Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Perguruan Sejati (13)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:17 pm

Perguruan Sejati (13)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

Pelayan-pelayan berulang kali mencoba mendekatinya menanya ini itu dengan ramah, bukan saja tidak dihiraukan, malahan diusirnya. Hoo kee dari restoran ini melihat tamu yang aneh ini, merasa tidak betah dan ingin menanya apa yang dikehendaki pemuda itu, tapi perkataan mereka yang berada dikerongkongan tak kunjung keluar karena sinar mata pemuda itu yang tajam dan pedang yang tersoren di pinggangnya membuat mereka takut sendiri.

Pada haru raya yang ramai ini banyak tidak kebagian tempat, dan sudah tentu pemuda itu tidak boleh menjublek terus-terusan semalam suntuk disitu, ini merugikan pemilik restoran. Lebih-lebih tempat yang dipakai pemuda itu adalah yang terbaik dan termahal, biar bagaimana kerugian ini harus dicegah, maka itu Hok Kee itu berunding dan mengambil keputusan untuk melaporkan kejadian ini pada Lau pan atau majikan mereka.

Pemilik Hui hong sian ini adalah Pang Tiong seorang buaya kenamaan di telaga See Ouw. Biar dia mempunyai alis kereng dan tabiat kasar, tapi cukup berpengetahuan luas, jikalau tidak mana mungkin seorang buaya semacam dia bisa mendirikan restoran Hui hong sian yang begitu terkenal.

Mendengar laporan dari Hok keenya, Pang Tiong mengerutkan alis dan bertanya:

“Ei, kalian bisa memastikan ia baru berusia delapan belas tahun?”

“Ya!”

“Sudah berapa banyak ia minum? Mabukkah dia?”

“Sudah minum sepuluh teko, mabuk tidaknya kami tidak tahu!”

“Dilihat tampangnya beruang atau tidak?”

“Pakaiannya mentereng, kelihatannya sih berduit juga!”

“Ha ha ha, kalau ia beruang soal gampang!” kata Pang Tiong dengan tergelak-gelak. “Sekarang juga kau jemput Siau Yang Ang, dan hadapi pada pemuda itu, kutanggung bocah itu akan manggut-manggut…”

“Sekarang adalah hari raya, mungkin Siau Yang Ang tak bisa datang….”

“Pokoknya, bisa tidak bisa, asal ada uang akan bisa!” kata Pang Tiong.

Hoo kee itu tak berani banyak cerita lagi, segera berlalu untuk menjemput Siau Yan Ang. Pang Tiong sedangkan tak bisa tenang, cepat-cepat ia mengenakan pakaian barunya dan lalu terus naik ketingkat tiga.

Kini ia percaya apa yang dikatakan Hok keenya bahwa pemuda itu benar-benar aneh. Dengan didahului deheman kecil ia masuk ke kamar pemuda itu. Sebelum berkata ia tersenyum dulu. “Kongcu.” Ia meneruskan menantikan reaksi pemuda itu.

Pemuda itu tidak bereaksi, ia melanjutkan kata-katanya. “Selamat datang di Hui hong sian ini, restoran ini dibangun tepat ditepi telaga, tak usah repot-repot perahu melalui telaga ini bukan? Maka itu kupakai nama Hui hong sian. Atau pelangi terbang…

Pemuda itu tersenyum-senyum dan memancarkan sinar gembira pada wajahnya. Pang Tiong melihatnya mejadi girang, dan melanjutkan kata-katanya.

“Aku sebagai orang bodoh yang kurang sekolah, tapi pengunjung-pengunjung restoran ini, banyak yang pintar-pintar dan bersekolah tinggi. Menurut mereka nama ini indahnya terletak pada pemakaian huruf hui atau terbang…”

“Apa indahnya?”

Pang Tiong lupa diri, semakin sok aksi dan kiranya dialem. “Pelangi adalah benda mati, ditambah huruf terbang, bukankah menjadi hidup? Hui hong! Hui hong! pelangi terbang…artinya pelangi itu terbang dan tidak mati! Ia asyik menguraikan nama itu dengan panjang lebar, dan tidak menduga bahwa pemuda itu tiba-tiba saja menjulurkan tangan mencekal pergelangannya.

“Hong atau pelangi menurutmu benda mati?” bentak pemuda itu dengan mata mendelik dan memancarkan sinar membunuh.

Pang Tiong tak habis mengerti, kemana pemuda ini yang mula-mula sudah tersenyum-senyum tiba-tiba bisa berubah demikian macam, hatinya gugup dan tidak bisa menjawab. Begitu sipemuda menggunakan tenaga Pang Tiong merasa sakit yang tidak kepalang. “Hm, manusia bodoh, engkau harus mengerti bahwa pelangi begitu indah dan bisa memancarkan berbagai warna yang hidup keempat penjuru, kenapa kau katakana mati?” Lidahmu harus kupotong!” Sambil berkata itu pemuda menarik separuh itu. Sejenak berlalu pemuda itu diam tak menghiraukan.

“Kongcu.” ia mengeraskan suaranya sambil tersenyum terus.

Sekali ini membuat pemuda itu menoleh, dan menggerakkan tangan belakang, menyuruh Pang Tiong pergi! Dengan sabar Pang Tiong tersenyum terus, ia tidak keluar, melainkan maju selangkah sambil memberi hormat. “Aku bernama Pang Tiong pemilik restoran ini…” Lagi pemuda itu menggoyangkan tangan menyuruhnya berlalu, sikapnya begitu dingin dan sombong.

Dengan menelan liur, Pang Tiong kumat kamit masih mau melanjutkan kata-katanya, tapi tak jadi keluar, karena dengan mendadakan pemuda itu membalikkan tubuh, dan membentak: “pergi!”

“Ya, ya!” jawab Pang Tiong dengan gugup sambil mundur-mundur. “Aku sebagai pemilik restauran ini berkewajiban melayani tamu…tapi Kongcu tak mau, maka…”

“Kemari!” bentak lagi pemuda itu.

“Kongcu mau apa lagi?” tanya Pang Tiong.

“Engkau mengaku sebagai pemilik restauran ini?”

“Benar!”

“Baik! Sekarang ingin kutanya siapa yang memberi nama Hui hong sian pada restoran ini?”

Pang Tiong menjadi melengak, tapi dengan cepat ia tersenyum lagi. “Kongcu jangan menertawakan, aku yang memberi nama itu dengan sekena-kenanya.”

“Hm tentu ada artinya bukan?”

“Ya sedikit banyak ada saja,” kata Pang Tiong. Aku melihat pemandangan ditelaga ini indah sekali, lebih-lebih sehabis hujan, dilangit terlihat pelangi. Kupikir pelangi itu bentuknya seperti jembatan.

Sambil berkata pemuda itu menarik separuh pedangnya keluar dari serangka.

Sekujur tubuh Pang Tiong menjadi lemas, tapi seumurnya belum pernah menghadapi anak muda yang begitu gagah, lekas-lekas ia meratap “Kongcu…soal apapun mudah dibicarakan tak perlu begini…”

“Trang!” pedang terhunus, Pang Tiong sudah ditarik pemuda itu kepinggir lankan. Melihat keadaan ini cepat-cepat ia menjerit sekuatnya “Tolong! Tolong!”

Hoo kee hoo kee mendengar teriakan majikannya, memburu keatas. Pemuda itu menyapu mereka dengan sinar matanya yang tajam dan dingin: “Maju lagi selangkah, berarti mencari mati!”

Sinar mata pemuda itu berpengaruh betul si hoo kee manjadi gemetar, dan diam tak bergerak.

Pada saat yang genting inilah tiba-tiba terdengar suara halus yang sangat merdu. “Ai, apa-apaan ini? Malam indah bulan purnama tidak dinikmati, berbalik main pedang dan golok, ah benar-benar menakutkan orang!” Seiring dengan suara itu terlihat seorang perempuan berbaju merah. Usianya lebih kurang dua puluh lima tahun, begitu cantik dan menggiurkan.

Pemuda itu matanya menjadi bersinar, dan…

“Kau.”

“Aku bernama Siau Yan Ang!”

Pemuda itu mengucak-ucak matanya, lalu menatap dalam-dalam. “Ambil lampu!” tiba-tiba ia membuka mulut.

Setengah malam pemuda itu tak mengijinkan menyalakan lampu, tapi begitu berhadapan dengan Siau Yan Ang adat kerbaunya menjadi luntur. Pelayan-pelayan menjadi girang dan berserabutan mau mengambil lampu. Dengan lemah lembut Siau Yan Ang mencegah mereka. “Kongcu bulan purnama air telaga berkilauan memantulkan cahaya, belum cukup terangkah?”

“Bunga didalam kabut takkan terlihat tegas,” kata pemuda itu. Tambahan pula aku sedikit mabuk, kuatir kalau kalau salah mengenali orang.”

“Dengan wajah asli, kuatir tertutup awan! Juga tak pernah aku mendengar orang menikmati rembulan sambil memasang lampu!”

Pemuda itu tertegun rak bisa mendebat lagi.

Siau Yan Ang dengan lengannya yang halus menunjuk kelankan. “Pang lau pan ini boleh dibebaskan dari kesalahannya?”

Pemuda itu memasukkan pedangnya kedalam serangka. “Pergilah!” katanya dengan terpaksa.

Pang Tiong seperti juga terlepas dari bahaya maut menghaturkan terima kasih pada Siau Yan Ang dengan berlebih-lebihan.

“Sudahlah!” kata Siau Yan Ang. “Kuminta disediakan perahu berhias.”

“Kounio jangan pergi dulu,” salak Pang Tiong.

“Siapa bilang aku mau pergi?” kata Siau Yan Ang. “Aku mau mengajak Kongcu ini pesiar dan jangan diam saja seorang diri dimalam romantis ini!”

Pang Tiong baru mengerti maksud Siau Yan Ang, ia menganggukkan kepala dan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan perahu. Dalam sekejap apa yang diinginkan si nona sudah tersedia. Dengan tersenyum perempuan itu memandang sipemuda.

“Kongcu, mari!” Sungguh mengherankan, anak muda bertabiat aneh itu, begitu jinak dan penurut sekali, tanpa berkata ia turut keluar. Sebelum berlalu ia melemparkan uang emas keatas meja.

Dengan langkah gemulai Siau Yan Ang turun dari loteng diikuti pemuda itu. Sekalian Hoo kee dan pelayan maupun Pang Tiong sendiri merasa lega dengan kepergian pemud yang galak itu.

Diatas perahu terdapat beberapa perempuan muda berbaju kuning, mereka menyambut kedatangan Siau Yan Ang dan pemuda itu. Sebentar kemudian perahu sudah terkayuh ketengah telaga, persiapan diperahu begitu lengkap, makanan maupun minuman sudah tersedia, pemuda itu diam terus tanpa membuka mulut, sedangkan Siau Yan Ang duduk menyandar disebuah kursi yang bersulam sambil tersenyum-senyum pada pemua itu.

Perahu dikemudikan ketempat agak gelap dan meninggalkan keramaian ditelaga. Setelah ini Siau Yan Ang menggerakkan tangan sambil berseru: “Tak usah dikayuh lagi, kemarilah kukenalkan kalian pada Siau pangcu!”

Pemuda itu terkesiap, “Kau.kau benar Soat Kouw Kouw.”

Dengan tersenyum dingin Soat Kouw berkata: “Maukah memakai lampu lagi agar dapat melihat bunga dengan tegas?”

Pemuda itu berkeringat dingin. “Aku tidak bersalah kenapa Kouw kouw mempersulit diriku?”

“Hm engkau bernyali besar dan tak memandang sedikit kepadaku,” kata Soat Kouw. “Kau kira aku benar-benar menjadi perempuan berengsek?

“Apa yang kulakukan ini keseluruhannya demi Pok Thian Pang, Dengan susah payah aku kesana kemari mencarimu, tak kira bisa bertemu disini! Sekarang jelas, dimana dia?”

‘Siapa?”

“Jangan pura-pura bodoh, tentu Wan jie yang kutanya!”

“Aku tak tahu!”

“Apa? Tidak tahu? Kata Soat kouw dengan dingin. “Kamu adalah saudara seperguruan yang setimpal, kenapa melarikan diri tatkala mau dinikahkan? Dengan begini engkau sebagai anak yang tidak berbakti pada orang tua, demikian pula dengan Wan jie, tahukah perbuatan kamu ini akan mendatangkan akibat apa?”

“Tapi Kouw kouw harus mengerti, antara Wan jie dan aku dibesarkan bersama-sama, perasaanku padanya tak ubahnya sebagai saudara, sedikitpun tidak mempunyai perasaan cinta! Sudah tentu saja perjodohan ini kami tentang….”

“Ya sekarang kemana perginya Wan jie? Apakah ia mencari In Tiong Giok?” tanya Soat kouw.

“Apa salahnya ia mencari In Tiong Giok? tanya Pek Kiam Hong.

“Engkau membela In Tiong Giok?”

“Bukan begitu,” kata Pek Kiam Hong, “sejujurnya harus kukatakan bahwa In Tiong Giok adalah seorang muda yang baik. Soal dia tidak mau masuk menjadi anggota kita, tidak bisa dipaksa! Tambahan ia meninggalkan Pok Thian Pang karena dibawa lari oleh orang lain, dia sendiri mana boleh disalahkan? Seorang muda semacam dia kurasa cocok untuk Wan jie…”

Soat kouw menjadi terkekeh-kekeh mendengar perkataan itu.

“Kouw-kouw menganggap lucu dan tertawa, tapi kata-kata ini keluar dari hato yang sejujurnya,” kata Pek Kiam Hong. “Ai! Didunia yang dapat mengerti perasaan hatiku mungkin hanya In Tiong Giok seorang, sayang pertemuanku dengannya hanya sebentar…”

Mendengar ini Soat kouw menjadi kaget, gusar bingung menjadi satu.

Pek Kiam Hong seorang muda yang polos, tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan Kouw kouwnya, ia bicara terus seenaknya; setahun lebih aku meninggalkan rumah, kini bisa bertemu dengan Kouw kouw, tak ada alas an apa-apa lagi yang akan kutemukan, hanya kumohon saja, kesalahan yang kuperbuat ini jangan merembet-rembet pada Wan jie.”

Tiba-tiba saja Soat kouw tersenyum. “Engkau sebagai laki-laki yang gagah dan berani bertanggung jawab. Duduklah, aku masih perlu bertanya padamu.” Tidakkah engkau terkenang pada ibumu?”

Pek Kiam Hong menundukkan kepala, matanya menjadi merah. “Budi orang tua bagaimanapun tak bisa kulupakan, sudah tentu kurindu kepadanya.”

“Jika begitu engkau harus percaya pada Kouw kouw bukan?”

“Aku tak mengerti apa yang Kouw kouw maksud…”

“Ingin kuberi tahhu suatu soal padamu, apakah engkau percaya?”

“Aku percaya!”

“Apakah kepercayaanmu ini berdasarkan aku sebagai bibimu atau secara tulus ikhlas?”

“Aku percaya bahwa Kouw kouw tidak akan mempersulit diriku!”

“Jika percaya baiklah kukatakan, aku tak berniat membawamu kembali kemarkas pusat!”

“Ah, Kouw kouw…” Pek Kiam Hong kegirangan sampai tak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Jangan terlalu girang, kata-kataku belum selesai,” kata Soat kouw. Aku hanya mengatakan sekarang membawamu kesana, tapi tidak mengijinkan juga kau berkeliaran terus diluar untuk selama-lamanya. Engkau sebagai Siau Pangcu bagaimana tak boleh berkhianat pada perserikatan sendiri…”

“Kehidupan sebagai Siau Pangcu, sudah tentu tak berani berkhianat, apa yang kulakukan semata-mata untuk menghilangkan kekesalan yang telah mengeram padaku selama tujuh belas tahun. Pikir saja disana aku tak mempunyai suatu pekerjaan, setiap hari terpekur dan termenung tak ubahnya seperti bangkai hidup bukan?”

“Engkau ingin mencari pengalaman didunia Kang Ouw tidak kularang, tapi kaupun harus meluluskan dua permintaanku!”

“Silahkan Kouw kouw katakana!”

“Kesatu engkau harus mencari Wan jie, dan nasehatkan padanya tidak boleh mengkhianati perserikatan kita, andaikata ia tak mau kembali kepusat, ia harus melapor terus kemana ia pergi!”

“Tapi yang diperbuat Wan jie adalah soal seumur hidupnya…”

“Mengenai hal yang menyangkut perkawinanmu tak perlu dipikirkan, kamipun bisa membicarakan pada Lo Cucong, dan mungkin iapun tak akan memaksa dengan kekerasan, jika kalian tidak setuju satu sama lain,” kata Soat kouw. “Yang kedua kuharapkan kau bisa menyerapi dimana In Tiong Giok berada, bagaimanapun ia harus ditangkap…”

“Tidak!” Pek Kiam Hong memprotes dengan spontan.

“Kenapa?”

“Dalam hal ini bukan saja aku, Wan jiepun pasti tidak mau berbuat semacam itu tadi sudah kukatakan bahwa In Tiong Giok adalah kawanku yang baik, dan merupakan pula gantungan hidup Wan jie dikemudian hari.”

“Tapi kau jangan lupa, iapun sebagai pencuri buku! Perbuatannya itu menyebabkan Keng thian cit su tersebar luas dikalangan Bulim, karena itulah sampai peresmian Pok Thian Pang tertunda setahun lebih. Lo Cucong merasa sakit hati dan memerintahkan semua anggota untuk menangkap dia guna diadili.”

“Orang-orang pandai diperserikatan kita bukan sedikit, kenapa Kouw kouw membebankan hal ini kepadaku?”

“Jadi engkau ingin tahu sebab-sebabnya, kujelaskan kepadamu!”

“Benar!”

“Hm, karena In Tiong Giok adalah musuhmu!” kata Soat kouw. “Ayahmu meninggal karena dia!”

“Benarkah?” tanya Pek Kiam Hong dengan mata mendelik.

“Aku tak mau membohong!” kata Soat kouw dengan tegas. “Engkau tertipu! Sedikitpun engkau tak tahu bahwa dia adalah murid Han Bun Siang yang berkepandaian tinggi! Kepandaiannya itu lebih darimu! Dengan alassan sebagai penterjemah ia datang ke markas pusat, semata-mata untuk mencuri buku! Setelah Cian bin sin kay terbuka kedoknya, segera ia kabur!”

“Hal ini sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan kematian ayahku!”

“Sudah tentu kami mempunyai bukti yang tidak dapat dibantah, dipunggungnya In Tiong Giok tertera tanda luka!”

“Bagaimana Kouw kouw tahu?”

“Sebelum terjadi peristiwa Cian bin sin kay terbuka kedoknya, Lie Kee Cie telah menaruh kecurigaan besar pada mereka. Lalu ia memohon agar Lo Cucong mengirim surat ke Ngo Liu Cung agar Tan Toa Tiau menyelidiki hal ihwal In Tiong Giok pada keluarganya. Ia berhasil menyelidiki bahwa In Tiong Giok mempunyai tanda luka dipundak kirinya!”

“Waktu ia belum meninggalkan Pok Thian Pang, kenapa tak ditangkap?”

“Kegagalan ini akibat perbuatan Wan jie!” kata Soat Kouw. “Waktu penyelidikan selesai, Tan Toa Tiau memberikan laporan melalui merpati pos, apa celaka surat itu Wan jie yang terima, untuk kepentingan asmaranya inilah, surat itu dipendam dan tidak dilaporkan!”

Pek Kiam Hong menarik napas panjang, apa yang dikatakan Soat Kouw itu soal sakit hatinya. Dan orang menjadi musuhnya, boleh kenapa In Tiong Giok adanya. Seorang kawan yang disayanginya. Dibawah sinar rembulan, wajahnya terlihat semakin pucat, dan ia diam tak mengeluarkan kata-kata lagi. Soat kouw melirik sambil tersenyum, dan menuangkan arak secawan. “Minumlah dulu apa kesal-kesal!”

Sekali teguk arak itu mengalir kerongkongan Pek Kiam Hong, cawan yang kosong itu dibanting sampai masuk kedalam meja.

“Kau masih terlalu muda, tidak bisa membedakan antara orang jahat dan orang baik. Hanya dengan kata-katanya yang manis engkau sudah terpengaruh dan menganggap musuh sebagai sahabat karib! Dengan tanpa pengalaman engkau mengembara di dunia Kang Ouw sebenarnya membuatku tak tenteram. Maka itu sepak terjangmu dikemudian hari harus lebih hati-hati dan jangan sampai tertipu lagi orang-orang jahat!”

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala dan berkata: “Aku akan mencari dia biar sampai keujung langitpun, ingin kulihat dengan mata kepala sendiri tanda luka dipunggung kirinya dan ingin kutanyakan asal usulnya dengan mulut sendiri!”

Soat kouw tersenyum mendengar perkataan ini, lalu menyuruh pengikutnya mengayuh perahu menuju pantai. “Agar tak ketahuan jejak kita dari orang luar, kuantarkan engkau sampai disini. Dan ingatlah akan pesanku!”

Pek Kiam Hong menarik napas, lalu memberi hormat, tubuhnya mencelat dengan gesit ketepi pantai.

Waktu ia menoleh ketelaga, perahu sudah pergi jauh. Dengan langkah berat ia menuju kekota, baru beberapa langkah ia berjalan, dengan tiba-tiba dari tempat agak gelap berkelebat sesosok tubuh ramping yang langsung menegurnya. “Hei, engkau she Pek atau bukan?”

“Engkau siapa?”

“Aku yang bertanya lebih dulu, engkau she Pek atau bukan?”

Kini ia melihat tegas lagi, bahwa orang itu adalah gadis muda yang menggobet kepalanya dengan kain hijau.Dipunggungnya terdapat pedang panjang. Wajahnya separuh tertutup kain gubetan tidak terlihat tegas. Pek Kiam Hong mengerutkan alisnya, seolah-olah dia merasa kenal dengan gadis itu, seketika tidak terpikir olehnya dimana pernah bertemu dengannya. “aku she Pek atau bukan ada urusan apa denganmu?”

“Hei, apa kau menjadi besar karena makan batu?” Ditanya baik kenapa marah-marah?”

Pek Kiam Hong seorang muda bertabiat aneh ditambah hatinya sedang kesal, mendengar perkataan sigadis, hatinya menjadi meluap, segera ia membentak, “Hei , budak apakah mau mampus?”

Gadis itu sedikitpun tidak menjadi gentar dan membalasnya dengan kata-kata kasar pula: “Binatang! Anjing kau, sembarangan memaki orang!”

Pek Kiam Hong tak bisa mengendalikan lagi emosinya, segera maju kedepan dengan pedang terhunus.

“Trang!” terdengar sekali, gadis itu menghunus pula senjata dan maju menyongsong lawan. Begitu mereka mendekat dan pandangan mata saling bentrok, mereka saling mengeluh dengan menarik napas. “Ih, kiranya Tiat Kounio!”

“Ah, engkau benar Siau Pangcu adanya!” kata gadis itu yang bukan lain dari Tiat Siau Bwee adanya. “Tak kusangka tampang alim sepertimu bisa mencari hiburan dengan perempuan jalang!”

“Kounio jangan salah paham, perempuan itu adalah kouw kouwku!”

“Hm, aku tak percaya, masakan kouw kouwmu itu berdandan semacam itu dan gerak geriknya begitu misterius?”

Pek Kiam Hong tahu, diterangkan bagaimanapun tak bisa membuat gadis itu mengerti, maka itu dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan ketempat lain. “Engkau sendiri kenapa bisa berada ditelaga See Ouw ini?”

Perkataan ini membuat Siau Bwee terpekur, matanya berkaca-kaca, mendadak lalu menjawab dengan sedih. “Aku tak diakui anak lagi oleh ibuku!”

“Kenapa bisa begini?” tanya Pek Kiam Hong dengan kaget.

“Jika dikatakan soalnya panjang,” kata Siau Bwee sambil memonyongkan mulut, “sebaiknya kutanya dulu padamu, bisakah menolongku?”

“Asal yang kubisa pasti kutolong!”

“Begini,” Siau Bwee tertegun sejenak, wajahnya mendadak menjadi merah seperti kepiting direbus, “engkau mengantongkan uang tidak?”

“Apa maksudmu bertanya soal uang?”

“Aku….aku mau pinjam!”

“Untuk apa uang itu?”

Siau Bwee menjadi mendelik dan bersungut-sungut. “Hm! Apakah kau tak tahu gunanya uang? Terang-terangan saja, kasih pinjam atau tidak?”

Tidak banyak bicara lagi Pek Kiam Hong merogoh saku dan menyerahkan seraupan uang emas. “Cukup sebegini?”

Siau Bwee tersenyum “Waduh banyak betul cukup, cukup! Uang ini tak bisa cepat-cepat kubayar!”

“Ah, segala uang sebegini, pakailah jangan dihitung utang!”

Siau Bwee mengantongi uang itu. “Atas ini aku menghaturkan banyak terima kasih kepadamu. Sebenarnya akupun membawa uang dari rumah, tapi sudah habis kuhamburkan disepanjang jalan, untung hari ini aku bertemu denganmu, kalau tidak aku bisa jatuh susah!”

“Kenapa engkau meninggalkan rumah dan hidup sampai sesusah ini….” tanya Pek Kiam Hong.

“Tak usah membicarakan soal itu,” potong Siau Bwee, kau tahu dalam kebokekanku ini sudah sehari tidak makan nasi, yang perlu harus mencari makanan dulu, mari!”

“Kenapa tidak sedari tadi engkau katakana?”

“Sudah jangan ngomong melulu, kepalaku terasa pening!” kata Siau Bwee yang terus berjalan lebih dulu.

Pek Kiam Hong menggelengkan kepala, dan terus mengikuti dari belakang.

Mereka memilih sebuah restoran yang terbaik didalam kota dan terus makan dengan lahapnya. Dalam waktu sejenak, Siau Bwee telah memberesi seekor ayam rebus, dua bakpau dan semangkok ikan kuah, tampaknya benar-benar dalam kelaparan.

“Masih mau tambahkah?” tanya Pek Kiam Hong.

“Engkau jangan mengeledek, nanti ada saatnya engkau merasakan tak makan seharian, saat itulah baru tahu bagaimana rasanya lapar itu!”

“Ya dalam keadaan lapar, makanlah biar banyak, agar tak lapar lapar lagi!”

Siau Bwee mendelik dengan heran. “Kau kira aku tak sanggup makan lagi, berapa piring lagipun masih sanggup, hanya saja kutak mau!”

“Kenapa tak mau?”

“Ah, benar-benar…terlalu banyak makan bisa gemuk, anak gadis gemuk-gemuk tidak bagus mengerti!”

Pek Kiam Hong menjadi melongo. Dan biasanya ia bertabiat aneh, karena terlalu lama hidup menyendiri tanpa suatu pergaulan, menghadapi gadis semacam Siau Bwee yang bersifat polos dan berlaku blak-blakan, entah bagaimana jadi banyak bicara dan kekesalan hatinya seperti hilang dan berubah menjadi manusia baru yang lain dari dulu-dulu. “Sekarang kau sudah kenyang, boleh bercerita apa sebabnya meninggalkan rumah bukan?”

“Semuanya ini gara-garamu juga sih!”

“Apa? Aku?” Pek Kiam Hong terkejut.

“Ya!” jawab Siau Bwee. “Dapatkah kau terangkan dimana tempatnya Pok Thian Pang?”

“Untuk apa kau tanyakan ini?”

“Kau tahu sudah tiga bulan kucari tidak ketemu juga!”

“Oh, kiranya kau meninggalkan rumah untuk ke Pok Thian Pang!”

“Ya! Sebab ingin ke Pok Thian Pang, aku ribut dengan ibu, sehingga hidup terlunta-lunta sampai begini!”

“Untuk apa kau pergi ke Pok Thian Pang?”

“Idih! Masih tanya-tanya lagi! Justru gara-garamu mau kawin dengan Wan jie aku diundang ibumu datang kesana untuk menyaksikan perayaan itu, lupa dah yah?”

“Oh, begitu! Untung tak sampai kesana, bila mana tidak kepergianmu tetap sia-sia saja!”

“Eh, memang kenapa?”

“Sejujurnya pernikahan ini bukan kemauanku maupun Wan jie, semua ini kerjaan Lo Cucong maka sebelum upacara dimulai, kami minggat berdua meninggalkan Pok Thian Pang dan sampai sekarang belum pulang-pulang!”

“Kalau begitu engkaupun kabur dari rumah seperti aku juga?”

“Benar!”

“Selamanyakah akan hidup diluaran?”

“Mungkin selamanya, kalau bisa!”

“Apakah jabatan Siau Pangcu tak kau pegang lagi?”

“Sedikitpun jabatan Siau Pangcu itu tidak menarik hatiku.”

“Habis dah!” seru Siau Bwee. “apa yang kuharapkan musnah semua, aku harus bagaimana?”

“Kita bisa berdamai untuk menghadapi sesuatu persoalan, kenapa kau katakana habis?”

“Engkau kabur dari rumah dan tak pulang lagi, aku tak bisa pergi turut denganmu ke Pok Thian Pang! Pulang kerumahpun tak bisa, nah harus kemana?”

“Asal kau mau aku bisa membantumu pergi ke Pok Thian Pang, asal saja terangkan sebabnya kenapa kau bernafsu mau kesana!”

“Benar-benar nih?”

“Kenapa tidak!” kata Pek Kiam Hong, “kau tahu orang yang seperahu denganku tadi adalah bibiku, jika kau mau ke Pok Thian Pang juga, bisa minta bantuannya! Tapi harus kujelaskan bahwa tak sembarang orang luar boleh kesana, jika tak terlalu penting sebaiknya, urungkanlah kehendakmu itu!”

“Kini engkau telah melepaskan jabatan Siau Pangcu dan tidak kuanggap sebagai orang Pok Thian Pang lagi,” kata Siau Bwee, “apa yang terkandung dalam hatiku bisa kuterangkan padamu, tapi ingat tak boleh diceritakan lagi kepada orang kedua!”

“Ya, aku berjanji!”

Siau Bwee tiba-tiba saja mendekati Pek Kiam Hong dan berbisik ditelinga anak muda itu. “Keinginanku kesana untuk menyelidiki seorang tua yang berada didalam penjara tanah, menurut kabar orang tua itu adalah ayahku!”

“Sssssssttt!” Siau Bwee memoyongkan mulutnya, memberi isyarat jangan berkata keras-keras.

“Kenapa berkata berbisik? Takut didengar orang lain? Ketahuilah hal ini sangat rumit, biarpun orang tua itu bukan ayahku, pasti punya hubungan erat dengan rahasia keluargaku. Untuk inilah aku berhasrat pergi kesana!”

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala, tapi secara itu juga menggelengkan kepala, keningnya berkerut, agaknya sedang berpikir keras untuk memecahkan soal yang sulit ini.

“Hm,” dengus Siau Bwee, “apa yang kau pikirkan? Mungkinkah engkau keberatan jika sampai rahasia Pok Thian Pang kuketahui? Atau kau sudah tahu orang tua itu siapa? Tapi segan memberi tahu kepadaku?”

“Biarpun aku dibesarkan disana, tapi jarang berkeluyuran, karena itu masih banyak tempat yang berada di Pok Thian Pang tidak kuketahui! Demikian pula dengan penjara yang dimaksud sedikitpun tidak kuketahui dimana letaknya!”

“Kini kuharapkan engkau bisa membantuku bukan?”

“Sampai disana dengan lancar dan bisa menyelidiki orang tua itu!”

“Aku heran, kenapa bisa tahu disana ada penjara dan orang tua yang ditahan…?”

“Ah, sudah tentu ada yang memberi tahu kepadaku!”

“Aku percaya orang itu tidak membohong!”

“Siapa sebenarnya dia itu?”

“In Tiong Giok!”

“Oh dia,” kata Pek Kiam Hong dengan kaget, “kapan kau bertemu dengannya? Kini dimana dia berada? Lekas katakana!” Diluar kesadarannya sambil bicara Kiam Hong memegangi pundak Siau Bwee.

Siau Bwee menjadi merah, “Ngomong-ngomong lepaskan dulu tanganmu, berlaku begini tak baik dipandang umum!”

“Oh…maaf.aku berlaku kurang ajar diluar kesadaranku, karena In Tiong Giok sedang kucari-cari, begitu kau sebutkan namanya membuatku terlalu gembira! Dimana dia, lekaslah beri tahu padaku!”

“Untuk apa mencarinya?”

“Banyak soalnya! Aku dan Wan jie meninggalkan Pok Thian Pang gara-gara dia… Terangkanlah dimana dia berada!”

“Dimana dia? Mana kutahu!” kata-kata itu diucapkan setahun yang lalu,” kata Siau Bwee sambil menuturkan soal In Tiong Giok datang kerumahnya dengan panjang lebar.

Pek Kiam Hong jadi melongo. Kiranya sewaktu aku datang kerumahmu ia sudah ada didalam? Ah, hanya terhalang tembok saja, tak bisa bertemu! Dasar nasib!”

“hampir kulupa menanyakan soal Wan jie, katamu sama-sama denganmu meninggalkan Pok Thian Pang, kini kemana dia? Kenapa tidak bersamamu?”

“Waktu kami tiba ditelaga Tong Teng, bertemu dengan Tong Teng Cit Kiam, dan berkelahi dengan mereka! Tahu-tahu kami jadi berpisah dan sudah lama tak bertemu! Yang kutahu iapun sedang mencari In Tiong Giok!”

“Tidakkah ia diciduk musuh dan dianiaya?”

“Dia memiliki kepandaian tinggi, pasti dapat menyelamatkan diri.” Kata Pek Kiam Hong.

“Jika ia tidak kenapa-napa, pasti ia meneruskan usahanya untuk mencari In Tiong Giok,” kata Tiat Siau Bwee. “Untuk mencarinya pertama-tama kita harus ke telaga Tong Teng, jika tidak ada disana kita langsung kerumah In Tiong Giok!”

“Tahukah engkau dimana alamatnya In Tiong Giok?”

“Tidak tahu!”

“Habis bagaimana?” tanya Pek Kiam Hong.

“Kita tidak tahu alamatnya, tapi orang-orang Pok Thian Pang pasti tahu,” kata Tiat Siau Bwee.

“Bukankah mula pertama ia datang kemarkas pusat atas undangan orang-orang Pok Thian Pang?”

“Ya, benar,” kata Pek Kiam Hong, orang-orang Ngo Liu Cung pasti tahu, sebab merekalah yang mendapatkan Tiong Giok sebagai penterjemah. Mari kita kesana saja,” sambil berkata ia menarik lengan Siau Bwee.

“Hmm, apa-apaan megang-megang lagi, penyakitmu kumat lagi barangkali!”

Pek Kiam Hong cepat-cepat melepaskan tangannya, dan tergelak-gelak tanpa terasa.

“Kupikir sebaiknya ke telaga Tong Teng saja dulu!”

“Begitupun baik!” kata Pek Kiam Hong.

“Tapi, menghendaki perjalanan ini dilakukan didarat, karena aku tak berapa senang naik perahu,” kata Tiat Siau Bwee.

Pek Kiam Hong setuju saja saran si gadis, maka dibelinya dua ekor kuda yang bagus dengan harga mahal. Lalu melakukan perjalanan, mereka tak henti-hentinya mengobrol kebarat ketimur dengan gembira, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua saja. Kuda mereka sangat bagus, ditambah yang menunggangi cantik dan ganteng, menarik perhatian orang sepanjang jalan, dan memuji mereka sebagai pasangan yang setimpal.

Mula pertama mereka tiba disebuah kota yang bernama King tek sia. Kota ini sangat ternama karena menghasilkan barang pecah belah yang tiada duanya didaratan Tiongkok. Sepanjang jalan penuh pedagang barang pecah belah yang indah-indah. Melihat ini siau Bwee berpaling pada Kiam Hong dan menunjuk barang-barang itu. “Hei, lihat anak-anakan dari poslin itu bagus bukan? Hei, katakanlah barang apa yang pantas kubeli!”

“Yang manapun boleh kau beli, tapi ingat tangan mengendurkan les kudamu. Jika ia terlepas, barang orang bisa berantakan!” baru saja Kiam Hong berkata, entah kenapa tunggangan Siau Bwee benar-benar menyeruduk kedepan dan membuat dagangan orang berantakan dan banyak yang pecah.

Siau Bwee melompat dari kuda, matanya mendelik kearah Kiam Hong. “Gara-garamu mengacau tak keruan, kudaku benar terlepas, lihatlah dagangan orang hancur berantakan begini macam, habis bagaimana?”

“Pakai tanya lagi, keluarkan uang, ganti kerugian pedagang ini, beres!”

“Mau ganti engkau yang harus keluar uang, kesialan ini datang dari mulutmu, aku tak tanggung jawab…” Kata Siau Bwee sambil menuntun kudanya hendak berlalu.

Pedagang perabotan itu adalah seorang kasar, dari tadi ia diam saja, tapi begitu melihat Siau Bwee mauu berlalu, cepat-cepat ia menjambak bulu kuduk kuda Siau Bwee. “Bagaimana, sudah merusak barang orang tak mau ganti?”

“Ya, engkau mau apa? Siapa suruh daganganmu dipajang dipinggir jalan, coba didalam rumah pasti tak keterjang kudaku! Siapa yang salah, kau atau aku?”

“Hm engkau budak tak tahu aturan.pokoknya lekas ganti, jika tidak….” kata laki-laki itu.

“Hm, engkau berani memaki aku,” teriak Siau Bwee yang terus mengayunkan cambuk pada laki-laki itu.

“Ah, benar dunia mau kiamat, dimana letak keadilan dan hukum?” kata laki-laki itu dengan gusar, sedangkan cambuk berulang-ulang menghajar dirinya dan bajunya menjadi sobek-sobek, tapi badannya tidak terluka barang sedikit. Ia mendekat terus pada Siau Bwee sambil menjulurkan tangannya kedada lawannya dengan gemas sekali.

Kelakuan laki-laki itu membuat Siau Bwee jengah sendiri, cepat-cepat ia mengengos kebelakang dan terus melancarkan pukulan keras “beng” terdengar satu kali, lengan Siau Bwee tepat bersarang ditubuh musuhnya. Heran sekali, laki-laki itu hanya mundur beberapa langkah, sedikitpun tidak terluka, ia menggelengkan kepala dan maju lagi dengan menbentangkan kedua tangannya, tak ubahnya seperti singa lapar menerkam mangsanya.

Menyaksikan kejadian ini Pek Kiam Hong menjadi kaget, ia mencelat turun dari kudanya menghadang laki-laki itu sambil berseru keras. “Stop! Stop!”

“Engkau mau apa? Dua lawan satupun aku Tiat Lohan (laki-laki besi) tidak akan mundur barang setapakpun!” Seiring dengan perkataannya ia melakukan serangan sambil memasang kuda-kuda. Ilmu pukulannya beda dari permainan silat biasa. Mula pertama pukulannya meluncur, empat jarinya tertekuk kedalam hanya jari tengahnya tidak ditekuk, begitu hampir mengenai sasarannya, jari-jarinya merentang dengan mendadadk, dan timbullah satu pukulan telapak tangan yang luar biasa kerasnya.

Melihat kepandaian silatnya orang itu sudah cukup tinggi, dan begitu aneh Pek Kiam Hong tidak berani memandang enteng. Ia berseru “hait” kedua tangannya melancarkan tangkisan. Dua pukulan beradu ditengah jalan menimbulkan suara nyaring. Laki-laki itu menggunakan sebelah tangan, hanya tergetar pundaknya, sedangkan Pek Kiam Hong sendiri hampir terjengkang kebelakang. Melihat ini Siau Bwee menjadi kaget senjatanya dengan cepat telah terhunus.

“Siau Bwee jangan turun tangan, aku masih sanggup menghadapinya,” seru Pek Kiam Hong. Saat ini laki-laki itu telah melancarkan serangannya yang sangat luar biasa, ia tak beranni menangkis dengan keras, tubuhnya diengoskan dan menempatkan dirinya disebelah samping. Lalu membarengi dengan satu pukulan keras. Laki-laki itu nampaknya hanya bisa menyeruduk kedepan dan tidak bisa berkelit, tak ampun lagi tergebuk telak. Tubuhnya terhuyung beberapa langkah, dan ambruk menimpa barang dagangan orang-orang dipinggir jalan. Suara orang dan preng prong terdengar nyaring, kaena segala barang pecah belah itu benar-benar ,menjadi pecah belah tertimpa tubuh laki-laki yang besar itu.

Dengan cepat laki-laki itu dengan wajah meeringis ketolol-tololan bangun lagi, ia mengebas-ngebas bajunya, sedikitpun tidak terlihat luka terkena pukulan atau tusukan benda-benda yang pecah. Dengan gagah ia maju lagi menghadapi lawannya. Nampak bandel sekali! Pek Kiam Hong mengandalkan kegesitan tubuhnya berulang-ulang membuat laki-laki itu jungkir balik! Sebegitu jauh laki-laki itu tetap tak luka barang sedetik, dan benar-benar menjadi Tiat Lo han (laki-laki besi). Akibat perkelahian ini mendatangkan kesialan pada pedagang disitu, setiap kali laki-laki itu jatuh pasti membawa korban dagangan orang-orang disitu.

Pedagang-pedagang perabotan pecah belah lari berserabutan keempat penjuru, ada juga yang berbenah menyelamatkan barang dagangannya, ada juga yang berkerubung menonton perkelahian ini. Didalam suasana kalut-kalutnya ini, tampak penonton yang meriung itu seperti terkena suatu tenaga gaib, pad minggir kesamping, dan terbukalah suatu jalan kecil, dari sini muncul siorang tua berbaju hitam. Ia memegang tongkat panjang yang aneh, sinar matanya sangat tajam dan biru, setiap ia melangkah orang-orang yang berada didepannya minggir sendiri terkena tenaga dorongannya. “Stop!” teriakan orang tua bermata biru dengan tiba-tiba. Begitu nyaring dan membisingkan pendengaran. Siau Bwee segera menghadang dengan pedangnya, sedangkan Pek Kiam Hong dan laki-laki itu segera berhenti.

“Hei, orang tua apa yang kau kehendaki?” tanya laki-laki itu dengan kasar sambil mendelik.

Orang tua bermata biru tidak menjawab, sinar matanya memandang pada Pek Kiam Hong agak lama, lalu tersenyum. “Sebenarnya apa yang kalian ributkan sampai berkelahi macam ini?”

“Gara-gara laki-laki tolol ini, mulutnya tidak dikeramasi dan seenaknya memaki orang.” Kata Siau Bwee.

“Dia dulu yang memecahkan barang daganganku,” sela laki-laki itu dengan kasar. “Sudah salah tidak mau mengganti, malahan memukuli diriku.” “Ha ha ha soal kecil ini saja sampai berkelahi,” kata orang tua itu.

“Orang muda berdarah panas, tapi harus dipikir, perkelahian ini untung apa rugi? Lebih sedikit kurang sedikit bisa berdamai tak perlu tonjok-tonkokan bukan?”

“Perkelahian ini sangat berharga!” bantah laki-laki itu, “karena harga dari barang-barngku tak kurang dari sepuluh tail perak, mengerti? Kehidupanku dan ibuku mengandalkan daganganku ini, kini dihancurkan.”

“Sudahlah.uang sebegitu bisa kuganti,” kata orang tua itu.

Laki-laki itu menjadi kaget, tapi cepat-cepat menggelengkan kepala. “Barangku bukan engkau yang memecahkan, aku tak mau menerima gantinya darimu, aku mau dia yang keluar duit, baru puas!”

“Uang dia maupun uangku terbuat dari perak, sama bukan? Nah terimalah!”

Laki-laki itu terdiam sejenak, lalu menjulurkan tangannya…” Sabar, uang ini tetap milikmu, tapi ingin kutanya dulu, siapa namamu dan siapa gurumu?” kata orang tua itu.

“Namaku Oey Toa Gu,” jawab laki-laki itu, “seumur hidup tak punya guru.”

“Tapi ilmu Kin cong co (kebal) yang kau miliki itu darimana kau dapat?”

“Oh ini yang hendak kau tahu? Waktu kukecil sering dipukul ibu, aku tak pernah mengengos atau lari tetap memasang badan! Aku tak menangis membuat ibuku bertambah sengit, akibtnya sekujur tubuhku menjadi babak belur! Sungguhpun begitu aku masih tetap tak berkisar dan terus menerima pukulan itu! Waktu inilah kebetulan datang seorang Hweesio, ia merasa kasihan padaku dan memberikan ilmu pelajaran tahan digebuk beberapa tahun lamanya. Membuat tubuhku jadi kuat seperti besi! Ha ha ha lihat buktinya, barusan dipukul dia tetap tak luka, asal lamaan sedikit ia pasti kena kugebuk, dan pasti babak belur! Untung engkau datang.”

“Aku tak menanyakan soal ini, yang ingin kutahu siapa namanya Hweesio itu?” tanya si orang tua.

“Oh Hweesio itu setelah mengajari ilmu tahan dipukul, ia menawari pula ilmu untuk menggebuk. Tentu saja aku menjadi girang dan menerima baik tawarannya itu, baru pula aku menerima pelajarannya beberapa hari, sudah dipraktekkan akibatnya orang-orang sekampung kubikin babak belur semuanya aku jadi jagoan dengan mendadak. Melihat keadaanku yang suka berkelahi ini, Hweesio itu tidak mau memberikan pelajaran lebih banyak lagi, dan iapun terus menghilang entah kemana, sampai sekarang belum pernah kulihat lagi….” ia bicara penuh semangat, sampai air liurnya turut muncrat dan berterbangan keempat peenjuru, antaranya memeercik kepada orang tua itu.

Agaknya orang tua itu tidak berasa terkena ludah karena otaknya sedang berpikir keras mengingat-ngat Hweesio itu. Akhirnya ia bicara sendiri dengan perlahan. “Pantasan ilmu pukulannya mirip dengan “kui hut kun” (pukulan patung besi) sikepala botak itu…” Sungguhpun suaranya diucapkannya.

“Apakah engkau masih mau mempelajari ilmu memukul orang?” tanya orang tua itu.

“Ingin sih ingin, tapi dengan keadaanku sekarang, kukuatir bisa memukul mati orang,” kata Oey Toa gu.

“Ilmu itu boleh kau pelajari dulu,” kata si orang tua, “soal memukul orang tergantung kepadamu, pokoknya ilmu itu tidak merugikanmu.”

“Ya aku mau,” kata Oey Toa Gu sambil menganggukkan kepala.

Orang tua bermata biru itu menyerahkan uang pada Toa Gu. “Uang ini kau berikan pada ibumu, dan nantikan aku dirumah, aku bisa mencarimu.”

Toa Gu setengah percaya setengah tidak, tapi ia tidak mau memperdulikan lagi keadaan itu. Cepat ia mengantongi uang dan terus berlalu.

“Lo tioang (membahasakan orang tua dengan hormat) kita baru bertemu, kenapa harus membuang uang dengan percuma?” tanya Kiam Hong.

“Soal kecil ini jangan dipikirkan,” berkata orang tua itu. “aku paling senang pad anak muda yang pandai silat, maukah kalian menemaniku mengobrol sejenak?”

Dan sebelum Pek Kiam Hong menjawab, Siau Bwee sudah membuka mulut. “Di depan ada restoran, mari kita kesana, kita bisa ngobrol sambil mengisi perut!”

“Ya kesana pun baik,” kata orang tua itu, pokoknya kalian boleh makan sepuasnya aku yang membayar!”

“Kalau begitu Lo tiang boleh pesan dululah makan dan minuman itu, kami harus membereskan dulu barang-barang orang yang pecah ini,” kata Siau Bwee.

Orang tua itu mengguman begitu perlahan, Siau Bwee mendengar juga hatinya jadi tergerak dan terus mengawasi kepada orang tua itu dengan waspada.

Orang tua itu mengangguk dan terus melangkah pergi.

Siau Bwee mengeluarkan uang emas, dan menyerahkan pada seorang pedagang yang paling tua untuk dibagi-bagi sebagai penggantian pada barang-barang dagangan mereka yang telah hancur akibat perkelahian antara Kiam Hong dan Toa Gu. Setelah itu ia menuntun kudanya, karena Pek Kiam Hong menuju ke restoran. “Eh, apakah kau kenal dengan orang tua bermata biru itu?” tanya Siau Bwee pada kawannya.

“Tidak,” kata Kiam Hong, “dari parasnya tegas sekali bahwa orang tua itu berkepandaian sangat tinggi!”

“Dari sinar matanya yang biru itu membuatku ingat pada salah seorang Bulim Capsahkie yang bernama Liok Jie Hui dan bergelar Liok sian ong.”

“Liok Jie Hui itu berwatak buruk atau baik?” tanya Kiam Hong.

“Buruk, baiknya sukar ditentukan, menurut ibuku kelakuannya Liok Jie Hui berada antara baik dan buruk, sedang-sedanglah!” kata Siau Bwee. “Tapi kalau kena bicara ia sangat pandai, selalu membicarakan soal kebajikan dan kebaikan, sedangkan dihatinya penuh siasat akal-akal serta licin. Maka berlaku hati-hatilah!”

“Jika sudah ketahuan tabiatnya begitu, untuk apa kita berkenalan dengannya?”

“Ah, jangan bicara lagi, lihat orang tua itu sudah memasang mata memandang kearah kita, berlakulah tenang, jangan sampai dicurigai…”

“Untuk apa berlaku begitu, kembalikan saja uangnya yang sepuluh tail itu dan terus kita pergi, untuk apa kenal dengan orang begitu…”

“Engkau kenapa sih bodoh dan kukuh betul, aku hanya menduga orang tua ini Liok Jie Hui adanya, betul tidaknya akupun tidak berani memastikan. Andaikata benar, kitapun tak boleh berlaku kurang ajar padanya bukan? Dia toh orang tua yang kenamaan.”

“Dia ternama dan tua, aku harus bagaimana menghadapinya?”

“Berlakulah hati-hati dan waspada,” kata Tiat Siau Bwee. “Pokoknya jangan banyak bicara, serahkan padaku!”

Pek Kiam Hong menganggukkan kepala.

“Begitu mereka tiba didepan restoran, seorang pelayan menyambutnya dengan tersenyum menerima kuda mereka. “Liok sian seng sudah lama menunggu Jie wie diatas loteng, silahkan naik, dan serahkan kuda ini untuk kukombongi.”

Siau Bwee dan Kiam Hong segera naik keloteng, kedatangannya disambut dengan senyuman oleh orang tua bermata biru itu. Mereka tak sungkan-sungkan mengambil tempat duduk.

“Dapatkah kutahu nama kalian?” tanya siorang tua.

“Seharusnya kami sebagai yang mudaan harus menanyakan dulu nama besar bapak,” kata Siau Bwee.

“Nona sangat pintar bicara,” kata siorang tua, “tentu kalian pernah mendengar nama Liok sian ong Liok Jie Hui bukan?”

“Ah, benar-benar kami beruntung bisa menemukan Lo Cianpwee disini,” kata Siau Bwee dan Kiam Hong.

“Ha ha ha,” Liok Jie Hui tergelak-gelak, “kalian kalau tak salah tentu bersaudara bukan?”

“Benar,” jawab Siau Bwee,” Ia adalah kakakku, akuadalah adiknya!”

“Ha ha ha, yang pantas Kounio menjadi kakaknya, dan dia jadi adikmu!”

“Lo Cianpwee tidak tahu sifat kakakku, biar dia lelaki, tapi pendiam betul; sedangkan aku beda betul dengannya, dalam segala urusan aku yang menimbulkan, tapi yang berkelahi adlah dia!”

Liok Jie Hui tertawa lagi.

Pelayan-pelayan membawa arak dan hidangan lain.

“Kounio bicara dan bicara, tapi masih belum memperkenalkan diri,” kata Liok Jie Hui.

“Oh…kakakku bernama Cie Goan, aku sendiri bernama Cie Giok,” kata Siau Bwee dan terus bangun. “Koko mari kita menghormat pada Liok Lo Cianpwee dengan secawan arak!”

Liok Jie Hui pun mengangkat cawannya dan mengeringkan seperti dua muda-mudi itu, lalu berkata: “kalian memiliki ilmu silat yang baik, apakah ayah kalianpun sebagai orang Bulim? Dan darimana ilmu itu kalian dapat?”

“Kami adalah anak yatim yang tidak mempunyai ayah…sedangkan ilmu kudapat dari seorang guru yang segan kusebut namanya!”

“Biarpun kusebutkan Lo Cianpwee pasti tidak kenal akan guruku itu!”

“Coba saja kau sebutkan, mungkin kutahu juga!”

“Apakah Lo Cianpwee pernah mendengar perguruan Thian liong bun?”

“Thian liong bun? Ah, benar-benar aku belum pernah mendengarnya, apakah kalian dari perguruan ini?”

Siau Bwee menganggukkan kepalanya.

“Dapatkah kutahu dimana tempatnya perguruan Thian liong bun itu?”

“Ini rahasia perguruan, tak bisa kuteangkan!”

Liok Jie Hui tidak berhenti sampai disitu, ia bertanya lagi: “Siapakah Ciang bun jin dari Thian liong bun?”

“Terangkan saja!” kata Pek Kiam Hong yang diam saja sedari tadi.

“Ciang bun jin kami bernama In Tiong Giok!” kata Siau Bwee.

“Apa? In.Tiong Giok?”

“Apakah Lo Cianpwee kenal dengannya?”

“In Tiong Giok adalah seorang pelajar, usianya lebih kurang dua puluh tahun bukan? Dan pernah pergi kemarkas pusat Pok Thian Pang untuk menterjemahkan buku Keng thian cit su, lalu buku itu dicetaknya dan disebar luaskan keempat penjuru dunia.Cie Kounio, apakah In Tiong Giok inikah yang kau maksud?”

“Benar, dialah orangnya!” kata Siau Bwee.

“Heran…seorang pelajar lemah bisa menjadi Ciang bun jin sebuah perguruan silat? Ini benar-benar membuat orang heran saja…”

Pek Kiam Hong tak mengetahui bahwa In Tiong Giok benar-benar sebagai Ciang bun jin dari Thian liong bun, pikirnya Siau Bwee ini sedang mengibuli orang tua itu, keruan saja hatinya jadi cemas. “Kenapa engkau menyebut In Tiong Giok, sudah pasti orang tua ini kenal dengannya, dan omongan bohongmu akan ketahuan,” pikir Pek Kiam Hong. Dan ia melihat pada Siau Bwee agar segera bisa berlalu dari tempat itu.

Biarpun melihat dengan nyata isyarat yang diberikan Kiam Hong, gadis itu pura-pura tak melihat, malahan dengan wajar berkata lagi kepada Liok Jie Hui. “Adapun Ciang bun jin dari Thian liong bun dipilih dari seseorang yang berjiwa baik dan berbakat besar! Tidak memperdulikan soal usia tua atau muda, bahkan memiliki ilmu silat atau tidakpun bisa sja menjadi Ciang bun jin, bakat adalah kurnianya Tuhan, sedangkan ilmu pelajaran bisa didapat dengan bakat dan kerajinan!”

“Sejak kapan In Tiong Giok menjadi Ciang bun jin Thian liong bun?” tanya Liok Jie Hui dengan sikap tak percaya.

“Lebih kurang setahun lamanya!”

“Kalau begitu setelah meninggalkan Pok Thian Pang ia baru menjadi Ciang bun jin?”

“Benar!”

“Jikalau begitu kalian lebih dulu menjadi anggota Thian liong bun dari padanya?”

“Ya, benar!”

“Banyakkah anggota dari Thian liong bun?”

“Meliputi seluruh dunia, banyaknya tak terhingga!”

“Pelajaran apa yang kalian utamai?”

“Yang kami utamakan banyak sekali, semuanya itu adalah ilmu yang luar biasa, misalnya dalam ilmu pedang orang anggap Keng thian cit su sebagai pelajaran nomor satu, untuk Thian liong bun ilmu pedang itu dianggap kuranglah lengkap dan sempurna sebab hanya sebagian.”

“Perkataanmu sukar dipercaya, karena semua jago silat berpandangan bahwa Keng thian cit cu adalah ilmu pedang yang nomor wahid dikolong langit, buktinya Siang eng dengan ilmu pedang itu, menjuarai dunia persilatan.”

“Ha ha ha, Lo Cianpwee mungkin tidak tahu bahwa Sin kiam siang eng itu adalah anggota Thian liong bun!”

“Apa benar?”

“Kenapa tidak? Mungkin Lo Cianpwee kurang percaya, apa salahnya datang ke Pek liong san dan tanya sendiri pada Siau siang lie hiap, Lim Siok Bwee, disitu tempatnya mendapat jawaban benar tidaknya apa yang kukatakan!”

“Setelah mendengar ucapan Lounio, aku baru sadar, pengalaman sangat minim,” kata Jie Hui. “Jika kalian keluaran Thian liong bun tentu memiliki ilmu yang berkepandaian tinggi, bukan? Sayang aku sudah tua, bilamana tidak, tentu akan meminta beberapa jurus pelajaran dari kalian.”

“Lo Cianpwee terlalu merendah,” kata Siau Bwee “dunia kangouw tergetar oleh Capsahkie sedangkan Lo Cianpwee adalah salah satu diantara mereka!”

“Itu nama kosong belaka!” jawab Jie Hui.

“Dari omongan Lo Cianpwee seolah-olah kenal dengan Ciang bun jin kami?” kata Siau Bwee.

“Bukan kenal lagi, hubunganku dengannya tak ubahnya seperti anak dan orang tua! Kau tahu, siap yang menolongnya keluar dari Pok Thian Pang sewaktu menghadapi bahaya?” Ia menanti jawaban pada dua pemuda itu, menatap tajam, “bukan orang lain, akulah yang menolongnya!”

“Oh, aku ingat. Tentulah Lo Cianpwee yang menyamar sebagai orang India dan menolong In siau hiap dari Pok Thian Pang?”

“Benar!” kata Liok Jie Hui. “Kini ia menjadi seorang Ciang bun jin dari Thian liong bun, benar-benar diluar dugaanku!” Ia bicara dengan suara perlahan dan membayangkan kesedihan didalam hati, ia seorang ulung apa yang dibawakan benar tidak kentara, sehingga kedua anak muda yang masih hijau merasa heran dan dipengaruhi.

“Kenapa Cianpwee mengatakan begitu dan tampaknya sedih mendengar In siau hiap menjadi Ciang bun jin kami?” tanya Siau Bwee.

“Ya dapat dikatakan memang nasibku yang buruk, jika kutahu ia mau menjadi seorang Ciang bun jin, siang-siang sudah kujadikan, dan tidak sampai keduluan orang lain! Kini aku luntang lantung kesana kemari dalam kesulitan, seorang muridpun aku tak punya, hingga segala sesuatu harus dikerjakan sendiri, coba jika dia masih bersamaku, tak sampai aku merasa begini macam!”

“Memang Lo Cianpwee mempunyai kesulitan apa?” tanya Siau Bwee.

“Jika mengenang In Siau hiap antara kalian dan aku masih dapat dikatakan orang sendiri, dan sepatutnya menuturkan kandungan hatiku kepada kalian, tapi dlam saat ini kurasa kurang pantas, sebab bisa menghilangkan kegembiraan makan minum. Maka sebaiknya kita minum sepuas-puasnya dan jangan membicarakan soal itu. Mari …” Ia mengangkat cawan dan menegaknya berulang-ulang.

“Jika Lo Cianpwee menganggap kami sebagai orang sendiri, katakanlah apa yang menjadi kesulitan Lo Cianpwee, jika tidak aku tak mau minum arak ini,” kata Tiat Siau Bwee.

“Sebenarnya tidak menjadi soal, sebab aku sendiri masih bisa menghadapinya.” Kata Liok Jie Hui sambil menarik napas. “Lebih baik tidak mengungkit soal ini, makin diomongi makin mendongkolkan hati.”

“Kenapa berkata begitu? Jika Lo Cianpwee menganggap kami bukan sebagai kawan, kami segera pamitan!” kata Pek Kiam Hong.

Liok Jie Hui menggoyangkan tangan, dan berlagak seperti terpaksa. “Baiklah jika kalian ingin tahu kuterangkan juga, tapi kalian tidak boleh mencampuri urusan ini…”

“Hm, lekaslah katakana,” dengus Pek Kiam Hong tidak sabaran.

Diam-diam Liok Jie Hui menjadi senang, didahului elahan napas ia berkata dengan serius. “Terjadinya hal ini dapat dikatakan akibat dari lolosnya In Siau hiap dari Pok Thian Pang, kalian tentu tahu bahwa Keng thian cit su milik Sin kiam siang eng jatuh ditangan Pok Thian Pang, karena inilah In Siau hiap diundang kesana sebagai penterjemah…”

“Hal ini sudah kuketahui, tak perlu Lo Cianpwee mengatakan lagi, yang kami inginkan dimana letak kesulitanmu?”

“Jika kututurkan terus, kalian bisa mengetahui sendiri kesulitanku,” kata Liok Jie Hui, yang terus melanjutkan ceritanya. “Begitu lolos dari Pok Thian Pang, dengan penuh semangat In Siau hiap menterjemahkan Keng thian cit su, dan meminta bantuanku untuk menyebar luaskan buku itu. Agar sekalian orang baik dari rimba hijau mempelajari ilmu itu dan bisa mengadakan perlawanan pada Pok Thian Pang. Tak kira sebelum usaha ini berjalan, terjadi sesuatu yang diluar dugaan…”

“Terjadi apa?” selak Siau Bwee.

“Soal In Siau hiap menterjemahkan buku ini, entah bagaimana menjadi bocor dan tersebar luas diluaran, begitu kuperoleh buku yang baru diterjemahkan, Hek pek siang koay tiba-tiba muncul dan mengurung diriku, dalam perkelahian itu buku itu kena dirampasnya! Tersebab inilah In Siau hiap mencetak buku itu di Kim leng dan menyebar luaskan seorang diri.”

“Oh, karena hal inilah ia berbuat begitu?” kata Pek Kiam Hong.

“Ya,” jawab Liok Jie Hui. “Apa yang dilakukan itu karena terpaksa, karena ia mengetahui bahwa Hek pek siang koay adalah orang jahat sepeerti kaum Pok Thian Pang. Andaikata kedua orang itu bekerja sama dengan Pok Thian Pang akan mendatangkan bencana maut pada jago-jago dari golongan putih. Sebab ini In Siau hiap berlaku seperti yang dituturkan tadi. Tapi caranyapun kurang baik, karena ia tidak memilih bulu, siapapun diberikan buku itu! Sehingga orang-orang jahatpun banyak memperolehnya, pikirlah, bukankah dengan begitu iapun membantu penjahat-penjahat itu? Mengetahui keadaan ini, aku turut berduka dan merasa berdosa pada In Siau hiap. Untuk menebus dosa ini aku bercapai lelah selama setahun lebih, dan terhitunglah usahaku tidak sia-sia, karena kuperoleh satu peluang baik untuk menutup dosa-dosaku!”

“Peluang apa yang Lo cianpwee dapati?”

“Satu peluang baik untuk memperoleh sebilahj pedang pusaka!” kata Liok Jie Hui. “biarpun orang-orang jahat itu memiliki ilmu pedang yang bagaimana tinggipun dapat ditundukkan pedang wasiat itu!”

“Dimana pedang itu berada?” tanya Siau Bwee.

“Disuatu lembah yang curam terdapat sebuah danau, disitu pemandangannya sangat indah, bilamana saatnya tiba akan terlihat suatu cahaya bergemerlapan menerangi kegelapan malam. Alkisah, itulah sinar pedang wasiat yang akan menjelma didunia.”

“Nampaknya yang mengetahui adanya pedang wasiat ini bukan aku sendiri, sehingga mendatangkan kecemasanku, aku merasa kuatir terulang lagi kejadian hilangnya buku seperti dulu, sebab kekuatanku hanya seorang diri, mengingat ini hatiku merasa cemas dan sedih!”

Siau Bwee dan Pek Kiam Hong adalah pemuda-pemuda yang kurang berpengalaman, mendengar perkataan Liok Jie Hui yang ingin menebus dosa pada In Tiong Giok, hati mereka tergerak timbul niat mereka untuk membantu Liok Jie Hui memperoleh benda wasiat itu. Maka Siau Bwee segera berkata: “Lo Cianpwee tak usah pusing dalam soal itu, biarpun kepandaian kami tak seberapa tinggi, untuk menghadapi orang-orang biasa masih boleh diandalkan.”

“Kesediaanmu kuterima didalam hati, ” kata Liok Jie Hui.

“Sebab yang datang itu adalah jago-jago dari rimba hijau, maka itu aku tak bisa mengajak kalian menempuh bahaya maut. Semata-mata untuk kepentinganku!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: