Kumpulan Cerita Silat

17/01/2008

Perguruan Sejati (15)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:21 pm

Perguruan Sejati (15)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Dengan adanya makhluk penunggu itu, pasti ada benda pusaka!” kata Kim Tay.

“Engkau benar-benar sebagai muridku yang jempolan, apakah ular itu sudah kau bunuh?” tanya Liok Jie Hui.

“Aku sudah menikamnya beberapa kali, entah mati atau hidup aku tak tahu!”

“Pokoknya asal kena sekali pasti ia akan mati, apa lagi kalau berkali-kali. Nah minum lagi arak ini, engkau pasti berhasil memperoleh pedang itu!”

Toa Gu segera menyelam lagi kedalam air, Liok Jie Hui dengan lihay melirik pada kim Tay, tampak kawan itu sedang terbengong mengawasi permukaan air, melihat ini timbul pikiran jahatnya didalam benaknya. “Akan kubereskan lawan tangguh ini dengan menggelap,” pikirnya, sambil berpura-pura mengawasi kepermukaan air. Padahal dengan diam-diam ia mengumpulkan tenaga, dan mau segera menurunkan tangan jahatnya….pada saat inilah dari mulut lembah terdengar suara nyaring yang amat panjang. Berbareng dengan suara itu tampak dua bayangan yang sangat cepat melayang kedalam lembah. Mereka bukan lain dari pada Hek pek siang kuay suami istri.

Begitu Liok Jie Hui melihat, hatinya tak alang kepalang kagetnya, dan yang membuatnya dongkol, kedua jejadian itu dengan mudah saja masuk kedalam lembah, sedangkan Siau Bwee dan Kiam Hong yang ditugaskan disana kemana perginya? Saat ini ia tidak bisa berpikir terlalu lama kaena Hek pek siang kuay telah tiba didepannya. “Kim heng semoga engkau tak lupa dengan janji semula!”

Kim Tay tersenyum mendengar kekuatiran kawannya itu, ia segera menghadang Hek pek siang kuay. “Bagaimana tuan dan nyonya, apakah baik-baik saja? Sudah lama kita tidak bertemu!”

Begitu masuk kedalam lembah, Hek pek siang kuay melihat pakaian Toa Gu dipinggir danau, dan rotannya terikat pada pohon sedang dipegangi Liok Jie Hui, pemandangan ini membuatnya kaget, membuat mereka mengawasi ketengah danau tanpa menghiraukan pertanyaan Kim Tay.

Liaw Siu Kim wajahnya terlihat asam, ia sudah merasa gusar melihat keadaan di danau. “Hei bangkai, engkau tidak mendengar kataku, nah apa yang mau engkau katakana lagi?” Ia menyesali suaminya dengan kata-kata kasar.

“Ha ha ha!” Na Beng Sie tergelak-gelak. “Benar-benar didunia ini banyak keanehan…”

“Tutup mulutmu! Dimaki masih bisa tertawa benar-benar menyebalkan! Engkau tahu barang itu sudah dimiliki orang, apa-apaan ketawa lagi, mau di gaplok barangkali?”

“Kita malang melintang puluhan tahun, selama ini belum pernah tunduk pada siapapun, tapi mulai hari ini, mau tak mau harus tunduk pada orang lain!”

Lauw Siu Kim tidak mengerti, matanya mendelik selebar-lebarnya. “Kenapa harus tunduk?”

Dengan kipasnya Na Beng Sie menunjuk kepada Kim Tay, sedangkan matanya melirik pada Liok Jie Hui: “Puluhan tahun yang lalu, antara tiga belas jago-jago bulim, mempunyai nama dan kedudukan yang sederajat, tapi tak kira saat ini sudah berubah begitu jauh.”

“Dulu dan sekarang apa bedanya, aku tak mengerti kata-katamu!” bentak Lauw Siu Kim.

“Diantara tiga belas jago-jago Bulim, yang bertabiat berangasan adalah Tong Cian Lie, sedangkan yang angkuh adalah Kim Tay bukan? Tapi kenapa orang angkuh bertabiat tinggi serta tidak mau tunduk kepada orang lain dimasa lalu kini bisa tunduk dan mau menjadi tukang pukul orang lain? Benar-benar aneh bukan?”

“Mungkin ia sudah pikun!” kata Lauw Siu Kim.

Suami istri yang kelihatannya mungil-mungil ini mulutnya lemas sekali, tanya jawab antara mereka ini membuat Kim Tay merah padam karena ia tersindir sebagai tukang pukul Liok Jie Hui, sungguhpun begitu ia tidak sampai marah. Ia tetap tersenyum dan berkata: “Sudah bertahun-tahun kita tak bertemu, tak kira mulut Na heng masih lemas seperti dulu, he he he.” Ia mengakui berdebat mulut tak bisa menandingi Na Beng Sie, maka kata-katanya ditutup dengan tertawa sinis.

Sedangkan Liok Jie Hui kuatir Kim Tay kena propakasi musuh, cepat menyambung perkataan kawannya. “Kami tidak mempunyai saudara dan tidak pula mempunyai istri, maka itu apa salahnya bekerja sama?”

“Liok toako paling pintar mencari teman, dulu memperalat empat bajak dari Kuan lo dan menyulap mereka menjadi ahli-ahli pedang dari empat perguruan, akhirnya keempat bajak itu terbunuh mati, sedangkan Keng thian cit su jatuh pada Liok toako seorang. Rupanya cara itu sedang dipraktekkan disini.”

“Ha ha ha kitab itu hanya satu, sedang pedang ini ada dua! Lagi pula Kim heng bukan orang tolol seperti empat bajak itu!”

“Kuyakin apa yang tuan dan nyonya kehendaki akan gagal seperti tempo hari! Ha ha ha!”

“Beng Sie jangan banyak bicara dengannya pokoknya pedang itu bukan miliknya, siapapun boleh mengambilnya! Serang!” teriak Lauw Siu Kim dengan tak sabar.

Melihat sikap Lauw Siu Kim yang mau menyerang ini, Kim Tay telah siap sedia dengan Jarum Elmautnya. “Sebenarnya antara kita bukan orang lain, kenapa harus bertengkar,” katanya menenagkan situasi gawat.

“Orang lain boleh takut dengan jarummu, aku tidak memandang sebelah mata.” ia menoleh pada suaminya. “Jangan siam saja, hayo kerjakan orang she Liok itu!” Lauw Siu Kim membuktikan perkataannya, sepadang pedangnya dengan gencar menyerang pada Kim Tay. Yang disebut belakangan sedikitpun tak merasa jerih, sepasang lengannya melancarkan ilmu Pek kong ciang, mengimbangi ilmu pedang lawannya. Mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh sehingga seru sekali, dalam beberapa jurus itu, keadaan tetap berimbang.

“Kim heng kuminta engkau menghentikan dulu perkelahian ini!” seru Na Beng Sie. “Aku mau bicara denganmu!”

Kim Tay berkelit dari serangan, lalu melompat keluar arena perkelahian. “Apa maumu lekas katakana!”

“Kim heng sebagai jago sejati kenapa mau bekerja sama dengan manusia licik yang rendah ini? Lagi pula lihatlah keadaan dan situasi sudah terang bahwa Kim heng menghadapi kami berdua belum tentu menang bukan? Andaikat menangpun tak berarti apa-apa! Karena dalam keadaan letih dan lemas itu, Liok Jie Hui akan menyerangmu…ha…ha.ha.alhasil nol besar bagi capai lelahmu sebagai tukang pukul. Kupikir lebih baik engkau bekerja sama dengan kami dan hasilnya bagi paro bagaimana?”

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi kaget, cepat-cepat ia menyelrtuk, “Akalmu memang baik, dengan kekuatan bertiga ingin menumpas aku seorang setelah itu dengan kekuatanmu berdua untuk menumpas seorang bukan? Akhirnya kedua pedang itu menjadi milikmu berdua.ha.ha.ha.!”

“Mulutku biar jahat boleh dipercaya tidak sepertimu mulut manis hati busuk!” kata Na Beng Sie.

“Engkau boleh mengatakan aku jahat dan busuk, tapi dalam hal kerja sama ini aku mengeluarkan modal, sedangkan kalian hanya mengandalkan omong kosong saja!” kata Liok Jie Hui.

Kim Tay menjadi serba susah, sebab jika menimbang keadaan dan situasi, tawaran Na Beng Sie sangat menarik hati. Tapi kalau dipikir lebih jauh apa yang dikatakan Liok Jie Hui lebih masuk akal. Setelah berpikir agak lama ia mengambil keputusan untuk terus memihak pada Liok Jie Hui. “Laki-laki berkata hanya sekali, kini aku sudah bekerja sama dengan Liok heng bagaimanapun tak bisa mengubah lagi keputusan yang telah kuambil!”

“Mendengar ini Liok Jie Hui kegirangan segera ia berkata, “Ini baru keputusan jantan!”

“Tapi aku hanya mengambil bagianku saja, lain dari itu bukan urusanku!” kata Kim Tay. Kata-katanya itu berarti, setelah mendapat bagian ia berlalu dari situ. Soal suami istri itu mau merebut bagian Liok Jie Hui ia tidak mau mencampurinya.

“Hm jangan dengar omongannya dan tak perlu banyak bicara dengan cecunguk-cecunguk ini. Mari kita serang!” kata Lauw Siu Kim. Berbareng dengan habisnya perkataan ia menerjang lagi pada Kim Tay.

Na Beng Sie tidak bisa berkata apa-apa lagi, segera membantu istrinya mengerubuti Kim Tay seorang. Kipasnya bekerja dengan tangkas dan cepat, menotok kearah dada musuh, serangannya yang telengas ini dilakukan dengan mendadak, membuat Kim Tay kelabakan, hampir-hampir kena tertotok, ia membuang diri dengan terhuyung-huyung. Tapi tak urung lengannya terkena pula senjata musuh, membuatnya kesakitan, ia menjadi marah dan gusar dan geregetan, tapi sebelum ia memperbaiki keadaan dirinya, serangan dari Lauw Siu Kim sudah tiba. Kepaksa ia mencelat keatas dan jarumnya yang sudah dikenal sedari tadi ditebarkan kearah Na Beng Sie. Jarum itu berjumlah lima batang dilepaskan sekaligus menerjang kiri dan kanan, atas bawah dan tengah. Na Beng Sie cukup lihay ia membuka kipasnya menyampok yang kebawah, kiri dan kanan, sedangkan yang keatas dan ketengah diegoskan dengan membanting diri kebelakang. Biarpun begitu tak urung bajunya kena terserempet juga ujung jarum masuk. Bagitu Kim Tay turun ketanah, ia menyiapkan lagi dengan tujuh jarum. “Orang she Na rasakanlah Tujuh Jarum Pencabut Nyawa.”

Na Beng Sie menjadi kaget, cepat mengajak istrinya melompat mundur sejauh beberapa tombak, mereka tidak berani mendekat lagi, hanya mulutnya saja memaki-maki kalang kabutan…

Kim Tay tergelak-gelak tertawa melihat keadaan ini, Liok Jie Hui pun turut tergelak-gelak dengan girangnya.

Saat inilah rotan tergetar-getar, dengan cepat Liok Jie Hui menarik keatas. Toa Gu muncul dengan tangan hampa membuat Liok Jie Hui kecewa. “Engkau turun begitu lama, tidakkah berhasil menemui pedang itu?”

Toa Gu menggelengkan kepala. “Danau ini dalam sekali, sukar mencapai dasarnya! Aku mencarinya setengah mati, yang kudapati hanya sebuah gua, didalamnya cukup terang seperti cahaya pelita….”

“Kenapa engkau tidak masuk kedalamnya?” potong Liok Jie Hui.

“Kulihat didalam gua itu ada kursi dan meja, seolah-olah ada penghuninya, aku tak berani sembarangan masuk, maka kuketuk dinding baru agak lama, tak ada yang datang…”

“Anak tolol, iti tentu kamar penyimpan pedang pusaka, tak ada penghuninya, lekas engkau menyelam lagi, tak perlu mengetuk pintu, masuk saja dan ambil pedang itu.”

“Enak saja main masuk, jika benar-benar ada orang bagaimana?”

“Jangan berlaku tolol, mana bisa orang tinggal diair.” Kata Liok Jie Hui yang segera memberesi lagi Toa Gu kedalam air.

Kini keadaan jadi sunyi, semua pandangan mata dari orang-orang yang berada disitu tertuju ke dalam danau, tapi begitu lama berlalu belum pula terlihat Toa Gu muncul.

Siau Bwee yang bersembunyi, berbisik pada Kiam Hong. “Hek pek siang kuay merasa jerih pada Giam lo ciam Kim Tay, kini mereka diam-diam, tentu akan bergerak lagi setelah Toa Gu berhasil mendapatkan pedang. Kini ketenangan mereka akan kuacak-acak.”

“Bagaimana caranya mengacak-acak mereka?” tanya Kiam Hong.

Siau Bwee mengeluarkan panah api yang didapat dari pengawal Pok Thian Pang. “engkau diam-diam disini, aku mau pergi dulu melepaskan panah ini.” Sehabis berkata ia menyelinap pergi keluar lembah. Dalam waktu sekejap sinar terang membubung naik dari lembah sambil menperdengarkan suara nyaring.

Keempat orang yang berada dipinggir danau melihat panah api itu. Mereka kaget tak alang kepalang. “Liok heng kalau orang-orang Pok Thian Pang benar-benar datang, urusan jadi berengsek!” kata Kim Tay.

Bertepatan dengan waktu ini, rotan bergetar-getar. Liok Jie Hui segera menarik dengan cepat, air bergulung-gulung dan keluarlah Toa Gu dari dalamnya, tapi tetap dengan tangan hampa seperti tadi. “apakah kau tidak masuk kedalam gua itu?” tegur Liok Jie Hui dengan napsu.

“Masuk,” jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

“Ketemu pedang itu?” desak Liok Jie Hui.

“Ketemu!”

Keempat orang dengan sinar mata mambulat, memandang pada Toa Gu, Hek pek siang kuay maju beberapa langkah.

“Sudah ketemu kenapa tidak diambil?” kata Liok Jie Hui sambil menelan liurnya.

“Tidak bisa diambil, di dalam gua itu ada orangnya!”

“Ada orangnya?”

“Ya, seorang Tojin tua, pedang itu berada dalam peti dan diletakkan didepannya, cahayanya terang dan indah.”

Liok Jie Hui jadi heran, gejolak hatinya memukul keras, andaikata tidak ada Kim Tay dan Hek pek siang kuay siang-siang ia sudah terjun sendiri kedalam danau. Kini ia cuma “Oh…”terus menelan liurnya, dan dengan serius ia bertanya lagi. “apakah Tojin itu melihat kedatanganmu?”

“Tidak!”

“Sedang apa Tojin itu?”

“Sedang tidur!”

Liok Jie Hui merasa kaget dan sadar, giginya berkeretekan bahwa mangkelnya. “Hei engkau kenapa begitu goblok? Mungkin tidak bisa membedakan orang hidup atau mati?”

“Suhu kalau tidak kau sebutkan hampir aku tidak ingat perbedaan orang mati dan hidup. Ah, sekarang berani kupastikan dia sudah mati! Seharian kuledek ia diam saja tanpa menghiraukan, duduk saja dengan tenang!”

“Waduh, moyang goblok, tidak tahan aku! Lekas pergi deh,” Liok Jie Hui menarik napas sesak sehabis berkata.

Toa Gu menyedot hawa dan menyelam kembali ke dalam air.

Suasana berbalik jadi sunyi lagi, mereka menantikan Toa Gu muncul dengan dua pedang pusaka, dan berpikir bagaimana caranya untuk memiliki pedang itu.

Liok Jie Hui berpikir bagaimana caranya meloloskan diri setelah dapat pedang itu.

Kim Tay pun sedang menghitung-hitung, bagaimana caranya menghadapi Liok Jie Hui andaikata kawan itu ingkar janji, dan bagaimana pula menghadapi siang yauw.

Sedangkan Hek pek siang yauw sudah memastikan diri akan merampas pedang itu. Mereka mengawasi dengan tenang menantikan saat yang ditunggu…tapi malangnya mereka harus menahan ketegangan begitu lama karena Toa Gu belum muncul juga.

Liok Jie Hui berkali-kali membetot-betot rotan, mendesak Toa Gu yang berada di dalam air tapi tidak mendapat balasan. Malahan orang-orang disitu mendengar kesiuran angin susul menyusul, dari jauh semakin dekat…, tak alang kepalang kagetnya Liok Jie Hui yang licik, cepat-cepat ia memperingati kim Tay. “Hati-hatilah orang-orang Pok Thian Pang telah datang!” Begitu perkataannya selesai diucapkan orang-orang Pok Thian Pang sudah masuk kedalam lembah dan berbaris mendekati danau.

Kim Tay melihat diantara orang-orang Pok Thian Pang terdapat sam kui dan Thay Cin Tojin wajahnya menjadi sedikit berubah, diam-diam jarum Giam lo ciamnya digengam semakin erat, sedangkan hatinya berdebar-debar keras. Ia seorang angkuh yang berkepandaian tinggi, tapi jika menghadapi sam kui dan Thay Cin Tojin sekaligus, rasa jerihnya datang sendiri. Lebih-lebih disamping mereka masih ada Hek pek siang yauw yang menantikan kesempatan untuk turun tangtan, keadaan ini benar-benar bahaya bagi dirinya.

Soat Kouw yang menjadi pemimpin rombongan, dengan mata mendelik menyapu keempat orang yang berada disitu sambil membentak dengan kasar: “Siapa yang bernyali besar berani membunuh anak buah kaum Pok Thian Pang?”

Liok Jie Hui dan Kim Tay diam saja pura-pura tidak mendengar. Hal ini membuat Na Beng Sie tersenyum dingin. “Liok toako dan Kim toako jika jantan sejati, berani berbuat berani bertanggung jawab, kenapa diam-diam saja, sejak kapan menjadi gagu?” Dengan perkataannnya ini Na Beng Sie sama dengan mengatakan bahwa anak buah Pok Thian Pang bukan mereka yang membunuh.

“Hm, kalau takut kena urusan kenapa masih nongkrong disini, pergilah biar jangan!” kata Kim Tay. Lalu memandang pada Soat Kouw dan tersenyum kecut. “Anak buahmu masih sudah waktunya, kenapa engkau marah-marah?”

“Engkau manusia macam apa, berani gila-gilaan disini?” tanya Soat Kouw.

“Engkau siapa mau tahu namaku?” ejek Kim Tay.

Soat Kouw menjadi gusar, ia mengangkat tangan mengeluarkan perintah. “Ciduk manusia keparat ini!”

Tiga pengiringnya segera menghunus senjat siap menjalankan perintah. Tapi keburu dihalangi Tok Kay Pong. “Sabar dulu!” Cepat-cepat ia menghampiri Soat Kouw dan membisiki beberapa kata, lalu dengan wajahnya yang selalu tersenyum ia memberi hormat kepada lawan-lawannya. “Kim heng, Liok heng, Tuan dan nyonya Na adalah jago-jago bulim yang kenamaan, marilah kukenalkan pada Soat Kouw nio ini, ia adalah Hu pangcu dari Pok Thian Pang….”

Perhatian Liok Jie Hui tertuju kedalam danau, sedikitpun tidak menghiraukan perkataan itu, sedangkan Kim Tay berdongak kelangit tak meladeni, ia bersikap angkuh dan jumawa, sedangkan Lauw Siu Kim yang berangasan sudah tak sabar lagi melihat tingkah laku Tok Kay Pong, ia meludah dengan sengit: “Model dari seorang budak yang bisa jadi juara kalau dipamerkan.”

Tok Kay Pong tidak menghiraukan ia tersenyum terus dan melanjutkan kata-katanya. “Lo Cucong kaum Pok Thian Pang yang semalanya menghormati dan memperlakukan dengan baik setiap jago-jago dunia persilatan. Lebih-lebih terhadap Bulim Cap Sahkie! Maka itu kebetulan kita bertemu disini, sekalian mengajak saudara-saudara menjadi anggota Pok Thian Pang.”

“Aku bisa mempunyai kedudukan apa andaikata masuk menjadi anggota Pok Thian Pang?” tanya Kim Tay seenaknya.

“Oh bisa berkedudukan tinggi, misalnya menjadi Futhoat.”

“Itu sih kedudukan rendah untuk bangsa anjing-anjing buduk, aku tak mau!” kata Kim Tay. “Kalau jadi Pangcu sih boleh kupikir-pikir!” sehabis berkata ia tergelak-gelak.

Wajah Tok Kay Pong menjadi merah seperti bara, sejenak berlalu ia baru bisa membuka mulut lagi. “Itu adalah kebaikan dariku, jika Kim heng menampik berarti mencari susah sendiri.”

“Sebelum kudapati pedang pusaka, siapapun tak bisa mengusir aku dari sini, sesudah kudapat pedang pusaka siapapun tak bisa merintangiku! Ha ha ha.”

“Engkau jangan menganggap paling jago, diluar langit masih ada langit!” kata Soat Kouw. “Pokoknya yang kurang senang boleh maju!”

“Hai bangsat jangan sombong!” bentak Houw Bin Hengcia yang terus menggunakan senjata beratnya melakukan serangan dengan mendadak.

“Hm, engkau ini kurcaci dari mana?” tegur Kim Tay sembari mengengosi serangan, dan membarengi dengan jarum mautnya.

Houw Bin Hengcia hanya melihat jarum-jarum yang berkeredepan tanpa bisa berbuat sesuatu apa. Tubuhnya terkena tujuh jarum dan segera terjungkel dan berkerejetan sejenak, terus tak berkutik lagi dengan jiwa melayang.

Dengan sekali kebut membuat jiwa musuh melayang, Kim Tay sengaja memamerkan keampuhannya. Dan ia berhasil membuat keder atau jerih kaum Pok Thian Pang, tapi berbalik membuat Hek pek siang yauw senang. Begitu jarumnya terlepas, sepasang suami istri itu segera menggunakan kesempatan ini melakukan serangan. Kim Tay tidak mempunyai waktu merogoh jarumnya, ia dikepung terus dengan bertangan kosong, dalam sejenak telah berada dibawah angin.

Tok Kay Pong dengan tersenyum memandang pada Soat Kouw, “Kounio sudah sampai saatnya kita turun tangan!”

“Benar!” jawab Soat Kouw. “Sam wie boleh mengawasi Kim Tay dan Siang Yauw, Tojin dan aku menghadapi Liok Jie Hui, sedang Jung jung bertiga harus bersiap-siap kalau ada musuh lagi dari luar!” begitu Soat Kouw beres mengatur dan mau turun tangan. Tiba-tiba saja ditengah danau terlihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Saat ini hampir gelap, ditengah-tengah danau terlihat berkilaunya suatu sinar menerangi sekeliling.

Kaum Pok Thian Pang menjadi terpesona oleh pemandangan ini, mereka urung melakukan serangan, perhatiannya tertuju kedalam danau, demikian pula Kim Tay dan Siang Yauw telah menghentikan perkelahiannya dan mengawasi ke danau.

Liok Jie Hui girangnya bukan main, kedua tangannya menarik rotan, dengan cepat sinar itu semakin lama semakin terang, dari gulungan air yang memecah tampak Toa Gu keluar. Kedua tangannya masing-masing memegang pedang, satu merah, satu putih, bercahaya dan berkilauan menyilaukan mata.

Liok Jie Hui dengan tangan bergetar menggapai-gapai pada Toa Gu sambil berseru-seru: “Muridku yang baik, lekas serahkan pedang itu pada suhu.”

Perkataan dari Liok Jie Hui ini membuat sekalian yang berada disitu menjadi sadar, Siang Yauw dengan cepat berlari kearah pohon, mau menguasai rotan yang tertambat disitu. Tapi Kaum Pok Thian Pang pun menuju kesitu untuk menguasai rotan itu pula, pikir mereka jika bisa menguasai rotan itu sama dengan menguasai Toa Gu, tapi pikiran mereka ini salah karena dengan begitu Liok Jie Hui yang memegang tengah rotan yang merentang antara pohon itu dan Toa Gu mendapat keuntungan tanpa ada gangguan.

“Liok toako lekas ambil pedang itu, jika mereka berani mendekat akan kusapu dengan jarum!” seru Kim Tay.

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang Yauw sadar tak ada gunanya menguasai rotan dipohon itu, mereka meluruk ketepi danau lagi dengan serabutan. Kim Tay sudah siap sedia, begitu mereka mendekat lengannya segera bergerak, sekalian orang itu dengan sendirinya terhalang dan tidak bisa mendekat.

“Suhu mereka sedang berbuat apa?” tiba-tiba Toa Gu membuka mulut .

“Jangan banyak bicara lekas serahkan pedang itu pada suhu!” kata Liok Jie Hui yang terus menarik Toa Gu kepinggir danau.

Begitu hampir kepinggir, Toa Gu memegang kedua pedang itu dengan tangan kirinya, lengan kanannya dijulurkan minta Liok Jie Hui mengangkatnya. “Suhu tariklah aku, tenagaku sudah habis!” katanya.

Liok Jie Hui segera memegang lengan Toa Gu, apa celaka murid yang bodoh itu menariknya dengan kencang, tak ampun lagi tubuhnya kecebur kedalam danau, sebelum ia bisa berbuat apa-apa sudah tersedot air yang mutar itu, sedangkan Toa Gu telah naik kedarat, sambil memandang kedanau dan berteriak-teriak: “Suhu! Suhu!”

“Toa Gu berikan pedang itu kepadaku!” teriak Kim Tay.

“Ini pedang untuk suhu, kenapa harus kuserahkan kepadamu?” jawab Toa Gu.

Kim Tay menjadi sengit, dengan cepat ia menyergap kearah Toa Gu.

“Engkau mau merampas ha!” bentak Toa Gu sambil menggerakkan lengan kirinya mempertahankan diri. Gerakan yang dilancarkan itu adalah salah satu dari tipu Keng thian cit su yang bernama pelangi menyambar matahari, keruan saja Kim Tay menjadi kaget dan cepat-cepat menarik lengannya sambil melompat mundur, sungguhpun begitu tak urung lengan bajunya tersobek pedang Toa Gu. Setelah berhasil memukul mundur musuhnya, Toa Gu segera lari sekencang-kencangnya sambil berteriak “Suhu!”

Kaum Pok Thian Pang dan Hek pek siang yauw tidak mengetahui asal usulnya toa Gu, mereka merasa heran melihat Kim Tay mundur teratur tanpa berjanji, ramai-ramai mengepung Toa Gu. Diantara mereka Na Beng Sie bertindak paling gesit, dalam sekejap mata telah mencandak Toa Gu, kipasnya dirapatkan, dengan penuh kekuatan ditotokkan kepunggung orang. Tiba-tiba saja Toa Gu membalik badan dan melancarkan serangan, lagi-lagi ia menggunakan salah satu jurus dari Keng thian cit su yang bernama kuda banal mengejar kilat. Na Bedng Sie tidak menduga, ia kaget dan dengan cepat menarik serangannya sambil mengundurkan diri, tapi tidak luput, topinya terlepas sobek, membuatnya bergidik sendiri.

“Baagaimana lukakah?” tanya Lauw Siu Kim yang menyusul belakangan. Na Beng Sie menjulurkan lidah. “Tidak! tetapi bocah itu entah apanya Liok Jie Hui, ia pandai menggunakan ilmu pedang Keng thian cit su.”

“Mari kita kejar lagi!” ajak Lauw Siu Kim.

Karena mereka agak merandek, kaumnya Pok Thian Pang sudah mendahului mereka dan berada disebelah depan. Adapun Toa Gu berlari-lari memutari danau, yang lainpun turutan memutari danau itu, sangat lucu dilihatnya tak ubahnya seperti anak kecil sedang main petak. Ia tak bisa berlari dengan kencang dalam sekejap sudah kesusul musuh-musuhnya, tapi setiap kali ia berhasil emnggebah musuh dengan serangan pedangnya yang luar biasa. Setelah memutari danau, Toa Gu berlari keluar lembah sekuat tenaga, yang mengepungpun sudah menyusul mengikutinya dari belakang.

Dengan cepat Kim Tay mendahului yang lain dan berhasil menghadang jalan Toa Gu, demikian pula dengan Thian lam sam kui dan lain-lain. Beramai-ramai mereka mengurung Toa Gu seorang diri.

Hek pek siang yauw datang agak terlambat, ia tak memperdulikan hitam dan putih, segera memecah kurungan dan maju kedalam. Sehingga membuat Kim Tay terdesak keluar. Ia jadi gusar, jarumnya yang tinggal dua disiapkan, dan kebetulan dilihatnya Soat Kouw telah mendekat pada Toa Gu, tak ayal lagi ia mengayunkan lengannya. Melihat ini Tok Kay Pong berseru keras memperingati Soat Kouw dan membuat yang disebut belakangan bisa menghindar oleh ancaman maut itu.

Kim Tay berhasil maju kedepan dan lagi-lagi terhalang Hek pek siang yauw, mereka jadi berkelahi lagi… Dalam perkelahian yang acak-acakan ini, masing-masing tidak memperdulikan lagi antara kawan dan lawan, yang jadi tujuan mereka yakni mendapat pedang pusaka!

Kini kaum Pok Thian Pang bisa berada didepan, melihat ini Hek pek siang yauw dan Kim Tay berhenti berkelahi, mereka bersama-sama bergumul dengan orang-orang Pok Thian Pang!”

“Toa Gu dalam bahaya, kita harus menolongnya!” kata Siau Bwee.

“Yang mengurungnya, adalah jago-jago kenamaan, kita mana bisa menolongnya?”

“Kita tak perdulikan mereka jago yang bagaimana,” kata Siau Bwee. “Asal bisa menolong Toa Gu keluar dari lembah ini sudah bagus….pakailah kain dan tutup muka kita, jangan sampai dikenali mereka…”

Saat inlah mereka mendengar suatu bunyi nyaring memecah udaraq dari luar lembah.

“Sabar, siapa lagi yang datang itu?” kata Kiam Hong.

Dengan cepat mereka bisa melihat berkelebatnya empat bayangan, yang tahu-tahu sudah berada didekat danau. Keempat orang ini semuanya bertopeng dan berlengan kosong, tapi kalau dilihat gerakannya tadi, menyatakan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Tak perduli kaum Pok Thian Pang maupun Hek pek siang yauw dan Kim Tay semuanya menghentikan perkelahian mereka begitu melihat kedatangan empat orang bertopeng ini. Mereka dengan mata membulat mengawasi penuh perhatian, yang pertama-tama sampai adalah seorang pelajar muda, disusul seorang gadis yang dua lagi adalah seorang tua bertangan panjang dan seorang tua bermata satu.

Pemuda pelajar itu melirik kekiri dan kanan lalu menggoyangkan tangan dengan perlahan kedua orang yang menjadi pengikutnya segera kekanan dan kekiri lalu mengangkat empat tangan mereka menggempur pada Thay Cin Tojin yang paling dekat dengan mereka.

“Beng!” terdengar bunyi nyaring, akibat bentrokan tenaga diudara, dimana Thay Cin Tojin telah melakukan tangkisan. Berbareng dengan hilangnya bunyi suara, tampak tubuh Tojin itu terpental keudara dan jatuh ke tanah dengan terguling-guling dan hampir nyebur di danau.

Salah seorang Bulim Cap Sahkie yang kenamaan sebagai Thay Cin Tojin hanya dalam jurus pertama sudah dirobohkan, membuat yang menyaksikan menjadi kagum dan gentar atas kekuatan kedua orang tua itu.

Kini kedua orang tua itu sudah melancarkan pukulan tangannya kearah Thian lam sam kui. Yang disebut belakangan mengetahui tidak memiliki ilmu setinggi Thay Cin Tojin maka tak berani menerima pukulan itu dengan kekerasan, mereka melompat mundur, menjauhkan diri tak berani dekat-dekat.

Kedua orang tua itu membuka jalan, sedangkan pemuda pelajar dan si gadis mengikuti dibelakang siorang tua dengan tenang, begitu mereka sampai didepan Toa Gu. Pemuda pelajar yang bertopeng, memperlihatkan pada Toa Gu semacam benda dan terus berkata dengan perlahan. “Serahkan pedang itu kepadaku!”

Toa Gu memperhatikan benda ditangan pemuda itu, lalu ia tersenyum. “Hati-hatilah hadapi manusia-manusia ini, mereka lihay-lihay!”

“Tak usah cemas!” kata sipemuda pelajar.

Toa Gu tidak banyak bicara lagi, menyerahkan pedang-pedang itu kepada si pemuda.

“Terima kasih banyak atas kebaikanmu ini,” kata sipemuda, seraya memberikan sebilah pedang pada si gadis, tubuhnya berputar mengajak kawan-kawannya berlalu.

Jago-jago yang berada disitu dibuat kesima dan memandang kepergian empat orang itu dengan mendelong. Tapi kejadian ini hanya berjalan sejenak saja, mereka sadar kembali dan buru-buru melakukan pengejaran.

“Hei, bocah tinggalkan pedang itu!” seru Kim Tay sambil melakukan serangan pada pemuda itu.

Dengan tersenyum dingin, terlihat pemuda itu menghalau serangan musuhnya dengan tangan kiri sedangkan pedangnya membarengi gerakan itu. Begitu cepat dan luar biasa, Kim Tay tak sempat mengengos, tahu-tahu pundaknya sudah terkena pedang tubuhnya terhuyung dan jatuh ditanah…

Dibagian lain pada saat yang bersamaan. Siang yauw menyergap si gadis dengan berbareng. Dengan tenang kedatangan dua musuh itu dipakai dengan pedang. Na Beng Sie menjadi kaget, ia tidak mengira gadis muda itu mempunyai kekuatan hebat, untung ia betubuh kecil dengan menggelinding bisa menyelamatkan diri dari bahaya. Demikian pula dengan Lauw Siu Kim terpaksa mundur teratur.

Dengan mata berapi-api Lauw Siu Kim naik pitam sedangkan Na Beng Sie dengan mulut mengangnga dan mata mendelik, melihat gadis itu pergi jauh.

Sedangkan dua orang tua lainnya dengan telapak tangannya yang bertenaga kuat, memukul mundur Sam kui dan lain-lainnya, setelah itu menyusul si pemuda dan si gadis menuju keluar lembah.

Dengan gusar Soat Kouw mengeluarkan komando: “Kejar!”

Susul menyusul orang-orangnya berserabutan pergi, melakukan pengejaran.

Siang yauw pun menyusul pula, setelah tertegun seketika lamanya, dengan cepat keadaan dilembah itu menjadi sunyi.

Kim Tay biar menderita luka tidak sampai membahayakan dirinya, tampak ia bangun dan niat menyusul pula. Tapi kena dirintangi Toa Gu. “Kim Lo Cianpwee jangan lupa, masih ada satuurusan antara kau dan aku yang perlu dibereskan!”

“Soal apa?” bentak Kim Tay.

Dengan tersenyum Toa Gu berkata. “Lo Cianpwee boleh pergi tapi berikan dulu obat pemunah padaku! Jarummu itu beracun aku bisa mati kalau kau pergi!”

“Hmm, obat itu bisa kuberikan tapi kau harus mengatakan dulu, siapa gurumu dan siapa keempat orang bertopeng tadi!”

“Kalau aku tak sudi memberikan keterangan bagaimana?”

“Bagaimanapun harus mau…” Kata Kim Tay sambil mengumpulkan tenaga dan selangkah demi selangkah mendekati Toa Gu.

“Dengan luka-luka yang Cianpwee derita, bisa berbuat apa kepadaku?”

“Segala luka ringan begini sedikitpun tidak kurasa, aku masih mampu membunuhmu!”

“Engkau bisa membunuhku, tapi ada orang lain bisa membunuhmu pula!”

Dengan kaget Kim Tay celingukan keempat penjuru ia tidak melihat barang seorangpun, maka ia tertawa mengejek: “Engkau menakut-nakuti aku ya?”

“Aha yang kukatakan benar belaka, tapi aku tak bisa memaksamu percaya bukan?”

“Pokoknya seumur hidupku tak pernah takut pada siapapun!”

“Orang lain boleh tidak ditakuti, tapi kalau dia…ha ha ha!”

“Siapa dia?”

“Guruku!”

“Ha ha ha, gurumu itu mungkin sudah jadi santapan ikan di danau! Ia sudah mati kelelap!”

“O Mie To Hud! Sie cu kenapa memaki aku dari belakang?” tiba-tiba terdengar suara jawaban dari belakang.

Kim Tay segera membalik badan, kagetnya tak alang kepalang, karena tak seberapa jauh dari dirinya terlihat seorang Hwesio sedang duduk diatas batu dengan tenangnya.

“Engkau….engkau…” kata Kim Tay dengan nada terputus-putus karena kagetnya.

“Mungkin kesibukan sehari-hari, membuat Sie cu lupa padaku bukan?” kata Hwesio itu dengan tenang.

“Thay kong siansu,” kata Kim Tay sambil mundur-mundur, dia cepat-cepat memberikan Toa Gu obat pemunah, setelah itu tubuhnya dengan cepat mencelat pergi dari situ.

Dengan tersenyum-senyum Toa Gu memungut obat itu dan menghampiri si Hwesio, ia memberi hormat dan berkata: “Supek (paman guru) kapan datang?”

Dengan tersenyum Hwesio itu turun dari batu. “Aku tak menyangka engkau terkena jarumnya Kim Tay! Untuk inilah aku datang kemari menyamar sebagai Hwesio, kalau tidak begitu, mana mungkin ia menyerahkan obat pemunah itu!”

“Kenapa harus menyamar, katanya Supek cukup gagah! Masakan takut dengannya?”

“Engkau tidak tahu Kim Tay seorang beradat tinggi yang sombong sekali, tapi iapaling takut pada Tay kong Sian su,” kata hwesio tetiron itu. “Andaikata aku sanggup mengelahkannya, tapi tak semudah begini ia menyerahkan obatnya itu.” Sehabis berkata ia mengusap mukanya membuka kedoknya, segera tampak wajah aslinya. Seorang tua berambut putih berusia tujuh puluhan.

“Supek, kapankah engkau memberikan ilmu ganti muka ini padaku?”

“Itu urusan nanti, sekarang mari kita pergi! Makanan itu masih berguna bawalah sekalian!”

“Urusan sudah beres untuk apa makanan ini?”

“Jangan banyak berkata, bawalah!”

Dengan tenang-tenang mereka meninggalkan lembah itu.

Pek Kiam Hong memandang kepergian mereka dengan mengerutkan kening dan berkata-kata seorang diri: “Heran! Kenapa bisa dia.?”

“Apa yang engkau katakana?” tanya Siau Bwee.

‘Aku heran pada Hwesio tetiron itu!”

“Engkau kenal dengannya?”

“Ya, dia adalah Cian bin sin kay Cu Lit!”

“Pantas ia bisa menyamar begitu sempurna!”

“Yang kutahu ia berada dimarkas pusat Pok Thian Pang, kenapa bisa ada disini! Lagi pula ia sudah menjadi anggota Pok Thian Pang, kenapa membantu pihak musuh?”

“Kau maksudkan ia membantu keempat orang bertopeng tadi?”

“Ya,” jawwab Pek Kiam Hong, “keempat orang bertopeng itu datangnya begitu cepat, peginya pun sama juga, mereka lihay sekali, entah dari perguruan mana, tapi kalau diingat-ingat pemuda pelajar yang bertopeng itu seperti kenal saja, entah dimana aku pernah bertemu dengannya.”

Belum habis ia bicara, Siau Bwee sudah membekap mulutnya dan menariknya kesamping. “Lihat! Ada apa didanau itu!”

Pek Kiam Hong mengawasi kedanau, benar saja rumput-rumput yang berada dipinggir danau bergoyang-goyang, disusul dengan terlihatnya seorang merayap keluar. Mereka segera merebahkan diri sambil menahan napas dan memasang mata kearah orang itu, kini mereka melihat tegas, orang itu bukan siapa-siapa, dia Liok Jie Hui adanya, basah kuyup dan berlepotan Lumpur, tampaknya ia berkutet melawan sedotan air dengan mati-matian, baru bisa menolong jiwa tuanya itu.

Liok Jie Hui merasa tinggal dia saja didalam lembah itu, seenaknya saja membuka baju. Lalu memerasnya, lalu membuka celananya pula. Begitu mereka mengawasi lagi Liok Jie Hui sudah berjalan keluar sambil membawa tongkatnya. Mulutnya menggerutu terus, “Sial bocah-bocah itu, kalau ketemu lagi tidak kuberi ampun, akan kukesek-kesek badannya!”

“Hi hi hi!” Siau Bwee baru berani tertawa setelah melihat orang tua itu pergi jauh. “Kau dengar tidak dia memaki-maki kita, lain kali kalau ketemu dia lagi kita harus hati-hati.”

“Tentu saja dia marah, ia mengharapkan kita menjaga mulut lembah itu, bukan saja tugas itu tidak dijalankan, bahkan kita mendatangkan kaum Pok Thian Pang dengan panah api!”

“Yang kuheran Toa Gu sitolol itu, bisa betul ia pura-pura bego, padahal ilmu kepandaiannya luar biasa sekali! Sampai Liok Jie Hui siraja licik kena dikelabuinya, benar-benar lucu!”

“Bukan saja Liok Jie Hui, kitapun kena dikelabuhinya juga bukan?”

“Ia membahasakan Cu Lit sebagai Supek, mungkinkah ia muridnya pengemis itu?”

“Cu Lit tidak memiliki ilmu Keng thian cit su, mungkin bukan muridnya!”

“Apa herannya, sekarang ini ilmu pedang itu sudah pasaran, sudah banyak yang bisa!”

“Biarpun bisa tidak sepandai Toa Gu!” kata Pek Kiam Hong, “tidak ingatkah waktu kita berkelahi dengannya, ilmu pukulannya begitu aneh dan luar biasa?” Kupikir ia mempunyai hubungan erat dengan keempat orang bertopeng tadi.”

“Oh…kini aku ingat orang itu, seperti In Tiong Giok!” kata Siau Bwee.

“Benar! Benar dia, dari tadi kupikir, kiranya dia!” kata Pek Kiam Hong.

“Kenapa tidak terpikir sedari tadi, mari kita susul!” ia menarik lengan Siau Bwee berlari-lari keluar dari lembah itu.

Malam telah berlalu matahari telah terbit dunia terang kembali. Tak seberapa jauh dari Danau Pedang menjulang tinggi sebuah gunung. Jika dilihat selayang pandang, gunung ini biasa saja, tidak ada keistimewaannya. Tapi kalau sedikit diperhatikan, bisa melihat bahwa lereng gunung sebelah barat penuh ditumbuhi pohon, merupakan hutan belukar. Sebaliknya lereng sebelah timur, begitu gundul dan tak terlihat tumbuh-tumbuhan barang sebatangpun. Orang bisa berpikir bahwa lereng timur itu tentu tanahnya terdiri dari batu-batu cadas yang tak bisa ditumbuhi pohon, memang benar keadaannya cadas melulu. Disamping itu ada gua batu yang sangat aneh sekali. Gua itu menembus lumbung gunung dari barat sampai ke timur sehingga merupakan terowongan yang panjang. Mulut gua yang disebelah barat lebih besar dari yang sebelah timur. Menandakan bahwa yang sebelah barat adalah bagian depannya dan yang sebelah timur adalah belakangnya. Biarpun mulut gua yang sebelah barat lebih besar, terhalang pohon-pohon besar, sehingga tak mudah terlihat dari luar. Disamping itu letaknya gua itu dari kaki gunung ratusan meter.

Sinar ini sinar matahari yang kemerah-merahan menyorot cadas-cadas yang gundul, sehingga menjadi merah, sedangkan bagian barat dari lereng itu masih gelap.

Ditempat rimbun karena lebatnya pohon-pohon itu, terlihat seorang gadis berpakaian hitam, sedang memungngut ranting pohon. Dan membuatnya api unggun, lalu ia menunduk sambil mengerjakan tangannya, kiranya tiga ekor kelinci yang sudah dikuliti, disitu dan dipanggangnya agar matang merata.

Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya, tapi dari gerak geriknya dan cara ia melakukan pekerjaan itu. Tiba-tiba ia menoleh keempat penjuru sambil membentak keras, “Siapa yang datang, lekas keluar!” Berbareng dengan suaranya, lengannya melemparkan potongan ranting kesalah satu arah yang dicurigai.

“Kounio jangan marah, aku Toa Gu!”

“Aku tak kenal dengan Toa Gu, pokoknya lekas keluar!”

“Ya aku keluar!” Dan benar-benarlah Toa Gu keluar dari balik pohon, dilengannya masih menenteng rantangan makanan. “Nona jangan marah, kedatanganku kesini bukan kehendakku sendiri supekku yang menyuruh…”

“Oh…kiranya engkau.maafkan aku,” kata gadis itu.

“Oh…Kounio kenal dimana denganku?” tanya Toa Gu.

“Kenapa tidak kenal, tadi malam engkau menyerahkan pedang kepada kami masakan sudah lupa?”

“Oh.rupanya engkaulah salah seorang dari empat orang bertopeng itu? Kulihat wajahmu cukup cantik, kenapa harus ditutup-tutupi?”

“Bukan begitu, kami bermaksud tidak dikenali! Aku bernama Ciu Ceng Ceng, dan maaf atas perbuatanku tadi!”

“Tidak apa-apa!” jawab Toa Gu.

“Kemarilah kukenalkan dengan Siau cu jin (tuan muda) kami!” Toa Gu mengikuti Ceng Ceng kemulut gua, saat ini dari dalam tampak tiga orang sedang keluar. Yang satu bukan lain dari In Tiong Giok adanya, sedangkan yang berada dikiri kanannya adalah Yauw Kian Cii dan Ciu Kong. Mereka tidak mengenakan topeng lagi, Ciu Kong dan Yauw Kian Cee masing-masing memegang pedang yang tadi malam diperolehnya.

Toa Gu meletakkan rantang makanan, lalu memberi hormat dan berkata: “Aku Toa Gu memberi hormat pada In Siau hiap!”

“Tak perlu melakukan banyak hormat-hormatan, mari duduk!” katanya, “ada perlu apa Oey heng datang kesini?”

“Aku disuruh supek kemari!”

“Kenapa Cu Locianpwee tidak turut serta?”

“Katanya tidak bisa datang!”

“Kenapa?”

“Ia mengatakan tidak bisa ya tidak bisa, mana bisa kutahu! Ia menyuruhku datang kesini membawa sepucuk surat!” Segera ia menyerahkan sepucuk surat yang diambil dari dalam sakunya.

Tiong Giok segera membaca surat itu, tiba-tiba wajahnya sedikit berubah, “sudah lamakah Cu Locianpwee pergi?” tanyanya sedikit napsu.

“Ia sudah pergi sejam lamanya!”

Tiong Giok bangun dari tempat duduknya, dan mundar mandir sambil berkemak kemik: “Ai! Ada-ada saja…”

“Siau cu jin memang kenapa?” tanya Yauw Kian Cee dan Ciu Kong.

Tiong Giok tidak menjawab, ia menyerahkan surat yang dipegangnya kepada mereka. Mereka segera membaca surat itu yang berbunyi lebih kurang sebagai beerikut:

Tiong Giok sejak kita berpisah dimarkas besar Pok Thian Pang belum bertemu lagi, selama itu aku tidak bisa melupakan dirimu, tadi malam aku melihatmu tak kurang suatu apa, atas ini hatiku merasa girang. Engkau masih muda tapi memiliki kepandaian yang luar biasa membuatku yang tua ini merasa bangga sekali. Sebaiknya aku merasa sedih dan malu sendiri mau menyerah dan tunduk pada orang-orang Pok Thian Pang. Maka itu aku tak mempunyai muka bertemu denganmu, sungguhpun begitu perasaan hatiku ingin menyampaikan beberapa perkataan padamu, maka menyuruh orang ini membawa surat. Harap engkau jangan berkecil hati padaku dan merasa benci. Apa yang kuperbuat ini pada suatu hari engkau akan tahu sendiri, karena saat sekarang kaum kang ouw yang sejati masih terlalu lemah dan tak berdaya atas kekuatan kaum Pok Thian Pang. Besar harapanku engkau dengan pedang pusaka yang baru dimiliki ini bias melakukan suatu pekerjaan besar dan membebaskan kembali orang-orang kang ouw dari tekanan kaum Pok Thian Pang. Mengenai soal Thay Cin Tojin perlu kuberikan penjelasan agar kau tidak terus-terusan membencinnya. Ia berlaku demikian semata-mata bisa mendapat kepercayaan penuh orang Pok Thian Pang, padahal dibalik itu ia mengganggu terus orang Pok Thian Pang dari dalam. Mungkin engkau masih ingat cerita penterjemah bahasa Sangsekerta yang mati terbunuh dengan misterius di villa tenang bukan? Semua itu adalah kerja Thay Cin Tojin ini, demikian pula kita hampir-hampir dicelakakan karena dikiranya engkau sungguh-sungguh mau melakukan pekerjaan itu. Ia sangat hati-hati sekali, sampai kita menganggap dia sudah tak guna dan mau menjadi anjing Pok Thian Pang. Setelah aku jadi anggota, beberapa lama adanya dia baru menceritakan kandungan hatinya. Hebat bukan?

Disamping itu mungkin ada suatu hal yang perlu kujelaskan juga kepadamu: yakni soal saudagar Cian yang terkena racun dilosmen Hiong hian can. Cian itu bukan lain diriku sendiri. Waktu Lie Keee Cie si Tongleng jahanam itu mendapat tugas bersama-sama dengan Sam Kui mengejar dirimu, aku sangat kuatir sekali. Maka dengan tipu daya dan ilmu menyamar, kubunuh Tongleng itu sedangkan aku menyamar sebagainya mengikuti Tok Kay Pong dan kawannya menuju ke Tiat Po.

Sesampainya di Hui hui cun aku keluar dari losmen Hiong hin can dengan alas an menyelidiki keadaan padahal aku pergi menyamar sebagai saudagar Cian agar bisa memberikan bantuan kepadamu dengan leluasa. Akalku ini berhasil dan bisa mengelabui mereka dan menolongmu berikut Tong Cian Lie. Saat itu aku tak bisa menemuimu karena engkau bersama Tong Cian Lie yang bertabiat berangasan aku kuatir ia tak mengerti kenapa aku menjadi anggota Pok Thian Pang sehingga timbul keruwetan yang tidak berguna. Maka aku berlalu dengan begitu saja!

Engkaupun rupanya masih penasaran kenapa seorang bertabiat keras sebagaiku mau menjadi anggota Pok Thian Pang juga, karena soal Pek Kiam Hong seorang.

Anak ini perlu dikasihani, jika dihari kemudian engkau menemui didunia Kang Ouw harap perhatikanlah! Sementara aku tak mau menjelaskan dulu hal dia ini sejelas-jelasnya, sebelum kaum Pok Thian Pang hancur!

Sedangkan Oey Toa Gu ini karena soal pedang pusaka menjadi musuh orang kang ouw untuk keselamatannya dia ini, sukalah engkau menerimanya sebagai pembantumu. Ia sangat jujur dan memiliki bakat yang baik, mungkin bisa berguna dihari kemudian.

Kepandaianmu kian hari kian maju, ditambah dengan dua bilah pedang pusaka, tak ubahnya sangat cemerlang sekali. Untuk ini aku bersyukur. Tapi engkaupun harus ingat janganlah kepandaian itu untuk melakukan hal yang merugikan dunia kang ouw! Engkau harus bangkit dan berjuang demi keamanan dan ketenangan dunia kang ouw!

Kini engkau berada didalam gua batu sebelah barat! Jika sempat masuklah terus kesebelah dalam, mungkin engkau akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa! Nah suratku sampai disini saja!

Yauw Kian Cee dan Ciu Kong dengan cepat membaca habis surat itu, lalu mengembalikan lagi pada In Tiong Giok. “Heran, memang apa hubungannya antara dia dengan Pek Kiam Hong,” kata Yauw Kian Cee.

“Sewaktu bersama-sama denganku dimarkas pusat Pok Thian Pang, ia berkeras ingin menghajar Thay Cin Tojin, dan mengamuk dengan mati-matian menghajar orang Pok Thian Pang tapi entah kenapa setelah Pangcu dan Pek Kiam Hong menemuinya, ia mau tunduk dan menjadi anggota Pok Thian Pang? Sayang dalam hal ini ia tidak menjelaskan!”

“Sabar saja, nantipun kita bakal tahu sebab musababnya ia berlaku demikian,” kata Ciu Ceng Ceng.

“Sejak aku mengeram setahun lebih di Cu Cing San, guna mempelajari ilmu silat, soal dunia kang ouw tidak kutahu lagi, ingin aku bertemu dengan Cu Lo Cianpwee untuk menanyakan ini itu, sayang ia sudah pergi!”

“Ya banyak jago-jago semacam Cu Lit mau menjadi anggota Pok Thian Pang karena soal Pek Kiam Hong, kita bisa mengetahui sebabnya jika bertemu Pek Kiam Hong sendiri!” kata Yauw Kian Cee.

“Ia sendiri tidak mengetahui asal usulnya dirinya sendiri, mana ia tahu soal orang lain?” kata In Tiong Giok.

Membicarakan soal Pek Kiam Hong membuat In Tiong Giok ingat pada Wan Jie, kekasihnya yang sudah lama ditinggalkannya. Membuatnya menarik napas!

“Siau cu jin kenapa menarik napas?” tanya Ciu Ceng Ceng.

“Aku menarik napas lega dan bukan menarik napas sesak! Pikirlah Cu Lo Cianpwee sudah berhasil keluar dari Pok Thian Pang. Dan kita tidak perlu memikirkannya lagi, yang penting kita menurut suratnya, menyelidiki keadaan didalam gua ini.”

“Gua ini sangat dalam, demi keselamatan Siau cu jin ijinkanlah kami turut serta melakukan penyelidikan!” kata Ciu Kong.

“Lo Cianpwee tidak perlu khawatir, bahaya yang bagaimana besarpun bisa kuhadapi!” kata In Tiong Giok.

“Tapi sebaiknya kita menyelidiki beramai-ramai!” kata Yauw Kian Cee.

“Tak usah! Sebaiknya Jie wie Lo Cianpwee menjaga gua ini, biarkan aku bersama Ceng Ceng yang melakukan penyelidikan.”

“Tia tia legakanlah hatimu, dengan adanya aku disamping Siau cu jin, aku jamin segalanya beres…” Kata Ceng Ceng.

“Hmm, kamu…” Dengus Ciu Kong sambil mendelik dengan sebelah matanya tanpa melanjutkan kata-katanya.

“Kurasa Ceng Ceng cukup untuk mendampingi Siau cu jin!” kata Yauw Kian Cee. “Tetapi untuk membuat kami tenang, sebaiknya dibatasi waktu untuk menyelidiki itu, misalnya satu jam atau dua jam, bilamana dalam waktu itu belum kembali, kami bisa masuk kedalam!”

“Begitupun baik!” kata In Tiong Giok.

Tua dan muda masing-masing duduk makan bawaan Toa Gu, setelah itu mereka beristirahat sejenak. In Tiong Giok dan Ciu Ceng Ceng segera memasuki gua yang dalam itu.

Keadaan dalam gua lebih lebar dari luarnya, begitu masuk beberapa meter, terdapat sebuah kamar, disitu terdapat kursi dan meja batu, tadi malam Tiong Giok berempat setelah mendapat pedang bermalam disitu. Dibawah kamar gua itu terdapat sebuah pintu yang hitam, inilah jalan yang bisa menembus kedalam lambung gunung. In Tiong Giok dan yang lainnya belum pernah mencoba masuk kedalam.

Begitu Tiong Giok dan Ceng Ceng masuk kedalam Yauw Kian Cee dan Ciu Kong segera menjaga pintu itu dikiri dan dikanan. Sedangkan Toa Gu bertugas sebagai pengintai diluar gua.

Keadaan didalam gua gelap sekali, mereka melangkah hati-hati dan meraba-raba dinding gua. Soal yang membuat kaget semakin masuk semakin dingin, lain dengan keadaan di kamar di sebelah luar. Dengan menggertakkan gigi dan menyalurkan hawa sejatinya Tiong Giok menahan serangan dingin itu. “Biasanya keadaan didalam gua amat panas, tak kira ini sebaliknya, begini dingin sekali rasanya, kita harus berlaku waspada sekali!”

“Untukku keadaan gua yang begini tak heran lagi!” kata Ciu Ceng Ceng. “Sebaiknya aku yang jalan dimuka guna membuka jalan!”

“Begitupun baik!” kata Tiong Giok. Mereka berjalan terus didalam gelap berkat bantuan kedua pedang pusaka yang memancarkan sinar putih dan merah.

“Aneh aku sebaliknya merasa hangat!” kata Ciu Ceng Ceng.

“Ditempat begini engkau jangan bergurau!” kata In Tiong Giok.

“Jika engkau benar dingin, berikanlah aku jalan dimuka, untuk membuka jalan!”

“Begitupun baik!” kata In Tiong Giok.

“Pedang ini ada dua, sebaiknya kita membawa seorang sebilah!” kata Ceng Ceng sambil menyerahkan pedang yang memancarkan sinar merah kepada Tiong Giok, begitu pedang itu berada ditangan Tiong Giok ia merasakan hawa hangat yang nyaman sekali, rasa dinginnya segera hilang tanpa terasa, kini ia mau percaya apa yang dikatakan Ceng Ceng.

Dengan bantuan sinar pedang pusaka itu mereka masuk terus, gua itu sebentar belok kekiri sebentar belok kenanan, berliku-liku sekali. Setelah mereka menempuh perjalanan jauh, anehnya mendapatkan dirinya berada ditempat semula waktu mau memasuki gua itu. “Heran, jalan gua toh cuma satu, kita kenapa bisa kembali lagi kesini?”

“Ah rupanya engkau keliru, kita tidak kembali lagi ketempat semula, hanya saja tempat ini serupa dengan yang didepan!” kata In Tiong Giok. “Buktinya kalau kita kembali lagi ketempat semula, tentu disitu ada Yauw dan Ciu Lo Cianpwee!”

“Benar,” kata Ciu Ceng Ceng, “tempat ini serupa betul dengan yang didepan, entah sudah berapa banyak orang yang tertipu ditempat ini!” sehabis berkata ia membungkukkan badan mencelos kedalam pintu.

“Hati-hati!” kata In Tiong Giok.

“Jangan kuatir!” kata Ceng Ceng seenaknya.

Tapi begitu iaberkata, lantas menjerit ketakutan, tubuhnya terjengkang kebelakang. Dengan tangkas Tiong Giok menanggapi tubuh si gadis dan cepat-cepat membawa keluar lagi. Ia mengawasi kearah pintu dengan siap sedia, tapi keadaan tetap seperti semula, sedangkan Ceng Ceng masih tetap dalam ketakutan.

“Apa yang kau lihat?” tanya Tiong Giok.

“Didalam ada orang……Oh, bukan orang….makhluk aneh….”

“Hm. Rupanya engkau yang sudah biasa menjadi “setan” di Cu cing san dan pernah menakut-nakuti kini kena batunya!”

“Siau cu jin engkau jangan bergurau lagi ini…benar-benar!”

“Samakah bentuknya dengan setan di Cu cing san?”

“Lain! Bentuknya sukar kukatakan, begitu melihat rohku hampir hilang, tidak bisa melihat dengan tegas.”

“Jika begini batallah tugasmu sebagai pengawalku bukan?”

“Masih tetap!” kata Ciu Ceng Ceng sambil menenangkan pikirannya.

“Diamlah disini, biar aku yang hadapi!”

“Tidak boleh! Jika Siau cu jin kenapa-napa bagaimana aku harus bertanggung jawab pada ayahku?”

“Ceng Ceng kau tak perlu kuatir! Bilamana gua ini berbahaya, tentu Cu Lo Cianpwee akan menerangkan dalam suratnya. Lagipula dengan pedang pusaka dan kepandaian yang kumiliki, kiranya sudah cukup menghadapi segala bahaya!”

“Tapi sebaliknya aku saja yang masuk lagi.”

“Jangan!” kata Tiong Giok, “pikiranmu sudah kalut, bisa-bisa merepotkan aku!”

“Tapi tugasku sebagai pengawal bukan?”

“Hm, itu tugas dari ayahmu, aku sebagai Ciang bun jin mencabut tugas itu dan menjadikan engkau seorang pengiring saja!”

“Kalau begitu aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi!” kata Ceng Ceng.

“Sekarang kutugaskan kau menjaga pintu ini, aku mau masuk!” kata Tiong Giok.

“Aku menurut! Sebaiknya pedang ini kau bawa dua-duanya!”

“Ya,” kata Tiong Giok, “jika makhluk itu lari keluar, tangkaplah! ” Sehabis berkata ia menghirup hawa dan terus merapat kepintu sambil memasang telinga, sedikitpun ia tidak mendengar suara apa-apa, kedua pedangnya dipegang dengan tangan kiri, sedangkan lengan kanannya mengeluarkan jarinya “Hiat cie leng” nya yang ampuh dilancarkan kedalam, sedangkan pedangnya diputarkan, tubuhnya membarengi masuk kedalam. Keadaan tetap tidak berubah, ia masuk dengan aman tanpa sesuatu gangguan. Dengan penuh perhatian ia memandang sekeliling, saat inilah ia mendengar suara halus seperti bunyi nyamuk: “Anak muda gegabah betul, masuk-masuk kesini?”

In Tiong Giok menjadi kaget, dan matanyapun segera melihat sebuah ranjang salju yang putih, diatasnya terlihat seorang yang tidak mengenakan pakaian sedikitpun. Tubuhnya begitu kurus, kepalanya botak, usianya sudah tua sekali. Yang membuat orang heran, tubuh orang tua itu hampir merupakan lingkaran bulat, karena kedua kakinya melengkung kebelakang dan berada dipundaknya, dan dengan kedua tangan dan perutnya menahan tubuhnya itu. Tampaknya seperti makhluk aneh, tak heran membuat Ceng Ceng ketakutan.

Tiong Giok memberanikan diri maju kedepan sambil memberikan hormat: “Lo Cianpwee, sebenarnya engkau siapa, dan kenapa bisa berada disini?”

Dengan kedua matanya yang tajam, orang tua itu memandang Tiong Giok penuh perhatian. “Ini adalah tempat persembunyianku! Engkau sangat gegabah masuk kesini, dengan tujuan apa?”

“Aku hanya kebetulan saja menemukan gua dilereng gunung ini, sekali-kali tidak mengetahui bahwa tempat ini adalah tempat pertapaan Lo Cianpwee!”

“Hm, kenapa engkau tidak mengatakan, kedatanganmu kesini atas petunjuk pengemis itu?”

In Tiong Giok menjadi melengak, tapi dengan cepat ia menganggukkan kepala. “Benar! Semua ini adalah Cu Lo Cianpwee yang memberi tahu, tapi ia tidak mengatakan tempat ini didiami orang!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: