Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (10)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:08 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 10. Membungkamkan Saksi
Oleh Gu Long

Ye Kai berdiri dikegelapan di bawah cahaya bintang. Dia berdiri seperti patung, patung yang dingin.

Ma Fang Ling memandangnya dan berjuang untuk bergerak ke arahnya. Dia jatuh ke dalam lengannya dan memegangnya dengan kuat. Dia mulai menangis dan meneteskan air mata, suaranya bergetar dan terisak-isak, dia tidak dapat berbicara sepatah katapun.

Ye Kai juga berdiam diri. Dalam situasi ini, kata-kata hiburan tidak ada artinya.Dia perlahan-lahan melepaskan pakaian luarnya dan menyelimuti gadis itu.

Pada saat itu, golok Fu Hong Xue telah kembali ke tangannya. Dia berbalik dan mengibaskan kakinya dan menatap Ye Kai. Sangat sulit dikatakan apakah rasa malu atau rasa jengkel yang terpancar dimatanya. Ye Kai bahkan tidak melihat kepadanya.

Fu Hong Xue menggertakan giginya dan berkata,” Aku akan membunuhmu.”

Ye Kai masih tidak memberikan perhatian kepadanya. Fu Hong Xue tiba-tiba mengacungkan goloknya menggerakan ke arahnya. Meskipuan kakinya pincang dan masih berlumuran darah, sekali tubuhnya bergerak, dia terlihat secepat burung, seganas harimau.

Tidak ada yang dapat membayangkan orang pincang dapat bergerak secepat itu.

Tidak ada yang dapat membayangkan kecepatan dan kekuatan dibalik golok itu.

Golok itu melesat ke arah Ye Kai, namun dia masih tidak bergerak. Tepat saat golok tersebut akan mencapai Ye Kai, mendadak golok itu berhenti. Fu Hong Xue menatapnya, tangan yang memegang golok tiba-tiba bergetar. Tiba-tiba dia berbalik, terjatuh dan mulai muntah-muntah.

Ye Kai masih tidak melihat kepadanya, namun matanya dipenuhi dengan penuh pengertian dan rasa kasihan. Dia merasa simpati terhadap pemuda ini, tidak yang mengenal dan sedekat Fu Hong Xue selain dia. Karena dia pernah mengalami rasa sakti dan penderitaan yang sama sebelumnya.

Ma Fang Ling masih menangis, perlahan-lahan dia menepuk pundak gadis itu dan berkata,” Kamu kembalilah dulu.”

“Kamu …. kamu tidak menemaniku?” Ma Fang Ling berkata.

“Aku tidak dapat.” Ye Kai menjawab.

“Mengapa tidak dapat?” Ma Fang Ling bertanya.

“Aku harus tinggal disini.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling mengunci giginya dan berkata,” Jadi akupun tinggal juga…:

“Kamu harus kembali pulang. Tidurlah, dan lupakan apa yang telah terjadi disini hari ini. Saat kembali besok …”

Ma Fang Ling menatapnya, wajahnya dipenuhi dengan harapan dan rasa rindu,” Tolong datang dan jenguk aku besok.”

Nampak terlihat ekspresi yang sangat tidak biasa di mata Ye Kai. Setelah beberapa saat dia perlahan-lahan menjawab,” Jangan ragu.”

Ma Fang Ling memegang tangannya dengan kuat sementara air matanya telah mengalir kepipinya,” Aku tidak akan menyalahkanmu meskipun kamu tidak muncul.: Mendadak dia berbalik, menutupi wajahnya dan berlari pergi.

Isak tangisnya perlahan-lahan menghilang diterbangkan angin. Sesaat derap kaki kudanya menghilang dikejauhan, semuanya kembali menjadi sunyi senyap.

Dataran ini seperti penggorengan, api yang tidak terlihat di bawah, menyiksa setiap orang diatasnya.

Fu Hong Xue masih muntah-muntah sementara tubuhnya membungkuk. Ye Kai menataphnya membisu, dan menunggunya hingga dia berhenti.

“Engkau dapat membunuhku sekarang.” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue masih menundukan badannya, meloncat dengan golok ditangannya. Dengan satu tarikan napas dia telah berada di kejauhan hingga akhirnya berhenti. Darah dan air mata menetes dari wajahnya sesaat dia menengadah ke langit.

Ye Kai mengikutinya dari belakang, dengan tenang bertanya,” Kenapa engkau belum menyerang?”

Tangan yang memegang golok mulai bergetar kembali. Fu Hong Xue tiba-tiba berbalik dan menatap Ye Kai,” Apakah engkau harus memaksaku?”

“Tidak ada seorangpun yang memaksamu, engkau yang memaksa dirimu sendiri.” Ucapanya seperti pecut sehingga menimbulkan rasa sakit di tubuh Fu Hong Xue.

Ye Kai perlahan-lahan melanjutkan,” Aku tahu engkau hanya memerlukan pelampiasan untuk melepaskan rasa marahmu, namun sekarang perasaanmu sudah lebih ringan.”

Fu Hong Xue mengepalkan jarinya dan bertanya,” Apa lagi yang engkau ketahui?”

Ye Kai tersenyum dan berkata,” Aku juga tahu bahwa engkau tidak akan membunuhku, karena engkau tidak ingin membunuhku.”

“Aku tidak ingin?” Fu Hong Xue berkata.

“Orang yang ingin engkau lukai adalah dirimu sendiri, karena …”Ye Kai berkata.

Pandangan mata Fu Hong Xue dipenuhi dengan rasa sakit, tiba-tiba dia berteriak,” Tutup mulut!”

Ye Kai menghela napas dan tetap melanjutkan,” Walaupun engkau berpikir bahwa engkau merasa bersalah dimasa lalu, namun sebenarnya itu bukan salahmu.”

“Lalu siapa yang harus disalahkan?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai menatapnya,” Engkau seharusnya tahu ini salah siapa … engkau pasti mengetahuinya.”

Pupil mata Fu Hong Xue bergerak,” Sebenarnya siapakah engkau?”

Ye Kai tersenyum dan menjawab,” Aku adalah aku. Nama marga ku Ye, nama panggilanku Kai.”

“Apakah nama margamu betul-betul Ye?” Fu Hong Xue bertanya.

“Apakah nama margamu betul-betul Fu?” Ye Kai menjawab.

Kedua mata mereka melekat satu sama lain, keduanya seperti sedang mencoba membaca pikirannya satu sama lain, keduanya seperti sedang menggali rahasianya masing-masing. Namun Ye Kai tetap tenang dan mantap seperti biasanya. Fu Hong Xue terlihat tegang … seperti busur yang ditarik.

Kemudian, kedunya mendengar suara paling aneh dan paling tidak biasa. Terdengar seperti suara kuku kuda menginjak-nginjak tanah yang lembek, atau tukang daging sedang memotong daging. Suara tersebut sangat lemah, namun malam tetap sunyi senyap, dan keduanya dalam keadaan siaga.

Angin berhembus ke arah mereka dari sana.

“Aku datang kesini bukan untuk mencari mu.” Ye Kai tiba-tiba berseru.

“Siapa yang engkau cari?” Fu Hong Xue berkata.

“Pembunuh Laba-laba Terbang.” Ye Kai menjawab.

“Engkau tahu, siapakah dia?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku tidak pasti, hal itu aku masih mencoba mencari tahu.” Ye Kai berkata.

Dia berbelok dan berjalan kedepan beberapa langkah, kemudian berhenti, sepertinya sedang menunggu Fu Hong Xue. Setelah beberapa saat, Fu Hong Xue mengikutinya dari belakang.
“Aku tahu kalau engkau mengikutiku.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Kenapa begitu?” Fu Hong Xue berkata.

“Karena semua yang terjadi disini berhubungan denganmu dengan suatu cara.” Ye Kai menjawab.

Fu Hong Xue menegang.” Engkau tahu siapa aku?”

“Engkau adalah engkau. Nama margamu Fu, dan nama panggilan mu Hong Xue.” Ye Kai tersenyum.

Angin kencang menerpa wajah mereka, suara aneh tersebut tidak terdengar lagi.

Fu Hong Xue menutup bibirnya dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia mempertahankan kecepatannya mengikuti Ye Kai dari belakang. Kemampuan meringankan tubuhnya sangat unik, sangat mahir, dan sangat enak untuk dilihat. Saat dia menggunakan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, tidak ada seorangpun pernah mengira bahwa dia seorang yang pincang.

Ye Kai melihatnya dan berkata,” Sepertinya engkau berlatih kungfu sejak dilahirkan.”

“Dan engkau?” Fu Hong Xue menjawab dengan dingin.

“Aku berbeda.” Ye Kai berkata.

“Bagaimana engkau berbeda?” Fu Hong Xue bertanya.

“Aku berbakat.” Ye Kai menjawab.

“Orang yang berbakat biasanya mati muda.” Fu Hong Xue berkata.

“Mati muda bukanlah suatu hal yang jelek.” Ye Kai berkata.

Pandangan pedih terlihat di mata Fu Hong Xue.

“Aku tidak boleh mati, aku tidak boleh mati …”pikirannya terus menerus berteriak.

Tiba-tiba di mendengara Ye Kai berseru perlahan. Angin dipenuhi oleh bau daging dan darah. Cahaya bintang di atas menyinari sebuah mayat yang telah membusuk. Kehidupan manusia di padang luas seperti ini menjadi seperti kuda dan domba, betul-betul tidak lebih baik.

Terdapat lubang galian disebelah mayat itu. Lubang tersebut digali hingga dalam, dan kira-kira tujuh atau delapan sekop tergeletak disebelahnya. Siapapunyang membunuhi orang-orang ini pasti ingin menguburkan mayat mereka, tapi mungkin seseorang memergokinya sehingga dia kabur.

Siapa yang membunuh orang-orang ini? Tidak ada seorangpun yang tahu.

Tubuh tersebut adalah MuRong Ming Zhu dan ke delapan pendekar muda yang mengikutinya. Pedang MuRong Ming Zhu telah tercabut dari sarungnya, namun kesembilan lainnya nampaknya terbunuh sebelum mereka sempat mencabut pedangnya.

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Gerakan yang sangat cepat. Teknik yang sangat mematikan.”

Hanya jago kosen yang memiliki kemampuan secepat dan mematikan seperti ini.

Fu Hong Xue mengepalkan jarinya dan mulai bergetar kembali. Sepertinya dia antipati terhadap darah, daging dan tubuh orang mati. Ye kai tidak ambil pusing.

Dia tiba-tiba mengeluarkan secarik kain dengan kancing diatasnya. Kain tersebut ternyata sama dengan kain baju MuRong Ming Zhu. Kancingnya juga identik.

Ye Kai menghela napas panjang dan berkata,” Jadi memang benar-benar dia.”

Fu Hong Xue mengerutka keningnya dan terlihat kebingungan.

“Aku mengambil secarik kain dari tangan jenazah Laba-laba Terbang. Dia tidak ingin melepaskannya meskipun harus mati.” Ye Kai menjelaskan.

“Kenapa begitu?” Fu Hong Xue bertanya.

“Karena MuRong Ming Zhu adalah salah seorang yang membunuhnya! Dia ingin mengatakan rahasia ini kepada seseorang.” Ye Kai berkata.

“Kepadamu? Jadi engkau dapat membalaskan dendamnya?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku rasa dia tidak bermaksud mengatakannya kepadaku.” Ye Kai berkata.

“Lalu kepada siapa dia berusaha mengatakan?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai menghela napas dan menjawab,” Aku berharap aku mengetahuinya.”

“Kenapa MuRong Ming Zhu membunuh Laba-laba Terbang?” Fu Hong Xue bertanya.

Ye Kai mengangkat bahunya.

“Bagaimana dia bisa berakhir di dalam peti mati itu?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai mengangkat bahunya lagi.

“Dan siapa yang membunuh MuRong Ming Zhu setelah itu?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku hanya tahu bahwa orang yang membunuh MuRong Ming Zhu berusaha untuk membungkamkannya.” Ye Kai berkata.

“Membungkamkannya?” Fu Hong Xue berkata.

“Karena orang tersebut tidak ingin orang lain tahu Laba-laba Terbang dibunuh oleh MuRong Ming Zhu. Orang tersebut juga tidak ingin orang lain menemukan MuRong Ming Zhu.” Ye Kai berkata.

“Kenapa?” Fu Hong Xue berkata.

“Orang tersebut mungkin tidak ingin orang lain tahu hubungannya dengan MuRong Ming Zhu.” Ye Kai menduga-duga.

“Apakah engkau bisa menduga siapa yang melakukannya?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai tiba-tiba membungkan dan terbenam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat dia perlahan-lahan berkata,” Apakah engkau tahu bahwa Yun Zai Tian berusaha mencarimu sore ini?”

“Aku tidak tahu.” Fu Hong Xue menjawab.

“Dia berkata dia mencarimu, tapi saat dia melihat mu, dia tidak mengatkan sepatah katapun.”Ye Kai berkata.

“Mungkin karena bukan aku yang dia cari!” Fu Hong Xue berkata.

Ye kAi menganggukan kepala dan menjawab,” Benar, dia pasti mencari oran glain. Namun siapa yang dia cari? Xiao Bie Li? Cui Nong? Bila dia berusaha mencari keduanya, kenapa dia harus berbohong?”

Angin kembali bertiup.

Pasir kuning memenuhi langit, rumput liar menderu diterpa angin.

Malam ini terlihat seperti batu giok yang ditutupi oleh berlian, berkilau dan cantik, sementara bumi terlihat suram dan murung.

Angin berbisik seperti suara ringkik kuda, membuat dataran luas ini menjadi lebih luas dan terpencil.

Fu Hong Xue mulai berjalan dulu perlahan. Ye Kai mengikutinya dari belakang. Tentu saja dia dapat mempercepat jalannya mendahului, tapi dia tidak lakukan.

Terlihat keanehan pada jarah di antara mereka, seperti hubungan yang aneh pada keduanya. Titik kecil cahaya muncul dikejauhan.

“Hari mulai terang, kapan engkau akan membunuhku atau aku yang akan membunuhmu!” Fu Hong Xue tiba-tiba berseru.

“Hari itu akan tiba?” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue tidak memperdulikannya, dia berbalik dan berkata,” Hari itu akan tiba lebih dekat.”

“Atau mungkin saja tidak akan pernah terjadi.” Ye Kai berkata.

“Kenapa?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai menghela napas sedih, matanya melekat pada kegelapan dikejauhan, dan perlahan-lahan berkata,” Karena kita berdua mungkin mati oleh tangan kita!”

________________________________________

Ma Fang Ling membenamkan kepalanya ke dalam bantal yang telah dibasahi oleh air matanya. Dia masih tidak dapat menenangkan perasaannya sampai sekarang. Cinta dan benci seperti dua kekuatan dan tangan yang bertenaga yang mencekiknya hingga mati.

Ye Kai, Fu Hong Xue. Mereka berdua adalah orang yang aneh dan unik.

Padang rumput selalu sunyi dan sepi, namun sejak kedua orang ini datang, kejadian aneh selalu datang silih berganti dengan kecepatan yang menakutkan. Tidak ada yang tahu seberapa jauh hal itu sampai kepuncaknya.

Hanya saja siapa mereka berdua? Untuk apa mereka datang?

Malam itu, di tengah padang pasir, di bawah bintang di langit, dia meringkuk dengan eratnya di dalam pelukan lengan Ye Kai. Lengan Ye Kai terasa hangat dan manis, dia bersedia memberikan dirinya kepadanya, namun dia tidak meminta gadis itu. Saat gadis itu mengatakan padanya bahwa dia harus pergi, dia berharap dengan sepenuh hatinya bahwa dia akan selalu berusaha menjaganya, bahkan bila dengan paksaan sekalipun, dia betul-betul tidak akan menolaknya. Namun dengan mudah dia membiarkan dirinya pergi. Dia terlihat licik dan jahat, tapi dia hanya membiarkannya pergi.

Di malam yang lain, di bawah bintang yang sama, di tengah padang pasir yang sama, gadis itu berjumpa dengan seseorang yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Fu Hong Xue akan melakukan hal itu. Dia sepertinya terlihat seperti anak kecil yang tertutup dan kesepian, namun mendadak berubah menjadi hewan yang buas. Hanya apa yang membuat hal itu terjadi?

Dia merasa hatinya teriris-iris setiap kali dia memikirkan apa yang telah terjadi.

Dia tidak pernah bertemu dengan kedua orang yang sangat aneh itu sebelumnya. Namun yang anehnya pula, kedua orang ini menjadi orang-orang yang tidak dapat dia lupakan. Dia tahu bahwa kedua orang ini telah mengubah kehidupannya melalui caranya masing-masing. Air matanya mulai mengalir lagi …

Suara langkah yang berat menggetarkan langit-langit kamarnya, dia tahu bahwa itu adalah langkah ayahnya. Kamar Ma Kong Qun berada tepat di atas kamar anak perempuannya. Biasanya dia mendatangi kamarnya setiap malam, namun untuk suatu alasan dia telah melupakan hal itu selama dua hari ini. Kenyataannya, dia tidak tidur selama dua hari belakangan ini. Langkah yang berat itu berlanjut hingga pagi hari. Ma Fang Ling dapat mengetahui bahwa ayahnya sedang dalam kesulitan dan masalah. Itu adalah bagian dari dirinya yang tidak pernah diketahui oleh anak perempuannya selama ini.

Dia juga merasakan kesulitan dan ketakutan yang sama juga di dalam hatinya. Dia ingin mendatangi ayahnya dan menghibur ayahnya, namun secara diam-diam dia juga berharap ayahnya mendatanginya untuk menghiburnya juga. Namun Ma Kong Qun selalu menjadi ayah yang keras. Meskipun dia sangat mencintai anak perempuannya, namun selalu ada jarak diantara keduanya.

Dan bagaimana dengan Bibi Ketiga? Dimana dia selama dua hari terakhir? Ma Fan Ling dengan tak bersuara turun dari tempat tidurnya, mengenakan pakaiannya, dan menyisir rambutnya di depan cermin peraknya.

“Apakah aku harus menemui Bibi Ketiga? Atau haruskah aku ke kota lagi untuk menemuinya?”

Dia tidak dapat mengambil keputusan, dia hanya menyadari bahwa dia tidak dapat berdiam diri lagi dikamarnya lebih lama lagi. Banyak sekali hal yang ada dalam pikirannya. Kemudian dia mendengar suara derap kuda yang datang dengan cepatnya dari peternakan. Hanya dari suara langkah kakinya, dia mengetahui bahwa kuda ini merupakan kuda yang langka. Pengendaranya pasti salah satu jago kosen di Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Bila bukan karena suatu yang amat sangat penting, tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya malam-malam begini.

Dia mengerutkan alisnya, kemudian mendengar suara ayahnya yang tegas.” Apalah telah menemukan mereka?”

“Kami telah menemukan MuRong Ming Zhu.” Itu adalah suara Yun Zai Tian.

“Kenapa engkau tidak membawanya kemari?”

“Seseorang telah menemukannya lebih dahulu, Guru Hao telah menemukan mayatnya saat mencari-cari di daerah rerumputan, dia telah ditebas oleh golok yang kejam.

Kebisuan yang mengerikan memenuhi seluruh ruangan. Kemudian, dia mendengar suara kibaran lengan baju saat mereka melompat keluar jendela. Kuda meringkik, kemudian telah berlari pergi.

Perasaan ngeri tiba-tiba memenuhi hati Ma Fang Ling. MuRong Ming Zhu telah mati. Dia telah melihat pemuda yang sombong, angkuh dan pakaian yang necis sebelumnya. Baru saja kemaren dia terlihat penuh dengan semangat hidup, tapi malam ini dia telah berubah menjadi mayat orang mati.

Dan kedua pengendara kuda itu, mereka telah mengajarkan dia mengendarai kuda sejak dia masih kecil.

Siapa yang akan menjadi berikutnya? Ye Kai? Yun Zai Tian? GongSun Duan? Atau ayahnya?

Awan kematian nampaknya mengikuti kepala mereka semua.

Dia merasa dirinya mulai bergetar. Dia mendorong pintu dan berlari keluar. Lantai kayu di koridor terasa sedingin es. Kamar Bibi Ketiga terletak agak jauh di sebelah kiri koridor.

Dia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk lebih keras. Masih tidak ada jawaban dari dalam.

Mengapa Bibi Ketiga tidak ada di kamarnya tengah malam seperti ini?

Dia berjalan keluar melalui pintu belakang. Halaman masih sunyi dan sepi. Tidak ada cahaya di dalam kamar Bibi Ketiga. Cahaya bintang menerangi ke bawah melalui jendelanya yang berwarna putih pucat. Dia mendorong dengan perlahan dan jendela tersebut terayun terbuka.

“Bibi Ketiga.” Dia memanggil dengan perlahan.

Masih tidak ada jawaban. Tidak ada seorangpun di kamar itu. Selimut Bibi Ketiga tertumpuk di atas dua buah bantalnya yang besar.

Angin berhembus melewati halaman. Ma Fang Ling bangkis karena kedinginan.

Mendadak dia menyadari bahwa tiap orang memiliki rahasia. Bahkan ayahnya sendiri. Dia mengetahui bahwa dia sama sekali tidak mengetahui masa lalu ayahnya. Dia tidak pernah berani menanyakannya.

Dia mengangkat kepalanya dan melihat lukisan besar di jendela. Kemudian dia mendengar suara tajam GongSun Duan,” Balik ke kamarmu.”

Dia takut berbalik melihatnya. Hampir semua orang di Gedung Sepuluh Ribu Kuda merasat takut oleh GongSun Duan. Dia melipat lengan bajunya, menurunkan kepalanya, dan berlari kembali ke kamarnya. Hampir sepertinya dia mendengar GongSun Duan tertawa dingin di jendela Bibi Ketiga.

Dia mendorong pintu kamarnya, detak jantungnya masih berdegup. Suara derap kaki kuda terdengar memantul dari luar sekali lagi dan dengan cepat mulai mendekat. Dia melompat ke tempat tidurnya dan menarik selimutnya menutupi kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar tidak terkontrol, karena dia menyadari tragedi yang lebih besar akan datang. Dia sungguh-sungguh tidak ingin melihat atau mendengar hal itu lagi.

“… aku seharusnya tidak pernah dilahirkan. Aku seharusnya tidak pernah ada di dunia ini.”

Saat dia teringat perkataan Fu Hong Xue, air mata mulai mengalir ke bawah ke pipinya.

Dia tidak tahan lagi bertanya pada dirinya sendiri,” Kenapa aku telah dilahirkan? Kenapa aku dilahirkan disini …”
________________________________________

Bantal Fu Hong Xue pun telah basah, namun telah tidur dengan nyenyak.

Saat bangun, tidak ada lagi air mata. Dia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa tidak akan pernah meneteskan air mata lagi. Sebenarnya, air mata mengalir ke bawah saat dia tertidur. Karena hanya di dalam mimpinya bahwa dia menyadari telah keluar melenceng dari usaha balas dendam, mengingatkannya kembali bahwa yang telah dia lakukan hari ini benar-benar amat sangat memalukan.

Balas dendam adalah salah satu sifat tertua manusia, mungkin sama tuanya dengan peristiwa kehidupan dan kelahiran. Hal itu sesungguhnya tidak berharga untuk diterima, namun hampir disemua peristiwa hal tersebut dimuliakan. Hari ini dia harus menegaskan kemuliaan tersebut.

Dia menangis dalam tidurnya, dalam mimpinya, di dalam mimpi buruknya. Dia melihat darah ibunya dan ayahnya bertebaran, ditengah-tengah kemarahan dalam berjuang di tengah salju. Mereka memanggilnya, memohon kepadanya untuk membalaskan kematian mereka.

Kemudian, tiba-tiba dia merasakan sepasang tangan yang sedingin es menekan bagian belakang tubuhnya. Dia ingin melompat keluar, namun kedua tangan tersebut dengan lembu memeluknya dengan erat. Suara yang lembut dan manis membisik di telinganya,” Engkau keringatan.”

Seluruh tubunya mendadak membeku kaku – dia akhirnya datang. Jendela dan goreden ditutup. Ruangan menjadi gelap seperti kuburan. Kenapa dia selalu nampak dari kegelapan, kemudian perlahan-lahan menghilang?

Dia bergerak memutar dan ingin duduk. Namun tangan wanita itu menahannya turun!

“Apa yang engkau ingin lakukan?”

“Menyalakan lampu.”

“Tidak boleh.”

“Kenapa tidak boleh? Aku tidak dapat melihatmu?”

“Tidak boleh.”

Dia merendahkan tubuhnya dan menekannya kedadanya.

“Tapi aku hanya dapat mengatakan bahwa aku betul-betul bukan orang yang menarik, engkatu tidak mengetahuinya?”

“Kenapa aku tidak dapat melihatmu?”

Karena bila engkau mengetahui aku, dan melihat aku ditempat lain, reaksimu dan perlakuanmu padaku akan berubah. Kami tidak boleh membiarkan siapapun tahu mengenai kita berdua.”

“Tapi …”

“Saat semuanya telah berakhir, aku akan membiarkan engkau menatapku sesukamu.”

Dia tidak berkata-kata lagi, tangannya mulai melucuti pakaiannya. Tangan wanita itu menghentikannya.

“Jangan membuat kusut”

“Kenapa tidak”

“Aku masih harus kembali. Aku mengatakannya kepadamu sebelumnya, aku tidak boleh membiarkan siapapun mengetahui mengenai kita berdua.”

Wanita itu tersenyum dingin. Dia mengetahui bahwa bila seorang pria mengalami situasi seperti ini, mereka akan merasa amat sangat sulit dan tidak enak.

“Aku telah berada disini lebih dari tujuh tahun, menahan rasa sakit, penderitaan yang keras dan tidak terbayangkan. Untuk apa semua itu?” suaranya menjadi semakin dan semakin tegang,” Ini semua untuk menunggu kembalinya engkau, untuk melakukan pembalasan! Tidak ada lagi arti di dalam hidup kita. Aku tidak pernah melupakan hal itu, aku juga yakin engkaupun tidak pernah melupakan hal itu.”

Seluruh tubuh Fu Hong Xue mendadak menjadi dingin dankaku. Keringat dingin membasahi seluruh tempat tidur.

Dia bukan datang untuk keseangan. Dia memberikan dirinya kepadanya karena dia berhasrat untuk membalas dendam!

“Engkau harus tahu betapa menakutkannya orang seperti Ma Kong Qun. Tambahan lagi dia banyak orang yang membantunya.” Dia menghela napas dengan pelan,”Bila serangan kita tidak berhasil, aku takut kesempatan lainnya tidak akan ada lagi.”

Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan,” GongSun Duan, Hua Men Tian, Yun Zai tian, ketiga orang itu tidak terlalu menakutkan.”

“Siapa yang engkau khawatirkan lagi?”

“Mereka belum lagi memperlihatkan diri mereka, hingga saat ini aku balum dapat menebak siapakah mereka.”

“Mungkin disana tidak ada orang lain lagi.”

“Ayahmu dan paman keduamu merupakan pendekar yang besar.Hanya Ma Kong Qund dan GongSun Duan berdua tidak akan pernah dapat mengalahkan mereka. Sebagai tambahan, istri meraka pun pendekar wanit yang besar pula …”

Saat dia sampai pada hal itu, suaranya tersedak ditenggorokannya.

Setelah beberapa saat, dia melanjutkan,” Setelah kematian ayah dan pamanmu, banyak orang heran siapakah sebenarnya yang dapat membunuh mereka. Tentu saja tidak ada seorangpun yang mencurigai Ma Kong Qun manusia bermuka dua!”

Suaranya dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian.

“Namun selain Ma Kong Qun, ada lagi yang lainnya. Aku datang kesini untuk menyelidiki hal itu. Hingga saat ini aku belum pernah melihatnya melakukan hubungan dengan jagoan kosen lainnya di dunia persilatan. Dia sendiri tentu saja selalu menutup bibirnya rapat-rapat dan tidak pernah berbicara mengenai kejadian itu.”

“Bila engkau tidak dapat menemukan sesuatu selama tujuh tahun ini, bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu saat ini?”

“Paling tidak pasti akan ada kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Saat ini dia dalam tekanan. Saat tekanan tersebut menjadi sangat tinggi dan dia merasa tidak memiliki cara lain, dia pasti akan menghubungi orang lainnya untuk meminta pertolongan.”

“Siapa yang menekannya?”

Wanita itu tidak menjawab namun malah bertanya,” Apakah engkau yang membunuh ketiga belas orang itu pada malam itu?”

“Bukan.”

“Bagaimana dengan kuda-kuda.”

“Bukan.”

“Bila bukan engkau, lalu siapa?”

“Aku juga bingung tentang hal itu.”

“Engkau tidak dapat menduga siapa itu?”

“Ye Kai?”

“Dia sungguh-sungguh misterius. Aku yakin dia datang karena suatu alasan, namun orang-orang tersebut bukan dibunuh olehnya.”

“Oh?”

“Aku tahu siapa yang bersamanya saat kejadian malam itu.”

Karena sangat gelap di kamar, tidak ada seorangpun yang dapat menduga ekspresi wajah Fu Hong Xue – ekspresi wajahnya sangat tidak biasa.

Kemudian, terdengar suara kertak di atap.

Ekspersi wajahnya berubah saat wanita itu menginstruksikan,” Diam di dalam kamar ini, apapun yang terjadi, jangan pergi.”

Setelah perkataan itu diucapkan, dia mendorong jendela dan melompat keluar. Yang dapat dilihat oleh Fu Hong Xue adalah bayangan tubuh seorang yang tinggi dan ramping. Dalam sekejap mata, wanita tersebut telah menghilang dari pandangan mata.

________________________________________

Disana terdapat empat orang pemabuk, keempatnya adalah pegawai senior dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Mereka tidak bermaksud untuk mabuk, namun untuk suatu alasan tertentu malam ini mereka menjadi mudah sekali mabuk. Melihat ketiga belas teman mereka mendadak mati, menyaksikan kejadian buruk dan tragedi yang datang silih berganti, bagaiman mereka tidak mabuk?

Saat keempat orang tersebut jatuh, Ye Kai keluar dari salah satu pintu di belakang. Dia tiba disini lebih dulu namun menunggu beberapa saat untuk menenangkan dirinya. Saat seseorang minum terlalu banyak arak, orang tersebut harus menenangkan dirinya lebih sering. Namun untuk suatu alasan, kelihatannya dia melakukannya kelewat lama.

Sesaat dia memasuki ruangan, dia melihat Xiao Bie Li memperhatikannya dari sudut matanya, jadi dia berjalan lewat.

“Seseorang menginginkan aku memberikan sesuatu kepadamu.” Xiao Bie Li berkata dengan senyum yang aneh diwajahnya.

“Cui Nong?” Ye Kai mengedipkan matanya.

Xiao Bie Li mengerdipkan matanya juga dan menjawab,”Apakah engkau selalu pintar seperti ini?”

“Sayangnya, aku selalu menjadi idiot saat berada dihadapan seorang wanita yang aku sukai.” Ye Kai berkata sambil tersenyum. Dia mengambil lipatan kertas dari tangan Xiao Bie Li.

Pada kertas berwarna ungu terang tersebut terdapat tulisan yang berbunyi,” Apakah engaku telah memberikan hiasan bunga mutiara kepada orang lain?”

Ye Kai menepuk hiasan bunga mutiara di kerah bajunya, dia terlihat sedikit kikuk.

Xiao Bie Li melihat kepadanya dan menghela napas,” Bila aku dua puluh tahun lebih muda, aku pasti akan berkelahi memperebutkannya denganmu.”

“Tidak perduli seberapa tua, engaku jelas bukan seorang yang mau berkelahi untuk seorang wanita.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Engkau salah.” Xiao Bie Li berkata.

“Oh?” Ye Kai berkata.

“Tahukah engkau bagaimana aku kehilangan kedua kakiku?” Xiao Bie Li bertanya.

“Memperebutkan wanita?” Ye Kai menjawab.

“Saat aku menyadari bahwa wanita tersebut bukan apa-apa namun hanya seorang pelacur, semua itu sudah terlambat,” Xiao Bie Li tersenyum getir.

Suaranya menjadi tegas kembali dan melanjutkan,”Namun dia betul-betul bukan tipe wanita seperti itu. Dia mungkin lebih cantik dari wanita manapun yang pernah dilihat. Meskipun dia bekerja disini untukku, dia tidak pernah menghianati dirinya.”

“Jadi apakah yang dia jual?” Ye Kai bertanya.

“Yang dia jual adalah penyakit seorang laki-laki yang dia tidak pernah peroleh.” Xiao Bie Li menjawab.

________________________________________

Dibalik pintu kedua terdapat koridor yang luas. Disana terdapat meja-meja dan kursi-kursi yang terjejer dimasing-masing sisi. Di ujung koridor terdapat pintu lainnya. Saat tidak ada jawaban, kamu harus duduk dan menunggu.

Ye Kai mengetuk pintu.

Setelah beberapa saat, terdengar suara bertanya, “Siapakah itu?”

“Tamu.”

“Majikan wanitaku tidak ingin bertemu tamu hari ini.”

“Apakah dia bersedia bertemu dengan tamu yang kan menendang pintu kamarnya?” Ye Kai berkata.

Tawa cekikian terdengar dari dalam,” Itu pasti Tuan Muda Ye.”

Gadis dengan mata lebar membuka pintu sambil tersenyum,”Betul Tuan Muda Ye.”

“Apakah aku satu-satunya tamu disini yang suka menendang pintu?” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

Mata gadis itu menari-nari saat dia merapatkan bibisnya dan menjawab,” Ada seorang lagi.”

“Siapa?”

“Kedelai yang biasa kita gunakan untuk membawa barang-barang kita.”

ooOOOoo

Perisitiwa apa selanjutnya yang terjadi dengan pada Ma Kong Qun?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: