Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:54 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 09: Kematian Yang Begitu Aneh
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Kereta itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk menampung 4 orang penumpang. Kuda-kuda yang menarik kereta itu sangat terlatih, walaupun kereta sedang berjalan di atas jalan berlumpur, kedudukannya tetap sangat stabil. Ma Siu-cin dan Ciok Siu-hun duduk di satu jok, sedangkan Sun Siu-jing dan Yap Siu-cu duduk di hadapan mereka.

Kereta itu telah menempuh perjalanan yang panjang, Ciok Siu-hun tiba-tiba melihat semua orang sedang menatapnya. Ia pura-pura tidak tahu, tapi akhirnya tak tahan untuk tidak mencibirkan bibirnya dan menantang semua orang.

“Mengapa kalian semua menatapku? Apakah sekuntum bunga tiba-tiba tumbuh di wajahku?”

“Bahkan jika sekuntum bunga tumbuh di wajahmu,” Sun Siu-jing tertawa dan menjawab, “tentu bunga itu telah dipetik orang.”

Matanya besar dan bibirnya tipis, jelas dia adalah seorang gadis yang tak pernah menahan diri bila mengejek seseorang.

Ia tidak membiarkan Ciok Siu-hun menjawab sebelum melanjutkan.
“Hal yang aneh adalah, gadis ini selalu mengatakan bahwa bunga apa pun tidak sebaik sayur-sayuran, jadi kenapa tiba-tiba dia mengatakan bunga ini dan bunga itu setiap kali buka mulut?”

Herannya, Ciok Siu-hun tidak memerah wajahnya, malah ia menjawab dengan santai: “Tidak ada yang aneh, itu karena nama keluarganya Hoa, bunga, tentu saja aku akan mengatakan bunga ini dan bunga itu.”

“Dia?” Sun Siu-jing tertawa kecil. “Siapa dia?”

“Marganya Hoa, Hoa Ban-lau.”

“Bagaimana kau tahu namanya?”

“Dia yang memberitahuku.”

“Kenapa aku tak mendengarnya?”

“Kami sedang membicarakan urusan kami, kenapa harus membiarkanmu mendengarnya? Di samping itu, mungkin kau sedang memikirkan Liok Siau-hong saat itu.”

“Aku sedang memikirkan Liok Siau-hong?” Sun Siu-jing hampir menjerit. “Siapa bilang aku sedang memikirkan dia?”

“Aku,” Ciok Siu-hun menjawab. “Saat dia sedang duduk di bak mandi itu, kau tak pernah melepaskan pandanganmu darinya. Aku melihatnya, kau tak bisa membantahnya sekarang.”

Sun Siu-jing tertawa dan melepaskan perasaannya di saat yang bersamaan.

“Percayakah kalian betapa gilanya gadis ini? Semua yang keluar dari mulutnya adalah dusta.” Ia mencaci, dengan sebuah senyuman di wajahnya.

“Gadis ini memang agak gila,” Ma Siu-cin menjawab dengan santai. “Tapi matamu memang selalu memandangi Liok Siau-hong.”

“Terima kasih, Toa-suci, karena bersikap adil,” Ciok Siu-hun tertawa, sambil melambai-lambaikan tangannya.

Mata Sun Siu-jing berputar-putar sebelum tiba-tiba dia menarik nafas.

“Dia memang adil, tapi seperti ada rasa masam di dalam ucapannya itu.”

“Masam?” Sekarang Ma Siu-cin yang tampak heran. “Masam apa?”

“Masam seperti cuka.”

“Jadi menurutmu aku sedang minum cuka, aku cemburu padamu?” Sekarang Ma Siu-cin pun mulai berteriak.

{Catatan: dalam istilah Cina, “chi cu”, atau “minum cuka”, sering digunakan untuk menjelaskan perasaan cemburu yang dirasakan oleh seseorang.}

“Aku tidak mengatakannya,” Sun Siu-jing menjawab. “Kau sendiri yang barusan mengatakannya.”

Dia berusaha menahan tawanya dan meneruskan, tanpa membiarkan yang lain sempat membalas. “Semua orang mengatakan bahwa Liok Siau-hong begitu halus dan sopan dan begitu memikat dan begitu ini dan begitu itu. Tapi waktu aku melihatnya hari ini, duduk di bak mandi seperti itu, dia seperti orang tolol atau begitulah, tidak sebanding dengan Sebun Jui-soat.”

“Apa yang kau katakan?” Ciok Siu-hun berteriak dengan terkejut.

“Yang kukatakan adalah bahwa jika aku harus memilih seorang pria, maka aku tentu akan memilih Sebun Jui-soat. Dia seorang laki-laki sejati, lebih baik 10 kali lipat daripada Liok Siau-hong.”

Ciok Siu-hun menarik nafas.

“Dilihat dari sini, tampaknya kaulah yang gila. Bahkan jika seluruh laki-laki di dunia ini mati, aku tak akan memilih mayat hidup yang angkuh dan sombong itu.”

“Kau tidak menyukainya, tapi aku suka. Ini yang disebut ‘kubis dan wortel berkumpul dengan sesamanya’.”

Ma Siu-cin tak mampu menghentikan dirinya untuk tertawa lagi.

“Dari tampang kalian berdua, tampaknya kalian sedang memilah-milah kubis dan wortel.”

“Dan yang kami tinggalkan untukmu adalah si wortel besar, Liok Siau-hong!” Sun Siu-jing berkata, sambil berusaha menahan tawanya.

Ciok Siu-hun mengedip-ngedipkan matanya.

“Jadi Yap-samsuci tidak mendapat apa-apa?”

Wajah Yap Siu-cu sudah merah padam karena marah.

“Maukah kalian lihat diri kalian dulu?” Yap Siu-cu berkata, wajahnya masih merah. “Kalian baru bertemu mereka sekali dan tampaknya kalian telah jadi gila memikirkan mereka, tak mungkin kalian tidak pernah bertemu laki-laki lain dalam hidup kalian sebelumnya, kan?”

“Kita memang tidak pernah bertemu laki-laki seperti mereka sebelumnya,” Sun Siu-jing menarik nafas.

Ia melirik Yap Siu-cu dari sudut matanya dan meneruskan.

“Sejujurnya, tiga orang laki-laki yang kita temui hari ini hebat-hebat semua, bahkan walaupun kau tidak mengakuinya, kau mungkin menyukai mereka bertiga kan?”

“Kau tentu sudah gila.” Yap Siu-cu begitu kesal sehingga wajahnya semakin merah.

“Sun Nomor Dua yang di sana itu memang selalu punya masalah seperti ini, dan itulah sebabnya dia suka mengganggu orang yang polos,” Ciok Siu-hun membantunya.

“Dia? Polos?” Sun Siu-jing mencibirkan bibirnya. “Dia tampak polos di permukaannya saja, tapi dari kita berempat, kujamin dia yang pertama menikah nantinya.”

“Apa? Apa yang membuatmu berkata demikian?” Yap Siu-cu bertanya.

“Karena dia tahu bahwa dia tak akan menjadi orang pertama yang menikah,” Ciok Siu-hun memotong sebelum Sun Siu-jing bisa menjawab. “Jangankan laki-laki beralis empat, bahkan laki-laki dengan keberanian empat kali lipat pun tak akan berani menikahinya.”

“Sepertinya itu benar,” Ma Siu-cin setuju. “Siapa saja yang menikahi seorang perempuan seperti dirinya tentu akan mati akibat tumor otak karena mendengar ucapannya.”

“Mungkin jika dia menemukan orang tuli maka……” Ciok Siu-hun menambahkan, berusaha menahan tawanya, dan gagal.

Sun Siu-jing sekarang sudah bangkit dan berteriak: “Oh, aku faham. Kalian bertiga sedang berkomplot melawanku. Baik, kubiarkan kalian bertiga memiliki tiga laki-laki itu, puas?”

“Membiarkan kami memiliki mereka?” Ciok Siu-hun menjawab. “Apakah ketiga orang itu milikmu atau apa?”

“Gadis ini memang tahu banyak hal,” Ma Siu-cin menarik nafas, “tapi dia tentu tak tahu malu.”

Sun Siu-jing menatap mereka sebelum tiba-tiba dia berteriak sekuat-kuatnya: “Aku lapar!”

Ma Siu-cin memandangnya dengan heran, seolah-olah dia memang sedang memandang orang gila.

Sun Siu-jing tak tahan untuk tidak tertawa sendirian.

“Bila aku kesal, aku jadi lapar. Sekarang aku sedang kesal, aku harus menemukan sebuah tempat untuk makan.”

***
Bila empat orang gadis berkumpul bersama, hampir mustahil bagi mereka untuk tidak membicarakan laki-laki. Persis seperti bila empat orang laki-laki berkumpul, membuat mereka tidak membicarakan perempuan tentu sama saja dengan mustahil.

Tapi Liok Siau-hong dan Hoa Ban-lau tidak sedang membicarakan perempuan. Mereka sedang membicarakan Sebun Jui-soat.

“Aku hanya berharap dia belum menemukan Tokko It-ho.” Liok Siau-hong berkata.

“Menurutmu dia bukan tandingan Tokko It-ho?” Hoa Ban-lau bertanya.

“Ilmu pedangnya memang cepat dan mematikan, tidak sedikit pun mengandung rasa iba, persis seperti orangnya sendiri, dia tak akan pernah menyisakan pilihan untuk lawan-lawannya.”

Hoa Ban-lau mengangguk dengan lambat.

“Jika seseorang tidak menyisakan pilihan untuk lawannya, itu sama saja dengan tidak menyisakan pilihan untuk dirinya sendiri.” Ia pun berkata.

“Itulah sebabnya, sekali pedangnya terhunus, jika tak berhasil melukai musuh, maka dia telah menyerahkan dirinya sendiri kepada kematian!”

“Tapi dia tidak mati.”

“Itu hanya karena dia belum pernah bertemu musuh seperti Tokko It-ho sampai sekarang.”

Liok Siau-hong berhenti sebentar sebelum meneruskan.

“Ilmu pedang Tokko sangat menakutkan, dengan tenaga dalam yang besar, serangan yang membinasakan dan pertahanan yang bahkan lebih menghancurkan lagi, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa pengalaman bertarungnya tidak mungkin bisa ditandingi oleh Sebun Jui-soat. Itulah sebabnya jika Sebun tidak berhasil dalam 30 jurus, tentu dia akan mati oleh pedang Tokko.”

“Dan menurutmu tak ada kesempatan baginya untuk berhasil dalam 30 jurus?”

“Tak seorang pun mampu mencabut nyawa Tokko dalam 30 jurus, hal itu juga berlaku bagi Sebun!” Liok Siau-hong menarik nafas.

Hoa Ban-lau terdiam beberapa lama sebelum menarik nafas juga.

“Kaulah yang meminta dia untuk terlibat dalam masalah ini.”

“Dan itulah sebabnya aku berharap dia belum menemukan Tokko.”

Mereka telah melewati jalan yang tenang dan sepi itu dan berbelok ke sebuah sungai kecil tepat di luar Cu-kong-po-gi-kok.

Di bawah sinar bulan yang terang dan jelas, air berkilauan seperti potongan perak yang bertebaran. Seseorang tampak berdiri di tepi sungai, berpakaian putih seperti salju.

Waktu Liok Siau-hong melihatnya, dia juga melihat Liok Siau-hong.

“Aku belum mati.” Tiba-tiba dia berkata.

Liok Siau-hong tertawa.

“Kau memang tidak mirip orang mati.”

“Yang mati adalah Tokko It-ho.” Sebun Jui-soat menjawab.

Liok Siau-hong berhenti tertawa.

“Kau tak bisa membayangkan kenapa?”

Liok Siau-hong mengakuinya, dia memang tidak bisa.

Tapi sekarang Sebun Jui-soat tertawa kecil, tawa yang sangat aneh dan ganjil. “Aku pun tak bisa membayangkan kenapa.” Ia berkata.

“Oh?”

“Waktu So Siau-eng menampilkan 21 jurusnya, aku sudah melihat 3 lubang kelemahan.”

“Jadi kau kira paling tidak kau punya 3 kesempatan untuk membunuh Tokko It-ho?”

Sebun Jui-soat mengangguk.

“Biasanya aku hanya butuh satu kesempatan, tapi waktu aku bertarung dengannya, aku tak berhasil mendapatkan satu kesempatan pun.”

“Mengapa?”

“Walaupun ilmunya punya kelemahan, setelah aku mulai menggerakkan pedangku, dia tentu segera menutupi lubang itu. Belum pernah aku bertemu dengan orang yang tahu di mana letak kelemahan ilmunya sendiri, tapi dia tahu.”

“Semua ilmu pedang di dunia ini memang punya kelemahan, tapi memang tidak banyak orang yang tahu di mana letak kelemahan ilmu pedang mereka sendiri.” Liok Siau-hong setuju.

“Aku membuat gerakan sebanyak 3 kali, semuanya berhasil ditangkis, maka aku tahu bahwa aku tak akan mampu membunuhnya. Jika kau tak bisa membunuh dengan ilmu pedang yang khusus diciptakan untuk membunuh, maka kaulah yang akan mati.”

“Walaupun kau angkuh, paling tidak kau tahu kelemahanmu sendiri.” Liok Siau-hong menarik nafas. “Itulah sebabnya kau masih hidup!”

“Aku masih hidup karena setelah 30 jurus, jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi kacau.”

“Seorang jagoan seperti dia, jika jurus-jurusnya tiba-tiba menjadi kacau, maka hanya ada 2 sebab.”

Sebun Jui-soat menunggu penjelasannya lebih lanjut.

“Jika hati dan pikirannya sedang kacau, tentu jurus-jurus pedangnya juga kacau.”

“Hati dan pikirannya tidak sedang kacau.”

“Mungkinkah tenaga dalamnya habis?”

Tanpa tenaga, jurus-jurus pedang pun tentu menjadi kacau.

“Dengan tenaga dalam dan kemampuannya, bagaimana mungkin dia telah kehabisan tenaga dalam setelah bergebrak 30 jurus saja?” Liok Siau-hong merenung.

“Sudah kubilang, aku pun tak bisa membayangkannya.”

Liok Siau-hong berfikir dalam kebisuan.

“Mungkinkah sebelum bertarung denganmu, orang lain telah memaksanya untuk menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya? Mungkinkah seseorang telah bertarung dengannya sebelum kamu?”

“Dia tidak mengatakannya, maka aku tak akan tahu,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin. “Seandainya aku tahu, tentu aku tak akan memaksanya bertarung.”

“Bila kau memaksa orang lain bertarung, kapan terakhir kalinya kau memberi kesempatan musuhmu untuk bicara?” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum sedih.

Walaupun tidak ada ekspresi di wajah Sebun Jui-soat, bayang-bayang suram tampak muncul di matanya.

“Dia mengatakan sesuatu yang aneh sebelum dia mati.” Ia berkata pelan-pelan, setelah terdiam beberapa lama.

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang dia……”

Waktu pedang itu ditarik, masih ada darah di badan pedang.

Waktu Tokko It-ho melihat pedang orang lain bernodakan darahnya sendiri, melihat darahnya jatuh setetes demi setetes, tidak ada rasa sakit atau murka atau takut di wajahnya. Sebaliknya, tiba-tiba dia berseru: “Aku faham sekarang, aku faham sekarang…..”

“Dia mengatakan dia faham sekarang!”

“Apa yang dia fahami?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

Bayang-bayang suram di mata Sebun Jui-soat tampak bertambah gelap dan dia pun menarik nafas panjang.

“Mungkin dia faham bahwa hidup ini singkat, seperti embun pagi. Mungkin dia faham bahwa kemasyuran dan kekuasaan yang dia peroleh, pada akhirnya tiada artinya……”

Liok Siau-hong berfikir dalam-dalam.

“Persisnya karena hidup ini singkat, maka kau tak bisa hidup tanpa mendapat apa-apa,” ia berkata lambat-lambat. “Apa yang sebenarnya dia fahami? Atau apa yang tidak dia fahami? Apa sebenarnya yang ingin dia katakan?”

Sebun Jui-soat menatap cakrawala selama beberapa saat sebelum tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang sangat tak terduga.

“Aku lapar.”

“Kau lapar?” Liok Siau-hong memandangnya dengan heran.

“Aku selalu merasa lapar setelah membunuh orang,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin.

______________________________

Kedai arak kecil ini seharusnya sudah tutup sekarang, apalagi letaknya berada di pinggir sebuah hutan buah murbei yang rimbun dan lebat.

Ada beberapa rumah di dalam hutan itu, juga ada beberapa buah rumah di luar hutan, sebagian besar merupakan keluarga-keluarga kecil yang hidup dari memelihara ulat sutera.

Rumah kecil ini letaknya agak dekat ke jalan, maka di depannya mereka membangun sebuah gubuk kecil dengan jendela di keempat sisinya dan menjual arak sederhana dan makanan untuk orang lewat. Waktu Su-siu dari Go-bi-pay menemukan tempat itu, pemiliknya baru saja hendak pergi tidur, tapi bagaimana mungkin orang menolak kedatangan empat orang gadis cantik seperti mereka?

Di dalam kedai arak yang kecil itu hanya ada tiga buah meja, tapi meja-meja itu sangat bersih dan rapi. Makanan-makanan kecil yang tersedia untuk dinikmati bersama arak juga sederhana tapi menyegarkan dan arak yang rasanya ringan adalah jenis yang disukai oleh gadis-gadis itu, maka mereka pun merasa senang berada di tempat itu.

Bila gadis-gadis sedang bersuka cita, mereka selalu makin banyak bicara.

Mereka sedang menggosip ke kiri dan ke kanan, tertawa riang, persis seperti segerombolan ayam betina yang sedang bahagia.

“Orang yang bermarga Hoa itu,” Sun Siu-jing tiba-tiba berkata, “tampaknya dia mempunyai sedikit aksen daerah selatan sungai besar, mungkinkah dia berasal dari keluarga Hoa?”

“Keluarga Hoa yang mana?” Ciok Siu-hun bertanya.

“Keluarga Hoa dari selatan sungai besar itu. Menurut kabar angin, kau bisa berkuda dengan kecepatan penuh selama seharian dan masih tetap berada di atas tanah milik mereka.”

“Aku juga tahu keluarga itu,” Ma Siu-cin memotong. “Tapi kurasa Hoa Ban-lau bukan berasal dari keluarga itu.”

“Kenapa tidak?” Sun Siu-jing bertanya.

“Kudengar keluarga itu hidupnya sangat bermewah-mewahan, dan sangat teliti dengan apa yang mereka minum, makan, dan pakai, bahkan pegawai mereka kelihatan seperti jutawan yang sedang berjalan-jalan keliling kota. Tapi Hoa Ban-lau tampaknya orang yang sangat sederhana. Bukan hanya itu, aku pun belum pernah mendengar salah seorang anggota keluarga itu ada yang buta.”

Ciok Siu-hun segera mendengus.

“Memangnya kenapa kalau buta? Walaupun buta, tapi dia bisa melihat jauh lebih banyak daripada kita berempat disatukan.”

Ma Siu-cin tak tahu kalau dia akan menyahut demikian, maka ia merubah nada bicaranya sedikit dan tersenyum.

“Ilmu kungfunya memang sangat baik, aku pun tidak mengira kalau dia mampu menangkap pedangmu di antara jari-jarinya seperti itu.”

“Itu mungkin karena gadis kecil ini sudah terpikat olehnya.” Sun Siu-jing bergurau.

Ciok Siu-hun meliriknya dengan marah.

“Jika kau ingin merasakannya, kau bisa mencobanya lain kali jika kau mau. Aku bukan membangga-banggakan dirinya, tapi tidak banyak orang di dunia ini yang bisa menandingi jurusnya itu.”

“Bagaimana dengan Sebun Jui-soat? Apakah jurusnya jelek?”

Ciok Siu-hun tidak menjawab, karena dia mau tak mau harus mengakui bahwa jurus Sebun Jui-soat memang menakutkan.

“Kudengar, bukan saja ilmu pedang Sebun Jui-soat tiada bandingnya, keluarganya juga kaya, kemewahan dan kekayaan Ban-bwe-san-ceng tidaklah di bawah keluarga Hoa.” Ma Siu-cin memotong.

Mata Sun Siu-jing bersinar-sinar.

“Aku menyukainya, bukan karena kekayaan atau keluarganya, bahkan jika dia adalah seorang fakir miskin yang tidak punya uang, aku tetap akan menyukainya.”

“Dari kepala hingga ke ujung kaki, aku benar-benar tak bisa melihat ada yang menarik pada dirinya.” Ciok Siu-hun berkata.

“Kenapa harus dapat melihat daya tariknya? Asal aku…..”

Tiba-tiba dia berhenti bicara, wajahnya memerah seperti darah, merah hingga ke telinganya.

Karena pada saat itu juga seorang laki-laki berjalan masuk, berpakaian putih seperti salju, siapa lagi kalau bukan Sebun Jui-soat.

Ciok Siu-hun juga tak bisa mengatakan apa-apa lagi, keempat gadis penggosip itu tiba-tiba berhenti semuanya.

Bukan hanya melihat Sebun Jui-soat, tapi mereka juga melihat Hoa Ban-lau dan Liok Siau-hong.

Dengan sepasang mata yang menusuk seperti pisau belati, Sebun Jui-soat menatap mereka. Tiba-tiba dia berjalan menghampiri mereka.

“Aku bukan hanya membunuh So Siau-eng,” dia berkata dengan dingin, “tapi aku juga telah membunuh Tokko It-ho.”

Rona wajah keempat gadis itu pun berubah, terutama wajah Sun Siu-jing, yang menjadi pucat seperti kertas, tanpa sedikit pun kelihatan darahnya.

Di dalam hati seorang gadis, kebencian sangat mudah digantikan dengan perasaan cinta. Di samping itu, So Siau-eng juga agak terlalu angkuh, maka biarpun seharusnya keempat saudara wanita seperguruannya ini bertarung untuknya, tetapi mereka tidak terlalu menyukai dirinya, sehingga selama ini selalu ogah-ogahan untuk membalaskan dendamnya. Tapi pembunuhan guru mereka tentulah persoalan yang sangat berbeda.

“Apa? Apa yang kau katakan?” Sun Siu-jing terpaksa bertanya lagi.

“Aku membunuh Tokko It-ho.”

Ciok Siu-hun tiba-tiba melompat bangkit dari kursinya dan mulai berteriak.

“Kakakku yang kedua sangat menyukaimu, bagaimana…. bagaimana… bagaimana mungkin kau melakukan sesuatu seperti itu!”

Tak seorang pun menduga kalau dia akan bicara seperti itu, bahkan Sebun Jui-soat pun tampak tercengang.

Wajah Sun Siu-jing berganti-ganti warna dari merah ke hijau dan sebaliknya. Tiba-tiba, sambil mengkertakkan giginya, kedua pedang di dalam lengan bajunya lalu melesat keluar, kilauan pedang tampak berkilat-kilat saat meluncur pesat ke arah dada Sebun Jui-soat.

Tapi Sebun Jui-soat tidak merespon, dia malah mengibaskan lengan bajunya dan tubuhnya pun melesat mundur sejauh 2 atau 3 meter.

“Aku akan membunuhmu!” Sun Siu-jing memekik, matanya sudah merah dipenuhi air mata.

Sambil memutar-mutar pedangnya, rahang dikertakkan, dia pun melesat ke arah Sebun Jui-soat. Gerakan senjatanya berdasarkan pada kecepatan dan perubahan yang tiba-tiba, kilauan pedangnya membutakan mata lawan seperti tetesan air yang berasal dari sebuah percikan besar ketika dia, dalam sekejap mata, sudah menyerang sebanyak 7 kali.

Pedang saudara-saudaranya pun telah dihunus.

“Ini adalah persoalan di antara kami dan Sebun Jui-soat, orang lain lebih baik tidak ikut campur.” Ciok Siu-hun berseru dengan keras.

Ucapannya itu jelas ditujukan pada Hoa Ban-lau. Kenyataannya, Hoa Ban-lau memang tidak bisa ikut campur walaupun dia ingin.

Tapi bagaimana mungkin dia hanya berdiri di sana dan membiarkan empat orang gadis yang tak bersalah ini mati di bawah pedang Sebun Jui-soat?

Tepat pada saat itu, sebuah suara “bang!” yang keras terdengar saat Sebun Jui-soat tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan kiri Sun Siu-jing, lalu memukulkan pedang di tangan kiri gadis itu ke pedang yang berada di tangan kanannya.

Waktu kedua pedang itu berbenturan, gadis itu merasakan pergelangan tangannya menjadi linu sebentar. Sebelum dia sadar, kedua pedangnya tiba-tiba telah berada di tangan Sebun Jui-soat.

“Mundur, atau aku pun akan menghunus pedangku!” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.

Suaranya dingin, tapi matanya tidak, itulah sebabnya Sun Siu-jing masih hidup.

Dia tetaplah manusia, tetap seorang laki-laki, bagaimana mungkin dia tega membunuh seorang gadis cantik yang menyukainya?

Wajah Sun Siu-jing semakin pucat dan matanya bersimbah air mata.

“Sudah kukatakan aku akan membunuhmu. Jika aku tak mampu membunuhmu, maka…. maka aku akan mati di hadapanmu!” Ia berkata, masih mengkertakkan rahangnya.

“Mati itu tidak ada artinya. Jika kau ingin balas dendam, pulanglah dan bawa semua anggota 108 loteng Jing-ih-lau.” Sebun Jui-soat mendengus dengan dingin.

Sun Siu-jing tampak terkejut dan bingung.

“Apa yang kau katakan?” Ia berujar.

“Karena Tokko It-ho adalah ketua Jing-ih-lau, maka…..”

Sun Siu-jing tidak membiarkannya selesai bicara.

“Kau mengatakan guruku adalah anggota Jing-ih-lau? Apa kau gila?” Ia berseru, dengan kemarahan terdengar dalam suaranya dan terlihat di matanya. “Seluruh perjalanan ini kami lakukan karena guru kami menerima informasi bahwa loteng pertama dari Jing-ih-lau berada di …..”

Tiba-tiba, terdengar suara “twang!” dari luar jendela belakang dan selarik sinar hitam pun melesat masuk lewat jendela dan mengenai punggung Sun Siu-jing.

Tubuh Sun Siu-jing langsung tersentak dan roboh ke arah Sebun Jui-soat.

Ciok Siu-hun adalah orang yang terdekat dengan jendela belakang. Sambil berteriak murka, dia berbalik dan melesat ke arah jendela. Tapi saat itu juga selarik sinar hitam kembali melesat dari jendela ke arahnya dengan keganasan dan kecepatan yang tak mampu dihindarkannya.

Dia menjerit, pedang di tangannya terlempar ke udara, tapi tubuhnya roboh.

Sun Siu-jing jatuh ke dalam pelukan Sebun Jui-soat. Tiba-tiba Sebun Jui-soat melingkarkan satu tangannya di pinggang gadis itu dan menghunus pedangnya dengan tangannya yang lain; dengan sebuah kilatan pedang, tubuhnya seperti menjadi satu dengan kilatan pedang dan melesat keluar dari jendela.

Di pihak lain, Liok Siau-hong sudah lebih dulu melompat keluar lewat jendela yang lain. Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu berseru dengan marah dan mengejar keluar juga.

Di tengah malam, angin malam bertiup di kebun kecil di luar jendela, sedikit pun tidak terlihat bayangan manusia di sana.

Di luar hutan murbei, terdengar suara serigala melolong. Kilauan pedang Sebun Jui-soat telah memasuki hutan itu.

Tanpa memperdulikan keselamatan mereka sendiri, Ma Siu-cin dan Yap Siu-cu ikut masuk ke sana.

Keluarga-keluarga yang tinggal di dalam hutan itu sudah pergi tidur, tak terlihat cahaya sedikit pun, bahkan kilauan pedang Sebun Jui-soat pun tidak tampak.

“Ayo!” Ma Siu-cin berkata. “Tak perduli apa pun, kita harus mendapatkan kembali adik Sun!”

Sebelum selesai bicara, mereka berdua pun telah menghilang.

Seekor anjing kuning melolong ke arah sebuah jalan kecil di belakang hutan.

Liok Siau-hong sudah berhenti mengejar, tiba-tiba ia berhenti di bawah sebatang pohon, membungkuk, dan memungut sesuatu…..

Pemilik warung arak itu telah meringkuk di sudut sana, tidak sedikit pun terlihat warna darah di wajahnya.

Hoa Ban-lau membungkuk dan dengan selembut mungkin memondong Ciok Siu-hun dalam pelukannya. Jantung gadis itu masih berdenyut, tapi denyutnya sangat lemah.

Sebuah warna kelabu muncul secara menakutkan di wajahnya yang cantik. Perlahan-lahan matanya terbuka dan menatap Hoa Ban-lau.

“Mengapa…. mengapa kau tidak pergi….?” Ia berkata dengan pelan.

“Aku tidak pergi,” Hoa Ban-lau menjawab dengan lembut. “Aku di sini bersamamu.”

Sebuah ekspresi aneh pun muncul di mata Ciok Siu-hun, seperti terhibur, juga seperti sedih.

“Tak kusangka kau masih mengenaliku.” dia berkata, sambil berusaha mengumpulkan tenaga untuk tersenyum.

“Aku akan selalu mengenalimu.”

Ciok Siu-hun tersenyum lagi, senyuman yang sedih dan sunyi.

“Walaupun aku tidak menjadi bisu, tapi aku akan mati. Orang mati tak bisa bicara, kan?”

“Kau….. kau tidak akan mati, aku yakin itu.”

“Kau tidak perlu menghiburku. Aku tahu, aku terkena jarum beracun.”

“Racun?” Ekspresi wajah Hoa Ban-lau berubah hebat.

“Karena aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku menjadi kaku, mungkin racunnya sedang bereaksi, kenapa kau tidak….. meraba lukaku, rasanya sangat panas.”

Tiba-tiba ia memegang tangan Hoa Ban-lau dan meletakkannya di atas lukanya.

Lukanya itu tepat berada di dadanya, dada yang lembut, halus dan hangat. Ketika dia menekankan tangan Hoa Ban-lau yang sedingin es ke dadanya yang lunak, jantungnya tiba-tiba berdebar semakin kencang.

Jantung Hoa Ban-lau juga berdebaran. Saat itu juga dia mendengar suara Liok Siau-hong dari luar jendela.

“Dia terkena apa?”

“Jarum beracun.”

Hening lagi.

“Kau tetap di sini bersamanya, aku akan mencari seseorang.”

Saat Liok Siau-hong menyelesaikan kalimatnya, suaranya agaknya sudah sangat jauh.

“Kau benar-benar tidak pergi,” Ciok Siu-hun berkata, sambil berusaha bernafas. “Kau benar-benar di sini bersamaku!”

“Tutup matamu, biarkan aku…. menghisap jarum beracun itu keluar.”

Wajah Ciok Siu-hun yang pucat terlihat memerah sedikit dan matanya pun berkilauan dalam gelap.

“Kau benar-benar mau melakukan itu?”

“Asal kau tidak keberatan…..” Hoa Ban-lau menjawab dengan serius.

“Aku tidak keberatan melakukan apa pun, tapi aku tak ingin menutup mataku, karena aku ingin melihat wajahmu.”

Suaranya semakin lemah dan lemah, sampai akhirnya senyuman di wajahnya tiba-tiba membeku dan sinar di matanya tiba-tiba menghilang.

Kematian. Dengan tiba-tiba dan diam-diam dia merenggut gadis itu dari pelukan Hoa Ban-lau.

Tapi matanya seperti masih menatap Hoa Ban-lau, menatapnya selamanya……

Kegelapan. Semua yang ada di depan mata Hoa Ban-lau adalah kegelapan.

Tiba-tiba dia jadi membenci dirinya sendiri karena buta, membenci dirinya sendiri karena tak mampu melihat gadis itu untuk terakhir kalinya.

Dia masih begitu muda, tapi tubuhnya yang muda dan bergairah tiba-tiba menjadi dingin dan kaku.

Dengan perlahan Hoa Ban-lau menggeser tangannya, air mata mulai mengalir dari kelopak matanya.

Ia tidak pergi, juga tidak bergerak. Untuk pertama kalinya ia merasakan betapa keras dan kejamnya kehidupan.

Angin bertiup masuk dari jendela, angin bertiup masuk dari pintu, angin bulan empat yang hangat baginya terasa seperti angin musim dingin.

Tiba-tiba dia menyadari bahwa angin itu membawa gelombang demi gelombang keharuman bunga. Tiba-tiba jendela belakang berbunyi gemeretak. Kepalanya segera diputar dan dia bersiap-siap untuk melompat bangkit.

Tapi sebuah suara yang manis dan hangat terdengar dari luar jendela.

“Jangan takut, ini aku!” suara itu berkata dengan lembut padanya.

Suara ini adalah suara orang yang dia kenal, orang yang selalu dia fikirkan sepanjang waktu.

“Hui-yan?” Ia tak tahan untuk tidak berseru dengan perlahan.

“Ya, ini aku. Tidak kukira kau masih mengenali suaraku.”

Seseorang melayang masuk dengan ringan dari jendela belakang, suaranya mengandung sedikit rasa cemburu dan iri.

“Kukira kau sudah melupakanku sama sekali.” Ia berkata dengan dingin.

Hoa Ban-lau berdiri di sana seperti patung. Setelah beberapa lama, barulah dia tersadar dari keterkejutannya.

“Bagaimana…. bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul di sini?”

“Jadi menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari?”

“Bukan begitu, hanya saja aku tidak mengira,” Hoa Ban-lau menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas. “Kukira kau telah…..”

“Kau kira aku telah mati?”

Hoa Ban-lau tak tahu harus berkata apa.

Siangkoan Hui-yan menarik nafas lagi dengan dingin.

“Jika aku ingin mati, maka aku tentu akan mati seperti dia, dalam pelukanmu.”

Perlahan-lahan ia berjalan menghampiri sampai di hadapan Hoa Ban-lau.

“Aku tadi melihat kalian berdua, aku….. aku merasa tidak enak, kalau bukan karena dia telah mati, aku tentu sudah membunuhnya.”

Hoa Ban-lau terdiam.

“Aku pernah mendengarmu bernyanyi.” Tiba-tiba ia berkata setelah beberapa lama.

“Apakah itu di luar Ban-bwe-san-ceng, di sebuah kuil terpencil?” Ia bertanya dengan suara yang berat.

“Mmm.”

Kali ini Siangkoan Hui-yan yang terdiam.

“Tapi saat kau menemukan tempat itu, aku telah pergi.” Ia berkata dengan perlahan.

“Kenapa kau pergi?”

Suara gadis itu semakin pelan.

“Seharusnya kau tahu bahwa aku tidak ingin pergi.”

“Seseorang memaksamu pergi?”

“Aku juga dipaksa untuk menyanyikan lagu itu. Aku tidak faham waktu itu, tapi kemudian aku sadar bahwa mereka ingin menggiring kalian ke kuil itu.”

“Mereka? Siapa mereka?”

Siangkoan Hui-yan tidak menjawab pertanyaan ini, tapi suaranya tiba-tiba bergetar, seakan-akan dia sedang ketakutan.

“Apakah kau telah jatuh ke tangan mereka?”

“Sebaiknya kau tidak usah tahu terlalu banyak, atau …..” Suara gadis itu semakin bergetar.

“Atau apa?” Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak bertanya.

Siangkoan Hui-yan terdiam lagi beberapa lama.

“Mereka menggiring kalian ke sana untuk memberi peringatan agar tidak ikut campur dalam urusan ini. Mereka ingin memberitahu kalian bahwa aku telah jatuh ke tangan mereka.” Ia tidak membiarkan Hoa Ban-lau memotong ucapannya dan melanjutkan. “Sebabnya mereka ingin aku datang ke sini hari ini adalah juga untuk membujukmu agar tidak ikut campur dalam urusan ini lagi. Kalau tidak… mereka akan memaksaku untuk membunuhmu!”

“Mereka ingin kau membunuhku?” Hoa Ban-lau terkejut.

“Ya, karena mereka tahu bahwa kau tak akan pernah menduga kalau aku akan menyakitimu dan tak akan waspada terhadapku. Tapi mereka tidak menyadari bahwa aku tak akan tega menyakitimu sedikit pun.”

Tiba-tiba ia menghambur maju dan memeluk Hoa Ban-lau erat-erat.

“Sekarang kau mungkin telah tahu siapa mereka,” ia berkata dengan suara bergetar. “Tapi kau tak akan pernah membayangkan betapa menakutkan kekuasaan mereka sebenarnya…..”

Giam Thi-san dan Tokko It-ho telah mati, satu-satunya orang yang mungkin ingin menghentikan mereka adalah Ho Siu.

“Tidak perduli betapa menakutkan kekuasaan mereka, kau tidak perlu takut.” Hoa Ban-lau berkata dengan suara yang berat.

“Tapi aku benar-benar takut, bukan untuk diriku sendiri, tapi untukmu. Jika bukan karena aku, kalian tak akan terseret dalam masalah ini. Jika sesuatu terjadi padamu, bagaimana mungkin aku bisa hidup?”

Ia berpegangan seerat-eratnya pada Hoa Ban-lau, tapi tubuhnya masih gemetar. Nafasnya membawa keharuman yang manis dan lembut.

Hoa Ban-lau membuka lengannya dan ingin memeluknya erat-erat juga.

Tapi di sisinya terbaring jenazah Ciok Siu-hun, seorang gadis muda yang penuh kasih sayang dan cinta, yang baru saja mati dalam pelukannya, bagaimana mungkin ia menggunakan tangan yang sama untuk memeluk gadis lain?

Hatinya penuh dengan perasaan sakit. Ia ingin mengendalikan emosi dan perasaannya, tapi tak mampu.

Ketika pikirannya kembali ingin memeluk si dia, tiba-tiba gadis itu menjauh.

“Sekarang kau mungkin faham apa yang aku katakan.”

“Tidak, aku tidak faham.”

“Tidak perduli kau faham atau tidak, aku….. aku harus pergi sekarang.”

“Pergi?” Hoa Ban-lau terdengar putus asa. “Kenapa kau harus pergi?”

“Aku pun tak ingin pergi, tapi aku harus!” Suaranya penuh dengan perasaan sedih dan khawatir. “Jika kau punya perasaan terhadap diriku, tolong jangan tanya kenapa lagi, atau menarik tanganku, karena hal itu bukan hanya akan menyakiti dirimu sendiri, tapi aku juga!”

“Tapi aku….. aku…..”

“Biarkan aku pergi, asal kutahu kau hidup dan sehat, aku akan bahagia dan puas. Bahkan jika kau mengingkariku…..”

Suaranya makin menjauh dan menjauh, dan tiba-tiba hilang. Kegelapan. Hoa Ban-lau tiba-tiba menemukan dirinya terperangkap dalam kegelapan dan kesunyian yang tiada batas.

Dia tahu ada hal-hal di luar kendali gadis itu yang memaksanya pergi. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah berdiri di situ seperti orang tolol. Dia tak bisa menolongnya, tak mampu membebaskannya dari kesulitannya, dia bahkan tak bisa menghiburnya, persis seperti sebelumnya ketika yang bisa dia lakukan hanyalah membiarkan Ciok Siu-hun mati di dalam pelukannya.

“Laki-laki macam apa aku ini? Apa?” Seperti ada sebuah suara dari samping yang menertawakannya. “Kau bukan apa-apa selain orang buta, orang buta yang tidak berguna!”

Kehidupan seorang buta itu seperti penuh dengan kegelapan, kegelapan yang tiada harapan.

Tinjunya terkepal saat ia berdiri dalam hembusan angin malam di bulan empat. Tiba-tiba ia menyadari bahwa hidup tidak sesempurna yang ia bayangkan. Hidup ini penuh dengan kedukaan dan rasa sakit yang tak dapat dihindarkan.

Ia tak tahu bagaimana caranya melarikan diri dari semua itu.

Bulan empat adalah musim burung walet pulang ke sarangnya, tapi walet kecilnya telah terbang pergi, terbang menghilang seperti tahun-tahun terbaik dalam kehidupan kita, tak pernah kembali. Perlahan-lahan ia berjalan keluar dari warung dan melangkah di atas rerumputan, rerumputan yang telah dibasahi oleh embun.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: