Kumpulan Cerita Silat

18/01/2008

Duke of Mount Deer (15)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:57 am

Duke of Mount Deer (15)
Oleh Jin Yong

“Bibi, kita sama-sama orang Yangciu,” kata Siau Po yang akalnya banyak dan rasanya tidak pernah kekurangan itu.

“Dulu sungguh mengenaskan nasib kita orang Yangciu! Kita telah disembelih oleh orang-orang Mancu tanpa belas kasihan sedikit pun! Sampai sepuluh hari berturut-turut anjing-anjing Manchu melakukan pembunuhan! Kakek kita, nenek kita habis dibunuh! Tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup! Iblis-iblis itu menyerbu dari pintu timur menuju pintu barat. Dari pintu selatan menerjang ke pintu utara! Semua itu alas perintah Go Pay! Karena itulah aku membencinya dan menganggapnya sebagai musuh besar. Tak sudi aku hidup bersama-sama dengannya!”

Hebat sekali ucapan bocah cilik ini. Orang orang yang berkumpul dalam ruangan itu langsung menganggukkan kepalanya berulang kali. Hati mereka tergerak dan ikut tegang membayangkan kembali peristiwa yang dikatakan bocah itu barusan.

“Tidak heran! Tidak heran!” seru Kwan An-ki saking kagumnya.

“Bukan hanya kakek dan nenekku yang menjadi korban. Bahkan ayahku juga mati karena Go Payl” kata Siau Po kembali.

“Kasihan… kasihan…” kata Ki losam.

“Saudara kecil, berapa usiamu tahun ini? tanya Cui toucu.

“Empat belas tahun…” sahut Siau Po.

“Eh! Peristiwa yang terjadi di Yangciu sudah berselang dua puluh tahun dari sekarang. Bagai mana ayahmu bisa dibinasakan oleh Go Pay?” tanya Cui toucu kembali.

Siau Po terkejut sekali ketika merasa kebohongannya mulai dirasakan oleh Cui toucu. Tapi dasar bocah cerdik, dia sengaja berlagak pilon.

“Memang! Mana aku tahu? Saat itu aku pun belum lahir, ibulah yang menceritakannya kepada aku”

“Andai pun ketika itu kau masih dalam kandungan, waktunya tetap saja kurang tepat!”

“Saudara Cui kata-katamu sendiri yang kurang tepat. Saudara kecil ini hanya mengatakan bahwa ayahnya telah dibunuh oleh Go Pay. Dia tidak mengatakan kematiannya tepat pada peristiwa Yangciu itu. Bukankah selama jabatan Go Pay, tidak ada sehari pun dia tidak melakukan kejahatan?” kata Ki losam.

“Oh ya… ya!” Cui toucu pun menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Eh, sahabat kecil, tadi kau mengatakan bahwa Go Pay telah banyak membunuh patriot- pecinta negara. Apa hubungannya denganmu?” tanya Ki losam.

“Tentu saja ada hubungannya,” sahut Siau Po;

“Aku mempunyai seorang sahabat yang ditangkap oleh Go Pay dan dibawa ke istana kerajaan Ceng kemudian dianiaya sampai mati. Sebenarnya aku ditangkap sama-sama dengan sahabatku itu!” Para hadirin menjadi heran. Mereka menatap bocah itu dengan penuh perhatian.

“Siapakah sahabatmu yang ditangkap dan dicelakai oleh Go Pay itu?” tanya seseorang.

“Sahabatku itu seorang tokoh yang sudah mempunyai nama di dunia kangouw. Dia bernama Mau Sip-pat!” sahut Siau Po dengan perasaan bangga.

Para hadirin terbelalak mendengar kata-kata bocah itu. Bahkan ada beberapa di antaranya yang bertanya.

“Mau Sip-pat itu sahabatmu?” “Tapi, dia kan belum mati?” kata ki Lao-liok bingung.

Sekarang gantian Siau Po yang membelalakkuu matanya lebar-lebar.

“Apa? Dia belum mati? Benarkah dia belum mati? Oh, aku ingin bertemu dengannya!”

Kali ini apa yang dikatakan Siau Po memang keluar dari hatinya yang paling tulus.

“Bagus!” seru Kwan An-ki. “Dengan demikian kita bisa membuktikan apakah saudara kecil ini sebenarnya kawan atau lawan? Nah, Lao-liok. Cepat kau ajak beberapa saudara kita untuk meng undang saudara Mau Sip-pat ke sini. Coba kita lihat apakah dia kenal dengan bocah ini!”

Ki Lao-liok segera mengiakan dan berlalu dari tempat tersebut. Sementara itu, Ki Piu-ceng menarik sebuah kursi.

“Saudara kecil, silahkan duduk,” katanya mempersilahkan.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, Siau Po langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah itu ada orang yang datang mengantarkan semangkuk bakmi dan secawan teh dan meletakkannya di depan Siau Po.

Bocah itu memang sudah lapar. Tanpa malu-malu lagi dia melahap habis makanan yang disajikan. Setelah itu, Kwan An-ki menemaninya duduk sambil berbincang-bincang. Masih ada beberapa orang yang ikut bergabung. Di antaranya ada Ki Piu-ceng dan orang yang dipanggil Lie toako. Nama sebenarnya Lie Lek-si. Mereka bicara dengan sungkan, padahal diam-diam atau dengan cara halus mereka sedang mengorek keterangan dari Siau Po untuk menyelidiki asal-usul bocah itu yang sebenarnya.

Siau Po menceritakan dengan terus-terang, sekali-sekali dia menyelipkan caci maki kepada Go Pay yang dibencinya itu. Dia menceritakan bagaimana dia membantu kaisar Kong Hi membekuk pengkhianat yang terkenal sebagai jago nomor satu bagi bangsa Boan itu. Yang ditutupinya hanyalah urusan Hay kongkong yang mengajarinya ilmu silat dan kaisar Kong Hi yang ikut membokong Go Pay.

Kwan An-ki dan yang lainnya percaya penuh dengan cerita pai Siau Po. Sebelumnya mereka memang sudah mendengar tentang seorang thaykam cilik yang dengan berani ikut membekuk Go Pay. Sa-king kagumnya, dia sampai menarik nafas panjang dan berkata:

“Go pay terkenal sebagai orang gagah nomor satu bangsa Boan. Kau bukan hanya berhasil membunuhnya, bahkan sebelumnya kau membekuknya terlebih dahulu. lni yang dinamakan takdir! Nasib telah menentukan jalan hidupnya harus berakhir seperti itu!”

Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka, tampak masuk dua orang anggota perkumpulan itu dengan menggotong sebuah usungan. Di belakangnya mengiringi Ki Lao-liok. Dia segera berkata:

“Cihu, saudara Mau Sip-pat telah diundang datang….” Siau Po langsung bangun dari tempat duduknya.

Dia melihat Mau Sip-pat yang terbaring di atas sebuah usungan, pipinya cekung dan matanya celong, wajahnya suram. .

“Saudara, a… pakah kau sakit?” tanya Siau Po.

Perasaannya sedih dan heran melihat keadaan sahabatnya.

Mau Sip-pat diundang oleh Ki Lao-liok,. dia menduga ada urusan penting yang terjadi di Cengboktong dan dia akan diajak berunding. Tidak disangka-sangka dia melihat Siau Po dan langsung mengenalinya, hatinya gembira sekali.

“Hai, Siau Po!” serunya. “Kau… kau juga berhasil lolos! Oh, betapa aku memikirkanmu! Tadinya aku bermaksud menunggu sampai sembuh kemudian menyelinap ke dalam istana untuk menolongmu…!”

Hanya beberapa patah kata yang diucapkan oleh Mau Sip-pat, hilanglah kecurigaan orang-orang dalam ruangan itu. Mereka percaya sekarang bahwa bocah itu bukan orang kerajaan Ceng.

Sebetulnya Mau Sip-pat bukan anggota Tian-te hwe, tetapi namanya sudah terkenal di dunia kangouw sebagai seorang laki-laki yang gagah dan jujur. Mau Sip-pat juga seorang buronan kerajaan Ceng, dengan demikian berarti mereka berada di pihak yang sama.

“Mau toako, apakah kau terluka?” tanya Siau Po khawatir.

Sip-pat menarik nafas dalam-dalam agar dadanya terasa lega.

“Malam itu, ketika aku berniat melarikan diri dari istana, begitu sampai di halaman depan, aku kepergok para siwi. Sendirian aku dikeroyok lima siwi tersebut. Dua di antaranya berhasil kubunuh, tapi aku sendiri juga kena terbacok sebanyak dua kali. Aku kabur dengan dikejar para siwi itu. Sebenarnya aku hampir tidak punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan diri, untung saja datang saudara-saudara dari Tian-te hwe ini yang memberikan bantuan. Apakah kau juga ditolong oleh saudara-saudara dari Tian te hwe ini?”

Pertanyaan itu membuat Kwan An-ki dan yang lainnya menjadi malu hati. Mereka jengah sebab bukan mereka menolong Siau Po melarikan diri dari istana, tetapi mereka justru membekuk dan menculiknya dari sana….

Namun, tidak disangka-sangka Siau Po tidak mempermalukan mereka.

“Benar! Di istana, si thaykam tua memaksa aku menjadi thaykam cilik seperti dia sendiri. Baru hari ini aku mendapat kesempatan meloloskan diri, untunglah aku bertemu dengan bapak-bapak dari Tian-te hwe ini!”

Semua anggota Tian-te hwe menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Siau Po. Muka mereka benar-benar dibuat terang. Mereka menjadi bersyukur karena kehebatan bocah ini.

“Mari kita beristirahat di dalam,” ajak Ki Lao-liok kemudian. Mereka berbicara di ruang sembahyang bersama yang lainnya.

Lukanya Mau Si-pat parah sekali. Meskipun selama setengah tahun ini dia sudah berobat dengan berganti-ganti tabib, tapi masih belum sembuh secara keseluruhan. Ketika dia digotong keluar barusan, usungannya berguncang-guncang sehingga lukanya terasa nyeri kembali. Saking menahan rasa nyeri itu, Mau Si-pat sampai tidak sanggup berbicara. Padahal banyak yang ingin dibicarakannya dengan Siau Po. Mereka telah berpisah begitu lama dan selama ini mereka saling memikirkan sehingga perasaan mereka tidak pernah tentram.

Hati Siau Po justru yang paling lega.

’Biar bagaimana, tidak mungkin mereka membunuhku…’ pikirnya dalam hati. Tadinya dia cemas orang-orang Tian-te hwe itu tidak percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang thaykam bangsa Boan.

Ketika Sip pat beristirahat dengan menahan rasa nyerinya, Siau Po sudah tertidut pulas di atas kursi. Tubuhnya meringkuk.

Tengah malam, Siau Po merasa tubuhnya dibopong kemudian dipindahkan ke atas pembaringan lalu ditutupi sehelai selimut. Ketika dia terjaga dari tidurnya yang nyenyak, segera muncul seorang yang membawakan sebaskom air untuk membasuh muka. Kemudian dia juga dibawakan semangkuk bakmi dan secawan teh.

‘Semakin lama semakin baik perlakuan mereka terhadapku,’ pikir Siau Po. ‘Senang sekali diper¬lakukan seperti orang dewasa.’ Namun ketika dia membuka pintu kamar, hatinya langsung tercekat.

Di luar kamar ada orang yang berdiri tegak, demikian pula di luar jendela. Apakah orang-orang itu sedang mengawasinya secara diam-diam karena khawatir dia akan melarikan diri? Tapi Siau Po memang cerdik, dia pura-pura tidak melihat me¬reka.

‘Kalau mereka benar-benar menganggap aku sebagai tamu, mengapa aku harus diawasi?’ pikirnya lagi. Tapi Siau Po tidak takut. Dia berkata dalam hati. ‘Hm! Kalian ingin menjaga aku, Wi Siau-po? Aku mau keluar, ingin kulihat bagaimana caranya kalian empat manusia tolol bisa mencegahku?’

Diam-diam Siau Po mengedarkan pandangan¬nya ke seluruh kamar itu. Dia seg’era mendapatkan akal yang bagus. Tiba-tiba dia membentangkan jen¬del a sebelah timur keras-keras sehingga menimbul¬kan suara yang gaduh.

Keempat penjaga itu terkejut setengah mati. Serempak mereka menoleh ke arah sumber suara. Tepat pada saat itu Siau Po menghentak pintu kamarnya lalu membantingnya dengan keras dan secepat kilat dia menyusup ke kolong tempat tidur.
Kembali keempat orang itu terkejut. Apala setelah melihat bahwa jendela dan pintu -kamar sudah terbuka lebar. Hati mereka tercekat. Mereka ditugaskan untuk mengawasi bocah itu, tetapi sekarang mereka yakin Siau Po sudah kabur.

“Ayo!” teriak mereka serentak. Dengan gugup mereka lari ke dalam kamar.

Mau Sip-pat masih tertidur dengan nyenyak namun bocah itu sudah tidak kelihatan.

“Bocah itu pasti belum jauh! Lekas kalian ber¬pencar mengejarnya!” kata penjaga yang satu. “Aku akan memberikan laporan!.”

“Baik!” sahut ketiga kawannya. Kemudian me¬reka pun berpencaran, yang satu menuju luar dan dua lagi naik ke atas genteng. Sedangkan yang satu lagi segera masuk ke dalam.

Begitu orang-orang itu meninggalkan kamar¬nya, Siau Po segera keluar dari kolong tempat tidur. Sengaja dia mengeluarkan suara batuk-batuk ke¬mudian dengan tenang melangkah ke arah aula. Dia membuka pintu dan tampaklah Kwan An-ki sedang duduk bersama Ki Lek-si, sedangkan penjaga tadi sedang memberikan laporan. Tampaknya orang itu panik sekali sampai-sampai bicaranya pun tersendat dan tiba-tiba ucapannya terhenti ketika dia melihat si bocah muncul di depan pintu.

Mulutnya mengeluarkan seruan tertahan dan matanya menatap dengah membelalak.

Sikap Siau Po tenang sekali, dia menganggukkan kepalanya pada kedua tokoh Ceng-bok tong itu.

“Lie toako! Kwan hucu Selamat pagi! Apa kabar?”

Seenaknya saja Siau Po memanggil Lie toako dan Kwan hucu seperti anggota Tian-te hwe lainnya.

Kwan An-ki dan Lie Lek-si saling pandang sejenak.

“Sudah pergi!” bentak Kwan An-ki pada si penjaga. “Dasar manusia tidak berguna!”

Penjaga itu menganggukkan kepalanya berkali¬-kali dan cepat-cepat keluar dari ruangan aula. Kwan An-hi menoleh kepada Siau Po dan berusaha ber¬sikap sewajar mungkin.

“Silahkan duduk! Apakah tidurmu nyenyak tadi malam?”

“Terima kasih, Kwan hucu,” sahut Siau Po sam¬bil tersenyum. “Tidurku nyenyak!”

Tepat pada saat itu jendela aula tersebut tiba¬. tiba. terpentang lebar. Dua orang melompat ke dalam sambil berseru,

“Kwan hucu, boeah itu kabur entah kemana!” Kata-katanya mendadak berhenti sebab dia me¬lihat Siau Po sudah duduk di dalam ruangan ber¬sama para pemimpinnya.

“Dia … dia …. ” Satu di antaranya menunjuk ke arah Siau Po dengan sikap gugup dan bingung.

Siau Po tidak dapat menahan kegelian hatinya.

Dia tertawa terpingkal-pingkal. Menurutnya, kejadian itu lucu sekali.

“Kalian empat orang dewasa benar-benar tidak ada gunanya! Seorang bocah cilik pun tidak sang¬gup diawasi. Kalau aku memang berniat melarikan diri, sejak tadi aku sudah menghilang!”

“Ta … pi, tapi bagaimana caranya kau bisa keluar dari kamar itu? Apakah mata kami yang sudah kabur?” kata salah seorang penjaga itu keheranan. “Kami tidak melihat bayangan siapa-siapa dan tahu-¬tahu kau sudah lenyap. Aneh sekali!”

Siau Po tertawa.

“Aku menguasai ilmu melenyapkan diri tanpa terlihat oleh siapa pun. Sayangnya ilmu itu tidak bisa aku ajarkan kepada kalian!”

Kwan An-hi mengernyitkan keningnya men¬dengar pembicaraan mereka. Kemudian dia mengi¬baskan tangannya.

“Kalian boleh mundur sekarang!” katanya. “Tidak heran! Pantas!” seru kedua orang itu dengan pandangan kagum. Mereka percaya dengan penuh ocehan bocah itu. Setelah itu mereka mem¬beri hormat kepada Kwan An-ki dan Lie Lek-si, lalu mengundurkan diri.

Lie Lek-si tertawa lebar.

“Saudara kecil, usiamu masih muda sekali, tapi otakmu sungguh cerdik. Kami benar-benar kagum kepadamu!”

Belum sempat Siau Po memberikan komentar tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara derap kaki kuda. Dapat diduga bahwa ada serombongan orang berkuda yang sedang. mendatangi ke arah tempat tersebut.

Kwan An-ki dan Lie Lek-si langsung melompat bangun dari tempat duduknya.

“Mungkinkah pasukan Boan yang datang?” tanya Lie lek-sie dengan suara lirih.
Kwan An-ki menganggukkan kepalanya. Dia segera menyelipkan kedua jari tetunjuk dan jem¬polnya disela-sela bibir kemudian bersuit tiga kali. Lima anggota Tian-te hwe segera menghambur ke dalam.

“Semua bersiap!” kata Kwan An-hi. “Lie lao¬liok, kau lindungi saudara Mau Sip-pat. Kalau pa¬sukan itu jumlahnya besar, jangan lawan mereka dengan kekerasan. Kita mundur teratur seperti rencana semula.”

Kelima orang itu segera mengiakan lalu mun¬dur. Semua anggota Ceng-bok tong segera bersiap sedia.

“Saudara kecil, mari ikut denganku!” kata Kwan n-ki.

Tepat pada saat itulah, seorang penunggang kuda menghambur datang dengan cepat sambil ber¬eru:

“Cong tocu tiba!”

“Apa?” Kwan An-ki dan Lie Lek-si terhenyak seketika. Yang dimaksud dengan Cong tocu adalah ketua dari markas pusat.

“Cong tocu datang bersama kelima tongcu lain¬nya,” kata pembawa berita itu menerangkan. “Me¬reka datang dengan menunggang kuda!”

Dari terkejut, Kwan An-ki dan Lie Lek-si men¬jadi senang sekali.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku bertemu dengan Cong tocu di tengah jalan. Dan aku diperintahkan untuk berjalan duluan agar dapat memberi kabar kepada kalian,” sahut orang baru datang itu.

Tampaknya dia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa sehingga nafasnya masih tersengal¬sengal.

“Kau istirahatlah!” perintah Kwan An-ki yang kemudian memanggil orang-orangnya dan lalu men¬jelaskan. “Yang datang bukan pasukan Boan, tetapi Cong tocu dengan kelima tongcu lainriya. Sekarang kalian bersiap-siap untuk mengadakan penyambut¬an!”

Perintah itu segera disiarkan. Para anggotca perkumpulan itu pun sibuk mengadakan penyam¬butan. Sementara itu, Kwan An-ki menarik tangan Siau Po.

“Saudara kecil, Cong tocu kami datang. Mari kita menyambutnya!” .

Bocah itu hanya mengangguk lalu mengikuti¬nya, Lie Lek-si dan yang lainnya pun ikut keluar. Dalam sekejap mata, orang-orang dari bagian Ceng¬bok tong perkumpulan Tian-te hwe yang jumlahnya

tiga ratus orang lebih sudah berbaris rapi. Semua¬nya tampak bersemangat.

Mau Sip-pat ikut menyambut. Dia digotong oleh dua orang.
“Saudara Mau, kau adalah tamu kami. Seharus¬nya tidak perlu sungkan seperti ini,” kata Lie Lek-si.

“Tapi, aku sudah lama mendengar nama besar Cong tocu yang ibarat petir menyambar di angkasa. Sudah selayaknya kalau hari ini aku menemuinya. Aku sudah merasa puas-dapat bertemu dengannya walaupun setelahnya aku akan mati!” sahut Mau Sip-pat antusias.

“Lie Lek-si terharu mendengar ketulusan Mau Sip-pat. Suara derap kaki kuda semakin jelas. Tam¬paklah belasan penunggang kuda sedang menda¬tangi. Tiga di antaranya segera mendahului yang lainnya. Begitu tiba, mereka langsung melompat turun dari kuda masing-masing.

Lie Lek-si menyambut ketiga orang itu. Mereka langsung berjabat tangan dengan akrab sekali. Siau Po mendengar seseorang berkata.

“Cong tocu ada di depan menunggu. Lie toako, Kwan hucu dan saudara-saudara yang lain, mari kita menyambutnya!”

Lie Lek-si menganggukkan kepalanya. Bersama-¬sama Kwan An-ki, Ki Piu-ceng, Cui toucu beserta yang lainnya segera keluar. Mau Sip-pat merasa kecewa,

“Apakah Gong tocu tidak datang kemari?” tanyanya pada seseorang. Dia tidak memperoleh ja¬waban, tampang yang lainnya juga menyiratkan kekecewaan yang sama sepertinya.

Sesaat kemudian, datang lagi seorang penung¬gang kudanya yang langsung menyebutkan nama tiga belas orang. Ketiga belas orang inilah yang sedang dinantikan oleh Cong tocu mereka.

“Mau toako,” panggil Siau Po. “Bukankah usia Cong tocu itu sudah lanjut sekali?”

Mau Sip-pat tidak diajak oleh rombongan yang menyambut ke depan.

“A. .. ku belum pernah melihatnya,” sahut Mau Sip-pat dengan nada kecewa. “Berapa banyak orang dunia kangouw yang ingin bertemu dengannya. namun ini memang bukan hal yang mudah …. ”

Siau Po merasa tidak puas melihat sikap Ma Sip-pat.

“Huh! Banyak amat lagaknya! Apanya yang hebat? Lohu sih tidak berniat bertemu dengannya! katanya terus-terang.

Tiga ratusan anggota Ceng-bok tong masit berbaris menanti. Namun ada beberapa di antara¬nya yang sudah merasa pegal sehingga duduk da berjongkok.

“Tuan Mau,” kata seseorang di antaranya. “Se¬baiknya tuan Mau istirahat saja di dalam. Kala Cong tocu datang, nanti kami akan kirim orang untuk memberitahukannya kepadamu.”

“Tidak!” sahut Sip pat sambil menggelengkan kepalanya. Pada dasarnya adat orang yang satu ini memang keras sekali. Siau Po yang paling tahu persis. “Biar aku menunggu di sini sampai Cong tocu datang. Kalau aku tidak berbuat demikian, itu na¬manya aku tidak menghormatinya. Entahlah, apa¬kah dalam hidup ini aku mempunyai peruntungan untuk bertemu dengannya atau tidak.”

Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam diri. Memang sejak di Yangciu, Mau Sip-pat sudah menyatakan kekagumannya kepada Tocu perkum¬pulan Tian te hwe ini. Itulah sebabnya dia men¬dumel terus karena keinginannya untuk bertemu demikian kuat.

Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suara derap kaki kuda. Serentak semua orang yang sedang duduk maupun berjongkok langsung berdiri, mereka menjulurkan kepalanya ke depan dengan harapan ada panggilan lagi dari tocu atau ketua pusat mereka.

Kali ini muncul empat orang penunggang kuda.

Salah satunya yang menjadi pemimpin langsung menghampiri Mau Sip-pat kemudian menjura dalam¬dalam.

“Cong tocu mengundang tuan Mau Sip-pat dan tuan Wi Siau Po untuk bertemu muka!”

Bukan main senangnya hati Mau Sip-pat. Dia sampai meloncat turun dari usungannya, namun sesaat kemudian dia langsung menjerit keras dan roboh jatuh. Kegembiraan yang meluap-luap mem-

buat dirinya lupa bahwa tubuhnya masih menderita sakit, tapi dia menahan rasa nyeri itu.

“Mari kita pergi!” katanya penuh semangat.

Wi Siau Po juga senang sekali. Tapi alasannya lain dengan Mau Sip-pat.

‘Orang biasanya memanggil aku dengan sebut¬an kongkong, sehingga aku merasa sebal. Baru kali ini ada yang memanggil aku tuan. Ya, baru pertama kali! Tuan Wi Siau Po!’ pikirnya antusias.

Mau Sip-pat mengucapkan terima kasih. Dua orang segera menggotongnya ke atas usungan. Se¬dangkan seorang lainnya menyodorkan seekor kuda kepada Siau Po agar bocah itu menungganginya.

Sejenak kemudian semuanya berjalan beriring¬an. Mereka membelok ke kanan di mana ada sebuah jalan kecil. Di antara jarak tertentu, selalu ada dua atau tiga orang yang melakukan penjagaan. Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk. Setiap me¬lewati orang-orang itu, utusan yang ditugaskan menjemput Mau Sip-pat dan Siau Po selalu menun¬jukkan dua atau tiga jari tangannya. Hanya saja gerakan tangannya berbeda-beda. Rupanya itu se¬macam kode di antara mereka.

Baik Mau Sip-pat maupun Siau Po sama-sama tidak mengerti arti kode itu, yang jelas itulah tanda rahasia dari perkumpulan Tian-te hwe.

Mereka berjalan terus sejauh dua belas atau tiga belas li. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah gedung yang besar dengan pekarangan yang luas sekali. Di sana juga terdapat puluhan penjaga.

Orang yang roenjadi utusan itu segera melom¬pat turun dari kudanya dengan diikuti rekan-rekan¬nya yang lain. Mereka menggerakkan tangannya memberi isyarat. Melihat itu, seorang penjaga lang¬sung berkata dengan suara lantang.

“Tamu-tamu sudah datang!”

Pintu gerbang pun segera dibuka. Muncullah Lie Lek-si bersama Kwan An-ki dan dua orang lainnya yang belum pernah dilihat oleh Mau Sip-pat maupun Siau Po. Mereka semua menjura dengan merangkapkan kedua tangannya dan salah satu dari kedua orang itu segera berkata.

“Tuan Mau, Tuan Wi, selamat datang! Cong tocu kami sudah menunggu kalian berdua!”

Bukan main senangnya hati Siau Po. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

‘Ah, benar-benar aku sudah tua!’ Sementara itu, Sip- Pat berusaha untuk bangkit, tapi dia lang¬sung terjatuh kembali sambil menahan nyeri.

“Aduh, bagaimana aku harus memberi hormat kepada Tocu …. Aduh!”

“Sudahlah, Tuan Mau,” kata Lie Lek-si. “Kau toh sedang terluka. Tidak usah banyak peradatan!”

Siau Po bergegas membalas penghormatan me¬reka. Sip Pat langsung digotong kembali menuju aula pertemuan.

Sampai di sana, seorang penjaga berkata kepa¬da Siau Po.

“Tuan Wi, harap tunggu sebentar di sini! Cong tocu ingin berbicara lebih dulu dengan Tuan Mau!”

Siau Po mengangkat bahunya dengan tampang apa boleh buat, Mau Sip-pat langsung diusung ke dalam. Siau Po dipersilahkan dud uk. Teh dan be¬berapa macam kue segera disajikan di depannya. Siau Po mencicipi sepotong kue. Dia berkata dalam hati.

‘Kue ini lain sekali rasanya dengan kue yang dihidangkan dalam istana.’

Karena kue yang tidak lezat itu, pandangan Siau Po terhadap Cong tocu perkumpulan Tian-te hwe agak meremehkan. Tapi karena perutnya lapar, dia makan cukup banyak juga.

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, Lie Lek-si dan yang lainnya muncul lagi. Kali ini yang menglringinya ada seorang kakek yang jang¬gutnya sudah memutih dan panjang sekali. Dia mengatakan kepada Siau Po bahwa ketua mereka sudah menunggu di dalam.

Saat itu Siau Po sedang makan sepotong kue.

Mendengar kata orang tua itu, dia repot member¬sihkan mulutnya dan mengulapkan tangannya di pakaian lalu menjura kepada beberapa orang itu. Akhirnya dia diajak ke ruangan dalam.

Sampai di depan sebuah ruangan, orang tua itu langsung menyingkap tirai penyekatnya sambi! ber¬kata.

“Siau Pek-liong Wi Siau-Po sudah datang!”

Mendengar kata-kata itu, hati Siau Po merasa heran juga senang. Taqi dia dipanggil dengan sebut¬an tuan. Sekarang malah ada yang menyebut juluk¬annya Siau Pek-liong atau si naga kecil putih.

‘Pasti Mau toako sudah menceritakan semua¬nya sehingga mereka tahu julukanku!’ pikirnya da¬lam hati.

Di dalam ruangan tampak seorang laki-laki setengah baya bangun dari duduknya dan menyam¬ut Siau Po dengan senyuman lebar.

“Silahkan masuk!” katanya.

Siau Po langsung masuk ke dalam kamar. Kwan An-ki segera memperkenalkan.

“lnilah Tan Cong tocu kami!”

Siau Po mendapat kenyataan bahwa orang ini

mempunyai sifat penyabar namun sepasang matan¬ya menyorotkan kewibawaan besar. Diam-diam hatinya tercekat dan tanpa disadari dia menjatuh¬an diri berlutut dan memberi hormat.

Laki-laki setengah baya dengan dandanan sas¬trawan itu tersenyum ramah.

“Bangunlah!” katanya sambi! mencekal lengan Siau Po. “Tidak perlu banyak peradatan!”

Siau Po terkejut juga heran. Cekalan tangan ketua perkumpulan Tian-te hwe itu membuat tu¬buhnya terasa panas dan bergetar. Dia tidak sang¬gup berlutut lebih lama.

“Saudara kecil, kau telah membinasakan Go Pay yang terkenal sebagai orang gagah nomor satu

bangsa Boanciu. Dengan demikian berarti kau telah membalaskan sakit hati orang banyak yang menjadi korban keganasan si jahat itu. Karena itu pula, dalam waktu yang singkat namamu sudah terkenal kemana-mana. Kau benar-benar orang langka yang sulit dicari duanya di dunia ini!”

Sebetulnya Siau Po termasuk manusia kulit badak. Biasanya dia akan menerima pujian seperti itu dengan bangga. Tapi kali ini, mendengar suara Tan Cong tocu yang demikian lantang dan berwibawa. Wajahnya jadi merah padam.

Laki-laki setengah baya itu menunjuk ke arah sebuah kursi.

“Silahkan duduk!”

Siau Po menurut. Dia duduk di tempat yang ditunjuk sambil mengucapkan terima kasih. Sementara itu. Lie Lek-si dan yang lainnya tetap berdiri dengan tangan lurus ke bawah.

Cong tocu itu tersenyum dan berkata kembali “Menurut tuan Mau Sip-pat, saudara kecil telah membinasakan seorang kepala siwi di gunung Td Seng San wilayah Yangciu. Untuk seorang yang baru tampil di dunia kangouw, jasamu ini sutlnll terhitung besar sekali. Saudara kecil, dapatkah kau menceritakan bagaimana caranya kau dapat membunuh Go Pay, si manusia dorna itu?”

Perlahan-lahan Siau Po mengangkat kepalanya. Ketika pandangan matanya bertemu dengan Sudut mata tokoh Tian-te hwe itu, jantungnya langsung berdegup-degup dengan keras. Dia tidak berani berbohong. Karena itu, dia segera menceritakan dengan terus-terang perihal terbekuknya Go Pay dan bagaimana dia berhasil membunuhnya ketika masih berada dalam kamar tahanan. Dia juga tidak menutupi bahwa dia disayang oleh kaisar kerajaan Ceng.

Ketua Tian-te hwe itu menganggukkan kepala¬nya berkali-kali mendengarkan penuturan Siau Po.

“Kiranya begitu! Saudara kecil, dengan demiki¬In berarti ilmu silatmu lain alirannya dengan tuan Mau. Di luar tampaknya kau seperti menguasai ilmu Siaulim pai, sedangkan di dalamnya kau memahami i1mu Kongtong pay. Saudara kecil, bolehkah aku mcngetahui siapa gurumu itu?”

Diam-diam Siau Po merasa terkejut dan kagum. ‘Benar-benar tajam mata Cong tocu ini. Dari ceritaku saja dia dapat menebak aliran ilmu yang kupelajari,’ pikirnya.

Cong tocu tersenyum melihat Siau Po yang terdiam.

“Aku dapat melihatnya dari gerak-gerikmu. Caramu berjalan menunjukkan bahwa kau adalah orang Siaulim pai. Aku tidak dapat menduga sampai mana dasar tenaga dalam yang kau miliki. Tapi dari cekalanku tadi, aku tahu kau mempelajari inti tenaga ¬dalam Kongtong pai. Terus-terang saja, aku juga heran dengan bercampur aduknya ilmu yang kau pelajari itu.”

“Sebenarnya si kura-kura tua itu tidak meng¬ajarkan aku ilmu silat yang sejati. Hanya mengajar¬kan dengan keliru saja,” sahut Siau Po.

Pengetahuan Cong tocu dari perkumpulan Tian-te hwe ini luas sekali. Tapi dia tidak pernah mendengar adanya orang yang dijuluki si kura-kura. Karena itu dia memandang Siau Po dengan heran.

“Siapa si kura-kura tua itu?” Siau Siau Po tertawa.

“Si kura-kura tua adalah Hay kongkong! Nama aslinya Hay Tai-hu. Aku dan Mau toako ditawan olehnya kemudian dibawa ke istana.” Berkata sam pai di situ, Siau Po terkejut sendiri. Dia khawatir Mau Sip-pat sudah menceritakan semuanya dengan terus-lerang kepada Cong tocu ini. Apalagi sebelumnya dia mengaku ditangkap oleh Go Pay, namun sekarang dia mengatakan bahwa Hay kong kong yang menawannya.

Otaknya bekerja dengan cepat. Dia segera me nambahkan. “Kura-kura tua itu mendapat perinlah dari Go Pay, dialah yang menawan kami. Go Pay adalah seorang menteri yang kedudukannya tinggi sekali. Tentu dia merasa gengsi turun tangan sendiri!”

Cong tocu diam-diam berpikir dalam hatinya. ‘Hay Tai-hu? Hay Tai-hu? Apakah di dalam partai Kongtong pai ada tokoh sehebat itu?’

“Eh, saudara kecil, coba kau mainkan beberapa jurus ilmu yang diajarkannya kepadamu,” kata Cong tocu itu kemudian.

Siau Po merasa malu menunjukkan ilmu yang belum matang itu. Karena itu dia berkata.

“Si kura-kura tua hanya mengajarkan aku ilmu palsu. Dia sangat membenci aku, sebab aku telah membuat matanya menjadi buta. ltulah sebabnya dia menggunakan akal apa saja untuk mencelaka¬kan aku. Ilmu ajarannya tidak pantas dilihat orang!”

Cong tocu tidak memaksa. Dia hanya mengibas¬kan tangannya. Kepalanya manggut beberapa kali. Dia mengerti Siau Po tidak ingin menunjukkannya di hadapan orang banyak.

Tentu saja Kwan An-ki dan yang lainnya juga maklum. Mereka segera mengundurkan diri. Pintu ruangan itu pun ditutup rapat. Cong tocu bertanya lagi kepada Siau Po.

“Bagaimana caranya kau membutakan mata si kura-kura tua itu?”

Siau Po merasa serba salah menghadapi orang yang mempunyai wibawa besar seperti Cong tocu ini, karenanya dia mengambil keputusan untuk ber¬bicara sejujurnya. Dia pun menceritakan bagaimana dia meracuni Hay kongkong sehingga matanya buta. Dia juga menceritakan tentang Siau Kui cu yang dibunuhnya kemudian dia menyaru sebagai si Thaykam cilik itu.

Cong tocu terkejut sekaligus merasa lucu. Dia menganggap bocah ini memang luar biasa, otaknya cerdik dan nyalinya pun besar. Tapi dia masih ingin menguji apakah bocah ini bicara sejujurnya atau tidak. Tiba-tiba tangannya menjuhu ke depan se¬cepat kilat ke arah selangkangan Siau Po. Dalam sekejapan mata dia sudah menarik tangannya kernbali sambil menghela nafas lega. Ternyata bocah ini memang belum dikebiri.

“Bagus! Bagus!” katanya kemudian sambil ter¬tawa. “Tadinya aku masih ragu sehingga sulit rasanya mengambil keputusan. Ternyata kau memang belum dikebiri, saudara kecil!” Tangan kirinya menepuk meja seakan teringat sesuatu yang penting “Aih! Inilah yang harus aku lakukan. Ya, dengan demikian saudara In ada keturunannya dan Ceng bok tong pun ada yang memimpin.”

Siau Po bingung. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Cong tocu itu. Karenanya dia hanya memperhatikan dengan seksama. Hatinya lega melihat wajah Cong tocu itu berseri-seri. Kalau laki-laki itu berwajah kelam, hatinya pasti akan gentar menghadapinya.

Cong tocu itu memangku tangannya sambil berjalan mondar-mandir. Terdengar dia menggil nama seorang diri.

“Apa yang dilakukan oleh perkumpulan Tian-Te hwe adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Semuanya boleh dibilang, akulah yang bertindak, segala perbuatan yang mengejutkan orang banyak. Namun, apa artinya semua ini?”

Siau Po masih memperhatikan terus. Dia benar¬-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Cong tocu itu.

“Di sini hanya ada kita berdua. Kau tidak perlu malu-malu. Coba kau mainkan seluruh ilmu silat yang pernah diajarkan Hay Tai-hu kepadamu. Aku ingin melihatnya, tidak perduli ilmu itu asli atau palsu,” katanya kemudian.

Baru sekarang Siau Po mengerti mengapa Kwan An-ki dan yang lainnya disuruh mengundurkari diri.

“Kalau ajaran Hay kongkong tidak benar, harap jangan ditertawakan,” kata bocah itu.

“Tentang itu kau tidak perlu khawatir,” sahut Cong tocu sambil tersenyum.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: