Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Perguruan Sejati (14)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:19 pm

Perguruan Sejati (14)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Apakah Lo Cianpwee menganggap kepandaian kami terlalu rendah dan bisa merepotkan Lo Cianpwee?” tanya Pek Kiam Hong.

“Bukan begitu, karena yang datang itu disamping berkepandaian tinggi, jumlahnyapun banyak sekali! Aku sendiripun bisa menghadapi mereka dengan nekad, hidup atau mati terserah kepada Tuhan! Sedangkan kalian bagaimanapun tak boleh mencampuri urusanku ini!”

“Bolehkah kutahu musuh-musuh dari golongan mana?” tanya Siau Bwee.

“Yang sudah kuketahui saja sudah tiga golongan, yakni dari Pok Thian Pang, Hek pek siang koay dan lou san siang cat ( dua manusia cacat dari gunung Lou san). Disamping itu masih banyak lagi yang lain dan belum kuketahui dai golongan apa!”

“Dimana letaknya lembah itu? Dan kapan pedang itu menjelma kedunia?” tanya Siau Bwee.

“Letaknya tak seberapa jauh , yakni dilembah gunung Huay giok san,” kata Liok Jie Hui. “Sedangkan saatnya pedang itu menjelma sudah dekat juga, lebih kurang lima enam hari lagi, atau selambat-lambatnya sepuluh hari lagi.”

“Jika Lo Cianpwee tak mau mengajak juga, kami bisa pergi sendiri,” kata Siau Bwee. “Toako mari kita berangkat sekarang juga.” Pek Kiam Hong tak ayal lagi segera bangkit dari tempat duduknya.

Melihat keadaan ini hati Liok Jie Hui menjadi geli, karena siasatnya berhasil baik. Tapi wajahnya seperti kaget dan cemas, buru-buru mencegah. “Kalian jangan berlaku gegabah, aku mencegah kalian dengan maksud baik…”

“Hm,” Siau Bwee tersenyum dingin. “Kami sebagai anggota dari Thian liong bun bagaimanapun mempunyai kewajiban untuk mencegah agar pedang wasiat itu tidak jatuh ditangan orang jahat.”

Liok Jie Hui yang licin dengan perkataannya yang lemah lembut, berhasil membuat kedua muda mudi itu duduk kembali dikursinya: “Jika kalian memaksa juga, apa boleh buat, ikutlaah denganku, sebab pedang yang bakalan diperoleh itu untuk diserahkan pada In Siau hiap yang menjadi Ciang bun jin kaum Thian liong bun!”

“Bilamana kita berangkat?” tanya Siau Bwee tak sabaran.

“Sebenarnya lebih cepat lebih baik,” kata Liok Jie Hui. Ia terpekur sejenak seperti berpikir keras. “Tapi aku masih mempunyai sesuatu urusan yang perlu diselesaikan dulu. Kalian duduk-duduk dulu disini, aku hanya sebentar.”

“Silahkan,” kata Siau Bwee, “kami akan menunggu disini!”

“Ah, pikiranmu bagaimana sih? Liok Jie Hui adalah jago kang ouw yang lihay, bilamana rahasianya dipecahkan itu akan gusar dan kita bisa dibunuhnya, mengerti?”

“Takut apa, lawan saja!”

“Ketakutan kita ditambah selipat lagipun tak bisa menang!”

“Jika begitu mumpung ia belum datang kita pergi buru….’

‘Jika kita pergi sama dengan melepaskan begitu saja pedang wasiat itu bukan?”

“Sebenarnya apa sih yang engkau akan perbuat?” tanya Pek Kiam Hong.

“Aku mempunyai siasat baik menghapinya, tolol!” bisik Siau Bwee.

“Duduklah yang tenang, tak lama lagi dia akan kembali.”

Benar saja dari arah tangga terdengar derapan langkah-langkah berjalan. Disusul dengan munculnnya Liok Jie Hui dan seorang laki-laki yang membawa bungkusan besar dipunggungnya. Orang yang membawa bungkusan bukan lain dari sipedagang barang pecah belah yang bernama Oey Toa Gu.

“Wah mungkin kalian kesal menantikan aku bukan?” kata Liok Jie Hui.

“Lo Cianpwee pergi begitu lama dan kembali membawa orang kasar ini untuk apa?” tanya Siau Bwee.

“Usiaku sudah begini lanjut tapi belum mempunyai seorang muridpun untuk dijadikan pewaris pelajaranku,” kata Liok Jie Hui. “Kulihat anak ini berbakat besar, bila dididik akan menjadi orang berguna dikemudian hari, maka kuterima menjadi murid.”

Siau Bwee melirik kepada Toa Gu sambil mengerutkan kening, sedangkan yang disebut belakangan nyengir-nyengir dan berkata “Siau Kounio , apakah engkau akan turut juga keatas gunung, mempelajari ilmu menggebuk orang?”

“Toa Gu jangan ngaco belo! Sungguhpun usia mereka masih muda-muda tapi adalah kawan-kawanku, engkau harus menganggap mereka ini sebagai paman atau bibi, mengerti? Nah lekaslah haturkan maaf atas kecerobohanmu tadi!”

Toa Gu menjadi melongo dan segera membantah. “Soal perkelahian dengannya, bukan salahku dia yang mulai….”

“Aku sebagai suhumu, apa yang kukatakan tak boleh kau bantah, lekas haturkan maaf!” bentak Liok Jie Hui.

Sebenarnya Toa Gu tak ikhlas melakukan hal yang berlawanan dengan hatinya, tapi dalam tekanan gurunya, apa boleh buat dia maju kehadapan Siau Bwee dan Pek Kiam Hong “Hitung-hitung aku sedang sial dan terimalah permintaan maafku ini!”

Melihat Toa Gu ini, Siau Bwee merasa geli rasa dongkolnyapun menjadi hilang, dengan tersenyum ia membalas hormat. Sedangkan Pek Kiam Hong masih merasa gondok, ia diam terus tanpa meladeni Toa Gu.

“Kalian sudah makan, mari kita berangkat!” kata Liok Jie Hui.

Siau Bwee segera bangkit, dan terus menendang Pek Kiam Hong yang masih cemberut. “Ah mengapa menjumblek terus, mau ditinggal?”

Dengan ogah-ogahan Pek Kiam Hong bangkit dan terus mengikuti dari belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Didekat kuda Siau Bwee dan Kiam Hong tampak dua ekor kuda lain. “Ini adalah kuda yang baru kubeli,” kata Liok Jie Hui. “Tadi kupergi lama, disamping membeli kuda, juga membereskan soal ibunnya Toa Gu. Kini tidak ada yang menjadi beban pikirannya lagi, ia bisa mengikutinya dengan tenang.”

Dengan berkuda mereka menuju ke Hoay Giok san. Disepanjang jalan Kiam Hong membungkam seribu bahasa, demikian pula dengan Toa Gu jika tidak ditanya tidak mau berkata hanya Siau Bwee sepanjang jalan mengobrol dengan Liok Jie Hui tanpa henti-hentinya.

Lambat laun Hoay Giok san sudah semakin dekat, sepanjang jalan yang menuju kesana, didepan atau belakang mereka, adalah orang Bulim yang mempunyai maksud serupa dengan mereka. Anehnya orang-orang itu selalu berjalan berdua, tidak terlihat yang berjalan seorang diri.

Sekarang Siau Bwee baru percaya bahwa cerita Liok Jie Hui tentang pedang wasiat itu, tidak bohong. Dan ia tahu orang yang berjalan berdua itu, pasti sudah mempelajari ilmu Keng thian cit su dan datang ke Hoay Giok san untuk mendapatkan pedang wasiat. Ia merasa girang disamping rasa tegang. Didekatinya Pek Kiam Hong yang berjalan dibelakangnya. “Perhatikanlah keadaan dijalanan ini, banyak orang-orang yang menuju ke Hoay Giok san, tentu untuk memperolah pedang wasiat itu. Dan kita harus waspada jangan sampai diperalat oelh Liok Jie Hui!”

“Jika soal pedang itu benar, apa gunanya ia memperalat kita?” tanya Kiam Hong.

“Dalam soal silat ia tak butuh bantuan,” kata Siau Bwee. “Tapi jika tak memerlukan bantuan pasti ia tidak akan mengajak kita maupun si Toa Gu yang tolol itu!”

“Ia mengandung maksud apa?” tanya Pek Kiam Hong.

“Kesatu dengan tenaganya sendiri ia tidak sanggup menghadapi musuh, kedua tempat pedang itu pasti berbahaya, dan akan menyuruh kita atau Toa Gu yang mengambilnya, sedangkan dia sendiri uncang-uncang kaki, menunggu hasilnya.”

“Bukankah pedang itu berada disuatu danau?”

“Benar!” jawab Siau Bwee, “tempat-tempat barang pusaka kebanyakan dijaga binatang-binatang buas, karena inilah ia mengajak kita!”

“Habis harus bagaimana menghadapinya?”

“Sebelum persoalan menjadi jelas, sukar untuk menentukan suatu cara untuk menghadapinya. Pokoknya dalam segala hal engkau harus menurut dibawah komandoku, jika ia menyuruhmu melakukan sesuatu hal, engkau harus melihat kepadaku jika aku mengangguk engkau boleh melakukannya, jika aku diam janganlah kau lakukan!”

“Ya, aku sih menuruti saja, dan andaikata terjadi sesuatu kerugian bagi kita, engkau jangan menyesalkan diriku!”

Diwaktu senja mereka telah tiba di sebuah perkampungan kecil yang berada dikaki gunung Hoay Giok san. Disini hanya terdapat sebuah losmen kecil yang sederhana betul. Mereka mampir disitu. Sehabis makan, Liok Jie Hui memanggil pelayan. “Apakah engkau tahu ada berapa warung nasi dikampung ini?”

“Lebih kurang ada lima buah warung!”

“Adakah mereka menjual makanan kering?”

“Ada juga, tapi tidak sebagus seperti yang terdapat dikota besar!”

“Itu tidak menjadi soal, aku ingin membeli agak banyak, yakni untuk dimakan seratus orang dan bisa bertahan sepuluh hari!” kata Liok Jie Hui dan terus mengeluarkan uang. Juga tidak lupa ia memberikan persenan kepada pelayan itu dan pelayan itupun girang dan bertanya: “Bilamana makanan itu dibutuhkan?”

“Jika bisa, sebelum kentongan ketiga malam ini terdengar, makanan itu sudah kau siapi!”

Tidak ayal lagi pelayan itu melakukan apa yang dikehendaki Liok Jie Hui saat itu juga.

Liok Jie Hui dengan tersenyum memandang kepada tiga yang lain. “Sebelum kentongan keempat berbunyi kita harus lanjutkan perjalanan, kini sebaiknya tidurlah, mumpung ada waktu!”

“Untuk apa membeli makanan kering sebanyak itu?” tanya Siau Bwee.

“Hmmm, dengan begini, kawan-kawan yang setujuan dengan kita akan kehabisan makanan bukan?”

Siau Bwee baru mengerti bahwa Liok Jie Hui benar seorang licik yang banyak akalnya. Mereka segera tidur. Dan bangun sewaktu pelayan itu kembali bersama-sama tukang makanan. Begitu banyak dan masih hangat tampaknya. Tak salahlah agaknya para pedagang itu mengerjakan makanan-makanan itu dengan mengebut sekuat-kuatnya.

Setelah merapikan pakaian, mereka keluar . Liok Jie Hui memilih makanan yang baik-baik dimasukkan kedalam keranjang besar, Toa Gu ditugaskan membawanya. Sedangkan sidanya yang berpikul-pikul disuruh pelayan itu membawanya keluar kota. Disana terdapat sebuah danau yang besar, makanan itu dibuang kedalam air setelah dan pembantu-pembantunya berlalu.

Liok Jie Hui mengepalai rombongan menuju kedaerah pegunungan, ia mengambil jalan kecil yang berliku-liku. Setelah menempuh perjalanan sehari lebih, mereka tiba disebuah lembah, keadaan didalam lembah sangat luas, sedangkan mulutnya sangat sempit, merupakan tempat yang baik untuk bertahan jika menghadapi musuh yang lebih besar jumlahnya. Ditengah-tengah lembah itu terdapat sebuah danau airnya hijau membiru, tidak terlihat dasarnya. Ditengah danau itu terlihat user-user air yang kempot.

“Apa namanya danau ini?” tanya Siau Bwee setelah memperhatikan agak lama.

“Tempat ini jarang dikunjungi orang, sehingga tidak ada yang mengetahui apa namanya danau ini,” kata Liok Jie Hui. “Tapi didalam danau ini terdapat dua bilah pedang pusaka, maka itu kita namai saja Danau pedang!”

“Lo Cianpwee kenapa engkau mengetahui didalam danau ini terdapat dua pedang?” tanya Siau Bwee.

“Bila malam hari dari dalam danau itu memancar dua sinar yang berbeda, dari sinilah dapat diduga bahwa pedang itu ada dua bilah.”

“Seumurku belum pernah melihat sinar pedang, semacam itu,” kata Siau Bwee. “Apakah karena kelewat lama pedang itu berada didalam air, menjelma menjadi siluman dan mengeluarkan cahaya?”

“Soal itu aku tidak tahu, tapi engkau bisa melihatnya sinar pedang ini dimalam hari!”

“Apakah pedang itupun turut keatas permukaan air?”

“Oh tidak!”

“Aku heran kenapa ia bisa bercahaya?”

“Setiap benda-benda pusaka, biarpun dipendam dalam tanah ataupun didalam air, bila tiba saatnya akan menjelma, ia akan memancarkan sinar! Misalnya batu cincin yang mempunyai kasiatnya, bilamana akan menjelma ia akan memancarkan sinarnya. Hanya orang-orang yang berjodoh dengannya baru bisa mendapatkannya, bilamana tidak, biar digadangi setiap malam, benda itu tidak bisa diperoleh. Nah ini satu keajaiban, bilamana kurang percaya buktikanlah malam ini!”

“Lo Cianpwee bisa mendapatkan dan tahu tempatnya pedang ini, tentu sangat berjodoh,” kata Siau Bwee.

Liok Jie Hui bergelak-gelak kegirangan mendapatkan umpakan itu.

“Ya mungkin juga karena pembawaanku yang jujur dan bersih sehingga bisa mengetahui tempat pedang ini.” Katanya dengan bangga. “Sedangkan Hek pek siang yau dan kaum Pok Thian Pang yang durhaka itu, sampai kini belum mengetahui dimana tempat pedang itu berada.”

“Tak tahu malu!” maki Siau Bwee didalam hatinya. Walaupun hatinya mendongkol, wajahnya tetap tersenyum. “Lo Cianpwee sebaiknya jangan buang kesempatan, sekarang saja ambil pedang itu, mumpung musuh-musuh itu belum pada datang.”

“Mengambil benda pusaka tidak boleh sembarangan.” Kata Liok Jie Hui. “Apalagi sekarang masih siang, cahaya tidak terlihat, sukar menemuinya!”

“Apakah Lo Cianpwee merasa takut?”

“Bukan takut, tapi berhati-hati!”

“Suhu!” seru Toa Gu dengan tiba-tiba. “bolehkah aku makan dulu, sudah lapar benar!”

Lio Jie Hui memandang sambil tersenyum. “Ya, sebaiknya kita makan dulu, agar semangat kita bertambah.”

Empat orang duduk ditepi danau, Toa Gu membuka rantang, mengambil makanan kering dan menyapoknya tanpa mengunyah lagi. Makanan itu kering dan peret, sukar masuk kedalam kerongkongan, membuatnya kelolotan! Mendelik ketelak makanan itu, membuatnya gugup, dan cepat-cepat lari kepinggir danau dan minum.

Liok Jie Hui cepat-cepat mencegah, “Air ini kelihatannya kurang bersih, entah bisa diminum atau tidak, sebaiknya engkau keluar lembah, disana ada selokan air, minumlah disana, sekalian ambilkan barang seember!”

Toa Gu mengangguk dan lari keluar lembah sambil membawa ember.

Liok Jie Hui menantikan Toa Gu sudah jauh baru berpaling kepada Siau Bwee dan Kiam Hong. “Atas bantuan kalian untuk mengambil pedang ini, kuucapkan banyak terima kasih. Yang datang untuk mengambil pedang kesini, nyatanya banyak sekali, kita harus berlaku terlebih waspada lagi.”

Pek Kiam Hong tidak mau bicara, ia asyik makan kueh kering.

“Sudahkah Lo Cianpwee melakukan persiapan untuk menghadapi mereka?” tanya Siau Bwee.

“Kita berjumlah empat orang,” kata Liok Jie Hui, “aku harus membawa Toa Gu ke danau ini mengambil pedang, dan kuminta kalian menjaga mulut lembah, merintangi setiap orang yang mau masuk kesini.”

“Kepandaian kami tidak seberapa, mungkin tak dapat menahan orang-orang itu,” sela Siau Bwee.

“Dalam hal ini Kounio tak usah kuatir, aku sudah berpikir bahwa letaknya mulut lembah kesini tidak seberapa jauh, jika kalian menghadapi kesukaran boleh memberi tanda bahaya aku bisa datang membantu,” kata Liok Jie Hui.

“Musuh-musuh itu bisa datang setiap saat bukan?” kata Siau Bwee.

“Jika musuh datang sebelum kami mengambil pedang, kalian bisa berseru minta bantuan, aku segera datang membantu, jika saatnya aku mengambil pedang dan musuh datang, tahanlah mereka sejenak, begitu selesai mengambil pedang aku bisa datang menghalau mereka!”

“Jika saat ini mereka sudah datang?”

“Disiang hari sinar pedang tidak memancar keluar, mereka tidak dapat mencari tempat ini begitu cepat!” kata Liok Jie Hui. “Untuk melewati waktu kita boleh bersembunyi ditempat gelap, biar mereka sampai kesini, jika tidak melihat kita akan pergi lagi bukan?”

“Kulihat air ini menyeramkan sekali, ditambah Toa Gu tolol sekali, bisakah pedang itu diambil dengan tenaga berdua?” tanya Siau Bwee.

“Biarpun air ini menyeramkan kami masih sanggup mengatasinya, asal saja kalian bisa melakukan tugas dengan baik dimulut lembah.”

“Kedatangan kami kesini justru untuk membantu Lo Cianpwee menghadapi musuh-musuh itu, sudah tentu akan menjalankan tugas sebisa mungkin, tapi….” Ia tidak meneruskan kata-katanya dan merandek dengan mendadak.

“Tapi…tapi kenapa, katakanlah!”

“Kumohon Lo Cianpwee melulusi satu permohonanku!”

“Asal yang kubisa, pasti kululusi, katakanlah!”

“Sebenarnya bukan apa yang kami minta,” kata Siau Bwee. “Aku hanya ingin melihat bagaimana rupanya sinar pedang itu, dan bagaimana caranya Lo Cianpwee mengambilnya.”

“Ini…habis siapa yang menjaga mulut lembah?”

“Ada kokoku yang menjaga,” jawab Siau Bwee. “Jaraknya toh dekat sekali, jika ada bahaya aku bisa lari membantunya, jika tak ada apa-apa aku diam disini, bagaimana?”

Liok Jie Hui tidak setuju Siau Bwee berada ditepi danau, maka ia berkata: “Sebaiknya Kounio menjaga mulut lembah itu jika tidak ada musuh yang datang, aku bisa memberi tahu saatnya pengambilan pedang itu, dan engkau boleh datang melihatnya.”

“Benar-benar nih? Harap Lo Cianpwee jangan lupa ya .”

“Pasti tidak lupa!”

“Biar bagaimana aku harus melihat dengan mata sendiri, peristiwa yang jarang terjadi ini, ” kata Siau Bwee. “Aku berdoa agar musuh-musuh yang mau mengambil pedang ini pergi jauh-jauh…”

Belum pula ia menyelesaikan perkataannya, matanya melihat Toa Gu dengan menenteng ember yang terisi air, sedang berlari dengan tergesa-gesa.

Tampaknya sitolol masih belum menelan makanan kering yang menyumbat kerongkongannya itu, begitu sampai lengannya memeta, nunjuk-nunjuk keluar lembah, dan berkata dengan terbata-bata: “Suhu…lekas…lekas lihat.”

“Lihat apa? Bicara yang benar!” bentak Liok Jie Hui.

Toa Gu menghirup air dan menelan makanan dikerongkongannya, lalu berkata dengan cepat: “Diluar ada dua anak kecil berkelahi dengan seorang Tojin tua, anak kecil itu berhasil membunuh Tojin itu.”

“Jauhkah dari sini?” tanya Liok Jie Hui.

“Tuh diluar lembah itu,” kata Toa Gu, “kedua anak kecil itu setelah membunuh berlari kearah sini.”

Liok Jie Hui menjadi kaget, dan mengulap-ulapkan tangannya dan berkata: “Lekas bersembunyi, yang datang pasti Hek pek siang kuay.”

Keempat orang dengan cepat bersembunyi kedalam pepohonan yang rimbun. Tak selang lama dari mulut lembah berkelebatan dua sosok bayangan dengan cepat.

Hanya sekejap dua orang itu telah berada ditepian danau, sedikitpun tak salah apa yang diucapkan Liok Jie Hui, bahwa anak kecil itu benar-benar Hek pek siang kuay adanya.

Tiat Siau Bwee maupun Pek Kiam Hong pertama kali melihat suami istri yang serupa bocah-bocah cilik itu, menjadi heran sendiri, bilamana tak diterangkan lebih dulu, ia takkan percaya bahwa Hek pek siang kuay yang terkenal keganasannya didunia persilatan berbentuk tak ubahnya seperti bocah belasan tahun.

Siang kuay berhenti ditengah danau, mata mereka jelilatan kesekeliling lembah. Na Beng Sie menganggukkan kepala sambil berkata. “Pantasan kedua bedebah itu meronda disini, kiranya lembah ini sangat menarik perhatian.”

“Coba terangkan padaku, dimana letak yang menarik perhatian?” kata Lauw Siu Kim.

Dengan ujung jarinya, Na Beng Sie menunjuk kearah lembah sambil memberi komentar: “Lihatlah lembah ini bermulut kecil, sedangkan perutnya sangat lebar, dalam ilmu berperang, lembah ini menguntungkan yang bertahan dan menyulitkan si penyerang.”

“Hm,” selak Lauw Siu Kim, “aku menginginkan kau menyebut dimana tempat pedang itu, dan tidak menanyakan soal ilmu perang!”

“Jangan bergegas memutus pembicaraanku,” kata Na Beng Sie, “dengarkanlah nanti engkau bisa menarik kesimpulan sendiri, dimana tempat pedang itu berada! Lembah ini bersangkutan sekali dengan tempat pedang itu, pikirlah pedang wasiat itu kenapa bisa berada ditempat sesunyi ini, tak perlu kujelaskan lagi, tentu ada orang yang membawa dan menyembunyikan disini…”

“Aku juga tahu pedang itu disembunyikan orang, tapi dimana disembunyikan? Lekas katakana.” Lagi-lagi Siu Kim memotong pembicaraan suaminya.

“Apa yang kukatakan belum selesai, dengarkan terus, engkau akan tahu sendiri dan tahu dimana letaknya tempat pedang itu!”

“Katakanlah yang penting dahulu, jangan mengoceh kebarat ketimur seperti dalang saja,” bentak Lauw Siu Kim, “ketahuilah berbagai golongan telah berada disekitar gunung ini bilamana engkau melalaikan waktu dengan cuma-cuma, kemungkinan besar pedang itu sudah berada ditangan orang lain bukan?”

“Dalam hal ini engkau tak perlu kuatir, kata Na Beng Sie dengan tenang. “Barang siapa berani berlaku gegabah, dua bedebah tadi adalah contoh yang baik!”

“Jangan tekebur, diatas yang kuat masih ada yang kuat, lebih-lebih tenaga kita hanya berdua, mana mungkin menundukkan seluruh jago persilatan?”

“Bilamana pedang itu berada ditangan kita, dengan sendirinya kitalah yang menjadi jago nomor satu dikolong langit ini bukan?”

“Benar! Lekaslah ambil pedang itu!” ejek Lauw Siu Kim.

“Baiklah kuteruskan kata-kataku tadi,” kata Na Beng Sie, karena tempat ini sangat aneh maka menarik perhatianku dan timbul dugaan bahwa pedang itu berada dilembah ini.”

“Dimana?” tanya Lauw Siu Kim dengan bernapsu.

“Aku hanya menduga, benar tidaknya harus dilakukan pengecekan yang cermat!”

“Hm, kalau begitu engkaupun tidak tahu bukan?”

“Biar tidak tahu, aku bisa menduga, sedikitnya ramalan ayau dugaan itu, mendekat pada kebenaran…”

“Jika begitu lekaslah kita memeriksa dan meneliti lembah ini!” kata Lauw Siu Kim yang lantas bergerak terlebih dulu.

“Sabar!” seru Na Beng Sie.

“Ada apa lagi?”

“Disiang hari mana bisa kita mencari pedang wasiat itu?” kata Na Beng Sie. “Kita harus menanti sampai malam hari, pedang wasiat itu pasti memancarkan sinar yang berkilauan, dan memudahkan kita mencarinya.”

“Maksudmu kita nongkrong terus disini sampai gelap gulita?”

“Dalam hal ini kita harus mengutamakan kesabaran,” kata Na Beng Sie. “Kini kita jadikan tempat ini yang diutamakan, lalu kita mencari lagi beberapa tempat yang lain yang cukup menarik perhatian, sesudah malam baru kita lakukan pemeriksaan.”

“Jika kita pergi, nanti ada yang datang kesini bagaimana?”

“Kita bisa memberikan tanda peringatan diluar lembah, melarang mereka masuk! Itu sih sama saja memberi tahu pada orang lain bahwa disinilah tempatnya pedang wasiat berada!” kata Lauw Siu Kim. Kupikir lebih baik aku menjaga disini sampai malam dan engkau pergi menyelidiki tempat lain seorang diri.”

“Bagaimana kalau musuh datang waktu kita berpisah? Tenaga kita jadi terpencar, pasti celaka bukan?”

“Habis bagaimana?”

“Sebaiknya kita memeriksa berdua, tapi tak perlu jauh-jauh. Begitu kita melihat sinar pedang buru-buru kita kembali!”

Lauw Siu Kim terpekur agak lama, seolah-olah sedang berpikir, tapi tak ada jalan yang lebih baik dari itu, ia menganggukkan kepala dan terus mengajak suaminya berlalu untuk memeriksa tempat lain.

Setelah Siang kuay pergi jauh, Liok Jie Hui baru menarik napas dalam-dalam. “Jika menurut cara Lauw Siu Kim, menongkrongi terus danau itu bisa berabe tak keruan!”

“Kulihat sepasang suami istri itu mungil dan lucu, berpotongan seperti bocah-bocah kecil. Yang perempuan galak dan yang lelaki sabar, pasangan berat sebelah!” kata Siau Bwee.

“Kenapa berat sebelah?” tanya Toa Gu.

“Tentu berat sebelah, karena laki-laki itu takut bini!” kata Siau Bwee.

“Engkau jangan memandang lucu kesua suami istri itu, mereka terkenal sangat buas dan kejam, tidak sedikit jago-jago bulim terbunuh di tangannya!”

“Bagaimana kalau dibandingkan dengan kepandaian siang kuay dengan Lo Cianpwee?” tanya Siau Bwee.

“Satu lawan satu aku menang seurat, jika mereka bergabung aku kalah seurat!” jawab Liok Jie Hui.

“Kalau begitu aku dan kokoku mana bisa menahan mereka, jika sebentar malam mereka kembali lagi?”

“Jangan kuatir, sekarang masih ada waktu,” kata Liok Jie Hui, “kita boleh menganyam tikar yang besat untuk menutupi danau itu agar sinar pedang tidak memancar keluar!”

“Cara ini mana bisa dilakukan, sebab danau itu sangat lebar!” kata Siau Bwee.

Mereka bicara sedangkan sebarisan orang telah memasuki lembah ini dengan mendadak. Untung mereka berada ditempat persembunyian dan tidak terlihat orang ini, semakin lama oranag-orang ini semakin dekat dan dapat dilihat dengan tegas. Mereka jadi kaget, lebih-lebih lagi Pek Kiam Hong, karena barisan ini dipelopori seorang perempuan cantik berbaju hitam yang bukan lain dari Soat Kouw adanya, dikiri kanannya mengikuti tiga perempuan berbaju kuning, yang bukan lain dari pada Jung jung dan kawan-kawannya.

Liok Jie Huipun tak kurang kagetnya, karena dibelakang perempuan itu, ada Thian lam siang kui dan Thay Cin Tojin. Dibelakang jago-jago kenamaan ini terdapat seorang Tauto (kaum Hipies jaman bahela) dan dua pengawal.

Tauto ini adalah ketua cabang Pek Thian pang didaerah Hoau yang, ia bernama Hoat ceng dan bergelar Houw bin Heng cia (Hwesio bermuka macan), tenaganya sangat kuat, karena itu ia memakai senjata yang berupa garu dan beratnya seratus kati. Sebenarnya Hoat ceng adalah Hwesio dari Ngo Tay San, dikarenakan sifatnya yang berangasan, sehingga sering membunuh orang, dan diusir dari sana. Ia keluar dari kuil itu, mengembara di dunia Kang Ouw sambil memelihara rambut menjadi Tauto dan akhirnya mengabdi pada Pok Thian pang, karena kepandaiannya sangat tinggi, dalam waktu pendek ia telah menjadi ketua cabang, dan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada Tan Toa Tiau yang hanya menjadi ketua ranting.

Dalam waktu singkat rombongan ini telah sampai dipinggir danau, Soat Kouw yang menjadi ketua rombongan, celingukan keempat penjuru, lalu berkata: “lembah ini sangat sunyi dan tersembunyi lebih-lebih danau ini, suatu tempat yang cocok untuk menyembunyikan pedang pusaka, kulihat pedang yang kita cari depalan puluh persen berada didanau ini.”

“Keadaan tempat ini memang sangat cocok tapi tak salahnya kalau kita mencari tempat lain,” kata Tok Kay Pong dengan tersenyum.

“Benar!” kata Soat Kouw. “Akupun merasa heran, kenapa dilembah ini tidak terlihat barang seorang, padahal yang datang ke Hoay Giok san ini banyak sekali, buktinya kita bisa melihat dua mayat diluar lembah, menandakan bahwa mereka telah saling bunuh untuk memperebutkan pedang pusaka.”

“Mungkin mereka mula-mula menganggap lembah ini tempatnya pedang itu, kemudian baru tahu bahwa tempat ini adalah kosong!” kata Tok Kay Pong.

“Menurut Fuhoat sendiri, bagaimana keadaan lembah ini?” tanya Soat Kouw.

“Aku tak berani mengatakan ini itu, yang perlu kita harus menjelajah tempat lain juga.”

Soat Kouw tersenyum, “engkau cukup bijaksana.” Dan dilihatnya Thay Cin Tojin, “Bagaimana pandangan Totiang?”

“Benda-benda pusaka biasanya suka memancarkan sinar dimalam hari, maka itu jika engkau menaruh curiga pada lembah ini, tak salahnya menaruh beberapa pengawal disini, dan menantikan malam, jika benar pedang itu ada disini pengawal itu bisa melihat cahayanya dan memberikan laporan pada kita.”

“Baiklah!” kata Soat Kouw. Dan terus memberi isyarat pada Houw bin Hong cia agar kedua pengawawlnya menjaga lembah ini.

“Kalian diamlah disini, jika ada yang masuk kesini bunuh saja,” kata Houw bin Heng cia, “jika musuh kita boleh lepaskan panah api sebagai isyarat minta bantuan.”

“Siap!” seru kedua pengawal itu.

Soat Kouw segera memimpin lagi anak buahnya memeriksa ketempat lain.

“Lo Cianpwee, bagaimana sekarang?” tanya Siau Bwee.

“Dua pengawal itu tidak ada artinya, nantikanlah malam tiba, masih belum terlambat membereskan mereka!” jawab Liok Jie Hui.

“Nampaknya jago-jago dari berbagai aliran berkumpul di Hoay Giok san, andaikan kita berhasil memperoleh pedang itu, belum tentu bisa lolos dari tangan mereka,” kata Siau Bwee mengutarakan kekuatirannya.

“Ha ha ha,” Liok Jie Hui tergelak-gelak, “Pokoknya bilamana pedang itu berada ditanganku, siapa yang bisa melawan lagi?”

“Tapi Toa Gu hanya memiliki tenaga kerbau, tidak memiliki ginkang, andaikata menemui musuh kuat…”

“Semua ini sudah dalam perhitunganku, engkau tak usah merasa cemas,” jawab Liok Jie Hui dengan tersenyum sinis.

Senyuman aneh itu mendatangkan perasaan tak enak bagi Siau Bwee, ia menjadi diam tak berkata-kata lagi.

Sejak itu tak terlihat lagi rombongan lain datang kelembah itu, suasana menjadi sunyi sekali. Sedangkan Liok Jie Hui duduk bersila memelihara semangatnya untuk sebentar malam.

Pek Kiam Hong tampak beringsang betul, gagang pedangnya dipegang erat-erat, matanya sebentar-sebentar melirik pada Siau Bwee. Hal ini membuat sigadis menjadi risau, karena iapun sedang memeras otaknya untuk mencari jalan keluar. Hanya Toa Gu seorang yang tidak memperdulikan keadaan, ia masih mengunyah dengan asyiknya makanan yang dibawa.

Siau Bwee merasaa kasihan pada sitolol itu karena ia sadar bahwa Liok Jie Hui mengandung maksud tak baik kepadanya. Toa Gu sendiri karena menganggap Liok Jie Hui sebagai gurunya, sedikitpun tak merasa kuatir atau curiga, kalau dirinya dalam bahaya.

Biarpun Siau Bwee sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi tak mempunyai daya untuk mengatasinya. Karena bukan saja Liok Jie Hui yang harus dihadapi, masih banyak lagi jago-jago lainnya, bilamana terjadi perkelahian, bisakah ia bersama Pek Kiam Hong meninggalkan lembah itu dengan selamat? Semua ini merupakan tanda tanya yang tidak ada jawabannya.

Keadaan semakin sunyi, kepusingan Siau Bwee semakin bertambah, saat inilah Toa Gu yang sedang asyik makan, tergesa-gesa bangun dari tempat duduknya, sambil menekan perutnya ia berlari kecil pada Liok Jie Hui. “Perutku mules daningin buang air.”

“Kenapa mendadak menjadi sakit?” tanya Liok Jie Hui dengan mendelik.

“Mungkin minum air mentah itu.”

“Kini masih siang, engkau tak bisa kedanau itu membuang hajat karena dijaga pengawal dari Pok Thian Pang, kupikir tahan saja segala rasa sakit itu!”

“Apakah suhu menghendaki aku berak dicelana?”

“Ada-ada saja,” keluh Liok Jie Hui. “Kalau begini rencana itu harus dipercepat. ” Dipanggilnya Siau Bwee dan Kiam Hong, lalu dibisikinya. “Beresilah pengawal yang menjaga mulut lembah secepatnya, jangan sampai ia melepaskan tanda bahaya bagi kawan-kawannya.”

“Baik,” kata Siau Bwee dan terus mengajak Kiam Hong. “Mari kita berangkat.”

“Bilamana pengawal itu sudah diberesi, kuminta kalian menjaga mulut lembah itu,” kata Liok Jie Hui.

“Baik,” jawab Siau Bwee, “tapi waktu mengambil pedang itu, Lo Cianpwee jangan lupa memanggilku!”

“Tentu kuingat!” jawab Liok Jie Hui.

Baru saja Siau Bwee dan Kiam Hong berlalu Toa Gu sudah lari kebawah pohon membuka celana untuk membuang hajat.

Pek Kiam Hong sedari tadi membungkam terus begitu berada berduaan saja dengan Siau Bwee segera ia berkata dengan perlahan. “Kenapa engkau mau saja diperbudak menjaga mulut lembah, sedangkan dia sendiri enak-enakan mengambil pedang itu?”

“Ya!” jawab Siau Bwee.

“Engkau sudah gila?” Hek pek siang yauw, Thian Lam Samkui, Thay Cin Tojin dan bibiku, orang macam mereka mana bisa kita tahu.”

“Ya, karena jago-jago terlalu banyak, sementara waktu kita harus bekerja sama dengan Liok Jie Hui, jika tidak demikian pedang itu mana bisa kita peroleh.”

“Dengan cara apa pedang itu bisa didapat?”

“Dengan tipu muslihat!”

“Aku tak mengerti….”

“Jika tak mengerti jangan banyak tanya! Dalam suasana rumit semacam ini kita harus bergerak melihat keadaan, sebaiknya engkau menurut kata-kata, pasti tidak salah!”

“Begitupun baik, tapi engkau harus berpikir harus bagaimana aku nanti menghadapi kaum Pok Thian Pang!”

“Soal kecil, waktu turun tangan, kita bisa bertopeng bukan? Tambahan yang dititik beratkan adalah pedang, bukan berkelahi!”

Dan bertanya jawab sambil berjalan, tanpa terasa mereka telah tiba di mulut lembah. Dengan menyelinap dibalik pohon mereka melangkah setapak demi setapak kearah pengawal yang sedang berjaga.

Penjaga itu agaknya kelewat letih, tampak sedang duduk sambil menundukkan kepala, rupanya ia tidur! Maka iti tak heran jika kedatangan Siau Bwee dan Kiam Hong belum diketahuinya.

“Bagaimana? Engkau atau aku yang turun tangan?” bisik Siau Bwee.

“Engkau saja! Tapi jangan mencelakakan jiwanya.” Kata Kiam Hong.

Siau Bwee mengangguk, lalu mencelat dengan cepat dan menerkam pengawal itu. Dan lengannya beruntun memberi totokan yang telak, membuat pengawal itu terjungkal. Kiam Hong segera menghampiri, membantu Siau Bwee menggotong tubuh pengawal itu kebalik semak-semak. “Lekas bersembunyi ada musuh!” seru Siau Bwee separuh berbisik.

Kiam hong membalik tubuh dan memandang keempat penjuru, ia tidak melihat sepotongpun bayangan manusia. “Mana ada musuh?” tegurnya.

“Engkau lihat! Pengawal ini sudah mati! Padahal bukan aku yang membunuhnya.”

Mereka memeriksa tubuh pengawal itu dan mendapatkan ditengah-tengah alisnya sebuah lubang sebesar jarum, tertutup darah membeku.

“Siapa yang menurunkan tangan jahat ini?” tanya Kiam Hong.

“Belum bisa diketahui!” jawab Siau Bwee. “Yang perlu kita harus bertopeng dan kembali secepatnya kedalam lembah.”

Sedangkan Liok Jie Hui yang bertugas menyingkirkan pengawal ditepi danau, begitu keluar dari tempat persembunyiannya , mendengar deheman orang…

Pengawal itupun mendengar juga, segera ia membalik badan, dan dilihatnya Liok Jie Hui ada dibelakangnya. Segera ia menghunus pedangnya dan membentak: “Engkau bernyali besar beranni memasuki tempat larangan kaum Pok Thian Pang, siapa namamu?”

Liok Jie Hui sadar disekitar situ telah berada musuh yang tangguh, maka dengan tak ayal lagi pengawal itu diserang dengan tongkatnya. Dengan berani pengawal itu menangkis dengan pedangnya. Begitu dua senjata bentrok, terdengar suara “trang” yang amat nyaring. Dan pengawal itu pedangnya terlepas dari lengannya, ia sadar menghadapi musuh yang lihay, cepat-cepat mengundurkan diri, mau melepaskan panah api minta bantuan.

Liok Jie Hui mana mau memberikan kesempatan, tubuhnya memburu dengan cepat, sedangkan tongkatnya tiba-tiba berbunyi “krak” dan tiba-tiba menjadi dua bilah pedang yang tajam, begitu sinar pedang berkelebat, langsung menembus tubuh pengawal itu. Liok Jie Hui mencabut pedangnya dan membarengi dengan satu tendangan. Tanpa bersuara lagi pengawal itu telah mati. Tubuhnya mental dan masuk kedalam danau. Terlihat air danau berputar-putar menyedot tubuh itu, dalam sekejap air telah menjadi tenang kembali, sedangkan tubuh pengawal itu sudah tidak terlihat lagi.

Liok Jie Hui biasanya menggunakan tongkat sebagai senjata, kini tongkatnya itu berubah menjadi pedang, dan jurus yang dipakai tadi adalah Tiang hong su jit (pelanngi membidik matahari) salah satu gerak serangan dari Keng thian cit su. Nyatanya ia telah pandai ilmu pedang itu, tak heranlah jika hasratnya memiliki pedang wasiat begitu besar, karena ingin menjadi jago Kang Ouw yang tak terkalahkan.

“Ha ha ha!” tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek.

“Siapa? Lekas keluar! Jangan sembunyi-sembunyi!”

Didahului dengan kesiuran angin terdengar jawaban keras. “Aku Bayangan darah!” Belum pula suaranya hilang dari pendengaran, telah tiba bayangan merah dihadapan Liok Jie Hui. Orang ini tinggi besar, usianya lebih kurang tujuh puluh tahun, wajahnya merah, demikian pula dengan janggutnya, ditambah pakaiannya yang merah juga, sekilas pandang tak ubahnya dengan Toapekong Api. Ia bertangan kosong, tak membawa senjata apapun. Bahkan lengan kirinya masih tergantung dalam kain yang diselendangkan kepundak, menyatakan ia sedang menderita luka, akan tetapi lengan kanannya tak ubahnya kebelakang yang kuat menentang tubuh Toa Gu yang besar.

“Liok Toako masakan sampai aku siorang she Kim ini dilupakan juga?”

“Oh kiranya hiat mo Kim Tay,” kata Liok Jie Hui dengan kaget. “Rupanya engkau masih senang memakai baju penganten yang serba merah ya? Sudah tua tabiatmu masih begitu-begitu.”

“Aku tidak bisa tukar pakaian, tapi engkau sendiripun tak bisa mengubah tabiatmu! Entah dengan tipu apa engkau bisa memperbudak kedua anak muda itu!”

Liok Jie Hui memandang kesekelilling lembah dan tidak melihat Siau Bwee dan Kiam Hong, hatinya menjadi lega. Cepat-cepat ia tersenyum. “Nampaknya kedatangan Kim heng kesini tentu ada yang diinginkan bukan?”

“Sudah tahu ya sudah, buat apa tanya lagi?”

“Sudah lamakah Kim heng kesini?”

“Tidak seberapa lama, tepat seberlalunya orang-orang Pok Thian Pang aku datang kesini, memang kenapa?”

“Bukankah di mulut lembah itu dijaga seorang pengawal dari Pok Thian Pang?”

“Segala keroco begitu apa artinya?” kata Kim Tay. “Aku tidak sepertimu begitu repot memberesi seorang keroco!”

Perkataan ini membuat wajah Liok Jie Hui merah padam, tapi ia licik sedikitpun tak jadi gusar terkena sindiran itu. Malahan ia tahu bahwa orang she Kim itu kini memiliki ilmu yang tinggi dan lebih maju dari dulu-dulunya. Andaikata ia dongkol dan marah, pasti dirinya sendiri yang akan rugi, maka itu segala kedongkolan itu ditelannya dengan paksa, dan terus tersenyum-senyum.

“Waduh kepandaian Kim heng luar biasa sekali majunya, kalau begitu tak ada harapan lagi bagiku untuk memperoleh segala benda pusaka, untuk ini terpaksa aku harus mengundurkan diri.”

“Apakah dengan ikhlas engkau mengundurkan diri begitu saja?”

Liok Jie Hui yang licik segera mengeluarkan wajah yang minta dikasihani, sambil menarik napas panjang, ia mengangkat pundak, “Mau tak mau harus mau toh? Aku hanya sendirian sedangkan orang-orang Pok Thian Pang demikian banyak, demikian juga dengan Hek pek siang kuay pokoknya mereka lebih unggul.”

“Ha ha ha,” Kim Tay tergelak-gelak memotong pembicaraan orang. “Orang she Liok didepan kawan lama tidak usah menyanyikan lagu lama, terus terang saja katakana kita perlu kerja sama dan mendapat pedang itu seorang satu, begitu bukan?”

“Oh tidak! Sejujurnya aku tak ingin memperoleh pedang itu lagi! Jika Kim heng masih menginginkan juga, silahkan aku hanya sebagai penonton saja!”

“Engkau ingin menonton perkelahian antara aku dan mereka? Lalu memancing ikan diair keruh? Ha ha ha! Lagi-lagi ilmu lama, apa tidak ada yang baru?”

“Kim heng jangan berkata begitu, sesungguhnya aku tak bisa menghadapi orang-orang Pok Thian Pang yang begitu banyak.”

“Lalu apa maksudmu datang kesini?”

“Mula pertama aku tak memikir bahwa Pok Thian Pang bisa mengerahkan orang Cap sahkie yang begitu banyak, ditambah Kim heng pun datang.ada harapan apa lagi bagiku?”

“Aku selamanya berlaku jujur, maka itu sudah kutawari untuk bekerja sama engkau tak mau,” kata Kim Tay. “Untuk ini tidak apa, tapi anak buahmu ini tak boleh dibawa.”

“Apa perlunya Kim heng dengannya?”

“Jadi pembantuku, dan menyuruhnya turun kedalam danau mengambil pedang itu!”

“Permintaanmu tak dapat kululusi!”

“Maka itu kerja samalah! Keuntungan fifty-fifty, tak usah pura-pura lagi.” Kata Kim Tay dengan adem.

Liok Jie Hui terpekur sejenak seperti mempertimbangkan ajakan orang yang diajukan berulang-ulang. “Memang bersatu tapi bagaimana dengan luka ditanganmu itu?”

“Hm, luka kecil ini sedikitpun tak membuatku pusing!” jawab Kim Tay dengan mantap, “Pokoknya engkau boleh mengambil pedang itu dan aku yang menghadang musuh. Percayalah dalam seribu jurus tak bisa mereka mengalahkanku.”

“Kalau begitu baiklah!” kata Liok Jie Hui.

“Tunggu dulu, aku masih mempunyai satu syarat.”

“Katakanlah!”

“Untuk mencegah terjadinya persimpangan dari perjanjian semula sebelum anak buahmu ini turun mengambil pedang tubuhnya akan kutusuk dulu dengan Giam lo ciam (jarum elmaut). Setelah pedang itu diserahkan padaku, baru kuberi obat pemunahnya.”

Mendengar ini Liok Jie Hui menjadi girang.

“Justru aku sedang pusing mencari daya untuk melenyapkan saksi ini, tak kira engkau menganggapnya sebagai muridku. Hm, sama dengan engkau mencari penyakit sendiri, dan harus bertanggung jawab pad Hwesio tua sedang aku makan nangkanya engkau kena getahnya.” Pikirnya dengan tenang. Sungguhpun begitu apa yang terasa didalam hatinya sedikitpun tidak kentara diwajahnya. “Jikalau begitu Kim heng seperti tak percaya pada teman, dan untuk apa bekerja sama?”

“Kita toh pertama kali mengadakan kerja sama bukan? Bagaimanapun aku harus bercuriga!”

“Tapi jarum itu beracun muridku berkepandaian tak seberapa tinggi, mana ia tahan?”

“Aku mempunyai semacam pil yang bisa mencegah racun itu, selama satu jam, waktu itu cukup untuknya mengambil pedang.”

“Tapi apa yang dapat kuperbuat, andaikata engkau menghendaki kedua-duanya pedang itu, dengan menggunakan jiwa muridku sebagai sanderan?”

“Pedang pusaka semacam itu, satupun sudah cukup bagiku! Pokoknya aku tak bisa melanggar peraturan, asal engkaupun bisa memegang janji!” Sesudah berkata ia letakkan Toa Gu ditanah dan memasukkannya kedalam dengan jarum yang baru dikeluarkan dari sakunya. Setelah itu memberikan Toa Gu sebuah pil.

Segala kejadian itu terlihat dan terdengar tegas oleh Siau Bwee maupun Kiam Hong yang bersembunyi didalam lembah itu.

“Bedebah! Orang she Liok itu benar-benar orang jahanam! Mulutnya manis hatinya beracun! Ia mengatakan pedang itu diberikan pada In Siau hiap, nyatanya suatu dusta yang keji,” kata Kiam Hong dengan dongkol.

“Siang-siang sudah kukatakan Liok Jie Hui bukan orang baik, engkau tak percaya,” kata Siau Bwee.

“Kita tak boleh berpangku tangan melihat Toa Gu dalam bahaya! Ia kena dijual jahanam itu!”

“Tapi engkau harus berpikir, Kim Tay dan Liok Jie Hui memiliki kepandaian lebih tinggi dari kita, biar bagaimana dongkolpun harus bersabar, dan nantikanlah perubahan yang akan terjadi sampai pedang itu diambil mereka.”

“Setelah mereka memiliki pedang itu, segalanyapun akan menjadi kasep!”

“Persoalan tak semudah yang engkau pikirkan,” kata Siau Bwee. Orang semacam Liok Jie Hui yang begitu licik, bagaimanapun akan berdaya upaya menyingkirkan Kim Tay untuk memperoleh kedua-duanya pedang itu. Disamping itu iapun harus menghadapi orang-orang Pok Thian Pang. Pokoknya diamlah, malam ini pasti ada tontonan ramai!”

Mereka mengawasi lagi kearah danau, tampak Toa Gu sudah dibebaskan dari totokan. Ia marah-marah dan berkata: “Engkau kenapa mengganggu orang yang lagi berak? Dan kenapa menusuk pantatku dengan jarum?”

“Toa Gu engkau tak boleh berlaku kurang ajar. Lo Cianpwee ini adalah kawan suhu, kau harus menghaturkan maaf kepadanya!”

“Kalau ia kawan suhu sepatutnya tak baik menusuk pantatku dengan jarum bukan?”

“Aku menusukmu dengan jarum, karena suhumu akan menugaskan engkau melakukan sesuatu pekerjaan besar. Tusukan jarum itu adalah bantuan padamu, supaya memperoleh sukses dalam tugasmu!”

“Suhu, betulkah yang dikatakan itu? Dan tugas apa yang suhu hendak berikan padaku?”

“Benar! Suhu akan memberikan engkau kesempatan membuat pahala besar, maukah?”

“Mau!” jawab Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

Liok Jie Hui menunjuk ke danau dan berkata: “Aku pernah mengatakan di dalam danau ini terdapat dua bilah pedang pusaka, kini kutugaskan engkau mengambilnya!”

“Oh, kiranya menyuruhku mengambil pedang itu!” kata Toa Gu. “Pedang itu milik suhu atau milik Lo Cianpwee ini?”

Liok Jie Hui jadi melengak hampir-hampir tak bisa menjawab, setelah berpikir ia tersenyum, baru menjawab. “Sudah terang pedang itu bukan milikku maupun milik Kim Lo Cianpwee ini. Pedang itu entah sudah berapa puluh tahun terbenam dalam danau, jika kita yang mengambilnya berarti milik kita.”

Mendengar ini Toa Gu menggelengkan kepala. “Segala pekerjaan dapat kulakukan, tapi kalau disuruh mengambil barang lain orang aku tak mau, sebaliknya suhu saja yang mengambil sendiri!”

“Barang itu tidak ada pemiliknya, tidak bisa disamakan sebagai pencuri!” kata Liok Jie Hui.

Toa Gu tetap menggelengkan kepala. “Pokoknya biar tidak ada pemiliknyapun tidak boleh sembarang ambil. Dulu waktu kukecil pernah memungut sebuah apel dijalanan, dan kena dipukuli ibu, mengatakan bukan barang sendiri tidak boleh sembarangan ambil, tak perduli ada tidak pemiliknya!”

Biarpun Toa Gu seorang awam yang sederhana, apa yang dikatakan semuanya benar, sehingga Liok Jie Hui menjadi merah padam mendapat kuliah ini.

Kim Tay jadi tersenyum melihat Liok Jie Hui yang kemalu-maluan, lalu ia tersenyum. “Muridmu ini seorang jujur yang patut dijadikan tauladan, dan membuatmu merasa malu bukan? Tapi yang penting, jangan sampai kata-kata muridmu ini, mengurungkan niatmu memiliki pedang itu!”

“Itu soalku kan muridku, engkau tak perlu campur bicara!” jawab Liok Jie Hui.

“Engkau boleh berkata begitu, tapi ingat sekitar sini banyak musuh-musuh yang bisa datang setiap saat…”

“Kutahu!” jawab Liok Jie Hui ketus, dan terus ia berkata lagi pada Toa Gu. “Aku kagum atas kekerasan dan kejujuranmu, karena sifatmu inilah kujadikan murid! Engkau mengatakan ingin belajar ilmu memukul orang bukan? Tahukah engkau ilmu memukul orang itu bagaimana?”

“Kuberitahu ilmu memukul orang itu, tak lain tak bukan, adalah ilmu pedang yang luar biasa! Setelah engkau pandai ilmu pedang itu, boleh malang melintang dikolong langit secara bebas! Orang-orang akan takut padamu, saat itu jika engkau bilang hitam orang-orang itu akan mengatakan hitam jika engkau mengatakan putih merekapun akan mengatakan putih, pokoknya segala keinginanmu akan kau peroleh secara mudah.”

“Apa artinya semua itu bagiku?” selak Toa Gu.

“Artinya besar sekali, engkau bisa hidup senang tanpa bekerja keras, dan tak perlu lagi menjual barang pecah belah sepanjang hari. Asal engkau mendehem, orang bisa mengantarkan uang padamu!”

“Soal itu mudah saja, tapi yang membuatku pusing, engkau belum mempunyai senjata untuk memulai pelajaran pedang itu!”

“Oh, kiranya harus memiliki pedang dulu?”

“Sudah terang! Kalau tidak bagaimana engkau bisa menghadapi musuh yang bersenjata?” kata Liok Jie Hui dengan tersenyum, “karena inilah aku menyuruhmu mengambil pedang itu didalam danau!”

“Aku tidak mempunyai musuh yang bersenjata, maka itu tak perlu mempelajari ilmu pedang cukup ilmu memukul orang saja!”

“Betapa ilmu itu tinggi, tanpa senjata sama saja dengan nol besar!”

“Suhu harus tahu aku mempelajari ilmu memukul orang bukan berarti ilmu membunuh orang atau dibunuh orang, sehingga apa jadinya dengan ibuku! Ia sudah tua tidak ada yang merawat lagi bukan? Maka itu aku tak perlu dengan pedang itu!”

Kim Tay tertawa mendengar perkataan itu, sedangkan Liok Jie Hui menjadi pucat, ia menggelengkan kepala sambil menarik napas menghadapi Toa Gu sitolol itu.

“Liok heng aku merasa bangga engkau mempunyai murid yang demikian suci dan baik,” kata Kim Tay “sayangnya ia berguru pada alamat yang salah.”

Liok Jie Hui merasa tersinggung mendengar perkataan itu. “Dalam keadaan begini engkau masih ngeledek saja, apa maumu? Ketahuilah bocah ini bertabiat seperti kerbau, kau kira engkau bisa menundukkannya?”

“Jika tak bisa dengan kata-kata, kekerasan bisa dipakai bukan?” kata Kim Tay, “engkau boleh mengancamnya pasti ia takut dan menurut bukan?”

“Engkau tidak tahu tabiatnya, ia lebih suka mati daripada melakukan apa yang tidak dikehendakinya!”

“Jika begini terus, sampai kapan engkau bisa membujuknya?”

Liok Jie Hui tidak menjawab, ia memeras otaknya sedapat mungkin, tiba-tiba terpikir olehnya suatu cara yang dianggap baik. Maka ia pura-pura lemas dan putus asa, ditepuk-tepuknya pundak Toa Gu , “engkau tak mau mengambil pedang itu akupun tak bisa memaksa, tapi dihari kemudian engkau jangan menyesalkan aku yang menjadi guru.”

“Apa alasannya aku menyesalkan guru?”

“Rupanya engkau belum mengerti betul, apa maksudku mengambil pedang didalam danau itu!”

“Aku sudah mengerti, suhu bermaksud menurunkan ilmu pedang dan menyuruhku membunuh orang!”

“Itu soal kecil yang kurang berarti, yang penting aku menghendaki pedang itu engkau membunuh seorang iblis diatas gunung, dan memakai pedang itu mencukil matanya untuk menolong seseorang.”

“Menolong siapa?”

“Menolong seorang buta!”

“Iblis itu apa? Dan apa gunanya mencukil mata?”

“Iblis itu adalah jejadian yang luar biasa dan tidak mempan dibacok senjata biasa, sedangkan matanya itu bisa dijadikan obat yang luar biasa. Orang buta asal ditetesi cairan mata iblis itu akan melekat kembali. Sebab ibumu telah hilang penglihatannya, aku baru mau menjadikan kau murid, dengan tujuan mengambil pedang didanau ini. Dengan senjata pusaka ini engkau boleh membunuh iblis itu, dan mencukil matanya untuk mengobati ibumu yang telah buta, sebagai anak engkau harus berbakti dan membuat senang yang menjadi orang tua.”

“Oh kiranya suhu bermaksud mengobati mata ibuku?”

“Siapa bilang bukan? Tadinya tidak akan kuberi tahu dulu kepadamu, biar engkau girang belakangan, tapi kuterangkan juga sekarang karena engkau tak mau mengambil pedang itu! Nah sekarang telah kujelaskan engkau boleh tidak mengambil pedang itu, tapi jangan menyesalkan aku tak bisa mengobati mata ibumu.”

Mendengar ini Toa Gu tergugah hati kecilnya, air matanya memenuhi kelopak matanya. Dengan suara parau ia menjawab: “Suhu dimana iblis itu berada? Aku akan mengadu jiwa dan mengambil matanya!”

“Tanpa pedang pusaka usahamu akan sia-sia melawan iblis itu!”

“Aku mau mengambil pedang itu, tapi bagaimana kalau ketahuan ibuku, pasti akan dicaci maki…”

“Engkau mengambil pedang untuk menolongnya, mana mungkin ia marah? Lagi pula setelah beres membunuh iblis itu, pedang ini bisa kita taruh lagi didalam danau, hitung-hitung pinjam pakai!”

“Kenapa sedari tadi tidak suhu katakana pinjam pakai? Nah sekarang aku mau mengambilnya, tapi setelah beres membunuh iblis itu harus mengembalikan lagi kesini!”

“Oh sudah tentu harus begitu, masakan sebagai guru mau membohongi murid.”

“Baiklah! Apakah sekarang juga mengambilnya?”

Melihat sediaan Toa Gu mengambil pedang Kim Tay menjadi girang. “Liok heng engkau benar-benar pintar, hayo lekas, tunggu apa lagi!”

Toa Gu sedang membuka baju mendengar ini, segera berhenti dan berkata dengan serius: “Engkau jangan bergirang dulu, pedang itu hanya dipinjam bukan dimiliki!”

Liok Jie Hui memberi isyarat pada Kim Tay sambil berkata pada Toa Gu. “Oh sudah pasti harus mengembalikan lagi kesini. Barang siapa berani membohong tidak akan kuberi ampun!” Setelah itu ia mengikat ujung rotan pada sebuah pohon, ujung satunya lagi diikatkan pada tubuh Toa Gu. Lalu memberikan pula sebilah belati pada sitolol itu sambil memesannya dengan berbisik: “Sebelum engkau turun ke air sebaiknya minum arak, dan pergunakanlah belati ini jika menemui makhluk-mahkluk jahat didalam air. Belati ini sudah direndam dalam racun, asal saja yang terkena ujungnya, biar sedikit akan segera mati!”

Toa Gu hanya memakai celana dalam saja dan siap turun kedalam danau. “Rotan ini bisa putus apa tidak?”

“Jangan kuatir biarpun kecil rotan ini sangat kuat, lagi pula ada suhu yang menjagai, asal ada sesuatu yang kurang beres engkau boleh menarik-nariknya sebagai kode aku segera menarik keluar dari air itu.”

“Pedang itu ada dimana, sulit apa tidak mencarinya?”

“Gampang sekali mencarinya, asal engkau sampai didasar danau ini dan meilhat cahaya yang terang-terang, artinya pedang itu berada disitu, dan engkau boleh mengambilnya.”

Toa Gu tidak berkata-kata lagi, ia minum arak beberapa tegukan, lalu menerjunkan diri ke dalam danau.

Putaran air danau itu bukan main kerasnya, dalam sekejap saja, Toa Gu tersedot kedalamnya, dan rotan yang berada diluar dengan cepat terulur masuk beberapa depa panjangnya.

Liok Jie Hui dan kim Tay dengan tak berkedip-kedip memperhatikan permukaan air danau, demikian pula dengan Pek Kiam Hong maupun Siau Bwee, mereka berdoa untuk keselamatan Toa Gu.

Dalam sekejap rotan diluar terlihat bergerak kesana kemari, permukaan danau menjadi merah oleh darah, tapi hanya sebentar saja, karena darah itu sudah hilang kedalam dasar lagi. Sedangkan rotan itu ditarik-tarik dari dalam. Liok Jie Hui cepat-cepat menarik rotan mengangkat Toa Gu. Tampak dilengannya dan pundaknya bekas gigitan binatang, napasnya sudah senen kemis. “Ada apa dan bagaimana?” tanya Liok Jie Hui.

“Danau unu dalam betul sampai ditengah-tengah, aku dihadang seekor ular air yang besar. Aku digigitnya beberapa kali, untung aku memiliki ilmu kebal, kalau tidak sudah mati konyol!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: