Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Rahasia Peti Wasiat (06)

Filed under: Gu Long, Rahasia Peti Wasiat — Tags: — ceritasilat @ 10:41 am

Rahasia Peti Wasiat (06)
Oleh Gu Long

“Hahh,” Bun-hiong terkejut. “Masa Giok-nio adik perempuan Eng-jiau-ong (si Raja Cakar Elang) Oh Kiam-lam?”

“Sangat mengherankan bukan?” ujar It-hiong dengan tersenyum.

“Memang aneh,” kata Bun-hiong. “Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam adalah pemimpin besar ke-72 gerombolan bandit terbesar di daerah utara dan selatan, mengapa adik perempuannya bisa telantar menjadi perempuan hiburan?”

“Tentang Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam sudah mati lima tahun yang lalu, apakah kau tahu?” tanya It-hiong.

“Tahu, konon dia habis melakukan suatu perkara besar, tidak lama kemudian lantas ditemukan mati di luar kota Tiang-an,” kata Bun-hiong.

“Betul, perkara yang dikerjakannya itu memang terlampau besar,” kata It-hiong sambil mengangguk. “Yang dirampok adalah satu partai harta kiriman bantuan pemerintah ke daerah Kangsay untuk menolong bencana alam yang timbul di sana. Setelah berhasil merampok Oh Kiam-lam lantas menghilang, siapa tahu tiga bulan kemudian mendadak ditemukan sudah mati terbunuh di luar kota Tiang-an.”

“Yang membunuhnya pasti juga kawannya dari golongan hitam,” ujar Bun-hiong. “Tujuannya adalah merampas harta hasil rampokannya itu.”

“Bisa juga lantaran pembagian rezeki yang tidak rata sehingga timbul percekcokan di antara kawan sendiri.”

Bun-hiong mengangguk. “Ya, mungkin. Dan adakah hubungan dengan maksud Tui-beng-poan-koan To Po-sit mencari Giok-nio?”

“Dia tidak mau menjelaskan, aku hanya disuruh membekuk Giok-nio baru akan dijelaskan nanti,” tutur It-hiong. “Menurut dugaanku, maksud tujuannya menangkap Giok-nio mungkin bukan untuk mengusut harta pemerintah yang dirampok itu, sebab kalau Giok-nio tersangkut perkara itu, tentu kawan golongan hitam takkan membiarkan dia hidup bebas, sebaliknya kalau dia mendapatkan bagian rezeki itu, tidak nanti dia hidup telantar menjadi perempuan hiburan.”

“Meski masuk di akal perkiraanmu, tapi kupercaya maksud To Po-sit hendak menangkap Giok-nio pasti ada hubungannya dengan Oh Kiam-lam.”

“Tapi Oh Kiam-lam kan sudah mati,” kata It-hiong.

“Orang mati kan juga dapat meninggalkan urusan yang panjang,” kata Bun-hiong. “Dan kenapa To Po-sit tidak mau menceritakan sebabnya dia ingin menangkap Giok-nio?”

“Dia memang mempunyai watak yang aneh,” tutur It-hiong. “Setiap perkara yang belum dipecahkan olehnya, biasanya dia memang tutup mulut serapatnya. Aku cukup kenal wataknya, maka aku suka bekerja baginya.”

“Konon ilmu silatnya sangat tinggi, bahkan serbatahu,” kata Bun-hiong. “Kalau saja tidak menjadi pejabat sebenarnya dia dapat menjadi pemimpin suatu golongan tersendiri di dunia persilatan dan menjadi guru besar ilmu silat.”

“Memang betul,” It-hiong mengangguk.

“Dia juga pernah memberi petunjuk padamu?” tanya Bun-hiong.

“Ada, pernah dia mengajarkan padaku sejurus ilmu pukulan dan sejurus ilmu menangkap dan mencengkeram.” tutur It-hiong.

“Sekarang dia tinggal di mana?” tanya Bun-hiong.

“Maaf, hubungan kita belum cukup akrab, tidak dapat kukatakan tempat tinggalnya kepadamu.”

“Tidak mau kau katakan ya sudahlah, aku pun tidak memaksa,” ujar Bun-hiong tersenyum.

“Kembali urusan pokok, apakah kau tahu di sekitar sini ada tokoh dunia persilatan yang agak menonjol?” tanya It-hiong tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Bun-hiong.

“Supaya dapat kuminta keterangan tentang asal usul si kakek baju kelabu.”

“Di sekitar sini tidak ada tokoh yang kukenal, tapi kukenal dua pemimpin Siang-liong-piaukiok di Kim-leng, mereka berusaha di bidang pengawalan, orang dari golongan putih maupun kalangan hitam tentu cukup banyak yang dikenal mereka, jika ingin mencari keterangan tentang si kakek baju kelabu, kukira boleh kita cari mereka.”

“Jika begitu kira harus putar kembali ke sana?” tanya It-hiong.

“Dari sini ke Kim-leng kan tidak terlalu jauh, pula setiba di sana kau pun dapat mencari Giok-nio, bukankah sekali tindak dua hasil?”

It-hiong berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, jika begitu bolehlah kita bermalam di sini, esok segera berangkat ke Kim-leng.”

Maka sehabis makan malam, mereka keluar pula berfoya-foya, lalu kembali lagi ke hotel.

Esoknya mereka meninggalkan Ko-yu dan menuju ke selatan.

Pang Bun-hiong tidak membawa kuda, maka bersama It-hiong menunggang satu kuda. Pek-sin-liong adalah kuda tangkas dan kuat, meski memuat dua orang tetap berlari dengan amat pesat.

Menjelang malam mereka pun tiba di kota Kim-leng.

Kim-leng adalah sebuah kota ternama yang bersejarah, terhitung salah satu kota yang ramai dan makmur, gedungnya megah berderet, pada waktu malam bilamana lampu sudah menyala, pasar malam tambah ramai dan pemandangan memesona.

Begitu masuk kota, Bun-hiong lantas turun dari kuda dan berjalan kaki, katanya dengan tertawa, “Di kota Kim-leng ini aku pun cukup dikenal.”

“Jika begitu harap engkau mencarikan dulu sebuah hotel, urusan lain boleh dirundingkan nanti,” kata It-hiong.

“Baik, ikut saja padaku,” ujar Bun-hiong.

Ia membawa It-hiong ke suatu jalan yang paling ramai di pusat kota, lalu berhenti di depan sebuah hotel mewah bernama Kim-leng-khek-can.

Seorang pelayan yang bermata jeli segera mengenali Pang Bun-hiong, cepat ia menyongsong kedatangan langganannya dan menyapa, “Aha, Pang-kongcu, sudah lama nian tidak berkunjung kemari? Tumben kelihatan sekarang, lekas masuk, silakan masuk.”

Bun-hiong menuding It-hiong dan berkata. “Ini Liong-kongcu, sahabatku. Malam ini kami hendak menginap di sini, sediakan dua kamar kelas utama.”

Berulang pelayan mengiakan, lalu kuda It-hiong dibawa pergi dan diberi makan, kemudian mengantar Bun-hiong berdua ke kamar.

Hampir semua pegawai hotel kenal Bun-hiong, semuanya menyapa dengan hormat. Mereka menempati dua kamar kelas satu, sesudah membersihkan badan baru bersama meninggalkan hotel.

“Di ujung jalan sana ada sebuah restoran paling terkenal di kota ini, namanya Kim-boan-lau, boleh kau coba,” kata Bun-hiong.

“Tapi aku tidak mau makan otak kera,” kata It-hiong.

“Jangan khawatir,” ujar Bun-hiong tertawa. “Restoran itu khusus menyajikan masakan Sujwan, tidak menjual otak kera.”

“Aha, bagus, aku memang suka makan hidangan Sujwan, rasanya pedas dan menyenangkan,” seru It-hiong.

“Cuma mahal harganya, sekali makan terkadang menghabiskan beberapa puluh tahil perak,” ujar Bun-hiong.

“Tidak menjadi soal, aku yang bayar,” kata It-hiong.

“Tidak, makan malam ini adalah giliranku untuk membayar,” seru Bun-hiong. “Aku ini langganan lama Kim-boan-lau, malahan dulu pernah kubela mereka mengusir beberapa orang bicokok yang bikin rusuh di sana, maka mereka tidak berani menggorok terlalu mahal.”

Tengah bicara, tanpa terasa mereka sudah tiba di luar restoran itu.

Benar juga, begitu melihat Pang Bun-hiong, serupa juga pelayan hotel, segera pelayan restoran menyapa dengan hormat dan menyilakan mereka naik ke loteng, ke tempat yang paling terhormat.

Setelah memilih sayuran, lalu Pang Bun-hiong menggoyang kipas lagi dan berkata, “Habis makan, lebih dulu kita mencari Giok-nio atau mendatangi Siang-liong-piaukiok?”

“Pergi dulu ke Siang-liong-piaukiok,” kata It-hiong. “Kuingin merampas kembali dulu kotak itu dan mengantarnya ke Cap-pek-pan-san, habis itu baru membereskan urusan Giok-nio ini.”

“Jika sudah dapat mengetahui seluk-beluk si kakek baju kelabu lantas takkan kau cari Giok-nio lagi?” tanya Bun-hiong.

“Sebelum berangkat boleh juga mencarinya dulu, cuma tidak boleh memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan, agar tidak menyentuh rumput mengagetkan ular,” kata It-hiong.

“Dia tinggal di rumah hiburan mana?”

“Kabarnya di Boan-wan-jun.”

“Aku tahu tempat itu, rumah hiburan itu memang bagus, rata-rata cantik nona yang tinggal di situ.”

“Buset, tampaknya tidak sedikit nona yang pernah kau kenal.”

“Tidak banyak, soalnya aku suka pilih.”

“Bagaimana pilihanmu?”

“Harus muda dan cantik, anggun dan bersih, harus yang masih baru.”

“Tolol, nona begituan kan tidak pengalaman, masa baik?”

“Aku justru cocok yang jenis begitu, kau sendiri suka yang model apa?”

“Aku suka yang genit, makin genit makin baik.”

“Hah, ada satu di Boan-wan-jun, namanya Kim-lian, dia terkenal paling genit, mau kuperkenalkan dia padamu?”

“Boleh sih boleh, cuma kalau jadi ke Boan-wan-jun, yang ingin kutemui dulu justru Giok-nio ….”

Tengah bicara, hidangan sudah diantar oleh pelayan. Maka mereka lantas makan minum dengan riangnya.

Sembari makan It-hiong bertanya, “Berapa jauhnya jarak Siang-liong-piaukiok dari sini?”

“Tidak jauh, ratusan langkah saja dari sini,” jawab Bun-hiong.

“Siapa nama Congpiauthaunya?”

“Mereka bersaudara, Lotoa Hang Tiong, Loji Hang Wi, orang memberi julukan Hang-keh-siang-liong (dua naga keluarga Hang) kepada mereka. Mereka memang tangkas juga, barang kawalan mereka tidak pernah hilang.”

“Bagaimana hubunganmu dengan mereka?” tanya It-hiong pula.

“Tidak jelek, cuma mereka hidup serupa orang kaya mendadak, maka aku jarang mencari mereka.”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara orang naik tangga, menyusul seorang lantas berseru dengan lantang, “Aha, Pang Bun-hiong, kau datang ke Kim-leng sini, kenapa tidak kau cari kami?”

Bun-hiong merasa girang, segera ia berdiri dan menyapa, “Aha, baru disinggung segera muncul orangnya. Inilah Hang-loji!”

Terlihat dari bawah naik dua orang. Yang di depan berusia 40-an, bertubuh kekar, berwajah lebar, kumis menghias bibirnya, pakaiannya mentereng, tampaknya dia inilah Hang Wi, orang kedua dari Siang-liong-piaukiok.

Yang ikut di belakangnya adalah seorang muda, mukanya tidak luar biasa, tampaknya seorang pelajar.

Dengan tersenyum Bun-hiong memberi hormat dan menyapa, “Baik-baikkah selama ini, Hang-jipiauthau?”

Hang Wi menjabat tangan Bun-hiong dengan akrab sambil menepuk pundak orang, katanya dengan tergelak, “Haha, rasanya sudah lebih setengah tahun kita berpisah, sekali ini angin apakah yang membawamu ke sini?”

“Karena senang, lalu datang kemari,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Baru saja kulewat di bawah, pelayan bilang padaku akan kedatanganmu, kuheran mengapa engkau tidak mampir ke rumah kami?” tanya Hang Wi.

“Siaute juga baru sampai, sesudah makan memang ingin mengunjungimu,” Bun-hiong memberi alasan. Lalu ia berpaling dan berkata kepada It-hiong, “Ini, kuperkenalkan kalian. Inilah Hang-loji dari Siang-liong-piaukiok.”

“Sudah lama kukagumi nama Anda, beruntung dapat berjumpa di sini,” segera It-hiong memberi hormat.

Lalu Bun-hiong berkata pula kepada Hang Wi, “Inilah Liong-hiap Liong It-hiong yang termasyhur itu.”

“Aha, kiranya Liong-hiap adanya,” seru Hang Wi sambil membalas hormat. “Sudah sering kudengar nama Anda dari kawanku, sungguh bahagia hari ini dapat bertemu.”

It-hiong lantas mengucapkan kata-kata merendah diri.

Kemudian Bun-hiong memandang pemuda pelajar itu dan bertanya, “Hang-heng, saudara ini ….”

“Dia bernama Lu Siau-peng, adik istriku,” cepat Hang Wi memberi tahu. “Dia baru beberapa hari berada di Kim-leng, karena iseng malam ini, maka kubawa dia melancong keluar. Ayo Siau-peng, lekas menemui Pang-kongcu dan Liong-tayhiap.”

Lu Siau-peng itu seperti pemuda yang masih hijau, melihat orang asing masih kelihatan malu-malu, dengan kikuk ia lantas memberi hormat kepada Bun-hiong berdua tanpa bersuara.

“Mari silakan duduk dan minum beberapa cawan,” sapa Bun-hiong pula. “Hei pelayan, lekas tambah dua pasang sumpit dan mangkuk piring.”

Pelayan mengiakan dan cepat menyiapkan apa yang diminta.

Dengan akrab Bun-hiong menuangkan arak bagi mereka, lalu ia menuang secawan untuk diri sendiri, katanya, “Mari, habiskan secawan!”

Sekali tenggak Hang Wi menghabiskan isi cawannya, lalu berkata sambil memandang Bun-hiong berdua, “Kalian yang satu Liong-hiap dan yang lain Hou-hiap, kini dalam perjalanan bersama, sungguh kisah yang menarik bagi dunia persilatan.”

“Ah, menarik apa,” ujar Bun-hiong tertawa. “Orang bilang naga bertempur dengan harimau, bilamana naga bertemu harimau selalu berakibat tidak baik.”

“Haha, tidak, tidak bisa,” Hang Wi terbahak. “Kalian yang satu naga langit dan yang lain harimau bumi, sesuai pemeo yang menyatakan air sumur tidak menggenangi air sungai, tidak nanti kalian saling bertempur. Jika kalian sama menggunakan julukan Liong atau Hou, kemungkinan untuk bertarung tentu akan besar karena satu gunung biasanya memang sukar dihuni oleh dua harimau sekaligus.”

Bun-hiong memandang It-hiong, katanya dengan tertawa, “Nah, kau dengar, maka perkelahian kita itu biarlah kita hapus saja.”

It-hiong hanya tertawa tanpa menjawab.

“Bicara sesungguhnya, kedatangan kalian di Kim-leng ini apakah ada sesuatu urusan?” tanya Hang Wi.

“Ada, kami memang hendak mencari kalian,” jawab Bun-hiong.

“Oo, ada petunjuk apa?” tanya Hang Wi.

“Kami ingin mencari keterangan seorang padamu,” kata Bun-hiong.

“Siapa?” tanya Hang Wi.

Bun-hiong menunjuk It-hiong dan berkata, “Dia mempunyai semacam barang dan dirampas seorang tua, tapi tidak tahu nama dan alamat orang tua itu. Kupikir kalian sering kian kemari di dunia Kangouw, tokoh Bu-lim yang kalian kenal sangat banyak, mungkin kalian tahu seluk-beluk kakek itu, maka kuajak dia kemari, untuk minta keterangan padamu.”

Hang Wi memandang It-hiong sekejap, tanyanya, “Barang apa milik Liong-hiap yang dirampas orang?”

“Sebuah kotak,” tutur It-hiong. “Itu pun sebenarnya bukan milikku melainkan barang titipan orang yang minta kukirim ke Cap-pek-pan-san ….”

“Cap-pek-pan-nia atau Cap-pek-pan-san?” mendadak Hang Wi memotong.

It-hiong melenggong, perlahan timbul rasa kejut dan girang pada air mukanya, mendadak ia melonjak dan berseru, “Aha, betul, Cap-pek-pan-nia dan bukan Cap-pek-pan-san, yang benar Cap-pek-pan-nia (Nia=bukit, San=gunung).”

Bun-hiong ikut bingung, katanya, “Hei, bicaralah yang jelas, sesungguhnya Cap-pek-pan-nia atau Cap-pek-pan-san?”

“Yang betul adalah Cap-pek-pan-nia,” seru It-hiong dengan bersemangat. “Karena pertanyaan Hang-jiko tadi, seketika teringat olehku yang tepat adalah Cap-pek-pan-nia.”

“Kukira memang begitu,” kata Hang Wi tersenyum. “Hanya Cap-pek-pan-nia yang bisa ada hubungan dengan kawan Bu-lim, kalau Cap-pek-pan-san pasti tidak.”

“Kenapa bisa begitu!” tanya Bun-hiong.

“Sebab Cap-pek-pan-san hanya sebuah tempat yang terkenal indah pemandangan alamnya, tidak ada orang persilatan yang bercokol di pegunungan itu, sebaliknya Cap-pek-pan-nia menjadi pangkalan orang Kangouw,” tutur Hang Wi. “Kudengar paling akhir ini ada sekawanan orang gagah yang baru saja menonjol di dunia Kangouw menduduki bukit itu sebagai pangkalan, pengaruhnya besar dan telah menguasai kalangan hitam di daerah utara dan menjadi pusat kekuasaan kaum bandit di lima provinsi utara.”

“Siapa pemimpin besarnya?” tanya It-hiong cepat.

“Itu aku tidak tahu,” Hang Wi menggeleng. “Jarak Cap-pek-pan-nia dari sini sangat jauh letaknya, tidak pernah kami mengawal barang lewat sana, maka keadaan di tempat itu kami hanya tahu sekadarnya saja.”

“Jika begitu, tepatnya Cap-pek-pan-nia itu di mana letaknya?” tanya It-hiong.

“Kira-kira 60 li di sebelah barat laut Tong-hiang di barat provinsi Kamsiok, di sebelah utaranya adalah gerbang Ci-heng-koan dari tembok besar, di sebelah baratnya adalah pegunungan Tay-bo-san dengan lereng gunungnya yang tinggi berderet, lereng gunungnya berderet delapan belas diliputi rimba raya yang sukar dijajaki, orang biasa tidak berani mendekati lereng gunung itu, sebab sangat mungkin akan kesasar, bahkan banyak sekali binatang buas di sana.”

It-hiong menarik napas, katanya kepada Bun-hiong, “Keparat, jika begitu, orang yang bernama Si Hin itu ternyata kawanan bandit dari Cap-pek-pan-nia.”

“Betul atau tidak, sekarang belum dapat dipastikan, jika dia memang anggota bandit di pegunungan itu, apakah sekarang masih hendak kau antar kotak itu ke sana?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

It-hiong mengangkat pundak, “Tentang ini … biarlah kuputuskan nanti kalau kotak sudah kurebut kembali.”

“Orang yang bernama Si Hin itu minta Liong-hiap mengantar sebuah kotak ke Cap-pek-pan-nia, memangnya apa isi kotak itu?” tanya Hang Wi.

“Aku pun tidak tahu, sesudah kotak hitam itu diserahkan kepadaku segera ia mengembuskan napas terakhir karena lukanya yang parah ….” Lalu ia menceritakan secara ringkas apa yang dialaminya dulu.

Gemerdep sinar mata Hang Wi mendengar cerita yang aneh ini, katanya kemudian, “Jika demikian, isi kotak itu pasti sesuatu barang yang sangat berharga, makanya menimbulkan incaran orang banyak. Lantas bagaimana bentuk orang yang merampas kotak itu?”

“Seorang kakek berusia 60-an,” tutur It-hiong, “perawakannya kurus, berbaju warna kelabu, membawa senjata ruyung baja bersegi, Ginkangnya sangat tinggi.”

Hang Wi berpikir agak lama, katanya kemudian, “Tokoh Bu-lim yang memakai senjata ruyung baja kutahu ada beberapa orang, tapi kakek yang kau maksudkan ini sangat mungkin adalah In-tiong-yan Pokyang Thian ….”

“Orang macam apakah In-tiong-yan Pokyang Thian itu?” tanya It-hiong.

“Biasanya dia berkeliaran di daerah selatan, seorang bandit ternama, selain Kungfunya sangat tinggi, Ginkangnya juga sangat hebat, boleh dikatakan jarang ada bandingannya,” tutur Hang Wi.

“Dia tinggal di mana?” tanya It-hiong.

“Ini aku pun tidak tahu,” jawab Hang Wi. “Dia adalah bandit yang bekerja sendiri dan pergi-datang tidak menentu, mungkin tidak ada tempat kediaman yang pasti.”

“Mana dia tidak punya anak istri?” tanya It-hiong pula.

Hang Wi menggeleng, “Entah, tentang orang ini aku juga cuma mendengar dari cerita orang saja dan tidak pernah melihatnya, maka tidak begitu jelas mengenai pribadinya.”

“Tidak tahu tempat kediamannya, ke mana akan mencarinya!” ujar It-hiong dengan kening bekernyit.

“Memang betul, untuk mencari orang ini mungkin sangat sulit,” kata Hang Wi.

It-hiong memandang Bun-hiong, tanyanya, “Bagaimana?”

“Jangan cari dia,” kata Bun-hiong.

“Tidak bisa, harus kutemukan dia,” kata It-hiong. “Soalnya bukan melulu urusan kotak itu saja, tapi sebelum kuberi hajaran kepada budak itu rasanya belum puas hatiku.”

“Eh, ya, di kota ini adalah seorang Cia-lotia penjual barang antik, bisa jadi dia tahu jejak In-tiong-yan Pokyang Thian itu,” kata Hang Wi.

Seketika terbangkit semangat It-hiong, tanyanya, “Cara bagaimana seorang penjual barang antik mengetahui seluk-beluk In-tiong-yan Pokyang Thian?”

“Sebab barang antik yang dibelinya justru berasal dari barang curian kaum bandit dan perampok, atau dengan lain perkataan Cia-lotia adalah tukang tadahnya.”

“Hah, jika begitu tentu barang rampasan Pokyang Thian itu akan dijual juga kepada Cia-lotia,” seru It-hiong girang.

“Entah, sukar dipastikan,” kata Hang Wi. “Cuma kebanyakan tokoh Kangouw golongan hitam kenal juga pada Cia-lotia, maka tokoh seperti Pokyang Thian juga sangat mungkin pernah mengadakan transaksi dengan Cia-lotia.”

“Di mana tempat tinggal Cia-lotia?” tanya It-hiong.

“Kutahu, sebentar dapat kubawamu ke sana,” kata Bun-hiong.

“Memang tidak sulit jika ingin menemui Cia-lotia,” tukas Hang Wi. “Tapi bila ingin mengorek keterangan dari mulutnya kukira urusan tidak terlalu mudah. Jelek-jelek orang tua itu juga berjiwa setia kawan dan tidak sembarangan mengkhianati sahabat dunia Kangouw.”

“Jangan khawatir, aku mempunyai cara sendiri supaya dia bicara,” kata Bun-hiong.

Tahu mereka ada urusan penting, Hang Wi tidak mau banyak mengganggu lagi, segera ia berdiri dan berkata, “Baiklah, silakan kalian makan, aku mohon diri dulu.”

Cepat It-hiong berkata, “Jangan pergi dulu Hang-jiko, kalian belum bersantap apa pun, masa lantas pergi begitu saja?”

“Terima kasih.” kata Hang Wi dengan tertawa. “Kami sudah makan di rumah. Kami hanya keluar untuk melancong saja dengan iparku ini supaya kenal keadaan kota ini, bilamana Liong-hiap sudi bersahabat denganku, besok bila bertemu lagi nanti kita minum sepuasnya.”

It-hiong tidak menahannya lagi, katanya, “Baiklah, bila sempat besok boleh kita minum lagi.”

Lalu Hang Wi memberi hormat dan mohon diri.

Sesudah rombongan Hang Wi pergi, It-hiong berdua meneruskan bersantap.

“Kau kira kakek berbaju kelabu itu In-tiong-yan Pokyang Thian atau bukan?” tanya It-hiong kemudian.

“Mungkin,” jawab Bun-hiong.

“Lekas kita makan, segera kita pergi mencari Cia-lotia,” kata It-hiong.

Begitulah buru-buru mereka menyelesaikan makanan dan membayar lalu berangkat.

“Jika dari Cia-lotia tidak mendapatkan sesuatu keterangan, bagaimana kalau kita terus mencari Giok-nio?” tanya Bun-hiong.

“Baiklah,” jawab It-hiong.

“Menurut pendapatku tidaklah perlu kau pikirkan urusan kehilangan kotak, jika kotak itu ada sangkut pautnya dengan kawanan bandit Cap-pek-pan-nia, maka bisa banyak mendatangkan persoalan bilamana engkau ikut campur.”

“Tapi aku sudah menerima pesan orang mati, sebelum tugas terlaksana rasanya aku tidak rela,” kata It-hiong.

“Sejak mula juga engkau tidak pernah menyanggupi permintaannya, hanya lantaran mendadak kotak itu diborgolkan di tanganmu, maka tidak dapat dianggap engkau menerima pesannya.”

“Soal kotak itu dapat kurebut kembali atau tidak adalah urusan lain, namun betapa pun harus kubekuk kembali si budak she Ni itu,” ucap It-hiong dengan gemas.

Bun-hiong tertawa, “Jika dia jatuh hati padamu, dengan sendirinya dia akan kembali mencarimu.”

“Aku tidak berpikir demikian, aku cuma ingin menghajar dia untuk melampiaskan rasa dongkolku.” kata It-hiong.

Begitulah Bun-hiong lantas membawanya masuk ke sebuah gang kecil, katanya sambil menunjuk ke depan, “Lihat, toko barang antik Cia-lotia itu terletak di situ.”

Waktu It-hiong memandang ke sana, benar juga tidak jauh di depan ada sebuah toko, di depan pintu ada dua buah lampu kerudung bertulisan “barang antik”, ia tanya, “Kau kenal dia?”

“Kenal, pernah kubeli barangnya,” jawab Bun-hiong.

“Bagus jika begitu, sebentar boleh kau tanyai dia, sebaiknya pakai alasan bahwa engkau mempunyai urusan penting harus berunding dengan In-tiong-yan Pokyang Thian dan minta dia sebagai penghubung.”

“Cia-lotia adalah rase tua yang licin, dia tidak mau sembarangan percaya kepada ocehan orang,” kata Bun-hiong. “Tapi jangan khawatir, boleh kau lihat, aku mempunyai cara sendiri untuk menghadapi dia.”

Tengah bicara mereka sudah sampai di depan toko barang antik Cia-lotia.

Dipandang dari luar cahaya lampu terang benderang di dalam toko yang penuh barang antik yang menarik, di dekat pintu masuk ada sebuah meja kerja, di belakang meja duduk seorang tua dengan kumis tebal melintang di atas bibir, muka kelihatan kurus, lagi sibuk main swipoa sehingga menimbulkan suara tik-tak-tik-tak.

Begitu masuk segera Bun-hiong berseru, “Hai, Cia-lotia, ada barang bagus tidak?”

Cia-lotia atau kakek Cia mengangkat kepala dan mengenali Pang Bun-hiong, cepat ia berdiri dan memberi hormat, katanya. “Aha, kiranya Pang-kongcu. Selamat, selamat! Silakan duduk!”

Bun-hiong tidak memperkenalkan It-hiong padanya, ia mendekati meja tulis dan bertanya, “Bagaimana, ramai bisnismu?”

Cia-lotia berkerut kening, keluhnya, “Wah, sepi! Lebih banyak beli daripada jual, bisnis ini rasanya makin lama makin sulit.”

“Ah, sudahlah, jangan mengoceh di depanku,” kata Bun-hiong. “Orang lain mungkin tidak tahu, tapi aku tahu dengan jelas, umpama kau beli sekaligus sepuluh potong barang, cukup kau jual sepotong saja sudah kembali modal. Memangnya siapa yang tidak tahu engkau ini lintah darat?”

“Ah, masa begitu,” Cia-lotia menyengir Lalu ia membelokkan pokok bicara dan memberi hormat kepada It-hiong, katanya, “Eh, Kongcu ini tentunya sahabat Pang-kongcu.”

“Betul,” jawab It-hiong.

“Mohon tanya nama Anda yang mulia?” tanya si tua dengan tertawa.

“Ong It-hiong!”

“O, kiranya Ong-kongcu, selamat bertemu,” kata Cia-lotia.

“Nah, bagaimana, ada barang bagus tidak akhir-akhir ini?” tiba-tiba Bun-hiong menyela.

“Ada, ada,” berulang Cia-lotia mengangguk. “Ada sebuah, sekali pandang saja Pang-kongcu pasti suka. Cuma harganya agak tinggi ….”

“Jangan banyak omong, lekas keluarkan coba kulihat,” sela Bun-hiong.

“Baik, baik, silakan kalian duduk sebentar, segera kuambilkan,” kata si tua sambil melangkah ke ruang belakang.

Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa sebuah kotak persegi dan lonjong, dengan hati-hati ia taruh kotak itu di atas meja, katanya dengan tertawa, “Pang-kongcu pasti tidak dapat menerka barang apakah ini.”

“Seharusnya kau tahu aku suka barang apa,” kata Bun-hiong. “Kacau bukan barang kuno, sedikitnya berumur 500 tahun ke atas, hendaknya jangan kau perlihatkan kepadaku.”

“Wah, barang ini tidak cuma berumur 500 tahun, bahkan kukira sudah lebih seribu tahun,” kata Cia-lotia dengan tertawa.

“Masa? Coba buka!” ucap Bun-hiong tak acuh.

Perlahan Cia-lotia membuka kotak itu, terlihat bagian dalam kotak itu dilapisi beledu merah, setelah kain merah itu disingkap, tertampaklah sebuah pot bunga kristal yang sangat indah.

Pot bunga itu tingginya lebih satu kaki, bagian mulut melebar serupa kelopak bunga yang mekar, yang paling bernilai adalah seluruh tubuh pot berukir indah, biarpun orang awam juga tahu pot ini pasti benda antik yang sangat berharga.

Bun-hiong lantas mengangkat pot bunga itu dan diamat-amati sekian lamanya, lalu bertanya, “Barang dari zaman apa?”

Melihat caranya Bun-hiong memegang pot cantik itu diputar balik seenaknya, si tua menjadi khawatir, serunya dengan tegang, “Eh, hati-hati Pang-kongcu, jangan sampai jatuh!”

“Wah, melihat keteganganmu ini, tampaknya tidak sedikit harga pembelianmu, bukan?” tanya Bun-hiong.

“Memang,” jawab Cia-lotia. “Pot kristal ini kubeli dengan tiga ribu tahil perak.”

“Berasal dari mana barang ini?” tanya Bun-hiong.

“Istana!” desis Cia-lotia.

“Barang istana tidak seluruhnya benda mestika, tidak perlu kau gunakan nama istana untuk menggertak orang.”

“Tapi asal-usul pot ini sungguh luar biasa, ini barang dari zaman dinasti Tong,” tutur Cia-lotia.

“Memangnya barang Nyo-kuihui?” ucap Bun-hiong dengan tertawa.

Cia-lotia mengangguk, “Ya, tepat sekali tebakanmu, pot ini memang barang kesayangan Nyo-kuihui.”

“Sekarang hendak kau jual dengan harga berapa?” tanya Bun-hiong.

“Jika Pang-kongcu mau, biarlah kuhitung murahan sedikit, bayar saja tiga ribu dua ratus tahil,” kata Cia-lotia.

“Wah, terlalu mahal,” Bun-hiong menggeleng kepala.

“Tidak, tidak mahal,” kata si tua. “Kubeli dengan tiga ribu tahil, sekarang kuberikan kepada Pang-kongcu dengan tiga ribu dua ratus, masa dianggap mahal?”

“Kau dusta,” kata Bun-hiong, “Benda ini paling banyak kau beli dengan lima ratus tahil saja, hanya pindah satu tangan saja kau ingin untung dua ribu lebih, sungguh pintar menyembelih orang.”

“Ai, jika demikian ucapan Pang-kongcu jelas jual-beli ini tidak bisa terlaksana,” kata si tua.

Bun-hiong sengaja mengangkat pot itu ke atas dan membuatnya bergoyang-goyang seperti mau terlepas, katanya dengan tertawa, “Bagaimana kalau kubayar tujuh ratus tahil saja?”

“Tidak mungkin jadi,” kata Cia-lotia. “Masa kudusta, pot ini memang kubeli dengan tiga ribu tahil, satu peser pun tidak dapat kurang lagi.”

“Jika begitu batal,” kata Bun-hiong.

“Silakan pilih yang lain saja, masih ada sedikit barang simpananku yang lebih kecil ….” sembari bicara si tua terus hendak mengambil kembali pot itu.

Tapi Pang Bun-hiong sengaja menyurut mundur dan tetap mempermainkan pot itu seperti hendak jatuh, katanya dengan tertawa, “Jangan buru-buru, biar kupikir dulu.”

“Caramu memegang jangan begitu, bisa jatuh,” seru Cia-lotia khawatir.

“Jangan khawatir, takkan pecah,” kata Bun-hiong.

“Tidak, harus hati-hati,” kata si tua. “Coba lihat mulut pot yang tipis itu, sedikit terbentur saja pasti pecah, apalagi jatuh. Dan kalau gempil sedikit saja pasti akan merosot banyak harganya.”

“Tidak akan pecah, jangan khawatir,” kata Bun-hiong dengan tertawa.

Melihat cara Bun-hiong memegang pot itu tetap dengan acuh tak acuh dan bukan mustahil bisa segera pecah berantakan, si tua menjadi khawatir sehingga dahi berkeringat, serunya, “Awas, awas!”

“Jangan khawatir,” kata Bun-hiong dengan tertawa. “Ingin kutanya dulu padamu, kecuali pot bunga ini, barang aneh apa pula yang kau miliki?”

“Ada, ada, masih banyak,” sahut si tua. “Biar kusimpan dulu pot ini, segera kuperlihatkan barang lain.”

Habis berkata segera ia hendak mengambil kembali pot bunga kristal itu.

Namun Bun-hiong tetap tidak mau mengembalikannya, sebaliknya ia angkat pot itu terlebih tinggi, katanya dengan tertawa, “Aku minta sesuatu padamu, entah kau punya tidak?”

Cia-lotia khawatir pot itu benar-benar akan jatuh, dengan muka pucat ia berseru, “Kau … kau minta barang apa?”

“Sebuah kotak!” kata Bun-hiong.

“Sebuah kotak?” Cia-lotia menegas dengan melenggong. “Kotak apa?”

“Ya, sebuah kotak besi warna hitam, bentuknya serupa peti besi tempat menyimpan barang berharga, pada peti itu ada rantai besi dan ujungnya diberi borgol baja.”

“Aneh, barang apakah itu?” tanya Cia-lotia dengan terbelalak.

Bun-hiong tidak menjawab, sebaliknya tanya lagi, “Adakah orang menyerahkan kotak begitu kepadamu?

“Tidak ada,” jawab si kakek. “Kotak yang Kongcu katakan itu apa isinya? Mungkinkah tersimpan sesuatu benda mestika?”

“Tidak perlu kau tanya,” kata Bun-hiong. “Jika tidak ada orang memberikan kotak begitu padamu, maka aku ingin tanya lagi kabar seorang ….”

“Siapa?” tanya Cia-lotia.

“In-tiong-yan Pokyang Thian,” kata Bun-hiong.

“Kongcu hendak mencari dia?” si tua menegas.

Bun-hiong mengangguk, “Ya.”

“Sudah lama sekali dia tidak datang kemari,” tutur Cia tua.

“Di mana tempat tinggalnya?” tanya Bun-hiong pula.

“Entah,” jawab Cia-lotia.

Kembali Bun-hiong menggoyang-goyangkan lagi pot bunga itu di telapak tangan sehingga seperti mau jatuh, katanya dengan tertawa, “Benar engkau tidak tahu?!”

Tentu saja Cia-lotia sangat khawatir, “Hei, jangan bergurau, Pang-kongcu, bisa runyam bila jatuh!”

Bun-hiong tidak peduli urusan pot itu akan jatuh atau tidak, katanya, “Aku ingin tahu tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian, kukira engkau pasti tahu, maukah kau beri tahukan padaku?”

“Jangan Kongcu bikin susah padaku,” kata Cia-lotia sambil menggeleng. “Sesungguhnya orang macam apa In-tiong-yan Pokyang Thian itu tentu sudah cukup kau kenal, mana dia mau memberitahukan alamatnya kepadaku?”

“Jadi benar engkau tidak tahu?” Bun-hiong menegas.

“Benar-benar tidak tahu,” jawab Cia-lotia.

Mendadak pot bunga itu seperti mau terlepas dari tangan Bun-hiong, katanya dengan tertawa, “Lihat, pot ini seperti tidak puas atas jawabanmu, dia hampir saja jatuh terguling!”

Cia tua menjadi kelabakan, dengan sedih ia memohon, “Ampun Pang-kongcu, kuharap janganlah engkau membikin susah padaku. Bilamana kutahu alamat In-tiong-yan masa berani kurahasiakan …. Auuhh!”

Mendadak pot bunga itu terlepas dari tangan Bun-hiong!

Tampaknya segera pot itu akan hancur terbanting, tahu-tahu tangan Bun-hiong meraih ke bawah dan pot itu dapat ditangkapnya kembali.

“Coba kutanya sekali lagi …. Kau tahu di mana tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian?” tanya Bun-hiong pula.

Muka Cia-lotia tampak pucat pasi, jawabnya dengan suara gemetar, “Kongcu, hendak ku … kutegaskan, bila … bilamana kau pecahkan pot ini, tentu … tentu kuminta ganti rugi.”

“Jika aku mengaku memecahkan pot ini, dengan sendirinya harus kuganti,” kata Bun-hiong dengan tertawa. “Tetapi kalau kubilang kau sendiri yang menjatuhkan pot ini, memangnya salah siapa?”

Gugup dan cemas Cia tua, serunya, “Wah, jangan … jangan ….”

“Ini, untuk penghabisan kali kutanya,” mendadak Bun-hiong menarik muka. “Kau tahu di mana tempat tinggal In-tiong-yan Pokyang Thian?”

Kembali Cia-lotia menjawab, “Oo, Thian! Kan sudah kukatakan, aku benar-benar tidak tahu, lantas apa yang dapat kukatakan?”

Mendadak Bun-hiong menaruh pot bunga kristal itu di atas meja. Lalu berkata kepada It-hiong, “Rupanya dia memang tidak tahu, marilah kita pergi!”

*****

Setengah jam kemudian, Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong sudah berada di suatu jalan yang terkenal sebagai kompleks “lampu merah”. Mereka jalan berjajar melalui rumah demi rumah sambil menilai setiap cewek penghuni rumah hiburan yang mereka lihat ….

“Tahun yang lalu pernah kudatang ke sini,” kata It-hiong. “Kalau tidak salah di suatu rumah yang bernama Tho-hiang-ih kupenujui seorang ….”

“Bagaimana bentuknya?” tanya Bun-hiong dengan tertawa.

“Kurang cocok,” jawab It-hiong. “Wajahnya sih lumayan, tapi badannya kerempeng, akhirnya aku tidak jadi bermain.”

“Malam ini boleh ikut saja padaku, kujamin pasti pulang dengan puas,” kata Bun-hiong.

“Malam ini aku hanya mencari Giok-nio, yang lain aku tidak mau,” kata It-hiong.

“Setelah bertemu dengan dia, apakah akan kau tidur dengan dia?” tanya Bun-hiong.

“Lihat keadaan nanti,” ujar It-hiong.

“Dengan cara bagaimana akan kau bawa keluar dia?” tanya Bun-hiong pula.

“Belum terpikir olehku bagaimana caranya,” kata It-hiong.

“Biar kuajari suatu cara,” ujar Bun-hiong. “Malam ini boleh kau tidur bersama dia, besok kau ajak dia melancong keluar kota, pada kesempatan itu dapat kau bawa pergi dia.”

“Dia mau ikut keluar kota?” tanya It-hiong tertawa.

“Asalkan tanganmu agak terbuka, rasanya dia pasti tidak menolak.”

“Baik, akan kucoba. Adakah tempat pesiar yang baik di luar kota?”

“Ada, Bok-jiu-oh (telaga jangan sedih),” kata Bun-hiong.

“Bagus, biar kuajak dia pesiar ke sana, tapi harus kau bantu, besok pagi hendaknya kau bawa dulu kudaku dan menunggu di tepi telaga sana.”

“Boleh,” jawab Bun-hiong.

Tiba-tiba It-hiong menuding ke depan, “Lihat, itu kan Boan-wan-jun? …. Ehm, memang hebat!”

Boan-wan-jun memang terhitung rumah pelacuran lebih tinggi kelasnya dibandingkan rumah hiburan lain yang terdapat di kompleks ini, tamu yang berkunjung ke sini kebanyakan juga cukong yang berduit.

“Kukenal germo Boan-wan-jun ini,” kata Bun-hiong. “Dia punya julukan sebagai Cui-coa-yo (si pinggang ular), meski usianya sudah setengah baya, tapi kalau berjalan, lenggak-lenggoknya bisa bikin semaput orang.”

“Wah, tentu sangat genit,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Ya, memang sangat genit,” Bun-hiong mengangguk.

Bicara sampai di sini mereka sudah sampai di depan pintu Boan-wan-jun.

Demi melihat kedatangan dua tamu Kongcu muda dan gagah, segera seorang calo menyongsong Bun-hiong berdua, sambil memberi hormat ia menyapa, “Silakan duduk di dalam kedua Kongcuya, silakan masuk ke dalam.”

Lalu dia berteriak juga ke dalam rumah, “Ada tamu?”

Segera ada orang menyahut di dalam, lalu muncul seorang perempuan setengah umur, melihat gaya berjalannya dengan pinggulnya yang lenggak-lenggok, jelas dia si germo Boan-wan-jun yang dimaksudkan Bun-hiong tadi, yaitu si Cui-coa-yo.

Begitu melangkah ke dalam segera Bun-hiong menegur dengan tertawa, “Hai, Cui-coa-yo, masih kenal padaku tidak?”

Cui-coa-yo mengamatinya beberapa kejap, serentak ia berseru girang, “Aduh, kukira siapa, rupanya Pang-kongcu adanya! Kenapa sudah sekian lama tidak mampir ke sini? Tumben!”

“Sekarang aku kan sudah datang?!” kata Bun-hiong dengan tertawa.

“Silakan duduk, silakan!” kata Cui-coa-yo dengan tertawa. “Dan Kongcu yang ini ….”

“Dia she Liong, sahabatku,” kata Bun-hiong.

Cui-coa-yo memberi hormat dan menyapa, “Oo, Liong-kongcu, selamat datang!”

“Jangan sungkan,” jawab It-hiong.

Cui-coa-yo membawa mereka ke ruangan tamu dan menyilakan mereka duduk, lalu menyuruh kacung menyuguhkan teh, kemudian berkata dengan genit, “Sudah sekian lama Pang Kongcu tidak berkunjung kemari, tentu karena engkau terpikat oleh nona cantik di tempat lain, betul tidak?”

Bun-hiong tertawa, katanya, “Aku memang terpikat oleh seorang, cuma sayang dia tidak sudi padaku.”

“Ah, masa,” ujar Cui-coa-yo dengan tertawa. “Kongcu kan kaya dan berpengaruh, cakap pula, memangnya nona mana yang tidak tahu diri?!”

“Dia bukan nona lagi, tapi agak lebih tua sedikit daripada nona,” kata Bun-hiong.

“Ai, Kongcuya yang baik, bilakah engkau mulai ganti selera? Masa sekarang engkau menyukai yang tua?” seru Cui-coa-yo dengan tertawa.

“Ya, aku memang tidak menghendaki yang lain, hanya dia,” kata Bun-hiong.

“Sesungguhnya siapa dia?”

“Kau!” kata Bun-hiong.

Cui-coa-yo melototinya sekejap, ucapnya dengan tertawa, “Huh, apa-apaan Kongcu ini, datang-datang sudah lantas menggodaku!”

Lalu ia berpaling dan bertanya kepada Liong It-hiong, “Eh, di mana tempat kediaman Liong-kongcu ini?”

It-hiong menjawab dengan tersenyum, “Malam ini aku memondok di Kim-leng-khek-can, besok kupergi lagi entah ke mana, aku tidak punya tempat kediaman.”

“Ai, kalian sungguh pintar berkelakar,” kata Cui-coa-yo. “Bicara yang benar, di tempat kami ini baru saja datang beberapa barang baru, biarlah kupanggil mereka untuk menemui kalian.”

“Nanti dulu,” kata Bun-hiong. “Soalnya kawanku ini sudah penujui seorang anak buahmu.”

“Oo, siapa?” tanya Cui-coa-yo.

“Yang baru datang dari Kim-tan, namanya Giok-nio,” kata Bun-hiong.

“O, kiranya dia, apakah Liong-kongcu dan Giok-nio sudah langganan lama?” tanya Cui-coa-yo dengan tertawa.

“Tidak, kucari dia karena sudah lama kukenal namanya,” ujar It-hiong.

“Baiklah, akan kupanggilkan,” kata Cui-coa-yo. “Dan engkau bagaimana, Pang-kongcu?”

“Kau tahu nona jenis mana yang kusukai, maka bolehlah kau pilihkan satu bagiku,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Baik, akan kupanggilkan satu yang muda, cakap dan sexy, tanggung cocok,” kata Cui-coa-yo pula, lalu ia beranjak pergi.

Seperginya Cui-coa-yo, Liong It-hiong menggeleng kepala dan berkata, “Sungguh aku tidak berani percaya bahwa adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam bisa terjerumus menjadi pelacur ….”

“Ini menandakan pada masa hidup Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam tidak mempunyai seorang sahabat sejati,” kata Bun-hiong.

It-hiong mengangguk sependapat.

“Bilamana Oh Kiam-lam tahu di alam baka bahwa adik perempuan sendiri terjerumus di kalangan pelacuran, dia pasti akan mati sekali lagi saking dongkolnya.”

Kembali It-hiong mengangguk, desisnya, “Betul. Cuma jangan kau sebut Oh Kiam-lam lagi. Lihat, Cui coa-yo sudah membawanya kemari.”

Baru lenyap suaranya, benar juga Cui-coa-yo telah masuk dengan membawa seorang nona yang cantik.

Usia nona ini belum ada 20, perawakan ramping, wajah dan potongan tubuh tergolong pilihan.

Begitu membawanya masuk, segera Cui-coa-yo berkata kepada Pang Bun-hiong, “Ini Pang-kongcu, seorang kongcu ganteng termasyhur, maka adalah rezekimu dapat meladeni dia, hendaknya jangan teledor.”

Dengan lembut nona itu memberi hormat dan berucap, “Selamat datang, Pang-kongcu!”

“Untukku?” Bun-hiong menegas dengan melenggong.

“Betul, dia bernama A Sian, termasuk salah seorang anak penghuni rumah ini yang paling laris, hendaknya Pang-kongcu juga sayang padanya,” tutur Cui-coa-yo dengan tertawa.

“Dan di mana Giok-nio?” tanya Bun-hiong.

“Dia lagi ganti baju, segera datang,” jawab Cui-coa-yo.

“Lekas suruh datang kemari,” kata Bun-hiong.

Cepat Cui-coa-yo mengiakan, “Baiklah … A Sian, boleh kau bawa Pang-kongcu ke kamarmu, biar kupergi mendesak Giok-nio.”

Habis berkata lekas ia pergi.

A Sian itu memberi hormat lagi kepada Bun-hiong, katanya dengan malu-malu, “Silakan, Pang-kongcu ….”

Bun-hiong ingin menemui Giok-nio, maka ia memberi tanda supaya A Sian duduk, katanya dengan tersenyum, “Boleh duduk dulu, kalau Giok-nio sudah datang nanti kita pergi bersama.”

A Sian mengiakan dan duduk di sampingnya.

Tampaknya Bun-hiong cukup puas terhadap A Sian ini, ia coba tanya dengan tertawa, “Nona asal orang mana?”

“Posia, provinsi Kamsiok,” jawab A Sian dengan menunduk.

“O, kiranya nona cantik dari utara, sungguh beruntung dapat berkenalan di sini,” ujar Bun-hiong dengan tertawa.

“Ah, hamba ini ibaratnya bunga sudah layu, sungguh sangat terima kasih atas kesudian Kongcu terhadap diriku,” kata A Sian dengan suara lemah lembut.

Tanpa terasa It-hiong memuji juga, “Nona ini sungguh menyenangkan.”

“Eh, jangan iri,” kata Bun-hiong dengan tergelak. “Kukira nona Giok-nio itu tentu juga lain daripada yang lain …. Dengarkan, itu dia sudah datang?”

Baru lenyap suaranya, benar juga Cui-coa-yo telah masuk dengan membawa “Giok-nio”. Ya, dia memang betul Giok-nio, sesuai namanya, nona seperti kemala.

Perawakannya ramping, kulitnya putih halus, mukanya bulat telur, alisnya lentik dan matanya jeli, mulutnya mungil, sikapnya anggun, sungguh sukar dilukiskan betapa cantiknya.

Begitu melihatnya, seketika Bun-hiong dan It-hiong melongo kaget.

Sebaliknya demi melihat mereka, seketika Giok-nio juga melenggong, serupa mendadak bertemu dengan kakak kandung sendiri di rumah pelacuran, seketika mukanya merah, dengan malu sekali segera ia hendak lari.

Tapi Cui-coa-yo keburu menariknya, katanya dengan tertawa, “Giok-nio, kenapa?”

Malu dan gugup Giok-nio, ia meronta dan bermaksud lari lagi, serunya, “Lepaskan, lepas …. Aku tidak mau melihat mereka.”

Segera It-hiong melompat bangun juga dan berseru, “Aha, sayangku, kiranya engkau inilah Giok-nio adanya?!”

Sembari bicara ia pun memburu maju dan memegangnya.

Giok-nio meronta sekuatnya dan hampir saja menangis saking cemasnya, teriaknya, “Ampun … ampunilah diriku, aku … aku ….”

“Sesungguhnya ada apa?” tanya Cui-coa-yo bingung.

Mendadak It-hiong terbahak-bahak, “Haha, tidak ada apa-apa, kami memang kenalan lama dan sedang bertengkar, selekasnya kami dapat akur lagi, boleh kau pergi saja.”

Cui-coa-yo bersuara sangsi, tapi dilihatnya Giok-nio tidak melawan dengan “mati-matian”, jelas memang di antara mereka sudah hubungan erat sebelumnya, maka ditinggalnya pergi tanpa khawatir lagi.

Dengan terheran-heran Bun-hiong memandang Giok-nio, sampai sekian lamanya barulah ia berucap dengan tertawa, “Haha, sungguh lelucon yang tidak lucu, kiranya engkau inilah Giok-nio.”

Agaknya Giok-nio menyadari tidak mungkin lolos dan menyangkal, maka ia tidak meronta lagi melainkan cuma menunduk dengan bungkam, tampaknya malu sekali.

Kiranya Giok-nio ini tak-lain-tak bukan adalah Ni Beng-ay yang berkomplot dengan si kakek berbaju kelabu dan berhasil menipu kotak hitam dari Liong It-hiong itu.

Sambil memegangnya dengan erat It-hiong bergelak tertawa, katanya, “Haha, dunia ini sungguh demikian sempit, tak tersangka dapat bertemu denganmu di sini?!”

Giok-nio alias Ni Beng-ay tetap menunduk saja tanpa bicara.

It-hiong menatapnya sejenak, tiba-tiba ia lepaskan pegangannya dan berkata, “Ayo, ke kamarmu untuk bicara.”

Beng-ay kelihatan ragu sejenak, akhirnya ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

“Bolehkah aku ikut mendengarkan?” tanya Bun-hiong.

“Tidak, kau teruskan pekerjaanmu sendiri,” kata It-hiong sambil ikut pergi bersama Ni Beng-ay.

Beng-ay membawa It-hiong ke belakang, setelah menyusuri serambi, sampailah di sebuah kamar samping, begitu pintu kamar didorong, segera It-hiong mendahului menyelinap ke dalam, lalu Beng-ay ikut masuk.

Setelah merapatkan daun pintu, dengan menunduk seperti mau menangis Beng-ay berkata, “Aku memang bersalah, boleh kau damprat atau pukul diriku, tapi janganlah ….”

It-hiong tidak membiarkan lanjut ucapan orang, sekali raih ia angkat tubuh si nona, ia duduk di bangku, lalu tubuh Beng-ay ditiarapkan di atas pangkuannya, ucapnya dengan mendongkol, “Aku pernah bersumpah, bilamana kutemukanmu akan kupukul dulu pantatmu.”

Habis berkata ia terus memukuli pantat Beng-ay dengan keras.

Tentu saja nona itu menjerit kesakitan.

Tapi suara jeritannya tidak mengagetkan orang lain, sebab seluruh isi rumah Boan-wan-jun lagi tenggelam di tengah kegembiraan masing-masing, ada yang ramai bergurau dan ada yang asyik menyanyi serta suara keributan lain, jeritan seorang nona biasanya tidak akan menarik perhatian orang.

Belasan kali It-hiong memukuli pantat Beng-ay, setelah puas baru berhenti, nona itu dilemparkannya ke tempat tidur, katanya, “Nah, tadi kau bilang selain mendamprat dan memukul, jangan apa?”

Beng-ay meraba pantat sendiri yang kesakitan, katanya dengan air mata meleleh, “Aku hanya menjual gurau dan tidak menjual tubuh, hal ini perlu kukatakan lebih dulu.”

Bun-hiong sengaja bersikap garang, katanya, “Omong kosong, aku hanya tahu engkau ini Giok-nio dan bukan Ni Beng-ay, maka malam ini harus kau tidur bersamaku.”

Beng-ay ketakutan dan meringkuk di pojok tempat tidur, ia memohon belas kasihan, “Jangan, harap ampuni aku, meski aku telantar di tempat seperti ini, tapi aku masih menghendaki berumah tangga dengan baik, tubuhku hanya akan kuserahkan kepada orang yang mau menikahi diriku, kumohon janganlah kau bikin susah padaku.”

“Aku tidak diberi tahu hal-hal demikian oleh Cui-coa-yo, pokoknya harus tidur bersamaku.”

“Jika begitu boleh kau tanya Cui-coa-yo dulu, tentu dia akan memberi penjelasan padamu,” kata Beng-ay.

“Tidak, tidak perlu kutanya,” ujar It-hiong. “Aku telah dibohongimu, harus kau tidur bersamaku satu malam, kalau tidak rasa gemasku tak terlampias.”

“Aku tidak sengaja membohongimu,” kata Beng-ay sambil menangis. “Semua itu dia yang mengaturnya, ia memaksa aku berbuat begitu, jika tidak kulaksanakan aku akan dibunuhnya, maka … maka ….”

Sampai di sini menangislah dia dengan sedih.

“Sekarang dia berada di mana?” tanya It-hiong dengan ketus.

“Entah,” jawab Beng-ay.

It-hiong menudingnya dan mengancam, “Jika tidak mengaku sejujurnya, segera kubelejetimu.”

Beng-ay tampak mengkeret ke pojok tempat tidur, katanya dengan gemetar, “Sung … sungguh aku tidak tahu. Dia tidak memberitahukan padaku akan pergi ke mana, cuma esok atau lusa dia mungkin akan menjengukku lagi.”

“Kotak itu sudah dibawa olehnya?” tanya It-hiong.

Beng-ay membenarkan.

“Ada hubungan apa antara dia denganmu?” tanya It-hiong pula.

“Tidak ada sesuatu hubungan,” tutur Beng-ay. “Beberapa hari yang lalu mendadak dia datang kemari mencariku, ia mengaku sebagai sahabat baik kakakku, katanya hendak menolongku keluar dari tempat pecomberan ini. Kupercaya pada ocehannya dan lantas ikut pergi bersama dia.”

“Siapa kakakmu?” tanya It-hiong.

“Kakakku … kakakku ialah kakak,” jawab Beng-ay dengan tergegap.

“Baik, coba lanjutkan ceritamu,” ucap It-hiong dengan tertawa.

“Sesudah kuikut dia meninggalkan Kim-leng, kemudian baru dia memberitahukan padaku bahwa dia berniat merampas kotak hitam yang berada padamu itu, maka aku diminta membantunya. Semula aku tidak mau, tapi dia lantas mengancam hendak membunuhku, lantaran itulah terpaksa aku menerima permintaannya.”

“Lalu, apakah dia memberitahukan padamu apa isi kotak hitam itu?” tanya It-hiong.

“Dia tidak mau memberitahukan padaku,” jawab Beng-ay dengan menggeleng.

“Hendaknya kau bicara terus terang,” ancam It-hiong. “Supaya kau tahu, pada suatu hari pasti akan kubekuk dia, bilamana terbukti kau dusta, nanti baru kau tahu rasa bila kubikin kau mati tidak dan hidup pun tidak.”

“Aku tidak bohong, semua perkataanku adalah sejujurnya,” kata Beng-ay.

“Jika begitu, sesudah dia merampas kotak itu, mengapa tidak kau katakan padaku kejadian yang sebenarnya, tapi malah kabur secara diam-diam.”

“Kukhawatir engkau tidak mau mengampuni aku,” kata Beng-ay.

“Sudah kutolong dirimu dan berjanji akan mengantarmu ke Wanpeng, seharusnya sudah cukup bagimu untuk mengenali pribadiku ini baik atau busuk, mengapa tidak kau katakan tipu muslihatnya kepadaku?”

“Berulang dia memperingatkan aku jangan sembarangan membocorkan tipu akalnya, kalau sampai bocor aku akan dibunuhnya, makanya aku takut dan tak berani bicara.”

“Semula dia mengaku sebagai sahabat kakakmu, mengapa kau percaya begitu saja?” tanya It-hiong.

“Sebab dia dapat bercerita tentang kisah hidup mendiang kakakku, makanya kupercaya penuh tanpa sangsi.”

“Siapa namanya?” tanya It-hiong.

“Tam Pek-sun.”

“Bukan In-tiong-yan Pokyang Thian?”

“Entah aku tidak tahu, mungkin dia memakai nama palsu, tapi aku tidak tahu apakah dia memang bernama Tam Pek-sun atau sebenarnya In-tiong-yan segala.”

“Dia berjanji besok lusa akan menjengukmu ke sini?” tanya It-hiong.

“Betul,” jawab Beng-ay.

“Untuk apa?” tanya It-hiong pula.

“Dia berjanji akan memberi uang padaku,” tutur si nona.

“Mungkinkah begitu?”

“Bisa juga dusta,” ujar Beng-ay. “Tapi bila engkau hendak menangkapnya, boleh juga tinggal saja satu-dua hari di sini, tunggu kedatangannya.”

It-hiong menatapnya dengan tajam dan tidak bertanya lagi.

Tentu saja Beng-ay merasa kikuk karena dipandang sedemikian rupa, ucapnya risi, “Apa yang kukatakan adalah kejadian sebenarnya, hendaknya kau percaya padaku.”

It-hiong berdiri dan mondar-mandir di depan tempat tidur, katanya kemudian dengan tersenyum, “Aku pernah percaya kepadamu, akibatnya aku tertipu.”

Beng-ay menunduk, katanya, “Kejadian tempo hari itu sungguh aku, merasa sangat malu. Jika rasa gemasmu belum hilang, boleh kau pukul aku lagi.”

It-hiong menggeleng, katanya, “Tidak berguna, memukulmu lagi juga tak terlampias dongkolku.”

“Habis mau apa?” tanya si nona.

It-hiong merandek, katanya dengan tertawa, “Kucium satu kali?”

“Jangan,” seru Beng-ay dengan muka merah.

Seketika It-hiong menarik muka, omelnya, “Hm, diajak tidur tidak mau, minta cium juga kau tolak?”

“Habis cara … cara bagaimana akan kau cium?” tanya Beng-ay dengan malu-malu.

“Cium mulut tentunya,” kata It-hiong.

Beng-ay menunduk diam, tampaknya tidak ada maksud menolak lagi.

It-hiong lantas duduk di tepi tempat tidur, ucapnya, “Kemari!”

Si nona menggeser maju sedikit.

“Kemari lagi!” kata It-hiong pula.

Kembali Beng-ay menggeser maju lagi setitik.

“Lagi sedikit,” kata It-hiong.

Terpaksa Beng-ay menggeser pula.

“Angkat kepalamu,” perintah It-hiong.

Beng-ay mendongakkan kepala sedikit dan memejamkan mata dengan muka merah.

“Angkat lebih tinggi sedikit!” kembali It-hiong memberi perintah.

Sama sekali si nona tidak berani membantah, ia menurut dan mengangkat mukanya.

Segera It-hiong mendekatkan mulutnya, selagi nona itu hendak diciumnya, sekonyong-konyong terdengar suara “blang-blung” yang keras, suara pintu digedor.

Keruan It-hiong kaget, ia berpaling dan membentak, “Siapa itu?”

“Aku!” terdengar suara Pang Bun-hiong menjawab di luar.

Tentu saja It-hiong mendongkol, teriaknya. “Sialan, kau mau apa?”

“Kudatang menonton!” jawab Bun-hiong dengan tertawa.

“Enyah, apa yang akan kau tonton?!” teriak It-hiong.

“Lekas buka, memangnya kau minta kudobrak pintu?” kata Bun-hiong.

It-hiong menjadi marah, dampratnya, “Keparat, jika engkau sudah puas main, tunggu saja di luar kan bisa?”

“Tidak, aku tidak sabar menunggu lagi,” kata Bun-hiong. “Jika pintu tidak lekas kau buka, segera kudobrak dan kumasuk ke situ.”

Tiada jalan lain, terpaksa It-hiong membukakan pintu, dengan melotot segera ia mendamprat, “Bedebah, kenapa kau ganggu saat bahagia orang, sungguh celaka kau ini.”

“Memangnya kalian lagi upacara kawin?” goda Bun-hiong dengan tertawa.

“Ya, baru saja kami hendak main, mendadak kau datang, sungguh keparat,” omel It-hiong.

“Ai, waktu masih banyak, kenapa terburu nafsu?!” ujar Bun-hiong, sambil bicara ia terus masuk ke kamar.

Ketika dilihatnya muka Beng-ay ada bekas air mata, hati merasa tidak tega, ia memandang It-hiong dan bertanya, “Masa engkau benar menghajar dia?”

“Ehm,” It-hiong mengangguk.

“Seorang nona cantik jelita begini masakah kau tega memukulnya, sungguh kejam dan tidak berperikemanusiaan,” omel Bun-hiong.

“Kalau tidak kuberi hajar adat, tentu aku akan ditertawakan dia sebagai orang tolol,” kata It-hiong.

Bun-hiong duduk di bangku, tanyanya lagi, “Dan sudah kau dapatkan keterangannya atau tidak?”

“Sudahlah, jelas sejak tadi engkau sudah mendengarkan di luar kamar, memangnya kau kira aku tidak tahu, masa masih pakai tanya lagi?” kata It-hiong dengan tertawa.

Bun-hiong bergelak tertawa, lalu katanya kepada Ni Beng-ay, “Nona Ni, sungguh tidak patut engkau menipu dia. Sekali bertemu saja dia lantas jatuh hati padamu, sebaliknya engkau tega lari meninggalkan dia dan membuat berjingkrak kalap serupa kebakaran jenggot.”

Beng-ay menunduk dan menangis, katanya, “Maaf, kutahu dia orang baik ….”

“Sesungguhnya siapa namamu yang asli?” tanya Bun-hiong.

“Namaku memang Ni Beng-ay, Giok-nio adalah nama samaranku,” kata si nona.

“Siapa nama kakakmu?” tanya Bun-hiong pula.

“Kakak bernama Ni Lam-hui, sungguh malang sudah meninggal lima tahun yang lalu,” tutur Beng-ay.

“Semula dia bekerja apa?” tanya Bun-hiong.

“Dia bekerja sebagai pegawai perusahaan pengawalan.”

“Sesudah kakakmu meninggal baru engkau terjerumus ke tempat begini?”

Beng-ay mengangguk, katanya dengan menangis sedih, “Ya, jika kakak tidak mati, tentu aku takkan bernasib begini.”

Bun-hiong memperlihatkan rasa simpatinya, katanya dengan menyesal, “Sungguh kasihan, dan kedua orang tua kalian juga sudah tidak ada?”

“Ayah dan ibu sudah lama meninggal, pada waktu aku berumur delapan mereka sudah wafat,” tutur Beng-ay, “Sejak itulah kami bersaudara lantas hidup sengsara, kemudian kakak menanjak dewasa, lalu bekerja di perusahaan pengawal, tak terduga dia juga jatuh sakit keras dan akhirnya ….”

Ia tidak sanggup meneruskan lagi dan menangis sedih.

“Jangan menangis, kami sangat simpati kepadamu, jika kau mau meninggalkan tempat ini, kami bersedia membantumu,” demikian Bun-hiong menghiburnya.

Beng-ay mendongak dan memandang sekejap kepada Liong It-hiong, katanya dengan ragu, “Jadi kalian tidak marah lagi padaku?”

Bun-hiong mengangguk, “Tentu saja, engkau kan terpaksa berbuat begitu, masa menyalahkanmu?”

“Jika begitu barulah lega hatiku,” kata Beng-ay.

“Cuma, engkau harus membantunya membekuk bangsat tua yang bernama Tam Pek-sun itu agar kotak hitam itu dapat direbutnya kembali,” ujar Bun-hiong.

“Baik, jika dia datang besok atau lusa tentu akan kuberi kabar kepada kalian,” kata Beng-ay. “Kalian tinggal di mana?”

“Di Kim-leng-khek-can,” jawab Bun-hiong.

“Dari mana kalian tahu aku berada di sini?” tanya Beng-ay.

“Mana kami tahu tempat tinggalmu di sini? Hanya secara kebetulan saja kami memergokimu di sini,” cepat It-hiong mendahului menjawab. “Soalnya kami mendengar di Boan-wan-jun ada seorang nona jelita bernama Giok-nio yang jarang ada bandingannya, maka bersama kami berkunjung kemari untuk belajar kenal, tak tersangka yang bernama Giok-nio adalah dirimu ini.”

“Semula aku berada di Kim-tan,” tutur Beng-ay dengan kikuk. “Baru bulan yang lalu kupindah ke sini, bilamana ada waktu luang harap Kongcu sering berkunjung kemari.”

“Bilamana engkau masih ingin ke Wanpeng untuk mencari pamanmu, dengan senang hati aku siap menjadi pengawalmu pula,” kata It-hiong.

Beng-ay tersenyum rikuh, katanya, “Sudahlah, jangan diungkat lagi, pada hakikatnya aku tidak punya paman yang tinggal di Wanpeng segala.”

“Karena marah tadi telah kupukulmu, kuharap tidak mencederaimu,” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Biar kumati kau pukul juga aku tidak berani menyesali dirimu, aku memang pantas dipukul.”

Tiba-tiba Bun-hiong seperti teringat sesuatu, katanya dengan tertawa, “Silakan kalian mengobrol, aku hendak mencari A Sian.”

Karena diganggu oleh kedatangan Pang Bun-hiong, hasrat It-hiong untuk mencium Ni Beng-ay sudah berkurang, kembali ia mondar-mandir lagi di dalam kamar, lalu bertanya, “Engkau punya kekasih atau tidak?”

“Untuk apa kau tanya urusan ini?” jawab Beng-ay dengan likat.

“Jika kau ingin melepaskan diri dari tempat seperti ini kan harus mendapatkan jodoh yang cocok?” kata It-hiong.

“Sekarang belum ada,” jawab si nona.

“Dua hari lagi ingin kuajak dirimu pesiar ke Bok-jiu-oh, kau mau tidak?” tanya It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay seperti tidak begitu percaya atas kesungguhan ajakan It-hiong, ia menegas, “Kau bicara serius?”

“Tentu saja serius.”

Beng-ay menjadi senang, katanya dengan tertawa, “Baik, memang sudah lama kuingin pesiar ke Bok-jiu-oh, sungguh bagus sekali jika dapat didampingi olehmu.”

“Cuma, hendaknya engkau membantuku membekuk orang bernama Tam Pek-sun itu dengan sesungguh hati,” kata It-hiong dengan tertawa.

“Baik, begitu dia datang segera kuberi kabar padamu secara diam-diam,” si nona berjanji.

“Aku percaya sekali lagi padamu, jika kau tipu aku pula, tentu aku tidak sungkan lagi padamu,” kata It-hiong.

Beng-ay mengiakan.

It-hiong lantas mengeluarkan belasan tahil perak dan ditaruh di atas meja, katanya, “Aku mau pergi sekarang.”

“Tidak duduk sebentar lagi?” tanya Beng-ay sambil turun dari tempat tidur.

“Tidak,” ucap It-hiong dengan tertawa, “Jika duduk lagi, bisa jadi akan kucaplok dirimu.”

Habis berkata ia lantas membuka pinta dan keluar.

Setiba di halaman, ia tanya seorang pesuruh, “Di mana letak kamar A Sian!”

Pesuruh menuding sebuah kamar yang berdekatan, katanya, “Itu, cuma saat ini dia ada tamu.”

“Kutahu,” kata It-hiong dengan tertawa. “Tamunya adalah sahabatku, tadi dia telah menggangguku, sekarang akan kubalas mengacau dia.”

Segera ia menuju ke kamar A Sian. Setiba di depan kamar, segera ia menggedor pintu.

“Siapa?!” terdengar suara A Sian bertanya dari dalam dengan kaget.

“Aku!” jawab It-hiong.

“Kau siapa?” tanya A Sian.

“Buka pintu dulu, ingin kulihat permainan apa yang kalian lakukan di dalam!” teriak It-hiong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: