Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:56 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 11: Orang Yang Paling Cerdas
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Udara dipenuhi oleh aroma arak yang harum dan memabukkan, api di dalam tungku tanah liat kecil itu tidak besar, tapi cukup untuk menghangatkan gua yang dingin itu.

“Yah, paling tidak aku datang ke tempat yang tepat,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dan pada waktu yang tepat pula.”

Ho Siu juga menarik nafas.

“Aku tidak mengerti kenapa orang ini selalu muncul waktu aku hendak menikmati arak bagus.”
Dia tersenyum dan berpaling ke arah mereka. Matanya yang berkilauan dan bersemangat mampu membuat pakaiannya yang butut itu jadi tidak diperhatikan orang lagi.

“Jika kalian tidak takut pakaian kalian terkena noda, kenapa kalian tidak duduk dan minum bersamaku?” Ia bertanya sambil tersenyum.

Liok Siau-hong memandang jubah merah menyala yang ia kenakan dan pakaian Ho Siu yang mulai pudar warnanya itu, dan tertawa.

“Bila aku punya pelayan sebanyak jumlah pelayanmu sekarang, aku juga akan memakai pakaian seperti itu.”

“Oh?”

“Pakaianmu adalah pakaian yang hanya dikenakan oleh orang-orang terkaya, jadi aku belum pantas.”

“Kenapa?”

“Karena bila seseorang benar-benar telah memiliki uang yang banyak, maka orang tak perduli lagi dia mengenakan apa.”

“Sayangnya kau tak akan pernah menjadi kaya!” Ho Siu tersenyum.

“Mengapa?”

“Karena kau terlalu cerdas, tak ada orang secerdas dirimu yang jadi kaya.”

“Tapi waktu terakhir kali kita bertemu, kau mengatakan bahwa aku akan bisa kaya cepat atau lambat.”

“Itu karena aku belum tahu betapa cerdas sebenarnya dirimu.”

“Jadi kapan kau mengetahuinya?”

“Sekarang.”

Liok Siau-hong kembali tertawa.

“Selain dari dirimu, mungkin tidak ada lagi orang yang bisa masuk ke sini tanpa perlu banyak usaha.”

“Apakah itu karena tidak ada lagi orang yang sepenurut diriku?” Liok Siau-hong bergurau.

Ho Siu mengangguk.

“Bila mereka melihat kata “DORONG” di pintu, paling sedikit 9 dari 10 orang tentu tidak mau mendorong pintu itu, dan jika kau tidak mendorong pintu tersebut maka tidak mungkin kau bisa masuk ke sini. Jika kau tidak berbelok waktu melihat kata “BELOK”, maka tidak mungkin kau mampu keluar dari jalan rahasiaku itu. Jika kau tidak berhenti waktu melihat kata “BERHENTI”, maka biarpun kau berhasil menghindari serangan panah, paling tidak selembar kulitmu akan hilang terkena minyak panas yang ditumpahkan padamu.”

“Tapi yang paling keji adalah gas beracun yang kau semburkan ke ruangan tempat kami berada, bahkan Hoa Ban-lau pun hampir semaput. Mungkin tidak terlalu banyak orang yang bisa menduga bahwa bukan hanya tidak ada racun di dalam arak itu, tapi di situlah obat penawarnya berada.”

“Tapi kau berhasil menebaknya.”

Liok Siau-hong tersenyum.

“Aku hanya tahu bahwa tidak perduli apakah kau adalah orang baik atau jahat, paling tidak kau bukanlah orang yang tega berdusta pada sahabatmu. Karena kau tidak memiliki banyak sahabat, kau tentu tidak mau kehilangan satu orang pun.”

Ho Siu menatapnya dengan matanya yang cerah, menatapnya selama beberapa lama.

“Apa lagi yang engkau ketahui?” Tiba-tiba dia bertanya.

Liok Siau-hong juga menatapnya, menatapnya untuk waktu yang lama.

“Aku juga tahu bahwa margamu bukan Ho, namamu yang sebenarnya adalah Siangkoan Bok.” Ia menjawab lambat-lambat.

“Benar.” Wajah Ho Siu sedikit pun tidak berubah ketika dia menjawab.

“Kau bersama Giam Thi-san dan Tokko It-ho dulunya adalah pejabat-pejabat penting di Kekaisaran Rajawali Emas.”

“Benar.”

“Waktu Kekaisaran Rajawali Emas jatuh, kalian bertiga yang memegang seluruh harta kekaisaran dan membawanya ke sini, ke Cina.”

“Benar.”

Wajahnya masih tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa penyesalan atau haru.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tapi kalian bertiga lalu mengambil keuntungan dari keadaan itu dan menguasai harta tersebut. Setelah tiba di Cina, kalian pergi bersembunyi dan tidak mencari kaisar ke-13 seperti yang diperintahkan pada kalian…..”

“Kau keliru.” Ho Siu tiba-tiba memotong.

“Keliru?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Keliru tentang sebuah hal kecil.”

“Apa itu?”

“Yang tidak menepati janjinya bukanlah kami, tapi pangeran kecil itu yang melarikan diri bersama Siangkoan Kin.”

Liok Siau-hong terdiam, dia tidak memperkirakan hal itu, dia bahkan tidak memikirkan kemungkinan itu.

“Dia bukan hanya tidak datang ke tempat yang disepakati, dia pun bersembunyi dari kami sampai saat ini. Kami telah mencari selama bertahun-tahun dan masih tidak berhasil menemukannya.”

“Jadi itu masalahnya, bukan kalian yang menghindar darinya, tapi dialah yang menghindar dari kalian.”

“Benar.”

“Kalian bertiga adalah pejabat-pejabat penting dan terpercaya dari kaisar sebelumnya, dan membawa harta yang demikian banyak bersama kalian. Kenapa dia bersembunyi dari kalian? Apakah ada yang salah dengannya?”

“Karena harta yang luar biasa besarnya itu bukanlah miliknya,” Ho Siu menjawab dengan dingin. “Harta itu adalah milik Kekaisaran Rajawali Emas.”

“Apakah ada bedanya?”

“Perbedaannya besar sekali.”

“Oh.”

“Jika dia menerima harta itu, maka dia berkewajiban untuk menggunakan uang tersebut buat mendirikan kembali Kekaisaran Rajawali Emas. Itu bukan hal yang mudah, bukan hanya rintangan menghadang di sepanjang jalan, dia pun bisa kehilangan nyawanya kapan saja.”

Liok Siau-hong setuju. Lahir sebagai anggota keluarga kerajaan bukanlah hal yang benar-benar menguntungkan. “Kuberharap tidak pernah dilahirkan kembali sebagai anggota keluarga kerajaan” adalah sebuah kalimat yang menggambarkan kepahitan dan kesulitan yang tidak semua orang bisa memahaminya.

Sinar mata Ho Siu tampak semakin putus asa dan sedih.

“Sayangnya kaisar kecil kami itu bukanlah seorang calon jenderal yang hebat.” Ia berkata lambat-lambat.

“Orang macam apakah dia?” Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.

“Dia seperti Kaisar Li, seorang yang puitis, dan juga mirip Song HuiZong, seorang pelukis; sejak kecil, dia telah disebut orang sebagai Jenius dari Tiga Macam Keahlian, ‘membaca puisi, menulis, dan melukis’.”

Ia menarik nafas dan melanjutkan. “Bagi orang seperti dia, siapakah sebenarnya dirinya bukanlah hal yang penting, kehilangan tahtanya pun mungkin tidak masalah baginya, selama dia bisa menulis puisi, menyanyikan lagu-lagu, dan hidup bebas dari perasaan khawatir dan cemas, itulah yang selalu dia inginkan, di samping itu…..”

“Ya?”

“Di samping itu, harta yang dibawa Siangkoan Kin bersamanya pun sudah lebih dari cukup untuk dipakai mereka seumur hidup.”

Liok Siau-hong tidak bicara lagi, tapi kebisuannya bukan berarti dia percaya.

“Kau tidak mempercayaiku?”

Liok Siau-hong masih tidak menjawab.

“Ransum dan senjata yang kami kumpulkan untuk persiapan pendirian kembali kekaisaran kami semuanya berada di luar, kau mungkin sudah melihatnya, kan?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Kami memang telah menggunakan sedikit harta kekaisaran itu, tapi tujuannya adalah menggunakan uang itu untuk membangun sebuah bala tentara yang akan bertempur buat pendirian kembali kekaisaran, karena, seperti yang kau katakan, kami adalah pejabat-pejabat penting dinasti sekarang. Tapi jika kaisar kami tidak muncul, lalu untuk apa kami bertempur?”

Kata-katanya itu hampir memaksa Liok Siau-hong mempercayainya, walaupun ia tidak ingin.

“Tapi jika dia benar-benar bersembunyi dari kalian selama bertahun-tahun ini, kenapa dia tiba-tiba berusaha mencari kalian sekarang?” Ia terpaksa mengajukan pertanyaan terakhir.

“Hal itu mungkin ada kaitannya dengan orang-orang yang mendatangi kami sebelumnya.” Ho Siu menjawab dengan dingin.

“Oh?”

“Empat orang tua yang ada di luar sana, aku yakin kau telah bertemu dengan mereka.”

Liok Siau-hong tiba-tiba mendapat sebuah firasat.

“Maksudmu mereka semua adalah penipu-penipu yang berusaha mendapatkan harta itu?”

Ho Siu mengangguk.

“Mereka ingin kaya, maka kubiarkan mereka duduk menghadapi harta itu sepanjang hari setiap harinya. Mereka ingin berpura-pura menjadi raja, maka kubiarkan mereka duduk di singgasana dan mengenakan Jubah Naga itu sepanjang hari setiap harinya.” Ho Siu menjawab dengan santai. “Walaupun mereka berusaha mendapatkan uang itu dengan cara menipu, kau tak bisa mengatakan kalau perlakuanku terhadap mereka ini keterlaluan.”

Liok Siau-hong menarik nafas dan menampilkan sebuah senyuman yang agak canggung.

“Ternyata kau bukan orang baik-baik, orang baik tak akan memperlakukan orang lain seperti itu.”

Tapi kenyataannya ia harus mengakui bahwa tidak ada cara yang lebih tepat untuk menangani orang-orang seperti itu.

“Urusan ini seharusnya merupakan sebuah rahasia besar, selain dari kami berempat dan pangeran kecil kami yang menjadi kaisar, seharusnya tidak ada lagi orang yang mengetahuinya.”

“Jika demikian, kenapa mereka bisa tahu?”

“Mereka pun tidak tahu.”

Liok Siau-hong terdiam, dia tidak memahami maksud ucapan Ho Siu.

“Yang mengetahui tentang rahasia ini adalah orang lain, mereka hanyalah pion-pion yang digunakan oleh orang itu.”

“Siapakah orang lain ini?”

“Tak tahu.”

“Mereka pun tidak tahu?”

“Jika kau adalah dia, maukah kau muncul tanpa samaran?” Ho Siu mendengus.

“Tidak,” Liok Siau-hong menyahut sambil tersenyum pilu.

“Secara keseluruhan, mereka telah bertemu orang itu sebanyak tiga kali. Setiap kali bertemu dengan mereka, penampilan orang itu selalu berbeda. Jika bukan karena suaranya yang tidak berubah, mereka tentu tidak percaya kalau dia adalah orang yang sama.”

“Jadi tampaknya, bukan hanya rencana-rencana orang ini tidak ada cacatnya, dia juga seorang ahli menyamar.”

Sejak tadi Hoa Ban-lau hanya mendengarkan dari samping.

“Ahli samaran yang sesungguhnya tentu bisa merubah suara mereka juga.” Tiba-tiba dia memotong.

“Oh?” Liok Siau-hong menjawab.

“Seni menyamarkan diri adalah bagian dari Ninjutsu yang berasal dari tiga pulau Jepang yang terletak di pantai timur. Dalam seni ini, ada sebuah keahlian khusus yang, bila telah dikuasai, memungkinkan pemiliknya untuk mengendalikan otot-otot di dalam tenggorokannya, sehingga dia bisa merubah suaranya.”

{Saat itu wilayah Jepang tidak termasuk Hokkaido.}

“Apakah kau pun bisa tertipu oleh ilmu ini?” Liok Siau-hong bertanya.

“Jika seseorang benar-benar menguasai ilmu ini, bahkan aku pun tak mampu mengetahui perbedaannya.”

“Jadi mungkin saja Tay-kim-peng-ong yang meminta pertolongan kita itu juga palsu?” Liok Siau-hong bertanya pada dirinya sendiri.

“Sebabnya aku meminta Sukong Ti-sing menculik Siangkoan Tan-hong dari kalian adalah untuk memeriksa apakah dia tulen atau tidak, sayangnya SiKong kebetulan adalah teman kalian sendiri!”

“Untunglah kau akhirnya berhasil juga dan Siangkoan Tan-hong tetap jatuh ke tanganmu.”

“Siapa bilang dia ada di tanganku?”

“Memangnya tidak?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Tidak.”

Liok Siau-hong kembali terkejut, karena dia tahu bahwa Ho Siu bukanlah tipe pendusta.

Tetapi jika Ho Siu tidak berdusta, kenapa Siangkoan Tan-hong tiba-tiba menghilang? Ia tak bisa menebak penyebabnya, tak seorang pun bisa menebaknya.

“Aku belum pernah bertemu dengannya!” Ho Siu menambahkan.

“Lalu, pernahkah kau bertemu dengan Siangkoan Hui-yan?” Liok Siau-hong terus menyelidik.

“Aku bahkan belum pernah mendengar nama itu sebelumnya!”

Liok Siau-hong makin bingung. Sedikit pun ia tak menduga perkembangan masalah ini akan semakin berliku-liku.

Yang bisa dia lakukan hanyalah memaksakan sebuah senyum penyesalan di wajahnya.

“Tak heran kalau Giam Thi-san berusaha mengusirku pergi saat dia mendengar aku mengungkit-ungkit masalah ini. Mungkin dia mengira aku juga berusaha mendapatkan harta itu.”

“Tapi saat itu kau mengira bahwa dia marah dan frustrasi karena rahasia lama ini diungkapkan.” Ho Siu berkomentar.

Liok Siau-hong terpaksa mengakui bahwa Ho Siu benar. Baru sekarang dia akhirnya mengerti kenapa wajah Giam Thi-san menampilkan ekspresi yang begitu aneh waktu dia melihat Siangkoan Tan-hong tepat sebelum dia mati. Tapi mungkinkah Siangkoan Tan-hong adalah dalang dari semua ini?

Tapi dia masih tidak percaya kalau semua ini adalah dusta. Jika semua ini telah direncanakan, lalu kenapa ada begitu banyak orang yang berusaha mencegahnya ikut campur dalam urusan ini? Dan lebih jauh lagi, kenapa Jing-ih-lau terlibat dalam masalah ini dan berusaha mencegahnya bertemu dengan Tay-kim-peng-ong?

“Kapan terakhir kalinya kau bertemu kaisar kecil itu?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.

“Lebih dari 40 tahun yang lalu.”

“Dan berapa usianya saat itu?”

“Tiga belas tahun.”

“Empat puluh tahun, bahkan seorang anak berusia 13 tahun pun sudah menjadi laki-laki tua.” Hoa Ban-lau merenung.

Ho Siu menarik nafas dalam-dalam.

“Waktu tidak memberi ampun, setiap orang tentu akan menjadi tua.”

“Lalu bagaimana kau tahu apakah seorang laki-laki tua berusia 60 tahun adalah kaisar yang dulu berusia 13 tahun itu?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Ada rahasianya, sebuah rahasia yang tersimpan rapat-rapat.” Ho Siu menjawab dengan suara yang berat dan tenang.

Hoa Ban-lau tidak bertanya lagi, ia percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai rahasia.

Tapi Ho Siu meneruskan. “Tapi aku percaya pada kalian berdua, aku mau memberitahukan rahasia ini pada kalian.”

Hoa Ban-lau menggunakan kebisuannya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, mendapat kepercayaan dari orang seperti Ho Siu bukanlah urusan gampang.

“Setiap Tay-kim-peng-ong selalu memiliki cacat lahir, mereka mempunyai 6 jari kaki pada masing-masing kaki mereka.”

“Jadi itulah yang kau gunakan untuk mengetahui bahwa orang-orang tua itu adalah penipu!” Liok Siau-hong tersadar.

Ho Siu mengangguk.

“Jika orang lain mengetahui rahasia ini pun tetap sangat sukar baginya untuk memalsukannya. Aku belum pernah melihat orang dengan 6 jari kaki di kedua kakinya.”

“Aku pun belum pernah melihatnya.” Liok Siau-hong menjawab.

Ho Siu tersenyum.

“Hehe, orang yang mempunyai empat alis pun tidaklah banyak.”

Liok Siau-hong juga tersenyum.

“Jadi yang harus kalian lakukan sekarang adalah mengusahakan agar Tay-kim-peng-ong kalian itu melepaskan sepatunya dan menghitung jumlah jari kakinya,” Ho Siu berkata. “Maka kalian akan tahu apakah ia asli atau tidak.”

“Itu tidak terlalu sukar.”

“Mengusahakan agar seorang laki-laki melepaskan sepatunya tentu jauh lebih mudah daripada mengusahakan agar seorang gadis membuka celananya.” Ho Siu tersenyum.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tampaknya kau benar-benar bukan seorang laki-laki sejati.”

Ho Siu pun menarik nafas.

“Menjadi orang baik tidaklah sulit, tapi merendah seperti diriku barulah sukar.”

Liok Siau-hong memahami maksud ucapannya. Bila seseorang harus menjaga sebuah harta yang besar, ia tentu harus merendah serendah-rendahnya untuk berjaga-jaga terhadap orang lain.

“Jika Tay-kim-peng-ong kalian itu adalah kaisar yang sebenarnya, maka aku akhirnya akan bisa melepaskan beban yang berat ini dari pundakku,” Ho meneruskan. “Jika tidak, maka…..”

“Jika tidak, maka aku akan mengundangnya ke sini untuk menemani empat orang di luar sana.” Liok Siau-hong menyelesaikan ucapannya.

______________________________

Saat mereka berjalan keluar dari gua misterius itu, fajar telah tiba. Angin musim semi terasa dingin tapi bersih menyegarkan. Lereng bukit itu tampak menghijau, dan tetesan embun di dedaunan tampak seperti batu permata di bawah sinar fajar. Betapa cantik dan indahnya dunia ini.

Hal pertama yang dilakukan Liok Siau-hong adalah mengambil nafas dalam-dalam.

“Firasatku benar,” ia berkata sambil tersenyum lelah. “Aku kembali bertemu sesuatu yang ganjil.”

Perkembangan masalah ini memang tak bisa diperkirakan oleh siapa pun.

“Fikirkanlah,” Hoa Ban-lau tiba-tiba berkata. “Apakah menurutmu di dunia ini memang ada orang yang berjari 6 di setiap kakinya?”

“Aku tak tahu, belum pernah melihatnya.”

“Jika tidak ada orang seperti itu di dunia ini, maka kita tak akan pernah bisa menemukan Tay-kim-peng-ong ‘yang sebenarnya’, kan? Lalu bukankah kata-kata Ho Siu akan menjadi kebenaran padahal sebenarnya tidak?”

Liok Siau-hong berfikir sebentar.

Tiba-tiba ia tersenyum.

“Aku hanya tahu bahwa dunia ini aneh, di mana segala macam orang-orang aneh pun ada.”

Hoa Ban-lau juga tersenyum.

“Benar, jika ada orang yang beralis 4, lalu kenapa tidak mungkin ada orang yang berjari-kaki 6? Sayangnya sekarang alismu hanya tersisa 2.”

Liok Siau-hong meraba-raba bagian atas bibirnya tempat kumisnya dulu berada.

“Kau keliru lagi.” Ia tersenyum.

“Tentang apa?”

“Tak perduli berapa sering seseorang mencukur kumisnya, kumis itu akan selalu tumbuh kembali.”

Setelah ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba ia melihat seseorang berjalan keluar dari kabut pagi yang tebal seperti sesosok hantu.

Wajahnya pucat, jelas ia kelelahan dan rapuh, tapi masih kelihatan sangat cantik.

Liok Siau-hong mengenalinya.

“Nona Yap Siu-cu?”

Yap Siu-cu mengangguk.

“Apakah Nona Yap menunggu seseorang di sini?”

Yap Siu-cu menggelengkan kepalanya.

“Aku telah berada di sini sejak tadi malam.”

“Mengapa?”

“Kami menguburkan guru dan adik seperguruan kami di sini,” ia menjawab dengan murung. “Kakak seperguruan merasa lelah, tapi aku….. aku tak bisa tidur.”

Ternyata ia adalah gadis yang paling jujur dan pemalu di antara Go-bi-su-siu, ia tampak canggung bila berbicara dengan seorang laki-laki.

Liok Siau-hong menarik nafas. Besar sekali rasa simpati dan haru yang ada di hatinya terhadap gadis ini, tapi ia tak tahu harus mengatakan apa.

“Kami tak berhasil menyusul Sebun Jui-soat,” Tiba-tiba ia bicara lagi. “Maka….. kami bahkan tidak tahu apakah adik seperguruan ke-3 kami masih hidup atau sudah mati.”

“Aku akan menemukannya untukmu.” Liok Siau-hong berjanji padanya.

Kepala Yap Siu-cu semakin ditundukkan.

“Ada sesuatu lagi yang harus kuberitahukan padamu.” Ia berkata setelah terdiam beberapa lama, dengan suara yang nyaris berupa sebuah bisikan.

Liok Siau-hong menunggu ucapannya selanjutnya.

“Seharusnya adik ketiga yang memberitahukan ini pada kalian, tapi sebelum ia melakukannya, ia telah….. telah…..” Tiba-tiba ia tak mampu mengontrol suaranya lagi dan terpaksa berhenti untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dengan lembut dan perlahan ia menghapus air matanya dengan lengan bajunya dan meneruskan. “Sebabnya guru kami melakukan perjalanan ke sini adalah karena dia menerima informasi bahwa Loteng Pertama dari Jing-ih-lau berada di atas bukit di belakang Cu-kong-po-gi-kok.”

“Tidak ada informasi yang mutlak kebenarannya, tak perduli berasal dari mana pun.” Liok Siau-hong berujar.

Kepala Yap Siu-cu tiba-tiba menengadah.

“Tapi adik ketiga kami diserang orang karena informasi ini. Jelas seseorang tidak menginginkan dia mengatakannya. Itulah sebabnya aku merasa hal ini sangat penting dan kau harus mengetahuinya.” Terlihat tanda kegusaran di wajahnya, bahkan suaranya pun sedikit meninggi.

Liok Siau-hong merasa iba padanya.

“Aku tahu kau bermaksud baik,” ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Tak perduli apa pun yang terjadi, setelah aku berhasil menyingkap masalah ini, kaulah yang pertama akan kuberitahukan.”

Kepala Yap Siu-cu kembali menunduk dan ia terdiam beberapa lama.

“Jadi ke mana kalian akan pergi sekarang?” Ia berbisik lirih.

“Kami akan menemui seorang laki-laki berjari-kaki 6…..”

Kepala Yap Siu-cu segera terangkat lagi dan ia tampak terkejut mendengar komentar itu. Tiba-tiba ia membalikkan badan dan pergi.

Hoa Ban-lau menarik nafas.

“Sekarang ia mungkin mengira kau sudah gila.”

Liok Siau-hong juga menarik nafas.

“Sekarang aku pun semakin dan semakin meragukan kewarasanku.”

______________________________

Lorong yang panjang itu tampak gelap dan sepi. Mereka menunggu di ujung lorong, seseorang telah masuk untuk memberitahu Tay-kim-peng-ong tentang kedatangan mereka.

“Jadi kau yakin bisa membuatnya melepaskan sepatunya?” Hoa Ban-lau bertanya dengan perlahan, ia benar-benar ingin tahu.

“Tidak.”

“Kau sudah memikirkan caranya?”

“Aku sudah memikirkan beberapa cara, tapi aku tak bisa memutuskan akan menggunakan cara yang mana.”

“Coba berikan aku dua buah contoh.”

“Aku bisa secara sengaja menjatuhkan sebaskom air ke kakinya; atau aku bisa mengatakan bahwa aku benar-benar menyukai sepatunya dan bertanya padanya apakah dia mau melepaskannya untuk kulihat lebih seksama.”

“Apakah kau tahu betapa tololnya ide-idemu itu?” Hoa Ban-lau mengerutkan keningnya.

“Tentu saja aku tahu,” Liok Siau-hong tersenyum mengibakan. “Tapi seluruh masalah ini memang tolol, jadi bagaimana kau bisa mengharapkan aku tidak memikirkan ide-ide yang tolol?”

Ia berhenti bicara, karena pintu itu telah dibuka.

Tay-kim-peng-ong masih duduk di kursi yang besar tapi nyaman itu, wajahnya menampilkan perasaan gelisah yang meluap-luap.

“Jadi kalian telah menemukan 3 orang pengkhianat itu?” Ia bahkan tidak menunggu mereka berjalan memasuki ruangan itu sebelum bertanya.

“Hanya 2 orang.” Liok Siau-hong menjawab.

“Di mana mereka?” Wajah Tay-kim-peng-ong tampak bersinar.

“Mereka sudah mati.”

Ekspresi wajah Tay-kim-peng-ong berubah hebat.

“Mati? Kenapa?”

“Setiap orang tentu mati.”

Liok Siau-hong tidak terlalu memperhatikan jawaban-jawaban yang ia ucapkan karena ia tidak bisa melihat kaki Tay-kim-peng-ong — sang kaisar tertutup dari paha ke bawah oleh sehelai selimut sutera yang berhiaskan naga-naga emas, seolah-olah dia takut pada hawa dingin.

Tapi Hoa Ban-lau segera menggantikan dirinya bercerita pada sang kaisar.

“Kami belum menemukan Ho Siu, karena dia sukar ditemukan,” ia akhirnya menambahkan. Ini adalah pertama kalinya ia berdusta, tiba-tiba ia menyadari bahwa berdusta bukanlah hal yang sulit dilakukan.

Karena saat ia mengucapkan perkataan dusta itu, di dalam hatinya ia tidak merasa berbuat salah pada orang lain dengan dusta tersebut.

Tay-kim-peng-ong menarik nafas panjang.

“Aku ingin bertemu dengan mereka untuk melihat apakah mereka masih punya muka untuk bertemu denganku.” Ia berkata dengan nada yang pahit.

“Tapi kami ingin bertemu dengan seseorang sekarang juga!” Hoa Ban-lau tiba-tiba berkata.

“Siapa?”

“Cu Ting.”

“Sebenarnya aku pun ingin bertanya pada kalian,” Tay-kim-peng-ong mengerutkan keningnya. “Aku telah dua kali mengirimkan orang untuk menjemputnya, dan dia masih belum datang juga.”

Hoa Ban-lau berfikir sebentar sebelum tersenyum.

“Mungkin karena dia adalah orang yang pemalas.”

“Hiasan naga di selimut tuan tampak indah sekali,” Liok Siau-hong tiba-tiba bicara, “seperti naga sungguhan.”

Ini adalah sebuah kalimat yang bodoh, setelah itu ia melakukan suatu hal yang bodoh lagi. Ia berjalan menghampiri dan menyingkap selimut itu. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku seperti orang tolol, tanpa bergerak sedikit pun, setelah ia mengangkat selimut itu. Tidak ada sesuatu apa pun yang keluar dari kaki celana panjang Tay-kim-peng-ong, kedua kakinya ternyata telah buntung dari lutut ke bawah.

“Kau mungkin bingung kenapa kakiku tiba-tiba menghilang, kan?”

Yang bisa dilakukan Liok Siau-hong hanyalah mengangguk seperti orang tolol.

“Kalian ingat masalah lama dengan kakiku?” Tay-kim-peng-ong menarik nafas. “Jika aku menyentuh arak, maka kakiku akan sakit. Bila seseorang sudah tua, dia semakin banyak mendapatkan masalah.”

Ini benar, dia pernah memberitahukan hal ini pada Liok Siau-hong saat terakhir kalinya mereka datang ke tempat itu.

“Tapi bila kalian sudah seusiaku, hiburan apa lagi yang kalian miliki selain minum sedikit arak?” Tay-kim-peng-ong tersenyum sedih.

“Jadi….. tuan telah minum arak?” Liok Siau-hong kembali memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

“Kukira kalau minum sedikit saja tak akan bermasalah, tapi aku baru menghabiskan 3 cawan ketika kakiku mulai membengkak, maka….. maka aku memutuskan untuk menyingkirkannya saja dan menyuruh Liu Ih-hin untuk membuntunginya.”

Tiba-tiba ia berhenti dan tertawa terbahak-bahak. “Aku mungkin tidak punya kaki lagi, tapi paling tidak sekarang aku bisa minum tanpa harus merasa cemas. Malam ini aku akan menantang kalian berdua untuk bertanding minum, mari kita lihat apakah orang tua ini bisa minum arak sebaik kalian orang-orang muda ini.”

Liok Siau-hong hanya bisa menatapnya dengan senyuman dungu di wajahnya.

“Seandainya kalian datang beberapa hari lebih cepat, aku tentu akan mengeluarkan potongan kaki itu dan memperlihatkannya pada kalian untuk membuktikan bahwa biar pun aku sudah tua, aku masih punya semangat prajurit dalam diriku.”

“Di mana kaki tuan itu sekarang?” Liok Siau-hong terpaksa bertanya.

“Aku telah membakarnya.”

“Dibakar? Kenapa tuan membakarnya?” Liok Siau-hong terkejut.

“Kedua kaki itu telah mencegahku minum arak selama 10 tahun ini, kenapa aku tidak boleh membakarnya? Apakah kalian berharap aku akan menggunakannya sebagai makanan ringan yang dinikmati bersama arak?”

Liok Siau-hong tak bisa berkata apa-apa lagi. Sambil memandang ekspresi angkuh dan percaya diri pada wajah laki-laki tua ini, ia tiba-tiba merasa seperti orang tolol, orang yang benar-benar tolol.

Lorong itu masih gelap dan muram ketika mereka perlahan-lahan berjalan keluar melaluinya.

“Yah, paling tidak kita telah menyelesaikan masalah ini.” Hoa Ban-lau tiba-tiba tersenyum.

“Oh?”

“Kau tidak perlu memikirkan cara untuk melepaskan sepatunya lagi, karena dia memang tak punya sepatu!”

“Sejak kapan kau punya rasa humor?” Liok Siau-hong menjawab dengan dingin.

Tapi urusan ini sama sekali tidak lucu. Bahkan Ho Siu pun sekarang tak akan dapat mengetahui apakah Tay-kim-peng-ong ini asli atau tidak.

Jika kau mengatakan hal ini hanyalah kebetulan, dia tetap tak bisa percaya betapa sempurnanya kebetulan ini.

Jika kau mengatakan hal ini bukan sebuah kebetulan, lalu kenapa Tay-kim-peng-ong tahu tentang rencana mereka? Mereka langsung datang ke tempat ini segera setelah meninggalkan tempat Ho Siu. Jika Tay-kim-peng-ong tidak memiliki mata dan telinga yang bisa mengetahui kejadian-kejadian di tempat yang jauhnya beribu-ribu kilometer, tak mungkin ia bisa tahu bahwa mereka datang untuk melihat kakinya.

“Jika kakiku bengkak setiap kali aku minum, aku pun mungkin telah membuntunginya.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tampaknya tidak sedikit orang di dunia ini yang lebih suka mati daripada berhenti minum.” Hoa Ban-lau balas menarik nafas.

“Ruangan itu mungkin masih dibiarkan kosong untukmu, kenapa kau tidak pergi tidur, jangan lupa kalau seseorang ingin menantangmu dalam adu minum nanti malam.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan mencari seseorang.”

“Siapa?”

“Seorang wanita, tentu saja. Seorang wanita yang mempunyai kaki.”

Wajah Hoa Ban-lau segera bersinar-sinar.

“Benar, kau harus menemukan seorang perempuan berjari-kaki 6 secepat mungkin.”

“Oh!”

“Jangan lupa bahwa setiap generasi Tay-kim-peng-ong selalu memiliki 6 jari kaki, ini adalah cacat turunan. Jadi jika Siangkoan Tan-hong adalah puteri Tay-kim-peng-ong, dia tentu punya 6 jari kaki juga, kau……”

Ia berhenti bicara, karena tiba-tiba ia menyadari bahwa Liok Siau-hong telah menghilang.

______________________________

Hari sudah dekat senja. Bunga-bunga di kebun itu sedang mekar, angin pun membawa keharumannya, tapi tak ada seorang pun di sana.

Siangkoan Soat-ji tidak berada di kebun itu. Liok Siau-hong bukan mencari Siangkoan Tan-hong, karena ia tahu Siangkoan Tan-hong tidak mungkin berada di situ.

Tay-kim-peng-ong tidak mengucapkan sepatah kata pun yang menanyakan keberadaan puterinya. Ini sebuah masalah yang aneh lagi.

Liok Siau-hong tidak punya waktu untuk memikirkan masalah-masalah ini, sekarang ia hanya ingin menemukan Siangkoan Soat-ji secepat mungkin dan mengajukan sebuah pertanyaan padanya, sebuah pertanyaan yang sangat penting.

Bila ia tidak ingin melihat gadis kecil itu, dia selalu mondar-mandir di depannya, tapi sekarang, saat ia ingin bertemu dengannya, tak terlihat sedikit pun jejaknya di mana-mana. Liok Siau-hong menarik nafas, berjalan di tengah-tengah kebun bunga itu, dan tiba-tiba menemukan sebuah pintu kecil.

Pintu itu agak tersembunyi, di baliknya ada sebuah halaman kecil, di tengah halaman itu ada sebuah sumur.

Ia mendorong pintu itu hingga terbuka, berjalan masuk, dan akhirnya menemukan Siangkoan Soat-ji. Setan kecil ini tampaknya selalu berbuat yang aneh-aneh.

Saat itu dia sedang berjongkok di tengah halaman, sendirian, memandang tanpa berkedip pada sepetak tanah kosong dengan matanya yang besar, seperti sedang terhipnotis.

Tapi tidak ada apa-apa di atas tanah itu, bahkan sebatang rumput pun tidak.

Liok Siau-hong tak bisa membayangkan ada hal apa yang begitu menarik dengan sepetak tanah.

“Hei, Piauci,” ia akhirnya bertanya. “Apa yang sedang kau pandangi?”

Soat-ji tidak menjawab, bahkan dia pun tidak berpaling. Para pelajar yang akan mengambil ujian mereka pasti berharap bisa menandingi konsentrasinya pada saat ini.

Jadi apa yang sedang dipandang oleh setan kecil ini? Keingin-tahuan Liok Siau-hong pun bangkit.

Ia pun segera berjongkok di samping Soat-ji. Ke mana mata Soat-ji tertuju, ke situ juga matanya memandang. Ia masih tidak bisa melihat apa-apa.

Jelas tempat itu sudah lama tidak tersentuh air, tanahnya sangat kering, bunga dan rumput di kebun sebelah luar tumbuh dengan suburnya, tapi di dalam sini hanya ada tanah yang gundul.

Bahkan tempat ini sepertinya sudah lama tidak digunakan, rak kecil di atas sumur pun tertutup debu, di sisi lain halaman itu ada dua buah ruangan tua, gembok di pintu ruangan itu pun tertutup karat.

Liok Siau-hong memandang ke kanan dan ke kiri, dan masih tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Soat-ji di sini.

“Waktu kakekku masih hidup,” Soat-ji tiba-tiba berkata, “ini adalah tempat dia bermeditasi.”

Liok Siau-hong tahu bahwa kakek gadis ini adalah Siangkoan Kin, orang yang bersama Ho Siu dan teman-temannya telah menerima perintah untuk membantu kaisar kecil, dia juga merupakan paman Tay-kim-peng-ong.

“Sejak kakekku wafat, tak seorang pun yang datang ke sini lagi.”

“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” Liok Siau-hong akhirnya menyerah dan bertanya lagi.

Soat-ji tiba-tiba memutar kepala dan menatapnya.

“Itu juga yang ingin kutanyakan padamu, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku…… aku ke sini mencarimu.”

“Untuk apa?”

“Untuk bertemu denganmu, dan berbincang-bincang denganmu.”

Soat-ji memasang wajah cemberut.

“Kau tidak percaya sepatah kata pun yang aku katakan, untuk apa aku berbincang-bincang denganmu!” Ia mendengus.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Bagaimana kau tahu bahwa aku tidak mempercayai sepatah kata pun ucapanmu?”

“Kau sendiri yang mengatakannya.”

Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.

“Jadi kau menganggap setiap kata yang aku ucapkan adalah benar?”

Soat-ji menatapnya dengan matanya yang besar, menatapnya untuk waktu yang lama. Lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

Liok Siau-hong pun tertawa. Ia tiba-tiba menyadari bahwa bila Soat-ji tertawa, dia benar-benar kelihatan seperti seorang gadis yang penurut dan jujur.

Tapi mendadak Soat-ji membuat kaku wajahnya lagi.

“Apa pun yang ingin kau bicarakan denganku, ayo, katakanlah.”

“Aku ingin bertanya padamu, kapan terakhir kalinya kau melihat kakakmu?”

“Hari saat ia membawa pulang Hoa Ban-lau, yang juga merupakan hari keberangkatan kami untuk mencarimu.”

“Dan kau belum melihatnya lagi sejak kau pulang?”

“Tidak.” Tanda-tanda kesedihan kembali muncul di wajahnya. “Ia selalu baik padaku, bahkan jika ia akan pergi keluar, ia akan menitipkan pesan atau sesuatu untukku. Tapi kali ini….. kali ini ia tentu telah dibunuh oleh seseorang.”

Terlihat tanda-tanda di mata Liok Siau-hong yang menunjukkan bahwa fikirannya tidak terfokus ke masalah itu.

“Apakah ia sering pergi keluar?”

“Dulu dia tidak berani pergi ke luar, tapi setelah kakek wafat, dia semakin berani. Dia bukan hanya semakin sering pergi, dia bahkan sering pergi keluar selama setengah bulan atau lebih. Aku selalu curiga bahwa dia bertemu dengan seseorang di luar sana, tapi dia tak mau mengakuinya. Orang tua kami sudah lama meninggal, maka kami selalu bersama kakek kami. Kakakku tidak takut pada apa pun, tapi dia takut pada kakek.”

“Dan pamanmu tak pernah berusaha mengontrolnya?”

Soat-ji menggelengkan kepalanya.

“Walaupun ia ingin, tapi ia tak bisa. Suatu kali ia memutuskan untuk mengurung kakakku di kamarnya, dan kakak masih menemukan cara untuk melarikan diri dan pergi ke luar.”

“Apakah dia biasanya bersikap baik pada kakakmu?”

“Tidak, dia selalu memarahi kakakku, mengatakan bahwa ia merusak nama keluarga Siangkoan, tapi kakakku tak pernah mau mendengarkannya.”

Ia menggigit bibirnya sebelum meneruskan dengan perlahan. “Itulah sebabnya aku curiga kalau dia telah membunuh kakakku.”

“Tapi kakakmu belum mati.”

“Siapa bilang?”

“Belum lama ini Hoa Ban-lau melihatnya.”

“Dia melihat kakakku? Dia buta seperti kelelawar, bagaimana mungkin dia melihat kakakku?” Soat-ji tertawa dingin.

“Dia bisa tahu dari suara kakakmu.”

Ekpresi wajah Soat-ji tiba-tiba berubah.

“Itu tentu Siangkoan Tan-hong yang pura-pura menjadi dirinya. Mereka berdua memang mirip sejak kecil, bahkan mereka sering saling menirukan suara yang lain. Suatu hari dia pernah menutup mataku dan menggunakan suara kakakku untuk bicara denganku, bahkan aku pun terperdaya.”

Sebuah ekspresi aneh pun muncul di wajah Liok Siau-hong, walaupun masalah ini semakin memusingkan tetapi ternyata juga semakin menarik.

Tinju Soat-ji terkepal erat-erat.

“Sekarang setelah kau mengatakannya, aku jadi faham semuanya.” Tiba-tiba ia berkata. “Orang yang membunuh kakakku pasti dia dan bukan orang lain.”

“Maksudmu Siangkoan Tan-hong?”

Soat-ji mengangguk.

“Di luarnya dia mungkin selalu bersikap baik pada kakakku, tapi kakakku selalu mengatakan bahwa sikapnya itu palsu, hanya pura-pura. Karena dia selalu iri pada kakakku yang lebih cantik dan lebih cerdas daripada dirinya.” Ia tidak membiarkan Liok Siau-hong memotong dan meneruskan. “Setelah dia membunuh kakakku, dia sengaja muncul sebagai kakakku di depan Hoa Ban-lau untuk menipu kalian supaya menganggap kakakku belum mati.”

Liok Siau-hong menarik nafas. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Walaupun kata-kata Soat-ji agak gila, tapi memang masuk di akal.

Soat-ji tiba-tiba memegang tangannya.

“Itulah sebabnya aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Aku mohon kau mau membantuku menggali mayat kakakku!”

“Kau tahu di mana mayat kakakmu dikuburkan?”

“Aku tahu, tentu saja aku tahu.”

Liok Siau-hong ingin tertawa, tapi tak bisa.

Tetapi ekspresi wajah Soat-ji tetap serius.

“Aku sudah mencari-cari di dalam kebun dan tak menemukannya. Tapi sekarang aku sadar bahwa di sinilah tempat dia membunuh kakakku, di tempat inilah tentu dia kuburkan mayatnya.”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Bagaimana kau tahu?”

“Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, kakekku telah menjadi seorang hwesio. Dia bukan hanya tak mau membunuh seekor semut pun, dia malah sering membawakan beberapa butir beras untuk diberikan pada mereka. Di halaman inilah dia memberikan beras itu pada semut.” Perasaannya begitu meluap-luap sehingga wajahnya pun menjadi merah. “Tapi aku telah tinggal beberapa lama di sini dan mencari-cari selama 4 jam, tapi tak melihat seekor semut pun.”

“Dan karena itu kau berfikir……”

“Aku fikir tentu ada racun di bawah permukaan tanah ini,” Soat-ji menyelesaikan ucapannya itu. “Sehingga semut pun jadi takut dan kabur.”

“Racun?”

“Ia tentu telah menggunakan racun untuk membunuh kakakku. Sekarang racun itu sudah merembes keluar dari mayat kakakku dan masuk ke tanah, maka tanahnya pun telah mati karena racun itu.”

“Tanah pun bisa mati oleh racun?”

“Tentu saja, tanah pun ada yang hidup dan ada yang mati. Cuma di atas tanah yang hidup, rumput dan bunga-bunga bisa tumbuh, dan kumbang-kumbang kecil serta semut bisa hidup.”

Liok Siau-hong kembali menarik nafas.

“Kau berfikir terlalu banyak, tahu? Jika seseorang berfikir terlalu banyak di masa kecilnya, maka waktu orang itu tumbuh dewasa dia pun akan cepat tua.”

“Jadi kau tak mau membantuku?” Soat-ji menatapnya.

“Aku telah mengalami cukup banyak peristiwa bodoh seharian ini.” Liok Siau-hong tersenyum mengingat nasibnya yang malang.

Soat-ji sekali lagi menatapnya selama beberapa saat.

“Tolong! Tolong!” Tiba-tiba dia mulai berteriak. “Tolong! Liok Siau-hong berusaha memperkosaku!”

Liok Siau-hong menjadi panik.

“Aku bahkan belum menyentuhmu, kenapa kau berteriak-teriak?”

“Aku bukan hanya akan berteriak sekarang juga. Mulai saat ini, setiap kali aku bertemu seseorang yang mengenalmu, aku akan memberitahu mereka bahwa kau sering memperkosaku!”

“Aku sering memperkosamu?” Kali ini Liok Siau-hong yang berteriak.

“Mmhmm, sering, berarti kau telah memperkosaku berkali-kali.”

“Dan kau kira ada orang yang mau mempercayai ucapan gadis kecil sepertimu?”

“Jika tidak ada yang percaya, maka aku akan melepaskan bajuku, maka mereka bisa melihat sendiri apakah benar aku masih kecil atau tidak!”

Liok Siau-hong menatapnya dengan terkejut.

“Gadis kecil ini gila, benar-benar tidak waras!” Ia bergumam pada dirinya sendiri, tak dapat menghentikan gelengan kepalanya saking tak percayanya.

“Baik, bagus, karena aku gila, maka aku akan mulai berteriak lagi.” Dan dia pun benar-benar berteriak-teriak lagi.

Tapi kali ini Liok Siau-hong menutup mulutnya dengan amat cepat.

“Kau ingin aku mulai menggali sekarang, kan?”

Soat-ji mengangguk.

“Jadi kau akan membantuku?” Ia segera bertanya setelah Liok Siau-hong melepaskan dekapan mulutnya.

“Aku hanya ingin tahu dari mana kau belajar tingkah laku seperti ini?” Liok Siau-hong sekali lagi tersenyum mengingat kemalangan nasibnya.

Soat-ji juga tersenyum.

“Ini adalah salah satu dari 3 tipuan tertua yang bisa digunakan wanita pada laki-laki, baru sekarang aku tahu betapa efektifnya tipuan ini.”
“Jadi apa lagi 2 tipuan lainnya?”

“Kenapa aku harus memberitahumu,” Soat-ji menjawab dengan tersipu-sipu. “Aku masih harus menyimpannya untuk digunakan padamu!”

Ia melompat-lompat dengan penuh semangat.

“Aku akan mencari sebuah cangkul untukmu. Kau sebaiknya tinggal di sini dan menunggu seperti anak yang baik. Malam ini aku akan pergi dan mencuri beberapa ekor merpati supaya aku bisa menggorengnya untuk kau nikmati bersama arakmu.”

“Merpati?”

“Kakakku memelihara beberapa ekor merpati, biasanya dia tidak mengijinkan siapa pun mendekatinya, tapi sekarang…… sekarang kurasa dia tidak perduli lagi.”

Tanda-tanda kesedihan kembali muncul di wajahnya, tiba-tiba ia berpaling dan berlari pergi dengan cepat.

Memandang rambut kepang gadis itu yang melambai-lambai di belakangnya ketika ia berlari, sebuah ekspresi yang sangat aneh pun tiba-tiba muncul di wajah Liok Siau-hong. Tiba-tiba ia melompat bangkit dan mengejar Soat-ji.

“Aku akan ikut mencari cangkul bersamamu.”

“Mengapa?”

Liok Siau-hong tertawa.

“Aku takut kau dibawa pergi oleh merpati-merpati itu.”

Senyumannya tampak sedikit aneh.

Soat-ji balas menatapnya.

“Kau takut kalau aku tiba-tiba menghilang seperti kakakku, bukan?”

Angin dingin berhembus lewat, beberapa ekor burung walet berhamburan dari balik semak bunga dan terbang melintasi tembok. Warna langit semakin gelap.

Liok Siau-hong memandang bayang-bayang burung walet yang menghilang dalam sinar senja, tiba-tiba ia menarik nafas.

“Burung walet saja tidak mau tinggal di tempat ini, apalagi manusia……”

Apakah Siangkoan Hui-yan, seperti burung-burung walet itu, terbang pergi melampaui tembok? Ataukah dia telah terkubur di bawah tanah?

Mengapa Siangkoan Tan-hong tiba-tiba juga menghilang? Mungkinkah Tay-kim-peng-ong mengetahui keberadaannya dan karena itu tidak menanyakannya lagi dari mereka?

Pada kakinya yang dibuntungi itu apakah ada 6 jari kaki? Adakah orang di dunia ini yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

______________________________

Senja. Angin semakin dingin dan bersih. Angin yang dingin dan bersih itu bertiup masuk melalui jendela dan mengusap kulitnya, karena itulah Hoa Ban-lau tahu bahwa hari telah menjelang malam.

Kulitnya pun seperti hidung dan telinganya, memiliki sensitifitas yang jauh di luar kemampuan manusia rata-rata.

Tapi sekarang ia sedang tidak ingin menikmati angin bulan empat yang segar ini. Hati dan fikirannya sedang kacau.

Sejak dia bertemu dengan Siangkoan Hui-yan di kedai arak kecil itu, hatinya sering terasa kacau, terutama bila dia sedang sendirian.

Ia tak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak benar, tapi apa tepatnya ia sendiri pun tak tahu.

Saat itu sudah dekat waktunya makan malam, dan Liok Siau-hong masih belum kembali, Tay-kim-peng-ong pun belum mengutus orang untuk memberitahunya agar bersiap-siap buat makan malam.

Situasi akan berubah lagi, ia bisa merasakannya, tapi apa tepatnya perubahan itu, ia pun tak tahu.

Pada saat itu, tiba-tiba ia menyadari adanya sebuah aroma yang sangat istimewa terbawa bersama angin, aroma itu pulalah yang selama ini menyebabkan hatinya begitu kacau dan gundah.

Mungkinkah Siangkoan Hui-yan telah kembali? Perlahan-lahan ia menyentuh ambang jendela dan melesat ke luar jendela, ia yakin inderanya tidak berbohong padanya.

Tapi ia tak melihat apa-apa. Di dunianya, tak akan pernah ada cahaya atau pun warna, hanya ada kegelapan. Kegelapan yang tiada harapan!

Aroma itu sekarang telah bercampur dengan wangi bunga, membuat dirinya jadi kehilangan arah. Tapi dari sebuah arah di mana aroma itu tercium paling kuat, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.

“Aku telah kembali.” Itu adalah suara Siangkoan Hui-yan.

Hoa Ban-lau berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosi yang meluap-luap di dalam hatinya. Setelah beberapa lama, akhirnya ia pun bisa tenang dan menarik nafas.

“Jadi kau benar-benar telah kembali.” Ia menjawab.

“Kau tahu bahwa aku akan kembali?”

“Aku tak tahu, tapi aku berharap.”

“Kau sedang memikirkan diriku?”

Hoa Ban-lau tersenyum. Senyumannya mengandung sebuah perasaan yang tak teruraikan dengan kata-kata. Apakah itu kebahagiaan? Ataukah kegetiran yang memilukan?

Tapi Siangkoan Hui-yan telah berjalan menghampirinya dan memegang tangannya.

“Ada apa, apakah kau tak senang kalau aku kembali?”

“Ada satu hal yang tak bisa kuperkirakan.”

“Apa itu?”

“Kenapa saat 2 kali yang terakhir ini aku bertemu denganmu, orang lain selalu muncul di dalam fikiranku?”

“Siapa?”

“Siangkoan Tan-hong.”

Ketika ia mengucapkan nama itu, ia merasa seolah-olah tangan Siangkoan Hui-yan berguncang perlahan.

Tapi tangan gadis itu segera memegang kembali tangannya dengan erat.

“Kau bertemu denganku, tapi memikirkan dia?” Ia berkata, dengan nada cemburu dalam suaranya.

“Mm!”

“Mengapa?”

“Karena…… karena aku sering keliru menyangka bahwa kau dan dia adalah orang yang sama.”

Siangkoan Hui-yan tertawa.

“Kenapa kau berfikir begitu?”

“Aku pun tak tahu, itulah sebabnya…… aku merasa hal itu sangat aneh.”

“Apakah kau mempercayai ucapan adikku? Bahwa Siangkoan Hui-yan telah mati? Dan bahwa Siangkoan Hui-yan yang ini hanyalah Siangkoan Tan-hong yang sedang menyamar?”

Hoa Ban-lau tidak menjawab, karena sebenarnya kecurigaan itu memang ada di hatinya, tapi ia tidak ingin berdusta pada orang yang ia cintai.

“Kau masih ingat pada Cui It-tong? Kau masih ingat saat kau bertanya padaku apakah aku mendengar suara salju yang jatuh di atap atau tidak? Bisakah aku merasakan kekuatan hidup yang aneh tapi ajaib waktu kuncup bunga mengembang perlahan-lahan di musim semi? Apakah aku tahu bahwa angin musim gugur sering membawa aroma pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dari lereng bukit di kejauhan?”

Tentu saja Hoa Ban-lau ingat. Pertanyaan-pertanyaan itu berasal dari dirinya, tapi sekarang Siangkoan Hui-yan telah mengulanginya kata demi kata.

“Jika aku adalah Siangkoan Tan-hong, lalu bagaimana aku bisa tahu tentang kata-kata yang kau ucapkan padaku? Bagaimana aku bisa mengingatnya dengan begitu jelas?”

Hoa Ban-lau tersenyum, tiba-tiba ia menyadari bahwa kecurigaannya benar-benar berlebihan.

Hatinya kembali terisi dengan perasaan simpati pada gadis ini, ia pun mengulurkan tangan dan mengelus-elus rambut si dia.

Siangkoan Hui-yan telah berada di dalam pelukannya dan balas memeluk dirinya erat-erat. Hatinya penuh dengan perasaan puas dan senang yang tak teruraikan dengan kata-kata, ia seperti sedang berada di dunia lain. Pada saat itulah, tiba-tiba ia merasa jari tangan Siangkoan Hui-yan menyentuh jalan darah di bagian belakang kepalanya. Ia pun langsung tak sadarkan diri setelah itu.

______________________________

Sekarang telah ada sebuah lubang selebar kira-kira setengah meter dan sedalam satu meter di tanah, dan tubuh Liok Siau-hong pun sudah penuh dengan keringat.

Siangkoan Soat-ji sedang berjongkok di pinggir, sambil bertopang dagu. Ia menyuruh Liok Siau-hong untuk terus bekerja tanpa berhenti.

“Kenapa kau berhenti? Terus gali, ayo. Kelihatannya saja kau begitu kuat, siapa tahu ternyata begitu tak berguna?”

Liok Siau-hong menghapus keringat dengan lengan bajunya.

“Karena aku belum makan, seharusnya sekarang aku sedang duduk di sebuah kursi yang nyaman dan minum arak bersama pamanmu,” Ia tersenyum. “Tapi aku malah berada di sini, seperti orang tolol, menggali sebuah lubang.”

Soat-ji mengedip-ngedipkan matanya.

“Jadi kau mengusulkan agar seorang gadis kecil sepertiku melompat turun ke sana dan menggali, sementara kau menonton di pinggir?”

“Tidak, itulah sebabnya aku sekarang menderita.”

“Apa yang kau bicarakan? Menderita? Ini adalah sebuah kehormatan.”

“Kehormatan?”

“Jika orang lain berlutut dan memohon padaku untuk menggalikan sebuah lubang untukku, aku bahkan tak akan mau mengijinkannya.”

Liok Siau-hong menarik nafas, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia seharusnya tidak datang mencari setan kecil ini, bahkan seharusnya tidak bicara dengannya lagi.

Tapi segera ia menyadari bahwa jalan fikirannya itu keliru. Pada ayunan cangkulnya yang terakhir, ujung sebuah baju berwarna merah menyala tiba-tiba muncul di tanah.

Soat-ji pun sudah melompat bangkit.

“Lihat? Aku benar, bukan? Ada seseorang yang terkubur di sini!”

Kali ini, tanpa disuruh olehnya pun Liok Siau-hong akan terus bekerja. Ia meletakkan cangkul dan menggantinya dengan sekop. Beberapa ayunan sekop kemudian, mayat itu pun mulai kelihatan. Ajaibnya mayat itu belum mulai membusuk.

Soat-ji sudah mengambil lentera yang tergantung di sumur. Cahayanya kebetulan menyinari wajah mayat itu.

Tiba-tiba ia menjerit ngeri, hampir saja ia menjatuhkan lentera itu ke atas kepala Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong pun terkejut. Ia belum pernah terkejut seperti ini dalam hidupnya.

Mayat itu bukanlah mayat Siangkoan Hui-yan, itu adalah mayat Siangkoan Tan-hong!

Sinar lentera terayun ke sana ke mari, karena tangan Soat-ji gemetaran tiada hentinya.

Wajah mayat itu bukan hanya belum mulai membusuk, malah wajah itu pun seperti masih hidup, kedua matanya terbelalak, seolah-olah sedang menatap Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong bukanlah seorang pengecut, tapi waktu ia teringat pada pengalamannya bersama Siangkoan Tan-hong beberapa saat yang lalu, ketika ia teringat pada senyumnya yang manis dan menggoda, tangannya terasa seperti lumpuh dan ia tak mampu memegang sekop itu lagi.

“Buk!”

Sekop itu jatuh dari tangannya dan kebetulan mendarat di tubuh mayat tersebut. Terdengar sebuah suara seperti suara logam yang saling berbenturan. Liok Siau-hong pun membungkuk dan menyentuh mayat itu, baru kemudian ia menyadari bahwa tubuh mayat itu dingin dan keras, seolah-olah terbuat dari logam.

Tangannya pun menjadi dingin. Ia menarik nafas dalam-dalam.

“Dia benar-benar diracuni orang.” Ia menyimpulkan.

“Siapa? siapa yang meracuni dirinya?”

Liok Siau-hong tidak menjawab, karena ia tidak tahu jawabannya.

“Bila seseorang mati karena racun, tubuhnya seharusnya membusuk dengan cepat. Jadi, kelihatannya ia belum lama mati.” Soat-ji menduga-duga.

“Dia sudah lama mati.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena racun di tubuhnya telah merembes ke dalam tanah.”

Kata-kata itu persis sama dengan yang diucapkan Soat-ji tadi, ternyata dia memang benar.

“Di samping itu, coba lihat petak tanah ini, sepertinya sudah sebulan atau dua bulan tidak disentuh orang.” Liok Siau-hong menambahkan.

“Jadi maksudmu, dia sudah mati paling sedikit satu atau dua bulan?”

“Ya.”

“Lalu kenapa tubuhnya belum mulai membusuk?”

“Karena racun yang membunuhnya adalah jenis racun yang sangat aneh dan ganjil. Ada racun yang bisa mengawetkan tubuh manusia hingga beratus-ratus tahun lamanya. Di samping itu, tanah di sini bukan hanya luar biasa keringnya, di sini juga tidak ada tanda-tanda semut atau kumbang atau serangga lainnya, mayat apa pun yang dikuburkan di sini tidak akan cepat membusuk.”

Suaranya terdengar monoton dan lambat, karena sementara ia mengucapkan satu hal dengan mulutnya, fikirannya tertuju ke hal lain. Begitu banyak urusan yang ada di dalam fikirannya.

Soat-ji pun diam-diam sedang berfikir.

“Satu atau dua bulan yang lalu? Kakakku belum pergi mencari Hoa Ban-lau.” Ia bergumam pada dirinya sendiri.

Liok Siau-hong yang sedang merenung pun mengangguk.

“Setelah kakakku pulang membawa Hoa Ban-lau, baru aku pun ikut pergi dengannya untuk mencarimu.”

“Benar.”

“Jika dia telah mati satu atau dua bulan yang lalu, lalu bagaimana dia pergi dan menemukanmu? Bagaimana kau bertemu dengannya?”

“Siangkoan Tan-hong yang aku temui, bukanlah Siangkoan Tan-hong yang tulen.”

“Lalu siapa dia?”

Liok Siau-hong tidak menjawab, ia malah balik bertanya.

“Dalam dua bulan terakhir, pernahkah kau melihat kakakmu dan dia pada saat yang bersamaan?”

Soat-ji berfikir beberapa lama, lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, kurasa tidak.”

“Dalam dua bulan terakhir, apakah kau merasa sikapnya padamu agak berbeda?”

Soat-ji berfikir beberapa lama lagi, lalu mengangguk.

“Ya. Sebelumnya, bila dia bertemu denganku, dia tentu akan berbincang-bincang dan bergurau sebentar, tapi akhir-akhir ini dia seperti selalu menghindariku.”

“Itu karena dia takut kalau kau mengetahui bahwa dia bukanlah Siangkoan Tan-hong yang tulen!”

“Lalu siapakah dia?” Soat-ji mengerutkan keningnya. “Dia kelihatan benar-benar tulen, mungkinkah……”

Tiba-tiba ia melompat bangkit lagi.

“Apakah kau ingin mengatakan bahwa Siangkoan Tan-hong yang kau lihat sebenarnya adalah kakakku yang menyamar?” Ia hampir berteriak.

Liok Siau-hong tidak menjawab. Kadang-kadang, tidak menjawab itu berarti mengiyakan.

Soat-ji menatapnya dengan marah.

“Apakah kau ingin mengatakan bahwa Siangkoan Tan-hong bukan hanya tidak membunuh kakakku, tapi kakakku yang malah telah membunuhnya!”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Aku hanya tahu bahwa kenyataannya dia telah mati sekarang.”

“Tapi kenapa kakakku membunuhnya? Bisakah kau memberiku sebuah motif atau alasan?”

Liok Siau-hong tidak menjawab, tapi apakah hal itu karena ia tidak bisa memikirkan satu pun alasannya? Atau karena ia tidak ingin mengatakannya? Tiba-tiba ia berjongkok untuk melepaskan sepatu mayat itu.

“Apa yang kau lakukan?” Soat-ji bertanya dengan heran.

“Aku ingin melihat kakinya.”

“Kau gila, benar-benar gila.” Soat-ji berteriak.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Aku tahu bahwa hal ini benar-benar gila, tapi aku tetap harus melihatnya.” Ia tersenyum putus asa.

Ia melepaskan sepatu itu, di kaki yang mulus dan indah itu benar-benar ada 6 buah jari kaki.

Soat-ji tiba-tiba terdiam.

“Ini memang sepupuku.” Ia berkata dengan suara haru.

“Kau tahu kalau sepupumu punya 6 jari kaki?”

“Mmhmm!”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Dia tak pernah membiarkan orang lain melihat kakinya. Kadang-kadang, waktu kami melepaskan sepatu kami untuk bermain-main di sungai, hanya dia yang tak mau melepaskan sepatunya.”

Semua gadis selalu ingin terlihat cantik, memiliki 6 jari kaki bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.

“Semakin ia tidak mengijinkan orang lain melihat, semakin aku ingin melihatnya. Maka, suatu hari, aku masuk ke kamarnya waktu ia sedang mandi.”

Liok Siau-hong tertawa sedih. Hanya itu yang bisa ia lakukan, setan kecil ini tampaknya mampu berbuat apa saja.

“Semula ia benar-benar marah, tapi kemudian ia memohon padaku untuk tidak memberitahu siapa-siapa.” Soat-ji meneruskan.

“Dan kau mengatakan ya?”

Soat-ji mengangguk.

“Aku belum pernah memberitahukan hal ini pada orang lain.”

“Termasuk kakakmu?”

“Ia pun tidak tahu, aku tak pernah memberitahunya.”

Liok Siau-hong berfikir sebentar.

“Kapan pamanmu membuntungi kakinya?” Tiba-tiba ia bertanya.

Terlihat ekspresi terkejut di wajah Soat-ji.

“Kakinya dibuntungi? Kenapa aku tidak tahu hal ini?”

Liok Siau-hong pun heran mendengar jawabannya.

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Baru kemarin siang aku melihatnya berjalan ke arah tempat kakakku memelihara burung merpatinya untuk memberi mereka makan.”

Mata Liok Siau-hong tiba-tiba mulai berkilauan.

“Seseorang menyamar sebagai sepupuku selama dua bulan terakhir, kenapa pamanku tidak mengetahuinya?” Soat-ji bergumam pada dirinya sendiri.

Ia ingin bertanya pada Liok Siau-hong, tapi Liok Siau-hong tiba-tiba telah menghilang.

Malam itu dingin dan suram, cahaya samar-samar dari lentera menyinari wajah mayat itu yang sudah membeku. Mata mayat itu terbelalak, seolah-olah sedang menatap dirinya.

Soat-ji merinding.

“Seharusnya kau tidak ikut campur dalam urusan ini.” Sebuah suara yang dingin tiba-tiba terdengar dari kegelapan.

Ia mengenali suara ini. Hatinya pun seperti karam.

______________________________

Lorong itu suram dan gelap, pintunya pun tertutup. Liok Siau-hong mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi dengan lebih keras. Masih tidak ada jawaban.

Ekspresi di wajahnya telah berubah. Tiba-tiba ia memukul pintu itu, dan pintu setebal 10 cm itu pun hancur berkeping-keping.

Lampu minyak di atas meja masih menyala, tapi kursi itu telah kosong. Tay-kim-peng-ong biasanya duduk di kursi tersebut sepanjang waktu, tapi tampaknya dia telah menghilang sekarang.

Tidak ada perasaan heran di wajah Liok Siau-hong, seolah-olah semua ini telah diperkirakan olehnya.

Selimut sutera bersulam naga itu tertinggal di lantai. Ia membungkuk untuk memungutnya, waktu tiba-tiba ia melihat sebuah tangan.

Sebuah tangan yang kurus terjulur keluar dari balik kursi. Jari-jarinya tertekuk, seolah-olah sedang berusaha meraih sesuatu, tapi tidak berhasil.

Liok Siau-hong berjalan menghampiri dan melihat Tay-kim-peng-ong.

Tubuh laki-laki tua itu belum dingin, tapi nafasnya telah lama berhenti. Di matanya terlihat perasaan panik, terkejut dan marah. Jelas, pada saat kematiannya, dia masih tak percaya kalau si pembunuh akan menghabisi dirinya.

Di tangannya yang lain ada sebuah goresan pisau yang sangat dalam, seolah-olah seseorang ingin memotong tangan ini tapi tidak jadi.

Tangannya terkepal erat, urat-urat dan otot di punggung tangan itu tampak menonjol keluar, jelas kematiannya pun tak sanggup membuatnya melepaskan sesuatu yang ada di dalam genggamannya.

Liok Siau-hong berjongkok untuk melihat lebih dekat. Ternyata tangan itu menggenggam sebuah sepatu merah.

Sepatu merah seperti yang dipakai oleh seorang pengantin di hari pernikahannya, tapi pada sepatu itu bukan bersulamkan sepasang angsa, atau burung hantu, tapi seekor burung walet — seekor walet terbang.

Genggamannya terlalu erat, terlalu kuat, sebuah sepatu yang mulanya sangat indah sekarang telah remuk karena remasan itu.

Tapi wajahnya benar-benar tanpa emosi, bila dibandingkan dengan sepasang matanya yang penuh dengan perasaan panik dan marah, hal ini menciptakan sebuah pemandangan yang semakin mengerikan.

Liok Siau-hong tidak perlu mengulurkan tangan dan meraba untuk mengetahui bahwa wajahnya telah disamarkan dengan amat baik.

Laki-laki tua ini jelas bukan Tay-kim-peng-ong yang sebenarnya! Tay-kim-peng-ong tentu telah mati bersama puterinya!

Liok Siau-hong menatap matanya, lalu memandang kakinya yang buntung, dan tak tahan untuk tidak menarik nafas panjang.

“Aku telah banyak melakukan hal-hal bodoh dalam hidupku,” ia bergumam pada dirinya sendiri. “Tapi bukankah apa yang kau lakukan ini malah lebih bodoh?”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia telah mendengar suara desingan sepotong logam tipis yang mengiris udara.

Pedang itu berasal dari luar jendela di belakangnya, datangnya cepat, dan keji. Orang yang berusaha membunuhnya ini tentu salah seorang jago pedang kelas satu di dunia persilatan. Tidak banyak orang yang bisa disebut sebagai jago pedang kelas satu di dunia persilatan.

Liok Siau-hong menarik nafas lagi, dia telah tahu siapa orang ini.

Tubuhnya pun bergeser ke samping sejauh satu meter lebih.

“Liu Ih-hin,” ia menarik nafas. “Kau seharusnya tidak datang.”

“Tapi aku telah datang!” Suara Liu Ih-hin menjawab dengan dingin dari luar jendela.

Pedangnya lebih cepat daripada kata-katanya. Ambang jendela yang kuno dan indah itu segera hancur berkeping-keping ketika dia, bersama dengan pedangnya, melesat masuk.

Liok Siau-hong tidak memandangnya.

Pedangnya keji dan cepat, dan gerakannya berubah-ubah dengan sangat cepat, setiap tusukan selalu tertuju ke tempat yang mematikan.

Mata Liok Siau-hong tidak pernah meninggalkan ujung pedangnya, persis seperti mata seorang bocah yang tak akan pernah lepas dari kupu-kupu yang beterbangan di udara.

Dalam sekejap mata, Liu Ih-hin telah menyerangnya sebanyak 17 kali. Saat itulah Liok Siau-hong akhirnya membuat sebuah gerakan.

Ia hanya mengulurkan tangan dan menjepitkan 2 buah jarinya. Tak seorang pun yang bisa menguraikan kecepatan dan ketangkasan gerakan ini, hampir tak ada orang yang bisa membayangkannya.

Jari-jarinya seakan-akan terhubung langsung dengan hatinya, sehingga kapan pun dia bisa berbuat apa saja yang ia inginkan dengan jari-jarinya.

Waktu Liu Ih-hin menusukkan pedangnya untuk yang ke-18 kalinya, tiba-tiba ia menyadari bahwa pedangnya telah terjepit!

Pedang ini seolah-olah tertancap pada sebuah batu karang, walaupun ia telah mengerahkan seluruh tenaga yang ada di tubuhnya, ia tetap tak mampu menariknya.

Pedang itu terpasang pada pergelangan tangan kanannya, seperti jadi bagian dari tubuhnya sendiri, tapi ia masih tak mampu menariknya lepas dari jepitan jari-jari Liok Siau-hong.

Sebuah gaetan baja biasanya terpasang pada tangannya itu, sebuah gaetan baja yang mampu merampas senjata jenis apa pun. Hanya bila hendak membunuh maka ia menukar gaetan baja itu dengan sebatang pedang. Jelas dia datang ke sini dengan maksud membunuh.

Melihat wajahnya yang meringis dan kesakitan itu, hati Liok Siau-hong tiba-tiba dipenuhi oleh perasaan simpati.

“Aku tidak ingin membunuhmu, pergilah.”

Liu Ih-hin tidak menjawab dengan mulutnya, jawabannya adalah bola baja yang terpasang di tangan kirinya.

Bola baja itu meluncur deras sambil membawa angin yang kencang. Jika Liok Siau-hong tidak melepaskan tangan kanannya, kepalanya tentu akan remuk.

Tapi Liok Siau-hong masih memiliki tangan yang lain. Waktu bola baja itu datang, tangannya yang sebelah lagi memukul dari samping dengan keras, dan tangan kiri Liu Ih-hin pun menjadi lumpuh.

“Jika aku lepaskan, apakah kau mau pergi?”

Liu Ih-hin tiba-tiba tertawa dingin, tawa dingin yang mengandung perasaan memandang rendah — memandang rendah pada Liok Siau-hong dan pada nyawanya sendiri.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Kenapa aku selalu bertemu dengan orang-orang tolol seperti ini? Kenapa?”

Ia tidak menyelesaikan ucapannya, karena ia telah mendengar suara satu orang lagi.

Itu seperti suara Siangkoan Tan-hong, tapi ia tahu bahwa Siangkoan Tan-hong tak akan pernah muncul lagi.

Warna-warna terakhir dari matahari terbenam telah menghilang, ruangan itu jadi semakin gelap. Seperti sesosok hantu, seseorang muncul di pintu, seorang wanita yang sangat cantik, hangat dan manis.

Ia memandang pada Liok Siau-hong sambil tersenyum.

“Karena kau sendiri adalah orang tolol, orang-orang tolol biasanya berkumpul dengan sesamanya.”

Liok Siau-hong tidak perlu memandang wanita ini untuk mengetahui siapa dirinya.

“Siangkoan Hui-yan?”

“Benar.” Senyumannya seperti senyum seorang anak kecil yang tidak berdosa. “Apakah menurutmu aku lebih cantik daripada Siangkoan Tan-hong?”

Liok Siau-hong mengangguk, ia setuju.

Siangkoan Tan-hong tentu saja seorang gadis yang sangat cantik, tapi gadis yang ada di hadapannya sekarang ini tampak begitu cantiknya sehingga mendekati sosok gadis yang sempurna dalam khayalan setiap orang lelaki.

Senyumannya bukan hanya tampak cantik, tapi juga polos dan tak berdosa. Bila ia memandangmu, tatapannya seakan-akan mengatakan bahwa kau adalah satu-satunya lelaki di dunia ini, dan pada saat bersamaan kau seakan merasa bahwa dia adalah satu-satunya gadis yang ada di dunia ini.

Senyuman Siangkoan Hui-yan bisa membangkitkan impian dan khayalan yang tak terhitung jumlahnya. Senyumannya bisa membuatmu melupakan segalanya.

“Kau keliru, tahu.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Kenapa begitu?”

“Seorang gadis secantik dirimu seharusnya tidak perlu menyamar dan pura-pura menjadi orang lain untuk alasan apa pun.”

Siangkoan Hui-yan mengedip-ngedipkan matanya.

“Jika kau melihat wajahku yang sebenarnya malam itu, apakah kau akan membiarkanku pergi?”

“Jika aku melihat wajahmu yang asli sebelumnya, aku mungkin tidak akan menunggu sampai malam itu.”

“Jadi maksudmu, di dalam kereta itu pun kau akan……”

“Sudah kubilang padamu, aku bukan laki-laki yang tahan terhadap godaan.”

Siangkoan Hui-yan tertawa: “Kau mungkin bukan seorang laki-laki sejati, tapi kau benar-benar jujur tentang hal ini.”

“Dan bukan hanya kau bukan seorang wanita terhormat, kau pun tidak jujur tentang hal ini.”

“Jika seorang gadis terlalu jujur, maka dia akan mudah jatuh ke dalam perangkap seorang laki-laki sepertimu.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan manis.

Suaranya juga berubah, seolah-olah yang sedang bicara adalah orang lain.

Bagi Liok Siau-hong, perubahan pada suara ini hampir tak dapat dibayangkan olehnya.

Ia bisa memahami adanya topeng dan samaran, dan ia pernah melihat, dengan mata kepalanya sendiri, topeng-topeng kulit manusia yang legendaris itu.

Tapi ia tak faham kenapa suara seseorang bisa berubah sama sekali seperti suara orang lain.

Mudah bagi Siangkoan Hui-yan untuk melihat ekspresinya yang heran itu.

“Apakah suaraku lebih merdu daripada suara Siangkoan Tan-hong?” Ia tersenyum.

Liok Siau-hong menyerah dan balas tersenyum.

“Sekarang kau mungkin bisa melihat bahwa aku lebih baik daripada dirinya dalam segala hal, tapi sejak lahir dia selalu berada di atasku.” Suaranya yang hangat dan manis tiba-tiba berubah jadi penuh dengan kebencian. “Sejak kecil aku harus mengenakan pakaian bekas miliknya, memakan makanan yang disisakan olehnya, hanya karena dia adalah seorang puteri.”

“Jadi pada kesempatan pertama, kau harus membuktikan bahwa kau lebih baik daripada dirinya.”

Siangkoan Hui-yan menjawab dengan sebuah dengusan dingin.

“Jadi sejak kakekmu meninggal, kau tidak mau lagi tinggal di tempat ini.”

“Tidak ada yang mau melayani seseorang selamanya dan selalu was-was akan suasana hati orang itu.”

“Lalu kau berencana untuk pergi berkelana di dunia persilatan, menggunakan kemampuanmu sendiri, dan melakukan beberapa hal yang mengesankan untuk diperlihatkan pada mereka. Tapi kau tidak menyangka akan bertemu dengan seorang laki-laki yang mampu merebut hatimu.”

Warna wajah Siangkoan Hui-yan tampak berubah sedikit.

“Aku tahu kalau setan kecil itu akan memberitahu semuanya padamu.”

“Laki-laki itu bukan hanya sangat mengagumimu, dia juga bersimpati padamu, dan dia pun menemukan sebuah kesempatan untukmu.”

“Teruskan.” Siangkoan Hui-yan memerintahkan dengan dingin.

“Ketika dia tahu tentang rahasia Tay-kim-peng-ong, dia lalu memikirkan sebuah gagasan untukmu.”

Siangkoan Hui-yan mendengarkan, senyuman manis di wajahnya telah lama menghilang.

“Dia meyakinkan dirimu agar memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan harta Tay-kim-peng-ong dari Giam Thi-san dan teman-temannya. Siapa pun, tak perduli siapa orangnya, dengan uang sebanyak itu, segera akan termasyur namanya.”

“Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan dingin. “Dengan uang sebanyak itu sebagai taruhannya, siapa pun akan tergoda.”

“Tapi kau juga tahu bahwa paman dan sepupumu tak akan menyetujui hal seperti itu. Di samping itu, jika dia masih hidup, walaupun kau berhasil mendapatkan seluruh uang itu, tetap saja uang itu akan menjadi miliknya.”

“Tentu saja aku tidak ingin melakukan sebuah pekerjaan hanya untuk dinikmati oleh orang lain hasilnya.”

“Maka kau dan kekasihmu membuat sebuah rencana yang hebat.”

“Aku hanya berencana untuk membunuh kaisar pikun itu, tapi tak perduli betapa hebatnya aku merias seseorang untuk menyamar sebagai dirinya, tetap saja Siangkoan Tan-hong tidak akan bisa diperdaya.”

“Maka kau memutuskan untuk membunuhnya juga.”

“Benar.”

“Untunglah kalian berdua memang mirip, dan sering saling menirukan suara masing-masing sejak kecil, maka kau adalah calon yang sempurna untuk menggantikannya dan pada saat yang sama bisa mencoba bagaimana rasanya menjadi seorang puteri.”

“Rasanya tidak begitu enak.” Siangkoan Hui-yan mendengus.

“Tentu saja, dengan rahasia seperti ini, kau tentu tidak mau seorang gadis kecil yang tak bisa menutup mulutnya tahu tentang hal ini, maka kau sengaja merahasiakannya dari Soat-ji. Tapi ironisnya, dia malah mengira bahwa kaulah yang dibunuh oleh Siangkoan Tan-hong.”

“Setan kecil itu bukan hanya tidak bisa menutup mulutnya,” Siangkoan Hui-yan berkomentar dengan getir. “Dia pun suka ikut campur dengan urusan orang lain.”

“Tapi yang membuat aku bingung adalah kenapa kau tidak pergi dan mencari sendiri Ho Siu dan teman-temannya.”

“Karena baru setelah itulah kami tahu bahwa Tay-kim-peng-ong mempunyai suatu tanda rahasia yang hanya diketahui oleh pejabat-pejabat yang melarikan diri bersamanya. Maka tidak perduli siapa pun yang kami samarkan sebagai dirinya, hampir tidak mungkin bisa memperdaya Ho Siu dan rubah-rubah tua lainnya.”

“Apakah saat itu kau tahu bahwa dia memiliki 6 jari kaki?”

“Tidak, tapi aku pun tidak mau mengambil resiko.”

“Maka kalian berdua berfikir bahwa hal yang terbaik dilakukan adalah menemukan dulu seseorang yang akan membunuh rubah-rubah tua itu untuk kalian.”

“Benar.”

“Tapi orang ini tidak mudah ditemukan.” Liok Siau-hong tersenyum. “Karena dia bukan hanya harus mempunyai kemampuan untuk membunuh Ho Siu dan yang lainnya, dia juga harus memiliki kebiasaan ikut campur dalam urusan orang lain.”

“Orang ini memang sukar dicari.” Siangkoan Hui-yan mengiyakan. “Selain dari dirimu, kami benar-benar tidak berhasil memikirkan orang lain.”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tampaknya benar-benar tidak banyak orang sepertiku di dunia ini.”

“Membuatmu ikut campur dalam urusan ini secara sukarela juga merupakan sebuah masalah lain yang sulit.”

“Tapi untungnya, aku bukan hanya suka ikut campur dalam urusan orang lain, aku juga punya sifat seperti seekor keledai yang makin tidak mau bergerak bila kau semakin membujukku.”

Siangkoan Hui-yan akhirnya tertawa. “Ternyata kau sangat memahami dirimu sendiri.”

“Maka kau sengaja menyuruh Kau-hun-jiu dan teman-temannya untuk datang dan menghentikanku, karena kau tahu bahwa semakin seseorang tidak ingin aku melakukan sesuatu, maka aku akan semakin ingin melakukannya.”

“Keledai-keledai di propinsi Soasay juga seperti itu.” Siangkoan Hui-yan bergurau.

“Lalu setelah itu, waktu kau membunuh Siau Jiu-ih dan Tokko Hong untuk memperingatkanku, hal itu juga untuk alasan yang sama.”

“Dan juga karena mereka tahu terlalu banyak.”

“Sebabnya kau memancing kami ke kuil tua dengan nyanyianmu dan meninggalkan beberapa utas rambutmu tidak lebih hanya untuk membuat Hoa Ban-lau percaya bahwa kau masih hidup, kan?”

“Untuk tujuan itu dan untuk meyakinkan bahwa kau tak akan mempercayai sepatah kata pun ucapan setan kecil itu.”

“Kau tahu bahwa Soat-ji mengintip dari luar jendela waktu kau “membunuh” Liu Ih-hin.”

“Tentu saja, setan kecil itu tidak tahu bahwa kejadian itu tidak lebih dari sebuah drama yang sengaja aku dan Liu Ih-hin pertunjukkan padanya.” Siangkoan Hui-yan menambahkan dengan dingin.

“Dan waktu kami melihat bahwa Liu Ih-hin masih hidup, kami tentu akan semakin yakin bahwa dia tidak lebih daripada seorang pembohong.” Ia menarik nafas dan menertawakan dirinya sendiri. “Gadis kecil yang malang. Waktu ia melihat bahwa Liu Ih-hin masih hidup, ia seakan-akan melihat mayat hidup, ia terlalu ketakutan untuk mengatakan apa-apa lagi dan pergi bersamanya!”

“Seharusnya aku mengurung setan kecil itu dari awal, sayangnya……”

“Sayangnya urusan yang harus kau lakukan dalam beberapa hari itu benar-benar terlalu banyak, dan kau juga takut kalau kami tidak melihatnya waktu kami kembali maka kami mungkin akan curiga.”

“Kadang-kadang aku bingung melihatmu.” Siangkoan Hui-yan mendengus. “seolah-olah kau tahu semua yang ada dalam fikiranku.”

“Lalu kau tiba-tiba muncul di hadapan Hoa Ban-lau, tujuannya adalah untuk menimpakan semua kesalahan pada Ho Siu.”

“Benar.”

“Tapi bagaimana caramu memperdayainya?” Liok Siau-hong menarik nafas. “Telinganya bukan hanya sangat tajam, hidungnya pun sangat sensitif. Bahkan jika dia tidak mengetahui hal itu dari suaramu, dia seharusnya tahu dari aroma tubuhmu.”

Setiap orang memiliki aroma tubuh tersendiri yang tidak dimiliki orang lain, yang mungkin lebih mudah dikenali daripada suara orang itu.

“Karena, setiap kali aku menemuinya, aku selalu memakai sejenis bedak bunga yang sangat harum dan tebal aromanya. Dan kemudian bila aku muncul sebagai Siangkoan Tan-hong, aku tinggal menghilangkan aroma itu dari tubuhku.”

“Tampaknya kau telah memikirkan segalanya.”

“Itu karena aku seorang wanita,” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan manis. “Wanita tidak suka mengambil resiko.”

“Lalu kenapa kau menyuruh Liu Ih-hin mencoba membunuhku?”

“Seharusnya kau juga sudah tahu alasannya.” Ia menjawab dengan santai.

“Apakah karena dia sudah tidak berguna lagi bagimu, maka kau ingin membunuhnya melalui tanganku?”

“Seharusnya aku sudah tahu bahwa kau tidak suka membunuh.” Siangkoan Hui-yan menarik nafas. “Kalau tidak, aku pun tak perlu membunuh Giam Thi-san dengan tanganku sendiri.”

Sejak dia tiba, Liu Ih-hin seperti berubah menjadi orang lain. Laki-laki itu menjadi sangat pendiam.

Bila dia memandang gadis itu, tatapannya selalu menunjukkan sebuah perasaan yang sangat hangat.

Tapi kalimat Siangkoan Hui-yan yang terakhir itu seperti sebilah pisau belati yang tajam, tiba-tiba mengiris sampai ke hatinya.

“Kau…… kau benar-benar menginginkan aku mati?” Ia bertanya dengan suara bergetar.

“Kau seharusnya sudah mati dari dulu, untuk apa lagi orang sepertimu hidup?” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan dingin, bahkan tidak meliriknya sama sekali.

“Tapi kau…… kau mengatakan……”

“Tentu saja semua yang aku katakan adalah dusta, untuk menipumu. Kau kira aku benar-benar menyukaimu?”

Seluruh tubuh Liu Ih-hin tampak membeku. Ia berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap gadis itu dalam keadaan seperti terhipnotis. Matanya penuh dengan kebencian, tapi juga cinta. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dengan perlahan.

“Kau benar. Tentu saja kau tidak mungkin menyukaiku. Aku tahu itu. Selama ini aku hanya berdusta pada diriku sendiri.”

“Paling tidak kau tidak terlalu bodoh.”

Liu Ih-hin mengangguk dengan lambat. Tiba-tiba dia mengayunkan pedangnya ke dadanya sendiri.

Pedang itu telah menembus jantungnya ketika darah menyembur seperti air pancuran dari punggungnya dan muncrat hingga ke dinding.

Tapi wajahnya kembali berubah tanpa ekspresi. Kematian, baginya, tampaknya bukan merupakan hal yang menyakitkan, tapi sebuah kemewahan.

Matanya tiba-tiba mulai berkilauan ketika dia tiba-tiba tertawa.

“Ternyata mati itu tidak terlalu sukar,” dia bergumam, “tapi mati di hadapanmu, paling tidak aku bisa……”

Ia roboh sebelum berhasil menyelesaikan kalimatnya.

Liok Siau-hong tidak mencegahnya, dan memang tidak bisa mencegahnya. Kadang-kadang mati dalam kedamaian adalah lebih baik daripada hidup.

“Ia benar-benar orang yang romantis dan penuh cinta, sayangnya ia jatuh cinta pada orang yang salah.”

Liok Siau-hong menatap Siangkoan Hui-yan, tiba-tiba dia dipenuhi oleh perasaan jijik terhadap gadis yang tidak memiliki perasaan iba ini.

Bukan benci, tapi jijik, persis seperti perasaan orang terhadap ular berbisa.

“Kau telah melakukan hal yang bodoh.” Ia berkata dengan dingin.

“Oh?”

“Kau seharusnya tidak memaksanya mati.”

“Kenapa?”

“Karena jika dia masih hidup, paling tidak dia tak akan membiarkanku membunuhmu.”

“Kau ingin membunuhku? Kau tega?”

“Aku memang tidak suka membunuh, selain itu aku pun tidak pernah membunuh seorang wanita, tapi kau adalah kekecualian.”

Siangkoan Hui-yan tertawa.

“Jika demikian, lalu apa lagi yang kau tunggu?”

“Aku tidak terburu-buru!”

“Tentu saja kau tidak terburu-buru, karena sepertinya aku tidak bisa lari lagi sekarang.” Siangkoan Hui-yan berkata dengan santai. “Di samping itu, kau masih punya beberapa pertanyaan untukku!”

“Kelihatannya kau pun tidak bodoh.”

“Apakah kau ingin bertanya kenapa aku menyuruh Liu Ih-hin membuntungi kaki laki-laki tua itu sebelum kalian tiba? Dan bagaimana aku tiba-tiba tahu bahwa kaisar seharusnya mempunyai 6 jari kaki?”

“Aku tidak perlu menanyakan itu lagi padamu.”

“Kau sudah bisa menebaknya?”

“Burung merpati jauh lebih cepat daripada manusia.”

“Kau benar-benar cerdas.” Siangkoan Hui-yan menarik nafas.

“Seharusnya aku tidak membocorkan rahasia itu pada Yap Siu-cu.”

“Ia satu-satunya orang yang kalian beritahu?”

“Benar.”

“Apakah kau sengaja membocorkan rahasia itu? Atau kau ingin mengujinya?”

“Aku tidak ingin menyakitinya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Ia juga seorang gadis yang malang.”

Siangkoan Hui-yan tiba-tiba mendengus dingin.

“Kau keliru tentang dia. Dia mungkin tampak sangat jujur dan baik, tapi kenyataannya dia adalah seorang perempuan jalang.”

“Hanya karena dia jatuh cinta pada laki-laki yang sama denganmu?”

“Ia hanya memanfaatkan perempuan itu,” Wajah Siangkoan Hui-yan menjadi hijau. “Persis seperti aku memanfaatkan Liu Ih-hin.”

“Yap Siu-cu memberitahukan rahasia itu padanya, dan dia mengirimkan pesan kepadamu dengan menggunakan burung merpati.”

Siangkoan Hui-yan mengangguk, ekspresinya tiba-tiba menjadi sangat hangat dan tenang.

“Merpati hitam itu biasanya digunakan untuk membawakan surat cinta di antara kami, ternyata ia bisa juga digunakan untuk hal-hal lain.”

“Jika dia bisa memberikan perintah pada Kau-hun-jiu dan Thi-bin-boan-koan, maka mungkinkah dia adalah pemimpin Jing-ih-lau?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau berharap aku akan memberitahumu?”

“Tentu saja aku tidak mengharapkan kau mau memberitahuku sekarang.”

“Nanti pun tidak akan kuberitahukan padamu, kau tak akan pernah tahu siapa dirinya.”

“Tapi kau adalah seorang wanita.”

“Lalu kenapa?”

“Bahkan seorang gadis cantik seperti dirimu, jika hidungnya dipotong, tentu saja akan menjadi amat buruk.” Liok Siau-hong berkata dengan dingin.

“Kau…… kau tega memotong hidungku?” Siangkoan Hui-yan bertanya dengan terkejut dan panik.

“Jika kau benar-benar mengira hatiku lebih lunak daripada tahu,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai, “maka kau sangat keliru.”

“Jadi jika aku tidak memberitahukan siapa dirinya padamu, kau akan memotong hidungku?” Siangkoan Hui-yan menatapnya dengan terkejut.

“Yang pertama hidung, lalu telinga.”

Siangkoan Hui-yan tiba-tiba tersenyum manis.

“Kau bicara kasar, tapi aku tahu bahwa kenyataannya kau tak akan tega.”

“Kau ingin mencoba?” Wajah Liok Siau-hong menjadi gelap.

“Aku tahu bahwa kau tak akan mencoba melakukannya, karena aku tahu kau tak mau punya teman yang tidak memiliki hidung.”

“Tapi kau bukan lagi temanku.”

“Aku tahu aku bukan temanmu, tapi Hoa Ban-lau dan Cu Ting itu kan temanmu.”

Wajah Liok Siau-hong kembali berubah warna.

“Jika kau memotong hidungku, maka mereka mungkin tidak bisa menjaga kepalanya.” Siangkoan Hui-yan berkomentar dengan santai. “Bukankah tidak berkepala itu lebih buruk daripada tidak berhidung?”

Liok Siau-hong menatapnya. Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

“Kau kira ini lucu?”

“Kau kira aku benar-benar percaya kalau kau telah memperdayai Hoa Ban-lau lagi?” Liok Siau-hong menjawab di antara suara tawanya.

“Jika aku bisa memperdayainya sekali, aku pun bisa memperdayainya lagi.”

“Hanya orang tolol yang bisa ditipu dua kali, dan dia bukanlah orang tolol.”

“Tapi dia adalah orang yang romantis, seorang laki-laki yang penuh perasaan. Kau bisa menipu orang tolol paling banyak dua kali, tapi seorang laki-laki yang penuh kasih sayang bisa ditipu beratus-ratus kali, karena dia memang rela ditipu.”

“Dan Cu Ting juga adalah orang yang romantis?”

“Tidak, dia terlalu pemalas untuk itu.”

“Ada baiknya juga menjadi pemalas.”

“Oh?”

“Karena jika dia begitu pemalas sehingga tak mau bergerak, lalu bagaimana mungkin dia ditipu oleh orang lain?”

“Memang benar-benar sulit menipu orang pemalas seperti dirinya,” Siangkoan Hui-yan tersenyum bangga. “Tapi untunglah dia juga punya seorang teman yang mau menuliskan sehelai cek agar dia tertipu.”

Liok Siau-hong tak bisa tertawa lagi.

“Tentu saja kau tidak ingin melihat teman-teman baikmu ini kehilangan kepalanya, kan?” Siangkoan Hui-yan tiba-tiba menambahkan. “Apalagi dia pun membawa-bawa isterinya yang cantik itu.”

“Lopannio biasanya lebih pemalas daripada Lopan,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Kenapa dia pun ikut datang?”

“Karena dia yakin bahwa kau akan menyelamatkannya, maka dia sedang menunggumu.”

“Di mana dia menungguku?”

“Kau ingin tahu?”

“Sangat ingin.”

“Kau kira aku akan membawamu ke sana?”

“Tidak!”

“Kau keliru,” Siangkoan Hui-yan tersenyum. “Jika aku tidak berniat membawamu ke sana, lalu kenapa aku muncul?”

“Paling tidak kau tak akan membawaku ke sana sekarang.”

“Kau benar-benar orang yang cerdas, tahu?” Siangkoan Hui-yan kembali tersenyum manis.

“Sayangnya teman-temanku itu tidak terlalu pemalas, tapi terlalu bodoh.” Liok Siau-hong mengeluh entah pada siapa.

“Tapi mereka tetaplah teman-temanmu, maka kau harus menolong mereka.”

“Aku akan mempertimbangkannya.”

“Apa lagi yang harus dipertimbangkan?”

“Aku harus melihat dulu apa yang kau inginkan sebagai balasannya jika kau membawaku ke sana.”

“Yang aku inginkan hanyalah sebuah tugas yang sangat sederhana dan mudah.”

“Dan apakah itu?”

“Aku hanya ingin kau membunuh seseorang untukku. Bagimu, membunuh seseorang tentu sebuah tugas yang cukup mudah.”

“Itu tergantung siapa orangnya yang akan kubunuh.”

“Kau tentu bisa menghadapi orang ini.”

“Siapa?”

“Sebun Jui-soat.”

Liok Siau-hong tertawa.

“Apa sebenarnya yang kau inginkan? Aku membunuhnya atau dia yang membunuhku?”

“Tentu saja aku ingin kau yang membunuhnya. Dia telah menghinaku, sangat menghinaku.”

“Dan karena hal kecil itu, kau ingin aku membunuhnya?”

“Itu bukan hal kecil bagi seorang gadis.”

“Dan bagaimana jika aku tidak berhasil membunuhnya, malah dia yang membunuhku?”

“Maka kau tidak perlu merasa sedih, kau akan bertemu teman-temanmu di neraka.”

“Tampaknya aku tidak punya pilihan lain dalam masalah ini.”

“Satu pun tidak ada.”

“Tidak perduli apakah dia mati atau aku yang mati, kau akan tetap gembira.”

“Sejujurnya, dalam hatiku, aku tidak akan bersedih bila kalian berdua mati.”

“Kurasa kau tidak punya perasaan lagi!”

“Tentu saja aku punya. Itulah sebabnya aku berharap kau bisa membunuhnya untuk menukarkan satu nyawanya dengan tiga nyawa Hoa Ban-lau dan teman-temannya.”

“Pertukaran kecil ini sebenarnya bukan jual-beli yang buruk,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tapi sayangnya aku tidak tahu di mana dia berada.”

“Tapi kau tentu bisa menemukannya.”

“Bagaimana caranya?”

“Waktu dia membawa pergi Sun Siu-jing dulu, jelas dia sedang berusaha menyelamatkan nyawa gadis itu.”

“Selain mengakhiri hidup orang, kadang-kadang dia memang menyelamatkan nyawa orang.”

“Maka sekarang dia tentu berada di sebuah tempat di mana Sun Siu-jing bisa menyembuhkan luka-lukanya. Kau tentu tahu di mana dia bisa melakukan hal itu di sekitar sana.”

“Tapi orang mati tidak bisa sembuh.”

“Benar!”

“Maka aku harus bertanya padamu, setelah Sun Siu-jing terkena Hong-hui-ciam, bisakah dia selamat?”

“Yang melukai dirinya bukanlah Hong-hui-ciam, itu adalah Yan-hui-ciam (Jarum Walet Terbang).” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan getir. “Akibatnya tentu fatal, tapi Sebun Jui-soat tampaknya seorang yang ahli.”

“Oh?”

“Racun Yan-hui-ciam berbeda dengan racun biasa. Bila kau terkena jarum itu, jika kau hanya berbaring saja, maka kau tentu akan mati.”

“Itulah sebabnya Ciok Siu-hun sudah mati sekarang.” Liok Siau-hong menambahkan.

“Tapi Sebun Jui-soat membawa Sun Siu-jing berlari-lari menjelajahi lereng gunung untuk membuat racun itu merembes keluar dari tubuhnya, tentu sekarang dia punya kesempatan untuk selamat.”

“Setelah kau melukainya malam itu, kau tidak pergi kan?”

“Bagaimana mungkin aku bisa pergi, dengan kalian semua para pendekar berada di sana?” Siangkoan Hui-yan tertawa. “Maka aku memutuskan untuk tetap berada di sana, aku melihat salah seorang dari kalian melompat keluar untuk mengejarku.”

“Ternyata kau sangat berani!”

“Aku tahu bahwa tak seorang pun dari kalian akan menduga bahwa aku berani tinggal di situ.”

“Sesudah kami semua pergi, lalu kau pun muncul.”

“Saat itu hanya ada Hoa Ban-lau di sana, dia tak akan mencurigaiku. Bahkan jika aku mengatakan padanya bahwa salju itu hitam dan tinta itu putih, dia tetap akan percaya.”

“Mengapa?”

“Karena ia mencintaiku.” Siangkoan Hui-yan menjawab dengan yakin. “Bila seorang laki-laki jatuh cinta pada seorang gadis, maka ia benar-benar tidak ada harapan lagi.”

“Tepatnya karena ia menyukaimu, maka menurutmu semua tipuan dan dusta yang kau lakukan padanya itu pantas ia terima?”

“Karena ia sendiri yang rela. Aku tidak menyuruhnya jatuh cinta padaku.”

Liok Siau-hong tiba-tiba menarik nafas lagi.

“Aku hanya ingin memberitahukan satu hal padamu.”

“Apa?”

“Jika seseorang selalu menganggap orang lain sebagai orang tolol, maka orang itulah orang yang paling dungu.”

“Apa maksud ucapanmu itu?” Siangkoan Hui-yan mengerutkan keningnya.

“Jika kau berbalik dan melihat sekarang, maka kau akan mengerti.”

Siangkoan Hui-yan membalikkan tubuhnya. Ia merasa seolah-olah dirinya tiba-tiba jatuh ke dalam sebuah lubang yang gelap dan dalam.

Ruangan itu semakin gelap, seseorang berdiri dalam diam di kegelapan, benar-benar tidak bergerak.

“Hoa Ban-lau!” Siangkoan Hui-yan tak sanggup menahan seruannya.

Tapi sikap Hoa Ban-lau masih tetap tenang, seolah-olah ia tidak merasa sakit hati atau marah sedikit pun.

Siangkoan Hui-yan memandangnya dengan terkejut.

“Bagaimana…… bagaimana kau ada di sini?”

“Aku berjalan kaki.” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai.

“Tapi aku menotok urat-nadimu.”

“Jika orang lain menotok uratmu, jika kau bisa memaksakan energi tubuhmu ke daerah sekitar urat itu, setelah beberapa lama kau mungkin bisa membuka totokan itu. Untunglah aku tahu sedikit tentang ilmu itu.”

“Kau telah membuat persiapan? Apakah kau curiga kalau aku akan berbuat sesuatu?”

“Aku tidak ingin sahabatku membunuh orang hanya untuk menyelamatkanku.”

“Kau telah mendengar semua yang aku katakan?”

Hoa Ban-lau mengangguk.

“Kau…… kau…… kau tidak marah?”

“Tak seorang pun bisa terhindar dari berbuat kesalahan,” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. “Di samping itu, kau memang tidak memaksaku untuk jatuh cinta padamu.”

Ia masih tampak setenang dan sehangat itu, karena di dalam hatinya hanya ada cinta, hanya cinta dan tidak ada kebencian.

Siangkoan Hui-yan memandangnya. Bahkan seorang gadis seperti dirinya pun merasakan penyesalan dan perasaan bersalah.

Liok Siau-hong juga memandangnya.

“Orang ini benar-benar orang yang baik.” Ia menarik nafas dengan perlahan.

Hoa Ban-lau tertawa kecil.

“Orang yang baik, orang yang bodoh, kadang-kadang tidak ada bedanya sama sekali.”

“Di mana Lopan?”

“Ia sedang menemani Lopannio, tentu saja.”

“Kenapa mereka tidak datang?”

“Mereka sedang sibuk mendengarkan cerita Soat-ji.”

“Tampaknya tak lama lagi mereka pun akan tertipu.” Liok Siau-hong tersenyum jengkel.

Tentu saja ia tahu alasan yang sebenarnya kenapa mereka tidak datang. Mereka jatuh dalam bahaya karena dirinya, maka bila mereka bertemu, tentu ia akan merasa sangat malu, dan mereka tidak ingin membuat dirinya merasa malu.

Soat-ji juga tidak ingin bertemu kakaknya. Dalam keadaan seperti ini, tidak seorang pun dari mereka yang akan merasa senang jika mereka bertemu.

Siangkoan Hui-yan akhirnya menarik nafas panjang.

“Apa yang kau ucapkan barusan, akhirnya aku faham sekarang.”

“Oh?”

“Tampaknya akulah yang bodoh sebenarnya, bodoh sekali.”

“Oh!”

“Aku menganggap kalian semua tolol, tapi baru sekarang aku sadar orang tolol yang sebenarnya adalah diriku.” Ia menarik nafas lagi. “Tapi biarpun kau potong hidungku sekarang, aku tak akan memberitahukan siapa dia.”

“Ternyata kau pun orang yang romantis.”

Siangkoan Hui-yan tertawa, tawa yang sangat sedih dan penuh kesunyian.

“Bila seorang wanita jatuh cinta pada seorang laki-laki, maka ia pun tidak ada harapan lagi.”

“Aku faham, aku faham.” Hoa Ban-lau mengangguk dengan lambat.

“Tak perduli apa, aku benar-benar telah bersalah padamu,” Siangkoan Hui-yan berkata dengan suara yang berat. “Biar pun kau membunuhku, aku tak akan menyalahkanmu!”

“Tapi aku tidak ingin membunuhmu.”

“Lalu kau akan berbuat apa padaku?”

“Tidak ada.”

“Kau…… kau membiarkanku pergi?” Siangkoan Hui-yan kembali bingung.

Hoa Ban-lau tidak menjawab, tiba-tiba ia berbalik dan berjalan keluar dengan lambat. Liok Siau-hong menarik nafas dan mengikutinya ke luar.

Siangkoan Hui-yan terkejut.

“Aku tahu apa yang hendak kalian lakukan. Kalian tahu bahwa aku akan pergi dan mencarinya sekarang, maka kalian melepaskanku dengan maksud membuntutiku.” Tiba-tiba ia berteriak.

Liok Siau-hong tidak berpaling.

“Aku tidak perlu melakukan hal itu.” Ia berkata dengan santai.

“Kenapa tidak?”

“Karena aku sudah tahu siapa dia!”

Ekspresi wajah Siangkoan Hui-yan berubah secara dramatis.

“Kau tahu siapa dia?” Ia berteriak sekuat-kuatnya. “Siapa dia?”

Liok Siau-hong tidak menjawab, juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengejar Hoa Ban-lau, dan mereka berdua berjalan berdampingan melalui lorong yang gelap itu dan menghilang dalam gelapnya malam. Ruangan itu pun telah gelap sama sekali.

Siangkoan Hui-yan berdiri sendirian dalam gelap, tiba-tiba ia bergidik, apakah itu karena angin malam yang dingin? Atau karena ngeri?

Kebun itu gelap tetapi tenang, aroma bunga yang terbawa angin tampak lebih tebal daripada sebelum matahari terbenam. Beberapa buah bintang yang berkerlap-kerlip mulai bermunculan, hanya untuk ditutupi kembali oleh segumpal awan yang pekat.

***

Hoa Ban-lau berjalan dengan amat lambat, barulah waktu tiba di depan sebuah semak bunga dia akhirnya menarik nafas perlahan.

“Gadis yang malang.”

Liok Siau-hong mengangguk, seperti sudah lupa bahwa Hoa Ban-lau tidak bisa melihat anggukannya.

“Setiap orang bisa berbuat kesalahan. Walaupun ia berbuat salah, ia……”

Liok Siau-hong memotong. “Berbuat salah selalu ada ganjarannya. Tidak perduli siapa pun, bila mereka berbuat salah, mereka harus menanggung akibatnya.”

“Tapi kau membiarkannya pergi.”

“Mungkin karena aku tahu ada seseorang yang tidak akan membiarkan dia pergi.”

“Siapa? Kekasihnya?”

“Bukan, bukan kekasihnya. Orang itu tidak mencintainya.”

“Apakah kau benar-benar tahu siapa dia?”

“Tidak.”

“Jadi dia benar? Kau benar-benar bermaksud membuntutinya?”

“Aku mungkin bukan seorang laki-laki sejati, tapi paling tidak aku selalu berpegang pada kata-kataku.” Liok Siau-hong tersenyum.

“Jika kau tidak tahu siapa dia, dan kau tidak bermaksud membuntutinya, lalu kau akan melepaskan saja masalah ini?”

“Kita tidak bisa berhenti sekarang.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Aku mungkin tidak dapat menemukannya, tapi dia tentu akan datang mencariku.”

“Kau yakin?”

“Paling tidak 70% yakin.”

“Oh?”

“Ia mengira aku telah tahu siapa dirinya, bagaimana mungkin ia membiarkanku hidup?”

“Jadi ucapanmu tadi bermaksud membuat dirinya mencarimu!”

“Aku mengatakan yang perlu aku katakan, juga untuk menyelamatkan nyawa Siangkoan Hui-yan.”

“Jika kau telah tahu siapa dia, maka dia tidak perlu membunuh gadis itu untuk merahasiakan identitasnya.”

Liok Siau-hong kembali tersenyum.

“Paling tidak orang pertama yang akan ia cari adalah aku, bukan Siangkoan Hui-yan.”

“Sayangnya ia tidak bisa mendengar apa yang barusan kau katakan.”

“Ya, ia bisa!”

Hoa Ban-lau mengerutkan keningnya.

“Menurutmu ia juga ada di sana?”

“Ia pun masih berada di sana sekarang.”

“Karena itu ia bisa muncul kapan saja, dan mencoba membunuhmu kapan saja.”

“Benar.”

“Tapi kau tampaknya sama sekali tidak merasa khawatir.”

Liok Siau-hong tersenyum.

“Yang terbaik pada diriku adalah bahwa……”

Ia tidak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia melihat ekspresi wajah Hoa Ban-lau berubah. Hoa Ban-lau bukanlah orang yang mudah bereaksi terhadap sesuatu.

“Apa yang terjadi?” Ia tak tahan untuk tidak bertanya.

“Darah!” Hoa Ban-lau menjawab dengan suara yang dalam.

“Darah apa? Darah siapa?”

“Aku hanya berharap itu bukan darah Siangkoan Hui-yan”.”

Darah itu ternyata memang darah Siangkoan Hui-yan. Tenggorokannya telah tergorok, darahnya tidak berhenti mengalir.

Ekspresi wajahnya memperlihatkan perasaan terkejut, marah, dan ngeri, persis seperti ekspresi wajah Tay-kim-peng-ong waktu dia mati.

Jelas ia tidak percaya kalau pembunuhnya tega membunuhnya! Sampai mati pun ia tidak percaya.

—Apakah itu kekasihnya? Atau orang yang tidak punya perasaan cinta? Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada kegelapan.

Bau anyir darah yang terbawa angin masih sangat tebal.

“Ia tetap membunuhnya!” Hoa Ban-lau berkata.

“Mm!”

“Jelas dia tidak mempercayai apa yang kau katakan.”

“Mm!”

“Sekarang ia telah membunuh Siangkoan Hui-yan, tidak ada lagi orang di dunia ini yang tahu siapa dia.”

“Mm!”

“Maka kau tak akan pernah menemukannya.”

“Aku hanya tahu bahwa jika seseorang, tak perduli siapa, berbuat salah, maka ia tentu akan mendapatkan ganjarannya.” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

“Siangkoan Hui-yan telah mendapatkan ganjarannya,” Hoa Ban-lau berkata dengan nada berat. “Tapi bagaimana dengan pembunuhnya?”

Pembunuh itu telah menghilang dalam kegelapan, mungkin menghilang selamanya.

Liok Siau-hong tiba-tiba memegang tangan Hoa Ban-lau.

“Di mana Lopan?”

Lopan telah menghilang. Ruang penjara yang awalnya dimaksudkan untuk mengurung mereka telah terbuka. Sebuah meja tua tampak terbalik, kendi air dan cawan pun pecah berantakan.

“Mereka tentu telah bertarung.”

“Menurutmu orang itu datang ke mari dan menangkap Cu Ting bertiga?”

“Tampaknya ia masih khawatir padaku,” Liok Siau-hong mendengus. “Maka ia datang dan menangkap Cu Ting bertiga untuk digunakan sebagai sandera melawanku.”

“Dapat menangkap mereka bertiga secepat ini, ilmu kungfunya tentu tidak lebih rendah darimu.”

Cu Ting dan Lopannio bukanlah orang yang lemah, apalagi masih ada Siangkoan Soat-ji yang kecil tetapi pintar.

“Aku memang sudah menduga kalau ilmu kungfunya tidak lebih rendah dariku.”

“Tidak banyak orang yang berilmu setinggi itu di dunia persilatan.”

“Karena itu ia telah melakukan sebuah kesalahan.”

“Ia tentu belum pergi jauh.”

“Dengan melakukan hal ini, sama saja dia telah mengakui perbuatannya.”

Hoa Ban-lau menarik nafas. “Seperti yang kukatakan sebelumnya, setiap orang bisa berbuat salah.”

“Jika seseorang berbuat salah maka ia harus menanggung akibatnya, tidak ada kekecualian.”

______________________________

Ruangan itu sepi seperti sebuah kuburan. Sepuluh orang laki-laki duduk di sana, sambil memandang Liok Siau-hong: Hoan-taysiansing, Kan-jisiansing, Ji-ceh-jit-hiap, dan San Say-gan. Telah banyak arak yang dihabiskan, tapi sekarang semuanya berhenti.

Bila sahabat berkumpul untuk minum, seharusnya sulit untuk berhenti sebelum mabuk. Tapi saat itu mereka semua masih segar. Tidak ada tanda-tanda mabuk di wajah mereka; malah, masing-masing dari mereka menampilkan ekspresi yang aneh di wajahnya.

Ekspresi wajah San Say-gan adalah yang paling aneh ketika ia menatap Liok Siau-hong.

“Dan menurutmu dalang dari semua ini adalah dia?” Tiba-tiba ia bertanya.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Apakah kau benar-benar yakin?”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Kita bersahabat, dan aku tahu hubungan antara dia dengan kalian semua. Jika aku tidak benar-benar yakin, untuk apa aku datang ke sini?”

San Say-gan memukulkan tinjunya ke atas meja.

“Jika Ho Thian-jing benar-benar melakukan hal ini, maka apa pun hubungan di antara kami, semuanya akan berakhir! Aku tidak perduli hubunganku dengannya!” Ia berkata dengan tegas.

“Tapi aku masih tidak percaya kalau ia bisa berbuat begitu.” Hoan-taysiansing menantang dengan dingin.

“Aku pun tidak ingin percaya,” Liok Siau-hong menjawab. “Tapi selain dari dirinya, tidak terfikir lagi orang lain.”

“Oh?”

“Hanya dia yang bisa mengalahkan Cu Ting bertiga dalam sekejap.”

“Jika cuma itu buktimu, maka itu tidak cukup.” Hoan Gok mendengus.

“Hanya dia yang mungkin tahu rahasia Tay-kim-peng-ong, karena dia adalah orang yang paling dipercaya oleh Giam Thi-san.”

“Itu masih tidak cukup.”

“Dan hanya dia yang mungkin mendapatkan untung dari semua ini. Bila Giam Thi-san mati, maka Cu-kong-po-gi-kok akan menjadi miliknya.”

Giam Thi-san itu seperti Ho Siu, dia juga seorang perjaka tua. Kecurigaan orang-orang bahwa dia dulunya adalah seorang kasim bukanlah tanpa alasan.

“Di samping itu,” Liok Siau-hong meneruskan. “Kenapa orang yang memiliki ilmu dan kedudukan seperti dirinya mau menjadi Congkoan untuk orang seperti Giam Thi-san?”

Bahkan Hoan Gok pun tidak bisa menyangkal kenyataan ini.

“Tidak ada orang yang akan curiga bahwa Loteng Pertama dari Jing-ih-lau tidak lain adalah Cu-kong-po-gi-kok.” Liok Siau-hong menambahkan.

“Tunggu, menurutmu Jing-ih-lau yang pertama adalah Cu-kong-po-gi-kok?” Ekspresi wajah San Say-gan tampak berubah hebat ketika mendengar pernyataan itu.

Liok Siau-hong mengangguk.

“Jelas, alasan Tokko It-ho datang ke sini adalah karena dia tahu tentang hal ini. Ini juga alasan kenapa Ho Thian-jing memaksanya untuk menghabiskan energinya supaya dia mati di bawah pedang Sebun Jui-soat.”

“Sun Siu-jing dan Ciok Siu-hun juga dibunuh oleh Siangkoan Hui-yan karena mereka ingin mengungkapkan rahasia ini.” Hoa Ban-lau dari tadi duduk diam di pinggir, tapi ia tak tahan lagi untuk tetap berdiam diri.

“Jika mereka tahu tentang rahasia ini, lalu kenapa Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu tidak mengetahuinya?” San Say-gan bertanya.

“Mereka juga tahu!” Liok Siau-hong menjawab.

“Tapi mereka masih hidup.”

“Yap Siu-cu memang masih hidup, tapi hanya karena dia, seperti juga Siangkoan Hui-yan, jatuh cinta pada pendekar muda Ho Thian-jing yang tampan.”

“Tapi bagaimana dengan Ma Siu-cin?”

“Jika dugaanku benar, maka dia tentu telah mati di tangan Ho Thian-jing, malah bisa jadi Yap Siu-cu yang membunuhnya.”

“Dan dia berusaha mengalihkan perhatianmu dengan menceritakan tentang villa kecil di belakang gunung untuk membuatmu pergi mencari Ho Siu.” San Say-gan menduga-duga.

Lu XiaoFeng mengangguk tanda setuju.

“Tidak perduli apakah aku akan mati di dalam bangunan itu atau jika aku berhasil membunuh Ho Siu, seluruh persoalan ini akan beres dan dia tentu akan bisa tenang!”

“Tapi ia tidak menduga kalau kau dan pertapa tua itu adalah teman lama.” San Say-gan merenung.

“Ia ingin tahu bagaimana persoalan ini berakhir, itulah sebabnya ia menyuruh Yap Siu-cu menanti di luar.”

“Dan ia adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa kalian berdua pergi mencari Ho Siu.”

Liok Siau-hong mengangguk lagi tanda setuju.

“Tapi Yap Siu-cu membuat satu kesalahan.” Liok Siau-hong berkata.

“Apa itu?”

“Ia mengatakan bahwa ia berada di sana karena ia baru saja menguburkan Tokko It-ho dan Ciok Siu-hun.”

“Tokko It-ho adalah ketua sebuah partai, kenapa dikuburkan di sembarang tempat?” San Say-gan mengerutkan keningnya.

“Yap Siu-cu memang seorang gadis yang baik.” Liok Siau-hong menarik nafas lagi. “Dia masih tidak tahu bagaimana caranya berdusta.”

San Say-gan pun menarik nafas.

“Berbohong di hadapan orang sepertimu memang tidaklah mudah.” Ia tersenyum jengkel.

“Tapi aku memberitahukan tentang rahasia 6 jari kaki itu padanya, maka dia segera pergi dan memberitahu Ho Thian-jing. Cu-kong-po-gi-kok letaknya kan sangat dekat dengan tempat Ho Siu.”

“Dengan demikian hanya Ho Thian-jing yang bisa tahu rahasia ini darinya dengan begitu cepat.”

“Benar.”

“Kau sengaja membocorkan rahasia ini padanya, atau hal itu hanya kebetulan?” San Say-gan ingin tahu.

Liok Siau-hong tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung. Ia hanya tersenyum dan berkata: “Saat itu aku hanya berfikir bahwa dia tidak seharusnya muncul di sana. Aku merasa hal itu agak ganjil.”

San Say-gan menatapnya, lalu menarik nafas lagi.

“Kau tahu, namamu seharusnya bukan Siau-hong, si burung hong kecil,” ia tertawa. “Namamu seharusnya si rubah kecil!”

Liok Siau-hong pun menarik nafas.

“Tapi aku sangat kagum pada Ho Thian-jing.” Ia tersenyum cemas. “Ia benar-benar seorang ahli siasat yang ulung dan sangat cerdas. Jika seluruh kejadian ini adalah pertandingan catur, maka ia tentu telah meramalkan setiap gerakan yang akan dibuat musuhnya.”

“Sayangnya, akhirnya ia tetap saja membuat sebuah gerakan yang salah.” San Say-gan memberi komentar.

“Setiap manusia bisa berbuat salah, dan dia adalah manusia.”

“Sebenarnya, walaupun dia tidak membuat gerakan terakhir itu, kau masih bisa menyudutkannya.” Hoan Gok tiba-tiba tertawa dingin dan berkata.

“Paling tidak saat itu aku masih belum begitu yakin!”

“Bagaimana dengan sekarang?” Hoan Gok bertanya.

“Sekarang aku pun masih belum yakin 100 %, baru kira-kira 90 %.”

“Kenapa kau datang kepada kami?” Hoan Gok bertanya.

“Kalian adalah sahabat-sahabatku, dan aku pernah berjanji pada kalian bahwa aku tidak akan bertarung dengannya.”

“Dan sekarang kita tidak bersahabat lagi?” Hoan Gok bertanya lebih jauh.

“Kita tetap bersahabat, itulah sebabnya aku datang ke mari.”

“Untuk membatalkan janjimu dulu?”

“Jika seseorang berbuat salah, maka ia harus menanggung akibatnya, meski pun ia adalah Ho Thian-jing!”

“Kau benar-benar berharap kami mau membantumu membunuhnya!”

“Aku hanya ingin kalian memberitahu dia bahwa, pada waktu terbitnya matahari besok, aku akan menunggunya di Jing-hong-koan!”

“Bagus sekali.” Hoan Gok menjawab. Tiba-tiba dia bangkit dan, dengan tatapan setajam pisau, memandang pada Liok Siau-hong. “Silakan.”

“Silakan? Silakan apa?”

“Silakan, bersiap-siaplah!”

“Kalian tidak percaya pada apa yang aku katakan?”

“Aku hanya tahu bahwa Ho Thian-jing adalah pemimpin Thian-kim-bun, dan aku kebetulan adalah murid Thian-kim-bun……”

“Jadi kau……”

“Selama aku, Hoan Gok, masih hidup, tak seorang pun boleh mengganggu Ho Thian-jing.”

San Say-gan mengerutkan keningnya.

“Tidak pernahkah kau dengar kata pepatah: “’Kebenaran dulu baru keluarga?’”

“Ya, aku pernah mendengarnya,” Hoan Gok menjawab dengan dingin. “Tapi aku sudah lupa.”

“Kita adalah bajingan-bajingan yang tidak tahu perbedaan antara yang benar dan yang salah!” Kan-jisiansing pun bangkit berdiri dengan lambat.

“Orang seperti ini pantas mati!” Si tukang roti tiba-tiba berteriak.

“Benar, benar sekali.” Kan-jisiansing menjawab.

“Sayangnya aku, Bao WuYa, kebetulan juga jenis orang seperti ini.” Si pedagang roti berkata.

“Maka kau pun pantas mati.” Kan-jisiansing menjawab.

“Bukan hanya pantas mati, tapi pantas mati sekarang juga!”

Tiba-tiba dia melompat bangkit dan, seperti sebatang anak panah yang lepas dari busurnya, melesat dengan kepala ke arah tembok. Tapi kepalanya ternyata tidak membentur tembok, tapi dada Liok Siau-hong. Liok Siau-hong tiba-tiba telah berada di depannya.

Saat masih di udara, si tukang roti pun berjumpalitan ke belakang, menendang salah satu balok di langit-langit rumah, dan meluncur turun dengan kepala di bawah ke arah lantai batu. Kepalanya masih juga tidak berhasil membentur lantai. Malah ia merasakan sebuah tangan mendorong pinggangnya sedikit, dan, sebelum ia sadar, ia telah berdiri di lantai, menghadapi orang itu. Orang bertubuh jangkung itu berdiri tegak dengan wajah pucat. Ho Thian-jing!

Semua orang merasa terkejut, termasuk Liok Siau-hong. Tak seorang pun bermimpi bahwa Ho Thian-jing akan muncul di saat dan di tempat ini, tak seorang pun membayangkan kalau ia berani datang ke sini. Walaupun wajah Ho Thian-jing tampak pucat, ekspresinya masih sangat tenang.

“Kenapa…… kenapa kau tidak membiarkan aku mati?” Kedua tinju Bao WuYa terkepal erat-erat.

“Kau pantas mati?” Ho Thian-jing bertanya.

Bao WuYa mengkertakkan giginya.

“Aku pantas mati……”

“Apakah kalian semua pantas mati? Apakah kalian ingin menghancurkan Thian-kim-bun?” Ho Thian-jing bertanya dengan dingin.

Bao WuYa terlalu kaget dengan pertanyaan ini sehingga tidak mampu menjawab.

“Sebabnya Thian-kim-bun mengajari kalian kungfu bukanlah supaya kalian semua bunuh diri!”

“Tapi kau?” hanya itu yang bisa dikatakan oleh Bao WuYa.

“Tapi aku ini apa? Apa hubunganku dengan kalian?” Ho Thian-jing mendengus. “Biar pun kalian semua mati, aku tidak akan memejamkan sebelah mata pun.”

“Tapi baru saja kau……”

“Aku hanya tidak mau kalian semua mati karena aku, itu saja.” Ho Thian-jing kembali memotong ucapan Bao WuYa. “Jika seorang tukang roti mati karena aku, harus ditaruh di mana nanti mukaku?”

Tiba-tiba ia merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan sebuah lencana bambu, dan mematahkannya jadi dua bagian.

“Aku, Ho Thian-jing, punya uang dan kemasyuran, dan telah lama bosan pada tugas ketua partai yang bodoh dan miskin ini.” Ia berkata dengan dingin. “Sejak saat ini, Thian-kim-bun dan aku tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jika ada yang berani mengatakan bahwa aku masih anggota Thian-kim-bun, maka aku tentu akan memotong lidahnya dan mematahkan kakinya.”

Bao WuYa memandangnya, matanya menjadi merah. Tiba-tiba ia bergulingan di lantai sambil menangis.

Bahkan mata San Say-gan pun tampak sedikit memerah. Tetapi, tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan mengeluarkan suara tawa yang keras.

“Pertunjukan yang bagus, Ho Thian-jing, ternyata margamu masih ‘Ho’ ya? Paling tidak kau masih belum malu memakai nama itu.”

Mereka saling berhadapan, dan saling bertatapan. Tak seorang pun yang tahu berapa lama hal itu berlangsung. Akhirnya, Liok Siau-hong menarik nafas panjang: “Kenapa kau? Kenapa harus kau?”

“Seseorang seperti dirimu tak akan pernah memahami apa yang kami lakukan.” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin.

“Aku mengerti bahwa kau benar-benar ingin melakukan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang mengagumkan. Aku faham bahwa kau tidak ingin seluruh hidupmu berada di bawah bayang-bayang ayahmu yang mulia. Tapi ini……”

“Inilah sesuatu yang luar biasa itu,” Ho Thian-jing memotong dengan sengit. “Selain dari diriku, Ho Thian-jing, siapa lagi yang bisa melakukan sesuatu seperti ini?”

Liok Siau-hong tersenyum geram: “Tidak ada lagi.”

“Dan selain dirimu, tidak ada lagi yang bisa menghancurkan rencanaku!” Tiba-tiba ia menegakkan kepalanya dan menarik nafas. “Jika ada seorang Ho Thian-jing di dunia ini, lalu kenapa harus ada seorang Liok Siau-hong!”

“Karena itu……”

“Karena itu, di antara kita berdua, salah satu harus ada yang mati. Tapi apakah itu kau? Atau aku?”

“Kita mungkin akan tahu saat matahari terbit besok.” Liok Siau-hong pun menarik nafas.

“Fajar akan selalu datang besok, kenapa persoalan esok hari tidak diselesaikan hari ini?” Ho Thian-jing mendengus. Tiba-tiba ia mengibaskan lengan bajunya dan ia telah berada di luar pintu, orang bisa mendengar suaranya yang dingin dan lembut mengalun dari sebuah tempat yang sangat jauh. “Pada saat senja hari ini, aku akan menunggumu di luar Jing-hong-koan!”

______________________________

Senja. Jing-hong-koan. Kuil Angin Hijau itu terletak di puncak sebuah gunung yang hjau, lereng gunung itu sekarang sudah berada di sisi yang berbeda dengan matahari terbenam.

Sikap Hoa Ban-lau tampak amat serius.

“Ho Thian-jing masih belum datang!” Ia berkata sambil menarik nafas.

“Dia akan datang.”

“Tidak kusangka kalau dia adalah orang seperti itu, seharusnya dia tidak melakukan semua perbuatan itu.”

“Tapi tetap dia lakukan.” Liok Siau-hong menjawab dengan murung.

“Mungkin karena dia terlalu angkuh, dia bukan hanya ingin lebih baik daripada semua orang, dia pun ingin lebih baik daripada ayahnya sendiri!”

“Keangkuhan adalah hal yang sangat bodoh.”

Jika seseorang terlalu angkuh, dia tentu akan melakukan sesuatu yang bodoh.

“Dan karena keangkuhan itu pula, maka dia mau bertanggung-jawab untuk semua perbuatannya.”

Liok Siau-hong terdiam beberapa lama.

“Jika kau menjadi aku, maukah kau melepaskannya?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Aku bukan kau.”

Liok Siau-hong menarik nafas yang panjang dan lelah. “Untunglah kau bukan aku, dan untunglah aku bukan kau……”

Hoa Ban-lau tidak menjawab, karena saat itu ia mendengar bunyi pintu dibuka. Pintu depan Jing-hong-koan yang berat dan antik itu dibuka dengan perlahan. Seorang bocah pelayan berjalan keluar, sambil menenteng sebuah lentera. Seorang laki-laki ikut di belakangnya. Bukan Ho Thian-jing, tapi seorang tosu (pendeta Tao) berjubah kuning. Jubah dan lengan bajunya kelihatan amat besar, seperti semua jubah lainnya. Keningnya menekuk ke dalam. Pada wajahnya yang tirus tetapi bersih terlihat ekspresi yang sangat murung. Walaupun langkah kakinya ringan dan gesit, tampaknya dia tidak pernah berlatih kungfu.

Dia memandang ke sekeliling tempat itu sebentar sebelum berjalan dengan langkah tetap ke arah Liok Siau-hong dan memberi hormat kepadanya.

“Apakah ini Liok Siau-hong, Liok-toasiauya, yang dermawan?”

{Catatan: Sapaan ini bukan berarti pendeta itu mengira kalau Liok Siau-hong datang ke sana untuk memberi derma. Pendeta Tao dan Budha secara tradisional selalu menyapa orang yang bukan pendeta sebagai “dermawan”.}

Liok Siau-hong mengangguk. “Dan totiang adalah……”

“Tosu yang sederhana ini bergelar Jing-hong, pinto adalah ketua kuil ini.”

“Apakah totiang adalah teman Ho Thian-jing?”

“Ho-kongcu yang dermawan dan pinto adalah teman bermain catur, setiap bulan tentu dia akan datang ke kuil ini untuk bertanding catur beberapa babak.”

“Di mana dia sekarang?”

Sebuah ekspresi yang sangat aneh kembali muncul di wajah Jing-hong Tojin.

“Sebabnya pinto keluar adalah untuk membawa tuan yang dermawan menemuinya.”

“Di mana dia berada?”

“Ia berada di ruang tamu kuil,” Jing-hong Tojin menjawab dengan lambat. “Ia sudah lama berada di sana.”

Halaman sebelah dalam kuil itu sangat sepi. Bau dupa yang dibakar tercium di udara lewat jendela-jendela yang setengah terbuka. Pintu kuil itu juga tampak terbuka setengahnya.

Liok Siau-hong berjalan melintasi halaman. Setelah Jing-hong Tojin membuka pintu, dia pun melihat Ho Thian-jing. Tapi Ho Thian-jing tidak akan pernah melihatnya lagi.

Ho Thian-jing telah mati di atas kasur tamu Jing-hong Tojin. Di atas lantai di dekat kasur itu terdapat sebuah cawan arak yang berhias naga, di dalamnya masih ada arak. Arak beracun.

Wajah Ho Thian-jing tampak berwarna kelabu. Di sudut matanya dan tepat di bawah hidungnya terlihat noda darah yang belum terhapus. Liok Siau-hong menatapnya, hatinya seperti karam.

Wajah Jing-hong Tojin pun tampak sedih.

“Waktu dia muncul, pinto menduga bahwa dia datang untuk menyelesaikan pertandingan yang belum kami selesaikan kemarin,” Ia menerangkan dengan murung. “Aku ingin melihat ide baru apa saja yang ia bawa untuk menyelamatkan posisinya. Tapi ia malah mengatakan bahwa hari ini ia tidak ingin bermain.”

“Ia hanya ingin minum.” Liok Siau-hong menebak.

Jing-hong Tojin mengangguk. “Aku melihat sikapnya tampak aneh, seakan-akan ada sesuatu yang menjadi beban fikirannya. Ia juga menarik nafas terus-menerus dan bergumam pada dirinya sendiri.”

“Apa yang dia katakan?”

“Tampaknya dia mengatakan sesuatu seperti seratus tahun hidup manusia berlalu dalam sekejap mata, dan juga bahwa jika ada seorang Ho Thian-jing di dunia ini, kenapa juga harus ada seorang Liok Siau-hong.”

Liok Siau-hong tersenyum murung sambil mengerutkan keningnya.

“Apakah ini arakmu?” Ia bertanya.

“Arak itu memang berasal dari tempat ini, tapi cawan itu dia bawa sendiri. Dia selalu terobsesi pada kebersihan dan tidak mau menggunakan barang-barang yang pernah digunakan orang lain.”

Liok Siau-hong memungut cawan itu dan mengendusnya.

“Racunnya memang berada di cawan ini.” Ia mengerutkan keningnya.

“Dia mengangkat cawan tapi kemudian meletakkannya kembali beberapa kali, persis seperti waktu menghadapi sebuah gerakan catur yang sulit, seakan-akan dia tidak bisa mengambil sebuah keputusan. Saya hendak bertanya padanya waktu tiba-tiba dia menegakkan kepalanya, tertawa tiga kali, dan meminum arak itu.”

Tosu itu merangkapkan tangannya di depan dada sebagai tanda berdoa.

“Tidak bisa kubayangkan orang seusia dia sudah putus asa menghadapi hidup ini, semoga dia segera mendapatkan jalannya.” Suaranya makin lama semakin lemah, di matanya pun tampak mengembang air mata.

Liok Siau-hong membisu, hatinya semakin berat. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas. “Apakah dia membawa orang lain?”

“Tidak.”

“Dan dia sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Cu Ting?”

“Tidak.”

Hati Liok Siau-hong tenggelam semakin dalam.

Di sisi tempat tidur itu ada sebuah papan catur yang belum selesai dimainkan. “Hidup selalu berubah, persis seperti awan di langit,” Jing-hong Tojin bergumam pada dirinya sendiri, “tapi siapa sangka, walaupun permainan yang belum selesai ada di sini, orangnya sudah tidak ada lagi.”

“Dia memainkan biji hitam?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya.

“Pinto selalu membiarkan dia yang main lebih dulu.”

Liok Siau-hong memungut sebuah biji catur, berfikir dalam-dalam, dan melakukan sebuah gerakan catur dengan lambat.

“Aku akan menyelesaikan permainan ini untuk dia.”

Jing-hong Tojin tersenyum pedih. “Jika kau melakukan gerakan seperti itu, bukankah biji hitam akan kalah?”

“Tapi selain gerakan ini, dia tidak punya gerakan lain.”

“Dia memang sudah kalah dalam permainan ini, dia juga tahu itu, tapi dia masih tidak mau mengakuinya.”

Liok Siau-hong menatap ke arah cakrawala. “Tapi dia tetap saja kalah,” ia bergumam. “Permainan ini seperti jalan kehidupan, satu gerakan salah dan kau pun kalah.”

Jing-hong Tojin tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya ke atas papan catur dan menjatuhkan semua bijinya.

“Bukankah kehidupan ini juga seperti sebuah permainan? Mengapa kalah dan menang terlalu ditanggapi dengan serius?” Ia bertanya dengan lambat.

“Jika dia tidak menanggapinya dengan serius, lalu kenapa dia mau melakukan permainan ini?”

Jing-hong Tojin meliriknya sekilas sebelum menutup matanya dengan lambat dan merangkapkan tangannya untuk berdoa kembali. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Angin tiba-tiba meniup sebuah daun jendela hingga terbuka, malam yang gelap telah menyelimuti seluruh dunia.

______________________________

Liok Siau-hong berbaring di tempat tidurnya, menatap cawan arak yang berada di atas dadanya. cawan ini telah lama berada di atas dadanya, tapi dia masih belum meminum isinya. Tampaknya dia sedang tidak berhasrat untuk minum.

“Masih memikirkan Cu Ting bertiga?” Hoa Ban-lau bertanya. Liok Siau-hong diam-diam mengakuinya.

“Bila seorang manusia akan mati, hatinya akan berubah menjadi baik. Karena Ho Thian-jing telah memutuskan untuk mati, mungkin ia tidak ingin berbuat salah dan membunuh orang lagi. Mungkin mereka telah tiba di rumah dengan selamat sekarang.”

Dia mengatakan hal ini bukan hanya untuk menghibur Liok Siau-hong, tapi juga untuk menghibur dirinya sendiri. Tapi Liok Siau-hong seolah-olah sama sekali tidak mendengarnya.

Hoa Ban-lau memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. “Tidak perduli apa, kau telah memenangkan permainan ini.”

Liok Siau-hong menjawab dengan sebuah tarikan nafas yang panjang.

“Tapi gerakan terakhir bukan dibuat olehku.”

“Dan permainan ini tidak dimainkan dengan cara yang engkau inginkan ya?”

“Tidak.” Ia memaksakan sebuah senyuman pedih di wajahnya. “Itulah sebabnya, walaupun aku telah menang, rasanya lebih buruk daripada jika aku yang kalah.”

Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.

“Mengapa dia tidak ingin menyelesaikan permainan ini?”

“Karena dia tahu bahwa dia telah kalah,” Liok Siau-hong menjawab, “persis seperti bagaimana dia tidak ingin menyelesaikan permainan catur yang kemarin itu—”

Baru saja ia menyelesaikan kalimat ini, tiba-tiba ia melompat bangkit dari tempat tidur, cawan arak yang berada di atas dadanya pun jatuh ke lantai dan segera hancur berkeping-keping.

Hoa Ban-lau tahu bahwa ia tidak pernah membiarkan cawan araknya hancur seperti itu. Tapi sekarang ia seperti lupa akan hal tersebut. Ia berdiri di sana dengan ekspresi tidak percaya. Seluruh tubuhnya, mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, terasa dingin seperti es.

Hoa Ban-lau tidak bertanya apa-apa, ia tahu kalau Liok Siau-hong akan segera mengatakannya sendiri.

“Dia pun tidak menyelesaikan permainan catur itu kemarin.” Liok Siau-hong tiba-tiba mengulangi kalimat itu.

“Ya.”

“Ia masih bermain catur di Jing-hong-koan kemarin.” Sekarang warna wajah Hoa Ban-lau pun ikut berubah.

“Jika Siangkoan Hui-yan mati di tangannya, bagaimana dia bisa bermain catur di sini kemarin?”

Kemarin Siangkoan Hui-yan berada di tempat yang jauhnya beratus-ratus mil dari tempat itu, tidak mungkin Ho Thian-jing bisa bolak-balik dalam satu hari itu. Siangkoan Hui-yan baru kemarin tewas.

Hoa Ban-lau pun merasa kaki dan tangannya dingin seperti es.

“Apakah kita salah menuduhnya?” Hoa Ban-lau menarik nafas.

“Paling tidak, dia bukanlah pembunuh Siangkoan Hui-yan.” Tinju Liok Siau-hong terkepal erat.

Hoa Ban-lau mengangguk.

“Paling tidak, kita telah salah menuduhnya dalam hal itu.”

“Mengapa dia tidak membantah tuduhan itu?”

“Sebabnya dia mengatur pertemuan denganku di Jing-hong-koan itu mungkin untuk meminta tosu itu membuktikan alibinya bahwa kemarin dia bermain catur di sana.”

“Karena dia tahu bahwa ucapannya saja tidak bisa menjadi bukti, kau tak akan mempercayainya.”

“Tapi dia bahkan belum sempat membantah.”

“Maka, tidak mungkin dia bunuh diri.”

“Memang tidak.”

“Lalu siapa yang membunuhnya?”

“Orang yang juga membunuh Siangkoan Hui-yan.”

“Dalang sebenarnya dari semua ini?”

“Benar.”

“Apakah Jing-hong Tojin disuap oleh orang ini untuk berbohong?”

“Pendeta tetap manusia.”

“Jika demikian, Jing-hong Tojin tentu tahu siapa dia!”

Liok Siau-hong menarik nafas mendengar ucapan itu. “Maka sekarang ini aku berharap Jing-hong Tojin masih hidup.”

Ia kecewa. Saat mereka kembali ke Jing-hong-koan, kuil itu telah berubah menjadi lautan api. Tidak seorang pun yang selamat, satu pun tidak. Api tidak punya belas kasihan, lebih-lebih orang yang melakukan pembakaran. Siapakah orang ini?

______________________________

Jing-hong-koan berada di salah satu sisi gunung itu, villa kecil milik Ho Siu berada di sisi lainnya. Walaupun salah satu sisi gunung itu telah berubah menjadi lautan api, sisi lainnya masih tetap tenang dan damai.

“DORONG”. Tulisan itu masih ada di pintu depan. Liok Siau-hong mendorong pintu itu hingga terbuka dan berjalan masuk. Ini adalah kedua kalinya dia mendorong pintu ini terbuka, dan bisa jadi yang terakhir kalinya.

Perut gunung itu sekarang kosong melompong, tidak ada apa-apa di dalamnya. Semua harta dan senjata yang tak terhitung jumlahnya itu telah menghilang secara ajaib.

Di tengah ruangan itu ada sebuah altar batu kecil, di atasnya terdapat sehelai tikar jerami yang lusuh dan kotor. Ho Siu, dengan bertelanjang kaki, dan mengenakan baju hijau kebiru-biruan yang terlalu sering dicuci sehingga hampir putih, duduk bersilang kaki di atas tikar itu, sambil menghangatkan araknya. Arak yang aromanya sangat harum.

Liok Siau-hong menghirup dalam-dalam aroma tersebut dan berjalan menuruni tangga batu.

“Tampaknya aku kembali tiba di saat yang tepat.” Ia tersenyum.

Ho Siu balas tersenyum. “Kali ini aku tidak terkejut lagi. Setiap kali aku punya arak bagus, kau tentu akan muncul secara tiba-tiba!”

“Tapi sekarang aku agak curiga.”

“Curiga tentang apa?”

“Curiga bahwa kau mungkin sengaja memancingku datang ke mari dengan arak enak sebagai umpannya.”

Ho Siu tertawa. “Dalam peristiwa apa pun, arak enak tetaplah arak enak. Jika kau tidak takut membuat bajumu kotor, maka kau pun boleh duduk dan mencicipi secawan.”

“Aku takut.”

“Kau takut?” Ho Siu mengerutkan keningnya.

“Tapi aku bukannya takut membuat bajuku kotor.”

“Lalu apa yang kau takutkan?”

“Aku takut kalau-kalau nasibku akan berakhir seperti Ho Thian-jing dan harus menunggu orang lain datang dan menyelesaikan permainanku yang belum selesai untukku.”

Ho Siu menatapnya, matanya tiba-tiba seperti berubah menjadi sepasang pisau tajam yang baru dihunus. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia malah menuangkan secawan arak dan meminumnya dengan lambat. Liok Siau-hong pun tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia tahu bahwa satu kalimat saja sudah cukup. Ia sedang berbicara dengan orang yang cerdas. Dengan orang yang cerdas, satu kalimat saja sudah cukup.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba Ho Siu tertawa lagi.

“Tampaknya aku tetap tidak bisa memperdayaimu.”

“Maka kau mungkin sebaiknya menghentikannya saja.”

“Bagaimana kau tahu orang itu aku?”

“Aku tidak tahu,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Tidak sedikit pun aku menyadari bahwa aku telah keliru sejak awal.”

“Oh!”

“Aku selalu mengira bahwa kau berada di perahu yang sama dengan Giam Thi-san dan Tokko, bahwa kau juga seorang korban, dan aku selalu mengira bahwa Ho Thian-jing saja yang bisa mengambil keuntungan dari seluruh peristiwa ini.”

“Sekarang bagaimana?”

“Sekarang aku telah bisa menebak seluruhnya. Hanya ada satu orang yang benar-benar beruntung karena semua kejadian ini.”

“Dan orang itu adalah aku.”

“Benar, orang itu adalah kau!”

Ho Siu mengisi cawan araknya lagi.

“Bila Tay-kim-peng-ong mati, tidak ada lagi orang di dunia ini yang akan mengungkit-ungkit kewajibanmu pada Kekaisaran Rajawali Emas.” Liok Siau-hong meneruskan.

“Ia pun tidak akan mengungkit-ungkit hal itu,” Ho Siu mengangguk dengan lambat. “Tapi akhir-akhir ini dia benar-benar sedang kekurangan. Dia pintar menghabiskan uang, tapi dia tidak pernah tahu tentang sukarnya memperoleh uang.”

“Maka kau membunuhnya?”

“Orang seperti itu memang pantas mati!” Ho Siu berkata dengan dingin.

“Tapi kematiannya tetap tidak cukup, bukan? Karena Tokko dan Giam Thi-san akan datang dan menuntut uang itu untuk dibagi-bagikan, bukan?”

“Uang ini memang milikku, dan hanya aku yang menghabiskan seluruh energi dan usaha untuk melindunginya, membuatnya bertambah hari demi hari, aku tak akan membiarkan orang lain mendapatkannya sepeser pun!”

“Maka mereka juga pantas mati?”

“Mereka harus mati!”

“Sebenarnya uang itu cukup untuk digunakan oleh 30 orang seumur hidupnya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dengan usiamu sekarang, apakah kau benar-benar hendak membawanya semua ke liang kuburmu?”

Ho Siu menatapnya.

“Jika kau punya seorang isteri, maukah kau membaginya dengan orang lain? Walaupun kau tidak terus-menerus memakainya?” Ia mencela dengan dingin.

“Itu persoalan yang benar-benar berbeda.”

“Bagiku, kedua hal ini adalah sama. Harta ini seperti isteri bagiku, tidak perduli apakah aku hidup atau mati, aku tidak mau membaginya dengan orang lain.”

“Maka, pertama kau gunakan Ho Thian-jing dan Siangkoan Hui-yan untuk membunuh Tay-kim-peng-ong, dan kemudian menggunakan aku untuk menyingkirkan Tokko It-ho dan Giam Thi-san.”

“Aku tidak ingin kau terlibat, tapi selain dari dirimu, aku benar-benar tidak bisa memikirkan orang lain yang sanggup melakukannya.”

“Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kalimat itu.” Liok Siau-hong tersenyum malu.

“Itulah yang sebenarnya.”

“Aku mengambil umpanmu karena aku memang mau. Tapi bagaimana dengan Ho Thian-jing? Bagaimana kau bisa mendapatkan orang seperti dia?”

“Bukan aku yang mendapatkan dia.”

“Siangkoan Hui-yan?”

Ho Siu tersenyum. “Tidakkah menurutmu dia seorang gadis yang mampu menggerakkan hati setiap laki-laki?”

Sebuah senyuman masam pun muncul di wajah Hoa Ban-lau.

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Dan bagaimana kau mendapatkan gadis itu?”

“Aku mungkin sudah tua, tapi aku masih bisa merayu gadis mana pun.” Ho Siu menjawab dengan santai. “Karena aku punya sesuatu yang tak bisa ditolak oleh wanita mana pun.”

“Apa itu?”

“Hartaku.” Ia tersenyum dan meneruskan. “Tidak ada seorang pun wanita di dunia ini yang tidak suka pada harta, persis seperti tidak ada seorang pun laki-laki di dunia ini yang tidak menyukai wanita cantik.”

“Kau berjanji untuk membagi sebagian hartamu padanya agar dia merayu Ho Thian-jing?”

“Kalian semua mengira bahwa kekasihnya adalah Ho Thian-jing, tapi kalian tidak menduga bahwa orang yang benar-benar dia cintai adalah laki-laki tua ini kan?” Ho Siu tertawa keras.

“Ia tidak mencintaimu, ia cinta pada uangmu.” Liok Siau-hong mendebatnya.

“Tidak ada bedanya bagiku,” Ho Siu masih tertawa. “Lagipula, bagiku dia adalah orang mati.”

“Sejak awal kau memang berencana untuk menyingkirkan dia?”

“Sudah kubilang padamu, aku tidak akan membiarkan orang lain berbagi harta ini denganku.”

“Maka kau sengaja memberitahuku rahasia tentang 6 jari kaki untuk membuatku bentrok dengannya.”

“Tapi Ho Thian-jing masih tidak tahu apa yang terjadi, dan mengirimkan pesan padanya tentang rahasia ini melalui burung merpatinya.”

“Bahkan dia tidak tahu kalau kau adalah dalang dari semua ini?”

“Tentu saja tidak. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau melakukan semua ini untuk Siangkoan Hui-yan?”

“Tapi kau telah mengira bahwa aku akan melepaskan Siangkoan Hui-yan.”

“Karena itu aku harus pergi dan melakukannya sendiri.”

“Ho Thian-jing bukan orang yang bodoh. Waktu dia mendengar berita bahwa Siangkoan Hui-yan telah mati, dia tentu tahu bahwa ada orang lain di balik semua ini. Karena itu, setelah mengatur sebuah pertemuan denganku di Jing-hong-koan, dia datang ke sini untuk menemuimu.”

“Ia memang tidak sebodoh itu, sayangnya orang-orang yang cerdas pun terkadang jadi bodoh.”

“Ia seharusnya tidak datang sendirian menemuimu.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Itulah sebabnya dia pun pantas mati.”

“Kau memindahkan mayatnya ke Jing-hong-koan setelah membunuhnya?”

“Jing-hong-koan adalah milikku juga, aku bisa mengambilnya kembali kapan saja aku suka.”

“Itulah sebabnya kau meminta Jing-hong Tojin berdusta untukmu. Ia tidak bisa menolak, kan?”

“Seorang pendeta mau berdusta? Jelas dia pun pantas mati!” Ho Siu berkata dengan santai.

“Kau ingin aku percaya bahwa Ho Thian-jing melakukan bunuh diri karena merasa bersalah dan tidak ikut campur lagi dalam urusan ini, kan?”

“Aku benar-benar tidak ingin kau terlibat lagi,” Ho Siu menarik nafas. “Tapi sayangnya tosu yang banyak omong itu membuatmu ikut campur lagi dalam urusan ini.”

“Ia yang membuatku ikut campur lagi?”

“Waktu aku mendengar dia menyebut-nyebut tentang permainan catur yang kemarin tidak selesai, aku tahu kalau kau akan menyadari hal itu cepat atau lambat.”

“Maka kau memutuskan bahwa kau harus membakar Jing-hong-koan.”

“Kebetulan aku memang punya rencana lain untuk petak tanah itu.”

“Di matamu, apakah orang-orang itu sama seperti sepetak tanah? Tidak lebih dari alat yang bisa kau gunakan dan kau buang sesukamu.”

“Bila aku ingin mereka hidup, mereka akan hidup; bila aku ingin mereka mati, maka mereka harus mati!”

“Bagaimana kau tahu cara memanfaatkan diriku?” Liok Siau-hong bertanya sambil tersenyum lelah.

“Setiap orang punya kelemahan. Bila kau bisa menebak titik lemah mereka, kau bisa menggunakan siapa saja.”

“Apa kelemahanku?”

“Kelemahanmu adalah kau terlalu suka ikut campur dalam urusan orang lain!” Ho Siu menjawab dengan dingin.

“Karena itulah aku seperti menjadi kaki tanganmu, membujuk Sebun Jui-soat untuk ikut terlibat, membantumu menyingkirkan Giam Thi-san dan Tokko It-ho”.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Dan kau melakukan semuanya dengan sangat baik. Seandainya kau mau berhenti setelah Ho Thian-jing mati, kau akan disambut dengan baik bila datang ke sini dan minum bersamaku kapan pun kau suka. Jika kau menemui kesulitan, aku mungkin mau meminjamkan sepuluh ribu tael perak untuk melepaskan dirimu dari kesulitan itu.”

“Sayangnya aku tidak berhenti.”

Ho Siu pun menarik nafas.

“Apakah kau tahu kenapa aku memindahkan semua barang yang ada di sini?”

Liok Siau-hong tidak tahu.

“Karena aku bermaksud meninggalkan tempat ini untuk kau gunakan sebagai kuburanmu.”

“Paling tidak ini bukanlah sebuah kuburan yang kecil.” Liok Siau-hong mencoba bergurau.

“Bagi Liok Siau-hong, dikuburkan di bawah Loteng Pertama dari Jing-ih-lau tentu sangat sesuai, bukan?” Ho Siu berkata dengan lugas.

“Paling tidak Siangkoan Hui-yan berkata benar tentang suatu hal,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Loteng Pertama dari Jing-ih-lau benar-benar terletak di sini.”

“Sayangnya, semakin banyak orang yang memberitahumu bahwa Loteng Pertama ada di sini, semakin kau tidak mempercayai mereka.”

“Dan kau tentunya Ketua dari 108 Jing-ih-lau, bukan?”

“Ketua, sebutan itu sungguh bagus,” Ho Siu tersenyum. “Aku suka mendengarnya.”

“Terdengar lebih merdu daripada suara hitungan uangmu?”

“Aku tidak menghitung uang,” Ho Siu menjawab dengan santai. “Kau tak bisa menghitung berapa banyak uang yang aku miliki.”

Liok Siau-hong kembali menarik nafas. “Baru sekarang aku benar-benar mengerti kenapa kau bisa begitu kaya.”

“Kau mungkin faham sekarang, tapi sayangnya kau tak akan pernah menguasainya.”

“Hanya karena aku tidak mengerti kenapa harus membawa harta itu ke lubang kubur bersamaku.”

Ho Siu kembali tertawa. “Bagus, sangat bagus!”

“Apanya yang bagus?”

“Menurut kabar angin, kau selalu membawa setumpuk lembaran cek di kantongmu, dan setiap kali bertaruh kau tidak pernah meletakkan cek yang bernilai kurang dari 5000 tael di atas meja.” Ho Siu berkata sambil tersenyum.

“Cek yang bernilai 5000 tael itu pun mungkin telah jatuh ke tanganmu.” Liok Siau-hong tersenyum jengkel.

“Karena kau tidak bermaksud membawa uang itu ke lubang kubur bersamamu, aku akan mengambil uang itu setelah kau mati.”

“Kau pun menginginkan uang orang yang sudah mati?”

“Aku menginginkan semua jenis uang, itulah rahasia terbesar untuk menjadi kaya.”

“Sayangnya aku masih hidup.”

“Tapi kau telah berada di kuburanmu.”

“Kau yakin bisa membunuhku?”

“Tidak, tapi aku yakin bahwa kau akan mati di sini.”

“Oh!”

“Bila seseorang telah masuk ke liang kuburnya, tidak ada harapan baginya untuk keluar.”

Liok Siau-hong menatap Ho Siu, matanya tiba-tiba berkilauan seperti sepasang pisau cukur yang tajam.

“Tanganmu sudah gatal-gatal ingin beraksi?” Ho Siu tersenyum.

“Ya.” Liok Siau-hong mengakui.

“Sayangnya aku tidak tertarik untuk bertarung denganmu, aku tidak ingin tanganku kotor.” Ia menekan altar batu itu dengan lembut. “Bum!” Sebuah kandang baja yang sangat besar tiba-tiba jatuh dari atas, mengurung seluruh altar batu itu di dalamnya.

Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Sejak kapan kau memutuskan menjadi seekor burung dan mengurung dirimu sendiri di dalam kandang?”

“Kau kira ini lucu?”

“Memang lucu.”

“Kau tidak akan menganggapnya begitu lucu bila aku berjalan keluar dari sini, orang yang akan mati kelaparan barulah lucu.”

“Apakah aku akan mati kelaparan?”

“Setelah aku pergi, satu-satunya yang bisa kau makan di sini adalah daging yang ada di tubuhmu dan tubuh teman-temanmu, yang bisa kau minum di sini adalah darahmu sendiri.” Ho Siu menjawab dengan dingin.

“Tapi bagaimana kau bisa pergi?”

“Satu-satunya jalan keluar dari tempat ini terletak persis di bawah altar batu yang aku duduki ini. Dan bisa kujamin, aku akan menyegel jalan keluar ini setelah aku keluar.”

Wajah Liok Siau-hong berubah warna sedikit.

“Rasanya aku tidak masuk lewat jalan itu tadi.” Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

“Pintu masukmu tadi hanya bisa dibuka dari luar, dan tidak ada orang di luar yang akan membukakannya untukmu, aku bisa menjamin hal itu.”

“Apa lagi yang bisa kau jamin?”

“Aku bisa menjamin bahwa kau akan mati kehausan dalam 10 hari. Aku adalah orang yang bijaksana, maka aku akan menunggu paling sedikit 10 hari lagi sebelum kembali ke sini.”

“Kau akan kembali?”

“Tentu saja aku akan datang kembali,” Ho Siu tertawa. “datang kembali untuk mengambil semua uang yang ada padamu.”

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa, tawa yang keras dan sepenuh hati.

“Jika aku adalah kau, aku tidak akan tertawa sekarang.” Ho Siu berkata.

“Kau bukanlah aku.”

“Untungnya bukan.”

“Dan karena kau bukanlah aku, tentu kau tidak tahu bahwa satu-satunya yang aku tinggalkan di kantungku adalah sebuah lubang yang besar.” Liok Siau-hong berkata, sambil berusaha menahan tawanya.

“Tampaknya kau telah memutuskan untuk tidak membiarkan diriku mendapatkan sesuatu pun darimu setelah kematianmu.” Ho Siu menarik nafas.

“Kau akhirnya faham.”

“Untungnya, masih ada sesuatu yang bisa kudapatkan.”

“Oh!”

“Paling tidak aku masih bisa mengambil pakaian di tubuhmu dan menjualnya untuk beberapa picis!”

“Kau mau melakukan semua itu untuk beberapa picis?”

“Satu picis pun tetaplah uang.”

“Asal ada uangnya, kau tetap mau!”

“Uang selalu berguna, satu picis tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

“Baiklah, biar kuberikan untukmu!” Liok Siau-hong tiba-tiba mengibaskan tangannya dan selusin uang logam yang terbuat dari perunggu meluncur dengan deras dalam bentuk barisan ke arah Ho Siu.

Ho Siu tidak bergerak atau pun menghindar. Barulah saat barisan uang logam itu menerobos terali sangkarnya ia mengayunkan tangannya sebanyak dua kali dan ke-12 keping uang logam itu tiba-tiba telah berada di dalam genggamannya.

Kehebatan tangan orang tua ini membuat Liok Siau-hong terkejut.

“Gerakan yang sangat bagus!” Ia berseru tak tertahan.

Ho Siu telah menyimpan 12 keping uang logam itu dengan seksama.

“Bila berurusan dengan uang, kungfu-ku biasanya akan sangat bagus.”

“Sayangnya ilmu-mu itu masih sedikit di bawahku.”

Ho Siu tertawa. “Kau mencoba memancingku untuk keluar dan bertarung denganmu?”

“Ya, aku memang punya fikiran seperti itu.”

“Maka kunasehatkan padamu untuk menghilangkannya dari fikiranmu.”

“Kau tidak akan keluar?”

“Walaupun aku ingin, aku tetap tidak bisa.”

“Kenapa tidak?”

“Kandang ini terbuat dari baja yang telah ditempa lebih dari 100 kali. Bobotnya 990 kg. Bahkan pedang yang bisa memotong baja seperti mentega pun tidak akan dapat memotongnya, apalagi pedang seperti itu hanya ada dalam dongeng.”

“Dan tidak ada orang yang sanggup mengangkat kandang seberat 990 kg.” Liok Siau-hong menambahkan.

“Tidak ada.”

“Karena itu, bukan hanya kau tidak bisa keluar, aku pun tidak bisa masuk.”

“Maka yang bisa kau lakukan hanyalah menonton aku pergi, lalu menunggu saat kematianmu.”

“Sebabnya kau mengurung dirimu sendiri di dalam kandang adalah karena kau takut kalau aku berusaha bertarung denganmu?”

“Aku sudah tua, aku bahkan tidak tertarik untuk tidur dengan perempuan lagi, apalagi bertarung.”

Liok Siau-hong menepuk-nepuk bahu Hoa Ban-lau. “Tampaknya yang bisa kita lakukan adalah menunggu kematian di tempat ini!” Ia menarik nafas.

“Tampaknya ini adalah gerakan terakhirnya!” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. Tak bisa dipercaya, dia benar-benar tersenyum!

“Kau harus mengakui, gerakan ini benar-benar efektif.”

“Tapi kita masih punya sebuah gerakan yang belum dilakukan, itulah senjata yang belum kita gunakan.”

“Oh!”

“Kau lupa dengan Cu Ting?” Hoa Ban-lau bertanya.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Tentu saja tidak.”

“Dan itulah sebabnya sekarang kau masih dapat tersenyum.” Hoa Ban-lau balas tersenyum.

“Dan itulah sebabnya kau tidak cemas sama sekali.”

“Ia seharusnya tidak membawa Cu Ting ke sini.”

“Benar sekali.”

Terlihat beberapa perubahan di wajah Ho Siu.

“Kenapa dengan dia?” Akhirnya ia tidak tahan terhadap godaan itu dan bertanya. “Kenapa dia seharusnya tidak berada di sini?”

“Tidak ada apa-apa sebenarnya.” Liok Siau-hong menjawab dengan acuh tak acuh. “Hanya saja, tidak ada tempat di dunia ini yang bisa mengurungnya.”

“Ia tidak punya sesuatu yang istimewa pada dirinya, selain dari kenyataan bahwa ia kebetulan adalah murid Liok-toaya.” Hoa Ban-lau menambahkan.

“Liok-toaya?” Ho Siu mengerutkan keningnya.

“Tentu saja, kau tentu tahu bahwa Liok-toaya adalah keturunan langsung dari Liok Ban, ahli perkakas terbaik di dunia.” Hoa Ban-lau menerangkan.

“Sesudah Liok-toaya mati, gelar itu tentu saja jatuh ke tangan Lopan, Cu Ting.” Liok Siau-hong menambahkan.

“Karena itu, selama dia ada di sini, maka kalian tentu bisa keluar.” Ho Siu menyimpulkan.

“Benar.” Liok Siau-hong mengiyakan.

“Ia memang ada di sini.”

“Aku tahu.”

“Posisinya agak lebih jauh, tempat di mana kau melihatku terakhir kalinya.”

“Aku tahu.”

“Jika tidak ada tempat di dunia ini yang mampu mengurungnya, lalu kenapa ia belum keluar juga?”

“Ia akan keluar.”

“Jika ia keluar sekarang pun, tetap saja terlambat.” Ho Siu mendengus.

“Oh!”

“Pusat kendali semua mesin dan perangkap di tempat ini tepat berada di bawah tempat aku duduk.”

“Oh!”

“Tentu saja, jika aku pergi, aku akan segera menghancurkannya.”

“Dan kemudian apa yang terjadi?”

“Dan kemudian setiap jalan keluar dari tempat ini tentu akan segera disegel oleh batu-batu besar, setiap batu berbobot lebih dari 4 ton, maka……”

“Maka kami ditakdirkan untuk mati di sini.”

“Bukan hanya kau, bahkan jika Liok Ban hidup kembali, dia pun hanya bisa menunggu kematiannya.” Ho Siu menambahkan dengan santai.

“Dan karena itu kau akan pergi sekarang juga!”

“Sebenarnya aku ingin menunggu dan berbincang-bincang dengan kalian lebih lama lagi, karena aku tahu bahwa menanti kematian itu sama sekali tidak menyenangkan.”

“Tapi sekarang kau merubah fikiranmu?”

“Benar!”

“Tampaknya aku bukan hanya tidak bisa memaksamu tetap berada di sini, aku pun tidak bisa mengantarkanmu pergi.” Liok Siau-hong bergurau dengan cara yang agak menyedihkan untuk bisa dibilang lucu.

“Tapi kalian tentu akan segera merindukanku, aku tahu itu,” Ho Siu berkata sambil tersenyum dan ia pun mengulurkan tangannya. “Aku cuma perlu menekan, dan aku akan menghilang. Kalian tidak akan pernah melihatku lagi.”

Ia lalu menekan sebuah tombol dengan tangannya.

Tetapi, ia tidak menghilang, malah senyuman di wajahnya yang hilang.

Altar batu itu masih tetap berupa altar batu persegi. Ia dari tadi duduk di atasnya, sekarang pun ia masih duduk di atasnya. Ekspresi wajahnya telah berubah sedemikian rupa, seolah-olah ia telah ditinju oleh seseorang di hidungnya.

Tetesan-tetesan keringat yang besar tiba-tiba muncul di keningnya.

Liok Siau-hong pun menganggap hal itu sangat aneh. Ia sangat mengetahui sifat Ho Siu, rubah tua ini tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak benar-benar ia yakini. Jika Ho Siu mengatakan ada sebuah jalan keluar di bawah altar batu itu, tentu memang ada jalan keluar di bawahnya. Tapi sekarang, tampaknya jalan keluar itu tiba-tiba menghilang.

“Kenapa kau masih ada di sini?” Liok Siau-hong mengedip-ngedipkan matanya.

Tinju Ho Siu terkepal erat-erat.

“Kau…… kau?” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya dan tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.

Liok Siau-hong menarik nafas, lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa bukan hanya ia satu-satunya orang yang menarik nafas. Selain dari dirinya, yang menarik nafas bukanlah Hoa Ban-lau, tapi Siangkoan Soat-ji dan Lopannio. Mereka pun menarik nafas ketika berjalan menghampirinya, dengan senyuman berbunga-bunga di wajah mereka.

“Ternyata kau benar, orang ini benar-benar orang yang mujur.” Siangkoan Soat-ji yang pertama bicara.

“Itulah dia Liok Siau-hong satu-satunya!”

Tapi senyuman Liok Siau-hong tampak menyedihkan.

“Sebabnya kalian tidak keluar dari tadi adalah untuk melihat apakah aku masih punya kemujuran?”

“Kami kira kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap rubah tua ini, tapi siapa yang tahu bahwa kau masih punya satu gerakan terakhir ini?” Siangkoan Soat-ji menjawab dengan manis.

“Gerakanmu yang terakhir ini benar-benar istimewa.” Lopannio tertawa cekikikan.

“Ia yang membuat kandang itu, tapi mungkin ia tidak pernah membayangkan kalau ia sendiri yang akan terperangkap di dalamnya.” Siangkoan Soat-ji berkata.

Liok Siau-hong tersenyum. “Itulah yang disebut ‘Masuk Sendiri ke Dalam Kuali’.”

{Catatan: ‘Masuk Sendiri ke Dalam Kuali’ adalah ungkapan bahasa Cina yang terkenal. Ungkapan ini berasal dari sebuah cerita tentang percakapan antara 2 orang pejabat di masa pemerintahan kaisar wanita satu-satunya dalam sejarah Cina, Wu Ze Tian. Kedua pejabat ini terkenal karena kekejamannya di saat menginterogasi tawanan. Ketika pejabat pertama dicurigai berkhianat, pejabat kedua diperintahkan untuk menginterogasinya. Pejabat kedua, yang berteman dengan pejabat pertama, lalu mengundang temannya itu untuk makan malam. Selama makan malam itu, pejabat kedua bercerita bahwa ia punya seorang tawanan yang tidak mau bekerja-sama, tak perduli apa pun nasehat yang diberikan olehnya pada tawanan itu. Pejabat pertama lalu mengusulkan agar ia menggunakan sebuah kuali besar yang diisi minyak, memanaskannya hingga mendidih di hadapan tawanan itu, dan kemudian mengancam akan mencampakkannya ke dalam kuali jika ia tidak mengaku. Pejabat kedua kemudian segera memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membawa sebuah kuali besar yang diisi minyak ke dalam ruangan itu dan memanaskannya hingga mendidih. Setelah selesai, tuan rumah pun berdiri, lalu mendakwa tamunya atas semua kejahatannya, dan memintanya ‘masuk sendiri ke dalam kuali’ jika ia tidak mau mengaku. Tamunya, si pejabat pertama, segera mengaku karena ketakutan. Jadi ungkapan ini ditujukan pada orang yang ide-ide atau rencana-jahatnya malah berbalik pada dirinya sendiri.}

Lopannio menatapnya, matanya berkedip-kedip. “Bagaimana kau bisa memikirkan dan melakukan hal ini?”

“Aku kan orang yang jenius.” Liok Siau-hong menjawab seenaknya.

“Apakah kau telah menduga bahwa ia akan berusaha melarikan diri lewat jalan itu dan karena itu menyegelnya sebelum ia masuk ke sini?” Siangkoan Soat-ji bertanya.

Liok Siau-hong terdiam.

“Hayo, kenapa kau tidak bicara?” Lopannio mendesak. “Bagaimana kau melakukannya?”

Liok Siau-hong tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa memberitahu kalian.”

“Kenapa tidak?” Siangkoan Soat-ji bertanya.

“Setiap orang perlu menyimpan beberapa rahasia untuk dirinya sendiri, terutama bila wanita-wanita seperti kalian berdua terlibat.” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum, senyuman yang mirip seperti senyum seekor rubah tua yang licik. “Jika kalian berdua tahu semua rahasiaku, lalu bagaimana mungkin aku bisa tenang selama sisa hidupku?”

______________________________

“Jadi bagaimana kau melakukannya?” Setelah semua orang pergi, Hoa Ban-lau tidak bisa lagi menahan godaan untuk bertanya kembali. “Mengapa tidak kau beritahukan pada mereka?”

Jawaban Liok Siau-hong benar-benar cerdik.

“Karena aku pun tidak tahu.”

“Kau juga tidak tahu kenapa jalan keluar itu tiba-tiba tersegel?” Hoa Ban-lau terkejut.

“Tidak tahu.”

Hoa Ban-lau terdiam.

“Mungkin itu karena alat kontrolnya tiba-tiba tidak berfungsi, atau mungkin karena seekor tikus kebetulan masuk dan merusak sebuah pegas di sana atau di sini”.” Liok Siau-hong menduga-duga, tampak sebuah renungan yang dalam di matanya. Ia menarik nafas. “Apa sebenarnya penyebabnya? Tidak ada yang tahu, mungkin hanya Thian yang tahu.”

“Hanya Thian yang tahu?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Kau tahu kenapa pelaku kejahatan selalu gagal di saat-saat terakhir?” Ia bertanya.

“Tak tahu.”

“Karena Thian telah menyiapkan sebuah pukulan terakhir yang ampuh untuk mereka, maka tidak perduli betapa cerdiknya rencana mereka, mereka akan selalu gagal.”

“Jadi gerakan terakhir ini bukan darimu, tapi keinginan Thian?”

“Benar.”

Hoa Ban-lau tertawa.

“Mengapa kau tertawa? Kau tidak percaya padaku?”

“Kau kira aku akan mempercayaimu?” Hoa Ban-lau bertanya, masih sambil tertawa.

Liok Siau-hong menarik nafas dan menjawab dengan sebuah senyuman pedih.

“Kenapa bila aku mengatakan hal yang sebenarnya, tidak ada orang yang percaya padaku?”

Advertisements

1 Comment »

  1. Alangkah bagusnya kalau bisa di film kan

    Comment by Anonymous — 30/08/2013 @ 9:28 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: