Kumpulan Cerita Silat

17/01/2008

Harimau Kumala Putih: Bab 03

Filed under: Gu Long, Harimau Kumala Putih — Tags: — ceritasilat @ 10:41 pm

Harimau Kumala Putih
Oleh Gu Long
Bab 03

MUNGKIN hal ini diaebabkan karena pikirannya kosong dan tubuhnya amat lemah, amat rapuh.

Sekalipun begitu, bukan berarti ia kehilangan kesadarannya. Yaa, disinilah terletak keajaiban manusia, sering kali di kala manusia berada dalam keadaan lemah, perasaan dan pikirannya justru jauh lebih tajam, jauh lebih sensitip.

Kini, ia telah berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya!

Ia melompat bangun dan menerjang keluar. Ti­ada orang yang menghalanginya kecuali Sugong Siau-hong.

BENTENG KELUARGA SANGKOAN

KETIKA Sugong Siau-hong menahan tubuhnya dengan uluran tangan, Tio Bu-ki segera roboh terkapar ditanah.

Oleh kobaran api benci dan pergolakan rasa dendam yang berkecamuk dalam dadanya, Bu-ki masih dapat bertahan hingga kini.

Tapi sekarang ia terkapar lemas, sekalipun seo­rang bocah kecil cukup mampu untuk merobohkan dirinya pula.

“Aku tahu ke mana kau akan pergi” demikian Sugong Siau-hong berkata, sebenarnya aku tak i­ngin menghalangimu namun karena aku sendiri juga ingin ke sana, maka terpaksa kupersilahkan kau untuk menunggu”

Sepasang mata Tio Bu-ki merah membara, se­pintas lalu tampangnya seperti harimau terluka yang siap menerkam mangsanya, mengerikan sekali keadaan pemuda itu.

“Tapi kau tak boleh pergi dalam keadaan seperti ini” hibur Sugong Siau-hong lebih jauh, “sebab kalau kau bersikeras kesitu, maka kau hanya akan menghantar nyawa saja”

Sepasang mata Cian-cian juga merah membara, teriaknya pnla dengan suara lantang:

“Bagaimanapun juga, kami harus pergi! Walau apapun juga resikonya”

“Sangkoan Jin orangnya jeli dan pikirannya panjang, semenjak dulu dia sudah memelihara sekelompok jago yang setiap saat bersedia menjual nyawa baginya, sekarang ditambah lagi senjata rahasia beracun dari keluarga Tong, sekalipun kita harus ke sana, tentu saja tak boleh pergi tanpa persiapan”

“Lantas dalam keadaan yang bagaimana kita baru boleh pergi?” ngotot Cian-cian.

“Kita harus menunggu, sampai kita mempunyai keyakinan bahwa sergapan kita pasti mendatang kan hasil!”

Ia menghela napas panjang, katanya lagi:

“Bila sergapan kita tidak menemui sasarannya, sehingga ia mendapat kesempatan untuk mengundurkan diri maka selamanya jangan harap kita bisa memperoleh kesempatan baik untuk kedua kalinya”

Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan, namun anak murid Ho hong san-ceng tak mau menerima nasehat tersebut dengan begitu saja …….

Dalam waktu singkat, dibawah pimpinan Lo-Ciang seratus tiga puluh enam orang jagoan telah disiapkan di halaman ruangan depan, mereka semua telah siap dengan senjata lengkap ada yang membawa busur dan panah ada yang membawa tombak dan ada pula yang membawa golok.

Di antara ke seratus tiga puluh enam orang itu ada separuh diantaranya telah mendapat didikan ilmu silat paling selama sepuluh tahun lamanya.

Lo-Ciang berlutut dihadapan Sugong Siau-hong sambil memohon-mohon, kepalanya yang membentur lantai sudah nanar dan mengucurkan darah.

Meskipun begitu, dia memohon terus, memohon kepada Sugong Siau-hong agar diijinkan untuk membalas dendam.

Tentu saja Sugong Siau-hong dapat merasakan gelagat tersebut, ia tahu semangat mereka untuk membalas dendam telah berkobar-kobar, siapapun jangan harap bisa membatalkan niatnya itu.

Padahal ia tidak setuju kalau memakai kekera­san, tapi keadaan memaksa dia untuk menyetujui­nya juga.

“Baik, kalian boleh pergi, aku akan mengiring keberangkatan kalian, tapi bagaimana dengan Bu-ki …..”

“Siau sauya harus ikut pergi” sela Lo-ciang dengan cepat, “Kami telah menyediakan satu mang­kuk kuah jinson untuknya, dikala kereta kita tiba di muka benteng Sangkoan-po, kesehatan tubuhnya pasti sudah pulih kembali!”

—–

Selama hidup Bu-ki paling enggan minum kuah jinson, tapi sekarang mau tak mau dia harus menghabiskan semangkuk kuah tersebut.

Kekuatan tubuhnya harus dipulihkan dalam waktu singkat.

Dia harus pula membunuh pembunuh ayahnya dengan tangan sendiri.

Sayang ada satu hal yang telah ia lupakan ….. kendatipun kekuatan tubuhnya berada dalam kondisi yang terbaik, ia masih bukan tandingan Sangkoan Jin.

—–

Sugong Siau-hong belum melupakan hal ini.

Terhadap ilmu pedang, ilmu silat, keganasan dalam melancarkan serangan dan ketepatan dalam melepasken pukulan maut dari Sangkoan Jin, tiada orang kedua yang lebih memahami daripada dirinya.

Semenjak masih muda, mereka sudah seringkali bahu membahu untuk melakukan pertarungan, rata-rata dalam satu tahun mcreka harus bekerja sama tiga puluh kali.

Sebelum perkumpulan Tay-hong-tong didirikan, paling sedikit mereka pernah melakukan tiga ratus kali pertarungan besar maupun kecil.

Berulang kati ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Sangkoan Jin menyarangkan ujung pedangnya ke tenggorokan musuh, setiap kali selalu tenggorokan yang menjadi sasaran, setiap kali tentu merenggut nyawa orang dan hampir boleh dibilang tak pernah meleset …..

Suatu kali, ketika mereka harus menghadapi Kwan-tiong-jin-kiam (tujuh pedang sakti dari Kwan-tiong), musuh yang dihadapi Sangkoan Jin waktu itu adalah San-tian-koay kiam (pedang cepat sambaran kilat) Cho Sut, seorang jago pedang yang amat tersohor namanya ketika itu, begitu pertarungan dimulai, ia sudah menderita luka tusukan tujuh tempat, bahkan sebuah tusukan kilat telah menembusi bahunya.

Akan tetapi akhirnya Cho Sut tewas di tangannya, sebelum musuh roboh ke tanah seperti juga yang lainnya sebuah tusukannya berhasil menembusi tenggorokannya. Itu baru merupakan ancaman yang paling menakutkan.

Hampir boleh dibilang, ia mempunyai daya kemampuan untuk menahan penderitaan seperti ca­cing di tengah gurun pasir, tapi dia pun memiliki daya tahan yang ulet seperti seekor unta.

Suatu ketika, enam biji tulang iganya kena dihantam patah, ketika orang sedang membantu un­tuk membalutkan lukanya, peluh dingin telah membasahi seprei pembaringannya lantaran menahan sakit, tapi merintihpun ia tidak …….

Waktu itu kebetulan Hui-yang ji-gi hadir disana, setelah menyaksikan peristiwa itu segera katanya kepada orang-orang lain:

“Barang siapa mempunyai musuh semacam Sangkoan Jin, malam harinya mereka tentu tak bisa tidur nyenyak!”

Perkataan itu masih mendengung di sisi telinga Sugong Siau-hong dan tak pernah melupakannya.

Tentu saja pandangan Im Hui-yang terhadap dirinya juga tak akan terlupakan untuk selamanya.

“Bila suatu hari Sugong Siau-hong hendak menantang aku untuk terduel, maka begitu ia datang aku akan cepat-cepat mengambil langkah seribu”

Ketika ada orang bertanya: Kenapa?”‘

Maka Im Hui-yang menjawab: “Sebab ia tak pernah melakukan pertarungan yang tidak ia yakini bisa menang, itu berarti jika ia sampai datang maka keyakinannya untuk menang pasti sudah ada!”

—–

Im Hui-yang tersohor sebagai manusia yang lihai, seorang manusia yang pandai menilai keadaan orang, tentu saja iapun pandai pula memiliki kawan perjuangan.

Dengan bekal kemampuan semacam ini, tentu saja diapun tak akan salah memilih teman.

Selama hidup Sugong Siau-hong memang belum pernah melakukan suatu perbuatan yang tidak diyakini.

Mungkinkah dalam tindakannya sekirang ia telah mempunyai keyakinan untuk menang?

Lo ciang berada pula dalam ruang kereta.

Sakit encok yang dideritanya sejak banyak tahun membuat pelayan tua ini tak sanggup lagi melakukan perjalanan jauh, diapun tak kuat untuk menunggang kuda.

Ruangan kereta sangat lebar dan luas, cukup bagi empat orang untuk duduk dengan nyaman.

Tapi ia bukan duduk dengan nyaman, sebab pada hakikatnya hampir seperti berdiri.

Ia selalu memahami apakah kedudukannya di tempat itu, sekalipun tuan mudanya sudah lama menganggapnya sebagai orang sendiri, tapi belum pernah ia melampaui batas-batas yang telah dipertahankannya selama banyak tahun.

Mengenai persoalan ini, Sugong Siau-hong selalu merasa kagum dan memujinya, karena sepanjang hidup ia paling benci dengan segala macam manusia yang melanggar peraturan.

Oleh karena itulah mereka tidak meminta kepada Lo-ciang untuk duduk lebih nyaman, hanya tanyanya:

“Dengan cara apa kita akan memasuki benteng Sangkoan po? Dengan cara apa menghadapi Sangkoan Jin Apakah kau sudah mempunyai suatu rencana yang matang?”

”Benar,” jawab Lo ciang.

“Kenapa tidak kau katakan?” Sugong Siau hong kembali bertanya.

“Karena toaya belum menanyakannya!”

“Sekarang aku sudah bertanya, kemudian katakanlah dengan cepat!”

Lama sekali ia termenung, kemudian pikirkan sekali lagi dengan seksama semua rencana yang telah disusun secara rapi itu, ketika ia sudah yakin bahwa diantara rencana rencananya itu tiada sesuatu kekurangan, barulah secara terperinci rencana itu diutarakan keluar.

Sangkoan Jin adalah seorang manusia yang aneh suka menyendiri dan berdisiplin ketat, sudah barang tentu benteng Sangkoan po yang berada dibawah komandonya mempunyai penjagaan yang sangat kuat, jangan harap orang luar bisa memasukinya secara gegabah.

Untung Sugong Siau-hong bukan orang luar, Kata Lo-ciang lagi: “Maka dari itu, bila kita akan masuk secara aman, toaya yang musti menampilkan diri lebih dahulu. Sekarang Sangkoan Jin masih belum tahu kalau rahasianya telah terbongkar, bukan saja tiada hadangan-hadangan, bahkan pintu gerbang bentengnya pasti akan dibentangkan lebar-lebar untuk menyambut kedatangan kita”

Rupanya secara diam-diam ia telah memperhitungkan kekuatan lawan, sebab dia tahu dalam benteng Sangkoan-po semuanya terdapat tiga ratus orang centeng penjaga rumah, bahkan hampir semua centeng itu pernah berlatih silat, diantaranya terdapat banyak jago berani mati yang telah dilatih untuk menjual nyawa setiap saat.

Kata Lo-ciang lebih jau: “Kali ini kita hanya membawa seratus tiga puluh enam orang, musuh lebih banyak jumlahnya dari pada kekuatan kita, kemungkinan besar kita masih bukan tandingan mereka”

Sugong Siau-hong menyetujui pendapat tersebut.

“Tapi, jika Sangkoan Jin menyambut sendiri kedatangan kita” kata Lo-ciang lagi, “Pengiring yang dibawanya pasti tidak terlalu banyak”

“Jadi kau bersiap-siap untuk turun tangan pada waktu itu?” tanya Sugong Siau-hong.

Untuk membasmi kaum penjahat kita musti membekuk pentolannya lebih dulu, asal Sangkoan Jin telah berhasil kita kuasahi, anak buahnya tentu tak berani sembarangan berkutik!”

“Siapa yang mempunyai kepandaian untuk mem­bekuknya?”

“Bila kita biarkan siau sauya menyerang dari depan, toaya dan ji-siocia menyergap dari kedua sayap, sedang aku dengan memimpin sepasukan jago mematahkan bala bantuan yang datang dari bela­kang tidak sulit rasanya untuk merobohkannya”

“Seandainya ia tidak keluar apa yang musti kita lakukan?”

“Terpaksa kita harus menyerbu ke dalam dan beradu jiwa dengan mereka ………..”

“Dengan menggunakan apa kau akan beradu dengan mereka?”

“Tentu saja beradu dengan mengandalkan nyawa kita”

Lo-ciang berhenti sebentar, semudian sambil mengepal sepasang tangannya ia berkata lebih jauh:

“Walaupun jumlah mereka lebih banyak, belum tentu mereka berani beradu jiwa dengan kita”

“Beradu jiwa” memang merupakan cara yang paling menakutkan dalam medan pertarungan, baik itu dilakukan disaat apa dan tempat macam apapun, bahkan kadangkala lebih mudah memberikan hasilnya.

Sugong Siau hong menghela napas panjang, katanya:

“Urusan telah berkembang menjadi begini, agaknya terpaksa kita harus menempuh dengan cara tersebut”

—–

Sayang cara tersebut tak mungkin bisa mereka laksanakan karena hakikatnya mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggunakannya.

Pada saat itulah mereka telah menyaksikan kobaran api di tempat kejauhan sana, jilatan api yang membuat separuh langit berubah menjadi merah.

Tempat terjadinya kebakaran itu tampaknya seperti benteng Sangkoan po yang sedang mereka tuju.

Ketika mereka tiba, Sangkoan po sudah tinggal puing-puing yang berserakan, sesosok bayangan manusiapun tidak nampak.

Di tempat bekas kebakaran tidak ditemukan kerangka manusia,

Sangkoan Jin dan segenap anak buahnya berjumlah empat ratus orang telah lenyap dengan begitu saja, seakan-akan mereka lenyap dengan begitu saja dari permukaan tanah.

Sungguh tegas, keji, bersih dan rapi tindakan ini, sulit rasanya untuk menemukan orang kedua yang dapat melakukan tindakan setegas ini ……..

“Kemunafikan, ketebalan muka, kekejian serta kelicikannya sudah cukup membuat orang untuk mengaguminya, disamping takut pula kepadanya”

Itulah penjelasan yang kemudian diberikan Sugong Siau-hong tentang lenyapnya Sangkoan Jin dari benteng Sangkoan-po.

Ucapan tersebut tak pernah dilupakan lagi oleh Tio Bu-ki untuk selamanya.

—–

Selain mempersiapkan segala kepandaian untuk menjadi seorang istri yang setia dan bijaksana, Wi Hong nio mempunyai pula suatu kebiasaan yang baik.

Setiap hari menjelang tidur, ia tentu mencatat semua kejadian besar yang dialami atau diketahuinya sepanjang hari serta semua jalan pikirannya pada hari itu dalam catatan harian.

Semenjak masih kecil ia sudah mempunyai kebiasaan baik itu, sekalipun ia berada dalam suasana yang sedih, belum pernah ia membengkalaikan kebiasaannya itu.

Tentu saja kejadian besar yang dialaminya selama beberapa hari ini telah dicatat semua, kendati pun agak sedikit kacau, tapi sikap serta cara berpikirrya tentang Bu-ki dan pelbagai persoalan, ternyata jauh berbeda dengan pandangan orang lain.

Berikut ini adalah beberapa diantara catatan hariannya.

—–

Bulan empat tanggal empat, hari cerah.

Pembunuh loya-cu ternyata Sangkoan Jin, suatu kejadian yang tak pernah disangka-sangka.

Aku selalu beranggapan hubungannya dengan lo-yacu paling akrab dari pada hubungannya dengan orang lain, bahkan sampai sore itu ketika mereka berdua minum arak dalam kebun, aku masih mempunyai anggapan demikian.

Sekalipun demikian, hari itu aku menemukan sesuatu kejadian yang aneh sekali.

Menengok dari daun jendela di atas loteng tempat tinggalku, kebetulan dapat kusaksikan gardu tempat mereka minum arak dengan jelas.

Hari itu kusaksikan dengan mata kepala sendiri Sangkoan Jin seperti akan menjatuhkan diri berlutut dan menyembah di hadapan Loya-cu, tapi niatnya itu dapat dihalangi oleh Loya-cu.

Aku tahu, hubungan persaudaraan di antara mereka memang diimbangi dengan segala peraturan dan tata cara yang banyak. Samte menyembah kepada Jikonya memang bukan suatu kejadian yang luar biasa.

Di tambah pula hari itu aku selalu merindukan Bu ki, maka waktu terjadi peristiwa itu aku tak begitu menaruh perhatian hampir saja melupakan kejadian itu.

Tapi setelah kupikirkan kembali sekarang, dapat kurasakan bahwa peristiwa menyembah itu pasti mengandung alasan yang luar biasa.

Mungkinkah lantaran Sangkoan Jin mempunyai rahasia yang memalukan dan berhasil diketahui oleh Loya-cu, maka dia hendak menyembah untuk minta maaf?

Meskipun Loya-cu telah mengampuni dirinya, tentu ia belum merasa lega maka dibunuhnya Loya-cu untuk menghilangkan jejak.

Bu-ki, Cian-cian telah berangkat ke benteng Sangkoan po bersama Sugong toaya, hingga kini mereka belum kembali.

Sebelum berangkat, ia tidak melihat kepadaku, melirik sekejappun tidak tapi aku tidak membencinya.

Aku dapat memahami perasaannya, sebab perasaanku sendiripun ikut menjadi takut.

Aku tahu malam ini aku pasti tak dapat tidur nyenyak.

—–

Bulan enam tanggal lima, hari cerah.

Pagi-pagi sekali Bu-ki sekalian telah pulang, wajah mereka tampak gelisah, murung dan tak sedap dipandang.

Akhirnya kuketahui ketika mereka tiba di tempat tujuan, ternyata benteng Sangkoanpo telah terbakar tinggal puing-puing yang berserakan, Sangkoan Jin sendiri juga ikut kabur.

Ia memang selalu bertindak sangat cermat dan hati-hati, tentu saja ia telah menduga kalau rahasianya cepat atau lambat bakal ketahuan orang, maka sebelum terjadi sesuatu ia telah sedia payung sebelum hujan.

Kalau bukan demikian, tak mungkin ia bisa kabur membawa serta segenap anak buahnya.

Bila ada rombongan melakukan perjalanan bersama, kejadian ini pasti akan menimbulkan perhatian orang, sedikit banyak mereka tentu akan meninggalkan jejak pula.

Rupanya Sugong toaya telah berpikir sampai ke situ, ia telah mengutus orang untuk melakukan pengejaran, ke empat penjuru.

Tapi menurut perasaanku, pengejaran ini pasti sia-sia belaka dan tak akan mendatangkan hasil apa-apa, sebab Sangkoan Jin tentu sudah berpikir pula sampai kesitu, seluruh anak buahnya tentu sudah diperintahkan untuk menyaru dan memecahkan diri dalam kelompok kecil.

Hari ini Bu-ki masih belum mengajak aku berbicara, tapi aku tidak menyalahkan dirinya.

Bagaimana juga aku telah masuk ke dalam keluarga Tio, aku telah menjadi orangnya keluarga Tio, sampai berapa lamapun aku harus menunggu hatinya tak akan menyesal.

Aku sangat ingin membuatkan semangkuk kuah ayam masak kaki babi yang paling disukainya dan menyuapi sendiri ke mulutnya.

Tapi akupun tahu bahwa aku tak boleh berbuat demikian.

Tempat yang kuhuni sekarang adalah suatu keluarga besar, aku harus berhati-hati dalam setiap gerak gerikku, aku tak boleh membiarkan orang lain membicarakan kejelekanku secara diam-diam.

Aku hanya bisa berharap semoga ia bisa baik-­baik menjaga diri.

—–

Bulan empat tanggal enam, hari mendung.

Hingga kini berita tentang Sangkoan Jin masih belum diketahui, semua orang tampak lebih gelisah dan tak tenang.

Yang aneh, keadaan Bu-ki justru lebih tenang daripada beberapa hari berselang, bahkan setiap hari dia selalu menghabiskan semangkuk besar nasi beserta lauk pauknya.

Semenjak kecil ia sudah kuperhatikan, tentu saja sangat kupahami bagaimanakah tabiatnya, bila secara tiba-tiba ia berubah menjadi begini, berarti ia telah mengambil satu keputusan dalam hatinya untuk mengerjakan sesuatu.

Sekalipun tidak ia ungkapkan, tapi aku percaya ia tentu hendak mencari sendiri jejak Sangkoan Jin serta membalaskan dendam bagi kematian loyacu.

Tapi akupun tahu, kekuatan yang dimilikinya terlalu minim, bukan saja usahanya ini sangat berbahaya, harapannya pun tipis.

Tapi siapakah yang bisa menghalangi niatnya itu? Aku cukup memahami wataknya, bila ia sudah bertekad untuk mengerjakan suatu pekerjaan maka jangan harap niat tersebut dapat dihalangi.

Aku hanya berharap ia mau kemari dan menjumpaiku sekejap, memberitahu kepadaku kapan dia siap akan pergi, agar akupun dapat memberitahukan kepadanya bahwa kemanapun dia pergi, berapa lamapun ia akan tinggalkan diriku, aku selalu akan menantikan kedatangannya kembali.

Sekalipun harus menunggu seumur hidup, aku juga rela.

—–

Bulan empat tanggal tujuh, hari mendung.

Empat kelompok pengejar yang diperintahkan melacaki jejak Sangkoan Jin, sudah ada dua ke­lompok yang telah kembali, betul juga dugaanku, mareka pulang dengan tangan hampa.

Sebetulnya kemanakah perginya Sangkoan Jin? Tempat manakah yang dapat ia gunakan sebagai tempat persembunyian?

Aku dapat menduga tempat manakah yang ia gunakan sebagai tempat persembunyian, tapi aku tak berani mengatakannya.

Persoalan ini mempunyai hubungan yang amat besar dengan keadaan dalam dunia persilatan, aku tak akan sembarangan berbicara.

Semoga Bu-ki jangan teringat pula dengan tempat itu, sebab kalau sampai dia ke sana, mungkin tiada harapan lagi baginya untuk kembali dalam keadan selamat.

Setelah cuaca menjadi gelap, hujan mulai turun dengan derasnya pikiran dan perasaanku terasa makin kalut.

Oh, Bu-ki! Mengapa kau tidak datang menengokku? Tahukah kau betapa banyaknya persoalan yang hendak kubicarakan denganmu? Tahukah betapa i­nginnya aku berbicara denganmu? Walau hanya sepatah kata saja.

—–

kemarin, dikala aku menulis sampai di sini tiba-tiba ada orang mengetuk pintu di luar, akupun berhenti untuk sementara waktu.

Bagian yang kutulis sekarang adalah tambahan untuk catatan semalam, karena setelah Bu-ki pergi semalam, aku tak mampu untuk memegang pit lagi.

Tentu saja orang yang datang menjengukku malam-malam tak lain adalah Bu-ki.

Ketika kujumpai kemunculannya, tak terlukiskan rasa gembira di hatiku, namun akupun merasakan kesedihan yang tak terkirakan.

Aku gembira karena akhirnya ia datang menjengukku, tapi akupun sedih karena sudah kuduga ia tentu datang untuk mengucapkan selamat berpisah denganku.

Ternyata dugaanku memang tidak salah.

Ia bilang dia mau pergi, pergi mencari Sangkoan Jin, kendatipun harus menjelajahi seluruh ujung dunia, Sangkoan Jin akan dicari sampai ketemu dan dendam Loya-cu harus dibalas.

Ia bilang setelah menjumpai dia akan pergi, kecuali aku tiada orang lain yang diberitahu, bahkan Cian-cian pun tidak tahu.

Sebetulnya aku tak ingin menangis di hadapannya, tapi setelah mendengar perkataan itu tak bisa ditahan lagi air mataku jatuh bercucuran.

Dia hanya memberitahukan persoalan ini kepadaku, sebelum berangkat diapun hanya berpamit padaku, ini berarti dalam hatinya masih terdapat aku, tapi mengapa ia tidak membawa serta diriku?

Padahal aku juga tahu, tak mungkin dia akan pergi membawaku, akupun tahu kepergiannya kali ini tanpa tujuan, aku tak boleh menyusahkan dia.

Tapi aku tak dapat mengendalikan rasa sedih yang mencekam perasaanku saat itu.

Aku merasa berat hati untuk melepaskan dia pergi, tapi akupun tak dapat menahan dirinya terus.

Jika aku melarang ia pergi untuk membalaskan sakit hati ayahnya, bukankah diriku akan menjadi orang yang berdosa dari keluarga Tio? Lain kali aku mana punya muka untuk bertemu dengan Loya-cu di alam baka?

Ketika ia melihat air mataku bercucuran, aku segera dihiburnya dengan kata-kata lembut, ia bilang selama beberapa tahun ini selalu berlatih dengan tekun, ia merasa sudah mempunyai keyakinan dengan ilmu silat yang dimilikinya, lagipula sebelum keberangkatannya sekarang, ia telah mengadakan persiapan pula.

Yaa ia memang sudah menyiapkan segala sesu­atunya, bukan saja membawa ongkos jalan yang cukup, diapun mencatat semua alamat dari sababat-sababat loya-cu semasa hidupnya.

Semua alamat dari kantor-kantor cabang per­kumpulan Tay-hong-tong telah diingat semua dengan jelas, maka ia minta aku berlega hati karena diluar masih ada orang yang merawat dirinya.

Sesungguhnya ingin sekali kuberitahukan kepadanya, betapa berharapnya aku bisa mendampinginya serta merawat sendiri semua kebutuhannya.

Tapi akhirnya aku tidak berkata apa-apa, aku tak ingin membuat ia mengalami kesulitan di tempat luar karena terlalu merindukan diriku.

Aku lebih rela mengucurkan air mata sendiri di sini.

Hari ini adalah bulan empat tanggal tujuh, hujan telah berhenti. Tiba-tiba saja udara berubah sangat panas, semacam musim panas saja.

Pagi tadi aku baru tahu, rupanya Sugong Siau­-hong pun telah pergi, ia berangkat lebih dulu, kemudian Bu-ki baru ikut berangkat.

Ketika fajar baru menyingsing, sudah beberapa rombongan yang keluar rumah untuk mencari Bu-­ki , betapa berharapku bila mereka bisa menemukannya kembali, tapi akupun berharap agar mereka jangan menemukan dirinya, agar ia dapat melaksanakan apa yang sudah menjadi tugasnya untuk dilaksanakan.

Bagaimanapun juga, aku telah bertekad untuk tidak mengunci diri sepanjang hari dalam kamar, aku tak ingin menangis terus meratapi nasibku yang malang, akupun tak ingin menikmati semua penderitaan serta percobaan yang sedang menimpa diriku

Aku tahu merenung tak ada faedahnya, menutup diri dalam kamar hanya akan merusak kesempatan badan sendiri, aku tak ingin menjadi perempuan yang lemah …….

Yaa, bagaimanapun pedihnya perasaanku, bagaimana hancurnya hatiku karena kepergiannya, aku harus bangkitkan kembali semangatku …….

Aku harus tampilkan diri dirumah ini untuk membantu Cian-cian mengurusi rumah tangga, sebab rumah ini telah menjadi rumahku pula.

Aku ingin membuktikan kepada arwah loya-cu yang berada di alam baka bahwa aku adalah menantu keluarga Tio yang baik, menantu kelurga Tio yang setia dan bukan perempuan lemah yang tak berjiwa jantan.

Akupun ingin membuktikan kepada setiap orang bahwa aku merupakan istri Tio Bu-ki yang setia, istri yang bijaksana dan dapat mengendalikan keadaan.

Dia berbuat demikian karena dia ingin meninggalkan sejauh-jauhnya tatapan mata Hong-nio yang bening dan menghanyutkan. Ia kuatir tatapan mata yang lembut tersebut akan meluluhkan tekad hatinya.

—–

MANUSIA TAK BERTULANG PUNGGUNG

MALAM sangat gelap. Hujan turun dengan derasnya …….

Percikan air yang dingin bagaikan cambuk yang menyayat wajah Bu-ki, sekalipun udara serasa dingin membekukan badan tak nanti bisa memadamkan kobaran api dihatinya.

Api itu berkobar karena dendam kesumat yaug membara, air mata Hong-nio pun tak mampu memadamkannya, apalagi hanya percikan air hujan?

Sepanjang jalan ia melarikan kudanya kencang-kencang, bukan berarti ia telah mempunyai suatu tujuan tertentu dan terburu-buru ingin tiba disitu, bukan.

—–

Malam sudah semakin kelam, ditengah jalan raya yang gelap gulita tiba- tiba muncul sebuah lampu lentera.

Aneh! Ditengah kegelapan malam yang diguyur oleh hujan yang membekukan badan, darimana datangnya pembawa lentera itu?

Tapi Bu- ki tidak berpikir ke sana, diapun tidak mendekati sumber lentera itu untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya.

Yaa, pada hakekatnya ia tak mau perduli urusan orang lain, siapa tahu justru oranglah yang telah menghadang jalan perginya.

Kuda tunggangannya yang perkasa tiba-tiba meringkik panjang dan mengangkat keatas sepasang kaki depannya, nyaris melemparkan tubuh Bu-ki ke belakang.

Kejadian tersebut segera mengobarkru amarahnya, sayang amarah itu tak mungkin dilampiaskan keluar sebab orang yang menghadang jalan perginya tak lebih hanya seorang bocah cilik.

Seorang bocah cilik yang berbaju merah membara dengan dua kepang yang kecil, di tangan kirinya ia membawa payung sedang ditangan kanannya membawa lampu lentera.

Ketika itu bocah tadi sedang menatapnya sambil tertawa, tampak sepasang lesung pipinya yang menambah manisnya raut wajah bocah itu.

Mustahil bukan ia harus marah dengan bocah cilik?

Tapi anehnya, kenapa bocah cilik seperti ini bisa muncul ditengah jalanan yang sepi dan gelap ini ditengah malam buta?

Bu-ki mengendalikan kudanya lebih dahulu, kemudian baru bertanya:

“Mengapa kau tidak menyingkir ke samping? Apa kali kau tidak takut diinjak kuda ini sampai mati?

Bocah cilik itu menggelengkan kepalanya, sepasang rambut kepangnya yang cilik ikut bergoyang kesana kemari, lucu dan menawan persis seperti sebuah boneka.

Sesungguhnya Bu-ki suka dengan anak cilik bocah itu sebenarnya juga menawan hati. Tapi bagaimanapun juga nyalinya terlalu besar, ia sudah tidak mirip dengan seorang bocah meski tampangnya masih kebocah-bocahan..

“Kau benar-benar tidak takut?°” kembali Bu-ki bertanya.

“Aku hanya takut kalau kuda ini sampai kuinjak mati, sebab aku tak kuat untuk membayar ganti ruginya”

Bu-ki tertawa, tapi ia berusaha untuk menahan rasa gelinya, sambil menarik muka katanya dengan dingin:

“Kau tidak takut ayah ibumu menunggu dengan cemas dirumah?”

“Aku tidak punya ayah juga tidak punya ibu!”

“Perduli bagaimanapun juga, sekarang kau harus segera pulang ke rumah .”

“Tapi baru saja aku keluar dari rumah!” sera bocah cilik itu.

“Semalam ini mau apa kau keluar rumah?”

“Mencari kau!”

Meskipun setiap jawaban dari bocah itu berada diluar dugaan tapi yang paling di luar dugaan adalah ucapannya yang terakhir ini.

Kau keluar rumah untuk mencari aku?” tanya Bu-ki keheranan.

“Ehmm betul”

“Kau masa tahu siapakah aku?”

“Tentu saja tahu, kau she Tio bernama Tio Bu-ki, Toa sauyanya Tio jiya dari perkumpulau Tay­-hong-tong!”

Bu-ki tertegun, untuk sesaat ia tak sanggup ber­bicara.

Bocah cilik itu memutar sepasang biji matanya, kemudian sambil tertawa kembali berkata:

“Tapi aku berani bertaruh tentu kau tak akan tahu siapakah aku ini, bukan begitu?”

Bu-ki memang tidak tahu, selama hidupnya hingga detik ini ia belum pernah berjumpa dengan seorang bocah cilik macam itu.

Tarpaksa iapun bertanya:

“Siapakah kau?”

“Aku adalah bocah cilik!”

“Aku sudah tahu kalau kau adalah bocah cilik!”

“Kalau sudah tahu, kenapa musti bertanya lagi?

“Aku ingin mengetahui namamu!”

Tiba tiba bocah, itu menghela napas panjang, katanya:

“Ayah ibupun aku tak punya, dari mana bisa mempunyai nama?”

Bu-ki ikut menghela napas sesudah mendengar jawaban itu, selang sesaat kemudian kembali ia bertanya:

“Lantas di rumahmu ada siapa saja?”

“Kecuali guruku masih ada seorang tamu”

Siapa gurumu?”

“Sekalipun kusebutkan namanya, belum tentu kau mengenalinya!”

“Itu kalau dia tidak kenal dengan aku, kenapa su­ruh kau datang mencariku….?”

“Siapa bilang kalau dia yang suruh aku kemari?”

“Kalau bukan dia, masa tamu itu yang suruh?”

Tiba-tiba bocah itu menghela napas lagi.

“Aaaai… aku masih mengira kau tak bisa menebak untuk selamanya, tak kusangka kalau kaupun ada saatnya menjadi pintar”

“Apakah tamu kalian itu bernama Sugong Siau-hong?” kembali Tio Bu-ki bertanya.

Bocah itu segera bertepuk tangan sambil bersorak kegirangan:

“Horee …. tak nyana makin lama kau semakin pintar, kalau begini terus kemajuan yang dapat kau raih, siapa tahu kalau suatu hari kau bisa menjadi secerdik aku sekarang”

Bu-ki tak bisa menjawab, ia hanya tertawa getir .

“Mau ke sana tidak? kembali bocah itu bertanya

Mana mungkin dari Bu-ki untuk menghindarkan diri? Setelah Sugong Siau-hong berhasil menemukan jejaknya, mau bersembunyipun tak ada gu­nanya ……..

“Rumahmu berada di mana? akhirnya ia bertanya.

“Itu disana!” kata si bocah sambil menuding ke arah hutan di tepi jalan sana.

—–

Hujan rintik masih turun tiada hentinya, tetesan air tersebut ibaratnya sabuah tirai dan hutan tersebut berada dibalik tirai.

Maka kau harus masuk dulu kedalam sebelum dapat melihat sinar lampu yang memancar keluar dari balik daun jendela.

Kalau ada sinar lampu, berarti di situ ada manusia yang menghuni.

Daun jendela itu tidak terlampau besar, sudab barang tentu bangunan rumahnya juga tidak terlalu besar, hakikatnya bangunan itu sebuah bangunan rumah kecil.

Bagaimana mungkin Sugong Siau-hong bisa sampai disini?

Bu-ki tak dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya:

“Mengapa gurumu harus mendirikan rumahnya di tempat seperti ini?”

“Masa di sini ada rumah! Kenapa aku tidak menemukan rumah yang kau maksudkan itu?” kata si bocah keheranan.

“Itukan rumah? Kalau bukan, lantas apa na­manya?”

Sambil menggelengkan kepalanya bocah itu menghela napas sedih.

“Aaai….Kenapa secara tiba. tiba kau menjadi bodoh lagi?” keluhnya, “Masa sebuah kereta kudapun tak dapat kau bedakan?

Bu-ki tertegun, ia benar-benar tercenung dibuatnya.

Untunglah sepasang matanya masih dapat melihat bagian bawah dari “bangunan rumah” itu memang dibawahnya terdapat empat buab roda kereta yang besar.

—–

Seandainya tempat itu adalah sebuah bangunan rumah, tentu saja tak dapat dianggap sebagai bangunan rumah, bila dianggap sebagai sebuah ke­reta, maka tempat itu betul-betul merupakan sebuah kereta kuda yang luar biasa besarnya.

Tapi pada hakekatnya tempat itu memang sungguh-sungguh sebuah kereta kuda.

Belum pernah Bu-ki menjumpai kereta kuda sebesar itu, hakekatnya lebih mirip dengan sebuah bangunan rumah kecil.

“Pernahkah kau tinggal di atas sebuah kereta?” tiba-tiba bocah itu bertanya.

“Belum pernah!”

“Tak heran kalau kau tidak tahu bahwa tinggal di atas kereta kuda jauh lebih nikmat dan nyaman daripada tinggal dalam sebuah rumah”

“Bagaimana nyamannya?”

“Dapatkah bangunan rumah berpindah-pindah?”

“Tentu saja tak dapat!”

“Tapi kereta kuda dapat berpindah-pindah, hari ini misalnya masih berada di Bo-tong, besoknya sudah berada di Hoo-se, pada hakekatnya seakan­-akan di manapun kita pergi disitu ada rumah kita!”

“Apakah kalian selalu menganggap kereta kuda ini sebagai rumah tempat tinggal?”

Bocah itu manggut-manggut, tapi sebelum ia mengucapkan sesuatu, dari dalam kereta sudah ada orang menegur:

“Apakah Bu-ki telah datang?”

Tentu saja suara itu adalah suara dari Sugong Siau-hong!

Ruangan kereta yang luas dan lebar dibagi menjadi dua oleh sebuah kain korden berwarna merah menyala, bisa diduga dibalik tirai korden itu tentu merupakan kamar beristirahat dari tuan rumah.

Diruang depan terdapat sebuah pembaringan baru dan sebuah meja sebuah meja kecil, beberapa buah kursi kayu beberapa lembar lukisan kenamaaan beberapa macam barang antik dan selain itu terdapat juga sebuah bangku, sebuah tungku kecil dan satu stel catur.

Setiap macam benda itu tampaknya sudah dia atur secara teliti dam persis diletakkdn pada bagian ruangan yang paling cocok.

Setiap jengkal tempat yang berada dalam ruangan itu telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Orang yang berbaring diatas pembaringan bambu itu adalah seorang setengah umur yang rambutnya sudah banyak yang memutih, ia berdandan amat rajin dan bersih, bajunya amat serasi sekulum senyuman ramah yang lembut menghiasi wajahnya yang tampan.

Siapapun juga yang bertemu dengannya pasti dapat merasakan bahwa dulunya ia tentu merupakan seorang laki-laki yang paling disukai oleh o­rang-orang perempuan.

Seandainya kalau bukan lantaran punggungnya mungkin sampai sekarangpun dia tetap akan disenangi oleh kaum perempuan.

Sayang punggungnya terdapat sebuah rangka besi yang menopang tubuhnya. orang itu seakan-akan ditopang keseluruhannya oleh rangka besi tadi, seolah-olah bila tiada rangka besi itu maka seluruh tubuhnya akan terlepas dan hancur berkeping-keping

Baik siapapun juga, bila pertama kali ia menjumpai pemandangan semacam ini pasti akan menimbulkan perasaan aneh dalam hatinya.

Perasaan itu seperti seseorang yang baru pertama kalinya menyaksikan seorang manusia sedang menjalankan siksaan hidup didepan matamu.

Bedanya, kalau siksaan orang lain dengan cepat akan berlalu, maka orang ini harus merasakan penderitaannya selama hidup.

—–

Tio- Bu-ki hanya memandang orang itu sekejap.

Karena ia sudah tak ingin untuk memandang kedua kalinya, ia tak tega untuk menyaksikan ke dua kalinya.

Sugong Siau-hong duduk di sebuah kursi tepat berhadapan dengan pintu kereta, ketika melihat kedatangannya, sambil tersenyum ia hanya berkata.

“Ooo…., akhirnya kau datang kemari juga!”

Bu-ki tidak mengajukan pertanyaan kepadanya, ia tidak bertanya.

“‘Darimana kau kau bisa tahu kalau aku bisa datang?”‘

Seakan-akan orang ini selalu dapat mengetahui segala sesuatu persoalan yang sesungguhnya tidak pantas diketahui olehnya.

Sugong Siau-hong kembali berkata: “Sebenarnya aku ingin menyambut sendiri kedatanganmu, tapi aku …..”

“Tapi kau takut kehujanan” tukas Bu-ki tiba-­tiba sambil menyambung kata-katanya yang belum selesai itu.

“Darimana kau bisa tahu?” Agaknya Sugong Siau-hong merasa terkejut bercampur keheranan oleh kenyataan itu

“Yaa, tentu saja aku tahu hanya ada tiga pekerjaan di dunia ini yang kau paling takuti, pertama memikul kotoran manusia, kedua bermain catur, dan ketiga kehujanan”

Mendengar perkataan itu, Sugong Siau-hong segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-habak.

“Hingga sekarang aku tetap tak habis mengerti kenapa kau takut bermain catur?” kata Bu-ki.

“Sebab untuk bermain catur bukan saja harus pusatkan semua pikiran dan tenaga lagi pula terlalu banyak membuang energi .”

Kalau ada manusia macam Sugong Siau-hong, tentu saja ia tak sudi membuang-buang energinya dengan percuma, apalagi untuk melakukan pekerjaan macam bermain catur yang banyak membuang waktu.

Di dunia ini masih terdapat banyak persoalan yang butuh ia pikir secara tenang, jauh lebih penting dari urusan seperti bermain citur.

Tiba-tiba tuan rumah yang berbaring diatas pembaringan itu ikut berkata sambil tertawa: “Ooh, kalau seorang manusia cacad macam aku yang selalu bergelandangan ke empat penjuru, tentu saja tak akan kuatir untuk membuang tenaga dan pikiran secara percuma!”

Sekalipun senyumannya masih tetap lembut dan ramah, tapi jelas menunjukkan rasa kesepian yang tebal, kembali katanya: “Bagiku, aku hanya takut kalau tak ada orang yang mau menemani aku untuk bermain catur lagi”

—–

Hujan rintik-rintik dan hembusan angin dingin malam berlangsung di luar jendela, di atas meja kecil masih tertera permainan catur yang terhenti ditengah jalan.

Mungkinkah sepanjang tahun ia selalu hidup dalam suasana seperti ini?

Selalu hidup dengan rangka besi yang menopang puuggungnya?

Meskipun Bu-ki selalu berpura-pura tidak memperhatikan penderitaannya, sayang ia bersikap kurang baik.

Tiba-tiba tuan rumah itu tertawa dan berkata: “Tentu saja akupun takut sekali dengan rangka besi yang selalu menopang punggungku ini, sayang aku tak bisa kehilangan dia”

Dalam keadaan seperti ini, Bu-ki tak dapat berpura-pura tidak melihat lagi, tak tahan dia lantas bertanya: “Kenapa?”

“Sebab tulang punggung yang menopang segenap kekuatan tubuhku telah hancur dan rusak, bila tubuhku tidak ditopang oleh kerangka besi ini, niscaya keadaanku akan berubah menjadi mengenaskan sekali, yaa …. bayangkan sendiri bagaimana jadinya bila orang sudah tidak memiliki tulang punggung yang menopang tubuhnya lagi?”

“Oleh sebab itu kadangkala aku sendiripun merasa keheranan kenapa aku masih dapat hidup hingga sekarang”

Tiba-tiba Bu-ki menemukan bahwa punggungnya merinding karena basah oleh peluh dingin, hawa dingin yang mencekat perasaan itu muncul dari punggung dan langsung menembusi telapak kakinya

Meskipun ia tak dapat memahami sampai berapa besar penderitaan yang dijalankan orang ini, tapi mau tak mau dia harus merasa kagum juga terhadap orang ini, karena kendatipun dirinya su­dah tahu kalau selama hidupnya harus berada dia atas rangka besi yang menopang tubuhnya, ternyata ia selalu dapat tersenyum bahkan senyumannya begitu lembut dan ramah.

Agaknya tuan rumah berhasil menebak apa yang sedang ia pikirkan, katanya: “Akan tetapi aku tak usah mengagumiku, sebab ditubuh setiap orang pasti terdapat rangka semacam ini hanya saja kau tak dapat melihat dengan mata telanjang”

Ditatapnya Bu-ki tajam-tajam, seperti seorang kolektor yang sedang mengamati sebuah benda antik lalu tambahkan: “Bahkan kau sendiripun sama saja!’

“Akupun sama saja?” ulang Bu-ki dengan perasaan tidak habis mengerti.

“Kalau seorang yang mengidap penyakit, dalam tubuhmu juga terdapat sebuah kerangka yang menopang tubuhmu..maka hingga kini kau tak sam­pai roboh ke tanah”

Jelas Bu-ki masih belum dapat memahami maksudnya, cuma ia tetap menjaga ketenangannya dan siap mendengarkan perkataan orang itu lebih jauh.

Kata tuan rumah itu lagi: “Kalau kutinjau dari pakaian berkabung yang kau kenakan, rupanya dalam beberapa waktu berselang kau telah kehilangan seorang yang paling kau kasihi?”

Bu-ki tertunduk sedih.

Setiap kali bila teringat kembali akan kematian ayahnya, ia selalu merasa hatinya perih dan sakit, sedemikian sakitnya sehingga hampir saja sukar ditahan.

“Wajahmu pucat pasti, sinar matamu sayu dan penuh dengan garis-garis merah semu ini menunjukkan bukan saja hatimu kelewat sedih, bahkan pe­nuh dengan kobaran api dendam” kata tuan rumah lebih jauh.

Setelah menghela napas tambahnya: “Kesedihan dan api kebencian merupakan suatu wabah penyakit yang sangat berbahaya, kau sudah sakit parah”

Diam-diam Bu-ki harus mengakui akan kebenaran dari perkataan itu, yaa, memang begitulah keadaan yang sesungguhnya.

Kembali tuan rumah berkata: “Hingga sekarang kau belum juga roboh ketanah hal ini disebabkan karena kau masih ingin membalas dendam, maka kau tak boleh roboh duluan ke tanah”

Bu-ki mengepal sepasang tangannya kencang-kencang.

“Pandanganmu tepat sekali!” ia mengakui.

“Nah, ingatan untuk membalas dendam itulah kerangka yang telah menopang tubuhmu, tanpa kerangka penopang tersebut, mungkin sejak dulu-dulu kau sudah hancur dan musnah!”

Sekarang Bu-ki telah memahami maksud dari perkataannya itu.

Meskipun cara berpikir orang itu sedikit aneh dan luar biasa, namun mengandung suatu pendapat pelajaran yang dalam sekali artinya, yang membuat orang tak dapat membantah.

Sekalipun tubuhnya telab cacad, namun kecerdasan serta jalan pikirannya justru lebih tajam dan lebih hebat dari kebanyakan manusia.

Timbul suatu keinginan dihati Bu-ki untuk mengajukan suatu pertanyaan.

“Sesungguhnya siapakah orang ini?”

Tapi sebelum pertanyaan itu diajukan, sambil tersenyum Sugong Siau-hong telah keburu memberi keterangan lebih dahulu;

“Orang ini adalah seorang manusia aneh!”

“Mengapa dia adalah seorang manusia aneh?”

“Selamanya belum pernah kusaksikan ia mencari untung setengek uangpun, tapi ia dapat melewatkan kehidupannya bagaikan seorang raja muda” kata Sugong Siau-hong lagi.

Dalam hal ini Bu-ki sudah dapat melihat sendiri, setiap benda dan barang antik yang tertera dalam kereta itu nilainya berada diatas ribuan tahil emas, pakaian yang dikenakan terbuat pula dari bahan yang termahal dan terhalus.

Tentu saja selain apa yang dapat dilihat, masih banyak diantaranya yang tak dapat dilihat oleh Bu­-ki.

Kata Sugong Siau hong lagi: “Meskipun ia sendiri selalu tinggal dalam keretanya, namun paling sedikit ada tiga puluh orang lebih yang siap sedia menantikan perintahnya setiap saat kurang lebih lima ratus langkah dari kereta ini, diantaranya termasuk juga empat orang ko-ki terbaik yang belum tentu bisa diundang oleh istana kaisar, dan empat orang ahli kuda yang pernah menjadi penanggung jawab perawatan kuda dari Tay ciangkun yang melakukan operasi penyerbuan ke barat!”

“Bukan empat, tapi enam orang!” tuan rumah membenarkan kesalahan tamunya sambil tersenyum.

Di antara senyuman itu tidak terselip nada sombong atau tinggi hati, pun nada pula nada membanggakan diri.

Ia mengucapkan perkataan itu tak lebih hanya bermaksud untuk membenarkan kesalahan yang di buat oleh tamunya.

“Baik ruang kereta maupun roda kereta yang berada di sini dibuat secara khusus oleh ahli-ahli kenamaan” kembali Sugong Siau-hong menerangkan, “bukan indah saja bentuknya, bahkan jauh lebih kokoh daripada bangunan rumab biasa, maka dari itu bobotnyapun lebih berat dari kereta biasa, delapan ekor kuda penghela keretanya meski merupakan kuda-kuda jempolan, tapi setiap kali setelah menempuh perjalanan sejauh tiga lima ratus li, harus diganti satu kali”

“Bagaimana cara untuk menggantinya?” tanya Bu-ki keheranan.

“Asal tempat yang disinggahi adalah tempat-tempat yang sering dikunjungi, maka setiap jarak tiga sampai lima ratus li tentu terdapat sebuan pos untuk mengganti kuda”

Ia menghela napas panjang, katanya lagi: “Menurut penilaianku, paling sedikit kuda yang dipeliharanya mencapai delapan ratus ekor lebih, bahkan di antaranya separuh bagian merupakan kuda-kuda pilihan kelas satu”

Seorang cacad ternyata memelihara delapan ratus ekor kuda, inilah kejadian sensasi yang jarang dijumpai didunia ini.

Tapi Sugong Siau-hong mengucapkan kata-kata itu dengan wajah bersungguh-sungguh, Bu-ki tahu ia tak mungkin sedang mengibul atau sengaja membesar-besarkan keadaan.

“Hanya khusus untuk membeayai hidup ke tiga puluh orang pengiringnya serta delapan ratus ekor kuda ini setiap bulan ia memerlukan untuk mengeluarkan beaya paling sedikit lima laksa tahil perak !

“Akan tetapi kau belum pernah melihat ia mendapat untung barang sepeser uang pun? lanjut Bu-ki.

“Jangankan mendapat untung, sejengkal tanahpun ia tidak memiliki”

“Siapa tahu kalau ia mempunyai banyak rumah pegadaian? Aku dengar rumah pegadaian merupakan suatu usaha perdagangan yang paling cepat mendapatkan untung”

Tiba-tiba tuan rumah menghela napas, katanya: “Apakah kau telah menganggap diriku sebagai seorang pengusaha? Apakah aku mempunyai tampang sebagai seorang pengusaha?’

Mau tak mau Bu-ki harus mengakui, orang ini memang tidak mirip sebagai seorang pengusaha, bahkan tampang untuk ke situpun tidak ia miliki ….

Kembali tuan rumah menghela napas: “Barang siapa tega menganiaya seseorang yang sudah menjadi cacad, Thian pasti akan menurunkan kesialan seumur hidup kepadanya, bahkan kemungkinan besar akan menjatuhkan hukuman mati kepadanya!”

Sugong Siau-hong segera menimbrung: “Aku selalu merasa tak habis mengerti, Thiankah yang telah melimpahkan hukuman ini kepada orang-orang itu, ataukah dia sendiri yang melakukannya?”

Setelah tersenyum lanjutnya: “Aku cuma tahu, diantara ke tiga puluh orang pengiringnya, paling sedikit ada belasan orang di antaranya merupakan jago persilatan kelas satu dalam dunia dewasa ini”

Bu-ki yang mendengarkan pembicaraan itu seakan-akan merasa seperti mendengarkan suatu ceri­ta dongeng yang menarik.

“Sekarang sudahkah kau tahu manusia macam apakah dirinya itu?” tiba-tiba Sugong Siau-hong bertanya.

“Tidak tahu!”

Sugong Siau-hong tertawa getir.

“Padahal aku sendiripun tak tahu, sudah banyak tahun aku menjadi sahabat karibnya, tapi hingga kini belum pernah kuketahui siapakah na­manya yang sesungguhnya, tapi setiap kali aku mengetahui kalau dia berada di sekitar sini, maka aku dapat meninggalkan semua pekerjaaaku untuk menyusul kemari dan menjenguk dirinya!”

“Yaa, kita memang sudah lama tak bersua, maka kau ingin sekali bertemu denganku” kata tuan ru­mah sambil tersenyum.

Kepada Bu-ki kembali katanya:

“Tapi aku percaya pemuda ini belum tentu ingin datang kemari untuk menjenguk manusia cacad macam aku ini, siapa tahu perasaan hati kecil nya sekarang sudah timbul perasaan muak atau bosan”‘

“Siapapun tak akan merasa muak atau bosan bila dapat berjumpa dengan manusia macam kau!” katanya dengan nada bersungguh-sungguh,”sayang aku masih ada urusan lain, terpaksa aku harus mohon diri lebih dahulu!”

“Bila kau setuju untuk tetap tinggal di sini, aku jamin pada malam ini nanti kau dapat melihat lebih banyak manusia yang menarik dan lebih banyak peristiwa yang menawan hati!”

Bu-ki ragu sejenak, tapi akhirnya, ia lebih dicekam oleh perasaan ingin tahunya, ia tak dapat menampik undangan yang sangat menarik hatinya itu…

Gelak tertawa tuan rumah kedengaran lebih nyaring dan melengking.

Seseorang yang sepanjang tahun hidup menyendiri dalam alam suka dan siksaan, kadangkala memang lebih pandai untuk menyenangkan hati tamu-tamunya.

Sekali lagi ia memberi jaminan kepada Bu-ki: “Aku tak akan membuat kau kecewa!”

—–

Sesungguhnya siapa saja yang akan berdatangan ke situ malam nanti?

Bila duduk dalam sebuah kereta yang berbentuk aneh dan duduk dihadapan seorang tuan rumah yang aneh pula, hal ini sudah cukup meninggalkan kesan istimewa yang sulit untuk dilupakan selamanya.

Bu-ki benar-benar tak dapat menebak peristiwa menarik apa lagi yang bisa ia temui pada malam nanti!

Ditepi pembaringan bambu tempat bersandar tangan tergantung sebuah lonceng emas kecil, tuan rumah mengambil sebuah pemukul lonceng kecil yang terbuat dari emas dan memukulnya.

Kemudian sambil tersenyum ia menjelaskan: “Lonceng ini kugunakan untuk memanggil orang-orangku bila kubunyikan satu kali berarti yang kuundang datang adalah pengurus rumah tanggaku Oh-Ki!”

Baru saja lonceng dibunyikan, dan ucapannya belum habis diutarakan Oh-Ki sudah muncul didepan pintu, seakan-akan dia adalah sesosok siluman raksasa yang setiap saat siap menantikan perintah.

Oh Ki adalah seorang manusia raksasa yang tinggi badannya mencapai sembilan depa lebih, sepasang matanya cekung ke dalam, rambutnya lurus dan kaku seperti kawat, mukanya hitam berminyak dan membawa sifat garang dari seekor binatang buas, ia mempunyai sepasang tangan yang besar dan penuh berotot hijau, sebilah golok lengkung model persia tersisip dipinggangnya, membuat raksasa ini kelihatan amat berbahaya dan menakutkan orang.

Kendatipun tampangnya garang dan perawakan tububnya menakutkan namun dihadapan majikanna ia memperlihatkan sikap hormat, tunduk dan takluknya yang tulus ikhlas.

Setelah menampakkan diri, serentak ia menjatuhkan diri dibawah kaki majikannya dan dengan sikap yang hormat ia cium sepatu majikannya.

Baginya, bisa mencium kaki majikannya sudah merupakan suatu kehormatan yang amat besar.

Dengan sikap yang dingin, angker dan serius tuan rumah berkata: “Bukankah sekarang sudah mendekati tengah malam?”

“Benar!”

“Sudah selesai kau siapkan segala sesuatunya”

“Sudah!”

Walaupun majikannya merasa sangat puas, namun ia tidak menunjukkan sikapnya untuk memuji atau memberi pahala, hanya pesannya lagi dengan suara hampa:

“Kalau begitu, kita mulai sekarang juga”

“Baik!”

Sekali lagi Oh Ki menjatuhkan diri menyembah di kaki majikaunya, kemudian baru mengundurkan diri,

Sekalipun dia hanya mengucapkan sepatah kata setiap kali menjawab pertanyaan ma­jikannya, namun Bu-ki dapat menangkap betapa kaku, aneh dan lucunya logat orang itu.

Rupanya tuan rumah dapat meraba keheranan tamunya, ia lantas menerangkan: “Ayahnya adalah seorang pedagang persia dan ia sendiri sesungguhnya adalah soorang penjaga dari Tay-ciangkun, suatu kali lantaran ia telah melanggar peraturannya militer. Tay-ciangkun meni­tahkan menjatuhi hukuman mati kepadanya”

Perintah Tay-ciangkun (sang jenderal) lebih be­rat dari bukit karang, semua orang mengetahui hal ini dan belum pernah ada orang yang mampu meloloskan diri dari cengkeramannya.

“Akulah yang telah menukar jiwanya dari cengkeraman Tay ciangkun dengan seekor Han-hiat-be (kuda keringat darah),” tuan rurnah menerangkan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tay-ciangkun sangat menggemari kuda-kuda jempolan, bahkan kegemarannya itu membuat ia tergila-gila, dalam pandangannya nilai dari seekor kuda jempolan jauh lebih tinggi dan berharga dari pada nilai manusia macam apapun.

Sugong Siau-hong segera menghela napas panjang katanya pula.

“Untung mempunyai seekor kuda jempolan yang tak ternilai harganya sehingga dapat ditukar dengan seorang pembantu yang begini setianya kepadamu”

“Dia bukan pelayanku, dia adalah budakku, setiap saat aku dapat suruh dia pergi mati!”

Perkataan itu diucapkan dengan suara yang hambar, tiada nada untuk membanggakan diri, melainkan hanya mengucapkan suatu kenyataan belaka.

Tapi bagi pendengaran orang lain, pada hakekatnya ucapan tersebut lebih mirip dengan suatu kisah dongeng.

Pada saat itulah dari kegelapan hutan belantara tiba-tiba memancarkan keluar sinar terang yang aneh sekali,

Sesungguhnya Bu-ki tak pernah melihat sebuah lenterapun di sekitar tempat itu, akan tetapi sekarang sinar terang memancar dari empat penjuru membuat sesuatu disana lebih terang dari siang hari.

Pepohonan yang tumbuh berderet-deret dimuka kereta, tiba-tiba pada bertumbangan kemana-mana. dan semua pohon yang tumbang dengan cepatnya diseret pergi oloh seutas tali yang luar biasa besarnya.

Dalam sekejap mata hutan yang berada disekitar kereta telah berubah menjadi sebuah tanah datar.

Kendatipun selama ini Bu-ki menyaksikan semua adegan tersebut dengan mata kepala sendiri, namun hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya didepan mata.

Di atas wajah sang tuan rumah yang pucat pias, akhirnya tersungging juga sekulum senyuman bangga.

Terhadap kebaktian dan kehebatan anak buahnya untuk melaksanakan perintah seperti yang di harapkan, tak ada seorang manusiapun tidak merasa bangga dan puas.

Sekali lagi Sugong Siau-hong menghela napas, ia selalu berharap anak buahnya bisa melaksana kan pekerjaan sehebat dan setepat orang-orang itu … ..

Tak tahan lagi ia berkata: “Kalau aku bisa mendapatkan manusia macam Oh Ki, harus membayar dengan sepuluh pasang kuda mestika pun aku rela!”

Tuan rumah hanya tersenyum.

Meskipun orang ini bukan seorang pengusaha, tapi belum pernah ia melakukan suatu barter yang merugikan pihaknya.

Hujan telah berhenti, udara menjadi cerah kembali.

Tiba-tiba dari luar hutan sama kedengaran suara ketukan kayu yang nyaring, menyusul kemudian seseorang berteriak lantang:

“Daging sapi masak bumbu Ngo-hiang… daging sayur sari Tay-im-tun”

Menyusul teriakan itu, seorang laki-laki gemuk yang mengenakan topi lebar dari anyaman bambu dengan memikul pikulan jualan masuk ke tanah lapang itu.

Pada pikulannya yang depan terdapat sebuah tungku api dengan kuah penuh kuah yang masih panas, sedang pada bagian belakangnya dipakai untuk lemari penyimpan mangkuk sumpit dan sumbu, bentuk pikulannya tak ubahnya seperti tukang cangkring penjual bakso sapi.

Bila kau kebetulan berada di wilayah kanglam­ dan tengah malam tak dapat tidur, setiap saat di setiap tempat dapat kau jumpai tukang penjual daging ngo-hiang macam ini untuk ngiras.

Tapi mimpipun Bu-ki tak pernah menyangka kalau ditempat seperti ini ia dapat bertemu dengan penjajah makanan macam ini.

Di tempat seperti ini siapakah yang bakal jajan daging Ngo-hiang?

Baru saja orang itu menurunkan pikulannya, dari luar hutan kembali kedengaran seseorang berteriak menjajakan dagangannya, ia berteriak dengan logak propinsi Shezuan:

“Kueh lapis gula putih .. . . kueh lapis gula merah, pia isi kacang ijo. . .”

Seorang kakek kurus jangkung sambil memba­wa pikulan yang ditutup dengan kain hijau masuk ke dalam lapangan.

Orang ini khusus berjualan aneka macam kue basah dan kueh kering, semuanya merupakan kueh-kueh manis yang paling disukai orang di wilayah Shezuan… .

Tapi, aneh benar! mengapa mereka berdatangan kesitu untuk menjajakan barang dagangannya?

Yang lebih hebat lagi, ternyata yang datang bukan hanya mereka berdua, mesyusul kemudian kedatangan dua orang pertama, secara beruntun berdatangan pula penjual-penjual sayur asin, penjual arak, penjual kulit kede­lai dari propinsi Oh-pak, penjual Cah-kwee, penjual bak-pao model Shoa-tang, penjual pia yang dari Hok-kian, Penjual tepung telur ikan dari Leng-jam. penjual ayam goreng, penjual daging kambing bakar, penjual ikan gurami, penjual wedang tahu, penjual kueh-kueh hidangan kecil serta aneka ragam penjualan makanan lain yang tak dapat disebutkan satu-persatu.

Pokoknya dalam waktu singkat telah berdatangan dari empat penjuru penjaja-penjaja makanan yang pada berteriak menawarkan dagangannya dengan logak daerah masing-masing ……..

Tentu saja suasana disekitar tanah lapangpun berubah menjadi ramai dan sangat gaduh, macam da­lam pasar malam saja.

Sampai melongo Bu-ki menyaksikan kesemuanya itu.

Belum pernah ia saksikan begitu banyak penjaja makanan kecil yang berkumpul menjadi satu di satu tempat, lebih lebih lagi tak pernah ia sangka kalau mereka akan berkumpul semua di tempat seperti ini.

Mau apa sesungguhnya kedatangan mereka semua ke tempat seperti ini ?

Siapakah yang akan membeli barang dagangan mereka itu.

Kalau dikatakan bukan barang jualan lantas apa kah makanan sebanyak itu hendak dimakan sendiri.

Yaa, tampaknya dugaan ini memang tak salah, mereka memang sengaja menyiapkan makanan un­tuk dimakan sendiri?

Namun sebelum mereka mulai bersantap, setiap orang telah menyiapkan semangkuk hidangan barang penjualannya yang terbaik untuk dipersembahkan kepada pemilik kereta berkuda yang misterius itu.

Pertama-tama masuk dulu penjual daging ngo-hiang sambil membawa semangkuk penuh dagiug ngo-hiang yang terbaik, ia berlutut didepan pintu dan berkata dengan penuh rasa hormat:

“Hanya ini yang bisa tecu persembahkan untuk majikan, semoga majikan selalu diberi badan yang sehat dan sukses selalu dalam segala pekerjaan …..”

Tuan rumah cuma tersenyum sambil manggut-­mangut, kata terima kasih tak pernah meluncur keluar dari mulutnya.

Kendatipun demikian, anggukan tersebut sudah cukup membuat penjual daging ngo-hiang kegirangan setengah mati, sebab ia telah melihat senyuman dari majikannya.

Menyusul kemudian penjual kueh, penjual sayur asin, penjual arak penjual wedang tahu, penjual pia dan semua penjajah makanan lainnya maju mempersembahkan barang dagangannya untuk majikan mereka .

Yaa, mereka satu persatu maju ke muka secara teratur, bahkan sambil berlutut mengucapkan selamat untuk majikannya dengan logat daerah masing-masing, tentu saja a­pa yang mereka ucapkan adalah kata-kata yang bisa mendatangkan rasa gembira buat majikannya.

Bila didengar dari logat mereka, semua bukan saja dari utara selatan bahkan dari setiap pelosok dunia telah berdatangan semua kemari.

Jauh-jauh dari ribuan li mereka datang secara bersama-sama ketempat ini, apakah tujuannya hanya ingin mempersembahkan semangkuk daging ngo-hiang atau semangkuk wedang tahu”

Bu-ki benar-benar dibuat tercengang.

Apalagi ketika ia menyaksikan si nenek penjual wedang kacang tanah sedang mempersembahkan barang dagangannya, hampir saja ia menjerit saking kagetnya.

Ia kenal baik dengan nenek tersebut, sebab si nenek penjual wedang kacang tanah itu bukan lain adalah Hek Popo yang tersohor di dunia persilatan sebagai Kim-kiang-gin-tan (busur emas panah perak)

Hek Popo seperti sama sekali tidak melihat kehadirannya disana. Bahkan seperti tidak kenal dengan sikap yang sangat hormat ia berlutut ditanah sambil mempersembahkan hadiahnya, lalu dengan perasaan yang gembira mengundurkan diri dari sana setelah mendapat sekulum senyuman dari ma­jikannya.

Dalam keadaan seperti ini, Bu-ki hanya dapat menyimpan semua perasaan heran dan ingin tahunya didalam hati, sebab dia adalah seorang pemuda yang mempunyai pendidikan, dia tak ingin bersikap kurang hormat di depan tuan rumah.

—–

Para penjajan makanan itu sudah mulai berpesta pora, caranya arak yang menjadi miliknya diberikan kepada orang lain, dan ia mengambil barang dagangan orang, pokoknya kau makan wedang kacangku, aku makan daging sapimu, ternyata pesta semacam ini jauh lebih menarik dan berkesan dari pada makan semeja yang lebih komplit hi­dangannya.

Orang-orang itu bukan saja saling mengenal satu sama lainnya, bahkan tampaknya merupakan sahabat-sahabat yang paling karib.

Cuma lantaran semua orang harus lari ke sana ke mari untuk menyambung hidup, maka di hari biasa sangat jarang mereka dapat berjumpa muka.

Di dalam satu tahun hanya satu kali dapat berkumpul menjadi satu dalam suasaha semacam ini, tak heran kalau pesta berjalan sangat meriah dan penuh dengan gelak tertawa.

Yang lebih aneh lagi, si penjual daging ngo-hiang hakekatnya tidak mirip seorang penjual da­ging ngo-hiang, yang menjual pia pun tidak mirip dengan seorang penjual pia.

Sekalipun asal-usul orang lain tak bisa diketahui dengan pasti, paling sedikit Bu-ki tahu kalau Hek popo bukanlah seorang nenek penjual we­dang kacang tanah.

Apakah orang lainpun sama semua seperti dirinya?

Mereka hanya menggunakan penjaja makanan kecil untuk merahasiakan asal-usul yang sebenarnya.

Lantas apa pekerjaan mereka di waktu-waktu biasa?

—–

Bu ki telah menghabiskan beberapa kacang, arak, mencicipi bubur kedelai, hidangan dari Ou-pak dan mencicipi pula aneka macam hidangan yang berpuluh-puluh jumlahnya itu, yang jelas semua hidangan tersebut tak mungkin bisa ia cicipi sekaligus di hari biasa.

Tuan rumah memandangnya dengan senyuman di kulum.

“Aku paling suka dengan pemuda yang kuat takaran makannya, sebab hanya orang yang kuat perkasa dan tak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang saja yang dapat mempunyai takaran makan yang besar ……

Apa yang dia katakan selalu kedengaran aneh dan janggal, tapi justru dibalik kejanggalannya itu terselip suatu kebenaran yang tak mungkin bisa di bantah.

Kembali ia bertanya kepada Bu-ki: “Coba lihatlah, bukankah mereka semua amat menarik hati?”

Bu-ki mengakuinya.

“Tapi aku masih belum melihat sesuatu kejadian yang menarik, mencicipi aneka macam makanan bukan termasuk suatu kejadian yang amat menarik hati”

Tuan rumah tersenyum.

“Sebentar lagi kau akan menyaksikannya sendiri”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: