Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (11)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:45 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (11)
Oleh Gu Long

“Makanya, banyak urusan di dunia ini serupa air mengalir saja, meski pernah kau lihat, hanya lihat dan tidak tahu, dengan sendirinya di mana letak keajaibannya tidak kau ketahui,” ujar Ciu Hong dengan tertawa.

“Memang benar ucapan Loyacu,” kata Po-ji dengan malu hati.

“Dan sekarang boleh kau pandang arus air selama tiga jam, coba apa yang dapat kau pahami? Tiga jam kemudian baru akan kutanyaimu lagi.”

“Baik,” jawab Po-ji, ia coba memandang ke sana, terlihat arus air bergulung tanpa putus dan mengalir lewat di kedua sisi kapal dan menimbulkan buih berwarna putih susu.

Selang tiga jam kemudian, kapal kotak itu sudah laju menyongsong arus sejauh belasan li.

“Nah, sekarang kutanya lagi padamu, di mana letak keajaiban arus air, apakah sudah dapat kau jawab?” tanya Ciu Hong.

Po-ji menghela napas panjang, ucapnya perlahan, “Dahulu kupandang arus air adalah air mengalir, memangnya apa bedanya, tapi sekarang baru kutahu bahwa arus air sungai begini bagi pandangan seorang penyair adalah sumber ilham yang bagus untuk merangkai syair, dan bagi pandangan seniman akan merupakan lagu yang sangat indah.”

“Dan dalam pandangan seorang guru besar ilmu silat akan jadilah sejurus ilmu silat yang terus-menerus dan sukar digempur, apakah hal ini tidak pernah terlintas dalam perkiraanmu?” tukas Ciu Hong mendadak.

“Aha, betul,” seru Po-ji dengan gembira. “Arus air ini memang meliputi teori ilmu silat yang mahatinggi, coba lihat, setiap gelombang arus air sekilas pandang memang serupa, tapi bila diamati dengan cermat tentu akan ketahuan di antara gelombang dan gelombang sebenarnya tidak sama, banyak ragam dengan macam-macam perubahan yang ruwet serta sukar diselami, hal ini rada … rada mirip dengan ilmu pedang si baju putih yang misterius itu, setiap jurus ilmu pedangnya kelihatan serupa, tapi mutlak tidak sama ….”

Makin bicara makin bersemangat, kedua mata terbelalak dan bercahaya penuh kecerdasan serupa orang dewasa.

Wajah Ciu Hong pun menampilkan rasa senang dan terhibur, ucapnya sambil mengelus jenggot, “Betul! Sekarang kutanya lagi padamu, apakah kau dapat memotong arus air dengan sekali tebas?”

“Makin ditebas makin cepat air mengalir, tidak mungkin dapat ditebas putus,” jawab Po-ji.

“Ya, jangankan cuma sekali tebas, biarpun beribu kali ditebas juga tidak mungkin putus,” tukas Ciu Hong dengan tertawa. “Nah, apakah sekarang kau tahu apa sebabnya dalil ini?”

“Ini … ini ….” Po-ji melenggong, sinar matanya berkilat-kilat, mendadak ia berteriak girang, “Aha, kutahu. Ini disebabkan di antara air yang mengalir itu sebenarnya mengandung daya hidup yang tidak terputus-putus dan mutlak tidak dapat dipotong oleh tenaga apa pun. Jika ilmu silat seseorang bisa serupa air mengalir, maka dia pasti tidak ada tandingannya di dunia.”

Ciu Hong semakin gembira dan terhibur, namun di mulut ia bicara dengan kereng, “Betul, daya hidup yang tidak terputus-putus, inilah karunia yang diberikan oleh Yang Mahakuasa terhadap manusia, di sinilah letak kekuatan pemberian alam dan ….”

Dengan sendirinya falsafah yang sangat mendalam ini tidak dapat diikuti oleh Gu Thi-wah, ia cuma memandang mereka dengan terkesima, ia lihat Po-ji duduk di haluan dengan tersenyum dan seperti telah memahami sesuatu.

Mendadak terdengar suara nyaring kecapi berkumandang dari hilir sungai sana.

“Coba luncurkan kapal kita ke arah suara musik itu,” kata Ciu Hong.

Thi-wah menurut, selagi kapal meluncur, suara kecapi terdengar semakin jelas dan berpadu dengan desir angin sungai hingga terjadilah irama yang menarik.

Selagi Po-ji termenung, tiba-tiba Ciu Hong berkata pula, “Sudah sekian lama kau dengarkan suara kecapi, adalah sesuatu yang kau pahami?”

Po-ji menggeleng dengan bingung.

Lalu Ciu Hong menyambung pula, “Di tengah suara kecapi itu seperti mengandung suara pertempuran, agaknya orang yang memetik kecapi itu akan menghadapi suatu pertarungan sengit, sebab itulah dengan memetik kecapi untuk menenteramkan perasaannya yang bergolak.”

Po-ji sangat tertarik, ucapnya dengan gegetun, “Ai, bilamana Loyacu bukan seorang ahli seni suara, mana mungkin engkau dapat menyelami jalan pikiran pemetik kecapi itu?”

Tiba-tiba Ciu Hong berkerut kening, ucapnya pula, “Suara pertempuran yang terkandung dalam suara kecapi itu makin lama makin keras jelas perasaan pemetik kecapi itu sukar ditenteramkan, sebaliknya semakin bergolak, bilamana kecapi terus berbunyi, akhirnya pasti akan putus senar dan hancur kecapinya. Tatkala itu semangatnya juga pasti akan runtuh, dan bila bertempur dia pasti akan kalah.”

“Jika begitu, mengapa dia tidak berhenti memetik kecapi?” tanya Po-ji.

“Saat ini perasaannya sedang bergolak laksana kuda lari dan sukar dikekang lagi,” ujar Ciu Hong.

“Wah, lantas bagaimana … bagaimana baiknya?” tanya Po-ji pula.

Ciu Hong termenung sejenak, “Rasanya orang ini seorang terpelajar, boleh juga kita coba membantunya dan mengacau suara kecapinya.”

Segera ia berikan sepotong pentungan kepada Po-ji dan berkata pula, “Coba gunakan pentungan ini untuk mengetuk tiang layar, jika dapat kau kacau suara kecapinya, tentu dapatlah dia berhenti memetik kecapi.”

Po-ji mengiakan, segera ia ketuk tiang layar dengan pentungan itu dan menimbulkan suara “trak-trok” yang keras, meski lantang juga suara ketukannya, namun suara kecapi tetap sukar dikacaukan, bahkan akhirnya tanpa terasa suara ketukannya malahan seirama dengan suara kecapi orang.

Kening Ciu Hong bekernyit pula, ucapnya, “Wah, caramu mengetuk itu hanya akan menambah cepat putusnya senar dan hancurnya kecapinya dan bukan lagi membantunya, sebaliknya akan membikin celaka dia.”

Po-ji berhenti mengetuk, katanya dengan menyesal, “Kurasakan suara kecapinya itu pun serupa air mengalir yang sukar dipotong, rasanya sukar untuk dikacaukan.”

“Meski irama kecapi itu juga berbunyi memanjang, namun di antaranya terdapat peluang yang kosong, karena kau belum dapat menemukan kuncinya sehingga sukar mengacaukan suara kecapinya.”

Sementara itu kapal sudah menepi, dipandang dari jauh, terlihatlah seorang berbaju kuning dengan rambut panjang terurai dan bertelanjang kaki sedang menongkrong di atas sepotong batu karang dan asyik memetik kecapi.

“Bukan cuma irama musik saja, segala urusan yang diperbuat manusia juga begitu, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan apa yang lahir secara alamiah,” kata Ciu Hong.

“Apakah ilmu pedang juga begitu?” tanya Po-ji.

“Betul, bilamana kau dapat menemukan titik luang permainan pedang lawan maka sekali gempur dapatlah kau patahkan permainannya, dengan begitu segala apa pun dapat dihancurkan, segala sesuatu dapat diatasi, ini serupa sekarang, sekali tempur dapatlah kuputuskan irama kecapi itu.”

Habis berkata, ia ambil pentungan dari tangan Po-ji, sekenanya ia ketuk tiang layar dengan pentungan, dan suara yang timbul tepat menyelip pada titik luang waktu perubahan irama kecapi. Karena ketukan yang tepat ini, seketika irama kecapi menjadi kacau. Serentak orang berbaju kuning itu bersuit panjang dan berdiri, lalu memandang ke langit dengan termenung-menung. Apa yang diuraikan Ciu Hong itu terasa meresap benar ke lubuk hati Pui Po-ji, serupa bagian yang gatal dengan tepat dapat digaruknya, rasanya sukar dilukiskan sehingga dia tidak memerhatikan sesungguhnya siapakah si baju kuning.

“Suara ketukan pentungan kasar buruk, suara kecapi indah merdu,” tutur Ciu Hong. “Suara ketukan pentungan cuma bunyi sekali, suara kecapi justru berirama panjang, tapi dengan sekali suara kasar dan buruk dapat memotong suara nyaring merdu yang berirama, inilah titik kelemahan irama kecapi yang dapat ditemukan, dan begitulah seterusnya mengenai soal lain, tentu dapat kau selami sendiri ….”

Mendadak Po-ji melompat bangun dengan penuh kegirangan, serunya, “Aha, dipikir sesuai dengan teori ini, meski aku sendiri tidak mahir ilmu silat, tapi asalkan dapat menemukan titik lemah ilmu pedang orang lain, dapat kuketahui kunci perubahan pada iramanya, tentu tidak sulit bagiku untuk mengalahkan dia yang lebih kuat, dapat kugempur hancur permainan pedangnya.”

“Ya, begitulah,” ucap Ciu Hong dengan tersenyum senang.

Wajah Po-ji berseri-seri, katanya, “Begini bagus teori ini, tapi juga sedemikian sederhana, ahli silat di dunia ini sukar menyelami hal ini? Sungguh keterangan Loyacu yang singkat ini jauh lebih bermanfaat daripada kubelajar berpuluh tahun.”

Selagi mereka asyik bicara, tiba-tiba Thi-wah berteriak gembira, “Toako, jangan cuma mengobrol saja, lihatlah, banyak tontonan menarik tidak kau ikuti, lekas lihat dulu dan bicara nanti.”

Kiranya si baju kuning yang duduk di pantai tadi setelah termenung-menung memandang langit, sejenak kemudian mendadak ia mengangkat kecapinya terus dibanting hingga hancur pada batu karang yang didudukinya tadi.

Dan begitu kecapi dibanting hancur, serentak dari balik batu karang itu muncul beratus orang pengemis yang berbaju compang-camping.

Jelas kawanan pengemis itu sudah sembunyi di situ sejak tadi, daripada dikatakan mereka bersembunyi di situ untuk menikmati suara kecapi si baju kuning, lebih tepat dikatakan mereka sedang mengintai gerak-gerik orang itu.

Sekarang demi menyaksikan si baju kuning membanting hancur kecapinya, kawanan pengemis itu sama terperanjat.

Tiga orang pengemis berambut ubanan lantas mendekati si baju kuning dengan hormat, mereka bicara apa-apa kepada si baju kuning, tapi orang itu seperti enggan mendengarkan, ia memberi tanda agar kawanan pengemis itu enyah.

Sisa pengemis yang lain tampak berwajah murung, mereka saling bisik-bisik, entah apa yang dipersoalkan mereka, tampaknya seperti berusaha untuk bicara apa-apa agar si baju kuning bisa merasa senang.

Sekonyong-konyong dua orang pengemis ubanan membawa tiba seguci arak dan diaturkan ke depan si baju kuning, lalu beberapa pengemis anak kecil melompat keluar dan mengelilingi si baju kuning dengan tertawa riang gembira sambil berkeplok dan menari, terkadang ada yang menarik ujung baju si baju kuning, kelakuannya kurang hormat, tampaknya bukan hendak membikin senang sebaliknya seperti sengaja hendak memancing kemarahannya.

Namun si baju kuning tetap berdiri diam saja tanpa bergerak, malahan tidak menggubrisnya sama sekali, terkadang ia angkat guci arak dan minum seceguk.

Waktu Po-ji dan Ciu Hong berpaling, apa yang terjadi ini dapat dilihatnya.

Dengan mata terbelalak Po-ji berkata dengan heran, “Apa yang sedang dilakukan kawanan pengemis itu? Mengapa si baju kuning diam saja dan tidak mengusir mereka?”

“Mungkin kawanan pengemis itu adalah anak murid si baju kuning,” kata Ciu Hong.

Po-ji tambah terkejut, katanya dengan gusar, “Jika benar kawanan anak nakal itu anak murid si baju kuning, mengapa mereka bersikap kurang ajar terhadap orang tua? Sungguh terlalu dan perlu dihajar adat!”

Kening Ciu Hong juga bekernyit, “Pikiran si baju kuning baru saja dapat ditenteramkan, jika apa yang terjadi ini terus berlangsung, mungkin dia akan terpancing marah lagi, dan bila sebentar bertempur dengan orang tentu takkan menguntungkan dia.”

Selang sejenak, si baju kuning tampak masih tenang saja.

Dengan wajah murung ketiga pengemis ubanan tadi muncul lagi, satu di antaranya yang bertubuh kurus kecil mendadak berseru, “Musibah yang menimpa Pangcu sekali ini, bilamana Ong-locunjin tidak pulang tepat pada waktunya, sungguh nasib Kay-pang kita sukar dibayangkan. Maka budi pertolongan Ong-locunjin ini selamanya tidak boleh kita lupakan.”

Serentak para pengemis mengiakan dengan penuh semangat. Namun si baju kuning tetap bersikap dingin dan tak acuh sama sekali.

Si pengemis kurus lantas menyambung lagi, “Tapi pertarungan Ong-locunjin dengan iblis perempuan itu hari ini sungguh menyangkut mati-hidup kaum kita. Bila Ong-locunjin kalah, maka … ai, akibatnya sungguh tidak berani kubayangkan. Sebab itulah, maaf, jika kubicara setulusnya, menghadapi pertempuran besar ini, hendaknya Ong-locunjin jangan … jangan terus bersikap demikian, kalau tidak … kalau tidak, ai ….”

Ia menghela napas panjang, lalu menunduk dengan sedih.

Ciu Hong termenung sambil mengelus jenggotnya, ucapnya perlahan, “Pikiran si baju kuning sekarang sedemikian tenangnya, inilah tanda baik sebelum bertempur, tapi mengapa si pengemis tua ini minta dia jangan bersikap demikian? Memangnya dia sengaja memancingnya marah sebelum bertempur dengan orang? …. Aneh, sungguh aneh dan sukar dimengerti.”

Sementara itu terdengar si baju kuning juga sedang menghela napas dan berkata, “Aku pun tahu bilamana begini terus-menerus, aku pasti akan kalah, namun apa daya, seketika aku pun tidak punya jalan lain.”

Mendadak pengemis kurus itu berlutut dan menyembah kepada si baju kuning, lalu melompat bangun dan berseru, “Ya, terpaksa kulakukan ini, mohon Ong-locunjin jangan marah.”

Berbareng ia terus menampar, “plak”, dengan tepat muka si baju kuning digamparnya dengan keras.

Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Po-ji dan Ciu Hong, mereka menyaksikan kawanan pengemis itu memohon sesuatu dan juga sedemikian hormat terhadap si baju kuning, sungguh mimpi pun tidak menyangka si pengemis kurus justru berani menamparnya, sedang pengemis lain juga menyaksikan dengan tenang saja tanpa heran atau terkejut.

Yang lebih mengherankan adalah si baju kuning, setelah digampar, bukannya marah, sebaliknya ia malah terbahak-bahak, suara tertawa yang penuh rasa senang dan bukan cuma pura-pura.

Sambil mengangkat guci arak, dia malahan bernyanyi diiringi tepuk riuh kawanan pengemis anak-anak itu sehingga suasana berubah riang gembira.

Keadaan demikian sebenarnya menjadi pantangan tokoh dunia persilatan pada waktu sebelum bertempur, sebab rasa gembira paling gampang membuat lemah semangat, bila berhadapan dengan musuh tentu tidak tega lagi turun tangan.

Meski Po-ji tidak paham seluk-beluk hal ini, tidak urung ia pun bekernyit kening, katanya, “Ai, seperti orang gila saja mereka ini ….”

Mendadak si baju kuning menoleh, dan baru sekarang Po-ji dapat melihat jelas siapa dia, kiranya orang ini adalah tokoh aneh dunia Kangouw, Ong Poan-hiap adanya.

Melihat perubahan air muka Po-ji, Ciu Hong bertanya lirih, “Apakah kau kenal dia?”

“Ya, dia inilah Ong Poan-hiap, paman Ong ….” jawab Po-ji, segera ia bermaksud berteriak, tapi keburu dicegah Ciu Hong.

“Ssst,” desis Ciu Hong. “Banyak menggunakan mata dan sedikit memakai mulut, masakah sudah kau lupakan pesanku? Apa pun yang kita lihat hanya boleh kita pandang secara diam-diam dan tidak boleh banyak urusan dengan membuka mulut.”

Po-ji menjulur lidah, ucapnya, “Baiklah, apa pesan Loyacu pasti kuturut.”

Ciu Hong mengangguk dengan tertawa. Selang sejenak ia berkata pula, “Jika orang ini Ong Poan-hiap, maka segala urusan aneh apa pun tentu dapat kau pahami.”

“Sebab apa?” tanya Po-ji heran.

“Ong Poan-hiap itu selain terkenal latah juga pendekar, namun ilmu silatnya kalah kuat daripada latahnya, maka orang-orang ini sama berusaha menimbulkan jiwa latah Ong Poan-hiap untuk mencapai kemenangan, sebab bila sifat latahnya kumat barulah ilmu silatnya dapat dikembangkan sehebatnya. Haha, Ong Poan-hiap memang manusia aneh zaman ini, sebab itulah terjadi peristiwa aneh seperti sekarang yang sukar dimengerti orang awam.”

Po-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Oo, jika begitu, sebabnya dia memetik kecapi di tepi sungai tadi mungkin ingin mengobarkan sifat latahnya dengan suara kecapinya, apabila senar putus dan kecapi hancur, saat itu berarti tercapailah maksudnya. Jadi maksudmu membantunya tadi sebenarnya berbalik bisa membikin susah dia.”

“Haha, diberi keterangan satu segera kau tahu tiga, sungguh anak baik,” ucap Ciu Hong dengan tertawa.

Tengah bicara, tiba-tiba dari hulu sungai sana meluncur tiba sebuah kapal aneh, dikatakan “kapal aneh”, sebab kapal ini memang luar biasa.

Tubuh kapal ini adalah kapal besar kaum pembesar yang biasa berlayar, haluan kapal tampak besar dan megah, meski catnya sudah banyak yang terkelupas, namun masih tampak kukuh.

Namun di atas geladak kapal yang luas itu ternyata tidak ada anjungan, hanya dipasang gubuk yang tak teratur sehingga serupa kapal tambangan atau atap kapal barang yang dipretel dan dipasang darurat di kapal ini, sebagian gubuk malahan serupa tenda, malahan ada yang cuma ditutup dengan beberapa helai tikar dan beberapa potong papan saja sehingga mirip kapal kaum pengungsi.

Yang lebih aneh lagi, di antara gubuk-gubuk itu terpasang pula belasan tiang layar yang tidak teratur, besar-kecil tiang layar itu pun tidak sama, layar yang terkerek juga aneka ragam, ada yang terbuat dari layar asli yang sudah rusak, ada yang terbuat dari berbagai warna baju bekas, malahan ada yang serupa kain seprai.

Yang lebih lucu lagi adalah antara tiang-tiang kapal itu digandeng dengan tali, di atas tali banyak tergantung macam-macam peralatan seperti wajan bobrok, panci rusak dan beberapa ekor ikan asin, beberapa potong dendeng, tiga potong sayur putih, seekor kodok hijau, belasan potong lobak kering, sepotong mantel tua warna merah, belasan potong baju butut dan gaun penuh tambalan serta puluhan pasang sepatu yang beraneka warna dan berukuran berbeda, ada lagi beberapa renceng mata uang, beberapa buah cermin rusak, puluhan dompet kain dan macam-macam lagi yang aneh dan lucu.

Sepintas pandang kapal ini benar-benar semarak, ketika angin meniup, maka berbunyilah berbagai peralatan bobrok itu bersentuhan satu sama lain menimbulkan paduan suara yang aneh.

Thi-wah terbelalak dan melongo heran, ia pun sangat tertarik oleh adegan yang aneh itu, rasanya ingin melihat dan ikut main di atas kapal yang lucu itu.

Po-ji juga heran dan geli, katanya sambil menggeleng, “Kusangka kapal Thi-wah ini merupakan kapal paling aneh di dunia ini, siapa tahu masih ada kapal lain yang beratus kali lebih aneh daripada kapal ini.”

“Wah, jika kita memiliki kapal begitu, sungguh senang sekali,” gumam Thi-wah seperti orang linglung.

Tiba-tiba, di dalam gubuk yang memenuhi geladak kapal aneh itu timbul serentetan suara pletak-pletok serupa bunyi mercon, menyusul lantas menguap gumpalan asap tebal yang berwarna-warni sehingga seluruh kapal tertutup rapat oleh asap.

Melihat kedatangan kapal aneh ini, kawanan pengemis di pantai itu sama berubah tegang. Ketiga pengemis tua tadi serentak tampil ke depan dan berdiri di tepi pantai.

Pengemis yang paling kurus tadi berseru, “Yap Ling bersama Ong-locunjin Pang kami beserta para anak murid kaum rudin sudah lama menunggu kedatangan Anda, diharap Ong-toanio sudi keluar untuk berjumpa.”

Ia bicara perlahan, namun setiap katanya berkumandang jauh dan terdengar cukup jelas.

Maka terdengarlah jawaban suara merdu genit dari tengah asap warna-warni itu dengan tertawa, “Hihi, buat apa tergesa-gesa, Yap Tua? Baju kami saja belum terpakai dengan baik, memangnya kau minta kami keluar berjumpa begini saja?”

Suaranya genit dan dibuat-buat serupa anak wayang di atas pentas.

Air muka si pengemis tua kurus alias Yap Ling kelihatan mengunjuk rasa marah, namun ditahannya dan tidak menanggapi lagi.

Dalam pada itu di tengah gumpalan asap berwarna sana terdengar suara tertawa cekikikan diseling suara merdu sedang berkata, “Hei, Siu-siu, kenapa kau pakai gaunku? Ayo lekas kembalikan padaku.”

“Aduhh, kenapa kau injak kakiku?!” terdengar seorang lagi mengomel.

“Ini bajuku … wah, coba, jadi robek ditarik-tarik olehmu!”

“Tolong! lihatlah Toanio, setan cilik Jing-jing ini merampas bajuku!”

Meski tebal asap berwarna-warni itu, namun samar-samar terlihat juga beberapa sosok tubuh yang telanjang sedang berlarian kian kemari, ditambah lagi suara tertawa merdu yang menggiurkan dan kata-kata yang menarik ….

Muka kebanyakan kawanan pengemis di pantai menjadi merah jengah melihat adegan luar biasa itu.

Sebaliknya Thi-wah tambah melotot, ucapnya dengan tertawa, “Buset! Kiranya kawanan nona di atas kapal itu semuanya tidak pakai baju.”

“Ya, sungguh terlalu dan pantas dipukul pantatnya,” omel Po-ji.

Tanpa disuruh Thi-wah terus berdiri dan berseru, “Jika Toako memberi perintah, bagaimana kalau kuberi hajaran kepada mereka?”

Tapi Ciu Hong lantas mendelik dan mendamprat perlahan, “Kalian jangan mengacau. Meski urusan ini kelihatan lucu, tapi di dalamnya mengandung mara bahaya yang sangat besar. Kita hanya boleh mengintip secara diam-diam dan jangan sembarang mencari perkara, bila banyak bicara dan cari gara-gara, akibatnya bisa runyam seperti kejadian dulu.”

Thi-wah menjulur lidah dan tidak berani sembarang bicara lagi.

Sementara itu kapal aneh tadi sudah menepi, tiba-tiba dua sosok bayangan meloncat keluar dari balik tabir asap berwarna, keduanya sama berbaju compang-camping, rambut kusut dan muka kotor, dari bentuknya jelas mereka kaum minta-minta alias pengemis.

Ketika mendengar suara nyaring merdu dan tertawa genit penumpang kapal aneh itu, semula Po-ji mengira mereka pasti semuanya anak perempuan cantik molek. Sekarang demi melihat kedua orang yang muncul ini, ia terkejut.

Akan tetapi setelah diperhatikan baru diketahui dugaan sendiri memang tidak salah. Meski kedua orang ini bermuka kotor dan rambut kusut, namun mata jeli dan hidung mancung, perawakannya ramping, betapa kotor pun sukar menutupi kecantikan mereka.

Lebih-lebih yang sebelah kanan, bajunya yang singsat dan celana yang ketat, pakai sepatu bersulam, sebagian betisnya kelihatan putih bersih dan membuat jantung orang berdebur dan tidak berani memandang lebih lama lagi.

Gadis yang sebelah kiri juga tidak kurang cantiknya, cuma berkaki telanjang, sekilas pandang ia lantas memberi salam dan berseru, “Ngo Jing-jing, Liok Siu-siu, atas perintah Ong-pangcu, semua anak murid Pang kita yang hadir di sini hendaknya berlutut menyambut kedatangan Pangcu.”

Seketika sebagian anak murid Kay-pang merasa gusar, si pengemis tua ubanan sebelah kiri lantas menjawab dengan mendongkol, “Hm, berdasarkan apa Ong-toanio minta disambut dengan berlutut? Hm, aku orang she Ciok yang pertama-tama tidak ….”

“Ciok King,” damprat si gadis alias Ngo Jing-jing, “jangan kau lupa, Ong-toanio sudah menjadi Pangcu kita, caramu bicara ini apakah tidak khawatir dihukum potong lidah?”

Dengan gusar Ciok King menjawab, “Hm, Ong-toanio boleh menjadi Pangcu kalian, tapi bukan Pangcu kami.”

Gadis yang lain bernama Liok Siu-siu menukas dengan tertawa genit, “Apa pun kami juga kaum pengemis, dengan sendirinya kami pun anggota Kay-pang. Meski ada perbedaan antara lelaki dan perempuan, namun, sejak Kay-pang berdiri kan tidak ada peraturan yang menentukan orang perempuan dilarang menjadi anggota? ….”

Sampai di sini mendadak ia tepuk paha dan berteriak, “Aduh, nyamuk berengsek ….”

Ia celup air liur dengan jarinya dan dipoles pada paha yang digigit nyamuk, lalu menyambung pula, “Kalian tentu sudah hafal membaca peraturan Kay-pang dan tentu kalian mengakui kebenaran ucapanku ini.”

Yap Ling, Ciok King dan seorang tua lagi bernama Nyo Han, ketiganya saling pandang tanpa bisa menjawab. Ketiganya sudah kenyang asam garam kehidupan, mereka tidak menyangkal ucapan nona cilik itu.

Maklumlah, apakah orang perempuan boleh menjadi anggota Kay-pang atau tidak sudah menjadi persoalan selama berpuluh tahun. Cuma pengemis perempuan yang berkepandaian tinggi memang jarang ada di dunia Kangouw, sebab itulah urusan ini tidak pernah dipelajari oleh para tokoh Kay-pang.

Siapa duga titik lemah ini sekarang digunakan oleh Ong-toanio untuk melatih serombongan anak murid perempuan untuk dijadikan pengemis, lalu diperalat untuk berebut kekuasaan dengan kawanan pengemis lelaki yang memegang pimpinan Kay-pang sekarang.

Liok Siu-siu melirik kian kemari dengan genitnya, lalu berkata pula dengan tersenyum, “Jika tidak ada peraturan yang melarang orang perempuan menjadi anggota pengemis, dengan sendirinya, juga tidak ada peraturan yang melarang orang perempuan menjadi Pangcu, sebab itulah bila kalian keberatan, boleh coba pihak lelaki kalian menampilkan seorang jago untuk berebut kedudukan Pangcu dengan Ong-toanio kami. Kalau ilmu silat dan kecerdasan pihak lelaki tidak lebih hebat daripada orang perempuan, maka perkembangan Kay-pang selanjutnya biarpun dipimpin oleh orang perempuan, hal ini kan layak dan adil?”

Ia berhenti sejenak sambil menggaruk perlahan pahanya yang digigit nyamuk tadi, karena tidak ada yang menanggapi, ia menyambung pula, “Dan sekarang Pangcu lelaki kalian jelas tidak dapat melebihi Ong-toanio kami, baik ilmu silat maupun kecerdasannya, maka kedudukan Pangcu seyogianya diserahkan kepada Ong-toanio, dalil ini kan cukup sederhana dan harus kalian terima.”

Mendadak Ciok King membentak, “Sungguh anak perempuan yang ceriwis, kepandaianmu bicara sungguh bisa menghidupkan orang mati. Akan tetapi orang she Ciok justru tidak dapat menerima ocehanmu, nah, boleh kita tentukan dalam pertempuran saja ….”

“Hihi, apabila kau anggap aku sembarang mengoceh, kan seharusnya kau bantah dengan ucapanmu yang lebih masuk di akal …. Aduh, kenapa pahaku makin lama makin gatal,” seru Siu-siu mendadak. “Eh, tanganmu kasar dan besar, maukah kau garuk pahaku yang gatal ini?”

Sembari bicara pahanya yang putih mulus itu terus diangkat dan disodorkan ke depan Ciok King.

Jantung Ciok King berdetak, cepat ia menyurut mundur dua tindak.

Siu-siu terkikik, katanya, “Hah, jika pahaku saja tidak berani kau pegang, masakah kau berani bicara tentang bertempur segala, kukira lebih baik ….”

Belum lanjut ucapannya mendadak sesosok orang melayang tiba sambil berseru dan tertawa, “Haha, kau bilang pahamu gatal? Baik, biar kugaruk pahamu, bagian mana yang gatal?”

Suara tertawanya aneh, kelakuannya kocak, siapa lagi dia kalau bukan Ong Poan-hiap. Dan paha Siu-siu lantas dipegangnya.

“Kau berani?!” bentak Siu-siu gugup, paha ingin ditarik kembali, tapi entah cara bagaimana, tahu-tahu tumit kaki telah kena dicengkeram orang.

“Ehh, bagian mana yang gatal?” tanya pula Ong Poan-hiap dengan tertawa.

“Singkirkan tanganmu yang kotor?” bentak Siu-siu pula, berbareng kedua tangan lantas menebas ke depan, cepat dan jitu serangannya, kesepuluh jari yang lentik laksana sepuluh belati, asalkan kena tertebas, sukar dibayangkan bagaimana akibatnya.

Akan tetapi suara tertawa Ong Poan-hiap tambah nyaring, meski cepat serangan Siu-siu tetap tidak mampu menyentuhnya.

Mendadak Ngo Jing-jing juga membentak, sebelah kaki melayang, langsung menendang bagian iga Ong Poan-hiap.

Tendangan ini datangnya cepat tanpa suara, serupa tendangan kilat tanpa bayangan, semacam kungfu andalan Siau-lim-pay. Padahal Siau-lim-pay sekte selatan selamanya tidak ada murid perempuan, entah dari mana pengemis perempuan ini belajar kungfu Siau-lim-pay yang lihai ini.

Melihat kelihaian tendangan Jing-jing, Yap Ling dan lain-lain sama menjerit kaget. Siapa tahu, mendadak tangan Ong Poan-hiap yang lain meraih ke bawah dan tumit kaki Ngo Jing-jing juga kena dipegangnya.

“Kungfu hebat,” sorak Ciok King sambil berkeplok.

Belum lenyap suaranya, terdengar seorang mengeluh perlahan di tengah kabut berwarna, “Ah, juga tidak terlalu hebat, paling-paling cukup untuk menganiaya seorang nona cilik.”

Meski kaki terpegang orang dan tidak dapat berkutik, namun Ngo Jing-jing dan Liok Siu-siu tidak memperlihatkan rasa gentar atau gugup, mendengar ucapan itu, ujung mulut mereka malahan menampilkan senyuman gembira.

Asap berwarna mulai lenyap, serombongan gadis jelita melompat ke pantai sambil tertawa riang, ada yang telanjang kaki, ada yang kelihatan pahanya, kebanyakan baju yang mereka pakai sudah rombeng, sambil berkeplok mereka berolok-olok setengah menyanyi, “Ong Tua, tidak tahu malu, bau busuk kaki, enak bagimu!”

Empat gadis jelita lain membawa sebuah meja bundar tua, di atas meja penuh tertaruh pita kain sutra yang berwarna-warni.

Di tengah onggokan pita aneka warna itu duduk seorang nyonya cantik bersolek berlebihan, alisnya panjang hingga mendekati pelipis, meski sudah jelas mulai kelihatan keriput tua, namun lirikan matanya masih menggiurkan serupa gadis remaja dan membuat orang lupa pada kelakuannya yang aneh dan dandanannya yang rombeng.

Melihat nyonya cantik ini, tanpa terasa kening Ciu Hong bekernyit, gumamnya, “Ong-toanio? Hm, Ong-toanio ….”

Sementara itu dendang kawanan gadis tadi sudah mereda, Ong-toanio melirik Ong Poan-hiap, katanya sambil menggeleng kepala, “Hah, tokoh angkatan tua terkemuka kenapa memegangi kaki nona cilik dan tidak mau dilepaskan, apakah tidak memalukan?”

“Memang agak memalukan, biarlah kulepaskan dia,” ucap Ong Poan-hiap.

Mendadak dari tubuhnya timbul suara seorang lain, “Tidak, tidak boleh, lepaskan mereka begitu saja, aku si Ong latah yang pertama keberatan.”

“Oo, lantas kau mau apa?” suara Ong Poan-hiap menanggapi.

Suara si latah yang timbul dari perut Ong Poan-hiap menjawab, “Asalkan Ong-toanio membebaskan Pangcu kita, segera kita pun melepaskan kedua budak ini, jual-beli yang adil dan tidak merugikan siapa pun.”

Ong-toanio terkekeh, “Hehe, jika demikian, jadi kau gunakan kedudukan Pangcu untuk dibandingkan dengan kedua budak cilik ini? Wah, kan terlampau menilai rendah bekas Pangcu kalian.”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Ong Poan-hiap.

“Begini,” kata Ong-toanio dengan mengerling genit. “Aku hanya duduk di atas meja ini tanpa bergerak, bilamana dalam 300 jurus dapat kau tangkap kakiku, segera kubebaskan Pangcu pujaan kalian. Sebaliknya, maka urusan ini tidak boleh lagi kau sebut-sebut dan harus mengangkatku sebagai Pangcu, memangnya aku tidak lebih unggul daripada tua bangka kecil itu?”

Sinar mata Ong Poan-hiap mencorong terang, teriaknya, “Baik, sekali berjanji ….”

“Betapa pun tidak boleh dijilat kembali!” sambung Ong-toanio dengan tertawa.

Ong Poan-hiap lantas membentang kedua tangannya, Ngo Jing-jing dan Liok Siu-siu terlempar ke sana, serunya, “Jadi!”

Serentak para pengemis juga penuh semangat dan tegang.

Hendaklah maklum, gerak tangan Ong Poan-hiap justru terkenal cepat dan jitu, kungfu andalannya “Hun-kong-ciok-eng-jiu”, gerak tangan menangkap bayangan secepat kilat, adalah ilmu menangkap paling lihai di dunia persilatan, selama ratusan tahun ini memang banyak orang yang berlatih ilmu tangkap itu, namun sejauh ini hanya Ong Poan-hiap saja dianggap sebagai jago nomor satu dalam hal kungfu tersebut. Maka kalau Ong-toanio benar cuma duduk tanpa bergerak, tentu sangat mudah bagi Ong Poan-hiap untuk menangkap kakinya. Namun Ong-toanio hanya tertawa nyaring serupa bunyi genta, katanya kemudian, “Baik, silakan mulai!”

Tangan bergerak, onggokan pita warna-warni yang menutupi tubuhnya diungkapnya ke samping.

Serentak Ong Poan-hiap menubruk maju, kedua tangan terjulur cepat, seperti hendak mencengkeram, serupa pura-pura juga, akan tetapi gerak susulannya yang sukar diduga membuat orang tidak tahu cara bagaimana harus mengelak.

Siapa tahu, baru saja kedua tangan terjulur, seketika ia melongo kaget.

Kiranya dapat dilihatnya kedua kaki Ong-toanio dimulai dari batas dengkul, ternyata sudah buntung. Jadi pada hakikatnya Ong-toanio itu tidak punya kaki, lalu cara bagaimana Ong Poan-hiap akan dapat menangkap kakinya?

Kejadian ini sungguh sama sekali di luar dugaan Ong Poan-hiap, seketika ia tidak sanggup bersuara, dengan terkesima ia pandang pita warna-warni yang berserakan di atas meja.

Kawanan gadis sama berkeplok tertawa dan berdendang lagi, “Haha, Ong tua, licin seperti setan, akhirnya kau termakan juga oleh akal Ong-toanio!”

Setiap anggota Kay-pang menjadi panik, maklumlah, pertaruhan yang telah disepakati tadi sungguh terlampau penting bagi mereka. Apabila Ong Poan-hiap mengalami kekalahan, maka beribu anggota Kay-pang yang tersebar di seluruh negeri harus tunduk di bawah pimpinan perempuan tua yang misterius dan tidak jelas asal usulnya ini. Dan nama baik Kay-pang yang sudah bersejarah ratusan tahun kan juga akan hanyut begitu saja.

Ong-toanio tertawa terkial-kial, katanya kemudian, “Nah, Poan-hiap saudaraku, sekali ini kau terperangkap olehku, lekas panggil Pangcu padaku.”

Belum lagi Ong Poan-hiap menjawab, anak murid Kay-pang serentak ribut.

Ong-toanio melirik genit, ucapnya dengan tertawa, “Seharusnya kalian merasa gembira mendapatkan Pangcu serupa diriku ini, apa yang kalian ributkan?”

Lembut suaranya, namun dapat didengar jelas oleh setiap anggota Kay-pang, ia cuma melirik sepintas, namun seakan-akan menyapu pandang muka setiap anak murid Kay-pang. Setiap orang yang merasa dilirik seketika lupa pada usia Ong-toanio dan juga melupakan kakinya yang buntung.

Bahwasanya seorang perempuan cacat badan dapat membuat orang lupa atas kekurangan badannya, maka dia selain perlu mahacantik juga harus mempunyai kecerdasan yang memesona serta daya tarik yang mahabesar.

Karena terkesima oleh lirikan maut Ong-toanio itu, tiada seorang pun anak murid Kay-pang yang bersuara ribut lagi.

Lirikan Ong-toanio akhirnya hinggap pada wajah Ong Poan-hiap, kerlingannya semakin genit, senyumnya semakin menggiurkan, bisiknya lirih, “Nah, bagaimana? Kau mengaku kalah?”

Pandangan Yap Ling bertiga tanpa terasa sama teralih kepada Ong Poan-hiap, wajah mereka kelihatan cemas dan prihatin, maklumlah, jawaban Ong Poan-hiap sungguh sangat besar pengaruhnya bagi mereka.

Terdengar Ong Poan-hiap menjawab sekata demi sekata, “Ya, aku menyerah kalah!”

Tubuh Yap Ling bertiga tergetar, hampir saja mereka jatuh terkulai.

“Bagus ….” ucap Ong-toanio dengan tertawa senang.

Siapa tahu, baru saja suara tertawa Ong-toanio bergema, tiba-tiba dari perut Ong Poan-hiap juga bergema suara tertawa orang, tertawa yang lebih nyaring daripada Ong-toanio dan berkata, “Ong-toanio, rupanya kau juga terperangkap olehku!”

“Apa katamu?” Ong-toanio menegas dengan bingung.

Suara kasar aneh itu menjawab, “Kau tahu, tubuh ini hanya separuhnya milik Ong Poan-hiap, meski dia mengaku kalah, tapi aku Ong si latah kan belum pernah menyerah?!”

Air muka Ong-toanio berubah seketika, tapi segera ia tertawa genit pula. Perubahan air mukanya yang cepat sungguh sukar diraba orang apa kehendaknya.

“Huh, dalam keadaan demikian kau masih bisa tertawa, sungguh hebat,” kata Ong Poan-gong alias Ong setengah latah.

Ia lantas mengelilingi meja bundar itu, mendadak ia menyerang secepat kilat, mengincar “Koh-ceng-hiat” kedua bahu Ong-toanio. Dan ternyata Ong-toanio sama sekali tidak mengelak sehingga tutukan Ong Poan-gong tepat mengenai sasarannya.

Anak murid Kay-pang terkejut dan bergirang, siapa tahu kawanan gadis itu tidak kaget atau khawatir, sebaliknya malah tertawa senang.

Meski terkesiap juga, namun Ong Poan-gong terus menyerang lagi, ia tutuk pula Hiat-to hampir seluruh tubuh Ong-toanio sambil berkata dan tertawa, “Haha, sergapan mendadak memang bukan perbuatan yang gemilang, tapi aku Ong Poan-gong memang juga bukan orang baik. Maka janganlah Ong-toanio marah atas perbuatanku.”

Sembari bicara, kedua tangan bekerja cepat, hanya sekejap saja puluhan Hiat-to pada tubuh Ong-toanio sudah ditutuknya secara rata.

Melihat itu, selain kawanan pengemis Kay-pang merasa girang, Po-ji juga ikut senang, soraknya sambil berkeplok, “Haha, paman Ong memang hebat.”

“Hm, belum tentu,” jengek Ciu Hong tiba-tiba.

Benar juga, tiba-tiba terdengar Ong-toanio menarik napas panjang dan berkata, “Bagaimana, sudah puas kau tutuk diriku?”

Ong Poan-gong tertawa, jawabnya, “Aku hendak menutuk pula Hiat-to bisumu, supaya kau tidak dapat memaki orang lagi.”

Habis berucap, secepat kilat ia menutuk lagi. Caranya menutuk seperti sangat umum, malahan serupa perkelahian orang jalanan dan rada kasar.

Namun dalam pandangan kaum ahli, jurus serangannya itu justru sangat hebat, dalam keadaan tertutuk, sebenarnya Ong-toanio sudah tidak bisa berkutik. Tapi waktu menyerang lagi, Ong Poan-gong tetap berlaku sangat hati-hati, serangan susulan masih terus dilancarkan, kawanan pengemis juga ikut bersorak memberi semangat.

Ketika tutukan Ong Poan-gong tampaknya hendak mencapai sasaran lagi, mendadak Ong-toanio juga angkat sebelah tangannya, bukan untuk menangkis melainkan untuk membetulkan rambutnya, lalu berucap dengan tertawa, “Masih mau serang lagi?”

Ong Poan-gong melengak, beratus pengemis tidak dapat bersorak lagi. Beratus pasang mata dapat melihat dengan jelas menyaksikan Ong-toanio tertutuk puluhan kali dan tepat mengenai Hiat-to, seharusnya nyonya cantik itu tidak bisa lagi berkutik, tahu-tahu dia masih dapat mengangkat sebelah tangan, hal ini membuat kawanan pengemis itu lebih kaget daripada melihat setan.

Po-ji juga terbelalak heran, desisnya, “Rasanya Hiat-to ditutuk pun pernah kurasakan, dalam keadaan begitu, biarpun mengerahkan segenap tenaga pun sukar menggerakkan sebuah jari, tapi sekarang Ong … Ong-toanio ini masih dapat bergerak bebas, apakah dia menguasai ilmu sihir atau karena kepandaian tutuk paman Ong yang tidak manjur?”

“Ilmu tutuk Ong Poan-hiap meski bukan kepandaian khas yang mahalihai, namun juga agak berbeda daripada kungfu dunia Kangouw umumnya, caranya menutuk cepat dan tepat, namun juga terdapat suatu kelemahan besar.”

Po-ji mendengarkan dengan penuh perhatian, nyata pandangannya terhadap ilmu silat sudah banyak berubah, tidak jemu lagi seperti dulu, malahan mulai menaruh minat, buktinya ia lantas tanya. “Apa kelemahannya?”

“Gerak tutukan Ong Poan-hiap itu cepat tapi kurang kuat, tidak dapat membuat sasarannya mengalami cedera apa pun,” tutur Ciu Hong.

“O, kiranya dia menutuk kurang keras, pantas Ong-toanio tidak cedera,” kata Po-ji.

“Biarpun begitu, orang biasa bila terkena tutukan Ong Poan-hiap itu, sedikitnya perlu 12 jam kemudian baru dapat bergerak,” kata Ciu Hong.

“Jika begitu, mengapa Ong-toanio dapat ….”

“Ini tentu ada sebabnya lagi,” gumam Ciu Hong sambil menengadah, “dan sebabnya juga suatu rahasia.”

Po-ji mengangguk dan tidak bertanya lagi.

“Kenapa tidak tanya pula? Memangnya kau tidak ingin tahu?” tegur Ciu Hong heran.

“Jika itu merupakan rahasia orang lain, meski kuingin tahu, kukira tidak pantas kutanya lebih jauh,” sahut Po-ji.

Ciu Hong tersenyum, “Ehm, anak baik ….”

Waktu ia berpaling, dilihatnya Gu Thi-wah sedang memandang ke sana dengan termangu, ia coba ikut memandang ke arah yang diperhatikan Thi-wah, terlihatlah pertarungan sengit yang menggetar sukma.

Meski sehari-hari Thi-wah tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu urusan, tapi sekarang ia justru memandang terkesima akan pertarungan itu, walaupun kelakuan Thi-wah masih kekanak-kanakan, namun sekarang ia kelihatan khidmat dan prihatin, ini menandakan anak lugu seperti dia juga gemar dan dapat memahami ilmu silat yang lebih mendalam.

Kiranya selagi Ciu Hong bicara dengan Po-ji, akhirnya Ong-toanio dan Ong Poan-gong juga telah saling gebrak, terlihat dua bayangan orang, yang satu diam dan yang lain bergerak.

Bayangan yang diam itu tegak serupa gunung yang kukuh, juga seperti tiang baja yang terpancang di tengah arus air yang deras, menghadapi gempuran apa pun tetap bergeming.

Sedang bayangan yang bergerak itu justru melayang kian kemari serupa burung terbang dan seperti kupu-kupu menari di atas bunga, gerak-geriknya aneh, tiada seorang pun dapat meraba ke mana arah gerakannya.

Yang paling aneh adalah bayangan orang yang diam saja itu justru adalah Ong Poan-hiap dan bayangan yang bergerak adalah Ong-toanio yang buntung.

Kedua tangan Ong-toanio kelihatan memegang sepotong tongkat pendek warna hitam, tongkat digunakan sebagai kaki dan dapat berputar secepat terbang, bila tongkat kanan menahan di tanah, tongkat kiri lantas digunakan menyerang dan begitu pula sebaliknya. Bedanya serangan tongkat kanan cepat dan ganas, sedang tongkat kiri gesit dan lincah. Sungguh kungfu yang istimewa dari seorang cacat badan yang tidak ada bandingannya.

Hendaklah maklum, setiap jenis ilmu silat, gerak perubahannya berpangkal pada kekuatan anggota badan. Tapi sekarang karena kedua kaki Ong-toanio sudah buntung, gerak tubuhnya harus mengandalkan dukungan anggota tubuh bagian atas untuk membantu gerakan paha dan dengkul.

Dan karena kakinya buntung, jarak lingkup pertahanannya juga tambah sempit, karena itu juga lebih hemat tenaga.

Yang sukar dibayangkan adalah entah cara bagaimana Ong-toanio dapat meyakinkan kungfu sehebat ini, betapa susah payah yang ditempuhnya sungguh sukar dimengerti dan membuat orang heran dan kagum pula.

Untuk melayani kungfu aneh ini, dengan sendirinya Ong Poan-gong harus lebih banyak menggunakan tenaga dan pikiran daripada menghadapi lawan biasa. Sekarang ia gunakan diam untuk menghadapi gerak, nyata ia pun dapat menemukan cara yang paling tepat.

Tapi meski dia diam saja tanpa bergerak, setiap jurus serangannya tetap membawa sifat latah, ada jurus serangan yang biasanya tidak berani digunakan orang, Ong Poan-gong justru berani menggunakannya.

Begitulah kedua orang terus serang-menyerang dengan sengit. Anak murid Kay-pang menonton di sekeliling mereka, semuanya ikut berdebar-debar dan merasa prihatin. Kawanan gadis itu berlagak tak acuh dan sembari bersenda gurau pula, tapi sebenarnya mereka pun kebat-kebit menyaksikan pertarungan seru itu.

Di sebelah sana Thi-wah bergumam sendiri, “Keparat, entah cara bagaimana perempuan itu meyakinkan kungfu setinggi itu, begitu pula orang tua itu. Jika aku dapat menguasai kungfu sehebat itu, mati pun aku rela.”

Ciu Hong tersenyum dan berucap, “Di dunia ini tidak ada urusan sulit, soalnya cuma tekad orangnya saja ….”

Dia seperti bicara terhadap Thi-wah, namun pandangannya tertuju ke arah Po-ji.

Anak itu juga sedang memerhatikan pertarungan yang mendebarkan itu dengan sinar mata berkelip terang.

“Po-ji, apakah dapat kau lihat di mana letak kehebatan kungfu kedua orang itu?” tanya Ciu Hong.

Po-ji berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Meski Ong-toasiok diam saja, namun setiap jurus serangannya membawa sifat latah yang mendesak dan sukar dibandingi siapa pun. Sebaliknya gerak tubuh Ong-toanio enteng dan lincah, meski jurus serangannya sangat gencar, namun membawa gaya lunak ….”

“Betul,” potong Ciu Hong sambil mengangguk. “Kungfu Ong Poan-gong memang diperoleh berkat pembawaannya, sebaliknya sebagian besar kungfu Ong-toanio berkat latihan … lalu apa lagi?”

Po-ji berkedip-kedip, katanya pula, “Jurus serangan tangan kiri Ong-toanio gesit dan lincah, serangan tangan kanan keras dan kuat, tampaknya dia menggunakan tangan kanan sebagai serangan utama, tapi … dari suara yang timbul waktu tongkatnya menyentuh tanah, suara tongkat kiri lebih berat daripada suara tongkat kanan, jelas hal ini disebabkan tongkatnya yang sebelah kiri jauh lebih berat daripada tongkat kanan ….”

Ia seperti berusaha menemukan istilah yang tepat sehingga merandek sejenak, lalu menyambung lagi, “Ia gunakan tongkat yang lebih berat untuk melancarkan serangan yang gesit, sebaliknya menggunakan tongkat ringan untuk menyerang dengan jurus maut, jelas dia sengaja hendak mengelabui pandangan lawan, padahal daya serangnya yang utama terletak pada tongkat yang kiri, tongkat kanan hanya untuk kembangan saja, cuma sayang … sayang hal ini belum dapat dilihat oleh paman Ong.”

Mau tak mau Ciu Hong menampilkan rasa heran, ucapnya, “Tidak nyana anak sekecil dirimu, juga tidak mahir ilmu silat, tapi dapat kau lihat sebab musababnya yang tidak dapat dilihat Ong Poan-gong, sungguh kecerdasanmu harus dipuji.”

“Apa yang kuketahui ini kan kupelajari dari Loyacu,” ujar Po-ji.

“Dan sekarang tentunya kau tahu juga, sama-sama satu urusan, bilamana diperhatikan secara sungguh-sungguh dan tidak, kan sangat besar bedanya?” kata Ciu Hong dengan tersenyum.

Po-ji mengiakan.

“Baik, sekarang marilah kita pergi,” kata Ciu Hong.

Melengak Po-ji, ucapnya, “Tapi … tapi kalah menang mereka belum lagi ketahuan ….”

“Sekalipun dapat kita lihat kalah menang mereka, lalu mau apa?” sela Ciu Hong. “Melulu tenaga kita kan juga tidak mampu membantunya.”

“Tapi ….”

“Sebelum Ci-ih-hou meninggal, dia serupa saka guru dunia persilatan, segala macam huru-hara dunia Kangouw dapat diatasinya, ia disegani dan dihormati orang. Namun sekarang tokoh utama ini sudah meninggal, orang-orang yang dulu menghilang mulai bergerak lagi, belum si jago pedang baju putih itu pun akan muncul pula tujuh tahun kemudian, bayangan gelap kini meliputi seluruh dunia persilatan dan membuat perasaan tidak tenteram. Selama tujuh tahun ini pasti akan terjadi kekacauan yang luar biasa, bilamana kita ikut terseret ke dalam kekacauan itu, rasanya sama sekali tidak bermanfaat dan cuma akan mengorbankan diri sendiri saja. Sebab itulah kuharapkan sepanjang jalan hendaknya kau lebih banyak menggunakan mata dan sedikit memakai tangan.”

Sementara itu pertarungan Ong-toanio dan Ong Poan-hiap masih terus berlangsung dengan sengit. Ketika galah Ciu Hong menolak, kapal kotak itu meluncur beberapa tombak jauhnya, rupanya orang tua yang misterius ini ternyata cukup menguasai kehidupan di perairan dan tidak kalah daripada Gu Thi-wah.

Po-ji coba merenungkan uraian Ciu Hong tadi, ia merasa persoalannya cukup rumit, ia menghela napas dan tidak bicara lagi.

Sebaliknya Gu Thi-wah masih mengomel karena tidak rela meninggalkan tempat ini, tapi demi melihat Po-ji sudah menurut, terpaksa ia tidak berani bersuara lagi, hanya berulang-ulang ia masih menoleh, mengikuti pertarungan di sana.

Jarak kedua tempat makin jauh dan akhirnya tidak jelas terlihat lagi, mendadak segumpal asap tebal berwarna membanjir ke arah mereka, makin lama makin tebal asap itu sehingga bumi seakan-akan tertutup seluruhnya.

Akhirnya Po-ji dan Thi-wah tidak dapat melihat apa pun kecuali asap berwarna itu. Perasaan Po-ji sangat tertekan, ia menunduk tanpa suara.

Sebaliknya Thi-wah masih terus menggerundel, “Mestinya kita tidak perlu pergi, kan menarik tontonan yang seru itu. Betul tidak, Toako?”

“Setelah kau lihat tontonan itu, mungkin kau pun tidak dapat pergi lagi,” jengek Ciu Hong.

“Sebab apa?” tanya Thi-wah.

“Memangnya kalian mengira mereka tidak tahu kehadiran kita di sana?” kata Ciu Hong. “Soalnya mereka sendiri lagi repot sehingga tidak sempat mengurus kita. Sebabnya kubiarkan kalian melihat pertarungan mereka hanya supaya kalian tambah pengalaman. Mengenai bagaimana kesudahan urusan mereka nanti, begitu Ong-toanio muncul segera kutahu.”

“Oo, Loyacu sudah tahu akhir dari sengketa mereka itu nanti?” Po-ji menegas dengan heran. “Memangnya Loyacu dapat nujum? Sungguh aku ingin tahu bagaimana akhir urusan mereka?”

“Ong Poan-gong pasti kalah dan Ong-toanio pasti menjadi Pangcu Kay-pang,” jawab Ciu Hong.

“Apa benar?” Po-ji menegas dengan terperanjat. “Sebab apa?”

“Apakah dapat kau terka siapa Ong-toanio sebenarnya?” tanya Ciu Hong.

Po-ji termenung sejenak, lalu menggeleng tanpa bersuara.

Sebaliknya Thi-wah lantas berteriak, “Ong-toanio ialah Ong-toanio, kenapa ditanyakan?”

Ciu Hong tidak menggubrisnya, katanya pula, “Ong-toanio ini tak lain tak bukan adalah istri kawin Ong Poan-hiap alias Ong Poan-gong, dahulu namanya terkenal sebagai Go So dengan julukan ‘Hou-li’ (si Perempuan Rase).”

“Hah, dia … dia istrinya?” seru Po-ji kaget.

“Betul,” jawab Ciu Hong. “Go So pada waktu dulu adalah perempuan binal terkenal di dunia persilatan, sedang Ong Poan-hiap adalah jago muda yang baru menonjol di dunia Kangouw, ketika mereka mendadak kawin, hal ini pernah terjadi kegemparan di dunia persilatan. Kebanyakan tokoh Kangouw waktu itu sama merasa sayang bagi Ong Poan-hiap, hanya aku saja yang berpendapat lain, sebab sudah kuketahui kemunafikan Ong Poan-hiap, berkat kepandaiannya yang khas, yaitu bicara dengan perut, mata telinga orang dapat dikibulinya. Meski dia dianggap tokoh kosen setengah pendekar dan setengah latah, yang benar dia seorang jahat, licik dan munafik.”

“Tapi … tapi selama berpuluh tahun konon dia memang suka berbuat hal-hal yang bajik, namanya juga tidak pernah tercemar, tentunya Loyacu cukup mengetahuinya,” ujar Po-ji.

“Hanya bagian luar saja orang ini berbuat baik, yang benar segala sesuatu ia lakukan demi kepentingan pribadi,” jengek Ciu Hong. “Misalkan sekarang, karena urusan si jago pedang baju putih dia kelihatan mondar-mandir dengan giat, tampaknya dia ingin menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka, padahal sejauh ini ia sendiri merasa takut terhadap Ci-ih-hou, banyak urusan yang tidak berani dilakukannya karena khawatir diketahui Ci-ih-hou. Sekali ini dia justru ingin memperalat si jago pedang baju putih itu untuk melenyapkan Ci-ih-hou.”

“Masa betul begitu?” Po-ji menegas.

“Kenapa tidak betul?” jawab Ciu Hong. “Belasan tahun yang lalu Go So pernah menggerayangi istana raja Hunlam dan bermaksud mencuri resep obat putih yang sangat terkenal mujarab itu. Kebetulan saat itu Thi-kiam-siansing dari Tiam-jong-pay juga bertamu di istana, dengan ilmu pedangnya yang lihai kedua kaki Go So tertebas buntung dan melemparnya ke jurang, sejak itu orang Kangouw sama mengira Go So sudah mati dan Ong Poan-hiap tentu akan menuntut balas terhadap Thi-kiam-siansing, siapa tahu Ong Poan-hiap justru menyiarkan berita, katanya kelakuan Go So memang tidak baik, apa yang dilakukannya tidak ada sangkut pautnya dengan dia, ia malah berterima kasih kepada Thi-kiam-siansing yang telah menumpas kejahatan bagi dunia persilatan itu.”

“Wah, tak tersangka dia … dia berhati sekeji itu,” kata Po-ji.

“Orang keji serupa dia memang jarang ada,” tukas Ciu Hong. “Tapi di dunia Kangouw justru banyak manusia yang sok mengaku terhormat berbalik memuji keluhuran budi Ong Poan-hiap, katanya dia lelaki yang jarang ada bandingannya, dapat membedakan antara yang benar dan salah tanpa membela orang sendiri. Karena itu, seterusnya namanya tambah cemerlang, seumpama dia berbuat sesuatu kesalahan juga orang menganggap itulah kelatahannya, dan tidak ada sangkut paut dengan kependekarannya.

“Namun selama Ci-ih-hou masih hidup, selama itu pula Ong Poan-hiap tidak berani sembarangan berbuat. Sekarang Ci-ih-hou sudah mati, sudah kuperhitungkan pasti akan timbul intrik tertentu Ong Poan-hiap, tapi tidak terduga bahwa Go So ternyata belum mati, tapi dengan nama Ong-toanio malah muncul untuk bersekongkol dengan Ong Poan-hiap untuk rebut kedudukan Pangcu Kay-pang.”

Po-ji sampai menahan napas mendengarkan cerita itu, selang sejenak barulah ia berucap dengan menyesal, “Ah, kiranya mereka bersekongkol. Pantas sekaligus Ong Poan-hiap menutuk puluhan tempat Hiat-to Ong-toanio dan tetap nyonya itu tidak mengalami cedera apa pun, tadinya kusangka kungfu Ong-toanio yang terlampau hebat, rupanya mereka sudah berkomplot dan apa yang diperbuat mereka hanya sandiwara belaka.”

Ia berhenti sejenak, lalu ia menambahkan, “Begitu licik dan jahat Ong Poan-hiap, setelah tahu perbuatannya, apakah kita menyaksikan saja berlangsungnya intrik kejinya itu?”

“Banyak urusan tidak adil di dunia ini, hanya tenaga kita saja dapat berbuat apa?” dengus Ciu Hong. “Memangnya mau apa kalau tidak cuma melihat apa adanya saja?”

“Kita kan dapat membongkar tipu muslihatnya?” ujar Po-ji.

“Keterangan anak sekecil dirimu siapa yang mau percaya,” sahut Ciu Hong. “Apalagi nama kebesaran Ong Poan-hiap saat ini sedang gilang-gemilang, jika kau bermaksud membongkar intriknya kan serupa capung hinggap di pilar, mana dapat membuatnya bergerak sedikit pun? Mungkin sebelum selesai kau beri keterangan kau sudah dipukul mati orang tanpa dia turun tangan sendiri.”

Muka Po-ji merah padam menahan gusar, tangan terkepal erat, tapi tidak dapat bicara lagi.

“Jika kau ingin ikut campur urusan orang lain, ingin orang lain tunduk kepada ucapanmu, untuk itu kau harus menguasai dulu ilmu silat yang paling tinggi agar orang sama menghormat dan segan padamu,” tutur Ciu Hong. “Dan kau sendiri jika ingin menguasai kungfu yang tinggi, pertama harus bercita-cita dan bertekad bulat untuk itu, dengan perkataan lain kau harus mengesampingkan segala urusan lain, kemudian baru dapat menggunakan kepandaianmu itu untuk ikut campur segala ketidakadilan di dunia ini.”

Po-ji berkedip-kedip, katanya tiba-tiba, “Untuk meyakinkan ilmu silat yang mahatinggi kan juga diperlukan guru yang mahapandai. Dalam pandanganku memang ada seorang guru yang mahahebat, entah Loyacu sudi membantuku untuk menemukan beliau atau tidak?”

Kedua matanya terpentang lebar dan gemerdep, ia tatap Ciu Hong dengan sorot mata tajam.

Ciu Hong memandangnya sekejap, ucapnya perlahan, “Siapa yang bisa lebih besar dibandingkan langit dan bumi, siapa yang bisa lebih kuat daripada segala benda di jagat ini? Siapa pun yang bisa tahu lebih banyak daripada setiap perubahan alam? Maka bumi dan langit dengan segala bendanya serta perubahan alam itulah merupakan gurumu yang paling baik, memangnya siapa pula yang akan kau cari?”

Sambil menatap wajah orang tua itu, perlahan Po-ji bertanya, “Timbul tanda tanya dalam benakku, mungkinkah Loyacu sendiri adalah calon guruku mahahebat yang kubayangkan itu?”

Ciu Hong tersenyum dan tidak menanggapi.

Bola mata Po-ji berputar, katanya pula, “Kukira, bilamana aku adalah tokoh kosen masa lampau, agar jejakku tidak diketahui orang dan harus mengundurkan diri pula dari dunia ramai, maka aku pasti takkan mengasingkan diri di hutan sunyi atau di pegunungan terpencil, sebab selalu akan kesepian, juga mudah ditemukan orang, maka aku lebih suka menyamar dan ganti rupa serta mencampurkan diri di tengah khalayak ramai, bahkan akan sengaja menyaru sebagai seorang penipu yang dibenci orang. Sebab seorang penipu menyamar sebagai tokoh persilatan juga kejadian biasa, namun juga mudah terbongkar kedoknya, sebaliknya tokoh persilatan menyaru sebagai penipu, inilah yang tidak pernah terjadi di dunia Kangouw, dan orang lain mimpi pun takkan menyangka akan hal ini.

“Sungguh anak yang pintar,” ucap Ciu Hong sambil tertawa menengadah. Ia tetap tidak menyangkal atau membenarkan pertanyaan Po-ji tadi, tapi sengaja tertawa untuk menutupi perubahan air mukanya.

Po-ji tidak berhenti sampai di situ, ia coba mendesak lagi, “Jika demikian halnya, entah Loyacu sudi menceritakan kisah sendiri masa lampau kepada Po-ji atau tidak?”

“Kisah masa lampau? …. Ah, sudah lama kulupa,” ucap Ciu Hong.

“Benar sudah lupa?” Po-ji menegas.

Ciu Hong memandang jauh ke awang-awang, sahutnya perlahan, “Ya, sudah lupa …. Kau tahu betapa bagus ingat terhadap sesuatu, melupakan sesuatu terlebih baik pula. Hanya saja, ada sementara urusan meski orang ingin melupakannya, namun justru sulit untuk melupakannya.”

Kapal kotak mereka itu tampaknya jelek dan lamban, namun sebenarnya enteng dan gesit, meski berlayar menempuh arus, satu hari juga dapat menempuh ratusan li. Malamnya mereka berlabuh di suatu tempat tambangan yang tidak dikenal namanya.

Waktu meninggalkan rumah Thi-wah, Po-ji telah membawa kertas dan alat tulis, setelah Ciu Hong dan Thi-wah sama tidur, perlahan Po-ji bangun, ia mengasah tinta dia membentang kertas ia asyik menulis hingga belasan helai kertas namun setiap helai yang tertulis ternyata serupa, yaitu “Ong-toanio adalah Hou-li Go So”.

Dengan tergesa-gesa ia menulis sekian banyak, lalu perlahan menyelinap ke anjungan sana, ditemukannya belasan botol arak yang kosong, itulah bekas botol arak yang disiapkan ibu Thi-wah bagi Ciu Hong.

Ia jejalkan kertas yang ditulisnya itu ke dalam setiap botol kosong itu, sumbat botol ditutup rapat dan diikat lagi dengan kain. Habis itu ia menghela napas lega, ia menengadah dan berdoa, “Semoga botol-botol ini ada sebagian jatuh ke tangan orang Kangouw yang berhati baik sehingga rahasia Ong-toanio diketahui umum, supaya maksud keji orang jahat selekasnya terbongkar.”

Setelah berdoa, ia lemparkan botol kosong itu ke sungai. Arus sungai yang bergolak tanpa kenal siang dan malam itu menghanyutkan berpuluh botol kosong itu entah ke mana.

Memandangi arus yang bergerak tiada hentinya itu, wajah Po-ji tersembul senyuman puas, gumamnya, “Meski apa yang kukatakan mungkin tidak dipercaya orang lain, tapi dengan demikian urusan mungkin akan berubah. Bila tulisan dalam botol itu dilihat orang, tentu mereka akan tertarik dan merasakan sesuatu yang misterius, dan biasanya terhadap sesuatu yang misterius orang suka mencari tahu sejelas-jelasnya.”

Dengan membawa senyuman kemudian ia tidur lagi, hanya sebentar saja ia sudah lelap. Tidak diketahuinya beberapa botol itu kelak akan menimbulkan gelombang mahabesar di dunia Kangouw ….

*****

Air sungai masih terus mengalir, suasana sudah banyak berubah. Kapal kotak itu semakin tua, namun Po-ji justru semakin tumbuh besar.

Dalam sekejap, tanpa terasa setengah tahun sudah lalu.

Meski setengah tahun bukan waktu yang lama, namun dalam setengah tahun ini jelas ada perubahan nyata pada diri Po-ji.

Ditiup angin, ditimpa sinar matahari yang terik, di bawah hujan lebat, menangkap ikan dan berbagai pekerjaan sehari-hari, kehidupan di perairan harus giat dan menderita, semua gemblengan kehidupan demikian telah membuat perawakan Po-ji bertambah kukuh dan kuat. Tubuhnya tumbuh tinggi besar, kulit badannya kehitaman terjemur terik matahari.

Terkadang bilamana bercermin air sungai, ia sendiri pun pangling pada diri sendiri.

Selama setengah tahun ini telah sering ia menyaksikan pertarungan sengit tokoh dunia persilatan, juga banyak melihat perbuatan keji dan culas orang Kangouw yang suka menipu dan dusta.

Terhadap urusan duniawi kini dia sudah lebih mengerti, dan yang paling menarik baginya tetap mengenai perubahan alami.

Terkadang ia suka memandang air sungai yang mengalir tanpa berhenti itu dengan termenung-menung, memandangi gerak pohon yang tertiup angin, melihat bintang di langit, memandang awan yang berarak …. Bilamana ia termenung memandangi semua itu bisa berjam-jam tanpa bicara dan tidak bergerak.

Lalu Ciu Hong akan tanya padanya, “Dari macam-macam perubahan alami itu, sesungguhnya kau mendapat penemuan apa?”

Bola mata anak itu serentak mencorong terang, sebab dari berbagai perubahan alami itu memang telah banyak ditemukan kebenaran dan adanya sesuatu, samar-samar dapat ditemukan pula arti sejati ilmu silat, namun dia belum lagi merasa puas.

Selama setengah tahun itu pun terjadi perubahan atas diri Gu Thi-wah, tubuhnya yang memang kuat bertambah kekar dan sekeras baja. Selama itu ia pun seperti keranjingan ilmu silat.

Pada siang hari bila ia melihat sesuatu pertandingan antara tokoh dunia persilatan, maka dari berbagai jurus serangan yang hebat itu lantas diingatnya dengan baik. Malamnya, sendirian ia lantas menyingkir ke tempat sepi untuk berlatih. Orang lain cuma mendengar suaranya, waktu pulang sekujur badannya basah kuyup air keringat.

Namun sesungguhnya berapa banyak ia dapat mengingat jurus serangan yang pernah dilihatnya dan berapa banyak yang dapat dipelajarinya? Orang lain tidak tanya, dia juga tidak menerangkan.

Terkadang ia pun suka menengadah dan merenung sampai sekian lama diseling senyum seperti orang sinting. Acap kali ia suka komat-kamit sendiri, sering pula pada waktu makan ia bisa mendadak melompat bangun dan berlari keluar, lalu giat berlatih.

Orang yang tidak berubah hanyalah Ciu Hong.

Ia masih tetap minum arak tanpa bosan, sering berdendang sendiri, sering pula bicara hal-hal yang sukar dimengerti orang. Tapi bila dipikirkan dengan cermat, apa yang dibicarakan memang sangat luas artinya.

Ia tetap tidak mau bicara mengenai riwayat sendiri, terkadang ia masih berbuat sesuatu yang tidak dibenarkan, misalnya dusta dan menipu.

Bilamana perbekalan mereka sudah habis, duit juga sudah tidak ada, atau kapal mereka perlu diperbaiki, maka dia akan pergi ke salah satu kota yang berdekatan. Pulangnya tentu dia membawa segala keperluan dan berbau arak, saku pun penuh duit.

Bila Po-ji tanya dia semua itu diperoleh dari mana, maka Ciu Hong akan menjawab terus terang, yaitu hasil menipu.

Tapi pernah juga terjadi pulangnya tidak membawa sesuatu, sebaliknya dia dikejar orang dan diteriaki sebagai maling dan hendak dihajar.

Dalam keadaan kepepet, segera dia melompat ke atas kapal kotak dan cepat diluncurkan …. Keadaan demikian persis seperti apa yang pertama kali dia dilihat Po-ji.

Namun apa pun juga yang diperbuatnya, Po-ji tetap menghormati orang tua itu.

Hari ini cuaca cerah, tanpa terasa kapal mereka berlayar sampai di dekat Wi-ho-lau atau Loteng Bangau Kuning, suatu tempat tamasya yang sangat terkenal.

Akan tetapi hari ini Wi-ho-lau bukan lagi tempat tamasya yang santai, sebab sekarang tempat ini berjubel dengan beratus orang, semuanya gagah tangkas, semuanya orang dunia persilatan.

Dari kapalnya yang masih jauh Ciu Hong bertiga sudah dapat melihat suasana di Wi-ho-lau ini. Thi-wah lantas berkeplok tertawa dan berkata, “Aha, bagus, tampaknya sebentar ada lagi tontonan yang menarik.”

“Ya, mungkin selanjutnya akan banyak jurus serangan bagus dapat kau pelajari lagi,” tukas Po-ji dengan tertawa.

“Dan kau sendiri bagaimana?” tanya Ciu Hong dengan tersenyum. “Apakah jurus serangan orang tidak pernah kau ingat-ingat?”

“Tentu saja kuingat dengan baik,” jawab Po-ji.

“Bagus,” Ciu Hong mengangguk. “Jurus serangan orang harus kau ingat, habis itu kalau terlupa lagi tentu tidak menjadi soal daripada tidak pernah ingat sesuatu.”

Hati Po-ji tergerak pula, belum lagi ia bicara, terlihat sebuah kapal besar mewah berlayar tiba, dari anjungan kapal terdengar suara tertawa riuh ramai, jelas penumpangnya sedang bersuka ria.

Kapal kotak yang ditumpangi Po-ji itu bila dibandingkan kapal layar besar mewah ini sungguh seperti langit dan bumi bedanya, segera Thi-wah mengomel, “Keparat, penumpang kapal itu entah hartawan atau pembesar macam apa, padahal isi perut mereka kan juga serupa dengan isi perut Gu Thi-wah ini.”

Ketika kedua kapal berpapasan, tiba-tiba dari anjungan kapal itu terjulur sebuah kepala dan meludah ke sungai, lalu sebuah tangan yang putih bersih dan pakai gelang kemala menyodorkan sebuah saputangan kepada peludah itu, setelah mengusap muka, orang itu mengomel dengan kening bekernyit, “Sialan, mengapa air sungai ini tambah lama tambah kotor saja.”

Mendadak Ciu Hong juga memaki, “Huh, justru orang sialan semacam dirimu ini terlampau banyak, suka meludah ke sungai, mengapa air sungai yang kau salahkan malah?”

Dengan gusar orang itu balas memaki, “Kurang ajar, siapa itu berani ….”

Sekilas pandang mengenali Ciu Hong, segera ia terbahak-bahak dan berseru, “Aha, kukira siapa, tak tersangka Ciu-heng adanya. Selamat bertemu kembali, ayo lekas naik kemari, biar kita minum beberapa cawan bersama.”

Ternyata penumpang kapal mewah ini bukan lain daripada Pek-ma-ciangkun Li Beng-sing.

Segera Ciu Hong merapatkan kapal kotak dan menambatnya di samping kapal mewah itu, ia bawa Po-ji dan Thi-wah ke atas kapal orang. Dengan baju yang perlente dan kopiah berhias mutiara Li Beng-sing sendiri menyambut kedatangan mereka.

Ternyata pajangan di dalam kapal juga sangat mewah, penuh barang antik dan benda mestika.

Beberapa anak dara bersolek berlebihan tampak sedang memetik kecapi dan main seruling, ada yang sedang menyisir kuaci dan sebagian lagi bersenda gurau, ketika melihat seorang tua, seorang bocah gede dan seorang lagi anak tanggung yang aneh dibawa masuk Li Beng-sing dengan penuh hormat, kawanan gadis itu sama melongo heran.

Setelah memandang kawanan gadis itu sekejap dengan suara lantang Li Beng-sing berseru, “Ini Ciu-loyacu, hartawan terbesar di daerah Kanglam, hanya perangainya agak aneh, suka pesiar dalam samaran sebagai orang miskin ….”

Belum habis uraiannya, serentak kawanan gadis itu sama berdiri dan memburu maju dengan tertawa riuh, ada yang langsung merangkul pinggang Ciu Hong, ada yang merangkul lehernya, ada pula yang mengangkat Ciu Hong dan didudukkan di kursi, cepat ada yang menuangkan teh dan arak, sebagian lagi memijatnya, diberinya pelayanan kelas utama.

Tanpa sungkan Ciu Hong menerima pelayanan itu, Thi-wah juga tidak permisi lagi, ia ambil tempat duduk terus makan minum sendiri.

Li Beng-sing menepuk bahu Po-ji dan tanya padanya dengan tertawa, “Baik-baik, adik cilik?”

Melihat baju orang yang perlente dan wajah terang, kelihatan tambah gagah perkasa, dengan tertawa Po-ji menjawab, “Meski lariku lambat, untung tidak sampai mati terbakar.”

Li Beng-sing tergelak dan tidak berani banyak tanya lagi, ia coba duduk di depan Ciu Hong dan mengajak bicara lagi, “Selama setengah tahun apa saja yang dikerjakan Ciu-heng?”

“Kerja apa?” sahut Ciu Hong. “Hanya terluntang-lantung kian kemari, tentu jauh dibandingkan Li-heng.”

“Ah, masa?” kata Li Beng-sing dengan tertawa. Tiba-tiba ia mendesis perlahan, “Eh, konon Pui-kongcu ini sekali ini membawa dua juta tahil perak sebagai biaya perjalanan untuk menambah pengalaman, entah mengapa Ciu-heng dapat seperjalanan dengan dia….”

Belum habis ucapannya, kembali kawanan gadis tadi berlari mengerumuni Pui Po-ji, ada yang mencium pipinya, ada yang memegang tangannya, semuanya menyanjung puji, “Ai, mengapa adik cilik ini sedemikian cakapnya?”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: