Kumpulan Cerita Silat

15/01/2008

Duke of Mount Deer (13)

Filed under: Duke of Mount Deer, Jin Yong — Tags: — ceritasilat @ 1:54 am

Duke of Mount Deer (13)
Oleh Jin Yong

“Hamba mengerti!” sahut Siau Po dengan suara lirih.

“Nah, sekarang kau pergilah!” kata kaisar Kong Hi yang kemudian menitahkan empat orang pengawalnya mengantarkan Hu congkoan itu.

Siau Po pergi ke istana Kongcin ong dengan menunggang kuda yang tinggi dan besar. Dia dikawal oleh empat orang siwi. Dua di depan dan dua di belakang. Di sepanjang jalan dia selalu menoleh ke kiri dan kanan. Sikapnya menunjukkan dia bangga sekali dengan kedudukannya itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata,

“Apakah benar kabar yang tersiar di luaran bahwa orang yang membekuk Go Pay adalah seorang kongkong kecil yang berusia sepuluh tahun?”

“Benar!” Terdengar sahutan seorang lainnya.

“Sri Baginda masih muda. Sekarang thaykam yang disayangnya juga hampir sebaya dengan beliau.”

Apakah kongkong yang dimaksud bukan kongkong yang sedang menunggang kuda ini?” tanya yang satu lagi.

“Entah!”

Keempat pengawal itu mendengar pembicaraan mereka. Salah satunya ingin mengambil hati Siau po. Dia segera berkata.

“Ketika terjadi penangkapan atas diri Go Pay, si pengkhianat, Kui kongkong inilah yang berjasa!”

Go Pay memang sangat dibenci oleh orang-orang Han sebab sikapnya yang sadis dan sering membunuh rakyat tanpa alasan yang tepat. Ketika para penduduk Peking mengetahui bahwa dia telah tertawan karena berani menghina Sri Baginda, seluruh kota menjadi gempar. Mereka senang sekali. Bahkan ada yang mengadakan pesta untuk meraya kan kehancurannya.

Berita itu tersebar luas, mereka pun mengtahui bahwa yang menangkap Go Pay itu adalah seorang thaykam cilik yang menjadi kesayangan Baginda. Sebagaimana biasanya gosip-gosip yang disiarkan, kasus yang satu ini pun dibumbui oleh orang yang satu ke orang yang lainnya. Cerita jadi semakin seru.

Malah kalau ada seorang thaykam yang lewat di pasar atau jalan raya, dia dihentikan orang banyak untuk ditanyakan kebenaran cerita itu karena mereka merasa penasaran sekali.

Begitu juga kali ini, begitu si pengawal menngatakan bahwa Kui kongkong inilah yang meringkus Go Pay, Siau Po langsung dikerumuni orang banyak. Ada yang menanyakan ini itu seperti wartawan, ada pula yang bersorak-sorak memuji kegagahannya. Jumlahnya sampai ratusan orang. Kalau tidak ada keempat pengawal yang menguakkan kerumunan orang banyak itu, mungkin sampai sore Siau Po masih terkurung terus. Di lain pihak, dia senang diperlakukan seperti orang penting oleh rakyat.

Setibanya di istana Kongcin ong, sang pangeran yang sudah mendengar berita tentang datangnya utusan Sri Baginda, segera membuka pintu tengah dan keluar menyambutnya sendiri. Kongcin ong bermaksud mengatur meja sembahyang dan memasang hio untuk menerima firman Sri Baginda. Siau Po langsung mengulapkan tangannya sambil berkata.

“Ongya, kedatangan hamba hanya menjalankan tugas Sri Baginda untuk melihat keadaan Go Pay. Bukan untuk hal penting apa-apa.”

“Baiklah kalau begitu,” sahut sang pangeran yang sikapnya ramah sekali terhadap si thaykam gadungan. Dia tahu Siau Po selalu mendampingi raja yang sudah membuat jasa besar dengan meringkus Go Pay.

“Kui kongkong,” katanya kemudian. “Kedatangan Kongkong merupakan suatu kehormatan bagi kami. Nah, mari kita minum dulu satu dua cawan. Setelah itu kita baru lihat Go Pay.”

Siau Po menerima baik undangan itu. Sesaat kemudian dia sudah duduk bersama Kongcin ong. Keempat pengawal yang mengiringinya juga diajak duduk bersama.

Perjamuan itu dilakukan dalam taman bunga. Kongcin ong menanyakan apa kesukaan kongkong kecil itu. Siau Po berpikir dalam hati.

‘Kalau aku mengatakan bahwa kegemaranku judi, mungkin pangeran ini akan menemaniku bermain dan aku pun akan memenangkan uang yang banyak. Tapi cara itu kurang baik apabila sampai terdengar oleh raja,’ karena itu dia segera menjawab.

“Hamba tidak mempunyai kesukaan apa-apa.”

Kongcin ong menguras otaknya. Dia ingin menangkan hati Siau Po.

‘Orang yang sudah tua suka uang, orang yang usianya setengah baya biasanya suka perempuan tapi kongkong ini justru masih kecil lagipula di seorang thaykam, mana mungkin tertarik denga wajah cantik? Lalu, apa kira-kira kesukaannya? Barang apa yang harus kuhadiahkan kepadanya? Dia pandai silat, tentu suka dengan golok atau pedang mustika, tetapi di dalam istana tidak boleh sembarangan menyimpan senjata tajam. Kalau sampai terjadi apa-apa, aku yang tertimpa bencana. Ah… ya… aku tahu sekarang!’ pikirnya dalam hati Pangeran itu pun tertawa lebar.

“Kui kongkong, di dalam istalku ada beberapa ekor kuda pilihan. Karena kita sudah menjadi sahabat karib, harap kongkong sudi memilih beberap di antaranya sebagai hadiah dan kenangan untukmu.”

Siau Po senang mendengar Kongcin ong menawarkan hadiah itu kepadanya, tapi dia pura-pura berkata.

“Ongya, mana boleh ongya memberikan hadiah kepada hamba.”

“Kita adalah orang sendiri, jangan sungkan,” kata Kong Cin-ong. “Mari, kita lihat kuda-kuda itu dulu. Nanti kita teruskan lagi perjamuan ini!”

Kongcin ong langsung menggandeng tangan Siau Po dan mengajaknya menuju istalnya. Pangeran itu segera menitahkan orangnya untuk mengeluarkan beberapa ekor kuda kecil.

Mendengar pangeran itu mengatakan ‘kuda kecil’ hati Siau Po merasa kurang puas.

‘Mengapa kuda kecil yang akan dihadiahkan kepadaku? Apakah karena dia menganggap aku masih kecil sehingga tidak sanggup menunggang kuda yang besar?’ gerutunya dalam hati.

Saat itu juga dia melihat seorang pegawai Kongcin ong menuntun enam ekor kuda ke hadapan mereka. Siau Po menatapnya sekilas kemudian tertawa lebar sambil berkata.
“Ongya, tubuh hamba memang tidak tinggi, tapi hamba senang menunggang kuda yang besar. Dengan demikian hamba tidak akan terlihat kecil”

Kongcin ong mengerti. Dia menepuk pahanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Aih! Kenapa aku sampai lupa!” katanya, kemuan dia pun memerintahkan orangnya.

“Kau bawa kemari kuda Giok Hoa-cong! Biar Kui kongkong melihatnya!” Perawat kuda itu mengiakan. Dia segera pergi n sejenak kemudian sudah kembali lagi dengan menuntun seekor kuda yang tinggi dan besar. Bulunya berwarna merah dan tubuhnya bertotolan. Ketika kuda itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. sikapnya gagah sekali. Sedangkan pakaiannya terbuat dari emas dan batu permata yang bertaburan. Jangan kata kudanya, pakaiannya saja sudah tidak ternilai harganya.

“Bagus!” puji Siau Po. Sebenarnya dia tidak bisa membedakan mana kuda bagus dan mana kuda yang jelek. Dia hanya memuji karena tampangnya saja yang kelihatannya gagah.

Kongcin ong tertawa.

“Kuda ini berasal dari wilayah barat, jenis kuda Ferghana. Jangan kau lihat tubuhnya yang tinggi besar, padahal usianya masih muda, baru dua tahun lewat beberapa bulan. Kuda yang bagus harus tunggangi oleh orang yang gagah. Nah, saudara Kui bagaimana kalau kau memilih kuda ini saja?”

Dari kongkong, sebutan pangeran terhadap bocah cilik berubah menjadi ‘saudara’. Hal ini membuktikan bahwa perasaan Kong Cin-ong su akrab sekali dengan si thaykam cilik palsu ini.

“Ta… pi, ini kan kuda ongya sendiri? Mana berani hamba menerimanya? Lagipula hadiah terlalu istimewa bagi hamba…” kata Siau Po.

“Aih, Saudara Kui. Jangan menganggap aku sebagai orang luar. Kalau kau menolak, berarti kau tidak memandang mata kepadaku. Apakah saudara memang keberatan bersahabat denganku?”

“Ongya, di dalam istana kedudukan hamba rendah sekali. Mana pantas hamba bersahabat dengan ongya?”

“Kami bangsa Boanciu adalah orang-orang yang terbuka. Kalau kau memang menganggap aku sebagai sahabat, terimalah kuda ini. Mulai sekaratidak ada perbedaan derajat lagi di antara kita. Kalau tidak, aku benar-benar marah….” Wajah Kong Cin-ong tampak serius sekali ketika mengucapkan kata-kata itu.

Siau Po merasa simpatik terhadap pangeran ini.

“Ongya, kau… begitu baik terhadap hamba… Entah bagaimana hamba harus membalasnya….”

Mendengar kata-kata Siau Po, wajah Kong Cin; berubah berseri-seri seketika.

“Jangan bicara soal budi. Kalau kau sudi menerima kuda ini, berarti kau benar-benar menghargai aku.”

Kong Cin-ong menghampiri kudanya kemudian menepuk-nepuknya dengan lembut.

“Giok Hoa, giok Hoa,” katanya kepada kuda itu. “Mulai sekarang kau ikut dengan Kui kongkong. harap kau melayaninya dengan baik.” Kemudian Kongcin ong menoleh kembali kepada Siau Po dan berkata.

“Saudara Kui, cobalah menunggangnya!”

“Baik!” sahut Siau Po tertawa.

Siau Po langsung memegangi pelana kuda itu. kemudian loncat ke atasnya, Dia menggunakan ilmu yang diajarkan oleh Hay kongkong.

“Bagus!” puji Kongcin ong. Dia melihat gerakan Siau Po yang lincah sekali.

Siau Po menunggangi kuda itu berkeliling berapa saat. Ketika dia menarik tali kendalinya, kuda yang jinak itu langsung berhenti. Hatinya senang sekali mendapatkan kuda yang cerdas.

“Bagus! Bagus!” puji Kongcin ong sambil ber tepuk tangan.

“Ongya, hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas hadiah yang tidak ternilai ini. Nah, sekarang sudah waktunya hamba melihat Go Pay. Sekembalinya nanti, hamba akan menemani Ong ya lagi!”

Hal ini membuktikan bahwa Siau Po tidak melupakan tugasnya meskipun hatinya yang kekanak-kanakan masih ingin bermain-main dengan kuda yang luar biasa itu.

“Baiklah,” sahut Kongcin ong. “Tugas memang harus diutamakan. Namun saudara Kui, apabila kau kembali ke istana nanti, tolong sampaikan pada Sri Baginda bahwa aku akan menjaga si pengkhianat itu baik-baik, meski dia mempunyai sayap sekalipun jangan harap dapat meloloskan diri dari tempat ini!

“Tentu!” kata Siau Po.

“Apakah saudara ingin kutemani?” tanya Kongcin ong.

“Terima kasih. Hamba tidak ingin mencapaikan Ongya,” kata Siau Po.

Sebetulnya Kongcin ong juga tidak suka bertemu dengan Go Pay. Setiap kali dia melihatnya, orang itu selalu mencaci makinya habis-habisan sampai dia merasa kehilangan muka di depan para bawahannya. Karena itu, dia menugaskan delapan orang siwi untuk mengawal Siau Po menjenguk orang yang dipenjara dalam kamar tahanan itu.

Siau Po segera diantar ke sebuah rumah batu yang letaknya terpisah dari bagian yang lain. Di depannya menjaga enam belas orang wisu. Tangan mereka masing-masing menggenggam sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya. Dua orang di antaranya berjalan mondar-mandir untuk menjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya orang yang bisa menyelinap.

Salah seorang siwi segera menemui wisu kepala.

Dia melaporkan bahwa Kui kongkong sebagai utusan raja datang untuk melihat Go Pay. Semua wisu segera menjura dalam-dalam kepada Siau Po. Setelah itu kepala wisu mengeluarkan kunci untuk membuka pintu kamar tahanan dan mempersilahkan kongkong kecil itu masuk ke dalam.

Kamar tahanan itu gelap gulita. Di sudut ruangan ada dapur dan seorang petugas sedang menanak nasi.

“Pintu penjara ini tidak pernah dibuka, barang makanan dapat diselupkan lewat celah yang ada. Petugas itulah yang biasa melayaninya,” kata si kepala wisu menerangkan.

“Bagus! Ketat sekali penjagaan di sini. Asal pintu besi itu tidak dibuka, otomatis tahanan pun tidak dapat melarikan diri!” sahut Siau Po sambil menganggukkan kepalanya.

Wisu itu ikut mengangguk.

“Ongya telah berpesan wanti-wanti, apabila tahanan ini sampai.lolos, semuanya akan mendapat hukuman mati!”

Wisu itu mengajak Siau Po masuk ke halaman dalam. Mereka sampai di sebuah ruangan kecil. Dari situ sudah terdengar sura teriakan Go Pay, rupanya dia tengah mencaci maki Sri Baginda.

“Roh nenek moyangmu akan mendapat gancaran! Locu sudah mengalami kematian berkali-kali. Locu telah membuat jasa yang tidak terkirakan banyaknya, semuanya demi leluhurmu. Demi ayahmu! Karena jasaku, dia mendapat negara yang kaya dan luas ini. Sekarang kau, setan cilik yang bejat! Usiamu masih muda, tapi hatimu sudah busuk! Kenapa kau mencelakai locu dengan cara membokong? Ingat! Kalau locu mati, biar jadi setan pun, locu tidak akan mengampunimu!”

Wisu kepala yang mendengar dampratan yang tidak enak itu langsung mengernyitkan keningnya.

“Dengarlah kata-kata jahanam itu! Matanya benar-benar sudah tidak memandang langit dan undang-undang kerajaan! Dia pantas mendapatkan hukuman penggal kepala!”

Siau Po tidak memberikan komentar. Dia melangkah perlahan menuju kamar penjara yang kecil. Dari jendela yang ada di dalam ruangan ada sinar suram yang menyorot masuk. Siau Po dapat melihat keadaan Go Pay. Tangannya dibelenggu oleh borgol yang besar, rantainya cukup panjang sehingga dia dapat berjalan mondar-mandir di kamar itu. Suara bising terpancar dari rantai yang diseret-seret itu terdengar jelas.

Ketika dia mengangkat kepalannya dan melihat Siau Po, Go Pay langsung berteriak seperti orang kalap.

“kau… kau setan cilik yang harus mampus beribu kali. Masuklah kemari! Lihat bagaimana locu akan mencekik lehermu sampai mampus!” Matanya mendelik dan memancarkan sorot kegusuran yang tidak terlukiskan.

Dengan sengit, dia maju ke depan dan menghantam borgol tangannya ke jeruji besi penyekat jendela tahanannnya. Suaranya sampai memekakkan gendang telinga.

Meskipun sudah berusaha menenangkan diri semaksimal mungkin, Siau Po tetap terkejut. Kakinya sampai surut ke belakang dua langkah. Matanya menatap Go Pay dengan sorot ngeri karena orang itu memang garang sekali.

“Jangan takut!” Hibur si wisu kepala. “Dia tidak dapat menerjang keluar.”

“Mengapa harus takut?” Sahut Siau Po sok gagah. “Sekarang harap kalian menunggu di luar. Menurut perintah yang diberikan Sri Baginda, ada beberapa pertanyaan yang harus aku ajukan kepadanya!”

Wisu itu mengiyakan. Dia segera mengajak rekan-rekannya keluar dari ruangan tersebut.

Go Pay masih tetap mencaci-maki dengan nada lantang. Setelah mereka berduaan, Siau Po tertawa lebar.

“Go siaupo!” sapanya ramah. Dia sengaja menyebut siaupo yang artinya pelindung raja. Sedangkan jabatan Go Pay telah dicopot. “Siaupo, Sri Baginda menitahkan aku datang menjengukmu. beliau ingin tahu apakah kau dalam keadaan baik-baik saja atau tidak. Tapi kalau mendengar suara caci makimu yang demikian bersemangat, tampaknya kesehatanmu baik sekali. Kalau Sri Baginda mengetahuinya, tentu beliau akan senang sekali.”

Go Pay mengangkat kedua tangahnya. Rantai penyambung borgolnya dihantamkan ke jeruji jendela.

“Setan gentayangan! Anak. turunan anjing. Sana beritahukan kepada Raja, tidak usah pura-pura kasihan. Kalau mau bunuh silahkan, apa dikira Go Pay akan merasa takut?”

Siau Po menyurut mundur dua langkah. Diakhawatir jeruji besi itu akan jebol terkena hantaman Go Pay. Bibirnya kembali menyunggingkan senyuman.

“Sri Baginda memang sangat membencimu dia tidak ingin kau mati cepat-cepat. Sri Baginda malah berharap kau akan berumur panjang sehingga dapat menikmati kehidupan di sini selama dua puluh atau tiga puluh tahun lamanya. Kelak apabila kau benar-benar sudah menginsyafi kesalahanmu dan merangkak di depan Sri Baginda sambil membenturkan kepalamu di atas tanah sampai beratus kali, dan memohon pengampunan, mungkin mengingat jasa yang telah kau dirikan, Sri Baginda akan membebaskan kau dari penjara ini. Tapi, jabatanmu yang telah dicopot tidak dapat kau peroleh kembali.”

Mendengar kata-kata Siau Po, diam-diam Go pay berpikir dalam hati.

“tentu sengsara sekali dikurung dalam tahanan sampai puluhan tahun. Dengan demikian mati -atau hidup hampir tidak ada bedanya. Bahkan lebih menderita daripada mendapat hukuman penggal kepala!’

Biarpun benaknya berpikir demikian, tapi pada dasarnya Go Pay beradat keras, dia tidak sudi menyerah pada Sri Baginda begitu saja. Dia tidak mau berlutut atau memohon pengampunan justru kepada orang yang dibencinya dan tidak dipandang sebelah mata olehnya.

“Beritahukan kepada raja agar dia jangan bermimpi di siang bolong! Mungkin tidak sulit baginya membunuh Go Pay, tapi jangan berharap menyuruh Go Pay berlutut memohon pengampunan!”

Tawa Siau Po semakin lebar mendengar ucapannya.

Kita lihat saja nanti!” katanya. “Tiga atau empat tahun kemudian, asal Sri Baginda teringat keu, tentu beIiau akan mengutus orang kemari menjengukmu. Go tayjin, jagalah kesehatan baik-baik. Hati-hati agar jangan sampai ma suk angin dan terserang penyakit batuk.”

“Kau benar-benar anak haram!” maki Go pay.

“Sri Baginda sebenarnya cukup baik, tapi dia mudah dipengaruhi kalian, orang-orang Han yang berhati busuk! Kalau sejak semula Raja mendengar nasehatku, tentu istana tidak ada seorang menteri pun di istana yang berbangsa Han, bahkan seekor anjing Han pun dilarang masuk ke dalam. Kalau perkataanku diikuti, tentu keadaannya tidak jadi kacau seperti sekarang inil”

Siau Po tidak memperdulikan umpatannya. berjalan ke arah dapur dan membuka tutup kuali. Di dalamnya terdapat masakan daging dengan sawi putih.

“Baunya sedap sekali!” puji Siau Po.

“Beginilah makanan orang tahanan. Tidak ada yang lezat?” sahut si pengurus dapur.

“Sri Baginda memerintahkan aku memeriksa hidangan untuk orang tahanan ini. Tidak boleh sembarangan memberikan makanan kepadanya.

“Harap kongkong jangan khawatir. Dia tidak bakal kelaparan. Ongya juga berpesan agar setiap hari dia dimasakkan. sekati daging.”

“Ambilkan mangkuk. Aku akan mencicipi makanan ini. Kalau kau berbuat yang bukan-bukan, akan kuadukan kepada Ongya agar kau dihajar habis-habisan!” Pelayan itu ketakutan setengah mati.

“Hamba tidak berani main gila!” sahutnya sambil mengambilkan sebuah mangkuk dan menyendokkan masakan ke dalamnya. Kemudian disodorkanya kepada Siau Po dengan penuh hormat.

Siau Po mencicipi satu sendok kuah masakan Dia tidak memberikan komentar apa-apa, hanya berkata:

“Apakah setiap hari kau memberinya sekati daging? Jangan-jangan kau menyisihkannya untuk mengenyangkan perutmu sendiri!”

Pelayan itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Tidak, tidak! Hamba mana berani melakukan perbuatan itu? Sekarang juga a.. hamba akan menyuguhkan makanan kepada tahanan itu,” katanya gugup.

Dia segera menyendokkan semangkuk besar masakan dan tiga mangkuk nasi. Siau Po mengangkat sumpit yang tergeletak di samping dan memperhatikannya dengan seksama.

“Sumpit ini kotor sekali. Kau cuci dulu biar bersih!”

“Baik, baik.” sahut pelayan itu yang langsung membawa sumpit itu untuk dicuci di pancuran air. ”

Di saat pelayan itu sudah pergi, Siau Po segera mengeluarkan sebungkus bubuk berisi obat. Dituangkannya setengah ke dalam masakan daging kemudian sisanya disimpan kembali. Kemudian dia mengaduk-aduk masakan itu agar obatnya larut.

Siau Po tahu Sri Baginda ingin membunuh Go Pay, itu sebabnya dia membuka peti obat milik Hay kongkong untuk mencari racun yang mematikan. Tapi dia tidak tahu yang mana obat beracun yang diinginkannya, akhirnya dia mencampur beberapa macam obat menjadi satu, karena dia yakin betapa di antaranya pasti ada obat yang mengandung racun mematikan. Sekarang obat itulah yang dimasukkan ke dalam masakan yang akan dihidangkan untuk Go Pay.

Sesaat kemudian pelayan tadi sudah kembali lagi dengan sump it yang sudah dicuci bersih.

“Ya, dagingnya memang tidak sedikit. Tapi, apakah sehari-harinya selalu begini? Apa kau tidak mencuri makanannya?”

“Tidak, tidak, kongkong!”

“Nah, pergilah kau antarkan makanan ini!” “Baik, kongkong!” sahut pelayan itu yang segera membawa makanan yang telah disiapkan.

Siau Po puas sekali. Sembari mengetuk-ngetuk mangkuk dengan sumpit, ia berpikir,
‘Kalau Go Pay sudah menyantap hidangan itu tentu darah akan mengalir dari mulut hidung dan telinganya!’ Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera berjalan keluar menemui para penjaga.

“Go Pay sedang makan, mari kita lihat, ” Katanya kepada kepala wisu.

“Mari!” sahut orang itu.

Siau Po dan wisu kepala itu jalan berdampingan. Baru melangkah masuk pintu, tiba-tiba terdengar suara yang gaduh. Terdengar seseorang membentak.

“Siapa? Berhenti!” Kemudian disusul dengan sambaran anak panah.

Wisu kepala itu terkejut sekali. “Kongkong, kau duluan. Nanti aku lihat apa yang sedang terjadi!” serunya sambil menghambur keluar.

Siau Po juga mengikuti di belakangnya. Segera terdengar suara keras seperti bentrokan senjata tajam.

Ternyata ada belasan orang berpakaian hijau sedang berkelahi melawan para wisu. Melihat hal itu, hati Siau Po tercekat.

‘Ah! Mungkinkah mereka konco-konconya Go pay yang datang untuk menolongnya?’ tanyanya dalam hati.

Si wisu kepala langsung menghunus senjatanya memegang tampuk pimpinan. Dia memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak buahnya namun pada saat itu, dia diserang oleh seorang laki-laki dan perempuan dari kedua sisinya.

Empat siwi yang mengawal Siau Po ada di dekatnya. Mereka segera memberikan bantuan kepada para wisu.

Dalam sekejap mata dua orang wisu sudah berhasil dirobohkan oleh rombongan orang berpakaian hijau itu.

Siau Po segera menyusup ke dalam ruangan dan menutup pintunya rapat-rapat. Tapi baru saja mengangkat palang pintu itu, tiba-tiba terasa serangkum angin tolakan yang keras sehingga tu bocah itu terpental ke belakang.

Setelah itu tampak empat orang berpakaian hijau meloncat ke dalam sambil berteriak:

“Go Pay! Di mana Go Pay?” Malah seorang laki-laki yang usianya agak lanjut dan wajahnya dipenuhi janggut langsung mencekal Siau Po sebelum bocah itu sempat melakukan apa-apa.

“Di mana Go Pay ditahan?” bentaknya gara “Di luar, dalam kamar ada ruangan bawah tanah,” sahut Siau Po sambil menunjuk keluar.

Dua orang berpakaian hijau segera menghambur keluar. Sebaliknya dari luar ada empat orang lainnya yang menerjang masuk terus menuju belakang.

“Di sini!” Terdengar teriakan salah satu di antaranya.

Orang tua yang mencekal Siau Po marah sekali. Dia langsung mengirimikan sebuah bacokan ke arah Siau Po yang untung sudah terlepas dari cekalannya. Siau Po menghindarkan diri dengan gesit. Namun dari sisi kirinya ada seorang berpakaian hijau lainnya yang langsling menyerangnya.

Dukk! Punggungnya terhajar. Sekali lagi tubuhnya terpental ke halaman belakang, namun kali dia tidak sanggup bangun lagi.

Enam orang berpakaian hijau menyerbu ke dalam penjara, tetapi pintu besinya kokoh sekali, tidak mudah dijebol.

Sementara itu di luar terdengar suara gong yang bising.. Rupanya para wisu sedang meminta bala bantuan.

“Cepat!” seru salah seorang berpakaian hijau

“Ngaco! Sia’pa yang tidak tahu bahwa kita tidak boleh menunda waktu lama-lama di sini?” bentak si orang tua tadi.

Seorang berpakaian hijau kewalahan menggempur pintu besi yang kokoh itu. Dia segera menuju Jeruji jendela dan menghantam dengan senjata ruyungnya. Baru beberapa kali hantaman, besi jeruji jendela itu sudah melengkung.

Jumlah niereka semuanya menjadi enam orang. Sedangkan ruangan itu cukup sempit sehingga mereka harus berdesak-desakan. Ketika mereka semua sedang mengepung kamar tahanan itu, Siau Po lai dapat merangkak. Dia herniat menyingkir dari tempat itu. Tapi belum beberapa tindak, seseorang telah memergokinya. Orang itu langsung menikam ke arahnya. Untung saja Siau Po waspada. Dia segera menggulingkan tubuhnya, namun mesun demikian, ujung pedang itu sempat juga mengoyakkan pakaiannya dan menyayat bagian iganya.

Siau Po tidak memperdulikan nyeri yang dirasakannya. Yang paling utama baginya hanya menye lamatkan diri. Dia terus melompat sekuat tenaga dan menghambur.

“Setan cilik!” damprat seseorang yang melompat sambil membacokkan goloknya.

Siau Po terdesak, tidak ada tempat bagi untuk meloloskan diri. Akhirnya dengan nekat, ia menerobos ke dalam dua jeruji jendela yang sudah dilengkungkan oleh kawanan berpakaian hijau itu.

Seorang berpakaian hijau berusaha menahannya dengan serangan, tetapi dia hanya berhasil menghajar jeruji besi karena tubuh Siau Po sudah nyeplos ke dalamnya.

“Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!” teriak salah seorang dari kawanan berpakaian hijau itu. Dia bermaksud menyelusup ke dalam jeruji besi seperti halnya Siau Po. Sayang tubuh orang terlalu besar, hanya bagian kepalanya saja yang masuk lewat jeruji itu.
Siau Po segera mengeluarkan belatinya dan menggenggamnya erat-erat. Dengan panik dia berteriak.

“Lekas panggil bala bantuan! Lekas panggil bala bantuan!”

Dari luar terus berkumandang suara pukul gong dan bentrokan senjata. Ketika Siau Po sedang berteriak-teriak, tiba-tiba ada angin keras yang menyambar ke arahnya. Belum sempat dia mengetahui apa yang telah terjadi, tahu-tahu tubuhnya sudah terpelanting kemudian bergulingan beberapa kali. Kemudian dia juga mendengar suara keras memekakkan telinga. Cepat ia menolehkan kepalanya. Dilihatnya Go Pay sedang menyerang kesana kemari dengan tangan tetap terbelenggu, kata-katanya tidak jelas lagi, hanya suaranya keras dan tidak enak didengar.
Tepat pada saat itu, seorang berpakaian hijau menyusup lewat jeruji jendela. Rupanya orang yang satu ini memiliki tubuh yang kecil dan ramping, tapi baru saja tubuhnya meluncur masuk, rantai borgol di tangan Go Pay sudah menyambutnya dengan keras sehingga batok kepalanya pecah tidak karuan.

Siau Po terkejut dan heran menyaksikan hal itu.

‘Eh, kok dia menyerang temannya sendiri? Padahal mereka berniat menolongnya keluar dari tahanan. Ah! Aku tahu! Celaka! Obat yang kuberikan padanya tidak membunuh mati orang itu, justru membuatnya jadi gila. Pasti aku memberikan obat yang salah!’ pikirnya dalam hati.

Siau Po menjadi bingung. Di luar kamar suara h semakin menjadi-jadi dan berbaur dengan suara bising yang diterbitkan rantai borgol Go Pay yang menghajar kesana-kemari.

‘Kalau dia sampai berbalik dan menghajar aku, tamalah riwayatku!’ pikir si thaykam gadungan.
Tapi pada dasarnya otak Siau Po memang cerdik dan nyalinya juga besar. Dalam keadaan bingung, dia berusaha menenangkan dirinya. Diam-diam dia menghampiri Go Pay dari belakang dan tiba-tiba menikam punggungnya dengan belatinya yang tajam bukan main itu. Tenaganya cukup kuat ketika melakukannya sehingga seluruh gagang belati itu amblas ke dalam punggung Go Pay.

Sebetulnya Go Pay mempunyai tenaga yang kuat dan pendengaran yang tajam. Tetapi karena menelan cukup banyak obat yang dicampurkan Siau Po dalam makanannya, pikirannya jadi terganggu dan perasaannya jadi kurang peka. Dia baru tahu ada yang membokongnya ketika punggungnya terasa nyeri. Dia mengibaskan rantai di tangannya dengan kencang tapi luput pada sasarannya.

Hebat sekali serangan Siau Po barusan. Bukan hanya belatinya saja yang luar biasa tajamnya, tetap begitu menghunjamkannya dia langsung menariknya ke luar lalu ditekan ke bawah sehingga tulang punggung Go Pay putus seketika.

Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan jeritan histeris, kemudian roboh bermandikan darah di atas tanah. Suara borgolnya menimbulkan suara gemuruh.
Kawanan pakaian hijau yang ada di luar jendela menjadi terkejut dan heran. Mereka juga gusar karena kematian teman mereka di tangan Go Pay. Mereka menyaksikan perbuatan Siau Po terkesima.
Mereka benar-benar tidak mengerti….

Begitu tersadar dari rasa terkejut, seseorang diantaranya langsung berteriak:

“Bocah itu membunuh Go Pay! Bocah itu memunuh Go Pay!” Terdengar suara yang berwibawa dari mulut si orang tua.

“Bongkar jendela! Periksa apakah Go Pay benar-benar sudah mati?” Tampak dua orang dari kawanan itu mendekati jeruji jendela kemudian menghajarnya dengan ruyung besi. Dua orang lainnya berusaha membongkar kusen jendela itu.

Tepat pada saat itu dua orang wisu menerjang ke arah mereka, tapi ditahan oleh si orang tua. Dalam dua kali gebrakan, kedua wisu itu sudah roboh mati di atas tanah.

Tidak lama kemudian, jeruji jendela itu sudah berhasil dibongkar.

“Biar aku yang masuk!” kata seorang wanita bertubuh kecil. Dia langsung masuk ke dalam dan disambut oleh belati Siau Po yang mengangkat kawanan berpakaian hijau itu adalah musuhnya.

Wanita itu lincah sekali. Goloknya diangkat ke atas untuk menahan serangan Siau Po. Namun dia sampai terkejut ketika mendapatkan goloknya terkutung menjadi dua bagian terkena tebasan belati Siau Po.

Wanita itu sempat mengeluarkan seruan ter tahan, tetapi secepat kilat dia menyambitkan kutungan goloknya ke arah Siau Po.

Siau Po melihat datangnya serangan, dia bermaksud menghindarkan diri. Dia menundukkan tubuhnya sedikit dan mengira golok itu akan melintas lewat di atas kepalanya. Ternyata dugaannya keliru. Golok itu bukan mengincar kepalanya tapi malah mengarah dadanya. Begitu cepat golok itu meluncur sehingga tahu-tahu dadanya sudah tertancap.

Siau Po merasa terkejut dan juga kesakitan. Belum sempat dia berbuat apa-apa, wanita itu sudah menerjang lagi ke arahnya dan dalam sekejap mata kedua tangannya sudah ditelikung ke belakang sehingga Siau Po tidak berdaya. Wanita itu juga langsung mengirimkan sebuah totokan ke iganya sehingga dia merasa nyeri sekali.

Setelah jeruji jendela berhasil dibongkar, si orang tua tadi pun bisa meloncat ke dalam. Dia segera mengangkat tubuh Go Pay dan memeriksanya dengan teliti.

“Memang benar Go Pay!” kata orang tua itu sambil mengangkat tubuh itu ke atas dengan maksud menyodorkannya kepada rekannya yang masih di luar jendela. Tetapi gerakannya tertahan karena rantai masih memborgol tangan Go Pay.

Wanita yang membuat Siau Po tidak berdaya itu teringat pisau belati si bocah yang tajam. Dia segera mengambilnya dan berkata.

“Belati ini tajam sekali. Biar aku coba!” Ditebasnya rantai pengikat Go Pay dengan belati milik Siau Po, ternyata dengan sekali tebas saja rantai itu sudah putus.

Sejenak kemudian tubuh Go Pay sudah dilemparkan lewat jeruji jendela yang langsung disambut kawanan berpakaian hijau itu. Terdengar si orang tua berkata;

“Bawa bocah itu sekalian. Sekeluarnya dari istana ini, kita berpencar. Jangan lupa, nanti malam kita bertemu di tempat semula!” Dia pun mendahului yang lainnya menyelusup keluar lewat jeruji jendela.

Kawan-kawannya juga ikut keluar dan wanita tadi langsung mengempit tubuh Siau Po sembari mengiakan. Mereka pun meninggalkan tempat itu.Tapi belum sampai di luar istana, mereka suda diserang oleh anak panah. Bahkan Kongcin ong dengan membawa sebatang golok langsung memegang tampuk pimpinan.

Siau Po diserahkan kepada seorang berpakaian hijau lainnya. Wanita itu menggunakan belati Siau Po untuk mengibaskan setiap batang anak panah yang meluncur ke arahnya.

“Mari ikut aku!” teriak salah seorang dari kawanan itu yang memanggul mayat Go Pay. Dia menggunakan tubuh Go Pay sebagai kitiran untuk menahan datangnya serangan.

Kongcin Qng tidak tahu Go Pay sudah mati atau masih hidup. Dia tidak berani mengambil resiko.

“Jangan memanah!” Di lain saat, dia juga melihat Siau Po dipanggul oleh kawanan itu. Dia segera menambahkan: “Jangan memanah! Nanti melukai Kui kongkong!”

Siau Po dapat mendengar suaranya dengan jelas. Diam-diam dia berterima kasih:

‘Ongya, kau sungguh baik. Siau Po tidak akan melupakan budimu ini!’ janjinya dalam hati.

Tukang panah istana segera menghentikan aksinya. Kesempatan itu digunakan kawanan berpakaian hijau yang tampaknya hampir semua memiliki kepandaian cukup tinggi. Mereka segera menyerbu keluar istana. Si orang tua mengulapkan tangannya. Tampak empat orang di antara kawanan itu segera melancarkan serangan kepada Kongcin ong, para siwi istana terkejut setengah mati.

Sebetulnya apa yang dilakukan orang tua itu hanya merupakan bagian dari siasatnya. Salah seorang di antara rekannya menyambitkan sebatang pisau yang langsung menancap di lengan Kongci ong. Para pengawal semakin panik. Tidak ada lagi yang mengurus kawanan berpakaian hijau itu. Mereka segera mengerumuni Kongcin ong untuk memberikan pertolongan. Sementara itu, para penyerbu sudah menerjang keluar dan dalam sekejap mata tidakterlihat bayangannya lagi.

Kawanan berpakaian hijau itu lari masuk ke dalam sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari istana Kongcin ong. Mereka segera mengunci pin tunya rapat-rapat. Tapi anehnya mereka tidak berdiam di dalam rumah itu malah lari lagi lewat belakang.

Rupanya mereka sudah merencanakan semuanya matang-matang sehingga jejak mereka tidak mudah diketahui oleh musuh. Mereka menggunakan cara yang sama sampai berkali-kali. Di rumah terakhir, mereka mengganti pakaian dengan macam-macam dandanan sehingga tampak seperti rakyat biasa.

Sebuah kereta telah disiapkan. Dua orang yang mendorongnya. Di dalam kereta terdapat dua buah drim besar. Mayat Go Pay diselusupkan ke dalam drum yang satunya dan Siau Po juga dimasukkan ke dalam drum yang lainnya.

‘Setan alas!’ maki Siau Po dalam hati ketika mendengar suara kereta bergerak. Dia merasa mendongkol sekali karena tidak bisa melakukan apa-apa. Kepalanya dipenuhi buah tho sehingga bagian dalam drum itu tidak kelihatan sama sekali.

Untungnya, Siau Po masih bisa bernafas walaupun menemui sedikit kesulitan. Lambat laun dia mulai bisa menenangkan hatinya dan berpikir dengan kepala dingin.

’Mereka ini tentunya antek-antek Go Pay. Mereka menawan aku setelah mengetahui aku yang membunuh pengkhianat itu. Jangan-jangan perutku akan dibelek dan jantungku akan dikorek untuk membahyangi arwah penjahat itu. Celaka! Se moga saja di tengah jalah kereta ini bertemu dengan tentara kerajaan. Pada saat itu, aku akan berusaha menggulingkan drum ini supaya mereka menjadi curiga dan aku bisa tertolong!’ pikirnya diam-diam.

Siau Po lupa tubuhnya dalam keadaan tertotok, dia tidak dapat bergerak sama sekali. Seandainya di tengah jalan mereka bertemu dengan tentara kerajaan sekalipun, tidak mungkin dia bisa menggulingkan drum itu.

Dia hanya mendengar suara roda kereta yang berputar dan tubuhnya yang terguncang-guncang. Sampai sekian lama mereka meneruskan perjalanan dengan tenang. Tidak ada tentara kerajaan yang menghadang….

Perasaan Siau Po semakin kesal, rasanya ingin dia memaki sepuas-puasnya, tapi tidak bisa melakukan hal itu. Bahkan mulutnya pun sulit dibuka untuk menggigit buah tho yang memenuhi seluruh kepala dan wajahnya itu. Akhirnya dia hanya dapat mencaci- dalam hati.

Lambat laun, saking letihnya Siau Po pun tertidur pulas. Entah berapa lama waktu telah berlalu, ketika ia tersadar kembali, kereta masih melaju. Dia tetap tidak dapat bergerak, malah merasa sekujur tubuhnya ngilu dan kesemutan.

‘Aih! Kali ini mungkin aku tidak dapat lolos lagi dengan selamat. Biar nanti aku akan mencaci maki mereka sepuas-puasnya. Biarlah aku mati, dua puluh tahun kemudian toh aku akan menjelma lagi sebagai seorang bayi laki-Iaki. Untung saja aku berhasil membunuh Go Pay. Coba kalau tidak. Setelah tertawan oleh kawan-kawannya ini, aku pasti akan mengalami berbagai siksaan dahulu sebelum mati dibunuh. Sekarang aku dapat mati dengan puas. Go Pay toh berpangkat tinggi, sedangkan aku hanya seorang kacung dari rumah pelesiran. Selembar nyawanya ditukar dengan nyawaku ini, rasanya masih tidak rugi!’ pikirnya dalam hati.

Sungguh Siau Po seorang bocah yang hebat. Dalam keadaan seperti itu dia masih sanggup menghibur hatinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, kembali Siau Po tertidur. Malah kali ini lebih lama dari yang pertama. Akhirnya setelah terbangun, dia merasa kereta itu melaju di jalan yang licin. Dalam hati dia bertanyatanya, kemana mereka akan membawanya.

Lalu, saat yang ditunggu sampai juga. Kereta itu berhenti. Siau Po masih terus menunggu, namun tidak ada seorang pun yang mengeluarkannya dari dalam drum. Dia merasa heran dan juga gundah.

Terus dia berdiam diri sampai sayup-sayup didengarnya suara orang mendatangi. Dia agak terkejut ketika seseorang membuka tutup drum itu, buah tho yang menutupinya dikeluarkan sehingga Siau Po dapat bernafas lebih lega.

Ketika dia membuka matanya kembali, mula-mula pandangan terasa gelap, lambat laun dia baru mulai terbiasa. Kali ini ada orang yang mengang katnya dari dalam drum kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan membawanya pergi. Ada seorang lainnya yang berjalan di samping dengan membawa sebuah lentera. Rupanya malam sudah mulai menjelang.

Siau Po dapat melihat bahwa orang yang membawanya adalah seorang tua yang wajahnya berwibawa. Sikapnya pendiam karena dia tidak bicara sama sekali. Ketika itu mereka berada dalam sebuah taman, tapi orang itu masih membawanya menuju ruangan belakang.

Pembawa lentera langsung mementangkan daun jendela. ‘Celaka aku!’ keluh Siau Po dalam hati.

Ruangan itu penuh dengan orang. Jumlahnya mungkin mencapai seratus lebih. Pakaian mereka seragam, semuanya berwarna hijau. Kepala masing-masing dibalut dengan sabuk putih. Bagian pinggang dililit dengan kain putih juga. Hal ini membuktikan bahwa mereka mengenakan pakaian berkabung.

Di tengah ruangan telah diatur sebuah meja sembahyang. Di sekelilingnya menyala delapan batang lilin.

Ketika di Yangciu, Siau Po pernah menghadiri upacara sembahyang seperti ini. Karenanya dia tahu dan hatinya takut sekali. Tubuhnya gemetar. Dia khawatir dirinya akan menjadi korban untuk upacara itu. Mungkin dadanya akan dibelek untuk di keluarkan jantungnya.

Si orang tua menurunkan Siau Po dan membiarkannya berdiri dengan sebelah lengannya tetap tercekal. Dia lalu menepuk dada dan punggung bocah itu agar jalan darahnya yang tertotok dapat bebas, tapi Siau Po tetap tidak dapat berdiri tegak karena kedua lututnya terasa lemas sehingga dia terpaksa dipapah oleh orang tua itu.

‘Bagaimana aku dapat meloloskan diri dari tempat ini?’ Hal inilah yang pertama-tama timbul dalam benaknya. Sebab dia sadar, yang paling utama saat ini hanyalah lari.
Semua orang yang ada dalam ruangan ini tentu berkepandaian tinggi. lnilah kesulitan yang harus dihadapinya. Tidak mungkin dia sanggup menandingi mereka. Tapi totokannya sudah bebas. Biar bagaimana, dia tetap akan berusaha. Dia terus mencoba!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: