Kumpulan Cerita Silat

17/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (09)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:06 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 09. Kokoh Seperti Sebongkah Batu Raksasa
Oleh Gu Long

Debu kuning.

Cahaya matahari yang hangat masuk melalui jendela menimpa paha Fu Hon Xue, mengingatkan dia dengan tangan lembut, hangat dan halus yang mengelus kedua pahanya pada malamnya sebelumnya.

Dia berbaring di atas tempat tidurnya, sangat letih bahkan untuk melepaskan sepatunya.

Namun saat memikirkan tangan tersebut, wanita tersebut, kulitnya yang selembut sutera, gerakannya yang menggairahkan yaitu goyangan kakinya yang maju mundur …

Jantungnya mendadak dipenuhi oleh perasaan yang luar biasa. Dia tahu bagaimana untuk menahan ini. Dia telah melakukan sebelumnya.

Namun, saat ini berbeda, dia telah memiliki wanita. Wanita yang sejatai.

Dia sungguh-sungguh tidak pernah berpikir mengenai hal ini … latihannya dan pendidikan yang dia lakukan selama ini jauh lebih keras dan lebih sulit daripada yang ada di dunia ini.

Namun, dia tetap seorang laki-laki, cahaya matahari yang membayang-bayang seperti hantu menerpa dirinya, dia benar-benar tidak ingin memikirkan apapun lagi … dia sangat letih.

Hujan telah berhenti.

Kenapa cahaya matahari masih terasa hangat meskipun habis hujan?

Dia meloncat dari tempat tidurnya dan melesat ke arah pintu!

Dia butuh udara segar, dia harus dapat bertahan!

Jalan menjadi sangat sunyi. Sepertinya penduduk kota telah merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi, bahkan pasangan yang paling berbahagai sekalipun telah bersembunyi di dalam rumahnya.

Ye Kai berdiri di ujung sebuah bangunan, menatap ke arah lumpur di jalan, kelihatannya dia dipenuhi oleh persoalan yang berat dan sulit dibenaknya. Saat itu dia melihat Fu Hong Xue muncul dari gang di seberang jalan. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Fu Hong Xue yang nampaknya tidak ambil perduli. Rona merah telah menutupi wajahnya, matanya terfokus pada pintu sempit di seberang jalan.

Lentera di atas pintu telah menyala.

Seperti halnya lentera itu, mata Fu Hong Xue memancarkan kobaran cahaya.

Dengan tangan masih menggenggam erat goloknya, dia perlahan-lahan berjalan selangkah demi selangkah menuju ke pintu tersebut.

Ye Kai merasa pemuda yang biasanya dingin dan menyendiri ini, hari ini berlaku tidak biasanya.

Ye Kai menghela napas dan menggumam pada dirinya sendiri,”Kelihatannya dia habis mabuk sehingga tidak sadarkan diri.”

Paling baik mabuk untuk melupakan semua kesulitan dan masalah yang berat di dunia ini. Meskipun, saat sadar kepalanya akan terasa sakit seperti akan terbelah, namun dia merasa lebih rileks dan waspada saat rasa sakit itu berkurang.

Lebih baik lagi bila ada seorang wanita yang menemaninya.

Ye Kai sedikit bingung, dia menyangsikan apakah pemuda ini sebelumnya pernah memiliki wanita. Namun sebaliknya … laki-laki yang tidak pernah memiliki wanita pasti seperti bendungan yang kaku hampir tidak mungkin retak. Namun ketika akhirnya berhadapan dengan wanita, maka timbul retak kecil pada dinding, engkau tidak akan pernah tahu kapan air akan menyembur keluar.

Fu Hong Xue perlahan-lahan menyeberangi jalan, pandangan matanya tetap melekat ke pintu itu. Lentera berkedip-kedip, menandakan bahwa saat ini mereka akan menerima tamu.

Kelihatannya bisnis malam ini kurang begitu bagus. Kebanyakan langganan meraka adalah para pengendara dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda dan pelancong dari tempat yang jauh. Namun kelihatannya malam ini tidak ada yang datang dari keduanya.

Fu Hong Xue mendorong membuka pintu, apel Adam jatuh menggelinding ke tanah.

Orang yang berada di ruang utama hanyalah dua orang pria yang kelihatannya baru saja bertengkar dengan istri mereka. Xiao Bie Li telah turun dari ruangannya dan duduk di tempat duduknya sambil menikmati makan malamnya, sepotong daging biri-biri panggang, semangkuk kecil mie daging sapi, dan segelas arak yang besar, mungkin arak dari Persia. Dia adalah seseorang yang tahu bagaimana memanjakan dirinya dengan segala hal yang terbaik.

Fu Hong Xue perlahan-lahan berjalan masuk dan duduk di kursi yang sama pada dua malam sebelumnya.

“Arak apa yang engkau suka?”

Fu Hong Xue tidak menjawab beberapa saat.

“Aku tidak ingin arak.”

“Lalu apa yang engkau suka?”

“Bawakan aku sesuatu selain arak.:”

Xiao Bie Li tiba-tiba tersenyum, kemudian memanggil dan memerintahkan pelayannya.

“Kita memiliki susu domba yang segar, bawakan segelas untuk Tuan Fu, persembahan dari tempat ini.”

Fu Hong Xue tidak memperdulikannya dan dengan dignin menjawab,” Tidak perlu, apapun yang aku makan, aku akan membayarnya dengan uangku sendiri.”

Xiao Bie Li tersenyum lagi, potongan terakhir daging biri-biri telah mencapai bibirnya, pandangan kenikmatan terlihat di wajahnya saat dia menikmati rasa dari daging tersebut. Dia bukan seseorang yang senang berdebat, namun dia mengenali orang yang baru tiba tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang baru saja berhenti tepat di depan pintu.

BBAAAKKK, pintu terbanting terbuka, seorang yang berperawakan sangat besar telah masuk. Tidak ada topi dikepalanya, bajunya telah terbuka, golok berwarna perak tergantung dipinggangnya. GongSun Duan!

Xiao Biel Li menyalaminya dnegan tersenyum, namun dia tidak menghiraukannya.

Tetapi, dia memperhatikan Fu Hong Xue.

Pandangan matanya seperti burung nasar yang baru saja mencium ada bangkai hewan.

Susu domba baru saja tiba, sungguh-sungguh susu yang segar.

Minuman ini merupakan minuman yang hanya dinikmati oleh orang-orang diperbatasan, dan merupakan sesuatu yang hanya orang-orang perbatasan yang tahu bagaimana untuk menikmatinya. Fu Hong Xue berusaha untuk menikmatinya, dan alis matanya perlahan-lahan berkerut.

GongSun Duan tersenyum dingin dan berkata,” Hanya domba ang menikmati susu domba.”

Fu Hong Xue tidak menanggapi, dia mengangkat gelasnya dan meminum lagi hingga mulutnya penuh.

“Tidak heran tempat ini berbau domba, seekor kambing kecil barada disini.” GongSun Duan berkata dengan keras.

Fu Hong Xue masih tidak menanggapi, namun pembuluh darah ditangannya yang memegang goloknya mulai membesar.

GongSun Duan tiba-tiba bergerak dengan cepat. BBRAAKK, dia memukulkan tangannya ke atas meja dan berkata,” Menyingkirlah!”

Mata Fu Hong Xue masih menatap susu digelasnya, perlahan-lahan dia menjawab,” Engkau menginginkan aku menyingkir?”

“Ini tempat untuk orang. Diluar sana ada kandang untuk domba kembali, dimana asalmu berada.” GongSun Duan berkata.

“Aku bukan domba.” Fu Hong Xue menjawab.

GongSun Duan memukulkan tangannya kembali ke atas meja dan membentak,” Aku tidak perduli apakah engkau ini, sebaiknya engkau menyingkir. Orang tuamu ingin duduk di meja itu.”

“Siapa yang orang tua?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku orang tuamu, orang tuamu aku.” GongSun Duan menjawaba.

PPEENNGG, gelasnya telah terbelah. Fu Hong Xue memandangi susu domba yang tumpah di atas meja, tubuhnya mulai bergetar.

GongSun Duan menatapnya, tangannya yang besar mengenggam gagang goloknya.” Apakah engkau ingin pergi sendiri atau ingin dilempar?”

Fu Hong Xue tetap bergetar sementara perlahan-lahan dia berdiri, mengumpulkan tenaganya untuk mengendalikan diri, berusaha untuk tidak melihat kepada GongSun Duan, bahkan sekejappun.

GongSun Duan tertawa dan berkata,”Sepertinya domba kecil ini hendak kembali ke kandangnya, kenapa engkau tidak menjilati susu di atas meja sebelum pergi?”

Mendadak Fu Hong Xue mengangkat kepalanya, matanya menatap lekat GongSun Duan. Kedua matanya seperti batu bara yang merah membara.

Mata GongSun Duan memerah, dengan menyeringai mengejek,” Apa yang akan kau lakukan? Mencabut golokmu?”

Tangan Fu Hong Xue mengenggam goloknya, mengenggam dengan kerasnya.

“Hanya laki-laki yang dapat menarik goloknya, seekor domba tidak mungkin dapat mencabutnya. Kalau engkau laki-laki, cabut golokmu!” GongSun Duan memprovokasi.

Fu Hong Xue menatapnya, seluruh tubuhnya telah bergetar dengan keras.

Kedua laki-laki yang sedang minum-minum telah mundur ke sudut ruangan, takut dengan apa yang mereka lihat.

Xiao Bie Li perlahan-lahan meneguk arak dari gelasnya, tangannya menegang dan mengeras. Hanya suara napas yang dapat terdengar saat itu.

Suara napas Fu Hong Xue pendek dan cepat, suara napas GongSun Duan panjang dan berat.

Semua orang lainnya berhenti bernapas.

Mendadak, Fu Hong Xue memutar tubuhnya dan berjalan perlahan ke arah pintu. Kaki kirinya dahulu, kemudian kaki kanannya terseret dari belakang.

GongSun Duang menarik napas yang panjang dan tertawa sinis,” Jadi si domba kecil pincang.”

Fu Hong Xue mendadak mempercepat gerakannya, sepertinya dia berusaha menyeimbangkan jalannya yang pincang.

GongSun Duan tertawa dan berkata,” Merangkaknya, mulailah merangkak kembali ke kandangmu. Bila kau membiarkan terlihat olehku lagi, hati-hatilah orang tua mu akan mematahkan kakimu.”

Dia menarik kursi, duduk, dan memukulkan tangannya ke atas meja,” Bawakan aku arak, arak yang terbaik yang engkau miliki!”

Tiba-tiba terdengara suara keras di luar berteriak,” Bawakan aku arang terbaik, arak terbaik yang engkau miliki!”

Ye Kai berjalan masuk, menarik seekor domba bersamanya!

GongSun Duan langsung menatapnya, namun dia kelihatannya tidak memperhatian GongSun Duan sama sekali sambil mencari meja dan duduk. Tempat duduk yang dia pilih tepat di depan GongSun Duan.

GongSun Duan melepaskan tatapan dingin kepadanya, kemudian memukulkan tangannya ke atas meja lagi.”Dimana araknya? Cepatlah!”

Ye Kai memukulkan tangannya juga ke atas meja.” Dimana araknya? Cepatlah!”

Pada situasi seperti ini, segera arak terhidang dengan cepatnya.

Ye Kai menuangkan arakanya ke gelas tapi tidak meneguknya. Melainkan dia menuangkan gelasnya ke mulut domba dan mencekokinya.

Alis mata GongSun Duan berkerut-kerut, Xiao Bie Li tidak dapat menahan ketawanya.

“Sekarang sudah terbalik laki-laki sejati minum susu domba sementara domba minum arak.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

Paras wajah GongSun Duan berubah warna, tiba-tiba dia berdiri dan mencaci maki,”Apa yang kau katakan?”

Ye Kai tersenyum sedikit dan menjawab,” Aku sedang berbicara dengan domba ini, apakah engkau seekor domba juga?”

“Tempat ini bukan kandang hewan, kenapa bisa menarik banyak hewan?” Xiao Bie Li menambahkan sambil tersenyum.

GongSun Duan memutas kepalanya dan menatapnya.

“Saudara GongSun, apakah engkau mau mematahkan kakikku juga? Sayang sekali kedua kakikua sudah cacat sejak lama.” Xiao Bie Li berkata.

GongSun Duan mengepalkan jarinya dan mengucapkan perkataannya dengan perlahan,” Untung saja ada orang lain di sini yang memasih memiliki kaki yang normal.”

“Betul sekali, kedua kakiku tidak cacat sama sekali.” Ye Kai berkata.

“Bagus, bedirilah!” GongSun duan berteriak.

“Aku jarang berdiri saat aku memiliki kesempatan untuk duduk.” Ye Kai menjawab.

“Aku jarang duduk saat aku memiliki kesempatan untuk berdiri.” Xiao Bie Li berkata.

“Aku seorang yang pemalas.” Ye Kai berkata.

“Aku seorang tanpa kaki.” Xiao Bie Li menjawab.

Keduanya tiba-tiba tertawa tergelak-gelak.

Ye Kai menepukan tangannya ke atas kepala domba sementara sambil melirik GongSun Duan dari sudut matanya.” Saudara Domba, Saudara Domba, kenapa engkau sangat menikmati berdiri?”

GongSun Duan sudah jelas sedang berdiri. Pembuluh darah mulai membesar di seluruh kepalanya, tangannya bergerak ke goloknya sesaat berteriak,” Aku dapat memenggal kedua kakmu meskipun engkau sedang duduk.”

Mendadak terlihat selintas cahaya perak, golok terlah tercabut dari sarungnya.

Terdengar suara BBRRUUKK, meja yang kokoh di hadapan Ye Kai telah terbelah dua. Namun Ye Kai tidak bergerak, bahkan tidak memandangnya sekejappun.

“Aku benar-benar tidak pernah menyadari bahwa golokmu digunakan untuk membelah meja.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

GongSun Duan telah dipenuhi oleh rasa marah dan menyabetkan goloknya ke arahnya dengan gerakan setengah lingkaran. Seluruh tubuh Ye Kai telah terbungkus oleh sinar perah yang menakjubkan, matanya bersinar seperti sinar perak.

Terdengar suara DDIINNGG, bunga api memercik ke segala arah sesaat tongkat besi bertabrakan dengan golok perak, sementara tongkat besi yang lainnya menancap ke dalam lantai beberapa inci dalamnya.

Kekuatan di balik goloknya sangat menakutkan. Xiao Bie Li berdiri dengan tegapnya di atas lantai, tongkat besi ditangannya masih terlihat kokoh. Karena kekuatan di balik golok telah tersalur ke tongkat besi di tangan yang lainnya dan menyebabkan amblas ke bawah lantai.

Wajah GongSun Duan memucat. Dia menatap Xio Bie Li dan berkata,” Ini bukan urusanmu.”

“Ini bukan tempat untuk membunuh.” Xiao Bie Li menjawab.

Pembuluh darah di seluruh leher GongSun Duan telah berdenyut naik turun, namun golok ditangannya masih belum bergerak.

Tongkat besi juga tidak bergerak.

Mendadak, ujung golok bergerak menggilling tongkat besi, menimbulkan bekas goresan. Tongkat besi yang lainnya perlahan-lahan mulai terbenam semakin dalam ke dalam tanah.

Namun Xiao Bie Li masih terlihat berdiri tegak dan kokoh dan menyandar pada tongkatnya, kokoh seperti sebongkah batu raksasa.

GongSun Duan tiba-tiba menghentakan kakinya dan memecahkan batu-batu di lantai menjadi pecahan kecil yang berserakan. Dengan dua langkah lebar dia telah meninggalkan gedung tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ye Kai menghela napas panjang dan berseru,” Tuan Xio memiliki tenaga dalam yang kuat dan hebat!”

“Aku mempermalukan diri sendiri.” Xiao Bie Li menjawab dengan rendah hati.

“Bila seseorang telah melatih tenaga dalamnya hingga pada tingkat ‘Menangkap Tongkat Memindahkan Bunga’, maka tidak ada yang harus dipermalukan.” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

“Saudara Ye memiliki pemahaman yang mengagumkan.” Xiao Bie Li menjawab sambil tersenyum.

“Pemahaman GongSun Duan juga mungkin tajam, kenapa dia harus pergi?” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li terlihat terbenam dalam pikirannya sesaat dia menjawab,” Mungkin karena sebetulnya bukan engkau yang hendak dia bunuh.”

“Namun bila bukan karena Tuan Xiao, mungkin aku sudah mati.” Ye Kai berkata.

“Bila bukan karena aku, seseorang pasti sudah mati hari ini, namun yang pasti itu bukan engkau.” Xiao Bie Li berkata.

“Bukan aku? Lalu siapa?” Ye Kai berkata.

“Dia.” Xiao Bie Li berkata.

“Kenapa harus dia?” Ye Kai bertanya.

Xiao Bie Li menghela napas panjang dan berkata,” Dia bukan siapa-siapa namun hanya seorang yang berangasan, bahkan dapat dikatan kemampuan Saudara Ye berpuluh-puluh kali berada di atasnya.”

Ye Kai meledak tawanya, sepertinya dia baru saja mendengar suatu hal paling lucu di dunia. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata,”Aku khawatir Tuan Xiao salah hitung kali ini.”

“Kedua kakiku telah cacat, namun kedua mataku belum lagi buta. Kalau aku tidak berlaku seperti saat ini, mungkin kedua tanganku pun sudah tidak dapat digerakan lagi sepuluh tahun yang lalu.” Xiao Bie Li berkata.

Ye Kai menunggunya untuk melanjutkan.

“Aku belum pernah bertemu dengan pendekar muda sekalibermu sebelumnya disini, tidak hanya pengetahuan silatmu dalam dan telah mencapai yang tertinggi, namun sifatmupun betul-betul sulit untuk dipahami, itulah sebabnya …”

Tenggorokannya tiba-tiba berhenti, sepertinya dia sedang menunggu Ye Kai untuk bertanya.

“Itu sebabnya apa?” Ye Kai berkata.

“Sungguh sulit bagi seorang cacat tanpa teman maupun saudara untuk bertahan di sini di kota perbatasan. Namun bila aku memiliki sahabat seperti Saudara Ye …” Xiao Bie Li berkata.

Ye Kai tiba-tiba memotongnya,” Bila engkau menjadi teman dari seorang sepertiku makan masalahmu di masa yang akan datang menjadi berlipat ganda.”

Xiao Bie Li tersenyum dan menjawab,” Bagaimana bila aku tidak perduli dengan masalah?”

“Maka kita adalah sahabat.” Ye Kai berkata.

Wajah Xiao Bie Li menjadi cerah, sesaat dia tersenyum dan berkata,” Maka silahkan minum arak dengan ku!”

“Meskipun engkau tidak menjamuku, aku tetap minum.” Ye Kai berkata.
________________________________________

Orang yang sedang mengendarai kuda melintasi jalan tiba-tiba dirampas oleh sepasang tangan yang besar dan melemparkannya ke atas tanah. Si pengendara ingin sekali berteriak marah, namun dia menahannya. Karena dia melihat orang yang menariknya dari kudanya adalah GongSun Duan, dan dia melihat bahwa GongSun Duan kelihatannya dipenuhi oleh hawa marah. Tidak ada seorangpun yang berani melawan GongSun Duan saat dia marah.

GongSun Duan melayang ke atas kuda orang tersebut dan mengendarainya pergi. Dimanakah kudanya?

Kudanya dipacu dengan liarnya menuju ke padang rerumputan, orang yang duduk di atas kudanya adalah Fu Hong Xue.

Saat dia keluar pintu, hal pertama yang ada dipikirannya adalah meloncat ke atas kuda ini. Dengan sarung pedangnya, dia memukul kuda tersebut, memukul sedemikian kerasnya. Sepertinya dia membayangkan kuda tersebut adalah GongSun Duan.

Dia membutuhkan udara segar, kalau tidak dia bisa gila.

Kuda tersebut nampaknya juga menjadi gila. Kuda tersebut berlari kencang di jalan dan menuju ke arah padang rumput, dari matahari terbit ke matahari terbenam, dia lebih menyukai kegelapan.

Angin dingin menerpa wajahnya, menghempaskan pasir kewajahnya, namun dia sama sekali tidak berusaha menghindar. Malah dia menyambutnya. Bila dia dapat menahan rasa sakit seperti ini dan menderita karenanya, apakah lagi di dunia ini yang tidak dapat dia tahan?

Dia menggeratakn giginya, gusinya mulai berdarah. Darahnya terasa pahit, pahit dan agak asin.

Tiba-tiba, cahaya cerah muncul di langit.

Bukan disebabkan oleh bintang, namun karena lentera raksasa yang tergantung di bendera “Gedung Sepuluh Ribu Kuda’, yang bahkan bersinar lebih terang dari bintang.

Bintang perlahan-lahan akan meredup. Namun bagaimana dengan cahaya ini?

Dia menggapai tali kuda dan memukulkan sarung goloknya di belakang. Dia membutuhkan udara, kecepatan pasti akan memberikan udara. Namun kuda tiba-tiba melompat dan meringkik, kaki depannya menekuk ke atas tanah.

Fu Hong Xue terlempar dari kuda tersebut ke belakang ke atas tanah. Tidak ada runput di tanah tersebut, hanya di penuhi oleh pasir. Pasir yang tajam mulai menggores wajahnya sehingga berdarah.

Pikirannya mulai berdarah pula.

Kegigihan! Kegigihan! Sudah berapa lama lagi dia harus gigih menahan penderitaan? Berapa lama lagi dia harus gigih menahan penderitaan?

Hanya saja siapa yang berempati dengan rasa sakit, penderitaan dan kepahitan selama bertahun-tahun yang dia rasakan?

Matanya mulai berair tidak terkontrol – air mata merembes ke dalam darah, darah yang berlumuran dengan air mata.

Bintang mulai merambat naik di langit malam.

Di bawah cahaya sinar, seekor kuda dipacu melewati dataran pasir kearahnya. Mata pengendara kuda itu bersinar seperti bintang, bell berdenting membentuk irama yang harmoni – Ma Fang Ling.

Dia memiliki senyum yang termanis diwajahnya, matanya dipenuhi dengan kebahagiaan, dia terlihat lebih cantik dan menawan dari biasanya. Hal itu bukan karena terangnya cahaya bintang di langit, juga bukan karena keindahan malam yang mempesona, namun hal itu karena hatinya dipenuhi dengan rasa cinta.

Cinta memiliki kemampuan membuat gadis yang paling biasa menjadi menarik dan menawan, dapat mengubah gadis buruk rupa menjadi gadis cantik jelita.

“Dia pasti menungguku, saat dia melihatku muncul tak terduga, hatinya pasti akan dipenuhi dengan kebahagiaan.”

Dia seharusnya tidak keluar rumah. Namun, cinta memenuhinya dengan keberanian, keberanian yang tidak mengenal rasa takut.

Dia hanya ingin menemuinya, tidak ada apapun selama dia dapat melihatnya walau hanya sesaat.

Angin berhembus dingin, dingin dan mengiris seperti silet. Namun bagi gadis itu, meskipun angin begitu dingin, namun terasa hangat dan menyegarkan. Kemudian dia mendengar suara tangis yang terhembus oleh angin.

Siapa di dunia ini yang menangis di tengah-tengah dataran luas tak bertepi ini?

Dia telah melewatinya, namun memutuskan untuk berbalik. Cinta tidak hanya membuat wajahnya lebih cantik, akan tetapi juga membuat hatinya menjadi cantik. Tiba-tiba dia berubah menjadi gadis yang baik, lembut, murah hati, dan penuh pengertian.

Dia melihat kuda yang telah jatuh karena keletihan, dan kemudian melihat Fu Hong Xue.

Fu Hong Xue terbaring membungkuk di atas tanah, seluruh tubuhnya bergetar dengan tak henti-hentinya. Kelihatannya dia tidak mendengar derap suara kuda yang mendekatinya sama sekali, juga dia tidak memperhatikan gadis itu turun dari kudanya dan berjalan kearahanya.

Dia berusaha menahan rasa sakit yang amat sangat ini, dia berusaha bertahan terhadap siksaan yang tidak pernah terbayangkan seperti ini.

Di bawah cahaya bintang, wajahnya terlihat lebih pucat dari kertas. Darah yang bercampur dengan air mata menetes turun dari wajah pucatnya.

Ma Fang Ling akhirnya dapat melihat wajahnya dengan jelas, matanya melebar saat dia terkejut,” Engkau?”

Dia teringat pemuda misterius ini, dia ingat telah meninggalkan bekas merah diwajahnya oleh cemetinya.

Fu Hong Xue akhirnya melihatnya juga, pandangan matanya terlihat bingung dan kacau balau, seperti seekor kuda liar di alam liar. Dia berusaha untuk berdiri, namun jatuh kembali, sepertinya ada tangan yang tidak terlihat mendorongnya ke bawah.

“Apakah engkau sakit?” Ma Fang Ling bertanya sambil mengerutkan alisnya.

Fu Hong Xue menggertakan giginya, busa putih terlihat keluar dari ujung mulutnya seperti mulut seekor kuda yang mati. Dia benar-benar sakit.

Penyakit yang menakutkan ini telah menyiksanya selama sepuluh tahun lebih. Pada saat dia di dorong hingga melewati batasnya dan dia tidak dapat lagi menahannya, penyakitnya muncul.

Dia tidak pernah ingin terlihat saat sakit. Dia lebih baik mati, dia lebih baik tercebur ke dalam neraka, daripada seseorang melihatnya dalam keadaan sakit. Sekarang dia tidak dapat menyembunyikannya lagi.

Dia menggigit bibirnya dan mulai memukul dirinya sendiri dengan sarung goloknya. Dia membenci dan memandang rendah dirinya sendiri. Mengapa surga mengutuk seorang yang kuat dan memiliki kebanggan seperti dirinya, dengan penyakit yang menakutkan seperti ini? Betapa kejamnya hukuman ini?

Ma Fang Lin mengenali penyakit ini, dia menghela napas dan berkata,” Mengapa harus menyakiti dirimu sendiri? Penyakit ini tidak membahayakan dirimu. Segera, penyakit ini akan …”

Tiba-tiba, Fu Hong Xue mengerahkan seluruh tenaga ditubuhnya dan mencabut goloknya dan berteriak,” Pergi, atau aku bunuh!”

Ini untuk pertama kalinya dia mencabut goloknya. Betapa golok yang hebat!

Mata goloknya sangat cemerlang hingga dapat memantulkan wajahnya dengan jelas, mukanya yang berlumuran darah. Bayangan di mata goloknya dia terlihat gila dan tidak waras, dia terlihat haus darah dan buas.

Ma Fang Ling secara spontan mundur dua langkah, dia terlihat terkejut dan ketakutan. Dia ingin lari, namun anggota tubuh pemuda ini tiba-tiba mengejang, kemudian di jatuh lagi ke atas tanah. Dia berjuang di atas tanah, dia terlihat seperti seekor kuda yang terperosok di sungai yang membeku, sendirian, tanpa harapan dan tidak ada yang menolong.

Golok tersebut tetap berada ditangannya, golok tersebut telah keluar dari sarungnya.

Tiba-tiba dia memutar pergelangan tangannya dan menusukan goloknya ke pahanya. Darah menyembur sepanjang mata goloknya. Kejang-kejangnya perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Namun seluruh tubuhnya masih bergetar, bergetar dengan kerasnya membuat dia harus menekukan tubuhnya sehingga seperti bola. Dia terlihat ketakutan seperti seorang anak kecil.

Ketakutan dan kekuatiran dalam mata Ma Fang Ling berubah menjadi rasa kasihan dan simpati.

Seorang anak betul-betul terkucil sendirian di padang yang dingin ini …

Dia tidak dapat menolong namun sedikit menghela napas.Dia berjalan mendekat dan memegang kepalanya dengan lembut, berbisik,” Ini bukan salahmu, mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri?”

Suaranya lembut dan hangat seperti suara seorang ibu yang penuh kasih sayang. Pemuda yang kesepian dan tanpa pertolongan ini membuat naluri keibuannya muncul.

Air mata Fu Hong Xue mulai mengalir. Tidak peduli betapa kuat dan angkuhnya dia, dia tidak dapat menahan dirinya untuk tersentuh seperti pada saat-saat seperti itu.

“Aku salah. Aku seharusnya tidak pernah dilahirkan. Aku seharusnya tidak pernah ada di dunia ini,” Fu Hong Xue berseru. Suarnya dipenuhi dengan kesedihan dan keputusasaan.

Rasa sakit yang tajam menyentuh bagian dalam dada Ma Fang Ling. Rasa kasihan dan simpati dapat menusuk seperti jarum berulang kali. Dia tidak dapat menahan dirinya dan memeluknya, memeluknya kedadanya, sesaat berkata dengan lembut,” Jangan terlalu kejam dengan dirimu sendiri, engkau akan segera lebih baik …”

Dia tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena air matanya mulai jatuh juga.

Angin bertiup melolong, padang luas melolong. Padang rerumputan luas yang mengelilingi mereka seperti gelombang lautan luas yang bertepi. Dengan hanya kesalahan kecil, engkau dapat tertelan ke dalamnya. Namun emosi manusia lebih menakutkan dan lebih berbahaya dari semua ombak dilautan?
Fu Hong Xue mulai berhenti bergetar, namun napasnya semakin cepat. Ma Fang Ling mulai merasakan hembusan napas hangat melalui pakaiannya. Dia merasa dadanya mulai terasa semakin hangat.

Rasa simpati dan pengertian yang amat sangat membuat dirinya lupa bahwa orang yang berada dipelukannya adalah seorang laki-laki. Perasaan itu merupakan kebaikan yang terbesar dari seseorang, namun perasaan itu dapat membuat orang lupa akan segala hal. Tapi saat ini, perasaan aneh mulai menjalar dihatinya. Perasaan yang sangat kuat yang hampir saja membuat dia mendorongnya, namun dia tidak mempunyai keberanian itu.

“Siapakah engkau?” Fu Hong Xue tiba-tiba bertanya.

“Nama keluargaku Ma …” dia berkata. Suaranya tiba-tiba terpotong, karena dia merasa napas pemuda ini tiba-tiba berhenti. Namun dia tidak mengerti kenapa bisa begitu. Karena dia tidak pernah dapat membayangkan bahwa napsu untuk membalas dendam sangat kuat, bahkan lebih kuat dari pada kekuatan cinta.

Karena cinta itu hangat dan lembut, seperti angin di musim semi. Sementara pembalasan dendam tajam seperti mata pisau, yang dapat menusuk jiwamu hanya dengan sekali gerakan.

Fu Hong Xue tidak bertanya lebih lanjut. Tiba-tiba dia memeluknya dengan kuat dan merobek pakaiannya.

Perubahan ini sangat mendadak, dan juga sangat menakutkan. Ma Fan Ling benar-benar terkejut sehingga membuat dia tidak punya pikiran untuk melepaskan diri atau melawan.

Tangan Fu Hong Xue yang dingin menyelip ke atas tubuhnya dan menggenggam kehangatan, kelembutan buah dadanya …

Perasahaan yang aneh dan tidak biasa ini seperti pisau. Dan persahaan Ma Fang Ling telah teriris-iris olehnya. Gelisah, ketakutan, rasa malu, rasa marah langsung bercampur aduk menjadi satu.

Dia melompat bangun dan menampar wajah Fu Hong Xua. Dia tidak perduli rontaannya, namun tangannya masih memegangnya dengan kuat.

Dia merasa sakit sekali hingga air matanya mulai jatuh, gadis itu mengepalkan jarinya dan memukul hidungnya. Salah satu tangannya melepaskan gadis itu dan menangkap pukulannya. Payudaranya telah menyembul keluar dari bajunya dan terkena udara dingin yang menggigit dan kencang.

Matanya dipenuhi dengan gelegak darah sesaat dia melompat lagi ke atas gadis itu. Gadis itu menekuk lututnya dan berusaha menendangnya. Untuk suatu alasan, seorangnpun tidak ada yang berbicara, dan tidak seorangpun yang menangis. Menangis pada saat seperti itu sangat tidak berguna.

Keduanya bergulingan di atas tanah sepeti binatang, mencakar, mengiggit, mengoyak dan memukul satu yang lainnya. Tubuhnya menjadi semakin dan semakin terbuka.

Gadis itu hampir pada batas kegilaannya saat dia melawan dan mencakar, namun kekuatannya perlahan-lahan melemah.

Tiba-tiba dia menangis,” Biarkan aku pergi, biarkan aku pergi … kenapa engkau memperlakukanku seperti ini? Kenapa …? Di dalam benaknya dia tahu tidak seorangpun yang dapat menyelamatkannya, dan dia tahu dia tidak akan bisa lepas. Dia hanya bisa memohon ke surga.

“Ini yang engkau inginkan. Aku tahu ini yang kau inginkan.” Fu Hong Xue berbicara dengan napas terengah-engah.

Ma Fang Ling terlihat seperti sudah menyerah. Setelah mendengar kata-kata itu, gadis itu tiba-tiba mengumpulkan semua tenaganya dan menggigit keras bahunya. Seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sakti, namun dia masih dapat mendorong gadis itu sepertinya dia akan mengambil nyawa gadis itu.

Mulut gadis itu lepas dari bahunya, dipenuhi oleh darah dan daging …

Gadis itu tiba-tiba berusaha untuk mendorong. Dia tidak dapat menahan lagi, bernapas dengan panjang.

“Aku mohon kepadamu, aku mohon, jangan lakukan ini.” Dia memohon.

Dia melihat gadis itu dengan penuh pertanyaan,” Kenapa tidak? Siapa yang mengatakannya?”

Tiba-tiba terdengar suara.

“Aku yang mengatkannya!”

Suara itu sangat tenang. Benar-benar tenang.

Saat mencapai taraf yang benar-benar ekstim, kadang-kadang rasa marah berubah menjadi ketenangan.

Suara orang tersebut terdengar seperti pisau di kedua telinga Fu Hong Xue.

Dia akhirnya menampakan diri, Ye Kai!

oooOOOooo

Apa yang akan terjadi antara Ye Kai dan Fu Hong Xue?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: