Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Perguruan Sejati (12)

Filed under: Gu Long, Perguruan Sejati — Tags: — ceritasilat @ 2:16 pm

Perguruan Sejati (12)
Oleh Gu Long

=============================
(Terima kasih kepada alimuda)
=============================

“Waduh, sampai lupa memperkenalkan ” kata Lim Siok Bwee, dipanggilnya seorang pelayan “Panggil siocia kesini! Akan kusuruh mengantar tamu!”

Mendengar ini Tiong Giok mendekati Siau Bwee “Lekas turun!”

“Hm, untuk apa menemuinya, melihatnyapun sudah sebal!”

“Engkau harus mengantarnya, ia sebenarnya baik,” bujuk Tiong Giok. “Apa lagi Siau pancu itu, bukan saja baik juga harus dikasihani, lekaslah!”

“Jika begini siapa yang jadi penjahat?”

“Sukar kuterangkan dengan sepatah dua patah,” kata Tiong Giok. “Lekaslah jangan sampai ibumu kesal menunggu. Jika ada kesempatan engkau boleh mengatakan soal keinginan kita pergi ke Pok Thian Pang pada Siau pangccu itu, pasti ia bisa membantu!”

“Apakah kau sudah kenal dengannya?”

“Kenal! Lekaslah!”

Siau Bwee cepat turun dari tempat persembunyian, begitu kakinya memijak tanah seorang pelayan yang sedang mencarinya berseru girang: “Siocia, lekas. Hujin menyuruhmu mengantar tamu keluar!”

“Aku sudah tahu!” jawab Siau Bwee dengan ketus dan mendelik.

Dan setelah ditaman tidak ada orang lagi, Tiong Giok baru turun, ia mundar mandir sambil termenung sesaat lamanya, sesudah merasa pangcu itu pergi, ia baru kembali kedalam ruangan.

Lim Siok Bwee tidak ada didalam, hanya Tiat Hok saja seorang menantikan dirinya dan mengatakan bahwa Tiat Hujin kedalam dulu sebentar, tak lama lagi akan datang.

Tiong Giok merasa heran, tapi ia tak mau banyak bertanya, duduk diam menanti dengan kesal. Selama itu Tiat Hok diam-diam saja. Tak selang lama terdengar langkah kaki, tapi bukan Lim Siok Bwee yang datang melainkan Tiat Siau Bwee adanya.

Waktu itu gadis itu marah-marah dan merengut, kini ia kembali dengan wajah cerah dan tersenyum-senyum. “Mama! Mana Mama?” teriaknya tatkala mendapatkan ibunya tidak ada didalam ruangan.

“Hujin kedalam dulu, nanti akan datang lagi!” kata Tiat Hok, “Kounio temani dulu In siau hiap sebentat, aku mau kebelakang.”

“Baiklah! Sekalian bawakan aku makanan dan minuman!” kata Siau Bwee.

“Nampaknya girang betul, kenapa sih?” tanya Tiong Giok.

“Apa yang kau katakana nyatanya benar,” kata Tiat Siau Bwee, “bahwa Pangcu dan Siau Pangcu itu bukan orang jahat! Tak sangka begitu ramah dan baik budi!”

“Nah sekarang engkau baru percaya omonganku bukan?”

Tiat Siau Bwee menganggukkan kepala. Lengannya merogoh saku dan mengeluarkan suatu benda yang mengeluarkan bunyi “tring” waktu diletakkan dimeja.

“Lihat ini apa?”

“Ah! Ini tanda pengenal dari Pok Thian Pang, dari mana kau dapat?”

“Dengan tanda pengenal ini bukankah kita bisa keluar masuk di Pok Thian Pang dengan bebas?”

“Benar,” jawab Tiong Giok, “apakah minat kita untuk pergi kesana engkau terangkan pada pangcu itu?”

“Engkau kira aku begitu bodoh? Benda ini ia sendiri yang memberikan padaku tanpa kuminta!”

“Ha?”

“Baiklah kujelaskan,” kata Siau Bwee, Ia berhenti sejenak karena datang pelayan membawakan mereka arak. Dituangkan secawan arak pada Tiong Giok, ia sendiri mengeringkan juga secawan, baru melanjutkan kata-katanya. “Waktu kuantar mereka keluar, pangcu itu dengan ramah tamah dan mesra, menanyakan ini itu kepadaku. Aku sedang dongkol, apa yang ditanyanya tidak kujawab, tapi ia sangat sabar dan nyerocos terus. Katanya ia mempunyai seorang murid bernama Wan Jie, usianya sebaya denganku. Waktu ia menyinggung-nyinggung muridnya itu terasa amat bangga baginya. Sayang katanya tidak diajak serta, jika tidak bisa berkenalan denganku.”

“Kenapa tidak diajak, tanyaku. Dan ia tersenyum-senyum sebelum menjawab. Karena muridnya itu akan menjadi pengantin!”

“Apa? Wan jie mau menjadi pengantin, betulkah?”

“Pangcu itu yang mengatakan masakan bohong!”

“Dikawini siapa?”

“Bukan orang lain, yakni Pek Kiam Hong yang menjadi Siau pangcu itu.”

“Seng!” seolah-olah kepala Tiong Giok disambar geledek. “Ah! Pek Kiam Hong…mana mungkin…”

“Kenapa tak mungkin?” tanya Siau Bwee. “Untuk sang pangcu yang satu sebagai murid yang satu sebagai anak, sejak kecil mereka dibesarkan bersama-sama dan sudah mengenal watak satu sama lain, maka itu kurasa cocok sekali pasangan itu. Cuma yang membuatku heran, mendengar mau dikawaini Siau pangcu itu tidak menampakkan rasa gembira barang seujung kuku. Seolah-olah yang mau menikah itu adalah orang lain dan bukan dirinya. Waktu inilah sengaja kukatakan, sayang tidak bisa pergi kesana untuk berkenalan dengan Wan jie sekalian menyaksikan hari perkawinan medreka. Tak kira pangcu itu segera memberikan aku tanda pengenal ini untuk kesana…Coba kau piker, kalau rejeki mau datang tak usah dicari tapi akan datang sendirii bukan?”

Siau Bwee menuturkan kata-katanya dengan bersemangat, sedikitpun tidak memperhatikan yang diajak bicara parasnya menjadi pucat pasi dan menggigil.betapa tidak, seorang kekasih yang diidam-idamkan tahu-tahu terdengar beritanya akan menikah dengan Pek Kiam Hong kabar ini datang dari seorang pangcu yang dapat dijamin kebenarannya! Hatinya hancur luluh…apa yang diceritakan Siau Bwee bagian belakang tidak masuk ketelinganya lagi.

Siau Bwee baru sadar dan kaget melihat mata Tiong Giok tergenag air mata. “In siau hiap.engkau mengapa menangis?”

Tiong Giok memaksakan diri tersenyum. “Siapa yang bilang, aku sedang asyik mendengar ceritamu.coba teruskan akhirnya bagaimana?”

“Hi hi hi,” Siau Bwee tertawa geli dan menunjuk kemuka Tiong Giok.

“Terang-terang nangis tidak ngaku, malu! Hm sekarang kutahu sebabnya engkau menangis. Tentu Wan jie sangat baik denganmu, mendengar kabar ini engkau merasa bersusah hati bukan?”

“Tebakanmu salah,” kata Tiong Giok dengan senyum meringis. “Engkau tidak tahu sewaktu aku disana sangat baik dengan Pek Kiam Hong, kini mendengar ia mau menikah hatiku sangat gembira, kenapa harus menangis?”

“Aku tak percaya!”

“Terserah!” kata Tiong Giok. “Eh ngomong-ngomong perlu kutanya, ibumu memberikan apa pada Pek Kiam Hong?”

“Untung kau tanya, akupun hampir lupa soal ini kutanya oada mama…” Kata Siau Bwee. “Karena benda itu adalah buku silsilah dari keluarga Tiat!”

Hampir-hampir Tiong Giok berseru kaget mendengar ucapan itu, untung sebelum ia bersuara Lim Siok Bwee keburu datang, wajahnya begitu berat tubuhnya sedikit bergetar, dan ia duduk dikursi tapi bangkit lagi begitu melihat tanda pengenal dari Pok Thian Pang yang diletakkan putrinya diatas meja. “Bwee jie darai mana engkau mendapat benda ini?”

“Pangcu dari Pok Thian Pang yang memberikan kepadaku,” jawab Siau Bwee. “ia mengundangku datang ketempatnya untuk turut menyaksikan hari pernikahan Siau Pangcu.”

Lim Siok Bwee memainkan benda itu ditangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Ma bukankah kita berniat pergi kemarkas mereka? Dengan adanya benda ini.”

Belum selesai Siau Bwee bicara, tak ubahnya seperti gunting Lim Siok Bwee membuat tanda pengenal dari Pok Thian Pang terpotong menjadi dua. Dengan air mata tergenang ia berkata dengan parau sambil menggelengkan kepala.

“Kita tak usah pergi kesana!”

“Mama engkau…” Seru Siau Bwee dengan kaget.

Lim Siok Bwee mengangkat tangan melarang puterinya berkata-kata. Sedangkan matanya mengawasi pada Tiong Giok dengan menyesal dan napasnya ditarik panjuang-panjang.

“In Siau hiap maffkanlah aku menarik janjiku akan ke Pok Thian Pang! Dan sudah kupikirkan seumur hidupku takkan keluar dari Tiat po ini atas ini kumohon maaf…” Suaranya terputus oelh isakan tangis dan banjir air mata.

“Maksud Hujin biarpun yang dipenjarakan dalam tanah disana itu sebagai Tiat Pocupun tidak akan ditengok?”

“Aku sudah tahu itu bukan suamiku!”

“Kemungkinan besar adalah Ang Tay hiap, apakah Hujin tidak mau menengoknya juga?”

“Biar aku bisa kesana apa yang bisa aku perbuat?”

“Jika mama tidak mau pergi, aku mau bersama-sama In Siau hiap pergi kesana!” kata Siau Bwee.

“Jangan sembarangan berkata, engkau masih kecil tidak tahu apa-apa!” bentak Lim Siok Bwee.

“Andaikata orang itu bukan Tia-tia, tapi kitapun tak boleh berpangku tangan tak menolongnya bukan?” bantah Siau Bwee. “Kuheran mama bukan seorang yang penakut, kenapa mendadak jadi berubah dan tegaan betul? Apakah mama tidak memikirkan lagi nasib dari bibi dan paman Ang?”

“Budak apakah engkau sudah jadi gila berani berkata sekurang ajar ini kepadaku?”

“Aku bukan berlaku kurang ajar, tapi bicara soal yang benar, sudah sakit hati ayah tidak mama hiraukan, kenapa melarang pula padaku?”

“Budak jika engkau tidak mendengar kata-kataku, selangkah engkau keluar dari Tiat po tidak akan kuaku sebagai anak lagi! Dan aku sudi mencukur rambut menjadi biksuni dari pada mempunyai anak yang tidak berbakti!”

“Ng.ng.ng.mama aku benci padamu.aku benci!” Siau Bwee menjerit-jerit sambil menangis.

“Bencilah! Engkau boleh membenci padaku seumur hidupmu, tapi pada suatu saat engkau akan menyadari kesusahanku.”

Tiat Siau Bwee menutupi mukanya sambil menangis terus dan lari kebelakang.

Melihat keadaan ini In Tiong Giok menarik napas panjang dan segera bangun sambil merangkapkan kedua tangannya memberi hormat: “Tiat Hujin kehendak manusia tak bisa berubah demikian macam, gara-gara kedatanganku, atas ini kumohon maaf yang sebesar-besarnya, dan dengan ini pula kumohon pamit!”

“Aku mempunyai sesuatu soal yang tidak dapat kuterangkan padamu, atas ini akulah yang harus mohon maaf padamu! Soal Siau Bwee tak perlu kau pikirkan, itu sudah biasa bagiku!”

“Nah sampai bertemu lagi di lain kesempatan!” kata Tiong Giok.

“Aku tak bisa membantu, tapi akan berdoa demi keselamatanmu dan suksesnya usahamu!”

Tiong Giok meninggalkan Tiat po dibawa antaran mata Tiat hujin sendiri.

Perginya ia sangat bersemangat, kembalinya menjadi lesu. Dengan kudanya ia berlari seperti terbang, gunung dan sungai dilaluinya, ia kembali lagi kedaerah Kang Lam.

Perjalanan Jauh yang diharapkan, ia kecewa tapi tak putus asa. Tetapi segala sesuatu rencana untuk menghadapi Pok Thian Pang tak pernah sirna dari lubuk hatinya, ia tidak mau menyerah begini saja. Tapi ia tahu keadaan Pok Thian Pang sedang jaya, banyak jago-jago yang memihak kepada perkumpulan itu dan banyak yang mengasingkan diri akibat tekanan dari mereka. Iapun berpikir bisakah dengan kedua tangannya yang terbatas ini menghadapi Pok Thian Pang?

Tiup angin utara dan berderunya air sungai sebagai jawaban, seolah-olah terhadap suka cita dari pengalamannya itu menaruh kasihan. Dengan menentang dada ia menghirup udara dan terus meloanjutkan perjalanannya.

Dengan serampangan ia mampir disebuah losmen yang diketemukan dan minum sepuasnya sampai mabuk, dengan begini segala kekusutan hatinya, buat sementara tersapu bersih. Waktu ia sadar kembali, hujan turun dengan derasnya. Suara air hujan itu tak ubahnya seperti seseorang yang sedang menangis sedih. Ia bangkit dari tempat tidurnya, melalui jendela memandang ketempat jauh, tampak bukit-bukit sambung menyambung menjadi gunung. Begitu samar dan remang-remang keadaannya dalam musim penghujan. Dan iapun tahu dibalik untaian gunung raksasa itu adalah markas pusat dari Pok Thian Pang!

Sebulan yang lalu ia melihat Wan jie, entah bagaimana keadaan kasihnya kini? Sudah tidurkah? Atau bangun seperti dirinya karena mendengar suara hujan? Ataukah sedang termenung-menung mendengarkan kisah hujan yang menyedihkan?

Atau di Pok Thian Pang sedang ramainya? Lampu-lampu terang benderang, lilin menyala-nyala, kekasihnya itu sudah selesai melangsungkan upacara pernikahan dengan Pek Kiam Hong. Dan sedang melewati malam pengantin….!

Soal yang lalu seperti asap, pergi tidak akan kembali lagi. Tiong Giok termenung di depan jendela, pandangan matanya semakin lama semakin guram, tak dapat dibedakan lagi antara air mata dan air hujan…

“Ah aku harus berlaku sabar! Sabar! Seperti yang dikatakan Tong Cian Lie” piker Tiong Giok. “Sudah tidak mempunyai kekasih tidak ada lagi beben pikiran, aku harus lebih giat dari dulu!” Setelah memikir begini, semangatnya berkobar-kobar disekanya air mata dan diletakkan beberapa tail uang dimeja, malam itu juga ia menerjang hhujan melanjutkan perjalanan.

Propinsi In Lam dan Kam Siok adalah dua propinsi yang berdempetan satu sama lain, keadaan tanahnya berbukit-bukit. Sukar dilalui kenderaan dan terpencil jauh dari keramaian. Dipegunungan ini tinggal suku Biau yang masih menempuh kehidupan agak primitif dan miskin.

Gunung Cu cing san terletak ditimur laut propinsi Kam Siok. Puncaknya menjulang tinggi dan terjal sekali, dilerengnya penuh lembah-lembah yang curam dan mengalir beberapa sungai. Tahun ketemu tahun cuaca kebanyakan mendung dan sering turun hujan. Hari ini kebetulan cuaca sanga cerah, didesa Ulus kedatangan seorang pemuda yang membawa dua ekor kuda. Desa ini merupakan yang terbanyak penduduknya dan mempunyai hubungan dagang dengan daerah luar. Antara suku Biau dan Han sering berjual beli didesa ini. Bahkan ada juga beberapa orang Han yang menetap tinggal disini. Orang-orang Biau yang bertempat tinggal didesa ini kebanyakan sudah pandai berbahasa mandarin. Sehingga pakaian maupun cara merekapun sudah seperti orang Han. Dan sukar membedakan mana yang suku Biau dan Han olagi. Agaknya asimilasi berjalan dengan cepat didaerah ini.

Kedatangan pemuda itu yang bukan lain dari pada In Tiong Giok sangat menarik perhatian penduduk kampung. Karena mereka baru pertama kali melihat seorang pemuda yang demikian ganteng datang ketempat mereka. Disamping itu mereka menduga bahwa pemuda kita itu sebagai saudagar besar, karena dikudanya yang tidak ditunggangi tergantung sebuah tempayan besar yang tertutup rapat.

Saat ini sebuah toko kulit yang diusahakan oleh orang Han dengan merek Tiang sen hoo sedang sepi sekali. Pengusaha toko ini yang biasanya dipanggil dengan sebuah nama Ciu Lo pan sedang asyik menghitung dengan sipoanya, tiba-tiba ia menjadi kaget karena datang seorang gadis Biau berusia tiga empat belas tahun menghampirinya ” Ciu Lo pan, lekas lihat, ada orang Han datang kesini!”

Ciu Lo pan sedang asyik menghitung, tak mau menghiraukan kata-kata gadis itu.

“Ciu Lo pan lekas, ia menuju kemari!” teriak gadis itu lagi.

“Pergi! pergi , jangan ribut disini! Orang Han kek, apa kek , apa bagusnya untuk ditonton…Ah dasar kau…aku jadi kerok dan salah hitung.pergilah jangan mengerecok disini…” Begitu ia dongak dan menggebah gadis itu, pandangan matanya melihat seorang pemuda yang ganteng, sudah berada didepan pintunya.

Ciu Lo pan cepat-cepat bangkit dan meninggalkan sipoanya menyambut kedatangan tamunya sambil berkata ua menyuruh pegawainya mengurus kuda. “Silahkan masuk Kongcu!” sambil tersenyum pada tamunya, dan melihat terus kepada tempayan yang berada dipunggung kuda. “Tak sangka anak semuda dia adlah seorang pedagang kulit yang ulung. Membeli kulit mentah dan menyimpan ditempayan, bukan saja menjaga agar kulit itu tidak kering dan tidak rusak, tempayan begini besar sedikitnya bisa memuat empat lima ratus lembar kulit macan “, pikirnya dengan girang. Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman dengan segera ia menyambut tamu dengan segala makanan dan minuman. “Sukar ditempat semacam ini bertemu dengan orang sekampung, Kongcu silahkan minum!”

Tiong Giok menyambut cawan dan mengeringkannya, Ciu Lo pan mengisi lagi cawan itu, sambil memperkenalkan diri. “Aku she Ciu bernama Tiang Seng sudah lima belas tahun lebih tinggal disini mengusahakan perdagangan kulit, setiap kulit yang bagus selalu dibawa orang-orang Biau ke tokoku…”

“Oh” kata Tiong Giok sambil mengeringkan lagi araknya. Dan memperkenalkan pula dirinya, “Aku bernama In Tiong Giok.”

“In Kongcu masih muda belia tapi bisa keluar masuk daerah sepi ini untuk berusaha, membuatku benar-benar kagum!”

“Ciu Lo pan salah mengerti, aku bukan seorang pedagang!”

Ciu Tiang Seng melengak dan menggelengkan kepala sambil berkata: “Kongcu jangan membohongi aku, apa gunanya engkau datang ketempat semacam ini jika tidak berdagang?”

“Apa gunanya aku berbohong, sejujurnya aku datang kesini bukan berdagang, tapi untuk mencari tahu sesuatu tempat digunung Cu cing san yang bernama Giok hong hong.”

“Bagaimana? Apakah Kongcu ingin kesana?”

“Benar! Tahukah Ciu Lo pan dimana letaknya tempat itu?”

“Biar bagaimana tempat itu tidak boleh dikunjungi!”

“Sebabnya?”

“Jangan bertanya sebabnya, pokoknya sekeliling dari gunung Cu cing san boleh didatangi hanya Giok hong hong jangan dipergi, berbahaya!”

“Apakah disana banyak binatang buasnya ataukah menjadi sarang penyamun?”

“Binatang buas dan segala perampok mudah dihadapi, tapi bukan itu yang ditakuti! Disitu sarangnya setan-setan yang tidak bisa dilawan manusia!”

In Tiong Giok tertawa mendengar penuturan Ciu Tiang Seng.

“Kongcu jangan tertawa, hal ini bukan bohong-bohong…sudah banyak orang Biau yang melihat setan itu.”

“Mereka itu masih terlalu percaya tahyul,” kata In Tiong Giok. “Jika Ciu Lo pan sudah melihat dengan mata kepala sendiri baru boleh percaya.”

“Sungguhpun aku belum pernah melihat dengan mata sendiri, tapi seorang Han yang she Ciu juga sepertiku, pernah melihat setan-setan itu! Ia seorang jago Kang Ouw yang mengasingkan diri ketempat ini, kepandaiannya sangat tinggi, tapi setelah menghadapi setan-setan itu, pulangnya sakit keras dan hampir-hampir mati!”

“Apakah orang itu masih ada dikampung ini?”

“Ada! Ia tinggal dipinggiran kampung, kerjanya memburu binatang. Ia sangat baik denganku, dan sering mengobrol kesini.”

“Bisakah mengantarkanku menemui orang itu?”

“Bisa saja,” jawab Ciu Tiang Seng. “tapi ia bertabiat aneh dan sering tidak dirumah. Hari ini entah ada entah tidak aku tidak tahu. Kongcu boleh nunggu sebentar, kusuruh orang memanggilnya kesini!” Cepat-cepat keluar ruangan dan celingukan, kebetulan dilihatnya anak perempuan tadi masih berada disitu sedang mencuri lihat kedalam. Cepat ia memanggil. “Alana sini!”

Anak perempuan yang bernama Alana itu meledek sambil menjulurkan lidah dan terus lari. “Hei kesini aku perlu denganmu, nanti kuberi upah benang sutra!”

Anak perempuan yang sudah pergi itu kembali lagi dan masuk kedalam toko, matanya mengerling pada Tiong Giok, lalu cepat-cepat tunduk lagi. “Ciu Lo pan mau apa memanggilku?”

“Coba kau kebelakang dan lihat Empek berjenggot itu ada dirumah atau tidak…”

“Tidak! Aku tidak mau! Benang sutrapun aku tak mau,” potong Alana dan terus lari keluar.

Tapi dengan cepat jalan larinya itu dihalangi Tiong Giok. “Kenapa engkau tak mau?”

“Empek jenggot itu galak dan jahat aku takut kesana.”

“Ha ha ha kenapa takut, pernahkah ia membunuh orang atau makan orang?”

“Kuajari, sebelum masuk kau panggil dulu namanya. Jika ia ada dirumah katakana aku mengundangnya kesini!” kata Ciu Tiang Seng.

“Lekas panggil!” kata Tiong Giok dan ia merogo sakunya mengeluarkan mutiara. “Nih untukmu lekaslah!”

Alana jadi melongo “Mutiara ini untukku?”

“Ya untukmu! Sukakah engkau dengan mutiara ini?”

“Aku.aku,” Alana menganggukkan kepala. “Terima kasih Kongcu!” katanya dan berlari keluar.

“Sudah lamakah orang itu tinggal disini?”

“Kurang lebih sudah empat puluh tahun lebih! Dan usianya kini lebih kurang sembilan puluh tahun!”

“Benar usiaku sembilan puluh tahun,” tiba-tiba terdengar jawaban dari luar.

Tiong Giok menjadi kaget dan berpaling keluar, disitu sudah ada orang tua berjenggot dan berambut putih. Tubuhnya pendek, matanya tinggal satu, tapi sangat gagah kelihatannya dan galak.

“Toa pek sudah beberapa hari kita tidak bertemu, bagaimana baik-baik sajakah? Mari masuk kukenalkan In Kongcu ini padamu!”

Dengan matanya yang tinggal satu itu, ia memandang In Tiong Giok dengan tajam: lalu masuk kedalam toko. Tiong Giok menyambut kedatangannya dengan merangkap tangan. “Ya kami sedang membicarakan soal loocianpwee, tahu-tahu sudah datang.”

“Lo hu bernama Ciu Kong, dapatkah kutahu namamu?”

Tiong Giok memperkenalkan diri dan mempersilahkan orang tua itu duduk. Begitu duduk Ciu Kong tidak malu-malu lagi menuang arak sendiri dan meminumnya. “In Kongcu datang darai mana, ada urusan apa denganku?”

In Tiong Giok tersenyum. “Aku baru sampai disini, dari Ciu Lo pan kudapat tahu bahwa Ciu Lo Cianpwee adalah jago Kang Ouw yang mengundurkan diri ditempat sepi ini, maka itu kumohon petunjuk-petunjukmu untuk sesuatu soal…”

“Soal apa, katakana saja langsung jangan berbelit-belit!”

“Ya baik, yakni aku menerima pesan dari seseorang untuk pergi ke Giok hong hong.”

“Apa yang hendak kau lakukan disana?”

“Soal ini mengenai urusan pribadi seseorang maka itu maaf saja tidak dapat kujelaskan!”

Mendengar ini Ciu Kong mendengus dingin. Wajahnya ditekuk demikian rupa dan masam sekali. “In kongcu terus terang saja karena engkaupun seorang Han, maka mau kuberi nasehat sebainya urungkanlah niatmu itu!”

Mendengar suaranya yang begitu kasar, Tiong Giok tidak gusar, ia tetap tersenyum. “Ciu Lo pan pun menyuruhku begitu dan mengatakan disana banyak iblis dan setannya, juga menurut dia Ciu Lo Cianpwee pernah melihat setan-setan itu, benarkah?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Dapatkah Ciu Lo Cianpwee menuturkan pengalaman itu barang sedikit padaku?”

“Pokoknya soal setan dan iblis yang terdapat disana adlah benar, soal percaya tidak percaya terserah padamu! Jika engkau tertarik dan ingin membuktikan sendiri ada tidaknya setan-setan itu, engkau boleh menyaksikannya sendiri! Tapi ingat, sudah banyak orang-orang yang tidak percaya pergi kesana dan tidak kembali lagi untuk selama-lamanya!”

“Lo Cianpwee sudah pernah kesana dan menemui setan-setan itu kenapa bisa kembali dengan selamat?”

“Ya Lo hu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh baru bisa menyelamatkan diri dari setan-setan itu, tapi tak urung menderita luka-luka parah. Dan sakit itu membuatku meringkuk sebulan lebih baru sembuh! Jika engkau menganggap memiliki kemampuan lebih tinggi dari Lo hu, aku tak berani mengatakan apa-apa!”

“Aku tergolong angkatan muda yang tidak berpengalaman, mana mungkin bisa dibandingi dengan kepandaian Lo Cianpwee!” kata In Tiong Giok, “tapi aku telah menyanggupi permintaan seseorang untuk mengunjungi tempat itu. Andaikata ada setan dan bahaya lainpun aku harus kesana juga, dengan begini aku tidak mengecewakan orang itu.”

Melihat tekad Tiong Giok yang mantap, Ciu Kong menjadi kagum, dengan didahului anggukkan kepalanya ia berkata: “In Kongcu masih muda tapi mempunyai keberanian luar biasa, untuk ini aku bersedia mengantarmu kesana.”

“Terima kasih atas bantuan Lo Cianpwee.”

“Tapi aku hanya mengantar sampai ditengah perjalanan, selanjutnya engkau pergi sendiri!”

“Begitupun baik…”

“In Kongcu ini bukan soal main-main, sebaiknya engkau berpikir biar matang,” Ciu Lo pan menasehati.

“Mati atau hidup soal nasib, aku takkan menyesal!”

“Memang begitu,” kata Ciu Lo pan “tapi engkau harus berpikir bahwa setan-setan itu tidak seperti manusia, ia bisa pergi sesuka hatinya menurut kesiur angin. Dijaga tidak bisa dijaga dan lebih baik engkau membatalkan niat yang berbahaya itu!”

Tiong Giok tidak menjawab, ia melemparkan cawan arak keudara, lalu menunjuk jarinya “Sreet” terdengar suara, cawan diudara bergoyang-goyang dan turun kebawah, lalu diletakkan diatas meja.Menyaksikan ini Ciu Kong menjadi kaget demikian pula Ciu Lo pan.

“Jika setan-setan itu menampakkan diri, akan kuserang dengan jerijiku ini!” kata Tiong Giok.

“In Kongcu ilmu dalammu luar biasa sekali, tadi aku meremehkan kepandaianmu, kini aku baru membuka mata!”

“Apakah dengan kepandaian ini kiranya cukup kuat aku menghadapi setan-setan disana?” Kata Tiong Giok, dan diluar kesadarannya ia membanggakan diri sendiri tanpa terasa.

Ciu Kong menjadi marah, dan sedikit tak senang. “Sejujurnya kepandaianku tidak setinggi Kongcu, tapi ingat setan-setan disana bisa gentayangan sesuka hatinya, bukan sembarangan orang bisa melawannya.”

In Tiong Giok sadar bahwa perkataannya tadi telah menyinggung hati Ciu Kong, dan menimbulkan kesalah pahaman, cepat ia berkata: “Untung Lo Cianpwee menyadarkanku, jika tidak setan-setan bisa kuanggap sebagai manusia biasa…”

“Biar dia setan atau manusia, pokoknya In Kongcu berkepandaian lebih tinggi dari Lo hu, dan mudah-mudahan dipuncak itu tidak bertambah satu setan penasaran!”

In Tiong Giok tersenyum meringis mendengar sindiran itu. “Ya jika berumur panjang, aku mau mentraktir Jie wie mabuk-mabukan!”

“Tapi terlalu sulit!” kata Ciu Kong.

In Tiong Giok tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, ia mengalihkan persoalan ketempat lain, “Loocianpwee kapan bisa mengantarkan kesana?”

“Sekarangpun bisa saja!”

Dengan girang Tiong Giok bangkit dari tempat duduknya dan memberikan Ciu Lo pan uang emas dan mutiara. “Manusia banyak seperti lautan, bisa bertemu dan berkenalan adalah jodoh. Kini aku pergi dan menempuh bahaya, entah bisa pulang dengan selamat entah tidak, tidak ada yang tahu. Yang pasti uang ini sudah tak kubutuhkan lagi, kuserahkan pada Ciu Lo pan sebagai tanda terima kasihku atas bantuan tadi!”

Terbelalak mata Ciu Lo pan melihat uang emas dan mutiara-mutiara berharga itu, tapi untuknya tidak ada ketamakan untuk memilikinya, dengan mata merah dan haru ia meminta lagi agar Tiong Giok membatalkan niatnya.

Tiong Giok memberi hormat sebelum pamitan pada Ciu Lo pan yang baik hati itu.

“Semoga In Kongcu pulang dengan selamat, dan barang-barang ini sementara kusimpan!”

Begitu Tiong Giok dan Ciu Kong keluar toko, diluar berkerumun orang-orang Biau, antaranya ada seorang tua yang dituntun Alana menghampiri kepadanya sambil menggelengkan kepala dan kemak kemik entah apa yang diucapkan tidak dimengerti Tiong Giok.

“Nenekku mengatakan kongcu orang baik dan jangan pergi ke Giok hong hong. Yang pergi kesana pasti mati dan tidak bisa kembali lagi.” Kata Alana menterjemahkan kata-kata neneknya.

“Katakan pada nenekmu kuhaturkan terima kasih atas nasehatnya itu, tapi kepergianku kesana tidak bisa dibatalkan, karena penting sekali!”

“Setan-setan jahat suka mengganggu manusia, sebaiknya jangan pergi!” kata Alana dengan mata berkaca-kaca.

“Aku sudah menyanggupi seseorang untuk pergi kesana,mana boleh melanggar janji! Seseorang paling banyak hanya mati…”

Ciu Kong tak sabaran lagi dengan gusar ia membentak orang-orang Biau itu.

“Jangan banyak rewel, minggir semua!” Suaranya yang keras membuat orang-orang yang berkerumun itu menjadi buyar.

Alana mundur beberapa langkah, tapi maju lagi dan memberikan Tiong Giok orang-orangan dari kayu. “Ini jimat penjaga badan, ambillah…” Ia tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Ciu Kong mendelik kearahnya.

“Terima kasih Alana, akan kubawa patung ini!” kata Tiong Giok.

Alana menjadi girang pemberiannya diterima dan terus berlari-lari kearah orang banyak dan tidak terlihat lagi.

Ciu Kong memandang kepada tempayan dipunggung kuda itu sambil bertanya: “Apakah tempayan ini akan kau bawa juga ke Giok hong hong?”

“Benar!” jawab Tiong Giok.

“Jalanan gunung tak bisa dilalui kuda, bagaimana kau bisa membawa benda yang berat itu?”

“Tempayan ini penting sekali, bagaimanapun harus kubawa!”

“Jika begitu tempayan itu harus ditaruh didalam keranjang dan diikat pada tubuhmu!” kata Ciu Kong.

“Apapun boleh .” jawab Tiong Giok. “Asal dapat dibawa!”

Dengan memakai keranjang, tempayan itu dimasukkan kedalamnya, lalu diikat tambang besar, dijadikan semacam ransel. Tiong Giok menggombloknya dibelakang punggung. Mereka segera pamitan dengan tuan rumah dan berlalu kearah pegunungan. Begitu keluar kampung, keadaan sudah sunyi dan tidak terlihat lagi para penduduk, mereka segera menbentangkan ilmu meringankan badan secepatnya. Didalam perjalanan ini Ciu Kong jarang membuka mulut, hanya matanya sering melirik kearah tempayan yang dibawa Tiong Giok dengan perasaan heran, sungguhpun begitu ia tak pernah menanyakan apa isinya tempayan itu.

Tak selang lama mereka mulai memasuki daerah pegunungan yang berhutan lebat. Ciu Kong memberi isyarat, berhenti mengaso.

Tiong Giok memandang kepada pengantarnya dengan heran, karena sedikitpun pengantarnya itu tidak menunjukkan rasa letih. “Masih jauhkah letaknya Giok hong hong?”

“Tidak!” jawab Ciu Kong, “tinggal mengitari lembah itu, kita sampai…” Tambahnya dengan menunjuk-nunjuk.

Tiong Giok memandang tempat yang ditunjuk letaknya tidak seberapa jauh, hanya saja jalan yang harus ditempuh terdiri dari cadas gunung yang tajam-tajam dan menyeramkan.

“Tak kusangka Giok hong hong letaknya tak seberapa jauh,” kata Tiong Giok, “sebelum malam aku harus tiba disana, Locianpwee tak usah mengantar lagi, cukup sampai disini saja.”

“Hm, jangan kau lihat perjalanan ini semudah yang kau bayangkan,” kata Ciu Kong, “kuberi tahu, sekitar lembah itu ada Lumpur yang merapung, asal kena memijak engkau bisa terbenam di dalamnya. Maka itu harus menggunakan ilmu meringankan tubuh melalui jalan itu! Tapi dengan tempayanmu yang besar itu bagaimana engkau bisa?”

“Jika begitu baiklah kita mengaso sulu disini!” kata Tiong Giok yang terus menurunkan keranjangnya dari pundak.

“Hati-hati,” kata Ciu Kong disini banyak kerikil tajam. Jika kurang hati-hati tempayanmu bisa pecah, dan terus ia bantu menurunkan tempayan itu serta meletakkan ditempat yang agak rata, kini ia baru tahu biarpun tempayan itu besar, tidak seberapa berat, biar begitu ia tetap tidak menanyakan apa isi tempayan itu.

Tiong Giok segera bersila melakukan semadhi untuk memulihkan kembali tenaganya dan perjalanan napasnya. Hanya sebentar, semangatnya yang memang tidak seberapa letih telah segar kembali, ia membuka mata, tampaknya Ciu Kong sedang duduk dibawah pohon yang rindang sedang mengawasi kearah tempayan dengan terbengong.

Tiong Giok segera bangun dan menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil berkata. “Ku piker sebelum matahari terbenam kita lanjutkan perjalanan ini bagaimana?”

“Sabar dulu,” kata Ciu Kong. “Sebelum kita melanjutkan perjalanan ini, ingin kutanya dulu beberapa patah padamu.”

“Silahkan!”

“Aku sebagai orang tua, sebenarnya tidak tega melihat atau membiarkan seorang muda sepertimu, bilamana harus mengantarkan jiwa dihutan belantara semacam ini! Soal keganasan setan dan iblis disini bukan main-main. Aku dapat mengatakan demikian karena menyaksikan dengan mata kepala sendiri, untuk inilah kuminta, batalkanlah niatmu itu…”

“Nasehat Locianpwee yang berharga ini kuterima dengan rasa syukur dan terima kasih, tapi untuk membatalkan niatku kesana tak bisa kululusi .”

“Baiklah jika engkau mau juga kesana,” kata Ciu Kong. “Dapatkah kutahu siapakah yang menyuruhmu kesana?”

“Maafkanlah jika aku tak bisa menyebutkan nama kawanku itu,” kata In Tiong Giok. “Ia adalah seorang jago rimba persilatan yang telah meninggal dunia.”

“Oh,” kata Ciu Kong kecewa. “Jika begitu tempayan yang besar itupun adalah permintaan orang itu untuk dibawa kesini?”

“Benar!”

“Dapatkah kutahu apa isinya tempayan ini?”

“Oh,” Tiong Giok terdiam sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya. “Isinya adalah rangka atau tulang belulang dari jago yang telah meninggal dunia itu!”

“Oh, kiranya engkau menempuh perjalanan yang cukup jauh, semata-mata untuk mengantarkan tulang-tilang orang yang sudah mati ini sampai di Giok hong hong?”

“Ah karena aku menjalankan permintaan jago tua itu…”

“Giok hong hong adalah tempat sunyi yang penuh iblisnya,” kata Ciu Kong. “Apakah orang itu tidak mengatakan harus menaruh dimana tulang-tulang ini? Atau harus menyerahkan pada seseorang misalnya?”

“Ia hanya mengatakan sebuah goa di Giok hong hong, tapi tidak mengatakan harus menyerahkan kepada siapapun!”

“Apakah ia tidak menceritakan soal keangkeran di Giok hong hong?”

“Tidak!”

“Ia menyuruhmu kesini, kenapa tidak mengatakan soal keadaan disini, aku benar-benar heran.”

“Mungkin ia sendiri tidak mengetahui soal keangkeran disini!”

Ciu Kong menggelengkan kepala, dan tidak berkata apa-apa lagi. Tiong Giokpun segera bangun dan membopong lagi tempayannya, lalu memberi hormat pada Ciu Kong. “Jika Locianpwee tidak ada pesan lagi, aku mau berangkat lagi!”

“Aku mempunyai satu permohonan yang mustahil, tapi kuajukan juga! Yakni, ijinkanlah aku melihat tulang-tulang didalam tempayan itu!”

“Maafkanlah aku, sebesar-besarnya bahwa permintaan Lo Cianpwee itu tidak dapat dikabulkan!”

“Jika engkau keberatan tidak apa-apa, akupun tidak berani memaksa!” kata Ciu Kong. “Nah disinilah kita berpisah.”

Tiong Giok menghaturkan terima kasih atas bantuan orang tua itu yang mau mencapekan diri mengantar sampai disini. Lalu membalik tubuh dan melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa puluh langkah, ia menoleh kebelakang, tampak Ciu Kong masih berdiri dengan tegak ditempatnya tadi sambil mengawasi kearah dirinya dengan sebuah matanya yang tajam.

Tiong Giok tidak memperdulikan lagi orang tua itu, terus melanjutkan perjalanannya. Sedangkan matahari telah condong kebarat, ia mempercepat langkah kakinya untuk mengejar waktu.

Sungguhpun ia tidak percaya soal adanya setan, tapi atas keterangan dari Ciu Kong membuatnya setengah percaya, tapi ia tidak memperdulikan lagi semua ini, tujuannya sudah bulat harus cepat-cepat sampai di Giok hong hong sebelum malam.

Waktu sampai didekat lembah, ia menyaksikan jalanan yang benar-benar sulit, kini iabaru percaya apa yang diucapkan Ciu Kong. Lebih-lebih waktu mau melintasi Lumpur terapung membuatnya menghadapi bukan sedikit kesulitan. Untung Ciu Kong sudah mengatakan terlebih dahulu, jika tidak tubuhnya bisa terbenam didalamnya dengan jiwa melayang. Akhirnya ia bisa melewati Lumpur-lumpur itu dengan selamat, tapi waktu yang terbuang banyak sekali.

Ia semakin cemas, karena malam telah datang, sekeliling menjadi gelap gulita. Didalam tempat berbahaya ini, jangankan ada setan atau iblis tidak adapun cukup membuat orang menangis kecil. Biarpun begitu Tiong Giok tidak mau mundur, ia maju terus! Berkat keuletan dan ketabahannya ia bisa keluar dari lembah yang berbahaya itu dan tiba dikaki bukit. Disini ia mendengar berkecuknya selokan gunung, sepanjang selokan itu tumbuh bunga-bunga hutan yang menebarkan hawa harum, membuat hatinya lapang dan menarik napas dalam-dlam dengan senangnya.

“Benar-benar diluar dugaan, tempat semacam ini bisa terdapat dunia sendiri yang begitu indah dan menyenangkan, tak ubahnya seperti didalam dongeng saja,” pikirnya.

Saat inilah dengan tiba-tiba ia mendengar suara “siuuut ”

Dengan kaget Tiong Giok berpaling keempat penjuru, keadaan tetap seperti semula sedikitpun tidak terlihat perubahan, biarpun sudah malam keadaan disini cukup terang, karena bantuan rembulan dicakrawala.

“Ah, mungkinkah suara setan?” pikirnya dengan dak dik duk. Sedangkan bulu kuduknya berdiri tanpa terasa. “Hei, sahabat darimanakah yang main sembunyi-sembunyian? Untuk apa berlaku seperti setan? Keluarlah!” serunya berulang-ulang kali. Keadaan tetap tenang, tidak ada jawaban yang terdengar, kecuali suara berkerucuknya selokan gunung.

Tiong Giokpun tak mengetahui suara itu manusia atau setan! Ia berseru semata-mata untuk membesarkan hatinya yang sedang ketakutan. “Aku sudah datang kesini, biar setan-setan itu bermunculan aku takkan mundur, yang perlu aku harus secepatnya membawa tulang-tulang ini kedalam gua. Sehabis berpikir iapun berjalan lagi keatas gunung, menyusuri selokan kecil yang tampak terang, karena memantulkan cahaya bulan. Ditengah perjalanan, ia baru melintasi selokan itu yang tak mungkin diikuti terus, karena dulu selokan itu berada diatas tebing yang tinggi sekali.

Ia mencari-cari jalan untuk naik keatas, dan dilihatnya sekeliling penuh dengan pohon-pohon bamboo. Berbisik-bisik daun-daun itu dan terus berjalan. Saat inilah dengan tiba-tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat masuk kedalam pohon bamboo, gerakannya begitu cepat dan luar biasa, dalam sekejap sudah hilang dari penglihatan. Tiong Giok mengucak-ucak mata, dan begitu membukanya kembali ia melihat benda putih dipohon bamboo, bergoyang-goyang. Dengan penuh keberanian ia menghampiri benda itu, setelah dekat, ia melihat tegas itulah Gin coa ( uang orang mati). Cepat-cepat diambilnya, ia jadi kaget lagi, karena kertas itu berlumuran darah merah! Tanpa terasa lagi bulu romanya berdiri lagi, tapi ia memaksakan diri melanjutkan perjalanan lagi tanpa menghiraukan keadaan yang menyeramkan itu. Sungguhpun begitu ia selalu bersikap waspada, dan menggunakan ranting bamboo sebagai tongkat, untuk menjaga bahaya mengancam dirinya. Sesampainya dilereng puncak, tidak terjadi sesuatu apa-apa, membuatnya merasa lega. Langkahnyapun bertambah cepat. Soal-soal setan dan iblis yang ganas sudah dilupakan otaknya, kaena ia merasa senang menemukan jalan kecil yang menuju kepuncak itu. Disini terdapat banyak gua-gua, tapi tidak satupun yang cocok seperti yang dikatakan Pek King Hong. Ia mencari terus sampai ketempat yang paling tinggi. Keadaan disini membuatnya tercengang sendiri, karena tempat yang paling tinggi itu, terdapat satu daratan yang luasnya dua puluh kaki persegi. Ditempat keliling dataran itu ditanam pohon-pohon yang besar, rumput-rumput dilapangan itu sangat halus tak ubahnya seperti permadani hijau. Dan ditengah-tengahnya terdapat meja dan kursi batu, serta bunga yang teratur rapi, begitu indah dan menyenangkan.

Ditengah dataran itu terdapat jalanan yang terbuat dari batu menuju kesebelah gua yang besar dan gelap. Gua ini tidak mendatangkan keheranan barang sedikitpun, yang membuatnya heran dan kaget! Didepan ada seorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Didepan ada seseorang sedang duduk diatas sebuah kursi batu. Orang itu tidak mempunyai kepala. Ia duduk dengan tenang sambil menyisiri kepalanya yang diletakkan diatas pangkuannya.

Dibawah sinar rembulan yang redup, pemandangan ini membuat bulu kuduk meringkak tak keruan rasa! Tiong Giok sendiri hampir-hampir kebawah gunung melihat pemandangan yang indah ini!

Manusia tidak berkepala itu seperti tak memperhatikan kedatangan Tiong Giok, ia menyisir terus kepala yang ada dipangkuannya.

Ia menyisir begitu lama, tapi rambutnya yang kusut itu tidak rapi-rapi juga. Agaknya ia sangat kesal kepala itu diangkatnya diletakkan silehernya, dan terus berkeluh kesah: “Ah sudah tua tak berguna lagi!”

Suara begit halus dan menusuk perasaan, tapi terdengar tegas dan menyeramkan. Tiong Giok terpaksa diam, tak tahu entah apa yang harus diperbuat, berlari atau diam saja!”

Orang itu tiba-tiba membalik badan dan memandang kearah Tiong Giok sambil menggapaikan tangan: “Ceng jie jangan main ayun-ayunan lagi, lekaslah sisiri rambutku!”

Tiong Giok menjadi kaget, ia berpaling kebelakang, waduh, hampir ia menjeerit! Kiranya tak berapa jauh darinya terlihat seorang gadis dengan rambut awut-awutan bergantung dipohon yang tinggi, sedang ayun-ayunan kesana kemari.

Melihat keadaan ini Tiong Giok dari takut timbul nekadnya, dengan menggunakan tongkatnya ia membentak. “Hei, kalian makhluk apa berani mengotori tempat yang suci ini!”

Berbareng dengan bentakannya Tiong Giok melakukan serangan oada gadis yang tergantung itu, tak kira belum pula serangannya sampai gadis itu tiba-tiba jatuh ketanah tak berkutik lagi, karena tambang yang menggantung lehernya putus dengan tiba-tiba.

In Tiong Giok memperhatikan perempuan itu dengan seksama, sesaat berlalu tidak terlihat gerakan apa-apa. Ia berpaling kearah gua, orang tua disitu sudah tidak terlihat mata hidungnya. Cepat-cepat ia menurunkan tempayan dari punggungnya dan memberannikan diri menghampiri perempuan itu sambil mengusik-usik tangannya. Perempuan itu diam saja, maka dipegang lengannya itu dan diperiksa jalan darahnya. Ia merasakan tangan itu dingin sekali, dan tahu itulah sesosok mayat. Ia masih penasaran dan ingin melihat dengan tegas wajah dari mayat itu, maka rambut yang menutupi muka perempuan itu disingkap. Kini terlihat tegas perempuan itu berwajah cantik, matanya meram, usianya lebih kurang lima enam belas tahun.

Inikah yang dimaksud sebagai iblis ganas? Inikah yang membuat orang-orang Biau takut? Inikah yang membuat Ciu Kong terluka parah? Ia jadi bingung dan menggelengkan kepala tanpa terasa dan menarik napas panjang….”

Bertepatan dengan tertarik napsnya, terdengar berkesiur angin, sebuah bayangan hitam menyambar tempayan dan terus dibawa lari kedalam gua.

Tiong Giok terkesiap dan kalah langkah, lengannya segera digerakkan “sreet” terdengar bunyi nyaring, karena ilmu mautnya atau Hiat cie leng dipergunakan menyerang bayangan hitam itu. Akan tetapi dengan mendadak ia merasakan lengannya menjadi kaku, karena pundaknya dicengkeram lengan dingin dari arah belakang. Hiat cie lengnya tidak dapat dilancarkan dengan sempurna, sehingga bayangan hitam masuk dan menghilang kedalam gua dengan aman.

In Tiong Giok menoleh kebelakang, ia merasa lega, karena yang mengcengkeram pundaknya itu adalah si mayat perempuan. Bukan saja mayat itu hidup kembali, bahkan bisa berseru nyaring. “Tia-tia! Yauw Pepek! Lekaslah aku berhasil menangkapnya!”

Dengan mendengar suaranya perempuan itu membuat Tiong Giok sadar bahwa dirinya bukan berhadapan dengan iblis tapi manusia biasa yang pura-pura menjadi iblis. Tiba-tiba ia membalik badan dengan mendadak. “Bangsat, jangan pura-pura menjadi setan, lepaskan lenganmu!”

Perempuan itu sedang gembira bisa menangkap Tiong Giok, sedikitpun tidak menduga pemuda itu bisa berontak dan melepaskan diri. Bahkan melakukan serangan mendadak, sehingga dirinya jungkir balik dalam waktu sekejap. Namun ia segera bangun dan terus mengayunkan tangannya melakukan serangan, sedangkan mulutnya berseru-seru minta bantuan. “Tia-tia lekas, terlepas lagi, cepat Bantu aku!”

Dengan cepat Tiong Giok melakukan serangan, membuat perempuan itu terdesak terus. “Kalian sebenarnya siapa? Lekas katakana jangan sampai kuturunkan tangan jahat!”

Perempuan itu melawan terus, ilmu pukulannya, sayang kurang matang, sungguhpun begitu ia masih bisa mengimbangi serangan lawannya dengan baik. “Turunkanlah tangan jahatmu aku tak takut!” Tantangannya, dan mengobah-obah serangannya dengan aneh, sekali ini Tiong Giok yang keteter. Untuk mendapat kemenangan hampir-hampir Hiat cie lengnya dilancarkan lagi, tapi ia tak sampai hati melakukan serangan mautnya. Sebab ia masih memiliki ilmu lain yang bisa digunakan. Lengannya seolah-olah dijadikan pedang, dan terus ditebaskan dengan gencar, menurut ilmu pedang Keng thian cit su.

Perempuan itu menyaksikan peerubahan ilmu lawannya menjadi kaget dan cepat-cepat berseru: “Hei! Darimana engkau mempelajari ilmu ini?”

“Tidak ada urusannya denganmu, jika engkau tak sanggup melawanku lagi, panggillah bapakmu lekas-lekas!”

“Jangan terlalu bangga, kata perempuan itu. “Kau kira aku tak tahu bahwa ilmu yang kau gunakan itu asalnya dari ilmu pedang.”

“Ilmu pukulan atau ilmu pedang tidak bedanya, pandanganmu yang cetek itu, membuat geli hatiku saja!”

“Hm ilmu pedang tetap ilmu pedang, ilmu pukulan tetap ilmu pukulan, kenapa kau katakana pandanganku yang cetek? Dengan ilmu pukulan tangan kosong engkau tak bisa menang dariku, maka memakai ilmu ini untuk memperoleh kemenangan bukan?”

“Ilmu apapun yang kupakai tak ada urusannya denganmu!” jawab Tiong Giok.

“Baiklah, rasakan pukulanku!” kata perempuan itu yang benar-benar melancarkan serangan bertambah gencar.

“Ceng ceng stop!” tiba-tiba terdengar seruan.

In Tiong Giok mencelat mundur dan menoleh kesana, didekat mulut gua ia melihat dua orang sedang berdiri dan memandang kepada dirinya, antaranya adalah Ciu Kong dan yang satu lagipun dia kenal, yakni Tiat pie sin wan Yauw Kian Cee. Orang itu pernah bertemu dengannya dikota Kim leng sewaktu ia mau mencetak buku Keng thian cit su. Ia menjadi kaget, dibalik merasa lega.

Ciu Kong dan Yauw Kian Cee cepat-cepat menghampiri kearahnya dan terus bertekuk lutut sambil berkata: “Kami Yauw Kian Cee dan Ciu Kong menghaturkan hormat pada Ciang bun jin.”

Perempuan berbaju hitam menjadi kaget cepat-cepat iapun bertekuk lutut dan berkata: “Aku Ciu Ceng menghaturkan hormat pada Ciang bun jun.”

In Tiong Giok membalas hormat mereka sambil berkata: “Aku menerima pesan dari Pek ciang bun jin kembali ke Cong leng tong hu (gua penyimpan roh) ini lebih kurang sudah empat bulan lamanya tak kira perpisahannya di Kim leng untuk selama-lamanya. Dan karena salah paham membuat Ciang bun jin mengalami banyak kesukaran, atas ini kumohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Ciu Kong pun dengan perasaan menyesal turut berkata: “Kami sebagai penjaga gua suci ini dari banyak tahun, tapi karena tidak kenal wajah Ciang bun jin yang baru, dengan tidak disengaja berlaku kurang ajar, dengan ini aku minta maaf yang sebesar-besarnya.”

“Jie wie lo cianpwee janganlah berkata begitu, karena suatu keberuntungan aku bertemu dengan Pek Lo Cianpwee dan menerima Giok hu, serta menjalankan pesanannya untuk membawakan rangkanya ke Cong leng tong hu ini, Ku mohon diriku ini jangan dianggap sebagai Ciang bun jin.”

“Setiap orang yang memegang Giok hu, adalah Ciang bun jin dari Thian liong bun, maka itu kedudukan ini bagaimanapun tak bisa diubah-ubah!” kata Yauw Kian Cee.

Dengan rasa hormat mereka mengiringi In Tiong Giok memasuki gua Cong leng tong hu. Gua ini dari luar tampaknya sangat sempit tapi sangat luas. Dikiri kanan terdapat empat kamar, tiga diantaranya adalah kamar Yauw Kian Cee, Ciu Kong dan Ciu Ceng Ceng, sedangkan yang sebuah lagi dipakai tempat latihan silat. Sedangkan perabotan disitu hanya kursi meja dari batu. Didinding tergantung rupa-rupa kedok seram dan kepala-kepalaan orang. Itulah alat-alat biasa dipergunakan mereka menyamar sebagai setan dan iblis.

Adapun Ciu Kong asalnya sebagai dedengkot golongan hitam yang kejam dan ganas. Didunia Kang Ouw ia terkenal dengan julukan “Tok gan sin mo (Iblis bermata satu). Empat puluh tahun yang lalu disaat namanya sedang tenar ia bertemu dengan Pek King Hong, dan dipecundangi, sejak itulah ia menjadi pengikut Pek King Hong dan bertugas sebagai penjaga gua Cong leng tong hu di puncak Giok hong hong sampai sekarang. Sedangkan Ciu Ceng Ceng asalnya bukan she Ciu, sewaktu masih didalam gendongan ibunya, diajak kedua orang tuanya berdagang kedaerah Biau ini. Entah bagaimana ayahnya berbuat kesalahan pada orang-orang Biau sehingga menerima kematian bersama istrtinya. Sewaktu terjadi peristiwa itu, kebetulan Ciu Kong lewat, dan memberikan pertolongan pada bayi itu, lalu dirawatnya dan dijadikan sebagai cucunya sendiri. Mereka mendiami Giok hong hong dan berlaku sebagai setan-setan untuk menakut-nakuti orang Biau agar tidak datang mengganggu gua yang dianggap suci itu.

In Tiong Giok sewaktu memeriksa Ceng Ceng mendapati gadis itu sudah dingin dan mati tapi belakangan gadis itu kembali, dan sadarlah bahwa Ceng Ceng menggunakan ilmu Hui kie jip hiat (mengembalikan hawa kedalam nadi), sehingga bisa pura-pura mati. Sedangkan Ciu Kong yang bisa mencopot kepalanya dariu leherpun, hanya permainan sulap saja. Dengan cara itu biasanya mereka bisa membuat orang-orang Biau ketakutan setengah mati dan tak berani datang lagi kepuncak ini.

Sejak mengenal urusan Ciu Ceng Ceng belum pernah meninggalkan Giok hong hong maka itu sifatnya sangat polos benar. Kini kedua matanya yang hitam tak henti-hentinya memandang In Tiong Giok, ia tak habis mengerti, kenapa pemuda itu yang masih muda belia bisa menjadi Ciang bun jin dan kakeknya yang berusia hampir sembilan puluh tahun harus bertekuk lutut pada pemuda itu?

Dan sungguhpun begitu ia tak berani mengatakannya dan diam saja terus sambil mengikutinya dari belakang. Sedangkan Tiong Giok sesudah masuk memperhatikan didalam, ia merasa heran dan bertanya: “Pek Lo Cianpwee memesan kepadaku untuk menaruh rangkanya didalam gua ini dan memberi petunjuk juga harus menuruti kata-kata yang tertulis didinding melakukannya, kenapa didinding ini tak terlihat barang sehuruf katapun?”

“Tempat untuk meletakkan rangka itu tidak disini,” kata Yauw Kian Cee.

“Mungkinkah masih ada gua lain?” tanya In Tiong Giok.

“Dibelakang kamar berlatih masih ada ruangan lain lagi,” kata Yauw Kian Cee, “tempat itu hanya boleh dimasuki seseorang yang berkedudukan sebagai Ciang bun jin, yang lain tidak boleh masuk.”

“Jika begitu kuminta ditunjukkan tempatnya untuk meletakkan rangka ini,” kata Tiong Giok.

Yauw Kian Cee agak sangsi, terbayang wajahnya sangat bingung, akhirnya ia berkata dengan suara gugup. “Tidaklah sebaiknya Ciang bun jin mengaso dulu? Rangka itu besokpun boleh…”

“Aku melakukan perjalanan ribuan lie jauhnya, supaya bisa menempatkan kerangka ini ditempatnya secepat-cepatnya, jika kejadian ini sudah beres hatiku baru lega, maka itu untuk apa harus menantikan besok, aku mau sekarang juga dibereskan.”

Yauw Kian Cee berpikir sejenak, lalu tersenyum, “Saat inipun sebenarnya sudah pagi tak lama lagi akan terang tanah, jika tak bisa bersabar, kami menurut saja apa yang dikehendaki Ciang bun jin” sehabis berkata ia melirik kearah Ciu Kong dan berbisik perlahan, entah apa yang dikatakannya, Ciu Kong segera maju kedepan Tiong Giok dan bertekuk lutut “Aku sebagai penjaga gua ini, mohon diberikan Giok hu untuk membuka pintu.”

Tiong Giok mengeluarkan Giok hu, Ciu Kong menerimanya dengan kedua tangan, setelah meneliti sejenak, orang tua itu segera membalik badan dan berjalan duluan memimpin Tiong Giok masuk kedalam kamar latihan.

Ciu Ceng Ceng menyingkap kain di dinding, disitu terlihat sebuah pintu yang tingginya tiga meter, tertutup rapat oleh sebuah kelotok besar yang terbuat dari emas.

Ciu Kong bertekuk lutut didepan pintu dan berdoa. “Hari Ciu Kong sebagai penjaga gua mendapat tugas dari Ciang bun jin baru untuk membuka pintu, semoga arwah dari ciang bun jin yang berada dialam baka, memberi rahmat dan taufiknya bagi ciang bunjin baru dan kesejahteraan pada sekalian murid-murid dari Thian liong bun. Sehabis begitu ia berdiri memberi hormat lagi sebanyak tiga kali sambil merangkap kedua tangannya. Tangannya yang merangkap tiba-tiba dipisahkan, tampak tegas bahwa Giok hu menjadi dua, ditengahnya terdapat sebuah anakj kunci dari emas. Dengan itu dia membuka pintu. Sesudah itu ia menundukkan kepala mempersilahkan Tiong Giok masuk, sikapnya ini diikuti pula Yauw Kian Cee dan Ciu Ceng Ceng. Tiong Giok sendiri menghadapi acara ini menjadi bingung, tapi ia tidak mau banyak pusing, cepat-cepat diambilnya tempayan yang sudah berada disitu dan dibawa masuk kedalam gua.

Keadaan didalam sangat gelap, tapi udara disitu diliputi wewangian yang menyegarkan semangat. Samar-samar ia melihat gua yang dalamnya lima enam puluh meter. Disini terdapat sebarisan ranjang-ranjang batu dan disetiap ranjang itu terdapat kerangka kerangka manusia, ada yang mengenakan pakaian Biku, adapula yang mengenakan pakaian biasa, jumlahnya ada sembilan orang.

In Tiong Giok masuk terus kedasar gua, disini terdapat pula ruangan yang agak besar dan tidak gelap seperti tadi, karena dari atap masuk sinar terang. Ia mengamat-amati keadaan sekeliling dengan telitinya sekali, dan melihat banyak huruf-huruf didinding. Setelahmembaca dan memperhatikan sejenak, barulah ia tahu bagaimana harus meletakkan kerangka Pek King Hong. Maka dilakukan petunjuk itu dengan baik saat itu juga. Disamping itupun ia mendapatkan bahwa huruf-huruf ditembok itupun merupakan pelajaran ilmu silat dari Thian liong bun yang diperuntukkan bagi seorang Ciang bun jin. Karena inilah Tiong Giok, mau tak mau harus membuang waktu didalam gua itu bersama-sma dengan Yauw Kian Cee dan kawan-kawan untuk mempelajari ilmu itu.

Sementara itu Tiong Giok mempelajari ilmu silat di Giok hong hong, kita alihkan dulu cerita ini kebagian yang lain.

Waktu berjalan dengan cepatnya, sekejap mata setahun telah berlalu. Kini tepat hari raya Tiong cu, keadaan telaga See Ouw diterangi rembulan purnama, putih seperti perak, jernih bagai air. Indah dan permai. Perahu-perahu berhias memenuhi telaga itu, para penumpangnya mengenakan pakaian baru, makan minum bergembira sambil menyanyi-nyanyi, melewatkan hari raya dimusim Ciu itu.

Di pinggir telaga banyak restoran terapung diatas air, antaranya yang bernama Hui hong sian, ini adalah yang terbaik, bertingkat tiga, teratur rapi dan bersih. Dilantai pertama penuh perahu sewaan, lantai kedua dan tiga terdapat belasan kamar yang menghadap ketelaga.

Disini para tamu yang berpesta pora sambil mendengari lagu yang dibawakan oleh penyanyi wanita. Para penyanyi itu bertugas merangkap menjadi pelayan juga, memberikan kesenangan pada tamu, dalam keadaan begini hal-hal asusila terjadi dan berlangsung seperti biasa! Pokoknya para perempuan itu ditepuk maupun disenggol atau dipeluk sekali, hanya tersenyum. Bukan karena ia senang dan berwatak demikian, apa yang dilakukannya itu, semata-mata untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya!

Tamu-tamu makin malam makin mabuk-mabukan suara penyanyi semakin parau, kelakuan antara wanita dan laki-laki semakin menggila seolah-olah dunia ini hanya untuk begitu saja.

Tapi di dalam keramaian ini, ada seorang tamu yang luar biasa. Ia adalah seorang pemuda berusia antara tujuh delapan belas tahun. Pakaiannya terbuat dari sutera dan ,mentereng sekali. Ia berada ditingkat teratas sekali dari Hui hong sian, berdiam seorang diri dikamar yang termahal. Kamar itu hanya diterangi sinar rembulan, tapi biar begitu wajah pucat pemuda itu terlihat jelas. Sepasang matanya yang tajam memandang ketempat jauh, bagai sedang merenungkan kehidupan yang lampau.

Sejak matahari terbenam, pemuda itu datang seorang diri dan terus diam dikamar itu.

Pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik, melihat seorang muda ini, jadi girang, pikir mereka inilah orang baru yang masih hijau, asal bisa merayu dan jual lagak pasti dapat mengeruk uang. Tak kira laki-laki muda itu, tak tertarik paras cantik, ia duduk dikamar itu tak mau ditemani siapapun. Ia minum-minum seorang diri sambil melamun dan terpekur berjam-jam lamanya, arak yang masuk kekerongkongannya sudah banyak, tapi sepatah kata tak keluar dari mulutnya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: