Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (08)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 10:01 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 08. Kehangatan Angin Musim Semi
Oleh Gu Long

Dari ujung jalan yang panjang, seseorang berjalan dengan perlahan menuju ke arah mereka, setiap langkahnya terlihat sangat sulit dan berat. Fu Hong Xue.

Dia masih menggenggam goloknya dengan erat ditangannya, selangkah demi selangkah dia menyeret dirinya ke arah mereka. Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat mengubah arah langkahnya.

Dia sendirian. Luo Luo Shan dan MuRong Ming Zhu tidak terlihat.

Ye Kai berjalan ke arahnya dan berkata sambil tersenyum,” Jadi engkau telah kembali?”

Fo Hong Xue membalasnya dengan tatapan dingin dan menjawab,” Jadi engkau masih hidup?”

“Dimana yang lainnya?” Ye Kai berkata.

“Aku berjalan sangat perlahan.” Fu Hong Xue berkata.

“Yang lainnya berjalan didepanmu?” Ye Kai berkata.

“Ya.” Fu Hong Xue berkata.

“Bila mereka berada di depanmu, lalu kenapa mereka belum kembali?” Ye Kai berkata.

“Apa yang membuat engkau berpikir bahwa mereka akan kembali kesini?” Fu Hong Xue berkata.

Ye Kai menganggukan kepalanya dan bertanya sambil tersenyum,” Tahukah engkau siapa yang pertama kali kembali?”

“Tidak, aku tidak tahu.” Fu Hong Xue berkata.

“Mayat.” Ye Kai berkata, terpancar sinis dibalik senyumnya,” Lucu sekali bagaimana sesosok mayat yang tidak dapat berjalan menjadi yang pertama kembali, sementara yang lainnya yang dapat berjalan dan yang pergi pertama kali masih belum menampakan diri. Ada sesuatu di dunia ini yang sungguh-sungguh ironis.”

“Mayat siapa itu?” Fu Hong Xue bertanya.

“Laba-laba Terbang.” Ye Kai menjawab.

Fu Hong Xue mengangkat alisnya, setelah termenung beberapa saat dia berkata,” Laba-laba Terbang bersamaku beberapa saat sebelum dia pergi.”

“Dia bersamamu? Mengapa?” Ye Kai berkata.

“Dia menanyakan sesuatu,” Fu Hong Xue berkata.

“Dia menanyakanmu sesuatu?” Ye Kai berkata.

“Dia bertanya, aku mendengarkan.” Fu Hong Xue berkata.

“Engkau hanya mendengarkan? Engkau tidak menjawab?” Ye Kai berkata.

“Saat itu sangat melelahkan jadi aku hanya mendengar.” Fu Hong Xue berkata.

“Dan sesudahnya?” Ye Kai berkata.

“Aku berjalan perlahan-lahan.” Fu Hong Xue berkata.

“Karena dia tidak mendapat jawaban darimu maka dia mempercepat jalannya dan bergabung dengan yang lainnya?” Ye Kai menyimpulkan.

Tersirat sorot mata Fu Hong Xue yang sinis dan dia menjawab,” Itulah sebabnya dia tiba pertama!”

Ye Kai tersenyum, namun senyumnya sangat hambar.

“Saat engkau bertanya, aku menjawab. Tahukah kenapa?” Fu Hong Xue berkata.

“Aku memang baru saja heran dengan hal itu.” Ye Kai berkata.

“Aku hanya menjawab pertanyaanmu karena aku juga mempunyai pertanyaan untukmu.” Fu Hong Xue berkata.

“Bila engkau bertanya, maka aku akan menjawabnya juga.” Ye Kai berkata.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya.” Fu Hong Xue berkata.

“Jadi kapan engkau akan menanyakannya kepadaku?” Ye Kai berkata.

“Pada waktu aku merasa saat yang tepat untuk menanyakannya.” Fu Hong Xue menjawab.

“Baiklah!Tidak perduli apakah engkau sedang ingin menanyakan, dan tidak perduli apa yang hendak engaku tanyakan, aku pasti akan menjawab.” Ye Kai berkata.

Fu Hong Xue berbalik dan berjalan menjauh. Dia tidak perduli dengan peti mati maupun mayat yang ada di peti mati tersebut, bahkan melirikpun tidak. Dia hanya melihat sesuatu yang dianggap bernilai untuk dia lihat. Tidak perduli engkau sudah mati atau masih hidup, apabila dia tidak ingin melihat, melirikpun tidak akan dia lakukan kepadamu.

Ye Kai tersenyum dan menghela napas. Dia berbalik dan melihat Yun Zai Tian telah melakukan penyelidikan dan bertanya-tanya pada pengendara kereta yang lainnya.

Ye Kai tidak tertarik untuk kesana dan mendengarkan – dia merasa lebih gampang untuk mencari informasi dari tubuh mayat yang membeku daripada dari bibir orang-orang tersebut.

Disamping itu, mayat sering kali mengungkapkan banyak rahasia. Cuma saja, pesan-pesan yang disampaikan seringkali tersembunyi.

Tubuh Laba-laba Terbang sudah dingin dan kaku. Kedua tangannya tergenggam dengan kerasnya, dia terlihat seperti sedang melihat sesuatu yang sangat berharga, bahkan sepertinya tidak ingin melepaskannya meskipun harus mati.

Ye Kai berdiri di samping peti mati sementara matanya menatap tajam ke arah mayat tersebut beberapa saat.

“Lentur seperti sutra, cepat seperti kilat menyambar … apakah ada hal yang hendak kau katakan kepadaku …” Ye Kai menggumam.
________________________________________

Tengah hari telah lewat. Cahaya matahari melintas melewati langit yang mulai mendung.

Namun lumpur yang menutupi jalan masih lengket dan basah, terutama setelah kereta gerobak dan keledai melewati jalan tersebut.

Saat ini iring-iringan kedelai yang menarik kereta gerobak telah mencapai Gedung Sepuluh Ribu Kuda.

Sebelum selesai menanyakan berbagai detil dan berusaha mencari kebenaran, Yun Zai Tian tidak akan pernah melepaskan para pengendara itu pergi.

Kereta kuda bagus yang ditarik oleh delapan ekor kuda masih parkir ditengah kota. Disana empat atau lima orang sedang sibuk membersihkan lumpur dan kotoran pada bagian luar kereta, dan juga sedang menyiapkan campuran kacang dan rumput untuk memberi makan kuda.

Disamping toko kelontong terdapat toko daging, terpampang tanda yang kotor dan berminyak di pintu yang bertuliskan, ” Kami menjual daging sapi, domba dan babi.”

Melewati toko daging terdapat warung kecil, tanda yang tergantung di pintu warung tersebut bahkan terlihat lebih berminyak, dan cahaya yang terlihat di dalam ruangan sangat redup.

Fu Hong Xue berada di dalamnya dan sedang makan mie dengan perlahan.

Tangan kanannya sangat terampil, yang orang lain harus lakukan dengan kedua tangan, dia dapat melakukannya hanya dengan satu tangan saja.

Melewati warung terdapat gang kecil dimana Fu Hong Xue tinggal. Meskipun banyak orang yang tinggal di gang tersebut, hanya beberapa yang terlihat berjalan keluar. Saat itu terlihat seorang wanita tua yang sudah beruban, dengan punggungnya yang bongkok, perlahan-lahan keluar dari pintu. Dia menempelkan kertas berwarna merah pada dinding gubuknya, dan perlahan-lahan masuk kembali ke dalam.

Kertas merah tadi bertuliskan,” Disewakan, satu kamar dan termasuk makan pagi. Dua belas tail perak per bulan, harap bayar dimuka, untuk satu orang, tanpa anak-anak.”

Wanita tua tadi, yang sebelumnya memperoleh lima puluh tail perak dari hasil sewa, kelihatannya gatal juga untuk mencoba mencari uang lagi. Dia menyewakan ruangannya sendiri dengan harga lebih mahal dua tail perak.

Pemilik toko kelontong seperti biasa sedang tidur-tiduran.

Di dalam toko pakaian diseberang jalan, dua orang gadis mengenakan pakaian yang bagus yang terbuat dari kain dan sutra, ngobrol dan bergurau satu dengan yang lainnya. Namun bila dibandingkan dengan kecantikan dan keanggunan dari Bibi Ketiga dan Ma Fang Ling, mereka tidak ada apa-apanya.

Dimanakah mereka sekarang?

Meskipun kereta mereka masih berada di tengah kota, namun kedua orang tersebut tidak terlihat.

Ye Kai yang keluyuran ke seluruh kota masih belum dapat menemukan jejak mereka.

Dia sebetulnya ingin mampir ke warung kecil tersebut, namun tiba-tiba dia berubah pikiran. Ye Kai berjalan ke arah gang kecil dan mengambil kain merah tersebut, menggulungnya, dan memasukannya ke dalam sepatunya.

Nampaknya ada sesuatu yang lainnya disepatunya, namun bukan emas maupun pisau.

Pintu paling sempit di jalan tersebut terdapat di tempat yang paling menghabiskan uang orang-orang. Meskipun pintunya sempit, ruangan didalamnya sangat luas. Tidak ada tanda apapun di pintu, hanya lentera merah kecil yang tergantung diatasnya. Saat lentera itu menyala, artinya tempat tersebut sudah buka, dan siap untuk mengumpulkan uang dari dompet anda. Saat lentera tersebut padam, tidak ada seorangpun yang keluar dari pintu tersebut. Saat lentera tersebut padam, mungkin tempat tersebut adalah tempat paling sepi dan sunyi di kota.

Ye Kai mulai menguap lebar sementara di wajahnya tersirat kelelahan. Setelah beberapa saat, akhinya dia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam.

Ruangan masih gelap dan remang-remang, seseorang berada di dalam ruangan, tapi bukan Xiao Bie Li, orang tersebut Ma Fang Ling.

Orang yang paling dicari Ye Kai ternyata sedang menunggunya disini.

Tindakan wanita selalu sukar ditebak.

“Apa yang engkau lakukan disini?” Ye Kai berkata sambil tersenyum.

Ma Fang Ling melemparkan pandangan ke arahnya, kemudian berdiri dan dengan kasar berjalan ke arah pintu. Dia telah menunggu dengan harap-harap cemas selama beberapa saat, dan mengharapkan dia akan merasa senang dan gembira saat melihat Ye Kai, namun untuk suatu sebab saat dia akhirnya bertemu, yang dapat dilakukan hanya memalingkan wajah dan pergi.

Ye Kai mengira-ngira dia pasti marah karena telah menunggu terlalu lama.

Cara yang paling baik untuk situasi seperti ini adalah membiarkan rasa marahnya berkurang sebelum mengucapkan sepatah katapun. Pasti orang idiot yang berusaha untuk menghentikan dan menghiburnya.

Ye Kai bukan orang yang idiot, yang dia lakukan hanya menghela napas sebelum duduk.

Ma Fang Ling, yang baru saja terburu-buru berjalan ke pintu, tiba-tiba berputar dan menatapnya dan bertanya,” Hei, kenapa engkau datang kesini?”

“Mencarimu.” Ye Kai menjawab.

“Mencariku? Dan sekarang engkau datang? Apa yang engkau pikirkan sehingga aku mau menunggum?” Ma Fang Ling berkata sambil tersenyum.

“Engkau bukan sedang menunggu aku sekarang?” Ye Kai berkata.

“Tentu saja tidak.” Ma Fang Ling menjawab.

“Kalau engkau bukan sedang menunggu aku, lalu siapa yang engkau tunggu?” Ye Kai bertanya.

“Bibi Ketiga.” Ma Fang Ling menjawab.

“Bibi Ketigamu? Dia akan menemuimu disini juga? Ye Kai berkata sambil terkejut.

“Apa, kau pikir hanya laki-laki yang datang ketempat ini?” Ma Fang Ling berkata.

“Aku sama sekali tidak bisa menebak kemana harus mencarimu, juga aku tidak tahu kalau engkau akan berada di sini, itu sebabnya aku berkeliling kota mencarimu.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling menatapnya beberapa saat, sepertinya sudah setengah harian, lalu bertanya,” Engkau benar-benar mencari aku sepanjang waktu hari ini?”

“Siapa lagi yang aku cari-cari ?” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling tiba-tiba tertawa genit dan berkata, ” Anak bodoh, apakah engkau pikir tempat ini hanya memiliki satu pintu masuk?”

Dia masuk dari pintu belakang. Bila seorang wanita mendatangi tempat ini, mereka mereka pasti berusaha agar tidak terlihat atau terdengar oleh orang lainnya.

Ye Kai menghela napas dan berkata,” Aku tidak pernah mengira bahwa engkau masuk melalui pintu belakang.”

“Itu bukan ideku, tepi Bibi Ketiga.” Ma Fang Ling menjawab.

“Dia juga disini?” Ye Kai berkata.

“Bodoh, bukankah aku telah mengatakannya bahwa dia di sini?” Ma Fang Ling berkata.

“Lalu dimana dia?” Ye Kai bertanya.

Ma Fang Ling menunjuk ke arah pintu ke tiga di sebelah kiri dan berkata,” Dia di dalam sana.”

Pintu yang dia tunjuk adalah tempat tinggal Cui Nong.

“Sedang ngobrol.” Ma Fan Ling berkata.

“Dia sedang ngobrol dengan Cui Nong?” Ye Kai berkata.

“Mereka berdua adalah sahabat baik, saat Bibi Ketiga datang ke kota, dia selalu mengunjungi Cui Nong untuk ngobrol.” Ma Fang Ling menjelaskan.

Tiba-tiba, matanya membelalak dan menatap Ye Kai,”Bagaimana engkau tahu namanya Cui Nong? Apakah engkau mengenalnya?”

“Aku rasa aku pernah melihatnya.” Ye Kai menjawab.

“Engkau pikir engkau pernah melihatnya? Atau engkau memang pernah melihatnya sebelumnya?” Ma Fang Ling mempertanyakan sementara matanya melebar.

“Aku benar-benar pernah melihatnya.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling memiringkan kepalanya dan menatapnya dari ujung matanya.” Engkau tiba disini dua hari yang lalu kan.”

“Mmm.” Ye Kai menjawab.

“Dimana engkau bermalam?” Ma Fang Ling bertanya.

“Aku rasa …. aku rasa di ….”Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling menggigit bibirnya. Dengan cepat dia menggoyangkan kepalanya, dia berbalik dan berjalan keluar.

Tabiatnya benar-benar seperti cuaca di bulan Mei, sering berubah dengan mendadak.

Apa lagi yang dapat di lakukan Ye Kai kecuali menghela napas?

Laki-laki harus sungguh-sungguh berhati-hati saat berbicara dengan seorang wanita, khusunya wanita yang menyukainya. Setelah beberapa saat, pintu terbuka kembali, Ma Fang Ling perlahan-lahan kembali ke dalam. Dia berhenti tepat di hadapan Ye Kai dan duduk di hadapannya.

Raut wajahnya nampak lebih tenang sekarang. Dia memandang Ye Kai sambil tersenyum tapi juga tidak seperti tersenyum, dan bertanya,” Kenapa engkau tidak bicara?”

“Aku hanya takut.” Ye Kai menjawab.

“Takut?” Ma Fang Ling berkata.

“Aku takut salah bicara sehingga membuatmu marah lagi.” Ye Kai berkata.

“Engkau takut membuat aku marah?” Ma Fang Ling berkata.

“Benar-benar takut.” Ye Kai berkata.

Mata Ma Fang Ling mulai bergerak-gerak, dia kemudian tertawa lebar dan berkata,” Anak bodoh, engkau berbicara saat harus tutup mulut, dan tutup mulut saat harus berbicara.”

Pandangannya perlahan-lahan menjadi hangat dan lembut saat melihat ke Ye Kai dan berkata,” Pagi ini, saat mereka menanyakanmu semalam, kenapa engkau tidak menjawab?”

“Aku tidak tahu.” Ye Kai berkata.

Laki-laki yang pintar selalu tahu kapan harus menjadi bodoh.

Pandangan mata Fang Ling menjadi lebih lembut dan dia berkata,” Engkau benar-benar tidak takut dibunuh oleh mereka?”

“Tidak sama sekali, aku hanya takut membuatmu marah.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling tertawa dengan renyah saat mendengar perkataan ini. Ekspresinya yang hangat dan manis menyerupai angin di musim Semi yang dapat mencairkan sungai yang membeku.

Mata Ye Kai melekat padanya, dia terlihat sedikit rikuh.

Ma Fang Ling perlahan-lahan menurunkan kepalanya dan berkata,” Apakah ayahku juga berbicara denganmu pagi tadi?”

“Mmm.” Ye Kai menjawab.

“Apa yang dia katakan?” Ma Fang Ling bertanya.

“Dia menginginkan aku pergi, dia meninginkan aku meninggalkan kota ini.” Ye Kai menjawab.

Ma Fang Ling kembali menggigit bibirnya dan bertanya,” Dan apakah jawabanmu?”

“Aku tidak ingin pergi!” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling mengangkat kepalanya dan mendadak berdiri, dia meraih, memegang tangannya dan berkata,” Engkau … engkau sungguh-sungguh tidak akan pergi?”

Ye Kai menganggukan kepalanya.

“Memangnya tidak ada siapapun yang menunggumu?” Ma Fang Ling bertanya.

“Hanya ada satu tempat dimana seseorang menungguku.” Ye Kai menjawab dengan tajam.

“Dimana itu?” Ma Fang Ling berkata.

“Disini.” Ye Kai menjawab.

Ma Fang Ling tersenyum, senyumnya bahkan nampak lebih manis dari sebelumnya. Matanya terlihat seperti dia sedang bermimpi. “Tidak seorangpun pernah mengatakan hal seperti itu kepadaku sebelumnya. Dan tidak seorangpun pernah memegang tanganku … tahukah engkau? Percayakah engkau?”

“Aku percaya padamu.” Ye Kai berkata.

“Setiap orang mengira aku adalah seorang yang kejam dan jahat, saat itu aku berpikir aku memang benar-benar seperti itu, namun dari semua itu sejujurnya …” Ma Fang Ling berkata.

Ma Fang Ling tersenyum dan berkata,”Sejujurnya, kadang-kadang saat aku marah kepadamu, aku hanya berpura-pura.”

“Kenapa harus berpura-pura marah?” Ye Kai bertanya.

“Itu hanya karena aku merasa bahwa bila aku tidak berbuat seperti itu, orang lain akan menggangguku.” Ma Fang Ling berkata.

“Tidak ada seorangpun yang akan mengganggu kamu lagi.” Ye Kai berkata dengan tajam.

Me Fang Ling memandanginya dan berkata,” Apakah engkau akan mencabut nyawanya bila mereka melakukan hal itu?”

“Sudah pasti! Tapi … lain kali, aku berharap engkau jangan bersikap tidak pantas lagi kepada orang lain.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling menggigit bibirnya dan berkata,” Tapi lain kali, bila engkau bermalam di sini lagi, maka aku akan marah.”

Ye Kai tidak mengucapkan sepatah katapun, dia meraih sepatunya dan menarik kain merah.

Setelah Ma Fang Ling membaca tulisan di kain merah itu, senyumnya sehangat angin musim semi kembali muncul diwajahnya.

Ye Kai memandanginya, jauh di dalam hatinya dia merasa bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang manis dan menawan. Periang dan lugu, kadang-kadang dia bersikap seperti anak kecil. Dia tidak tahan untuk tidak mengangkat tangannya dan memeluknya dengan lembut.

Wajahnya memerah, merah cerah.

Sesaat kemudian, mereka mendengar seseorang batuk perlahan. Orang tersebut tersenyum kecil menatap mereka berdua.

“Kita harus kembali sekarang.” Bibi Ketiga berkata.

Ma Fang Ling menurunkan pipinya dan menjawab,” Ya.”

“Aku menunggumu di luar.” Bibi Ketiga berkata.

Saat Bibi Ketiga berjalan keluar, sengaja atau tidak, dia tersenyum ke arah Ye Kai.

Senyum yang dapat membuat jiwamu melayang.

Senyum Ma Fang Ling cerah, menawan dan manis, seperti cahaya sinar matahari pertama di musin semi.

Namun senyumnya lengket seperti di pertengahan musim semi, sangat lengket sehingga membuatmu terjerat susah lepas, yang membuat mabuk meskipun tidak minum arak.

Dia membuat Ma Fang Ling menjadi terlihat seperti kekanak-kanakan.

Siapapun yang melihatnya memandang keluar pasti merasa terpikat, seperti dia telah mengambil sesuatu darimu.

Tentu saja Ye Kai tidak memperlihatkan perasaan-perasaan itu, jadi dia segera memandangnya dan bertanya,” Apakah engkau selalu menggunakan kereta yang sama setiap kali datang ke kota?”

Ma Fang Ling sama sekali tidak dapat menebak apa maksud pertanyaannya namun dia menjawab dengan mengganggukan kepala.

“Berapa banyak kereta kuda yang seperti ini di rumahmu?” Ye Kai bertanya lebih jauh.

“Hanya satu ini saja. Setiap orang disini lebih suka mengendarai kuda.” Ma Fang Ling berkata.

Ye Kai menghela napas dan berkata,”Jadi karena engkau berdua diantar oleh kereta kuda ini, maka mereka semua harus kembali sendiri-sendiri.”

“Siapa mereka?” Ma Fang Ling bertanya.

“Semua tamu yang tiba kemarin malam.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling tertawa dan berkata,” Mereka bukan anak kecil lagi, apa masalahnya bila harus kembali sendiri-sendiri? Kenapa harus khawatir terhadap hal itu?”

Ye Kai bernapas panjang dan berkata,” Karena ketiga belas orang yang kesana semalam, satu kembali dalam keadaan mati, dan sebelas lainnya hilang tidak jelas kabarnya.”

Mata Ma Fang Ling melebar sesaat dia bertanaya,” Siapa yang kembali dalam keadaan mati?”

“Laba-laba Terbang.” Ye Kai menjawab.

“Dan yang lain yang menghilang?” dia bertanya.

“Tuan Luo, MuRong Ming Zhu, dan kesembilan temannya.” Ye Kai berkata.

“Bagaimana orang sebanyak itu bisa hilang dalam sekejap?” Ma Fang Ling berkata.

“Kejadian aneh selalu terjadi di tempat seperti ini.” Ye Kai berkata.

Ma Fang Ling mengerutkan bibirnya dan berkata,” Mungkin mereka hanya menjadi paranoid, mereka dapat kembali kemari kapan saja saat ini.”

Ye Kai menggelengkan kepalanya, kemudian tiba-tiba bertanya,” Apakah aku boleh ikut kereta kudamu bersama dengan kalian berdua?”

“Tentu saja boleh. Tapi …. kemana engkau ingin pergi?” Ma Fang Ling berkata.

“Mencari orang –orang tersebut yang menghilang.” Ye Kai menjawab.

“Bagaimana engkau tahu bahwa mereka masih disekitar sini? Mereka mungkin menggunakan jalan yang lain untuk kembali.” Dia berkata.

“Pasti tidak,” Kai berkata.

“Kenapa tidak?” Ma Fang Ling berkata.

“Aku yakin mengenai hal itu?” Ye Kai berkata.

“Bagaimana kamu bisa begitu yakin?” Ma Fang Ling bertanya.

“Seseorang mengatakannya kepadaku seperti itu.” Ye Kai berkata.

“Siapa?” Ma Fang Ling berkata.

Ye Kai melihat kebawah ke tangannya dan perlahan-lahan menjawab,” Orang mati.”

“Orang mati?” Ma Fang Ling berkata dengan mimik heran.

Ye Kai menganggukan kepalanya dan berkata,” Apakah kamu tahu bahwa orang mati juga dapat bicara? Hanya saja cara mereka sedikit berbeda dengan orang hidup.”

Rasa takut terlihat di sinar mata Ma Fang Ling dan dia berkata,” Dan kamu percaya apa yang orang mati katakan?”

Ye Kai menganggukan kepalanya sementara senyuman misterius tertebar dibibirnya.” Hanya kata-kata orang mati yang selalu jujur … karena mereka tidak perlu lagi alasan untuk berbohong kepadamu.”

________________________________________

Kepalan jari tersebut akhirnya melemah, jarinya telah bengkok dan sedikit terbuka. Mayat ini masih menyimpan satu rahasia terakhir, namun jarinya seharusnya tidak terbuka dengan sendirinya. Jari-jari Laba-laba Terbang yang mengepal akhirnya telah terbuka, jarinya telah bengkok dan sedikit terbuka.

Ma Kong Qun berdisi di sisi peti mata tersebut, matanya bersinar sementara menatap pada sepasang tangan itu.

Dia tidak mengacuhkan bekas goresan yang tampak di wajah mayat tersebut, dia tidak mengacuhkan bekas darah yang telah mengering di mulut mayat tersebut. Dia hanya memperhatikan sepasang lengannya.

“Apa yang engkau lihat?” Ma Kong Qun bertanya.

Hua Men Tian dan Yun Zai Tian memandangi mayat tersebut sambil membisu.

“Keduanya hanya sepasang tangan biasa, tidak jauh berbeda dengan sepasang tangan orang mati lainnya.” GongSun Duan berkata.

“Ada perbedaannya.” Ma Kong Qun berkata.

“Apa perbedaannya?” GongSun Duan bertanya.
“Kedua tangan ini seharusnya mengepal dengan keras, namun telah dibuka dengan paksa.” Ma Kong Qun menjawab.

“Bagaimana engkau berkata seperti itu?” GongSun Duan berkata.

“Tulang dan darah mayat ini telah kaku, tidak mudah untuk membuka paksa jarinya. Itu sebabnya jarinya dibengkokan dan dibuka paksa, juga dapat engkau lihat tanda yang tertinggal.” Ma Kong Qun berkata.

“Dia pasti memperoleh luka tersebut sebelum dia mati.” GongSun Duan berkata.

“Mustahil.” Ma Kong Qun menjawab.

“Mengapa?” GongSun Duan berkata.

“Bila dia terluka sebelum mati, maka pasti ada bekas darah. Hanya mayat yang tidak mengeluarkan darah.” Ma Kong Qun menjelaskan.

Dia menoleh ke arah Yun Zai Tian dan bertanya,” Saat engkau melihat tubuhnya, apakah dia telah lama mati?”

Yun Zai Tian menganggukan kepalanya dan menjawab,” Paling tidak sudah dua jam, saat aku melihat tubuh ini, sudah kaku.”

“Ada apa dengan tangannya? Apakah keduanya mengepal dengan keras saat itu?” Ma Kong Qun bertanya.

Yun Zai Tian menurunkan kepalanya dan menjawab,” Aku tidak memperhatikan tangannya saat itu.”

Raut muka Ma Kong Qun berubah kesal,” Lalu apa yang menjadi perhatian mu?”

“Aku … aku sibuk bertanya kepengendara kereta.” Yun Zai Tian berkata.

“Dan apakah yang engkau peroleh?” Ma Kong Qun berkata.

“Tidak ada.” Yun Zai Tian berkata.

“Lain kali engkau harus ingat bahwa orang mati dapat menginformasikan lebih banyak daripada orang hidup, dan apa yang mereka katakan biasanya lebih dapat dipercaya.” Ma Kong Qun mencemooh.

“Ya.” Yun Zai Tian berkata.

“Kedua tangannya pasti dengan erat mengenggam sesuatu, apapun itu pasti merupakan infomrasi yang penting. Mungkin itu sesuatu yang dia rebut dari pembunuhnya. Bila engkau memperolehnya lebih dulu, pasti kita tahu siapa pembunuhnya saat ini.” Ma Kong Qun berkata.

Sinar mata ketakutan terbayang di mata Yun Zai Tian sesaat dia menjawab,” Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lain kali.”

Raut wajah Ma Kong Qun mulai menjadi sedikit tenang sesaat dia bertanya,” Apakah ada orang lain bersamamu saat engkau memperhatikan peti mati ini?”

Mata Yun Zai Tian tiba-tiba bercahaya seraya dia menjawab,” Ye Kai!”

“Apakah engkau memperhatian dia menyentuh mayat ini?” Ma Kong Qun berkata.

Yun Zai Tian menurunkan kepalanya lagi dan menjawab,” Aku tidak memperhatikannya, tapi …”

“Tapi apa?” Ma Kong Qun berkata.

“Dia kelihatannya sangat tertarik terhadap mayat ini, dia berdiri disampingnya beberapa lama.” Yun Zai Tian berkata.

“Kelihatannya pandangan pemuda ini jauh lebih baik darimu.” Ma Kong Qun berkata sambil tersenyum dingin.

“Orang ini bukan siapa-siapa namun hanya pencuri, kenapa kita harus peduli apakah dia mati atau hidup?” GongSun Duan memotong.

“Kita harus peduli.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa?” Gong Sun Duan bertanya.

“Meskipun dia hanya pencuri, dia adalah pencuri yang hebat. Dengan hanya sekali gerakan tangannya, dia dapat membuat uang sepuluh ribu tail menghilang. Pengamatannya terhadap orang lain pasti sangat akurat dan hati-hati.” Ma Kong Qun menjelaskan.

Dia melanjutkan dengan perlahan,” Itulah sebabnya aku mengirim seseorang untuk secara khususnya mengundangnya kemari …”

“Engkau secara khusus mengundangnya kemari?” GongSun Duan berseru.

“Aku menghabiskan lima ribu tail perat untuk mengundangnya kesini.” Ma Kong Qun berkata.

“Untuk apa engkau mengundangnya kemari?” GongSun Duan bertanya.

“Untuk memata-matai semua tamu kita untuk mencari tahu siapa yang bermaksud membalas dendam.” Ma Kong Qun berkata.

“Baiklah, kenapa engkau secara khusus memintanya?” GongSun Duan bertanya.

“Karena dia tidak ada hubungan dengan keadaan disini, tidak ada seorangpun yang akan mencurigainya, oleh karena itu secara alamiah dia memiliki kesempatan untuk mencari tahu.” Ma Kong Qun berkata.

GongSun Duan menghela napas dan berkata,” Sayangnya dia telah terbunuh sebelum dia menemukan sesuatu.”

“Bila dia belum menemukan sesuatu, lalu kenapa dia telah terbunuh!” Ma Kong Qun berkata.

“Oh?” GongSun Duan berkata.

“Dia telah dibungkamkan, tepatnya dia pasti telah mengetahui identitas tersangka!” Ma Kong Qun berkata.

“Jadi bila kita mengetahui siapa pembunuhnya, maka kita akan mengetahui siapa musuh kita?” GongSun Duan berkata.

“Itulah sebabnya bukti yang terdapat ditangannya sangat penting!” Ma Kong Qun berkata.

“Aku akan pergi untuk menanyakan Ye Kai apakah dia telah mengambil sesuati dari tangan Laba-laba Terbang.” GongSun Duan berkata.

“Tidak perlu.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa?” GongSun Duan berkata

“Saat dia mati, Ye Kai berada di kota, jadi Ye Kai pasti bukan pembunuhnya.” Ma Kong Qun berkata,” Selain itu, bila Ye Kai mengambil sesuatu dari tangannya, maka engkau tidak akan dapat merebutnya.”

Tangan GongSun Duan meraih pegangan goloknya, senyum dingin terlihat diwajahnya, dia melihat tidak percaya.

“Siapa yang bersamanya sebelum dia terbunuh?” Ma Kong Qun bertanya.

“Tuan Luo, MuRong Ming Zhu, dan Fu Hong Xue.” Yun Zai Tian menjawab.

“Dimana mereka sekarang?” Ma Kong Qun berkata.

“Fu Hong Xue kembali ke kota, Luo Luo Shan dan MuRong Ming Zhu belum terlihat.” Yun Zai Tian berkata.

“Pergilah cari mereka segera, bawa serta empat puluh anak buahmu.” Ma Kong Qun memerintah.

“Ya.” Yun Zai Tian berkata.

“Bagi anak buahmu menjadi empat kelompok, bawa persediaan makanan yang cukup, dan jangan kembali sebelum menemukan mereka!” Ma Kong Qun berkata.

“Ya.” Yun Zai Tian menjawab.

Tidak perdulia apa yang telah dikatakan Ma Kong Qun, raut mukanya tetap menurut dan menghormati. Dihadapan Ma Kong Qun, pendekara yang telah memperoleh kehormatan menjadi bukan siapa-siapa melainkan pembantu yang setia.

“Pergilah cari Fu Hong Xue!” GongSun Duan membentak.

“Tidak perlu.” Ma Kong Qun berkata.

“Kenapa tidak perlu? Jangan katakan padaku, anak kecil itu tidak dapat ditemukan juga!” GongSun Duan berkata.

Ma Kong Qun menghela napas dan berkata,” Dapatkah engkau katakan bagaimana orang ini terbunuh?”

GongSun Duan menatap pada golok ditangannya, kemudian menjawab,” Siapa yang bilang orang yang menggunakan golok harus membunuh dengan goloknya?”

Ma Kong Qun tidak segera menjawab. Yun Zai Tian perlahan-lahan beranjak pergi dan melangkah keluar gedung.

“Siapa yang bilang dia harus menggunakan goloknya untuk membunuh?” GongSun Duan bertanya.

“Dia sendiri.” Ma Kong Qun menjawab.

“Dia sendiri?” GongSun Duan berkata.

“Bila dia bermaksud membalas dendam, maka goloknya itu pasti simbol dari pembalasdendamana. Bila dia harus membunuh, maka dia pasti akan menggunakan golok tersebut!” Ma Kong Qun berkata.

Dia tertawa hambar dan melanjutkan,”Bila dia datang tidak dengan maksud membalas dendam, kenapa kita harus menganggunya?”

GongSun Duan tidak berkata-kata lagi. Dia berbalik dan melangkah keluar sambil melemparkan daun pintu, langkah kakinya lebih berat daripada seekor sapi besar.

________________________________________

Empat puluh orang, empat puluh kuda.

Empat puluh kantung yang terbuat dari kulit domba dipenuhi oleh air dan persediaan.

Pedang mereka telah diasah tajam, panah mereka telah disiapkan.

Yun Zai Tian memeriksa dengan teliti hingga dua kali sebelum menganggukan kepalanya”Sepuluh orang tiap kelompok, berpencar dan siap untuk mencari, jangan pernah kembali bila belum menemukan apapun!”

GongSun Duan telah kembali ke tempat tinggalnya. Meskipun belum dirapihkan, namun kamarnya masih cukup luas dan nyaman. Dindingnya dihiasi dengan hiasan kepala hewan, mejanya dipenuhi oleh botol-botol arak yang terhitung lagi. Bila dia menginginkan, seseorang akan mengantarkan seorang pelayan wanita yang cantik keruangannya. Ini semua diperoleh dari tahunan banting tulang, kucuran darah dan keringat.

Namun dia tidak pernah puas dengan kehidupannya ini, karena golok dan pecutnya masih terpendam dalam-dalam di dalam hatinya.

Dia telah menguburkan mereka dengan tangannya yang dibasahi oleh darah!

Tidak perduli apa yang dia telah lakukan, goloknya tetap mengirisnya di dalam dirinya, pecutnya tetap memecut jiwanya.

Gelas emas yang tergeletak di atas meja, masih dipenuhi oleh arak, dia menelannya dengan sekali teguk, air mata mengalir dari kedua matanya.

Seseorang akhirnya datang untuk pembalasan, yang telah dia lakukan adalah bersembunyi di rumahnya, dia menyeka air matanya dengan lengan bajunya – tidak perduli mengapa dia mengeluarkan air mata, ari mata tetaplah air mata.

Dia menuang lagi arak ke dalam gelasnya dan meminumnya.

“Perjuangan! Apa artinya? Bila seseorang disini bermaksud membunuhku, kenapa aku tidak pergi saja dan membunuhnya lebih dahulu?” GongSun Duan berseru.

Dia membanting pintu.

Mungkin sebenarnya dia tidak ingin membunuh, atau mungkin juga dia hanya takut.

Bukan pembalasdendaman, bukan kejengkelan, namun ketakutan!

Banyak orang yang membunuh karena rasa takut lebih banyak dibanding pembalasdendaman atau kejengkelan.

Kebanyakan orang membunuh bukan karena disakiti, namun lebih karena dia menyakiti yang lainnya.

Tragedi ini terjadi di dalam sejarah manusia sejak manusia diciptakan.

ooOOOoo

Apa yang akan dilakukan oleh GongSun Duan? Siapakah pelaku semua pembunuhan ini?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: