Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (07)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:42 am

Rahasia Peti Wasiat (07)
Oleh Gu Long

“Hei, jangan mengacau!” seru A Sian dengan gugup.

It-hiong coba mendorong pintu sambil berteriak lantang, “Jika pintu tidak segera kau buka, biar kudobrak saja.”

“Hei, jangan!” teriak A Sian di dalam.

It-hiong terbahak-bahak, “Kuhitung sampai tiga, jika tetap tidak buka pintu segera kudobrak. Nah, satu … dua ….”

“E-eh, nanti dulu … nanti dulu!” seru A Sian dengan kelabakan.

Lalu terdengar suara keresak-keresek, suara orang memakai baju dengan tergesa-gesa, kemudian pintu lantas terkuak, tertampak rambut A Sian kusut dan baju tidak teratur, muka merah, begitu melihat Liong It-hiong, ia melengak, serunya, “Eh, kiranya kau?!”

“Memang betul aku, kalian lagi berbuat apa?” jawab It-hiong dengan tersenyum.

Dengan melotot A Sian tanya lagi. “Kau cari siapa?”

It-hiong coba memandang ke dalam kamar, selagi ia hendak bilang mencari Pang Bun-hiong, mendadak dilihatnya lelaki yang meringkuk di tempat tidur itu ternyata bukan Pang Bun-hiong adanya.

Keruan ia melenggong, serunya, “Hah, ke mana dia?”

“Apakah kau cari Pang-kongcu itu?” tanya A Sian.

“Ya, di mana dia?” tanya It-hiong.

Seketika A Sian mencibir, “Dia sudah pergi!”

It-hiong menjadi serbasalah, cepat ia mundur dan berkata, “O, maaf, kukira dia masih di sini.”

Habis berkata cepat ia mengeluyur pergi.

Tentu saja A Sian uring-uringan, sekuatnya ia menggabrukkan pintu.

Setiba di ruang depan, terlihat Pang Bun-hiong asyik mengobrol dengan Cui-coa-yo, keruan It-hiong berteriak, “Berengsek, kenapa kau lari ke sini.”

“Memangnya ada apa?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Kukira engkau masih berada di kamar A Sian, kugedor pintu kamarnya dan mengacau orang yang lagi asyik,” tutur It-hiong.

Bun-hiong tergelak geli sambil berdiri, “Mau berangkat sekarang?”

“Ya, berangkat,” jawab It-hiong.

Bun-hiong lantas berkata dengan tertawa terhadap Cui-coa-yo, “Kami hendak pergi sekarang, jangan kau lupa kepada pesanku tadi.”

“Tidak, jangan khawatir,” jawab Cut-coa-yo.

Begitulah Bun-hiong dan It-hiong lantas meninggalkan rumah hiburan itu.

“Eh, engkau tidak main dengan A Sian?” tanya It-hiong sesudah di luar.

“Tidak,” jawab Bun-hiong.

“Kenapa, apa dia kurang baik?” tanya It-hiong heran.

“Bukan begitu,” kata Bun-hiong.

“Habis kenapa tidak main?” tanya It-hiong pula.

“Demi dirimu,” tutur Bun-hiong akhirnya.

“Demi diriku?” It-hiong melengak.

“Ya, demi dirimu,” kata Bun-hiong dengan tersenyum. “Coba jawab, apakah kau kira cerita Giok-nio itu semuanya benar!”

“Tidak,” jawab It-hiong. “Dia mengaku bernama Ni Beng-ay dan kakaknya bernama Ni Lam-hui, semua itu dusta belaka. Yang benar kakaknya adalah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam, ini pasti tidak salah lagi.”

“Kenapa tidak kau bongkar saja kebohongannya?” tanya Bun-hiong.

It-hiong tersenyum, “Aku masih ingin menangkap si kakek berbaju kelabu itu, maka aku tidak mau memukul rumput mengagetkan ular.”

Bun-hiong mengangguk, “Ya, betul, dia bilang si kakek bernama Tam Pek-sun, apakah kau percaya?”

“Tidak, tidak pernah kudengar ada tokoh bernama begitu di dunia persilatan,” ujar It-hiong.

“Betul, aku juga tidak,” kata Bun-hiong. “Maka perkataannya dapat dipastikan bohong belaka. Lalu bagaimana keputusanmu?”

“Akan kuintai gerak-geriknya secara diam-diam, bisa jadi dengan cara begini akan dapat kubekuk si kakek baju kelabu,” tutur It-hiong.

“Untuk mengintainya perlu siang dan malam berbuat begitu, maka ingin kurundingkan denganmu.”

“Tidak perlu berunding, semuanya sudah kuatur dengan baik bagimu,” kata Bun-hiong.

“Ah, rupanya engkau telah memberi pesan kepada Cui-coa-yo agar diam-diam mengawasi anak buahnya, begitu melihat si kakek baju kelabu muncul agar segera kita diberi tahu, begitu bukan?” seru It-hiong girang.

“Betul,” Bun-hiong mengangguk.

It-hiong menepuk pundak kawannya itu, serunya dengan tertawa gembira, “Aha, bagus sekali, engkau ini memang benar pembantuku yang baik.”

Bun-hiong hanya tertawa saja tanpa bersuara.

“Tapi apakah Cui-coa-yo pasti akan menurut kepada pesanmu?” tanya It-hiong kemudian.

“Pasti menurut,” ujar Bun-hiong. “Dia tergolong perempuan yang cerdik, ia lebih suka bersalah kepada Giok-nio daripada membikin marah padaku. Ia tahu aku adalah salah seorang buaya darat di kota Kim-leng ini.”

“Apakah Cui-coa-yo pernah melihat kakek berbaju kelabu itu?” tanya It-hiong.

“Sudah kutanyai dia,” tutur Bun-hiong. “Ia bilang beberapa tahun yang lalu memang ada seorang kakek datang menemuinya dan meninggalkan lima ratus tahil perak. Lalu membawa pergi Giok-nio. Menurut alasan si kakek katanya Giok-nio hendak diajak pesiar beberapa hari. Karena kepergian Giok-nio tidak membawa harta miliknya, Cui-coa-yo tidak khawatir dan mengizinkan kepergian mereka.”

“Kuyakin kakek yang dimaksud pasti si kakek berbaju kelabu,” kata It-hiong.

Bun-hiong mengangguk, “Ya, Giok-nio bilang satu-dua hari dia akan datang lagi, kau kira keterangannya dapat dipercaya atau tidak?”

“Anggap saja benar,” kata It-hiong. “Sudah kuajak dia pesiar ke Bok-jiu-oh dan dia sudah menyanggupi. Sekarang boleh kita mengintai di sini satu-dua hari, bilamana si kakek baju kelabu tidak datang barulah kita membawa lari dia.”

Lalu ia tepuk pundak Bun-hiong, katanya pula dengan tertawa, “Kau tahu, dia mengaku hanya menjual tawa dan tidak menjual tubuh, kau percaya tidak?”

“Sudah pernah katanya Cui-coa-yo, tampaknya memang begitulah,” jawab Bun-hiong. “Melihat gerak-geriknya tampaknya dia memang masih perawan.”

It-hiong mengangkat pundak, “Sungguh lucu, dia tidak menjual tubuh, sebenarnya tahan harga atau ada alasan lain?”

“Mungkin benar tahan harga dan menanti pembeli yang cocok,” ujar Bun-hiong. “Jika kau ingin main dengan dia, kukira sedikitnya harus kau tambahi beberapa ribu tahil perak.”

“Ia bilang ingin kembali ke jalan yang benar,” kata It-hiong.

“Jika begitu, engkau inilah calon yang paling tepat,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

It-hiong menggeleng, “Tidak bisa, mendingan hanya main-main saja, kalau sungguhan dan menikahi dia, kukira hanya akan mendatangkan kesulitan saja.”

Begitulah di tengah senda gurau mereka kembali ke Kim-leng-khek-can.

Esoknya mereka tidak meninggalkan hotel itu melainkan terus main catur di dalam kamar untuk menunggu berita dari Cui-coa-yo.

Pang Bun-hiong memang benar juga seorang pemain catur berbakat, kepandaiannya main catur juga sangat tinggi, dia main empat babak dengan Liang It-hiong dan berakhir dengan 2-2 alias seri.

Ketika hari mendekat magrib, It-hiong tidak sabar lagi, katanya, “Marilah kita pergi ke Boan-wan-jun saja.”

“Jangan tergesa,” kata Bun-hiong. “Begitu si kakek baju kelabu datang, si Cui-coa-yo pasti akan segera mengirim kabar kepada kita.”

Baru selesai ucapannya, mendadak pintu kamar diketuk orang.

Serentak It-hiong melompat bangun untuk membuka pintu, dilihatnya seorang lelaki setengah umur memberi hormat dan katanya, “Hamba datang dari Boan-wan-jun, tolong tanya yang manakah Pang-kongcu?”

“Aku sendiri,” jawab Bun-hiong sambil mendekati orang.

Orang itu memberi hormat lagi padanya dan berucap, “Nyonya juragan kami mengundang Pang-kongcu lekas ke sana, katanya orang yang hendak ditemui Kongcu itu sekarang sudah datang.”

“Baik, segera kami berangkat ke sana,” kata Bun-hiong sambil memberi sedikit persen lalu menambahkan, “Nah, boleh kau pulang lebih dulu.”

Orang itu mengucapkan terima kasih terus berlalu.

Segera It-hiong mengenakan baju sambil berkata, “Ayo, cepat, jangan sampai dia kabur lagi.”

Bun-hiong juga mengenakan baju, katanya dengan tertawa, “Giok-nio bilang begitu si kakek datang segera mengirim kabar padamu, kenapa kita tidak menunggu sebentar lagi, coba apakah dia jujur atau tidak!”

“Dia dan si kakek jelas satu komplotan, mana dia mau mengirim kabar padaku,” ujar It-hiong. “Sudahlah, jangan berpikir seperti anak kecil, ayo lekas berangkat.”

Sambil bicara segera mereka melangkah keluar.

Tapi baru keluar kamar, tiba-tiba seorang lelaki berlari datang lagi, segera dikenali orang ini adalah calo Boan-wan-jun.

“Eh, kau cari siapa?” tanya It-hiong.

Calo itu masih kenal padanya, dengan girang ia menjawab, “Ah, Liong-kongcu, nona Giok-nio menyuruhku mengundang Kongcu lekas ke sana.”

Hal ini sangat di luar dugaan It-hiong, ia berlagak tidak tahu dan tanya pula, “Ada urusan apa?”

“Nona Giok-nio bilang orang yang ingin ditemui Kongcu itu sekarang berada di kamarnya,” tutur si calo.

“Bagaimana bentuk orang itu?” tanya It-hiong.

“Seorang tua, kurus-kurus kecil, cuma bajunya tidak jelek,” tutur calo itu. “Hamba masih ingat, dua-tiga hari yang lalu dia pernah membawa nona Giok keluar pesiar.”

It-hiong juga memberi persen beberapa tahil perak padanya, katanya, “Baik, segera kuberangkat ke sana, kau pulang saja dulu.”

Calo itu mengucapkan terima kasih, sebelum berangkat ia berpaling pula dan berkata, “Oya, masih ada sesuatu lupa kukatakan ….”

“Urusan apa?” tanya It-hiong.

“Nona Giok-nio memberi pesan bila Kongcu sudah sampai di Boan-wan-jun, hendaknya Kongcu jangan segera masuk ke kamarnya, ia bilang hendak mencekoki kakek itu hingga mabuk, sesudah orang mabuk barulah Kongcu masuk kamarnya.”

“Baik, kutahu,” jawab It-hiong tertawa. Sesudah memberi hormat calo itu lantas berlalu.

It-hiong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya kepada Bun-hiong sambil menyengir, “Sungguh di luar dugaan, ia ternyata menepati janjinya dan mau membantuku membekuk si kakek baju kelabu.”

“Ini menandakan dia mulai jatuh hati padamu,” ujar Bun-hiong. “Seorang perempuan kalau sudah menyukai seorang lelaki, segala apa pun dapat diperbuatnya.”

Makin dipikir makin gembira It-hiong, segera ia menarik Bun-hiong dan diajak lari keluar, serunya, “Ayo, lekas berangkat!”

Sekeluarnya hotel, mereka melangkah dengan cepat, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan Boan-wan-jun. Cui-coa-yo sudah menunggu di depan pintu, begitu melihat Bun-hiong berdua sudah datang segera ia memberi tanda agar jangan bersuara keras. “Cepat amat kedatangan kalian,” desisnya.

“Dia masih ada?” tanya Bun-hiong.

“Ya, masih berada di kamar Giok-nio,” tutur Cui-coa-yo. “Baru saja Giok-nio pesan hidangan, mungkin akan makan minum bersama dia.”

“Sudah dibawa masuk kamar belum hidangan yang dipesan?” tanya Bun-hiong.

“Belum,” jawab Cui-coa-yo.

“Jika begitu, hendaknya kau bantu kerjai dia, taruh sesuatu di dalam arak supaya dia cepat mabuk,” kata Bun-hiong.

Dengan ragu Cui-coa-yo menjawab, “Wah, jangan Kongcu berbuat onar di tempatku, kalau sampai terjadi perkara jiwa manusia, tak berani kutanggung risikonya ….”

“Jangan khawatir,” ujar Bun-hiong. “Begitu dia mabuk segera kami membawanya pergi.”

“Sesungguhnya ada perkara apa antara kalian dengan dia?” tanya Cui-coa-yo.

“Akan kuberi tahukan lain hari saja, sekarang lekas kerjakan menurut apa yang kukatakan,” ucap Bun-hiong.

Cui-coa-yo mengangguk terus menuju ke dalam.

Bun-hiong dan It-hiong juga ikut masuk ke dalam, sampai di halaman tengah, mereka lantas sembunyi di suatu sudut yang agak gelap untuk mengintai gerak-gerik yang terjadi di kamar Giok-nio.

“Menurut pendapatmu, ada hubungan apa antara Giok-nio dengan tua bangka itu?” tanya It-hiong dengan suara lirih.

“Siapa tahu?” jawab Bun-hiong.

“Sungguh ingin kucuri dengar ke sana,” ujar It-hiong.

“Jangan terburu nafsu,” kata Bun-hiong. “Nanti kalau dia sudah makan minum baru kita mendekat ke sana.”

“Eh, lihat, hidangan sedang diantar ke sana,” kata It-hiong.

Memang benar, tertampak seorang pelayan membawa satu nampan besar makanan dan poci arak menuju ke kamar Giok-nio.

“Nona Giok-nio, ini hidangan sudah datang!” seru pelayan dari luar.

Ketika pintu kamar terbuka, yang kelihatan di dalam kamar memang betul si kakek berbaju kelabu yang merampas kotak hitam itu.

Hari ini dia sudah berganti dandanan dengan memakai baju biru, tidak lagi membawa senjata, sikapnya kelihatan ramah tamah, begitu pintu dibuka segera ia menyingkir ke samping dan berkata, “Masuk saja!”

Pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa hidangan, sesudah ditaruh di meja, lalu keluar lagi dengan membawa nampan kosong.

“Kalau tidak dipanggil jangan mengganggu,” pesan si kakek.

Pelayan mengiakan dan pintu kamar tertutup lagi.

Perlahan It-hiong memaki, “Keparat, tampaknya dia bermaksud tidak baik terhadap Giok-nio.”

“Jangan khawatir, malam ini dia takkan berbuat sesuatu yang menyusahkan Giok-nio,” kata Bun-hiong.

“Apakah sudah kau suruh Cui-coa-yo menaruh sesuatu di dalam arak?” tanya It-hiong.

“Ya, ditaruhi obat tidur, “kata Bun-hiong.

“Jangan-jangan akan ketahuan?”

“Kukira tidak, kadar obat tidak terlalu berat, hanya membuatnya pening kepala dan ingin tidur.”

“Marilah kita ke sana,” ajak It-hiong.

“Baik, kucuri dengar di depan dan engkau mengintip di belakang dan berjaga agar dia tidak sampai kabur.”

It-hiong mengangguk dan mengitar ke samping sana, lalu merunduk ke bawah jendela di belakang kamar Giok-nio.

Boan-wan-jun memang terhitung tempat pelesir yang laris, penuh tamu sehingga suasana ramai gaduh, maka betapa tajam pendengaran orang yang berada dalam kamar juga takkan mengetahui ada orang mencuri dengar di luar.

Begitu It-hiong baru berjongkok di belakang jendela, segera terdengar si kakek lagi berkata di dalam kamar, “Mari, kau pun minum satu cawan.”

Terdengar Giok-nio menjawab, “Maaf, hamba tidak dapat minum arak.”

“Ah, masa, minum saja sedikit,” kata si kakek.

“Biar kuminum dengan bebas, engkau sendiri yang minum arak, boleh?” kata Giok-nio.

“Baiklah, mari minum,” kata si kakek. Lalu terdengar suara arak ditenggak.

“Eh, kau tahu untuk apa kudatang sekarang?” tanya si kakek.

“Entah, aku tidak tahu,” jawab Giok-nio. “Kudatang mengucapkan terima kasih.”

“Oo?!”

“Engkau telah membantu kudapatkan kotak itu, adalah pantas aku berterima kasih kepadamu.”

“Ah, engkau terlampau sungkan.”

“Padahal biarpun engkau membantuku mendapatkan peti itu juga akan kujaga dirimu, sebab aku adalah sahabat baik kakakmu.”

“Oya?”

“Memangnya engkau tidak percaya?”

“Jika benar engkau sahabat baik kakakku, mengapa tempo hari kau paksa aku berbuat begitu?”

“Demi mendapatkan kotak itu, terpaksa kugunakan akal demikian.”

“Sesungguhnya apa isi kotak itu?”

“Mengenai ini tak dapat kukatakan padamu.”

“Sudah kau buka peti itu?”

“Belum, peti itu bukan barang buatan negeri kita, cara membuatnya sangat teliti dan bagus, belum berhasil kupelajari cara membukanya.”

“Mengapa tidak kau pecahkan saja peti itu.”

“Wah, tidak boleh jadi.”

“Kenapa tidak boleh?”

“Kabarnya di dalam peti itu berisi obat peledak, bila dibuka secara paksa, tentu obat pasang di dalamnya akan meletus.”

“Ah!” terdengar Giok-nio berseru kaget.

Liong It-hiong yang bersembunyi di bawah jendela juga tergetar hatinya, pikirnya, “Ya Allah, hampir saja. Kiranya isi peti itu adalah obat pasang, tempo hari malahan kugunakan peti itu sebagai senjata, untung obat pasang di dalamnya tidak sampai tersentuh, kalau tidak tentu sudah tamat riwayatku.”

Tengah termenung, didengarnya si kakek baju kelabu lagi berkata dengan tertawa, “Keteranganku membuatmu sangat heran dan kejut bukan?”

“Memang,” jawab Giok-nio. “Sebab apakah peti itu diisi dengan obat pasang?”

“Dengan begitu jadi tidak ada orang berani membukanya secara paksa,” tutur si kakek. “Nah, marilah minum lagi sedikit ….”

Agaknya Giok-nio mengiringnya minum seceguk, lalu bertanya pula, “Sesungguhnya peti itu kepunyaan siapa?”

“Wah, tidak dapat kukatakan padamu,” ujar si kakek.

“Memangnya apa alangannya kau ceritakan?” ujar Giok-nio.

“Saat ini urusan ini sudah diketahui beberapa tokoh Bu-lim kelas tinggi, jika kukatakan padamu, lalu kau beri tahukan pula kepada orang lain, kan tambah banyak orang yang akan merampas peti hitam itu?”

“Takkan kukatakan lagi kepada orang lain,” kata Giok-nio.

Si kakek berdehem, lalu ia alihkan pokok pembicaraan, “Kedatanganku ini selain hendak mengucapkan terima kasih padamu, masih ada suatu urusan lagi ingin berunding denganmu ….”

“Urusan apa?” tanya Giok-nio.

“Ini 50 tahil emas, hendaknya kau terima dulu,” kata si kakek.

Agaknya Giok-nio terkesiap, “Ahh, tidak, jangan, tak boleh kuterima uang sebanyak itu darimu ….”

“Tidak apa, terima saja,” ujar si kakek. “Bilamana kau mau membantu lagi suatu urusanku, setelah berhasil tentu akan kuberi lagi seratus tahil emas.”

“Kau minta kukerja apa?” tanya Giok-nio.

“Tinggalkan Boan-wan-jun dan berangkat ke Cap-pek-pan-nia denganku.”

“Untuk apa ke sana?”

“Bila kau terima permintaanku baru akan kukatakan padamu.”

“Wah, ini ….” Giok-nio gelagapan.

“Engkau merasa berat meninggalkan tempat ini?” tanya si kakek.

“Bukan … bukan begitu maksudku ….”

“Berapa induk semangmu menghendaki uang tebusan bagimu, akan kubayar padanya,” kata si kakek.

“Aku cuma utang beberapa ratus tahil perak saja padanya, bila aku mau pergi, setelah kubayar utang dan setiap saat dapat angkat kaki,” tutur Giok-nio. “Cuma, betapa pun aku harus tahu dulu apa yang kau minta kukerjakan, habis itu baru aku dapat ambil keputusan.”

“Urusan yang kuminta kau kerjakan pasti dapat kau laksanakan dengan baik,” ujar si kakek, ia berhenti sejenak, seperti minum lagi secawan arak lalu menyambung, “Di bukit Cap-pek-pan-nia itu akhir-akhir ini muncul sekawanan bandit dan dipimpin oleh seorang tokoh misterius, kekuatan dan pengaruhnya sangat hebat, siapa nama tokoh misterius itu pun tidak kuketahui, aku cuma tahu dia tahu cara membuka peti wasiat ini ….”

“Lalu?” tanya Giok-nio.

“Urusan yang kuminta kau kerjakan hanya supaya engkau berusaha berkenalan dengan dia, mengingat kecantikanmu kukira sekali pandang saja dapat membuatnya terpikat. Lalu engkau pura-pura bergaul baik dengan dia untuk memancing caranya membuka peti hitam itu.”

“Wah, ini ….” Giok-nio merasa ragu.

“Jangan khawatir, kujamin tidak berbahaya,” kata si kakek.

Giok-nio diam saja tanpa bicara lagi.

“Bagaimana, mau?” tanya si kakek.

“Akan kupikirkan lagi, sekarang boleh engkau minum arak saja,” jawab Giok-nio dengan tertawa.

Si kakek baju kelabu bersuara senang dan lantas minum arak lagi.

“Kotak yang kau rampas itu sekarang disimpan di mana?” tanya Giok-nio.

“Di suatu tempat yang sangat aman,” jawab si kakek.

“Di mana?” tanya Giok-nio pula.

“Ah, tidak perlu kau tanya.”

“Mari, habiskan secawan lagi.”

“Wah, tidak mau lagi. Arak ini agak keras, rasa kepalaku rada pusing.”

“Kan belum ada tiga cawan kau minum, masa sudah pusing. Mari habiskan secawan lagi,” ajak Giok-nio.

Kembali si kakek menenggak pula satu cawan, lalu tanya, “Bagaimana, mau tidak mengerjakan apa yang kukatakan tadi?”

“Boleh sih boleh, cuma … dapatlah engkau memberitahukan padaku apa isi kotak itu.”

“Tidak.”

“Jika tidak kau katakan, aku pun tidak sanggup.”

“Sebaiknya kau terima permintaanku, kalau tidak terpaksa kubunuh dirimu,” ancam si kakek dengan mendelik.

“Ai, engkau terus-menerus mengaku sebagai sahabat kakakku, kenapa sedikit-sedikit engkau bilang hendak membunuhku?”

“Hm, memang begitulah kebiasaanku,” jengek si kakek. “Pendek kata, yang menurut padaku hidup, yang membangkang kubunuh.”

Giok-nio tertawa cekikik, katanya, “Ai, kenapa engkau jadi begini garang?”

“Kutanya sekali lagi, kau mau terima atau tidak?” si kakek menegas sekata demi sekata.

“Baiklah, cuma ada suatu syaratku,” kata Giok-nio. “Bilamana urusan sudah selesai, aku minta lima ratus tahil emas.”

“Wah, jangan terlalu serakah, seratus tahil saja kan sudah banyak.”

“Tidak, harus lima ratus tahil baru mau kukerjakan,” kata Giok-nio.

Si kakek berpikir sebentar, akhirnya menjawab, “Baiklah, kuberi lima ratus tahil. Besok hendaknya engkau berbenah seperlunya, begitu hari gelap segera kubawa dirimu meninggalkan kota. Sekarang kupergi dulu.”

“Eh, engkau tidak minum lagi?” tanya Giok-nio.

“Tidak, aku rada pusing ….” kata si kakek. “Sungguh aneh, mengapa kekuatanku minum arak hari ini sedemikian jelek.”

“Engkau jangan pergi dulu,” ujar Giok-nio.

“Mau apa?” tanya si kakek.

“Kuminta engkau mengiringiku minum arak,” Giok-nio berlagak manja.

“Tidak bisa, aku tidak sanggup minum lagi.”

“Jika engkau tidak mengiringiku minum, aku pun tidak mau pergi ke Cap-pek-pan-nia.”

“Eh, kenapa kau bicara demikian?” heran juga si kakek. “Memangnya kau anggap aku dapat berbuat apa-apa bagimu?”

Giok-nio mengiakan dengan tersenyum.

“Ai, jangan bergurau, untuk begituan sudah lama aku tidak sanggup lagi,” kata si kakek.

“Aku cuma minta engkau mengiringiku minum arak, jangan kau pikir terlalu jauh.”

“Kau suka minum arak?” si kakek menegas.

“Ya,” jawab Giok-nio.

“Tadi kau bilang tidak sanggup minum arak, mengapa sekarang bilang suka?”

“Kalau banyak memang tidak sanggup, jika dua cawan masih boleh,” kata Giok-nio. “Pula, engkau kan baru datang, kalau sekarang lantas pergi, sebentar aku bisa diomeli induk semangku.”

Si kakek termenung sejenak, katanya kemudian, “Ehm, baiklah, biar kuiringimu minum dua cawan lagi ….”

“Ayo, minum!”

“Baik.”

“Jika kepalamu pusing, silakan mengaso saja di tempat tidur.”

“Wah, jangan.”

“Lho, kenapa?”

“Aku … aku tidak ….”

Lalu terdengar suara “bluk”, suara robohnya tubuh.

Terdengar Giok-nio menjerit kaget, “Hei, kenapa engkau? Cuma minum dua cawan saja masa lantas roboh mabuk.”

Pang Bun-hiong yang mencuri dengar di luar kamar tahu waktunya sudah tiba, segera ia mengetuk pintu dan berseru, “Buka pintu, nona Giok!”

Waktu pintu dibuka Giok-nio, Liong It-hiong juga sudah mengitar ke depan kamar, segera Bun-hiong menariknya ke samping, desisnya, “Engkau jangan menampakkan diri dulu. Dia tidak kenal aku, biar kuantar dia pulang dan engkau menguntit dari jauh.”

It-hiong mengiakan.

Bun-hiong lantas masuk kamar Giok-nio, dilihatnya si kakek baju kelabu sudah menggeletak di lantai, cuma kesadarannya belum hilang sama sekali, ia berlagak kaget dan bertanya, “Hei, kenapa tuan tua ini?”

“Dia mabuk,” tutur Giok-nio.

Bun-hiong mengitar ke samping si kakek, ia berjongkok dan memeriksanya, lalu berkata, “Wah, kenapa mabuk sampai begini?”

“Entah, aku pun tidak tahu, kukira dia kuat minum banyak, siapa tahu minum tiga-empat cawan lantas roboh mabuk,” kata Giok-nio.

Bun-hiong berlagak susah, ucapannya, “Wah, bagaimana ….”

“Dapatkah kau tolong dia?” tanya Giok-nio.

“Dia tinggal di mana?” kata Bun-hiong.

“Entah, aku juga tidak tahu,” sahut si nona.

Bun-hiong tepuk-tepuk pipi si kakek sambil berseru, “Hei, bung, di mana tempat tinggalmu?”

Kelopak mata si kakek terasa berat sekali untuk dibuka, sekuatnya ia coba melek, tapi tetap merasa kantuk, namun setitik kesadarannya yang masih ada memberitahukan padanya agar jangan tertidur, maka sekuatnya ia membangkitkan semangat dan menjawab, “Di Ko … Ko-sing ….”

“Hotel Ko-sing maksudmu?” Bun-hiong menegas.

“Ehmm ….” si kakek tidak sanggup bersuara lagi, kepalanya miring dan akhirnya terpulas juga.

Kembali Bun-hiong menepuk pipinya sambil berteriak, “Hei, bung, bangun, sadarlah!”

Namun kakek itu sama sekali tidak bergerak lagi serupa babi mampus.

Bun-hiong tersenyum, katanya sambil berpaling, “Nah, sekarang boleh masuk, Liong It-hiong.”

Dengan tersenyum It-hiong masuk ke kamar, katanya, “Dia sudah tidur?”

Bun-hiong mengiakan dengan tertawa.

“Letak Ko-sing-khek-can seperti di sebelah barat sana,” ucap It-hiong.

“Memang betul,” jawab Bun-hiong.

“Jika begitu perlu kita sewa sebuah kereta,” kata It-hiong pula.

“Baik, akan kusuruh orang menyewakan kereta,” ujar Bun-hiong sambil beranjak keluar.

Melihat orang sudah pergi, segera It-hiong merangkul Giok-nio dan dicium.

Muka Giok-nio menjadi merah, dengan kepalan halus ia pukul It-hiong, omelnya dengan tersenyum genit, “Nah, tidak genah?!”

“Ini tanda terima kasihku,” ucap It-hiong dengan tertawa. “Kan engkau sudah membantuku membekuk dia.”

“Dan sekarang tentunya kau tahu jelas sebabnya kubohongimu tempo hari adalah karena dipaksa oleh dia?”

“Ya, aku menyesal kemarin telah kupukuli pantatmu,” ujar It-hiong.

Semula Giok-nio berlagak tidak mau, tapi sekarang dengan pasrah ia biarkan dirinya dipeluk anak muda itu, ucapnya dengan malu-malu, “Karena engkau berjanji akan mengantarku ke Wanpeng, sungguh aku sangat berterima kasih, mestinya hendak kukatakan terus terang duduknya perkara kepadamu, tapi kutakut akan dibunuh olehnya.”

Kembali It-hiong menciumnya lagi sekali, katanya dengan tertawa, “Engkau tidak bersalah, aku tidak marah padamu.”

Giok-nio menengadah, dengan tatapan mesra ia berkata pula, “Sungguh kuharap apa yang terjadi itu benar, kalau benar, alangkah baiknya.”

“Jangan risau, bilamana kau suka pesiar ke Wanpeng, tentu akan kubawamu ke sana,” kata It-hiong.

“Sungguh?” tanya Giok-nio girang.

“Tentu saja sungguh,” It-hiong mengangguk.

Saking senangnya Giok-nio merangkulnya erat-erat, katanya, “Baik, bawalah aku ke sana, lekas membawaku ke sana!”

“Tapi tidak boleh lagi kau bohongi aku,” kata It-hiong dengan tersenyum.

“Masa kubohong?” Giok-nio melenggong.

“Bagus kalau tidak,” ucap It-hiong. “Nona secantik dirimu ini memang tidak pantas berdusta, bisa membuat orang mendongkol.”

“Tidak ada yang perlu kudustaimu lagi,” seru Giok-nio dengan gembira. “Selanjutnya asalkan engkau tidak dusta padaku, maka cukuplah bagiku. Aku rela … rela ikut padamu selama hidup.”

It-hiong hanya tersenyum saja tanpa bicara.

Sorot mata Giok-nio menampilkan rasa memohon, katanya, “Apakah engkau sudi … sudi padaku?”

“Aku … mungkin saja mau padamu, tapi bukan sekarang ….”

“Sebab apa?” tanya Giok-nio.

“Sekarang aku masih mempunyai urusan yang harus kuselesaikan.”

“Urusan apa?” tanya si nona.

“Ada dua urusan,” tutur It-hiong. “Pertama, menemukan kembali peti hitam itu dan mengantarkannya ke Cap-pek-pan-nia untuk memenuhi pesan orang mati.”

“Dan apa urusan kedua?” tanya Giok-nio.

“Urusan kedua itu sementara tidak dapat kukatakan padamu.”

“Masa engkau belum lagi percaya padaku?” Giok-nio menegas.

“Bukan soal percaya padamu atau tidak,” jawab It-hiong. “Sebabnya tidak kukatakan padamu justru kukhawatir akan membuatmu makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak.”

“Oo?!” Giok-nio merasa bingung.

Tiba-tiba di luar terdengar suara langkah orang. It-hiong melepaskan rangkulannya dan berpaling, benar juga terlihat Pang Bun-hiong sudah kembali, segera ia tanya, “Bagaimana, sudah siap keretanya?”

“Sudah, ayolah bawa dia ke atas kereta,” kata Bun-hiong.

Segera It-hiong mengangkat si kakek baju kelabu, katanya terhadap Giok-nio dengan tertawa, “Besok kudatang menjengukmu, jangan kau kabur lagi tanpa pamit.”

Dengan malu Giok-nio menjawab, “Tidak, akan kutunggu kedatanganmu.”

Segera It-hiong menggendong si kakek yang tak sadar itu keluar.

Bun-hiong tidak ikut keluar, ia tunggu setelah It-hiong keluar kamar, segera ia mendekati Giok-nio dan bertanya perlahan dengan tersenyum, “Dia suka padamu bukan?”

Dengan muka merah Giok-nio menjawab, “Untuk apa Pang-kongcu tanya urusan ini?”

“Sebab kupikir, bilamana dia tidak suka padamu barulah ada kesempatan bagiku,” kata Bun-hiong.

“Cis, engkau juga tidak genah,” semprot Giok-nio.

Sambil tergelak Bun-hiong lantas melangkah keluar.

Setiap orang yang berada di Boan-wan-jun sudah biasa melihat tamu yang mabuk, maki ketika melihat It-hiong memanggul keluar seorang tua, tidak ada seorang pun merasa heran, semuanya mengira It-hiong adalah serombongan dengan si kakek, sama sekali tidak menyangka Liong It-hiong sedang menculik orang.

Sekeluarnya dari Boan-wan-jun, It-hiong melihat di depan pintu itu sudah parkir sebuah kereta kuda, ia tahu inilah kereta yang disewa Bun-hiong, segera ia angkat si kakek ke dalam kereta.

Sejenak kemudian Bun-hiong ikut keluar, ia memberitahukan kepada sais kereta agar menuju ke hotel Ko-sing, lalu mereka naik ke dalam kereta.

Perlahan kereta dijalankan meninggalkan Jalan Kembang dan menuju ke gerbang barat.

“Apakah dia takkan mendusin mendadak?” tanya It-hiong sambil menatap si kakek baju kelabu yang tidak berkutik itu.

“Tidak,” jawab Bun-hiong.

“Apakah yang dikatakannya kepada Giok-nio tadi sudah kau dengar atau tidak?”

“Sudah.”

“Jangan-jangan Giok-nio memang tidak berdosa.”

“Sebab apa tua bangka ini mencari dia?” ujar Bun-hiong. “Maksudku, mengapa dia mencari adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam?”

“Ya, kukira ini pasti tidak terjadi secara kebetulan,” tukas It-hiong. “Tentu dia tahu Giok-nio adalah adik perempuan Oh Kiam-lam.”

“Betul,” kata Bun-hiong.

“Ia ancam Giok-nio agar membantunya merampas peti dariku, tadi Giok-nio diminta membantunya ke Cap-pek-pan-nia untuk memancing cara membuka peti itu, kuyakin dia mempunyai tujuan tertentu.”

“Memang begitulah,” Bun-hiong mengangguk.

Sambil memandang si kakek yang masih terpulas lelap itu, It-hiong berkata pula dengan tersenyum, “Kau pikir dapatkah dia menyimpan peti hitam itu di dalam hotel?”

“Entah, biarlah kita coba menggeledahnya dulu,” kata Bun-hiong. “Jika tidak ditemukan di hotel, nanti kira membuatnya sadar, lalu memaksa pengakuannya.”

“Sekarang ada suatu soal yang membuatku serbasusah,” kata It-hiong. “Setelah peti kutemukan kembali, harus kuantar dulu peti itu ke Cap-pek-pan-nia atau membawa Giok-nio dulu menemui To Po-sit?”

“Ini harus kau putuskan sendiri,” ujar Bun-hiong.

“Bolehkah kubawa dia pergi ke Cap-pek-pan-nia?”

“Kecuali kau pun ingin menggunakan dia untuk memancing cara membuka peti, kalau tidak, lebih baik jangan.”

“Aku tidak begitu tertarik oleh isi peti, untuk apa kusuruh dia memancing cara membuka peti?” ujar It-hiong.

“Jika begitu lebih baik jangan membawa dia ke sana,” kata Bun-hiong. “Kau tahu bila kotak itu kau bawa dalam perjalanan, sangat mungkin ada orang akan mencegat dan merampasnya lagi, dapatkah kau terjang kepungan dengan membawa dia?”

It-hiong menggeleng, “Tidak dapat.”

“Jika kau percaya kepadaku, sudah tersedia suatu caraku.”

“Coba katakan,” ucap It-hiong.

“Boleh kau pergi ke Cap-pek-pan-nia dan kugantikan dirimu mengantar dia ke tempat Tui-beng-poan-koan To Po-sit.”

“Wah, ini ….”

“Bagaimana, khawatir kubawa lari dia?” kata Bun-hiong dengan tersenyum.

It-hiong menggeleng, “Bukan, kutakut To Po-sit akan merasa kurang senang, sebab berulang dia pesan padaku agar jangan membocorkan tempat sembunyinya. Sekarang kedua kakinya cacat dan tidak mampu menghadapi gerangan musuh.”

“Tapi aku bukan musuhnya, tidak nanti kubocorkan tempat pengasingannya itu,” kata Bun-hiong.

“Kutahu engkau takkan berbuat begitu, tapi dia takkan berpikir demikian.”

“Sudahlah, jika kau anggap kurang baik, anggap saja batal.”

“Harap beri waktu, akan kupikirkan dulu …. Ah, sudah sampai di hotel Ko-sing.”

Mendadak kereta kuda berhenti. Waktu Bun-hiong melongok keluar, lalu melompat turun dan berkata, “Ya, sudah sampai. Boleh kau gendong dia turun.”

Ia membayar sewa kereta, dilihatnya It-hiong memanggul si kakek turun, segera ia mendahului masuk ke hotel Ko-sing.

“Tuan tamu ini apa cari kamar?” tanya seorang pelayan menyongsong kedatangan mereka.

“Tidak, kami mengantar pulang kawan tua ini,” jawab Bun-hiong sambil menuding si kakek yang digendong It-hiong itu, lalu tanya pula, “Tuan ini tamu hotel kalian bukan?”

Pelayan mendekat dan mengamati sejenak, lalu menjawab dengan terkejut, “He, betul, dia tamu yang tinggal di kamar nomor delapan, kenapakah dia?”

“Mabuk,” tutur Bun-hiong. “Coba bawa kami ke kamarnya.”

Pelayan mengiakan dan membawa mereka masuk ke dalam hotel, sampai di depan sebuah kamar bagus, pelayan membuka pintu kamar dan berkata, “Kamar ini.”

Bun-hiong mengangguk, “Baiklah, boleh kau pergi saja.”

Sesudah pelayan pergi, It-hiong membawa si kakek ke dalam kamar dan direbahkan di tempat tidur, katanya kepada Bun-hiong, “Tutup pintunya, biar kita geledah kamarnya.”

Setelah pintu kamar ditutup, kedua orang lantas sibuk menggeledah seluruh isi kamar. Tapi meski kamar sudah diubrak-abrik, yang ditemukan mereka hanya dua macam barang yakni sebuah ransel dan sepasang ruyung baja.

“Aneh, disimpan ke mana peti hitam itu?” kata It-hiong.

“Mungkin dititipkan pada pengurus hotel, coba akan kutanyai kuasa hotel,” ujar Bun-hiong.

Habis berkata segera ia membuka pintu dan keluar.

Tidak lama kemudian ia kembali lagi ke kamar, katanya sambil menggeleng, “Menurut keterangan pengurus hotel, katanya tua bangka ini tidak titip sesuatu barang, juga tidak pernah melihat dia membawa sebuah peti segala.”

“Jika begitu, terpaksa harus kita tanyai dia langsung,” kata It-hiong.

Ia mendekati tempat tidur, ia tutuk Hiat-to si kakek dan menyiram mukanya dengan sebaskom air dingin yang tersedia di dalam kamar.

Obat tidur yang diminum si kakek tidak banyak, setelah disiram air dingin, seketika juga dia sadar kembali.

Begitu membuka mata, lalu memandang dengan melenggong Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong yang berdiri di depan tempat tidur, mendadak air mukanya berubah babat, cepat ia meronta hendak bangun sambil berteriak, “Hei, kau … Liong It-hiong?!”

“Betul,” It-hiong tersenyum.

Sekali meronta dan tidak mampu bangun, segera si kakek tahu Hiat-to tertutuk, keruan ia heran dan terkejut, serunya, “Cara … cara bagaimana kau datang kemari?”

It-hiong tidak menjawab, sebaliknya ia lolos pedang pandak Siau-hi-jong dan mengancam di depan hidung orang sambil berkata, “Ada beberapa soal ingin kutanya dirimu dulu. Coba jawab, siapa namamu?”

Muka si kakek kelihatan pucat pasi dan tidak menjawab.

“Hm, kukira kau tahu apa artinya ini,” jengek It-hiong. “Jika tidak ingin menderita siksaan badan, sebaiknya kau jawab dengan terus terang.”

“Baik, aku she Tam dan bernama Pek-sun!” jawab si kakek.

“Jika kau bohong, kau adalah anak jadah, begitu?”

Dengan mendongkol si kakek berteriak, “Baik, apa alangannya kukatakan terus terang. Aku inilah In-tiong-yan Pokyang Thian.”

“Itu dia baru benar,” ucap It-hiong dengan tertawa. “Berdusta bukan perbuatan yang terpuji. Seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Engkau Pokyang Thian adalah tokoh yang sudah terkenal sekian lamanya, tindak tandukmu hendaknya dilakukan secara gagah kesatria.”

“Singkirkan pedangmu!” mendadak In-tiong-yan Pokyang Thian meraung.

“Sabar dulu,” ucap It-hiong. “Masih ada soal yang lebih penting ingin kutanya padamu. Nah, coba katakan, di mana kau sembunyikan peti hitam itu?”

“Tidak tahu,” jawab In-tiong-yan Pokyang Thian dengan ketus.

“Maksudmu biarpun mati juga takkan kau serahkan peti itu?” jengek It-hiong.

Sembari bicara ia pindah ujung pedangnya untuk mengancam hulu hati orang dan berlagak hendak menikam.

Keruan muka In-tiong-yan Pokyang Thian bertambah pucat, namun dia tetap bandel, katanya, “Ah, jangan kau main cara begini, tak dapat kau gertak diriku.”

“Betul, jika kubunuh dirimu berarti tidak dapat lagi menemukan kembali peti itu,” kata It-hiong. “Tapi kalau tidak kau serahkan peti itu, apa pula gunanya kupertahankan nyawamu?”

In-tiong-yan Pokyang Thian hanya mendengus saja tanpa menjawab.

“Jadi engkau sudah bertekad akan melawan mati-matian, begitu?” tanya It-hiong.

“Betul, silakan turun tangan saja,” jawab Pokyang Thian.

Mendadak It-hiong menarik kembali pedangnya malah, katanya terhadap Pang Bun-hiong, “Wah, tua bangka ini licin benar, dia ternyata tahu aku tidak berani turun tangan membunuhnya ….”

“Engkau kan juga tidak harus membunuhnya,” ujar Bun-hiong dengan tersenyum.

“Betul, jika dia tidak dapat digertak, sekarang hanya ada suatu jalan,” It-hiong mengangguk. “Kau tahu apa jalan keluarku yang lain?”

“Tahu,” jawab Bun-hiong.

“Coba katakan.”

“Hendak kau potong urat besar pergelangan kakinya, lalu membawa dia ke Cap-pek-pan-nia dan menyerahkannya kepada gembong yang bercokol di sana, begitu bukan?”

“Hah, sungguh hebat, engkau serupa cacing pita di dalam perutku,” ujar It-hiong dengan tertawa.

Segera ia membalik tubuh Pokyang Thian dan membiarkan dia bertiarap, lalu menyingsing kaki celananya dan hendak memotong urat besar kakinya.

In-tiong-yan Pokyang Thian yakin orang tidak berani membunuhnya, tapi ia pun tahu untuk memotong urat kakinya pasti dapat dilakukannya, sebab itulah sikap kepala batunya seketika berubah lunak, ia menghela napas dan berkata, “Baiklah, aku menyerah, biarlah kukatakan terus terang.”

It-hiong menaruh pedang di atas urat kaki orang, ucapnya dengan tertawa, “Nah, katakan, di mana kau sembunyikan peti itu?”

“Setelah kukatakan, cara bagaimana akan kau perlakukan diriku?” tanya In-tiong-yan Pokyang Thian.

“Begitu menemukan peti itu segera kubebaskan dirimu,” jawab It-hiong.

“Kau pasti pegang janji?” Pokyang Thian menegas.

“Ya, tidak nanti kujilat kembali,” jawab It-hiong.

“Baik,” tutur Pokyang Thian. “Peti itu kutanam di suatu kuburan di luar kota, boleh kalian sewa sebuah kereta, akan kubawa kalian ke sana.”

Segera Bun-hiong mencari kereta lagi, tidak lama kemudian mereka bertiga lantas berangkat keluar kota dengan menumpang kereta.

Setelah keluar kota, kereta diarahkan ke suatu jalan kecil yang berliku dan tidak rata.

“Masih berapa jauh lagi?” tanya It-hiong tidak sabar.

“Tidak jauh lagi, satu-dua li saja akan sampai,” sahut Bun-hiong mewakilkan si kakek.

“Dari mana kau tahu?” tanya It-hiong.

“Pernah kudatangi tanah pekuburan itu dahulu,” tutur Bun-hiong. “Seorang kawan meninggal, aku mengantar jenazahnya sampai di tempat kuburan itu.”

“Oo,” pandangan It-hiong lantas beralih ke wajah Pokyang Thian, tanyanya dengan tertawa, “Masih ingin kutanya sesuatu padamu, apakah kau tahu Giok-nio itu adik perempuan siapa?”

“Tahu,” jawab Pokyang Thian. “Dia adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam namanya Oh Lian-bing.”

“Mengapa sampai dia terjerumus ke dalam dunia pelacuran?” tanya It-hiong.

“Kakaknya mati, hidupnya telantar, terpaksa hidup di kalangan hiburan begitu,” ujar Pokyang Thian.

Tiba-tiba Bun-hiong menukas, “Kudengar Oh Kiam-lam masih mempunyai beberapa orang saudara angkat, mengapa mereka tidak membantu adik perempuannya?”

“Apakah ‘Lok-lim-jit-coat’ (tujuh gembong bandit) yang kau maksudkan?” tanya Pokyang Thian.

“Ya begitulah kira-kira,” kata Bun-hiong.

“Aku inilah satu di antara ketujuh orang itu,” kata Pokyang Thian. “Keenam gembong lainnya adalah Ang-liu-soh (si kakek beruci-uci merah) Ban Sam-hian, Cian-in-jiu (si tangan kilat) Loh Bok-kong, Kim-ci-pa (si macan tutul) Song Goan-po, Hiat-pit-siucay (si sastrawan berpensil berdarah) Hui Giok-koan, Tok-gan-bu-siang (si setan mata satu) Ong Sian dan Coh-jing-bin (si muka tembong) Sing It-hong.”

“Dan Oh Kiam-lam adalah saudara angkat kalian yang tertua?” Bun-hiong menegas.

“Betul, kami berdelapan pernah melakukan pekerjaan bersama, kemudian terasa tidak cocok, lalu terpencar dan bekerja sendiri,” tutur Pokyang Thian.

“Mungkin terpencar karena bertengkar dalam hal membagi rezeki yang tidak rata, begitu bukan?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Boleh juga dikatakan begitu,” ujar Pokyang Thian. “Oh Kiam-lam sok menganggap dirinya paling jempolan, kami bertujuh dipandangnya sebagai anak buah belaka, dengan sendirinya kami tidak rela diperbudak dan terpaksa berpisah.”

“Pekerjaan besar yang dilakukannya dahulu kalian bertujuh juga ikut serta bukan?” tanya Bun-hiong.

“Maksudmu ….”

“Yaitu waktu merampok satu juta tahil perak dana bantuan kerajaan kepada daerah Kangsay yang tertimpa musibah kebanjiran itu, peristiwa itu sungguh menggemparkan seluruh dunia,” ujar Bun-hiong.

“O, tidak, kami tidak ikut dalam perbuatan itu, tatkala mana kami sudah memisahkan diri dengan dia,” jawab Pokyang Thian.

“Apakah lantaran pribadi Oh Kiam-lam memang buruk, maka kalian tidak mau memberi bantuan kepada Oh Lian-bing!” tanya Bun-hiong.

“Betul, cuma kemudian baru kami ketahui dia terjerumus ke dunia pecomberan,” kata Pokyang Thian.

“Setelah berhasil merampok dana bantuan pemerintah itu tidak lama kemudian Oh Kiam-lam diketemukan mati terbunuh di luar kota Tiang-an, apakah kau tahu siapa pembunuhnya?” tanya Bun-hiong pula.

“Tidak tahu,” jawab Pokyang Thian. “Diam-diam kami juga mengadakan pengusutan atas diri si pembunuh, tapi selama ini belum berhasil.”

“Setelah Oh Kiam-lam mati, lalu ke mana perginya harta satu juta tahil perak itu?” tanya It-hiong.

“Dengan sendirinya dibawa lari si pembunuh itu,” kata Pokyang Thian.

“Adakah hubungan peti itu dengan urusan perampokan besar itu?”

“Tidak, sama sekali tidak ada hubungan apa pun, kedua urusan berdiri sendiri,” tutur Pokyang Thian.

“Jika begitu apa isi peti itu?” tanya It-hiong lagi.

“Sebelum kujawab ingin kutanya dulu kepadamu,” kata Pokyang Thian. “Sesungguhnya peti itu akan kau kangkangi sebagai milik sendiri atau akan mengantarnya ke Cap-pek-pan-nia?”

“Akan kuantar ke Cap-pek-pan-nia,” jawab It-hiong.

“Jika begitu, sebaiknya jangan kau tanya tentang isi peti itu.”

“Sebab apa?” It-hiong menegas.

“Sebab kalau kau tahu apa isi peti itu, nanti hatimu pasti juga akan tertarik dan mungkin timbul hasratmu untuk mencaploknya sebagai milik sendiri, dan hal ini tentu akan sangat merugikan nama baikmu.”

“Kupercaya kepada ucapanmu,” kata It-hiong dengan tersenyum. “Aku ini memang tidak cukup teguh dengan pendirian sendiri, mudah terpikat dan terbujuk. Baiklah jika tidak mau kau katakan.”

“Selain itu, biarlah kukatakan terus terang padamu,” sambung Pokyang Thian lagi. “Saat ini orang yang bermaksud merampas peti itu terlampau banyak. Lantaran mereka tahu engkau sendiri tidak tahu apa isi peti itu, maka mereka tidak ingin mencelakai jiwamu, bilamana isi peti sudah kau ketahui, tentu mereka tidak sungkan-sungkan lagi padamu.”

“Betul, cukup beralasan,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Cuma ada satu hal rasanya dapat kau beri tahukan padaku, yaitu, milik siapakah peti itu sesungguhnya?”

“Milik si tokoh misterius di Cap-pek-pan-nia yang menghendaki peti itu,” tutur Pokyang Thian.

“Memangnya siapa dia sebenarnya?” tanya It-hiong pula.

“Entah, aku pun tidak tahu,” jawab Pokyang Thian. “Pada mukanya selalu memakai topang setan, ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur, dia pernah mengalahkan berbagai tokoh Bu-lim kelas tinggi, sekarang kedudukannya adalah pemimpin besar kaum Lok-lim (rimba hijau, arti kiasan kawanan bandit), anak buahnya berjumlah sekian ribu orang, pengaruhnya besar di atas Oh Kiam-lam.”

“Si Hin yang menyerahkan kotak hitam kepadaku itu juga anak buah tokoh misterius itu?” tanya It-hiong.

Pokyang Thian membenarkan.

“Dari tempat lain Si Hin memperoleh kotak itu dan bermaksud membawanya pulang ke Cap-pek-pan-nia, akhirnya dicegat musuh dan terluka parah, begitu bukan kisahnya?” tanya It-hiong.

“Betul,” jawab Pokyang Thian.

It-hiong angkat pundak, katanya terhadap Pang Bun-hiong, “Sungguh konyol, memangnya dengan alasan apa harus kuantar kotak hitam itu ke Cap-pek-pan-nia?”

Bun-hiong tidak menjawab, pandangannya tertuju ke arah belakang, seperti sedang mengintai sesuatu.

“Apa yang kau pandang?” tanya It-hiong rada tercengang.

“Ingin kulihat adakah orang menguntit kita,” jawab Bun-hiong.

Tergetar hati It-hiong, “Memangnya ada tanda kita dikuntit orang?”

Bun-hiong menggeleng, katanya, “Entah, belum dapat kupastikan ….”

Waktu It-hiong memandang ke belakang kereta, tertampak di kejauhan sana gelap gulita, tiada terlihat sesuatu apa pun. Ia coba tanya pula, “Sesungguhnya apa yang kau lihat?”

“Tadi aku seperti melihat berkelebatnya sesosok bayangan, cuma mungkin juga bayangan seekor anjing liar,” ujar Bun-hiong.

It-hiong menoleh dan tanya Pokyang Thian, “Apakah ada orang tahu engkau berhasil merampas kotak hitam itu?”

“Tapi kalau sekarang ada orang membuntuti kita, jelas yang dituju adalah kalian,” ujar Pokyang Thian.

“Oo, apa buktinya?” kata It-hiong.

Pokyang Thian menjengek, “Hm, aku tidak membual, di dunia persilatan zaman ini orang yang memiliki Ginkang yang melebihiku dapat dihitung dengan jari. Tempo hari sesudah kudapatkan kotak itu, memang pernah juga ada orang mencegat dan bermaksud merampasnya dariku, tapi semuanya dapat kutinggalkan.”

“Namun kotak itu sudah dibawa lari olehmu, untuk apa orang membuntuti kami?” kata It-hiong.

“Kalian mengetahui aku lari ke Kim-leng sini, bisa jadi pembicaraan kalian dapat didengar orang, maka mereka pun menguntit ke sini.”

“Tidak, kami tidak tahu engkau lari ke Kim-leng sini, bahwa hari ini dapat kami membekuk dirimu adalah kejadian di luar dugaan,” tutur It-hiong.

“Di luar dugaan?” Pokyang Thian menegas.

“Ya, bahkan kami juga tidak tahu Giok-nio adalah Ni Beng-ay. Kemarin kami cari hiburan ke Boan-wan-jun, di luar dugaan di sana dapat kami temukan Giok-nio ternyata sama dengan Ni Beng-ay, dari dia dapat diketahui juga bahwa engkau hendak menemui dia lagi, maka kami lantas memasang perangkap untuk membekukmu.”

“Oo, kiranya begitu,” Pokyang Thian menyengir.

“Makanya jika sekarang ada orang membuntuti kita, maka yang dikuntit pasti dirimu.”

“Jika orang dapat menguntit diriku dari Ko-yu sampai di sini, maka orang itu pasti tokoh yang luar biasa,” kata Pokyang Thian.

Tengah bicara, tahu-tahu kereta sudah berhenti. Kiranya sudah tiba di tempat tujuan, yaitu sebuah tanah pekuburan.

It-hiong memapahnya melompat keluar, waktu memandang ke sana, tertampak di depan penuh kuburan, luas juga tanah pemakaman ini, dari tanah datar terus memanjang hingga sampai lereng bukit, sedikitnya ada ribuan makam, di sana-sini terdapat beberapa batang pohon waru, dipandang dalam kedelapan malam suasana terasa sunyi dan seram.

Bun-hiong membayar sewa kereta dan menyuruhnya pergi, lalu bertanya kepada Pokyang Thian, “Di mana kau tanam kotak itu?”

“Di lereng bukit sana,” jawab Pokyang Thian.

Segera Bun-hiong mendahului melangkah ke lereng sana.

It-hiong memapah Pokyang Thian mengikut dari belakang, sembari berjalan ia tidak lupa menoleh untuk mengawasi belakang, ternyata tidak terlihat ada orang menguntit, tapi ia tahu pasti ada orang membuntutinya, maka setiap langkahnya dilakukannya dengan cermat dan penuh waspada.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kompleks tanah makam di lereng bukit.

“Bagaimana, sudah sampai?” tanya Bun-hiong.

“Ya, sudah dekat,” jawab Pokyang Thian. “Belok dulu ke kanan, lalu maju lagi dua ratus langkah akan sampai di tempat tujuan.”

Bun-hiong menurut dan membelok ke arah kanan, kira-kira ratusan langkah lagi ia berhenti dan tanya pula, “Bagaimana, sudah sampai?”

“Ya, sudah sampai,” jawab Pokyang Thian.

It-hiong menurunkan kakek itu dan dibiarkan orang duduk bersandar sebuah makam, lalu tanya, “Di mana tempatnya?”

Pokyang Thian memandang sebuah makam yang besar di sisi kiri, katanya, “Di depan kuburan itu, cukup digali sedalam tiga kaki saja dan akan menemukannya.”

Segera It-hiong melolos pedang pandak, katanya kepada Bun-hiong, “Harap wakilkan aku mengawasi dia, akan kugali tempat itu.”

Lalu ia mendekati kuburan yang dimaksud, waktu ia memeriksanya dengan teliti, terlihat di depan makam memang ada bagian tanah yang gembur, ia tahu keterangan Pokyang Thian tidak dusta, segera ia gunakan pedang untuk menggali.

Bun-hiong tahu keadaan cukup gawat, bahaya senantiasa mengintai, setiap saat bisa terjadi sesuatu yang tak terduga, sebab itulah dia tidak berani lengah, segera ia pun menghunus pedang dan berjaga di samping Pokyang Thian sambil mengawasi keadaan sekitarnya.

Cara It-hiong menggali sangat cepat, hanya sebentar saja tempat galiannya sudah sedalam tiga kaki, ujung pedang telah menyentuh sesuatu benda keras.

Ia taruh pedangnya, lalu berjongkok dan menggunakan tangan untuk mengeruk tanah, kemudian dari dalam liang dapat diangkat keluar satu bungkusan.

Bungkusan itu segera dibuka, benar juga terdapat kotak hitam itu.

Melihat kotak sudah dikeluarkan oleh anak muda itu, segera Pokyang Thian berseru, “Nah, sekarang tentu kalian boleh membuka Hiat-toku bukan?”

“Baiklah,” kata It-hiong. “Pang-heng, harap bebaskan Hiat-to yang kututuk tadi.”

Siapa tahu, belum lenyap suaranya, mendadak Pang Bun-hiong berteriak khawatir, “Awas, ada bahaya!”

“Wutt”, mendadak sesosok bayangan melompat keluar dari balik sebuah makam yang berdekatan dari situ, secepat kilat menerjang tiba.

Penyergap ini berbaju hitam mulus, membawa Boan-koan-pit, senjata berbentuk potlot. Begitu melompat tiba segera ujung potlot baja menikam kepala Liong It-hiong, gerakannya cepat dan serangannya keji.

It-hiong tertawa keras sambil menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping sehingga serangan orang terhindar, berbareng ia sambar pedang pandak yang ditaruhnya di samping tadi terus balas menusuk.

Tapi pendatang itu juga sangat gesit, sekali luput serangannya segera ia menendang, kedua kaki menendang sekaligus secara berantai.

Terdengar suara “plok”, kaki kirinya berhasil menendang pergelangan tangan kanan It-hiong yang memegang pedang, menyusul tangan orang berbaju hitam itu meraih, kotak hitam hendak direbutnya.

“Eh, jangan sembrono!” teriak It-hiong sambil melejit, dengan gerakan indah kakinya balas mendepak dan tepat mengenai pinggang orang.

Depakan ini cukup keras, kontan orang itu terpental dua tombak jauhnya, namun orang itu memang hebat, dia tidak jatuh terbanting melainkan membalik tubuh selagi terapung di udara, lalu turun ke bawah dengan enteng. Ia tidak kapok, segera ia menerjang maju lagi.

Akan tetapi saat itu kotak hitam sudah dipegang oleh It-hiong, begitu melihat lawan menerjang tiba, langsung ia sambut orang dengan pedangnya sambil berseru, “Aha, sahabat, perkenalkan dulu namamu, pedang Liong It-hiong tidak pernah membunuh kaum keroco yang tak bernama!”

Melihat pedang pandak yang dipegang It-hiong, pendatang itu tahu pasti pedang pusaka yang dapat memotong besi serupa merajang sayur, seketika timbul rasa jerinya, cepat ia menahan daya terjangnya, jawabnya sambil tertawa seram, “Haha, baik, kuberi tahu, aku tidak perlu ganti nama dan tukar she, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan adanya.”

Kiranya dia ini si sastrawan pensil berdarah, malah satu dari Lok-lim-jit-coat, saudara angkat Pokyang Thian.

Air muka Pokyang Thian kelihatan rada berubah, sedapatnya ia memperlihatkan senyum gembira, katanya, “Ah, Lolak (keenam), engkau sudah datang?!”

Usia Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan belum ada 40-an, wajahnya cukup cakap, tapi sikapnya kelihatan kejam dan seram, sinar matanya mencorong tajam serupa setiap saat hendak mencaplok mangsanya, menakutkan kelihatannya.

Ia mendengar teguran Pokyang Thian, tapi dia tidak balas memandangnya, bahkan melirik pun tidak, ia hanya menjawab dengan terkekeh aneh, “Hehe, memang betul, kudatang untuk menolongmu!”

“Bersama siapa pula kedatanganmu ini?” tanya Pokyang Thian.

Dengan tertawa ejek Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan menjawab, “Tidak banyak, seluruhnya cuma tiga orang saja yang datang kemari termasuk diriku. Siaute, tahu Pokyang-heng tidak suka ada orang lain yang terlalu banyak ikut campur urusan ini, maka tidak berani kuajak teman yang lain lagi.”

Pokyang Thian kelihatan kikuk, katanya dengan menyengir, “Ah, engkau salah paham, Lolak. Soalnya aku tidak sempat memberitahukan kepada kalian, sama sekali aku tidak mempunyai pikiran ingin menarik keuntungan untuk diri sendiri ….”

Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan tidak menggubrisnya lagi, ia pandang Liong It-hiong sambil menyeringai, katanya, “Liong-hiap, sudah lama kudengar nama kebesaranmu, cuma malam ini sudah menjadi tekadku akan mengambil kotak hitam ini, hendaknya kau tahu gelagat sedikit dan janganlah melawan.”

“Hahaha!” It-hiong tergelak. “Aku Liong It-hiong justru seorang yang tidak mau tahu gelagat, ibaratnya sebelum melihat peti mati takkan menangis, sebelum tiba saat terakhir takkan menyerah. Maka kalau engkau menghendaki peti ini, kau perlu perlihatkan sejurus dua dulu kepadaku.”

“Baik, segera akan kuperlihatkan padamu!” jengek Hiat-pit-siucay. Bicara sampai di sini, segera ia berpaling dan berseru, “Ayo keluarlah, Hek-pek-ji-long!”

Air muka It-hiong dan Bun-hiong sama berubah demi mendengar sebutan “Hek-pek-ji-long” atau kedua serigala hitam dan putih.

Hampir setiap orang persilatan pasti tahu dua orang bersaudara yang berjuluk Hek-pek-ji-long ini, sebab mereka adalah jago kelas tinggi dunia persilatan yang sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Bicara tentang ilmu silat, mereka pasti tidak di bawah Koh-ting Tojin, Kim-kong Taysu dan lain-lain, dalam hal kebesaran nama bahkan boleh dikatakan tidak di bawah siapa pun, sebab kisah hidup mereka memang sangat istimewa, mereka dibesarkan oleh seekor induk serigala.

Konon pada lebih 50 tahun yang lalu, mereka diketemukan oleh seorang kosen dunia persilatan di tengah suatu gerombolan serigala.

Tokoh kosen itu menghalau kawanan serigala itu dan membawa mereka kembali ke dunia manusia. Setelah dididik selama belasan tahun barulah sifat manusia mereka dapat dikembalikan sebagian.

Lantaran sejak kecil mereka hidup di tengah kawanan serigala, gerak-gerik mereka menjadi gesit dan cekatan luar biasa, maka setelah berhasil menguasai ilmu silat, Kungfu mereka tambah mengejutkan, kemudian orang kosen itu meninggal dunia, mereka lantas berkelana di dunia Kangouw, tidak lama kemudian lantas terkenal sebagai Hek-pek-ji-long. Banyak jago kelas tinggi dikalahkan mereka.

Cuma, meski ilmu silat mereka cukup tinggi, namun dalam pandangan orang dunia persilatan mereka bukanlah “tokoh”, sebab mereka suka bertindak ngawur, tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, tindak tanduknya tidak mempunyai pendirian, asalkan ada orang mengundang mereka makan minum sepuasnya dan mereka pun siap menjual nyawa bagi siapa pun, jadinya serupa dua ekor anjing piaraan saja.

Begitulah, maka ketika Hiat-pit-siucay berteriak, serentak Hek-pek-ji-long melompat keluar dari tempat sembunyinya, sekali lompat saja lantas berada di depan.

Usia Hek-pek-ji-long ini sudah di atas 60-an, yang satu berbaju hitam dan yang lain berbaju putih, wajah sama jelek dan seram, sama sekali tidak berbau manusia.

Senjata yang digunakan Hek-long atau serigala hitam adalah Song-bun-kiam, pedang kematian. Sedangkan senjata Pek-long atau serigala putih adalah sepasang golok.

Segera Hiat-pit-siucay mengangkat Boan-koan-pit dan memberi tanda menyerang berbareng, ia sendiri lantas melompat mundur.

Hek-pek-ji-long serupa dua ekor anjing yang sudah terlatih, begitu melihat perintah sang majikan, serentak mereka menubruk ke arah It-hiong dan Bun-hiong.

Begitu menubruk maju segera serigala hitam menusuk Bun-hiong dengan pedangnya.

Serigala putih menerjang It-hiong, ia putar kedua goloknya dan menyerang tanpa kenal ampun.

Terpaksa It-hiong berdua menyambut serangan mereka, tapi baru saling gebrak beberapa jurus It-hiong berdua sudah tercecer hingga rada kelabakan.

Gerak serangan Hek-pek-ji-long selain aneh dan cepat luar biasa, setiap jurus serangannya sangat berlawanan dengan peraturan ilmu silat umumnya dan di luar dugaan, ketambahan lagi sifat mereka yang liar dan suka berkelahi, maka pertarungan mereka dilakukan dengan kalap, hanya menyerang tanpa bertahan, sebab itulah sejak mulai mereka sudah di atas angin sehingga It-hiong berdua terdesak mundur melulu.

Melihat Hek-pek-ji-long pasti di atas angin, Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan tidak perlu lagi membantu mereka, ia lantas mendekati Pokyang Thian, dengan tertawa yang dibuat-buat ia berkata, “Eh, Pokyang-heng, kenapa engkau hanya berbaring saja dan tidak mau bangun?”

“Ah, jangan bercanda, Lolak,” jawab Pokyang Thian dengan menyengir.

“Tadi kudatang tepat pada waktunya sehingga berhasil menyelamatkan kotakmu, coba cara bagaimana engkau akan berterima kasih padaku?” tanya Giok-koan dengan tertawa.

“Kita kan saudara sendiri, bagaimana kalau separuh-separuh?” jawab Pokyang Thian.

“Aha, bagus sekali!” seru Hui Giok-koan dengan tertawa senang.

“Jika begitu, lekas kau bebaskan Hiat-toku, mereka telah menutuk Hiat-to kelumpuhanku,” seru Pokyang Thian.

“Baik, akan kubebaskan dirimu,” Hui Giok-koan mengangguk.

Habis berkata, Boan-koan-pit yang dipegangnya mendadak menikam ke hulu hati Pokyang Thian.

Keruan Pokyang Thian menjerit, “Aduhhh!”

Seketika matanya terbelalak lebar seperti tidak percaya kepada apa yang terjadi, teriaknya pula dengan suara gemetar, “Ah, Hui Giok-koan, keji … keji amat kau ….”

Hui Giok-koan menarik Boan-koan-pitnya yang berlumuran darah, ucapnya dengan tertawa, “Ah, jangan berkata begitu, apa yang kulakukan ini kan cuma membebaskanmu dari penderitaanmu saja.”

Pokyang Thian tidak bersuara lagi, sebab dia memang benar telah mendapatkan “pembebasan”, pembebasan segalanya, hanya kedua matanya saja yang tetap mendelik sebesar gundu, agaknya mati pun dia masih penasaran.

Hui Giok-koan mendepak mayat Pokyang Thian sambil memaki, “Bedebah, jika mati penasaran boleh kau mengadu saja kepada Giam-lo-ong (raja akhirat) di neraka sana.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: