Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Pendekar Baja (10)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:29 am

Pendekar Baja (10)
Oleh Gu Long

Bukan saja mampu meluputkan diri dari dua jurus serangan keji, gerak-gerik lawan ternyata juga aneh dan lincah, mau-tidak-mau si nyonya tampak gugup, bentaknya beringas, “Masih ada sejurus, sambutlah!”

Kembali telapak tangannya didorong perlahan, gayanya mirip jurus pertama tadi.

Si Kucing menjengek, “Tadi sebetulnya sudah cukup tiga jurus, tapi apa alangannya aku mengalah sejurus lagi.”

Beberapa patah kata ini tidak pendek, tapi selesai diucapkannya, pukulan telapak tangan si nyonya baju hijau juga baru mencapai setengah jalan, si Kucing berdiri sekukuh gunung, bola matanya menatap tajam seperti mata harimau, siap menunggu serangan lawan dan segera akan melancarkan serangan balasan mematikan.

Terdengar nyonya berbaju hijau menghardik, “Kena!”

Telapak tangan berhenti bergerak, tapi kaki kanan mendadak melayang, menendang selangkangan.

Jurus serangan yang tak terduga oleh lawan, namun si Kucing masih sempat berkelit meski agak kelabakan.

Mendadak lengan baju si nyonya mengebas, puluhan bintik sinar lembut menyambar keluar dan berkembang melebar, tiga tombak di kanan-kiri si Kucing terjangkau oleh bintik sinar kemilau itu, betapa pun tinggi kungfu si Kucing, kali ini jelas tak mampu menyelamatkan diri dari am-gi atau senjata rahasia yang ganas ini.

Anak buahnya baru saja bersorak girang ketika melihat si Kucing berhasil meluputkan diri dari serangan berbahaya lawan, kini melihat pemimpin mereka terancam bahaya pula, semuanya menjerit kaget dan khawatir.

Pada detik yang menentukan itulah, buli-buli arak di tangan si Kucing mendadak berputar, puluhan bintik sinar kemilau yang berkembang di udara itu laksana rombongan lebah sekaligus meluncur ke dalam sarangnya, seluruhnya tersedot oleh buli-buli itu.

Nyonya baju hijau terperanjat, sebaliknya anak buah si Kucing berkeplok girang.

Si Kucing menegakkan badan sambil bergelak tertawa, katanya, “Senjata rahasia keji, tangan yang ganas, untung berhadapan dengan si Kucing, kakek moyangnya ahli antiberbagai am-gi dari segenap perguruan di dunia ini.”

Gemetar suara si nyonya baju hijau, “Kau … dari mana kau peroleh buli-buli ini?”

Si Kucing tertawa, katanya, “Tidak perlu kau urus, sambutlah sejurus seranganku!”

Di tengah gelak tertawanya, buli-buli mendadak menghantam dengan dahsyatnya.

Cepat si nyonya baju hijau menyurut mundur beberapa langkah dan tidak balas menyerang.

Si Kucing tertawa, “Eh, kenapa berhenti, ayolah serang pula.”

Mendelik benci si nyonya baju hijau, desisnya sambil mengertak gigi, “Tak nyana hari ini aku bertemu dengan kau …. Buli-bulimu itu ….” setelah mengentak kaki ia menambahkan, “Sudahlah.”

Segera dia berputar hendak lari.

“Masa mau pergi begitu saja,” si Kucing mencemooh, sinar kemilau berkelebat, golok pendek tercabut dari pinggangnya, cahaya lembayung mendadak mencegat jalan pergi si nyonya baju hijau.

Merah mata si nyonya baju hijau, mendadak dia angkat Pek Fifi yang dikempitnya terus diangsurkan ke arah golok. Keruan si Kucing terkejut, lekas dia menarik golok dan menangkap tubuh Pek Fifi, dalam sekejap itu si nyonya berbaju hijau sudah melesat pergi beberapa tombak jauhnya, sekali melejit pula, bayangannya lantas lenyap.

*****

Go-losi sedang mengayun langkah menyusuri jalan, mendadak dilihatnya kedua “kambing gemuk” yang banyak uang kertas itu sedang tanya ini-itu kepada seorang lelaki di bawah pohon sana.

Wajah orang yang lebih tua itu tampak kaku dingin, wajahnya aneh dan seram, sepintas pandang bentuknya seperti mayat hidup, siapa pun yang melihatnya pasti mengirik.

Sementara yang lebih muda bersikap ramah santai dan gagah, ujung mulutnya mengulum senyum, berhadapan dengan dia siapa pun akan merasa sejuk seperti melihat bunga mekar di musim semi, ingin rasanya berkenalan dan bersahabat dengan dia.

Tergerak hati Go-losi, pikirnya, “Him-toako sedang mencari mereka, mungkin mereka juga sedang mencari Him-toako, sungguh kebetulan, sayang orang yang ditanya bukan saudara anggota kita.”

Segera dia menghampiri dengan langkah lebar, sapanya dengan tertawa, “Apakah kalian sedang mencari orang?”

Orang yang sedang bertanya pada lelaki di bawah pohon memang betul Kim Bu-bong dan Sim Long, sesaat mereka mengawasi Go-losi, sorot mata Sim Long tampak cerah, katanya dengan tertawa, “Orang yang kami cari, apakah Saudara mengenalnya?”

“Coba kalian jelaskan siapa yang kalian cari?” tanya Go-losi.

Kucing kemala segera dikeluarkan oleh Sim Long dan diangsurkan ke depan Go-losi, katanya dengan tertawa, “Orang yang memiliki mainan kucing ini.”

Go-losi tertawa, segera dia ulur tangan hendak mengambil kucing kemala itu, tapi Sim Long lantas menarik tangannya, Go-losi jadi menyengir katanya, “Kalau kalian mencari orang lain, mungkin Siaute tidak mengenalnya, tapi pemilik kucing kemala ini ….”

“Kau kenal dia? Di mana dia sekarang?” tanya Sim Long.

“Silakan ikut padaku,” kata Go-losi, ia putar tubuh terus melangkah pergi.

*****

Musim dingin siang lebih pendek, malam datang lebih cepat.

Api unggun dalam kuil bobrok itu tampak berkobar, di atas dinding menyala pula lima batang obor, kuil bobrok yang terpencil ini jadi terasa hangat.

Si Kucing sedang duduk di atas sebuah kasur bundar sambil bertopang dagu mengawasi kedua perempuan buruk rupa yang berada di samping api unggun. Terasa olehnya ada sesuatu yang kurang beres pada kedua perempuan ini, walau sejauh ini dia belum menyadari bahwa kedua perempuan buruk ini telah diproses sedemikian rupa oleh tangan seorang ahli hingga bentuk wajahnya berubah sama sekali dari aslinya.

Ilmu rias keluarga Suto memang hebat luar biasa.

Terasa pula oleh si Kucing kedua perempuan ini seperti ingin melimpahkan banyak persoalan yang mengganjal hatinya, tapi tak mampu buka suara, maka sorot matanya saja yang berbicara, sorot mata mereka tampak gelisah, mendesak namun juga malu-malu di samping senang pula.

Tak terpikir oleh Cu Jit-jit bahwa nasib manusia memang serbaaneh, orang yang menolong dan membebaskan dia dari belenggu iblis ternyata adalah pemuda bajingan yang pernah dibencinya, sedangkan Sim Long … ai, entah di mana Sim Long sekarang.

Buli-buli arak yang serbaguna itu ternyata berada dekat lutut si Kucing, di sekitar perut buli-buli yang gendut itu penuh menemplek jarum lembut yang runcing mengilap seperti dilem saja lengket di atasnya, di bawah pancaran cahaya api, jarum-jarum itu tampak berkilau biru.

Pandangan si Kucing beralih ke arah buli-buli araknya, lalu dengan sepotong kayu kecil dia cungkil sebatang jarum serta diperiksanya dengan saksama, mendadak air mukanya berubah kelam.

Pada saat itulah Go-losi menerobos masuk seraya berseru, “Toako, Siaute membawa tamu untukmu.”

“Siapa?” tanya si Kucing dengan berkerut kening. Sembari bicara dia membalik badan, maka dilihatnya Kim Bu-bong dan Sim Long melangkah masuk. Wajah Kim Bu-bong tetap kaku masam, sedang Sim Long tetap tersenyum ramah.

Sim Long angsurkan batu kemala itu dengan kedua tangan, si Kucing menerima dengan kedua tangan pula, sepatah kata pun kedua orang ini tidak berucap, hanya sama tersenyum saja, namun segala perasaan hati masing-masing sudah terjalin dalam senyum persahabatan ini.

Sim Long keluarkan pula batu mainan kalung.

Melihat Sim Long muncul, jantung Cu Jit-jit terasa berhenti berdetak, begitu melihat mainan kalung bundar itu, seketika pipi terasa panas jengah.

Dilihatnya si Kucing ulur tangan hendak menerima mainan kalung itu, tapi Sim Long tidak memberikannya.

Si Kucing tertawa, katanya, “Kalau tidak salah, mainan kalung ini juga milikku bukan?”

Sim Long tersenyum, ucapnya, “Apakah Saudara sudah periksa ukiran dua huruf di atas mainan kalung ini?”

“Sudah tentu sudah, dua huruf ukiran itu berbunyi ‘Sim Long’.”

“Apakah Saudara tahu apa arti kedua huruf ini?”

Berkedip mata si Kucing, katanya, “Sudah tentu tahu, Sim Long adalah nama seorang gadis kenalan baikku, untuk mengenangnya, maka kuukir namanya di atas mainan kalung itu supaya tak terlupakan seumur hidup.”

Sudah tentu Cu Jit-jit merasa geli mendengar percakapan mereka itu dan juga mendongkol, batinnya, “Pemuda ini memang bajingan tengik, untuk mengangkangi mainan kalung, tak segan-segan dia membual, ceritanya seperti benar-benar terjadi.”

Sim Long juga tertawa geli, katanya, “Kalau demikian, aku inilah gadis pacarmu itu.”

Keruan si Kucing melongo, katanya, “Hah, apa … apa artinya ini?”

“Kedua huruf Sim Long itu sebenarnya adalah namaku.”

Sesaat si Kucing berdiri melenggong, mukanya agak merah, tapi kejap lain dia tertawa keras, katanya, “Bagus, bagus, main copet aku kalah, menipu aku pun asor, baiklah, aku mengaku kalah, boleh tidak?”

Terasa oleh Sim Long, meski pemuda ini bajingan tengik, tapi sifatnya yang polos dan jenaka, tutur katanya yang lucu sungguh menyenangkan.

Setelah reda gelak tawa si Kucing, tiba-tiba ia berkerut kening, katanya, “Tapi menurut apa yang kuketahui, mainan kalung ini juga bukan milikmu, mana mungkin mainan kalung ini berukir namamu? Mungkin … mungkinkah nona itu adalah … adalah kau punya ….”

“Betul,” tukas Sim Long cepat, “nona itu memang teman baikku, kedatanganku ini juga untuk mencarinya, mohon Saudara sudi memberitahukan di mana jejaknya.”

Si Kucing tidak segera menjawab, lama dia menatap Sim Long, mulutnya bergumam, “Bahwa nona itu mengukir namamu di atas mainan kalung yang selalu dipakainya, dia pasti amat mencintaimu …. Ah, bagus sekali … ai.”

Mengerling bola mata Sim Long, sebagai pemuda yang berpengalaman, sekali pandang dia tahu pemuda ini pasti juga jatuh hati kepada Cu Jit-jit yang binal itu sehingga sikapnya sekarang kelihatan linglung. Karena itu tambah besar keyakinannya bahwa pemuda ini pasti tahu jejak Cu Jit-jit, maka dia berdehem perlahan, lalu bertanya pula, “Nona itu ….”

Si Kucing tersentak, katanya dengan menyengir, “O, aku sendiri hanya sekali melihat nona itu, mainan kalung ini juga kutemukan pada waktu itu, sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi.”

Setelah menghela napas, lalu ia menyambung, “Bicara terus terang, selama beberapa hari ini aku mondar-mandir sibuk mencari jejaknya pula, tapi agaknya dia menghilang, ada orang bilang dia diculik Toan-hong-cu.”

Sim Long menatapnya lekat-lekat, terasa apa yang diucapkannya memang tidak bohong, sumber penyelidikannya akan jejak Cu Jit-jit jadi terputus pula. Sambil menunduk dia menghela napas.

Tentu saja Jit-jit yang berada di samping api unggun gelisah setengah mati. Ingin rasanya dia berteriak, “Tolol! Kalian semua lelaki tolol, aku berada di sini, memangnya kalian buta semuanya?”

Pek Fifi yang berada di sampingnya malah kelihatan tenang dan adem ayem saja.

Sejak masuk tadi pandangan Kim Bu-bong lantas tertuju ke arah buli-buli arak, diamati sedemikian teliti, sorot matanya terunjuk rasa heran dan kaget, kini mendadak dia bertanya, “Buli-buli arak ini kau peroleh dari mana?”

Senyum misterius menghias mulut si Kucing, ia tidak menjawab, tapi balas bertanya, “Apakah tahu asal usul buli-buli arak ini?”

Kim Bu-bong mendengus, “Kalau tidak tahu buat apa tanya.”

“Kalau tahu asal usulnya, maka sepantasnya tidak perlu kau tanya.”

Kembali Kim Bu-bong mendengus, tapi tidak tanya lebih lanjut.

Mendengar tanya-jawab kedua orang seperti main teka-teki, tertarik juga perhatian Sim Long, sorot matanya pun beralih pada buli-buli itu, hanya beberapa kejap, sorot matanya mendadak mencorong terang.

Kim Bu-bong bertanya pula, “Apakah kau pernah bergebrak dengan seorang nyonya berbaju hijau?”

Si Kucing tetap tidak menjawab, malah balas bertanya, “Kau mengenalnya?”

Kim Bu-bong gusar, serunya, “Sebenarnya aku yang tanya padamu atau kau yang tanya padaku?”

Si Kucing bergelak, katanya, “Memang tidak pantas aku tanya hal ini. Jika kau tidak kenal dia buat apa kau tanya padaku? Benar, aku memang sudah bergebrak dengan dia.”

Ia menatap tajam Kim Bu-bong, katanya pula, “Bukan saja aku sudah bergebrak dengan dia, malah aku pun tahu dia adalah keturunan keluarga Suto. Kedua … kedua gadis di samping api unggun itu berhasil kurebut dari dia, demikian pula am-gi yang lengket pada buli-buli arakku itu adalah am-gi khas keluarga Suto.”

Berubah air muka Kim Bu-bong, dia memburu ke samping api unggun, lalu membungkuk dan memeriksa. Pek Fifi ngeri melihat wajahnya, sebaliknya Cu Jit-jit balas menatapnya dengan tajam.

“Kecuali kepandaian am-gi,” demikian ujar si Kucing, “ilmu rias keluarga Suto juga merajai dunia Kangouw, tapi aku tidak bisa membedakan apakah kedua orang ini pernah dirias atau tidak ….”

Kim Bu-bong menjengek, “Kalau dapat kau bedakan, memangnya ilmu rias macam apa jadinya.”

Tergerak hati Sim Long, katanya mendadak, “Saudara memiliki buli-buli besi sembrani ‘Kian-kun-it-tay-ceng’ yang terbuat dari baja murni Laut Timur, khusus untuk mematahkan serangan berbagai am-gi, tentunya kau pun pernah mempelajari cara memudarkan ilmu rias keluarga Suto, entah sudi kiranya Saudara menunjukkan keahlianmu untuk memulihkan wajah asli kedua nona itu.”

Si Kucing tertawa, katanya, “Ternyata kau pun tahu Kian-kun-it-tay-ceng segala, sayang sekali aku tidak mempunyai keahlian seperti apa yang Saudara harapkan. Umpama betul kedua nona ini berwajah secantik bidadari juga kita takkan punya kesempatan untuk melihat wajah asli mereka.”

Tiba-tiba Go-losi menyeletuk, “Kenapa susah-susah memudarkan rias orang? Akan kuambilkan air untuk mencuci mukanya, kalau tidak bisa hilang, masih bisa dikerik dengan pisau, kan beres.”

Si Kucing tertawa geli, katanya, “Kalau urusan semudah apa yang kau bilang, bukankah ilmu rias keluarga Suto akan mirip make-up para pemain sandiwara di atas panggung. Padahal ilmu rias keluarga Suto tersohor di seluruh jagat, masa kau anggap sepele saja dan bisa dikerik dengan pisau segala, jika kulit muka mereka sampai tergores luka, lalu siapa akan bertanggung jawab?”

Go-losi menyengir dan tidak berani bersuara lagi.

Sebaliknya Cu Jit-jit yang mendengar percakapan mereka menjadi gelisah dan jengkel pula. Ingin rasanya dia menggembor, “Boleh kalian mengerik mukaku dengan pisau, umpama kulit mukaku rusak juga tidak menjadi soal ….”

Kim Bu-bong menatap mata Jit-jit, katanya kemudian, “Bukan saja wajah nona ini sudah dioperasi, malah ia pun dicekoki obat bisu dan lumpuh oleh Suto Pian, kulihat banyak persoalan yang ingin dia katakan, sayang mulutnya tidak bisa bersuara ….”

Mendadak si Kucing lari ke sana dan mendapatkan sebuah baskom pecah, diisi dengan abu, lalu ditaruh di depan Cu Jit-jit, dicarinya pula sepotong kayu dan disisipkan pada tangan Jit-jit.

Seketika mata Cu Jit-jit memancarkan rasa gembira.

Si Kucing berkata, “Tentu kau dengar pembicaraan kami, maka apa yang ingin kau katakan boleh kau tulis di atas abu dengan kayu ini ….”

Tanpa menunggu selesai bicaranya, dengan tangan gemetar Jit-jit siap menulis, ia pikir siksa derita segera akan berakhir, betapa senang dan haru hatinya dapatlah dibayangkan.

Siapa tahu tenaga untuk menulis saja tidak ada, semula dia hendak menulis nama sendiri, ternyata ranting kecil itu hanya mengoret-oret tak keruan di permukaan abu, huruf apa yang ditulis tidak bisa dibaca. Lebih celaka lagi ranting kayu yang dipegang itu akhirnya pun terlepas, keruan hati Jit-jit keki, dongkol, dan gugup setengah mati, ingin rasanya ia tebas kutung saja tangan sendiri.

Dia ingin mencakar wajah sendiri, tapi tidak bertenaga, ingin dia menggigit putus lidah sendiri juga tidak mampu menggigitnya, dia ingin menjadi gila namun bagaimana caranya menjadi gila ia pun tidak tahu. Sampai ingin menangis tergerung-gerung juga tidak mampu, terpaksa dia hanya bisa membiarkan air mata meleleh di pipinya.

Sim Long, Kim Bu-bong, dan si Kucing saling pandang, akhirnya mereka menghela napas panjang, demikian pula anak buah si Kucing yang menyaksikan juga ikut terharu dan gegetun.

Kata si Kucing setelah menghela napas, “Akan kucoba yang satu ini ….”

Pek Fifi juga tidak mampu bersuara, namun badannya tidak lunglai, maklum, dia dianggap gadis lemah yang tidak tahan embusan angin kencang, maka si nyonya baju hijau tidak mencekoki obat bisu dan melumpuhkan badannya.

Begitu si Kucing taruh baskom abu di depannya dia lantas menulis perlahan: “Aku bernama Pek Fifi, gadis sebatang kara yang hidup menderita, entah mengapa nyonya galak dan sadis itu menculikku dan menyiksaku begini rupa.”

Si Kucing manggut-manggut dan berkedip-kedip, tanyanya mendadak, “Apakah sebelum ini kau berparas cantik?”

Sorot mata Pek Fifi mengunjuk rasa malu, ranting kayu digerakkan, tapi tak mampu menulis lagi.

Si Kucing tertawa, katanya, “Kalau demikian, dugaanku pasti tidak salah lagi. Nona yang senasib dengan kau ini, apakah dia juga cantik jelita? Siapa namanya?”

Pek Fifi menulis: “Aku tidak mengenalnya, juga belum pernah melihat wajah aslinya.”

Si Kucing termenung sejenak, katanya, “Kalau begitu, dia tersiksa lebih dulu daripadamu?”

Pek Fifi menulis pula; “Betul, semula aku pun kasihan padanya, tak tahunya aku ….” dia tidak meneruskan tulisannya, tapi orang lain sudah tahu maksudnya. Tampak air matanya berlinang, tak tertahan akhirnya dia menangis juga.

Si Kucing menoleh dan berkata, “Sekarang baru kutahu nyonya jahat itu akan menculik gadis-gadis cantik ini ke suatu tempat yang jauh, khawatir di tengah jalan kurang leluasa, maka mereka dipermak menjadi sejelek ini.”

Sim Long menghela napas sambil mengangguk, batinnya, “Selain cekatan, daya tangkap dan pikiran pemuda ini juga dapat bekerja cepat.”

Si Kucing berkata lebih lanjut, “Asalnya mereka adalah gadis jelita, kita tidak boleh berpeluk tangan melihat nasib mereka yang jelek ini, apa pun kita harus berdaya untuk memulihkan wajah asli mereka.”

Kim Bu-bong diam saja tanpa komentar.

“Apa daya?” ucap Sim Long sambil menghela napas. “Kecuali kita bekuk murid keluarga Suto itu ….”

Sejenak si Kucing berpikir, lalu katanya dengan tertawa, “Di kota Lokyang ada seorang temanku, walau usianya masih muda, tapi bun-bu-siang-coan (serbamahir ilmu sastra dan ilmu silat), juga mahir pengobatan dan berbagai kepandaian yang aneh, kalau kita mencarinya dan minta tolong, mungkin dia bisa membantu.”

Sim Long tertawa, katanya, “Kalau betul ada orang sepandai itu, aku ingin menemuinya, kebetulan aku juga akan menyelesaikan suatu urusan di kota Lokyang, cuma … apakah Saudara ada hubungan baik dengan dia?”

“Orang itu selain pemabukan, juga gemar paras ayu, sifatnya cocok dengan aku, bila kita pergi mencarinya, kuyakin dia pasti banyak mengeluarkan biaya.”

Tidak kepalang sedih hati Cu Jit-jit, ia tidak lagi memerhatikan percakapan mereka lebih lanjut, dia cuma merasakan dirinya diangkut ke atas kereta, dia tidak tahu ke mana dirinya akan dibawa oleh orang-orang ini.

Di dalam kereta ada seorang bocah yang dikenalnya, namun bocah ini tidak mengenalnya lagi, duduknya juga menyingkir jauh ke sana dan tidak mau berdekatan dengan dia.

Dengan sepotong kain si Kucing menutup kabin kereta, kuda penarik kereta dipecut supaya lari lebih kencang menuju ke kota Lokyang. Tengah malam buta kereta kuda ini menempuh perjalanan, setiba di Lokyang hari pun menjelang fajar. Mereka harus menunggu kira-kira satu jam baru pintu kota terbuka. Kim Bu-bong menjalankan keretanya masuk ke kota.

“Masih sepagi ini, apa enak mengganggu orang?” ujar Sim Long.

Si Kucing tertawa, katanya, “Di kota Lokyang ini, aku masih punya teman lain, pintu besar rumahnya sepanjang tahun tidak pernah tertutup, siapa pun dan kapan pun datang ke rumahnya tanggung takkan kelaparan dan kedinginan.”

“Apa betul ada orang sebaik itu?” ujar Sim Long.

Si Kucing berkeplok dan berseru, “Orang ini she Auyang dan bernama Hi, hobi satu-satunya adalah berkenalan dengan orang-orang gagah di seluruh jagat, nanti kalian akan membuktikan sendiri.”

Mendadak Kim Bu-bong menyeletuk, “Banyak juga kawanmu!”

Si Kucing tidak bicara lagi dia rebut cemeti terus sabet kuda dan membedal kereta lebih kencang. Hari masih pagi, jalan raya sangat sepi, maka si Kucing berani melarikan kereta itu sekencang angin.

Mendadak mereka tiba di sebuah persimpangan jalan, suasana di sini ternyata ramai sekali, bau harum bunga semerbak merangsang hidung.

Si Kucing angkat cemetinya seraya berkata, “Inilah pasar bunga yang terkenal di kota Lokyang, banyak penggemar bunga datang dari tempat ribuan li jauhnya, terutama bunga botan (peoni) dari kota Lokyang terkenal di seluruh jagat.”

Sim Long tertawa, katanya, “Sudah lama kudengar pasar bunga di kota Lokyang yang terkenal ini, hari ini kebetulan berada di sini, pantasnya kubeli beberapa kuntum bunga segar, sayang … ada maksudku membeli bunga tapi kepada siapa akan kupersembahkan bunga itu? Biar kutunggu sampai kesempatan lain saja.”

Kedua orang ini bergelak dan saling pandang, sementara Cu Jit-jit yang berada di dalam kereta mendengarkan dengan kesima.

Kalau sekarang dia bisa di samping Sim Long, lalu Sim Long turun membeli bunga serta menyelipkan bunga itu di atas sanggulnya, umpama segera dia disuruh mati juga rela.

Padahal dia juga tahu kereta mereka kini sedang lewat pasar bunga, tidak jauh ke depan akan tiba di sarang iblis, di mana Pui Jian-li, Thi Hoat-ho, dan lain-lain tersekap, meski dalam benaknya banyak rahasia yang ingin dibeberkan kepada orang banyak, namun tidak mampu diutarakannya.

Pada saat itulah mendadak dua kereta harum yang ditarik dua ekor kuda putih datang dari depan, langsung dilarikan ke dalam pasar bunga. Lentera perunggu yang terpasang di depan kereta tampak mengilap, terdengar suara merdu percakapan nona jelita laksana kicau burung, terkadang tampak wajah cantik mengintip di balik tabir.

Kebetulan angin berembus dan menyingkap tabir, tanpa sengaja Cu Jit-jit melirik ke sana, seketika jantungnya berdetak, kereta yang ditarik kuda putih itu bukankah kereta iblis yang hari itu memuat Thi Hoat-ho dan lain-lain masuk ke kota ini.

Terdengar Him Miau-ji atau si Kucing bergelak tertawa dan berseru, “Haha, cantik molek berkereta harum, entah siapa gerangan yang akan tergiur, tampaknya hasratku terpaksa akan hanyut terbawa arus.”

“Ah, janganlah Anda bicara demikian, apakah si cantik takkan marah bila mendengar celotehmu?” ucap Sim Long dengan tertawa.

“Kau tahu, meski indah bunga ini, apa mau dikata tumbuhnya di dinding tepi jalan, asalkan Anda sudi membayar, dapatlah kupetik bunga itu bagimu, memangnya Anda berminat?”

“Wah, kiranya engkau sudah cukup berpengalaman,” ujar Sim Long.

Dan kedua orang lantas saling pandang bergelak tertawa pula.

Cu Jit-jit terkesiap mendengar percakapan mereka.

Apakah mungkin sarang hantu yang banyak mengurung kaum kesatria itu adalah tempat pelesir begituan dari kalangan atas? Dan para gadis penggembala berbaju putih dan berkepandaian tinggi itu adalah perempuan penghibur di tempat pelesir itu?

Sungguh hal ini sukar dipercaya oleh Jit-jit.

Kereta itu akhirnya tiba di depan pintu gedung yang tak pernah tertutup sepanjang tahun, melihat kedatangan si Kucing, sudah tentu Auyang Hi amat girang, segera ia siapkan meja perjamuan menyambut kedatangannya. Tak lupa si Kucing memperkenalkan Sim Long dan Kim Bu-bong, lalu ia sibuk dengan araknya sendiri.

Auyang Hi tertawa, katanya, “Kau kucing binal ini tampaknya semakin liar, sepanjang tahun sukar melihatmu, hari ini kau datang kemari, kecuali ingin makan, memangnya ada persoalan lain?”

Si Kucing tertawa, omelnya, “Memangnya kau kira aku kemari hendak makan gratis melulu? Hehe, daging masam dan arak kecut yang kau hidangkan ini kau kira dapat menarik selera kucing liar macam diriku?”

“Kalau kau pergi ke rumah orang lain, mustahil kau tidak diusir,” Auyang Hi berolok dengan tertawa.

Si Kucing taruh cawan araknya, katanya, “Marilah bicara sesungguhnya, kedatanganku hari ini memang lantaran satu hal, aku ingin bertemu dengan Ong Ling-hoa, apakah belakangan ini dia berada di kota?”

“Beruntung kau, kebetulan dia belum meninggalkan Lokyang,” sahut Auyang Hi. “Bicara tentang dia, aku jadi ingat satu lelucon.”

“Ong Ling-hoa memang banyak bikin lelucon, coba ceritakan apa yang membuatmu geli.”

Auyang Hi bercerita, “Beberapa hari yang lalu waktu Leng-jisiansing jual-beli di sini, mendadak muncul seorang gadis jelita dari keluarga kaya raya. Ong-kongcu kita itu tentu saja menggunakan rayuannya untuk memikat nona itu, tak tahunya ….”

Sampai di sini dia sengaja berhenti.

Si Kucing tidak tahan, tanyanya, “Tak tahunya bagaimana?”

Auyang Hi tertawa, katanya, “Begitu melihat dia, nona itu seperti melihat setan, tanpa menoleh terus lari terbirit-birit. Hal ini mungkin belum pernah terjadi selama hidupnya, Keh-pak-bwe yang beruntung, semula dia sudah jual seorang pelayan kepada nona itu, karena si nona lari, dalam keadaan kacau Keh-pak-bwe membawa lari pula pelayan itu.”

Si Kucing bergelak tertawa, baru dia ingin tanya siapakah nona itu, ternyata Sim Long sudah mendahului bertanya, “Leng-jisiansing tersebut apakah ada hubungan dengan Jin-gi-ceng?”

“Benar,” ujar Auyang Hi dengan menghela napas, “demi mempertahankan berdirinya Jin-gi-ceng, Leng-jisiansing boleh dikatakan telah bekerja mati-matian, memangnya siapa orang Kangouw yang tidak tahu cara berdagang Leng-jisiansing tiada keduanya di dunia ini. Dalam setahun entah berapa banyak keuntungan yang berhasil dikeduknya, namun seluruh keuntungan itu dia serahkan kepada Jin-gi-ceng, awak sendiri hidup sederhana, kapan dia pernah berpakaian perlente dan makan enak, sepanjang tahun dia selalu mengenakan jubah biru, bagi yang tidak mengenalnya pasti menyangka dia seorang siucay rudin.”

Sim Long kagum, katanya dengan hormat, “Siapa nyana Leng bersaudara adalah kesatria gagah yang patut dibuat teladan.”

Belum habis dia bicara, dari luar pekarangan mendadak berkumandang gelak tertawa seorang.

Terdengar suara seorang pemuda berkata, “Auyang-heng, terlalu kacungmu, aku sedang mendengkur, dia bilang ada seekor kucing menerobos ke sini dan minta aku mengusirnya, kau tahu aku mampu menundukkan naga dan membekuk harimau, tapi setiap kali melihat kucing kepalaku lantas pusing.”

Seorang pemuda berpakaian perlente tampak masuk sambil tertawa riang.

Mendadak si Kucing membentak sambil melayang maju dan turun di depan si pemuda, dia jambret baju orang seraya memaki dengan tertawa, “Pembual macam dirimu, kecuali main sambar sini dan comot sana (maksudnya main perempuan) apa pula kemahiranmu, berani mengaku pandai menundukkan naga dan membekuk harimau segala.”

“Wah, celaka,” ujar pemuda itu tertawa, “kucing ini semakin liar.”

Si Kucing bersuara lantang, “Belakangan ini berapa banyak pula cewek yang berhasil kau gaet? Ayo lekas mengaku.”

Pemuda itu masih ingin balas berolok, sekilas dilihatnya Kim Bu-bong dan Sim Long, segera dia menghampirinya dengan langkah lebar, katanya dengan tertawa sambil menjura, “Kedua Saudara ini jelas bukan orang biasa. Auyang-heng, kenapa tidak lekas kau perkenalkan mereka kepadaku.”

Agaknya Auyang Hi kelupaan karena mendengarkan selorohnya dengan si Kucing hingga tidak ingat lagi nama Sim Long dan Kim Bu-bong, terpaksa dia berkata, “Inilah Kim-tayhiap dan Sim-siangkong, Saudara ini adalah Ong Ling-hoa, Ong-kongcu, kalian bertiga seperti naga di antara manusia, selanjutnya silakan bersahabat.”

Kim Bu-bong hanya mendengus, sedang Sim Long balas menghormat dengan tertawa. Maka semua orang lantas menempati kursinya masing-masing, kembali senda gurau terjadi.

Auyang Hi berkata pula, “Ong-heng, kucing liar ini sebetulnya ingin mencarimu tapi tidak mau bilang untuk urusan apa, sekarang boleh kau tanya dia.”

Ong Ling-hoa tertawa, “Bila dicari kucing liar biasanya tidak pernah ada urusan enak, tak heran beberapa hari ini burung gagak selalu berkaok di luar jendelaku, pepatah memang benar, kalau badan lagi apes, menutup pintu duduk dalam rumah, bencana tetap menimpa dari langit.”

Him Miau-ji alias si Kucing tertawa, katanya, “Kali ini kau salah terka. Kedatanganku ini bukan untuk minta uang atau ingin minum arak, tapi kuantar dua gadis jelita kemari supaya kau lihat dan menilainya.”

Diam-diam Sim Long tertawa dan membatin, “Si Kucing ini kelihatan kasar, tapi cara kerjanya ternyata cukup rapi dan memakai otak, lebih dulu ia gelitik hati orang, kemudian baru memancingnya.”

Ong Ling-hoa lagi tertawa, katanya, “Masa ada urusan baik kau mau mencari aku, gorok leher pun aku tidak percaya, kedua cewek jelita itu boleh kau pandang sendiri saja, terima kasih atas kebaikanmu.”

“Dasar manusia rendah,” maki si Kucing dengan tertawa, “masa menilai diriku dengan hati busukmu, kini kedua cewek jelita sudah kubawa kemari, mau-tidak-mau kau harus memeriksanya, cuma ….”

Ia berkedip-kedip dan tidak melanjutkan ucapannya.

“Aku tahu setiap kali matamu melek-merem pasti sedang merangkai akal bulus, agaknya akal bulusmu sudah berhasil memancing hasratku, hendaklah kau lanjutkan uraianmu supaya orang lain tidak gelisah menunggu.”

Sim Long dan Auyang Hi tertawa geli.

Si Kucing lantas berkata, “Cuma untuk melihat kedua cewek menggiurkan ini, kau perlu menggunakan keahlianmu.”

“Dengan keahlian apa baru aku bisa melihatnya?” tanya Ong Ling-hoa.

“Coba jelaskan dulu, kecuali main golok dan memutar tombak, menggosok tinta dan menggerakkan pensil, meniup seruling, bernyanyi, meramal dan menujum serta memberi obat pada orang yang sakit perut, apa pula keahlianmu?”

“Memangnya semua itu belum cukup?” tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Belum cukup, malah ketinggalan jauh,” ujar si Kucing.

Ong Ling-hoa menggeleng kepala, katanya, “Kau ini memang bajingan, sayang aku tidak tahu bagaimana tampang bapakmu, kalau tidak, tentu aku akan menyamar menjadi beliau untuk menghajar adat kepada putra kurang ajar macam dirimu ini.”

“Nah, itulah yang kumaksudkan?” seru si Kucing mendadak sambil menggebrak meja.

“Itu apa?” Ong Ling-hoa dan Auyang Hi sama melengak.

“Bukankah kau pun mahir ilmu rias, betul tidak?” tanya si Kucing. “Hehe, jangan geleng kepala, barusan kau sudah omong sendiri, mau mungkir juga sudah kasip.”

“Memangnya kenapa?” tanya Ong Ling-hoa sambil menyengir.

Si Kucing menjelaskan, “Kedua nona ini telah dipermak sedemikian rupa oleh seorang sehingga wajah aslinya yang jelita menjadi seburuk setan, jika kau mampu mengembalikan wajah asli mereka, aku baru betul-betul menyerah kepadamu.”

“Siapa sih kedua nona itu?” tanya Ong Ling-hoa.

“Wah, aku sendiri kurang jelas,” ucap si Kucing sambil garuk kepala, “aku hanya tahu satu di antaranya she Pek.”

Cahaya mata Ong Ling-hoa seketika guram seperti menghela napas secara diam-diam, gumamnya, “Kiranya she Pek ….” mendadak dia tertawa pula, katanya, “Terus terang, merias aku hanya mahir sekadarnya saja, kalau aku diharuskan mengubah rupa seorang mungkin aku tidak mampu, tapi untuk mencuci samaran seorang aku dapat mencobanya.”

“Itu sudah cukup,” seru si Kucing girang, “lekas ikut padaku.”

*****

Cu Jit-jit dan Pek Fifi sudah dibawa masuk sebuah kamar yang besar, si Kucing menarik Ong Ling-hoa ke kamar itu, Sim Long dan lain-lain ikut dari belakang.

Begitu melihat Ong Ling-hoa, jantung Cu Jit-jit hampir melompat keluar, sungguh mimpi pun tak terbayang olehnya bahwa si Kucing bakal membawa datang iblis laknat yang menakutkan ini.

Setelah terjatuh ke tangan si nyonya berbaju hijau, ia merasa pemuda ini tidak lebih menakutkan daripada si nyonya berbaju hijau.

Namun sekarang ia baru lolos dari cengkeraman iblis, kini mendadak bertemu lagi dengan pemuda bajul ini, berbagai kejadian yang mengerikan dahulu itu seketika terbayang pula olehnya, terpaksa dia menatap tajam ke arah Sim Long, hanya menatap Sim Long baru rasa takutnya sedikit berkurang, sayang Sim Long tidak balas menatapnya.

Terdengar Kucing berkata, “Lekas kau periksa, apakah wajah mereka ini bisa dicuci bersih?”

Ong Ling-hoa lantas mendekatinya dengan saksama ia memeriksa muka mereka.

Jit-jit amat ngeri tapi juga terharu dan senang, karena ia yakin Ong Ling-hoa pasti punya kepandaian untuk memulihkan wajah aslinya. Tapi tak terpikir olehnya bahwa takdir telah mengatur nasib seorang secara ajaib, ternyata pemuda bajul ini yang harus menolong dirinya, diam-diam dia mengertak gigi, batinnya, “Terima kasih kepada Yang Mahakuasa yang telah mengatur secara aneh ini, nanti, bila aku bisa bersuara, segera akan kubongkar rahasianya, coba saja bagaimana reaksinya?”

Khawatir Ong Ling-hoa melihat perasaannya lewat sorot matanya, lekas dia memejamkan mata.

Cukup lama Ong Ling-hoa memeriksa wajah kedua gadis itu dengan teliti, si Kucing dan lain-lain pun menunggu dengan sabar sambil menahan napas.

Akhirnya Ong Ling-hoa menegakkan badan sambil menghela napas, ucapnya, “Hebat sekali, sungguh karya yang bagus ….”

“Bagaimana?” lekas si Kucing tanya. “Dapat kau tolong mereka?”

Ong Ling-hoa tidak segera menjawab, dia malah berkata, “Dinilai dari cara operasi wajahnya ini, kelihatannya mirip kepandaian khas keluarga Suto yang jarang diajarkan ….”

Si Kucing tepuk paha, serunya senang, “Aha, betul, agaknya kau memang boleh … kalau kau tahu asal-usul ilmu riasnya, tentu kau mampu menghapusnya.”

“Aku memang dapat mencobanya, tapi ….” setelah menghela napas, ia menyambung, “orang yang mengoperasi wajah kedua nona ini boleh dikatakan sudah mempraktikkan segala kemampuannya, kedua wajah yang dipermaknya ini sungguh amat bagus, sedikit pun tidak kelihatan cirinya ….”

“Memangnya kenapa kalau begitu?” tanya si Kucing.

“Dalam pandangan kalian wajah mereka tentu amat buruk bagai setan, tapi menurut penilaianku justru kedua wajah ini merupakan hasil karya seni terbesar dan terpuji, serupa lukisan antik yang tak ternilai harganya, sungguh aku tidak tega untuk merusak karya seni yang bagus ini.”

Sesaat si Kucing melenggong bingung, akhirnya dia tertawa dan memaki, “Kentut anjing, kentut melulu!”

Ong Ling-hoa menggeleng kepala dan menghela napas, katanya, “Kau ini orang kasar, mana kau bisa menilai karya seni.”

Si Kucing segera meraihnya, “Karya seni atau kentut anjing aku tidak peduli, aku hanya menuntut supaya kau segera memulihkan wajah asli kedua nona ini, coba katakan, mau tidak?”

“Berhadapan dengan kucing liar macammu ini, sungguh serbarunyam, tapi lepaskan dulu tanganmu.”

Si Kucing tertawa sambil melepaskan pegangannya, katanya, “Masih ada, kedua orang ini terbius hingga lumpuh dan bisu, bahwa kau pun ahli pengobatan, kuyakin kau pun bisa menyembuhkan mereka.”

Ong Ling-hoa berpikir sejenak, katanya, “Wah … baiklah akan kucoba, bahwa aku harus memeras keringat, kalian pun jangan menganggur, bila aku minta bantuan kalian, siapa pun tidak boleh menolak.”

Sembari bicara seperti tidak sengaja ia mengerling Sim Long sekejap.

Sim Long tertawa, katanya, “Bila diperlukan tenagaku, silakan bicara saja.”

Ong Ling-hoa tertawa, “Baiklah, kuterima janji kalian.”

Lalu sorot matanya tertuju Auyang Hi.

Auyang Hi tertawa geli, katanya, “Wah, giliranku yang kau incar, baiklah Ong-toakongcu yang terhormat, apa kehendakmu? Katakan saja.”

“Bagus,” ujar Ong Ling-hoa. “Nah, perhatikan … cuka hitam kualitas terbaik empat gentong, arak lama terbaik empat gentong, garam murni sepuluh kati, kain kaci putih halus empat blok ….”

“Wah, wah, memangnya kau mau jadi dukun beranak atau mau membuka toko kelontong?” seru Auyang Hi.

Ong Ling-hoa tidak pedulikan ocehannya, katanya lebih lanjut, “Dua baskom tembaga yang baru, minta ukuran yang paling besar, dua gunting baru, dua pisau kecil baru, empat anglo, cerek tembaga empat, semua juga ukuran yang paling gede, dua ratus kati batu bara yang bersih … dan lekas suruh orang-orangmu memotong dan menjahit dua jubah panjang putih untuk aku dan Sim-siangkong ini, ingat, dalam waktu setengah jam jubah harus selesai, tidak perlu bagus jahitannya asal bersih.”

Yang hadir melongo dan bingung mendengar sekian banyak barang yang diminta dan harus disiapkan dalam waktu singkat.

Si Kucing tertawa, katanya, “Barang-barang yang kau minta ini seperti mau buka toko serbaada saja, memangnya kau ini ingin jadi dukun bayi, atau mau buka rumah makan gelap yang menghidangkan daging manusia dari tubuh kedua gadis montok ini?”

“Wah celaka tiga belas, aku yang repot,” ujar Auyang Hi tertawa, “dalam waktu setengah jam harus menyiapkan barang-barang tetek bengek, susah ….”

Mulutnya mengeluh, namun wajahnya tetap berseri, sebab ia maklum kalau Ong Ling-hoa menuntut barang-barang yang serbabaru itu, pasti dia akan melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Soal ilmu rias atau kemahiran mengubah rupa sudah sering didengar namun praktik atau pelaksanaan yang bersangkutan dengan “operasi muka” ini baru sekarang dapat dilihat oleh Auyang Hi, maka bergegas dia keluar menyiapkan apa yang diperlukan.

Belum setengah jam Auyang Hi sudah menyiapkan seluruh barang yang diperlukan, batu bara sudah menyala di tungku, cerek tembaga besar pun sudah berisi air dan tengah digodok, sebentar lagi pasti mendidih.

Ong Ling-hoa menyerahkan seperangkat jubah panjang warna putih kepada Sim Long, katanya dengan tertawa, “Tolong Sim-heng juga pakai jubah ini, harap sudi menjadi pembantuku?”

“Dengan senang hati ….” ucap Sim Long.

“Dan aku?” si Kucing bertanya tidak sabar. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kau keluar saja, tunggulah di luar dan jangan berisik.”

Si Kucing melongo, serunya, “Keluar? Apa kami tidak boleh menonton?”

Auyang Hi tertawa, “Kalau dia suruh kau keluar, lekas kau keluar saja, kita ….”

“Kau pun harus keluar,” tukas Ong Ling-hoa.

Auyang Hi melengak. “Apa? …. Aku pun tak boleh menonton?”

Dengan serius Ong Ling-hoa berkata, “Dalam melaksanakan tugas aku perlu ketenangan dan harus konsentrasi pikiran, siapa pun tak boleh mengganggu, sebab bila sedikit lena dan menimbulkan sesuatu cacat di wajah kedua nona ini, umpama obat dewa juga takkan bisa menyembuhkannya, karena itulah kalian harus keluar, Kim-tayhiap ini pun harap menyingkir sementara waktu.”

Auyang Hi dan si Kucing saling pandang, sikap mereka tampak kecewa. Kim Bu-bong cuma mendengus, ia putar tubuh terus keluar.

Apa boleh buat, terpaksa Auyang Hi dan si Kucing juga keluar.

Pintu jendela segera ditutup rapat oleh Ong Ling-hoa, kain gorden juga diturunkan sehingga penerangan dalam kamar menjadi guram, suasana dalam kamar seketika terasa seperti mengandung sesuatu yang gaib. Demikian pula bara api dalam tungku yang menyala seperti menambah suasana misterius ini.

Sim Long berdiri diam dan mengawasi orang tanpa bersuara, air dalam cerek di atas tungku sudah mendidih, mengepulkan asap dan bersuara mendesis.

Mendadak Ong Ling-hoa membalik badan, dia menatap Sim Long, lalu katanya, “Kusuruh mereka menyingkir karena aku tidak ingin rahasia operasi muka ini diketahui mereka, tentunya Sim-heng maklum akan hal ini.”

Sim Long tersenyum dan mengiakan.

“Padahal Auyang Hi dan si Kucing sudah lama bersahabat denganku, sebaliknya kau dan aku baru bertemu pertama kali ini, bahwa aku tidak ingin membocorkan rahasia ini kepada mereka, sebaliknya minta bantuanmu, dalam hal ini pasti ada sebabnya, Saudara tentu merasa heran bukan?”

Sim Long tetap tersenyum, katanya, “Mohon keterangan.”

“Soalnya meski kita baru berkenalan, tapi kegagahan Saudara sungguh belum pernah kulihat selama ini, sungguh sangat mengagumkan.”

“Terima kasih akan pujianmu, meski Cayhe banyak bergaul, tapi bicara tentang sifat kepribadian, Him-heng itulah yang patut dipuji. Tapi bicara tentang kecerdikan, terpelajar, kurasa Saudaralah yang nomor satu di dunia ini.”

Dia merandek, sinar matanya gemerdep, lalu meneruskan, “Kecuali itu, tentu Saudara punya urusan lain, kalau tidak, tak mungkin ….”

Ong Ling-hoa menukas, “Betul, Siaute memang ada maksud lain, maka aku lebih akrab terhadap Saudara.”

“Sebabnya tentu amat menarik.”

“Ya, memang amat menarik.”

“Kalau demikian, coba jelaskan, aku ingin mendengarnya.”

Ong Ling-hoa berpikir sejenak, katanya kemudian, “Waktu Auyang Hi memperkenalkan engkau tadi, dia tidak menyebut nama besarmu, betul tidak?”

“Mungkin Auyang-heng sendiri tidak tahu jelas nama lengkapku, atau mungkin sudah lupa, hal ini pun jamak dalam pergaulan umumnya.”

“Tapi nama Saudara dapat kutebak.”

“Ah, masa Saudara punya kepandaian demikian.”

Ong Ling-hoa tersenyum, “Bukankah nama besar Saudara adalah Sim Long?”

Terunjuk rasa kaget dan heran di wajah Sim Long, katanya, “Betul, bagaimana bisa kau tebak namaku, mungkin … seorang pernah menyinggung aku di hadapanmu.”

Kalau kedua orang ini asyik bicara, Cu Jit-jit yang mendengarkan di samping menjadi gelisah malu tapi juga senang, dia tidak ingin Ong Ling-hoa menyebut nama Sim Long, namun juga berharap dia akan mengatakan nama Sim Long, bukan saja tidak rela kalau Ong Ling-hoa turun tangan kepada Sim Long, tapi juga berharap sekali genjot Sim Long membinasakan Ong Ling-hoa.

Maka dia membuka lebar kedua matanya dan mengawasi Ong Ling-hoa, ingin tahu cara bagaimana pemuda bajul ini hendak menghadapi Sim Long, apa pula yang hendak dikatakannya?

Didengarnya Ong Ling-hoa berkata, “Kalau Saudara ingin tahu bagaimana kutahu nama besarmu, ini … kelak engkau akan tahu sendiri.”

Lalu dia mulai membuka tutup gentong cuka, tidak memandang pula kepada Sim Long, tapi tangannya kelihatan rada gemetar.

Diam-diam lega hati Jit-jit, entah kecewa atau merasa bersyukur? Betapa pikirannya sekarang sukar dijelaskan.

Ong Ling-hoa angkat sebuah cerek tembaga dan mengarahkan corong cerek ke muka Pek Fifi, kepulan asap panas dari dalam cerek segera menyembur muka Pek Fifi, terpaksa Pek Fifi memejamkan mata.

Selang sejenak, Ong Ling-hoa berkata, “Tolong Sim-heng buka tutup cerek.”

Sim Long mengiakan dengan tersenyum, ia membuka tutup cerek tembaga, padahal tutup cerek tembaga itu terpanggang di atas tungku yang membara, panasnya bukan main, tapi Sim Long memegangnya seperti tidak terasa panas sedikit pun. Sikap Ong Ling-hoa seperti tidak menaruh perhatian, namun air mukanya sedikit berubah, entah kaget, heran, memuji, iri, atau kagum.

Setelah tutup cerek terbuka, Ong Ling-hoa menuang cuka ke dalam cerek, segera uap yang menyembur keluar dari cerek mengandung bau asam, uap panas asam menyembur ke muka Pak Fifi semakin keras hingga matanya terpejam rapat.

Hal ini berlangsung sekian lama pula, setengah gentong cuka sudah menguap di dalam cerek, kulit daging di ujung mulut Pek Fifi yang mengeras kelihatan mulai lunak dan bergerak, malah kelihatan mengiler.

Ong Ling-hoa menurunkan gentong cuka, ganti angkat gentong arak dan arak dituang ke dalam cerek pula, maka uap asam yang kental berubah menjadi bau arak yang pedas, hanya sekejap air mata tampak bercucuran dari mata Pek Fifi.

Asap makin tebal memenuhi kamar, jidat Ong Ling-hoa dan Sim Long sudah berkeringat, dua baskom tembaga raksasa yang tersedia diisi arak oleh Ong Ling-hoa, cuka dan air putih dituang pula lalu berkata, “Sim-heng, tolong bukakan pakaian nona ini dan masukkan dia ke baskom besar ini.”

Sim Long melengak, “Apakah pakaiannya harus dibuka.”

“Benar, pori-pori sekujur badannya sekarang tersumbat oleh obat rias, tanpa melucuti pakaiannya mana bisa menolongnya?”

Sembari bicara Ong Ling-hoa mengeluarkan tiga botol kecil yang terbuat dari kayu, dari botol-botol itu dia tuang sedikit puyer ke dalam kedua baskom besar, lalu berkata dengan tertawa, “Seorang laki-laki sejati, memangnya tidak berani membuka pakaian seorang perempuan?”

Waktu Sim Long menoleh ke sana, dilihatnya air mata Pek Fifi berlinang, sorot matanya cemas, malu, dan minta belas kasihan.

Sim Long menghela napas, katanya, “Urusan mendesak, terpaksa aku memberanikan diri, harap Nona maklum dan maaf akan kelancanganku.”

Perlahan dia membuka pakaian Pek Fifi.

Di luar pintu si Kucing dan Auyang Hi berjalan mondar-mandir, yang satu menggendong tangan, yang lain mengepal tinju, wajah mereka tampak gelisah dan tidak sabar, sikap mereka lebih mirip seorang suami yang gelisah menunggu istrinya yang hendak melahirkan. Sementara Kim Bu-bong duduk diam di pojok sana, tapi sorot matanya kehilangan ketenangan biasanya.

Terdengar suara mendesis air mendidih serta percikan api batu bara yang menyala besar, air dituang, bau arak dan cuka bersama asap tebal merembes keluar, terdengar pula suara gunting bekerja dan pisau mengiris, lalu terdengar pula suara orang lagi mandi.

Tiba-tiba si Kucing tertawa geli, katanya, “Mendengar suaranya, mereka berdua seperti lagi menyembelih babi atau memotong kambing, entah bagaimana kedua nona itu dijagal ….”

Auyang Hi berkata, “Kalau aku boleh masuk melihatnya, suruh aku menyembah tiga kali aku mau.”

“Siapa bilang tidak,” ucap si Kucing sambil menghela napas. “Cuma sayang ….”

Mendadak berkumandang suara kaget dan bentakan perlahan, itulah suara Sim Long.

Kim Bu-bong melompat bangun dan hendak menerjang masuk, tapi si Kucing segera menariknya mundur.

“Kau mau apa?” bentak Kim Bu-bong gusar.

Si Kucing tertawa, katanya, “Kenapa Saudara begini tegang, betapa gagah perwiranya Saudara Sim kita, memangnya kau khawatir dia? Bila Kim-heng main terobos ke dalam hingga Ong Ling-hoa gusar, bukan mustahil tugasnya yang belum selesai akan ditinggal pergi, lantas bagaimana urusan selanjutnya, bukankah kedua nona itu tidak bisa lagi hidup di muka umum.”

Kim Bu-bong termangu sejenak, akhirnya ia mendengus sambil mengipratkan tangan si Kucing, dengan langkah lebar ia kembali ke tempat duduknya semula. Dia juga maklum manusia seperti Sim Long tak mungkin mengalami sesuatu.

Tapi pada saat itulah di dalam kamar terdengar suara telapak tangan saling tepuk, suaranya keras dan kerap seperti rentetan mercon saja, kembali Kim Bu-bong berubah air mukanya, dia berdiri pula.

Auyang Hi juga berkerut kening, katanya, “Suara apa itu?”

Si Kucing berpikir, katanya kemudian, “Mungkin suara Ong Ling-hoa sedang mengurut dan memijat kedua nona itu.”

Auyang Hi manggut-manggut, katanya, “Ya, mungkin demikian ….”

Walau diam saja, namun dalam hati Kim Bu-bong menerima pendapat si Kucing, tapi baru saja ia berduduk, dari dalam kamar terdengar pula jeritan kaget pula. Yang menjerit kali ini ternyata Ong Ling-hoa. Berubah air muka Auyang Hi, ia pun hendak menerjang masuk ke sana, tapi si Kucing kembali menariknya mundur.

“Ong-heng biasanya tenang dan tabah,” kata Auyang Hi, “bila dia sampai menjerit, mungkin ….”

“Mungkin kenapa?” tukas si Kucing. “Ong Ling-hoa sedang sibuk menolong kedua nona itu, memangnya kau kira Sim-heng akan bertindak sesuatu kepadanya, apalagi mereka baru saja kenal, belum pernah bermusuhan, malah saling kagum dan memuji …. Hehe, kukira lantaran kau ingin masuk, maka sengaja kau cari alasan.”

Auyang Hi tertawa geli dan keki, katanya, “Kucing rakus, apa kau tidak merasa jeritan itu agak ganjil?”

“Mungkin mereka terpesona oleh kecantikan kedua nona itu, hingga tak tahan dan menjerit kaget, terutama Ong Ling-hoa si iblis perayu itu, mungkin tulangnya sekarang sudah lemas lunglai,” kata si Kucing.

Auyang Hi menggeleng, “Umpama dugaanmu benar juga hanya mereka berdua saja yang kebagian rezeki, tidak perlu kau ikut ribut.”

Pintu tertutup rapat, kecuali suara keras atau jeritan melengking, percakapan Sim Long dengan Ong Ling-hoa tidak terdengar dari luar.

Auyang Hi melongok cuaca luar rumah, mentari sudah semakin tinggi, hampir dia tidak tahan sabar, ia garuk kepala dan membanting kaki, sering bergumam, “Kenapa mereka belum keluar, mungkin … mungkin terjadi ….”

*****

Ketika Sim Long membuka kancing pertama baju Pek Fifi, nona itu memejamkan kedua matanya, kaki tangan berkeringat dingin dan gemetar. Walau rupanya sudah berubah buruk, tapi waktu dia memejamkan mata, kerlingan mata yang mengandung rasa malu sungguh menggiurkan.

Sifat malu-malu seorang gadis jelita semacam ini justru tidak dimiliki oleh Cu Jit-jit.

Walau gadis itu sudah memejamkan mata, agaknya Sim Long tidak berani menatap mukanya, dengan perlahan dan hati-hati Sim Long melucuti pakaiannya, ujung jari pun tidak menyentuh badan orang.

Ternyata Pek Fifi tidak mengenakan pakaian dalam, begitu baju luar tersingkap, maka badannya yang mulus seketika terpampang di depan mata.

Bentuk tubuh yang elok, mulus, kenyal, dan halus terpampang di depan mata Sim Long. Badan yang polos ini tidak merangsang nafsu tapi menimbulkan rasa kasih sayang terhadap gadis yang lemah lembut, daya tarik gadis suci yang khas, yang sukar dilukiskan.

Untuk melengos tidak sempat lagi, sekali pandang seketika Sim Long rada terkesima, dia lupa untuk melengos, dia terpesona oleh kemulusan tubuh gadis telanjang di depan mata ini. Biarpun dia seorang enghiong (kesatria), dia tetap seorang lelaki.

Ketika mendengar Sim Long disuruh membuka pakaian Pek Fifi, Cu Jit-jit lantas mendelik mengawasi gerak-geriknya, kini melihat sikap kesima Sim Long itu, sorot mata Jit-jit seketika memancarkan rasa keki dan iri. Dia membatin, “Sim Long, wahai Sim Long, ternyata kau pun laki-laki mata keranjang, betapa besar cintaku kepadamu, lelaki lain tiada yang terpandang olehku, tapi melihat perempuan lain, kau pun melotot semacam ini, ai, sia-sia aku mencintaimu.”

Waktu dia melirik ke sana, Ong Ling-hoa berdiri membelakangi Sim Long dan Pek Fifi, melirik pun tidak ke arah sini.

Setelah berdehem, Ong Ling-hoa bersuara, “Pakaiannya sudah dibuka belum? Sekarang silakan Sim-heng masukkan dia ke dalam baskom besar, gunakan kain putih yang baru kupotong, cuci atas kepala sampai kaki dan digosok dua kali, gunakan dulu air baskom sebelah kiri, lalu dibilas dengan air baskom sebelah kanan, sekali-kali jangan keliru.”

Sim Long menoleh, katanya gugup, “Tapi … kenapa Saudara tidak turun tangan sendiri?”

Ong Ling-hoa tetap tidak berpaling, katanya dengan tertawa, “Betapa terhormat badan suci seorang anak perawan, hanya lantaran keadaan mendesak, terpaksa harus dikerjakan, lebih baik kalau hanya seorang lelaki saja yang menjamah badannya, betul tidak pendapat Sim-heng …. Selanjutnya dia sudah menjadi orang Sim-heng, maka terpaksa mohon Sim-heng melanjutkan kerja sampai selesai.”

Sim Long menjadi gugup, serunya, “Dia … dia sudah menjadi orangku apa?”

Ong Ling-hoa tertawa, katanya tanpa menjawab pertanyaannya, “Khasiat obat dalam air sebentar akan hilang bila air mulai dingin, kenapa Sim-heng tidak lekas turun tangan?”

Sim Long melongo sejenak, apa boleh buat, sambil menghela napas dia angkat Pek Fifi dan diturunkan ke dalam baskom, lalu diambilnya setumpuk kain kaci putih.

Ong Ling-hoa berdiri sambil berpeluk tangan, katanya, “Kedua nona ini pasti berwajah cantik laksana bidadari, hari ini sungguh Sim-heng amat beruntung.”

Kelihatan gusar pada wajah Sim Long, katanya keki, “Saudara bicara demikian, memangnya kau anggap aku ini orang apa?”

“Ah, Siaute hanya berkelakar saja, harap Saudara jangan marah, tapi ….”

“Tapi apa?”

“Kau yang membawa kemari kedua nona ini, kesucian tubuh mereka juga sudah kau pandang dan kau jamah, maka selanjutnya kuharap engkau tidak telantarkan mereka, bila Saudara berjiwa pendekar, maka masa depan kedua gadis ini harus kau pandang sebagai kewajibanmu, sekali-kali tidak boleh naksir pada gadis yang ketiga.”

Sudah tentu kaget dan gusar Sim Long, tapi apa yang diucapkan Ong Ling-hoa juga terasa jujur dan tegas, seketika Sim Long jadi bungkam dan tak mampu mendebat.

Dalam persoalan ini sudah tentu hanya Cu Jit-jit saja yang tahu makna dari ucapan Ong Ling-hoa itu, sebab kecuali dia sendiri siapa pun tidak tahu bahwa dia adalah Cu Jit-jit.

Maksud tujuan Ong Ling-hoa adalah hendak mengikat Sim Long dengan kata-katanya, supaya kedua gadis ini benar-benar membelenggu Sim Long sehingga dia tidak bisa bebas dari tanggung jawab, untuk ini Ong Ling-hoa akan mengatur tipu daya sehingga kedua gadis ini selanjutnya akan mengikat Sim Long, apalagi menurut tradisi zaman itu, bila tubuh suci seorang gadis sampai terlihat, apalagi terjamah oleh seorang laki-laki, maka selama hidup dia tidak akan kawin kecuali dengan lelaki itu apalagi Sim Long adalah tipe lelaki gagah yang disukai anak gadis.

Bila Sim Long sudah terikat oleh kedua gadis ini, sudah tentu dia tidak boleh jatuh cinta kepada gadis lain. Gadis ketiga yang dimaksud Ong Ling-hoa sudah tentu adalah Cu Jit-jit.

Langkah yang dimainkan Ong Ling-hoa memang lihai, namun betapa rapi perhitungannya, terjadi juga kekhilafan, tak pernah terbayang olehnya bahwa satu di antara kedua gadis ini adalah Cu Jit-jit, dengan susah payah ia mengatur tipu dayanya akhirnya justru merugikan diri sendiri.

Sim Long tidak bicara lagi, ujung mulutnya kembali mengulum senyum.

Ong Ling-hoa berkata, “Apakah Sim-heng sudah selesai memandikan dia? Baiklah, silakan Sim-heng menggosok kering badannya …. Bagus, selanjutnya dengan tenaga hangat Sim-heng boleh kau urut ke-46 hiat-to di sekitar perutnya, bila Sim-heng merasa malu, boleh kenakan dulu pakaian nona ini.”

Belum habis dia bicara, didengarnya suara keresek kain baju, kejap lain terdengar suara tepukan enteng telapak tangan, napas Sim Long lambat laun terdengar berat, Pek Fifi juga mengeluarkan suara keluhan dan napas tersengal, keluhan yang menggetar sukma.

Perlu dimaklumi tempat yang ditepuk dan diurut oleh Sim Long sekarang adalah bagian yang peka di tubuh seorang gadis, apalagi kini yang mengurut adalah telapak tangan lawan jenis, betapa nikmat rasanya dapat dibayangkan.

Cu Jit-jit melotot gusar mengawasi tangan Sim Long yang bergerak di atas badan Pek Fifi, tiba-tiba terbayang olehnya waktu dirinya diurut dan dipijat oleh Ong Ling-hoa tempo hari, bukankah rasanya juga nikmat memabukkan. Seketika terasa adanya aliran hangat yang menyusuri seluruh badannya, hatinya seperti dibakar nafsu.

Mata Pek Fifi masih terpejam, napasnya makin memburu, badan bergeliat dan gemetar.

Perlahan Ong Ling-hoa membalik tubuh, ia ambil gunting dan dimasukkan ke dalam cuka yang mendidih, dengan tersenyum ia menyaksikan Sim Long mengerjai Pek Fifi, katanya, “Jangan Sim-heng berhentikan kerja kedua tanganmu, tak peduli apa pula yang kau lihat atau dengar, sekejap pun tidak boleh berhenti, kalau tidak, akan sia-sia usahamu, dan kau sendiri harus bertanggung jawab.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Jangan khawatir, selama hidupku belum pernah melakukan sesuatu yang mengecewakan orang.”

Bukan dia tidak merasakan reaksi Pek Fifi, ia sendiri juga mulai terpengaruh oleh reaksi yang menggelitik ini. Tapi lahirnya tetap kelihatan tenang dan wajar, seperti yakin dan penuh kepercayaan pada diri sendiri bahwa segala apa yang akan terjadi, dia sudah siap menghadapinya.

Ong Ling-hoa mendekati Pek Fifi, katanya, “Obat rias di muka nona ini karena tersembur uap arak dan cuka dan terserang suhu panas badannya yang berkeringat kini sudah mulai lunak.”

Sembari bicara kedua tangannya mulai meremas muka Pek Fifi, “kulit” muka Fifi yang serupa asli itu sudah mulai berkerut oleh remasan-remasan tangannya, begitu bentuknya berubah, sungguh tambah mengerikan roman mukanya.

Segera Ong Ling-hoa keluarkan obat dan dijejalkan ke mulut Fifi, katanya, “Aliran darah dan napasnya sudah berjalan lancar, mulutnya juga sudah bisa bicara, cuma ….” tiba-tiba dia tertawa tertahan, lalu menyambung, “cuma karena rabaan tangan Sim-heng, sekujur badannya menjadi lunglai, untuk bicara saja ogah buka suara.”

Kalau orang lain yang mendengar perkataannya ini, mana sanggup lagi bergerak lagi kedua tangannya, tapi Sim Long anggap tidak mendengar ocehannya, kedua tangannya masih terus bekerja.

“Bagus!” Ong Ling-hoa memuji, dengan dua jari mendadak dia cubit kulit mata Pek Fifi, tangan kanan yang sejak tadi pegang gunting lantas bekerja, “kres”, kontan dia mengguntingnya. Kulit kelopak mata Fifi diguntingnya secuil, walau Fifi tetap diam seperti tidak merasa sakit, tapi Sim Long dan Cu Jit-jit sama kaget.

Ong Ling-hoa lempar hasil guntingannya ke dalam ember garam, lalu pisau kecil ditusukkan ke kulit mata yang barusan diguntingnya.

Kembali Sim Long kaget, tapi dilihatnya Pek Fifi diam saja seperti tidak merasakan apa-apa. Dilihatnya kedua tangan Ong Ling-hoa terus bekerja, pisau kecil mengiris pergi-datang, lapisan kulit muka Pek Fifi terkelupas sekeping demi sekeping, kulit mukanya yang memang jelek kini kelihatan lebih buruk lagi.

Walau tahu kulit palsu itu buatan obat rias yang membeku, jantung Sim Long berdegup juga.

Mendadak sinar dingin berkelebat, pisau kecil di tangan Ong Ling-hoa tiba-tiba mengiris ke muka Sim Long.

Jit-jit melihat jelas kejadian ini, sungguh tidak kepalang kagetnya.

Sim Long lagi tumplak seluruh perhatiannya, jelas dia tidak mampu menghindari sambaran pisau kecil ini.

Siapa tahu mendadak Sim Long berteriak kaget, menyusul lantas membentak pula, kaki tidak bergerak, badan bagian atas menyurut mundur beberapa senti, pisau kecil menyambar lewat pipinya, tidak sampai melukai kulit dagingnya.

Tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuh Cu Jit-jit, ia mengkhawatirkan keselamatan Sim Long tapi kedua tangan Sim Long tetap bekerja, tidak berhenti juga tidak tertunda, masih terus mengurut, hanya sorot matanya tampak gusar, katanya, “Apa maksud tindakanmu ini?”

Ong Ling-hoa berlagak seperti tidak terjadi apa-apa, katanya dengan tersenyum, “Siaute hanya menguji ketenangan Sim-heng apa benar dalam keadaan bagaimanapun kedua tanganmu tidak akan berhenti bekerja.”

Sim Long tersenyum, katanya, “O, begitu?”

Ia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa, serangan pisau barusan tidak disinggungnya pula.

Cukup lama Ong Ling-hoa menatapnya, sorot matanya menampilkan rasa kagum tapi juga iri, tiba-tiba ia menghela napas, katanya, “Selama hidupmu, apakah tidak pernah pikirkan urusan apa pun?”

“Sudah tentu ada,” sahut Sim Long tertawa. “Cuma orang lain tidak tahu saja.”

Cara bicaranya tetap tenang dan kalem, namun dalam pendengaran Ong Ling-hoa entah kenapa tiba-tiba timbul rasa dingin dalam hati, pikirnya, “Ada manusia seperti dia di dunia ini, apa artinya hidup bagiku ….”

Sembari berpikir tangannya juga tetap bekerja, kulit imitasi di muka Pek Fifi telah dipotong-potong lagi dan dilemparkan ke dalam ember.

“Gerak tangan bagus ….” Sim Long memuji dengan tertawa. Tapi begitu melihat wajah Pek Fifi, perkataannya terhenti, sekian lama dia melongo.

Tampak pipi Pek Fifi putih bersemu merah laksana mawar, bulu matanya yang panjang tampak menghiasi pelupuk matanya yang terpejam, hidungnya mancung, napas tersengal ….

Tadi Sim Long sudah melihat tubuhnya yang mulus, jarinya sempat menyentuh kulitnya yang halus, namun perasaannya masih terkendali, kini setelah melihat raut wajahnya yang molek memesona, entah mengapa timbul semacam perasaan aneh, tangannya tak berani lagi menyentuh tubuhnya.

Betapa pun Sim Long adalah seorang lelaki, lelaki mana pun takkan terhindar dari perasaan demikian.

Ong Ling-hoa juga terbeliak, lama dia termenung baru menarik napas panjang, katanya dengan gegetun, “Ternyata memang cantik tiada bandingan ….”

Melihat betapa sikap kedua lelaki itu mengawasi wajah Fifi, sungguh dongkol dan gemas bukan main perasaan Cu Jit-jit, dalam hati dia mengumpat, “Lelaki, dasar lelaki, tiada lelaki baik di dunia ini.”

Walau hati mendongkol, tapi kedua lelaki di hadapannya ini, yang seorang adalah pengagum dirinya, kalau tidak mau dikatakan kasmaran terhadapnya, seorang lagi justru pemuda pujaannya, sekarang terlihat mereka kesengsem kepada orang lain, dengan sendirinya timbul rasa cemburunya.

Betapa pun Jit-jit adalah orang perempuan, perempuan mana pun di dunia ini pasti tak terhindar dari rasa cemburu.

Tanpa sengaja Cu Jit-jit mengerling Ong Ling-hoa, dilihatnya Ong Ling-hoa lagi menatap Sim Long, sorot matanya penuh nafsu membunuh, Cu Jit-jit kaget, teriaknya dalam hati, “Celaka ….”

Tengah mengeluh dalam hati, dilihatnya kedua tangan Ong Ling-hoa menghantam ke arah Sim Long dengan cepat. Serangan ini pun dilancarkan secara mendadak, cepat, dan ganas pula.

Di luar dugaan, meski Sim Long lagi menatap wajah si cantik, padahal setiap gerak-gerik orang tidak lepas dari pengawasan Sim Long, baru saja telapak tangannya bergerak, kedua telapak tangan Sim Long lantas memapak ke depan. Empat telapak tangan beradu dan menimbulkan serentetan suara serupa seperti bunyi mercon, setelah belasan jurus adu pukulan, Sim Long tampak masih berdiri bergeming, Ong Ling-hoa justru menjerit dan tergetar mundur.

“Apa pula maksud perbuatanmu ini?” tanya Sim Long.

Ong Ling-hoa tergetar mundur dekat dinding baru dapat berdiri tegak lagi, ia tepuk-tepuk jubah putih yang baru itu, sikapnya tetap tenang dan wajar seperti tidak terjadi sesuatu, katanya dengan tertawa, “Siaute hanya ingin menjajal, setelah mengurut dan menepuk tadi, apakah tenaga dalammu tidak berkurang?”

Setelah menatapnya lekat-lekat, akhirnya Sim Long tersenyum, katanya, “O, apa betul? Banyak terima kasih atas perhatianmu.”

Sikapnya tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa.

Mendelik mata Cu Jit-jit, sambil mengertak gigi diam-diam ia mengumpat, “Sim Long, dungu kau, dia minta kau menjadi pembantunya adalah untuk mencari kesempatan akan membunuhmu, masa kau tidak tahu? Kau goblok, kau tidak punya liangsim, adakalanya, sungguh ingin kulihat kau dibunuh orang saja.”

Ternyata diam-diam Pek Fifi juga memicingkan mata dan mencuri lihat ke arah Sim Long, wajahnya masih kelihatan jengah, entah bagaimana perasaannya terhadap Sim Long, entah malu atau cinta dan kagum, yang jelas, kecuali Sim Long, matanya tidak memandang orang lain lagi.

Ong Ling-hoa mengulang apa yang pernah dilakukan tadi terhadap Cu Jit-jit, mukanya disembur dengan uap cuka yang mendidih.

Air mata dan ingus mengalir dari mata dan hidung Jit-jit, dia ingin menjerit dan meronta karena tidak tahan, tapi bila teringat sebentar lagi dirinya akan bebas dari siksa derita, maka jantungnya berdegup lebih cepat, rasa sakit kulit mukanya tidak dirasakan lagi sebagai derita yang luar biasa, dia mengertak gigi dan bertahan.

Ke dalam baskom besar itu Ong Ling-hoa mengisi pula air arak, cuka, dan obat-obatan, kali ini obat yang dia gunakan lebih banyak, ia berkata kepada Sim Long dengan tertawa, “Untuk memulihkan keadaan nona yang satu ini jauh lebih sukar daripada yang pertama tadi, karena itu Sim-heng harus banyak menguras tenaga juga.”

Habis bicara dia mundur ke sana dan berdiri menghadap dinding.

Sim Long tertawa getir, katanya, “Apa sama seperti cara tadi?”

Terhadap setiap permohonan orang agaknya tak pernah dia menolak, segalanya diterima dengan baik.

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, “Betul, seperti tadi, mohon Sim-heng juga rendam tubuh nona itu di dalam kedua baskom itu secara bergantian ….”

Melihat jari Sim Long sudah menyentuh kancing bajunya, jantung Jit-jit berdebar, ingin rasanya dia menjerit. Terpaksa dia memejamkan mata, tubuh terasa dingin, menyusul terangkat lalu terendam di dalam air hangat dalam baskom, tubuhnya meringkuk, terdengar suara napas dan keluh yang merangsang nafsu, dalam hati tadi dia pernah memaki Pek Fifi, namun suara napas dan keluh kepuasan sekarang ini justru dia sendiri yang mengeluarkannya.

Dia seperti mabuk, seperti terbuai dalam impian, entah berapa lama kemudian, akhirnya terasa tubuh terangkat pula, dikeringkan dengan kain dan mengenakan pakaian, kini rasa kaku tubuhnya sudah berangsur hilang, lambat laun perasaannya mulai pulih.

Lalu dia merasakan jari-jari yang hangat mulai mengurut dan memijat tubuhnya, tanpa terasa napasnya mulai memburu lagi, suara keluhannya semakin keras.

Tanpa disadarinya dia bersuara, hal ini sepantasnya dibuat girang, dia pernah bersumpah bila dirinya dapat bersuara, maka segera dia akan membongkar tipu muslihat keji Ong Ling-hoa, ia pun pernah bersumpah akan mencaci maki Sim Long, namun kini perasaannya seperti mabuk dan lupa daratan, ia lupa dirinya sudah bisa bersuara dan bicara.

Pek Fifi meringkuk di ujung ranjang, sesekali dia mengintip ke arah Sim Long, sementara Ong Ling-hoa masih berdiri menghadap dinding tanpa bergerak, seperti sedang termenung.

Cukup lama Ong Ling-hoa berdiri diam, akhirnya dia membalik badan, gunting baru dipegangnya terus mencubit kelopak mata Cu Jit-jit, tapi gunting tidak segera bekerja, entah apa yang menyebabkan dia bimbang, sesaat dia memandang Sim Long dengan terkesima.

Tak tahan Sim Long bertanya, “Kenapa Saudara tidak lekas turun tangan?”

“Pikiranku sekarang tidak tenteram dan sukar dikonsentrasikan, jika bekerja sembarangan, mungkin bisa merusak wajah nona ini.”

“Kenapa pikiranmu mendadak kalut?”

Ong Ling-hoa tersenyum, “Kupikir, setelah kusembuhkan dan memulihkan wajah kedua nona ini, entah bagaimana sikapmu terhadapku?”

“Tentu kuanggap sebagai sahabat, kenapa Saudara curiga?”

“Tadi dua kali aku menjajalmu, apakah tidak kau curiga bahwa sengaja hendak kulukai atau membunuhmu?”

“Aku tidak bermusuhan dan tidak pernah berbuat salah apa pun terhadapmu, untuk apa kau membunuhku?”

Ong Ling-hoa tersenyum, katanya, “Kalau demikian, legalah hatiku, semoga Saudara tidak lupa akan apa yang kau katakan ini, selamanya anggap aku sebagai sahabat.”

“Sudah tentu, asal Saudara sudi, tak nanti kulupakan.”

“Bagus!” seru Ong Ling-hoa tertawa, mendadak dia taruh gunting terus melangkah ke sana.

“Kenapa Saudara tidak turun tangan sekarang?” tanya Sim Long pula.

“Bahwa Saudara sudi bersahabat denganku, sepantasnya aku menyuguh tiga cawan kepadamu,” diambilnya dua cawan dan diisi arak dari gentong.

“Tapi … tapi nona ini ….”

“Tak perlu gelisah, aku bertanggung jawab memulihkan bentuk wajah asli nona ini, sekarang boleh berhenti sementara, kujamin tak terjadi apa-apa.”

Salah satu cawan arak itu disodorkan, terpaksa Sim Long berhenti bekerja dan menerima cawan arak itu.

Sambil angkat cawan Ong Ling-hoa tertawa, katanya, “Secawan arak ini semoga Saudara banyak rezeki dan panjang umur, semoga pula selanjutnya Saudara sudi menganggap diriku sebagai sahabat kental, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.”

Sim Long juga angkat cawannya, katanya dengan tertawa, “Terima kasih ….”

Saat mana keadaan Cu Jit-jit sudah berangsur pulih, kesadarannya mulai jernih, tanpa sengaja dia melirik ke sana, dilihatnya Sim Long sedang angkat cawan arak yang diterima dari Ong Ling-hoa dan akan diminum. Walau tadi dia keki terhadap Sim Long, meski ia pun tahu bila dirinya bersuara, kemungkinan Ong Ling-hoa tidak akan mau melanjutkan operasinya, dan kemungkinan besar selamanya mukanya akan tetap buruk, namun melihat Sim Long hendak minum arak pemberian Ong Ling-hoa, apa pun dia tidak pikir lagi, mendadak dia berteriak sekuatnya, “Lepaskan ….”

(Cerita silat ini terhenti di sini. Saya kesulitan mencari sumber lanjutannya. Ada yang mau membantu?)

Advertisements

2 Comments »

  1. Waduh tanggung amat ceritanya, lanjutannya dong pendekar baja yg ke 11.
    Thanks

    Comment by Riga — 07/03/2008 @ 6:41 am

  2. Sumbernya saya tidak punya, Mas. Tapi diusahakan terus, kok.

    Comment by ceritasilat — 10/03/2008 @ 1:29 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: