Kumpulan Cerita Silat

14/01/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — Tags: — ceritasilat @ 10:52 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Kekaisaran Rajawali Emas
Bab 06: Pedang Dihunus dan Orang-orang pun Mati
Oleh Gu Long

===========================
Terima Kasih Kepada Ansari
===========================

Pesta itu diadakan di sebuah villa yang dibangun di tengah kolam air. Sekelilingnya tampak menghijau karena bunga teratai yang tumbuh di dalam kolam, tapi pagar villa itu sendiri dicat merah menyala.

Tirai-tirainya yang bertaburkan mutiara telah dinaikkan. Angin samar-samar membawa keharuman bunga teratai yang baru mekar.

Sekarang sudah bulan empat.

Hoa Ban-lau menikmati kemewahan tak terbatas yang hanya dimiliki orang-orang terkaya ini dalam kebisuan. Tentu saja ia tidak melihat seperti apa Ho Thian-jing itu, tapi ia telah mengetahui orang macam apa dia dengan hanya mendengarkan suaranya saja.

Suara Ho Thian-jing rendah tapi bertenaga dan mengandung kelembutan serta kehangatan. Bila dia bicara, dia bukan hanya ingin semua orang mendengarkannya, tapi dia juga ingin mereka mendengarnya dengan jelas.

Itu berarti dia adalah orang yang sangat percaya diri dan tegas, apapun yang dia lakukan maka dia pasti punya alasannya sendiri. Bahkan walaupun ia sangat angkuh, ia khawatir kalau orang lain menganggap dirinya angkuh.

Hoa Ban-lau tidak menyukai orang seperti ini, seperti juga Ho Thian-jing tidak menyukai dirinya.

Sudah ada 2 orang tamu lainnya di tempat itu. Yang pertama adalah tamu keluarga Giam, So Siau-eng, dan yang kedua adalah Ketua Persekutuan Perusahaan Ekspedisi (piaukiok), In-li-sin-liong (Naga di Balik Awan) Be Heng-kong.

Be Heng-kong sudah lama terkenal di dunia persilatan. Bukan hanya kungfunya sangat hebat, ia juga bukan tipe orang yang mencari kemasyuran dan pujian. Maka Hoa Ban-lau pun heran saat mendengar orang ini seperti bersikap menjilat saat berbicara dengan Ho Thian-jing.

Seseorang seperti dirinya, seorang yang mencapai kemasyuran lewat kemampuannya sendiri, seharusnya tidak bersikap seperti ini.

Di pihak lain, So Siau-eng ternyata bersikap sangat santai dan tenang, tidak ada kepalsuan dalam suaranya. Ho Thian-jing memperkenalkan dirinya sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas. Tapi dari suaranya, kedengarannya dia masih sangat muda.

Tuan rumah dan tamunya total berjumlah 5 orang. Ini adalah gaya perjamuan yang disukai Hoa Ban-lau, karena memperlihatkan bahwa tuan rumahnya bukan hanya teliti tapi juga sangat memahami tamu-tamunya.

Tapi arak atau pun makanan belum tersedia di atas meja. Walaupun Hoa Ban-lau mulai tidak sabaran, dia juga merasa sedikit canggung.

Tidak banyak lentera yang terdapat di villa itu, tapi tetap saja tempat itu terang benderang seperti di siang hari. Itu karena di tengah-tengah dinding tergantung 4 butir mutiara yang terang benderang, yang memantulkan sinar dari lentera dengan cahaya yang sangat lembut, membuat pencahayaan di ruangan itu jadi terasa nyaman di mata.

So Siau-eng sedang bercerita tentang kaisar terakhir dari dinasti Tang Selatan. “Bila dia sedang bersama Selir Muda Cuo, dia tidak pernah menyalakan lentera. Maka tertulislah dalam buku bahwa bila Permaisuri Jiang JuoLi melihat cahaya di malam hari, dia akan menutup matanya dan berkata: ‘Asap, berarti lilin sedang menyala. Jika mata seseorang ditutup, maka bau asap akan tercium lebih jelas.’ Ia tahu apa yang sedang dilakukan kaisar bila ia mencium bau asap. Seseorang pernah bertanya kepadanya kenapa ia begitu yakin bahwa asap itu bukan berasal dari salah satu lilin yang ada di istananya sendiri. Ia pun menjawab: ‘Pada malam hari istana menggunakan sebuah mutiara besar yang tergantung sampai ke langit-langit, yang akan membuat ruangan jadi terang-benderang seperti di siang hari’.”

“Nafsu berahi kaisar memang agak keterlaluan,” Ho Thian-jing memberi komentar sambil tersenyum. “Itulah sebabnya, hanya tinggal persoalan waktu saja sebelum dinasti Tang Selatan pun jatuh.”

“Tapi dia hanyalah orang yang penuh kasih sayang, kebaikannya benar-benar tiada tandingannya,” So Siau-eng menjawab.

“Orang-orang yang baik dan penuh kasih sayang tidak akan cocok menjadi kaisar,” Ho Thian-jing menjawab dengan santai.

“Tapi jika dia punya seorang penasehat seperti Tuan Ho, mungkin dinasti Tang Selatan tak akan jatuh,” Be Heng-kong menambahkan sambil tersenyum.

“Jika saja Li Ying lahir beberapa ratus tahun kemudian,” Liok Siau-hong tiba-tiba menarik nafas, “atau jika ia ada di sini, tentu ia akan lebih mengharapkan kalau arak tersedia di sini.”

Hoa Ban-lau tertawa.

Ho Thian-jing tak tahan untuk tidak tertawa juga: “Arak dan makanan telah tersedia, hanya saja waktu Toalopan (Juragan Besar) mendengar bahwa Liok Siau-hong dan Hoa Ban-lau menjadi tamu kita hari ini, beliau memutuskan untuk datang dan bergabung dengan kita.”

“Jadi kita sedang menunggunya?” Liok Siau-hong bertanya.

“Jika tuan merasa sedikit kurang sabar, bagaimana kalau kita pesan makanan kecil untuk dinikmati bersama arak?” Ho Thian-jing menawarkan.

“Menunggu sebentar lagi bukanlah masalah besar. Jarang sekali Toalopan dalam suasana yang begitu senang, seharusnya kita tidak menurunkan semangatnya,” Be Heng-kong segera menjawab.

“Aku juga tak ingin menurunkan semangat kalian! Cepat, bawakan arak!” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari luar villa.

Seseorang tampak berjalan masuk, tawanya nyaring dan halus. Wajahnya putih dan gemuk dengan kulit muka yang lembut seperti seorang gadis muda. Hanya hidung besar seperti paruh burung di wajahnya itu saja yang tampak jantan.

Hoa Ban-lau berfikir: “Orang ini adalah Congkoan (Kepala Pengurus Rumah Tangga Istana) Kekaisaran Rajawali Emas, mungkinkah dia seorang Thaykam (kasim)?”

“Apa kabar, Ketua?” Be Heng-kong telah bangkit dan memberi hormat.

Tapi Giam Thi-san bahkan tidak melirik sedikit pun kepadanya. Ia menggenggam tangan Liok Siau-hong dan memandang wajahnya terus menerus. Tiba-tiba ia tertawa: “Haha! Kau masih kelihatan sama. Kau tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali kita bertemu di puncak Memandang Matahari di Thai-san. Tapi kenapa kau sekarang hanya punya 2 alis mata?”

Dia bicara dengan logat Soasay yang kental, seolah-olah dia khawatir kalau orang lain tak tahu kalau dia berasal dari Soasay.

Mata Liok Siau-hong tampak berkilauan dan ia pun tersenyum: “Aku tak bisa membayar arak yang aku minum, maka isteri pemilik warung arak itu mencukur kumisku untuk dijadikan bedak mukanya.”

Ucapannya itu membuat Giam Thi-san kembali tertawa. “Neneknya! Perempuan itu pasti menyukai saat-saat kumismu menyentuh wajahnya!” Ia lalu berpaling dan menepuk-nepuk pundak Hoa Ban-lau. “Dan kau tentu putera ketujuh keluarga Hoa! Kedua kakakmu pernah datang ke sini sebelumnya. Saudara ke-3 dan ke-5 ternyata cukup kuat minumnya.”

“Saudara ke-7 pun bisa minum sedikit,” Hoa Ban-lau berkata sambil tersenyum.

“Bagus!” Giam Thi-san bertepuk tangan. “Bagus sekali! Ambilkan kendi arak Hunciu (arak harum) yang disimpan di bawah ranjangku. Yang tidak mabuk malam ini adalah cucu perempuan neneknya!”

Makanan Soasay terkenal sangat pedas, dan pada makanan yang tersedia sekarang pun telah ditambahkan bubuk merica.

Dengan menggunakan sumpit di tangannya yang putih dan halus, Giam Thi-san terus-menerus menambahkan makanan ke mangkok Liok Siau-hong. “Ini adalah makanan khas Soasay kami. Walaupun tak ada yang perlu disebut-sebut, kau tak akan mendapatkan ini di tempat lain neneknya.”

“Jadi Giam-toalopan berasal dari Soasay?” Liok Siau-hong bertanya.

“Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga orang kebanyakan. Aku pernah pergi ke Thai-san suatu waktu, untuk melihat matahari neneknya. Tapi tak perduli bagaimana kupandang, dia hanya seperti sebuah kuning telur raksasa bagiku. Benar-benar membosankan.” Giam Thi-san tertawa.

Ia terus mengatakan ‘neneknya’ di sana sini, seakan-akan dia berusaha meyakinkan setiap orang bahwa dia adalah seorang lelaki sejati, lelaki yang jantan dan kasar.

Liok Siau-hong pun tertawa. Sambil tersenyum dia mengangkat cawan ke bibirnya dan tiba-tiba bertanya: “Boleh Cayhe tahu dari mana Giam-congkoan berasal?”

“Ho-congkoan,” Be Heng-kong segera mengkoreksi, “bukan Giam-congkoan.”

“Aku bukan sedang membicarakan Ho-congkoan dari Cu-kong-po-gi-kok,” Liok Siau-hong menjawab dengan santai. “Aku sedang membicarakan Giam Lip-pun, Congkoan dari Kekaisaran Rajawali Emas yang telah jatuh.”

Tanpa berkedip dia memandang wajah Giam Thi-san dan, sepatah kata demi sepatah kata, dia pun berujar: “Aku yakin Giam-toalopan tentu kenal orang ini.”

Wajah Giam Thi-san yang putih, halus dan lembut itu tiba-tiba menegang seperti pita karet. Bahkan senyumannya pun menjadi kaku dan canggung.

Dia adalah orang yang tetap kelihatan sama, tak perduli bagaimana pun suasana hatinya. Tapi yang barusan dikatakan Liok Siau-hong itu seperti sebuah cambuk, cambuk yang merobek sebuah luka lama, luka fatal yang mulai berdarah lagi.

“Jika Giam-toalopan kenal orang ini,” Mata Liok Siau-hong terlihat berkilauan ketika ia meneruskan lambat-lambat, “maka tolong kau beritahukan padanya bahwa, karena hutang lamanya yang telah ditunggak puluhan tahun lamanya, seseorang datang untuk menagihnya.”

“Ho-congkoan!” Giam Thi-san tiba-tiba berseru, wajahnya masih sangat tegang.

“Ya, Toalopan?” Ho Thian-jing tidak bergerak sedikit pun juga.

“Hoa-siauya dan Liok-siauya tidak ingin tinggal di sini lagi. Tolong siapkan sebuah kereta kuda untuk mereka dan antarkan mereka, mereka ingin pergi sekarang juga!” Giam Thi-san berkata dengan dingin.

Tanpa menunggu jawaban, ia mengibaskan lengan bajunya ke arah mereka dan mulai berjalan ke luar.

Tapi sebelum dia mencapai pintu keluar, sudah ada seseorang yang menghalangi jalannya. “Mereka tidak ingin pergi, dan kau pun sebaiknya tetap di sini juga,” sebuah suara yang dingin terdengar berkata.

Orang ini bertubuh jangkung dan kokoh, semua yang dia kenakan berwarna putih seperti salju. Tapi pedang yang tergantung di ikat pinggangnya berwarna hitam; hitam pekat, tipis, dan antik.

“Berani-beraninya kau bersikap tidak sopan padaku!” Mata Giam Thi-san seperti melompat keluar ketika dia berseru. “Siapa kau?”

“Sebun Jui-soat.”

Sebun Jui-soat, nama itu sendiri seperti sebatang pedang, dingin, tak berperasaan, dan tajam.

Bahkan Giam Thi-san pun terpaksa mundur teratur dua langkah ke belakang. “Penjaga!” Tiba-tiba ia berteriak.

Selain dari 2 orang bocah kecil yang menuangkan arak dan pelayan berbaju hijau yang sesekali masuk untuk membawakan makanan, villa itu benar-benar sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang pun.

Tapi segera setelah Giam-toalopan berteriak, 5 orang segera melesat masuk lewat jendela. Gerakan mereka benar-benar amat cepat dan senjata mereka tampak berkilauan, sebatang pedang bergelang, sebatang golok berbulu, lembing yang lentur seperti cambuk, sepasang cakar, dan dua nunchaku besi.

Lima jenis senjata itu adalah senjata-senjata yang luar biasa, siapa pun yang menggunakan senjata seperti ini tentulah seorang jagoan kungfu.

Tapi Sebun Jui-soat bahkan tidak melirik mereka. “Sekali pedangku dihunus, dia akan membunuh.” Ia berkata dengan dingin. “Apakah kalian benar-benar ingin memaksaku untuk mencabut pedang?”

Dari kelima orang itu, dua di antaranya sudah sangat hijau wajahnya. Tapi selalu ada orang-orang yang tak takut mati.

Tiba-tiba angin pun mengaung ketika golok berbulu itu menjadi dinding golok yang melesat ke arah Sebun Jui-soat.

Nunchaku itu pun berubah menjadi angin puting beliung yang ganas ketika menyapu ke arah lutut Sebun Jui-soat.

Senjata yang satu keras dan ganas, sementara yang satunya lagi cepat dan ringan, tapi keduanya dahsyat dan bekerja sama dalam keselarasan yang sempurna. Tampaknya mereka berdua sering berlatih bersama-sama.

Kelopak mata Sebun Jui-soat tiba-tiba menyipit, pada saat itu pula pedangnya telah terhunus.

Ho Thian-jing tidak bergerak, ia malah menatap Liok Siau-hong. Jika Liok Siau-hong tidak bergerak, maka ia pun tidak akan bergerak.

Tapi Be Heng-kong telah bangkit. “Ho-congkoan mengundang kalian ke sini sebagai tamu, bagaimana kalian berani membuat keributan di sini?” Dia berteriak dengan bengis.

Sambil berteriak, tangannya lalu turun ke pinggang dan menarik sebuah rotan naga bersisik ikan yang berwarna keemasan. Dengan mengibaskannya sekali, rotan itu pun menyambar ke arah tenggorokan Hoa Ban-lau.

Dia tahu Hoa Ban-lau buta dan menurut anggapannya akan lebih mudah dihadapi.

Senjata rotan naga miliknya itu sangat berbeda dengan senjata lainnya yang sejenis. Sesudah rotan itu dikibaskan, lilitan naga yang terukir di rotan itu tiba-tiba akan membuka mulutnya dan ‘ting!’, sebuah pedang yang tipis tapi tajam pun akan melesat keluar.

Hoa Ban-lau tetap duduk di sana, menunggu dengan tenang. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan menangkap pedang itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. “Ting!” lagi, pedang dari besi murni yang ditempa seorang tukang besi selama 3 bulan itu pun patah menjadi 3 bagian.

Wajah Be Heng-kong tampak berubah warnanya dan dia segera menyentakkan pergelangan tangannya, membuat rotan naga itu berputar-putar dan berusaha menyerang kedua telinga Hoa Ban-lau.

Hoa Ban-lau menarik nafas dan ia memutar lengan bajunya seperti awan badai dan berhasil membungkus rotan naga itu. Lalu ia menarik dengan perlahan.

Be Heng-kong terpelanting ke atas meja, piring-piring pun beterbangan ke mana-mana. Hoa Ban-lau lalu mendorong sedikit dan mengirim tubuh orang itu terbang keluar melalui jendela dan jatuh ke kolam bunga teratai yang mengelilingi villa.

“Pertunjukan yang luar biasa!” So Siau-eng tak terasa memuji.

“Bukannya aku yang hebat, tapi dia sendiri yang tidak becus.” Hoa Ban-lau menjawab dengan santai. “Sepertinya ilmu dan tenaganya hanya tersisa 50 %. Apakah dia menderita luka dalam?”

“Analisa yang hebat. Tiga tahun yang lalu dia telah menerima pukulan pembelah udara dari Ho-congkoan.” So Siau-eng menjawab.

“Tak heran kalau begitu,” Hoa Ban-lau menarik nafas.

Dia akhirnya mengerti mengapa Be Heng-kong bersikap seperti seorang penjilat yang tak tahu malu. Jika orang seperti dia, yang mencari nafkah dari berkelahi, kehilangan sebagian besar kungfunya, maka dia harus mencari seseorang untuk minta perlindungan. Dan tidak ada yang lebih baik daripada meminta Cu-kong-po-gi-kok sebagai pelindungnya.

So Siau-eng tiba-tiba berujar: “Maafkan aku, tapi aku ingin mencoba ilmu Hoa-siauya yang luar biasa. Awas!”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia melesat maju dengan sumpit di tangannya.

Pemuda yang sopan dan halus ini benar-benar mampu menggunakan sumpit itu sebagai pedang dan memainkan jurus-jurus ilmu pedang dari golongan putih. Dalam sekejap mata, ia telah menggunakan 7 macam gerakan untuk menyerang Hoa Ban-lau.

Liok Siau-hong tidak bergerak, dia hanya memandang Ho Thian-jing dalam kebisuan. Jika Ho Thian-jing tidak bergerak, maka dia pun tak akan bergerak.

Sudah ada 3 orang yang tergeletak di lantai dan tak akan pernah bergerak lagi. Golok berbulu itu telah menancap di ambang jendela, nunchaku telah terbang keluar jendela, dan lembing lemas pun telah patah menjadi empat bagian.

Waktu pedang itu ditarik kembali, masih terlihat noda darah di ujungnya.

Sebun Jui-soat meniup darah di pedangnya itu dengan perlahan, membuat darah merah itu menetes jatuh ke lantai.

Walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi, matanya yang dingin seperti batu tampak berkilauan saat menatap Giam Thi-san dengan dingin.

“Seharusnya kau sendiri yang berkelahi,” ia berkata dengan dingin. “Mengapa kau mengirimkan orang lain pada kematiannya?”

“Karena sudah lama aku telah membeli nyawa mereka!” Giam Thi-san menjawab sambil mendengus rendah.

Ia memberi isyarat dengan tangannya dan kembali enam orang muncul di villa tersebut. Matanya berputar-putar, seolah-olah ia sedang mencari jalan untuk meloloskan diri.

Dia tidak bicara dalam logat Soasay lagi, juga tidak mencaci-maki nenek orang lagi. Tapi suaranya menjadi tajam dan melengking, setiap kata yang keluar dari mulutnya pun terdengar seperti jarum, jarum yang menusuk gendang telinga orang lain.

Liok Siau-hong tiba-tiba tertawa: “Ternyata Toalopan adalah seorang jagoan yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa.”

“Kungfunya mungkin lebih baik daripada semua orang di sini.” Ho Thian-jing menyahut dengan santai.

“Sayang sekali kalau begitu.”

“Sayang kenapa?”

“Karena dia memiliki kelemahan yang fatal.”

“Apa itu?”

“Dia takut mati!”

So Siau-eng telah memulai rentetan 7 jurus ilmu pedang berikutnya. Jurus-jurus itu cepat, dinamis, dan cekatan, tak pernah jauh dari wajah Hoa Ban-lau.

Hoa Ban-lau masih duduk di situ, dengan sebatang sumpit di tangannya. Dengan sebuah sentilan atau putaran sederhana, seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia, gerakannya mampu mengatasi setiap serangan So Siau-eng.

Sesudah 7 jurus yang kedua berlalu, So Siau-eng tiba-tiba berhenti. Dia tiba-tiba menyadari bahwa orang buta yang selalu tersenyum ini seolah-olah lebih tahu tentang ilmu pedangnya daripada dirinya sendiri.

Setiap kali ia membuat sebuah gerakan, seketika itu juga musuhnya ini tahu bahwa serangannya akan tiba. “Apakah Tuan juga murid Go-bi-pay?” Ia terpaksa bertanya.

Hoa Ban-lau menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan tersenyum. “Bagi kalian, setiap ilmu pedang dari semua partai di dunia ini menggunakan gerakan dan strategi yang berbeda-beda. Tapi bagi orang buta, semua gerakan di dunia ini adalah sama.”

Ini adalah prinsip yang paling mendasar dalam ilmu kungfu. So Siau-eng seperti faham, tapi seperti juga tidak. Ia ingin menyelidiki lebih jauh, tapi tak tahu bagaimana atau apa yang harus ditanyakan.

“Apakah Tuan ini salah satu dari Go-bi-jit-kiam?” Malah Hoa Ban-lau yang mengajukan pertanyaan berikutnya.

So Siau-eng bimbang sejenak sebelum akhirnya menjawab: “Aku adalah So kedua di antara Go-bi-jit-kiam.”

“Jadi dia murid perguruan pedang juga?” Sebun Jui-soat tiba-tiba memotong dengan dingin. “Mengapa kau tidak menantangku?”

Wajah So Siau-eng menjadi pucat. “Tak!”, sumpit di tangannya pun patah menjadi 2 bagian.

“Menurut kabar, Go-bi-kiam-hoat adalah yang terbaik di seluruh daratan,” Sebun Jui-soat mendengus. “mungkinkah ilmu mereka sebenarnya tidak pantas menyandang status yang demikian mulia?”

Sambil mengkertakkan giginya, So Siau-eng tiba-tiba berputar, tepat pada saat itu pula ia melihat tetesan darah terakhir yang menetes dari ujung pedang Sebun Jui-soat.

Liok Siau-hong dan Ho Thian-jing masih duduk di sana dalam kebisuan, sambil saling berpandangan, seakan-akan mereka sedang menunggu musuhnya bergerak lebih dulu.

Tapi sudah ada 7 mayat yang bergelimpangan di lantai. Dari ke-7 orang itu, masing-masing merupakan jagoan kelas satu. Tapi dalam sekejap saja mereka semua segera tertusuk tenggorokannya oleh pedang Sebun Jui-soat.

Mata Giam Thi-san mulai menyipit. Baru sekarang orang bisa melihat bahwa usia tua telah mempengaruhi dirinya.

Tapi ia tidak merasakan kesedihan atau simpati bagi orang-orang yang telah mati untuk dirinya itu.

Ia masih berada di sini hanya karena kesempatan terbaik belum muncul dan ia masih belum terpaksa untuk lari dari tempat itu.

Keempat orang yang masih bisa bergerak itu telah kehilangan keberanian mereka untuk bergebrak lagi. Melihat So Siau-eng mulai maju, mereka pun segera menyingkir.

Langkah So Siau-eng kelihatan mantap, tapi wajahnya pucat tak berwarna.

“Pedang apa yang engkau gunakan?” Sebun Jui-soat bertanya, sambil menatapnya dengan dingin.

“Asal bisa dipakai untuk membunuh, aku bisa menggunakannya,” So Siau-eng balas mendengus dan menjawab.

“Bagus, di lantai ada pedang, silakan.”

Memang ada 2 bilah pedang di lantai, tergeletak dalam genangan darah.

Satu pedang tipis dan panjang, sementara yang lainnya tebal dan berat. So Siau-eng bimbang sebentar sebelum ujung kakinya mengait salah satu pedang dan melemparkannya ke udara. Pedang itu mendarat dengan sempurna di tangannya.

Ilmu pedang Go-bi-pay terkenal dengan kecepatan dan keluwesannya, tapi ia malah mengambil pedang yang berat. Pemuda ini jelas bermaksud menggunakan kekuatan fisiknya yang masih muda digabung dengan gerakan-gerakan yang agresif dan keji untuk menghadapi cara bertarung Sebun Jui-soat yang secepat kilat dan mematikan.

Ini adalah pilihan yang tepat. Murid-murid Tokko It-ho semuanya memang memiliki kemampuan menilai musuh yang luar biasa.

Tapi kali ini dia keliru, seharusnya dia tidak mengambil sebatang pedang pun.

Sebun Jui-soat menatapnya. “Duapuluh tahun dari sekarang, ilmu pedangmu akan mencapai puncaknya,” Sebun Jui-soat berkata.

“Oh?” So Siau-eng menjawab.

“Maka aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Dua puluh tahun lagi, datang dan carilah aku.”

“Dua puluh tahun adalah penantian yang terlalu lama!” So Siau-eng tiba-tiba berseru. “Aku tak bisa menunggu selama itu!”

Ia adalah seorang pemuda yang masih berdarah panas. Merasakan darah naik ke kepalanya, dia lalu menyerang dengan pedang di tangan. Gerakan pedang itu samar-samar membawa pula gerakan-gerakan ilmu golok.

Ini adalah ilmu ciptaan Tokko It-ho, Golok dan Pedang Bersatu-padu, terdiri dari 49 jurus dan perubahan. Waktu ia bergabung dengan Go-bi-pay, ia telah memiliki ilmu golok yang luar biasa setelah 30 tahun berlatih dengan keras. Ia mampu menggabungkan keganasan dan intensitas ilmu golok ke dalam ilmu pedang Go-bi-pay yang terkenal tangkas dan dinamis.

Ke-49 jurus yang ia ciptakan ini bisa digunakan dengan golok ataupun pedang. Tak ada ilmu lain seperti ini di dunia.

Bahkan Liok Siau-hong pun belum pernah melihat ilmu kungfu seperti ini.

Mata Sebun Jui-soat semakin terang nyalanya. Baginya, melihat sebuah ilmu baru dan asing untuk pertama kalinya adalah seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru dan asing, ada kesenangan dan keingin-tahuan yang tidak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Ia menunggu sampai So Siau-eng telah melakukan 21 macam jurus sebelum akhirnya ia membuat sebuah gerakan.

Karena ia telah menemukan titik lemah dari ilmu ini, walaupun itu mungkin hanya sebuah kelemahan kecil, tapi kelemahan yang sedikit saja sudah cukup baginya.

Pedangnya tampak berkilauan. Dengan hanya satu gerakan saja, pedangnya telah menembus tenggorokan So Siau-eng.

Ujung pedang itu masih meneteskan darah. Sebun Jui-soat meniup darah di ujung pedangnya dengan perlahan.

Ia menatap pedangnya, di matanya mendadak muncul perasaan sepi dan sunyi. Tiba-tiba ia menarik nafas: “Mengapa semua orang-orang muda terbaik seperti dirimu selalu mencari kematian seperti ini? Dalam duapuluh tahun, di mana lagi aku akan menemukan lawan yang berharga?”

Jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tentu terasa agak memuakkan. Tapi bila muncul dari dirinya, kata-kata itu seperti membawa kesedihan dan kesepian yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

“Jika itu masalahnya, lalu kenapa kau membunuhnya?” Hoa Ban-lau tiba-tiba bertanya.

“Karena satu-satunya gerakan pedang yang kukenal adalah membunuh,” Sebun Jui-soat menjawab dengan wajah yang kaku.

Hoa Ban-lau menarik nafas, karena dia tahu orang ini mengatakan hal yang sebenarnya. Setiap gerakan yang dibuat orang ini adalah final dan untuk membunuh, tanpa kompromi, tak ada ruang untuk mundur.

“Kau mati, atau aku yang mati!” Setiap kali pedangnya ditusukkan, tak pernah ada pilihan lain yang tersisa untuk musuhnya, bahkan juga tidak ada pilihan lain untuk dirinya sendiri.

Angin bertiup dari luar villa, membawa keharuman bunga teratai yang menyegarkan, tapi tetap tak mampu menghilangkan bau amis darah yang menyengat.

Sebun Jui-soat tiba-tiba berpaling ke arah Giam Thi-san. “Jika kau tidak pergi, aku tak akan menyerang. Jika kau bergerak, maka kau mati!” dia berkata dengan dingin.

“Mengapa aku harus pergi?” Giam Thi-san tersenyum. “Aku tak tahu kenapa kalian melakukan hal ini.”

“Seharusnya kau tahu,” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Tapi kenyataannya tidak.”

“Tapi bagaimana dengan Giam Lip-pun? Apakah dia tahu?”

Mata Giam Thi-san mulai menyipit lagi. Pada wajahnya yang putih dan gemuk tiba-tiba muncul perasaan takut yang aneh. Tiba-tiba dia tampak seperti jauh lebih tua. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menarik nafas dan bergumam: “Giam Lip-pun sudah lama mati, kenapa kalian masih mencarinya?”

“Bukan kami yang menginginkan dia,” Liok Siau-hong menjawab.

“Lalu siapa?”

“Tay-kim-peng-ong.”

Mendengar nama itu, wajah Giam Thi-san yang sudah tampak aneh tiba-tiba jadi semakin menakutkan. Tubuhnya tiba-tiba mulai berputar seperti gasing dan villa itu tiba-tiba menjadi terang-benderang seperti disambar kilat.

Bersamaan dengan kilat itu, puluhan batang jarum benang sutera tiba-tiba meluncur seperti tetesan air dalam badai, melesat ke arah Sebun Jui-soat, Hoa Ban-lau, dan Liok Siau-hong.

Pada saat itulah sebuah hawa pedang pun melesat menembus kilatan cahaya tadi.

Hawa itu dingin membeku dan suaranya seperti angin yang bertiup di hutan bambu. Hawa dan kilat itu tiba-tiba menghilang, sebagai gantinya adalah puluhan butir mutiara yang seperti jatuh dari langit, setiap mutiara sudah terbelah dua.

Pedang yang begitu cepat. Tapi Giam Thi-san telah menghilang.

Liok Siau-hong pun telah menghilang.

Di permukaan kolam bunga teratai di luar sana, seperti ada sosok tubuh yang ujung kakinya mendarat perlahan di atas daun bunga teratai sebelum kemudian melayang lagi.

Sebenarnya sosok tubuh itu terdiri dari 2 orang, tapi mereka berdua seperti berhimpit, di mana orang yang mengejar praktis menjadi bayang-bayang orang yang berada di depan.

Sosok tubuh itu tiba-tiba seperti pecah dan menghilang. Tapi suara pakaian yang berkibar-kibar di udara bisa terdengar dari dalam villa.

Lalu Giam Thi-san tiba-tiba muncul kembali.

Liok Siau-hong pun muncul kembali, masih duduk di kursinya semula, seolah-olah dia belum pernah pergi.

Giam Thi-san juga berdiri di tempatnya semula, tapi dia bersandar ke dinding, sambil berusaha mengambil nafas. Dalam beberapa saat terakhir ini, tampaknya dia sudah bertambah tua lagi.

Waktu pertama kalinya dia memasuki vila itu, dia adalah seorang laki-laki setengah baya yang bersemangat. Wajahnya bersih dan halus, tanpa jenggot sedikit pun juga. Tapi sekarang, orang akan mengatakan bahwa dia adalah seorang laki-laki tua berusia 80 tahun.

Wajahnya murung dan sinar matanya memudar. Sambil mengambil nafas, ia mengakui: “Aku semakin….. semakin tua.”

Liok Siau-hong menatapnya dan tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.

“Kau memang sudah semakin tua.”

“Kenapa kau melakukan ini pada seorang laki-laki tua?”

“Karena orang tua ini berhutang sesuatu pada orang lain. Tak perduli berapa tuanya dia, dia harus membayarnya lunas.”

“Aku selalu membayar hutang-hutangku, tapi sejak kapan aku berhutang sesuatu pada orang lain?”

“Mungkin kau tidak, tapi bagaimana dengan Giam Lip-pun?”

Wajah Giam Thi-san berkerut-kerut lagi dan dia berteriak dengan bengis: “Benar! Aku Giam Lip-pun! Giam-congkoan, pemakan manusia itu. Tapi sejak aku berada di sini, aku……”

Tiba-tiba dia berhenti, wajahnya yang berkerut-kerut itu tiba-tiba dan secara ajaib menjadi tenang.

Lalu setiap orang melihat darah menyembur dari dadanya, seperti sekuntum bunga yang tiba-tiba mekar.

Setelah semburan darah itu, alirannya pun mulai menyusut, barulah pedang yang menancap di dadanya itu jadi kelihatan.

Giam Thi-san menunduk dan melihat ujung pedang yang berkilauan itu, dia tampak terkejut dan bingung.

Tapi ia masih belum mati, dadanya masih kembang kempis.

Wajah Ho Thian-jing menjadi kaku seperti batu. Ia bangkit dan berseru: “Siapa yang melakukannya? Siapa?”

“Aku!” Sebuah suara yang bening dan nyaring seperti lonceng terdengar menjawab. Seperti seekor walet, seseorang melayang masuk lewat jendela. Pakaiannya melekat ke tubuhnya seperti kulit ikan hiu hitam karena basah kuyup.

Tubuh yang demikian ramping, air pun masih bertetesan dari tubuhnya. Jelas dia baru saja keluar dari kolam bunga teratai di luar sana.

Giam Thi-san memaksakan matanya terbuka dan tercengang melihatnya, mengumpulkan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mengucapkan 2 patah kata.

“Siapa kau?”

Ia melepaskan kain yang menutupi kepalanya, membiarkan rambutnya yang hitam legam terurai di pundaknya.

Hal itu membuat wajahnya tampak lebih putih, lebih cantik.

Tapi matanya, yang sedang menatap Giam Thi-san, penuh dengan sinar kebencian.

“Aku Tan-hong Kiongcu dari Kekaisaran Rajawali Emas. Aku adalah orang yang ingin mencarimu untuk menagih hutang lamamu,” ia menjawab dengan dendam.

Giam Thi-san balas memandangnya dengan terkejut. Tiba-tiba matanya melotot dan tubuhnya mengejang, dan tidak pernah bergerak lagi. Pada sepasang mata yang melotot itu ada ekspresi yang aneh tapi tak dapat difahami. Apakah itu kaget? Apakah itu gusar? Atau perasaan ngeri?

Dia tidak roboh, karena pedang itu masih menancap di dadanya.

Pedang itu dingin, darahnya pun dingin.

Tan-hong Kiongcu akhirnya berpaling dengan perlahan. Kemarahan dan kebencian di wajahnya pun berubah menjadi kesedihan.

Ia hendak menyapa Liok Siau-hong waktu Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata: “Kau menggunakan pedang juga?”

Tan-hong Kiongcu tercengang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

“Sejak hari ini, jika kau menggunakan pedang lagi, aku akan membunuhmu!”

Benar-benar terkejut, Tan-hong Kiongcu bertanya secara naluriah: “Mengapa?”

“Pedang tidak digunakan untuk membunuh dari belakang. Jika kau membunuh dari belakang, maka kau tidak berharga untuk menggunakan pedang.”

Ia tiba-tiba mengibaskan tangannya. “Tak!” Ujung pedangnya telah memukul ujung pedang di dada Giam Thi-san.

Tubuh Giam Thi-san lalu roboh ke lantai, dan pedang di dadanya pun terpukul jatuh ke dalam kolam bunga teratai.

Sebun Jui-soat sudah berada di luar villa. Mengangkat pedang yang masih bernoda darah itu ke dekat wajahnya, dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Pedang itu tiba-tiba patah menjadi 6 bagian dan jatuh ke tanah.

Angin berhembus, kabut malam pun mulai muncul di kolam bunga teratai itu, dan Sebun Jui-soat tiba-tiba menghilang dalam kabut.

Ho Thian-jing terduduk, tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya seperti topeng batu.

Tapi Liok Siau-hong tahu bahwa tanpa ekspresi itu malah merupakan ekspresi yang paling sedih.

“Giam Thi-san adalah pengkhianat Kekaisaran Rajawali Emas, maka urusan ini bukanlah persoalan pribadi. Juga bukan sesuatu yang boleh dicampuri oleh orang luar,” Liok Siau-hong menarik nafas.

“Aku tahu,” Ho Thian-jing mengangguk.

“Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri.”

Ho Thian-jing membisu beberapa lama. Tiba-tiba ia menengadah: “Tapi akulah yang mengundang kalian ke mari.”

“Ya.”

“Jika kau tak datang, paling tidak Giam Thi-san masih belum mati saat ini.”

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Aku tidak mengatakan apa-apa,” Ho Thian-jing menjawab dengan dingin. “Hanya saja aku ingin melihat kungfu meringankan tubuh Burung Hong Bersayap Kembar dari Liok Siau-hong dan ilmu “Ide Dalam Hati” milikmu yang legendaris itu.”

“Haruskah kau bertarung denganku?” Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman.

“Ya.”

Liok Siau-hong menarik nafas. Tan-hong Kiongcu tiba-tiba maju ke hadapan Ho Thian-jing dan berseru: “Mengapa kau harus berkelahi dengannya? Kau seharusnya berkelahi denganku!”

“Kau?”

“Aku orang yang membunuh Giam Thi-san, membunuhnya dari belakang. Mengapa kau tidak mencoba dan menguji apakah membunuh orang dari belakang adalah satu-satunya hal yang aku ketahui!” Ia mendengus pada laki-laki itu.

Ia baru saja dihina oleh Sebun Jui-soat, dan perasaan frustrasi yang terpendam itu harus segera dilampiaskan pada sesuatu, dan sesuatu itu adalah Ho Thian-jing.

Ho Thian-jing memandang padanya dan menjawab dengan lembut: “Apa pun hutang Giam Thi-san padamu, aku akan membayarnya. Kau boleh pergi sekarang.”

“Kau tidak berani bertarung denganku?”

“Bukannya aku tidak berani, tapi tidak mau.”

“Kenapa?”

“Karena kau tidak punya kesempatan bila melawanku,” Ho Thian-jing menjawab dengan santai.

Wajah Tan-hong Kiongcu menjadi merah padam karena marah, tiba-tiba dia mengulurkan 2 jarinya yang lembut dan halus dan berusaha menusuk mata Ho Thian-jing.

Walaupun jari-jarinya lembut seperti tunas yang baru tumbuh, gerakannya benar-benar penuh dendam dan keji, belum lagi kalau memperhitungkan kecepatannya.

Pundak Ho Thian-jing tidak bergerak, begitu juga dengan tangannya, tapi tubuhnya tiba-tiba melesat mundur sejauh 20 m. Sambil mengambil jenasah Giam Thi-san, ia pun berkata: “Liok Siau-hong, aku akan menunggumu pada saat matahari terbit di Jing-hong-koan.”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia telah berada di luar vila.

Tan-hong Kiongcu menggigit bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah. Ia begitu marah dan ingin menangis.

Tapi Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum: “Jika kau gunakan Hui-hong-ciam, mungkin dia tak akan mampu lari.”

“Hui-hong-ciam? Apa yang kau bicarakan?” Tan-hong Kiongcu tampak bingung.

“Senjata rahasia milikmu, Hui-hong-ciam (Jarum Burung Hong Terbang).”

Tan-hong Kiongcu menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mendengus: “Kelihatannya aku bukan hanya bisa membunuh orang dari belakang, aku pun bisa membunuh dengan senjata rahasia.”

“Senjata rahasia tetaplah senjata. Banyak orang baik-baik di dunia persilatan yang menggunakan senjata seperti itu.”

“Tapi aku tak pernah menggunakannya, aku tak pernah mendengar Hui-hong-ciam itu sebelumnya.”

Jawaban ini tidak membuat Liok Siau-hong terkejut, satu-satunya alasan ia menanyakan itu adalah untuk meyakinkan bahwa setan kecil itu memang berdusta lagi pada dirinya.

Tapi Tan-hong Kiongcu begitu sedih sehingga matanya tampak merah. “Aku tahu kau marah padaku, itulah sebabnya kau menanyakan hal yang mengada-ada padaku,” ia berkata, sambil menggigit bibirnya.

“Mengapa aku harus marah padamu?”

“Karena menurutmu seharusnya aku tidak datang ke mari, dan seharusnya juga tidak membunuh Giam Thi-san.” Sepertinya ia merasa telah dipersalahkan dan matanya pun telah penuh digenangi air mata. Ia meneruskan dengan suara yang keras. “Karena kau tak akan pernah faham betapa menderitanya keluarga kami karena dia. Jika dia tidak mengkhianati kami, kami tentu punya kesempatan untuk membangun kembali kekaisaran kami dan membalaskan dendam kakek. Tapi sekarang…. sekarang…..”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya karena tak mampu menahan air matanya lagi. Wajahnya telah bersimbah dengan air mata.

Tidak ada yang bisa diucapkan oleh Liok Siau-hong.

Siapa bilang air mata perempuan bukan senjata yang paling efektif? Khususnya seorang perempuan cantik, karena air matanya benar-benar lebih berharga dari mutiara yang paling berharga sekalipun.

Advertisements

1 Comment »

  1. […] Pendekar Empat Alis […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:04 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: