Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (08)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:43 am

Rahasia Peti Wasiat (08)
Oleh Gu Long

Dalam pada itu Liong It-hiong dan Bun-hiong sudah beberapa puluh jurus bergebrak dengan Hek-pek-ji-long, mereka telah mengeluarkan segenap kemahiran Kungfunya tetap juga sukar menahan serangan kedua serigala hitam putih yang lihai itu.

Liong It-hiong merasa kotak hitam itu masih dikuasai olehnya, rasanya tidak perlu mengadu jiwa dengan lawan, segera ia berteriak, “Pang-heng, ayolah kita angkat kaki saja!”

Sambil berteriak sekuatnya pedang menyabet sehingga serigala putih terpaksa melompat mundur, kesempatan itu digunakan oleh It-hiong untuk melompat ke belakang terus kabur secepatnya.

Tentu saja serigala putih tidak tinggal diam, ia berteriak aneh terus mengejar. Agaknya Hui Giok-koan sudah mempunyai perhitungan yang mantap, ia tidak membantu serigala putih untuk mencegat Liong It-hiong, malahan ketika dilihatnya It-hiong melarikan diri, segera ia menubruk ke arah Pang Bun-hiong.

Karena seruan It-hiong, selagi Bun-hiong hendak ikut kabur, mendadak dirasakan angin tajam menyambar dari belakang, ia tahu Hui Giok-koan sedang menyerangnya, cepat ia mengelak, berbareng pedangnya balas menebas.

Hui Giok-koan menangkis dengan potlot bajanya, menyusul dengan jurus “Tiam-ciok-sing-kim” atau menutuk batu menjadi emas, ia tusuk pinggang lawan sambil mengejek, “Hehe, rebahlah anak muda!”

“Kentut busuk!” teriak Bun-hiong dengan gusar sambil berkelit, berbareng pedang balas menusuk muka orang.

Tapi pada saat itu juga pedang serigala hitam telah menyambar tiba, mengancam kaki kirinya.

Terpaksa Bun-hiong menarik kembali pedangnya untuk berjaga, ia tangkis serangan serigala hitam, habis itu sekali berputar ia tebas pinggang Hui Giok-koan.

Sebenarnya serangan ini hanya gerak tipu saja, dilihatnya Hui Giok-koan melompat mundur, serentak ia angkat langkah seribu alias kabur.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya melayang ke atas, tahu-tahu pedang si serigala hitam menyambar tiba pula dari sebelah kiri dengan cara yang aneh dan tak terduga.

Terpaksa Bun-hiong angkat pedang buat menangkis lagi, karena tubuhnya terapung di udara, ketika kedua pedang beradu, ia tidak tahan, seketika ia tergetar mencelat ke sana.

Kesempatan itu digunakan oleh Hui Giok-koan untuk memburu maju, Boan-koan-pit terus mengetuk dan tepat mengenai betis kanan Bun-hiong.

Keruan Bun-hiong menjerit kesakitan dan terbanting ke tanah serta tidak sanggup bangun lagi.

Tulang betisnya tidak sampai patah atau retak, namun sakitnya jangan ditanya lagi, hampir saja ia kelengar.

Sambil mendengus potlot baja Hui Giok-koan menutuk lagi dan tepat mengenai Hiat-to kelumpuhan, katanya, “Rebah dan istirahatlah!”

Mestinya pedang serigala hitam juga menusuk, mendengar itu ia urung menyerang dan bertanya, “Tidak kau bunuh dia?”

“Tidak,” kata Giok-koan. “Akan kugunakan dia untuk menukar kotak itu.”

Serigala hitam memandang ke sana, katanya, “Tapi entah lari ke mana bocah tadi?”

“Jangan khawatir.” kata Hui Giok-koan dengan tertawa. “Umpama adikmu tidak berhasil menyusulnya, kuyakin sebentar dia akan putar balik kembali.”

Dalam pada itu Liong It-hiong sudah kabur meninggalkan tanah pekuburan itu, sedangkan serigala putih masih terus mengejar. Ketika melihat Bun-hiong tidak ikut lari, ia merasa tidak pantas menyelamatkan diri sendiri, segera ia berhenti dan melintangkan pedang di depan dada sambil membentak, “Berhenti! Coba jawab dulu pertanyaanku!”

Si serigala putih benar-benar berhenti, tanyanya sambil menyeringai, “Kau mau tanya apa?”

“Kalian bersaudara dibayar berapa oleh Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan sehingga kalian mau membantunya?” tanya Liong It-hiong.

Serigala putih memperlihatkan lima jari, jawabnya dengan tertawa, “Lima kati, lima kati Hoa-tiau (nama arak).”

“Hah, cuma segitu? Terlampau pelit!” ucap It-hiong.

“Apa katamu?” serigala putih melengak.

It-hiong mengangkat kotak hitam, katanya dengan tertawa, “Yang diincar Hui Giok-koan adalah kotak ini. Meski isi kotak ini bukan harta benda mestika, namun nilainya sukar ditaksir. Dia minta kalian membantunya merampas kotak ini, tidak pantas kalau dia begitu pelit, hanya memberi lima kati Hoa-tiau saja kepada kalian.”

“Selain lima kati Hoa-tiau, masih ditambah lagi sepuluh kati daging,” tukas serigala putih.

“Ah, masih tetap kikir,” ujar It-hiong sambil menggeleng. “Bilamana aku, paling sedikit akan kuberi kalian lima ratus tahil perak.”

“Tidak, kami tidak mau perak, kami hanya menghendaki barang makanan,” kata serigala putih.

“Perak kan dapat dibelikan makanan, masa kalian tidak mau terima uang perak?” ujar It-hiong heran.

“Kami tidak dapat membeli, kami hanya dapat makan,” sahut Pek-long alias serigala putih.

“Oo, kiranya begitu, jadi barang siapa minta bantuan kalian, cukup mereka memberi makan kepada kalian dan segala apa pun akan kalian kerjakan!”

“Ya, begitulah,” jawab serigala putih sambil mengangguk.

“Baik, aku akan memberi sepuluh kati Hoa-tiau dan 20 kati daging kepada kalian, mau?” tanya It-hiong.

“Sepuluh kati Hoa-tiau itu berapa jumlahnya?” tanya serigala putih dengan bingung.

“Kira-kira satu gentong sebesar ini,” ucap It-hiong sambil kedua tangan membuat suatu lingkaran besar.

Serigala putih merasa senang, serunya. “Ha, jika begitu, berapa pula banyaknya 20 kati daging itu?”

“Ada sebanyak seekor anjing, cukup dimakan tiga hari oleh kalian,” tutur It-hiong.

“Baik, boleh kau berikan kepada kami sepuluh kati Hoa-tiau dan 20 kati daging, lalu takkan kubunuh dirimu,” kata serigala putih dengan kegirangan.

“Selain itu kalian harus juga membantuku membereskan Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan itu,” tukas It-hiong.

“Maksudmu, harus kubunuh dia?” serigala putih menegas.

“Ya, betul,” It-hiong mengangguk.

Serigala putih tertegun dan berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Tidak boleh, ia bilang akan pemberi lima kati Hoa-tiau dan sepuluh kati daging kepada kami, tidak boleh kubunuh dia.”

“Coba jawab, mana lebih banyak antara lima kati dan sepuluh kati?” tanya It-hiong tiba-tiba.

“Hm, dengan sendirinya sepuluh kati lebih banyak, jangan kau kira aku tidak dapat terhitung,” jengek serigala putih dengan lagak cerdas.

“Kalau sudah tahu sepuluh kati lebih banyak daripada lima kati, kan harus kau turut kepada perkataanku dan jangan tunduk kepadanya,” ucap It-hiong dengan tertawa.

Kembali serigala putih berpikir sejenak, lalu tanya, “Kapan akan kau beri sepuluh kati Hoa-tiau dan dua puluh kati daging kepada kami?”

“Setelah membunuh Hui Giok-koan segera akan kubawa kalian ke kota untuk makan minum,” jawab It-hiong.

“Betul, tidak dusta?” serigala putih menegas.

“Pasti tidak kujilat kembali,” jawab It-hiong.

“Jilat kembali apa?” tanya serigala putih dengan bingung.

“Maksudku pasti tidak ingkar janji, takkan menjilat kembali apa yang sudah kukatakan,” tutur It-hiong.

“Dan kalau dusta, engkau mengaku sebagai anak kura-kura, jadi!”

“Baik,” sahut It-hiong.

“Ayo berangkat!” kata Pek-long akhirnya, segera ia putar balik dan lari ke pekuburan tadi.

Sudah lama It-hiong mendengar cerita bahwa Hek-pek-ji-long mudah dipikat dengan hadiah, sungguh tak terduga sedemikian gampang caranya. Tentu saja ia sangat girang, segera ia pun berlari ke sana.

Hanya sebentar saja kedua orang sudah lari kembali sampai di lereng bukit tadi, tertampak Bun-hiong menggeletak di situ, keruan It-hiong terkejut, cepat ia tanya. “He, Pang-heng, bagaimana keadaanmu?”

Karena Hiat-to kelumpuhan tertutuk, Bun-hiong tidak dapat bergerak sehingga masih terbujur di situ, jawabnya, “Ai, untuk apa kau kembali lagi?”

Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan terbahak-bahak, katanya terhadap si serigala hitam, “Coba lihat, tidak keliru bukan dugaanku tadi?”

Hek-long atau serigala hitam memperlihatkan rasa kagum, jawabnya, “Ya, engkau sangat pintar.”

Dengan potlot bajanya Hui Giok-koan mengancam hulu hati Pang Bun-hiong, kembali ia bergelak tertawa dan berkata, “Nah, Liong-hiap, engkau lebih mengutamakan kotak hitam itu atau mementingkan sahabatmu ini?”

It-hiong berkerut kening dan tidak menjawab.

Mendadak serigala putih berseru, “Koko, lekas binasakan dia!”

Tentu saja serigala hitam melongo bingung tanyanya, “Membinasakan siapa?”

Serigala putih menuding Hui Giok-koan dengan goloknya dan berkata, “Dia!”

Kembali serigala hitam melenggong, “Sebab apa?”

Serigala putih menuding It-hiong dan menjawab, “Ia berjanji akan memberi kita sepuluh kati Hoa-tiau dan dua puluh kati daging sapi.”

Serigala hitam tampak bingung, ucapnya, “Mana lebih banyak, 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging atau lima kati Hoa-tiau dan sepuluh kati daging?”

“Ai, sungguh bodoh engkau ini, dengan sendirinya 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging lebih banyak,” seru serigala putih dengan lagak lebih pintar.

“Hah, bagus!” teriak serigala hitam dengan gembira, segera pedang bergerak dan bermaksud menyerang Hui Giok-koan.

Air muka Hui Giok-koan tampak berubah, cepat ia membentak, “Nanti dulu!”

Serigala hitam bergaya siap serang, tanyanya, “Kau mau bicara apa?”

Dengan gemas Hui Giok-koan menuding Liong It-hiong, teriaknya dengan garang, “Dia menipu kalian, tidak nanti dia mau memberikan 10 kati Hoa-tiau dan 20 kati daging kepada kalian.”

“Tidak, dia sudah berjanji,” sela serigala putih. “Dia menyatakan kalau membohongi kami, maka dia mengaku sebagai anak kura-kura (kiasan anak jadah).”

Tampaknya Hui Giok-koan sangat memahami perangai Hek-pek-ji-long, segera ia berseru pula, “Jika begitu, akan kuberi 30 kati Hoa-tiau dan 30 kati daging kepada kalian.”

“Maksudmu, pemberianmu itu jauh lebih banyak daripada pemberiannya?” tanya serigala putih.

“Betul,” jawab Giok-koan.

Dengan menyesal serigala putih lantas berkata kepada Liong It-hiong, “Wah, maaf, sekarang dia memberi terlebih banyak, terpaksa tidak dapat kuturut perkataanmu lagi.”

Habis bicara segera ia mendesak maju ke ah It-hiong.

Cepat It-hiong menggoyang-goyang kedua tangannya dan berseru, “Sabar dulu, sabar! Dia hanya memberi 30 kati, sekarang kuberi 60 kati, kalian tetap menurut saja kepadaku.”

“Enam puluh kati itu berapa?” tanya serigala putih dengan bingung.

“Satu kali lebih banyak daripada 30 kati,” jawab It-hiong.

Kembali hati si serigala putih tergelitik, ia berpaling dan tanya serigala hitam, “Koko, dia bilang 60 kati satu kali lebih banyak daripada 30 kati, kau mau tidak?”

“Apa benar dia tidak membohongi kita?” serigala hitam menegas.

“Pasti benar, tidak nanti dia berani menipu kita,” ucap serigala putih dengan penuh keyakinan. “Sebab dia sudah menyatakan, bila dia menipu kita, maka dia adalah anak kura-kura.”

“Baik kita terima,” jawab serigala hitam, sembari bicara segera ia hendak melancarkan serangan.

Cepat Hui Giok-koan berteriak, “Nanti dulu! Biarlah kuberi kalian seratus kati Hoa-tiau dan seratus kati daging.”

Seketika serigala hitam mengurungkan lagi serangannya dan bertanya, “Apakah seratus kati terlebih banyak daripada enam puluh kati?”

“Tentu saja jauh lebih banyak,” jawab Hui Giok-koan.

Serigala hitam sangat senang, serunya, “Nah, adikku, dia bilang seratus kati jauh lebih banyak daripada enam puluh kati, jadi kita tetap menuruti kehendaknya saja.”

“Biar kuberi seribu kati Hoa-tiau dan seribu kati daging kepada kalian!” tanpa ayal It-hiong lantas berteriak pula.

“Haha, tidak perlu dijelaskan lagi juga kutahu, tentu seribu kati jauh lebih banyak daripada seratus kati, bukan?” seru Pek-long dengan tertawa lebar.

“Betul, lebih banyak sepuluh kali,” sambung It-hiong.

“Nah, Koko,” serigala putih berpaling kepada serigala hitam, “kita bekerja bagi orang lain dengan tujuan bisa banyak mendapat makanan dan arak, jika dia mau memberi seribu kati, kita ….”

Tidak kepalang rasa gemas Hui Giok-koan, dengan gusar ia mengentak kaki dan berteriak, “Huh, seribu kati saja terhitung apa? Biar kuberi kalian lima ribu kati Hoa-tiau dan lima ribu kati daging.”

Tampaknya ia khawatir Liong It-hiong akan menyaingi lagi dengan harga lebih tinggi, dengan bengis ia mendahului menuding anak muda itu dan membentak, “Ayo, berani kau buka mulut lagi segera kubinasakan kawanmu ini!”

Ketika melihat Bun-hiong sudah jatuh dalam cengkeraman musuh tadi, saat itu juga ia sudah tahu kotak hitam itu sukar dipertahankan lagi. Sebabnya dia berlomba tawar-menawar jasa Hek-pek-ji-long, tujuannya hanya ingin membuat utang lawan menumpuk setingginya sehingga mendatangkan kerepotan di kemudian hari.

Dengan tertawa It-hiong lantas menjawab, “Baiklah, aku menyerah, engkau yang menang, engkau yang berhasil membeli mereka.”

“Tidak jadi kau beri Hoa-tiau dan daging kepada kami?” tanya serigala putih.

It-hiong berlagak serbasusah, ucapnya, “Aku tidak punya cukup uang untuk membeli lima ribu kati Hoa-tiau dan lima ribu kati daging, sebaliknya dia punya, terpaksa aku menyerah padanya.”

“Jika begitu, kami harus menurut kepada perkataannya dan akan membunuhmu,” kata serigala putih.

“Tidak perlu kalian membunuhku, yang dikehendaki dia hanya kotak ini saja,” ujar It-hiong. “Betul tidak, Hiat-pit-siucay?”

Hui Giok-koan mengangguk, “Betul, asalkan kau serahkan kotak itu, segera engkau dan Hou-hiap yang menggeletak ini boleh pergi dengan bebas.”

“Jika kau ingkar janji berarti engkau anak kura-kura,” tukas It-hiong.

“Selamanya orang she Hui kalau bilang satu tidak pernah berubah menjadi dua,” kata Hui Giok-koan.

“Baik, ambil ini!” seru It-hiong sambil melemparkan kotak hitam.

Hui Giok-koan menangkap kotak itu dari benar juga ia tidak membikin susah Pang Bun-hiong, lalu melompat mundur dan membentak, “Ayo berangkat, Hek-pek-ji-long!”

Tanpa bicara Hek-pek-ji-long ikut pergi.

Mendadak Liong It-hiong berteriak, “Hek-pek-ji-long, jangan lupa dia sudah berjanji hendak memberi lima ribu kati Hoa-tiau dan lima ribu kati daging kepada kalian.”

“Tidak, kami tidak lupa,” jawab serigala putih dari kejauhan, sudah belasan tombak jauhnya mereka berlari pergi bersama Hui Giok-koan dan akhirnya menghilang dalam kegelapan.

It-hiong lantas mendekati Bun-hiong, katanya dengan tertawa sambil berjongkok di sampingnya, “Apakah Hiat-tomu tertutuk?”

Bun-hiong menghela napas, katanya, “Betul, cuma yang paling celaka adalah kaki yang terketuk ini, hampir kumati kesakitan!”

Segera It-hiong membuka Hiat-to orang yang tertutuk, lalu menggulung kaki celananya, tertampak bagian betis merah, bengkak dari matang biru, ia terkejut, tanyanya dengan khawatir, “Retak tidak tulangnya?”

“Tidak, kalau patah kan runyam,” jawab Bun-hiong.

“Tadi kusuruh kau lari, kenapa tidak kau lakukan?” tanya It-hiong.

“Tentu saja aku ingin lari, tapi tak dapat lari,” jawab Bun-hiong.

“Ai, akibat dirimu kotak hitam itu jadi hilang lagi,” ucap It-hiong.

Dengan mendongkol Bun-hiong menjawab, “Hm, bisa juga kau bicara demikian. Kalau tidak ada aku tentu sejak tadi tamat riwayatmu.”

It-hiong tertawa, “Baik, tidak kusalahkan dirimu lagi. Marilah kita pulang.”

Bun-hiong meraba betisnya yang bengkak, katanya, “Jangan tergesa dulu, sekarang aku masih kesakitan setengah mati dan tidak sanggup berjalan.”

It-hiong berpaling dan memandang jenazah Pokyang Thian, katanya kemudian sambil menggeleng, “Orang she Hui itu sungguh berhati keji, sampai saudara angkat sendiri juga dibunuhnya.”

“Ini menandakan biarpun mengangkat saudara juga tidak ada gunanya, makanya tidak nanti aku mengangkat saudara denganmu,” ujar Bun-hiong.

It-hiong tertawa, “Belum pernah kuminta mengangkat saudara denganmu, buat apa kau bicara demikian?”

Bun-hiong juga tertawa, tanyanya, “Eh, mengapa dengan begitu saja kau serahkan kotak hitam itu kepadanya?”

“Sebab kalau kotak hilang masih dapat dicari kembali, sebaliknya bila kau mati kan tidak dapat hidup lagi,” ujar It-hiong.

Bun-hiong tersenyum, “Kita bukan saudara angkat segala, buat apa kau tolong diriku?”

“Justru lantaran kita bukan saudara angkat, makanya harus kuselamatkan nyawamu,” jawab It-hiong.

“Dan sekarang kotak itu sudah hilang dibawa lari, apa rencanamu sekarang?” tanya Bun-hiong.

“Akan kubawa Ni Beng-ai untuk menemui Tui-beng-poan-koan To Po-sit,” jawab It-hiong.

“Apa dengan cara demikian akan dapat menemukan kembali kotak itu?”

It-hiong menggeleng, “Tidak, sementara ini takkan kupikirkan kotak itu.”

“Sebab apa?” tanya Bun-hiong.

“Setelah kupikir pergi datang, aku merasa tidak perlu membuang nyawa bagi kotak itu,” kata It-hiong. “Bila sekarang kurebut kembali kotak itu soal lain tidak kuketahui, yang jelas kawanan Lok-lim-jit-coat yang lain seperti Ang-liu-soh Ban Sam-hian, Cian-in-jiu Loh Bok-kong, Kim-ci-pa Song Goan-po, Tok-gan-bu-siang Ong Siang dan Cong-jing-bin Seng It-hong pasti akan muncul susul-menyusul, sebab itulah lebih baik bagiku untuk menunggu dan melihat dulu, akan kutunggu bilamana mereka sudah saling labrak hingga kehabisan tenaga dan ambruk sendiri barulah kuambil kembali kotak itu.”

“Masa engkau tidak khawatir dalam pada itu ada orang akan membuka kotak itu dan membawa lari isinya?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Jika Pokyang Thian saja tidak mampu membukanya, orang lain pasti sukar juga membukanya,” ujar Liong It-hiong, “Kupikir di antero kolong langit ini cuma ada dua orang saja yang mampu membukanya.”

“Dua orang siapa?” tanya Bun-hiong.

“Yang satu adalah orang yang memasukkan barang ke dalam kotak itu.”

“Dan seorang lagi ialah si tokoh misterius di Cap-pek-pan-nia itu, bukan?” tukas Bun-hiong.

“Tepat!” It-hiong mengangguk.

“Sampai saat ini mungkin kedua orang itu belum lagi mengetahui kotak hitam itu sedang menjadi incaran orang banyak,” kata Bun-hiong.

“Betul,” sambung It-hiong. “Adapun kecuali kedua orang itu, barang siapa berani sembarangan membuka kotak itu, mungkin mereka akan ikut meledak sehingga hancur lebur oleh obat pasang yang terisi di dalam kotak.”

“Sebab itulah engkau tidak khawatir akan kehilangan kotak itu,” tukas Bun-hiong dengan tertawa.

“Betul, sebab itulah satu-satunya urusan yang akan kita kerjakan sekarang adalah membawa Oh Beng-ai untuk menemui To Po-sit.”

Terbeliak mata Bun-hiong, “Apa katamu? Kau bilang KITA?”

It-hiong mengangguk, “Ya, kita, kecuali engkau tidak mau ikut pergi.”

“Bukankah kemarin kau bilang tak dapat membawaku menemui To Po-sit, kenapa sekarang pendirianmu berubah?”

It-hiong menengadah memandang bintang yang bertaburan di langit, jawabnya dengan tertawa, “Sebab cuaca malam ini sangat indah.”

Dengan pedang terhunus Bun-hiong berdiri, tulang betis terasa sangat sakit, dengan kening bekernyit ia berkata. “Wah, tidak sanggup, aku tidak dapat berjalan ….”

“Akan kugendongmu,” kata It-hiong, segera ia tarik Bun-hiong ke punggungnya dan dibawa lari ke bawah bukit.

*****

Pada suatu pagi hari yang cerah, dengan menumpang sebuah kereta mewah Liong It-hiong datang ke Boan-wan-jun.

Jalan Kembang yang pada malam hari ramai dikunjungi orang itu, pada pagi hari kelihatan sepi lengang. Pintu setiap rumah hiburan itu masih tertutup rapat, para perempuan hiburan itu masih tidur nyenyak, sudah menjadi kebiasaan mereka, kalau hari sudah lewat tengah hari barulah mereka bangun. Habis itu berdandan dan makan siang, lalu siap bekerja lagi menerima tamu.

It-hiong turun dari keretanya, ia pesan kusir supaya menunggu, lalu ia mengetuk pintu Boan-wan-jun.

Sampai sekian lamanya ia mengetuk pintu baru kelihatan seorang pesuruh membuka pintu dengan mata masih sepat, begitu pintu terbuka ia lantas mengomel, “Ai, Tuanku, pagi baru tiba engkau sudah datang kemari, masa …. Aduh, ampun, kiranya Liong-kongcu adanya! Wah, maaf hamba bermata lamur, sungguh pantas mampus!”

Setelah tahu siapa yang mengetuk pintu, seketika sikap pesuruh itu berubah, cepat ia memberi hormat dan berulang minta maaf.

Sambil melangkah ke dalam rumah It-hiong bertanya, “Di mana Giok-nio?”

“Dia masih tidur, masih tidur, biar hamba membangunkan dia,” seru si pesuruh dengan cengar-cengir, segera ia hendak lari ke dalam.

Tapi It-hiong lantas mencegahnya, “Tidak perlu, boleh kau pergi tidur lagi, akan kubangunkan dia sendiri.”

Pesuruh itu menjura dan mengiakan.

It-hiong tidak bicara lagi, langsung ia menuju ke belakang.

Setiba di luar kamar Giok-nio, ia coba pasang telinga, setelah tidak terdengar suara mendengkur orang lelaki barulah ia mengetuk pintu.

“Siapa itu?” tanya Giok-nio di dalam dengan suara yang kemalas-malasan.

“Aku?” jawab It-hiong dengan tertawa. “Kekasihmu!”

Giok-nio mengenali suaranya, cepat ia bangun dan berpakaian, lalu membuka pintu kamar, tegurnya dengan tertawa genit, “Kenapa sepagi ini sudah datang kemari?”

It-hiong menyelinap ke dalam kamar, lalu berjongkok melongok kolong tempat tidur, kemudian membuka lemari dan menggeledahnya.

“Hei, apa yang kau cari?” tanya Giok-nio dengan terkesiap.

“Gendakmu!” kata It-hiong dengan tertawa.

“Buset!” seru Giok-nio dengan tertawa. “Jika engkau sembarangan omong lagi, nanti takkan kugubris lagi dirimu.”

It-hiong terus mendekapnya dan menciumnya di sana-sini.

Giok-nio tidak melawan, juga tidak menolak dan membiarkan anak muda itu menciumnya.

Sudah dapat hati It-hiong terus merogoh rempela, mendadak ia angkat si nona dan dibawa ke tempat tidur.

Keruan Giok-nio menjadi tegang, ia meronta dan berseru, “Hei, kau mau apa? Lekas lepaskan, jangan sembrono!”

“Memangnya kenapa?” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Tidak, tidak boleh,” seru Giok-nio dengan marah.

“Wah, mana tahan!” kata It-hiong dengan tangan sibuk menggerayang.

Giok-nio memukul dadanya dan berkata, “Jika engkau sembrono lagi segera aku menjerit minta tolong!”

“Boleh saja menjerit,” kata It-hiong.

Benar juga, segera Giok-nio pentang mulut hendak berteriak.

Tapi It-hiong keburu mendekap mulutnya dan berkata, “Baik, jangan berkaok, biar kuampunimu.”

Habis berucap nona itu lantas dilepaskannya.

Muka Giok-nio tampak merah dan napas tersengal, katanya, “Ai, engkau ini juga tidak genah, serupa lelaki busuk yang lain saja, aku tidak gubris padamu lagi.”

“Tidak gubris padaku?” It-hiong menegas.

“Ehm,” Giok-nio mengangguk.

“Betul?” It-hiong menegas pula.

“Ya,” kembali si nona mengangguk.

It-hiong menyengir, “Wah, jika begini terpaksa aku pulang saja.”

Sembari bicara ia terus putar tubuh dan mau tinggal pergi.

Giok-nio menjadi kelabakan malah, cepat ia berseru, “Hei, nanti dulu!”

“Ada apa lagi?” It-hiong berhenti dan tertawa.

“Kan belum kau ceritakan cara bagaimana kau selesaikan orang yang bernama Tam Pek-sun itu, kenapa kau pergi begitu saja?” ujar Giok-nio.

“Habis, engkau tidak menggubrisku lagi,” ujar It-hiong.

Giok-nio tertawa, ia mendekati anak muda itu dan memegang bahunya, katanya, “Mari, asalkan pakai aturan sedikit tentu kugubris.”

“Engkau bukan Ni Beng-ai, cara bagaimana aku harus pakai aturan!”

“Tapi apa pun juga aku masih suci bersih,” kata si nona.

It-hiong tersenyum, katanya, “Baik, mari kita duduk dan bicara ….”

Ia membawanya duduk di tepi tempat tidur, lalu berkata pula dengan tertawa, “Biar kuberi tahukan padamu, hendaknya engkau jangan kaget. Orang yang mengaku bernama Tam Pek-sun itu sesungguhnya bernama Pokyang Thian dan berjuluk In-tiong-yan, saat ini dia sudah mati.”

“Hah, kau bunuh dia?” seru Giok-nio dengan terkejut.

It-hiong menggeleng, “Tidak, aku tidak membunuhnya, dia mati di tangan seorang saudara angkatnya yang bernama Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan. Kemarin malam, setelah aku dan Pang Bun-hiong membawanya pulang ke hotelnya, kemudian dia mengaku bahwa kotak hitam yang dirampasnya dariku itu ditanam di suatu tanah pekuburan. Kami lantas menyewa kereta dan membawanya ke pekuburan itu ….”

Begitulah ia lantas menceritakan apa yang terjadi di pekuburan itu semalam.

Giok-nio terkejut mengikuti kisah itu, katanya, “Wah, dan kotak itu telah dibawa lari begitu saja oleh orang yang bernama Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan?”

It-hiong mengiakan.

“Lantas bagaimana keadaan luka Pang-kongcu?” tanya Giok-nio.

“Tidak terlalu parah, selang dua hari pun akan sembuh,” jawab It-hiong.

“Dan sekarang bagaimana rencanamu?” tanya pula Giok-nio.

“Kupikir hendak mengajakmu piknik ke Bok-jiu-oh,” kata It-hiong.

“Kotak itu tidak kau urus lagi!”

“Tidak mau lagi. Kotak itu adalah benda yang membawa alamat jelek, barang siapa memperolehnya akan tertimpa sial. Aku kan orang baik-baik, buat apa mencari penyakit sendiri?”

Giok-nio berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Benar juga kotak itu tidak kau urus lagi. Barang itu memang membawa alamat tidak baik ….”

“Eh, coba kau permisi dulu kepada Gui-coa-yo, keretaku sudah menunggu di luar, ayolah segera kita berangkat pesiar ke Bok-jiu-oh.”

Giok-nio mengiakan, ia beranjak keluar.

Tak lama kemudian ia sudah kembali, katanya dengan tertawa, “Beres. Biar kuganti pakaian dulu dan segera kita berangkat. Sekarang silakan engkau keluar sebentar.”

“Bawalah dua potong baju lebih banyak,” kata It-hiong.

“Buat apa?” tanya si nona.

“Bilamana cukup menyenangkan, boleh kita tinggal beberapa hari di sana,” ujar It-hiong.

“Wah, jangan,” kata Giok-nio.

“Kau khawatir kuganggu dirimu?”

“Habis engkau sudah terbiasa begitu, mau tak mau aku harus waspada.”

“Jangan khawatir,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Jika hendak kuganggu dirimu, di sini juga dapat kulakukan. Cukup kututuk Hiat-to kelumpuhan dan Hiat-to bisu, membuatmu tidak dapat bergerak dan bersuara, kan dapat kulakukan sekehendakku atas dirimu?”

“Engkau harus bersumpah takkan menggangguku,” pinta Giok-nio.

“Boleh,” jawab It-hiong sambil berdoa. “Malaikat mahasakti, aku Liong It-hiong bersumpah, bilamana tanpa persetujuannya kuganggu dia, biarlah aku mati di atas tubuh orang perempuan.”

“Buset, masa mati di atas tubuh orang perempuan kau anggap sebagai semacam hukuman?” tanya Giok-nio dengan melenggong.

“Tentu saja juga semacam hukuman,” jawab It-hiong. “Coba pikir, bilamana seorang lelaki mati di atas tubuh orang perempuan, kan serbasusah dia.”

Giok-nio mengomel, “Tampaknya mati pun engkau rela asalkan tidur dengan orang perempuan. Tidak bisa, sumpah lagi sekali!”

“Baik,” kata It-hiong. “Malaikat mahakuasa, bilamana kuganggu Giok-nio, biarlah kalau mati aku dijerumuskan ke neraka.”

“Nah, mendingan begitu,” ujar Giok-nio dengan tertawa. “Sekarang keluarlah sebentar.”

Dengan tersenyum It-hiong keluar kamar.

Giok-nio menutup pintu kamar dan mulai ganti baju dan berdandan.

Tidak terlalu lama ia membuka pintu, terlihat dia bersolek dengan sederhana tapi anggun, sedikit pun tidak ada tanda-tanda sebagai anak perempuan dunia hiburan, malahan kelihatan terlebih cantik.

“Sudah beres?” tanya It-hiong dengan tertawa.

“Ya, boleh tidak aku berdandan begini?” tanya si nona dengan tertawa.

It-hiong mengangguk memuji, “Bagus setali, memangnya engkau harus berdandan cara begini baru memper bernama Ni Beng-ai.”

Giok-nio tersenyum menggiurkan, katanya, “Marilah berangkat!”

Segera kedua orang meninggalkan Boan-wan-jun dengan menumpang kereta.

Setelah kereta keluar kota, langsung menuju ke Bok-jiu-oh, danau tanpa sedih.

“Di mana Pang-kongcu?” tanya Giok-nio.

“Dia tinggal di hotel dan merawat lukanya,” jawab It-hiong.

“Kan menumpang kereta, kenapa tidak mengajaknya serta?” ujar Giok-nio.

“Ia bilang cuma akan merusak suasana saja bila berada bersama kita, maka tidak mau ikut,” tutur It-hiong dengan tertawa.

“Baik juga dia ….” ujar Giok-nio dengan tersenyum.

“Kau suka padanya?” tanya It-hiong.

“Jangan sembarang omong,” jawab Giok-nio. “Aku cuma bilang dia cukup baik, memangnya, engkau lantas cemburu?”

It-hiong terbahak, “Haha, masa aku cemburu. Soalnya bilamana kau suka padanya, sedikit pun aku takkan marah dan menyesal.”

“Sebab apa?” tanya Giok-nio.

“Sebab dia memang ada segi-segi yang patut disukai, aku juga sangat suka padanya,” jawab It-hiong.

“Kalian tidak duel lagi?” tanya Giok-nio dengan tertawa.

“Sekarang kami tidak ingin duel lagi, aku tidak sampai hati melukai dia.”

“Ilmu silat kalian Pendekar Naga dan Pendekar Harimau sama tingginya, bilamana kalian mau bergabung untuk kerja sama, berbuat amal dan membantu kaum lemah, tentu kalian akan dapat berbuat banyak.”

It-hiong tersenyum, “Jika benar demikian jalan pikiranmu, kami berjanji pasti takkan membuatmu kecewa.”

Ia memandangnya dengan lekat-lekat, tanyanya kemudian dengan tersenyum, “Giok-nio, apakah nama aslimu ialah Ni Beng-ai?”

Mendadak Giok-nio menunduk dan tidak menjawab.

“Eh, kenapa?” tanya It-hiong.

Giok-nio terdiam agak lama baru mengangkat kepalanya, katanya dengan tertawa, “Namaku memang betul Beng-ai, hanya tidak she Ni ….”

Sebenarnya It-hiong sudah mengambil keputusan, asalkan si nona mengaku sebagai adik perempuan Oh Kiam-lam, maka si nona akan dianggapnya sebagai gadis keluarga baik-baik dan takkan main gerayang lagi kepadanya. Segera ia tanya, “Engkau tidak she Ni, habis she apa?”

“Aku … aku she Oh ….”

“She kan bukan sesuatu dosa, kenapa mesti mengaku she Ni?”

“Sebagai perempuan hiburan yang hina dina, buat apa segala sesuatu bicara terus terang kepada orang?”

“Betul juga ucapanmu, jika, begitu kakakmu bernama Oh Lam-hui, begitu?”

“Ya,” Giok-nio mengangguk.

Melihat si nona belum lagi mau mengaku sebagai adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam, It-hiong rada kecewa juga, ia angkat pundak dan berkata, “Ai, bilamana kakakmu tidak mati, tentu engkau takkan telantar dan terjerumus di dunia hiburan seperti ini.”

“Mungkin sudah suratan nasib,” ucap Giok-nio dengan tersenyum getir.

“Tapi mengapa engkau tidak mau menikah saja?” ujar It-hiong.

“Dalam keadaan tidak punya sanak kadang cara bagaimana aku dapat menikah? Masa aku harus mendatangi setiap orang dan bertanya apakah mau menikahiku? Cara bagaimana aku dapat bicara demikian?”

“Dan engkau lantas terjerumus ke jurang pelacuran seperti ini?”

“Ya,” jawab Giok-nio. “Sejak kecil aku memang hidup miskin dan susah, hampir tidak pernah hidup senang satu hari pun. Makanya aku menjadi nekat dan memutuskan akan mencari makan berdasarkan sedikit parasku yang lumayan ini, sedapatnya ingin hidup layak.”

“Dan sekarang apakah kau rasakan hidup dengan baik dan layak?” tanya It-hiong.

Giok-nio menggeleng, ucapnya dengan tersenyum getir, “Sekarang menyesal pun sudah terlambat.”

“Kukira belum terlampau lambat, asalkan engkau bertekad akan kembali ke tengah masyarakat yang baik engkau pasti dapat hidup dengan baik.”

“Bicara sih gampang,” ujar Giok-nio dengan menghela napas. “Sekali terpeleset menyesal selama hidup, ingin sadar kembali pun sudah terlambat.”

“Memangnya engkau sendiri merasa tidak sanggup kembali lagi ke jalan yang baik?” tanya It-hiong.

“Bukan begitu soalnya,” kata Giok-nio. “Aku cuma merasa orang baik sukar dicari. Setiap tamu yang datang mencari hiburan hampir seluruhnya bukan … bukan suami idaman ….”

“Termasuk aku?” tanya It-hiong dengan tertawa.

Giok-nio tersenyum malu, katanya, “Engkau harus dikecualikan, cuma aku cukup menyadari, orang luar biasa seperti dirimu tidak nanti penujui bunga layu semacam diriku ini.”

“Engkau bukan bunga layu, engkau kan masih suci bersih,” kata It-hiong.

“Siapa yang mau tahu?” ujar Giok-nio. “Sekali anak perempuan sudah terjerumus ke dunia hina ini, biarpun dicuci di sungai Kuning juga takkan bersih.”

“Jangan engkau menyesali diri sendiri,” kata It-hiong. “Yang suka padamu bukan cuma aku saja, si Pang Bun-hiong pun pernah berkata padaku, katanya bilamana aku tidak mau padamu dia yang mau.”

Muka Giok-nio menjadi merah dan bersuara, “Oo, lantas bagaimana jawabmu?”

“Aku tidak menjawabnya,” tutur It-hiong. “Cuma, kecuali aku mati, kalau tidak, mana ada kesempatan baginya untuk mendapatkan dirimu.”

Dengan perasaan mesra Giok-nio memandangnya, katanya dengan gembira, “Engkau tidak … tidak dusta padaku?”

“Asalkan engkau tidak dusta padaku, pasti aku pun tidak dusta padamu,” kata It-hiong. Mendadak ia menguap kantuk, “Semalaman aku tidak tidur dengan baik, sungguh sekarang aku ingin tidur.”

“Silakan tidur,” kata Giok-nio.

It-hiong tidak bicara lagi, ia bersandar ke belakang, sebentar saja ia benar tertidur.

Sang surya sudah condong ke barat, kereta itu masih terus melanjutkan perjalanan, sejauh itu Liong It-hiong masih tertidur dengan lelap.

Sering Giok-nio melongok ke luar kereta, memandang panorama di luar, lama-lama ia tidak sabar dan juga merasa sangsi, ia lantas mendorong It-hiong sambit berseru, “Hei, bangun, bangun!”

It-hiong membuka mata, tanyanya, “Ada apa?”

“Sejak pagi kau tidur sampai sekarang, kan sudah cukup,” kata si nona.

It-hiong kucek-kucek matanya yang masih sepat, ucapnya, “Oo, waktu apa sekarang?”

“Sudah dekat magrib,” jawab Giok-nio.

It-hiong melongok ke luar kereta, lalu berkata, “Kiranya sudah seharian dalam perjalanan, rasanya aku baru tidur sebentar saja.”

“Kita ini kesasar atau tidak?” tanya Giok-nio tiba-tiba.

“Kesasar? Mana bisa?” kata It-hiong.

“Menurut cerita orang, letak Bok-jiu-oh tidak terlampau jauh, sedangkan kita sudah seharian dalam perjalanan, mengapa belum lagi sampai?”

“Mungkin sudah dekat,” ujar It-hiong.

“Coba tanya si kusir, mungkin benar kesasar,” kata Giok-nio.

It-hiong menyingkap tabir kereta dan tanya si kusir, “Hei, bung, apa kamu tidak salah jalan?”

“Tidak.” jawab si kusir.

“Berapa lama lagi baru akan sampai di Bok-jiu-oh?”

“Kira-kira dua jam lagi.”

“Masa begitu jauh?”

“Ya.”

It-hiong menurunkan tabir lalu tanya Giok-nio, “Engkau lapar tidak?”

Terlihat air muka si nona seperti menahan sesuatu perasaan, jawabnya, “Tidak terlalu lapar, cuma aku … aku ingin turun sebentar ….”

“Mau apa?” tanya It-hiong.

Muka Giok-nio menjadi merah. “Mau kencing!” ucapnya lirih.

“Oo,” kembali It-hiong menyingkap tabir dan berseru kepada sais, “Hei, bung, berhenti dulu!”

Kusir mengiakan dan menghentikan keretanya.

It-hiong membuka pintu kereta dan memapah Giok-nio turun, tanyanya, “Perlu kuantar tidak?”

“Tidak perlu, biar kupergi sendiri,” jawab si nona.

Ia terus menuju ke dalam hutan di tepi jalan sana, tidak lama kemudian ia sudah kembali dan naik ke atas kereta lagi, katanya, “Baiklah, lanjutkan perjalanan.”

Maka kereta lantas dilarikan pula ke depan.

It-hiong mengeluarkan sebungkus makanan katanya, “Mari kita makan, ini kubawa dari hotel.”

Makanan yang dibawanya terdiri dari macam-macam lauk-pauk gorengan dan ada lagi kue tawar. Rupanya Giok-nio suka makan gorengan sayap ayam, ia pilih sepotong sayap dan dimakan dengan nikmatnya.

“Lengkap juga perbekalanmu, sungguh rapi cara berpikirmu,” kata si nona.

“Semua ini khusus disiapkan untukmu,” kata It-hiong. “Maka harus kau makan sekenyangnya.”

“Lekas kau pun makan,” ajak Giok-nio.

Tanpa bicara lagi It-hiong lantas makan kue dan lauk-pauk lain.

Hanya sebentar saja sebungkus makanan itu sudah disapu bersih oleh mereka. Lalu It-hiong mengeluarkan sebotol arak, katanya, “Ini bukan arak melainkan air minum biasa, kau mau minum tidak!”

“Mau berikan secangkir padaku,” pinta Giok-nio sambil mengangguk.

It-hiong mengeluarkan pula sebuah mangkuk, dituangnya setengah mangkuk air minum itu kepada si nona, katanya dengan tertawa, “Jika ini arak, berani kau minum tidak?”

“Berani,” jawab Giok-nio sambil menerima mangkuk air itu.

It-hiong tersenyum. “Masa engkau tidak takut akan mabuk?”

“Tidak,” jawab si nona.

“Sebab apa?” tanya It-hiong.

“Sebab engkau sudah bersumpah takkan menggangguku,” kata Giok-nio. Habis berkata ia terus minum semangkuk air itu.

“Hihi, engkau terperangkap,” ucap It-hiong dengan tertawa.

“Apa katamu?” berubah juga air muka Giok-nio.

“Telah kutaruh obat tidur di dalam air, segera engkau akan jatuh pingsan,” kata It-hiong tertawa.

Tentu saja Giok-nio tidak percaya, ia mencemooh, “Huh, jangan kau takut-takuti aku.”

“Tidak, aku bicara sesungguhnya,” kata It-hiong. “Akan kuhitung tiga kali dan engkau akan jatuh pingsan. Nah, satu … dua … tiga!”

“Bluk”, Giok-nio benar-benar roboh terkulai.

Pada waktu yang tepat It-hiong sempat memegangi si nona sehingga kepalanya tidak sampai terbentur benjut, lalu direbahkannya perlahan di jok.

Pada saat itulah si kusir mendadak menyingkap tabir dan melongok ke dalam, katanya dengan tertawa, “Wah, alangkah kejamnya engkau ini, betul-betul telah kau kerjai dia.”

“Terpaksa,” kata It-hiong. “Biarlah dia tidur nyenyak kan lebih baik, kalau tidak mungkin dia akan ribut.”

“Betul, jika dia tahu engkau tidak mengajaknya piknik ke Bok-jiu-oh, pasti dia akan ribut,” kata si kusir dengan tertawa. “Cuma, engkau akan menggunakan kesempatan pada kesempitan atau tidak?”

“Jangan khawatir, orang she Liong tidak nanti berbuat curang,” kata It-hiong.

“Sudah seharian aku mengendarai kereta, sekarang giliranmu,” kata kusir itu.

“Buset,” seru It-hiong dengan tertawa. “Engkau ini kusir, aku penumpang, masa kusir berani menyuruh penumpang menjadi kusir bagimu? Sungguh terlalu!”

“Jangan omong kosong, lekas mengendarai kereta,” seru si kusir sambil menghentikan keretanya, lalu menyusup ke dalam kereta.

“Dan awas, jangan kau gerayangi dia, ada kemungkinan akan kuambil dia sebagai istri,” kata It-hiong.

“Ya, ya, tahu,” jawab si kusir.

It-hiong tertawa dan turun dari tempat duduknya, lalu naik ke bagian kusir di depan, ia tarik tali kendali dan dilarikan lagi kereta itu.

Kiranya si kusir yang mendadak berubah menjadi penumpang ini tak-lain tak-bukan adalah samaran Hou-hiap Pang Bun-hiong.

Sesudah duduk di kereta, Bun-hiong menyingsingkan kaki celananya untuk memeriksa betis yang cedera dipukul Hui Giok-koan itu, dilihatnya bagian itu belum hilang bengkaknya, ia menggeleng kepala dan menghela napas, gumamnya, “Sialan, hampir patah kakiku oleh pukulan Hui Giok-koan.”

It-hiong tertawa mendengar ucapannya, katanya, “Hanya terluka sedikit saja sudah berkeluh kesah panjang pendek, tampaknya engkau ini sudah terbiasa hidup enak.”

“Sejak berkecimpung di dunia Kangouw belum pernah terluka, baru sekarang ini untuk pertama kalinya,” kata Bun-hiong.

“Seorang panglima perang pun ada kemungkinan gugur di garis depan, selanjutnya bila engkau berada bersamaku, pada suatu hari pasti akan menderita terlebih hebat, untuk ini harus ada persiapan mental bagimu,” kata It-hiong.

“Tidak perlu kau takuti aku,” kata Bun-hiong. “Pengalamanku tidak kurang banyak daripadamu, kejadian apa pun pernah kulihat.”

“Tapi tampaknya engkau tidak tahan sakit, bukan seorang yang sanggup menahan derita,” ujar It-hiong.

“Aku memang tidak kenal apa artinya derita, kalau dapat menghindari penderitaan pasti akan kuhindari, hanya orang tolol yang mau mencari susah sendiri,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Kau kira engkau dapat menghindar?” tanya It-hiong.

“Akan kuhindari sedapatnya,” sahut Bun-hiong.

It-hiong tertawa dan tidak menanggapi lagi.

Tidak lama kemudian cuaca pun gelap, malam sudah tiba.

Perjalanan masih terus berlangsung, dekat tengah malam barulah It-hiong menghentikan keretanya, dikeluarkannya satu ember makanan kuda yang sudah disiapkan sebelumnya, setelah kuda makan kenyang baru melanjutkan perjalanan lagi.

Seterusnya kereta tidak pernah berhenti pula, ketika fajar keesokannya tiba barulah kereta berhenti di suatu kaki bukit.

Ternyata selama sehari semalam kereta sudah menempuh perjalanan sejauh lebih empat ratus li.

Setelah kereta berhenti, It-hiong melompat turun dan berseru, “Sudah sampai, ayolah turun!”

Bun-hiong membuka pintu kereta dan turun, ia pandang suasana di sekitarnya, katanya dan tertawa, “Jika tidak salah pandanganku, tempat inilah kaki gunung Bok-kan-san sebelah utara.”

It-hiong mengangguk, katanya dengan tertawa, “Betul, tempat yang pernah kau jelajahi ternyata tidak sedikit.”

“Apakah dia tinggal di atas gunung?” tanya Bun-hiong.

“Betul,” jawab It-hiong.

“Ia masih tidur dengan nyenyak, apakah perlu dibangunkan?” tanya Bun-hiong.

“Tidak perlu, sesudah bertemu dengan To Po-sit baru dia dibangunkan,” ujar It-hiong.

Ia lantas melepaskan kuda dari tali kendali kereta, kuda dituntunnya ke tengah sebuah sungai gunung yang cetek, dengan air sungai ia mandikan kudanya.

Warna kuda itu semula merah cokelat, akan tetapi setelah disiram air dan disikat, seketika bulu kuda berubah warna, sekarang berubah menjadi putih, warna merah cokelat tadi telah luntur seluruhnya.

Kiranya kuda inilah kuda putih Pek-liong-ki kesayangan It-hiong, demi untuk menipu Giok-nio, kemarin ia telah mewarnai kuda putih itu dengan wenter merah cokelat. Sesudah tiba di tempat tujuan, maka warna asli kuda itu dipulihkan.

Sesudah memandikan kuda, dituntunnya kuda itu dan diserahkan kepada Bun-hiong, katanya, “Boleh kau naiki kuda ini, kita masih harus menempuh suatu jarak cukup jauh.”

Lalu bagaimana dengan si dia?” tanya Bun-hiong.

“Akan kugendong dia,” ujar It-hiong.

“Dan bagaimana kereta itu?” tanya Bun-hiong pula.

“Buang saja,” kata It-hiong.

“Kereta masih baru begini kan sayang kalau dibuang begitu saja?” ujar Bun-hiong dengan melengak. “Kan lebih baik kita tarik ke dalam hutan, kelak mungkin masih dapat kita gunakan lagi.”

It-hiong mengangguk, “Boleh juga.”

Ia masuk ke dalam kereta dan mengangkat keluar Giok-nio, nona itu ditaruhnya di atas tanah, lalu kereta diseret ke dalam hutan, disembunyikan di bawah pohon yang lebat dari sukar terlihat.

Lalu ia putar balik dan memondong Giok-nio dan berkata. “Mari berangkat!”

Bun-hiong sudah pasang pelana kuda, segera ia mencemplak ke atas kuda dan ikut It-hiong mendaki gunung.

Bok-kan-san adalah cagang pegunungan Thian-bok-san, pepohonan tumbuh lebat, pemandangan indah permai, di mana-mana hanya hutan bumbu yang rimbun, suatu tempat tamasya yang terkenal.

Tentang sejarah Bok-kan-san boleh dikatakan sudah cukup tua, konon pada waktu kerajaan Go di zaman Junciu, ketika raja Go memerintahkan Kan Ciang menggembleng pedang, di pegunungan inilah Kan Ciang menempa baja.

Namun baja yang ditempa ternyata tidak mau cair, maka istri Kan Ciang yang bernama Bok Sia bertanya apa sebabnya, Kan Ciang menjawab, “Dahulu mendiang guruku juga gagal menempa baja, akhirnya menggunakan orang perempuan sebagai tumbal dan pedang berhasil digembleng.”

Setelah mendapat keterangan itu, malamnya di luar tahu sang suami Bok Sia terjun ke dalam tungku, ketika Kan Ciang mengetahui apa yang terjadi, namun Bok Sia sudah terbakar menjadi ibu. Anehnya baja yang ditempanya lantas cair dan Kan Ciang berhasil menggembleng dua bilah pedang jantan dan betina serta diberi bernama menurut nama mereka. Nama gunung Bok-kan ini pun lahir dari kisah tersebut.

Dengan sendirinya Bun-hiong juga tahu dongeng itu, dengan tersenyum ia tanya, “Eh, kau percaya Kan Ciang memang pernah menggembleng pedang di sini?”

“Dengan sendirinya dongeng itu sukar dipercaya dan juga tidak ada alasan untuk dipercaya,” ujar It-hiong.

“Kupikir kedua pedang pusaka yang bernama Kan Ciang dan Bok Sia itu pasti ada, cuma sejarahnya sudah terlalu lama sehingga sudah lama hilang jejaknya.

“Mungkin begitu,” ujar It-hiong.

“Pernah kupesiar ke sini,” tutur Bun-hiong, “banyak tempat tamasya di lereng gunung ini, bahwa To Po-sit memilih tempat ini sebagai tempat tirakatnya, sungguh harus diakui dia memang pintar menikmati hidupnya.”

“Ya, dia tinggal di sini, di dekat suatu tempat indah yang bernama Loh-hoa-teng,” tutur It-hiong.

“Apakah rumah tinggalnya sebuah gubuk bambu?” tanya Bun-hiong.

“Dari mana kau tahu?” melengak juga It-hiong oleh pertanyaan orang.

“Terus terang, pertengahan bulan 12 tahun yang lalu pernah kupesiar ke sini,” tutur Bun-hiong. “Di dekat Loh-hoa-teng kurasakan bangunan gubuk itu sangat indah, kutaksir pemilik rumah pasti seorang cendikia, maka timbul hasratku untuk berkenalan, segera kudatangi ….”

“Akhirnya bagaimana?” sela It-hiong.

“Akhirnya menubruk tempat kosong, tuan rumah tidak ada di tempat, mungkin lagi keluar.”

It-hiong tersenyum, “Tidak, tuan rumahnya ada, hanya dia tidak mau menerima tamu asing seperti dirimu ini.”

“Bilamana kutahu tuan rumahnya adalah Tui-beng-poan-koan To Po-sit, tidak bisa tidak akan kupaksa dia muncul menemuiku,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Wataknya memang nyentrik, maka jangan kau buat dia marah, sekali dia marah, akibatnya bisa runyam,” kata It-hiong.

“Runyam bagaimana?” tanya Bun-hiong.

“Kalau tidak mengomel terus-menerus selama tiga hari sedikitnya, bisa jadi selama tiga hari pula dia tidak mau bicara,” kata It-hiong. “Pada waktu dia memaki orang tidak ada seorang pun mampu menyuruhnya tutup mulut. Sebaliknya ketika dia tutup mulut, juga tidak ada seorang pun sanggup menyuruhnya buka mulut.”

“Wah, jika demikian, dia benar-benar makhluk tua aneh,” kata Bun-hiong tertawa.

“Ya, meski wataknya sangat aneh, tapi otaknya justru sangat encer,” kata It-hiong. “Caranya menganalisis sesuatu urusan biasanya sangat cepat dan tepat, semuanya dapat diperhitungkannya dengan jitu.”

“Engkau sangat memuja dia?” tanya Bun-hiong.

“Ye, bahkan aku siap sedia bekerja baginya,” jawab It-hiong. “Jika engkau berkumpul sekian lama dengan dia, tentu kau pun akan takluk padanya lahir batin dan rela disuruh bekerja apa pun baginya.”

Begitulah keduanya sambil berjalan seraya bicara, kira-kira dua-tiga li jauhnya, sampailah mereka di wilayah Loh-hoa-teng yang dituju.

It-hiong menjadi penunjuk jalan, ia membawa kawannya menyusuri sebuah jalan setapak yang berliku-liku, akhirnya sampai di pinggang gunung yang rindang dan sepi, lalu terlihatlah rumah gedek bambu yang dimaksud.

Rumah gubuk itu tidak besar, tapi pekarangan yang dikelilingi dengan pagar bambu cukup luas dan tertanam berbagai pepohonan bunga yang indah dan aneh, bagi siapa pun sekali pandang pasti akan timbul rasa senang dan yakin si tuan rumah pasti seorang pertapa yang terpelajar.

Setiba di depan pagar bambu, segera It-hiong berteriak, “Lik-tiok Lotiang (bapak bambu hijau), adakah engkau di rumah?”

Bun-hiong heran oleh ucapan It-hiong, dengan suara lirih ia tanya, “Kau panggil dia Lik-tiok Lotiang?”

“Ya,” jawab It-hiong dengan mendesis. “Ini cuma semacam kode, supaya dia tahu akulah yang datang.”

Tengah bicara, terdengar dari dalam rumah ada suara orang tua menjawab, “Masuk saja!”

It-hiong berpaling dan berkata kepada Bun-hiong, “Kau tunggu sebentar di luar, biar kumasuk memberitahukan padanya, bilamana dia memperbolehkan kau masuk barulah engkau masuk ke sana.”

Bun-hiong mengangguk, ia turun dari kudanya dan menunggu di situ.

It-hiong lantas membuka pintu pagar, baru saja melangkah masuk, tiba-tiba dari dalam rumah Tui-beng-poan-koan To Po-sit berseru pula, “Yang itu juga disilakan masuk!”

Rupanya ia tahu juga ada orang asing ikut datang bersama It-hiong.

Mendengar nada ucapan To Po-sit cukup ramah, It-hiong tahu hati orang lagi senang, segera ia berkata pula kepada Bun-hiong, “Beres, dia minta kau masuk, silakan ikut masuk bersamaku.”

Bun-hiong lantas menambat kuda dan masuk bersama It-hiong.

Ruangan rumah bambu ini sangat sederhana, namun sangat resik, segala perabotan hampir seluruhnya terbuat dari bambu sehingga menimbulkan semacam suasana yang khas.

Tui-beng-poan-koan duduk tenang di suatu kursi bambu yang pakai sandaran.

Usianya antara 60 lebih, perawakannya kekar kuat, mukanya bulat, kedua matanya sangat besar, pada waktu tidak marah juga kelihatan seperti orang marah sehingga membuat orang gentar.

Ketika melihat It-hiong masuk dengan memondong seorang nona, di belakangnya ikut pula seorang pemuda, wajah To Po-sit memperlihatkan rasa heran dan kejut, tapi dia tidak bertanya, agaknya dia seorang yang tidak suka banyak bicara.

Setelah It-hiong menaruh Giok-nio pada sebuah kursi bambu yang lain, lalu ia memberi hormat kepada To Po-sit dan berkata, “Lopothau, sudah kubawa kemari orang yang kau minta.”

Tui-beng-poan-koan To Po-sit hanya bersuara perlahan, namun pandangannya menatap Bun-hiong tanpa berkedip.

Bun-hiong rada kikuk, ia pun memberi hormat dan berkata, “Cayhe Pang Bun-hiong menyampaikan salam hormat kepada To-locianpwe.”

Mulut To Po-sit tampak menjengkit, jengeknya, “Kuingat tahun yang lalu pernah kau datang kemari.”

“Betul,” Bun-hiong memberi hormat pula. “Daya ingat Locianpwe sungguh sangat bagus, urusan yang sudah berselang beberapa bulan masih belum lupa.”

To Po-sit menatapnya dengan sorot mata tajam, tanyanya kemudian, “Untuk apa pula kau datang kemari?”

Cepat It-hiong menerangkan, “Dia adalah sahabatku yang baru, sekali ini akulah yang mengajaknya kemari.”

Tui-beng-poan-koan To Po-sit berpaling dan melotot padanya, jengeknya, “Sahabat baru lantas kau bawa dia kemari begitu saja? Apakah kau khawatir hidupku terlalu awet dan membikin susah padamu, maka perlu dibikin mati lebih cepat?”

“Bukan begitu maksudku,” jawab It-hiong. “Kutahu dia dapat dipercaya, maka kubawa dia kemari. Dia bukan lain dari Hou-hiap Pang Bun-hiong yang namanya terkenal di utara dan selatan.”

To Po-sit tidak terpengaruh oleh nama “Hou-hiap”, ia masih bersikap dingin, katanya dengan nada ketus, “Biarpun dia setan iblis juga sama, kalau aku tidak memberi izin, tidak boleh sembarangan kau bawa orang kemari.”

“Aku berani menjamin kepadamu bahwa dia pasti seorang pemuda yang baik dan pakai aturan, tidak nanti berbuat sesuatu yang merugikanmu,” kata It-hiong.

“Hm, kau bicara seenaknya saja, memangnya engkau ini cacing pita dalam perutnya sehingga kau tahu dia dapat dipercaya?” damprat To Po-sit tambah marah. “Apa yang pernah kukatakan padamu sudah kau lupakan seluruhnya? Kenal orangnya, kenal mukanya, cara bagaimana tahu hatinya? Berdasarkan apa kau bilang dia pemuda yang baik? Berdasarkan apa pula kau berani menjamin dia pasti takkan berbuat sesuatu yang merugikan diriku?”

Makin bicara makin keras suaranya, sorot matanya juga tambah beringas serupa It-hiong hendak dicaploknya mentah-mentah.

Padahal Pang Bun-hiong juga pemuda yang berwatak angkuh, tidak pernah dihina oleh siapa pun, kini melihat sikap si kakek sedemikian garangnya, ia naik pitam juga, tanpa pikir ia balas memaki, “Dasar tua bangka, bila kau takut kubikin susah padamu, biarlah kuangkat kaki saja dari sini dan habis perkara, buat apa begitu galak?”

Mendadak To Po-sit menarik muka, ditatapnya anak muda itu dengan tajam dan mendengus dengan kereng, “Bagus, berani kau maki aku apa!”

Rada tegang juga perasaan Bun-hiong, namun dia tetap bandel dan menjawab, “Kumaki tua bangka padamu, mau apa?”

“Kurang ajar! Coba maki sekali lagi?” damprat To Po-sit.

Diam-diam Bun-hiong mengumpulkan tenaga pada kedua tangan dan siap menyambut serangan orang secara mendadak, di mulut ia menjawab dengan bandel pula, “Biarpun maki seratus kali lagi juga kuberani, tua bangka!”

Tentu saja It-hiong kelabakan, berulang ia memberi kedipan mata sebagai tanda agar lekas Bun-hiong melarikan diri.

Namun Bun-hiong tidak mau lari, sebaliknya malah memperlihatkan sikap menantang, tampaknya ia sudah bertekad akan menghadapi labrakan Tui-beng-poan-koan To Po-sit.

“Coba maki sekali lagi!” jengek pula si kakek.

“Tua bangka!” tanpa pikir Bun-hiong benar-benar memaki lagi.

Sinar mata Tui-beng-poan-koan seakan-akan membara, kembali ia berteriak, “Sekali lagi!”

Tanpa gentar Bun-hiong memaki pula, “Tua bangka, kan sudah kukatakan, biarpun memaki lagi seratus kali juga kuberani.”

Mendadak air muka Tui-beng-poan-koan yang semula beringas itu mengendur, rasa gusarnya mendadak buyar sama sekali dan berubah menjadi senyuman yang welas asih, katanya, “Bagus, maki lagi beberapa kali juga tidak menjadi soal, cuma jangan telanjur menjadi biasa.”

Bun-hiong tidak tahu mengapa sikap orang mendadak bisa berubah, seketika ia melongo bingung malah.

“Duduklah!” kata Tui-beng-poan-koan kemudian dengan tertawa.

“Untuk apa!” tanya Bun-hiong dengan melenggong.

To Po-sit tersenyum, katanya, “Selama berpuluh tahun ini tidak ada seorang pun berani memaki diriku secara berhadapan, tapi kau bocah ini justru mempunyai keberanian ini, hal ini menandakan anak muda seperti dirimu memang bakat yang dapat dipupuk, sungguh aku sangat senang.”

It-hiong tertawa geli, baru sekarang perasaannya yang tegang merasa lega.

Sebaliknya Pang Bun-hiong menyengir serbasalah. Banyak juga orang aneh yang pernah dilihatnya, tapi tidak ada seorang pun seaneh Tui-beng-poan-koan ini, dirinya telah memakinya, bukannya marah, sebaliknya dia malah menaruh kesan baik padanya, dalil macam apakah ini?

Ia masih meragukan perubahan sikap si kakek itu mungkin cuma pura-pura saja maka dia tetap waspada, katanya kemudian, “Sungguh aku tidak mengerti maksudmu.”

“Hahaha, selanjutnya engkau tentu akan paham,” seru Tui-beng-poan-koan dengan tergelak, “Sekarang engkau adalah tamuku, silakan duduk!”

It-hiong cukup kenal watak si kakek she To itu, ia tahu orang sudah tidak mempunyai rasa permusuhan lagi terhadap Pang Bun-hiong, segera ia menukas dengan tertawa, “Pang-heng, silakan duduk, urusan sudah beres!”

Bun-hiong masih ragu sejenak, akhirnya barulah ia duduk.

Lalu Tui-beng-poan-koan berkata kepada Liong It-hiong, “Pandanganmu memang tidak keliru, engkau telah mengikat seorang sahabat baik.”

“Tapi kami ada janji duel yang belum terlaksana,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Oo, sebab apa?” tanya Tui-beng-poan-koan dengan melengak.

“Soalnya kami saling tidak mau mengalah, kami sudah sepakat akan bertanding untuk menentukan siapa yang asor, tapi lantaran macam-macam urusan, sejauh ini pertarungan itu belum sempat berlangsung,” demikian tutur It-hiong.

“O, lantas kapan kalian hendak bertanding?” tanya Tui-beng-poan-koan dengan tertawa.

“Nanti padas waktu hatiku lagi kesal segera akan kulabrak dia,” jawab It-hiong. “Sekarang pikiranku lagi gembira, aku tidak ingin berkelahi.”

Tui-beng-poan-koan lantas berpaling ke arah Bun-hiong, katanya dengan tersenyum, “Pernah juga kudengar nama Hou-hiap yang tenar, tak tersangka yang dimaksudkan adalah dirimu ini. Eh, siapa gurumu?”

“Kepandaianku adalah hasil latihanku dari berbagai perguruan sehingga aku tidak mempunyai guru yang resmi,” jawab Bun-hiong.

“Aneh juga,” Tui-beng-poan-koan menyatakan rasa herannya. “Bahwa cuma perguruan biasa dapat mendidik anak muda seperti dirimu, sungguh suatu kejutan.”

“Kubelajar sedikit kepandaian dari berbagai perguruan sana-sini, lalu aku berkelana, dan mencari jago kelas tinggi untuk bertanding, dalam pertandingan itu berhasil kucuri jurus serangan lawan yang lihai, semuanya kukumpulkan, lama-lama dari himpunan berbagai ilmu silat itu dapatlah kulebur dan kuciptakan semacam Kungfu tersendiri.”

Tui-beng-poan-koan manggut-manggut sebagai tanda memuji, lalu ia berkata kepada It-hiong dengan tertawa, “Berani kukatakan dia jauh lebih pintar daripadamu, It-hiong.”

It-hiong mengangkat pundak, jawabnya, “Dia memang sok pintar ….”

“Eh, kapan kalian mulai berkenalan?” tanya Tui-beng-poan-koan.

“Wah, ceritanya agak panjang,” tutur It-hiong. “Apakah engkau tidak mau memeriksa dulu nona yang kubawa ini?”

Tui-beng-poan-koan memandang Giok-nio sekejap, katanya, “Engkau tidak salah tangkap orang, dia memang betul adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam. Apakah kau temukan dia di Lau-jun-ih di Kim-tan?”

“Tidak, kutemukan dia di Boan-wan-jun di Kim-leng,” sahut It-hiong. “Cuma sebelum kutemukan dia di sana sudah lebih dulu kukenal dia di suatu tempat lain.”

“Bagaimana terjadinya?” tanya Tui-beng-poan-koan.

It-hiong lantas mengisahkan apa yang dialaminya, dimulai sebelum dia datang di kota Kim-tan, lebih dulu dia bertemu dengan Pang Bun-hiong di pedusunan itu, kedua orang lantas bersepakat akan bertanding di bukit luar kota, di sana dirinya bertemu dengan Si Hin yang sekarat dan memberi pesan serta memberi kotak hitam kepadanya. Kemudian sepanjang perjalanan selalu muncul orang mencegatnya dan hendak merampas kotak hitam. Di Sian-li-bio berhasil ditolongnya Ni Beng-ai, tapi pada hari berikutnya nona itu dibawa lari oleh In-tiong-yan Pokyang Thian, karena ingin menyelamatkan Ni Beng-ai, terpaksa ia menyerahkan kotak hitam itu kepada Pokyang Thian. Akhirnya ketika pulang ke Kim leng bersama Pang Bun-hiong, di luar dugaan diketahuinya Ni Beng-ai ternyata sana dengan Giok-nio adanya, begitulah semua itu diceritakannya dengan jelas.

Habis mendengarkan kisah itu, tanpa terasa terunjuk rasa heran pada wajah To Posit, ia tanya, “Jika demikian, jadi Oh Beng-ai berbuat begitu hanya karena dipaksa oleh Pokyang Thian dan bukannya sengaja berkomplot untuk menipumu?”

It-hiong mengangguk, “Ya, tampaknya memang begitu, jika dia berkomplot dengan Pokyang Thian, tentu pada waktu Pokyang Thian datang ke Boan-wan-jun tidak nanti dia mau mengirim kabar kepadaku untuk datang menangkapnya, akan tetapi dia benar-benar mengirim berita kepadaku. Dari sini dapat diketahui dia memang tidak berkomplot dengan Pokyang Thian.”

“Bila benar begitu, kenapa Pokyang Thian tidak mau berkomplot saja dengan perempuan lain, tapi pilihannya jatuh padanya?” ujar Tui-beng-poan-koan.

“Ini disebabkan Pokyang Thian adalah saudara angkat mendiang Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam,” tutur It-hiong. “Ia tahu Oh Kiam-lam mempunyai adik perempuan yang terjerumus di rumah pelacuran, ia anggap dapat memikat diriku dengan kecantikan orang perempuan, maka dia memaksanya memancing diriku. Ini cuma kejadian secara kebetulan saja, tidak mungkin Pokyang Thian mengetahui aku hendak mencari Giok-nio.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: