Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:54 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 08: Pembalasan Dendam dan Musuh Yang Tangguh
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Hujan badai seperti anak badung yang berlari masuk ke kamar rias wanita kaya di tengah malam, dia datang dengan tiba-tiba dan pergi dengan lebih cepat lagi.

Tapi semua yang dia tinggalkan telah berubah karenanya.

Semua pohon dan daun di hutan telah berubah warnanya seperti giok, dan darah pada mayat-mayat itu pun telah tersapu air hujan. Membuat hampir mustahil untuk menemukan luka fatal di tubuh mereka.

Tapi dari selusin atau lebih jumlah orang-orang itu, tidak satu pun yang masih hidup.

Waktu mereka menemukan mayat-mayat itu, Sukong Ti-sing pun telah menghilang.

“Meninggalkan mayat-mayat ini untuk kita, apakah dia ingin kita yang membereskan kekacauan ini?” Siangkoan Tan-hong berkomentar dengan nada pahit.

“Dia tidak membunuh orang-orang ini,” Liok Siau-hong menjawab. “Dia sangat jarang membunuh orang.”

“Jika bukan dia, lalu siapa?” Siangkoan Tan-hong bertanya.

“Orang yang memerintahkan mereka untuk membakar tempat itu.”

“Jadi menurutmu, dia takut kalau kita mungkin berhasil mengetahui siapa dirinya dari mereka, maka dia membunuh mereka untuk melindungi diri?”

Liok Siau-hong mengangguk. Wajahnya kaku dan keras. Dari tiga hal yang paling dia benci, pembunuhan adalah yang nomor satu.

“Tapi dia bisa saja melepaskan orang-orang ini, kenapa dia harus membunuh mereka?” Siangkoan Tan-hong bertanya.

“Karena selusin lebih orang yang tangan kanannya buntung akan sangat mudah ditelusuri jejaknya.”

Tan-hong Kiongcu menarik nafas. “Sebenarnya, membunuh semua orang ini juga sama sekali tidak berguna, kita tetap saja tahu dari mana mereka berasal.”

“Kau tahu?”

“Kau tak tahu kalau mereka berasal dari Jing-ih-lau?”

Liok Siau-hong tidak menjawab. Sesudah terdiam beberapa lama, ia menjawab dengan lambat: “Aku hanya bisa memperkirakan satu hal.”

“Dan apakah itu?”

“Aku memperkirakan kau akan segera lari ke Cu-kong-po-gi-kok dan menyuruh orang-orang di sana untuk datang ke sini dan membereskan mayat-mayat ini.”

Siangkoan Tan-hong meliriknya sebelum akhirnya menundukkan kepalanya.

“Apa lagi yang engkau perkirakan?” Gadis itu bertanya, sambil menggigit bibirnya.

“Sesudah itu, kau tentu akan menyuruh orang-orang itu untuk menyiapkan air mandi untukmu, lalu kau akan mengambil sebuah kamar yang nyaman dan bersih dan tidur nyenyak.”

Ia tersenyum kecil dan meneruskan.

“Jangan lupa, tempat itu sekarang sudah menjadi milikmu.”

______________________________

Liok Siau-hong bersandar dalam bak air panas dan menutup matanya. Sesudah basah kuyup oleh air hujan, benar-benar nyaman rasanya mendapatkan sebuah tempat untuk menikmati mandi air panas.

Ia merasa bahwa peruntungannya cukup baik. Di atas perapian yang ada di sisinya terdapat sebuah ketel perunggu yang besar dan air di dalamnya sudah hampir mendidih. Ruangan itu hampir penuh dengan uap, menimbulkan perasaan aman dan nyaman.

Hoa Ban-lau sudah mandi dan mungkin sedang tidur sekarang. Siangkoan Tan-hong mungkin berada di Cu-kong-po-gi-kok.

Walaupun gadis itu dalam hatinya tidak ingin pergi, dia masih tetap pergi, tampaknya dia sangat penurut terhadap Liok Siau-hong.

Ini juga membuat Liok Siau-hong merasa sangat puas, dia menyukai gadis yang mau mendengarkan.

Tapi tetap saja dia merasa tidak terlalu puas dengan keseluruhan persoalan ini, seakan-akan ada sesuatu dalam semua ini yang tidak cocok. Tapi dia tak bisa membayangkan di mana adanya ketidak-sesuaian itu.

Sebelum mati, Giam Thi-san telah mengakui kejahatannya di masa lalu, dan Ho Thian-jing telah setuju untuk mengesampingkan seluruh persoalan ini.

Janjinya kepada Tay-kim-peng-ong paling tidak, secara teknis, telah selesai sepertiganya, dan penyelesaiannya pun berlangsung mulus.

Jadi apa yang salah?

Hujan telah lama berhenti, sesekali suara tetesan air hujan masih bisa terdengar, angin malam pun terasa segar dan bersih.

Liok Siau-hong menarik nafas dan memutuskan bahwa ia harus menghentikan pikiran-pikiran gila ini dan belajar menjadi orang yang tahu kapan harus merasa puas.

Saat itulah dia mendengar suara pintu dibuka.

Pendengarannya masih baik, pintu itu memang dibuka oleh seseorang.

Tapi dia tak yakin apakah penglihatannya baik atau tidak, apa yang dia lihat berjalan masuk adalah empat orang gadis.

Empat orang gadis muda dan cantik. Bukan hanya cantik, tapi juga anggun, mengenakan pakaian yang membuat tubuh mereka yang ramping semampai tampak semakin menggoda.

Liok Siau-hong menyukai wanita-wanita yang memiliki pinggang yang ramping dan kaki yang jenjang, dan keempat wanita itu kebetulan memiliki pinggang yang sangat ramping dan kaki yang sangat jenjang.

Sambil tersenyum, mereka berjalan masuk dengan perlahan, seakan-akan sama sekali tidak ada seorang laki-laki telanjang di dalam bak mandi di tengah ruangan itu.

Tapi keempat pasang mata yang indah dan cemerlang itu semuanya menatap wajah Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong bukan orang yang pemalu, tapi saat itu wajahnya seperti terbakar, ia tidak butuh cermin untuk mengetahui bahwa wajahnya telah memerah.

“Kudengar Liok Siau-hong punya 4 alis mata, tapi kenapa aku hanya melihat 2?” Seseorang tiba-tiba tertawa.

“Kau bisa melihat 2? Aku bahkan tidak melihat satu pun.” Yang satunya lagi menjawab sambil tertawa.

Yang pertama bicara adalah gadis yang paling jangkung dengan sepasang mata yang panjang dan sempit seperti mata burung hong. Bahkan bila dia sedang tertawa, tawanya seperti mengandung nafsu membunuh yang keji.

Orang bisa mengatakan bahwa dia bukanlah jenis perempuan yang mau membantu laki-laki mandi.

Tapi dia berjalan menghampiri dan mengambil ketel di atas perapian itu.

“Airnya agaknya sudah sedikit dingin,” ia tersenyum. “Biar kutambahkan sedikit air panas untukmu.”

Liok Siau-hong menatap uap yang dikeluarkan oleh air di dalam ketel itu dan sedikit bergidik. Tapi dalam kondisinya sekarang, telanjang seperti bayi yang baru dilahirkan, bangkit dan berdiri di hadapan empat orang wanita tetaplah keterlaluan.

Tapi jika ketel besar berisi air mendidih itu dituangkan kepadanya, rasanya tentu sangat tidak enak.

Saat Liok Siau-hong sedang bingung untuk memutuskan apakah ia akan bangkit atau tetap duduk di dalam bak, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tidak bisa bergerak lagi walaupun ia ingin.

Gadis yang belum bicara sepatah kata pun, gadis yang tampaknya paling pendiam dan lembut, tiba-tiba telah mengeluarkan, dari dalam lengan bajunya, sebuah pisau belati sepanjang hampir setengah meter yang tampak berkilauan dan melintangkannya di lehernya.

Perasaan yang dingin dan gelap dari belati itu membuat daerah belakang telinga hingga pundaknya terasa penuh dengan keringat dingin.

Gadis yang jangkung dan bermata seperti burung hong itu mulai menuangkan air mendidih ke dalam baknya.

“Jaga sikapmu, kami kakak-beradik mungkin hangat, lembut, sopan dan pendiam, tapi kami tak pernah berkedip saat membunuh.” Ia berkata dengan santai. “Ketel air ini, jika dituangkan ke tubuh seseorang, walaupun dia tidak mati, dia tentu akan kehilangan selembar kulitnya.”

Ia terus menuangkan air ke dalam bak sambil bicara.

Air di dalam bak itu awalnya memang sudah cukup hangat, tapi sekarang pasti sudah cukup untuk membuat orang menjerit.

Keringat mulai mengucur di kepala Liok Siau-hong, tapi baru seperempat bagian air di dalam ketel yang telah dituangkan.

Jika seluruh isi ketel telah dituangkan, mungkin orang di dalam bak juga akan kehilangan selembar kulitnya.

Liok Siau-hong tertawa —— ia benar-benar tertawa.

Mata gadis yang menuangkan air itu menatapnya dengan tajam.

“Tampaknya kau merasa nyaman.” Ia berkata dengan dingin.

Liok Siau-hong memang kelihatan nyaman.

“Aku hanya menganggap ini lucu,” ia menjawab sambil tersenyum.

“Lucu? Apanya yang lucu?” Gadis itu menuangkan air lebih cepat.

Tapi Liok Siau-hong tetap tersenyum.

“Bila lain ketika aku bercerita pada orang bahwa, waktu aku sedang mandi, Su-siu (Empat Cantik) dari Go-bi-pay berada di sisiku dan menuangkan air untukku; aku akan terkejut jika ada yang mau mempercayaiku.”

Ternyata dia sudah bisa menebak siapa mereka.

“Ternyata penglihatanmu tidak buruk,” gadis yang jangkung dan bermata burung hong itu mendengus. “Kau benar, aku Ma Siu-cin.”

“Dan yang tidak berkedip waktu membunuh ini, mungkinkah kau Ciok Siu-hun?” Liok Siau-hong bertanya.

Senyuman Ciok Siu-hun semakin hangat dan lembut.

“Tapi bila aku membunuhmu, paling tidak aku akan berkedip sedikit,” ia menjawab dengan suara yang lembut.

“Itulah sebabnya kami sebenarnya tidak ingin membunuhmu, tapi hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan,” Ma Siu-cin berkata. “Jika kau menjawab dengan cepat, maka air dalam ketel ini tidak akan dituangkan. Tapi jika tidak, maka semua air akan dituangkan.”

Ciok Siu-hun menarik nafas dan meneruskan. “Lalu kau akan menjadi daging matang.”

“Seekor babi matang paling tidak bisa kau jual dagingnya, tapi orang matang mungkin hanya cocok diberikan ke anjing,” Sun Siu-jing menarik nafas.

Liok Siau-hong juga menarik nafas.

“Aku sudah hampir matang, kenapa kalian tidak buruan bertanya?”

“Baiklah. Aku tanya padamu, apakah saudara seperguruan kami So Siau-eng mati di tangan Sebun Jui-soat?” Ma Siu-cin bicara mewakili kelompoknya.

“Jika kau sudah tahu, lalu kenapa masih bertanya padaku?” Liok Siau-hong menjawab dengan senyum yang agak mengibakan.

“Di mana Sebun Jui-soat sekarang?”

“Aku juga sedang mencarinya. Jika kalian melihatnya, bisa tolong beritahukan padaku?”

“Kau benar-benar tidak tahu di mana dia berada?”

“Aku hanya berdusta pada wanita bila aku sedang mabuk, tapi sekarang aku sangat sangat sehat fikirannya.”

Ma Siu-cin mengkertakkan giginya sedikit dan tiba-tiba menuangkan sedikit air panas lagi ke dalam bak.

“Lebih baik kau jujur bila bicara denganku,” ia mengancam dengan nada dingin.

“Bagaimana mungkin aku tidak jujur di saat seperti ini?” Senyum Liok Siau-hong yang mengibakan tampak semakin menyedihkan.

“Wanita yang bersamamu itu, apakah dia benar-benar puteri Dinasti Rajawali Emas?”

“Benar.”

“Tay-kim-peng-ong masih hidup?”

“Masih hidup.”

“Dan dialah orang yang menginginkanmu berurusan dengan Giam Thi-san?”

“Ya.”

“Dengan siapa lagi kau akan berurusan?”

“Siangkoan Bok dan Pengtok Ho.”

“Siapa dua orang itu?” Ma Siu-cin mengerutkan keningnya. “Aku belum pernah mendengar nama mereka.”

“Jumlah nama yang belum pernah kau dengar mungkin ada puluhan juta.” Liok Siau-hong menarik nafas.

Ma Siu-cin menatapnya.

“Aku sedang telanjang,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Jika kau terus menatapku seperti ini, wajahku akan memerah.”

Mukanya tidak memerah, tapi wajah Ma Siu-cin yang jadi memerah.

Tiba-tiba ia berpaling, meletakkan ketel itu kembali di atas perapian, merapikan pakaiannya, dan membungkuk pada Liok Siau-hong. Pedang Ciok Siu-hun pun telah disingkirkan.

Empat orang wanita cantik berpakaian indah tiba-tiba semuanya membungkuk pada seorang laki-laki telanjang yang duduk di dalam bak mandi; jika kau pernah melihat peristiwa seperti ini, kau tentu tak akan mampu memimpikannya.

Liok Siau-hong pun tampak sedikit terkejut. Dia tak bisa membayangkan kenapa 4 orang gadis yang kasar dan seenaknya ini tiba-tiba menjadi begitu sopan.

“Murid Go-bi-pay Ma Siu-cin, Yap Siu-cu, Sun Siu-jing, dan Ciok Siu-hun, atas perintah ketua kami, datang untuk mengundang Liok-siauya makan siang besok. Tak tahu apakah Liok-siauya bersedia datang atau tidak.” Ma Siu-cin berkata, sambil tetap membungkuk.

Liok Siau-hong tak mampu bicara beberapa lama sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyuman yang mengibakan.

“Aku ingin datang, tapi sayangnya, biar pun aku punya sayap, tak mungkin aku bisa tiba di Hian-cin-koan di Go-bi-san besok siang.”

Ma Siu-cin tersenyum.

“Ketua tidak berada di Go-bi, saat ini beliau sedang menunggu kedatangan Liok-siauya di Cu-kong-po-gi-kok.”

Liok Siau-hong kembali terkejut.

“Dia di sini juga? Kapan dia tiba?”

“Baru hari ini.”

“Jika kami tidak kebetulan singgah di Cu-kong-po-gi-kok, bagaimana mungkin kami tahu apa yang telah terjadi tadi malam?” Ciok Siu-hun menambahkan dengan manis.

Liok Siau-hong kembali tersenyum, tentu saja, senyuman yang mengibakan.

“Jika Liok-siauya bersedia datang, maka kami tak berani mengganggumu lagi, selamat tinggal.” Ma Siu-cin bicara lagi.

“Kau tidak ingin bertanya apa-apa lagi?”

Ma Siu-cin tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sikapnya sopan dan lembut, senyumnya pun hangat, tampaknya benar-benar telah lupa tentang peristiwa yang barusan terjadi.

Tapi Yap Siu-cu, sebagai seorang gadis yang polos, tak tahan untuk tidak tertawa kecil. “Kami telah lama mendengar nama Liok-siauya yang termasyur. Maka kami telah lancang datang menemuimu di saat kau sedang mandi.”

“Sebenarnya kalian bisa datang kapan saja dan bertanya padaku dan aku tak akan menolak menjawabnya,” Liok Siau-hong berkata dengan senyum yang dipaksakan.

Ciok Siu-hun mengedip-ngedipkan matanya. “Kau tidak marah, Liok-siauya?”

“Bagaimana aku bisa marah? Malah aku sangat senang.”

Sekarang giliran Ciok Siu-hun yang tercengang.

“Kami memperlakukanmu seperti ini, dan kau masih tetap senang?”

Liok Siau-hong tertawa —— tawa yang sebenarnya kali ini.

“Aku bukan hanya merasa senang,” dia menjawab sambil tersenyum. “Aku pun harus berterima-kasih pada kalian atas kesempatan besar ini.”

“Kesempatan apa?” Ciok Siu-hun terpaksa bertanya.

“Waktu aku sedang mandi, kalian memaksa masuk ke sini,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “maka kalian tentu tidak marah bila lain kali aku masuk saat kalian sedang mandi. Tidak setiap laki-laki di dunia ini mendapat kesempatan seperti itu, bagaimana aku tidak senang?”

Empat Cantik dari Go-bi-pay itu memerah wajahnya. Tiba-tiba mereka semua berbalik dan berlari keluar melalui pintu.

Baru sekarang Liok Siau-hong bisa menarik nafas dalam-dalam.

“Tampaknya, mulai sekarang aku harus memakai celana bila sedang mandi,” dia bergumam pada dirinya sendiri.

______________________________

Tempat Liok Siau-hong mandi itu adalah sebuah dapur, di luarnya ada sebuah halaman kecil, di halaman itu berdiri sebuah pohon gingko.

Malam dingin dan sepi, bulan yang semakin besar tampak seolah-olah tergantung di dahan pohon dengan embun di dedaunan menghalangi dan menggantikan bayang-bayang bulan. Dalam bayangan pohon, ada seseorang yang berdiri di sana, tegak tak bergerak, jangkung, berpakaian putih seperti salju, dengan pedang berbentuk aneh tersandang di punggungnya dalam sarung berwarna hitam pekat.

Saat Empat Cantik dari Go-bi-pay keluar dari pintu, mereka segera melihatnya. Sekali seseorang memandang orang ini sekilas, maka dia tentu akan bergidik dan perasaan dingin akan mengalir dari jantung hingga ke kuku jarinya.

“Sebun Jui-soat!” Ma Siu-cin menjerit.

Sebun Jui-soat menatap mereka dengan dingin, dan mengangguk perlahan.

“Kau yang membunuh So Siau-eng?” Ma Siu-cin bertanya dengan marah.

“Kalian ingin balas dendam?”

“Kami memang sedang mencarimu,” Ma Siu-cin mendengus. “Tak kukira kau malah berani datang ke mari!”

Mata Sebun Jui-soat tiba-tiba mulai berkilauan, berkilat-kilat menakutkan.

“Aku biasanya tidak membunuh wanita, tapi wanita seharusnya tidak berlatih pedang,” Sebun Jui-soat menjawab dengan dingin. “Yang berlatih ilmu pedang bukanlah wanita.”

“Kentut!” Ciok Siu-hun balas berteriak dengan marah.

“Kenapa kalian semua tidak menghunus pedang dan segera ke mari,” Wajah Sebun Jui-soat menjadi gelap.

“Tidak perlu kami semua menghadapimu, cukup aku saja yang membunuhmu!” Ciok Siu-hun berseru.

Tampaknya dia adalah gadis yang paling tenang dan baik, tapi kenyataannya perangainya malah yang paling tidak sabaran.

Sepasang pedang pendek yang dia gunakan adalah senjata warisan jago pedang wanita di jaman Dinasti Tang, Kongsun-toanio.

Saat dia berteriak, pedang pun telah berada di tangannya. Kilauan pedang naik-turun seperti naga di langit dan menyambar seperti kilat ketika ia dan pedangnya menyerbu ke arah Sebun Jui-soat.

“Tahan,” tiba-tiba seseorang berkata dengan lembut.

Saat kata-kata itu diucapkan, orangnya pun telah muncul.

Saat Ciok Siu-hun menyerang dengan pedangnya, tiba-tiba dia menyadari bahwa tak satu pun pedangnya yang bisa digerakkan —— kedua pedangnya telah terjepit di antara jari-jari orang yang baru muncul itu.

Dia tidak melihat gerakan orang ini tadi, dia berusaha menarik pedangnya, tapi pedang itu seakan-akan telah berakar di jari-jari tangan orang tersebut.

Tapi ekspresi wajah orang ini tetap damai, bahkan dia sedang tersenyum.

Tapi wajah Ciok Siu-hun telah memerah karena marah. “Tidak kusangka Sebun Jui-soat membawa kaki tangan,” ia tertawa dingin.

“Kau kira dia kaki tanganku?” Sebun Jui-soat membalas dengan dingin.

“Memangnya bukan?”

Sebun Jui-soat tertawa dingin dan tiba-tiba bergerak. Sekilas cahaya terang seperti kilat berwarna pelangi terlihat sebentar, lalu menghilang.

Sebun Jui-soat telah berputar dan pedang pun kembali ke sarungnya.

“Jika dia tidak bergerak, kau akan seperti pohon ini sekarang,” ia berkata dengan dingin.

Ciok Siu-hun baru saja hendak bertanya tentang pohon itu, tapi, sebelum dia membuka mulutnya, tiba-tiba dia menyadari bahwa pohon itu sedang tumbang.

Ternyata setelah kilatan pedang sekilas itu, pohon tersebut, yang diameternya begitu besarnya hingga sebesar pelukan orang dewasa, sudah terbelah dua.

Pohon itu tumbang, dan Sebun Jui-soat pun menghilang.

Ekspresi wajah Ciok Siu-hun pun membeku. Di dunia ini, bagaimana mungkin ada jurus pedang seperti itu? Demikian cepatnya! Ia hampir tidak mempercayai matanya sendiri.

Pohon itu hampir roboh menimpa orang di hadapannya waktu orang itu berputar, mengangkat tangannya, dan mendorong dengan perlahan. Pohon itu pelan-pelan roboh ke atas tanah di hadapannya. Ekspresi wajah orang ini masih sangat tenang dan menampilkan senyuman hangat yang sama.

“Aku bukan kaki tangannya,” ia berkata dengan lambat. “Aku tak pernah membantu orang membunuh.”

Wajah Ciok Siu-hun yang pucat sudah berubah merah lagi. Sekarang dia faham apa yang dilakukan orang ini, dan juga faham bahwa kata-kata Sebun Jui-soat memang benar. Walaupun dia memiliki perangai yang buruk, dia masih bisa membedakan mana yang benar dan salah, dan dia pun menundukkan kepalanya dengan malu.

“Terima kasih,” ia akhirnya mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. “Boleh aku tahu siapa nama keluargamu?”

“Nama keluargaku adalah Hoa,” orang ini, Hoa Ban-lau, menjawab.

“Aku aku Ciok Siu-hun, yang paling jangkung di sana itu adalah Toa-suciku, Ma Siu-cin.”

“Apakah dia yang bicara barusan?”

“Ya.”

“Suaranya sangat mudah dikenali,” Hoa Ban-lau tersenyum. “Lain kali aku tentu akan mengenalinya.”

Ciok Siu-hun menganggap hal itu sedikit ganjil.

“Kau harus mendengarnya bicara baru dapat mengenalinya?” Ia terpaksa bertanya.

Hoa Ban-lau mengangguk.

“Kenapa?”

“Karena aku buta.”

Ciok Siu-hun tak sanggup bicara lagi.

Orang ini, yang bisa menangkap pedangnya dengan jarinya, seakan-akan itu adalah hal termudah di dunia, ternyata seorang buta. Ia tak bisa mempercayainya.

Cahaya bulan menyinari wajah Hoa Ban-lau, senyumannya masih tenang, hangat, siapa pun bisa mengatakan bahwa dia adalah orang yang penuh kasih terhadap kehidupan dan tidak merasa tertekan atau marah karena dirinya buta, dan tak akan pernah iri pada orang lain.

Karena ia telah puas dengan segala hal dalam kehidupannya, karena ia menikmati kehidupan.

Ciok Siu-hun menatapnya, hatinya tiba-tiba terisi oleh sebuah perasaan yang tak mampu diuraikan dengan kata-kata. Ia tak tahu apakah itu simpati, iba, ataukah kagum.

Ia hanya tahu bahwa ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Saudara-saudaramu sedang menunggumu,” Hoa Ban-lau berkata, sambil tersenyum. “Kau tidak ikut pergi?”

Ciok Siu-hun menundukkan kepalanya dengan malu.

“Jika kita bertemu lagi, dapatkah kau mengenaliku?” Tiba-tiba ia bertanya.

“Tentu saja, aku bisa mengenali dari suaramu.”

“Tapi bagaimana jika aku jadi bisu?”

Sekarang giliran Hoa Ban-lau yang terdiam.

Tak ada orang yang pernah menanyakan itu sebelumnya, dan dia tak pernah membayangkan bahwa akan ada orang yang menanyakannya.

Ia sedang bingung bagaimana harus menjawab waktu tiba-tiba ia menyadari bahwa gadis itu berjalan menghampirinya dan menggenggam tangannya.

“Rabalah wajahku,” gadis itu berkata dengan lembut. “maka walaupun aku tak bisa bicara, kau akan mengenaliku, kan?”

Hoa Ban-lau mengangguk dalam kebisuan ketika ia merasa jari-jarinya menyentuh wajah gadis itu yang mulus dan tanpa cacat.

Hatinya tiba-tiba juga terisi oleh sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Ma Siu-cin menatap mereka dari kejauhan dan tampaknya dia akan datang dan mengajak adik seperguruannya itu pergi tapi akhirnya membatalkan maksudnya.

Waktu ia berpaling, ia melihat bahwa Sun Siu-jing dan Yap Siu-cu juga sedang memandangi kedua orang itu, mata mereka penuh dengan sinar perasaan tertentu, seperti terpesona.

Tingkah laku Ciok Siu-hun ini tidak mengejutkan mereka, karena mereka semua tahu bahwa adik seperguruan mereka itu adalah tipe gadis yang berani mencinta dan berani membenci. Apakah dalam hatinya mereka juga berharap bisa berani seperti dia?

Jatuh cinta juga butuh keberanian.

______________________________

Ciok Siu-hun telah pergi, mereka semua telah pergi —— empat gadis muda dan cantik itu datang seperti angin dan pergi juga seperti angin. Tidak ada yang bisa menduga kapan mereka akan datang dan kapan mereka akan pergi.

Tapi Hoa Ban-lau masih berdiri di sana, tanpa bergerak, seperti terpesona.

Angin bertiup perlahan, bulan bersinar lembut, senyumnya tampak damai dan bahagia.

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa.

“Aku ingin bertaruh.”

“Taruhan apa?”

“Aku bertaruh kau tak akan mau mencuci tanganmu selama paling sedikit 3 hari!”

Hoa Ban-lau menarik nafas.

“Aku tak mengerti kenapa kau selalu mengira orang lain akan bersikap sama sepertimu.”

“Ada apa denganku?”

“Kau bukan seorang Kuncu (laki-laki sejati),” Hoa Ban-lau memasang muka serius, “sedikit pun tidak!”

Liok Siau-hong tertawa.

“Hal yang terbaik padaku adalah aku tak akan pernah memasang wajah serius dan pura-pura menjadi Kuncu.”

Hoa Ban-lau pun tak sanggup menahan tawanya lagi.

“Menurutku, sebaiknya kau berhati-hati,” Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

“Hati-hati? Kenapa?”

“Akhir-akhir ini tampaknya kau cukup beruntung dalam hal wanita. Bila seorang laki-laki tiba-tiba mendapatkan keberuntungan seperti ini, kesulitan biasanya tak lama lagi akan menyusul.”

“Ada satu hal yang tidak kufahami,” Hoa Ban-lau menarik nafas.

“Oh?”

“Bagaimana kau selalu bisa melihat kesulitan orang lain, tapi tak pernah melihat kesulitanmu sendiri?”

Liok Siau-hong menarik nafas.

“Karena aku seorang telur busuk,” Liok Siau-hong menjawab sambil tersenyum menyedihkan.

“Asal seseorang tahu bahwa dia adalah seorang telur busuk, tentu masih ada harapan untuknya,” Hoa Ban-lau tertawa.

“Jadi menurutmu siapa yang menyewa Sukong Ti-sing untuk mencuri Siangkoan Tan-hong?” Liok Siau-hong tiba-tiba bertanya setelah membisu beberapa lama.

“Ho Siu,” Hoa Ban-lau menjawab tanpa bimbang sedikit pun.

“Benar, pasti dia.”

Tidak banyak orang yang mampu mengeluarkan uang 200.000 tael perak untuk membeli Sukong Ti-sing.

“Dilihat dari hal ini, tampaknya Tay-kim-peng-ong tidak berdusta, Ho Siu memang Siangkoan Bok.”

Hoa Ban-lau sependapat.

“Dan Tokko It-ho tentu Pengtok Ho, itulah sebabnya ia pergi ke Cu-kong-po-gi-kok, dan itulah sebabnya ia mengirimkan murid-muridnya untuk mencariku.”

“Waktu ia datang ke sini, mungkin ia tidak tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada Giam Thi-san,” Hoa Ban-lau menambahkan.

“Mungkin dia telah bersepakat dengan Giam Thi-san untuk bertemu dan mendiskusikan sesuatu.”

“Mungkin sekali.”

“Dan masalah yang akan mereka diskusikan itu mungkinkah berkaitan dengan Tay-kim-peng-ong?”

“Juga sangat mungkin.”

“Dan dia mengirimkan Empat Cantik dari Go-bi-pay untuk bertanya-tanya padaku, berarti dia mengakui hubungannya dengan Tay-kim-peng-ong.”

“Jadi menurutmu seharusnya dia tidak bersikap seperti ini?”

“Kita tidak punya bukti bahwa dia adalah Pengtok Ho, dan dia pun tak perlu mengakuinya, kecuali…..”

“Kecuali kalau dia sudah punya rencana untuk membuatmu berhenti ikut campur dalam urusan orang lain.”

Liok Siau-hong mengangguk dengan lambat. “Kecuali kalau dia telah punya sebuah rencana yang sangat bagus.”

“Rencana-rencana terbaik selalu bertujuan sama.”

“Tentu saja, bila seseorang sudah mati, dia tak bisa ikut campur dalam urusan orang lain lagi.”

“Jadi menurutmu dia telah memasang perangkap di sana dan menunggumu terjebak?”

“Dia tidak perlu memasang perangkap apa pun,” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman. “Empat puluh sembilan jurus Golok dan Pedang Bersatu-padu miliknya itu mungkin sudah cukup untuk membuatku berhenti ikut campur dalam urusan orang lain.”

“Menurut kabar angin, di antara 7 ketua perguruan pedang utama di dunia saat ini, kungfunya adalah yang terbaik, karena selain ia telah menguasai kungfu Go-bi-pay luar dan dalam, dia juga telah banyak mempelajari ilmu-ilmu aneh dan tangguh yang belum pernah dilihat orang dimainkan olehnya.”

Liok Siau-hong tiba-tiba melompat bangkit.

“Mari kita pergi!”

“Ke mana?”

“Cu-kong-po-gi-kok, memangnya ke mana lagi?”

“Pertemuan direncanakan besok siang, kenapa kita harus pergi sekarang?”

“Lebih baik datang cepat daripada datang terlambat.”

“Kau mengkhawatirkan Siangkoan Tan-hong?”

“Orang seperti Tokko It-ho tak akan berbuat apa-apa pada seorang gadis.”

“Lalu siapa yang engkau khawatirkan?”

“Sebun Jui-soat.”

Ekspresi wajah Hoa Ban-lau pun berubah.

“Benar. Jika dia tahu bahwa Tokko It-ho ada di Cu-kong-po-gi-kok, dia tentu pergi ke sana sekarang.”

“Aku khawatir kalau ia mungkin tak mampu menghadapi Golok dan Pedang Bersatu-padu milik Tokko It-ho,” Liok Siau-hong menjelaskan. “Dengan kemampuannya, seharusnya kita tak perlu mengkhawatirkan dia. Tapi dia terlalu angkuh, keangkuhan bisa menimbulkan kesalahan, kesalahan bisa menyebabkan kematian.”

“Aku tidak menyukainya,” Hoa Ban-lau menarik nafas. “Tapi aku harus mengakui bahwa dia memang pantas bersikap angkuh.”

“Dia hanya melihat So Siau-eng melakukan 21 jurus sebelum memutuskan bahwa dia tentu mampu mengalahkan Golok dan Pedang Bersatu-padu milik Tokko It-ho, tapi dia mungkin tidak terlalu memikirkan kenyataan bahwa So Siau-eng bukanlah Tokko It-ho.”

“Jadi orang macam apakah Tokko It-ho?”

Liok Siau-hong berfikir sebentar.

“Ada tipe orang yang walaupun aku tidak ingin berteman dengannya, aku pun benar-benar tidak ingin menjadi musuhnya,” ia berkata dengan lambat.

“Dan Tokko It-ho adalah tipe orang seperti ini?”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Tidak perduli siapa pun, jika dia tahu bahwa dirinya mempunyai musuh seperti itu, dia tak akan dapat tidur, jadi sebaiknya kita segera berangkat.” Liok Siau-hong menarik nafas.

Hoa Ban-lau tiba-tiba tertawa.

“Kurasa dia pun tidak bisa tidur sekarang.”

“Kenapa?”

“Tak perduli siapa pun, jika dia tahu bahwa dirinya punya seorang musuh sepertimu, dia pun tak akan dapat tidur.”

______________________________

Tokko It-ho tidak tidur. Malam sudah larut, dan angin malam di bulan empat selalu membawa hawa dingin musim gugur ketika berhembus mengenai tirai putih di aula.

Peti mati itu terbuat dari kayu Nanmu ungu, sangat kuat dan sangat mahal.

Tapi orangnya telah mati, apakah ada bedanya apa pun jenis peti matinya?

Cahaya lilin berkerlap-kerlip ditiup angin dan aula berkabung itu seperti dipenuhi dengan hawa dingin dan sepi.

Tokko It-ho duduk dalam kebisuan di samping peti mati Giam Thi-san, dia telah lama tidak bergerak di situ.

Dia adalah orang yang bertubuh jangkung dan berwajah serius. Tubuhnya masih tegak seperti di waktu mudanya dulu, dan rambutnya yang kaku seperti jarum pun masih berwarna hitam legam. Hanya saja keriput di wajahnya telah banyak dan dalam, bila kau perhatikan wajahnya baru kau akan tahu bahwa dia memang seorang laki-laki tua.

Saat itu, di wajahnya yang serius dan tegas, tampak bayang-bayang kesedihan dan kesepian.

Apakah ini karena dia sudah seperti orang mati dan faham betapa sedih dan menakutkan kematian itu sebenarnya?

Di belakangnya tiba-tiba terdengar serangkaian langkah kaki yang sangat ringan. Ia tidak berpaling, tapi tangannya telah mencengkeram gagang pedangnya.

Pedangnya lebih tebal dan besar daripada pedang rata-rata dengan badan pedang yang sangat panjang dan lebar.

Pedang itu terbuat dari perunggu dan dipoles berkilauan, tapi sarungnya sangat tua dan kotor dengan sebuah simbol Pat-kwa kecil terukir di atasnya, melambangkan bahwa ini adalah pedang ketua Go-bi-pay.

Seseorang berjalan dengan perlahan menghampirinya dan berhenti di sampingnya. Walaupun ia tidak berpaling untuk melihat, ia tahu bahwa ini adalah Ho Thian-jing.

Ekspresi wajah Ho Thian-jing pun sangat sedih, sangat muram, selain dari baju hitam di sebelah dalam, ia pun mengenakan sebuah pakaian berkabung warna kuning, menunjukkan bahwa hubungannya dengan jenazah itu adalah sangat istimewa.

Tokko It-ho belum pernah melihat pemuda yang angkuh dan kekar ini sebelumnya, dia bahkan belum pernah datang ke tempat ini.

Ho Thian-jing berdiri di sana, di sisinya, selama beberapa saat sebelum tiba-tiba bicara.

“Masih belum tidur, Totiang?”

Tokko It-ho tidak menjawab. Karena ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Jika dia berdiri di sini, maka tentu saja dia masih belum tidur.

Kedudukan dan kemasyurannya membuatnya berhak untuk tidak menjawab pertanyaan seperti ini.

Tapi Ho Thian-jing meneruskan.

“Totiang belum pernah ke sini sebelumnya?”

“Belum.”

“Itulah sebabnya saya bahkan tidak tahu kalau Totiang dan Giam-toalopan berteman baik!”

Wajah Tokko It-ho menjadi gelap.

“Ada banyak hal yang tidak kau ketahui,” dia menjawab dengan dingin.

“Totiang adalah salah seorang pemimpin dunia persilatan,” Ho Thian-jing menjawab dengan santai. “Maka tentu saja Totiang tahu lebih banyak daripada aku.”

“Hmmph!”

Ho Thian-jing tiba-tiba berpaling dan menatap wajahnya dengan pandangan setajam pisau.

“Maka Totiang tentu tahu kenapa beliau mati!” Ho Thian-jing berkata dengan lambat.

Wajah Tokko It-ho tampaknya telah berubah warna sedikit ketika tiba-tiba dia berputar dan mulai berjalan ke luar.

“Berhenti!” Ho Thian-jing berseru.

Langkah terakhir Tokko It-ho dihentakkan dengan keras, menghancurkan ubin lantai hingga berkeping-keping. Urat nadi di tangannya menonjol keluar sementara jubah yang dia kenakan berkepak-kepak tanpa ada angin yang bertiup. Setelah beberapa lama, dia pun berputar dengan lambat, kemarahan seperti menusuk keluar dari sorot matanya ke arah Ho Thian-jing dan dia berkata dengan lambat-lambat dan jelas.

“Apakah kau menyuruhku berhenti?”

Wajah Ho Thian-jing pun menjadi gelap.

“Benar, aku menyuruhmu untuk berhenti!” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin.

“Kau tidak berhak!” Tokko It-ho berseru dengan murka.

“Tidak berhak? Dilihat dari usia, aku memang tidak sebanding denganmu,” Ho Thian-jing mendengus. “Tapi jika dilihat dari posisi dan tingkatan, maka Ho Thian-jing tidak lebih rendah daripada Tokko It-ho!”

“Posisi dan tingkatan apa yang engkau punya?” Tokko It-ho berseru dengan marah.

“Aku tahu kau tidak mengenalku, tapi kau tentu mengenali jurus ini.”

Dia berdiri berhadapan muka dengan Tokko It-ho, lalu tiba-tiba dia memutar pinggangnya ke kanan dan mengembangkan lengannya, Hong-hong-tian-ih (Burung Hong Mengepakkan Sayapnya), dua jari di tangan kirinya ditekuk seperti paruh burung hong ketika menusuk ke kepala Tokko It-ho.

Telapak tangan kanan Tokko It-ho terangkat miring, terarah ke pergelangan tangan lawannya.

Tiba-tiba langkah kaki Ho Thian-jing bergeser sedikit dan melesat ke samping kira-kira semeter, orangnya pun tiba di belakang pundak kanan Tokko It-ho. Jurusnya masih tetap Hong-hong-tian-ih, tapi arah gerakannya sudah berubah sama sekali dan dia menggunakan tangan kanannya untuk menirukan paruh burung dan menyerang urat darah besar di sebelah kanan leher Tokko It-ho.

Walaupun perubahan ini tampak sederhana, kelihaian yang terkandung di dalamnya sukar untuk diuraikan dengan kata-kata.

“Hong-siang-hui (Burung Hong Terbang Berpasangan)!” Tokko It-ho berteriak.

Sambil bicara, tiba-tiba dia memutar tubuhnya ke kiri dan menggunakan telapak tangan kirinya untuk menangkis paruh burung Ho Thian-jing.

Ho Thian-jing menghembuskan nafas, menggunakan kekuatan Bintang Kecil dari dalam telapak tangannya untuk didorong keluar.

“Pshhh!”

Kedua pasang telapak tangan itu bertemu dan segera, kedua orang itu berhenti bergerak.

Setelah menghembuskan nafas, Ho Thian-jing mulai bicara dengan lambat.

“Benar, itulah Hong-siang-hui. Suatu ketika waktu Thian-kim Lojin mengunjungi Go-bi-pay dan bertanding dengan gurumu, Oh-cinjin yang terhormat, di puncak Go-bi, beliau menggunakan jurus ini, kau mungkin melihatnya sebagai penonton kan?”

“Benar.”

Walaupun Tokko It-ho hanya mengucapkan 2 patah kata ini, wajahnya sudah berubah menjadi kehijau-hijauan.

Bila dua jagoan saling bertanding, sekali mereka menggunakan tenaga dalamnya untuk bertarung, mereka seharusnya tidak boleh dan tidak bisa bicara.

Tapi Thian-kim Lojin memang seorang jenius kungfu yang luar biasa, dia telah menciptakan semacam tenaga dalam yang tetap memungkinkan pemiliknya untuk bicara. Dan bukan hanya tidak ada kerusakan pada tenaga dalammu bila kau bicara, ilmu ini bahkan membuat energi yang tersimpan dalam sumber tenaga dalammu bisa mendesak keluar.

Tenaga dalam Ho Thian-jing dipelajari di bawah bimbingan Thian-kim Lojin sendiri, dan saat itu, dia bermak menggunakan keuntungan ini untuk mengalahkan Tokko It-ho.

“Jago kungfu biasa, bila menghadapi jurus ini, akan berputar ke kanan dan menggunakan telapak tangan kanan mereka untuk menangkis serangan ini,” Ho Thian-jing meneruskan. “Tapi Oh-cinjin memang hebat, dia malah menentang kebiasaan ini dan menangkisnya dengan telapak tangan kirinya, kau tahu mengapa?”

“Jika kau menangkis dengan telapak tangan kananmu, walaupun hal itu lebih cepat, pilihan untukmu hanya tersisa pada apa yang bisa engkau lakukan; tapi jika kau menangkis dengan tangan kirimu, maka masih ada energi dan kekuatan yang tersisa yang memungkinkan dirimu untuk berubah dan beradaptasi sesuai dengan keinginanmu.”

Tokko It-ho tidak ingin menjawab, tapi dia pun tidak ingin memperlihatkan kelemahannya. Baru saja dia bicara sampai di situ, tiba-tiba dia merasa seakan-akan dia tak sanggup mengatur pernafasannya lagi dan terpaksa berhenti.

“Benar, itu karena Thian-kim Lojin harus berhenti sebentar untuk menghadapi gerakan seperti itu dan mengumpulkan hawa untuk adu tenaga dalam, untuk meniadakan pilihan baginya secara efektif.”

“Bagaimana kau tahu tentang hal ini?” Tokko It-ho tiba-tiba berseru, seakan-akan dia tidak ingin mendengar pemuda itu bicara lagi.

“Karena Thian-kim Lojin adalah ayahku.”

Ekspresi wajah Tokko It-ho berubah hebat.

“Oh-cinjin dan ayahku berasal dari generasi yang sama, kau mungkin juga tahu, kan?” Ho Thian-jing berkata dengan santai.

Wajah Tokko It-ho berubah dari hijau ke putih dan kembali ke hijau lagi, bukan hanya dia tak mampu bicara, dia benar-benar tidak punya apa-apa yang harus dikatakan.

Kedudukan Thian-kim Lojin di masa itu adalah di atas semua orang, mengatakan kalau dia dan Oh-cinjin berasal dari generasi yang sama saja sudah memberikan Oh-cinjin kehormatan yang luar biasa.

Walaupun Tokko It-ho adalah orang yang angkuh, dia tak bisa mengingkari tradisi dunia persilatan.

“Jadi sekarang seharusnya kau tahu siapa aku dan bagaimana posisiku,” Ho Thian-jing meneruskan dengan santai. “Tapi aku masih punya beberapa pertanyaan untukmu!”

Tokko It-ho mengkertakkan giginya, sementara keringat mulai bermunculan di keningnya.

“Mengapa kau membuat So Siau-eng menukar namanya dan pura-pura menjadi seorang murid? Kau dan Giam-toalopan tidak pernah berhubungan sebelumnya, kenapa kau tiba-tiba muncul tepat setelah dia mati?”

“Hal ini tidak ada hubungannya denganmu.”

“Aku tak boleh menanyakan ini?”

“Kau tak berhak menanyakan hal ini.”

“Jangan lupa kalau aku adalah congkoan (pengurus umum) tempat ini,” Ho Thian-jing mengingatkan Tokko It-ho dengan dingin. “Jika aku tak boleh menanyakan persoalan di sekitar tempat ini, lalu siapa yang boleh?”

Keringat di kening Tokko It-ho bertetesan seperti air hujan dan ubin di bawah kakinya pun hancur berkeping-keping. Tiba-tiba ia menendang dengan kaki kanannya dan mengambil pedangnya dengan tangan kanannya.

Tapi tepat pada saat itu pula tenaga yang muncul dari telapak tangan Ho Thian-jing menghilang, dan dia, dengan meminjam energi Tokko It-ho, melayang keluar dengan perlahan.

Tokko It-ho segera kehilangan keseimbangannya dan hampir roboh terjungkal. Tiba-tiba tampak sebuah kilatan pedang diikuti dengan suara pedang memukul ubin lantai dengan bunga api yang memercik ke mana-mana ketika pedang di tangannya dihunjamkan ke ubin.

Tapi Ho Thian-jing telah menghilang.

Tirai putih berkibar-kibar ditiup angin, lilin di atas meja altar tiba-tiba padam.

Tokko It-ho, sambil bersandar pada pedangnya, memandang kegelapan, tiba-tiba ia merasa sangat lelah. Ia sudah semakin tua.

Menarik pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarungnya, dia berjalan keluar dengan perlahan; dalam kegelapan, seperti ada sepasang mata berkilat-kilat yang sedang menatapnya.

Ia memandang ke depan, dan melihat seseorang berdiri tak bergerak di bawah pohon pek di halaman, seseorang yang mengenakan pakaian serba putih seperti salju.

Tangan Tokko It-ho pun kembali turun ke pedangnya.

“Siapa itu?” Ia bertanya dengan suara yang bengis.

Orang itu tidak menjawab, tapi malah balik bertanya.

“Pengtok Ho?”

Wajah Tokko It-ho tiba-tiba menjadi kaku.

Orang berpakaian putih itu pelan-pelan berjalan keluar dari kegelapan dan sekarang berada di tengah sinar bulan. Pada pakaiannya yang seputih salju ada setitik debu, wajahnya tanpa ekspresi, dan melintang di punggungnya ada sebatang pedang berbentuk ganjil dengan sarung berwarna gelap.

Ekspresi wajah Tokko It-ho pun berubah hebat.

“Sebun Jui-soat?”

“Ya.”

“Apakah kau yang membunuh So Siau-eng?” Tokko It-ho bertanya dengan marah.

“Aku memang membunuhnya, tapi ia seharusnya tidak mati. Yang pantas mati adalah Pengtok Ho!”

Bola mata Tokko It-ho tampak terbelalak.

“Maka jika kau adalah Pengtok Ho, aku akan membunuhmu!” Sebun Jui-soat berkata dengan dingin.

Tokko It-ho tiba-tiba tertawa seperti orang gila.

“Kau tidak bisa membunuh Pengtok Ho, kau hanya bisa membunuh Tokko It-ho.”

“Oh?”

“Jika kau membunuh Tokko It-ho, maka namamu akan terkenal ke seluruh dunia!”

“Bagus,” Sebun Jui-soat mendengus.

“Bagus?”

“Tak perduli apakah engkau adalah bangau yang kesepian atau hanya seekor bangau, aku akan membunuhmu!”

{Catatan: ini adalah sebuah permainan kata-kata lagi. Tok Ho secara harfiah berarti bangau yang kesepian, sementara It-ho berarti seekor bangau.}

“Bagus.” Tokko It-ho tiba-tiba mendengus juga.

“Bagus?”

“Tak perduli apakah engkau ingin membunuh bangau yang kesepian atau hanya seekor bangau, kenapa kau tidak menghunus pedangmu?”

“Bagus, hebat!”

Tokko It-ho mencengkeram gagang pedangnya, dia merasa seolah-olah tangannya lebih dingin daripada pedang itu sendiri. Bukan hanya tangannya yang terasa dingin, jantungnya juga.

Reputasi yang termasyur, posisi yang berkuasa, bahkan jika dia bisa memberikannya semua sekarang, dia masih tak akan mampu mendapatkan kembali semua energi yang baru saja dia keluarkan.

Ia memandang pada Sebun Jui-soat, tapi ia pun memikirkan tentang Ho Thian-jing, tiba-tiba ia merasa menyesal.

Ini adalah pertama kalinya dia benar-benar merasa menyesal dalam hidupnya, dan ini mungkin yang terakhir kalinya.

Dia tiba-tiba sangat ingin bertemu dengan Liok Siau-hong, tapi dia tahu bahwa Liok Siau-hong tak mungkin muncul di saat seperti ini.

Dia hanya bisa menghunus pedangnya.

Karena dia tak punya pilihan lain di saat ini.

Tiba-tiba, terlihat kilatan-kilatan pedang penuh energi.

Angin yang bertiup semakin dingin, maka bila Sebun Jui-soat sendiri yang berdarah, darahnya pun akan mongering juga.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: