Kumpulan Cerita Silat

17/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (13)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:47 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (13)
Oleh Gu Long

“Ya, lekas kita pergi,” sahut Ciu Hong. “Memangnya kau pun ingin melihat jurus maut gaetan Han It-kau dan merasa berat untuk tinggal pergi?”

Po-ji tersenyum, “Kutahu jurus gaetan itu tak dapat kulihat hari ini. Kan Han It-kau sudah tahu Thi-kim-to telah belajar cara mematahkan jurus serangannya itu, jika sekarang kembali ia gunakan jurus andalannya itu kan berarti dia terlampau tolol …. Dan kuyakin Han It-kau pasti bukan orang tolol dan jurus serangannya itu hari ini pasti takkan dikeluarkan.”

“Anak baik, makin lama kau tambah pintar,” Ciu Hong mengangguk dengan tertawa. “Maka lekas kita pergi saja, apa pun jangan kau tanya padaku sekarang, nanti saja kalau mau bicara lagi.”

Meski dalam benak Po-ji penuh tanda tanya, namun dia sudah percaya penuh kepada Ciu Hong, segera ia menarik Thi-wah dan memberi tanda jari di bibir, maksudnya supaya bocah gede itu jangan bersuara.

Mulut Thi-wah mestinya sudah mengap, tapi urung bersuara ketika melihat isyarat Po-ji itu.

Orang banyak sama berkerumun di dekat jendela maka mereka bertiga dapat mengeluyur pergi di luar tahu siapa pun.

Po-ji merasa heran, “Ciu-loyacu sendiri tidak mau menarik Thi-wah melainkan menyuruh aku, tentunya karena ia tahu Thi-wah cuma tunduk kepada ucapanku, bila kutarik dia, tanpa bersuara dia akan menurut. Sebaliknya jika Ciu-loyacu yang menarik dia, pasti Thi-wah akan tanya, dan sekali kerongkongan Thi-wah yang keras itu berbunyi, tentu suaranya akan mengejutkan orang lain. Apabila soal sekecil ini saja dapat diperhitungkan dengan cermat oleh Ciu-loyacu, ini menandakan maksudnya mengajak pergi pasti bukan untuk main-main saja.”

Begitulah mereka terus menuju ke kota Bu-jiang, setiba di dalam kota, akhirnya Thi-wah buka mulut, “Di sana sedang ramai dengan tontonan menarik, mengapa kita malah menuju ke sini?”

Ciu Hong sengaja tanya Po-ji, “Ya, apa sebabnya, apakah kau tahu?”

“Tadi aku merasa heran, tapi sekarang sudah dapat kuketahui. Tentunya Loyacu khawatir ditahan oleh Ban-tayhiap dan lain-lain, maka sengaja mengeluyur pergi secara diam-diam.”

“Dan apakah kau tahu sebab apa aku tidak suka ditahan mereka di sana?” tanya Ciu Hong.

“Ini … ini ….”

“Soalnya kukhawatir Ong Poan-hiap dan Ong-toanio yang sudah pergi itu putar balik lagi,” tutur Ciu Hong dengan gegetun. “Aku pun khawatir Kim-ho-ong itu mendengar berita tentang dirimu dan memburu tiba, malahan aku pun khawatir orang lain mengetahui ilmu silatku sebenarnya sudah punah. Lantaran ketiga kekhawatiran itulah, maka kita harus cepat pergi dari sana.”

“Loyacu bilang … bilang ilmu silatmu ….” tanya Po-ji dengan melongo.

“Ya, ilmu silatku sudah punah,” tukas Ciu Hong.

“Ketika mendengar suara gertakanku tadi, orang lain tentu mengira Lwekangku mahasakti melebihi masa lampau. Padahal yang benar Lwekangku sudah lama buyar, walaupun dengan giat kulatih lagi sekian tahun, paling banyak juga cuma dapat kuhimpun tenaga untuk sementara saja, setelah suara gertakan keras itu, habis pula tenagaku, mana sanggup kugebrak lagi dengan orang. Bilamana tadi Ong Poan-hiap tidak gentar kepada perbawaku masa lampau, saat ini jiwaku mungkin sudah melayang.”

Terkesima Po-ji mendengarkan cerita Ciu Hong, dalam hati timbul perasaan yang sukar dijelaskan.

Selang sejenak barulah ia berbicara dengan muram, “Jika demikian, jadi Po-ji malah membikin susah padamu. Bila Po-ji tidak memaksa Ciu-loyacu tampil ke depan, tentu tidak ada yang tahu penipu dunia Kangouw yang dibenci adalah jago nomor satu masa lampau.”

Siapa tahu Ciu Hong lantas mendongak dan tertawa, katanya, “Selama belasan tahun baru tadi aku melakukan sesuatu yang menyenangkan, tekanan batin selama ini baru sekarang terlampias. Kenapa kau menyesal malah bagiku?”

“Tapi … tapi seterusnya Loyacu justru akan menanggung risiko akan dikejar musuh,” ujar Po-ji. “Dan bukankah semua itu gara-garaku?”

“Haha, bilamana aku mau menyembunyikan diri, memangnya siapa yang mampu menemukan aku?” kata Ciu Hong dengan tergelak.

Melihat keterbukaan hati orang tua itu, Po-ji merasa senang juga, katanya pula, “Selanjutnya, ke mana pun Loyacu pergi, ke situ pula Po-ji dan Thi-wah akan ikut untuk menghiburmu. Jika iseng, mohon Loyacu sudi mengajarkan ilmu pedang yang tiada taranya itu kepada Po-ji, dan tujuh tahun kemudian Po-ji berjanji akan menghalau si baju putih itu ke laut.”

Ciu Hong tersenyum, “Setan cilik, dari mana kau tahu pula akan kuajarkan ilmu pedang padamu?”

Po-ji berkedip-kedip, ucapnya perlahan, “Ketika kulihat surat wasiat tinggalan Ci-ih-houya kepadaku, semula aku merasa berat, sebab surat wasiat itu pada hakikatnya tiada tertulis satu huruf pun melainkan terlukis banyak lingkaran-lingkaran, biarpun malaikat dewata juga tidak dapat menerka apa arti lingkaran itu, lalu ke mana aku disuruh mencari orang yang dimaksud?”

“Memangnya sekarang hal itu sudah dapat kau terka?” tanya Ciu Hong.

“Sekarang kutahu, surat wasiat itu hanya sekadar digunakan untuk menghibur hati Ci-ih-houya saja,” ujar Po-ji dengan tersenyum. “Padahal Loyacu senantiasa berada di tengah khalayak ramai dan setiap saat pun mengawasi gerak-gerik Houya. Pada waktu apa pun bila Houya menyuruh orang mencari Loyacu, segera Loyacu mendahului mencari dia, sebab itulah meski Po-ji tidak berhasil menemukan Loyacu, namun Loyacu sendiri sudah menemukan Po-ji. Lingkaran-lingkaran besar kecil yang terlukis dalam surat wasiat itu justru melambangkan jejak Loyacu yang sukar diduga, tapi sebenarnya tetap berada di tengah khalayak ramai.”

“Sungguh anak yang pintar,” kata Ciu Hong dengan tertawa. “Mungkin di dunia ini tidak ada anak pintar kedua serupa dirimu. Ai, jika ada seorang anak cerdas serupa dirimu yang ingin mewarisi ilmu pedangku, memangnya apa pula yang perlu kupikirkan?”

Bangga juga Po-ji dipuji orang tua itu, katanya, “Tapi anak pintar di dunia ini sesungguhnya masih banyak, umpama … umpama Siaukongcu itu ….”

Tiba-tiba teringat olehnya nasib Siaukongcu yang jatuh dalam cengkeraman kaum iblis dan belum diketahui mati-hidupnya, mau tak mau ia menjadi berduka.

Mendadak Thi-wah berteriak, “Meski Thi-wah anak bodoh, tapi setelah ikut Toako sekian lama, tanpa terasa aku pun tambah pintar, mohon Loyacu juga mengajarkan sedikit kungfu kepadaku. Thi-wah tidak mengharapkan banyak, cukup beberapa jurus saja.”

“Baik,” seru Ciu Hong sambil tertawa. “Selanjutnya bolehlah kita mengasingkan diri untuk sementara waktu, bilamana kungfu kalian sudah berhasil kalian latih tentulah kita berkecimpung di tengah dunia Kangouw lagi.”

Terbangkit semangat Po-ji, serunya, “Lantas kita akan ke mana sekarang?”

“Setiap tempat di dunia ini dapat kita tuju ….” kata Ciu Hong, mendadak ia bersuit panjang, lalu berkeplok dan berdendang.

Tentu saja orang ramai di tengah jalan sama melenggong melihat kelakuan orang tua ini.

Ciu Hong membawa Po-ji dan Thi-wah menerobos di antara orang banyak dan menyusuri jalanan kecil, tidak lama kemudian menghilanglah mereka dari khalayak ramai ….

*****

Sang waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa lima tahun sudah lalu sejak pertemuan di Wi-ho-lau.

Selama lima tahun, banyak perubahan di dunia Kangouw, baik manusianya maupun peristiwanya, sukar untuk dicatat satu per satu.

Pertarungan antara Thi-kim-to dan Han It-kau di tepi pantai Wi-ho-lau lima tahun yang lalu ternyata berakhir seri, sebab sesuai dengan dugaan Po-ji, jurus maut Han It-kau itu tetap tidak digunakan. Sejak itu Thi-kim-to dan Han It-kau lantas menghilang kedua-duanya, apakah selanjutnya mereka pernah perang tanding atau tidak tiada seorang pun yang tahu.

Kedudukan Pangcu Kay-pang tetap lowong, Yap Ling untuk sementara diangkat menjadi pejabat ketua. Sebab tiada seorang kesatria Kangouw yang sanggup memikul tugas berat itu. Sedangkan Pangcu yang lama, yaitu Cukat Tong tetap tidak diketahui jejaknya.

Di sepanjang Tiangkang senantiasa ada anggota Kay-pang yang kian kemari mencari Cukat-pangcu mereka, setiap kali mereka menunggang kapal ke hilir, di puncak suatu bukit di tepi sungai sering terlihat berdiri dua orang perempuan berbaju hijau, rambut mereka yang panjang terurai dan berkibar tertiup angin, begitu pula ujung baju mereka, sehingga dipandang dari jauh laksana dewi kahyangan yang turun ke bumi.

Akan tetapi bila dipandang dari dekat, dari sorot mata mereka yang sayu dan memandang termenung ke hilir sungai yang jauh, rasanya mereka seperti sedang menunggu pulangnya seseorang. Bila melihat kedua orang perempuan itu, kawanan pengemis tentu akan bisik-bisik membicarakan mereka, “Konon yang sebelah kiri itu adalah pemimpin Thian-hong-pang yang bernama Kiang Hong dan dahulu pernah malang melintang di dunia Kangouw ….”

“Ya, peribahasa bilang ombak sungai Tiangkang dari belakang mendorong ke depan, orang baru selalu menggantikan orang lama, hal ini memang tidak salah sedikit pun. Melihat kesepiannya sekarang, siapa pula yang pernah membayangkan betapa perkasanya masa lampau?”

Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa Kiang Hong dan Gu Thi-lan, yaitu kedua perempuan yang berdiri di atas puncak itu, meski merasa kesepian, namun perasaan mereka justru sangat tenang dan tenteram, sebab mereka yakin pada suatu hari akhirnya Po-ji dan Thi-wah pasti akan pulang.

Sementara itu jarak waktu dengan janji kedatangan kembali si tokoh berbaju putih itu sudah semakin dekat.

Setiap kali berganti tahun, perasaan setiap orang Kangouw tentu bertambah tegang, sebab bila tiba waktunya, pertarungan yang akan terjadi tidak cuma bersangkutan dengan darah dan jiwa orang Kangouw, bahkan juga menyangkut nama dan kehormatan dunia persilatan Tionggoan. Umumnya para kesatria Kangouw memandang ringan darah dan jiwa, sebaliknya lebih mementingkan nama dan kehormatan.

Dugaan Ting-lohujin alias Liu Ih-jin ternyata meleset, selama lima tahun ini dunia Kangouw tidak terjadi kekacauan, sebab hampir segenap orang Kangouw sama giat berlatih dan siap menghadapi si tokoh baju putih, siap bertempur demi kehormatan dunia persilatan daerah Tionggoan, biarpun untuk itu mereka harus mencucurkan darah dan kepala terpenggal juga rela.

Sayangnya, selama lima tahun ini dunia persilatan ternyata tidak pernah muncul sesuatu bintang cemerlang.

Meski banyak juga jago angkatan muda yang muncul di dunia Kangouw, tapi bila dibandingkan dengan mendiang Ci-ih-hou jelas selisih sangat jauh, lalu cara bagaimana akan mampu menandingi si tokoh baju putih?

Sedangkan jago angkatan tua serupa In-bong-tayhiap Ban Cu-liang memang namanya semakin menanjak namun ilmu silatnya juga terbatas begitu-begitu saja tanpa kemajuan yang berarti, soalnya dia terlalu banyak ikut campur urusan sehingga tidak ada waktu untuk berlatih.

Dan secara umum, tokoh dunia persilatan Tionggoan sekarang tetap tidak banyak yang dapat melebihi Ban Cu-liang, Ban-tayhiap.

Sebab itulah para kesatria yang sudah tua terpaksa menaruh harapan pada kemunculan tokoh muda yang tak kunjung muncul serupa dalam dongeng belaka.

Cuma akhir-akhir ini tersiar pula desas-desus yang semakin meluas, katanya Ci-ih-hou belum meninggal melainkan masih hidup bebas di lautan sana dan siap menghadapi si jago baju putih pula.

Desas-desus itu berdasarkan berita yang menyatakan ada kaum pelaut yang pernah melihat kapal berlayar pancawarna yang pernah menggetarkan nyali setiap jago Kangouw itu. Akan tetapi cerita ini sukar dipercaya karena tidak ada bukti nyata, namun si pelaut menyatakan berani sumpah benar-benar telah melihat kapal layar pancawarna itu. Sebab itulah berita masih hidupnya Ci-ih-hou lantas tersebar lagi dan menggemparkan.

Walaupun berita yang belum terbukti, namun sedikit-banyak dapat menghibur hati para kesatria yang putus asa, hanya dengan demikian tekanan batin mereka bisa agak longgar, dengan begitu juga timbul harapan baru mereka dan melenyapkan sedih mereka.

Akan tetapi bagi jago muda berita ini masuk dari telinga kiri segera keluar lagi melalui telinga kanan, darah panas mereka bergolak, dan mereka mempunyai perhitungannya sendiri untuk menghadapi musuh yang akan datang, untuk itu mereka malahan siap untuk berlomba untuk mendapatkan hak lebih dulu.

Tentu saja jago angkatan tua sama menggeleng kepala melihat jago muda yang tidak kenal apa artinya takut serupa anak banteng itu, meski mereka pun saling memperingatkan lawan yang akan dihadapi itu bukanlah tokoh sembarangan, meski semangat tempur mereka harus dipuji, tapi belum apa-apa sudah saling bertengkar sendiri, kan terlalu bodoh.

Akan tetapi anak muda dengan darah muda, sukar untuk merintangi kehendak mereka. Diam-diam mereka sepakat pada tanggal delapan bulan 12 akan berkumpul di puncak Thay-san untuk bertanding, ingin memilih juara yang berhak bertanding pertama kali dengan jago baju putih itu.

Jago angkatan tua tak berdaya mencegahnya meski menyadari darah pasti akan berhamburan pula di puncak Thay-san.

Tampaknya bulan 12 sudah hampir tiba. Pada saat itulah dunia persilatan kembali terjadi suatu peristiwa besar yang mengguncangkan.

Rupanya antara ketujuh perguruan besar, yaitu Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Tiam-jong, Kong-tong, Hoa-san dan Wi-yang-pay, mereka telah mengumumkan pada waktunya juga akan mengutus salah seorang murid andalan masing-masing untuk ikut pemilihan, juara yang berhak menghadapi jago pedang berbaju putih.

Bahwa ketujuh perguruan terkemuka itu mengutus murid andalan masing-masing ke dunia Kangouw sebenarnya adalah kejadian biasa, cuma biasanya hal ini tidak pernah diumumkan secara terbuka. Tapi sekarang hal ini diumumkan secara resmi, jelas ini menandakan ketujuh murid yang diutus keluar itu bukan anak murid biasa. Dengan sendirinya pula orang Kangouw sama ingin tahu tokoh macam apakah ketujuh murid wakil ketujuh perguruan besar itu.

Tatkala itu In-bong-tayhiap Ban Cu-liang sudah menerima berita kilat dari ketua Siau-lim-pay, yaitu Bu-siang Taysu. Berita ini disampaikan berkenaan dengan rasa sangsi yang tersiar di dunia Kangouw itu.

Surat Bu-siang Taysu itu berisi keterangan bahwa ketujuh murid dari ketujuh perguruan besar yang dikirim ke dunia Kangouw untuk siap menghadapi kedatangan si tokoh berbaju putih itu asalnya adalah anak murid Jing-peng-kiam-kek Pek Sam-kong, kini pelajaran ketujuh murid itu sudah tamat, bahkan kepandaian mereka tidak di bawah guru masing-masing, tekad mereka pun bulat untuk menghadapi musuh sesuai pesan Pek Sam-kong dahulu. Maka Ban-tayhiap diminta ikut membimbing ketujuh murid itu supaya kelak berguna bagi dunia persilatan umumnya.

Lebih jauh Bu-siang Taysu memberi daftar nama ketujuh murid itu sebagai berikut:
1. Kongsun Put-ti dari Bu-tong-pay
2. Kim Put-we dari Go-bi-pay
3. Ciok Put-wi dari Tiam-jong-pay
4. Gui Put-tam dari Kong-tong-pay
5. Sebun Put-jiok dari Hoa-san-pay
6. Nyo Put-loh dari Wi-yang-pay dan
7. Bok Put-kut dari Siau-lim-pay

Surat itu meski hanya dibaca oleh Ban Cu-liang dan beberapa kawan dekatnya, tapi isi surat itu segera tersebar luas, hanya dalam setengah bulan hampir seluruh Kangouw sudah sama tahu hal tersebut.

Bu-siang Taysu adalah seorang padri saleh yang lebih mengutamakan agama daripada ilmu silat, maka beliau selamanya tidak suka ikut campur seluk-beluk urusan Kangouw, namun semua itu tidak mengurangi penghormatan orang terhadapnya, setiap katanya tentu juga sangat dapat dipercaya. Sekarang dalam suratnya ia sengaja menonjolkan ketujuh jago muda dari ketujuh perguruan besar itu, tentu saja kualitas ketujuh orang itu tidak perlu disangsikan lagi.

Kini ketujuh jago muda itu menjadi pusat perhatian dan harapan setiap orang persilatan. Sementara itu ketujuh orang ini diam-diam sudah datang di tempat kediaman In-bong-tayhiap, Ban Cu-liang.

Di barat daya pegunungan Tong-koan-san, hutan lebat memanjang melingkari lereng gunung. Pepohonan itu kebanyakan sejenis cemara, waru dan sebagainya sehingga meski sudah dalam musim rontok masih tetap menghijau permai.

Dipandang dari jauh hutan lebat itu seperti jauh dari keramaian dunia, tapi bila didekati akan terdengarlah ingar-bingar ringkik kuda dan suara manusia berkumandang dari kedalaman hutan.

Jika maju lagi menyusuri hutan, akan terlihatlah di samping jalan ada sebuah batu serupa tugu yang tertulis: “Tanah hutan keluarga Kim, turun-temurun menjadi pusaka keluarga, orang luar dilarang masuk.”

Menjelang senja, satu rombongan orang tiba di luar hutan lebat itu, seolah memeriksa sekadarnya, lalu masuk menerobos hutan. Seorang lelaki kekar berbaju hijau berjalan mendahului di depan. Dia tak-lain-tak-bukan adalah In-bong-tayhiap Ban Cu-liang.

Tujuh orang pengikutnya terdiri dari macam-macam bentuk, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang kurus dan ada yang gemuk, ada padri ada preman, semuanya berjalan beriring teratur. Sikap mereka seperti cukup akrab, tapi juga seperti agak renggang. Ketujuh orang berjalan dengan diam dan menunduk serupa orang yang dirundung kesedihan.

Tidak jauh di tengah hutan, samar-samar terlihat di tengah hutan terdapat banyak bangunan rumah yang indah, dibangun di balik aling-aling pepohonan dengan tata taman yang serasi.

Namun kedelapan orang tampaknya tidak punya pikiran untuk menikmati pemandangan, tujuan mereka ingin mencari orang.

Mendadak dua lelaki kekar berbaju satin menerobos keluar dari balik hutan sana dan mengadang di depan mereka sambil menegur, “Tempat ini merupakan daerah milik pribadi dan dilarang untuk umum, apa maksud kedatangan kalian?”

“In-bong Ban Cu-liang datang mengunjungi Kim-siauhiap,” sahut Ban-tayhiap.

Kedua pengadang itu semula bersikap angkuh dan menegur dengan ketus, demi mendengar nama Ban Cu-liang, seketika sikap mereka berubah, dengan hormat seorang di antaranya berkata pula, “Majikan muda sejak lewat tengah hari asyik mencari kemabukan, meski masih berada di tengah hutan ini, namun tidak diketahui berada di mana.”

Lalu seorang lagi menukas, “Bilamana Ban-tayhiap sudi menunggu, silakan mampir dulu di rumah sebelah sana, biar hamba pergi mencari Siauya, rasanya takkan makan waktu terlampau lama.”

Jelas kedua orang ini adalah kaum hamba keluarga hartawan yang sudah terlatih, maka mereka dapat menghadapi tetamu tanpa kikuk.

Ban Cu-liang berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Jika begitu, kan lebih baik harap kalian membawa kami pergi mencari Kim-siauhiap, entah boleh tidak?”

“Jika demikian kehendak Ban-tayhiap, tentu saja hamba menurut,” sahut salah seorang lelaki itu.

Segera kedua orang itu mendahului di depan sebagai penunjuk jalan diikuti rombongan Ban Cu-liang, mereka tetap berjalan menurut urutan dan tetap menunduk diam tanpa bersuara.

Di mana berlalu, banyak penghuni perumahan sama melongok keluar, tapi semuanya cuma memandang dengan tersenyum, tidak ada yang menegur sapa.

Di tengah hutan juga sering ada orang berlalu, semuanya berbaju perlente dan wajah berseri, suasana dalam hutan juga tenteram, pepohonan terawat dengan baik dan rajin sehingga membuat orang yang berdiam di situ merasa kerasan.

Diam-diam Ban Cu-liang membatin, “Kusangka Kim Co-lim cuma seorang pemuda yang sok mabuk-mabukan, siapa tahu hidupnya juga mengutamakan ketenteraman lingkungan.”

Tambah lebat hutan di depan sana. Tiba-tiba berkumandang suara nyanyian dari balik pepohonan sana.

“Itu dia suara Siaucujin kami,” kata salah seorang lelaki tadi dengan gembira.

Setelah menerobos lagi ratusan pohon, terlihatlah seorang dengan kepala terjungkir ke bawah, serupa kalong saja bergelantungan di dahan pohon, kedua kakinya yang telanjang menggantol pada dahan, tubuhnya terayun perlahan, bajunya yang longgar tersingkap ke bawah sehingga menutupi mukanya.

Dengan sendirinya Ban Cu-liang dan lain-lain tidak dapat melihat jelas wajah orang, tapi melihat tangannya yang masih memegang kantong arak terbuat dari kulit kambing yang biasa digunakan orang Mongol, berulang kantong arak dituangkan ke mulut yang tertutup kain baju, maka setiap orang dapat menduga dia pasti majikan muda keluarga Kim yang kaya raya yang terkenal dengan senjata tombaknya, yaitu Kim Co-lim yang berjuluk si Panglima Cilik Pemabuk.

Ban Cu-liang tertawa dan menegur, “Berpisah selama lima tahun, tentu baik-baik saja Kim-heng?!”

Kim Co-lim menyingkap ujung bajunya sehingga terlihat kedua matanya yang sepat, setelah memandang sekejap, dengan tergelak ia berkata, “Aha, kiranya siapa, rupanya Ban-tayhiap yang berkunjung kemari. Untung aku belum lagi mati tenggelam oleh arak.”

Mendadak dilihatnya ketujuh orang yang berdiri di belakang Ban Cu-liang, serentak ia berjumpalitan dan turun ke tanah, senyum yang menghias wajahnya lenyap seketika, jengeknya, “Kedatangan Ban-tayhiap ini apakah karena urusan dulu itu?”

Ban Cu-liang tersenyum, jawabnya, “Sejak pertemuan di Wi-ho-lau dahulu dan karena teguran anak kecil yang bernama Po-ji itu, lalu kami menghimpun segenap kekuatan kawan dan meminta teman Kangouw jangan lagi mengganggu Kim-heng karena persoalan itu.”

“Jika demikian, agaknya akulah yang salah marah kepada Ban-tayhiap,” ujar Kim Co-lim dengan tertawa. “Harus didenda, biarlah kusuguh para kawan beberapa cawan arak dulu.”

Baru habis ucapannya, tahu-tahu ia meloncat ke atas, melayang ke puncak pohon, sekali meraih ke tengah dedaunan yang lebat, dikeluarkannya sebuah kantong kulit yang penuh berisi arak dan dilemparkan ke bawah.

Kedua lelaki penunjuk jalan tadi sudah siap di samping, mereka tangkap kantong arak itu.

Kim Co-lim terus melompat lagi ke puncak pohon yang lain dan kembali sebuah kantong arak dilempar ke bawah pula.

Begitulah berturut-turut ia melompat kian kemari, dalam sekejap saja tujuh-delapan kantong arak telah dipetiknya serupa orang yang memetik buah mangga saja.

Semua orang yang menyaksikan selain geli juga merasa kagum atas Ginkang Kim Co-lim yang hebat itu.

Setelah melayang turun lagi ke bawah, dengan tertawa Kim Co-lim berseru, “Lantaran di rumahku ada bini galak, terpaksa kantong arak harus kusembunyikan supaya aku dapat minum sepuas-puasnya. Nah, mari, silakan kalian sama minum satu kantong penuh.”

“Suguhan arak tentu saja akan kami minum,” kata Ban Cu-liang. “Tapi kedatanganku ini adalah lantaran urusan dulu itu, sebab ketujuh kawan yang ikut kemari ini mempunyai kedudukan yang berbeda daripada kawan persilatan yang lain.”

Air muka Kim Co-lim tampak berubah, katanya dengan gusar, “Pendek kata, siapa pun juga jangan harap akan bertemu dengan Pek-locianpwe …. Jika begitu, arak pun tidak perlu kalian minum lagi.”

Habis berkata segera ia putar tubuh dan hendak melangkah pergi.

Cepat Ban Cu-liang berseru pula, “Nanti dulu. Ketahuilah ketujuh kawan ini tak-lain-tak-bukan adalah anak murid langsung Pek-locianpwe sendiri.”

Kim Co-lim tampak melengak, perlahan ia membalik tubuh pula dan mengamat-amati ketujuh orang, katanya kemudian, “Jangan-jangan mereka inilah ketujuh murid utama dari ketujuh perguruan besar yang menggemparkan dunia Kangouw akhir-akhir ini?”

Pemuda yang berdiri paling depan di antara ketujuh orang itu bertubuh langsing dan gagah, ia memberi hormat dan berucap, “Cayhe Bok Put-kut dari Siau-lim.”

Ketujuh orang itu sama berbaju hijau, orang kedua bertubuh kekar, cepat ia pun menyambung, “Kim Put-we dari Go-bi.”

Tinggi orang hampir dua meter, dadanya bidang dan suaranya lantang membuat Kim Co-lim bekernyit kening.

Perlahan orang ketiga melangkah ke samping Kim Put-we, ternyata seorang Tojin bertubuh kurus, namun sinar matanya mengilat tajam, ucapnya, “Kongsun Put-ti dari Bu-tong.”

Wajah orang keempat dingin kaku serupa patung, ia memberi salam sekadarnya dan tidak suka bicara.

Segera Bok Put-kut memperkenalkan, “Inilah Site kami Ciok Put-wi dari Tiam-jong, wataknya memang tidak suka bicara.”

“Tidak bicara kan bisa membuat hati kesal, aneh juga ….” ucap Kim Co-lim dengan tertawa.

Mendadak seorang pemuda pendek gemuk dengan muka bulat dan tersenyum simpul menukas, “Cayhe Gui Put-tam dari Kong-tong, barang siapa mampu memancing Siko kami bicara sepuluh kata saja, biar kuberi persen sepuluh tahil perak.”

Tak tersangka, tiba-tiba Ciok Put-wi berseru, “Supaya kau kalah sepuluh tahil perak, biarlah aku sengaja bicara.”

Ternyata tidak lebih dan tidak kurang ucapannya tepat sepuluh kata.

Gui Put-tam tergelak, katanya, “Bagus, Siaute mengaku kalah.”

Segera ia mengeluarkan sepuluh tahil perak dan disodorkan.

Sekali lengan baju Ciok Put-wi mengebas, langsung kesepuluh tahil perak digulungnya.

“Tumben Gui-laungo mau mengeluarkan duit sepuluh perak, bisa hujan badai sebentar,” Kim Put-we berseloroh dengan tertawa.

Tapi orang keenam lantas menghela napas dan berucap, “Ah, mana Gui-goko mau bekerja rugi, ia kalah sepuluh tahil perak kepada Siko, tapi menang lima puluh tahil perak dariku.”

Di antara ketujuh orang, pakaian orang keenam inilah paling perlente, sikapnya juga lemah lembut, wajahnya cakap serupa anak perempuan. Benar juga ia lantas mengeluarkan selongsong uang perak dan diserahkan kepada Gui Put-tam sambil menggeleng kepala.

“Mengapa bisa begini?” tanya Kim Put-we dengan heran.

Dengan tertawa Gui Put-tam bertutur, “Lakte (adik keenam) bertaruh denganku, katanya aku takkan mampu membuat Siko bicara sepuluh kata, sekarang aku berhasil memancing bicara Siko, dengan sendirinya dia harus bayar padaku.”

“Ai, pantas dahulu Suhu suka bilang hanya kau yang pandai berdagang dan pasti akan kaya raya, tampaknya pandangan Suhu memang tidak meleset,” ujar Kim Put-we dengan gegetun.

Tak tahan lagi Kim Co-lim, ia terbahak-bahak.

Dilihatnya pemuda perlente itu lantas memberi hormat dan berucap, “Cayhe Sebun Put-jiok.”

Orang ketujuh ternyata berwajah merah, alisnya yang tebal seakan-akan merapat menjadi satu garis sehingga tanpa marah pun tampaknya selalu gusar. Ia pakai jubah pertapa sepanjang dengkul, rambut panjang terurai.

Kiranya seorang Thauto (Hwesio berambut).

Mendadak ia berteriak, “Diriku ini Wi-yang Nyo Put-loh!”

Suaranya menggelegar sehingga membuat kaget Kim Co-lim, dengan kening bekernyit ia tanya, “Cara bicara saudara ini apakah biasanya juga sekeras ini?!”

“Wah, malahan jauh lebih keras,” tukas Gui Put-tam dengan tertawa.

“Meski sudah lama Pek-locianpwe tidak mau menemui orang luar, tapi bagi kalian bertujuh mungkin akan dikecualikan ….” mendadak Kim Co-lim membalik tubuh dan berseru, “Ayo ikut padaku!”

Cara bekerja orang ini memang suka cepat dan tegas, bilamana dia tidak mau berbuat sesuatu, biarpun mati juga dia tidak mau, kalau dia mau melakukannya, maka serentak dikerjakan tanpa bertele-tele.

Ban Cu-liang dan lain-lain juga tidak menyangka Kim Co-lim akan bertindak demikian, setelah melenggong sejenak barulah ia ikut berangkat, tersisa kedua lelaki kekar tadi masih berdiri melongo dengan memegang beberapa kantong arak.

Hutan yang lebat itu seakan-akan tidak ada batasnya, cukup lama rombongan mereka menempuh perjalanan dan tetap belum mencapai ujung hutan. Cuma perumahan di dalam hutan kelihatan sudah mulai jarang-jarang.

Dipandang melalui dedaunan yang sudah agak jarang samar-samar bangunan pegunungan Tong-koan-san sudah tertampak di depan. Diam-diam ketujuh orang itu membatin, “Apakah barangkali Suhu tinggal di pegunungan ini?”

Semakin tinggi tempat yang mereka tuju, pepohonan di lereng gunung juga terasa semakin pendek.

Sambil melangkah ke depan Kim Co-lim bergumam sendiri, terkadang sambil menenggak arak, apa yang digumamnya seperti bermaksud, “Tuhan memang maha pencipta, terkadang Dia menciptakan sesuatu yang menonjol, yang jelas hendak diperlihatkan kepada orang, tapi seperti sengaja ditutup-tutupi pula supaya tidak kelihatan ….”

Semua orang saling pandang dengan bingung, tidak tahu apa arti yang terkandung dalam ucapannya.

Tiba-tiba terdengar Kim Co-lim berteriak tertahan. “Awas ….”

Sekali loncat, tahu-tahu orangnya lantas menghilang.

Kiranya di lereng bukit ini mendadak ada bagian yang terpotong sehingga berwujud sebuah jurang yang dalam, karena teraling oleh pepohonan lebat, kalau tidak paham seluk-beluk keadaan setempat, biasanya sukar mengetahui adanya jurang sebelum tiba di tempat.

Kedalaman jurang itu beratus tombak, namun luasnya cuma dua puluhan tombak sehingga mirip tanah yang bekas terinjak oleh kaki raksasa sehingga berwujud sebuah lekukan yang dalam.

Dasar jurang banyak terdapat batu karang yang aneh dan tumbuh pohon raksasa yang beratus tombak tingginya, karena tanah melekuk ke bawah sehingga dipandang dari luar tampaknya serupa pepohonan pendek yang tumbuh di lereng bukit, siapa pun tidak menduga pepohonan itu sebenarnya adalah pucuk pohon raksasa.

“Apakah kalian pernah melihat pohon serupa ini?” tanya Kim Co-lim dengan tertawa. “Bila pohon raksasa ini tumbuh di tanah datar, kan merupakan pohon yang lain daripada yang lain, namun Thian justru menyembunyikannya di sini sehingga sukar dilihat orang … dia seperti sengaja ditumbuhkan untuk tempat sembunyi Pek-locianpwe.”

Semua orang kembali melengak oleh kalimat terakhir itu, tanpa terasa semuanya mendongak ke atas.

Pohon raksasa itu menjulang tinggi dan baru tumbuh ranting daun pada ketinggian ratusan tombak di atas, sampai sekian lama mereka memandang hingga leher pun terasa pegal, akhirnya lamat-lamat terlihat di pucuk pohon berdaun lebat itu seperti ada sebuah rumah kecil warna hijau serupa sarang burung, mirip rumah tinggal manusia purba.

“Apakah Pek-locianpwe berdiam di atas pohon?” tanya Ban Cu-liang dengan bingung.

“Betul, ilmu Pek-locianpwe terakhir ini sudah sedemikian hebat dan mendekati sempurna, bukan saja sudah sekian tahun beliau tidak turun ke bawah, bahkan sudah lama tidak bersantap seperti manusia umumnya, hanya biniku setiap dua-tiga hari sekali suka mengantar sedikit makanan sebangsa buah-buahan dan jejamu, dengan tali kerekan beliau mau menerima antaran biniku, selain itu siapa pun tak mau ditemuinya. Sampai aku sendiri pun sudah tiga-empat tahun tidak pernah berjumpa dengan beliau.”

Ketujuh murid sama merasa girang demi mendengar sang guru sudah berlatih hingga mencapai kesempurnaan, tapi bila teringat betapa sengsara dan kesepian sang guru, mau tak mau timbul juga rasa haru dan duka mereka. Sesaat itu ketujuh orang sama mencucurkan air mata dan serentak sama menyembah di bawah pohon.

Segera Bok Put-kut berseru, “Para Tecu datang memberi sembah hormat kepada Insu (guru berbudi), mohon Insu sudi menerima untuk bertemu.”

Ia bicara dengan suara datar, namun setiap katanya berkumandang dengan jelas, nyata Lwekangnya memang sangat kuat.

Akan tetapi sampai sekian lama suasana tetap sunyi, dari pucuk pohon juga tidak ada jawaban.

Ketujuh murid sama menahan napas dan menunggu dengan sabar, entah berapa lama lagi, mendadak dari atas jatuh sesuatu, tampaknya seperti setitik debu kotoran, hanya sekejap saja sudah meluncur tiba.

Cepat Ciok Put-wi menangkapnya, waktu ia membuka tangan, semua orang sama memandangnya, ternyata yang ditangkapnya cuma sebiji Lianci atau biji teratai.

Tentu saja ketujuh murid merasa sedih, kecewa dan juga bingung.

Kongsun Put-ti coba mengambil biji teratai itu dan dibelah menjadi dua, meski Lianci itu masih bulat, namun isinya sudah kosong, ia tahu apa lambang biji teratai tanpa isi itu, ia tertunduk diam dengan air mata bercucuran, ucapnya dengan tergegap, “Lianci sudah tidak punya hati, kejadian masa lampau sudah kosong, mungkin … mungkin seterusnya kita tidak dapat lagi melihat Suhu.”

Ketujuh murid sama menangis sedih, Ban Cu-liang dan Kim Co-lim juga ikut berduka.

Mendadak Kim Put-we berseru dengan menangis, “Mari kita menerjang ke atas saja, betapa pun Suhu harus menemui kita.”

“Membangkang perintah guru, terkutuk!” ucap Ciok Put-wi.

Wataknya tidak bicara, hanya beberapa kata ucapannya itu cukup berbobot, hati Kim Put-we tergetar ia menunduk dan tidak berani bicara lagi.

Pada saat itulah sekonyong-konyong beratus potong batu besar dan kecil berhamburan dari atas laksana hujan, menyusul dari dinding tebing yang curam sana melayang keluar empat sosok bayangan orang.

Keempat orang ini jelas sejak tadi sudah bersembunyi di balik batu padas, dan karena tidak tahan oleh hujan batu itu, segera mereka bermaksud menerjang ke atas.

Gerak-gerik mereka sangat cekatan, namun hujan batu itu terlampau lebat dan gencar, akhirnya keempat orang menjadi kewalahan dan terpaksa menutupi kepala dan muka dengan tangan kembali mereka jatuh ke jurang.

“Kepung mereka!” bentak Bok Put-kut.

Meski lagi berduka, namun ketujuh orang tetap dapat bertindak cepat dan teratur, sekali bergerak, serentak mereka mengepung keempat orang itu di tengah.

Selagi Ban Cu-liang merasa kagum atas kegesitan ketujuh jago muda itu, tiba-tiba dari atas berkumandang suara tertawa orang, “Hahaha, sudah kuhantam jatuh keempat bangsat itu, cara bagaimana akan menyelesaikan mereka boleh terserah kepada kalian.”

Kaget juga semua orang oleh suara lantang orang itu dan sukar diperkirakan siapa dia. Terlihat keempat orang itu seorang bermuka kurus dan bermata tikus, jelas seorang culas dan keji. Seorang lagi pincang kaki kanan, muka murung gelap, keduanya sama berbaju tambalan, lengan baju kanan sama kosong dan terselip di tali pinggang, jelas lengan kanan masing-masing sudah buntung, malahan kedua daun kuping juga tidak terlihat lagi. Sungguh wajah yang buruk dan membuat orang mual untuk memandang mereka.

Dua orang lagi berbaju hitam dan pakai kedok hitam pula, namun keempat mata yang kelihatan bersinar tajam, tampaknya Lwekang kedua orang ini jauh lebih kuat daripada kedua pengemis buruk tadi.

Segera Kim Co-lim membentak, “Melihat cara kalian main sembunyi-sembunyi, kalian pasti bukan manusia baik-baik. Mau apa kalian menyusup ke daerah ini?”

Mesti terkepung, keempat orang itu tidak menjadi gugup, dengan sikap garang mereka menghadapi lawan, mata mereka pun melotot buas.

Perlahan Kongsun Put-ti berkata, “Agaknya mereka sudah lama membuntuti kita, tujuannya tentu juga ingin mencari jejak Insu, maka sekarang jangan kita lepaskan mereka.”

“Hehe, cerdik juga anak ini,” jengek si pengemis pincang, “ternyata dapat menerka maksud tuan besar. Memang betul, sudah kami perhitungkan kalian pasti akan datang kemari mencari orang she Pek, maka sudah lama kami membuntuti kalian, tujuan kami hendak memaksa keluar orang she Pek untuk ditanyakan rahasia bangsat berbaju putih itu. Sekarang kalian mau apa, hanya beberapa bocah ingusan seperti kalian bisa berbuat apa terhadap kami?”

“Akan kubinasakanmu!” bentak Nyo Put-loh dengan gusar, sekali lompat segera ia menubruk maju.

Ia pentang kesepuluh jarinya yang panjang laksana kaitan, dalam sekejap sudah menyerang empat-lima jurus, itulah kungfu “Eng-jiau-kang” (ilmu cakar elang) andalan Wi-yang-pay.

Pengemis pincang itu tidak gentar, sambil menyeringai ia sambut serangan Nyo Put-loh itu.

Ketiga orang yang lain rupanya bisa melihat gelagat, ia tahu jumlah lawan lebih banyak, tentu takkan menguntungkan jika terjadi pertarungan serentak, maka mereka cuma menunggu saja di samping.

Pengemis pincang itu ternyata sangat lihai, meski tangannya juga tinggal satu, namun serangannya beraneka ragam, setiap jurus serangan selalu berganti sehingga sukar diraba dari aliran mana ilmu silatnya.

Mendadak Nyo Put-loh bersuit dan meloncat tinggi ke atas untuk kemudian menyambar ke bawah serupa elang raksasa.

Bok Put-kut dan lain-lain tahu adik ketujuh yang berwatak keras ini sekarang sudah murka sehingga dikeluarkannya kungfu andalan Wi-yang-pay yang jarang digunakan. Dengan cara menubruk dari atas itu, bilamana serangannya berhasil tentu lawan-lawan kontan akan dibinasakan, kalau gagal, Nyo Put-loh sendiri juga bisa celaka.

Dalam sekejap itu semua orang sama menahan napas dan berdebar.

Tiba-tiba pengemis pincang itu terkekeh, sekali ia tepuk kantong yang dipanggulnya, tahu-tahu dari dalam kantong menyembur keluar api warna hijau dan menyambar ke arah Nyo Put-loh.

Keruan Bok Put-kut dan lain-lain sama terkejut. Nyo Put-loh juga terkesiap, cepat ia mendoyongkan kepala dan bergeser, dengan gerakan itu dapatlah ia geser tubuh ke samping.

Akan tetapi semburan api hijau itu terlebih cepat daripada gerak tubuhnya, baru saja ia bergeser, tahu-tahu api pun menyerempet bahu kiri. Kontan lengan baju terbakar, seketika Nyo Put-loh merasa lengan sakit dan panas serupa ditusuk jarum.

Ia menjadi murka, dengan mata merah membara segera ia hendak menubruk maju lagi dengan nekat.

Namun Ciok Put-wi keburu bertindak, cepat ia merangkul saudaranya itu dan menjatuhkan diri ke tanah terus berguling beberapa kali.

Rupanya Ciok Put-wi dapat melihat api hijau musuh itu sangat jahat, kalau tidak lekas dipadamkan, bisa jadi lengan kiri Nyo Put-loh sukar diselamatkan.

Sementara itu Kim Co-lim, Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan lain-lain juga sama gusar.

Mendadak orang berkedok hitam tertawa seram dan berkata, “Huh, anak murid perguruan ternama apakah juga ingin main kerubut?”

“Siapa mau main kerubut?” jawab Bok Put-kut. “Silakan kawan-kawan sama mundur, biar kubereskan keparat ini.”

Si pengemis pincang tadi menyeringai, jengeknya, “Hm, memangnya bagaimana rasanya ‘Sau-hun-mo-hwe’ (api iblis sambar nyawa), enak bukan? Nah kalau ada yang ingin mencicipi api sakti, ayolah silakan maju!”

Sekilas pandang Kongsun Put-ti melihat Nyo Put-loh lagi kesakitan, keningnya penuh butiran keringat, lelaki yang gagah perkasa itu kelihatan menahan sakit yang tak terkatakan. Diam-diam Put-ti terkejut, desisnya kepada para kawan, “Agaknya keparat ini orang Mo-hwe-kiong (istana api iblis), harap Toako waspada.”

Bok Put-kut mengiakan, sikapnya tetap tenang, namun diam-diam ia pun terkejut, selangkah demi selangkah ia mendekati lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari puncak pohon raksasa itu berkumandang suara tertawa nyaring orang. Keruan semua orang sama terkejut.

Selain terkejut ketujuh murid juga bergirang, seru mereka, “Ah, Suhu datang!”

Waktu mereka mendongak, terlihat sesosok bayangan ungu melayang turun dari ketinggian ratusan tombak itu.

Tinggi pohon itu memang beratus tombak, bilamana tidak menguasai Ginkang yang tinggi dan keberanian yang cukup, tidak nanti orang berani terjun ke bawah cara begitu.

Akan tetapi bayangan ungu ini menganggap ketinggian ratusan tombak ini seperti undak-undakan rumah dan terus terjun begitu saja dengan gaya yang indah, kain bajunya berkibar sehingga mirip dewa yang baru turun dari kahyangan.

Semua orang terkejut, heran dan juga kagum. Terlihat orang berbaju ungu telah hinggap di tanah, waktu diawasi, ternyata seorang pemuda tampan dan lemah lembut dengan senyum yang menarik.

Kulit badan pemuda ini tidak terlalu putih, namun bersih serupa batu mestika dan seperti gading yang bercahaya khas. Meski wajahnya tidak terlampau cakap, namun barang siapa melihatnya pasti akan merasa senang dan berdekatan dengan dia. Cuma senyumnya yang kelihatan menarik itu justru membawa semacam sikap yang anggun sehingga membuat orang yang ingin berdekatan dengan dia tetap tidak berani memandang remeh padanya.

Lebih dulu pemuda itu memberi hormat kepada Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan lain-lain, ucapnya dengan tertawa, “Setelah Siautit (keponakan) menemui dulu keempat tamu ini baru nanti kuberi penjelasan kepada para paman.”

Ban Cu-liang dan lain-lain sama terkejut dan juga bergirang karena pemuda baju ungu ini ternyata sedemikian menghormati mereka, tanpa terasa mereka menjawab dengan rendah hati, “Ah, jangan sungkan.”

Lalu pemuda itu mendekati si pengemis pincang yang juga lagi tercengang itu, tegurnya dengan tertawa, “Tak tersangka setelah sebelah kuping dan sebelah lengan kalian ditebas oleh Bok-long-kun, ternyata watak kalian tetap masih serupa dahulu.”

Kiranya kedua pengemis jahat ini tak lain tak bukan adalah kedua pengemis yang dulu di tepi pantai pernah menyangka Bok-long-kun sebagai patung itu, karena ingin merampas harta mestika Bok-long-kun, akibatnya sebelah daun kuping dan sebelah lengan mereka dipenggal.

Kini boroknya masa lampau diungkap oleh seorang pemuda yang tidak dikenalnya, keruan ia terkejut dan berseru, “Dari … dari mana kau tahu semua itu?”

“Jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat ….” gumam si pemuda baju ungu dengan tertawa.

Tiba-tiba sorot mata pengemis pincang berubah beringas, sekali meraih ke belakang, segera ia bermaksud memegang kantong lagi yang dipanggulnya. Semua orang terkejut dan khawatir.

Tak terduga si pemuda baju ungu bersikap sangat tenang, secepat kilat ia menjulur tangan dan tepat merintangi tangan si pengemis yang akan memegang kantong itu, sekali tarik, kontan pengemis itu jatuh terguling.

Gerakan pemuda itu sama sekali berbeda daripada kungfu aliran mana pun di daerah Tionggoan, caranya aneh, sasarannya tepat, Bok Put-kut dan lain-lain sama kaget dan juga kagum.

Sorot mata orang berkedok menampilkan rasa kejut dan gentar.

Di bawah sorak pujian orang, pemuda baju ungu lantas mendekati si pengemis kurus, katanya dengan tersenyum, “Kalian datang bersama, sepantasnya kau pun tinggal di sini bersama kawanmu.”

Kulit daging muka pengemis kurus itu tampak berkerut-kerut, sekonyong-konyong kedua kepalan bekerja sekaligus, menyusul sebelah kaki pun mendepak, sekali serangan tiga gerakan, mengincar bahu, dada dan perut si pemuda baju ungu.

Selain cepat, juga keji serangannya, bilamana kena sasaran tentu lawan akan binasa seketika.

Tapi aneh juga, serangan pengemis kurus itu sama sekali mengenai tempat kosong, tahu-tahu tubuhnya malah terangkat ke atas oleh lawan.

“Pegang dia, Bok-toasiok!” seru si pemuda baju ungu sambil melemparkan tawanan ke belakang.

Biarpun bertubuh kerempeng, namun pengemis kurus itu sudah gemblengan, betapa pun otot tulangnya lebih kuat daripada orang biasa, bobotnya tentu juga beberapa puluh kati beratnya, akan tetapi dia dapat dipegang dan diangkat begitu saja oleh pemuda itu serupa benda yang tak berbobot dan dilemparkan ke depan Bok Put-kut.

Reaksi Bok Put-kut juga tidak kurang cepatnya, sedikit melangkah mundur, segera ia tangkap pengemis kurus itu dengan cengkeraman dua tangan, Kongsun Put-ti yang berdiri di samping tidak tinggal diam, berbareng ia tutuk dua kali pada Hiat-to kelumpuhan pengemis kurus itu hingga ia tak bisa berkutik.

Satu di antara kedua orang berkedok itu tampak berdiri melongo ketakutan, seorang lagi dengan sorot mata jelalatan, tampaknya lagi cari jalan buat kabur.

Si pemuda memandang orang berkedok yang tampak hendak kabur itu dan mengejek, “Hehe, Ong Poan-hiap, dalam keadaan bahaya tampaknya kawanmu hendak kau tinggal lari lagi?”

Tergetar tubuh orang berkedok itu, teriaknya, “Siapa … siapa Ong Poan-hiap?”

Di mulut ia menyangkal, namun nada dan gerak-geriknya tiada ubahnya mengakui teguran pemuda baju ungu itu.

Ban Cu-liang dan lain-lain sama melengak.

Dengan tertawa si pemuda baju ungu berkata pula dengan tertawa, “Ong Poan-hiap, biarpun kau pakai kedok, namun kedua matamu yang jelalatan dan penuh kelicikan itu masakah dapat mengelabui aku?”

Pemuda belia ini tertawa dengan polos dan suci murni, namun ketajaman ucapannya dan pandangannya serta ketepatan tuduhannya tiada ubahnya serupa seorang penuntut umum yang tegas.

Orang berkedok itu menatapnya dengan tajam namun terlihat juga rasa gentarnya sehingga suaranya pun agak gemetar, “Jadi kau ini si … si ….”

“Ya, betul, aku inilah si elmaut bagimu,” ujar pemuda itu dengan tersenyum.

“Kurang ajar!” damprat orang berkedok mendadak. “Beberapa kali usahaku selalu dikacau olehmu, hari ini biarlah kubikin perhitungan total denganmu!”

Berbareng ia pentang kedua tangan terus menubruk maju. Nyata ia berniat mengadu jiwa.

Namun pemuda itu tetap tenang dan tersenyum saja.

Melihat orang berkedok itu menyerang dengan beringas, gerak tubuhnya juga aneh dan cepat, Ban Cu-liang dan lain-lain menaksir kungfu orang pasti juga sangat lihai, tanpa terasa mereka sama berseru, “Awas!”

Siapa tahu, baru menubruk maju setengah jalan, mendadak orang berkedok itu menarik diri terus melompat beberapa tombak jauhnya ke sana, begitu hinggap di tanah serentak ia melompat terlebih jauh lagi. Hanya dua tiga kali lompatan naik turun dapatlah ia capai tebing curam. Ternyata benar kawan ditinggalnya lari, Ginkangnya ternyata sangat tinggi dan jarang ada bandingannya.

“Celaka,” seru Ban Cu-liang sambil mengentak kaki, “bila keparat itu kabur, mungkin akan ….”

“Jangan khawatir, dia takkan mampu kabur,” ujar si pemuda baju ungu dengan tertawa.

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang di tebing curam sana, perawakannya tinggi besar laksana malaikat, dengan tepat jalan lari orang berkedok tadi dicegatnya.

Gerak-gerik orang berkedok itu tampak sangat cepat dan gesit, berulang ia menerobos ke kanan dan menyelinap ke kiri serupa hantu, mendadak ia melayang pula ke atas, kaki dan tangan digunakan susul-menyusul, secepat kilat ia serang lelaki kekar itu.

“Haha, keparat busuk, turun saja sana!” bentak lelaki itu sambil tergelak. Berbareng kepalannya menghantam ke depan.

Meski pukulannya sangat sederhana, menghantam dada secara lugu, akan tetapi dahsyatnya tidak alang kepalang, betapa pun orang berkedok itu hendak menangkis tetap tidak tahan, ia meraung dan terguling ke bawah.

Kongsun Put-ti dan Sebun Put-jiok segera memburu maju ke sana.

Mendadak orang berkedok yang satu lagi bertekuk lutut, katanya dengan gemetar, “Am … ampun ….”

Bahwa dia dapat berlutut dan minta ampun, hal ini sungguh membuat orang terkejut.

“Dari mana asal-usulmu? Apa keperluan kalian datang kemari?” bentak Ban Cu-liang.

Orang itu tidak menjawab, sebaliknya menunduk dan menangis malah.

Padahal dari kungfu yang diperlihatkan tadi jelas kepandaiannya tidak di bawah Ong Poan-hiap, orang menyangka dia pasti seorang tokoh ganas dan lihai, sama sekali tak terduga dia seorang lemah dan pengecut seperti ini.

Di sebelah sana Kongsun Put-ti dan Sebun Put-jiok sudah menutuk roboh orang berkedok itu, ketika kain kedoknya disingkap, muncul seraut wajah pucat kurus, ternyata benar Ong Poan-hiap adanya.

Ia terguling dari lereng tebing, bajunya terkoyak dan kulit babak belur, muka berlepotan darah, namun sikapnya tetap garang walaupun keadaannya kelihatan mengenaskan.

“Seorang pendekar terkenal ternyata bernasib seperti ini, sungguh … ai, Ong-heng, memangnya engkau tidak menyesal?” ucap Ban Cu-liang dengan gegetun.

“Yang berhasil menjadi raja, yang kalah menjadi tawanan, kenapa mesti menyusul?” jawab Ong Poan-hiap dengan tertawa latah.

Ia pandang orang berkedok kawannya yang bertekuk lutut itu dan mendadak berteriak bengis, “Hm, aku cuma menyesal seharusnya tidak membawa binatang tak berguna ini ke sini dan cuma membuat malu saja.”

Orang berkedok satunya menangis dan meratap, “Aku … aku ….”

Dengan murka Ong Poan-hiap membentak pula, “Senjata api yang kau bawa mestinya tidak ada tandingan di dunia ini, jika kau gunakan, sedikitnya dapat kita labrak mereka habis-habisan, mengapa senjata andalanmu tidak kau gunakan?”

Dengan menangis orang itu menjawab, “Bilamana kulihat perkelahian berdarah, seketika tanganku lantas lemas, mestinya aku tidak … tidak mau ikut kemari bersamamu.”

“Hah, seorang tokoh termasyhur seperti Thian-hwe-mo-sin ternyata melahirkan seorang anak pengecut serupa ini, sungguh konyol!”

Semua orang sama melengak, Ban Cu-liang menegas, “Jadi orang ini putra mahkota dari Mo-hwe-kiong?”

“Betul, inilah anak anjing yang dilahirkan dari ayah harimau,” sahut Ong Poan-hiap dengan tertawa latah. “Sekali ini kubawa dia kemari, tadinya kusangka dia akan menjadi pembantu andalanku, siapa tahu ….”

“Jika ayah tidak memaksaku ikut padamu untuk menambah pengalaman, siapa sudi mencari perkara di dunia Kangouw,” ucap orang berkedok itu, lalu air matanya bercucuran lagi.

Segera kain kedoknya dibuka sekalian untuk mengusap air matanya, maka tertampaklah kulit dagingnya yang putih halus, wajahnya cukup tampan, serupa anak perawan pingitan saja, sama sekali tidak menyerupai seorang anak lelaki.

Bilamana teringat kepada Hwe-mo-kun yang termasyhur dan ditakuti itu, ternyata mempunyai seorang anak lemah seperti ini, sungguh semua orang tidak tahu apa mesti merasa geli atau gegetun.

“Tak tersangka dalam lima tahun ini Ong Poan-hiap telah berhasil mengadakan hubungan dengan Hwe-mo-kiong,” kata Ban Cu-liang. “Sekali ini tentu disebabkan Hwe-mo-kun juga ada maksud bertanding dengan tokoh berbaju putih itu, maka Ong Poan-hiap diutus mencari Pek-locianpwe, tujuannya tentu ingin mencari keterangan dari Pek-locianpwe tentang kungfu sejati tokoh berbaju putih itu.”

“Ya, betul,” kata Ong Poan-hiap dengan menyeringai. “Maka kalau sekarang kalian berani berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, selekasnya kalau Hwe-mo-sin-kun menyusul kemari, tentu hutan ini akan dibakarnya hingga ludes.”

“Haha, aku memang merasa hutan ini terlalu merepotkan, bila dibakar bersih kan jadi lebih baik,” tukas Kim Co-lim dengan tertawa.

Mendadak Kongsun Put-ti mendengus, “Hm, tokoh sombong semacam Hwe-mo-sin-kun itu seumpama benar dia ingin bertempur dengan si tokoh baju putih, kukira dia juga tidak sudi mengincar rahasia ilmu silat lawan secara licik begini.”

“Ucapan paman Kongsun memang benar,” ujar si pemuda baju ungu dengan tersenyum. “Kukira kedatangan mereka ini adalah karena Ong Poan-hiap ingin mencari tahu rahasia ini untuk mengeduk keuntungan bagi diri sendiri, sebab terlalu banyak orang Kangouw yang juga ingin tahu rahasia kungfu tokoh baju putih itu. Tentang putra Hwe-mo-kun yang juga dibawanya kemari tidak lebih hanya digunakan sebagai boneka untuk menutupi tujuannya yang sebenarnya.”

Melihat anak muda belia itu ternyata kenal baik nama mereka, sejak tadi Kongsun Put-ti sudah heran, sekarang tutur katanya ternyata juga sangat pintar, setiap dugaannya selalu tepat, tentu saja ia tambah heran dan kejut.

Terdengar pemuda baju ungu itu berkata pula, “Mohon Kim-toasiok suka mengawasi keempat tawanan ini agar rahasia di sini tidak sampai tersiar.”

“Ini tidak menjadi soal,” sahut Kim Co-lim dengan tertawa, “untuk sembunyi di tengah hutan ini, jangankan cuma empat orang, biarpun empat ratus orang juga cukup luas tempatnya.”

“Terima kasih jika begitu,” kata si pemuda sambil memberi hormat.

Tiba-tiba Kim Co-lim berseru, “Tapi mengapa engkau dapat sampai ke sini, dan mengapa pula dapat naik ke tempat kediaman Pek-locianpwe? Sungguh aku tidak mengerti.”

Pada saat itulah terdengar suara tertawa merdu di puncak pohon, seorang berkata, “Akulah yang memberitahukan tempat ini padanya.”

Lalu seutas tali terjulur dari atas pohon yang ikut merosot turun bersama tali itu ternyata Ci-lan-hoa Hoa Jing-jing alias si Anggrek Ungu.

Keruan Kim Co-lim dan lain-lain sama melenggong. Terutama ketujuh murid itu sama heran, “Suhu melarang kami naik ke atas, mengapa pemuda belia tak dikenal ini justru diperbolehkan naik ke sana, apa sebabnya?”

Sebelum menyentuh tanah Hoa Jing-jing lantas melompat ke bawah, maka tali panjang dikerek ke atas lagi. Waktu ketujuh murid mendongak sekilas pandang seperti ada bayangan lengan baju berkelebat di atas, namun tidak jelas apakah itu bayangan sang guru atau bukan?

Hoa Jing-jing mengerling sekejap dan tertawa, katanya, “Tentu kalian merasa heran mengapa kubawa anak muda ini menemui Pek-locianpwe, apakah kalian tahu siapakah dia?”

Ban Cu-liang dan ketujuh murid sama menatap tajam ke arah anak muda itu.

Pemuda baju ungu lantas berlutut dan memberi hormat sambil berseru, “Masakah para paman sudah pangling kepada Siautit?”

Semua orang sama kikuk karena anak muda itu memberi penghormatan sedalam itu, Nyo Put-loh yang sedang kesakitan itu mendadak berteriak girang, “Hei, kau ini Po … Po-ji!”

“Betul, Siautit memang Po-ji adanya,” sahut anak muda itu.

Ia mendongak, wajahnya yang masih menampilkan senyuman itu sudah dibasahi oleh air mata terharu.

Kiranya usia Nyo Put-loh paling muda di antara sesama saudara seperguruan, sedang watak Oh Put-jiu paling ramah, maka waktu kecilnya Po-ji paling akrab bergaul dengan kedua paman guru ini. Keenam paman gurunya yang lain sepanjang tahun kebanyakan giat berlatih kungfu di halaman depan, sebaliknya Po-ji tidak pernah melongok ke lapangan latihan, apalagi sudah berselang sekian tahun, dari seorang anak kecil Po-ji telah menanjak remaja dewasa, kini telah berubah menjadi pemuda yang ganteng, apalagi menguasai ilmu silat setinggi ini, tentu saja Bok Put-kut dan lain-lain sama pangling meski semula juga merasa seperti pernah kenal anak muda itu.

Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa “pelajar cilik” yang ketololan itu dalam waktu enam tahun saja telah berubah sebanyak ini, keruan selain melenggong, Bok Put-kut bertujuh sama tidak habis mengerti dan tidak sanggup berucap.

Ciok Put-wi yang biasanya mahal buka mulut itu sekarang juga bergumam, “Po-ji … kiranya kau Po-ji ….”

Dengan menahan air mata, Po-ji menjawab, “Betul. Cuma para paman hendaknya maklum, nama lengkapku sekarang adalah Pui Po-giok. Po-ji adalah nama kecil masa lampau, kini Siautit sudah dewasa.”

Hoa Jing-jing menukas dengan tertawa, “Pui Po-giok, sungguh nama yang indah. Kau memang betul Po-giok (batu mestika) di tengah manusia, nama sesuai dengan orangnya.”

Sambil membentak mendadak Nyo Put-loh menubruk maju, Po-ji dirangkulnya dengan erat, teriaknya dengan parau, “Aku tidak peduli perubahan namamu, aku tetap memanggilmu Po-ji, biarpun kau sudah dewasa, kau tetap Po-ji kami masa lampau …. O, anak baik, sungguh kami sangat merindukanmu.”

“Jitcek (paman ketujuh), luka … luka tanganmu ….”

“Biarkan luka apa segala, dapat bertemu denganmu, segala luka pun tidak terpikir lagi, coba kau lihat ….” baru saja Nyo Put-loh sedikit mengangkat tangannya yang terbakar, saking kesakitan ia jatuh kelengar.

Keruan semua orang terkejut dan sibuk lagi. Kongsun Put-ti coba periksa keadaan luka Nyo Put-loh, ucapnya dengan kening bekernyit, “Sungguh keji api berbisa ini, lengan Jitte ini mungkin ….”

Mungkin apa, tidak berani diteruskan lagi. Maka rasa girang semua orang seketika berubah sedih pula.

Dengan menyesal Po-ji alias Pui Po-giok berkata, “Maaf, gara-gara keterlambatan kedatanganku sehingga bikin susah Jitcek ….”

Sampai di sini mendadak teringat sesuatu olehnya, serunya girang, “Aha, betul, jangan khawatir ….”

Mendadak ia melompat ke depan si orang berkedok satunya, yaitu anak Hwe-mo-sin-kun.

Segera Ong Poan-hiap membentak, “Jangan kau beri obat luka, mati pun jangan kau berikan.”

Mendingan dia tidak bersuara, sebab putra iblis api itu tidak tahu apa kehendak Pui Po-giok, dan sekali dia bersuara, dengan cepat pemuda lemah itu berbalik cepat menyerahkan obat luka yang dimaksud.

Sebelum Po-giok bersuara dia sudah menyodorkan obat luka lebih dulu.

Keruan Ong Poan-hiap sangat gusar, bentaknya, “Binatang tak berguna ….”

Namun sebelum lanjut ucapannya Ciok Put-wi lantas menutuk Hiat-to bisunya.

Biarpun api dari Mo-hwe-kiong itu sangat keji, namun obat lukanya juga sangat manjur, begitu obat yang berwarna putih susu kental itu dipoles di lengan Nyo Put-loh, dalam waktu singkat merah bengkaknya lantas lenyap, perlahan Nyo Put-loh pun siuman.

Begitu sadar Nyo Put-loh lantas memandang sekitarnya dan berseru, “Hei, kenapa kalian cuma mengurus diriku, masa lupa di atas sana masih ada seorang kesatria besar, tanpa dia, hari ini kita pasti terjungkal habis-habisan.”

“Betul, kalau tidak diingatkan Jitte kita menjadi lupa,” seru Bok Put-kut. “Entah kesatria ini ….”

“Ah, kesatria apa, dia bukan lain adalah saudaraku, namanya Gu Thi-wah,” tutur Pui Po-giok dengan tertawa.

Waktu semua orang mendongak, terlihat Thi-wah masih berdiri gagah perkasa di atas tebing sana.

Segera Bok Put-kut berteriak, “Silakan Thi-siauhiap turun kemari untuk berkenalan.”

Thi-wah balas berteriak, “Tempat setan ini terlampau tinggi dan curam, aku tidak berani turun ke situ, bisa jadi aku akan tergelincir mampus, lebih baik kalian yang naik ke atas saja.”

Padahal semua orang menyaksikan betapa perkasanya Thi-wah tadi, maka ucapannya sekarang membuat mereka sama melenggong.

Po-giok tertawa dan berkata, “Saudaraku ini meski bertubuh kuat laksana otot kawat tulang besi, boleh dikatakan sangat tangkas, sayangnya dia sama sekali tidak tahu Ginkang apa segala, kalau tidak, sejak tadi tentu dia sudah turun kemari.”

“Aha, bagus, bagus, sungguh sangat kebetulan,” seru Kim Co-lim dengan tertawa. “Untung dia berotot kawat dan bertulang besi sehingga tidak berhasil meyakinkan Ginkang, untung juga dia tidak kenal Ginkang itu apa sehingga tetap tinggal di atas dan tidak mau turun kemari, kalau tidak, Ong Poan-hiap dan begundalnya tentu sudah kabur sejak tadi. Ini kan sangat kebetulan dan harus ….”

“Harus dirayakan dengan minum arak, begitu bukan?” sambung Hoa Jing-jing.

Kim Co-lim tertawa, katanya, “Hah, yang melahirkan diriku ayah-bundaku, yang kenal watakku adalah biniku! Dan hendaknya kalian tahu, sekali biniku ini mau minum arak, wah, aku harus menyerah ….”

“Asal kau tahu saja!” ujar Hoa Jing-jing dengan senang.

“Ya, cuma bila sudah mabuk, bisa runyam, siapa pun harus menjauhi dia, kalau … kalau tidak bisa … aduuhh ….”

Mendadak Kim Co-lim mengaduh sebelum habis ucapannya, sebab daun kupingnya telah dijewer oleh sang istri alias Hoa Jing-jing.

*****

Di tengah hutan, di sebidang tanah pertamanan yang terawat dengan baik terdapat beberapa rumah mungil, itulah tempat kediaman Kim Co-lim suami-istri.

Perumahan keluarga kaya raya ini ternyata sangat sederhana, namun teratur dengan serasi, sayangnya atap rumah agak pendek sehingga kalau Thi-wah berdiri tegak hampir kepalanya menyundul langit-langit.

Dengan sendirinya perawakan Thi-wah yang luar biasa itu sangat menarik perhatian orang. Namun dia tidak ambil pusing, ia makan minum sepuasnya. Selama lima tahun, dia sudah tergembleng terlebih masak, tubuh terlebih kekar dan kuat, kulit badan pun kecokelat-cokelatan dan mengilat. Ditambah lagi matanya yang besar dan alisnya yang tebal, sungguh gagah perkasa.

Secara ringkas Po-ji menceritakan pengalamannya selama lima tahun ini, suka-duka pengalaman Po-ji itu sungguh membuat semua orang sangat tertarik, terutama cerita tentang kehebatan Ci-ih-hou dan kisah hidup Ciu Hong, kepintaran Siaukongcu dan kecantikan Cui Thian-ki, semua itu sangat memesonakan.

Akan tetapi di samping itu juga ada yang membuat mereka khawatir, yaitu tentang nasib Oh Put-jiu yang tidak diketahui jejaknya itu.

“Pertemuan hari ini tentu akan lebih menggembirakan bilamana Patte juga hadir,” ujar Bok Put-kut dengan menyesal.

Kim Put-we juga berseru, “Ke mana perginya Lopat (kedelapan), masih hidup atau sudah mati, masa tidak ada yang tahu?”

“Patte takkan mati!” ucap Ciok Put-wi mendadak. Ia jarang bicara, sekali mau bicara, setiap katanya tegas dan mantap.

Kongsun Put-ti tersenyum, katanya, “Site tidak sembarangan bicara, sekali bicara tentu tepat. Kalau kita renungkan kembali pribadi Patte yang cerdik itu, dia memang tidak mungkin mati dengan mudah.”

“Aku cuma heran, cara bagaimana Po-ji mendapatkan ajaran ilmu silat sehebat ini?” ucap Gui Put-tam.

Belum lagi Po-ji bersuara, segera Thi-wah mendahului berseru, “Segala macam ilmu silat terletak pada intisarinya, saripatinya itulah merupakan tulang sumsum ilmu silat. Setiap gerak-gerik lahiriah tidak lebih hanya bulu dan kulitnya saja, tanpa tulang sumsum, apa artinya bulu dan kulitnya? Jika sudah meresap tulang sumsumnya baru kemudian belajar bulu dan kulitnya, maka segala sesuatu akan berhasil dengan sangat mudah.”

Ia mengusap mulut yang berlepotan kuah dan minyak lalu menyambung, “Cara orang lain belajar ilmu silat biasanya dimulai dari mudah untuk kemudian menuju yang sukar. Akan tetapi bakat Toakoku ini berbeda dengan orang lain, caranya belajar ilmu silat juga tidak sama dengan orang. Toako belajar ilmu silat dimulai dari yang sulit untuk kemudian baru menuju yang mudah, lebih dulu menyelami dalil perubahan segala benda secara alami, setelah paham saripati ilmu silatnya secara mendalam, maka selanjutnya setiap gerak serangan akan mahir dengan sendirinya.

“Dalil ini serupa melukis, kalau tidak mengerti arti seni lukis, biarpun apa yang dilukisnya kelihatan indah, namun tidak menampilkan seni lukisnya secara hidup, paling-paling dia cuma seorang tukang gambar saja dan bukan seorang seniman ….”

Begitulah Thi-wah terus mencerocos dengan macam-macam logika yang belum pernah didengar oleh orang-orang itu. Tentu saja semua orang melongo heran dan kagum.

“Apa yang kukatakan itu semua adalah yang kudengar dari Suhuku,” tutur Thi-wah pula. “Beliau sudah menduga pasti ada orang akan tanya macam-macam dan khawatir Toako tidak enak untuk bicara akan kepandaian sendiri, maka aku diajarkan teori itu supaya dapat kuuraikan bagi Toako. Cuma aku sendiri hanya dapat menghafalkannya di luar kepala, sesungguhnya apa artinya aku sendiri pun tidak paham. Malahan cuma sekian saja yang kuingat, bila kalian tanya lebih banyak, terpaksa tak dapat kujawab.”

Habis ini, segera ia makan-minum lagi dengan lahapnya.

Kim Put-we tertawa, katanya sambil menepuk bahu bocah gede itu, “Anak ini sangat mencocoki seleraku, kukira kita mengikat saudara saja dengan dia.”

“Dia memanggil Po-ji sebagai Toako, kan kacau jika kita bersaudara dengan dia,” ujar Gui Put-tam dengan tertawa.

“Ah, masing-masing bergaul sendiri-sendiri, peduli apa?” sahut Kim Put-we dengan melotot.

Sejak tadi Po-giok hanya mendengarkan saja, baru sekarang ia bicara perlahan, “Kedatanganku ini, pertama adalah ingin mencari Yaya (kakek). Setelah diketahui beliau sehat dan baik-baik saja, maka legalah hatiku.”

Ia berhenti sejenak, sikapnya berubah prihatin, lalu menyambung, “Dan urusan kedua yang harus kukerjakan adalah sedapatnya berusaha mencegah pertemuan di puncak Thay-san pada akhir tahun itu agar jago muda dunia persilatan kita tidak saling membunuh, sebab akibatnya cuma akan menyedihkan kawan dan menyenangkan lawan.”

Ban Cu-liang menampilkan rasa senang, tukasnya, “Apabila Pui-siauhiap mempunyai jalan baik untuk mencegah pertemuan itu sehingga kekuatan dunia persilatan kita dapat dipertahankan, sungguh setiap orang persilatan pasti akan sangat berterima kasih padamu.”

“Waktu pertemuan yang ditentukan itu masih ada dua bulan lamanya,” kata Po-giok pula. “Dalam waktu dua bulan ini ingin kumohon bantuan paman Ban.”

“Asalkan mampu tentu akan kubantu,” sahut Ban Cu-liang.

Po-giok termenung sejenak, katanya kemudian, “Yang akan hadir dalam pertemuan itu entah ada berapa banyak ….”

“Pertemuan di Thay-san ini merupakan peristiwa terbesar selama lima tahun terakhir ini,” tutur Ban Cu-liang, “maka betapa gempar dan ramainya kukira tidak kalah daripada peristiwa pertarungan di pantai timur antara Ci-ih-hou dan si tokoh baju putih itu. Bila tiba waktunya kuyakin sebagian besar tokoh ternama seluruh negeri pasti akan hadir di sana. Akan tetapi yang benar-benar akan ikut dalam pertandingan itu, menurut taksiranku paling-paling cuma tiga-empat puluh orang saja.”

Thi-wah tertawa, katanya, “Cuma 40-an orang? Itu kan tidak banyak!”

“Meski 40 orang tidak terhitung banyak, tapi mereka tergolong jago angkatan muda terkemuka dan telah mengalami saringan dari beribu jago muda yang lain dari seluruh negeri sehingga kungfu mereka tentu lain daripada yang lain, merekalah merupakan saka guru dunia persilatan Tionggoan yang akan datang,” demikian tutur Ban Cu-liang. “Jika mereka diharuskan saling membunuh, tentu sangat besar pengaruhnya terhadap dunia persilatan, meski sekarang belum jelas kelihatan, namun tidak perlu disangsikan lagi bila terjadi pertarungan mereka berarti menanamkan bibit bencana di kemudian hari.”

“Tapi bukan begitu maksudku,” ujar Thi-wah dengan tertawa. “Maksudku, untung cuma ada 40 orang, bila 400 orang misalnya, tentu Toako akan kerepotan menghadapi mereka.”

Tergerak hati Ban Cu-liang, ia menegas, “Jadi … jadi maksudmu dalam dua bulan ini Pui-siauhiap akan mengalahkan mereka satu per satu?”

“Ya, memang begitulah,” kata Po-giok dengan menunduk. “Sebab kalau tidak begitu, sungguh sulit untuk mengubah pendirian ke-40 jago muda yang tinggi hati dan tidak mau saling mengalah itu.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: