Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:58 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Epilog (Tamat)
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Pintu yang menuju tangga batu itu telah dibuka, Cu Ting yang membukanya. Jika seseorang bisa membuat sebuah pintu seperti itu, tentu akan ada orang yang bisa membukanya.

Banyak kejadian seperti itu di dunia. Itulah sebabnya jika kau bisa membuat sebuah tameng yang tak dapat ditembus oleh tombak mana pun, lalu orang lain tentu akan membuat sebuah tombak yang bisa menembus tamengmu. Tak ada sesuatu yang “mutlak” di dunia ini.

Liok Siau-hong duduk di tangga, sambil memandang Ho Siu yang berada di dalam kandang. Tiba-tiba ia mendapat perasaan bahwa kandang itu sedikit mirip dengan sebuah sel penjara.

Bila seseorang berbuat salah, ia harus menanggung akibatnya. Liok Siau-hong menarik nafas. Ia merasa cukup puas dengan akhir semua ini. Maka bagaimanakah akhir dari semua kejadian ini?

Lopan sedang sibuk menggunakan sebuah segitiga kayu untuk mengukur ketinggian gua itu. Lopannio berada di sampingnya, sedang memandanginya. Ia tahu bahwa suaminya sedang mendapat sebuah ide baru yang brilian, tapi ia tidak bertanya. Ia tahu bahwa tidak seorang pun laki-laki di dunia ini suka direcoki oleh seorang perempuan yang cerewet saat ia sedang berfikir.

“Apakah orang itu hendak pergi?” Tiba-tiba Cu Ting bertanya padanya.

“Mmhmm!”

“Dan kau tidak mengantarnya?”

“Jika kau mau mengantarnya, maka aku akan ikut.”

“Tampaknya dia tidak ingin aku yang mengantarnya pergi.” Cu Ting berkata dengan dingin.

“Dan kau pun tidak ingin mengantarnya, kan?”

Cu Ting mengakuinya.

“Tapi jika dia membutuhkan bantuanmu, dengan mengirimkan utusan yang membawa sebuah pesan ke sini, kau pun akan segera membantu.”

“Itu hanya karena aku tahu jika aku membutuhkan bantuannya, dia pun akan datang juga.”

“Tapi walaupun demikian, tidak ada saling tegur-sapa atau bicara satu sama lain di antara kalian.”

“Datang atau tidak adalah satu persoalan, bicara atau tidak adalah persoalan lain yang sangat berbeda.”

“Mungkin tidak ada lagi pasangan sahabat seperti kalian berdua di dunia ini.” Lopannio menarik nafas.

Cu Ting meletakkan segitiga kayu yang ia pegang dan menatap isterinya.

“Aku memutuskan untuk tinggal di sini.”

“Aku tahu.”

“Bisakah kau tinggal di sebuah tempat seperti ini?”

“Asal kau bisa, aku pun bisa.”

“Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau tidak mau tinggal di sini.”

“Kau ingin mengusirku pergi supaya setan kecil itu bisa menemanimu?” Lopannio menatapnya dengan sengit.

“Sejak kapan kau jadi pencemburu?” Cu Ting bergurau.

“Sekarang.”

“Sekarang?”

“Apa yang dikatakan setan kecil itu padamu?”

“Sebuah rahasia, tentunya.” Cu Ting tersenyum.

“Rahasia apa?” Lopannio kembali menatapnya dengan sengit.

“Akan kuceritakan padamu nanti, tapi sekarang……” Cu Ting menjawab dengan santai. “Sekarang kau boleh pergi dan mengucapkan selamat jalan padanya.”

“Aku tidak mau.”

“Kenapa tidak?”

Lopannio menggigit bibirnya. “Sejak hari ini, aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu, tak perduli apa. Karena……”

“Karena apa?”

Lopannio menatapnya, matanya yang indah penuh dengan perasaan cinta.

“Karena baru sekarang aku sadar betapa hebatnya dirimu, aku takut kalau orang lain mencurimu dariku.” Ia berkata dengan lembut.

***

Liok Siau-hong memandang mereka dari kejauhan, dan tiba-tiba menarik nafas.

“Tampaknya masalah mereka telah berakhir.”

“Memangnya apa masalah mereka?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Selama beberapa tahun terakhir ini Lopannio tampaknya agak kecewa dengan Lopan, dulu aku khawatir hubungan mereka akan merenggang.”

“Apakah Lopannio merasa Lopan terlalu pemalas?”

“Tapi sekarang dia tentu telah tahu betapa jenius suaminya.” Liok Siau-hong tersenyum.

“Jika bukan karena dia, kita semua mungkin telah mati di sini.” Hoa Ban-lau setuju.

Setiap wanita tentu berharap bahwa ia bisa membanggakan suaminya.

Liok Siau-hong kembali menarik nafas.

“Aku tidak terlalu merisaukan hal itu, tapi kelaparan adalah soal lain.”

Ia memandang ke kandang Ho Siu. Tapi mata Ho Siu tampak melotot saat menatap Siangkoan Soat-ji yang berada di luar kandang.

Soat-ji memegang sebotol saus dan dua butir biskuit, mengucapkan sesuatu pada Ho Siu yang terdengar seperti suara ocehan dari kejauhan bagi Liok Siau-hong.

Ho Siu begitu marahnya sekarang sehingga urat-urat di lehernya tampak menonjol keluar. Tiba-tiba ia melompat bangkit dan menyerbu ke pinggir kandang, berusaha memukul patah jeruji besi itu. Tentu saja ia gagal. Ia membuat kandang itu secara khusus sehingga tidak ada orang yang bisa merusaknya.

Soat-ji berdiri di luar kandang, menatapnya dengan dingin. Ia seperti hendak berjalan pergi ketika Ho Siu tiba-tiba memanggilnya kembali. Mereka berdua lalu berbincang-bincang lagi. Ho Siu mengeluarkan suara nafas lelah, menuliskan sesuatu di selembar kertas, dan menyerahkannya pada Soat-ji untuk ditukarkan dengan saus dan biskuit itu. Lalu ia segera duduk di lantai dan makan dengan lahap.

“Ia masih lebih suka mati daripada memberitahu kita di mana uang itu berada?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.

“Ia tidak takut mati.”

“Karena dia benar-benar yakin bahwa kemiskinan itu lebih buruk daripada kematian?” Hoa Ban-lau tertawa dengan geram.

“Tapi mungkin dia baru saja menemukan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kemiskinan.” Liok Siau-hong balas tertawa.

“Kelaparan?”

Liok Siau-hong belum menjawab ketika Soat-ji kelihatan datang mendekat sambil melompat-lompat kegirangan, matanya tampak bersinar-sinar.

“Aku baru saja menjual sebotol saus dan dua butir biskuit padanya,” ia tertawa. “Bisakah kalian tebak dengan harga berapa aku menjualnya?”

Mereka tak bisa.

“Lima puluh ribu tael, tak kurang sedikit pun!” Soat-ji dengan bangga melambai-lambaikan lembaran cek yang ada di tangannya. “Aku bisa membawa cek ini, yang ditulis olehnya, ke bank mana pun yang aku inginkan, kapan pun aku mau, dan menukarnya dengan uang tunai.”

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak tertawa.

“Hatimu memang hitam, tahu?”

“Aku ragu kau bisa menemukan saus yang lebih mahal lagi di dunia ini.” Hoa Ban-lau bergurau.

“Itulah sebabnya rubah tua itu hampir jadi gila karena marah, tapi dia terpaksa setuju.” Soat-ji menerangkan.

“Kelaparan adalah sesuatu yang menakutkan.”

“Kau berencana untuk mendapatkan semua uangnya dengan cara seperti ini?” Liok Siau-hong bertanya.

“Uang itu memang milik keluarga kami, jangan lupa kalau margaku juga Siangkoan.”

“Walaupun kau berhasil mencuri 50 ribu tael perak darinya setiap hari, kau tidak akan bisa membuatnya bangkrut selama paling sedikit setahun atau dua tahun.” Liok Siau-hong tertawa.

“Maka aku akan tinggal di sini dan mencuri selama 3 tahun, atau berapa pun lamanya. Di samping itu, aku pun punya teman.”

“Lopan telah memutuskan untuk tinggal di sini?”

Soat-ji mengangguk, sebuah senyum yang misterius pun muncul di wajahnya. “Ia memberitahu isterinya bahwa ia ingin tinggal di sini untuk menciptakan beberapa buah benda yang benar-benar luar biasa. Tapi hanya aku yang benar-benar tahu kenapa ia memutuskan untuk tinggal di sini.”

“Dan apakah penyebabnya?”

“Itu rahasia.” Soat-ji mengedip-ngedipkan matanya, senyuman di wajahnya tampak makin misterius.

“Apa rahasianya?”

“Jika ini adalah rahasia, lalu kenapa harus kuberitahukan padamu?”

Liok Siau-hong menatap wajahnya beberapa lama sebelum akhirnya tersenyum. “Aku tidak tertarik pada rahasiamu itu, tapi aku agak khawatir.”

“Mengkhawatirkan apa?”

“Bila kau menukar cek ini dengan uang tunai, tidakkah orang-orang akan bertanya dari mana kau mendapatkannya?”

“Tentu saja tidak ada yang bertanya.”

“Oh?”

“Jangan lupakan betapa aneh dan misteriusnya rubah tua ini, bahkan bawahannya yang paling dipercaya pun tidak tahu di mana dia berada, dia selalu melakukan sesuatu dengan cara yang misterius.”

“Tampaknya akal liciknya sendiri telah menggigitnya kembali.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tentu saja,” Soat-ji tertawa. “Jika bukan karena dia sendiri, tidak mungkin aku bisa menguras uang itu darinya dengan cara semudah ini.”

Nasib manusia tidak lebih daripada hasil ciptaannya sendiri, itulah sebabnya orang yang paling tulus dan jujur selalu mendapatkan keberuntungan.

Masih sambil tersenyum, Liok Siau-hong bangkit berdiri dengan lambat. “Kau boleh tinggal di sini dan mendapatkan semua uang yang bisa kau dapatkan darinya. Sementara itu, bisakah kau dapatkan beberapa kendi arak darinya untukku?”

“Kau…… kau akan pergi sekarang juga?” Soat-ji menatapnya.

“Jika aku tinggal di tempat seperti ini, aku akan terkejut jika aku tidak mati karena bosan sebelum tiga hari berlalu.” Liok Siau-hong tertawa.

“Kau tidak ingin bertanya padaku tentang rahasiaku?”

“Tidak.”

Biji mata Soat-ji tampak berputar-putar. Tiba-tiba dia tersenyum. “Sebenarnya, memberitahumu juga tidak apa-apa, kau akan mengetahuinya cepat atau lambat.”

Liok Siau-hong tampaknya tidak keberatan.

“Sebabnya dia mau tinggal di sini adalah karena dia jatuh cinta padaku dan aku juga jatuh cinta padanya.”

Liok Siau-hong tertawa.

“Aku tahu kau tidak akan percaya,” Soat-ji meneruskan dengan santai. “Tapi bila aku nanti menikah dengannya, maka kau terpaksa harus mempercayainya.”

“Kau akan menikah dengannya?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya. “Lalu bagaimana dengan Lopannio?”

“Kenapa seorang Lopan hanya boleh punya seorang Lopannio?” Soat-ji bertanya. “Jika kau bisa memiliki empat alis, kenapa Lopan tidak bisa mempunyai 2 orang Lopannio?”

***

Lereng gunung itu telah berada di bawah sinar matahari terbenam, Liok Siau-hong berjalan menelusuri lereng itu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah berjalan beberapa lama, tiba-tiba ia memecahkan kesunyian itu.

“Setan kecil itu tentu sedang berdusta lagi.”

“Mmhmm!” Hoa Ban-lau setuju.

“Lopan tidak gila, kenapa ia mau mengambil setan kecil seperti dia menjadi Lopannio?”

“Tentu saja ia tidak akan mau.”

Liok Siau-hong berjalan dalam diam untuk beberapa lama.

“Tapi Lopan adalah seorang telur busuk, kadang-kadang ia bisa berbuat gila.” Tiba-tiba dia bicara lagi.

“Dan isteri kecil Lopan itu juga seorang setan kecil.”

“Maka sebaiknya kau segera kembali dan berusaha membujuk telur busuk itu untuk mengenyahkan ide gila itu dari fikirannya.”

“Mengapa bukan kau yang pergi sendiri?”

“Kau kan tahu kalau dia dan aku sudah lama tidak bicara satu sama lain.”

“Jika urusan ini tidak benar, lalu bukankah Lopan akan menganggap kita berdua sebagai ‘kulit kacang’?”

{Catatan: kulit kacang adalah idiom untuk menyebut orang yang bodoh.}

“Memangnya kenapa kalau menjadi ‘kulit kacang’ sekali-sekali?”

“Kelihatannya siapa pun yang menjadi temanmu tak bisa tidak harus mengobati penyakitmu dan akhirnya menjadi sedikit gila juga.” Hoa Ban-lau menarik nafas.

Dan ia terpaksa pergi juga.

Liok Siau-hong, seperti orang tolol, duduk di pinggir jalan dan menunggu. Untunglah jalan ini sangat terpencil, selain dari seorang nenek tua yang sedang memetik buah liar, tidak ada lagi orang yang lewat. Ia tidak menunggu terlalu lama ketika Hoa Ban-lau akhirnya kembali.

“Bagaimana?” Liok Siau-hong segera bertanya.

“Kau tolol, dan aku juga.” Hoa Ban-lau memasang mimik muka serius.

“Jadi semua itu tidak benar?”

“Mereka punya sebuah rahasia, Cu Ting mengangkat Soat-ji sebagai puterinya.”

Liok Siau-hong tertegun mendengar berita itu.

“Kau tahu kalau setan kecil itu sedang berdusta, dan kau masih mau percaya, kenapa?” Hoa Ban-lau menarik nafas dan tertawa pedih.

Liok Siau-hong menarik nafas dan ikut tertawa pedih. “Karena aku bukan hanya seorang telur busuk, aku pun seorang keledai dungu.”

Saat ia mengangkat kepalanya, kebetulan terlihat Soat-ji sedang mengejar mereka dari belakang.

“Apakah kalian melihat ada orang yang lewat beberapa saat yang lalu?” Ia bertanya sambil berusaha mengambil nafas.

“Hanya seorang nenek pemetik buah.” Liok Siau-hong menjawab.

Soat-ji hampir melompat saat mendengar ucapan itu.

“Nenek itu tentu kakakku.”

“Kakakmu? Siangkoan Hui-yan?”

Soat-ji mengangguk, matanya tampak bersinar-sinar. “Baru sekarang aku tahu kalau dia belum mati, dia sangat pintar memalsukan kematiannya. Sesudah kalian pergi tadi, aku turun ke……”

Liok Siau-hong tidak menunggu ucapannya selesai sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi. Bukan hanya pergi, tapi dia juga menarik tangan Hoa Ban-lau.

“Aku tidak perduli apa yang kau katakan kali ini, aku tidak mau terperdaya lagi! Aku bahkan tidak mau mendengarkan ucapanmu lagi.” Tampaknya dia telah mengambil keputusan kali ini, dia pergi dengan tergesa-gesa.

Soat-ji memandangi kepergian mereka, ia seolah-olah terhipnotis, baru kemudian ia akhirnya menarik nafas dengan lembut.

“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada orang yang percaya padaku……” Ia bergumam pada dirinya sendiri.

TAMAT

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: