Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan (07)

Filed under: Gu Long, Kisah Pengelana di Kota Perbatasan — Tags: — ceritasilat @ 9:55 am

Kisah Pengelana di Kota Perbatasan
Bab 07. Awan Gelap, Langit Kelam
Oleh Gu Long

Jendela baru saja ditutup, tidak ada cahaya setitikpun di ruangan.

Butiran air hujan berjatuhan di atap dan daun jendela menimbulkan suara seperti genderang perang dan derap kaki kuda dipeperangan.

Ye Kai duduk sambil bermalas-malasan dengan dua kakinya terjulur lurus. Dia menatap kearah sepasang sepatunya dan menghela napas,” Sungguh sangat keras kehidupan di luar sana.”

Xiao Bie Li dengan hati-hati mengangkat kartunya yang terakhir dari atas meja, matanya tercekat selama beberapa saat. Akhirnya, di menoleh ke arah Ye Kai sambil tersenyum dia berkata,” Sangat jarang sekali hujan di daerah sini.”

“Itu sebabnya saat hujan, maka deras sekali.” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Li menganggukan kepalanya sepertinya dia sedang mendengarkan suara hujan lebat di luar. Dia menghela napas dan berkata,” Hujan turun tidak pada saat yang tepat.”

“Kenapa begitu?” Ye Kai berkata.

“Karena mereka biasanya sebulan sekali turun ke kota untuk membeli bahan pakaian, bordir dan minyak wangi.” Xiao Bie Li berkata.

“Mereka? Siapa mereka?” Ye Kai berkata.

Sekilar senyum terhambur dari wajah Xiao Bie Li, dan dia menjawab,” Baiklah, diantara mereka ada seseorang yang ingin engkau lihat.”

Ye Kai mengerti maksud ucapannya dan berkata,” Bagaimana engkau tahu kalau aku ingin melihatnya?”

“Aku dapat mengetahuinya.”Xiao Bie Li berkata.

“Bagaimana engkau mengetahuinya?” Ye Kai berkata.

Xiao Bie Lie menatap kartu ditangannya dan perlahan-lahan menjawab,” Bahkan meskipun engkau tidak mempercayainya, aku dapat melihat banyak hal melalui kartu-kartu ini.”

“Apa lagi yang engkau lihat?” Ye Kai berkata.

“Aku melihat awan yang gelap dan kelam menutupi seluruh Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Sebuah golok terlihat di tengah, tetesan darah turun perlahan-lahan dari ujungnya …” Xia Bie Li berkata.

Dia tiba tiba mengangkat kepalanya dan menatap Ye Kai,” Apakah sesuatu yang menyeramkan terjadi di Gedung Sepuluh Ribu Kuda semalam?”

Ye Kai menatap balik sesaat sebelum dia menjawab,” Engkau seharusnya beralih profesi menjadi tukang ramal.”

Xiao Bie Lie menarik napas dan berkata,” Namun yang aku pernah lihat adalah ketidakberuntungan, jarang sekali aku melihat suatu hal yang baik atau kebahagiaan.”

“Apakah ….. apakah engkau pernah melihat masa depanku?” Ye Kai berkata.

“Apakah engkau ingin tahu yang sebenarnya?” Xiao Bie Li berkata.

“Tentu saja.” Ye Kai menjawab.

Tatapan mata Xiao Bie Li tiba-tiba menjadi kosong, tatapan matanya beralih ke suatu hal yang jauh. “Awan gelap beriring di atas kepalamu, nampaknya hidupmu akan dipenuhi oleh kesengsaraan.”

“Apakah aku terlihat seperti seseorang yang membiarkan hal itu terjadi pada diriku?” Ye Kai berkata.

“Baiklah, semua kesulitan itu tidak harus menjadi milikmu saja. Karena nampaknya sepanjang hidupmu, engkau akan mengkhawatirkan orang-orang disekitarmu. Dan itu sudah menjadi nasibmu yang tidak dapat dihindarkan.” Xiao Bie Lie berkata.

“Apakah engkau melihat golok di tengah-tengah awan gelap itu juga?” Ye Kai berkata sambil bergurau.

“Karena hidupmu akan dipenuhi oleh orang-orang yang penting, engkau dapat mengatasi semua kesulitan yang menuju kearahmu.” Xiao Bie Lie berkata.

“Orang-orang penting?” Ye Kai berkata.

“Seperti orang-orang tersebut yang perhatian kepadamu dan bersedia memberikan pertolongan kepadamu, misalnya …” Xiao Bie Li berkata.

“Sepertimu?” Ye Kai menginterupsi.

Xiao Bie Li tertawa lebar dan menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab,” Orang-orang penting disekitarmu hampir semuanya perempuan. Misalnya, perempuan seperti Cui Nong!”

Dia memandang ke arah hiasan mutiara berbentuk bunga yang menempel di baju Ye Kai dan berkata,” Dia menunggumu semalaman tadi malam, kenapa engkau belum juga pergi menemuinya?”

“Saat emas di atas tempat tidur telah habis, maka seorang pelajar telah kehilangan kejayaannya. Cepat atau lambat toh aku akan ditendang keluar, kenapa juga aku tidak masuk saja untuk yang pertama?” Ye Kai berkata.

“Engkau salah.” Xiao Bie Li berkata.

“Oh?” Ye Kai kaget.

“Tidak semua gadis materialistis.”Xiao Bie Li berkata.

“Tapi aku berpikir aku lebih baik memperolehnya dengan cara itu.” Ye Kai menjawab.

“Mengapa begitu?” Xiao Bie Li berkata.

“Baiklah, karena dengan begitu tidak ada kewajiban dan ikatan, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ye Kai berkata.

“Jadi engkau berpendapat selama tidak ada cinta, maka tidak ada yang harus dikhawatirkan.” Ye Kai berkata.

“Tepat sekali.” Ye Kai menjawab.

” Aku rasa engkau salah mengenai hal itu. Bila seseorang menjalani hidup tanpa rasa khawatir di dunia ini, maka hidupnya pasti tidak menarik lagi.” Xiao Bie Li.

“Baiklah, aku dapat tinggal disini dengan damai selama yang aku inginkan, hingga suatu saat tempat ini tidak menerima tamu lagi.”Ye Kai berkata.

“Engkau pengecualian. Engkau dapat datang dan pergi kapan saja sesukamu, namun aku …”Xiao Bie Li berkata.

Dia menghela napas dan dilanjutkan dengan tersenyum, “Aku semakin tua, aku tidak dapat hidup selama hingga saat ini. Saat aku tidur pada waktu malam, aku merasa seluruh tubuhku menjadi kaku.”

“Namun saat ini engkau masih terjaga.” Ye Kai berkata.

“Orang tua tidak pernah tidur terlalu lama, karena mereka tahu sisa hidup mereka di dunia ini tidak banyak lagi. Oleh karena itu aku selalu menjadi burung hantu.” Xiao Bie Li berkata.

Dia mengambil tongkat di samping kursinya, memasangnya di ketiaknya, dan perlahan-lahan bangkit berdiri.

“Kelihatannya hujan sudah berhenti, mungkin engaku sudah dapat melihatnya.” Xiao Bie Li berkata sambil perlahan-lahan dia berjalan melangkah ke atas melalui tangga.

Saat dia naik ke atas, Ye Kai memperhatikan bagian bawah bajunya berkibar. Kedua kakinya buntung hingga lututnya.

Bagaimana caranya hingga kakinya buntung? Dan apa sebabnya?

Setiap orang dapat mengatakan bahwa dia bukan orang yang biasa. Bagaimana mungkin dia berakhir seperti ini di kota perbatasan menjalankan bisnis gelap ini?

Apakah dia bersembunyi dari masa lalunya? Apakah dia benar-benar memiliki kemampuan untuk meramal semua bencana yang akan menimpa orang lain?

Ye Kai terbenam dalam pikirannya. Dia melihat pada kartu yang tergeletak di atas meja, dan tidak dapat menahan diri untuk menuju ke sana. Dia mengambilnya dan menjatuhkannya lagi dan menyadari bahwa semua kartu tersebut terbuat dari logam yang padat.

Dia mendengar suara batuk yang keras dari lantai atas.

Ye Kai menghela napas dan berpikir bahwa orang tersebut memang benar-benar orang yang sangat misterius. Semua yang dia katakan memiliki makna yang misterius, semua yang dia lakukan nampaknya memiliki tujuan yang misterius. Bahkan ruangan kecil di lantai dua dimana dia tinggal nampaknya juga merupakan tempat untuk menyimpan rahasia yang misterius.

Ye Kai memandang ke arah tangga yang sempit dan panjang itu, dan tiba-tiba tersenyum. Untuk suatu alasan, dia menyadari bahwa tempat ini merupakan tempat yang benar-benar sangat mengagumkan.

________________________________________

Siang hari.

Hujan benar-benar telah berhenti. Ye Kai berjalan di tengah-tengah jalan yang diselimuti oleh lumpur ke arah toko kelontong tepat disebrang jalan. Pemiliki toko tersebut adalah seorang pria setengah baya yang periang. Dia memiliki muka yang bundar besar dan matanya menjadi sangat sipit saat tersenyum.

Bahkan ketika pelanggan berusaha menukarkan uang beberapa qian untuk membeli bebarapa butir buah pir saja, dia tetap tersenyum berterima kasih dan bersyukur.

Nama panggilannya Li, semua orang memanggilnya Li Ma Hu.

Ye Kai mengenali Li Ma Hu, namun lupa memeriksa apakah tokonya juga menjual kain, sutra maupun bordir. Karena semua orang sedang sibuk makan siang, tokonya menjadi cukup sepi. Seperti biasanya Li Ma Hu sedang tiduran di tokonya.

Ye Kai tidak ingin membangunkannya jadi dia hanya melihat-lihat saja. Sesaat kemudian, terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda sementara sebuah kereta kuda melintasi jalan. Kereta kuda tersebut berwarna hitam namun sangat cemerlang hingga seperti cermin, delapan ekor kuda yang menarik kereta tersebut berwarna putih.

Itu adalah kereta kuda yang sama yang membawa Ye Kai ke Gedung Sepuluh Ribu Kuda pada malam sebelumnya. Siapa yang berada di dalam kereta kuda tersebut saat ini?

Baru saja Ye Kai berusaha mencari tahu siapa yang menaiki kereta kuda terserbut, dia mendengar suara dibelakangnya berkata,” Itu pasti yang terhormat bibi dan nona muda dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda. Aku heran apakah mereka mau membeli telur ayam hari ini?”

“Mereka tidak memasak di dapur, kenapa mereka membutuhkan telur ayam?” Ye Kai bertanya.

Dia berbalik dan melihat kepada Li Ma Hu yang telah bangun, matanya mengerdip dan tersenyum, kemudian dia berkata kepada Ye Kai,” Engkau tidak mengerti, wanita suka menggunakan telur ayam untuk mencuci wajah mereka. Semakin sering mereka mencuci, semakin muda paras wajah mereka.”

“Apakah mantu perempuanmu mencuci wajahnya dengan telur ayam tiap pagi?” Ye Kai bertanya.

Li Ma Hu melipat bibirnya dan menjawab dengan tawa yang dingin,” Wanita itu, meskipun dia mencuci wajahnya dengan tiga ratus telur ayam tiap hari, wajahnya akan tetap terlihat seperti kulit jeruk-jelasnya, terlihat seperti kulit jeruk yang kering.”

Kemudian dia tersenyum kembali dan matanya menjadi semakin menyipit, ” Akan tetapi kedua wanita dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda, mereka seperti dewi bunga, meraka sangat cantik. Bila engkau sungguh-sungguh beruntung mungkin suatu hari …”

Tiba-tiba, terdengar suara seorang bocah kecil dari luar pintu,” Li Ma Hu, omong kosong apa yang sedang engkau ucapkan saat ini?

Saat Li Ma Hu mengintip keluar melalui pintu untuk melihat siapa diluar, raut wajahnya segera berubah dan dia menjawab,” Oh, tidak ada, tidak ada sama sekali. Aku baru saja mau membuat tuan muda sebuah kembang gula.”

Seorang bocah kecil dengan tangan diatas pinggah berdiri diluar pintu. Dia memiliki dua mata yang besar dan bajunya berwarna merah, bahkan lebih merah dari pada kembang gula.

Meskipun masih kecil, namun reputasinya tidak seperi itu, sesaat Li Ma Hu melihatnya, raut mukanya berubah pucat. Namun sesaat anak kecil tersebut melihat Ye Kai berdiri di dalam toko, raut wajahnya menjadi pucat juga. Dia berbalik dan ingin pergi dari situ.

Ye Kai segera mengejar bocah kecil itu dan menangkap bachunya dan berkata,” Jadi engkau si macan kecil? Baiklah, meskipun engaku seekor rubah kecil sekalipun, engkau tidak akan dapat lari dariku.”

Xiao Hu Zi melihat dengan tidak sabar dan berteriak,” Aku tidak mengenalmu! Siapakah engkau! Kenapa engkau menangkap dan memegangiku?”

“Engkau mengenaliku pagi ini, kan? Bagaimana engkau tiba-tiba lupa seperti ini?” Ye Kai berkata.

Wajah Xiao Hu Zi memerah dan terlihat seperti ingin menangis.

“Bila engkau berlaku seperti anak yang baik dan mendengarkan apa yang aku katakan, aku akan membelikan kamu kembang gula kesukaanmu. Tapi bila engkau tidak seperti itu, aku akan mengatakan ayahmu dan paman ke-empat mu bahwa tadi pagi engkau berbohong.” Ye Kai berkata.

“Apa …. kebohonan apa yang aku katakan?” Xiao Hu Zi berkata.

“Engkau tidur sangat nyenyak semalam. Engkau tidak menyelinap keluar dan bersembunyi dibawah kantung kuda kakak perempuanmu, kan?” Ye Kai bertanya.

Mata Xiao Hu Zi menyipit dan menjawab,” Baiklah, aku hanya berusaha menolongmu.”

“Siapa yang mengajarkan kamu untuk mengucapkan kata-kata itu?” Ye Kai bertanya.

“Tidak seorangpun, aku mengarang kata-kata itu sendiri ….”Xiao Hu Zi berkata.

Ye Kai memperlihatkan wajah yang galak dan berkata,” Kalau engkau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan membawa engkau kembali dan mengatakannya ke ayahmu.”

Raut muka Xiao Hu Zi memucat. Sesaat dia mendengar akan diadukan ke ayahnya, dia segera mengaku,” Baiklah, aku katakan. Bibi ketigaku.”

“Bibi ketigamu? Apakah dia yang membawamu pagi ini?” Ye Kai berkata.

Xiao Hu Zi menganggukan kepalanya.

Ye Kai mengerutkan alisnya dan bertanya,” Bagaimana dia tahu aku bersama kakak perempuanmu semalam?”

“Bagaimana aku tahu? Kenapa engkau tidak menanyakan langsung?” Xiao Hu Zi menjawab.

Sesaat Ye Kai melepasakannya pergi, Xiao Hu Zi telah melesat menyeberangi jalan dan memutarkan kepalanya. Xiao Hu Zi mengejeknya dan berkata,”Engkau dapat menanyakannya langsung, tapi engkatu tidak boleh memeluknya seperti engkau memeluk kakak perempuanku karena ayahku pasti cemburu!”

Sebelum dia mengakhiri ucapannya, Xiao Hu Zi telah berlari ke ujung jalan dan memasuki salah satu toko kain di sudut jalan.

Ye Kai mengerutkan keningnya dan terbenam dalam pikirannya. Hal ini tidak pernah terpikirkannya.

Siapakah Bibi Ketiga? Bagaimana dia tahu tindakannya semalam? Dia benar-benar tidak mengerti hal ini. Sesaat Ye Kai mengangkat kepalanya, dia melihat Bibi Ketiga berjalan keluar toko kain.

Dia terlihat sangat anggun, pakaiannya berwarna putih. Dia tidak menggunakan sedikitpun make up namun dari wajahnya masih memancarkan aura yang mempesonakan.

Saat Ye Kai memandangnya, matanya terlihat seperti embun musing semi, yang melihat kearah Ye Kai pula. Dan entah disengaja atau tidak, dia tersenyum ke arahnya juga.

Tidak ada seorangpun yang dapat meniru senyumnya.

Ye Kai merasa terlihat bodoh, akhirnya dia menyadari bahwa terdapat sepasang matanya disisinya. Sepasang mata yang menatapnya.

Sepasang mata tersebut juga terlihat bercahaya dan terang namun saat ini kelihatannya agak berawan dan meredup.

Apakah dia tidak bisa tidur juga semalaman? Atau apakah matanya itu habis menangis?

Jantung Ye Kai tiba-tiba hendak melompat, detaknya mulai terasa semakin dan semakin cepat.

Ma Fang Ling memandangnya dengan penuh perasaan cinta, sesaat dia mengerdipkan matanya memberikan tanda.

Ye Kai segera menanggukan kepalanya.

Ma Fang Ling memandang ke bawah dan menundukan kepalanya, terlihat senyum di wajahnya dan semburat merah merona dipipinya.

Mereka tidak perlu berucap satu dengan yang lainnya. Dia mengatakan perasaannya melalui pandangan matanya. Dia mengatakan apa yang ada dibenaknya hanya dengan sekali pandangan saja. Jadi, apa perlunya lagi berkata-kata?

________________________________________

Segalanya masih sepi dan tenang. Meja yang biasanya dipenuhi oleh kartu telah dibersihkan. Meskipun jendela telah dibuka, namun masih terasa gelap di dalam ruangan.

Ye Kai duduk diam menunggu. Meskipun dia mengerti Ma Fang Ling, dia tidak boleh memperlihatkannya di depan Bibi Ketiga.

Istri Ma Kong Qun telah meninggal, namun pria seperti dia seharusnya tidak pernah kekurangan wanita disisinya. Dan hanya wanita seperti dia yang tepat untuknya.

Ye Kai masih mengira-ngira siapakah wanita itu, namun dia masih dia tidak dapat menduga apa tujuan wanita itu.

Dia menghela napas dan tidak mau berpikir lebih jauh lagi … bila dia melakukannya, dia merasa sedikit bersalah terhadap Ma Fang Ling. Namun senyumnya itu betul-betul tidak dapat dilupakan.

Apa yang mereka berdua lakukan saat ini? Apakah mereka membeli telur ayam ditoko itu?

Ye Kai berusahan keras untuk memikirkan hal lainnya, namun untuk suatu alasan, pikirannya kembali lagi ke mereka berdua. Saat itu pintu terbuka sedikit.

Ye Kai betul-betul berharap, orang yang akan masuk adalah Ma Fang Ling. Namun, saat dia berdiri dan berbalik, hatinya seperti terbenam ke dalam air.

Orang yang melangkah ke dalam adalah Yun Zai Tian – Ye Kai perlahan-lahan menarik napas menyadari bahwa pasti akan sangat sulit baginya untuk bertemu dengan Ma Fang Ling lagi hari ini.

Saat Yun Zai Tian melihat Ye Kai duduk di dalam, dia sedikit merasa kikuk. Namun karena dia sudah melangkah masuk, akan lebih kikuk lagi bila berbalik.

Ye Kai tertawa lebar dan berkata,” Apakah anda hendak mencari nona Cui Nong? Mungkin anda dapat menanyakan mengapa dia memberikan hiasan mutiara bunga yang anda berikan ke orang lain?

Yun Zai Tian hanya batuk dua kali namun dia tidak menjawab dan menarik tempat duduk.

“Seorang pria mencari seorang perempuan adalah hal yang normal. Kenapa engkau tidak langsung naik ke atas?” Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian perlahan-lahan mulai mendapatkan kembali rasa tenangnya, dia menjawab,” Aku datang bukan untuk mencari seseorang, namun bukan dia!”

“Siapa yang engkau cari?” Ye Kai bertanya.

“Fu Hong Xue.” Yun Zai Tian menjawab.

“Kenapa engkau mencari dia?” Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian menjadi sebal, dia tidak menjawab.

“Bukankah dia masih di Gedung Sepuluh Ribu Kuda?” Ye Kai bertanya lagi.

“Dia tidak disana lagi.” Yun Zai Tian berkata.

“Kapan dia pergi?” Ye Kai berkata.

“Pagi ini!” Yun Zai Tian menjawab.

Ye Kai mengerutkan alisnya dan berkata,” Bila dia telah pergi pagi ini, lalu kenapa aku belum melihatnya kembali ke kota?”

“Bagaimana dengan yang lainnya?” Yun Zai Tian berkata.

“Aku mengira yang lainnya juga belum kembali. Kota ini tidak terlalu besar, bila mereka telah kembali, aku pasti telah melihat mereka.” Ye Kai berkata.

Paras wajah Yun Zai Tian berubah. Dia mengerenyitkan alisnya dan melihat ke arah lantai atas.

“Tuan Xiao di atas. Apakah engkau hendak menanyakan hal ini ke dia?” Ye Kai berkata.

Pandangan kebingungan terlihat di wajah Yun Zai Tian. Dia berdiri dan berjalan keluar pintu.

Tepat saat itu, kira-kira sepuluh ekor keledai menarik kereta gerobak perlahan-lahan melintasi jalan. Setiap kereta gerobak tersebut tersebut mengangkut peti mati, tiap kereta mengangkut empat buah peti mati.

Seroang bongkok berwajah pucat dengan pakaian berwarna hijau mengendari keledai yang di depan. Dari wajahnya, kelihatannya dia tidur di dalam peti meti selama hidupnya. Tidak terlihat sedikitpun cahaya diwajahnya.

Setiap orang yang melihat barisan peti mati tersebut di jalan pasti tidak mungkin untuk tidak terkejut.

Tidak terkecuali Yun Zai Tian. Dia tidak dapat menahan diri untuk bertanya,” Untuk siapa semua peti mati ini dikirim?”

Si bongkok melihat ke atas dan ke bawah lalu menjawab,” Dari penampilanmu, sepertinya engkau seorang yang berasal dari Gedung Sepuluh Ribu Kuda.”

“Betul.”Yun Zai Tian menjawab.

“Baiklah, itu tujuan pengiriman semua peti mati ini.” Si bongkok berkata.

Parah muka Yun Zai Tian berubah dan dia berkata,” Siapa yang menyuruh engkau mengirimkannya ke sana?”

“Sudah tentu pelanggan yang memberikan bayaran. Orang tersebut memerintah untuk mengirimkan seratus buat peti mati. Kami mengerjakan siang dan malam …” Si bongkok berkata, sebelum dia perkataannya dipotong.

Yun Zai Tian melayang ke arahnya dan mencengkeram menariknya dari sadelnya dan berkata dengan tajam,” Orang seperti pakah dia?”

Wajah si bongkok menjadi semakin pucat dan dia menjawab,” Dia …. dia seorang wanita.”

“Wanita seperti apa?” Yun Zai Tian berkata.

“Seorang wanita yang sudah tua.” Si bongkok berkata.

“Mereka berasal dari mana, dan di mana wanita tua itu berada?” Yun Zai Tian bertanya kembali.

Baiklah, dia bersama kami. Dia … dia … dia berbaring di salah satu peti mati di kereta pertama.” Si bongkok berkata.

“Berbaring di dalam peti mati? Apakah dia, mayat? Yun Zai Tian berkata sambil tertawa dingin.

“Tidak, dia masih hidup. Dia menyelinap ke peti mati untuk menghindari diri dari guyuran hujan tadi. Peti itu yang sedikit terbuka agar ada udara yang masuk.” Si bongkok berkata.

Dengan tertawa, Yun Zai Tian membiarkan si bongkok pergi. Dia melompat ke arah kereta pertama dan mengangkat tutup peti mati dengan sekali tarikan …

Ada seseorang di dalam peti mati itu, namun bukan seorang wanita, dan dia juga sudah tidak hidup lagi!

Tubuh orang mati terbaring di dalam peti mati itu. Orang tersebut mengenakan pakaian yang seluruhnya berwarna hitam. Darah telah mengering dari ujung bibirnya. Wajahnya sudah mulai kisut. Tidak terlihat segores lukapun ditubuhnya. Nampaknya bagian tubuh bagian dalamnya telah hancur oleh tenaga dalam yang sangat kuat.

Ye Kai berdiri di atas di depan dan melihat wajah orang tersebut dengan jelas. Saat dia mengenali orang tersebut, dia tidak tahan untuk berseru,” Laba-laba Terbang!”

Tentu saja tidak tidak salah. Mayat yang tergeletak di dalam peti mati itu adalah mayat Laba-laba Terbang.

Laba-laba Terbang telah mati. Dimanakah Fu Hong Xue, Luo Luo Shan dan Murong Ming Zhu?

Bila mereka semua telah meninggalkan Gedung Sepuluh Ribu Kuda pada saat yang bersamaan, mengapa Laba-laba Terbang berakhir dengan kematian di dalam peti mati ini?

Yun Zai Tian tiba-tiba berputas dan menatap si bongkok,” Orang ini bukan wanita tua!”

Si bongkok mulai gemetaran, dia memaksa dirinya untuk mengangguk perlahan dan menjawab,” Benar … bukan dia.”

“Engkau bilang dia adalah wanita tua?” Yun Zai Tian membentaknya.

Si bongkok menggelengkan kepalanya dan berkata,” Aku … aku tidak tahu.”

Pengendara di kereta yang kedua tiba-tiba memotong pembicaraan dan berkata,” Aneh … aku dari tadi mengendarai di depan juga.”

“Bagaimana engkau pun menjadi yang di depan?” Yun Zai Tian berkata.

“Baiklah, kereta ini seharusnya adalah kereta yang terakhir. Kita tadi salah jalan, jadi kita memutuskan untuk berbalik arah. Jadi keretaku menjadi yang paling depan.” Si pengendara menjawab.

“Apapun yang terjadi, seorang wanita tua tidak mungkin mendadak berubah menjadi mayat lelaki. Apakah yang telah terjadi?” Yun Zai Tian berkata.

Si bongkok menggelengkan kepalanya dan menjawab,” Aku betul-betul tidak mengerti.”

“Bila engkaupun tidak tahu, lalu siapa di dunia ini yang akan mengetahuinya?” Yun Zai Tian berkata.

Dengan secepat kilat, tangannya telah bergerak menangkap si bongkok ke arah dadanya.

Si bongkok terlihat menyurut menjadi setipis tiang. Namun sesaat Yun Zai Tian melakukan gerakannya, si bongkok mendadak berhenti bergetas. Dengan cepat dia menggeserkan tubuhnya bergerak ke belakang Yun Zai Tian sementara telapak tangannya memukul bahu kanan Yun Zai Tian.

Tidak hanya gerakannya yang cepat, waktu dan posisi gerakannya benar-benar sempurna. Kekuatan telapak tangannya sangat bertenaga dan tidak terkalahkan.

Hanya dari satu gerakan telapak tangannya, dapat dikatakan si bongkok mungkin telah berlatih selama tiga puluh tahun lebih.

“Betul-betul hebat kau!” Yun Zai Tian berseru.

Sesaat perkataannya selesai diucapkan, tubuh Yun Zai Tian bergerak dua kali sementara lima pukulan telah dilancarkan.

Gayanya masih tetap cepat dan ringan. Meskipun dia belum menggunakan seluruh kekuatannya, perubahan gerakannya sangat cepat dan tidak terduga, dan sangat sulit untuk ditahan.

“Bagus! Engkau sendiri tidak jelek!” Si bongkok berseru.

Tawanya terhenti saat si bongkok mendadak berjumpalitan ke udara dan mendarat di salah satu atap rumah. Si bongkok dapat mengubah gayanya sesukanya, dan melompat sesukanya pula. Ketrampilannya betul-betul sangat hebat.

Namun, lawanya adalah seseorang yang baru saja menggetarkan dunia persilatan dengan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, panggilannya adalah Awan Dilangit, Naga Melayang.

Yun Zai Tian melompat ke udara dan tubuhnya telah menghilang seperti asap. Kelima jarinya membentuk cakar elang untuk mencengkeram punggung si bongkok. Terdengar suara SSSSIIIINNGG, baju jubahnya telah robek, terlihat cahaya emas yang berkilauan.

QQIIIAANNNGG, tiga buah senjata rahasia telah melesat keluar dari cahaya emas tersebut dari ujung punuknya, dan meluncur ke arah dada Yun Zai Tian.

Dengan berteriak, Yun Zai Tian melompat balik dengan gerakan, Membuka Jendela, Mengintai Awan Terbang ke Bulan dan mendarat pada atap rumah di sebrang jalan.

Bila tidak memiliki kecepatan dan kemampuan yang hebat, ketiga senjata rahasia tersebut pasti sudah mengenai dada Yun Zai Tian dari pada hanya menyerempet bajunya.

Si bongkok telah berada tujuh hingga delapan rumah di depan. Dengan gerakan lainnya yang cepat, dia telah lenyap dari pandangan.

Yun Zai Tian turun ke bawah dan tidak berusaha untuk mengejarnya lebih jauh. Paras wajahnya yang sedingin besi telah diselimuti oleh keringat dingin. Sementara dia masih memandang si bongkok yang telah menghilang, dia menghela napas dan berkata,” Siapa sangka Naga Punggung Emas Ding Qiu telah kembali ke perbatasan lagi.”

Ye Kai menghela napas panjang juga dan menggelengkan kepalanya dan berkata,” Aku tidak pernah membayangkan dialah orangnya.”

“Engkau sudah mendengar tentangnya juga?” Yun Zai Tian bertanya.

“Berapa banyak orang yang belum pernah mendengar tentang dia?” Ye Kai menjawab.

Yun Zai Tian tidak berkata-kata lagi. Raut diwajahnya terlihat semakin berat.

“Orang ini telah menghilang bersembunyi lebih dari sepuluh tahun dan tiba-tiba hari ini muncul hanya untuk mengantarkan semua peti mati ini. Apakah dia ada hubungannya dengan musuh-musuhmu dan peristiwa delapan belas tahun yang lalu?” Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian masih tidak menjawab.

“Kemudian Laba-laba Terbang harus mati pula. Aku heran kenapa menginginkan dia mati?” Ye Kai berkata.

Yun Zai Tian menoleh ke arahnya dan menjawab dengan dingin,” Itu semua yang aku harapkan engkau dapat menjelaskannya kepadaku.”

“Bila engkau menanyakannya kepadaku, lalu kepada siapa aku harus bertanya?” Ye Kai berkata.

Tiba-tiba dia tertawa dengan keras. Matanya menuju ke arah kejauhan di ujung jalan seraya menambahkan,” Mungkin aku harus bertanya kepadanya.”

ooOOOoo

Siapakah di ujung jalan? Peristiwa mengejutkan apa lagi yang akan terjadi?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: