong Giok segera melakukan pengobatan dengan cepat, mula-mula ia menotok dulu tiga puluh dua jalan darah Thaysu itu, lalu dengan telapak tangannya ia menyalurkan tenaga dalam kepunggung sang Thaysu.

Tak selang lama, Tiong Giok menjadi mandi keringat, disusul dengan terlihatnya uap putih mengepul dari ubun-ubunnya, ia bekerja dengan sekuat tenaga. Sedangkan It Piau yang pucat mulai terlihat segaran, mukanya menjadi merah seperti darah, napasnyapun memburu keras. Tapi sekejap kemudian warna merah itu hilang dan menjadi dadu napasnyapun tenang kembali. Sedangkan Tiong Giok melepaskan kedua tangannya, seolah-olah tubuhnya menjadi kosong dan lemas, ia duduk memulihkan tenaganya yang hilang dengan bersemadhi. Sedangkan It Piau menjadi pulas dengan nyenyaknya.

Suasana di dalam gua itu menjadi sunyi, hanya napas mereka yang terdengar. Satu jam kemudian, tampak It Piau Thaysu bangun terlebih dulu, sedangkan Tiong Giok masih tetap memeramkan matanya. Hweesio itu menggerak-gerakkan tubuhnya, segala sakitnya tidak terasa lagi, dengan girang ia tesenyum kepada pemuda kita. Lalu mengangkat tangannya dan menepuk kearah ubun-ubun Tiong Giok, sesudah itu dari salah satu sudut gua ia mengeluarkan sebuah buntelan, itulah pakaian kuningnya. Disamping itu terlihat pula sejilid buku kecil. Ia mengenakan pakaiannya itu dan menyelipkan buku kecil itu kedalam saku Tiong Giok.

Dengan perasaan berat ia meninggalkan gua itu. Ciu Ceng Ceng sedang cemas menantikan dimulut gua, tiba-tiba ia melihat berkelebat sesosok bayangan, dikiranya In Tiong Giok, maka ia menyapa, “Siau cu jin, engkau…” Sesudah tegas, ia menjadi heran, kaena yang berada didepannya adalah seorang Hweesio tua berjubah kuning. Ia menjadi kaget dan segera membentak. “Hweesio tua, siapa engkau?”

“Coba saja engkau perhatikan, siapa aku?” kata It Piau sambil tersenyum.

Ciu Ceng Ceng mengawasi dengan kedua matanya, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang tidak beres setelah pandangan matanya bentrok dengan sinar mata tajam It Piau. Anehnya ia menjadi limbung, dan hampir-hampir tak kuat berdiri, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah kebelakang.

Pancaran mata It Piau yang tajam mencecer kearah Ceng Ceng, begitu kuat dan tajam membuat Ceng Ceng linglung dan tak sadar.

Ceng Ceng terpengaruh sinar gaib pancaran mata It Piau, membuatnya tak berdaya sama sekali, karena dirinya sudah terpengaruh kebaiban itu. It Piau mendekati dan menepuk pundaknya sambil berkata dengan perlahan: “Apakah engkau kenal denganku?”

Ceng Ceng menganggukkan kepala “Ya aku kenal!”

“Bagus kalau kenal, dan siapa namamu?”

“Namaku Ciu Ceng Ceng!”

“Engkau anak yang baik,” kata It Piau, “kemarikan tangan kananmu nak!”

Ceng Ceng segera menjulurkan tangan kanannya. Dan It Piau memeriksanya dengan teliti. “Engkau adalah orang pertama yang kutemukan sejak bebas dari penderitaan selama empat puluh tahun! Maka itu akan kuberikan sedikit tanda mata padamu, sayang aku tak memiliki apa-apa saat ini. Dilihat dari tanganmu, biarpun masih muda, engkau berbakat besar dan berjiwa setia…” Setelah berdiam sejenak, ia mencopoti sebuah kancing dari jubahnya yang terbuat dari batu kumala. “Benda ini tidak berarti apa-apa, hanya merupakan tanda mata dariku! Soal Siau cu jinmu tak usah engkau risaukan, ia sedang mengaso, sebentar lagi ia bangun, diam-diamlah disini menantikannya!”

“Ya aku mengerti,” jawab Ciu Ceng Ceng.

“Nah, duduklah disana,” kata It Piau Thaysu.

Apa yang diperintahkan It Piau selalu dituruti Ceng Ceng, karena hweesio itu dengan kekuatan mata gaibnya yang mengandung daya hipnotis, sudah menundukkan si gadis itu.

“Ilmu sejatiku masih ampuh, sayang diriku sudah begini tua!” kata It Piau dan terus melangkah keluar.

Tak selang lama Ceng Ceng sadar dari mabuk ia celingukan keempat penjuru tapi keadaan tetap seperti semula, bayangan It Piau Thaysu sudah hilang dari pandangan matanya. Ia diam sejenak, mengkonsentrasikan pikirannya, mengingat-ingat apa yang dialaminya tadi. Ia jadi ragu, apakah kejadian tadi merupakan kenyataan ataukah impian? Tapi kancing kumala yang berada ditangannya masih tetap ada! Semua itu adalah kejadian benar-benar. Tapi kemana perginya Hweesio itu? Dan kenapa ia tidak bisa mencegahnya? Kini ia ingat sedang mengawal In Tiong Giok! Hatinya menjadi kaget, mengingat keselamatan Siau cu jin itu, cepat-cepat ia masuk kedalam. Keadaan di dalam tetap tenang seperti tadi. Hatinya menjadi lega setelah melihat Tiong Giok yang sedang semedhi, tanpa kurang suatu apa. Ia diam disampingnya tanpa bergerak-gerak.

Tak selang lama, Tiong Giok telah selesai melakukan semedhinya, ia membuka mata dan melihat Ceng Ceng berada disampingnya. Segera ia bertanya dengan nada heran: “Apakah engkau melihat seorang Hweesio tua?”

“Hweesio tua yang kurus itu?”

“Benar! Kemana dia pergi?”

“Dia sudah pergi!”

“Ah, Lo Cianpwee itu kenapa bergegas-gegas meninggalkan tempat ini?” kat Tiong Giok.

Ciu Ceng Ceng memperlihatkan kancing kumala pemberian Hweesio itu, sambil menuturkan apa yang dialaminya tadi secara jelas.

“Oh, tentu ia menggunakan ilmu Liap hun tay hoat (semacam ilmu hipnotis tingkat atas) mengawasi dirimu! Diluar masih ada Yauw Lo Cianpwee dan ayahmu yang menjaga gua, kukuatir terjadi slah paham dengan Hweesio itu, mari kita tengok!” Segera ia mencelat bangun dan berlari keluar diikuti Ceng Ceng dari belakang.

Begitu mereka sampai diluar, mata mereka melihat Yauw Kian Cee dan Ciu Kong sedang asyik mendengkur-dengkur dengan nyenyaknya.

Disamping itu tampak juga tujuh delapan mayat yang berserakan di depan gua, dari pakaian mereka dapat dikenali, itulah pengawal-pengawal dari Pok Thian Pang.

Toa Gu sedikitpun tidak menderita luka, hanya saja tertotok urat pulasnya. Tiong Giok segera membebaskannya. Begitu ia bangun Toa Gu segera menanya. “Mana Hweesio tua itu?”

“Justru aku mau menanya, apa yang sudah terjaadi disini?” tanya Tiong Giok.

“Oh, tidak apa-apa, hanya beberapa kurcaci ini datang kemaari, mereka berkelahi denganku, sedang asyiknya, tiba-tiba tampak seorang Hweesio tua, muncul dari dalam gua! Entah bagaimana kedua orang tua ini dibuatnya menjaddi penurut sekali, sedangkan aku segera merintangi jalannya. Hweesio itu tersenyum kepadaku, aku tak memperdulikan, segera menusuknya dengan pedang. Ia sangat luar biasa, hanya sekali kebut, senjat ini jadi buntung…Hweesio itu tidak menyerang, ia hanya tersenyum terus dan menatap dengan matanya. Akupun mendelik terus…” Engkau adalah manusia pertama yang berhati polos, hingga Liap hun tay hoat tak mempan pada dirimu! Maukah kau menjadi muridku?”

“Engkau sangat beruntung!” kata Tiong Giok.

“Hm, apanya yang beruntung!” kata Toa Gu, “kau kira aku mau menjadi muridnya? Tidak! Sedikitpun tidak mau!”

“Memang kenapa? Ia adalah seorang luar biasa yang berilmu tinggi!”

“Sudah tentu aku tak mau! Kenapa ia mengatakan polos! Kata ini sangat kubenci! Dulu ibuku memberikan pakaian polos untukku, sedangkan ibunya Asam membelikan pakaian berkembang pada anaknya, nyatanya pakaian berkembang lebih bagus dari yang polos! Maka itu, begitu ia mengatakan polos padaku, aku membalas mengatakan dia bodoh. Hweesio itu tidak marah, ia tersenyum terus dan mendesak terus kepadaku, mau tidak mau menjadi muridnya, aku tetap tak mau!”

“Sayang,” kata Tiong Giok.

“Ya, sayang kesempatan ini sudah sia-sia!”

“Andaikata mau mempelajari ilmu itu, aku tak mau belajar darinya, aku lebih senang belajar darimu!”

“Ilmu Liap hun tay hoat adalah ilmu kepandaian tunggalnya, aku tak bisa memberikan ilmu itu kepadamu!”

“Tapi Hweesio itu mengatakan engkau pandai ilmu itu!”

“Ia mengatakan begitu ….?”

“Ya, waktu ia berlalu berkata begini padaku. “Jika engkau tak mau menjadi muridku, aku tak memaksa, mungkin bukan jodoh, untung Siau cu jinmu sudah memiliki ilmu ini, dan engkau bisa belajar darinya!”

“Benar-benar ia berkata begitu?”

“Lailah, mas bohong! Sebab percaya omongannya itu, aku menjadi lengah dan ditotok olehnya, selanjutnya apa yang terjadi aku tak tahu!”

Tiong Giok menjadi bingung memikirkan perkataan Toa Gu, tapi dengan cepat ia menjadi sadar, cepat ia merogo sakunya, dan benar saja ia mendapatkan buku kecil. Dengan judul “Ilmu Liap hun tay hoat.”

“Ah, Lo Cianpwee itu, seolah-olah tidak mau menerima budi dariku, ia membalas memberikan ilmu pusakanya kepadaku.”

Tengah hari teriknya matahari bukan buatan dijalan raya tampak empat laki-laki tua dan muda beserta seorang gadis, dengan kudanya yang sudah letih sedang melanjutkan perjalanan dengan perlahan. Rombongan ini bukan lain dari pada In Tiong Giok dan kawan-kawannya. Sewaktu mereka memasuki perjalanan gunung, segera berhenti dan membawa kuda meeka mengaso ditempat teduh. Dengan matanya yang tajam In Tiong Giok mengawasi keatas gunung. “Lihatlah diatas itu ada sebuah solokan kecil, kalau kita menyusuri solokan itu dan terus memutar kesebelah timur, akan tiba dikampung halamanku.”

Dengan mata tunggalnya yang tajam Ciu Kong menatap kearah yang ditunjuk. “Ya, kelihatannya sangat dekat, tapi kalau dijalani cukup jauh! Sebaiknya kita istirahat agak lama!”

“Sebenarnya aku tak sabar lagi, ingin sekali sampai dirumah tapi kalau yang lain sudah letih, lebih baik istirahat dulu.”

“Kami tidak letih!” kata Yauw Kian Cee, “yang letih adalah kuda-kuda ini!”

“Ya, kutahu. Kuda-kuda ini sudah lemas sekali!” kata In Tiong Giok.

Toa Gu memberi minum kuda-kuda itu, sedangkan Tiong Giok mengobrol dengan Ceng Ceng. Ciu Kong berjalan-jalan keatas bukit mengawasi keadaan sekeliling dengan cermatnya. Tampak wajahnya sangat serius sekali, seolah-olah ada sesuatu yang dianggapnya tidak baik sedang membayangi rombongan mereka. Waktu ia turun Yauw Kian Cee segera menegurnya dengan kedipan mata. Ciu Kong tidak menjawab, ia mengeluarkan tiga jari dan terus duduk dirumput.

“Tambah dua lagi!” tanya Yauw Kian Cee.

“Ya,” jawab Ciu Kong, “keduanya adalah wanita muda!”

“Adakah mereka mengikuti kemari?”

“Mereka telah memotong jalan dan sudah berada didepan kita, agaknya mereka sudah tahu tempat tujuan kita!”

“Manusia tak tahu mati ini bandel, kita harus membasminya sampai habis! Kalau begitu baiknya aku pergi duluan, menghajar mereka….” kata Yauw Kian Cee minta pendapat Ciu Kong.

“Tak usah repot-repot,” tiba-tiba saja Tiong Giok bersuara. “Segala kurcaci begituan tak perlu diladeni!”

“Oh, kiranya Siau cu jin sudah tahu!” kata Ciu Kong dengan kaget.

“Sejak kita meninggalkan gua, mereka telah membuntuti kita! Hanya saja tak kuhiraukan.”

“Kami tidak menguatirkan mereka menyerang kita, yang kupikir adalah keselamatan orang tuamu!” kata Ciu Kong.

“Aku mengerti keselamatan Lo Cianpwee, tapi kuyakin mereka tidak menurunkan tangan pada saat ini!” kata Tiong Giok. “Selama tiga tahun aku mengembara didunia Kang Ouw, ras rindu pada kampung halaman besar sekali, ingin secepatnya sampai disana, disamping rindu yang meluap-luap, rasa cemaspun sangat mengganggu perasaan hatiku! Pikirlah, andai kata aku sampai di rumah, kedua orang tuaku, misalnya sudah dianiaya kaum Pok Thian Pang semua ini merupakan hukuman bathin untuk seumur hidupku….ai…semua tak dapat ditutup-tutupi dengan omongan maupun senyuman.”

“Jika kaum Pok Thian Pang berani mencelakakan kedua orang tuamu yang tak berdosa itu, segera kita satroni markas besarnya dan kita basmi sampai keakar-akarnya,” kata Ceng Ceng.

“Ah engkau anak kecil tahu apa! Andaikata apa yang telah dipikirkan Siau cu jin menjadi kenyataan, biarpun semua kaum Pok Thian Pang dibasmi habis, rasa duka itu tetap takkan hilang, kita hanya berdoa janganlah itu terjadi!”

“Baik buruknya belum bisa ditentukan! Setibanya dirumah baru bisa kita ketahui dengan jelas! Sebaiknya marilah kita lanjutkan perjalanan!”

Toa Gu segera menuntun kuda, Yauw Kian Cee mendahului yang lain, menjeplak tunggangannya. “Aku jalan dulu,” sebelum Tiong Giok menjawab, ia telah melarikan kudanya dengan cepat.

Tiong Giok menggelengkan kepala, dan terus mengajak yang lain melanjutkan perjalanan. Setelah melalui belasan lie, mereka segera melihat sebuah sungai dan sebuah gedung. Jembatan kecil yang menghunungi kedua tepian masih tetap seperti dulu, demikian juga singa-singaan batu masih tetap berada ditempatnya, keadaan kampung halaman Tiong Giok ini masih seperti dulu, sedikitpun tidak mengalami perubahan. Bedanya, kalau dulu disungai ini banyak anak-anak nakal yang mandi dan menangkap ikan, kini sunyi sepi tak terlihat barang seorangpun.

Dengan air mata mengambang, Tiong Giok mengawasi rumahnya, kudanya dibedal kearah pekarangan rumahnya. Setibanya dijembatan kecil dirinya disosong Yauw Kian Cee dan seorang tua. Begitu ia mengawasi, Tiong Giok segera mengenali orang tua itu In Hok adanya. Sekejap itu, membuatnya tak tahu girang entah sedih, segera ia lompat dari kudanya dan berlari kecil, menubruk orang tua itu. Dengan suara bergetar menahan sedih berkata: “In Hok, masih kenalkah denganku?”

In Hok mengucak-ucak matanya. “Oh….Kongcu…kongcu sudah kembali, tiga tahun telah berlalu, akhirnya engkau kembali dengan selamat!”

“Bagaimana keadaan ayah dan ibuku?”

“Engkau telah terlambat…”

Belum habis mendengar perkataan yang diucapkan In Hok, wajah Tiong Giok telah menjadi pucat pasi, tubuhnya menggigil tidak keruan dan hampir-hampir ia jatuh duduk. Untung Ciu Kong dan Ciu Ceng Ceng berlaku tangkas, mereka segra memayang Siau cu jin dengan serentak.

“Tenanglah, tenanglah Siau cu jin,” kata Yauw Kian Cee.

In Tiong Giok menguatkan diri, air matanya berderai turun, dengan suara parau ia berkata: “Sudah lamakah? Dan apa sebabnya?”

“Sejak kongcu meninggalkan rumah, kedua orang tuamu menjadi sedih, mereka memikirkan terus dirimu siang dan malam, akibat ini mereka menjadi sakit, dan berpulang ke alam baka susul menyusul.”

“Kenapa tidak digantung teng putih tanda berduka cita?” tegur Tiong Giok.

“Loya memesan jangan memasang teng itu!”

“Apa sebabnya, dapatkah kau tahu?”

“Sebelum meninggal Loya membubarkan pengawal-pengawal, lalu meminta jenasahnya dikubur bersama-sama Hujin menghadap kejalan gunung. Artinya mereka menantikan kedatangan kongcu kembali!”

Tiong Giok menangis dengan sedih, demikian juga yang lain tak bisa menghibur Siau cu jinnya, mereka malahan turut meneteskan air mata.

“Sudahlah jangan terlalu bersedih, kedua orang tuamu sudah berusia lanjut lambat laun akan meninggalkan dunia ini. Sebaiknya Kongcu berjiarah kemakam mereka sekarang juga!”

Toa Gu menuntun kuda-kuda kedalam pekarangan, lalu mengikuti jalan lain menuju kekuburan orang tuanya In Tiong Giok. Kuburan itu letaknya dibelakang bukit, menghadap kejalan gunung. Dikedua sisinya terdapat dua kupel, dari sini bisa melihat setiap orang yang mau datang kerumah. Tiong Giok mengawasi kuburan orang tuanya dengan sedih, sedangkan In Hok menyiapkan peralatan sembahyang.

Bentuk kuburan itu membuat Tiong Giok heran, karena lain dari kuburan biasa, sebab kuburan itu mempunyai pintu disebelah sampingnya, hal ini membuatnya tak habis mengerti. Sehabis selesai sembahyang ditanyanya In Hok, kenapa kuburan itu berpintu? Dan siapa yang membuatnya?”

“Kuburan ini aku sendiri yang membuatnya dikarenakan belum dilakukan upacara penguburan secara layaknya, maka kubuatkan pintu agar mudah memindahkan peti itu, jika kongcu mau melakukan upacara penguburan!”

Pikir Tiong Giok apa yang dikatakan In Hok memang masuk akal, maka ia tidak bertanya lagi. Sekembalinya dirumah, cuaca telah menjelang senja, dua pelayan datang menemui In Tiong Giok. Yang satu dikenalinya sebagai pelayan ibunya yang bernama Tio Ma, sedangkan yang satu lagi tidak dikenalnya.

Pelayan baru itu memperkenalkan diri sebagai Lie Ma dan baru masuk kerja menemani Tio Ma setelah tuan dan nyonya rumah meninggal dunia.

In Tiong Giok tidak menyelidiki terlebih dulu, sehabis makan ia memanggil In Hok datang kekamarnya. “In Hok katakanlah dengan sejujurnya, apakah kematian kedua orang tuaku itu benar-benar dikarenakan sedih dan sakit?”

“Apa yang kukatakan adalah benar!”

“Setelah menderita sakit tidakkah mereka berobat?”

“Sudah tentu mereka beobat, aku sendiri yang memanggil tabib Oey dari kota, menurutnya penyakit mereka tidak bisa baik lagi, nyatanya benar juga, berbungkus-bungkus obat diminum mereka, tapi tak membawa hasil.”

“Siapa dulu diantara mereka yang meninggal dunia?”

“Hujin dulu yang meninggal, semalam kenudian baru Loya, begitu berdekatan akan waktunya itu.”

“Sejak aku pergi, pernahkah orang-orang Ngo liu cung datang kesini?”

In Hok menjadi kaget: “Ini…ini….”

“Dikamar ini hanya kita berdua, katakanlah jangan ragu-ragu!”

“Sejak kita berpisah disana, pernah ada yang datang kemari, kejadian ini membuat kedua orang tuamu sangat cemas dan kuatir sekali.”

In Hok tidak melanjutkan perkataannya.

Telinga Tiong Giok yang tajam, mendengar tarikan napas halus dari jendela, ia mengerutkan alis: “Siapa?” bentaknya.

Tidak terdengar jawaban.

Tiong Giok membuka jendela mengawasi keluar, ia tidak melihat sesuatu apa-apa.

Tiong Giok membuka kursinya. “In Hok tak usah takut, tuturkanlah terus apa yang terjadi!”

“Sejak saat itu tidak terjadi apa-apa lagi, maksudku selagi toya dan Hujin belum meninggal.”

“Setelah mereka meninggal?”

“Terus terang orang-orang Pok Thian Pang pernah.”

Perkataan In Hok menjadi putus dengan terjadinya kegaduhan diluar kamar, seolah-olah ada yang berkelahi. “Engkau diam-diam saja disini, aku mau melihat apa yang terjadi diluar!” Begitu ia berkata tubuhnyapun telah mencelat keluar melalui jendela. Sebelum ia memijak bumi kedua matanya telah menyapu keadaan sekelilingnya. Dan tampak dibagian timur taman bunga sesosok tubuh orang ia mengenali itulah Ciu Kong.

“Aku mendengar napas orang diluar jendela tapi waktu kutegur tidak ada jawaban, apakah Lo Cianpwee melihat orang itu?”

“Ya kulihat seseorang sedang mengintai kedalam kamarmu, maka kuhajar orang itu, akibatnya membuat Siau cu jin kaget saja!”

“Siapa orang itu? Kenapa tidak diciduk?”

“Orang itu mengenakan topeng, sukar dikenali. Waktu kuserang ia melarikan diri keluar tembok.”

Saat inilah terdengar teriakan tertahan dari arah kamar: “Kongcu…”

Tiong Giok jadi kaget, dengan cepat ia kembali kedalam kamar, begitu ia masuk, tubuhnya bersamplokan dengan tubuh seseorang yang mau keluar dari kamar. Dengan satu gerakan, Menangkap naga, orang itu dicekalnya. Tapi lengannya meresakan benda lunak, seolah-olah bantal guling adanya. Ia menjadi kaget, sebelum tahu apa yang terjadi, kembali sesosok tubuh mencelat pergi. Tiong Giok tahu dirinya tertipu musuh, sebelum ia sempat mengejar musuh sudah kabur keluar kamar. Ia bisa lolos dari tangan In Tiong Giok, tapi tak berpikir masih ada Ciu Kong. Tubuhnya disambut pikilan maut simata satu dengan telak. “Lo Cianpwee, tangkap hidup-hidup!” teriak Tiong Giok. Tapi sudah terlambat, orang itu telah terjungkal dan tak berkutik lagi. Tiong Giok menghampiri, orang itu berseragam hitam dan bertopeng. Begitu diperiksa nyatanya sudah mati. Topengnya diangkat, dan orang itu bukan lain dari pada yang mengaku sebagai Lie Ma, seorang pelayan baru tadi.

“Sayang ia sudah mati,” kata in Tiong Giok.

Mereka cepat-cepat memeriksa keadaan In Hok.

Orang tua itu menggeletak dilantai, punggungnya tertancap sebilah belati, napasnya begitu lemah. Tiong Giok buru-buru menutup jalan darah punggung In Hok dengan satu totokan. Waktu mau mencabut belati Ciu Kong cepat-cepat mencegahnya: “Jangan!” serunya.

“Kenapa?”

“Lihatlah tempat yang terluka berwarna hitam, sedikitpun tidak mengeluarkan darah, menandakan belati ini sangat beracun. Bilamana dicabut jiwa segera melayang sedangkan kita memerlukan sesuatu keterangan darinya!”

“Apakah jiwanya tak dapat ditolong?”

Ciu Kong menggoyangkan kepala sambil mengeluh: “Ia sudah tua , lukanya begini berat, susah menolongnya!”

“Semua ini akibat kelalaianku, ai…”

“Cepat-cepatlah tanyakan kepadanya apa yang ingin kau tahu!”

Tiong Giok menotok jalan darah kesadaran ditubuh jongos tua itu, dalam sekejap In Hok bisa membuka matanya, ditatapnya majikannya dengan mata sayu. Air mata tuanya tampak tergenang, mulutnya kemak kemik tapi tidak mengeluarkan suara sepatahpun. Melihat ini Ciu Kong cepat-cepat melakukan totokan disebelah kiri dadanya. Dan membuat In Hok bisa berkata-kata dengan perlahan. “Kongcu…lekaslah…”

“Berkatalah perlahan-lahan, penjahat itu sudah dibunuh, jangan kuatir lagi!”

In Hok menganggukkan kepala. “Aku tahu Lie Ma itu adalah utusan Pok Thian Pang yang sengaja dikirim kesini untuk mengawasi kita.”

“Loya,” kata Ciu Kong, “waktu sangat sempit lekaslah katakana yang perlu saja!”

“Pergilah kekuburan, dan masuk kekupel kiri, ditiang ketiganya bagian bawah, terdapat sebuah gelang kecil.” Tariklah tiga kali panjang sekali pendek.” Suaranya segera hilang tak terdengar lagi.

“Siau cu jin lekaslah kesana, soal disini serahkan kepadaku!” desak Ciu Kong.

“In Hok adalah jongos yang setia, kuharapkan Lo Cianpwee bisa menolongnya…”

“Legakan hatimu akan kuusahakan sedapat mungkin!”

Dengan menyeka air mata, In Tiong Giok meninggalkan tempat itu, menuju ke perkuburan. Dengan cepat ia telah sampai ditempat tujuan segera ia memeriksa tiang-tiang yang berada di kupel itu, semuanya ada lima, dan benar saja disalah satu tiang itu terdapat sebuah gelang-gelangan. Ia menurut apa yang dikatakan In Hok, tiga kali menarik panjang dan sekali menarik pendek. Baru pula ia melepaskan gelang-gelang itu, dibelakang tubuhnya berkesiurlah angin dingin. Tapi secara reflek ia melakukan tangkisan dengan pedang Hong hiat kiam. Begitu senjatanya bentrok dengan senjata sipembokong, tubuhnya sudah berbalik. Nampaklah musuh membengong mengawasi senjatanya yang telah buntung. Sedangkan ia sendiripun menjadi terbengong. “Engkau….ah…” katanya tanpa disadari.

Kiranya entah sedari kapan pintu yang terdapat disamping kuburan telah terbuka, pembokong itu keluar dari situ. Ia adalah seorang gadis berbaju merah, yang selalu menjadi buah pikiran In Tiong Giok, yakni bukan lain dari Wan Jie adanya.

Wan Jie pun terperanjat melihat kekasihnya berada didepan mata, tanpa sadar ia mundur-mundur beberapa langkah “Engkau…engkau….”

“Ya aku In Tiong Giok, Wan Jie lupakah kepadaku?”

Setelah terpukau beberapa saat, Wan Jie segera sadar, pedangnya yang buntung dilemparkan, tubuhnya maju melompat, masuk kedalam pelukan Tiong Giok, sedu sedannya segera terdengar, “Kutahu engkau pasti pulang, dan benar saja dugaanku ini…” Suaranya terputus-putus isak tangisnya, ia tidak sedih melainkan rasa haru dan girang, membuatnya hujan air mata.

Tiong Giok merasakan bahagia disaat itu, penuh omongan yang akan dikatakan, tapi tak tahu harus dari bagian mana mulai pembicaraan. Sejenak mereka terbenam dalam kehangatan jiwa remaja, tanpa berkata-kata.

“Wan Jie, baik-baikkah selama berpisah?” akhirnya Tiong Giok membuka mulut.

Wan Jie tidak menjawab, ia lebih senang membenamkan dirinya semakin keras kedalam pelukan kekasihnya.

“Wan Jie kenapa engkau berada disini?”

“Aku sudah setahun tinggal disini, menantikan kedatanganmu!”

“Setahun lebih diam didalam kuburan?”

Wan Jie menganggukkan kepala, “Bagaimana kau tahu aku disini, tentu In Hok yang memberitahu bukan?”

“Hanya memberitahu soal menarik gelang-gelangan itu, dan tidak mengatakan engkau berada disini!”

“Pantasan kudengar bel berbunyi tiga kali panjang sekali pendek, tapi waktu kubuka pintu kuburan bukan In Hok yang menarik bel, hampir-hampir aku melukaimu!” kata Wan Jie. “Apa lagi yang dikatakan In Hok?”

“Tidak ada lagi, hanya mengatakan itu saja” jawab In Tiong Giok. “Senja ini aku baru sampai dirumah, tak kira beberapa jam dirumah, In Hok sudah dilukai kaum Pok Thian Pang, didalam keadaan luka parah itu ia menyuruhku cepat-cepat kemari.”

“Jika begitu jangan mengobrol saja disini, kemarilah kuperlihatkan seseorang padamu.”

“Siapakah dia?”

“Setelah bertemu engkau akan tahu sendiri,” jawab Wan Jie seraya melepaskan diri dari pelukan kekasihnya dan cepat-cepat menuntun Tiong Giok kepintu kuburan. Biarpun diliputi rasa herannya, Tiong Giok tidak menanya ini dan itu, ia mengikuti saja kehendak kekasihnya itu. Saat mereka mau masuk, tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Mereka kaget dan berpaling dengan berbareng. Tampak dua gadis berbaju kuning dan seorang lelaki berbaju hijau menghampiri mereka. Gadis-gadis itu segera memberi hormat kepada Wan Jie dan bertekuk lutut.

“Oooh….kiranya engkau berdua!” seru In Tiong Giok tanpa terasa.

“Ya,” jawab gadis-gadis itu, “kami ini adalah Siau Hong dan Siau Eng!”

Sedangkan lelaki itu dengan sedekap tangan memberi hormat. “Wan Kounio, kenalkah aku?”

Wan Jie dengan wajah tak senang berkata acuh, “kiranya Lie Cit Long, melihat dandananmu ini agaknya engkau naik pangkat bukan?”

“Berkat rejeki dari Wan Kounio, aku dijadikan ketua ranting di Ngo Liu Cung!”

“Apa maksud kedatanganmu kesini? Mau memaksaku pulang?”

“Kami tak berani menyuruh Kounio pulang,” kata Siau Hong, “tapi sedang menjalankan tugas dari Lo Cucong agar Kounio kembali!”

“Ya, persoalan memang tak seberapa,” sambung Lie Cit Long. “Bilamana Wan Kounio tidak mau menikah dengan Siau Pangcu, apa salahnya memberi tahu pada Lo Cucong dan tidak usah kabur-kaburan bukan?”

“Engkau memberi nasehat atau ngejek?”

“Aku mana berani memberi nasehat ataupun mengejek, aku mengatakan apa yang terkandung didalam hatiku,” kata Lie Cit Long, “Karena Wan Kounio sangat disayang oleh Lo Cucong maupun Pangcu, segala kesalahan kecil itu tentu bisa dimaafkan dan tak usah Kounio kabur dari sana!”

“Memang benar, sejak kecil aku dibesarkan oleh mereka, andaikata mereka menyuruh aku mati akupun tak membangkang, tetapi kalu menyuruh kawin dengan orang yang tidak kusukai akibatnya begini, kutinggalkan mereka!”

“Kini Lo Cucong sudah menyesal, menghendaki Kounio pulang!”

“Kukenal betul watak Lo Cucong, tak ada menyesal, maka tak perlu kau membujukku!”

“Kounio…!” Seru Siau Eng dan Siau Hong dengan berbareng.

“Sudahlah jangan mendesakku,” kata Wan Jie, “antara aku dan kalian namanya saja nona dan pelayan, sebenarnya melebihi saudara kandung sendiri. Aku tak mau menyusahkan kalian dan kumohon kalian pun jangan mendesakku.”

“Kounio memperlakukan kami begitu baik, maka ada beberapa patah yang bagaimanapun harus kami katakana. Yakni Lo Cucong telah mengeluarkan pengumuman, jika Kounio tidak mau pulang lagi, akan dianggap sebagai pengkhianat! Coba pikirkan.”

“Maksud kalian bila aku tidak ingin pulang akan dilakukan dengan kekerasan?”

“Kami ini mana berani!” kata Siau Eng dan Siau Hong seraya mundur beberapa langkah dan bertekuk lutut, “kami mohon Kounio diharap kembali. Hanya itu.”

Wan Jie jadi melongo menghadapi kedua pelayan yang setia itu.

“Kenapa Lo Cucong mengetahui aku disini?”

“Sejujurnya tidak ada seorang anggota Pok Thian Pang yang tahu Kounio berada disini,” kata Siau Eng. “Tapi orang-orang Ngo Liu Cung selalu memasang mata, begitu In kongcu masuk kedaerah Ek ciu mereka segera memberi laporan kepusat. Pangcu beserta kami segera menyusul kemari.”

“Apakah suhukupun datang?”

“Benar,” jawab Lie Cit Long,”beliau berada di Ngo Liu Cung!”

Wan Jie menarik napas, wajahnya berubah pucat, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya memandang pada In Tiong Giok dan pintu kuburan, begitu sayu dan berkaca-kaca. Sesaat telah berlalu ia baru membuka mulut, “Jika suhuku sudah datang, segera kutemuinya, sekarang kuminta kalian pulang dulu, besok baru kutemuinya!”

“Terima kasih atas kesediaan Kounio,” kata Siau Hong dan Siau Eng sambil bertekuk lutut.

“Pergilah!” seru Wan Jie. Kedua pelayan itu bangkit dari tanah dan memberi hormat lagi, Lie Cit Long pun mengucapkan terima kasih baru berlalu.

“Wan Jie apakah benar engkau akan kembali ke Pok Thian Pang?” tanya In Tiong Giok.

“Sungguhpun aku tak mau, dalam keadaan begini harus mau juga!”

“Bagaimana aku akan mencegah engkau kembali kesana!”

“Baiklah,” kata Wan Jie, “setahun lebih kutunggu engkau kembali, banyak soal yang akan dibicarakan, marilah turut denganku!” Terus diajaknya Tiong Giok masuk kedalam kuburan. Begitu pintu ditutup lagi, keadaan sangat gelap gulita.

Wan Jie menyalakan lampu pelita dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Jangan bersuara dan jalan perlahan-lahan, orang tua itu entah sudah bangun entah belum, tak baik mengganggunya.”

“Siapa orang itu?”

Wan Jie tak menjawab, ia menuntun Tiong Giok menghampiri dua peti mati. Kuburan ini cukup luas, bagi mereka cukup leluasa untuk bergerak. Wan Jie menghampiri kesalah satu peti, dan mengangkat tutupnya dengan mudah. Tiong Giok melongok kedalamnya, ia tidak mendapatkan jenazah orang tuanya, peti itu kosong melompong. Dan merupakan sebuah jalan rahasia yang berbentuk terowongan dibawah tanah.

“Apakah peti yang satu ini kosong juga?” tanya Tiong Giok.

“Tidak!” jawab Wan Jie, “itu peti ayahmu!”

“Lalu kemanakah jenazah ibuku?”

“Sebenarnya inilah peti ibumu, kini sudah dipindahkan kekamar rahasia yang berada didalam tanah.”

“Kenapa engkau memindahkan jenazah ibuku?”

Wan Jie tidak menjawab, ia melangkah masuk kedalam peeti itu, Tiong Giok mengikuti dari belakang. Terowongan itu, bertangga yang menurun kedalam tanah. Setelah melalui tangga itu, mereka harus melalui terowongan pendek, dari sini masuk kesebelah pelita kecil. Wan Jie menggantungkan pelitanya. Mendapatkan bahwa kamar itu terdiri dari dua ruangan, depan dan belakang. Ruangan depan dijadikan sebagai ruang tamu, sedang ruang belakang berhorden dan dijadikan kamar tidur.

“Duduk dulu,” kata Wan Jie dengan perlahan.

“Wan Jie siapa yang sedang tidur itu?”

“Kecuali ibumu, ada siapa lagi?”

“Tidakkah ibuku sudah meninggal dunia?”

“Kuminta jangan keras-keras, nanti ibumu kaget!”

“Aku ingin melihatnya, apakah ibuku itu masih hidup atau sudah mati! Kuminta engkau jangan bergurau!”

“Wan Jie siapa yang bicara?” tiba-tiba dari kamar tidur itu terdengar suara parau.

“Ini gara-garamu membuatnya terbangun!” kata Wan Jie, “Ibu sudah bangun?”

Tiong Giok tidak bisa menahan emosi lagi, ia mendahului Wan Jie masuk kekamar dan terus memanggil-manggil. “Ibu! Ibu, aku sudah kembali!”

Dikamar itu terdapat sebuah balai, yang dibaringi seorang tua berambut putih, “Oh Tiong Giok… engkau telah kembali…!”

Tiong Giok segera merangkul ibunya. “Ya bu anakmu yang berdosa dan tak berbakti ini telah kembali.”

“Akhirnya engkau kembali juga nak,” kata orang tua itu sambil mengusap-usap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Bu, kenapa dengan matamu ini?” tegur Tiong Giok dengan kaget, karena melihat ibunya seperti tidak melihat dirinya saja.

Pertanyaan ini membuat orang tua itu tersenyum sambil menangis, “Tidak kenapa-napa! Tadinya memang sudah berpenyakitan, ditambah menangis saja pad hari-hari belakangan ini, sehingga tidak melihat lagi!”

Tiong Giok menjadi sedih, dirangkulnya ibunya erat-erat sambil menangis dengan kerasnya. Ibu dan anak bertangis-tangisan menjadi satu membuat Wan Jie turut menangis….mereka menangis sepuas-puasnya! Akhirnya Wan Jie juga yang sadar terlebih dahulu, didorongnya Tiong Giok dengan perlahan dan dibisikinya. “Jangan menangis, tak baik membuat ibu bersedih, kita harus membuatnya senang!”

“Tiga tahun kutinggalkan rumah tak kusangka keadaan yang tenang dan tenteram jadi berantakan begini tragis! Untung Tuhan masih mengasihani, masih dapat bertemu dengan ibu, kalau tidak, entah bagaimana perasaan hatiku ini! Aku anak durhaka dan berdosa pada orang tua!”

“Karena Wan Jie aku bisa hidup sampai sekarang…ketahuilah dia telah kujadikan anak angkat!”

“Kebaikan dari Wan Jie takkan kulupakan untuk selama-lamanya!” kata Tiong Giok. “Ibu dapatkah menceritakan apa yang telah terjadi, sewaktu aku tak dirumah?”

“Sejak engkau meninggalkan rumah dan pergi ke markas Pok Thian Pang, siang dan malam membuat kami bersedih dan kuatir, ayahmu sampai sakit dan tak bisa bangun dari ranjang. Sewaktu akan meninggal dunia, Wan Jie datang kemari, darinya kami mengetahui bahwa engkau telah meloloskan diri dari sarang Pok Thian Pang. Hal ini membuat kami bersuka tapi membuat kami cemas juga, karena orang-orang Pok Thian Pang datang kesini untuk mencelakakan kami. Untung Wan Jie sangat pandai, ia memberikan aku obat pulas selama lima hari lima malam dan mennyuruh In Hok membuat kuburan istimewa. Waktu ayahmu meninggal, ia mengatakan akupun meninggal dunia sehingga orang-orang Pok Thian Pang kena dikelabui. Sungguhpun begitu waktu jenazah kami dimasukkan kedalam peti, orang-orang Pok Thian Pang pada banyak yang datang untuk mencek benar tidaknya tentang kematian kami ini. Untunglah mereka kena ditipu. Dan sejak itu kami bersembunyi didalam kuburan ini, sedangkan soal makan dan lain-lain, In Hok yang melakukan dengan diam-diam. Disamping melewatkan hari, kamipun sangat mengharapkan engkau kembali, nyatanya harapan kami tidak sia-sia, kau benar-benar kembali. Andaikata tiada Wan Jie mungkin aku sudah mati, atas ini engkau harus berterima kasih kepadanya.”

“Ibu untuk apa mengatakan begitu, membuat aku malu saja!” kata Wan Jie.

“Kuingat waktu berada dimarkas Pok Thian Pang jika tidak ada Wan Jie akupun mungkin sudah mati! Budi ini sangat besar sekali dan belum bisa kubalas, kini ditambah lagi dengan soal ibu, budi itu bertambah tebal dan entah bagaimana harus kubalas….”

“Engkau jangan mengatakan begitu, sejak aku meninggalkan markas Pok Thian Pang tidak mempunyai rumah, untung ibumu mau mengaku anak kepadaku dan membuat aku mempunyai tempat tinggal, atas ini seharusnya akulah yang menghaturkan terima kasih kepada keluargamu!”

“Jika tidak kau sebutkan aku sampai lupa bertanya…” Kata In Tiong Giok sendiri tersenyum meringis. “Dengar-dengar engkau telah menikah dengan Pek Suhengmu bukan? Kemudian kenapa engkau melarikan diri dari sana?”

“Hm untuk apa bertanya soal itu?”

“Ingin tahu saja memang kenapa? Katanya Pek Kiam Hong pun turut kabur bersamamu bukan?”

“Untukku? Memang kenapa?”

“Pek Suheng adalah orang aneh, sejak kecil tidak mempunyai seorang sahabatpun! Tapi sejak kenal denganmu tabiatnya banyak berubah dan menganggap engkaulah satu-satunya sahabat yang mengerti keadaan dirinya. Karena inilah waktu kami dinikahkan, bukan saja tak setuju ia pun menentangnya dengan keras, karena ia tahu bahwa aku. Untuk inilah kami minggat dari sana!”

“Kini dimana ia berada?”

“Entahlah! Kami sudah lama berpisah satu sama lain, gara-gara ketemu tong teng cit kiam ditelaga See Ouw!”

Sebenarnya ia anak yang baik, dikarenakan suasana yang menekan, membuatnya menjadi manusia aneh! Bilamana bertemu lagi aku harus bergaul terlebih rapat dengannya.”

Wan Jie menarik napas perlahan, penuh kedukaan. “Kupikir, sebaiknya engkau jangan bergaul terlalu rapat dengannya.”

“Memang kenapa?”

“Apakah engkau lupa dengan tanda luka dipunggungmu?”

“Didunia ini banyak yang mempunyai tanda luka dipunggungnya, kebetulan akupun memiliki tanda ini, mana boleh ditentukan begitu saja sebagai musuhnya?”

“Ini bukan kebetulan! Dirimu pasti bersangkutan dengan kematian ayahnya Pek Suheng.”

“Kudengar sendiri Pek Kiam Hong mengatakan ayahnya dibunuh seorang jago silat; sedangkan ayahku bukan ahli silat, jika tidak percaya, tanyakanlah pada ibuku….”

“Justru karena sudah menanyakan hal ini kepada ibumu, aku baru berani mengatakan begitu!”

In Tiong Giok menoleh kepada ibunya dengan wajah bertanya-tanya. Sebelum ia menanya, ibunya telah menganggukkan kepala membenarkan Wan Jie. “Sedikitpun tidak salah,” kata orang tua itu.

Tiong Giok semakin heran, seolah-olah ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. “Apakah ayah pandai bersilat?” tegurnya dengan heran.

“Tidak!”

“Lalu kenapa ayah bisa membunuh orang Kang Ouw?”

Sang ibu tidak menjawab, ia menyuruh Wan Jie mengambil sesuatu benda dari lemari. Sang gadis dengan cepat telah mengambil suatu kas kecil dari lemari. Orang tua itu menyambut kas itu dengan lengan bergetar, air matanyapun entah bagaimana menetes turun. “Tiong Giok dengarkan baik-baik ceritaku, jangan kaget, jangan pula sedih, kejadian ini lambat laun harus engkau ketahui juga…”

“Apakah yang ibu akan katakana? Dan apa pula isinya kas ini?”

“Kas ini berisi suatu rahasia besar tentang dirimu! Selama belasan tahun kurahasiakan, kini kurasa sudah tiba saatnya untuk kau ketahui semua itu! Tapi sebelum kubuka rahasia ini, sebaiknya engkau perhatikan isinya kas ini!” Segera ia membuka kas itu. Dengan cepat Tiong Giok melongok kedalamnya, ia melihat kerudung bayi yang sudah lapuk dan bernoda darah serta pakaian anak kecil yang berdarah juga. “Apa artinya benda-benda ini bu?”

“Coba kau jembreng dan kau perhatikan baju kecil ini!”

Tiong Giok membuka baju kecil itu, tampak digabian pundak kirinya robek, dan dibagian dalamnya tersulam dua huruf kecil berbunyi Sian Gan.

“Baju kecil ini satu-satunya bukti yang menyangkut tentang rahasia dirimu, sedangkan dua huruf Sian Gan itu, dapat dijadikan unsure untuk engkau mencari ibu kandungmu….”

“Ibu, maksudmu aku ini…”

“Ya, engkau bukan she In, engkau hanya sebagai anak pungut kami!”

“Ibu….” seru Tiong Giok dengan nada gemetar.

“Tiong Giok tenanglah!” pinta Wan Jie.

Tiong Giok menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya mengembang dikelopak matanya.

“Tidak! Semua ini bohong! Bohong!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: