Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:53 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 07: Ketua dan Sektenya
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Sinar bulan terang benderang. Waktu fajar masih 6 jam lagi.

Liok Siau-hong telah kembali ke losmen di mana ia menginap dan memesan semeja penuh arak dan makanan.

“Tak perduli apa,” dia tertawa, “paling tidak aku masih bisa makan dan minum semua yang aku inginkan sekali lagi.”

“Seharusnya kau tidur dulu.” Hoa Ban-lau memberi nasehat.
“Jika kau akan berduel dengan seseorang seperti Ho Thian-jing saat matahari terbit nanti, bisakah kau tidur?”

“Tidak, aku tak bisa.”

“Kau tahu apa hal terbaik yang ada padamu?” Liok Siau-hong tertawa. “Kau tak pernah berdusta. Sayangnya, kadang-kadang kau seperti seorang pembohong waktu kau mengatakan hal yang sebenarnya.”

“Aku tak akan dapat tidur, tapi hanya karena aku tak memahami dirinya sama sekali!”

“Dia benar-benar seorang yang penuh teka-teki.”

“Sudah berapa lama kau mengenalnya?”

“Kira-kira 4 tahun. Empat tahun yang lalu waktu Giam Thi-san pergi ke Thai-san untuk melihat matahari terbit, dia juga ikut. Seorang pencuri dan aku kebetulan telah menetapkan tanggal dan tempat pertemuan di puncak Thaysan untuk melihat siapa yang bisa bersalto lebih banyak.”

“Berapa baik kau mengenal dirinya?”

“Tidak tahu banyak.”

“Kau bilang, walaupun usianya masih muda, dia adalah orang yang dituakan!”

“Pernahkah kau mendengar tentang Thian-siong-in-ho (Menara Langit dan Bangau Awan), dua orang Siang-san-ji-lo (dua tetua dari Siang-san)?”

“Kedua tetua dari Siang-san itu telah lama dianggap sebagai Bintang Utara di dunia persilatan. Bahkan jika aku tuli, aku pasti mendengar nama mereka.”

“Nah, kudengar dia adalah adik seperguruan mereka.”

Ekspresi wajah Hoa Ban-lau pun berubah hebat.

“Jika mereka berdua masih hidup sekarang, mungkin usia mereka sekitar 70 atau 80 tahun. Ho Thian-jing belum berumur 30 tahun. Bagaimana mungkin ada selisih umur yang begitu besar di antara saudara-saudara seperguruan?”

“Ada banyak pasangan suami-isteri yang berselisih usia 40 atau 50 tahun, apalagi cuma saudara seperguruan……”

“Jadi itulah sebabnya maka seorang yang sudah terkenal selama 40 tahun seperti San Say-gan hanya menjadi murid keponakannya.”

“Benar.”

“Dulu waktu Thian-kim Lojin merajai seluruh dunia, dia hanya mengambil Siang-san-ji-lo sebagai muridnya. Bagaimana tiba-tiba sekarang muncul Ho Thian-jing?”

“Keluarga Hoa dulu juga hanya punya 6 orang anak,” Liok Siau-hong tersenyum dan membalas, “jadi bagaimana kau sekarang tiba-tiba muncul?”

Orang tua punya anak, guru punya murid, hal seperti ini bukanlah urusan orang lain.

Tapi ekspresi serius telah muncul di wajah Hoa Ban-lau.

“Aku belum pernah bertemu San Say-gan sebelumnya. Tapi aku tahu bahwa ilmu meringankan tubuh dan ilmu tangan kosongnya terkenal sebagai 2 keajaiban dunia persilatan. Tak tahu bagaimana bila Ho Thian-jing dibandingkan dengan dirinya.”

“Aku juga belum pernah melihat Ho Thian-jing bertarung. Tapi melihat bagaimana dia mampu menggunakan ilmu seperti Burung Walet Tiga Kali Mengaduk Air sewaktu memondong tubuh Giam Thi-san yang berat tadi, aku bisa mengatakan bahwa tidak banyak orang di dunia ini yang lebih hebat darinya.”

“Bagaimana denganmu?”

Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia tak pernah suka menjawab pertanyaan seperti ini. Sebenarnya, selain dari dirinya sendiri, mungkin tidak ada orang lain di dunia ini yang tahu seberapa hebat sebenarnya ilmu kungfunya.

Tapi kali ini Hoa Ban-lau tampaknya terus berusaha menemukan jawabannya dan bertanya lagi.

“Kau yakin bisa mengalahkannya?”

Liok Siau-hong masih tidak menjawab. Ia hanya menuangkan secawan arak lagi dan meminumnya dengan lamban.

Hoa Ban-lau tiba-tiba menarik nafas. “Kau tidak yakin. Itulah sebabnya kau bersikap hati-hati dan tidak terlalu banyak minum arak.”

Liok Siau-hong biasanya tidak minum arak dengan cara seperti ini.

Sejak tiba di situ, Tan-hong Kiongcu menjadi sangat pendiam. Ia hanya duduk di sana dan mendengarkan sepanjang waktu. Sekarang ia tiba-tiba bicara: “Kau baru saja mengatakan bahwa kau dan seorang pencuri bertanding salto di puncak Thai-san, siapakah pencuri itu?”

“Si Raja Maling!” Liok Siau-hong tertawa kecil. “Mencuri di mana-mana dan tak pernah bertemu tandingannya. Tapi korbannya bukan cuma tidak menjadi marah, mereka malah merasa terhormat.”

“Mengapa?”

“Karena tidak banyak orang yang cukup sesuai baginya untuk dicuri barangnya. Di samping itu, ia tak pernah mencuri sembarang benda. Ia hanya mencuri karena ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu.”

Liok Siau-hong tertawa kecil dan meneruskan.

“Suatu saat, ia bertaruh dengan seseorang bahwa ia mampu mencuri pakaian milik isteri orang paling kikir sedunia, Cheng Fu Zhou.”

Tan-hong Kiongcu tak tahan untuk tidak tertawa mendengar cerita itu.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Ia memenangkan taruhan itu.”

“Lalu mengapa kau berlomba salto dengannya?”

“Karena aku tahu bahwa aku tak bisa mencuri dari dia. Dan aku benar-benar ingin mendapatkan 50 kendi arak yang baru saja dia menangkan itu.”

“Itu benar. Gunakan kekuatanmu untuk menyerang kelemahan musuh. Mengapa kau tidak melakukan itu terhadap Ho Thian-jing nanti?”

Tan-hong Kiongcu merenung. “Kau tidak perlu bertarung mati-matian dengan dia.”

Liok Siau-hong menarik nafas. “Ada beberapa orang di dunia ini yang, tak perduli apa pun tipuan yang kau lakukan padanya, maka tipuan itu tak akan berhasil. Sebun Jui-soat adalah salah seorang dari mereka, Ho Thian-jing juga.”

“Kau fikir dia benar-benar ingin bertarung mati-matian denganmu?”

“Karena perlakuan Giam Thi-san selama ini padanya, maka ia harus membalas budi. Ia telah lama memutuskan bahwa ia akan rela memberikan nyawanya untuk membalas budi itu.” Ekspresi Liok Siau-hong tampak sangat serius.

“Tapi kau kan tidak perlu bersikap seperti dia!”

Liok Siau-hong tersenyum sekilas, seakan-akan ia tidak ingin membicarakan masalah ini lagi. Ia bangkit dan berjalan menghampiri jendela dengan perlahan-lahan.

Jendela itu telah terbuka sejak awal. Tiba-tiba ia menyadari bahwa beberapa saat yang lalu seorang laki-laki tua yang mengenakan jubah panjang telah datang membawa sebuah bangku dan duduk di tengah halaman sana sambil menghisap pipa.

Malam telah larut, tapi laki-laki tua itu tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Ia duduk diam-diam di sana, seakan-akan ia bermaksud untuk duduk di sana sampai matahari terbit.

“Cuaca semakin dingin,” Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum dan bicara, “jika Tuan tidak keberatan, mengapa tidak masuk dan menikmati beberapa cawan minuman bersama kami agar malam panjang ini berlalu lebih cepat?”

Tapi laki-laki tua itu tidak menjawab sedikit pun. Seakan-akan ia seorang yang tuli dan tidak mendengar kata-kata Liok Siau-hong. Liok Siau-hong hanya tersenyum saja.

“Tidak sopan menolak maksud baik orang lain!” Tan-hong Kiongcu merasa kesal dan mendengus.

Tiba-tiba dia berlari ke jendela dan, dengan sebuah kibasan tangan, melemparkan cawan arak yang ada di tangannya ke arah laki-laki tua itu. Cawan itu meluncur dengan cepat tapi mantap, tak ada setetes pun arak di dalamnya yang tumpah.

Laki-laki tua itu tiba-tiba mendengus dingin, mengulurkan tangannya, dan menangkap cawan itu. Lalu ia menuangkan seluruh isi cawan itu ke tanah dan mulai memakan cawan itu. Sepotong demi sepotong, ia melahap cawan tersebut, dan menimbulkan suara gemeretak di dalam mulutnya.

Tan-hong Kiongcu terpana melihat kejadian itu.

“Adakah yang salah dengan orang tua ini?” ia bertanya. “Dia tidak meminum araknya, tapi malah memakan cawannya.”

Mata Liok Siau-hong berkerlap-kerlip dalam sinar bulan.

“Mungkin karena arak itu adalah sesuatu yang kita tawarkan,” ia berkata sambil tersenyum. “Dan cawan arak itu tidak.”

Pada saat itu, seorang pedagang roti isi daging pun berjalan memasuki halaman.

Malam sudah begitu larut, apakah dia benar-benar berharap bisa berdagang di sini?

“Hei, kamu!” Tan-hong Kiongcu mengedip-ngedipkan matanya. “Apakah kau menjual roti isi daging?”

“Asal kalian punya uang, tentu saja ya!”

“Berapa harganya?”

“Sangat murah! Sepuluh ribu tael perak sepotongnya, dan tidak boleh kurang setael pun.”

Wajah Tan-hong Kiongcu berubah warna sedikit. “Ok, berikan aku 2 potong roti yang berharga 10.000 tael itu.” Ia berkata. “Bawakan ke sini.”

“Baik!”

Ia baru saja mengambil 2 potong roti isi daging waktu seekor anjing berbulu kuning melompat keluar dari sebuah sudut dan berlari menghampirinya, lalu menggonggong dengan keras.

“Apa? Mungkinkah kau ingin membeli roti isi dagingku seperti gadis yang di sana itu?” Pedagang itu memandang si anjing. “Apakah kau tidak tahu bahwa rotiku ini asalnya memang dibuat untuk memukul anjing?”

Ia benar-benar mulai memukuli anjing itu dengan roti tersebut. Anjing itu segera berhenti menggonggong dan menggigit roti itu beberapa kali. Tiba-tiba anjing itu menyalak dan bergulingan di tanah, lalu berubah dari anjing hidup menjadi anjing mati.

Wajah Tan-hong Kiongcu kembali berubah warna. “Ada racun di dalam roti itu?”

“Bukan hanya racun,” si pedagang tersenyum santai. “dagingnya sendiri adalah daging manusia.”

“Beraninya kau menjual roti seperti itu?” Tan-hong Kiongcu membentak dengan marah.

“Aku hanya melakukan pekerjaanku,” si pedagang memutar-mutar biji matanya sambil memandang Tan-hong Kiongcu, “apakah kau membelinya atau tidak, itu adalah urusanmu. Aku tidak memaksamu untuk membelinya.”

Wajah Tan-hong Kiongcu hampir berubah menjadi kuning karena marahnya. Ia hampir tak mampu untuk menahan diri agar tidak berlari maju dan menampar orang itu beberapa kali.

Tapi Liok Siau-hong diam-diam telah memegang tangannya. Saat itulah mereka mendengar seseorang menarik nafas dengan perlahan: “Sinar bintang di malam hari, untuk siapakah angin berhembus melalui jendela?”

Seorang Siucay (sasterawan) yang jorok dan kotor, dengan tangan terlipat di balik punggungnya, berjalan lambat-lambat memasuki halaman itu.

Tiba-tiba dia berbelok ke arah si pedagang dan tersenyum.

“Berapa banyak yang telah kau bunuh hari ini?”

“Roti isi dagingku hanya membunuh anjing, bukan manusia,” si pedagang memutar-mutar bola matanya lagi. “Cobalah dan kau akan lihat.”

Ia melemparkan sepotong roti kepada si sasterawan, yang segera menangkap dan memakannya.

“Agaknya kau mengatakan hal yang sebenarnya,” ia berkata sambil menepuk-nepuk perutnya. “Bukan hanya itu, roti ini juga bisa menyembuhkan penyakit.”

“Penyakit macam apa?” Sebuah suara terdengar bertanya dari luar tembok.

“Penyakit lapar!” si siucay menjawab.

“Oh, aku faham. Aku pun sangat lapar nih.” Orang di luar menyahut. “Cepat, berikan aku roti dan sembuhkan penyakitku ini.”

“Baik!”

Si pedagang mengeluarkan sepotong roti lagi dan melemparkannya ke atas tembok. Seorang pengemis, yang tiba-tiba telah muncul di atas tembok itu, membuka mulutnya dan menangkap roti itu dengan mulutnya dan menelannya. Lemparan-lemparan si pedagang sangat cepat, si pengemis pun menelan roti itu dengan sama cepatnya. Dalam sekejap mata, 7 atau 8 potong roti telah menghilang ke dalam perut si pengemis.

“Tampaknya roti itu akhirnya bisa menyembuhkan penyakit laparmu!” si siucay berkata.

Si pengemis mengerutkan keningnya.

“Kalian menipuku, tak mungkin mati gara-gara racun dalam roti ini, tapi orang memang bisa mati karena terlalu kenyang makan roti!”

“Bukan masalah besar!” Seorang lagi telah muncul di luar tembok. “Mati karena kekenyangan? Karena kelaparan? Karena dimarahi isteri? Jangan cemas, aku punya obatnya.”

Seorang pedagang ramuan obat-obatan, sambil membawa sebuah kotak obat dan lonceng kecil tampak berjalan memasuki halaman itu dengan tersandung-sandung. Jelas dia adalah seorang cacat.

Halaman kecil yang sepi itu, seakan orang-orang itu telah berencana untuk berkumpul di situ, tiba-tiba berubah menjadi tempat yang ramai dan berisik. Segera saja seorang pedagang alat rias wanita, pedagang barang bekas, dan seorang penjual sayur pun ikut bergabung.

Mata Tan-hong Kiongcu semakin sakit melihat semua itu. Walaupun dia tidak memiliki pengalaman dunia persilatan yang banyak, dia sekarang menyadari bahwa orang-orang ini datang untuk mereka.

Yang paling aneh adalah semua orang ini tetap berada di luar, berjejalan di halaman, dan tampaknya sedikit pun tidak tertarik untuk masuk dan mencari gara-gara dengan mereka.

“Menurutmu orang-orang ini datang untuk membalaskan dendam Giam Thi-san?” Tan-hong Kiongcu tak tahan untuk tidak bertanya pada Liok Siau-hong.

“Bagaimana mungkin Giam-toalopan punya teman-teman seperti ini?” Liok Siau-hong tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Mereka semua tampaknya bisa kungfu.”

“Sebuah kota selalu merupakan tempat harimau mendekam dan naga bersembunyi.” Liok Siau-hong menyahut. “Asal mereka tidak mengganggu kita, kenapa kita harus mengganggu mereka dan terlibat dalam urusan mereka?”

“Sejak kapan kau menjadi orang yang tidak ingin ikut campur dalam urusan orang lain?” Hoa Ban-lau tiba-tiba memotong sambil tertawa.

Liok Siau-hong balas bergurau. “Baru sekarang.”

Suara genta penjaga malam bisa terdengar dari tempat itu. Tiga kali dentangan, berarti hari sudah tengah malam.

{Catatan: Di kota-kota Cina kuno, ada penjaga-penjaga malam yang berlalu-lalang di jalan sambil memukul genta kecil sebagai petunjuk waktu. Malam hari dibagi menjadi 5 bagian yang sama, dan penjaga malam pun memukul gentanya sesuai dengan jumlah hitungannya. Jadi, 3 dentangan berarti tengah malam.}

Laki-laki tua yang menghisap pipa itu tiba-tiba berdiri dan menguap: “Kenapa orang yang mengundang kita ke sini malah belum datang?”

Ternyata dia bukan orang tuli ataupun bisu.

Tan-hong Kiongcu jadi semakin pusing. Siapa yang mengundang orang-orang ini ke sini? Dan untuk apa?

“Dia tentu akan segera tiba,” si siucay menjawab.

“Aku akan pergi melihat-lihat,” si pedagang roti menawarkan diri.

Tangannya segera beraksi kembali, melempar-lemparkan roti isi daging dari dalam keranjangnya. Puluhan potong roti yang ia lemparkan, satu demi satu, membentuk sebuah tumpukan yang tingginya lebih dari 10 meter.

Dengan sedikit mengeluarkan tenaga, si pedagang roti pun melompat ke puncak tumpukan roti itu seperti seekor ayam jago yang hinggap di atas pagar. Kedudukannya mantap, tidak bergeming sedikit pun dalam terpaan angin.

Bukan hanya kemampuan tangannya yang cepat dan akurat, ilmu meringankan tubuhnya juga termasuk kelas satu.

“Kelihatannya berkelana di dunia persilatan bukanlah hal yang mudah,” Tan-hong Kiongcu menarik nafas dan bergumam. “Baru sekarang aku memahami itu.”

“Paling tidak kau mengerti sekarang, itu hal yang bagus,” Hoa Ban-lau menjawab sambil tersenyum.

“Dia datang!” si pedagang roti tiba-tiba berseru.

Seruannya itu seperti membangkitkan energi semua orang. Bahkan jantung Tan-hong Kiongcu pun seperti hendak melompat keluar dari tenggorokannya. Ia ingin tahu, seperti apakah orang yang ditunggu-tunggu itu.

Tapi dia menjadi kecewa melihat kejadian selanjutnya.

Dalam fikiran dan khayalan seorang gadis muda, jika orang ini bukan seorang jago pedang muda yang lembut dan tampan, paling tidak dia tentulah seorang pendekar dunia persilatan yang berwibawa dan penuh kekuatan.

Tapi orang yang datang ini hanyalah seorang laki-laki tua berkepala botak dengan raut wajah yang tirus dan muka kekuning-kuningan. Ia mengenakan pakaian berwarna abu-abu yang terbuat dari kain kasar dan panjangnya hanya sampai ke lutut. Di kakinya ia mengenakan kaus kaki putih dan sepatu abu-abu yang biasa digunakan oleh seorang petani tua yang datang ke kota untuk berjualan di pasar.

Tapi matanya berkilat-kilat. Bersinar terang dan kuat, mata itu berkerlap-kerlip dalam sinar bulan.

Hal yang aneh adalah setiap orang di halaman itu jelas sedang menunggu dirinya, tapi sekarang setelah dia muncul, tidak ada yang menghampiri dan menyapanya. Mereka hanya diam-diam minggir dan memberikan jalan untuknya.

Mata laki-laki tua berkepala botak itu memandang sekelilingnya sebentar sebelum dia tiba-tiba mulai berjalan ke arah Liok Siau-hong.

Sepertinya ia tidak berjalan dengan cepat, tapi dalam 2 atau 3 langkah saja ia telah tiba di depan pintu.

Pintu itu selama ini terbuka. Ia tidak mengetuk pintu, juga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya, dan dengan sangat santai, duduk di hadapan Liok Siau-hong, mengambil kendi arak yang berada di lantai, dan mengendus-endus arak itu.

“Arak yang bagus.”

“Memang ini arak yang sangat bagus,” Liok Siau-hong mengangguk.

“Dibagi setengah-setengah?”

“Boleh.”

Laki-laki tua itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia hanya mengangkat kendi dan meneguk arak itu dengan suara decak yang berisik.

Dalam sekejap saja setengah isi kendi itu telah habis dan wajahnya yang kuning pun berubah jadi merah, seolah-olah seluruh raganya telah kembali menjadi muda.

“Benar-benar enak,” ia berkata sambil mengusap mulutnya dengan lengan baju.

Liok Siau-hong tidak menjawab. Ia hanya menerima kendi itu dan meneguk isinya, tidak lebih lambat dari laki-laki tua itu, tidak lebih lambat dari siapa pun juga.

Setelah seluruh isi kendi habis, laki-laki tua berkepala botak itu tiba-tiba tertawa. “Barang bagus! Arak bagus, teman minum di sini juga tidak jelek!”

“Hanya bila teman minum itu tidak jelek barulah araknya bagus!” Liok Siau-hong menjawab sambil mengusap mulutnya.

“Tidak melihatmu selama 3 tahun ini,” laki-laki tua itu memandangnya, “dan kau masih belum mati karena mabuk?”

“Hanya orang baik yang mati muda, orang jahat hidup selamanya. Aku sendiri yang agak mencemaskanmu. Kau orang yang baik.”

“Siapa bilang aku orang baik?” Laki-laki tua itu melirik Liok Siau-hong.

“Setiap orang di dunia persilatan mengatakan, San Say-gan bukan hanya baik, dia juga setia, dia adalah orang terbaik di dunia.”

“Kau benih kejahatan, dan aku orang baik? Itu hal yang benar-benar menarik,” laki-laki tua itu tertawa sepenuh hatinya.

Tan-hong Kiongcu memandang orang itu, hampir dia tidak mempercayai matanya sendiri. Ia tak pernah membayangkan bahwa laki-laki tua yang botak, jorok dan suka mencaci-maki ini adalah pendekar terkenal yang telapak besi kembarnya telah mengguncangkan dunia, San Say-gan.

Tak perduli apa, bukanlah hal yang mudah untuk disebut sebagai seorang “pendekar”.

Tapi laki-laki tua ini benar-benar tidak mirip seorang “pendekar”. Mungkinkah itu rahasia kesuksesannya? Tan-hong Kiongcu tak bisa membayangkannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa hal-hal yang tak mampu ia bayangkan tampaknya semakin dan semakin banyak.

Suara tawa San Say-gan telah berhenti terdengar. Dengan matanya yang berkilat-kilat, ia menatap Liok Siau-hong: “Kau mungkin tidak menyangka kalau aku akan datang mencarimu.”

“Tidak, aku memang tidak menyangka,” Liok Siau-hong mengaku.

“Sebenarnya aku telah tahu kedatanganmu sejak di TaiYuan.”

“Bukan hal yang luar biasa,” Liok Siau-hong tersenyum. “Bahkan jika kau tak tahu kedatanganku, itu baru luar biasa.”

“Tapi baru sekarang aku menemuimu.”

“Kau orang yang sibuk.”

“Aku sama sekali tidak sibuk. Aku tidak datang, karena kau adalah tamu susiok-ku. Karena aku tidak mungkin bersaing dengannya untuk menjadi tuan rumah bagimu, maka aku pura-pura tidak tahu saja.”

“Kukira karena aku telah mencukur kumisku, sehingga teman-teman lamaku tidak mengenaliku lagi!” Liok Siau-hong tertawa.

San Say-gan tertawa mendengar lelucon itu. “Aku selalu menganggap kumismu itu sangat menjengkelkan untuk dilihat!”

“Aku tak perduli kalau kau menganggapnya menjengkelkan, tapi orang lain tidak menganggapnya demikian.” Liok Siau-hong membalas dengan santai.

Tawa San Say-gan berhenti lagi: “Ho Thian-jing adalah paman guruku, banyak orang di luar sana yang tidak mempercayai hal ini. Tapi kau seharusnya tahu.”

“Aku tahu.”

“Orang tua aneh yang menghisap pipa itu adalah she Hoan. Kau kenal dia?”

“Mungkinkah dia adalah Tuan Hoan Gok yang terkenal itu? Hoan-taysiansing yang pipanya bisa digunakan untuk menyerang 36 urat darah besar dan 72 urat darah kecil lawannya itu?”

“Itulah dia.”

“Say-pak-siang-siau terdiri dari Hoan dan Kan. Mungkinkah siucay kotor dan jorok di sana itu adalah jagoan ilmu Tan-ci-sin-thong, Kan-jisiansing yang terkenal itu?”

{Catatan: “Sentilan Jari Dewa”, atau “Tan-ci-sin-thong” adalah salah satu ilmu kungfu paling terkenal dalam karya-karya Jin Yong.}

San Say-gan mengangguk: “Pengemis miskin, si pedagang barang bekas, pedagang roti serta si penjual sayur, pedagang alat rias wanita, serta penjaga tempat ini dan orang gemuk yang menyambut tamu di pintu depan sana; mereka bertujuh adalah saudara-saudara angkat. Ada orang yang menyebut mereka Ji-ceh-jit-hiap (Tujuh Pendekar dari Masyarakat Bawah), sementara yang lainnya memanggil mereka San-say-jit-gi (Tujuh Saudara Angkat dari Soasay).”

“Semua pendekar dan sahabat terkenal tentu sangat bersemangat malam ini sehingga datang berkumpul di halaman yang kecil ini,” Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum.

“Kau benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan di sini?”

“Tidak.”

“Mereka semua berasal dari perguruanku. Dilihat dari tingkat senioritas, beberapa dari mereka adalah 2 generasi di bawah Ho Thian-jing.”

“Orang itu cukup beruntung,” Liok Siau-hong kembali tersenyum.

“Enam puluh tahun yang lalu, cikal-bakal perguruan kami menetapkan peraturan pertama untuk Thian-kim-bun, yaitu harus selalu hormat dan mematuhi orang yang lebih dituakan. Peraturan tentang senioritas itu tidak pernah diutak-atik atau diganggu-gugat.”

“Tentu saja tidak.”

“Pendiri kami mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mempelajari ilmu kungfu. Barulah menjelang akhir hidupnya beliau mulai berkeluarga.”

“Ketua itu, Thian-kim Lojin, memiliki keluarga?”

“Sangat sedikit orang di dunia persilatan yang tahu tentang peristiwa ini. Ketua Pendiri sudah berusia 77 tahun waktu beliau akhirnya memiliki seorang putera.”

“Dan putera itu tidak lain adalah Ho Thian-jing?”

“Benar.”

“Aku akhirnya faham kenapa di dunia ini, walaupun usianya masih muda, dia malah begitu dituakan.” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Itulah sebabnya kenapa beban di pundaknya juga begitu berat.”

“Oh.”

San Say-gan tiba-tiba mengubah sikapnya menjadi sangat bersungguh-sungguh: “Bukan hanya dia harus melanjutkan garis keturunan Ketua Pendiri, dia juga satu-satunya orang yang bisa menjamin Thian-kim-bun untuk bertahan hidup sampai generasi berikutnya. Kami semua berhutang jiwa pada Ketua Pendiri kami. Maka kami rela menyerahkan nyawa kami untuk meyakinkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada dirinya. Aku yakin kau memahami perasaan kami.”

“Ya, aku faham.”

San Say-gan menarik nafas dalam-dalam.

“Itulah sebabnya, jika dia kebetulan mati karena sesuatu hal besok pagi, beratus-ratus orang murid Thian-kim-bun tidak akan bisa hidup juga.”

“Kenapa dia bisa mati?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Jika ia kalah darimu, walaupun engkau tidak membunuhnya pun, ia tak akan mau hidup lagi.”

“Aku juga tahu dia orang macam apa. Tapi dia mungkin tidak akan kalah.”

“Tentu saja dia tak akan kalah.”

“Jika kebetulan dia berhasil mengalahkanku,” Liok Siau-hong berkata, “bukankah beratus-ratus orang murid Thian-kim-bun kalian akan mendapat muka?”

“Kau temanku. Aku juga tak ingin kau kalah darinya dan merusak persahabatan kita.”

“Kau benar-benar orang yang baik.”

Wajah San Say-gan tampak sedikit memerah.

“Jika kalian bertarung, tidak perduli siapa yang menang, hasilnya akan terlalu mengerikan untuk dibayangkan,” Ia menarik nafas. “Setidaknya Ho-susiok adalah kenalanmu sebelum ini, lalu kenapa hal ini harus terjadi?”

“Sekarang aku faham,” Liok Siau-hong tersenyum. “Kau ingin aku, sebelum matahari terbit, meninggalkan tempat ini sehingga dia tak akan menemukanku.”

San Say-gan tidak menjawab. Tidak menjawab sama artinya dengan mengiyakan.

“Sekarang aku pun faham,” Tan-hong Kiongcu tiba-tiba memotong dengan dingin. “Kau mengundang semua orang ini ke sini untuk memaksanya pergi, dengan cara ini maka Ho Thian-jing akan meraih kemenangan tanpa harus berkelahi, atau kalianlah yang akan bertarung menggantikan dia. Sebentar lagi fajar tiba, maka biarpun dia mampu mengalahkan kalian semua, dia tidak akan berada dalam kondisi yang segar untuk bertarung dengan Ho Thian-jing saat fajar nanti.”

Ia menatap San Say-gan dan tertawa dingin. “Benar-benar bukan ide yang buruk. Mungkin hanya seorang pendekar seperti dirimu yang bisa memikirkan gagasan seperti ini.”

Wajah San Say-gan berubah menjadi hijau, lalu pucat sebelum dia tiba-tiba tertawa.

“Benar sekali! Benar sekali! Tapi biarpun aku, San Say-gan, sama sekali tidak mirip seorang ‘pendekar’, tentu saja aku tak akan melakukan sesuatu hal seperti itu!”

“Jadi hal seperti apa yang akan kau lakukan?” Tan-hong Kiongcu bertanya. “Jika dia tak mau pergi, lalu apa yang akan kau lakukan?”

San Say-gan tiba-tiba bangkit dan berjalan keluar. Seluruh halaman itu, walaupun penuh orang, benar-benar sunyi senyap. Satu demi satu, dia menatap mata setiap orang dengan matanya yang berkilat-kilat.

“Jika dia tak pergi, lalu apa yang akan kalian lakukan?” Tiba-tiba ia bertanya.

Si pedagang roti memutar-mutar bola matanya dan menjawab dengan dingin: “Bukankah itu sudah jelas? Jika dia tidak pergi, maka aku yang akan pergi.”

San Say-gan tersenyum lagi. Tapi dalam senyuman itu seperti ada suatu kesedihan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. “Jika kau pergi, aku pun pergi,” dia mengangguk perlahan. “Setiap orang akan pergi.”

“Jika demikian, tentu tidak masalah jika aku yang pergi lebih dulu kan?” si tukang roti menjawab.

Dia mengibaskan tangannya dan tiba-tiba, dengan pisau yang entah kapan dia keluarkan, menusuk ke tenggorokannya sendiri.

Bukan hanya gerakannya ini pasti dan mantap, gerakan itu juga cepat, sangat cepat. Tapi seseorang masih lebih cepat darinya.

“Tak!” Bunga api memercik di halaman itu ketika pisau di tangannya patah menjadi 2 bagian. Suatu benda, bersama dengan ujung pisau yang patah itu, jatuh ke atas tanah.

Benda itu adalah salah satu sumpit Liok Siau-hong.

Sumpit yang satunya lagi masih ada di tangannya. Pisau itu terbuat dari baja, tapi sumpit itu hanya terbuat dari gading!

Mungkin tidak banyak orang yang mampu menggunakan sumpit gading untuk mematahkan sebatang pisau baja.

Tan-hong Kiongcu tiba-tiba menyadari kenapa San Say-gan melakukan semua ini. Ho Thian-jing tak akan mampu mengalahkan Liok Siau-hong, orang lain mungkin tidak tahu, tapi San Say-gan lebih tahu tentang hal ini daripada semua orang.

Si pedagang roti menatap potongan pisau yang masih ada di tangannya dengan tercengang. Setelah beberapa lama, tiba-tiba dia menghentakkan kakinya ke tanah dan berseru pada Liok Siau-hong: “Mengapa kau melakukan itu?”

“Tak ada alasan apa-apa,” Liok Siau-hong tersenyum. “Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kapan aku mengatakan tidak mau pergi?”

Si tukang roti tak mampu bicara.

“Berkelahi itu sangat melelahkan dan menyulitkan saja,” Liok Siau-hong menarik nafas dengan malas. “Siapa yang ingin berkelahi? Lebih baik aku pergi saja dan mencari tempat untuk tidur!”

Si pedagang roti menatapnya, dia seakan-akan ingin menangis, tapi di saat yang sama juga seperti ingin tertawa.

“Bagus, Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong!” Tiba-tiba dia berseru. “Sejak hari ini, bila kau ingin aku melakukan sesuatu untukmu, jika aku mengedipkan mata sedikit saja, maka aku akan menjadi cucumu.”

“Aku tidak ingin seorang cucu sepertimu.” Liok Siau-hong tertawa. “Asal kau mau menurunkan harga rotimu itu sedikit saja untukku, aku akan merasa puas.”

Ia mengambil jubah merahnya yang tergantung di sisi ranjang dan menghabiskan araknya.

“Jadi siapa yang mau ikut denganku ke sebuah desa kecil di luar kota untuk makan daging anjing rebus di tempat Tio si Muka Burik?”

“Aku.” Hoa Ban-lau berkata sambil tersenyum.

Hoan-taysiansing tiba-tiba membanting bungkusan tembakaunya. “Aku juga.”

“Kalau dia ikut, maka aku juga,” Kan-jisiansing ikut-ikutan bicara.

“Aku juga ikut!” si tukang roti berteriak sekuat-kuatnya.

“Kau cuma menjual roti pemukul anjing, dan kau masih berani makan daging anjing?” Kan-jisiansing berkata sambil tertawa. “Apakah kau tidak takut kalau anjing-anjing itu akan balas dendam saat berada di dalam perutmu?”

Si tukang roti meliriknya dengan dingin. “Kematian tidak membuatku takut, apalagi cuma itu!”

“Haha, bagus!” San Say-gan tertawa. “Mari kita semua pergi dan makan daging anjing itu. Siapa yang tidak ikut, maka dia adalah anak haram cucu kura-kura!”

Hoa Ban-lau tersenyum.

“Tampaknya masih ada gunanya bila berbuat baik,” ia berkata dengan lambat.

“Sesekali memang tak apa-apa,” Liok Siau-hong menjawab, “tapi aku tak mau membiasakan diri berbuat baik.”

“Kenapa tidak?” Hoa Ban-lau tak tahan untuk tidak bertanya.

“Hanya orang baik yang mati muda, aku yakin kau pernah mendengar pepatah ini.” Liok Siau-hong berkata dengan muka yang dibuat kaku.

Walaupun dia memasang muka kaku, tapi matanya telah digenangi oleh air mata.

Tan-hong Kiongcu memandang mereka sebentar, sebelum dengan tiba-tiba, dan dengan sangat perlahan, menarik nafas dan berkata pada dirinya sendiri: “Siapa pun yang mengatakan tidak ada gunanya berbuat baik adalah anak haram cucu kura-kura.”

______________________________

Daging anjing telah terjual habis. Tapi mereka tidak perduli.

Mereka bukannya benar-benar ingin makan daging anjing. Yang mereka inginkan adalah emosi yang lebih mampu menghangatkan tubuh daripada sekedar daging anjing. Tidak ada pengiring arak yang lebih baik di dunia ini daripada emosi itu.

Apalagi, saat matahari terbit, seorang penunggang kuda datang dan menyampaikan sehelai surat dari Ho Thian-jing.

“Fajar akan selalu tiba, apa salahnya bila persoalan hari ini diselesaikan besok? Hari esok selalu tiba, apa salahnya bila persoalan besok diselesaikan hari esoknya lagi? Orang lain tidak menggangguku, kenapa aku harus mengganggu orang lain? Masalah Rajawali Emas, bisa diselesaikan kapan saja. Bila suatu hari nanti Puteri datang berkunjung, maka saat itu akan menjadi hari berakhirnya pengembaraan. Sekali harta yang indah kehilangan kilaunya, dia menjadi bunga-bunga kuning di hari esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata. Thian-jing mengucapkan selamat jalan.”

Baru menerima sehelai surat ini saja seperti telah minum beratus-ratus cawan arak selama tiga hari berturut-turut, apalagi dengan adanya emosi yang menghangatkan hati yang tak akan mungkin bisa didinginkan oleh hujan badai sekali pun.

______________________________

Badai mulai mengamuk saat tengah hari, ketika setiap orang sudah mabuk. “Belum pergi sebelum kecanduan.” Seperti kata pepatah itu, setelah mabuk barulah mereka pergi.

Liok Siau-hong mabuk tapi tidak terlalu mabuk, hampir kecanduan tapi tidak benar-benar kecanduan, bahkan ia sendiri tak tahu apakah ia benar-benar mabuk atau tidak. Ia tidak berbuat apa-apa selain berdiri di dekat jendela sambil melihat badai yang mengamuk di luar sana.

Tan-hong Kiongcu memandangnya beberapa lama.

“Jika kau tidak pergi, apakah semua orang itu akan mati?” Tiba-tiba dia bertanya.

Liok Siau-hong diam. Diam untuk waktu yang lama.

“Apakah kau mengerti arti kata pepatah: ‘ada yang harus, ada yang tidak’?” Ia menjawab dengan lambat.

“Tentu saja aku faham. Artinya, jika kau yakin hal itu seharusnya tidak dilakukan, maka tidak perduli apa yang orang lain lakukan padamu, baik itu mengganggumu, mengancammu, bahkan jika mereka menodongkan pisau ke lehermu, kau tak akan pernah melakukannya; tapi jika kau yakin hal itu harus dilakukan, biar pun kau akan kehilangan nyawamu, kau pun tetap akan melakukannya.”

Liok Siau-hong mengangguk.

“Itulah sebabnya kenapa ada orang yang rela menelan arang yang membara untuk menolong sahabatnya dan kenapa ada pula orang yang menggunakan sebuah gada seberat 40 kilogram untuk membunuh seorang tiran.”

{Catatan: Liok Siau-hong mengambil 2 cuplikan sejarah di sini. Yang pertama adalah tentang usaha pembunuhan terhadap Chin Sih Huang-ti, kaisar pertama Cina, yang hampir saja mengenai kereta kudanya. Peristiwa itu didalangi oleh Siang Liang, paman Siang Yu yang termasyur, yang akhirnya mampu mengakhiri kekuasaan dinasti Chin. Yang kedua adalah dari kisah Feng Sheng Bang.}

“Itulah sebabnya Ho Thian-jing rela membalas budi Giam Thi-san dengan nyawanya,” Tan-hong Kiongcu segera menyambung, “dan karena itu pulalah San Say-gan dan orang-orangnya tidak mengedipkan mata sedikit pun juga untuk menggunakan nyawa mereka buat melindungi Ho Thian-jing.”

“Tidak perduli apa pun yang terjadi, asal mereka ingat 2 frasa kata pepatah tadi, mereka tak akan mengkhianati 2 kata ini: kesetiaan dan kepercayaan.”

“Tapi di dunia ini ada berapa banyak orang yang benar-benar tidak mengkhianati kedua kata itu?”

Dengan cawan berada dalam genggaman tangannya, Hoa Ban-lau bergumam: “’Sekali harta yang indah kehilangan kilaunya, dia menjadi bunga-bunga kuning di hari esok dan bersinar berabad-abad. Kesetiaan pribadi hanyalah 2 kata’. Hebat, Ho Thian-jing memang hebat! Aku hampir saja memandang rendah dirinya.”

Ia mengangkat cawannya dan meneguk arak di dalamnya dengan gembira, sepertinya ia sendiri pun telah mabuk.

“Sayang sekali peristiwa yang menimpa So Siau-eng telah terjadi. Dia masih muda. Seharusnya dia tidak mati, seharusnya belum mati.”

Suaranya semakin lemah dan lemah. Sambil meletakkan kepalanya di atas meja, tampaknya dia telah tertidur lelap.

Tan-hong Kiongcu diam-diam berjalan ke jendela dan menggenggam tangan Liok Siau-hong dalam tangannya sendiri.

“Apakah kau masih marah padaku?” Ia bertanya dengan suara yang lembut.

“Kapan aku marah padamu?”

Tan-hong Kiongcu tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit secara menggoda.

“Apakah kau takut menemukan orang yang keliru hari ini?” Ia bertanya perlahan.

Nafasnya lembut, jari-jarinya terasa sedikit gemetar, dan rambutnya membawa aroma yang lebih harum daripada bunga-bunga segar.

Liok Siau-hong mungkin seorang kuncu (laki-laki sejati), dan mungkin juga tidak, tapi dia tetaplah seorang laki-laki.

Seorang laki-laki yang sedang terhuyung-huyung di tepian samudera kebahagiaan.

Di luar sana, hujan terus turun, seperti tirai air yang rapat.

Di dalam sini suasana sepi dan gelap, seolah-olah hari telah senja.

Jika kau melihat ke dalam ruangan itu lewat pintunya yang terbuka di bagian belakang, maka kau bisa melihat sebuah ranjang baru.

Liok Siau-hong tiba-tiba menyadari bahwa jantungnya berdebar-debar tak keruan, tiba-tiba ia juga menyadari bahwa jantung Siangkoan Tan-hong pun berdebar-debar tak keruan.

“Jantungmu berdebar-debar.”

“Jantung siapa yang berdebar lebih kencang?”

“Siapa yang tahu?”

“Aku akan menyentuh jantungmu, dan kau menyentuh jantungku…..”

Tiba-tiba, di antara suara hujan badai yang seperti suara puluhan ribu ekor kuda yang berlarian ke sana ke mari, terdengar suara kaki kuda di luar sana. Kira-kira selusin penunggang kuda sedang mendekati tempat itu dengan kecepatan tinggi walaupun berada di tengah hujan badai.

Para penunggang kuda itu berbaju hijau, dan memakai topi bambu berwarna putih. Ketika mereka lewat di depan jendela, tiba-tiba mereka semua mengangkat tangan.

Terdengar suara “wus!”, “wus!” beberapa kali, suaranya lebih nyaring daripada suara tetesan hujan dan lebih cepat daripada suara derap kaki kuda. Beberapa larik sinar hitam pun terlihat, ada yang meluncur masuk ke ruangan itu lewat jendela, ada yang membentur dinding luar.

Liok Siau-hong memiringkan tubuhnya dan menarik Tan-hong Kiongcu ke samping jendela.

Tapi Hoa Ban-lau, yang sedang berbaring di atas meja, tiba-tiba bangkit dan berseru: “Siu-hong-pi-lik-tan (peluru belerang, semacam granat jaman sekarang)!”

Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika, dengan suara letusan yang memekakkan telinga, ke mana pun sinar hitam itu melayang, baik di dalam atau di luar kamar, meledak menjadi nyala api setinggi beberapa puluh meter. Nyala api berwarna merah darah yang disertai dengan sedikit warna hijau.

“Kalian berdua keluar dari sini, aku akan menyelamatkan si Burik Tio!” Liok Siau-hong berseru.

Si Muka Burik Tio sudah pergi tidur, tadi mereka mendengar suara dengkurnya.

Tapi api seolah-olah menghalangi jalan mereka ke pintu, bahkan dinding luar pun terbakar walaupun terus-menerus disiram oleh air hujan.

Hoa Ban-lau memegang tangan Tan-hong Kiongcu dan menariknya ke luar. Para penunggang kuda itu telah berlari menjauh. Suara tawa mereka yang menggila bisa terdengar di tengah derasnya air hujan beserta sebuah pesan dari salah seorang dari mereka.

“Liok Siau-hong! Ini hanya peringatan kecil! Jika kau tidak mau menerima kenyataan dan segera berhenti, maka kami menjamin bahwa tidak ada orang yang akan bisa menguburkan mayat kalian!”

Saat kata-kata terakhir terdengar, para penunggang kuda beserta kudanya itu telah menghilang di balik tirai tetesan air hujan.

Berpaling ke belakang, warung kecil milik si Muka Burik Tio telah ditelan api seluruhnya. Liok Siau-hong tidak terlihat di mana-mana.

Siangkoan Tan-hong mengkertakkan giginya dan menoleh ke arah Hoa Ban-lau: “Kau tunggu di sini, aku akan masuk untuk mencarinya.”

“Jika kau masuk ke sana sekarang, kau tak akan bisa keluar.” Hoa Ban-lau menjawab.

“Tapi dia?…..”

“Jangan khawatir,” Hoa Ban-lau tersenyum. “Dia akan keluar. Bahkan api yang lebih besar dari ini pun tidak mampu membunuhnya.”

Saat itu juga, dari kejauhan, tiba-tiba terdengar serentetan suara tangisan dan jeritan yang mengerikan, seperti suara segerombolan hewan yang terkurung dalam perangkap. Tapi suara-suara jeritan itu segera berhenti dengan cepat.

Setelah suara jeritan itu berhenti, suara ringkik kuda yang ketakutan yang tadinya tertutupi oleh suara jeritan itu sekarang bisa terdengar.

Raut wajah Siangkoan Tan-hong berubah secara dramatis: “Mungkinkah orang-orang itu telah menemui kematian di tangan orang lain?”

“Bum!” Tiba-tiba sebuah lubang muncul di atap rumah yang ditelan api itu, seperti sebuah peluru meriam, seseorang terbang keluar dari lubang itu dan, saat melayang di udara, di tengah hujan yang deras, bersalto sekali dan mendarat di atas tanah. Sambil bergulingan di tanah, orang itu memadamkan api di tubuhnya, tapi pada pakaian dan rambutnya ada beberapa bagian yang telah hangus dimakan api.

Tapi dia tidak perduli sama sekali dan melompat bangkit. Orang itu tak lain tak bukan adalah Liok Siau-hong.

“Tampaknya kau benar-benar tak bisa membakar orang ini sampai mati!” Siangkoan Tan-hong menarik nafas dan bergumam sendiri.

“Yah, benar-benar bukan tugas yang mudah bila ingin membakarku sampai mati.” Liok Siau-hong sepakat.

Ia mungkin sedang tersenyum, tapi wajahnya benar-benar hitam karena asap.

Sambil memandang wajahnya, Siangkoan Tan-hong tertawa. “Tapi kau dulu memiliki 4 alis mata, sekarang kau hampir tidak punya satu pun!”

“Bukan masalah jika semua alis mataku hilang,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “Sayangnya kendi-kendi arak itu…..”

“Di mana si Muka Burik Tio?” Hoa Ban-lau tiba-tiba memotong.

“Tak tahu.”

“Dia tidak ada di dalam?”

“Tidak.”

Wajah Siangkoan Tan-hong kembali berubah.

“Mungkinkah dia juga anggota Jing-ih-lau? Mungkinkah dia berkomplot dengan orang-orang itu sejak awal? Kalau tidak, bagaimana mereka bisa tahu kau ada di sini?”

Ia meneruskan dengan nada yang pahit: “Kau mengambil resiko untuk menyelamatkan dirinya, dan karena itu alis matamu hangus terbakar. Tapi ternyata dia hanya orang seperti itu.”

“Aku hanya tahu kalau dia bisa membuat daging anjing yang rasanya paling enak.”

“Dan kau tidak tahu apa-apa lagi tentang dirinya?”

“Dan aku tak tahu apa-apa lagi tentang dirinya.”

Siangkoan Tan-hong hanya bisa melotot padanya dan menarik nafas.

“Kenapa orang lain mengatakan bahwa kau punya 2 otak?” Ia bergumam pada dirinya sendiri. “Menurutku, dia bahkan…..”

Tiba-tiba dia berhenti, karena dia tiba-tiba melihat seseorang berjalan menghampiri mereka dalam derasnya air hujan.

Seorang yang bertubuh sangat besar dan jangkung, mengenakan sebuah topi bambu dan membawa sebatang tongkat bambu di pundaknya. Di tongkat itu tergantung beberapa macam benda, dia tak bisa menebak benda apa saja itu.

Tapi dia tahu bahwa orang ini tak lain tak bukan adalah si Muka Burik Tio.

Liok Siau-hong tersenyum.

“Kau tak boleh semarah itu pada semua orang,” dia menegur. “mungkin orang jahat di dunia ini tidak sebanyak yang kau kira, masih ada…..”

Tiba-tiba dia juga berhenti, karena dia telah melihat bahwa benda-benda yang tergantung di tongkat bambu si Burik Tio adalah potongan tangan.

Tangan manusia. Walaupun darahnya sudah tersapu oleh air hujan, tapi jelas tangan-tangan itu baru saja dipotong. Tiga belas atau empat belas potong tangan, terikat oleh sehelai sabuk, tergantung di tongkat bambu tersebut.

Di ikat pinggang si Muka Burik Tio ada sebilah pisau, pisau tukang jagal, yang biasa digunakan untuk membunuh anjing.

“Ternyata kau bukan hanya bisa membunuh anjing, tapi juga manusia!” Liok Siau-hong berkata sambil memandangnya dengan heran.

Si Muka Burik Tio tersenyum mendengar komentar itu.

“Aku tidak tahu cara membunuh anjing, aku hanya membunuh manusia.”

Liok Siau-hong memandangnya lagi selama beberapa saat.

“Kau bukan si Muka Burik Tio.” Akhirnya ia menarik nafas.

“Siapa yang mengatakan aku adalah si Muka Burik Tio?” Orang itu tertawa.

Bila tertawa, selain mulutnya yang besar itu terbuka sedikit, tidak ada lagi yang berubah di mukanya.

“Siapa kau?” Liok Siau-hong bertanya.

Mata orang itu berkilat-kilat mendengar pertanyaan tersebut.

“Kau juga tidak tahu siapa aku? Wah, kurasa keahlian menyamarku sudah jadi yang terbaik di dunia sekarang.”

Liok Siau-hong memperhatikannya lagi, tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

“Sayangnya keahlianmu bersalto masih tidak sebanding…..”

“Orang ini adalah pencuri kecil yang barusan kau ceritakan itu?” Siangkoan Tan-hong bahkan tidak menunggu ucapannya selesai sebelum berseru.

“Benar.” Orang itu menarik nafas. “Aku orang yang bertanding salto dengan dia, Sukong Ti-sing. Tapi aku bukan pencuri kecil, aku pencuri besar!”

“Aku tahu,” Siangkoan Tan-hong menjawab dengan manis. “Kau bukan hanya seorang pencuri besar, kau adalah si Raja Pencuri! Kau tidak punya tandingan di dunia!”

“Aku bukannya mau menyombongkan diri tentang hal ini,” Sukong Ti-sing berkata, sambil membusungkan dadanya. “Bila kau bicara tentang mencuri, bahkan Liok Siau-hong yang di sana itu pun takut melawanku. Sekarang katakan, siapa yang mau bertanding denganku?”

“Kau bisa menyamar jadi siapa saja, kenapa harus jadi si muka burik tukang jagal anjing?” Siangkoan Tan-hong bertanya.

“Wah, itu ada alasannya,” Sukong Ti-sing tertawa dan menjawab. “Kau tahu, jika kau menyamar jadi orang bopeng, maka sangat sukar bagi orang lain untuk melihat samaranmu.”

“Kenapa?”

“Kapan terakhir kalinya kau melihat ada orang yang memperhatikan muka bopeng orang lain dengan teliti?”

Siangkoan Tan-hong tertawa.

“Jadi ada alasannya kenapa menyamarkan diri seperti itu ya?”

“Tentu saja.”

“Kapan kau tiba di sini?” Liok Siau-hong mengerutkan keningnya.

“Dua hari yang lalu.”

“Untuk apa?”

“Menunggumu!”

“Menungguku?”

“Karena jika kau ingin mencari si tua Giam, ini tentu tempat yang harus kau lewati. Di samping itu, sekarang kau berada di daerah TaiYuan, tak mungkin kau tak akan datang dan mencicipi sedikit daging anjing si Muka Burik Tio.”

Ia menarik nafas dengan pasrah.

“Bahkan aku pun harus mengakui bahwa daging anjing rebus ini tak ada tandingannya di dunia,” ia meneruskan.

“Itulah sebabnya kau mengatakan bahwa daging anjing telah habis terjual, karena kau khawatir hal itu akan menyingkap identitasmu yang sebenarnya.”

“Tak perduli apa,” Sukong Ti-sing menjawab, sambil tertawa, “paling tidak aku akhirnya bisa menipumu, setan.”

“Jadi untuk apa kau menungguku?”

“Apa yang biasa aku lakukan?”

“Kau ingin mencuri dariku?”

“Asal kau bisa menyebutkannya, aku bisa mencurinya!” Sukong Ti-sing menyombongkan diri.

“Apa yang akan kau curi dariku?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Jika kau tak berani mengatakannya, aku tak akan memaksamu,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai.

“Kenapa aku harus takut mengatakannya?” Sukong Ti-sing gusar dan menatapnya dengan marah.

“Jadi apa yang ingin kau curi?” Siangkoan Tan-hong akhirnya mendesak dan bertanya.

“Kau.”

Mata Siangkoan Tan-hong terbelalak heran.

“Seseorang menawarkan hadiah 20.000 tael perak bila aku mencurimu.”

“Tak mungkin aku bernilai 20.000 tael perak…..” Siangkoan Tan-hong belum menyelesaikan ucapannya, karena mukanya sudah merah hingga ke telinga.

“Tapi alasan orang itu menginginkan aku mencurimu bukanlah alasan seperti yang engkau pikirkan,” Sukong Ti-sing tertawa.

Dengan wajah yang masih merah padam, Siangkoan Tan-hong tak tahan untuk tidak berseru: “Bagaimana kau tahu alasan yang aku pikirkan?”

Sukong Ti-sing mengedip-ngedipkan matanya, tapi tidak menjawab.

“Apa yang diinginkan orang itu?” Siangkoan Tan-hong bertanya. “Siapa orang itu?”

Sukong Ti-sing masih tidak menjawab.

“Ia tak akan memberitahunya,” Liok Siau-hong menarik nafas. “Dalam profesinya, jika dia memberitahukan rahasia majikannya, lalu siapa lagi yang mau datang untuk memberinya pekerjaan?”

“Pencuri juga punya majikan yang memberikan mereka pekerjaan?” Siangkoan Tan-hong bertanya.

“Sudah kubilang, dia berbeda. Dia tak pernah mencuri barang sembarangan.”

“Tapi aku tetap harus makan!” Sukong Ti-sing menambahkan. “Itulah sebabnya aku hanya mencuri bila orang datang kepadaku dan meminta bantuanku dengan imbalan uang yang amat besar.”

“Hanya saja tidak banyak orang yang mampu menawarkan uang yang cukup untukmu.”

“Benar, sangat sedikit.”

“Maka, biarpun tidak kau beritahukan, aku tahu siapa yang menyewamu kali ini.”

“Apakah kau tahu atau tidak, itu adalah urusanmu. Apakah kuberitahukan atau tidak, itu adalah urusanku.”

“Tak perduli apakah aku tahu atau tidak, kau tak akan memberitahu, kan?”

“Benar.”

“Lalu kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran dan memberitahuku tentang rahasia ini?”

“Kau mengambil resiko untuk menyelamatkanku dalam kebakaran tadi, dan hampir kehilangan alis matamu karenanya,” Sukong Ti-sing menarik nafas. “Bagaimana aku tega mencuri temanmu ini?”

“Kelihatannya kau bukannya tak bisa diperbaiki.”

“Benar lagi.”

“Jika kau tega, apakah kau benar-benar bisa mencuriku?” Siangkoan Tan-hong tak mampu menahan perasaannya lagi, memotong dengan suara yang keras.

“Jangan lupa,” Sukong Ti-sing menyombongkan dirinya. “aku adalah si Raja Maling! Tak ada di dunia ini yang tak bisa kucuri.”

“Aku ingin mendengar bagaimana kau merencanakannya.” Siangkoan Tan-hong mendengus.

“Pernahkah kau mendengar ada tukang obat yang memberitahukan orang lain tentang rahasia pekerjaannya?”

“Tidak.”

“Nah, ini juga rahasia pekerjaanku,” Sukong Ti-sing berkata. “maka tidak akan kuberitahukan padamu.”

Siangkoan Tan-hong melotot padanya dengan marah.

“’Di antara sepuluh muka bopeng, 9 di antaranya tentu orang aneh’, kau memang si muka bopeng!” Tiba-tiba ia berkata.

“Siapa yang mengatakan itu?” Sukong Ti-sing meliriknya dan bertanya.

“Aku! Jika tidak, robeklah topeng muka bopengmu itu dan biarkan aku melihat seperti apa tampangmu itu!” Siangkoan Tan-hong menjawab.

“Itu tidak mungkin!”

“Kenapa tidak?”

“Bagaimana jika kau jatuh cinta padaku? Lalu Liok Siau-hong akan mengajak bertanding salto lagi! Terakhir kali kami bertanding salto, aku jadi sakit dan mual-mual, aku tak mau mengalaminya lagi.”

Wajah Siangkoan Tan-hong memerah dan, walaupun berusaha ditahan, dia pun tertawa.

“Tangan-tangan siapa itu?” Liok Siau-hong bertanya.

“Orang-orang yang membakar rumah.”

“Kau mengejar mereka?”

“Aku kan pura-pura jadi si Muka Bopeng Tio. Jika seseorang membakar rumahnya, paling tidak aku harus membantunya mendapatkan sedikit keadilan.”

“Jadi kau potong tangan mereka supaya mereka tidak bisa membakar rumah orang lagi.” Siangkoan Tan-hong menarik kesimpulan.

“Aku juga berencana menjual kuda-kuda mereka untuk diberikan kepada si Muka Bopeng Tio.”

“Di mana orang-orang itu sekarang?” Liok Siau-hong bertanya.

“Di hutan sana, aku meninggalkan mereka di sana khusus untukmu.”

“Untuk apa?”

“Mereka berusaha membakarmu sampai mati,” Sukong Ti-sing menjawab, “apakah kau tidak ingin memeriksa mereka dan menanyakan alasannya?”

Advertisements

1 Comment »

  1. […] Pendekar Empat Alis […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:04 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: