Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Pendekar Baja (09)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 3:28 am

Pendekar Baja (09)
Oleh Gu Long

Usianya sudah mendekati setengah abad, tapi berdandan seperti pemuda bangsawan atau anak pembesar, tangan kiri menjinjing sangkar burung kenari, tangan kanan memegang pipa tembakau, sabuknya emas dengan beberapa kantong bersulam tergantung di pinggang, seakan khawatir orang tidak tahu dirinya kaya, maka kantong yang penuh berisi uang itu semua terbuka tutupnya hingga logam kuning kelihatan gemerlapan.

Orang banyak memang dapat melihat tingkah lakunya, tapi semua orang hampir muntah karena mual terhadap laki-laki gendut berbau tengik ini, celakanya di belakangnya ikut keluar seorang gadis berbaju putih yang cantik bagai bidadari, seperti burung dara saja lengket di samping si gendut.

Kalau si gendut memuakkan, gadis ini bak teratai yang tumbuh di dalam lumpur, cantik sekali, terutama sikapnya yang seperti minta dikasihani, lelaki mana pun akan tergiur.

Melihat kedua orang ini, sungguh senang Jit-jit bukan main.

Kiranya lelaki tambun ini bukan lain ialah Keh-pak-bwe, gadis jelita itu jelas adalah Pek Fifi yang pantas dikasihani.

Melihat Pek Fifi kembali terjatuh ke tangan Keh-pak-bwe, mau tak mau hati Jit-jit jadi sedih dan kasihan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, setiap melihat orang yang dikenalnya, dirasakan seperti kedatangan penolong yang akan membebaskan dirinya.

Waktu itu kebetulan ada sebuah meja kosong di sebelah kiri Cu Jit-jit, Keh-pak-bwe dengan langkah dibuat-buat membawa Pek Fifi berduduk di meja itu, kebetulan duduk di depan Cu Jit-jit.

Jit-jit berharap dan menunggu Pek Fifi akan angkat kepala, malah ia pun berharap Keh-pak-bwe akan melihat dirinya, maka ia melotot mengawasi kedua orang ini hingga lama, sampai mata terasa pegal.

Akhirnya Pek Fifi angkat kepala, Keh-pak-bwe juga memandangnya sekejap. Tapi sekali pandang laki-laki kikir yang suka menggasak uang orang ini seketika mengunjuk rasa jijik, dia meludah ke samping terus melengos ke arah lain.

Demikian pula sorot mata Pek Fifi juga mengunjuk rasa kasihan, tapi dia diam saja seperti tidak mengenalnya, tidak tersenyum, tidak mengangguk atau menyapa.

Keruan Jit-jit heran, marah, dan kecewa, kalau Keh-pak-bwe bersikap tak acuh kepadanya masih dapat dimaklumi, tapi Pek Fifi, apakah dia tidak kenal budi?

Akhirnya dia hanya menghela napas, batinnya, “Sudahlah, manusia di dunia ini memang banyak yang tidak tahu balas budi, apa gunanya aku hidup di dunia ini?”

Sungguh ia kecewa dan putus asa, tekad untuk mati makin menggelora dalam sanubarinya.

Didengarnya si nyonya baju hijau berkata kepadanya, “Anak baik, kau dahaga, minumlah teh ini.”

Jit-jit berpikir, “Cara lain untuk membunuh diri tidak ada, biar aku mogok makan minum saja.”

Air teh yang dituang ke mulutnya kontan disemburkan ke atas meja. Air teh berceceran di atas meja yang mengilap sehingga mirip sebuah cermin. Tanpa terasa Jit-jit menunduk, mendingan dia tidak melihat permukaan meja, karena apa yang dilihat pada permukaan meja seketika membekukan darahnya.

Dengan air teh yang tumpah di atas meja, dia dapat bercermin melihat muka sendiri, dilihatnya wajah yang kelihatan bukan lagi wajah cantik molek dulu, tapi seraut wajah yang tak keruan bentuknya, hidung yang semula mancung sekarang berubah jadi peyot, bibir yang tipis mungil kini berubah merot, muka yang halus kini berubah kisut, wajah yang cantik seperti bidadari dahulu sekarang lebih mirip hantu.

Sungguh tidak kepalang kaget Jit-jit, remuk redam hatinya.

Umumnya orang perempuan memandang kecantikan melebihi jiwa sendiri, bahwa wajah yang dulu begitu ayu kini rusak jadi begini, betapa luluh perasaannya, ia membatin, “Pantas sepanjang jalan orang yang melihat aku sama merasa jijik dan keheranan, tak heran pula Pek Fifi jadi tidak mengenalku lagi ….”

Sekarang dia ingin menggembor, ingin menangis, ingin mati pun sukar terlaksana, mendadak dia mengertak gigi dan menumbuk meja sekuatnya.

“Brak, prang!” meja ambruk, cangkir piring dan perabot lainnya sama berantakan, Jit-jit juga jatuh terguling di lantai, menggelinding di antara pecahan beling.

Tetamu menjadi panik, si nyonya baju hijau tampak gugup dan kerepotan, Pek Fifi dan beberapa orang lain memburu datang membantu si nyonya untuk memapah Jit-jit. Seorang menghela napas dan mengawasi dia, katanya, “Nona, lihatlah betapa sabar dan kasih sayang orang tua ini merawat dan menjagamu, kau harus turut nasihatnya, jangan lagi berbuat hal-hal yang mendatangkan kesulitan bagi beliau dan juga untuk dirimu sendiri.”

Ternyata si nyonya baju hijau sedang mencucurkan air mata, katanya, “Sejak kecil keponakanku ini memang sudah cacat, dasar nasibnya jelek, dilahirkan dalam keadaan seperti ini, maklum bila wataknya juga rada pemberang, jangan kalian salahkan dia.”

Hadirin menggeleng kepala mendengar ucapan si nyonya, banyak pula yang menghela napas, semua bersimpati padanya. Jit-jit dipapah duduk kembali di atas kursi, mau menangis juga tak keluar air mata. Siapa pula yang tahu betapa sengsara dan tersiksa hatinya? Siapa pula akan tahu betapa jahat dan keji tujuan si nyonya berbaju hijau, siapa pula yang dapat menolong dirinya? Ia benar-benar putus asa, umpama Sim Long sekarang berdiri di depannya juga tidak akan mengenalnya lagi, apalagi orang lain, jangan harap orang lain akan menolongnya.

Pek Fifi mengeluarkan saputangan untuk mengusap air mata di pipi Jit-jit, katanya perlahan, “Cici, jangan menangis, walau kau … walau kau dihinggapi penyakit, tapi … tapi ada sementara gadis yang berparas cantik hidupnya justru lebih menderita daripadamu ….” gadis lemah ini agaknya teringat akan nasib sendiri, tak tertahan lagi air matanya meleleh. Dengan sesenggukan dia berkata pula, “Apa pun engkau masih ada yang merawat dan memerhatikan dirimu seperti bibi ini, sebaliknya aku … aku ….”

Mendadak Keh-pak-bwe membentak, “Fifi, lekas kembali!”

Bergetar badan Pek Fifi, seketika mukanya pucat, cepat ia mengusap air mata, diam-diam ia melolos sebuah peniti bermutiara dan disisipkan ke tangan si nyonya baju hijau, lalu lari balik ke sana.

Nyonya baju hijau itu melenggong mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya sambil menghela napas, “Nona yang baik hati, semoga Thian selalu melindungimu.”

Suara lembut yang penuh kasih sayang, wajah yang arif bijaksana, sungguh seorang tua yang terpuji. Tapi siapa tahu di balik wajahnya yang baik itu tersembunyi sebuah hati yang jahat, hati iblis.

Cu Jit-jit menatapnya, air matanya hampir berubah menjadi darah. Dia teringat kepada Ong Ling-hoa dan Toan-hong-cu, meski kedua orang ini rendah dan kotor, keji dan culas, tapi dibandingkan nyonya ini, mereka masih terhitung orang baik. Kini wajah sendiri sudah rusak, jiwa-raganya tergenggam di tangan si iblis, kecuali ingin lekas mati, harapan apa lagi yang didambakannya? Dengan keras dia mengertak gigi, sebutir nasi pun tidak mau makan, setetes air pun tidak mau minum.

*****

Ketika malam tiba, di bawah bantuan pelayan hotel yang simpatik dan berkasihan, nyonya baju hijau memasuki sebuah kamar yang terletak di pojok barat, tempat yang sepi serta tenang.

Perut Jit-jit sudah keroncongan, tenggorokan kering, baru sekarang dia tahu kelaparan adalah siksaan yang tidak enak, tapi dahaga lebih menyiksa lagi, lehernya seperti dibakar.

Setelah mengantar minuman, pelayan hotel keluar sambil menghela napas, akhirnya tinggal Jit-jit dan si nyonya berbaju hijau, iblis jahat itu berdiri di depan Jit-jit dan menatapnya.

Mendadak si nyonya menjambak rambutnya, katanya dengan menyeringai, “Budak busuk, kau tidak mau makan minum, memangnya ingin mampus?”

Mendadak Jit-jit membuka matanya, dengan penuh kebencian dia tatap orang, walau mulut tidak mampu bicara, tapi sorot matanya menampilkan tekad ingin mati saja.

“Setelah terjatuh di tanganku, ingin mampus? … hehehe, tidak begitu gampang. Kukira lebih baik kau tunduk dan menurut saja, kalau tidak ….” mendadak tangannya melayang pulang-balik, muka Jit-jit ditamparnya.

Memangnya sudah benci dan nekat, Jit-jit tetap menatapnya dengan mendelik. Sorot matanya yang penuh dendam seperti mau bilang, “Aku bertekad akan mati, apa pula yang kutakutkan? Mau pukul mau bunuh boleh kau lakukan.”

Si nyonya menyeringai pula, katanya, “Budak busuk, tak nyana watakmu sebandel ini, kau tidak takut ya? …. Baik, ingin kubuktikan apa kau takut tidak.”

Waktu mengucapkan kata terakhir, mendadak suaranya berubah logat seorang lelaki, kedua tangan terus meraih paha Jit-jit.

Walau sudah terbuktikan nyonya baju hijau ini berhati keji, jahat dan culas, tapi mimpi pun tidak terbayang oleh Jit-jit bahwa perempuan ini samaran seorang lelaki.

“Bret”, tahu-tahu si “nyonya” merobek pakaian Jit-jit, sebelah tangannya lantas meraba dada Jit-jit yang hangat.

Air mata bercucuran, badan Jit-jit bergetar keras, meski tidak takut mati, mana bisa dia tidak ngeri bila dirinya dijamah dan dihina oleh tangan kotor iblis laknat ini.

Nyonya baju hijau itu tertawa terkial-kial, katanya, “Sebetulnya aku ingin melayanimu dengan baik, akan kuantarkan ke suatu tempat untuk hidup bahagia, tapi kau tidak tahu kebaikan, terpaksa aku mencicipi dulu keindahan tubuhmu ….”

Badan Jit-jit masih di bawah remasan tangan si iblis, dadanya yang putih kenyal itu kini sudah mulai bersemu merah karena belaian jari jemari iblis itu.

Jit-jit tidak bisa menghindar, juga tidak dapat melawan, ingin marah pun tidak mampu, sorot matanya hanya menampilkan rasa mohon belas kasihan.

Nyonya berbaju hijau tertawa senang, katanya, “Kau takut sekarang?”

Dengan menahan duka dan marah, dengan penasaran Jit-jit mengangguk.

“Selanjutnya kau mau tunduk dan menurut perintahku?” desak si nyonya.

Di bawah cengkeraman tangan iblis, apa yang bisa dilakukan Jit-jit kecuali mengangguk. Wataknya keras, sejak kecil sudah biasa mengumbar adat, tapi berada di tangan iblis ini, terpaksa dia tunduk dan patuh.

“Bagus, kan begitu seharusnya,” si nyonya tertawa. Suaranya berubah pula, berubah lembut, perlahan dia mengusap muka Jit-jit, katanya, “Anak sayang, bibi akan keluar sejenak, segera aku kembali.”

Iblis ini ternyata memiliki dua wajah dan dua suara. Hanya dalam sekejap dia bisa berubah menjadi seorang lain.

Jit-jit hanya bisa mengawasi orang keluar dan menutup pintu, ia tak tahan lagi dan menangis.

Terhadap nyonya ini sungguh ia sangat takut, meski si nyonya keluar, tapi dia tidak berani sembarang bergerak, hanya ingin melampiaskan rasa takut, duka, marah, putus asa dan terhina lewat air matanya yang tak terbendungkan lagi.

Air mata membasahi pakaian, bantal dan selimut, dia terus menangis dan menangis sampai lemas dan tanpa terasa dia tertidur lelap.

*****

Di tengah mimpinya mendadak terasa angin dingin meniup dadanya, Jit-jit kedinginan dan terjaga dari tidurnya.

Waktu ia membuka mata, pintu sudah terbuka, iblis jahat itu sudah pulang. Di bawah ketiaknya mengempit sebuah bungkusan besar panjang, setelah menutup pintu, perlahan dia turunkan buntelan besar itu di atas ranjang, katanya dengan tertawa, “Anak baik, nyenyak tidak tidurmu?”

Melihat senyumnya, mendengar suaranya, kembali gemetar badan Jit-jit, kalau senyum dan suaranya sejelek dan sejahat hatinya masih mending, makin ramah dan welas asih senyum dan suaranya semakin mengerikan baginya.

Waktu Jit-jit menoleh ke sana, kembali perasaannya seperti diguyur air dingin. Buntelan besar itu ternyata berisi seorang gadis berbaju putih, tampak pipinya merah jambu, pelupuk matanya terpejam, tidur pulas dengan senyum dikulum, siapa lagi kalau bukan Pek Fifi.

Fifi yang harus dikasihani ternyata juga jatuh ke tangan iblis laknat ini.

Dengan gemas Jit-jit pandang si nyonya, sorot matanya diliputi rasa dendam dan benci.

Kalau sorot matanya dapat dibuat membunuh orang, entah berapa kali nyonya berbaju hijau itu akan mampus di bawah tatapan matanya.

Tampak orang itu mengeluarkan sebuah kantong kulit hitam, dari dalam kantong dikeluarkan sebilah pisau kecil tipis dan sebuah kaitan yang mengilat, sebuah jepitan, sebuah sendok, sebuah gunting, tiga botol porselen kecil dan ada lagi lima macam peralatan yang tidak diketahui namanya seperti setrika mini, serupa mainan anak-anak saja.

Cu Jit-jit tidak tahu untuk apa peralatan itu, dia mengawasi dengan terkesima.

“Anak baik,” ujar si nyonya, “kalau kau tidak takut mati kaget, boleh kau menonton dari samping, kalau tidak, bibi menasihatimu memejamkan mata saja.”

Segera Jit-jit memejamkan mata, didengarnya si nyonya berkata, “Kau memang anak baik ….”

Selanjutnya didengarnya suara gemerencing alat-alat yang bersentuhan, suara membuka tutup botol, suara gunting bekerja, suara tepukan perlahan ….

Berhenti sejenak lalu terdengar si nyonya meniup berulang kali, lalu pisau mengiris sesuatu diselingi rintihan perlahan Pek Fifi.

Di tengah malam sunyi, semua suara itu terdengar dengan mengerikan, selain takut Jit-jit juga heran dan tertarik, tak tahan lagi, diam-diam ia mengintip ke sana. Sayang nyonya baju hijau itu berdiri mungkur mengalangi pandangannya, kecuali terlihat kedua tangannya sibuk bekerja, bagaimana keadaan Fifi dan apa yang sedang dilakukan si nyonya baju hijau, sama sekali tidak terlihat.

Terpaksa ia memejamkan mata pula, kira-kira sepemasakan air, terdengar pula gemerencing alat-alat, suara botol ditutup, kantong diikat. Terakhir nyonya itu menghela napas lega dan berucap, “Sudah selesai.”

Waktu Jit-jit membuka mata dan memandang ke sana, seketika ia melongo.

Nona jelita Pek Fifi yang berwajah cantik itu kini sudah berubah menjadi seorang perempuan setengah umur dengan rambut beruban, bermuka burik, alis tipis, hidung pesek dan bibir tebal, jeleknya sukar dilukiskan.

Nyonya itu tertawa senang, katanya, “Bagaimana dengan kepandaian operasi bibi? Kini umpama ayah-bunda bocah ini berada di depannya juga tidak mengenalnya lagi.”

Sudah tentu Jit-jit tidak mampu bicara.

Nyonya berbaju hijau tertawa riang pula, dia membelejeti pakaian Pek Fifi, sebentar saja nona itu sudah telanjang bulat. Di bawah penerangan lampu badan Pek Fifi mirip domba yang akan disembelih, meringkuk di tempat tidur, sungguh kasihan, tapi juga menarik.

“Sungguh dara jelita yang mengagumkan ….” kata nyonya berbaju hijau dengan tertawa. Serasa meledak kepala Jit-jit, mukanya merah panas, lekas dia pejamkan mata lagi, mana berani menonton lebih lanjut.

Waktu dia membuka mata pula, si nyonya sudah memberi pakaian kasar rombeng warna hijau kepada Fifi, kini anak dara itu betul-betul telah berganti rupa.

Nyonya berbaju hijau tertawa bangga, katanya, “Terus terang, bila kau tidak menyaksikan sendiri, dapatkah kau percaya bahwa nyonya buruk di depanmu ini adalah gadis jelita yang kasihan itu?”

Rasa gusar kembali membakar hati Jit-jit, malu dan menyesal pula, kini baru dia tahu bagaimana proses dirinya waktu mukanya dipermak menjadi sejelek setan ini, jalannya operasi tentu sama dengan Pek Fifi tadi. Dalam hati dia membatin, “Asal aku tidak mati, akan datang suatu hari akan kupotong kedua tanganmu, mengorek kedua bola matamu yang pernah melihat badanku, supaya selama hidupmu tak dapat lagi melihat dan meraba, biar kau rasakan betapa sengsara orang hidup tersiksa.”

Bila dendam membara, keinginan untuk hidup lantas menggelora, dalam hati dia bersumpah apa pun yang terjadi dia harus bertahan hidup, peduli siksa derita apa pun yang akan dialaminya, dia tidak mau mati secara penasaran.

Nyonya itu masih terus tertawa riang, katanya, “Tahukah kau, bicara tentang ilmu tata rias kecuali ajaran Hun-bong-siancu dulu, kuyakin tiada orang kedua lagi di dunia ini yang mampu menandingi bibimu ini.”

Mendadak tergerak hati Jit-jit, teringat olehnya kemahiran Ong Ling-hoa, pemilik perusahaan “Ong-som-ki” yang juga pandai ilmu rias itu, rasanya dia tidak lebih asor daripada perempuan ini. Dalam hati dia membatin, “Mungkinkah Ong Ling-hoa keturunan Hun-bong-siancu? Apakah nyonya setengah umur berdandan seperti permaisuri dengan kepandaian yang mahatinggi itu adalah Hun-bong-siancu?”

Sungguh ia ingin memberitahukan penemuannya ini kepada Sim Long, tapi selama hidupnya ini apakah dapat bertemu pula dengan Sim Long, harapannya terlalu kecil, dia hampir tidak berani mengharapkannya lagi.

*****

Hari kedua pagi-pagi mereka bertiga melanjutkan perjalanan.

Jit-jit tetap menunggang keledai, sebelah tangan si nyonya menuntun keledai dan tangan yang kiri menggandeng Pek Fifi.

Fifi dapat berjalan, karena si “nyonya” tidak membikin lumpuh badannya, sebab ia tahu gadis lemah ini tidak bakal melawan.

Cu Jit-jit tidak berani memandang Pek Fifi, dan tidak ingin melihat Pek Fifi yang sedang menangis dan juga tampak takut dan ngeri itu.

Maklum, kalau Jit-jit yang berwatak keras saja ketakutan, apalagi gadis lembut dan penurut seperti Pek Fifi, meski tidak dipandang juga dapat dimaklumi Jit-jit.

Tapal keledai berdetak, air mata bercucuran, debu beterbangan tertiup angin menyampuk muka, sorot mata orang lalu yang menaruh belas kasihan, semua itu terjadi serupa kemarin.

Perjalanan yang bisa membuat orang gila ini entah akan berakhir kapan? Siksa derita yang tidak tertahankan ini apakah tidak akan berakhir?

Mendadak sebuah kereta besar berkabin muncul dari depan. Kereta ini tiada bedanya dengan kereta umum yang lewat di jalan raya ini, kuda penarik kereta tampak kurus, sudah tua dan lelah. Tapi yang menjadi kusir kereta ternyata adalah Kim Bu-bong yang tindak tanduknya serbamisterius, yang duduk di samping Kim Bu-bong dengan gagah, siapa lagi kalau bukan Sim Long.

Jantung Cu Jit-jit seperti hendak melompat keluar, tidak kepalang rasa girangnya. Seketika kepala terasa pening, pandangan juga kabur, air mata tidak terbendung lagi. Dengan sepenuh hati dia ingin berteriak, “Sim Long … Sim Long … tolong aku ….!”

Sudah tentu Sim Long tidak dapat mendengar suara hatinya, anak muda ini hanya memandang Jit-jit sekejap, kelihatan menghela napas, lalu menoleh ke arah lain. Kereta itu berjalan lambat karena keledai penarik kereta terlalu lelah dan berlari ogah-ogahan.

Sungguh cemas, gemas dan benci hati Cu Jit-jit, hampir gila rasanya. Hatinya seperti dirobek-robek, keluhnya, “Sim Long, O, Sim Long … tolonglah … pandanglah diriku, aku inilah Cu Jit-jit yang merindukanmu siang dan malam, apakah kau tidak mengenalku lagi?”

Dia rela mengorbankan apa pun asal Sim Long dapat mendengar jeritan hatinya, tapi sayang, Sim Long tidak mendengar apa pun.

Siapa pun tidak menduga mendadak si nyonya berbaju hijau malah mencegat kereta yang datang dari depan, tangan disodorkan sambil meratap, “Tuan yang membawa kereta, sudilah memberi sedekah menolong kaum sengsara ini, Thian pasti akan memberkahi kalian panjang umur dan banyak rezeki.”

Sim Long mengunjuk rasa heran, ia heran nyonya ini bisa mengadang kereta dan minta sedekah. Siapa tahu Kim Bu-bong lantas merogoh saku dan menyisipkan selembar uang ke tangannya.

Jit-jit melototi Sim Long, hampir saja dia meneteskan darah. Hatinya meratap juga mengumpat, “Sim Long, O, apa betul kau tidak mengenalku lagi, kau jahat, tidak tahu budi, keparat yang tidak punya hati, sekilas pun kau tidak sudi memandangku lagi.”

Sim Long memang tidak lagi memandangnya, perhatiannya hanya tertuju kepada nyonya berbaju hijau dan Kim Bu-bong. Nyonya berbaju hijau sedang bergumam, “Orang yang berhati baik, Thian pasti membalas kebaikanmu.”

Wajah Kim Bu-bong tetap kaku, tidak mengunjuk sesuatu perasaan, cemeti diayun, “tar”, kereta berjalan pula.

Runtuh rasanya seluruh raga Jit-jit, walau dia tahu jelas Sim Long tidak mungkin mengenalnya, tapi sebelum bertemu dengan Sim Long, dalam hatinya masih terbetik setitik harapan, dan harapan itu akhirnya juga nihil.

Roda kereta gemeretak di jalan raya, makin lama makin jauh, membawa pergi segala harapannya, kini dia benar-benar tahu bagaimana rasanya putus asa, sungguh perasaan yang aneh.

Kini hatinya tidak lagi sedih, tidak marah, tidak takut, dan tidak menderita, segenap jiwa raganya sekarang seperti sudah mati rasa. Hanya kegelapan yang terbentang di depannya, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya, tiada yang bisa didengarnya lagi, mati rasa ini seperti menyeluruh, mungkin inilah perasaan putus asa total.

Jalan raya ini sangat ramai, orang bersimpang-siur, ada yang riang gembira, ada pula yang sedih, ada yang berjalan dengan enteng dan cepat, ada pula yang melangkah dengan berat dan seperti hendak mencari sesuatu, ada pula yang ingin melupakan …. Tapi siapakah yang dapat benar-benar merasakan putus asa?

Kereta yang ditunggangi Sim Long dan Kim Bu-bong sudah ratusan tombak jauhnya.

Angin dingin mencambuk muka, lekas Sim Long menarik turun topi beledunya yang mahal tapi sudah butut itu, tanpa menghiraukan Kim Bu-bong, dia menguap dan mementang kedua tangan, gumamnya, “Tiga hari … sudah tiga hari tanpa menemukan apa-apa, tiada yang kulihat, padahal waktu yang ditentukan sudah makin dekat ….”

“Ya, benar, mungkin sudah tiada harapan lagi,” ujar Kim Bu-bong.

Tersimpul senyum kemalasan di wajah Sim Long, katanya, “Tiada harapan? …. Kurasa harapan tetap ada.”

“Benar, tiada persoalan apa pun di dunia ini yang dapat membuatmu putus asa.”

“Tahukah kau apa harapan satu-satunya yang kudambakan?” berhenti sejenak karena Kim Bu-bong tidak menjawab, lalu Sim Long melanjutkan, “Harapan kita satu-satunya hanya pada Cu Jit-jit, dia lenyap seperti ditelan bumi, tentu karena dia menemukan sesuatu rahasia, dia gadis yang tinggi hati dan keras kepala …. Dia ingin seorang diri menyelidiki rahasia itu, maka diam-diam dia minggat. Kalau tidak, biasanya ia tidak suka pergi sendirian.”

“Benar, pikiran siapa pun tak bisa mengelabui kau, apalagi isi hati Cu Jit-jit,” ujar Kim Bu-bong.

Sim Long menghela napas, ujarnya, “Tapi sudah tiga hari kita tak berhasil menemukan dia, pasti dia sudah jatuh ke tangan musuh, kalau tidak, menuruti wataknya, di mana pun berada dia pasti menarik perhatian orang, sedikit banyak kita bisa mencari tahu tentang dia.”

Mendadak Sim Long tertawa dan memotong, “Aku bicara panjang lebar, beruntun empat kali kau jawab benar, jangan-jangan kau sedang memikirkan sesuatu … padahal tidak perlu kau jawab.”

Lama Kim Bu-bong termenung, perlahan dia menoleh ke arah Sim Long dan menatapnya dengan tajam, katanya kemudian, “Tebakanmu memang benar, saat ini aku memang sedang memikirkan sesuatu, tapi soal apa yang kupikirkan? Dapat kau terka?”

Sim Long tertawa, “Mana bisa kuterka … aku hanya heran.”

“Heran apa?”

“Di tengah jalan bertemu dengan seorang nyonya yang tidak dikenal, tapi sekali rogoh saku kau beri selembar uang senilai selaksa tahil kepadanya, apakah ini tidak patut diherankan?”

Kim Bu-bong berdiam pula, ujung mulutnya mengulum senyum, katanya kemudian, “Apakah tiada sesuatu kejadian di dunia ini dapat mengelabui matamu?”

“Ya, memang tidak banyak.”

“Bukankah kau pun seorang yang murah hati?”

“Betul, kalau aku punya uang selaksa tahil dan melihat orang yang harus dikasihani, pasti juga akan kuberikan selaksa tahil padanya.”

“Cocok kalau begitu.”

Sim Long menatapnya, katanya, “Tapi aku ini berasal dari keluarga yang miskin, sebaliknya kau bukan, kelihatannya kau bukan orang yang suka merogoh kantong memberi sedekah kepada orang miskin, kenapa nyonya itu tidak minta sedekah kepadaku atau kepada orang lain, dia justru minta kepadamu.”

Kepala Kim Bu-bong menunduk, gumamnya, “Apa pun tak dapat mengelabui kau … apa pun tidak bisa mengelabui kau ….” mendadak dia angkat kepala, sikapnya kembali dingin dan kaku, suaranya pun berat, “Betul, dalam hal ini memang ada segi yang patut diherankan dan menarik perhatian, tapi aku tidak bisa menjelaskan.”

Pandangan mereka beradu, keduanya sama bungkam, akhirnya Sim Long tersenyum.

“Senyummu kelihatan aneh,” kata Kim Bu-bong.

“Rahasia hatimu, meski tidak kau katakan, dapat juga kuterka.”

“Kalau bicara jangan terlalu yakin.”

“Bagaimana kalau aku menebaknya.”

“Boleh saja kau tebak, urusan lain mungkin bisa kau tebak, tapi soal ini ….” sampai di sini dia menahan perkataannya, sebab kelanjutannya dikatakan atau tidak tetap sama.

Kereta keledai ini masih terus maju perlahan, Sim Long mengawasi debu yang mengepul di kaki kuda, katanya pula, “Sejak berkenalan denganku, persoalan apa pun tiada yang kau rahasiakan, hanya soal ini … soal ini pasti besar sangkut pautnya dengan dirimu, hal ini tidak perlu kutanyakan juga dapat diketahui?”

“Ya ….” Kim Bu-bong tetap tenang.

“Bila soal ini ada sangkut pautnya dengan dirimu, kuyakin pasti besar pula sangkut pautnya dengan Koay-lok-ong ….” kelihatannya dia memerhatikan debu, padahal setiap perubahan sikap dan gerakan Kim Bu-bong tidak terlepas dari pengamatannya, sampai di sini air muka Kim Bu-bong benarlah mulai ada perubahan.

Segera Sim Long berkata pula, “Karena itu, menurut pendapatku, nyonya yang harus dikasihani itu pasti juga ada hubungan dengan Koay-lok-ong, sikapnya yang kasihan itu mungkin hanya pura-pura belaka.”

Sampai di sini dia tidak melanjutkan lagi, ia menatap wajah Kim Bu-bong, bibir orang kelihatan terkancing rapat, kulit mukanya juga dingin.

Kereta terus maju, angin dingin menampar muka, kedua orang ini saling tatap, masing-masing sama ingin menyelami isi hati lawan.

Dari air muka Sim Long agaknya Kim Bu-bong ingin menebak ada berapa banyak yang diketahuinya? Sebaliknya dari perubahan air muka Kim Bu-bong juga Sim Long ingin tahu ada berapa banyak yang diketahuinya?

Kereta itu maju ratusan tombak pula. Akhirnya air muka Kim Bu-bong yang dingin beku itu mulai cair. Hati Sim Long tergerak, namun dia menahan perasaannya, karena dia tahu inilah detik-detik yang menentukan. Ia tahu bila dirinya tak tahan dan buka suara, maka jangan harap lagi Kim Bu-bong akan mau bicara.

Akhirnya Kim Bu-bong buka suara. Setelah menarik napas panjang, lalu berkata, “Betul, nyonya itu memang murid Koay-lok-bun.”

Sim Long tidak mau membuang kesempatan, tanyanya segera, “Di bawah Koay-lok-ong kau bertugas pemegang uang, kedudukanmu tinggi dan penting tapi hanya sedikit mengangguk kepala perempuan itu dapat minta sekian banyak uang darimu, jelas kedudukannya tidak di bawahmu, lantas siapakah dia? Apakah salah satu dari duta besarnya? Tapi mengapa dia seorang perempuan?”

Setiap patah katanya laksana cemeti, begitu deras ia melecut sehingga Kim Bu-bong tidak diberi kesempatan berganti napas karena setiap patah pertanyaan ini tepat mengenai sasarannya.

Kim Bu-bong tidak berani menatap sorot mata Sim Long, ia diam sejenak, mendadak dia balas bertanya, “Tahukah kau kecuali Hun-bong-siancu yang mahir ilmu tata rias yang diakui nomor satu di dunia ini, masih ada orang atau perguruan lain yang juga mahir?”

Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian, “Ilmu tata rias sebetulnya tidak terlingkup dalam ilmu silat, seorang yang lihai dan nomor satu ilmu tata riasnya belum tentu seorang pesilat kenamaan ….” mendadak dia menepuk paha dan berteriak tertahan, “Aha, apakah maksudmu Suto dari Sancoh?”

Kim Bu-bong tidak angkat kepalanya, juga tidak bersuara, tapi mengayun pecut menyabat pantat kuda sekeras-kerasnya, namun kuda penarik kereta ini sudah tua dan kurus, betapa pun keras dia memukulnya tetap tak bisa berlari lagi.

Terpancar rasa senang dan bergairah pada sinar mata Sim Long, katanya, “Keluarga Suto bukan saja terkenal menguasai ilmu tata rias yang luar biasa, malah juga mahir Ginkang, Am-gi dan obat bius, demikian pula dalam hal kepandaian urut-mengurut, semuanya berada pada tingkat paling tinggi. Kebesaran nama keluarga mereka dahulu hanya sedikit lebih asor daripada Hun-bong-siancu. Berita yang tersiar di kalangan Kangouw belakangan ini mengatakan keluarga Suto mulai runtuh karena banyak melakukan kejahatan sehingga mendapat kutukan Thian, namun di antara anggota keluarganya masih ada juga yang hidup di dunia ini. Berdasarkan nama kebesaran dan kepandaian mereka, bila masuk ke dalam lingkungan Koay-lok-bun, kuyakin dapat menduduki jabatan salah satu keempat duta besarnya.”

Kim Bu-bong tetap membungkam.

Sim Long bergumam pula, “Kalau aku menjadi Koay-lok-ong, bila ada sanak keluarga Suto mau masuk ke perguruanku, maka kedudukan atau jabatan apa yang akan kuserahkan kepadanya ….”

Air mukanya semakin cerah dan tampak bercahaya, sambungnya, “Keluarga Suto tidak gemar arak, Duta Harta sudah diduduki orang … kukira manusia Suto itu bukan jenis lelaki yang suka berkelahi dan bernyali besar, tapi jika anak murid Suto disuruh mengoleksi gadis-gadis cantik di seluruh jagat ini, kurasa tiada orang lain lagi yang lebih tepat, betul tidak?”

Dengan suara dingin Kim Bu-bong menjawab, “Apa pun tidak pernah kukatakan, semua itu kau sendiri yang menebaknya.”

Berkilau sinar mata Sim Long, lama dia pandang angkasa, lalu berkata, “Kalau aku menjadi murid keluarga Suto, cara bagaimana aku akan mengoleksi gadis-gadis cantik di dunia ini untuk Koay-lok-ong? Cara bagaimana aku akan menunaikan kewajiban? ….” perlahan dia mengangguk, lalu meneruskan, “Ya, pertama aku sendiri sudah tentu harus menyamar menjadi seorang perempuan, dengan demikian kesempatan untuk bercengkerama dengan gadis-gadis akan jauh lebih banyak.”

Sorot mata Kim Bu-bong mulai memancarkan rasa kagum.

Sim Long berkata lebih lanjut, “Gadis yang berhasil kuculik, untuk membawanya keluar perbatasan sejauh itu jelas kurang leluasa, maklum gadis cantik umumnya pasti menarik perhatian orang banyak, tapi kalau aku mahir tata rias, dengan mudah bisa saja kurias gadis cantik itu menjadi nenek reyot atau perempuan apa saja yang buruk rupanya sehingga sekilas pandang cukup membuat orang jijik, kalau aku khawatir gadis itu berontak dan tidak tunduk pada perintahku, akan kucekok dia sejenis obat sehingga sepanjang jalan dia tidak bisa bicara atau ribut lagi.”

Kim Bu-bong menarik napas panjang, sesaat dia menoleh dan memandang bocah yang tidur pulas di kabin kereta, ia bergumam, “Kelak kalau bocah ini bisa memiliki setengah kepandaian Sim-siangkong sudah lebih dari cukup.”

Rupanya sepanjang hari bocah itu bekerja berat dan keletihan, kini tidurnya pulas sekali, tentu saja tidak mendengar ucapannya. Padahal meski kata-katanya ditujukan kepada si bocah, tapi secara tak langsung dia seperti mau berkata, “Sim Long, kau memang cerdik, semua rahasia ini telah kau tebak dengan betul.”

Sudah tentu Sim Long merasakan juga pengakuan dari ucapannya yang tidak langsung ini, katanya dengan tersenyum, “Putar kembali!”

“Kembali?” Kim Bu-bong berkerut kening.

“Dua gadis yang berada di sampingnya itu, pasti gadis dari keluarga baik-baik, apa tega aku melihat mereka jatuh ke dalam cengkeramannya?”

Mendadak Kim Bu-bong tertawa dingin, kembali ia menoleh kepada bocah itu, katanya, “Kelak bila kau sudah dewasa, ada beberapa urusan jangan kau tiru seperti apa yang dilakukan Sim-siangkong ini, urusan kecil tidak bisa sabar akan menggagalkan urusan besar, nasihatku ini harus selalu kau camkan dalam sanubarimu.”

Sim Long tersenyum, dia tidak bicara lagi, namun kereta belum juga diputar balik.

Sesaat kemudian mendadak Kim Bu-bong tersenyum dan berkata kepada Sim Long, “Banyak terima kasih.”

Selama bergaul beberapa hari dengan Kim Bu-bong, baru sekarang Sim Long melihat dia tersenyum, senyuman yang timbul dari relung hatinya yang dalam.

Dengan tertawa Sim Long bertanya, “Soal apa kau berterima kasih padaku?”

“Besar tekadmu menyelidiki jejak Koay-lok-ong, jelas kau pun tahu kali ini Suto Pian pasti akan melaporkan hasil kerjanya kepada Koay-lok-ong, sebetulnya secara diam-diam kau bisa menguntitnya, tapi karena Suto Pian sudah melihat kau seperjalanan denganku, jika kau menguntitnya, jelas, aku akan ikut bersalah dan mendapat hukuman, lantaran diriku terpaksa kau lepaskan kesempatan baik ini, namun sama sekali engkau tidak pernah menyinggung kebaikanmu ini kepadaku, untuk ini aku mengucap terima kasih padamu?”

Lelaki aneh yang berwatak kaku dan pendiam ini kini melimpahkan isi hatinya, nada suaranya kedengaran mengharukan.

“Sesama kawan mengutamakan tahu sama tahu, bila kau dapat menyelami isi hatiku, apa pula yang kuminta?”

Keduanya saling pandang sekejap, namun hati sanubari mereka sudah bertaut, kata-kata hanya akan berlebihan belaka.

Dari arah depan mendadak berkumandang suara senandung seorang dengan lantang, tertampak seorang lelaki muda berperawakan kekar tinggi tengah melangkah dari tepi jalan.

Perawakannya yang setinggi delapan kaki itu sangat gagah, berdada lebar, alis tebal, mata besar, pada pinggangnya terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, pada tangannya menjinjing sebuah buli-buli arak, sambil bersenandung dia menenggak arak sepuasnya. Rambutnya semrawut, baju bagian dadanya terbuka lebar, kakinya mengenakan sepatu butut, pakaiannya kotor, namun langkahnya gagah dan tegap, sikapnya seperti dunia ini milikku, seperti jalan raya ini tiada orang lain lagi.

Sudah tentu perhatian orang yang lewat di jalan raya ini tertuju kepadanya, tapi perhatian pemuda ini justru tertuju ke wajah Sim Long.

Sim Long memandangnya dengan tersenyum, lelaki itu juga balas tersenyum, katanya mendadak, “Boleh menumpang kereta ini?”

“Silakan,” sahut Sim Long.

Memburu maju dua langkah, lelaki muda itu melompat ke atas kereta dan berjubel di samping Sim Long.

Dengan nada dingin Kim Bu-bong berkata, “Arah tujuanmu berlawanan dengan kami, kami akan pergi ke arah datangmu, apa tidak salah kau menumpang kereta ini?”

Pemuda kekar itu mendongak dan bergelak tertawa, katanya, “Seorang lelaki menjadikan empat penjuru sebagai rumahnya, setiap tempat di dunia ini adalah tujuanku, ingin pergi atau mau datang boleh sesuka hati, hidup bebas melanglang buana, kenapa tidak boleh?”

Mendadak dia angkat tangan dan menepuk pundak Sim-Long, katanya, “Mari, minum seceguk.”

Sim Long tertawa, dia terima buli-buli orang, terasa buli-buli ini terbuat dari baja, dengan bernafsu dia menghirup satu ceguk, araknya terasa harum, ternyata arak simpanan yang paling wangi dan jarang ada di pasaran.

Kedua orang ini tidak saling tanya asal usul, tidak tanya she dan nama, tapi seceguk demi seceguk hingga dalam sekejap arak sebuli-buli penuh telah dihabiskan mereka berdua. Pemuda itu bergelak riang, serunya, “Lelaki hebat! Peminum baik!”

Belum lenyap gelak tertawanya, Kim Bu-bong menghentikan kereta di sebuah kota kecil, air mukanya kelihatan masam, katanya dingin, “Tujuan kami sudah sampai, saudara ini silakan turun.”

Pemuda itu terus menarik Sim Long turun, katanya, “Baiklah, kau boleh pergi, aku ingin mengajaknya minum beberapa cawan lagi.”

Tanpa menunggu reaksi orang dia tarik Sim Long dan diajak memasuki sebuah warung kecil yang kotor dan gelap.

Bocah dalam kabin kereta tiba-tiba tertawa, katanya, “Mungkinkah orang ini gila? Agaknya dia juga tahu sikap Sim-siangkong yang meremehkan segala persoalan, kalau orang lain tentu sudah dibuatnya gemas.”

Kim Bu-bong mendengus sekali, katanya, “Jaga kereta!”

Waktu dia masuk ke dalam warung, sementara Sim Long dan pemuda tadi sudah menghabiskan tiga cawan, sepiring daging rebus juga sudah disajikan di atas meja.

Dari restoran besar termewah yang ada di dunia ini sampai warung kotor dan paling murah, semua pernah dikunjungi Sim Long, demikian pula hidangan paling lezat sampai makanan paling kasar di dunia ini juga pernah dirasakan olehnya. Peduli ke mana ia pergi, apa pun yang dimakannya, semua sama saja, begitulah sikapnya.

Dengan kaku Kim Bu-bong menyusul datang terus duduk dengan dingin, dia tatap pemuda itu, sampai lama dia menatapnya, mendadak dia menegur, “Sebetulnya apa kehendakmu?”

“Hendak apa? Hendak minum arak, ingin bersahabat,” sahut pemuda ini.

“Kau ini orang macam apa, memangnya kau kira aku tidak bisa melihatnya?” jengek Kim Bu-bong.

Pemuda itu bergelak tertawa, serunya, “Betul, aku memang bukan orang baik, memangnya tuan orang baik. Kalau aku ini perampok, mungkin Anda bandit besar.”

Berubah air muka Kim Bu-bong, pemuda itu malah angkat cawan araknya, katanya dengan riang, “Mari, mari! Biar rampok kecil macamku ini menyuguh secawan arak kepada bandit besar.”

Telapak tangan Kim Bu-bong berada di bawah meja, sumpit di atas meja seperti mendadak kena ilmu sihir, entah bagaimana tiba-tiba mencelat terus melesat dengan desing yang keras, kedua sumpit mengincar kedua bola mata si pemuda.

“Khikang bagus!” puji pemuda itu. Sambil mengucap kedua patah kata itu, si pemuda pentang mulut dan tepat menggigit sepasang sumpit itu terus ditiupnya kembali ke sana, dengan membawa suara mendesing meluncur balik mengincar mata Kim Bu-bong.

Pergi-datang sepasang sumpit ini sedemikian cepat hingga sukar diikuti oleh pandangan mata orang biasa.

Sim Long hanya tersenyum, sumpit yang meluncur di udara mendadak lenyap tak keruan parannya, waktu mereka menunduk, ternyata sumpit sudah berada di tangan Sim Long, entah dengan cara bagaimana dan dengan gerakan apa Sim Long menyambar sepasang sumpit yang meluncur kencang dan dalam jarak sedekat ini.

Taraf kepandaian si pemuda jelas di luar dugaan Kim Bu-bong, tapi betapa tinggi kungfu Sim Long, jelas juga di luar dugaan si pemuda.

Maklum kepandaian mereka sudah termasuk jago top dunia persilatan, sesaat mereka bertiga saling pandang dengan kaget dan heran.

Perlahan Sim Long taruh sepasang sumpit di depan Kim Bu-bong, sikapnya tetap wajar dan ramah, cawan arak terus diangkatnya pula, seolah-olah kejadian barusan tidak pernah ada.

Kim Bu-bong tidak bersuara, juga tidak memegang sumpitnya dan cawan, dalam hati sedang berpikir sejak kapankah muncul seorang pemuda kosen ini dalam dunia Kangouw?

Pemuda itu pun tidak menghiraukan lagi kehadirannya, dia tetap makan minum sepuasnya bersama Sim Long, makin tenggak makin banyak, lambat laun pemuda itu mulai mabuk, tiba-tiba dia berdiri serta bergumam, “Tunggu sebentar, Siaute mau ke belakang.”

Mendadak ia sempoyongan dan “bruk” ia ambruk dan menjatuhi meja, keruan hidangan di atas meja tumpah berantakan.

Kim Bu-bong tengah melamun, karena tidak menduga, badan basah kecipratan kuah dan hidangan.

“Maaf, maaf,” cepat pemuda itu membersihkan pakaian Kim Bu-bong dengan lengan bajunya. Tapi Kim Bu-bong lantas mendorong pemuda itu hingga sempoyongan.

“Ai, aku bermaksud baik, kenapa saudara memukulku malah ….” dengan langkah sempoyongan pemuda itu lari ke belakang.

Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya, “Maksud keparat ini sukar diraba, kenapa kau bergaul dengan dia, lebih baik ….” mendadak berubah air mukanya, serentak ia membentak dengan beringas, “Celaka, kejar!”

Tapi Sim Long lantas menariknya, katanya dengan tertawa, “Kejar apa?”

Masam muka Kim Bu-bong, tanpa bersuara dia meronta dan hendak mengejar.

Sim Long berkata, “Apakah ada milikmu digerayangi dia?”

“Dia mengambil barangku, akan kucabut nyawanya!” berkilat sorot mata Kim Bu-bong, segera dia balas bertanya, “Dari mana kau tahu dia mengambil barangku?”

Tersenyum Sim Long, tangannya terangkat dari bawah meja, ternyata menggenggam setumpuk uang kertas dan sebuah kantong kecil mungil.

Kim Bu-bong heran, tanyanya, “Ini … cara bagaimana bisa berada padamu?”

“Dia mencomot uang kertas ini dari badanmu, maka aku pun mencomotnya dari kantongnya, sekaligus kuambil juga kantong kulit kecil ini.”

Beberapa kejap Kim Bu-bong menatapnya lekat-lekat, akhirnya tersembul pula senyuman tulus dan penuh pengertian, perlahan dia duduk pula terus menenggak arak, katanya kemudian, “Sudah belasan tahun aku tak minum arak, secawan arak ini kuminum untuk sahabatku, pencopet sakti nomor satu di kolong langit ini.”

Dengan tertawa sengaja Sim Long bertanya, “Siapa itu pencopet nomor satu? Apakah pemuda tadi?”

“Kecepatan tangan bocah itu sudah cukup mengejutkan, tapi selama Sim Long masih hidup, orang lain jangan harap bisa memperoleh julukan copet nomor satu di dunia ini.”

Sim Long bergelak tertawa, “Sudah memaki orang sebagai copet, malah dibilang julukan baik segala. Nah, aku tidak berani menerima julukan baik ini.”

Segera dia kembalikan uang kertas kepada Kim Bu-bong, lalu berkata pula, “Coba kita periksa apa isi kantong kulit saudara yang ingin mencopet uangmu itu.”

Simpanan uang dalam kantong si pemuda ternyata tidak banyak, hanya uang receh beberapa keping saja.

Sim Long geleng kepala, katanya, “Dinilai dari gerak-geriknya, kuyakin dia bukan lelaki rudin yang kurang penghasilan, siapa tahu hanya memiliki uang receh yang tak berarti ini, mungkin dia terlalu royal menghamburkan uangnya.”

“Kalau memperolehnya gampang, membuangnya juga pasti mudah,” ujar Kim Bu-bong.

Dengan tertawa Sim Long mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong kecil itu, ternyata bukan uang tapi secarik surat, gaya tulisannya jelek, isinya berbunyi:

Kepada yang terhormat Liongthau Toako.

Sejak Toako mencekok arak, hingga Siaute mabuk tempo hari, terpaksa Siaute juga mencekoki orang lain sampai mabuk, aku sendiri selama ini belum pernah mabuk lagi, haha. Memang amat menyenangkan. Selama beberapa hari ini Siaute mendapat penghasilan lumayan, tapi aku selalu tunduk pada nasihat Toako, selain kubagikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti juga Toako, sekarang Siaute sering kelaparan, makan tidak tetap, namun setiap malam tidur di dalam biara bobrok, meski hidup agak menderita, namun perasaanku lega dan gembira, baru sekarang aku percaya kepada ucapan Toako membantu kesulitan orang lain rasanya memang jauh lebih menyenangkan dibanding menunaikan tugas apa pun.

Membaca sampai di sini, Sim Long tersenyum, katanya, “Bagaimana, pemuda ini memang seorang murah hati, bukan?”

Sim Long membaca lebih lanjut.

“Poa-loji memang betul melakukan perbuatan kotor, memerkosa gadis keluarga baik-baik, aku sudah menghukumnya dengan memotong anunya, To-lotoa melakukan korupsi, Tam It-seng berbuat serong, To Bian-ci ingkar janji, ketiga keparat ini membuat Toako marah, maka Siaute mengiris sebelah kupingnya, tapi si tukang makan Lo Ciu telah mencurinya untuk teman arak, saking dongkol, kuping Lo Ciu juga kuiris dan kusuruh dia makan kuping sendiri untuk teman arak pula. Haha, mungkin nikmat dia makan kuping curian, tapi betapa lucu air mukanya waktu dia makan kupingnya sendiri sulit kulukiskan dengan alat tulis ini, sayang Toako tidak menyaksikan sendiri, namun sejak kini Lo Ciu sudah menyatakan kapok, tidak berani makan daging manusia lagi.”

Membaca sampai di sini, Kim Bu-bong yang biasa bersikap kaku dingin jadi geli juga.

Lebih lanjut surat itu berbunyi:

“Untung masih ada Kam Bun-goan, Ko Ci, Kam Lip-tik, Seng Hiong, Liok Ping, Kim Tek-ho, Sun Ciu-un dan para cucu lainnya, ternyata mereka mau bekerja keras untuk Toako, semua tugas mereka kerjakan dengan baik, karena puas Siaute mewakili Toako menjamu mereka makan-minum sepuasnya, hahaha, setelah kenyang baru Siaute sadar kantong kosong, sepeser pun tidak punya, konon pemilik restoran ini seorang kikir dan tamak, dengan mata melotot orang banyak lantas tinggal pergi dengan begitu saja, sebelum pergi malah minta pinjam kepada kasir restoran lima ratus tujuh puluh tahil perak tunai, seluruhnya disumbangkan kepada Hiong-lusit yang berjualan wedang kacang di seberang jalan untuk menikahkan putranya.

“Satu hal perlu Toako ketahui, saudara-saudara yang hidupnya menderita dalam wilayah ini sudah banyak yang kita rangkul, seluruhnya berjumlah lima ratus delapan puluh empat orang, Siaute sudah ajarkan cara bagaimana mengadakan kontak rahasia, bila di tengah jalan menemukan ‘kambing gemuk’ yang mencurigakan, harus berusaha memberitahukan kepada Toako. Hahaha, perkumpulan kita sekarang sudah beranggotakan ribuan orang, kekuatan kita sudah tidak kecil lagi, lain kali bila Toako mabuk minum arak, jangan lupa mencarikan nama baik untuk perserikatan kita.”

Di bagian bawah bertanda tangan “Ang-thau-eng” (Elang Kepala Merah).

Habis membaca surat itu, Sim Long berseru, “Bagus, bagus, siapa nyana pemuda yang masih begitu muda ternyata mampu mengendalikan ribuan orang dan menjadi Liongthau Toako (pemimpin) mereka.”

“Karena itulah kau dan aku disangka sebagai ‘kambing gemuk’ yang patut digerayangi isi kantongnya,” demikian ucap Kim Bu-bong.

“Waktu kau berikan uang kertas ini kepada Suto Pian tadi mungkin terlihat oleh anak buahnya, lalu dia mendahului di depan dan mencegat kita,” ujar Sim Long, lalu sambungnya, “Setiap nama yang disinggung dalam surat ini, kecuali si Ciu Jing, semua adalah orang-orang gagah, terutama Ang-thau-eng yang menulis surat ini, seorang begal besar yang sudah lama terkenal. Konon Ginkang orang ini tidak kalah dibandingkan Toan-hong-cu dan lain-lain, bahwa tokoh selihai ini juga sudah ditundukkan oleh pemuda ini, bagaimana sepak terjang pemuda ini dapatlah dibayangkan, terutama caranya merampas milik si zalim dan dibagikan kepada yang miskin, patut kita berkenalan dengan dia.”

Kembali Kim Bu-bong hanya mendengus saja tanpa memberi komentar.

“Apakah kejadian barusan masih kau pikirkan dalam hati?”

Tanpa menjawab pertanyaan ini, Kim Bu-bong balas bertanya, “Apa lagi isi kantong itu?”

Sim Long angkat kantong kulit itu dan dituangnya, ternyata ada dua benda jatuh di atas meja, yang sebuah adalah seekor kucing batu jade sebesar ibu jari. Tampaknya hanya perhiasan sederhana saja, namun berkat tangan seorang ahli, ternyata bentuk kucing kecil ini kelihatan begini elok dan laksana hidup tulen. Setelah diteliti, di bagian bawah lehernya terukir sebaris huruf kecil yang berbunyi, “Ukiran Him Miau-ji, untuk disimpan, dilihat, dan dibuat main sendiri.”

Sim Long tertawa, katanya, “Rupanya pemuda itu bernama Him Miau-ji (si Kucing).”

Dengus Kim Bu-bong, “Melihat tampangnya dia memang mirip kucing.”

Sim Long bergelak tertawa sambil memandang benda kedua, tapi gelak tertawanya seketika lenyap, air muka pun berubah hebat.

Kim Bu-bong heran, tanyanya, “Benda apa pula ini?”

Benda kedua itu adalah sekeping batu jade bundar yang bolong bagian tengahnya, bentuknya mirip mainan kalung, warnanya hijau pupus mengilap, kelihatan elok sekali, mainan kalung seperti ini terlalu umum, tapi setelah Kim Bu-bong membolak-balik dan memeriksanya, seketika ia pun mengunjuk rasa kaget dan heran.

Ternyata di atas mainan kalung batu jade itu berukir dua huruf “Sim Long”.

Kim Bu-bong berkata dengan heran, “Batu mainanmu, mengapa bisa berada di tangannya? Mungkinkah sebelumnya dia telah menggerayangi isi kantongmu?”

“Batu mainan ini bukan milikku,” ucap Sim Long.

“Bukan milikmu, bagaimana mungkin terukir namamu?”

“Batu mainan ini sebetulnya milik Cu Jit-jit.”

Tambah terkejut Kim Bu-bong, serunya, “Batu mainan nona Cu bagaimana bisa berada padanya, mungkin … mungkin ….”

“Peduli apa sebabnya, kalau mainan ini berada di tangannya, maka dia pasti tahu di mana Cu Jit-jit sekarang, apa pun yang terjadi kita harus mencari dan tanya kepadanya.”

“Dia sudah pergi jauh, ke mana kita akan mengejarnya?” ujar Kim Bu-bong. Tapi sebelum Sim Long menjawab dia sudah menjawabnya sendiri, “Tidak sukar, bila di jalan raya kita memergoki kawanan gelandangan, dari mulutnya tentu bisa kita mencari tahu jejak si Kucing.”

“Benar, kalau ratusan anak buahnya tersebar di sepanjang jalan raya ini, memangnya khawatir takkan menemukan jejaknya? …. Ayolah cepat!” lenyap suaranya, orangnya sudah berkelebat ke luar pintu.

Cuaca lembap, mega mendung, angin berembus dingin, tak jauh di pinggir jalan dalam sebuah kuil bobrok menyala seonggok api unggun, belasan lelaki duduk mengelilingi api unggun itu, mangkuk kosong berserakan, guci arak pun berjungkir balik.

Orang-orang itu sedang berkeplok sambil bernyanyi, suaranya berpadu dan riang, “Si Kucing, si Kucing, pendekar kelana nomor satu di Kangouw, ahli menggerayangi kantong, merampas yang kaya menolong yang miskin, setiap orang di empat penjuru ikutan memujinya sebagai si Kucing yang tiada duanya ….”

Di tengah paduan suara yang gembira bercampur gelak tawa itu, mendadak seorang bernyanyi solo dengan suara tenor di luar kuil, “Daripada disebut si Kucing yang tiada duanya, lebih tepat dinamakan si Kucing yang suka mabuk.”

Sesosok bayangan tampak bersalto beberapa kali di udara, lalu meluncur turun di pinggir api unggun, siapa lagi dia kalau bukan si Kucing yang beralis tebal.

Orang-orang itu segera bersorak sambil berdiri, “Toako sudah pulang!”

Seorang lantas bertanya, “Apakah Toako sudah berhasil?”

Si Kucing menatap tajam satu per satu hadirin ini sambil berputar, alisnya menegak, matanya bercahaya, katanya dengan tertawa, “Memangnya kapan kalian melihat si Kucing gagal dalam tugasnya?”

Mendadak ia menepuk pundak seorang lelaki bermuka kuning yang duduk di pinggir api unggun katanya, “Go-losi, matamu memang tidak lamur, kedua orang itu memang punya asal usul luar biasa, pinggangnya juga gemuk, namun betapa tinggi kungfu mereka sungguh mimpi pun tak pernah terduga.”

Lelaki bernama Go-losi tertawa, katanya, “Betapa pun tinggi kungfunya, memangnya dia mampu menahan kelincahan tangan Toako?”

Si Kucing mendongak sambil bergelak, katanya, “Memang betul, biarlah kuperlihatkan kepada kalian barang apa saja yang berhasil kugaet dari sakunya. Cukup segenggam yang kuperoleh ini, mungkin lebih dari cukup untuk hidup tenteram puluhan keluarga miskin di luar pintu utara itu.”

Tapi demi tangannya menepuk saku pinggang, gelak tawanya seketika berubah menjadi menyengir, air muka pun berubah hebat, tangan yang sudah merogoh saku ternyata tak mampu dikeluarkan lagi.

Keruan hadirin melenggong, semua heran dan kaget, seru mereka, “Kenapa, Toako?”

Lama si Kucing terlongong di tempatnya, akhirnya ia bergumam, “Lihai benar, sungguh lihai.”

Di bawah cahaya api unggun tertampak keringat sebesar kacang berketes-ketes di atas jidatnya, mendadak dia bergelak tertawa sambil mendongak, serunya, “Gerakan bagus, lelaki hebat, hari ini si Kucing baru dapat bertemu dengan tokoh semacam ini, umpama terjungkal juga rela.”

Go-losi bertanya, “Siapakah yang Toako maksudkan?”

Si Kucing segera mengacungkan jempol, katanya, “Bicara soal ini, betapa tinggi kungfunya, mungkin jarang ada tandingan di kolong langit ini, tindak tanduknya yang ramah, tutur katanya yang halus, terus terang jarang terlihat olehku selama hidup ini, bila aku ini seorang cewek, kecuali dengan dia, aku bersumpah tidak mau kawin.”

Go-losi makin heran, tanyanya mendesak, “Siapakah dia sebenarnya?”

“Dialah pemuda tampan di antara kedua kambing gemuk itu,” sahut si Kucing.

Seluruh hadirin bersuara heran, semua melongo, berkata pula Go-losi, “Toako memujinya begitu rupa, kuyakin dia pasti luar biasa, tapi … entah ….” dia hentikan perkataannya demi melihat tangan si Kucing yang merogoh saku itu sudah sekian lama masih belum ditarik keluar lagi.

Si Kucing tertawa, katanya, “Dalam hati kau sangsi, tapi tak berani tanya, betul tidak? Baik, biar kujelaskan. Aku berhasil menggerayangi seluruh uang kepunyaan orang itu, di luar tahuku sakuku berbalik juga digerayangi olehnya, lebih celaka lagi, dompetku juga ikut jatuh ke tangan pemuda itu, bukankah hal ini dapat dikatakan tak berhasil mencuri ayam malah kehilangan segenggam beras?”

Peristiwa yang memalukan, kalau orang lain, siapa mau bercerita akan hal ini di hadapan anak buahnya sendiri, tapi si Kucing justru omong seenaknya dengan tertawa riang.

Keruan hadirin saling pandang, tiada yang bersuara.

Si Kucing tertawa pula, katanya, “Untuk apa kalian berlagak seperti ini? Dapat bertemu dengan tokoh seperti itu sudah untung bagiku, kehilangan barang tak berarti apa-apa, pula barang itu juga bukan milikku.”

“Tapi … tapi dompet Toako itu ….” Go-losi tergegap.

“Dompet itu juga tak berarti, yang harus kusayangkan adalah kucing kemala yang kuukir dengan golok pusakaku ini, namun ….” mendadak berubah air muka si Kucing, teriaknya, “Wah celaka, masih ada benda lain dalam dompetku itu.”

Kehilangan barang apa pun si Kucing tidak perlu cemas, namun demi teringat pada barang yang berada dalam dompet itu, seketika muka si Kucing berubah hebat, jelas benda itu sangat berarti dan tinggi nilainya.

Cepat Go-losi bertanya, “Benda apa?”

Sesaat lamanya si Kucing termenung, katanya kemudian dengan menyengir, “Benda itu kutemukan di sebuah kuil bobrok, tapi … tapi ….” akhirnya dia menghela napas dan menengadah, “tapi benda itu jelas milik pribadi nona itu.”

Go-losi berkerut kening, beberapa kali dia membuka mulut seperti ingin tanya apa-apa, tapi tidak berani mengutarakan isi hatinya.

“Kalian tentu ingin tahu siapa nona itu, bukan?” ucap si Kucing.

Go-losi tertawa geli sendiri, katanya, “Apakah nona itu adalah … adalah Toako punya … Toako punya ….” hadirin tertawa gemuruh menyambut pertanyaan Go-losi yang kepalang tanggung itu.

Si Kucing tertawa riang, katanya sambil membusungkan dada, “Betul, gadis itu memang menggiurkan, paling cantik dalam pandanganku, tapi siapa dia sebetulnya, siapa namanya, sampai saat ini aku pun tidak tahu.”

Berkedip Go-losi, katanya, “Apakah perlu Siaute mencari tahu?”

“Tak usah,” ucap si Kucing tertawa kecut, “Ai, sejak hari itu aku melihat wajahnya, dia mendadak seperti menghilang begitu saja, beberapa kali aku mondar-mandir di sepanjang jalan raya, namun tak kulihat pula bayangannya.”

Sejenak kemudian, mendadak dia putar badan dan melangkah keluar.

“Toako, mau ke mana?” serempak semua orang bertanya.

“Apa pun dompetku itu harus kuminta kembali, aku pun ingin bersahabat dengan pemuda itu, bila kalian tiada tugas, boleh tunggu saja di sini,” belum habis si Kucing bicara bayangannya sudah lenyap di luar kuil.

Go-losi mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya, “Beberapa tahun aku melanglang buana, sungguh belum pernah kulihat seorang gagah jujur, bijaksana dan berjiwa besar seperti Him-toako, kita bisa menjadi saudaranya, sungguh beruntung besar, manusia seperti dia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Dia hendak mencari orang, bagaimana juga harus kubantu.”

Sambil bicara bergegas ia pun berlari keluar.

*****

Senja belum tiba, si Kucing sudah berada di jalan raya, agar dapat menemukan jejak Sim Long dan Kim Bu-bong, dia tidak mengembangkan Ginkangnya yang hebat.

Setelah mengayun langkah sekian lamanya, tampak dari depan datang seorang nyonya berpakaian hijau dengan tubuh terbungkuk-bungkuk, sebelah tangan menggandeng seorang anak perempuan, tangan yang lain menuntun seekor keledai, dengan langkah terseok-seok. Gadis yang di atas keledai dan yang digandeng itu bermuka jelek sekali, jarang ada perempuan sejelek itu di dunia ini, sampai si Kucing juga tidak tahan dan meliriknya dua kali.

Dua kali lirikan ini cukup berarti, mendadak dia ingat nyonya baju hijau ini bukan lain adalah nyonya yang membuat api unggun di dalam kuil bobrok kemarin, pada waktu itu pula si nona cantik menggiurkan itu mencopot pakaian dan memanggang bajunya.

Sekilas dia berkerut alis, setelah bimbang sejenak, mendadak ia mengadang di depan ketiga orang dan satu keledai itu sambil membentang kedua tangannya, katanya dengan cengar-cengir, “Masih kenal aku tidak?”

Beberapa kali si nyonya baju hijau mengawasinya naik-turun, lalu berkata dengan tertawa dibuat-buat, “Toaya apakah mau memberi sedekah?”

Si Kucing tertawa, katanya, “Kau tidak mengenalku, aku masih mengenalmu. Hari itu kau sendirian, mengapa sekarang berubah menjadi bertiga? Apakah kau melihat nona itu?”

Semula Cu Jit-jit sudah putus asa, kini jantungnya berdebar pula, dia masih kenal pemuda bergajul ini, sungguh tak nyana pemuda bergajul ini bisa mencarinya.

Terdengar nyonya berbaju hijau itu berkata, “Apa satu jadi tiga segala? Nona apa? Toaya, apa yang kau maksudkan, aku tidak tahu, kalau Toaya ingin memberi sedekah, lekaslah memberi, kalau tidak aku mau pergi saja.”

Si Kucing menatapnya dengan melotot, katanya, “Kau betul tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu? Nona yang malam itu buka baju di dalam kuil itu masa sudah kau lupakan? Nona yang bermata bundar besar, mulut kecil ….”

Nyonya berbaju hijau seperti teringat mendadak, jawabnya, “O, maksudmu, nona yang mengeringkan pakaiannya pada api unggun itu. Ai, sungguh cantik sekali, cuma … malam itu dia lantas pergi ikut si Tosu yang berkelahi dengan kau itu, kudengar katanya menuju ke timur, agaknya Toaya tidak menemukan dia.”

Si Kucing menghela napas kecewa, ia tidak tanya pula, baru saja dia membalik badan, mendadak terasa gadis berwajah buruk di samping nyonya baju hijau itu seperti menunjukkan pandangan ganjil padanya. Segera dia menghentikan langkah sambil berkerut kening, ia merasa heran, dia tidak dapat berpikir lebih cermat, sementara si nyonya baju hijau sudah melangkah pergi sambil menggandeng gadis buruk dan keledainya.

Hati Cu Jit-jit kembali tenggelam, selanjutnya dia tidak berani menaruh harapan setitik pun.

Si Kucing mengguncang buli-buli araknya, isinya sudah kosong, dia menghela napas panjang, perasaannya kesal dan hampa, sesaat dia berdiri bingung, entah apa sebabnya.

“Toako!” mendadak didengarnya seorang memanggil di belakang.

Ternyata Go-losi memburu datang dengan napas ngos-ngosan, sikapnya kelihatan aneh, si Kucing heran, tanyanya, “Ada apa?”

Menuding punggung si nyonya berbaju hijau Go-losi mendesis, “Kedua … kedua ‘kambing gemuk’ itu pernah memberi uang kepada nyonya baju hijau itu sehingga dapat kulihat sakunya cukup padat.”

“Oo ….” si Kucing melengak.

“Mata Siaute cukup tajam, sekilas pandang kulihat uang yang mereka berikan kepada nyonya baju hijau itu berhuruf merah, itu berarti nilai setiap uang kertas itu di atas lima ribu tahil.”

Tergerak hati si Kucing, katanya dengan mendelik, “Kau tidak salah melihat?”

“Tanggung tidak salah,” sahut Go-losi.

Bertaut alis tebal si Kucing, katanya, “Kalau hanya memberi sedekah kepada si miskin di tengah jalan, tak mungkin sekali rogoh kantong mengeluarkan uang lima ribuan, aku percaya nyonya baju hijau ini pasti ada hubungan erat dengan kedua orang itu. Kalau kedua orang itu orang aneh dunia Kangouw, maka nyonya berbaju hijau itu pasti juga bukan orang sembarangan, tapi dia justru berpura-pura selemah itu … kurasa ada sesuatu yang kurang beres.”

Mendadak dia putar balik dan memburu ke arah si nyonya baju hijau.

Langkahnya semakin dekat, tapi nyonya baju hijau seperti tidak merasakan. Sorot mata si Kucing jelalatan, dengan gerak cepat mendadak dia cengkeram pundak si nyonya baju hijau, kelima jarinya penuh dilandasi tenaga dalam, setiap insan persilatan bila mendengar sambaran angin sekuat ini pasti segera tahu bila pundak tercengkeram, tulang pundak pasti teremas hancur.

Tapi nyonya baju hijau tetap seperti tidak merasakan apa-apa, namun mendadak langkahnya seperti tersaruk batu hingga sempoyongan ke depan, pada detik terakhir itu dia meluputkan diri dari cengkeraman si Kucing.

Si Kucing tertawa, katanya, “Ternyata memang punya kungfu bagus!”

Nyonya itu berpaling dan bertanya dengan bingung, “Kungfu bagus apa? Toaya, aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Peduli kau tahu atau tidak, ayolah ikut padaku.”

“Mau … mau ke mana?”

“Kulihat kau terlalu miskin dan hidup sengsara, hatiku tidak tega, ingin kuberi sedekah padamu.”

“Terima kasih atas maksud baik tuan, sayang aku harus menempuh perjalanan dengan membawa kedua keponakanku ini ….”

Mendadak si Kucing membentak, “Mau atau tidak mau harus ikut.”

Mendadak dia melompat ke punggung keledai dan segera menepuk pantatnya, karena kesakitan keledai itu segera lari kencang seperti kesetanan.

Keruan si nyonya baju hijau melengak, berubah air mukanya makinya dengan gusar, “Bajingan, kembali!”

Si Kucing tergelak, serunya, “Aku memang bajingan, caramu itu pantas untuk menghadapi kaum pendekar, orang lain mungkin tak mampu berbuat apa-apa terhadapmu, tapi menghadapi bajingan seperti diriku, hehehe, memangnya bajingan peduli amat terhadap permainanmu ini.”

Walau kurus, dalam sekejap keledai itu telah lari lebih dua puluhan tombak.

Nyonya berbaju hijau mencak-mencak, teriaknya, “Penculik, rampok … tolong ….”

Dari kejauhan si Kucing berkaok, “Betul, aku memang rampok, tapi adakah rampok yang takut pada orang baik, sebaliknya orang baik sama takut kepada rampok, sampai pecah tenggorokanmu juga tak ada orang berani menolongmu.”

Lari keledai semakin jauh, dalam sekejap lagi hampir lenyap dari pandangan mata.

Akhirnya si nyonya berbaju hijau tidak tahan, sambil mengertak gigi, sekali raih dia peluk pinggang Pek Fifi, tanpa hiraukan apakah orang lain kaget dan melongo, sekali tarik napas dia melompat jauh ke depan terus mengudak dengan kencang.

Ginkang dan gerak tubuhnya memang luar biasa, meski sebelah tangannya mengempit seorang, tapi beruntun empat kali lompat naik-turun dia sudah meluncur dua puluhan tombak.

Kedua kaki si Kucing mengempit keras perut keledai, sebelah tangan memeluk gadis buruk rupa, alias Cu Jit-jit, sebelah tangan terus-menerus menepuk pantat keledai supaya lari lebih cepat, katanya sambil tertawa, “Nah, kelihatan belangnya sekarang, akhirnya dapat kupaksa menunjukkan kungfumu.”

“Memangnya kenapa kalau dipaksa?” jengek si nyonya baju hijau dengan benci, “apa kau kira bisa hidup lagi?”

Beberapa kali lompatan pula, jelas dia akan dapat menyusul keledainya yang berlari kencang itu.

Tak tersangka mendadak si Kucing angkat Cu Jit-jit terus melayang tinggi dari punggung keledai, serunya dengan tertawa, “Boleh kau kejar aku dulu dan bicara lagi nanti.”

Sekali meluncur tiga tombak ke depan, keledai tanpa penumpang itu ditinggalkan, tapi dia yakin yang dikejar nyonya baju hijau bukan keledai melainkan penunggangnya yang bermuka buruk dalam rangkulannya ini.

Jika murid didik kaum pendekar jelas tak sudi melakukan perbuatan yang memalukan ini, tapi lain dengan si Kucing yang tidak peduli tentang sopan santun segala, asal tujuannya suci dan dapat tercapai, perbuatan apa pun berani dilakukannya.

Agaknya nyonya berbaju hijau tidak menduga bajingan tengik ini memiliki Ginkang selihai itu, dirinya ternyata tidak mampu menyusulnya, keruan ia gugup bercampur gusar pula, segera bentaknya, “Berhenti, marilah kita bicara secara baik.”

“Bicara soal apa?” tanya si Kucing.

“Sebetulnya apa kehendakmu? Turunkan dulu keponakanku, urusan bisa dirundingkan.”

Sementara itu mereka sudah hampir mencapai kuil bobrok itu.

Si Kucing tertawa riang, katanya, “Berhenti juga boleh. Tapi lebih dulu kau harus berhenti mengejar, baru nanti aku akan berhenti, kalau tidak meski tiga hari tiga malam, jangan harap kau dapat menyusul aku, kukira kau sendiri maklum akan hal ini.”

“Bangsat, bajingan!” maki si nyonya baju hijau. Tapi terpaksa dia menghentikan langkahnya, “Apa kehendakmu? Katakan!”

Si Kucing juga berhenti dalam jarak lima tombak, katanya dengan tertawa, “Apa pun tidak kuinginkan, aku hanya ingin tanya beberapa patah kata saja.”

Berkilat sorot mata si nyonya baju hijau, wajahnya tidak kelihatan welas asih lagi, desisnya penuh kebencian, “Lekas, tanya soal apa?”

“Ingin kutanya lebih dulu siapa sebetulnya kedua orang yang memberi uang kertas itu kepadamu?”

“Seorang murah hati yang kebetulan lewat di jalan, mana aku mengenalnya?”

“Kalau kau tidak kenal dia, memangnya dia mau memberi uang kertas sebanyak itu kepadamu?”

Berubah pula air muka si nyonya baju hijau, serunya beringas, “Baiklah kuberi tahu padamu, kedua orang itu begal besar yang kupegang rahasianya, mulutku terpaksa disumbat dengan uang supaya rahasia itu tidak kubocorkan. Tentang di mana sekarang kedua orang itu, terus terang aku tidak tahu.”

Si Kucing tertawa terkial-kial, katanya, “Kalau betul kedua orang itu begal besar, pasti kau ini sekomplotan dengan mereka. Manusia macam dirimu ini, mengapa membawa dua gadis buruk muka dalam perjalanan, kurasa pasti ada suatu yang tidak beres ….”

“Ini … ini bukan urusanmu,” bentak nyonya baju hijau dengan gusar.

“Aku si Kucing justru suka mencampuri urusan orang lain, meski urusan kecil yang tiada sangkut pautnya denganku, bila kebentur di tanganku, urusan harus dibikin jelas baru puas hatiku. Hari ini kalau aku tidak membekuk kau, tentu kau tak mau bicara sejujurnya.”

Mendadak dia menggembor keras, “Hai, saudara-saudara, ayolah keluar!”

Lenyap suaranya, maka berbondonglah puluhan orang menerjang keluar dari dalam kuil.

Si Kucing menyerahkan Cu Jit-jit sambil berpesan, “Sembunyikan gadis ini di tempat yang rahasia dan jaga baik-baik ….”

Sambil mengiakan anak buahnya merubung maju, sementara si Kucing sendiri melompat balik ke hadapan si nyonya berbaju hijau, katanya, “Nah, boleh mulai.”

Nyonya baju hijau menyeringai, jengeknya, “Kau ingin mampus? Baik!”

Dalam berkata “baik”, sekaligus ia sudah menyerang tiga jurus. Agaknya dia tidak berani meremehkan pemuda bergajul yang kurang ajar ini, meski sambil mengempit Pek Fifi, tapi tiga jurus pukulannya telah mengerahkan seluruh tenaganya.

Gerakan si Kucing segarang harimau, berputar laksana langkah naga, secepat kilat dia berkelit tiga kali, katanya dengan tertawa, “Mengingat kau ini seorang perempuan, biar aku mengalah tiga jurus lagi.”

Sikap si nyonya baju hijau tampak prihatin, bentaknya bengis, “Baik, jangan kau menyesal.”

Segera kaki kiri melangkah ke depan, tubuh setengah berputar, telapak tangan kanan didorong perlahan, mulut membentak pula, “Inilah jurus pertama.”

Tampak kelima jarinya setengah tertekuk, bentuknya mirip tinju tapi bukan tinju, seperti telapak tangan juga bukan telapak tangan, gerak serangannya lamban, sampai setengah jalan serangannya, lawan masih bingung dan tak dapat meraba ke arah mana serangannya akan dilancarkan.

Si Kucing berdiri tegak bergeming, matanya menatap telapak tangan lawan yang satu ini, sorot matanya tampak prihatin, namun ujung mulutnya mengulum senyuman acuh tak acuh.

Setiba di tengah jalan mendadak telapak tangan nyonya baju hijau itu terayun ke atas dan menghantam telinga kiri si Kucing.

Letak kuping kiri merupakan tempat sepele, dengan sendirinya tidak terduga bahwa lawan bakal menyerang tempat ini, dengan perkataan lain pertahanan paling lemah pada bagian ini.

Si Kucing merasa di luar dugaan, dalam repotnya dia tidak sempat berpikir, ia mengegos ke kanan, tak tahunya si nyonya baju hijau seperti sudah memperhitungkan gerakannya yang berkelit ke kanan ini, hanya bagian tubuh atas saja yang berkisar tanpa menggeser kedua kakinya, ini berarti ruang lingkup gerak tubuhnya tidak besar, maka begitu badan si Kucing miring ke kanan, telunjuk jarinya segera menjentik, yang digunakan adalah sebangsa Tan-ci-sin-thong atau tenaga jari sakti, sejalur angin tajam segera menyambar ke lubang telinga si Kucing.

Lubang telinga dengan genderang kuping adalah titik terlemah pada tubuh manusia umumnya, biasanya cukup orang mengorek kuping dengan gulungan kertas saja akan menimbulkan rasa sakit, apalagi nyonya berbaju hijau ini menyerang dengan landasan tenaga murni, meski tidak kelihatan bentuknya, yang jelas tajamnya melebihi sebatang paku, bila terkena tenaga selentikan jarinya, genderang telinga bisa pecah.

Sungguh tak pernah terpikir oleh si Kucing bahwa nyonya berbaju hijau itu bisa melancarkan serangan sekeji ini, kecuali manusia berhati culas dan jahat, mustahil bisa memikirkan serangan keji ini.

Cepat si Kucing mengkeret kepala dan menjengkang badan serta mundur beberapa kaki. Tapi betapa cepat sambaran angin jentikan lawan, walau dia sempat berkelit, tak urung jidatnya keserempet juga hingga kulit jidatnya jadi merah. Seketika si Kucing berjingkrak gusar, bentaknya, “Apa ini juga terhitung satu jurus?”

Baru saja dia membentak, tahu-tahu si nyonya baju hijau menubruk tiba pula dan melancarkan jurus kedua, yang diincar adalah bagian berbahaya di bawah perut, jurus serangan ini lebih keji lagi, saat itu badan si Kucing lagi doyong ke belakang, tenaga belum sempat dikerahkan, maka nyonya baju hijau yakin jurus kedua ini pasti akan menamatkan riwayat lawan.

Di luar tahunya, kekuatan fisik si Kucing sungguh tak terbayang oleh siapa pun, tenaga murni tubuhnya ternyata bagai arus air yang mengalir tak terputus-putus.

Dia menarik napas, dengan tangkas ia menyurut mundur beberapa kaki pula, begitu dia kerahkan tenaga pada tungkak kakinya, mendadak dia melompat ke udara, sekali berjumpalitan kembali ia berada lagi di hadapan si nyonya berbaju hijau.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: