Kumpulan Cerita Silat

16/01/2008

Duke of Mount Deer (14)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:55 am

Duke of Mount Deer (14)
Oleh Jin Yong

‘Bagaimana aku harus bersikap agar orang tua ini tidak terus menerus memegangi aku?’ pikirnya kembali. ‘Kalau aku lolos, pertama-tama yang kulakukan adalah memadamkan semua lilin di atas meja itu agar ruangan ini menjadi gelap gulita.

Dengan demikian akan ada kesempatan bagiku untuk meloloskan diri.’ Diam-diam Siau Po memperhatikan orang-orang yang ada dalam ruangan itu. Kebanyakan terdiri dari laki-laki, ada beberapa hwesio dan tosu di antaranya. Juga terdapat beberapa wanita yang membawa senjata di pinggangnya.

Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya muncul dari kerumunan orang kemudian menghampiri meja sembahyang. Di samping meja itu dia berkata dengan suara keras.

“Hari ini sakit hati yang dalam telah terbalas! Toako, semoga arwahmu tenang di alam baka!”

Hanya berkata sampai di sini, dia sudah menangis menggerung-gerung, tubuhnya mendekam di atas meja sembahyang dan berguncang-guncang karena tangisannya yang mengharukan. Semua orang yang hadir dalam ruangan itu ikut menangis dengan sedih.

‘Kurang ajar orang-orang ini!’ pikir Siau Po yang mendongkol sekali. ‘Mereka harus didamprat!’ Baru berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merasa apabila dia benar-benar melakukan hal itu, berarti dia membahayakan dirinya sendiri. ‘Asal aku membuka mulut, mereka tentu akan menyerbu aku.

Bagaimana aku dapat meloloskan diri?’ Dia melirik ke kiri kanan. Orang-orang itu memang sedang menangis, tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Takutnya asal dia bergerak sedikit saja, tentu mereka akan mengejarnya dan akibatnya bisa lebih runyam lagi.

“Upacara sembahyang dimulai!” Terdengar seseorang berteriak dengan lantang. Rupanya dialah pemimpin upacara itu. Suaranya menunjukkan usianya tidak muda lagi.
Mendengar suara itu keluarlah seorang laki-laki yang bertelanjang dada. Kepalanya dibalut dengan sabuk putih. Tangannya terangkat tinggi ke atas sambil menggenggam sebuah nampan. Dan di atas nampan terdapat kepala seseorang yang dialasi dengan kain merah dan darahnya masih bercucuran. Hampir Siau Po semaput melihat kepala orang itu.

‘Celaka!’ gerutunya dalam hati. ‘Jangan-jangan mereka juga akan mengutungi kepalaku! Tapi, kepala siapakah itu? Kongcin ong atau saudara angkatku, So Ngo-tu?’ Karena nampan itu diangkat tinggi ke atas, Siau Po tidak dapat melihat kepala siapa yang berada di atasnya. Nampan itu lalu diletakkan di atas meja sembahyang. Pembawanya segera menjatuhkan diri berlutut. Orang-orang lainnya yang sedang menangis juga mengikuti perbuatannya.

‘Kapan lagi aku menyingkir kalau bukan sekarang?’ pikir Siau Po dalam hati. Dia segera menggerakkan kakinya. Belum sempat bertindak lebih
jauh, orang tua di sampingnya sudah menyambar tangannya dan menariknya kuat-kuat sehingga Siau Po terjatuh berlutut di sisinya.

Saking sengitnya, Siau Po memaki-maki dalam hati.

‘Go Pay bangsat! Kura-kura! Awas kau, di neraka pun lohu tidak akan mengampuni dirimu!’ Beberapa orang bangun, namun sebagian masih berlutut. ‘Suara tangisan masih terdengar.

‘Tidak tahu malu!’ maki Siau Po dalam hati. ‘Masa laki-laki menangis seperti ini? Memangnya siapa Go Pay, si manusia busuk itu? Apa sih kehebatannya sampai perlu ditangisi seperti ini? Dia toh sudah mati, apanya lagi yang perlu disayangkan?
Kenapa kalian harus menangis terus untuknya?’

Sesaat kemudian, seorang tua berjalan menuju sam ping meja dan berkata dengan suara lantang;

“Saudara sekalian, sakit hatinya In hiocu kita sudah terbalaskan! Akhirnya si jahanam Go Pay telah menerima bagiannya, kepalanya sudah dipenggal. Hal ini tentu saja merupakan berita gembira bagi Ceng-bok tong dari Tian-te hwe kita!”

Tian-te hwe adalah perkumpulan langit dan bumi.

Siau Po heran mendengar bahwa kepala Go Pay telah dipenggal.

‘Eh, apa artinya ini?’ tanyanya dalam hati. Dia merasa heran sekaligus terkejut juga gembira. ‘Apakah mereka bukan antek-anteknya Go Pay? Jadi mereka ini malah musuhnya si jahanam itu?’ Orang tua itu tetap berbicara, tetapi Siau Po sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sekian lama dia berdiam diri merenungkan apa yang sedang dihadapinya.

Terdengar orang tua itu berkata lagi:

“Hari ini kita menyerbu istana Kongcin ong. Syukur kita berhasil membekuk Go Pay dan membawanya pulang kemari! Dengan demikian nyali bangsa Tartar pasti ciut. lni merupakan keuntungan bagi perkumpulan kita yang bercita-cita menentang dan merobohkan kerajaan Ceng. Kita akan membangun kembali kerajaan Beng! Kalau bagian lain dari perkumpulan kita mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ceng-bok tong kita, tentu mereka akan merasa kagum!”

“Benar! Benar!” sahut yang lainnya serentak.

“Memang Ceng-bok tong kita telah berhasil memperlihatkan kehebatannya!” teriak seseorang.

“Pihak Ang-hoa tong yang biasa suka mengagulkan diri, tentu akan iri dengan keberhasilan kita kali ini!” seru yang lainnya tidak mau ketinggalan.

“Peristiwa ini tentu akan menjadi bahan percakapan di mana-mana. Apalagi kalau kita berhasil mengusir bangsa Tartar, tentu nama Ceng-bok tong akan semakin harum!”

“Memang bangsa Tartar harus diusir! Tapi lebih bagus lagi kalau kita bisa membasmi mereka!” Suasana dalam ruangan itu jadi gaduh karena teriakan di sana sini. Ucapan mereka penuh semangat sehingga kesedihan pun mulai terhapus karenanya.

Sekarang Siau Po sadar bahwa orang-orang itu adalah bangsa Han yang terdiri dari patriot-patriot pecinta negara dan sedang berusaha menentang pemerintah Boan. Siau Po masih muda dan belum banyak pengalaman, tetapi dia sering mendengar orang menyebut nama perkumpulan Tian-te hwe. Perkumpulan ini mempunyai cita-cita untuk menghancurkan kerajaan Ceng dan membangkitkan kembali kerajaan Beng. Dia juga sering mendengar berbagai usaha yang dilakukan perkumpulan itu.

Bangsa Boan terkenal dengan kekejamannya. Ketika terjadi penyerbuan di kota Yangciu, entah berapa banyak rakyat yang menjadi korban. Dia juga pernah mendengar tentang Suko hoat yang dengan berani menentang pemerintah Boan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.

Mendengar suara orang banyak itu, terbangkit juga semangat Siau Po sehingga untuk sesaat dia lupa bahwa sa at ini dia sedang menyamar sebagai si thaykam cilik.

Setelah suara teriakan agak mereda, orang tua itu baru melanjutkan kata-katanya kembali.

“Selama dua tahun kita selalu teringat sakit hati In hiocu, kita juga sudah mengucapkan sumpah bahwa kita akan membunuh Go Pay dan memenggal kepalanya sebagai korban sembahyang upacara arwah In hiocu. Sampai sekarang maksud kita baru tercapai. Hari ini melihat adanya kepala Go Pay di atas nampan, tentu arwah In hiocu akan tertawa senang di alam baka!”

“Benar! Benar!” seru yang lainnya serentak.

Terdengar seorang lainnya berkata.

“Dua tahun sudah sejak kita mengangkat sumpah akan membalaskan sakit hati In hiocu. Saat itu pula kita berjanji, apabila kita gagal, kita semua akan bunuh diri. Sebab, apabila kita mengalami kegagalan, kita yang dari bagian Ceng-bok tong bukanlah manusia tapi anjing-anjing buduk, tidak ada muka lagi bagi kita untuk hidup lebih lama. Untunglah akhirnya sakit hati ini dapat terbalas juga. Aku orang she Pwe sudah dua tahun lamanya tidak enak makan dan tidak enak tidur karena memikirkan pembalasan dendam bagi In hiocu. Tidak disangka-sangka kalau hari gembira ini tiba juga akhirnya!”

Saking gembiranya orang she Pwe itu sampai tertawa terbahak-bahak. Setelah itu masih ada’ beberapa orang lagi yang memberi komentar.

Siau Po yang menyaksikan hal itu diam-diam berpikir, ’Aneh kalian semua. Sebentar menangis, sebentar tertawa. Benar-benar mirip anak kecil!’

Suara gaduh pun reda. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan nada dingin :

“Apakah kita yang membunuh Go Pay?” Pertanyaan itu tajam sekali. Orang-orang yang ada dalam ruangan itu membungkam seketika. Pertanyaan itu juga tepat menikam ulu hati mereka, karena semuanya tahu bahwa yang membunuh Go Pay adalah seorang thaykam cilik. Beberapa pentolan bagian Ceng-bok tong sendiri yang menjadi saksinya.

Sampai sekian lama baru ada seseorang yang mengomentari pertanyaan itu.

“Memang bukan kita sendiri yang membunuh Go Pay. Tapi hal itu terjadi tepat ketika kami menyerbu ke istana pangeran itu. Orang yang membunuhnya justru menggunakan kesempatan ketika kekacauan terjadi sehingga dia berhasil!”

“Oh, begitu rupanya!” tanggap orang yang pertama dengan nada yang sedingin semula.

Orang yang kedua langsung bertanya dengan suara lantang.

“Ki losam, apa maksud kata-katamu itu?”

“Apa maksudku? Tidak ada! Aku hanya ingin bertanya, apabila ada orang dari Ceng-bok tong yang mengaku dirinyalah yang membunuh Go Pay, aku ingin tahu siapa orangnya?”

Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit dijawab.

Memang tajam dan menyakitkan, namun merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal.

Terdengar si orang tua yang bertubuh kurus berkata.

“Sebetulnya orang yang membunuh Go Pay adalah si thaykam cilik dari istana Sri Baginda.

Tetapi dia juga berhasil karena kebetulan dan menjapat kesempatan yang baik. Aku yakin arwah In Hiocu yang membimbing bocah itu membunuh Go Pay.

“Kita semua merupakan laki-laki sejati. Kita tidak boleh mengakui jasa orang lain!”

Semuanya terdiam. Semangat mereka menjadi kendur. Kegembiraan sebelumnya sirna entah kemana. Ternyata Go Pay dibunuh oleh orang lain.

“Selama dua tahun Ceng-bok tong tidak mempunyai pimpinan. Orang banyak mengangkat aku sebagai wakil ketua untuk sementara. Aku berusaha segenap kemampuanku, karena aku terus teringat sakit hati In hiocu. Sekarang Go Pay sudah mati.
Tugasku juga sudah selesai. Karena itu aku akan mengembalikan lencana Tongpai kita kepada In Hiocu. Setelah itu, silahkan saudara-saudara pilih seorang ketua yang pandai dan bijak.”

Selesai berkata dia mengeluarkan lencana permpulan mereka kemudian me1etakkannya di atas meja sembahyang. Laludia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali.

“Lie toako!” Terdengar seseorang berkata. “Selama dua tahun ini, kau telah membimbing kami dengan baik. Karena itu, selain engkau, tidak ada orang lagi yang lebih cocok menduduki jabatan ini. Harap toako jangan sungkan lagi, ambillah kembali lencana itu!”

Untuk beberapa saat semuanya terdiam, sampai terdengar seseorang berkata.

“Kedudukan hiocu tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri. Tidak bisa sembarangan memilih satu orang kemudian membiarkannya menjadi ketua Ceng-bok tong. Kedudukan itu harus ditentuka oleh Ketua pusat!”

“Memang benar!” kata orang yang pertama.

“Tapi, jangan lupa, biasanya setelah calon itu terpilih dan diajukan kepada pusat, tidak pernah ada tantangan. Jadi penetapan dari pusat hanya formalitas saja.”

“Menurut apa yang aku ketahui,” kata seorang lainnya. “Setiap hiocu yang baru dipilih oleh hiocu yang lama.”

“Itu terjadi apabila hiocu yang lama sudah tua atau sakit dan tidak dapat menjalankan tugas lagi. Tapi, itu juga atas dasar kesepakatan semua orang, bukan satu orang saja,” sahut yang lainnya.

Terdengar orang yang pertama berkata kembali, “Sungguh sayang hiocu yang dahulu yakni In hiocu telah dibunuh oleh Go Pay. Dengan demikian tidak ada pesan terakhir dari beliau. Ki lao-liok, hal ini kau bukannya tidak tahu, mengapa sekarang kau berlagak bodoh? Aku tahu maksudmu! Kau menentang Lie toako sebagai hiocu, karena kau mempunyai niat buruk, kau sudah merencanakan sesuatu!”

Orang yang dipanggil Ki lao-liok menjadi marah mendengar ucapan tadi.

“Apa niat burukku? Apa yang kurencanakan? Cui toucu bicaralah yang jelas, jangan sembarangan memfitnah!”

Orang yang dipanggil Cui toucu juga jadi gusar.

“Hm!” Terdengar dia mendengus dingin. “Marilah kita bicara blak-blakan. Di dalam Ceng-bok tong kita, siapa yang tidak tahu bahwa kau ingin menunjang kau punya cihu (kakak-ipar). Bi-jiam Kong Kwan hucu sebagai hiocu? Apabila Kwan hucu menjadi hiocu, otomatis kau sendiri akan menjadi Kok-kiu loya (Tuan besar ipar ketua). Dengan demikian kau akan mendapat kedudukan tinggi dan kau bisa berbuat suka hatimu. lngin angin, angin pun datang, ingin hujan, hujan pun turun?”

“Kwan hucu itu kebetulan kakak iparku atau bukan, adalah masalah lain!” bentak Ki lao-liok.

api kalian harus ingat, dalam penyerbuan ke istana Kongcin ong, yang memimpin adalah Kwan hucu. Dia berhasil pulang dengan membawa kemenangan. Menilik kepandaiannya, bukankah dia pantas menjabat sebagai hiocu? Li toako memang berhak, dia juga memenuhi syarat, orangnya baik, aku tidak menentangnya secara pribadi. Akan tetapi kalau bicara tentang kepandaian, Kwan hucu masih berada di atasnya!”

Mendengar kata-kata itu, Cui toucu langsung tertawa terbahak-bahak. Nada suaranya mengandung ejekan. Hal ini membuktikan bahwa dia tidak memandang sebelah mata pun.

“Apa yang kau tertawakan?” bentak Ki lao-lio yang menjadi semakin marah. “Apa ada kata-katak yang salah?”

Cui toucu kembali tertawa.

“Kau tidak salah. Ucapan Ki lao-liok mana mungkin salah? Aku hanya merasa kepandaian Kwan hucu memang luar biasa, sebab kota besar mana pun sudah dia lalui, tetapi tidak ada satu pu panglima besar musuh yang sanggup dibinasakannya. Bahkan akhirnya seorang Go Pay yang suda dipenjarakan juga mati di tangan seorang boca cilik!”

Tiba-tiba seseorang keluar dari kerumuna Siau Po mengenalinya sebagai orang tua berjenggot yang memimpin penyerbuan ke istana Kongcin ong dia memang tampak gagah. Tapi dikala hatinya sedang marah seperti sekarang ini, wajahnya kelihatan berwibawa sekali.

Sebenarnya dia bernama Kwan An-ki, tetapi karena kumis dan jenggotnya yang panjang, orang menjulukinya Kwan kong. Kebetulan she-nya juga sama. ltulah sebabnya orang-orang menyebutnya Kwan hucu (Nabi Kwan).

Tampak Kwan hucu mendelikkan matanya lebar dan berkata dengan suara lantang.

“Saudara Cui, kau boleh berdebat dengan Ki lao-liok, kau juga bebas menyebutkan apa pun yang kau sukai. Tapi aku tidak bersalah apa-apa kepadamu, jangan kau seret aku dalam perselisihan ini. Bukankah kita semua telah bersumpah dan mengangkat saudara di hadapan para dewa untuk hidup dan mati bersama? Mengapa sekarang kau bersikap demikian terhadapku, apa maksudmu sebenarnya?”

Si orang she Cui itu ngeri juga melihat kemarahn Kwan hucu, kakinya sampai menyurut mundur satu langkah.

“A… aku tidak bermaksud… mencela engkau…. Tapi, Kwan toako, apabila kau setuju Li toako yang menjadi ketua Ceng-bok tong, aku akan berlutut di adapanmu dan minta maaf atas kata-kataku tadi!”

Kwan An-ki menatapnya dengan sorot mata garang.

“Aku juga tidak berani menerima penghormatan yang demikian besar darimu. Tapi kau harus mengerti, siapa pun yang akan menjadi hiocu, aku tidak berhak mengatakan apa-apa. Dan kau, sauara Cui, kau juga belum menjadi ketua pusat, jadi… siapa pun yang menjadi ketua Ceng-bok tong ini, belum giliranmu untuk menentukannya!”

Cui tou cu menyurut mundur lagi satu langkah.

“Kwan jiko, apakah kata-katamu juga tidak menyinggung perasaan orang? Aku Cui toucu, mempunyai kesadaran sendiri. Meskipun aku menjelma delapan belas kali lagi, tetap saja tidak pantas menjadi ketua Tian-te hwe. Aku hanya mengatakan bahwa sin-gan Kim Ci (Mata Malaikat bersayap emas) Lie toako adalah seorang tokoh yang dihormati kalangan kita. Usianya sudah tua, tindakannya bijaksana. Apabila beliau yang terpilih menjadi ketua Ceng-bok tong, aku yakin sembilan bagian orang-orang kita akan menyetujuinya!”

Di antara para hadirin terdengar seseorang menukas.

“Cui toucu, kau bukan mereka, kau tidak bisa menyusup ke dalam jiwa delapan sembilan bagian dari orang-orang Ceng-bok tong, bagaimana kau bisa mengatakan mereka semua akan menyetujuinya? Lie toako memang orangnya baik, kita bisa mengajaknya minum arak bersama-sama, dapat pula mengajaknya bercerita atau bersenda gurau. tetapi untuk mengangkatnya sebagai hiocu, mungkin delapan bagian atau sembilan bagian dari kita tidak menyetujuinya!”

“Kalau menurut aku, kata-kata saudara Tio memang tepat sekali!” tukas seorang lainnya.

“Kita tidak bisa memandang tinggi satu orang yang menjadi pujaan kita. Kita ingin menghancurkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng kita. Kita juga bukan guru besar kita Kong Hu Cu yang bisa bicara soal filsafah maupun etiket. Bangsa Tartar tidak dapat diusir dengan nama besar saja. Orang yang kau katakan tadi banyak bisa dijumpai di mana-mana!” Para hadirin tertawa mendengar kata-katanya yang kocak. Lalu seseorang bertanya:

“Kalau begitu, Saudara, menurutmu siapakah “Menurut pinto…” tukas seorang pendeta agama To. “Orang yang gagah dan pandai itu memang hanya Lie toako seorang!”

“Kami memilih Kwan hucu!” seru berpuluh-puluh orang lainnya.

“Kepandaian Lie toako tidak dapat menandingi Kwan hucu!”

“Kwan hucu selalu serius dalam menangani persoalan apa pun. Semua orang mengetahui hal ini dan semua juga mengaguminya!” kata seorang tosu.

“Benar! Benar!” Berpuluh orang tadi segera memberikan sambutan: yang meriah. “Nah, apalagi yang akan kalian katakan?”

“Sabar! Sabar!” teriak si tosu yang pertama.

“Dengar dulu kata-kataku ini. Satu hal yang harus kalian ingat adalah watak Kwan hucu. Dia terlalu berangasan. Asal kurang senang, seenaknya dia mencaci orang. Di matanya, kalian hanya bawahannya, sedangkan terhadap dia, kalian merasa segan. Karena itu, apabila dia menjadi hiocu, dikhawatirkan semuanya menjadi tidak tenang!”

“Tapi belakangan ini watak Kwan Hucu sudah jauh lebih baik. Aku yakin bila dia sudah memangku jabatan sebagai hiocu, sifatnya akan berubah semakin baik!” Seseorang ikut memberikan tanggapan.

Tosu itu menggelengkan kepalanya.

“Negara mudah dirubah, tidak demikian halnya dengan watak seseorang. Tabiat Kwan hucu adalab bawaan sejak lahir. Mungkin sekali-sekali dia bisa mengendalikan dirinya, tetapi apakah dia juga bisa mengendalikan dirinya setiap saat? Belum tentu! Sedangkan kedudukan hiocu bukan untuk sehari dua, namun untuk selamanya! Karena itu kita harus menjaga, jangan karena watak buruk seseorang.
terjadi perpecahan di antara kita. Sekali saja terjadi keributan di antara kita, maka usaha yang telah dipupuk sekian lama, usaha yang mempunyai cita-cita luhur akan menjadi berantakan!” Ki lao-liok ikut membuka suara.

“Kou Yao totiang, menurut pandanganku, sifatmu sendiri belum sempurna!”

Mendengar sindiran itu, Kau Yap tojin, si tosu tadi, tertawa lebar.

“Benar apa yang dikatakan orang bahwa urusan pribadi masing-masing, diri sendirilah yang paling paham. Perangai pinto memang tidak baik. Sering pinto berbuat kesalahan. ltulah sebabnya pint berusaha untuk mengurangi pembicaraan, tetapi dalam hal pengangkatan hiocu ini, pinto tidak bisa berdiam diri. Karena hal ini menyangkut kepentingan Ceng-bok tong kita. Terpaksa pinto mengungkapkan isi hati. Tabiat pinto tidak baik, pinto juga tidak tertarik menjadi hiocu. Kalau ada saudara yang tidak puas dan tidak memilih pinto, malah suatu hal yang kebetulan. Menjauhkan diri dari pinto memang merupakan hal yang terbaik. Tetapi apabila pinto yang menjadi hiocu, tentu pinto tidak mau tidak dihiraukan sebawahannya atau pun tidak dipandang sebelah mata!”

Ki lao-liok menjadi tidak puas mendengar ucapannya.

“Toh tidak ada orang yang mengajukan dirimu sebagai hiocu. Mengapa sekarang kau banyak bacot?” Tiba-tiba tosu itu menjadi marah.

“Ki lao-liok!” teriaknya. “Sahabat-sahabatnya dari dunia kangouw, apabila bertemu dengan pinto, mereka menyebut pinto dengan panggilan totiang. Bahkan Cong tocu sendiri, ketua pusat kita juga masih sungkan terhadapku. Mana ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti engkau? Biar pinto katakan terus-terang kepadamu, apabila Kwan hucu diajukan sebagai hioeu Ceng-bok tong, pintolah orang yang pertama yang menyatakan tidak setuju. Kalau dia memaksakan diri juga, dia harus memenuhi sebuah syarat!”

Ki lao-liok mendongkol sekali mendengar ucapan tosu itu, tapi dia berusaha untuk mengendalikan emosinya.

“Apa yang kau maksudkan? Bicaralah yang jelas agar kita semua bisa mempertimbangkannya!”

Kou Yap tojin menatap Ki lao-liok dengan tajam, kemudian baru dia berkata:

“Syarat yang harus dipenuhi oleh Kwan hucu ialah harus bercerai dengan Sip Ciok Cin-kim Ki Kim-to!”

Mendengar jawaban rahib itu, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa terpingkal-pingkal karena merasa lucu sekali.

Hal ini disebabkan Sip Ciok Cin-kim (Seratus persen emas murni) Ki Kim-to adalah istrinya Kwan hucu. Dia adalah kakak perempuannya Ki lao-liok. Julukannya itu didapat karena dia menggunaka senjata yang merupakan sepasang golok emas.

Sekarang Kou Yap tojin justru mengajukan syarat yang aneh itu. Tentu saja orang-orang yang mendengarnya jadi geli.

Sebetulnya Ki Kim-to adalah seorang wanita yang baik. Wataknya jujur. Ki lao-liok juga cukup baik, sayangnya dia terlalu menyanjung cihu sendiri. Padahal watak Kwan hucu justru mudah marah dan berangasan. Karena itu banyak orang membicarakan perangainya yang buruk.

Kwan hucu yang mendengar ucapan Kou tojin terus berdiam diri. la tidak ingin berdebat dengan siapa pun. Tosu itu juga tidak mau memperpanjang urusan. Dia tertawa lebar.

“Kwan hucu, kita adalah saudara angkat. Berbagai bahaya telah kita lalui bersama. Oleh karena itu, jangan karena perdebatan sesaat, persaudaraan kita menjadi hancur karenanya. Barusan pinto hanya bergurau, harap kau maafkan aku. Nanti kalau kembali ke rumah, harap jangan sampaikan apa yang kukatakan kepada enso. Kalau tidak, mungkin dia akan datang kemari dan menarik kumis dan jenggotku ini sampai putus!”

Kembali orang-orang yang ada dalam ruangan tertawa terbahak-bahak. Imam itu memang jenaka sekali. Kwan An-ki juga segan terhadap tosu itu. Dia tidak berkata-kata hanya bibirnya saja yang tersenyum.

Pemilihan hiocu masih menjadi bahan pembicaraan. Ada yang memuji Lie toako yang sudah tua dan bijaksana. Ada yang memilih Kwan hucu yang gagah. Sampai cukup lama masalah ini masih belum juga dipecahkan.

Selagi orang ramai masih membicarakan peralan itu, tiba-tiba terdengar seseorang menangis meraung-raung sambil berkata.

“In hiocu, oh, In hiocu! Semasa hidupmu, kami dari Ceng-bok tong selalu rukun satu sama lainnya. Semua saudara tua dan muda tidak ada perbedaan;. Kita selalu bersatu dalam menghadapi apa pun.bercita-cita merobohkan kerajaan Ceng dan bangun kembali kerajaan Beng kita! Siapa nyana kau justru mati di tangan Go Pay si jahanam!
Sampai sekarang tidak ada orang yang hebat seperti toako. Oh, In hiocu, kecuali kau hidup kembali, kami pasti tidak bisa rukun seperti dulu. Kami akan seperti pasir yang buyar terhempas ombak. Kita bisa kompak lagi seperti semasa hidupmu!”

Mendengar kata-kata itu, orang-orang lainnya teringat kepada In-hiocu. Mereka sedih sekali. Bahkan sebagian di antaranya ikut menangis dengan pilu.

Tepat pada saat itu, terdengar seseorang lainnya berkata.

“Lie toako mempunyai kebaikan tersendiri, demikian pula dengan Kwan hucu. Kedua-duanya merupakan saudara kita. Karena itu, jangan karena urusan mereka berdua, masalah pemilihan hiocu ini jadi kacau. Dengan demikian tali persaudaraan kita bisa kendor dan kita pun tidak dapat hidup rukun lagi sebagaimana biasanya. Menurutku, lebih baik kita serahkan urusan ini kepada In hiocu. Kita undang arwahnya. Kita tulis nama Lie toako dan Kwan hucu, kemudian kita memasang hio bersembahyang kepada In hiocu dan memohon keputusannya. Bukankah cara ini yang paling bagus?”
Beberapa orang segera menyatakan persetujuannya.

“Cara itu tidak bagus!” bantah Ki lao-liok.

“Kenapa tidak?” tanya seseorang.” “Siapa yang akan mengundi nama-nama itu?”

“Bersama-sama kita pilih seseorang untuk menjadi pengundinya.”

“Bagaimana kalau orang itu tidak jujur?”

“Benar!
Bagaimana kalau ada yang berani main gila?”

“Tidak mungkin!” teriak Cui tou cu. “Di depan arwahnya In hiocu, siapa yang berani main gila?”

“Hati manusia sulit diterka. Biar bagaimana kita harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan!”

kata Lao-liok yang kukuh pada pendiriannya.

“Kau benar-benar edan! Siapa yang berani main gila kecuali kau?” bentak Cui tocu.
Lao-liok menjadi gusar mendengar kata-katanya.

“Siapa yang kau maki?”

“Aku memaki kau, bocah cilik!” sahut Cui toucu terus-terang. “Mau apa kau?”

“Sebenarnya aku sudah berusaha untuk sabar, tetapi kali ini habislah kesabaranku!” bentak Ki lao-liok.

Ki lao-liok langsung menghunus goloknya dan berkata.

“Cui toucu, mari kita pergi ke halaman luar untuk mengadu kepandaian!” tantangnya.

Dengan tenang Cui toucu juga menghunus Senjatanya.

“Kau yang menentang aku, terpaksa aku melayani!” Dia menolehkan kepalanya kemudian berkata.

“Kwan hucu, kau lihat sendiri!” .

“Kita semua merupakan saudara. Jangan karena urusan ini timbul perselisihan. Cui toucu, tanpa sebab musabab kau memaki iparku. Kesalahan ada padamu!”

“Aku sudah menduga bahwa kau akan membela iparmu itu dan menyalahkan aku. Kwan hucu, belum jadi hiocu saja pertimbanganmu sudah berat sebelah. Apalagi kalau kau benar-benar terpilih menjadi hiocu?”

Kwan An-ki marah sekali.

“Apa orang yang sembarangan memaki itu kelakuannya benar? Apalagi kau mengucapkan kata-kata yang kasar, lalu maumu, aku harus bagaimana?” Ucapan Kwan hucu dianggap lucu, sehingga orang-orang yang mendengarkan jadi tertawa.

Lao liok yang mendapat pembelaan dari cihunya semakin besar kepala. Dia segera beranjak dari tempatnya dan menantang.

“Cui toueu, silahkan!” Ada seseorang yang segera memegangi tangannya dan menengahi
.
“Lao-liok, kau ingin cihumu menjadi hiocu, pemikiran ini memang tidak salah. Tapi kau jangan melakukan kesalahan terhadap orang lain. Apalagi di hadapan orang banyak. Seharusnya dalam segala hal kau bisa mengalah!”

Perlahan-Iahan Cui toueu memasukkan goloknya ke dalam sarung. .

“Bukannya aku takut kepadamu,” katanya kepada Ki lao-liok. “Aku hanya memandang saudara-saudara kita yang lainnya. Tapi aku tegaskan sekali lagi, apabila Kwan hucu ingin menjadi hiocu, biar bagaimana aku orang she Cui tidak setuju! Wataknya Kwan hucu masih lumayan, tapi lain halnya dengan Ki lao-liok. Lebih baik bertemu dengan Giam lo-ong daripada algojonya!” Siau po berdiri di sam ping. Dia dapat mendengar semuanya dengan jelas. Tanpa terasa dia menjadi tertarik. Rasa takutnya sudah hilang karena tahu dirinyalah yang salah sangka. Tadinya dia mengira orang-orang itu adalah antek-anteknya Go Pay, ternyata bukan, malah sebaliknya merekalah musuh bangsa Boan. Tapi masih juga terselip kekhawatiran di hatinya, yakni orang-orang itu merupakan patriot pecinta negeri sedangkan saat ini dia sendiri menyaru sebagai thaykam cilik Wiri istana kerajaan musuh.

‘Mana mungkin mereka percaya kalau aku bukan seorang thaykam?’ pikirnya dalam hati. ‘Sebentar lagi, apabila mereka sudah mengambil keputusan, mungkin aku akan dibunuhnya. Apalagi aku sudah mendengar rahasia mereka. Pasti mereka akan membungkam mulutku untuk selamanya. Taruh kata aku tidak dibunuh, mereka pasti akan mengurung aku untuk selamanya. Satu-satunya jalan yang paling baik adalah menyingkirkan diri selagi masih ada waktu!’

Perlahan-lahan Siau Po bergerak mundur untuk mencapai pintu. Dia berharap akan terjadi kekacauan di antara mereka sendiri sehingga dia dapat melarikan diri dari tempat itu.

“Mengundi hanya permainan anak-anak!” Terdengar seseorang memberikan komentar.

“Menurut aku, paling baik kita gunakan cara yang singkat dan tegas, yakni membiarkan Lie toako dan Kwan hucu mengadu kepandaian. Boleh dengan tangan kosong maupun senjata tajam, tapi sebatas saling menotol saja. Dengan demikian tidak ada pihak yang sampai terluka. Kita semua menonton dari samping, siapu yang menang atau kalah, kita putuskan bersama. Bagaimana ?”

Ki lao-liok setuju. Dialah yang pertama-tama menganggukkan kepalanya.

“Bagus! Begitu saja keputusannya. Kita gunakan cara mengadu kepandaian. Kalau Lie toako yang menang, aku akan menghormatinya sebagaimana layaknya seorang hiocu!”

Mendengar ucapannya, Siau Po berpikir dalam hati.

‘Belum tentu apa yang kau katakan jujur. Siapa tahu kau memang sudah yakin cihumu yang bakal meraih kemenangan? Kalau begitu, buat apa mereka mengadu kepandaian?’

Kalau Siau Po saja bisa mempunyai pikiran seperti itu, tidak heran yang lainnya juga berpikiran sama. Buktinya banyak orang yang memprotes usul itu. Bahkan ada yang mengatakan.

“Untuk menjadi seorang hiocu, harus ada dukungan dari kita semua. Bukankah kita semua terdiri dari saudara? Persaudaraan tidak ada hubungannya dengan kepandaian. Tidak perduli siapa yang kepandaiannya lebih tinggi atau lebih rendah!”

“Kalau kita mengambil keputusan berdasarkan pibu, taruh kata Kwan hucu berhasil menang, lalu ada orang lagi yang menentangnya dan orang itu menang. Dengan demikian bukankah orang itu yang pantas menjadi hiocu? Sampai kapan urusan ini baru bisa diselesaikan?”

“Itu bukan cara untuk memilih hiocu tapi pertandingan di atas panggung. Kalau demikian, lebih baik Kwan hucu membangun panggung saja dan menentang setiap orang untuk mengadu kepandaian!” kata yang lain.

“Andaikata Go Pay belum mati, mungkin Kwan hucu sendiri tidak sanggup mengalahkannya. Lalu apabila hal ini sampai terjadi, seandainya Go Pay tidak mati, apakah kita harus memilihnya sebagai hiocu kita?” tukas orang yang lain.

Mendengar pertanyaan itu, orang banyak langsungtertawa geli. Justru di saat itu terdengar pula ratapan seseorang.

“Oh, In hiocu! Setelah engkau menutup mata, orang tidak menghormatimu lagi! In hiocu dengar sendiri, apa yang mereka ucapkan di depan meja sembahyangmu! Sumpah yang pernah mereka ucapkan sekarang hanya angin busuk belaka!”

Siau Po mengenali suara orang itu sebagai Ki losam yang paling pandai menyindir dengan ucapannya yang tajam.

Begitu suara itu terdengar, suara bising pun sirap seketika. Ruangan itu menjadi sunyi seketika. Semua orang dapat merasakan tajamnya kata-kata itu.

“Eh, Ki losam apa maksud ucapanmu itu?” tanya beberapa orang.

“Hm!” Ki losam mendengus dingin. “Dulu ketika In hiocu meninggalkan, aku juga ikut berlutut menyembah di depan peti matinya. Aku juga menusuk jari tanganku dan dengan darah sendiri-sendiri kita bersumpah akan membalas sakit hati bagi In hiocu. Aku ingat apa yang pernah kita ucapkan waktu itu, siapa pun yang berhasil membunuh Go Pay, kita akan mengangkatnya sebagai hiocu. Aku masih mengingat dengan baik sumpah itu dan aku tidak mau mengingkarinya. Apa yang telah kuucapkan bukan sekedar angin busuk!”

Semua orang terdiam mendengar kata-katanya. Sumpah itu memang bukan hanya diucapkan oleh Ki losam, tetapi mereka semua juga mengucapkannya. Dan sebetulnya mereka tidak mungkin melupakannya.

Sesaat kemudian baru terdengar Ki lao-liok berkata.

“Ki samko, apa yang kau katakan memang tidak salah. Bukan hanya engkau yang mengucapkan sumpah itu, aku juga, bahkan kita semua juga mengucapkannya. Tapi kau tahu, aku juga tahu, kit a semua tahu bahwa yang membunuh Go Pay adalah bocah itu….”

Dia menoleh, tepat pada saat Siau Po sampai di ambang pintu. Ki lao-liok terkejut sekali, dengan gugup dia berseru.

“Tangkap dia!’ Jangan biarkan dia lolos!” Siau Po juga terkejut. Dia ingin lari terus, tetapi jalannya langsung dihadang beberapa orang. Dengan demikian gagallah niatnya itu. Siau Po kena dicekal dengan mudah dan ditenteng kembali ke dalam ruangan.

“Hai kura~kura sekalian!” teriak Siau Po dengan berani. “Kura-kura! Mau apa kalian menyeret-nyeret lohu?” Siau Po menganggap dirinya tidak mungkin dibiarkan- hidup, karena itu sebeluIIl mati dia ingin berteriak sepuas-puasnya. Dia ingin memaki mereka habis-habisan.

“Eh, eh. Saudara kecil, jangan sembarangan memaki orang! Tunda dulu cacianmu itu!” kata seorang laki-laki berdandanan siu cai.

Siau Po menolehkan kepalanya, dia mengenali orang yang berbicara.

“Kau toh Ki losam?” tanyanya.

Ki losam yang bernama Ki Piu-cengmenatapnya dengan heran.

“Eh, kau kenai aku?”

“Kau tanya aku kenai denganmu?” kata Siau Po.

“Tidak. Aku kenal dengan ibumu!” Losam tambah bingung. Tampangnya seperti orang pandir.

“Bagaimana kau bisa kenal dengan ibuku?”

“Tentu saja aku kenai dengan ibumu. Malah kami bersahabat karib!” kata Siau Po seenaknya.

Orang-orang yang mendengarkan ucapannya jadi tertawa geli.

“Aih! Lidah bocah ini sungguh tajam!” Terdengar komentar beberapa orang.

Wajah Ki Piu-ceng merah padam seketika.

“Aih! Saudara kecil ini memang suka bergurau!” Tampangnya menjadi serius. “Saudara kecil, bolehkah aku tahu mengapa kau membunuh Go Pay?”

Siau Po segera mendapat akal yang bagus. Pada dasarnya dia memang cerdik sekali dan pandal mengikuti perkembangan di sekitarnya.

“Go Pay si jahanam!” katanya dengan sepasang tinju dikepalkan. “Dia manusia terkutuk yang telah banyak melakukan kejahatan. Terutama dia telah membunuh banyak patriot pecinta negara? Dialah musuh besarku! Aku Wi Siau-po telah bersumpah tidak sudi hidup dalam satu jaman dengannya. Aku seorang rakyat jelata, tapi dia membekuk aku dan membawaku ke istana. Di sana aku dipaksanya menjadi thaykam. Sungguh menyesal aku tak sempat mencincang tubuhnya atau melemparkan tubuhnya menjadi mangsa buaya di sungai!”

Sengaja Siau Po mengucapkan kata-katanya dengan keras dan penuh semangat agar semua orang mendengar nya.

Ternyata semua orang yang hadir dalam ruangan itu jadi tertarik perhatiannya. Mereka bahkan saling pandang dengan terkesima.

“Sudah lamakah kau menjadi thaykam?” tanya Ki Piu-ceng.

“Lama? Setengah tahun pun belum! Aku berusal dari Yangciu, dibekuk oleh Go Pay kemudian dibawanya ke istana dengan paksa. Si jahat, Go Pay!

Kalau dia mati, mayatnya harus dibawa ke gunung Solok, arwahnya akan menerima siksaan dalam kuali panas! Batok kepalanya dipantek dengan tusuk konde!”

Selama berbicara, Siau Po sengaja mengeluarkan logat Yangciu.

“Benar. Dia memang orang Yangciu!” kata seorang wanita yang berasal dari daerah yang sama.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: